Kumpulan Cerita Silat

24/02/2008

Amanat Marga (05)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 12:29 am

Amanat Marga (05)
Oleh
Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Kembali Ih-hong menunduk, air mata pun bercucuran pula, ratapnya, “O, Tuhan, mengapa aku dilahirkan menjadi keturunan Coat-ceng-kiam, lalu membuatku utang budi terhadap Put-si-sin-liong …. O, Thian, betapa pedih rasa hatiku setiap kali setelah aku berbuat khianat terhadap Suhu, tapi … tapi jika hal itu tidak kulakukan, bagaimana pula aku harus berbakti terhadap kakek, terhadap ayah ….”

Karena terharu, Ciok Tim juga menitikkan air mata.

Mendadak Giok-he mengusap air mata dan membentak, “Jika kau tahu sukar lagi berbakti terhadap orang tua dan tidak setia terhadap perguruan, untuk apa lagi hidup di dunia ini?”

“Untuk apa lagi hidup di dunia ini,” Ih-hong mengulang kata-kata itu dengan pedih, kembali ia menengadah, memandang kegelapan malam di luar dengan nanar, serupa lagi memandang kejap terakhir atas kehidupan yang terasa berat ditinggalkan ini.

Habis itu mendadak ia meraba bajunya, belati naga emas dilolosnya dan secepat kilat menikam ke ulu hati sendiri sembari meratap pula, “Suhu, Toako, maafkan dosaku ….”

Syukurlah pada detik terakhir itu mendadak Liong Hui membentak dan tangan keburu mengetuk pergelangan tangan Koh Ih-hong yang memegang belati itu, “trang” belati tergetar jatuh.

“Apa maksudmu ini?” bentak Giok-he dengan beringas. “Apakah sengaja hendak kau bela murid durhaka ini?”

Hendaknya maklum, menurut hukum persilatan, dosa yang paling besar adalah berdurhaka terhadap perguruan. Murid yang khianat dianggap tak terampunkan dan setiap orang Kangouw boleh membunuhnya, sekalipun sanak famili juga tidak berani membelanya.

Dengan sendirinya sekarang Kwe Giok-he beralasan untuk menyalahkan sikap Liong Hui yang lunak terhadap Koh Ih-hong.

Liong Hui kelihatan prihatin, dipegangnya tangan Koh Ih-hong, tanpa memandang Giok-he lagi ia berkata, “Simoay, janganlah terburu nafsu, dengarkan dulu ….”

“Apa yang ingin kau omong lagi? ….” potong Giok-he, karena merasa bersalah, ia berharap orang yang mengetahui rahasia perbuatannya ini lekas mati saja.

Tak terduga mendadak Liong Hui berpaling dan membentaknya, “Diam!”

Bentakan keras ini membuat Giok-he melenggong, mukanya berubah pucat. Sejak menikah hingga sekarang belum pernah Liong Hui bersikap keras padanya, selalu menurut dan memanjakan dia. Tapi sekarang sang suami membentaknya sebengis ini, tentu saja hatinya kebat-kebit, disangkanya mungkin Liong Hui telah mengetahui perbuatannya yang tercela itu.

Koh Ih-hong tampak menggigit bibir, air mata bercucuran, ratapnya sedih, “Toako, aku memang pantas mampus, perkataan Toaso memang benar, selama ini aku telah menipu Suhu meski beliau sangat baik padaku ….”

Liong Hui menarik napas panjang, katanya kemudian, “Tidak, engkau tidak menipu beliau.”

Giok-he, Ciok Tim dan Koh Ih-hong sama melengak dan bingung.

Dengan menyesal Liong Hui berkata pula, “Tiga hari setelah kau masuk perguruan Suhu lantas mengetahui asal-usulmu.”

“Hahh?” Koh Ih-hong menjerit kaget.

Giok-he dan Ciok Tim juga melenggong.

Dengan tenang Liong Hui menengadah, air mukanya menampilkan rasa hormat dan kagum, seperti lagi mengenangkan kebesaran pribadi sang guru, katanya kemudian dengan perlahan, “Kau tahu biasanya Suhu sangat ketat dalam hal memilih murid. Aku dan Toasomu adalah anak yatim piatu, bahkan sejak kecil aku sudah diangkat anak oleh Suhu. Samsute adalah cucu seorang sahabat karib Suhu, hubungan keluarga Gote dan Suhu juga sangat erat ….”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, “Maka bilamana Suhu mau, menerima dirimu tanpa mengusut asal-usulmu adalah karena beliau sebelumnya sudah mengetahui seluk-beluk dirimu. Waktu Suma-lopiauthau membawamu kepada Suhu ….”

“Suma-lopiauthau sendiri tidak tahu kepalsuan diriku,” sela Koh Ih-hong, “tapi kakak dan sahabatnya yang merencanakan tipu muslihat ini agar Suma-lopiauthau mengira diriku adalah putri yatim piatu yang telantar dan rebah kelaparan di depan rumah Suma-lopiauthau. Karena kasihan padaku, Suma-lopiauthau lantas membawaku ke Ci-hau-san-ceng.”

Air muka Liong Hui yang kereng tiba-tiba menampilkan secercah senyuman, katanya, “Di dunia ini tidak ada sesuatu urusan yang dapat dirahasiakan selamanya, juga tidak ada seorang pun yang dapat mendustai orang lain sekalipun orang lain itu agak lebih bodoh daripadanya.”

Tergetar hati Giok-he, diam-diam sebenarnya ia merogoh saku dan tiga batang jarum siap dihamburkan ke punggung Koh Ih-hong, demi mendengar ucapan Liong Hui ini, tangannya rada gemetar dan jarum jatuh kembali ke dalam saku.

Perlahan Liong Hui berkata pula, “Jangan kau kira Suma-lopiauthau telah kalian tipu, yang benar, sebabnya beliau mau membawamu ke Ci-hau-san-ceng adalah karena dia melihat ada sesuatu yang janggal pada keteranganmu. Coba kau pikir, seorang anak yatim piatu mengaku ingin belajar ilmu silat, mengapa yang dituju adalah Ci-hau-san-ceng? Padahal Suma-lopiauthau sendiri juga termasyhur kelihaiannya, bila ingin belajar kenapa tidak kau angkat guru saja padanya, tapi engkau minta beliau membawamu ke Ci-hau-san-ceng?”

Koh Ih-hong jadi melenggong.

Maka Liong Hui menyambung lagi, “Dari dahulu hingga sekarang memang sering ada orang pintar berbuat keblinger. Kakakmu mengira dirinya teramat pintar, tapi tak terpikir olehnya akan kejanggalan ini.”

Kepala Koh Ih-hong tertunduk terlebih rendah.

Hati Giok-he juga tergetar pula, pikirnya. “Dia sengaja bicara demikian, apakah ada maksud lain dan sengaja diperdengarkan padaku?”

Didengarnya Liong Hui menghela napas dan bertutur pula, “Setelah engkau dibawa datang oleh Suma-lopiauthau, beliau lantas mengadakan pembicaraan rahasia dengan Suhu, akhirnya Suhu menarik kesimpulan engkau pasti putri musuh. Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab, apalagi Suma-piauthau memang seorang yang berwatak keras dan tegas, saat itu juga beliau menyatakan, ‘Bila sudah jelas asal-usulnya, bila perlu babat rumput sampai akar-akarnya’.”

Tergetar tubuh Koh Ih-hong.

Liong Hui menggeleng dan menyambung lagi, “Tapi waktu itu Suhu hanya tersenyum saja dan menyatakan penyesalannya karena selama hidup beliau telah banyak mengikat permusuhan dan dengan sendirinya akan banyak menimbulkan sakit hati orang lain, maka beliau menegaskan takkan menyesal andaikan pada suatu hari ada keturunan musuhnya akan mencari balas padanya dan bahkan membunuhnya. Ia anggap balas membalas, utang harus bayar, hal ini sangat lumrah dan adil.”

Setelah berhenti sejenak mengenang kebesaran jiwa sang guru, kemudian Liong Hui menyambung lagi, “Walaupun kuharap janganlah kumati secara tidak wajar di kemudian hari, tapi aku pun tidak mau bertindak membabat rumput sampai akar-akarnya, membunuh keturunan musuh habis-habisan. Kuharap permusuhan dapat diakhiri, maka tidak peduli anak perempuan ini putri musuhku yang mana, betapa pun dia adalah anak yang punya cita-cita tinggi, bakatnya juga tidak jelek, dengan susah payah ia berusaha masuk ke perguruanku, mana boleh kubikin dia kecewa. Umpama kelak setelah dia berhasil menguasai ilmu silat ajaranku dan berbalik aku dibunuhnya, tetap aku takkan menyesal, bahkan kalau dengan demikian akan dapat mengakhiri dendamnya padaku sehingga permusuhan ini dapat dihapus, kan semuanya jadi baik?”

Mendengar sampai di sini, tangis Koh Ih-hong yang tak bersuara mendadak pecah lagi menjadi tangis keras.

Liong Hui berkata pula dengan menyesal, “Waktu itu kuladeni Suhu di samping, maka semua percakapan mereka dapat kudengar dan kuingat benar. Malam itu juga Suhu menerimamu sebagai murid dan pada malam itu juga beliau ….”

Tanpa terasa ia memandang Giok-he sekejap, lalu menyambung, “Malam itu juga beliau mengumumkan pernikahanku dengan Toasomu.”

Ia termenung pula sejenak seperti lagi mengenangkan kebahagiaan pada malam itu, kemudian lanjutnya, “Apakah engkau masih ingat pada esok pagi berikutnya Suhu lantas berangkat pergi, pada malam ketiga Suhu baru pulang dan mengatakan padaku bahwa dirimu adalah keturunan Koh Siau-thian Koh-locianpwe, aku disuruh menjaga rahasia ini dan menyuruhku harus memperlakukan dirimu dengan baik.”

Tambah sedih tangis Koh Ih-hong, banyak isi hatinya yang ingin diungkapkannya, tapi sepatah kata saja tidak sanggup berucap.

Dalam pada itu pikiran Kwe Giok-he tambah kusut dan gelisah, maklum, ia merasa bersalah, perempuan yang tidak setia terhadap sang suami betapa pun tetap menanggung tekanan batin.

Demikian pula dengan Ciok Tim, ia pun menyadari betapa kotor dan rendah perilakunya itu, terutama hal ini menyangkut istri Suheng yang dihormatinya. Cuma hati nuraninya sering terpengaruh oleh bujuk rayu yang memabukkan dan membuatnya lupa daratan.

Liang Hui tidak menghiraukan mereka, perlahan ia bertutur lagi, “Pada suatu hari, malam sudah larut kulihat engkau menyelinap keluar taman belakang perkampungan, kutahu Ginkangku tidak mampu mengimbangi dirimu, maka aku cuma mengintai dari kejauhan, kulihat engkau mengadakan pembicaraan rahasia di dalam hutan dengan seorang lelaki jangkung. Sekarang dapat kuterka orang itu tentulah kakakmu.”

Koh Ih-hong mengangguk perlahan.

“Semua itu sudah kuketahui sejak dulu, cuma ada sesuatu yang sukar kupahami, entah …. Ai, sudahlah, kutahu keadaanmu yang serbasusah, sesuai pesan Suhu, tidak perlu kudesak ….”

Mendadak Ih-hong mengusap air mata dan bcrucap tegas, “Urusan apa pun pasti akan kukatakan dan akan kuanggap Toako yang memaksaku bicara.”

“Kukira tidak perlu, engkau ….”

“Aku memang tidak pernah melupakan sakit hati orang tua,” tukas Ih-hong. “Tapi … tapi Suhu … kini Suhu sudah ….”

“Suhu pasti takkan mati,” tukas Liong Hui dengan penuh keyakinan.

“Apa pun juga kini sudah tiba saatnya harus kubalas budi kebaikan Suhu,” kata Ih-hong.

“Tapi bila akibat tindakanmu ini akan membikin susah kakakniu sendiri? ….”

“Sedapatnya akan kuusahakan menghapuskan permusuhan ini, bukankah Suhu sudah menyatakan permusuhan lebih baik dihapus dan jangan diperdalam.”

“Dan kalau tidak dapat dihapus, lantas bagaimana?”

“Jika tidak kuselesaikan, biarlah kumati di depan kakak, biarlah kugunakan darahku untuk mencuci permusuhan kedua pihak,” kata Ih-hong dengan tegas.

Mendadak Liong Hui menengadah dan terbahak, “Haha, bagus, bagus! Tidak percuma Suhu menerimamu sebagai murid. Bakti dan setia memang sukar terlaksana sekaligus, budi dan benci juga sulit terselesaikan bersama. Menghadapi perkara serbasulit begini, bagi seorang lelaki sejati hanya mati saja yang dapat menyelesaikan tugas ini.”

Mendadak ia berhenti tertawa dan menyambung sambil menatap Koh Ih-hong, “Jika aku menjadi dirimu, tentu demikian pula tindakanku.”

Kedua orang lantas saling pandang dengan penuh saling pengertian.

Melihat itu, hati Giok-he tambah tidak enak, bilamana di antara mereka tambah akrab, bukan mustahil pada suatu hari rahasianya pasti akan dibeberkan oleh Koh Ih-hong. Ia menjadi serba susah. Ia coba memandang Ciok Tim, anak muda itu kelihatan menunduk, tampaknya juga tertekan batinnya.

Pada saat itulah sekonyong-konyong di atas rumah ada suara orang bergelak tertawa nyaring, “Hahaha! Sungguh lelaki yang gagah dan perempuan yang bijaksana!”

Semua orang sama kaget.

“Siapa?” bentak Liong Hui.

Waktu ia berpaling, tahu-tahu sesosok bayangan kelabu melayang tiba.

Agaknya orang ini sudah sekian lama berada di atas rumah bambu ini, namun tiada seorang pun yang mengetahuinya, gerak tubuhnya yang ringan waktu melayang turun juga sedemikian gesitnya, tentu saja semua orang tambah terkejut.

Waktu Liong Hui berempat mengamatinya, terlihat orang yang melayang tiba ini masih muda, berdahi lebar bersinar mata tajam, meski wajahnya tidak terlalu cakap, tapi cukup cerah dan menarik. Perawakannya juga tidak terlalu tinggi, kelihatan agak gemuk, namun gerak-geriknya tangkas dan cekatan. Wajahnya yang agak kehitaman selalu mengulum senyum dan membuat setiap orang yang baru bertemu tidak merasa jemu padanya.

Sekali pandang saja Liong Hui lantas berkesan baik juga terhadap orang ini.

Pemuda cerah ini pun langsung mendekati Liong Hui dan memberi hormat, katanya, “Selamat, Toako!”

Nada dan sikapnya seakan-akan sudah kenal baik kepada Liong Hui.

Tentu saja Giok-he dan Ciok Tim merasa heran, mereka sama memandang Liong Hui.

Waktu Koh Ih-hong mengenali pendatang ini, air mukanya juga berubah.

Meski sangsi, Liong Hui adalah seorang yang simpatik, cepat ia balas hormat orang dan menjawab, “Selamat, sama-sama selamat!”

Dengan tertawa cerah pemuda itu berucap pula, “Kutahu Toako tidak kenal diriku, tapi aku justru kenal Toako, dan ….” mendadak ia berpaling dan menatap Koh Ih-hong dengan tajam, lalu menyambung, “…. juga adik cilik ini.”

“Kau … kau ….” Ih-hong tampak gugup, tanpa terasa menyurut mundur.

“Siapa kau sebenarnya?!” bentak Ciok Tim.

“Siapa aku, rasanya sulit untuk kujawab,” kata pemuda cerah itu. “Tadi adik Koh ini mengatakan kakaknya telah menghimpun serombongan keturunan musuh Liong-loyacu, aku termasuk satu di antaranya, aku pun ikut bersama mereka merencanakan cara bagaimana menuntut balas.”

“Jika sahabat ini ternyata lawan dan bukan kawan, harap bicara terus terang apa maksud kedatanganmu ini,” kata Liong Hui segera sambil membusungkan dada. “Anak murid Ci-hau-san-ceng sudah siap menghadapi segala sesuatu.”

“Haha, lawan dan bukan kawan,” pemuda cerah itu mengulangi ucapan Liong Hui. “Bilamana aku lawan, mana mungkin kupanggil Toako padamu. Jika lawan, mana kusediakan obor dan memasang tali panjang bagimu.”

Mendadak sikapnya berubah kereng dan menyambung pula, “Meski aku ikut serta dalam muslihat mereka, tapi aku tidak pernah ikut bicara, tidak mengajukan sesuatu usul …. Haha, makanya mereka menganggap diriku ini sebagai orang tolol, orang linglung yang tidak berguna lagi.”

“Obor, tali, semua itu ….” Liong Hui berkerut kening, ia coba berpaling ke arah Koh Ih-hong, kelihatan nona itu mengangguk perlahan.

Pemuda cerah tadi bergelak tertawa dan berkata pula, “Namun bagiku justru mereka itulah kawanan orang tolol, mereka tidak mau berpikir bahwa tokoh yang pernah menggetarkan dunia Kangouw Kiu-ih-hui-eng (elang terbang bersayap sembilan) Tik Bong-peng masakah bisa mempunyai seorang anak yang goblok.”

“O, kiranya Tik-kongcu,” cepat Liong Hui memberi hormat. “Sering kudengar cerita guruku bahwa di antara lawannya dahulu, tokoh yang paling dihormati dan disegani beliau adalah Tik-locianpwe?”

Wajah pemuda cerah itu tampak prihatin ia membalas hormat dan berucap, “Mendiang ayahku ….”

“O, apakah Tik-locianpwe sudah wafat? Mengapa tidak terdengar berita ini di dunia Kangouw?” kata Liong Hui.

Pemuda itu tersenyum murung, jawabnya, “Belasan tahun ayah mengasingkan diri di Thian-san yang jauh sana, dengan sendirinya tidak ada kabar berita mengenai beliau di dunia Kangouw.”

Liong Hui tahu sejak Kiu-ih-sin-eng Tik Bong-peng dikalahkan oleh gurunya, nama kebesarannya lantas runtuh dan sejak itu menghilang dari dunia Kangouw.

Dilihatnya pemuda cerah itu bicara pula dengan bersemangat, “Sebelum meninggal, ayah juga sering bicara tentang kegagahan Put-si-sin-liong, beliau tidak pernah menyesal karena kalah di bawah pedang si naga tak termatikan.”

“Tapi guruku juga sering mengatakan seharusnya Tik-locianpwe menang dalam pertarungan itu, sebab lebih dulu guruku telah tertusuk oleh pedang Tik-locianpwe,” kata Liong Hui.

“Salah, bukan begitu halnya,” ujar si pemuda cerah. “Ayah telah menceritakan semua kejadian pada waktu itu. Waktu itu Liong-loyacu berkunjung ke Thian-san di bawah hujan salju dan angin badai, beliau menunggu lagi sehari semalam di puncak Thian-san. Padahal Liong-loyacu datang dari daerah Kanglam yang beriklim hangat, mana tahan akan dingin salju dan angin di puncak Thian-san, karena itulah kaki dan tangan beliau tentu saja kaku kedinginan, dengan begitu barulah ayahku bisa menarik keuntungan. Tapi ketika ujung pedang ayah menyentuh badan Liong-loyacu, pedang Liong-loyacu juga sudah mengancam di dada ayah. Apabila Liong-loyacu tidak bermurah hati, tentu …. Ai!”

Diam-diam Koh Ih-hong menghela napas, terpikir olehnya betapa sempit jalan pikiran kakek sendiri dibandingkan kebesaran jiwa Kiau-ih-sin-eng Tik Bong-peng.

Didengarnya pemuda she Tik itu bertutur pula, “Sebelum ayah meninggal, berulang beliau memberi pesan padaku bahwa Liong-loyacu sesungguhnya berbudi kepada beliau, maka kelak aku harus membalas budi dan bukannya membalas dendam. Pesan ini setiap saat selalu kuingat dengan baik. Setelah ayah wafat, aku lantas meninggalkan Thian-san dan datang ke Tionggoan sini, waktu itu aku gemar minum ….” ia tersenyum, lalu menyambung, “Sampai saat ini aku tetap suka minum arak hingga lupa daratan.”

Liong Hui tersenyum, ia tertarik kepada pemuda yang suka terus terang ini.

Terdengar pemuda she Tik menyambung lagi, “Suatu hari aku mampir minum arak di sebuah rumah minum kecil di luar kota Tai-beng-hu, sekaligus kuhabiskan dua guci Tik-yap-jing simpanan pemilik rumah minum itu. Tik-yap-jing memang arak yang sedap, waktu diminum tidak terasa keras, sesudah masak perut, bekerjanya justru sangat lama. Aku sudah terbiasa minum arak keras daerah Kwan-gwa, maka sekali ini aku terperangkap, tidak jauh meninggalkan rumah minum itu aku lantas mabuk dan mengaco-belo tak keruan ….”

Sampai di sini, ia tertawa kikuk, lalu melanjutkan, “Kemudian baru kuketahui, dalam keadaan mabuk aku telah membual tentang ilmu pedangku yang tidak ada tandingan, kubilang Put-si-sin-liong juga bukan tandinganku, kukatakan pula Thian-san-kim-hoat tidak ada tandingannya di dunia, ilmu pedang daerah Tionggoan sama sekali tidak ada artinya bagiku.”

Liong Hui tersenyum, ia tambah senang terhadap anak muda yang suka bicara blak-blakan ini.

“Esok harinya ketika aku sadar, kulihat di sampingku seorang pemuda ganteng sibuk melayani diriku,” tutur lagi pemuda she Tik. “Dia itulah kakak adik Koh ini, Koh Kang. Selama tiga hari kami pesiar bersama dan menghabiskan lagi beberapa guci Tik-yap-jing. Akhirrya Koh Kang membeberkan rencananya kepadaku, katanya dia telah mengumpulkan, segenap keturunan musuh Put-si-sin-liong dan bermaksud menagih utang berdarah kepada jago nomor satu itu.”

Malam tambah larut, cahaya mutiara semakin terang, semua orang seakan-akan lupa lapar dan lelah dan asyik mendengarkan ceritanya.

“Waktu itu aku terkejut, sebab dari keterangannya kutahu orang-orang yang telah dikumpulkannya adalah keturunan jago-jago terkemuka belasan tahun yang lalu, betapa tinggi kepandaian Put-si-sin-liong pasti juga akan repot menghadapi jago muda yang dihimpunnya ini.”

Ia terdiam sejenak, lalu menyambung, “Mau tak mau mengiang lagi pesan ayahku bahwa aku harus membalas budi kepada Liong-loyacu, maka ajakan Koh Kang kuterima. Adapun apa yang terjadi selanjutnya tentu sudah dituturkan oleh adik Koh tadi yang tidak diketahui oleh Toako mungkin adalah mengapa orang-orang ini bisa berkaitan dengan pertandingan antara Tan-hong dan Sin-liong di Hoa-san ini dan cara bagaimana disiapkan perangkap ini?”

“Ya, memang urusan ini membuatku bingung ….” kata Liong Hui. “Tapi sebelum kau bicara lagi, maukah kau beri tahukan lebih dulu namamu?”

“Tik Yang!” kata si pemuda cerah sambil memberi gerakan melayang-layang di udara. “Namaku Yang, yang melayang. Nama ini tidak menonjol di dunia Kangouw sebab beberapa tahun ini aku selalu berlagak bodoh dan pura-pura dungu.”

Liong Hui tersenyum, juga Koh Ih-hong merasa geli. Hanya Ciok Tim saja yang bungkam dengan muka cemberut.

Giok-he memandangnya beberapa kejap, katanya kemudian, “Tik Yang, sungguh nama bagus!”

“Terima kasih, Toaso,” Tik Yang memberi hormat.

Pemuda ini ternyata pandai bergaul dengan siapa pun, dalam suasana bagaimana pun dia dapat menempatkan dirinya secara riang dan penuh humor.

Diam-diam Ciok Tim mendongkol, ia melengos ke sana dan tidak mau memandangnya lagi.

Sebenarnya watak Ciok Tim tidaklah jelek, hanya dalam hal urusan perempuan telah membuatnya kehilangan pribadinya. Sikap Tik Yang terhadap Koh Ih-hong tadi telah membuatnya mendongkol, sekarang Giok-he bersikap manis lagi kepada Tik Yang, tentu saja dia tambah cemburu, tapi tidak dapat berbuat sesuatu.

Terdengar Tik Yang bicara lagi, “Meski ada maksudku hendak bekerja bagi Liong-loyacu, tapi mengingat ada persekutuanku dengan Koh Kang dan lain-lain, terpaksa aku tidak dapat tampil melainkan cuma berusaha secara diam-diam saja.”

“Sudah banyak bantuanmu dengan obor, tali dan sebagainya,” kata Liong Hui. “Semula kami tidak tahu orang kosen dari mana yang diam-diam memberi bantuan, tak tersangka adalah jasa baik Tik-hiante. Sungguh kami sangat gembira dapat bertemu denganmu.”

Tik Yang menghela napas, “Sejak berkelana di daerah Tionggoan lantas kudengar cerita di dunia Kangouw bahwa murid utama Sin-liong-bun, si lelaki baja Liong Hui adalah kesatria yang jujur dan berbudi luhur, hari ini dapat bertemu sendiri dengan Toako, ternyata memang tidak bernama kosong.”

“Ah, Tik-hiante terlalu memuji,” kata Liong Hui.

Dengan serius Tik Yang berucap pula, “Bilamana tadi aku tidak menyaksikan sendiri tindak tanduk Toako, tentu aku takkan menemui Toako di sini.”

Ia berpaling dan memandang sekejap mayat menggeletak di lantai itu, lalu berkata pula dengan menyesal, “Meski orang ini tidak ada hubungan erat denganku, tapi jelek-jelek kami sudah berkawan. Walau dia sudah mati Toako tetap menghormatinya tanpa memperlakukan kasar padanya. Kupikir bilamana terhadap orang mati saja Toako bersikap demikian, apalagi terhadap yang hidup. Kalau dapat bersahabat dengan kesatria semacam ini sungguh tidak sia-sia kunjunganku ke Tionggoan ini. Sebab itulah aku lantas melompat turun kemari ….”

“Kiranya sejak mula Tik-hiante sudah bersembunyi di atas rumah, sungguh tidak becus kami ini, ternyata tidak ada seorang pun yang mengetahui jejakmu,” kata Liong Hui dengan tersenyum.

“Memangnya siapa yang tidak pernah mendengar Sam-hun-sin-kiam dan Jit-kim-sin-hoat dari Thian-san-pay, setelah melihat Ginkang Tik-hiante tadi nyata Kungfu Thian-san yang termasyhur itu memang tidak omong kosong,” kata Giok-he dengan tersenyum, agaknya ganjalan hati tadi sudah terlupakan.

“Ah, Sam-hun-kiam-hoat dan Jit-kim-sin-hoat hanya kupelajari serba sedikit saja, kalau ada sedikit kemajuanku, paling-paling lantaran setiap hari berlarian di tanah pegunungan bersalju sehingga tubuhku lebih ringan dan kakiku lebih kuat, mana pantas dipuji oleh Toaso. Apalagi kalau dibandingkan Sin-liong-kiam-hoat, sungguh aku merasa malu sendiri.”

“Sin-liong-kiam-hoat memang cukup membanggakan, namun sayang di antara anak muridnya seperti kami ini tidak ada seorang pun mampu mewarisi kepandaian Suhu,” kata Liong Hui dengan gegetun. “Hanya Gote saja yang berbakat dan punya dasar yang kuat, cuma sayang dia belum lama belajar dengan Suhu dan belum kelihatan sesuatu yang menonjol. Sebaliknya diriku yang paling lama ikut Suhu justru teramat bodoh.”

“Gote yang disebut Toako itu apakah keturunan keluarga Lamkiong yang kaya raya dan belum lama masuk perguruan Sin-liong itu” tanya Tik Yang.

Liong Hui membenarkan.

“Pernah juga kudengar pemimpin grup hartawan Lamkiong cuma mempunyai seorang putra tunggal yang sejak kecil gemar belajar silat dan entah berapa banyak mengangkat guru serta membuang biaya, cuma sayang yang didapatkan semuanya bukan tokoh yang tepat. Baru akhir-akhir ini ia diterima ke dalam perguruan Sin-liong. Heran juga putra keluarga hartawan yang biasanya cuma suka foya-foya ternyata mau tekun belajar silat segala.”

“Hubungan keluarga Lamkiong dengan perguruan kami memang sangat erat dan cukup panjang untuk diceritakan,” tutur Liong Hui. Lalu ia mengacungkan ibu jari dan berkata pula, “Meski Gote kami ini putra keluarga hartawan ternama, tapi dia bukan pemuda keluarga kaya umumnya. Selain bakatnya tinggi dan otaknya cerdas, dia juga berbakti kepada orang tua, setia terhadap guru dan berbudi terhadap kawan. Tidak bingung menghadapi perempuan cantik, tidak gugup menghadapi bahaya. Ia pun serba pandai dan giat belajar. Kuyakin hanya dia saja yang dapat mengembangkan nama baik Sin-liong-bun kelak.”

Biasanya Liong Hui tidak pandai bicara, tapi apa yang diuraikan ini adalah sesuatu yang menjadi kebanggaannya, maka nadanya lantang dan wajah berseri.

Ciok Tim tetap berdiri menghadap ke sana. Sedangkan Giok-he ikut mendengarkan dengan tersenyum simpul.

Koh Ih-hong lagi memandang langit-langit rumah, entah asyik mendengarkan atau sedang melamun.

“Dan berada di manakah Lamkiong-toako itu sekarang?” demikian Tik Yang bertanya.

“Gote saat ini seharusnya juga berada di sini, tapi ….” segera Liong Hui menceritakan apa yang terjadi dan yang telah dilakukan Lamkiong Peng.

Tik Yang tampak tertarik, katanya, “Wah, bila mendengar cerita Toako ini, sungguh rasanya aku ingin segera menyusul ke bawah gunung untuk menemui Lamkiong-heng yang hebat itu ….”

“Bukan cuma engkau saja, kami juga ingin segera bertemu lagi dengan Gote,” kata Liong Hui. “Tapi urusan di sini tentu saja lebih penting, apalagi kalau Tik-hiante tidak menjelaskan lebih lanjut persoalan ini, ke mana lagi akan kami cari jejak guru kami?”

“Ya, betul juga.” ucap Tik Yang dengan tertawa. “Kita asyik bicara urusan lain sehingga melupakan urusan penting.”

Ia menengadah dan memandang kelima biji mutiara yang terbingkai di belandar rumah bambu itu, lalu berkata pula, “Toako, engkau sudah lama berkelana di dunia Kangouw, apakah kau tahu asal-usul kelima biji mutiara ini?

Liong Hui tertegun, jawabnya, “Tidak.”

“Dahulu, setelah pertemuan Wi-san, nama Tan-hong Yap Jiu-pek sangat termasyhur, tatkala mana beliau belum pindah ke Hoa san sini melainkan tinggal di kaki gunung Wi itu dengan perkampungan yang bernama Sip-tiok-san-ceng ….”

“Ya, ini kutahu,” kata Liong Hui.

“Dan Toako pasti juga tahu peristiwa besar yang terjadi di Sip-tiok-san-ceng pada sepuluh tahun yang lalu?”

“Apakah yang kau maksudkan itu adalah pertemuan besar orang persilatan yang disebut ‘Pek-niau-tiau-hong’ (beratus burung menghadap Hong) itu?”

“Betul,” kembali Tik Yang tertawa cerah. “Waktu itu aku masih kecil, meski jauh tinggal di daerah perbatasan sana, tapi kudengar juga keramaian pada pertemuan besar itu. Konon senjata setiap tamu harus ditanggalkan, arak yang disuguhkan kalau dituang ke Thay-oh akan menambah air danau itu naik pasang tiga senti ….”

“Aku sendiri hadir dalam pertemuan itu, meski sangat ramai, tapi juga tidak terlalu luar biasa,” ujar Liong Hui dengan tersenyum.

“Betul juga ucapan Liong-toako mengingat jauh 30 tahun sebelumnya pertemuan besar yang diadakan Liong-loyacu di Sian-he-nia ketika meresmikan nama gelar beliau.”

Tersembul senyuman bangga pada ujung mulut Liong Hui, katanya “Dalam pertemuan itu, Suhu tidak menyediakan pondokan, juga tidak ada perjamuan, setiap tamu yang hadir sama membawa arak dan makanan sendiri dan diperbolehkan membawa senjata ….”

“Haha, hadir dengan membawa arak dan santapan sendiri, juga tidak dilarang membawa senjata, pertemuan bebas begini sungguh tidak pernah terjadi dalam sejarah dunia persilatan. Orang yang mengusulkan pertemuan cara ini pasti seorang kesatria perkasa, sayang usiaku terlalu muda dan tidak dilahirkan pada zaman itu,” seru Tik Yang dengan tertawa.

“Peristiwa itu disponsori oleh 13 jago tua dari ke-13 propinsi, tapi yang memimpin pertemuan itu adalah Thian-ah Tojin yang paling disegani waktu itu.”

“Thian-ah Tojin?” Tik Yang menegas. “Hah, sungguh luar biasa.”

“Pertemuan yang disebut Ho-ho-tai-tian (pesta pengukuhan) itu berlangsung sehari semalam, sampai fajar keesokannya, beribu hadirin sama mengacungkan pedang sambil bersorak Put-si-sin-liong, naga sakti tak termatikan. Betapa semarak pertemuan itu jelas tidak dapat disamakan dengan Pek-niau-tiau-hong, apalagi sifat dan nilainya juga tidak sama.”

“Oo?!” Tik Yang jadi ingin tahu.

“Ho-ho-tai-tian ini diadakan oleh orang persilatan demi menghormati jasa guruku, jadi guruku termasuk orang undangan, sebelumnya tidak mengetahui akan urusan ini. Sedangkan Pek-niau-tiau-hong diselenggarakan sendiri oleh Yap Jiu-pek, setiap tokoh dunia persilatan yang terkenal, baik lelaki maupun perempuan, semua diundang hadir ke Sip-tiok-san-ceng. Di antara hadirin ini tentu juga ada yang enggan datang, tapi karena jeri terhadap Yap Jiu-pek sehingga terpaksa hadir. Pertemuan demikian mana dapat dipersamakan dengan Ho-ho-tai-tian bagi guruku itu?”

Tik Yang tersenyum, ia tahu antara Tan-hong dan Sin-liong sudah retak, makanya Liong Hui dapat bicara seperti ini.

Tiba-tiba Kwe Giok-he menyela dengan tertawa, “Eh, sesungguhnya apa yang kalian perbincangkan tadi, kenapa melantur hingga urusan Ho-ho tai-tian segala?”

“Haha, betul juga, maaf Toaso,” seru Tik Yang dengan tertawa. “Tentang asal-usul kelima biji mutiara ini, yaitu merupakan kado yang dibawa lima saudara perempuan Hing-san-pay ketika ikut hadir di Sip-tiok-san-ceng.”

“Hah, kiranya begitu, jadi rumah bambu ini memang tempat kediaman Yap Jiu-pek?” seru Liong Hui.

“Betul,” kata Tik Yang.

“Aneh juga,” ujar Giok-he dengan kening bekernyit. “Asalnya Yap Jiu-pek juga putri keluarga kaya, mengapa dia sudi tinggal di tempat seburuk ini?”

“Memang sangat sedikit orang Bu-lim yang mengetahui urusan ini,” tutur Tik Yang dengan gegetun. “Bahwa Yap Jiu-pek dan Liong-loyacu dahulu sebenarnya, adalah pasangan pendekar yang dikagumi di dunia Kangouw zaman itu ….”

“Antara guru kami dan Yap Jiu-pek memang sudah kenal sejak kecil, cuma keduanya tidak pernah terikat menjadi suami-istri, malahan karena sesuatu urusan sepuluh tahun yang lalu kedua orang lantas bersengketa dan tidak pernah bertemu lagi,” tukas Giok-he. “Karena sengketa itu, terjadilah janji bertanding pedang sepuluh tahun kemudian, hal ini cukup diketahui oleh setiap orang persilatan.”

“Betul, karena janji pertandingan itu, Yap Jiu-pek berkeras ingin mengalahkan Liong-loyacu, maka dia giat berlatih, untuk itu dia sedang meyakinkan semacam Lwekang dari negeri Thian-tiok (Hindu), konon tanpa sengaja ia menemukan sejilid kitab pelajaran Lwekang, karena hasratnya ingin menang, tanpa bimbingan ia berlatih sendiri secara cepat, siapa tahu akibatnya setelah berlatih dua tahun dia mengalami kelumpuhan ….”

“Hah, rupanya setelah Yap Jiu-pek menghabiskan harta bendanya di Sip-tiok-san-ceng dan menyerahkan tempat kediamannya itu kepada sahabatnya si Nikoh sakti Ji-bong Taysu, lalu dia mengasingkan diri di sini, tak tersangka lantaran dia mengalami kesesatan dalam latihan ilmunya.”

“Ya, dengan wataknya yang angkuh, terutama bila teringat kepada janji pertandingan dengan Liong-loyacu, dengan sendirinya sukar dilukiskan betapa penderitaan batinnya setelah mengalami kelumpuhan itu,” tutur Tik Yang. “Kebetulan waktu itu Ji-bong Taysu berkunjung padanya, melihat sahabat tersiksa, anak murid yang meladeni juga selalu mendapat omelan, perangainya menjadi pemarah, maka Ji-bong lantas membujuknya berpindah ke suatu tempat tirakat yang terpencil untuk istirahat, bukan mustahil sebelum sepuluh tahun kesehatannya akan pulih dan mungkin juga sekaligus akan berhasil meyakinkan semacam Lwekang yang mahasakti.”

“Ternyata selama sepuluh tahun dia tinggal di gubuk buruk ini di bawah tiupan angin dingin dan hujan salju, tujuannya tidak lebih hanya ingin mengungguli guruku saja,” kata Liong Hui dengan gegetun.

Malam hampir berakhir, hawa tambah dingin, semua orang sama membayangkan betapa siksa derita yang dialami Yap Jiu-pek selama hampir sepuluh tahun tinggal di gubuk reyot.

Terdengar Tik Yang menyambung ceritanya lagi, “Yap Jiu-pek menerima nasihat Ji-bong Taysu, dibawanya murid kecil yang baru diterimanya serta empat pelayan pribadi ke Hoa-san sini dan hidup terpencil di rumah gubuk ini, kasur inilah tempat ia duduk bersemadi, setiap hari cuma muridnya itu datang mengawani dia selama beberapa jam, mengantarkan makanan dan juga belajar ilmu silat.”

“O, jadi perangkap ini memang dipasang oleh Yap Jiu-pek sendiri.” kata Liong Hui.

Tik Yang menggeleng dan bertutur pula, “Dengan susah payah Koh Kang berusaha menuntut balas, setelah dia menyelundupkan adik perempuannya ke Ci-hau-san-ceng, lalu bersama kami mendatangi Sip-tiok-san-ceng yang kini telah menjadi tempat kediaman Ji-bong Taysu itu untuk minta bantuan ….”

Kening Liong Hui bekernyit terlebih erat, dengan heran ia menyela pula, “Masakah Ji-bong Taysu juga ada permusuhan dengan guruku?”

Kembali Tik Yang menggeleng, katanya, “Meski Ji-bong Taysu tidak ada permusuhan dengan Liong-loyacu, tapi dia ada hubungan erat dengan murid Kun-lun-pay, Boh-hun-jiu Tok Put-hoan. Mungkin Liong-toako juga tidak tahu seluk-beluk hubungan mereka?”

“Ya, tidak tahu,” kata Liong Hui.

“Pernahkah Toako mendengar seorang murid Kun-lun-pay pada beberapa puluh tahun yang lalu, seorang pendekar pedang perempuan bernama Li Ping.”

Dengan tersenyum Giok-he menimbrung, “Memang pernah kami dengar nama ini, menurut cerita Suhu, tingkah-laku Li Ping ini terlebih kejam daripada Leng-hiat Huicu yang terkenal pada 30 tahun yang lalu itu, cuma setelah membikin geger dunia Kangouw, kemudian orang ini lantas lenyap secara mendadak.”

“Ya, orang Kangouw tak ada yang menyangka Li Ping yang cantik dan berhati kejam itu dapat mencukur rambut dan menjadi Nikoh, bahkan terkenal sebagai Ji-bong Taysu yang saleh. Rupanya Li-locianpwe itu sengaja menghindari pencarian musuh dan mengasingkan diri. Ia merasa segala perbuatan masa lampau serupa orang mimpi, maka setelah menjadi Nikoh ia memakai gelar Ji-bong, artinya serupa mimpi.”

“O, jadi Ji-bong Taysu dan Boh-hun-jiu Tok Put-hoan berasal dari perguruan Kun-lun,” kata Giok-he.

“Ya, makanya Ji-bong Taysu telah menyarankan kepada Tok Put-hoan agar bersama kami datang saja ke Hoa-san sini untuk mencari Yap Jiu-pek,” tutur Tik Yang. “Waktu itu Yap Jiu-pek sedang tersiksa dan penuh rasa benci tak terlampiaskan, setelah mendengar maksud kedatangan kami, tanpa bicara ia terus melancarkan pukulan terhadap Koh Kang dan Tok Put-hoan. Meski tokoh kosen ini dalam keadaan lumpuh tapi tenaga pukulannya tetap sangat dahsyat, meski aku berdiri jauh di belakang juga merasakan angin pukulannya yang keras.”

Ia menghela napas, lalu menyambung, “Ketika angin pukulan dahsyat itu menyambar tiba, segera Koh Kang menghindar, sebaliknya Tok Put-hoan tetap berdiri di tempatnya dan menerima pukulan itu. Kulihat Tok Put-hoan tetap berdiri tegak, kusangka Lwekangnya mampu melawan pukulan Yap Jiu-pek yang lihai itu, tak terduga dia lantas jatuh terduduk di lantai.”

“Rupanya meski Tok Put-hoan sanggup menahan pukulan Yap Jiu-pek itu, tapi juga telah menguras seluruh tenaganya sehingga tidak sanggup berdiri lagi. Ia lantas mencaci maki Yap Jiu-pek yang kejam itu, bilamana tidak mau membantu juga tidak layak menyerang kaum muda yang jelas bukan tandingannya.”

“Diam-diam kami siap siaga kalau-kalau Yap Jiu-pek menyerang lagi oleh karena caci maki Tok Put-hoan itu. Tak terduga Yap Jiu-pek tidak meladeni makian orang, ia cuma menghela napas dan berucap, ‘Hanya mengandalkan kepandaian kalian ini mana mungkin dapat menuntut batas kepada Liong Po-si.'”

“Lalu ia memberi tanda agar kami pergi saja sambil memejamkan mata dan tidak menggubris kami lagi. Tapi Koh Kang lantas menjelaskan tujuan kami yang cuma ingin menuntut batas kepada Put-si-sin-liong dan bukan untuk bertanding dengan dia, maka kami akan menggunakan segala macam cara asalkan tujuan tercapai. Ia beberkan pula rencana yang telah kami atur, terutama agen yang sudah diatur di Ci-hau-san-ceng, jadi setiap gerak-gerik Liong Po-si dapat diketahui dengan jelas, terutama bila ada Kungfu baru yang berhasil diciptakannya.”

“Bagaimana ilmu silat Koh-toako kita ini tidak kuketahui, yang jelas dalam hal putar lidah memang dia nomor satu. Rupanya Yap Jiu-pek jadi tertarik, perlahan ia membuka mata dan memancarkan sinar mata yang aneh. Semua itu dapat kulihat dari samping, tahulah aku urusan pasti beres.”

Liong Hui menghela napas, katanya, “Watak Yap Jiu-pek angkuh dan suka menang, tak tersangka dia juga mau menggunakan cara yang tak jujur untuk mencapai maksud tujuannya.”

“Maklumlah, sudah sekian tahun Yap Jiu-pek duduk bersemadi dan setiap hari tersiksa oleh hawa dingin yang merasuk tulang, sedangkan jangka waktu bertanding dengan Liong Po-si sepuluh tahun kemudian sesuai perjanjian sudah semakin dekat, sebaliknya kesehatannya tidak tampak ada harapan akan pulih, dengan sendirinya pikirannya waktu itu menjadi agak kurang normal, maka dia telah terima gagasan yang diajukan Koh Kang.”

“Apa gagasannya?” tanya Liong Hui.

“Selama lima tahun kami berdiam di Hoa-san, selama itu kami bergiliran turun gunung untuk mencari berita keadaan dan kemajuan Kungfu Liong-loyacu, di samping itu kami juga giat berlatih di atas gunung. Ai, tak kusangka dendam kesumat Koh Kang terhadap Liong-loyacu ternyata sedemikian mendalam, hidupnya seolah-olah hanya untuk menuntut balas saja. Padahal dia masih muda, tapi dia rela hidup terasing di pegunungan sunyi. Nama, kedudukan, kekayaan, segala kenikmatan hidup seakan-akan telah dilupakan olehnya. Dan begitulah kehidupan selama lima tahun yang kesepian itu telah kami lalui dengan susah payah. Akhirnya mereka mengatur suatu rencana yang rapi, rencana yang mutlak harus berhasil dan tidak boleh gagal.”

Akhirnya dia bercerita mengenai titik pokoknya, semua orang sama mendengarkan dengan cermat.

“Rencana ini secara terperinci berdasarkan enam titik,” tutur Tik Yang perlahan. “Pertama, menggunakan berita kematian Yap Jiu-pek untuk membikin kacau pikiran Liong-loyacu, untuk melemahkan kewaspadaannya. Semua orang tahu kisah masa lalu antara Liong-loyacu dengan Yap Jiu-pek, bila mendadak Liong-loyacu menerima berita duka itu, dengan sendirinya hatinya akan sedih dan menyesal sehingga melengahkan segala kemungkinan lain.”

“Kedua, murid Yap Jiu-pek diminta menggunakan kata-kata tajam dan sikap angkuh untuk memancing kemarahan Liong-loyacu, dengan watak Liong-loyacu yang tidak sudi dipandang rendah, dengan sendirinya akan terpancing oleh usul Yap Man-jing yang minta Liong-loyacu menyusutkan tenaga sendiri. Dan bila usul ini diterima Liong-loyacu berarti rencana kami sudah tercapai separuh.”

Giok-he menunduk dan menghela napas, “Waktu itu memang sudah kurasakan keadaan tidak menguntungkan, maka kubujuk Suhu agar jangan mau terjebak, siapa tahu Gote ….”

“Bilamana Gote tidak melakukannya waktu itu, tentu akulah yang akan melakukannya,” teriak Liong Hui tegas. “Seorang lelaki sejati mana boleh takut ini dan khawatir itu serupa orang perempuan. Terkadang sekalipun tahu akan ditipu orang juga tetap akan kuterjang daripada terhina. Apalagi biarpun dibodohi orang satu kali apakah mungkin akan tertipu lagi untuk kedua kalinya.”

Tik Yang mengangguk tanda memuji akan kegagahan orang, Giok-he menunduk pula dan berucap, “Dan yang ketiga?”

“Ketiga, bila Lwekang Liong-loyacu sudah susut, selanjutnya harus melemahkan kekuatannya, dalam hal ini diusahakan agar beliau terpencar dengan kalian ….”

Liong Hui memandang sekejap kepada sang istri, ia pikir dugaannya ternyata juga tidak salah.

Maka terdengar Tik Yang menyambung lagi, “Apabila ketiga titik pokok ini sudah berhasil, tiga titik rencana selanjutnya jelas akan berjalan dengan baik, keadaan Liong-loyacu berarti lebih banyak celaka daripada selamatnya. Semula aku berjaga di tengah jalan, ku lihat Yap Man-jing itu benar telah berhasil membawa Liong-loyacu sendirian ke atas gunung. Diam-diam aku merasa ngeri, kupikir sekarang inilah saatnya kubalas budi kebaikan Liong-loyacu. Segera kusiap membereskan Yap Man-jing dan menuturkan duduk perkara yang sebenarnya kepada Liong-loyacu.”

“Atas maksud baik Tik-hiante ini kami harus berterima kasih padamu,” kata Liong Hui.

“Ah, Liong-toako jangan tergesa mengucapkan terima kasih padaku, yang harus menerima penghormatanmu ini justru ialah nona Yap Man-jing itu,” kata Tik Yang.

“O, mengapa begitu?” Liong Hui merasa bingung.

“Sebab pada waktu timbul maksudku akan menyerang nona Yap itu, siapa tahu begitu berhadapan denganku tanpa bicara nona Yap itu lantas mendahului menusukku dengan cara tanpa kenal ampun, tentu saja aku kaget, untung sempat kuhindari serangannya. Aku menjadi sangsi jangan-jangan nona Yap itu dapat mengetahui maksudku dan mendahului hendak membinasakanku?”

“Nona Yap melancarkan serangan lagi terus-menerus, setiap tusukan selalu mengincar tempat mematikan, kukhawatir kawan yang lain keburu datang, maka sembari mengelak kubeberkan tipu muslihat mereka kepada Liong-loyacu dan minta beliau lekas bertindak. Siapa tahu, setelah kubongkar rahasia ini, nona Yap berbalik berhenti menyerang.”

Liong Hui menghela napas, “Jangan-jangan nona Yap itu juga bermaksud membantu guruku?”

“Memang betul,” tutur Tik Yang. “Kiranya orang tua nona Yap ini dahulu juga pernah mendapat pertolongan Liong-loyacu, dia juga tidak menyetujui tipu muslihat keji mereka, mestinya dia belum mengambil sesuatu keputusan, tapi setelah berhadapan dengan kalian dan mengetahui pribadi Liong-loyacu, ia bertekad akan membantu Liong-loyacu melepaskan diri dari perangkap ini sekalipun dia akan dituduh berkhianat kepada gurunya.”

“Ai, sungguh tidak kuduga nona Yap itu adalah gadis berbudi luhur,” ucap Liong Hui.

Tik Yang tersenyum, “Ya, dan yang paling terkejut ialah Liong-loyacu sendiri. Beliau seorang jujur dan berhati lapang, mana diketahuinya orang akan bertindak keji dan curang padanya. Begitulah kami lantas mengajak beliau ke tempat kediaman kami sehari-hari di pinggang gunung, di situ kami ceritakan seluk-beluk urusan ini.”

“Siapa tahu, setelah mendengarkan keterangan kami, segera Liong-loyacu minta alat tulis kepada kami, beliau menulis sepucuk surat wasiat dan diserahkan kepada Yap Man-jing dengan pesan agar diserahkan kepada kalian, kemudian Liong-loyacu minta kubawa beliau ke atas gunung lagi.”

“Tentu saja aku dan nona Yap melenggong, melihat keraguan kami, Liong-loyacu bergelak tertawa dan berkata, ‘Biarpun di atas sana ada sarang harimau atau kubangan naga tetap juga akan kuterjang. Hidup setua ini, mati bagiku sudah bukan soal lagi. Justru persoalan budi dan benci yang belum terselesaikan ini harus kubereskan dengan tuntas, aku tidak ingin membawa urusan yang belum selesai ini ke akhirat.'”

“Berbareng dengan ucapan beliau itu, mendadak kudengar ruas tulang Liong-loyacu sama berkeriat-keriut, perawakan beliau yang memang kekar itu mendadak seakan-akan bertambah lebih tinggi besar. Aku tidak berani menatap wajahnya, aku tertunduk, tapi sudah kulihat di tengah gelak tertawanya dia telah membuka Hiat-to sendiri yang tertutuk sehingga pulih seluruh Lwekangnya. Sungguh tidak kepalang rasa kagumku terhadap kegagahan dan kehebatan Kungfu beliau.”

Setiap anak murid Liong Po-si yang mendengar ucapan Tik Yang ini sama ikut merasa bangga, rumah gubuk yang sunyi dan dingin ini seketika seperti berubah menjadi hangat.

Sambil membusungkan dada Tik Yang menyambung lagi, “Melihat kegagahan Liong-loyacu itu, aku dan nona Yap tidak berani mencegahnya lagi. Ketika nona Yap mau pergi, Liong-loyacu menyerahkan pula pedangnya agar diserahkan kepada kalian. Nona Yap tampak tertegun, aku sendiri juga tidak sanggup bicara apa pun.”

“Nona Yap itu ternyata seorang yang simpati, semula kusangka dia berhati dingin,” ucap Liong Hui.

“Kami terharu menyaksikan keperkasaan Liong-loyacu, sungguh kami tidak ingin Liong-loyacu menghadapi bahaya, meski Kungfu beliau tidak ada tandingan, tapi di atas gunung sedang menanti berbagai jeratan yang licik yang khusus dirancang sesuai dengan watak Liong-loyacu yang luhur itu, sampai lama akhirnya nona Yap membalik tubuh dan melangkah pergi, memandangi bayangan punggung nona Yap, tertampil juga perasaan haru dan duka Liong-loyacu yang sukar ditutupi ….”

“Termangu kupandang orang tua itu, kulihat Liong-loyacu juga sedang menatap tajam padaku, sampai sekian lama mendadak beliau berkata dengan tegas, ‘Seorang lelaki sejati, hidup dan bekerja bagi sesamanya, asalkan meraba perasaan sendiri tidak bersalah, andaikan mati juga tidak perlu disesalkan. Ayahmu juga seorang tokoh besar, engkau dilahirkan di keluarga kaum kesatria, seharusnya kau pun tahu apa artinya menepati janji bagi seorang kesatria.'”

“Habis berucap, beliau mengentak kaki perlahan, lalu perawakannya yang tinggi besar itu melayang ke atas gunung dan akhirnya lenyap dalam kegelapan. Ketika aku menunduk, kulihat sebuah bekas kaki tercetak dengan jelas di atas batu, kupandang bekas kaki ini dan mengingat lagi ucapan Liong-loyacu sebelum pergi, sampai lama kurasakan suara beliau masih mengiang di tepi telingaku ….”

“Ya, bekas kaki itu pun sudah kami lihat,” ucap Liong Hui dengan nada berat.

“Tapi sejauh ini kami tidak tahu mengapa Suhu meninggalkan bekas kaki seperti itu,” tukas Giok-he.

“Banyak urusan di dunia ini sukar dimengerti sekalipun oleh orang yang pandai,” ujar Tik Yang dengan pandangan hampa. “Misalnya saja, sekarang juga aku tidak tahu apa yang terjadi setelah Liong-loyacu naik ke atas gunung dan di mana beliau berada saat ini.”

“Hah, engkau pun tidak tahu?” seru Liong Hui terkesiap.

“Ya, aku pun tidak tahu,” Tik Yang menggeleng. “Setelah beliau pergi, sampai lama aku menimbang, akhirnya kuputuskan turun ke bawah untuk mencari kalian. Tapi waktu itu kalian sudah mendaki ke atas malah, maka diam-diam kukuntit perjalanan kalian dan banyak mendengar macam-macam percakapan kalian. Ketika kudengar kalian bicara tentang obor, segera kukembali ke tempat tinggal kami untuk mengambil obor dan tali, kuputar ke depan dan menyalakan obor, kunaik lagi ke atas tebing dari jalan lingkar yang lain dan menjulurkan tali ke bawah. Adapun mengenai apa yang terjadi di rumah gubuk ini, seperti juga kalian, aku pun tidak tahu sama sekali.”

Suasana menjadi sunyi, semua orang saling pandang dengan termenung. Namun apa yang dipikirkan mereka tidak sama.

Liong Hui dan Koh Ih-hong berpikir sesungguhnya apa yang terjadi di sini? Ke mana perginya Suhu? Selamat atau celaka?

Sedangkan yang dipikirkan Ciok Tim dan Giok-he justru mengenai urusan pribadi mereka, timbul keraguan mereka jangan-jangan apa yang dilakukan mereka tadi telah dilihat juga oleh Tik Yang.

Malahan Ciok Tim berpendapat sebabnya Tik Yang bersikap ketus padanya jelas lantaran orang telah melihat perbuatannya tadi.

Tiba-tiba Giok-he bertanya, “Tik-siauhiap, apa yang terjadi di rumah gubuk ini tentu kau lihat juga, mengapa engkau bilang tidak tahu?”

Mendadak Tik Yang menengadah dan tertawa, “Haha, bagus, bagus, maksud baikku agaknya telah menimbulkan salah sangka kalian.”

“Tik-siauhiap, jangan engkau menyesal bila kusalah omong,” kata Giok-he pula dengan tersenyum. “Cuma engkau jelas sudah datang ke sini lebih dulu, kami ketinggalan lantaran cukup lama menyelidiki ukiran pada ketiga potong batu karang itu. Apalagi waktu engkau masuk kemari tiada kelihatan rasa kaget atau heran sedikit pun, memangnya apa sebabnya?”

Ciok Tim berdehem dan juga menatap Tik Yang dengan tajam. Agaknya Liong Hui juga mempunyai pikiran yang sama.

Namun Tik Yang cuma tersenyum saja.

Perlahan Giok-he menyambung, “Ketiga langkah yang kalian rancang sudah kau jelaskan tadi. Lalu ketiga perangkap selanjutnya belum kau katakan, namun tanpa kau jelaskan juga kutahu. Pertama kalian sengaja mengukir tulisan di dinding tebing untuk memancing guruku naik kemari, supaya tenaga guru kami terkuras habis sebelum bertanding. Malahan bukan mustahil ada pikiran kalian semoga beliau tidak sanggup mendaki ke atas dan jatuh tergelincir, dengan begitu kalian menjadi tidak perlu turun tangan lagi.”

Tik Yang tetap diam saja, bahkan lantas memejamkan mata.

Maka Giok-he bicara lagi, “Kedua, selama beberapa tahun ini kalian sudah menerima info dari Simoay kami ini dan cukup mengetahui kehebatan Kungfu guru kami, sebab itulah kalian sengaja menciptakan tiga jurus istimewa dan diukir pada batu karang. Agaknya cuma teori saja ketiga jurus ciptaan kalian ini dapat diterima, tapi bila digunakan dalam praktik belum tentu dapat dimainkan dengan baik. Dengan demikian tujuan kalian hanya untuk menguji Suhu, supaya sebelum berhadapan dengan Yap Jiu-pek beliau sudah patah semangat lebih dulu.”

la berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Kukatakan ketiga jurus ciptaan kalian itu pada hakikatnya cuma teori belaka dan sukar dipraktikkan, sebagai seorang tokoh kelas top tentu saja Suhu dapat menyelaminya, sebab itulah dengan gusar beliau telah menghantam remuk batu karang itu.”

“Dan ketigam” sambung Giok-he, “tiga jalan tembus dan empat daun pintu, inilah cara kalian menjajaki betapa tinggi Kungfu guru kami. Ada lagi satu hal yang jelas sangat aneh bahwa Yap Jiu-pek diketahui sudah lumpuh, lantas ke mana perginya dia sekarang?”

Liong Hui juga menatap Tik Yang dengan sangsi.

Dilihatnya Tik Yang membuka mata perlahan lalu berkata, “Liong-toaso, engkau memang sangat pintar, ketiga hal ini ternyata dapat kau terka dengan tepat.”

Dia bicara dengan dingin, sikapnya juga kaku, sambungnya, “Memang, ketiga jurus yang terukir di batu karang itu memang cuma bicara secara teori saja, praktiknya memang sukar dimainkan.”

Tiba-tiba tersembul senyumannya yang mengejek, “Apa yang kalian bicarakan di depan ketiga potong batu karang itu dapat kudengar dengan jelas. Cuma sayang waktu itu terlalu banyak urusan yang dipikirkan Toaso sehingga tidak tahu di atas batu ada orang bersembunyi.”

Hati Giok-he terkesiap.

Liong Hui lantas berkata dengan menyesal, “Karena berbagai kejadian yang membikin bingung kami ini, bilamana Toaso salah omong mengenai dirimu hendaknya engkau jangan marah.”

“Aku mengerti, jika aku jadi Toaso tentu juga akan merasa sangsi,” ujar Tik Yang dengan tertawa. “Kedatanganku ke rumah gubuk ini memang lebih dini daripada kalian, tapi apa yang terjadi di sini sudah lalu, apa yang disangsikan Toaso serupa juga apa yang sangsikan. Jejak Liong-loyacu dan juga Yap Jiu-pek, Koh Kang, Tok Put-hoan dan lain-lain saat ini telah menjadi teka-teki ….”

Pandangannya perlahan beralih ke lantai, katanya sambil membalik mayat yang menggeletak itu, “Di sini ada bekas darah, tapi pada satu-satunya mayat ini tidak ada sesuatu tanda luka cara bagaimana kematiannya ….”

Waktu semua orang mengawasi lagi mayat itu, tertampak kulit daging pada wajah mayat itu berkerut serupa mati ngeri dan kaget, juga serupa mati oleh karena semacam Lwekang yang lihai yang menggetar putus urat nadinya.

“Ya, semua ini memang teka-teki, kuharap Tik-laute sudi bekerja sama dengan kami untuk menyingkap tabir teka-teki ini,” kata Liong Hui.

Tik Yang tersenyum, ia angkat mayat itu dan berkata, “Teka-teki ini pada suatu hari pasti akan terjawab, tatkala mana tentu semua orang baru akan percaya bahwa apa yang kuceritakan memang betul.”

Ia pandang Liong Hui sekejap, tiba-tiba ia berseru, “Toako, sampai berjumpa pula.”

Habis berkata ia terus melayang keluar.

“Nanti dulu, Tik-laute ….” teriak Liong Hui sambil memburu keluar, namun bayangan jago muda ahli waris Thian-san-pay ini sudah menghilang dalam sekejap, meski mengangkat sesosok mayat, namun Ginkangnya sungguh luar biasa cepatnya.

Liong Hui berdiri termangu sambil memandang jauh ke sana, gumamnya, “Sungguh pemuda yang suka terus terang ….”

“Tapi menurut pandanganku, tampaknya ada sesuatu yang tidak beres ….”

Belum lanjut ucapan Giok-he, mendadak Liong Hui berpaling dan membentak, “Tutup mulut!”

Selagi Giok-he melenggong, didengarnya Liong Hui berucap pula dengan bengis, “Semuanya gara-garamu, jika bukan karena cara bicaramu yang menyinggung perasaannya, mana bisa dia pergi begitu saja. Tampaknya kehormatan Ci-hau-san-ceng selanjutnya bisa tamat di tanganmu.”

Biasanya Liong Hui jarang sekali marah, kini dia kelihatan marah benar, Ciok Tim dan Koh Ih-hong sama sekali tidak berani ikut bicara.

Giok-he tercengang sejenak, mendadak ia menjerit sambil mendekap mukanya terus berlari keluar.

“Toaso!” seru Ciok Tim dan Ih-hong bersama.

Melongo juga Liong Hui melihat istri tercinta lari pergi dengan marah, betapa pun timbul juga rasa menyesalnya.

“Lekas kau susul Toaso dan membujuknya, Toako,” kata Ih-hong.

Liong Hui menunduk, “Memang perkataanku tadi agak keras!” ia berpaling dan berkata kepada Ciok Tim, “Kukira Samte saja yang menyusul dan membujuknya.”

Tanpa disuruh lagi segera Ciok Tim melompat keluar.

Sampai lama Liong Hui termenung, lalu menghela napas dan berkata pula, “Ya, perkataanku memang terlalu keras. Padahal maksudnya juga demi kebaikan orang banyak ….”

Dia tidak menyalahkan orang lain, tapi mencela diri sendiri lebih dulu.

Memandangi wajah Liong Hui yang lesu, tiba-tiba timbul rasa kasihan Koh Ih-hong padanya. Lantaran inilah, mestinya dia merasa malu lagi tinggal dalam perguruan Sin-liong, tapi entah mengapa sekarang sukar untuk menyatakan niatnya untuk pergi.

Akhirnya ia bersuara perlahan, “Toako, apakah kita akan tetap tinggal di sini atau turun gunung saja?”

“Ya, pergi saja,” jawab Liong Hui sesudah berpikir sejenak, “Kukira Toaso toh pasti akan pulang ke Ci-hau-san-ceng, pula … saat ini Gote mungkin sedang menunggu kita di kaki gunung. Ai, kejadian hari ini memang serba aneh, untuk apakah Tojin itu membawa lari peti mati itu? Sungguh hal ini pun sukar untuk dimengerti atau … atau akulah yang terlalu bodoh ….”

Koh Ih-hong diam saja tanpa menanggapi.

“Tapi semua teka-teki ini akhirnya pasti akan tersingkap ….” demikian Liong Hui teringat kepada ucapan Tik Yang tadi.

Ufuk timur sudah remang-remang, fajar hampir tiba, kabut tipis mengelilingi lereng gunung, perlahan mereka meninggalkan puncak Hoa-san yang sunyi ini ….

*****

Di kaki gunung sana Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat lagi saling tatap, sudah sekian lamanya kedua sama-sama tidak bergerak.

Akhirnya Bwe Kim-soat menjulurkan tangan untuk membetulkan rambut yang kusut pada pelipisnya, katanya, “Apakah engkau harus menunggu mereka?”

Lamkiong Peng mengiakan tanpa sangsi.

Ia tidak tahu bilamana orang perempuan meraba rambut sendiri, biasanya pikiran tentu lagi resah.

“Baik, kuturut padamu,” kata Bwe Kim-soat kemudian, segera ia melayang ke peti mati sana, lalu berpaling pula dan menambahkan, “Cuma sekali ini saja!”

Di bawah kerlip bintang peti mati tidak terlihat sesuatu perubahan, Bwe Kim-soat duduk bersandar pohon. Sedangkan Lamkiong Peng berdiri tegak di sana, lalu berjalan mondar-mandir, jelas pikirannya juga kusut.

Mendadak ia berhenti di depan Bwe Kim-soat dan berkata, “Ingin kutanya padamu ….”

“Urusan apa?” berputar bola mata Bwe Kim-soat.

“Tadi … waktu kubuka peti mati itu, mengapa kulihat kosong?”

Bwe Kim-soat tertawa, “Di dasar peti ada satu lapisan rahasia, masa tidak dapat kau lihat?”

“Oo!?” Lamkiong Peng melenggong.

“Kukira yang hendak kau tanya bukanlah urusan ini,” kata Kim-soat pula.

Kembali Lamkiong Peng melenggong, katanya kemudian, “Betul, tapi … tapi sekarang kutidak ingin tanya lagi.”

Ia lantas menyingkir lagi ke sana.

Tampak Bwe Kim-soot juga termenung, lalu berucap dengan sayu. “Tadi kalau aku tidak bercermin di air sungai, pasti kukira diriku sudah tua.”

Dilihatnya Lamkiong Peng berpaling, tapi tidak memandang ke arahnya, maka ia bergumam pula, “Pada usia 14 aku sudah berkelana di dunia Kangouw, setiap orang yang bertemu denganku tidak pernah ada seorang yang tak acuh padaku seperti dirirnu sekarang ….”

Lamkiong Peng mendengus sambil meraba tutup peti mati kayu cendana yang berukir indah itu, bilamana saat ini tutup peti itu dibukanya, maka dunia persilatan pasti takkan terjadi macam-macam persoalan lagi. Tapi ia cuma meraba tutup peti dengan perlahan, sama sekali tiada maksud hendak membukanya.

“Sudah banyak kulihat anak muda yang sok anggap dirinya lain daripada yang lain,” kata Kim-soat pula sambil membelai rambut sendiri. “Aku pun banyak melihat jago, dan tokoh ternama yang anggap dirinya luar biasa. Sampai sekarang aku masih ingat dengan jelas sorot mata mereka yang memandang padaku, sungguh aku merasa geli dan juga kasihan kepada mereka ….”

“Blang”, mendadak Lamkiong Peng menghantam tutup peti dengan keras, jengeknya, “Kisah masa lampau yang membuatmu bangga ini kenapa tidak kau simpan saja dalam hatimu?”

Karena hantamannya itu, peti mati itu berguncang cukup keras, di dalam peti ada suara keluhan yang sangat lirih, karena anak muda itu lagi kesal dan gelisah sehingga suara keluhan itu tak didengarnya.

“Jika engkau tidak suka mendengarkan, boleh menyingkir agak jauh ke sana,” ujar Bwe Kim-soat dengan tersenyum dan tetap menyambung ucapannya. “Di mana-mana orang selalu menyanjung puji diriku, di mana-mana selalu kulihat wajah dari sorot mata yang menggelikan dan pantas dikasihani. Hampir sepuluh tahun aku berkelana, banyak juga lelaki iseng yang tergila-gila padaku, banyak pula yang mengalirkan darah dan duel lantaran diriku hanya disebabkan karena kupernah melirik dan tersenyum kepadanya. Akibatnya mulailah orang persilatan sama mencaci maki diriku, katanya aku ini gadis berdarah dingin dan pembuat onar. Padahal bukan salahku, kawanan lelaki itu yang mau berbuat begitu, kenapa aku yang disalahkan? Coba, betul tidak?”

Lamkiong Peng hanya mendengus saja tanpa menjawab.

Bwe Kim-soat tertawa, semakin mendongkol Lamkiong Peng, semakin senang dia.

“Sepuluh tahun yang lalu, akhirnya dapat kutemukan seorang yang sangat istimewa,” tutur pula Kim-soat. “Jika lelaki lain, suka memandangku seperti orang linglung, dia tidak. Bila orang lain suka mengintil di belakangku, dia tidak. Kebanyakan orang kalau bukan menyanjung puji padaku tentu mencaci maki padaku, namun dia hanya bicara denganku sewajarnya, bahkan cukup memahami pribadiku. Ia sendiri gagah dan ganteng, ilmu silatnya tinggi, perguruannya terhormat, ditambah lagi serba pintar dalam berbagai bidang, baik kesusastraan, seni lukis, seni catur, seni musik dari lain-lain juga dia seorang penyair. Namanya di dunia Kangouw juga cukup gemilang, suka melarai perselisihan orang lain dan berbuat sesuatu yang luhur dan menolong sesamanya. Maka, lambat-laun aku mengikat persahabatan dengan dia.”

Dia bercerita dan penuh pujian terhadap orang itu sehingga mau tak mau Lamkiong Peng juga tertarik, pikirnya. “Tokoh hebat seperti itu, bila bertemu denganku pasti juga aku akan bersahabat dengan dia.”

Karena pikiran itu, tanpa terasa ia bertanya. “Siapa dia? Apakah sekarang dia masih berkelana di dunia Kangouw?”

“Kau kenal orang ini,” jawab Bwe Kim-soat dengan tersenyum manis. “Cuma sayang, untuk selamanya dia takkan muncul lagi di dunia ini ….”

Lamkiong Peng ikut menghela napas menyesal.

Dilihatnya senyum Bwe Kim-soat hilang mendadak, sebaliknya menyambung ucapannya dengan dingin, “Sebab orang ini telah mati di bawah pedangmu!”

Lamkiong Peng terkesiap, dadanya serupa dihantam orang satu kali. “Ap … apa katamu?” ia menegas dengan tergegap.

Bwe Kim-soat seperti tidak mendengar pertanyaannya dan menyambung ucapan sendiri, “Meski lahiriah orang ini kelihatan orang baik, padahal, hmk! Pada satu hari ketika hujan salju lebat, aku bersama dia dan seorang sahabatnya yang juga cukup terkenal di dunia persilatan asyik minum arak di rumah orang, setelah dua-tiga cawan arak kuminum bara kurasakan ada yang tidak beres di dalam arak, kulihat gerak-gerak mereka juga tidak baik, Maka aku lantas berlagak mabuk, kudengar sahabatnya berkeplok tertawa, ‘Aha, roboh, robohlah dia! Sebentar bila berhasil kau tunggangi kuda binal ini, jangan kau lupakan jasaku.’ Kudengar dengan jelas ucapannya, maka aku sengaja berlagak tidak sadar, ingin kulihat apa yang akan dilakukan mereka atas diriku.”

Jelas kisah ini cukup menarik perhatian Lamkiong Peng, ia tidak menyela lagi melainkan cuma mendengarkan.

Terdengar Bwe Kim-soat bercerita lagi, “Keparat berwajah manusia dan berhati binatang ini tertawa senang, aku diangkatnya ke tempat tidur, baru saja dia mau membuka pakaianku, aku tidak tahan lagi, begitu melompat bangun segera kuhantam mukanya. Namun orang yang berjiwa kotor ini memiliki ilmu silat yang tinggi, pukulanku tidak mampu mengenai sasaran, dia sempat membuka jendela dan kabur.

“Waktu itu sebenarnya aku sudah minum arak bius dua-tiga cawan, sekujur badan kehilangan tenaga, maka pukulanku tidak mampu melukai dia dan dengan sendirinya juga tidak dapat mengejarnya,” ia pandang tangan sendiri lalu menyambung dengan penuh rasa benci, “Dengan Lwekangku dapatlah kudesak keluar racun dalam arak yang kuminum itu, sungguh tidak kepalang gemas hatiku, kulari keluar, kubinasakan kawannya yang kotor itu, kutikam tujuh-delapan kali tubuhnya dengan pedangku pada bagian-bagian yang mematikan!”

“Keji amat!” ucap Lamkiong Peng.

“Keji?” jengek Bwe Kim-soat. “Hm, bilamana aku kurang berpengalaman dan tubuhku jadi dinodai oleh mereka, lalu orang Kangouw siapa yang akan percaya kepada keteranganku? Semua orang tentu akan menganggap aku yang memikat mereka. Lalu siapa yang akan dikatakan keji?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: