Kumpulan Cerita Silat

25/02/2008

Amanat Marga (06)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 12:34 am

Amanat Marga (06)
Oleh
Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Lamkiong Peng tercengang, tanpa bersuara ia menunduk dan merasa menyesal.

Maka Bwe Kim-soat bicara lagi, “Esoknya aku lantas menyiarkan berita bahwa bila orang itu kulihat lagi, lebih dulu akan kucungkil matanya dan memotong daun telinganya, lalu mencencang tubuhnya. Dan karena orang Kangouw tidak tahu sebab musababnya, seketika timbul macam-macam desas-desus, dengan sendirinya desas-desus itu sama merugikan nama baikku.”

Mendengar sampai di sini, kembali Lamkiong Peng merasa penasaran, serunya, “Sebenarnya siapakah orang ini?”

“Dengan sendirinya orang ini cukup ternama di dunia Kangouw,” jengek Kim-soat. “Dia terkenal sebagai ‘Kongcu-kiam-khek’ atau ‘Kiam-khek-kongcu’ (pemuda jago pedang atau jago pedang muda) ….”

Lamkiong Peng terkesiap, “Hah, bukankah dia ….”

“Ya, dia saudara sepupu Tan-hong Yap Jiu-pek yang terkenal itu,” jengek Kim-soat pula. “Aku tidak menghadiri pertemuan yang diprakarsai Yap Jiu-pek sendiri secara tidak tahu malu itu sudah dipandang sebagai kesalahan yang tak terampunkan, apalagi sekarang aku hendak membunuh saudara sepupu Yap Jiu-pek, orang lain masih mendingan, orang pertama yang tidak dapat menerima ialah Put-si-sin-liong Liong Po-si.”

“Di dunia Kangouw kebanyakan adalah manusia yang lebih suka menjilat yang tinggi dan memuja yang besar, siapa yang mau tahu pihak mana yang benar, dengan sendirinya mereka lebih percaya kepada Kongcu-kiam-khek yang jujur dan berbudi itu, siapa yang mau percaya kepada ‘iblis perempuan’ macam diriku ini? Apalagi satu-satunya saksi hidup juga telah kubunuh, tentu lebih sulit lagi bagiku untuk membuktikan kebersihanku. Maka Put-si-sin-liong lantas mengeluarkan Sin-liong-tiap (kartu naga sakti) dan mengundang kedatanganku ke Kiu-hoa-san untuk menyerahkan nyawa kepadanya.”

Makin emosional suaranya, sedangkan kepala Lamkiong Peng tertunduk lebih rendah.

Terdengar Bwe Kim-soat menyambung lagi, “Tentu saja kupenuhi undangannya. Waktu itu usiaku baru 20-an, tinggi hati dan bersikap angkuh, kuyakin Kungfuku tidak ada tandingannya, biarpun jago nomor satu Put-si-sin-liong juga tidak terpandang olehku. Maka setiba di Kiu-hoa-san serentak kuajukan empat macam cara bertanding. Tanpa pikir dia lantas terima tantanganku. Kau tahu, waktu itu ilmu silatku belum pernah menemukan tandingan, bahkan jago pedang ternama seperti Kongcu-kiam-khek itu juga kabur menghadapiku, tentu saja aku sangat senang tantanganku itu diterima begitu saja oleh Put-si-sin-liong.”

Ia menghela napas, lalu menyambung, “Siapa tahu, pertandingan pada babak pertama aku lantas kalah, bahkan kalah secara mengenaskan. Dalam babak kedua, kuminta bertanding kekuatan lunak, kupikir dia tinggi besar, tentu tak bisa bergerak lunak, siapa tahu kembali aku kalah lagi.”

“Babak ketiga kutantang, bertanding Am-gi (senjata rahasia), karena gelisah lantaran sudah kalah dua babak, pada babak ketiga ini aku berbuat curang, selagi dia tidak berjaga, kuhamburkan Am-gi dulu. Siapa tahu sekujur badan Put-si-sin-liong seolah-olah penuh tumbuh mata, meski kusergap tetap tiada gunanya.”

Pujian yang datang dari mulut lawan dengan sendirinya adalah pujian yang paling berharga. Diam-diam Lamkiong Peng merasa bangga, pikirnya, “Nyata gelaran Suhu sebagai jago nomor satu yang tak termatikan memang tidak bernama kosong.”

Didengarnya Bwe Kim-soat bertutur lebih lanjut, “Ketika babak keempat dimulai lagi, jelas Put-si-sin-liong menjadi gusar dam menyatakan tidak memberi ampun lagi padaku, sebab aku telah main sergap, hal ini lebih membuktikan desas-desus yang tersiar tentang tindakanku terhadap Kongcu-kiam-khek itu pasti tidak salah lagi dan aku dipandangnya sebagai perempuan kotor, rendah, hina dina dan jahat.”

Mendadak Lamkiong Peng tergerak, teringat olehnya makian si Tojin berjubah hijau kepada Bwe Kim-soat, juga teringat akan ….”

Terdengar Bwe Kim-soat menyambung lagi, “Walaupun begitu dia tetap mengalah lagi tiga jurus padaku, aku tetap diberinya kesempatan untuk menyerang lebih dulu, habis itu barulah dia balas menyerang, melulu tujuh jurus, ya, cuma tujuh jurus saja pedangku lantas tergetar lepas, aku terdesak di batang pohon, pedangnya lantas menusuk ke mukaku, kulihat sinar pedang menyambar tiba, karena tidak berdaya, kupejamkan mata ….”

Perlahan ia benar-benar memejamkan mata seperti terbayang pada kejadian dahulu, bulu matanya yang panjang menghiasi kelopak matanya, ia menghela napas perlahan dan berucap lagi, “Siapa tahu, sampai sekian lama kutunggu, hanya kurasakan angin tajam menyambar lewat di sisi telingaku, lalu tidak terjadi apa-apa lagi. Waktu kupentang mataku, kulihat pedang Put-si-sin-liong menancap pada batang pohon di belakangku. Pedang itu hampir amblas seluruhnya serupa menusuk pada benda yang lunak sehingga tidak menerbitkan sesuatu suara.”

Ia membuka mata, bola matanya berputar, lalu menyambung, “Waktu itu aku tercengang, kudengar Put-si-sin-liong berkata padaku, ‘Kukalahkan dirimu dengan pedangku tentu orang Kangouw akan bilang lumrah, rasanya kau pun takkan rela mengalami kekalahan ini,’, mendadak ia menyimpan pedangnya dan melompat mundur, ia tepuk tangan dan berkata pula, ‘Nah, jika dengan pedangmu dapat kau kalahkan kedua tanganku ini akan kubiarkan kau pergi dari sini.’.”

“Karena sudah terdesak, tanpa pikir lagi aku menerjang maju, kulancarkan serangan maut, kutahu akan kelihaiannya, yang kuharapkan adalah luka bersama dan tidak menaruh ilusi akan mengalahkan dia.”

“Siapa tahu, belum ada 20 jurus, tenagaku sudah lemah. Pada saat itulah tangannya sedang meraih ke mukaku dengan jurus ‘In-liong-tam-jiau’ (naga menjulurkan cakar dari balik awan), kulihat iga kirinya tak terjaga, dengan girang segera kugeser langkah dan melancarkan tusukan ke iganya.”

“Padahal tusukanku ini adalah salah satu jurus serangan Kong-jiok-kiam (ilmu pedang merak) yang disebut Kong-jiok-tian-ih (merak pentang sayap), serangan keji tanpa kenal ampun. Serangan tanpa menghiraukan keselamatan sendiri asalkan dapat melukai musuh, masih ada lagi jurus ikutan lain bila perlu akan gugur bersama musuh.”

“Siapa duga, baru saja pedangku menutuk, mendadak kedua telapak tangannya digunakan menjepit batang pedangku, berbareng itu ia terus menggeser maju dan menyodok pinggangku dengan sikunya. Kurasakan semacam hawa hangat timbul dari bagian pinggang, dalam sekejap lantas tersalur ke seluruh badan, menyusul lantas terasa enak sekali, badan enteng seakan-akan terbang, dan akhirnya aku lantas roboh terkulai dengan lemas.”

Terkesiap juga Lamkiong Peng, pikirnya, “Waktu itu Suhu sangat membenci padanya, maka menggunakan Sin-liong-kang (tenaga naga sakti) untuk membuyarkan seluruh kekuatannya.”

Terdengar Bwe Kim-soat menghela napas, lalu bertutur pula, “Betapa hebat dan di mana letak keistimewaan gerak serangannya itu, meski sudah kurenungkan selama sepuluh tahun di dalam peti mati tetap tidak dapat kupahami. Sejak kecil aku giat berlatih, dengan susah payah akhirnya berhasil kukuasai Kungfu setaraf itu, tapi dalam sekejap saja telah dihancurkan olehnya, tatkala mana hatiku tidak kepalang sedihnya di samping kejut, gusar, takut dan berduka.”

“Sungguh kekalahanku itu jauh lebih menyakitkan hati daripada aku dibunuhnya saja, aku lantas mencaci maki, dengan sedih kubeberkan pula apa yang terjadi sebenarnya dan perbuatan kotor Kongcu-kiam-khek itu, kutanya apakah itu salahku? Dengan hak apa dia bertindak padaku? Berdasarkan apa dia membela bajingan yang rendah dan kotor itu untuk menganiaya seorang perempuan macam diriku?”

Sikapnya memperlihatkan rasa dendam dan benci yang tak terhingga, kejadian yang membuatnya berduka dan murka itu seakan-akan terbayang lagi di depan matanya.

Semakin banyak yang didengar Lamkiong Peng, semakin besar rasa simpatiknya terhadap orang.

Bwe Kim-soat menyambung lagi, “Setelah mendengar ucapanku, muka Put-si-sin-liong menjadi pucat, sampai sekian lama baru dia berucap dengan agak gemetar, ‘Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?’ Kulihat dia sangat menyesal, ia mengeluarkan obat luka dan suruh kuminum, tapi kutolak. Apa gunanya kuminum obat lukanya, andaikan sementara takkan mati, tapi selama ini musuhku sudah sekian banyak, bilamana mereka tahu tenagaku sudah buyar, ilmu silatku sudah punah, mustahil mereka takkan mencari balas kepadaku?”

“Tapi Put-si-sin-liong memang seorang pendekar yang berhati mulia, ia lantas memohon dengan sangat kepadaku agar mau minum obatnya, ia bilang bila aku mati, tentu dia akan menyesal selama hidup, ia ingin menebus dosa, ingin memperbaiki kesalahannya, akan melindungi diriku selama hidup, juga akan mencari Kongcu-kiam-khek yang rendah itu untuk membalaskan dendam bagiku.”

“Aku masih juga menolak, maka dia mencekoki aku dengan obatnya, lalu dengan Lwekangnya berusaha menyembuhkan lukaku. Sebab itulah meski cuma sehari saja dia bertanding denganku, tapi tiga hari kemudian baru turun gunung. Orang Bu-lim yang menunggu di bawah gunung melihat kemunculannya dalam keadaan lelah dan lesu sehingga mengira dia bertempur denganku selama tiga hari tiga malam, semua orang bersorak bagi kemenangannya …. Ai, padahal siapa yang tahu akan kejadian yang sebenarnya?”

Diam-diam Lamkiong Peng berpikir, “Wah ketika mendengar sorakan orang banyak waktu itu, entah betapa pedih perasaan Suhu.”

Didengarnya Bwe Kim-soat menyambung lagi, “Sebelum turun gunung dia telah menutuk Hiat-toku dan disembunyikan di dalam sebuah gua rahasia. Malam kedua, dia datang lagi dengan dua lelaki kekar yang membawa sebuah peti mati, aku dimasukkan ke dalam peti mati, maksudnya jelas untuk menghindari mata-telinga orang, terutama mata telinga Yap Jiu-pek tentunya.”

“Sebab apa?” tanya Lamkiong Peng.

“Masa engkau tidak tahu,” Bwe Kim-soat tertawa. “Yap Jiu-pek cantik dan tinggi ilmu silatnya, dia memang awet muda, maski waktu itu usianya sudah 50-an, tapi tampaknya serupa berumur 30-an, sebab itulah orang Kangouw menyebutnya sebagai Put-lo-tan-hong (si burung hong yang tidak pernah tua), dengan tepat merupakan satu pasangan dengan Put-si-sin-liong. Sebenarnya dia serbabaik, hanya satu hal, yaitu dia terlalu cemburu.”

“Berada di suatu ruang yang sempit dan gelap, dari tuturan Put-si-sin-liong dapat kuketahui banyak urusan yang menyangkut diri Yap Jiu-pek,” Kim-soat meneruskan ceritanya. “Coba kau pikir, apabila bukan lantaran perangai Yap Jiu-pek kelewat aneh, kan seharusnya dia menikah dengan Put-si-sin-liong. Yang seorang adalah ‘jago nomor satu’, yang lain adalah ‘perempuan paling cantik’, betapa mengagumkan pasangan ini. Akan tetapi mereka tidak berbuat demikian, hidup mereka justru berlalu dalam kesepian ….”

Mendadak ia menunduk terharu sehingga wajahnya tertutup oleh rambutnya yang ikut terurai.

Lamkiong Peng termangu-mangu sejenak, timbul juga perasaan bimbang yang sukar diuraikan.

“Kesepian”, sekejap ini mendadak ia mengerti kesepian yang dialami orang banyak. Perempuan yang terkenal sebagai “Leng-hiat Huicu” atau si putri berdarah dingin ini mengalami kesepian. Yap Jiu-pek yang mahacantik itu juga mengalami kesepian, pendekar nomor satu yang dipujanya selama hidup, gurunya yang berbudi, Put-si-sin-liong juga menderita kesepian.

Perjalanan orang hidup memang berliku-liku dan panjang, semakin tinggi menanjak ke atas, semakin besar pula rasa kesepiannya. Bilamana dia sudah menanjak sampai puncaknya, mungkin baru akan diketahuinya apa yang terdapat di puncak selain keemasan nama dan kejayaan atas kesuksesannya, hanya kesepian yang serbakelabu belaka.

Hati Lamkiong Peng terkesiap, mendadak dapat dipahaminya mengapa wajah sang guru yang berbudi luhur itu selalu membawa semacam sikap yang kereng dan jarang memperlihatkan senyum gembira.

“Sejak hari itu,” demikian Bwe Kim-soat menyambung lagi, “aku tidak mendarat kesempatan untuk melihat cahaya matahari lagi. Sepuluh tahun …. selama sepuluh tahun Put-si-sin-liong ternyata tidak melaksanakan janjinya, dia tidak membersihkan tuduhan orang padaku, tidak menuntut belas bagiku, dengan sendirinya kutahu apa sebabnya ….”

Mendadak ia berhenti bertutur dan menengadah memandang langit. Kesunyian yang mendadak ini serupa sebuah godam menghantam hati Lamkiong Peng, sebab ia tahu di balik kesunyian ini betapa mengandung rasa dendam dan kecewa orang.

Demi Yap Jiu-pek, lantaran Kongcu-kiam-khek itu adalah saudara Yap Jiu-pek, gurunya, tidak dapat membekuknya dan tidak sanggup mencuci bersih fitnahan orang terhadap Bwe Kim-soat. Sebaliknya si putri berdarah dingin ini juga tidak memaksa gurunya melaksanakan janjinya, dengan sendirinya hal ini disebabkan antara mereka juga telah timbul jalinan perasaan yang mendalam.

Bwe Kim-soat memandangi cahaya bintang di langit, termenung sampai sekian lamanya, mendadak ia menatap Lamkiong Peng dengan tersenyum, semacam senyuman yang sukar dimengerti maknanya.

“Tapi apakah … apakah kau tahu … apakah kau tahu? ….” dengan tersenyum berapa kali ia mengulangi perkataannya.

Dengan bingung Lamkiong Peng menegas, “Tahu apa?”

Bwe Kim-soat menatapnya lekat-lekat, katanya perlahan, “Apa yang tidak dilaksanakan gurumu bagiku itu kini telah kau lakukan, dengan telingaku sendiri kudengar percakapanmu dengan dia, juga kudengar sendiri jeritannya ketika dia terluka oleh pedangmu.”

“Hah, jadi … jadi Tojin itulah Kongcu-kiam-khek?” seketika Lamkiong Peng menjadi gelagapan.

“Tojin? ….” jengek Bwe Kim-soat dengan penuh benci. “Dia sudah menjadi Tojin? Huh, meski aku tidak tahu saat ini dia telah berubah bagaimana bentuknya, tapi suaranya, sampai mati pun aku tidak lupa pada suaranya.”

Meski biasanya Lamkiong Peng dapat bersikap tenang, tidak urung sekarang ia pun kelihatan terkejut, sungguh tak tersangka bahwa pendekar pedang yang termasyhur pada angkatan yang lalu bisa mati di bawah pedangnya. Namun apa pun juga rasa malu dan menyesal atas kematian Tojin itu kini menjadi tersapu bersih.

Didengarnya Bwe Kim-soat berkata pula, “Inilah suka-duka antara gurumu dan diriku, juga apa yang ingin kau ketahui tapi tidak berani kau tanyakan tadi. Engkau telah membalaskan sakit hatiku, maka perlu kuberi tahukan padamu bahwa kematian orang itu adalah setimpal. Selama sekian tahun aku tersekap di dalam peti mati, tidak ada harapanku yang lain kecuali selekasnya pulih sedikit tenagaku dan dapat menuntut balas padanya. Sebab itulah ketika kudengar suara jeritannya, meski merasa senang, tapi juga rada kecewa dan benci juga, malahan terpikir olehku bila dapat kulompat keluar, lebih dulu akan kubinasakan orang yang membunuh dia itu.”

Terkesiap hati Lamkiong Peng, dilihatnya pada ujung mulut Bwe Kim-soat tersembul secercah senyuman.

“Tapi, entah mengapa ….” dengan tersenyum Kim-soat meneruskan, “bisa jadi keadaan sekian tahun telah membuat hatiku banyak berubah, aku tidak ingin lagi membunuhmu, malah berterima kasih padamu, sebab engkau telah mengurangi kesempatan bagiku untuk berlepotan darah lagi. Bilamana tangan seorang tidak banyak berlepotan darah kan jadi lebih baik.”

Lamkiong Peng tercengang, tak terduga olehnya perempuan yang disebut orang sebagai “berdarah dingin” ini sekarang dapat bicara demikian.

Ia terdiam sejenak, kemudian berkata di bawah sadar, “Setelah tenagamu buyar, kenapa sekarang mendadak bisa pulih kembali, sungguh kejadian aneh.”

Bwe Kim-soat tersenyum misterius, ucapnya, “Engkau merasa heran? ….”

Ia tidak meneruskan, Lamkiong Peng juga tidak dapat menerka makna ucapannya itu. Tiba-tiba teringat olehnya ucapan Bwe Kim-soat tadi, “Tanpa menghiraukan apa pun berusaha memulihkan tenaga ….”

Jangan-jangan caranya memulihkan tenaga ini telah menggunakan sesuatu jalan yang tidak wajar.

Selagi dia hendak bertanya, tiba-tiba terdengar Bwe Kim-soat menghela napas dan berucap pula, “Sungguh aneh juga, meski saat ini Kungfuku sudah pulih kembali, tapi kurasakan tidak ada gunanya sama sekali. Sekarang aku tidak mempunyai sesuatu hubungan budi dan benci lagi. Ai, sungguh hal ini jauh lebih baik daripada hati penuh diliputi dendam dan benci.”

Dia sebentar gemas, sebentar sedih, lain saat bersemangat, lalu murung lagi, sekarang dia lantas bersandar di pohon dengan tenang, sembari membelai rambutnya yang panjang bahkan ia lantas bernyanyi kecil dengan senyum yang lembut.

Melihat keadaannya yang adem ayem itu, agaknya dia sedang mengenang masa lampau, masa remaja yang bahagia.

Karena kelelahan terpengaruh pula oleh suara nyanyi orang yang merdu, Lamkiong Peng merasa mengantuk ….

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar orang mendengus, Lamkiong Peng tersentak sadar, waktu ia memandang ke sana, dari luar hutan mendadak muncul sesosok bayangan orang.

Serentak Bwe Kim-soat juga berhenti bernyanyi.

“Siapa?” bentak Lamkiong Peng.

Sekali berkelebat, dalam sekejap saja seorang pemuda berbaju kelabu sudah berada di depan mereka.

Pemuda yang gagah tapi tampak bersikap angkuh dan lagi tertawa dingin dan memandang hina terhadap Lamkiong Peng.

Tentu saja Lamkiong Peng mendongkol, tegurnya pula, “Siapa kau? Mau apa datang kemari?”

Dengan sorot mata tajam kembali pemuda baju kelabu mengamat-amati Lamkiong Peng, lalu menjengek, “Hm, bagus sekali! Murid kesayangan sang Suhu, Sute yang selalu menjadi pujian Suhengnya ternyata orang begini, selagi nasib mati-hidup sang guru belum diketahui, bisa juga iseng mendengarkan perempuan bernyanyi di sini, sungguh hebat!”

“Memangnya ada sangkut paut apa denganmu?” jawab Lamkiong Peng ketus.

Pemuda berbaju kelabu itu terbahak-bahak, “Haha, engkau masih berani bersikap keras, masa engkau tidak mengaku salah?”

“Hm, memangnya siapa kau dan apa maksud kedatanganmu?” jengek Lamkiong Peng.

Pemuda baju kelabu melirik sekejap Bwe Kim-soat yang masih bersandar pohon itu, mendadak ia tertawa pula daun berkata, “Kau ingin tahu siapa aku dan apa maksud kedatanganku? …. Hahaha, untuk itu harus kutahu dulu apakah kau mau mengaku salah atau tidak?!”

“Hm,” jengek Lamkiong Peng. “Jika kedatanganmu ini ingin mencari perkara, ayolah lolos senjatamu dan tidak perlu banyak omong lagi.”

Bwe Kim-soat tampak tersenyum, agaknya dia dapat membenarkan sikap tegas Lamkiong Peng ini.

Suara tertawa pemuda baju kelabu serentak berhenti, dengusnya, “Hm, memang kedatanganku adalah untuk mencari perkara!”

Sekali ia berputar, waktu berhadapan lagi tangannya sudah memegang sebatang tombak bertangkai lemas.

Pedang Lamkiong Peng terselip pada tali pinggangnya, sarung pedang sudah hilang jatuh ke jurang, maka pedang pemberian gurunya ini selalu dijaganya dengan baik.

Ia tersenyum dan menjawab, “Jika engkau memang sengaja mau mencari perkara, terpaksa kulayani beberapa gebrakan.”

Perlahan ia lantas melolos pedangnya, dia tetap bersikap tenang, tapi mantap, emosinya tidak mudah terpancing, ia angkat pedang sebatas dada dan siap tempur.

“Silakan!” katanya. Agaknya sekarang dapat dilihatnya pemuda baju kelabu itu sebenarnya tidak bermaksud jahat melainkan cuma terdorong oleh rasa dongkol dan sengaja merecokinya, maka dalam tutur kata dan tindakan dilayaninya dengan agak sungkan.

Segera pemuda baju kelabu memutar tombaknya sehingga menimbulkan sejalur cahaya perak. Diam-diam Lamkiong Peng memuji kecepatan tombak lawan. Segera pedangnya juga berputar.

Sekonyong-konyong pemuda baju kelabu bersuit terus mengapung ke udara. Cahaya perak ikut mengambang ke atas.

Cepat Lamkiong Peng menyurut mundur setindak, ujung pedang menyungkit ke atas.

Tubuh si pemuda baju kelabu menikung di udara, tombak perak menusuk ke bawah secepat kilat serupa bangau kelabu menerkam mangsa di daratan.

Hati Lamkiong Peng tergerak, “Thian-san-jit-kim-sin-hoat!”

Cepat ia menggeser ke samping, berbareng pedang lantas menebas ke atas. Sinar hijau menahan cahaya perak tombak lawan, tapi ujung tombak pemuda baju kelabu lantas menutul perlahan pada ujung pedang, “tring”, dengan daya pental itu ia melayang lagi ke udara.

Lamkiong Peng menatap tajam lawannya dan tidak memburunya melainkan menunggu orang melayang turun ke bawah.

Padahal kalau dia mau melancarkan serangan susulan tentu lebih untung daripada lawan yang terapung di udara. Namun dia tidak berbuat demikian melainkan berdiri tegak saja.

Ketika pemuda baju kelabu melayang turun, perawakannya yang kekar berdiri tegak tanpa bergerak, hanya tombak perak yang dipegangnya tampak bergetar.

Pemuda baju kelabu ini tak lain tak bukan ialah Tik Yang, sesudah mengubur mayat di rumah gubuk itu, ia lantas memburu ke bawah gunung, ia ingin tahu tokoh macam apakah “Gote” yang menjadi sanjungan Liong Hui itu.

Dia berwatak lugu dan terbuka, tidak menaruh perhatian atas curiga orang lain kepadanya. Tapi setiap pemuda umumnya tentu mempunyai sifat keangkuhan sendiri, maka begitu berhadapan dengan Lamkiong Peng lantas timbul hasratnya untuk menguji kepandaiannya. Selain itu ia pun rada heran mengapa orang bisa iseng mendengarkan nyanyian seorang perempuan cantik di sini.

Setelah berhadapan dengan Lamkiong Peng sekarang, timbul juga rasa sukanya, keduanya berdiri berhadapan dan saling pandang.

Mendadak terdengar Bwe Kim-soat bersuara, “Eh, kenapa kalian berhenti?!”

Tanpa terasa pandangan kedua pemuda itu beralih ke arahnya.

Perlahan Bwe Kim-soat lagi berbangkit dengan gaya yang memikat. Dengan langkah gemulai ia mendekati Tik Yang, lalu menegur, “Apakah engkau ini keturunan mendiang Kiu-ih-sin-eng Tik-locianpwe dari Thian-san?”

Baru sekarang Tik Yang memerhatikan kecantikan orang yang luar biasa itu, ia merasa silau sehingga seketika tidak mampu bersuara melainkan cuma mengangguk perlahan saja.

Bee Kim-soat tertawa, katanya pula, “Tadi tentu engkau telah bertemu dengan Suhengnya?”

Kembali Tik Yang melengak dan mengangguk lagi.

Tentu saja Lamkiong Peng sangat heran dari mana orang mengetahui hal ini.

Siapa tahu Bwe Kim-soat lantas berkata pula dengan tersenyum, “Tentu disebabkan Suhengnya memuji dia di hadapanmu, karena penasaran, maka kau susul kemari untuk mengujinya, betul tidak?”

Terbelalak mata Tik Yang, dengan heran ia mengangguk lagi.

Berturut ia tanya tiga kali dan setiap kali selalu tepat, hal ini membuat Tik Yang selain terkesima atas kecantikannya, juga tercengang oleh kecerdasannya.

“Betul,” akhirnya ia menjawab juga, “Memang betul tadi aku bertemu dengan Suhengnya. Saat ini dia masih di atas sana.”

“Anda ini ….”

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, dengan tertawa Tik Yang berseru pula, “Cayhe Tik Yang, sungguh sangat menyenangkan dapat bertemu denganmu. Maaf atas tindakanku yang kasar tadi, kumohon diri sekarang, sampai berjumpa lagi kelak.”

Begitu kata terakhir itu terucapkan, serentak ia pun sudah melayang pergi.

“Cepat amat!” gumam Lamkiong Peng memandangi bayangan orang yang cuma sekejap saja lantas menghilang di luar hutan sana.

Tiba-tiba Bwe Kim-soat tertawa dan berkata, “Apakah kau tahu sebab apa dia pergi dengan tergesa-gesa?”

Belum lagi Lamkiong Peng menjawab segera ia menyambung lagi, “Sebab dia tidak berani memandang lagi padaku.”

Mendadak Lamkiong Peng membantah, “Engkau selalu memandang buruk sifat orang lain. Sebaiknya kau ikut bersamaku untuk menemui Suhengku, nanti baru engkau tahu di dunia ini masih ada lelaki sejati yang tidak mudah terpengaruh oleh kecantikanmu.”

Habis berkata Lamkiong Peng lantas mengangkat peti mati dan mendahului melangkah ke sana.

Sejenak Bwe Kim-soat tertegun, tanpa terasa ia ikut melangkah ke sana dan berseru, “Hei ….”

“Ada apa?” tanya Lamkiong Peng tanpa menoleh, juga tanpa berhenti.

“Kan gurumu menyuruhmu mengikut dan membela diriku, kenapa sekarang kau tinggalkan aku dan pergi sendiri?”

Terpaksa Lamkiong Peng berhenti dan menoleh, “Bukankah kau pun ikut kemari, kenapa bilang kupergi sendiri?”

“Aku … aku ….” mendadak Bwe Kim-soat mengentak kaki dan berteriak, “Tidak, aku tidak mau ikut ke atas lagi.”

“Jika engkau tidak mau ikut, harap tunggu sementara di sini, peti ini juga kutaruh dulu di sini,” kata Lamkiong Peng dengan tersenyum.

“Siapa bilang akan kutunggumu di sini?” jengek Kim-soat.

“Wah, jika begitu, lantas … lantas bagaimana baiknya?”

“Kau yang ikut aku turun ke bawah gunung ….”

“Tentu saja aku akan ikut turun, cuma hendaknya engkau ikut ke atas dulu.”

Bwe Kim-soat tampak mendongkol, katanya dengan gusar, “Kau ….”

Tapi Lamkiong Peng lantas memotong, “Sudah sekian ribu hari engkau tersekap di dalam peti mati ini, sekarang engkau harus menghirup udara segar. Lihatlah, cuaca cerah, pemandangan indah, betapa menyenangkan bila dapat pesiar ke puncak Hoa-san yang termasyhur ini?”

Bwe Kim-soat termenung sejenak, mendadak ia melayang lewat ke sana dan hinggap di depan Lamkiong Peng, serunya, “Baik, ikut padaku!”

Akhirnya ia naik juga ke atas gunung.

Memandangi rambut orang yang panjang terurai dan kelakuannya yang kekanak-kanakan itu, hampir saja Lamkiong Peng tertawa geli.

Siapa tahu lantas terdengar Bwe Kim-soat mengikik tawa di depan, katanya, “Sekali tempo menurut perkataan orang terasa menarik juga, cuma ….” mendadak ia menoleh dan menegaskan, “Cuma satu kali saja.”

“Baik cuma satu kali saja,” kata Lamkiong Peng sambil menahan rasa gelinya.

Sang surya baru saja terbit, puncak Hoa-san gilang-gemilang oleh sinar matahari pagi itu, sampai rumah gubuk itu pun kelihatan kemilauan tersorot oleh sinar sang surya.

Karena ingin lekas mengetahui keadaan di atas, langsung Lamkiong Peng menuju ke rumah gubuk ini, namun di sini tiada terdapat seorang pun.

“Mereka sudah pergi semua ….” ucapnya dengan kecewa.

“Nah, kan sia-sia kedatanganmu ini,” ujar Bwe Kim-soat.

“Juga belum tentu,” seru Lamkiong Peng, mendadak ia menyodorkan peti mati kepada Bwe Kim-soat, tanpa sempat berpikir Kim-soat menerima peti itu, segera pula Lamkiong Peng melompat ke sana, disingkapnya kasuran tua itu.

Bwe Kim-soat tidak melihat sehelai kertas kuning yang terselip di bawah kasuran, sambil mengangkat peti ia menjengek, “Hm, memangnya di bawah kasur itu ada pusakanya?”

“Memang betul,” kata Lamkiong Peng sambil membalik tubuh perlahan, di tangannya tampak memegang sehelai kertas kuning, dengan cermat ia membacanya, perlahan air mukanya menampilkan rasa lega, tapi juga mengandung rasa heran. Lalu kertas surat itu disimpan dalam baju.

Dengan sendirinya Bwe Kim-soat tidak dapat melihatnya, ia berseru, “Hai!”

“Ada apa?” Lamkiong Peng berlagak bsingung.

Kim-soat mendengus, peti mati disodorkan kembali kepada Lamkiong Peng, setelah diterima anak muda itu, serentak ia melompat keluar rumah gubuk. Karena mendongkol, ia tidak menggubris Lamkiong Peng, tapi belum seberapa jauh tanpa terasa ia menoleh.

Dilihatnya anak muda itu mengikut kemari setelah memandang lukisan yang terukir di batu karang sana.

Sesudah agak dekat, dengan gemas Bwe Kim-soat berkata, “Kau mau bicara atau tidak?”

“Bicara apa?” tanya Lamkiong Peng.

“Apa yang tertulis pada kertas kuning itu?” teriak Kim-soat.

“O, kiranya kau pun ingin membaca surat ini, kenapa tidak kau katakan sejak tadi, tanpa bicara mana kutahu?” ujar Lamkiong Peng dengan tersenyum.

Dengan tangan kanan mengangkat peti, tangan kiri mengeluarkan surat tadi dan disodorkan padanya.

Segera Bwe Kim-soat mengambil surat itu dan dibaca, ternyata isi surat hanya terdiri dari delapan huruf yang berbunyi: “Pesan dari Thian-te, Sin-liong sehat walafiat!”

“Sin-liong sehat walafiat?!” Kim-soat berseru heran, “Masa Put-si-sin-liong belum mati?”

“Tak mungkin mati,” ujar Lamkiong Peng dengan tersenyum.

Bwe Kim-soat memandang anak muda itu sekejap, katanya kemudian setelah berpikir, “Lantas apa artinya istilah Thian-te ini?”

“Tentu nama seorang Bu-lim-cianpwe (tokoh angkatan tua dunia persilatan), kecuali ini tidak mungkin ….”

“Memangnya siapa?” Pernah kau dengar ada tokoh Bu-lim yang disebut Thian-te? Bisa jadi ….” mestinya Kim-soat hendak bilang Thian-te (Tuhan Allah) tentu sinonim dengan “Surgaloka”, jadi cuma istilah olok-olok pihak musuh, atau mungkin juga untuk menipu mereka.

Ia urung meneruskan ketika melihat Lamkiong Peng agak cemas, akhirnya ia menambahkan, “Thian-te … kenapa sebelum ini tidak pernah kudengar nama ini?”

Lamkiong Peng diam saja tanpa bicara.

Setelah berjalan lagi sebentar, tiba-tiba Kim-soat berkata, “Marilah kita menyusuri jalan kecil saja.”

“Kenapa?” tanya Lamkiong Peng.

“Begini dandananku kan malu dilihat orang,” ujar Kim-soat sambil membetulkan rambutnya.

Lamkiong Peng meliriknya dua kejap, kelihaian rambutnya yang panjang indah, mukanya putih bersih dengan baju yang putih mulus, sungguh luar biasa cantiknya, masa malu dilihat orang, sungguh aneh.

Tapi ia pun tidak membantah dan mengikuti kemauannya, menjelang senja, sampailah mereka di Limcong, sebuah kota besar ternama di daerah barat laut.

Limcong memang kota yang ramai, dekat magrib, cahaya lampu sudah menyala di seluruh pelosok kota.

Seorang pemuda gagah cakap membawa sebuah peti mati diiringi seorang perempuan mahacantik dengan dandanan yang khas berjalan berendeng di tengah kota yang ramai ini, kecuali orang yang berlalu-lalang ini orang buta semua, kalau tidak mustahil mereka tidak menarik perhatian khalayak ramai.

Dengan sendirinya Lamkiong Peng serbakikuk, ia menunduk dan menggerundel, “Coba kalau kita melalui jalan besar, mungkin di tengah jalan sudah dapat menyewa kereta.”

Namun Bwe Kim-soat tetap tenang saja, katanya, “Jika kau takut dipandang orang, bolehlah kita mencari tempat berhenti ….”

“Betul juga,” kata Lamkiong Peng sambil memandang ke kanan dan ke kiri, dilihatnya di samping sana ada sebuah restoran paling besar, papan mereknya tertulis lima huruf besar dan berbunyi “Peng-ki-koai-cip-lau”, artinya restoran makan gembira.

Restoran ini memang mentereng dan berbeda daripada restoran ini, tapi langsung ia menuju ke situ.

Namun sebelum tiba di depan pintu, seorang pelayan tinggi kurus keburu memapak kedatangan mereka, bukan menyatakan selamat datang melainkan merintangi jalan mereka.

“Ada apa?” tanya Lamkiong Peng dengan melenggong.

“Kau mau apa?” pelayan itu balas bertanya dengan sikap sombong.

“Sudah barang tentu ingin makan minum,” jawab Lamkiong Peng. “Memangnya restoran kalian ini tidak terbuka untuk umum?”

Pelayan jangkung itu mendengus, “Dengan sendirinya terbuka untuk umum, cuma tamu yang berkunjung kemari dengan membawa peti mati, jelas tidak kami terima.”

Baru sekarang Lamkiong Peng tahu duduknya perkara, ia tertawa dan berkata, “Tapi, peti ini kosong, kalau tidak percaya biar kubuka ….”

Selagi ia hendak menaruh petinya, siapa tahu pelayan itu lantas mendorongnya sambil membentak, “Kosong juga tidak kami terima.”

Meski kurus badannya, ternyata cukup bertenaga juga, jelas pelayan ini bukan sembarangan pelayan.

Karena ramai-ramai itu banyak orang lantas berkerumun.

Sedapatnya Lamkiong Peng menahan rasa dongkolnya, ia coba menjelaskan, “Kukenal kuasa kalian, bolehkah memberi bantuan, biarlah kutaruh peti ini di luar ….”

“Kenal kuasa kami juga tidak boleh, lekas pergi, lekas ….” seru si pelayan dengan gusar. Agaknya Bwe Kim soat juga dapat melihat Lamkiong Peng tidak mau menimbulkan perkara, maka ia menarik lengan bajunya dan berkata, “Di sini tidak terima, biarlah kita cari yang lain saja.”

Tanpa rewel Lamkiong Peng meninggalkan pelayan jangkung itu, didengarnya pelayan itu masih mengomel, “Huh, tidak tanya-tanya dulu tempat apa ini dan siapa yang membuka restoran ini? Memangnya kau tahu siapa Kongcuya kami? Kalau berani bikin onar, mustahil tidak patahkan kakimu ….”

Kim-soat melirik sekejap, dilihatnya Lamkiong Peng tetap tenang saja tanpa keki sedikit pun, diam-diam ia merasa heran.

Siapa tahu, restoran berikutnya juga menolak tamu yang tidak diterima oleh Koai-cip-lau, berturut-turut tiga restoran lain bersikap sama.

Tentu saja Lamkiong Peng rada mendongkol, terutama suara ejekan orang yang membuntutinya untuk melihat keramaian.

Namun dia tetap tenang saja. Sesudah sampai di suatu gang dan mendapatkan sebuah rumah makan kecil yang mau menerima mereka, pemilik rumah makan itu sudah tua, tanpa tenaga pembantu, ia menyiapkan mangkuk piring sendiri bagi tamunya sambil berkata, “Mestinya kami juga tidak berani menerima tamu yang ditolak Koai-cip-lau, tapi, mengingat tuan tamu masih muda dan membawa keluarga …. Ai, konon pemilik Koai-cip-lau mempunyai seorang Kongcuya yang berbudi luhur dan suka menolong sesamanya, di segala pelosok terdapat sahabatnya. Bisa jadi yang tuan temui tadi ialah Yu-jiya yang kabarnya memang lebih galak daripada kuasanya.”

Begitulah sembari bicara, sebentar saja ia telah menyiapkan santapan sekadarnya, tanpa banyak omong Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat makan minum secukupnya.

Kemudian Lamkiong Peng minta pinjam alat tulis, ia tulis sepucuk surat ringkas dan dilipat dengan baik, lalu menyuruh seorang anak penjual kacang di tepi jalan, setelah diberi persen dan pesan seperlunya, anak penjual kacang itu lantas berlalu.

Bwe Kim-soat hanya tersenyum saja dan memandangnya, ia tidak tanya apa yang dilakukannya itu, seperti sudah menduga apa yang bakal terjadi.

Mereka melanjutkan bersantap dengan tenang. Tidak lama kemudian, mendadak dari luar berlari masuk seorang berbaju perlente, seorang lelaki setengah umur dengan muka putih, begitu masuk segera menjura kepada Lamkiong Peng.

Belum lagi orang ini sempat bicara, kembali dari luar berlari masuk seorang lagi dan langsung berlutut di depan Lamkiong Peng dan menyembahnya tanpa berhenti. Nyata orang ini “Yu-jiya”, si pelayan jangkung Koai-cip-lau.

“Eh, ada apakah kalian ini?” ucap Lamkiong Peng dengan tersenyum.

Keadaan “Yu-jiya” itu sekarang sungguh harus dikasihani, berulang menyembah dan minta ampun.

Lelaki perlente setengah umur itu pun tampak gugup, katanya, “Ampun, tak tersangka Kongcuya bisa … bisa berkunjung ke daerah barat laut sini.”

Si kakek pemilik warung makan jadi melongo juga, ia hampir tidak percaya kepada apa yang terjadi.

Maklumlah, keluarga hartawan Lamkiong turun-temurun terkenal kaya raya, di mana-mana hampir terdapat perusahaan mereka, pegawainya tidak kurang dari puluhan ribu orang. Tapi tidak banyak yang kenal majikan muda mereka, Lamkiong Peng.

Sekarang Lamkiong Peng hanya menulis secarik kertas dan dibubuhi tanda tangan, lalu kuasa Koai-cip-lau dan Yu-jiya tadi telah dibikin kelabakan setengah mati dan tidak tahu apa yang harus dikemukakan terhadap majikan muda dan tidak tahu pula cara bagaimana harus minta ampun.

“Wah, tampaknya kita harus ganti tempat untuk makan lebih enak,” kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum

Lamkiong Peng juga tersenyum, ucapnya, “Bagaimana Yu-jiya, bolehkah kami membawa peti ini ke sana.”

Dengan sendirinya anak buahnya takkan membiarkan sang majikan muda mengangkat peti mati sendiri, segera kuasa Koai-cip-lau menyela, “Silakan Kongcu pindah dulu ke tempat sendiri, sebentar hamba akan menyuruh orang mengangkat peti ke sana.”

Diam-diam ia pun heran untuk apakah majikan muda membawa sebuah peti mati kian kemari. Dengan sendirinya ia tidak berani bertanya.

Lamkiong Peng tersenyum, ia mengeluarkan sebuah kantung sutera kecil dan dilemparkan ke atas meja, katanya kepada orang tua pemilik warung, “Inilah uang makan kami …. Satu-dua hari lagi tentu akan kuatur pekerjaan baik bagimu, di bawah pimpinanmu, kuyakin Koai-cip-lau akan melayani setiap pengunjungnya dengan lebih ramah tamah.”

Tanpa menunggu terima kasih si orang tua, segera ia melangkah pergi bersama Bwe Kim-soat. Dengan sendirinya orang yang berkerumun juga lantas bubar.

Orang tua ini berdiri melenggong di dekat pintu, rasanya seperti habis mimpi saja.

Ia duduk di tepi meja dan membuka kantung kecil itu, seketika cahaya gemerdep serupa sinar matahari menyilaukan matanya. Isi kantung adalah empat biji mutiara hampir sebesar jari. Rezeki nomplok ini sungguh datangnya terlalu mendadak, seketika ia terkesima.

Sekonyong-konyong terdengar suara keriat-keriut yang perlahan, waktu ia menoleh, seketika ia melongo, darah serasa membeku. Tanpa terasa kantung sutera kecil itu tersampar jatuh ke lantai, keempat biji mutiara pun menggelinding keluar dan berhenti di samping peti mati yang tertaruh di pojok sana.

Suara keriat-keriut itu rupanya suara terbukanya tutup peti mati, dilihatnya seorang Tojin berjubah hijau dan berlumuran darah merangkak keluar dari dalam peti.

Di bawah cahaya lampu yang guram muka si Tojin kelihatan beringas menakutkan. Saking ngerinya si kakek berdiri seperti patung dengan kaki gemetar.

Belum lagi dia sempat menjerit, tahu-tahu Tojin berdarah itu menubruk tiba, jarinya yang kuat serupa kaitan mencekik leher si kakek.

Hanya sempat terjadi rontakan sedikit, lalu semuanya kembali sunyi lagi. Si kakek roboh terkulai.

Tojin itu celingukan kian kemari, untung di situ tiada orang lain lagi, semuanya sudah ikut pergi menyaksikan kegantengan Lamkiong-kongcu yang termasyhur itu.

Ia menghela napas lega dan buru-buru naik ke atas loteng, ia tukar pakaian milik si kakek, lalu dengan langkah agak sempoyongan ia menyelinap keluar warung makan itu meninggalkan si kakek yang rebah di samping peti mati bersama empat biji mutiara ….

*****

“Putra pewaris keluarga Lamkiong datang ke Limcong,” berita ini telah menggemparkan segenap lapisan masyarakat kota ini.

Di Koai-cip-lau diadakan pesta penyambutan yang meriah, banyak tokoh dari berbagai golongan sama mohon bertemu.

Tapi di tengah keramaian itu, diam-diam pemuda itu mengeluyur keluar dari Koai-cip-lau dan mendatangi lagi warung makan di gang kecil itu.

Ia menjadi heran juga setiba di gang itu, di situ juga penuh berkerumun orang banyak. Cepat ia memburu ke situ dan menyelinap di tengah berjubel orang banyak untuk melongok apa yang terjadi, dengan sendirinya terlihat olehnya adegan yang mengenaskan itu.

Jika seekor burung mati saja dipendam dengan baik oleh Lamkiong Peng, apalagi jenazah seorang tua yang kematiannya dapat diduga karena perbuatannya.

Maka esoknya berlangsunglah upacara penguburan yang ramai, iringan pelayat panjang serupa barisan. Sudah barang tentu semua itu berkat kehormatan Lamkiong-kongcu belaka, kereta jenazah menuju ke tempat pemakaman di Se-an, sebuah kota kuno di sebelah barat Limcong.

Tidak jauh iringan kereta jenazah keluar Limcong, tiba-tiba dari depan berlari datang seorang lelaki kekar dengan pakaian berkabung, sesudah dekat dan melihat Lamkiong Peng berada di samping kereta jenazah, langsung ia berlutut dan menyembah.

Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, lelaki berbaju putih itu sudah bertutur, “Hamba Gui Sing-in, berkat bimbingan Kongcu, saat ini memimpin perusahaan di Se-an ….”

“Baiklah, bicara saja nanti, saat ini bukan waktunya untuk bicara urusan perusahaan,” kata Lamkiong Peng.

Dengan gugup Gui Sing-in menyambung lagi, “Tapi … tapi hamba ingin melaporkan tentang sesuatu peristiwa yang bersangkutan dengan pemakaman ini ….”

Baru sekarang Lamkiong Peng tertarik, cepat ia tanya, “Memangnya terjadi peristiwa apa?”

Maka Gui Sing-in melapor lagi, “Ketika hamba kemarin mendapat kabar maksud Kongcu akan mengadakan pemakaman ini, serentak hamba menyiapkan sesajian yang diperlukan untuk mengadakan sembahyangan di tengah jalan. Siapa tahu secara kebetulan di Se-an juga ada peristiwa pemakaman secara besar-besaran sehingga hampir seluruh barang sembahyang sebangsa hiosoa, lilin, kertas bakar dan sebagainya terborong habis, untung dengan harga lipat barulah hamba mendapatkan sedikit untuk keperluan sekadarnya.”

“Sekadarnya pun sudah cukup, bikin susah saja kepada kalian,” ujar Lamkiong Peng.

“Terima kasih atas kebijaksanaan Kongcu,” kata Gui Sing-in. “Karena khawatir kereta jenazah akan lewat lebih dulu, maka semalam juga hamba sudah siap di sini dengan meja sembahyang, menjelang subuh tadi, mendadak debu mengepul di kejauhan, hamba mengira kereta jenazah telah tiba, siapa tahu yang muncul adalah beberapa penunggang kuda yang semuanya memakai seragam hitam, ikat kepala hitam, bahkan segala sesuatu yang mereka bawa juga serbahitam. Kulihat pada pelana kuda mereka membawa sebuah panji merah kecil, semuanya kelihatan habis menempuh perjalanan jauh, sikap mereka tampak gelisah dan tidak sabar lagi.”

Lamkiong Peng terkesiap, pikirnya, “Mungkinkah para penunggang kuda itu adalah anak buah Suma Tiong-thian dari Ang-ki-piaukiok (perusahaan pengawalan panji merah)?”

Didengarnya Gui Sing-in menyambung lagi penuturannya, “Begitu hamba melihat dandanan kawanan penunggang kuda itu, segera hamba tahu mereka bukan orang baik-baik, maka sedapatnya kami menghindarinya.”

Diam-diam Lamkiong Peng merasa kurang senang oleh komentar Gui Sing-in itu, jika benar mereka orang dari Ang-ki-piaukiok, kenapa disangka bukan orang baik-baik?

“Tak terduga,” demikian Gui Sing-in menyambung lagi, “begitu melihat rombongan hamba, kawanan penunggang kuda itu lantas melompat turun dan sama berlutut sambil berseru, ‘Maaf, Loyacu, kami datang terlambat,’ Malahan ada di antaranya lantas menangis sedih.”

Lamkiong Peng melenggong, ia heran apakah dugaannya juga keliru?

Terdengar Gui Sing-in menutur pula, “Selagi hamba terheran-heran dan ingin tanya mereka datang melayat bagi siapa, tak tahunya kawanan penunggang kuda itu pun sudah sempat melihat tulisan pada meja sembahyang, mereka menjadi gusar dan berbangkit, kontan mereka mencaci maki.”

“Dengan sendirinya hamba tidak rela, kukatakan kalian yang salah lihat, kenapa menyalahkan orang lain. Rupanya mereka menjadi kalap, tanpa bicara lantas menyerang, hamba sekalian tidak mampu melawan mereka, sebagian saudara terhajar hingga babak belur dan sudah dibawa pulang untuk dirawat. Kawanan penunggang itu lantas pergi dan beginilah, mohon Kongcu memaafkan.”

Lamkiong Peng memandang sekejap ke meja sembahyang yang berada di tepi jalan, beberapa lelaki yang berlutut itu tampak benjut dan mata biru, meski tidak parah, tapi cukup mengenaskan.

Lamkiong Peng tetap tenang saja, ia suruh Gui Sing-in dan kawannya berbangkit dan sembahyang penyambutan dilakukan dengan sederhana, lalu iringan kereta jenazah meneruskan perjalanan.

Mendadak timbul pikiran Lamkiong Peng, “Ang-ki-piaukiok itu adalah perusahaan tua dan cukup terkenal di dunia persilatan, Thi-cian-ang-ki (tombak baja panji merah) Suma Tiong-thian juga terkenal luhur budi, setiap anak buahnya tidak mungkin berbuat kasar begitu, mungkin telah terjadi salah paham. Bukan mustahil pula beberapa pegawaiku ini yang kurang sopan sehingga membikin marah orang lain.”

Dia memang pemuda bijaksana, segala sesuatu selalu ditinjau secara adil, sebelum mencela orang lain, periksa dulu kesalahan pihak sendiri.

Kota kuno Se-an semakin dekat, tiba-tiba timbul lagi pikirannya, “Kawanan penunggang kuda berpanji merah itu datang melayat secara terburu-buru, entah kaum Cianpwe siapa di daerah ini yang wafat. Ai, akhir-akhir ini berturut-turut beberapa jago tua telah meninggal dunia, dunia persilatan semakin sedikit tokoh yang bijaksana, bulan mustahil akan timbul lagi kekacauan di dunia Kangouw.”

Perasaannya menjadi tertekan dan masygul.

Selagi melamun, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang di depan sana, hanya sekejap saja beberapa orang muncul dan berdiri sejajar merintangi jalan kereta.

Seorang yang menjadi pemimpinnya berbaju merah, tapi bermuka pucat, mata bersinar, ia tatap Lamkiong Peng dan menegur, “Hendaknya saudara berhenti dulu!”

Terpaksa iring-iringan kereta berhenti, hanya suara musik yang sendu memilukan tetap bergema.

Lamkiong Peng memandang orang-orang itu sekejap dan menjawab, “Ada petunjuk apa?”

Orang berbaju merah itu memandang sekejap iringan kereta jenazah di belakang Lamkiong Peng, lalu berkata pula, “Agaknya Anda inilah penanggung jawab pada iringan ini?”

Lamkiong Peng mengiakan.

“Jika begitu, ingin kumohon sesuatu ….”

“Silakan bicara!”

“Yakni mengenai iringan kereta jenazah kalian ini dapatlah memutar ke pintu gerbang barat saja?”

Lamkiong Peg terdiam sejenak, lalu berkata, “Bukankah gerbang timur sudah dekat di depan?”

“Betul di depan adalah gerbang timur,” jawab orang itu, ujung mulutnya menampilkan senyuman yang angkuh. “Tapi di gerbang timur sana saat ini banyak kawan Kangouw sedang mengadakan sembahyangan untuk menghormati seorang Bu-lim-cianpwe, apabila saudara tidak berputar ke gerbang barat, tentu tidak leluasa.”

Kening Lamkiong Peng bekernyit, “Jika kuganti arah jalan tentu juga akan kurang leluasa. Jalan raya cukup lebar dan dapat dilalui siapa pun, hendaknya maafkan tak dapat kuturut permintaanmu.”

Orang berbaju merah itu tampak kurang senang, ia pandang Lamkiong Peng sekejap, lalu berucap pula, “Aku sih tidak menjadi soal bila saudara tidak mau berganti arah, tapi para sahabat yang di sana itu rasanya sukar untuk diajak bicara ….”

Ia merandek sambil menengadah, tanpa menunggu tanggapan Lamkiong Peng, ia menyambung lagi, “Hendaknya kau pikir sendiri, apabila yang meninggal itu bukan tokoh Kangouw terkemuka, mustahil sahabat Kangouw mau mengadakan upacara penghormatan terakhir baginya di sini. Dan upacara besar-besar ini masa boleh diganggu oleh iringan kereta jenazah lain. Maka, kuharap sebaiknya saudara mengambil jalan putar saja.”

Diam-diam Lamkiong Peng kurang senang, katanya, “Dunia persilatan mengutamakan keluhuran budi dan setia kawan, apalagi membela yang besar dan menindas yang kecil, tentu takkan dibenarkan oleh mendiang tokoh besar yang kalian puja itu. Apalagi, kalau bicara tentang nama dan kedudukan, melulu peti mati di atas kereta kami ini pun tidak perlu harus mengalah dan mengambil jalan lain.”

Orang berbaju merah itu menatap Lamkiong Peng sejenak, mendadak ia tersenyum, katanya, “Baiklah, jika Anda tidak mau terima nasihatku, terpaksa aku tidak ikut campur lagi.”

Segera ia membalik tubuh dan melangkah pergi.

Tak terduga seorang lelaki kekar di sampingnya mendadak berteriak, “Yim-toako tidak mau ikut campur, biarlah aku Sih Po-gi yang ikut campur. Kubilang, wahai sahabat, putarlah ke arah lain!”

Berbareng itu sebelah tangannya terus mendorong pundak Lamkiong Peng.

Air muka Lamkiong Peng berubah, dengan gesit ia hindarkan tolakan orang, bentaknya, “Selamanya kita tidak ada permusuhan, mengapa kau main kekerasan?”

“Hahaha,” lelaki itu terbahak. “Kubilang sebaiknya kau putar ke jalan lain, sahabat cilik, tentu paman Sih takkan membikin susah padamu.”

Sembari bicara kembali dia mendesak maju, tangannya meraih pula hendak memegang bahu Lamkiong Peng.

Namun anak muda itu mendadak mengegos, secepat kilat sebelah tangannya balas meraih pergelangan tangan lawan, sekali sengkelit kontan Sih Po-gi terbanting roboh.

Tentu saja beberapa kawannya terkejut, beramai-ramai mereka lantas menerjang maju.

Syukurlah pada saat itu juga si baju merah yang disebut “Yim-toako” tadi muncul kembali bersama dua orang tua berbaju hitam dan menyerukan agar pertarungan dihentikan.

“Hm, main kerubut, apakah tidak kenal peraturan Bu-lim lagi?” jengek Lamkiong Peng terhadap si baju merah.

“Hebat juga kepandaian saudara cilik ini, rupanya juga orang golongan kita.” kata si baju merah. “Jika begitu urusan menjadi mudah dibicarakan. Kuperkenalkan lebih dulu kedua tokoh kita ini ….”

Lalu ia tuding kakek baju hitam sebelah kiri yang bertubuh lebih tinggi dan berkata pula, “Inilah salah seorang dari Bin-san-ji-yu (dua sahabat dari gunung Bin) yang dulu terkenal sebagai Thi-ciang-kim-kiam (telapak besi pedang emas sakti) Tiangsun Tan, Tiangsun-toasiansing.”

Kakek baju hitam yang disebut itu berdiri diam saja.

Maka si baju merah menunjuk lagi kakek yang lain, katanya, “Dan ini dengan sendirinya ialah Keng-hun-siang-kiam (si pedang penggetar sukma) Tiangsun Kong, Tiangsun-jisiansing.”

Lamkiong Peng memberi hormat dan merasa heran mengapa kedua pendekar pedang yang terkenal berwatak nyentrik ini juga bisa muncul di sini, untuk apa pula si baju merah menonjolkan mereka kepadanya?

Didengarnya si baju merah berucap pula dengan tersenyum, “Diriku memang kaum keroco yang tidak bernama, tapi bila kedua Tiangsun-locianpwe ini pun jauh-jauh datang melayat ke sini, memangnya berapa orang Kangouw yang mempunyai kehormatan sebesar ini, masakah saudara cilik ini tidak dapat menerkanya?”

Pada saat itu juga sebuah kereta kuda putih dengan tabir terurai telah melampaui iringan pelayat dan berada tidak jauh di belakang Lamkiong Peng, tapi anak muda itu belum lagi mengetahui, ia sedang berpikir, “Ya, siapakah tokoh besar yang mati ini, sampai Bin-san-ji-yu juga datang melawat?”

Tanpa terasa ia tersenyum getir, lalu menjawab, “Agaknya pengalamanku terlalu cetek sehingga tidak dapat menerkanya, mohon Anda sudi memberi penjelasan.”

Mendadak air muka si baju merah berubah serius dan khidmat, ucapnya dengan menyesal, “Kematian tokoh ini bagi orang Kangouw serupa meninggalnya orang tua mereka, setiap orang merasa kehilangan sandaran. Beliau tak lain tak bukan adalah jago yang terkenal dengan pedang Yap-siang-jiu-loh, Put-si-sin-liong Liong-loyacu …. Nah, sebagai sesama orang dunia persilatan, sekarang tentu saudara takkan keberatan untuk memutar ke jalan lain, bukan?”

Seketika Lamkiong Peng berdiri mematung dan tidak sanggup bersuara.

Si baju merah merasa heran juga melihat sikap Lamkiong Peng yang serupa orang linglung itu, tegurnya, “Eh, apakah saudara juga kenal Liong-loyacu ini ….”

Mendadak Lamkiong Peng menjura padanya, habis ini mendadak ia berlari ke arah Se-an secepat terbang.

Tentu saja Bin-san-ji-yu melengak, serentak mereka pun hendak bergerak. Tapi si baju merah lantas mencegahnya, “Tidak perlu mengejarnya. Tampaknya perguruan anak muda ini pasti ada sangkut pautnya dengan Put-si-sin-Liong, kepergiannya tentu tidak bermaksud jahat, bisa jadi akan ikut bersembahyang.”

Dalam pada itu Lamkiong Peng sedang berlari ke depan, hanya sekejap saja bayangan benteng kuno sudah tertampak di sana, di kaki tembok benteng tampak penuh berdiri orang berseragam hitam, semuanya memegang dupa dan antre memberi penghormatan terakhir pada meja sembahyang.

Seorang kakek tinggi besar tampak berdiri di tengah orang banyak dengan sikap khidmat, mendadak ia berteriak, “Selama hidup Put-si-sin-liong terkenal gagah perkasa, untuk keperwiraannya, marilah kita bersorak lagi baginya!”

Dan serentak terdengar orang bersorak gemuruh seperti suara yang didengar Lamkiong Peng dalam perjalanan tadi.

Dada Lamkiong Peng terasa bergejolak, entah duka atau gembira, tapi ia masih terus berlari menuju ke depan.

Belasan orang merasa kaget ketika mendadak seorang pemuda menyelinap lewat di antara mereka, serentak mereka membentak dan ada yang berusaha merintangi.

Namun segesit belut Lamkiong Peng terus menyelinap maju.

“Kurang ajar!” gerutu si kakek tinggi besar tadi demi melihat anak muda ini berani main terobos begitu saja di tengah suasana khidmat ini.

Selagi dia hendak memerintahkan orang membekuk Lamkiong Peng, tiba-tiba dua orang di sampingnya memberi kisikan, seketika lenyaplah rasa gusarnya.

Dalam pada itu Lamkiong Peng sudah menerjang sampai di depannya dan memberi hormat kepada si kakek.

Gemerdep sinar mata si kakek, tanyanya, “Apakah kau ini murid kelima Put-si-sin-liong, Lamkiong Peng?”

Suaranya lantang berkumandang sehingga dapat didengar orang banyak. Tentu saja semua orang melengak heran.

Maklumlah, selama Lamkiong Peng masuk ke perguruan Put-si-sin-liong memang belum pernah berkecimpung di dunia Kangouw, dengan sendirinya para kesatria tidak mengenalnya. Meski ada di antaranya yang mengetahui dia adalah murid ahli waris Put-si-sin-liong.

Lamkiong Peng sendiri juga terheran-heran, dari manakah kakek ini dapat mengenalnya, namun lantas dijawabnya dengan hormat, “Wanpwe memang Lamkiong Peng adanya!”

Alis si kakek menegak, katanya dengan bengis, “Jika benar kau anak murid Sin-liong, masakah tidak tahu kami sedang mengadakan upacara sembahyang bagi arwah gurumu? Mengapa sembarangan bertingkah di sini dan mengganggu kekhidmatan suasana.”

Dengan prihatin Lamkiong Peng memberi hormat lagi, lalu berseru lantang, “Atas penghormatan para Cianpwe terhadap guruku, sungguh Wanpwe sangat berterima kasih dan takkan melupakan budi kebaikan ini. Namun ….”

Mendadak ia menyapu pandang para hadirin, lalu berteriak terlebih lantang, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya guruku belum meninggal ….”

Belum habis ucapannya terdengarlah pekik orang banyak.

Dengan melotot si kakek tinggi besar juga melengak, katanya, “Put-si-sin-liong belum mati katamu?” mendadak ia membalik tubuh dan berteriak, “Li Sing, Ong Pun, kemari sini!”

Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana, tertampaklah dari belakang si kakek muncul dua orang berbaju hitam dengan perawakan kekar, ternyata kedua orang ini adalah penggotong peti mati dari Ci-hau-san-ceng itu.

Rupanya sejak Lamkiong Peng meninggalkan mereka untuk mengikuti jejak si Tojin, Liong Hui, Ciok Tim, Kwe Giok-he dan Koh Ih-hong juga naik lagi ke puncak Hoa-san untuk mencari sang guru, karena menunggu sekian lama tidak ada sesuatu kabar berita, kedua orang ini lantas turun sendiri ke bawah gunung.

Karena mengambil jalan besar, ketika sampai di kaki gunung, tertampaklah berbagai jago silat sama menunggu di situ. Rupanya berita tentang pertandingan antara Put-si-sin-liong dan Put-lo-tan-hong di puncak Hoa-san telah tersiar sehingga menarik perhatian kawanan jago silat itu untuk menyusul kemari dan ingin mengetahui hasil pertandingan itu. Cuma mereka pun kenal watak Put-si-sin-liong maka tidak ada seorang pun berani sembarangan naik ke atas.

Karena itulah berita yang dibawa kedua orang penggotong peti mati itu sangat menggemparkan kawanan jago Bu-lim itu,

Berita itu adalah Tan-hong sudah mati, Put-si-sin-liong juga terjebak oleh tipu muslihat murid Tan-hong dan meninggalkan surat wasiat. Kini anak murid Sin-liong juga sudah tercerai-berai.

Meski berita tidak benar dan juga agak dilebih-lebihkan, namun dengan cepat lantas tersiar dan menggemparkan dunia persilatan, terutama beberapa propinsi di sekitar tempat kejadian.

Di daerah barat laut ini ada seorang gembong persilatan dan juga kaya raya, namanya Wi Ki berjuluk Hui-goan atau si gelang terbang, karena pengaruhnya yang besar di wilayah ini, dia juga terkenal sebagai Sai-pak-sin-liong atau si naga sakti daerah barat laut. Orang Kangouw yang jail ada juga yang menyindirnya sebagai “naga gadungan”, tapi Wi Ki tidak ambil pusing, ia sendiri sangat kagum dan hormat terhadap Put-si-sin-liong. Maka berita kemalangan Liong Po-si itu juga sangat mengejutkan dia. Segera ia mengumpulkan para ago silat untuk mengadakan sembahyang bagi arwah Put-si-sin-liong di kota kuno Se-an ini.

Setiap jago silat yang mendengar berita itu serentak juga ikut menyusul ke sini. Yang menambah semarak upacara ini adalah hadirnya tokoh-tokoh yang biasanya cuma terdengar tapi jarang kelihatan, yaitu Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng bersama Bin-san-ji-yu, ketiganya juga ikut hadir.

Begitulah demi melihat kedua penggotong peti mati dari Ci-hau-san-ceng barulah Lamkiong Peng tahu duduk perkara, rupanya memang telah terjadi salah paham, pikirnya, “Pantas berita kematian Suhu diketahuinya, pantas juga dia tahu namaku, kiranya atas keterangan kedua orang ini.”

Dalam pada itu dengan gusar Wi Ki lagi membentak terhadap Li Sing dan Ong Pun, “Berita tentang meninggalnya Put-si-sin-liong berasal dari kalian, bukan?

Li Sing dan Ong Pun mengiakan sambil menunduk.

“Tapi mengapa Go-kongcu kalian menyatakan Sin-liong belum lagi meninggal?” teriak Wi Ki.

Li Sing saling pandang sekejap dengan Ong Pun dan tidak dapat menjawab.

“Apakah kalian menyaksikan sendiri Sin-liong sudah mati?” desak Wi Ki.

Kepala kedua orang itu tertunduk lebih rendah, dengan takut dan gelagapan Li Sing menjawab, “Hamba … hamba … tidak ….”

“Budak kurang ajar!” bentak Wi Ki dengan gusar. “Kalau tidak melihat sendiri, kenapa berani sembarangan omong sehingga membikin malu padaku seperti sekarang ini?”

Saking gusarnya, sebelah tangannya menyapu sehingga macam-macam barang sembahyang tersampar jatuh.

Li Sing dan Ong Pun tetap menunduk dengan muka pucat.

“Locianpwe jangan marah dulu,” seru Lamkiong Peng, “hal ini juga tidak dapat menyalahkan mereka ….”

“Bukan mereka yang disalahkan, memangnya salahku?” kata Wi Ki dengan gusar. “Bila Put-si-sin-liong datang nanti, bukankah aku yang akan dituduh sengaja mengutuki dia supaya lekas mati?!”

Meski kakek ini sudah lanjut usia, tapi wataknya masih keras dan pemberang, baru sekarang Lamkiong Peng tahu kiranya orang tua inilah si gelang terbang Wi Ki, tampaknya memang rada mirip gurunya, pantas orang Kangouw memberi julukan sebagai si naga sakti dari barat laut, hanya saja perangainya tidak sehalus sang guru.

Maka ia berkata pula, “Peristiwa ini agak panjang untuk diceritakan, sama sekali tidak ada maksud Wanpwe akan menyesali tindakan Locianpwe ini, sebaliknya Wanpwe merasa berterima kasih atas maksud baik Locianpwe.”

Wi Ki mengelus jenggotnya, dipandangnya Lamkiong Peng sejenak, lalu ia berpaling kepada Ong Pun berdua, serunya sambil memberi tanda, “Baiklah, boleh kalian pergi!”

Cepat kedua orang itu memberi hormat, lalu mengundurkan diri.

Selagi Lamkiong Peng hendak bicara pula, sekonyong-konyong dari belakang sana bergema suara orang tertawa, “Haha, kiranya saudara ini adalah murid kesayangan Sin-liong, sungguh beruntung sekali begitu menginjak daerah Tionggoan segera dapat bertemu dengan kesatria muda perkasa seperti ini ….”

Lamkion Peng terkejut dan berpaling, terlihatlah si baju merah tadi telah muncul pula dengan memegang sebuah kipas lempit, yang datang bersamanya bukan lagi Bin-san-ji-yu melainkan dua orang muda-mudi, ternyata Toaso dan Samsuheng sendiri, yaitu Kwe Giok-he dan Ciok Tim.

Sambil menggoyangkan kipasnya si baju merah berkata pula dengan tertawa, “Yang lebih menggembirakan orang she Yim ternyata secara tidak sengaja dapat kutemui pula kedua murid kesayangan Sin-liong yang lain. Nah, inilah, siapa mereka berdua, ini tentu kalian sudah tahu!”

Munculnya Kwe Giok-he dan Ciok Tim dengan sendirinya menimbulkan kegemparan pula.

Wi Ki lantas menyapa juga, “Aha, tak tersangka Yim-tayhiap membawa datang lagi dua orang murid kesayangan Sin-liong …. Ah, kalian tentulah Ci-hau-siang-kiam yang akhir-akhir ini sangat terkenal di dunia persilatan.”

Ciok Tim tampak kikuk, sedangkan Giok-he lantas memberi hormat dan menjawab, “Terima kasih atas pujian Locianpwe ….”

Dalam pada itu Lamkiong Peng lantas ikut bicara, “Inilah Toaso kami dan yang itu Samsuheng, Ciok-suheng.”

“O, rupanya inilah nyonya si lelaki baja yang termasyhur itu,” seru Wi Ki dengan tertawa. “Nyata setiap anak murid Sin-liong memang lain daripada yang lain.”

“Ah, betapa pun kami tidak dapat membandingi Lamkiong-sute,” ujar Giok-he dengan tersenyum..

Lamkiong Peng lagi heran mengapa hanya Giok-he dan Ciok Tim saja yang muncul di sini, lalu ke mana perginya Liong Hui dan So-so?

Belum sempat dia mengajukan pertanyaan Wi Ki berkata pula dengan terbahak, “Baiklah sekarang ingin kutanya kepada kalian, jika Sin-liong belum meninggal, ke mana perginya beliau sekarang?”

Lamkiong Peng termenung dan berusaha mencari alasan untuk menjawab, tiba-tiba Kwe Giok-he mendahului bicara, “Suhu memang sangat mungkin masih hidup dengan baik, cuma di mana jejak beliau sekarang kami pun tidak tahu.”

Wi Ki terbelalak heran.

Didengarnya Giok-he berkata pula, “Semalam kami sibuk mencari jejak Suhu di atas gunung, kami juga mengkhawatirkan keselamatan Gosute ….”

“O, jadi dia tidak berada bersama kalian?” tanya Wi Ki dengan kening bekernyit.

Giok-he mengiakan dengan menghela napas perlahan.

Wi Ki tampak kurang senang, tegurnya kepada Lamkiong Peng, “Jika jejak gurumu belum lagi diketahui, bukannya kau cari tahu keselamatannya, sebaliknya kau sibuk mengurusi orang mati di sini, hm, murid macam apakah kau ini?”

Lamkiong Peng melenggong, seketika memang sukar baginya untuk memberi penjelasan, terutama hal-hal yang menyangkut nama baik sang guru, mana dapat diuraikan begitu saja.

Tapi Giok-he lantas berkata, “Usia Gosute masih muda, pula ….” ia menghela napas seperti merasa dapat memaklumi apa yang dilakukan sang Sute.

Wi Ki mendengus dan tidak memandang Lamkiong Peng lagi, katanya pula, “Si lelaki baja Liong Hui pun sudah lama kudengar namanya, mengapa tidak kelihatan juga?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: