Kumpulan Cerita Silat

24/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 12:01 am

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 09. Memaksa Orang Lain untuk Makan
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Akhirnya Siau-hong berangkat juga. Ucapan Ting-hiang-ih memang tidak salah, dengan sendirinya ia tidak dapat menemaninya selama hidup.

Cuaca cukup cerah, sinar sang surya tetap gilang gemilang, tapi rencana Siau-hong tidak riang lagi seperti tadi.

Bila teringat kepada persoalan yang ruwet dan penukaran yang akan dihadapi sungguh ia ingin terjun ke sungai saja dan habis perkara.

Daun rontok memenuhi halaman, dilihatnya seorang anak perempuan berumur belasan berdiri sendirian di bawah pohon yang sudah kering, tangan anak perempuan itu memegang sepucuk surat, dengan pandangan sangsi dan heran ia sedang mengawasi Liok Siau-hong.

Siau-hong mendekatinya, tiba-tiba ia menegurnya dengan tertawa, “Bukankah aku yang sedang kau tunggu?”

Anak perempuan itu terkejut, jawabnya tergagap. “Apakah … apakah engkau ini Liok Siau-hong yang beralis empat itu?”

“Betul, aku ini Liok Siau-hong. Dan kau?”

“Namaku Jiu Peng”

“Hui-thian-giok-hou yang menyuruhmu ke sini, bukan?”

Jiu Peng mengangguk.

Kembali Jiu Peng mengangguk sambil mengangsurkan sepucuk surat.

Baik sampul maupun kertas suratnya, semuanya dari bahan kertas pilihan, tulisannya juga sangat rajin. Surat itu berbunyi: Tuan Siau-hong yang terhormat. Anda pendekar besar masa kini, lelaki ajaib zaman ini, sudah lama kukagumi nama Anda, cuma sayang selama ini tidak dapat bertemu.
Ada pun istriku. Hiang-ih, jika Anda menyukainya, terpaksa kupersembahkan dia bagimu sekedar sebagai tanda kagumku kepada Anda. Semoga diterima dengan senang hati. Kelak bilamana sempat, tentu akan kusiapkan arak untuk diminum bersama dengan Anda. Mengenai biaya makan minum di sini sudah kubayar sampai akhir bulan, terlampir adalah kuitansi dari hotel yang bersangkutan, mohon diterima dengan betul. Terlampir pula surat perceraian istriku agar segala urusan menjadi beres. Mohon diterima sekalian.

Tanda tangan di bawah ternyata betul Hui-thian-giok-hou adanya.

Dengan sabar Siau-hong membaca surat ini, tiba-tiba ia merasa kesabaran sendiri sudah ada kemajuan, ternyata surat ini tidak sampai dirobeknya.

Dilihatnya si gadis Jiu Peng masih berdiri di situ dan memandangi Siau-hong dengan mata terbelalak, agaknya dia juga sangat tertarik oleh lelaki cakap yang beralis empat ini.

“Kau tunggu jawahanku?” tanya Siau-hong dengan tertawa. Jiu Peng mengangguk. Dengan sendirinya Hui-thian-giok-hou sangat ingin tahu bagaimana reaksi Siau-hong setelah membaca suratnya.

“Jika begitu pulang dan katakan kepadanya bahwa aku sangat berterima kasih atas hadiahnya, sebab itulah aku pun akan menghadiahkan sesuatu kepadanya.”

“Apakah perlu kubawa pulang ke sana?” tanya Jiu Peng.

“Barang ini tak dapat kau bawa, harus diambil sendiri ke sini,” kata Siau-hong.

Tiba-tiba Jiu Peng memperlihatkan rasa takut. “Namun…”

“Namun ingin kuberitahukan padamu lebih dulu,” sela Siau-hong, “Hadiah apakah yang akan kuberikan padanya, supaya dapat kau berikan pertanggungan jawab kepadanya?”

Jiu Peng tampak merasa lega. tanyanya, “Hadiah apa yang akan kau berikan kepadanya”

“Bogem mentah!” jawab Siau-hong.

Jiu Peng tampak melenggong karena tidak paham apa yang dimaksudkannya, ia pun tidak berani berunya, ingin tertawa juga tidak berani.

Siau-hong tidak tertawa, ia coba menjelaskan, “Bogem mentah akan kuberikan tepat pada hidungnya.

ooo000ooo

Sekeluarnya dari hotel. Liok Siau-hong terus menuju ke depan melalui jalan yang berdebu. Belum ada satu li jauhnya, tiba-tiba diketahuinya dua hal yang sangat tidak menyenangkannya.
Jalan ini ternyata sangat sepi, kecuali dia sendiri dan Hwe-han-sam-yu. hampir tidak terlihat ada penguntit yang lain.

Dalam saku Siau-hong kini selain tersisa sedikit uang receh, dia tidak punya bekal lain lagi.
Dia suka keramaian, suka melihat macam ragam orang berkeliling di sekitarnya, biarpun diketahuinya ada sementara orang tidak bermaksud baik kepadanya juga tidak dihiraukannya.
Satu-satunya urusan yang dapat merisaukan dia hanya kesepian. Jika di dunia ini masih ada urusan yang dapat membuatnya takut, maka utusan ini juga cuma kesepian.

“Miskin” bukankah juga sejenisnya kesepian? Bukankah datangnya kesepian selalu berikutan dengan datangnya kemiskinan? Pada waktu ada uang, kesepian akan mudah dihalau. Bilamana kantongmu kosong barulah akan kau rasakan kesepian serupa kantongmu, biarpun dicambuk juga tak mau pergi.
Siau-hong menghela napas, untuk pertama kalinya ia merasa angin yang meniup dari depan itu sungguh sangat dingin.

Pada waktu lohor Siau-hong hanya mengisi perut dengan sepiring nasi campur. Sedangkan ketiga kakek yang masih terus menguntitnya itu telah menghabiskan empat kati daging rebus, empat lima macam santapan pilihan dan menghabiskan pula beberapa poci arak.

Saking mendongkolnya hampir saja Liok Siau-hong mendekati mereka dan memberitahukan bahwa orang yang berusia lanjut sebaiknya jangan terlalu banyak makan barang berminyak, arak juga perlu dikurangi, kalau tidak, akan mudah terserang penyakit darah tinggi, sakit jantung dan kencing manis.

Jelas makan siang ini berlangsung dengan tidak memuaskan, mestinya dia tidak perlu memberi tip atau persen kepada pelayan, tapi sayang, seorang kalau biasa menjadi tuan besar, biar pun sudah rudin, sifat tuan besar itu tetap sukar berubah.

Sebab itulah setelah tutup rekening, isi saku Siau-hong tambah kurus.

Padahal Rahasu masih jauh di sana, tanpa bekal cara bagai mana dia akan melanjutkan perjalanan? Dia tidak dapat merampok atau mencuri, tidak dapat menipu, apalagi mengemis. Bila orang lain, terang perjalanan ini tentu akan dibatalkan?

Untung Liok Siau-hong bukan orang lain, Liok Siau-hong tetap Liok Siau-hong, menghadapi kesulitan macam apa pun dia tetap optimis, selalu ada akalnya untuk memecahkan setiap kesulitan.

Menjelang magrib, angin meniup terlebih dingin orang berlalu lalang di jalan hampir tidak kelihatan lagi.

Liok Siau-hong justru lagi berjalan-jalan dengan santai seperti halnya orang yang habis makan kenyang dan lagi melancong di daerah pertokoan yang paling ramai di kotaraja.

Padahal satu piring nasi campur yang dimakannya sudah sejak tadi tercerna habis, namun di dalam hati dia lagi tertawa, sebab betapa pun dia berjalan, kemana dia pergi, ketiga kakek sialan itu harus mengikut di belakangnya.

Siapa pun tahu Liok Siau-hong lebih licin daripada belut lebih cerdik daripada setan, sedikit lengah saja bisa jadi bayangannya akan menghilang dan sukar dicari lagi. Maka selama Siau-hong tidak berhenti untuk makan malam, ketiga kakek itu juga tidak berani berhenti.

Sudah barang tentu, bukan pekerjaan enak bila perut kosong harus makan debu dan minum angin di tengah perjalanan jauh ini.

Selama hidup belum pernah Hwe-han-sam-yu tersiksa seperti sekarang. Akhirnya Koh-siong Siansing tidak tahan, sekali lengan bajunya mengebas. seperti burung saja dia melayang ke sana dan hinggap di depan Liok Siau-hong.

Siau-hong tersenyum, tegurnya, “Mengapa kau cegat jalanku? Apakah kau anggap cara berjalanku kurang cepat?”

Dengan muka masam Koh-siong Siansing berkata, “Aku cuma ingin bertanya sesuatu padamu.”

Kakek ini memangnya bukan orang yang punya rasa humor, apalagi yang tensi di dalam perutnya sekarang hanya api amarah belaka, kontan ia bertanya, “Ingin kutanya padamu, kau tahu waktu tidak?”

Siau-hong berkedip-kedip, katanya. “Ya. rasanya sekarang sudah tiba waktunya makan.”

“Jika tahu, mengapa tidak lekas kau cari suatu tempat untuk makan?” kata Koh-siong Sian-sing.

“Sebab aku belum mau.” jawab Siau-hong.

“Mau atau tidak mau tetap harus makan,” teriak Koh-siong Sian-sing.

Siau-hong menghela napas, “Memaksa orang berjudi atau memaksa orang berzina sudah sering kudengar, tapi belum pernah kudengar ada orang memaksa orang lain untuk makan.”

“Dan sekarang kau sudah kau dengar pula,” kata Koh-siong Siansing.

“Soalnya aku mau makan atau tidak, lalu ada sangkut-paut apa denganmu?” tanya Siau-hong tiba-tiba.

“Setiap manusia kan harus makan nasi, coba katakan, kau manusia atau bukan?”

“Benar, setiap manusia pasti makan nasi, tapi ada sejenis manusia yang tidak dapat makan.”

“Jenis manusia apa?” tanya Koh-siong

“Orang yang tidak gablek duit!”

Akhirnya Koh-siong baru tahu duduknya perkara, sorot matanya menampilkan senyuman geli, katanya segera, “Bagaimana jika ada orang mau mentraktirmu?”

“Itu pun perlu melibat keadaan.” sahut Siau-hong dengan tak acuh.

“Melihat keadaan bagaimana?”

“Perlu kulihat dulu apakah dia mentraktirku dengan sesungguh hati dan sejujurnya atau tidak,” sahut Siau-hong.

“Jika kutraktir dirimu dengan sesungguhnya hati, kau pergi tidak?”

Siau-hong tersenyum. “Jika benar-benar hendak kau traktir diriku, dengan sendirinya tidak enak kutolak.”

Koh-siong menatapnya, “Engkau tidak punya uang untuk makan, ingin ditraktir orang, tapi kau justru tidak mau buka mulut, malah perlu kubuka suara lebih dulu untuk minta persetujuanmu.”

“Sebab sudah kuperhitungkan dengan baik engkau pasti akan mencari diriku,” ujar Siau-hong dengan tak acuh, “Sekarang setelah kau datang, bukan saja soal makan, urusan tempat tinggal juga harus kau tanggung.”

Sampai sekian lama Koh-siong menatapnya pula, akhirnya ia menghela napas panjang dan berkata. “Ai. berita yang tersiar di dunia Kangouw ternyata tidak bohong, untuk bergaul dengan Liok Siau-hong memang betul tidak mudah.”

ooo000ooo

Akhirnya santapan enak dan arak sedap harus disuguhkan, tidak terkecuali pula teh kelas tinggi.

“Kau minum arak?” tanya Koh-siong Siansing.

“Kalau sedikit tidak minum,” jawab Siau-hong.

“Oo. maksudmu, bila mau minum harus minum sepuasnya?”

“Ya, supaya puas. Harus minum banyak dan cepat.”

Segera Siau-hong menuang satu mangkuk penuh, menengadah dan arak itu dituang kedalam mulut, sekaligus ia tenggak habis semangkuk arak itu.

Caranya minum arak bukan dengan ‘minum’ melainkan ‘dituangkan’ ke dalam mulut. Di dunia mi tidak sedikit orang yang kuat minum arak, tapi menuang arak ke dalam mulut serupa Liok Siau-hong tidaklah banyak.

Koh-siong memandangnya dengan terkesima, untuk pertama kalinya ia tersenyum, ia pun menuang satu mangkuk arak dan ditenggaknya.

Caranya menenggak arak ternyata juga bergaya “tuang”. Dalam hati Siau-hong bersorak, “Si tua ini ternyata juga boleh!”

Koh-siong tampak bangga, katanya. “Minum arak selain cepat, juga harus puas. Boleh minum tiga atau lima mangkuk, betapa cepat cara minumnya tidak menjadi soal.”

“Kau sanggup minum berapa banyak?” tanva Siau-hong. “Berapa banyak minumnya juga tidak soal, baru terhitung hebat apabila tidak dapat mabuk biar pun minum sebanyak-banyaknya.”

Kakek yang dingin dan suka menyendiri ternyata lantas berubah menjadi seorang lain bilamana bicara tentang minum arak.

Siau-hong tersenyum dan berkata. “Kau sanggup minum berapa berapa banyak dan tidak sampai mabuk ?”

“Entah, belum pernah kucoba.”

“Memangnya engkau tidak pernah mabuk?”

Koh-siong Siansing tidak menyangkal, ia balas bertanya, “Engkau sendiri sanggup minum berapa banyak dan tidak mabuk?”

“Cukup secawan kuminum sudah terasa rada mabuk, seribu cawan yang kuminum juga tetap begini.”
Untuk ketiga kalinya sorot mata Koh-siong menampilkan senyuman, ucapnya. “Makanya engkau tidak pernah mabuk benar-benar?”

Siau-hong juga tidak menyangkal, ia mendongak, kembali semangkuk dituang pula ke dalam kerongkongan.

Pemain catur ketemu tandingan yang sama kuat adalah suatu pertandingan yang menarik. Sama menariknya jika peminum arak ketemu tandingan yang setimpal.

Kedua kakek lain, Jing-Liok dan Han-bwe, tidak menghiraukannya, tanpa bicara mereka berdiri dan mengeluyur keluar.

Malam sunyi, kedua orang berpangku tangan dan mendongak memandangi langit, sampai agak lama barulah Jing-tiok bersuara perlahan. “Sudah berapa lama Lotoa tidak pernah mabuk?”

“Sudah 53 hari,” sahut Han-bwe.

“Sudah kuduga hari ini Lotoa pasti akan mabuk-mabukan,” ujar Jing-tiok.

Selang sejenak, Han-bwe juga menghela napas dan berucap, “Sudah berapa lama kau pun tidak pernah mabuk?”

“Hampir 23 tahun,” sahut Jing-tiok.

“Sejak kita bertiga mabuk bersama dahulu itu, lalu tidak pernah lagi kuminum seceguk pun?”

“Di antara kita bertiga, jika ada seorang selalu berada dalam keadaan sadar, hidup kita barulah dapat bertahan lebih lama.”

“Jika dua orang tentunya akan lebih baik.”

“Makanya sudah hampir 20 tahun kau pun tidak pernah minum.”

“Ya, 20 tahun kurang 17 hari.”

“Padahal takaran minummu jauh lebih kuat daripada Lotoa,” ujar Jing-tiok dengan tertawa.

Han-bwe juga tertawa, “Ah, mana, yang paling kuat takaran minumnya tentu saja dirimu.”

“Tetapi kutahu, di dunia ini tidak ada orang yang tidak pernah mabuk.”

Memang betul, asalkan masih minum arak suatu ketika pasti mabuk. Hal ini tidak dapat dibantah oleh siapa oun. Sebab itulah Liok Siau-hong juga sudah mabuk.

Rumah ini sangat luas. ada perapian yang besar, Siau-hong berbaring di suatu tempat tidur yang sangat longgar dalam keadaan telanjang bulat.

Bagi Siau-hong, tidur dengan memakai baju serupa halnya kentut dengan membuka celana, perbuatan yang merepotkan dan berlebihan.

Barang siapa kalau mabuk, tidurnya pasti akan sangat nyenyak. Siau-hong juga tidak terkecuali, cuma waktu sadarnya dia jauh lebih cepat daripada orang lain.

Di luar jendela sekarang gelap gulita, di dalam rumah juga gelap pekat, dia sudah mendusin, menghadapi kegelapan yang tak berujung dan kosong ini, dia termangu-mangu hingga lama.

Teringat macam-macam urusan baginya, banyak hal tidak dapat diceritakannya kepada orang lain, bahkan ia sendiri pun tidak berani memikirkannya. Bisa jadi lantaran ingin melupakan hal-hal itu, makanya dia sengaja beradu minum arak dengan Koh-siong Siansing dan sengaja mabuk.

Akan tetapi baru saja ia mendusin dan buka mata, yang segera teringat justru macam-macam urusan itu.

Yang seharusnya dilupakan mengapa justru tidak dapat dilupakannya? Yang mestinya teringat mengapa justru tidak dapat teringat?

Diam-diam Siau-hong menghela napas, ia bangun dengan perlahan, seolah-olah kuatir mengejutkan orang di sampingnya.

Padahal di sampingnya tidak ada orang. Tapi pada saat itu juga tiba-tiba terdengar orang menghela napas perlahan. Nyatanya, meski di sampingnya tidak ada orang, tapi di dalam rumah ini ada orang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: