Kumpulan Cerita Silat

23/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:58 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 08. Kutahu Kau Belum Mati
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Di dalam rumah masih ada cahaya lampu.

Pada waktu dia berangkat tadi, cahaya lampu mestinya sangat terang, tapi sekarang sudah jauh lebih guram.

Pintu masih tetap selengah tertutup seperti waktu dia berangkat tadi, tiba-tiba timbul suatu pertanyaan yang selama ini belum pernah terpikir olehnya, “Apakah dia sedang menunggu diriku?”
Tadinya dia berharap semoga Ting-hiang-ih lekas pergi, makin jauh makin baik, tapi sekarang jika si dia benar-benar pergi, perasaannya pasti tidak enak.

Apapun juga, bilamana kau tahu ada seorang sedang menantikan kedatanganmu di rumahmu, hatimu pasli akan timbul semacam perasaan hangat. Perasaan ini serupa seorang pemburu yang menyendiri ketika pulang ke rumah pada hari yang dingin, tiba-tiba diketahuinya di rumah sudah ada orang yang menyediakan perapian sehingga tidak lagi dirasakan kesepian dan dingin.

Hanya petualang semacam Liok Siau-hong yang dapat memahami betapa berharganya perasaan semacam ini.

Sebab itulah ketika dia mendorong pintu, agak tegang juga perasaannya. Pada saat ini dan adanya perasaan demikian sungguh dia tidak menghendaki seorang diri masuk ke sebuah rumah yang kosong dan dingin.

Ternyata di dalam rumah masih ada orang. Si dia belum lagi pergi.

Dia duduk membelakangi pintu di bawah cahaya lampu yang agak guram, rambutnya yang panjang gompyok semampir di atas pundak dan sedang disisir perlahan dengan sebuah sisir kayu hitam. Pada umumnya wanita memang suka menyisir rambut sebagai pengisi waktu pada saat merasa kesepian.

Melihat si dia, tiba-tiba Siau-hong merasa cahaya lampu itu seakan-akan banyak terlebih terang.
Apa pun juga, ditemani seorang akan terlebih baik daripada tinggal sendirian. Tiba-tiba ia merasakan semakin menanjak usianya, semakin tidak tahan hidup menyendiri.

Akan tetapi dia tidak memperlihatkan perasaannya itu, ia cuma bicara dengan singkat dan hambar, “Akhirnya aku kembali juga dengan hidup!”

“Ehmm,” si dia tidak menoleh.

“Aku tidak mati, kau pun tidak pergi, tampaknya kita berdua belum tiba pada waktunya untuk berpisah.”

Si dia tetap tidak berpaling, ucapnya perlahan, “Apakah kau harapkan selamanya aku tidak berpisah denganmu?”

Siau-hong tidak menjawab. Sebab tiba-tiba diketahuinya perempuan yang duduk di sini dan sedang menyisir rambut ini bukanlah Ting-hiang-ih.

Si dia seperti lagi tertawa dingin, tangan yang memegang sisir kelihatan putih mulus, kukunya sangat panjang. Dia masih terus menyisir, bahkan semakin keras cara menyisirnya seakan-akan hendaK melampiaskan dongkolnya terhadap rambutnya sendiri. “He, kau?” seru Siau-hong dengan terbelalak.

“Ya, tak kau sangka bukan?” jengek si dia.

“Ya. memang tak kusangka,” Siau-hong mengaku.

“Aku pun tidak mengira dirimu ini ternyata seorang perayu, ada satu suka satu, ada dua suka dua.” akhirnya si dia berpaling, mukanya kelihatan pucat dengan hidungnya yang mancung, sinar matanya serupa kerlip bintang di langit.

Siau-hong menghela napas, ucapnya, “Sekali ini aku tidak bermaksud mendaki gunung es, memangnya gunung es malah hendak mendaki diriku?”

Jika Pui Giok-hiang benar sebuah gunung es, maka gunung es juga ada kalanya bisa bermuka merah.

Muka Pui Giok-hiang sekarang sudah merah, ia lagi melototi Liok Siau-hong dengan pandangan yang gemas dan berucap dengan gemas. “Apakah selamanya engkau tidak dapat bicara secara manusia?”

“Terkadang juga bicara, tapi hanya bertemu dengan manusia baru kubicara,” jawab Siau-hong dengan tertawa.

“Memangnya aku bukan manusia?” Dengan sendirinya ucapan ini tak dapat dilontarkan si dia. Hanya matanya saja yang semakin besar melotot.

Kembali Siau-hong tertawa, “Dua hari yang lalu kudengar orang berkata bahwa wujudmu kelihatan galak, tapi sebenarnya seorang sangat simpatik. Cuma sayang, cara bagaimanapun kupandang sekarang tetap tidak kulihat akan kebenaran hal itu.”

“Ada orang bilang aku sangat simpatik?” Pui Giok-hiang menegas.

“Ehmm,” Siau-hong mengangguk.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Tentunya kau tahu siapa yang omong begitu.”

“Hm, apa adik misanku yang romantis itu, si Bunga Ceng-keh?” jengek Giok-hiang.

Perlahan Siau-hong berdehem dua kali sebagai jawaban, tiba-tiba ia merasa muka sendiri menjadi rada merah.

Pui Giok-hiang memandangnya dengan dingin, lalu bertanya pula, “Selama dua hari ini tentunya dia selalu berada bersamamu.” Terpaksa Siau-hong mengaku.

“Dan sekarang dimana dia?” tanya Pui Giok-hiang.

Siau-hong jadi melengak, “Kau pun tidak tahu kemana dia pergi?”

“Aku baru datang, cara bagaimana bisa tahu?” jawab Giok-hiang.

“Ai. Bisa jadi dia khawatir bilamana kupulang akan berubah menjadi makhluk ajaib yang berhidung separuh dan bermata satu, mungkin dia tidak sampai hati melihat keadaanku itu, maka dia telah pergi lebih dulu.”

“Hm, dia memang seorang perempuan yang berhati lemah, pada waktu membunuh orang saja mata selalu terpejam,” jengek Pui Giok-hiang.

Pada saal itulah tiba-tiba di luar seorang tertawa ngikik dan menanggapi, “Hihi, betapa pun hanya Piauci yang memahami pribadiku. Tempo hari, lantaran kubunuh orang dengan mata terpejam, makanya bajuku penuh berlepotan darah.”

Di tengah suara tertawa nyaring. Ting-hiang-ih telah melompat masuk serupa seekor burung walet yang gesit.

Meski suara tertawanya kedengarannya manis, tapi keadaannya tampak agak kedodoran, baju robek dan rambut kusut, tampaknya serupa burung walet yang baru terbidik ekornya, oleh ketapel anak nakal.

Sebaliknya Pui Giok-hiang lantas menarik muka dan menegur, “Hm, tak tersangka bisa juga kau kembali ke sini?”

“Kutahu Piauci berada di sini, dengan sendirinya aku harus kembali ke sini,” jawab Ting-hiang-ih dengan tertawa.

Giok-hiang juga tertawa, manis sekali tertawanya, “Terkadang aku suka marah padamu, tapi aku pun tahu, apa pun juga engkau tetap Piaumoayku yang baik, engkau selalu sangat baik padaku.”

“Cuma sayang, kesempatan bertemu muka kita tidak banyak, engkau lebih suka tinggal bersama Piauko dan selalu meninggalkan diriku dalam keadaan kesepian,” sahut Ting-hiang-ih.

Semakin manis tertawa Giok-hiang, katanya, “Ah, bicaramu saja enak didengar, padahal aku pun tahu, sudah lama kau lupakan diri kami.”

“Siapa bilang?” jawab Ting-hiang-ih.

Giok-hiang melirik Siau-hong sekejap, “Bilamana kalian sedang bermesraan, memangnya kau ingat kepada kami?”

Maka keduanya tertawa lagi dengan sangat manis dan enak didengar, lapi bagi pandangan Liok Siau-hong rasanya tambah lama tambah tidak beres.

Di tengah suara tertawa haha-hihi itulah sekonyong-konyong terdengar “krek” sekali, sisir yang dipegang Giok-hiang mendadak berubah menjadi serentetan anak panah, jeruji sisir yang berjumlah 40 atau 50 itu mendadak berubah serupa barisan anak panah yang menyambar ke arah Ting-hiang-ih.
Pada saat yang sama dari tangan Ting hiang-ih juga terbidik tujuh titik sinar perak, yang di arah adalah tujuh Hiat-to maut di bagian dada Pui Giok-hiang.

Sekali menyerang keduanya sama-sama mengincar bagian yang mematikan, semuanya bermaksud membinasakan lawan dalam sekejap itu.

Kedua perempuan itu tidak memejamkan mata, tapi Siau-hong yang memejamkan mata, ia tidak tega menyaksikan apa yang terjadi.

Waktu ia membuka mata, dilihatnya dinding depan sana menancap tujuh titik sinar perak, sedangkan Pui Giok-hiang telah rebah di tempat tidur dan Ting-hiang-ih sudah melayang pergi.

Terdengar suaranya berkumandang dari kejauhan yang gelap, suaranya penuh rasa benci dan dendam, “Ingat, tidak nanti kuampuni jiwamu!”

Baru habis ucapannya, mendadak suaranya berubah menjadi jeritan kaget, lalu jeritan kaget itu pun terputus secara mendadak, kemudian tidak terdengar suara apa pun.

Suasana lantas sunyi senyap. Pui Giok-hiang masih menggeletak di tempat tidur tanpa bergerak, sampai suara napasnya saja tidak terdengar.

Siau-hong duduk di tepi ranjang dan mengawasinya, memandang dadanya. Dada yang montok dan menegak.

Tiba tiba Siau-hong tertawa. “Kutahu kau belum mati.” Dada orang mati tidak sedemikian memikat seperti Pui Giok-hiang sekarang, tetapi dia masih tetap diam saja seperti orang mau tanpa reaksi apa pun.

Sampai sekian lamanya Siau-hong memandangnya, mendadak ia berbangkit terus berbaring sekalian di samping Giok-hiang.

Maka dia juga seakan-akan berubah orang mati. Sebaliknya orang mati yang lain lantas hidup kembali. Tangannya mulai bergerak, kakinya juga bergerak.

Sebaliknya Siau-hong tidak bergerak. Tiba-tiba Pui Giok-hiang mengikik. “Hihi, kutahu kau pun
tidak mati.”

Akhirnya Siau-hong memberi reaksi, ia pegang tangan yang putih halus dan sedang beraksi itu.

“Kau takut apa? Aku bukan isteri kawin sah si Jenggot Biru, kau pun bukan sahabatnya,” lalu Giok-hiang tertawa dan menyambung pula, “Memangnya kau takut kepada Ting-hiang-ih? Tapi berani kujamin sekali ini, dia pasti takkan kembali lagi ke sini.”

Siau-hong menghela napas, ia tahu bilamana sekali ini Ting-hiang-ih masih dapat kembali, mustahil kalau tidak berubah menjadi makhluk aneh yang hilang hidung dan buta mata sebelah.

Namun ia pun tidak terlalu risau, sebab sudah dilihatnya ke tujuh titik perak yang menancap di dinding itu adalah Sam-ling-tau-kut-ting, sejenis paku segitiga.

“Dia menguntit diriku, apakah engkau yang menyuruhnya?” tanya Siau-hong tiba-tiba.

“Selamanya kita tidak ada permusuhan, untuk apa kubikin celaka dirimu?” jawab Giok-hiang.

“Bikin celaka diriku?” Siau-hong merasa tidak mengerti.

“Sekarang dia serupa sebuah gunung api yang setiap saat bisa meletus, siapa yang dikuntitnya, setiap saat orang itu bisa terbinasa olehnya.”

“Wah, jika begitu, tampaknya nasibku masih mujur juga,” ujar Siau-hong sambil tersenyum getir.

“Dua orang perempuan yang kutemui, yang seorang gunung es, yang lain gunung api.”

“Gunung api terlebih bahaya daripada gunung es, lebih-lebih gunung api berupa 30 laksa tahil emas yang berada padanya,” tukas Giok-hiang.

“30 laksa tahil emas? Darimana datangnya emas sebanyak itu?” tanya Siau-hong.

“Hasil mencuri!” jawab Giok-hiang.

“Dimana ada emas sebanyak itu untuk dicurinya?”

“Di gudang kekayaan Hek-hou-tong (gedung harimau hitam).”

Baru sekarang Siau-hong tahu duduk perkaranya, ia menghela napas dan bergumam. “Hek-hou-tong. Hek-lai-cu …. ”

“Betul, para gembong pimpinan Hek-hou-tong sama memakai tali ikat pinggang berwarna hitam.”
Meski Hek-hou-tong adalah sebuah sindikat uang yang baru muncul di dunia Kangouw, tapi ketatnya organisasi dan besarnya pengaruh konon sudah jauh melampaui Jing-ih-lau pada masa lampau. Juga kekuatan dan dananya tidak dapat ditandingi oleh Kay-pang dan Tiam-jong-pay.

Kay-pang terkenal sebagai organisasi kaum jembel terbesar di dunia Kangouw, sedangkan anak murid Tiam-jong-pay hampir seluruhnya keluarga hartawan, di pegunungan Tiam-jong juga ada tambang emas, maka kedua aliran ini terkenal kaya raya.

Akan tetapi Hek-hou-tong terlebih kaya. Dan uang biasanya serba bisa, setan saja doyan duit. Inilah pangkal utama sebabnya Hek-hou-tong dapat menonjol dalam waktu secepat ini.

“Konon sebabnya Hek-hou-tong ditakuti adalah karena duitnya terlalu banyak, dengan sendirinya gudang uang mereka adalah bagian yang terpenting, penjagaannya tentu sangat ketat,” kata Siau-hong.

“Kukira memang begitu,” kata Giok-hiang. “Selama dua hari ini juga dapat kulihat jago kelas tinggi yang bekerja bagi Hek-hou-tong jauh lebih banyak daripada apa yang pernah kubayangkan Dengan kemampuan apa Ting-hiang-ih dapat menguras gudang kekayaan mereka?”

“Mungkin dia hanya mempunyai sedikit kemampuan saja, tapi dengan setitik kemampuan ini sudah cukup baginya.”

“Oo?” Siau-hong merasa sangsi.

“Kau tahu siapakah Tongcu (kepala) Hek-hou-tong?” tanya Giok-hiang.

“Hui-thian-giok-hou (harimau kemala terbang)!” sahut Siau-hong.

“Nah, dia sendiri isteri Hui-thian-giok-hou.” Siau-hong melenggong.

“Konon akhir-akhir ini Hui-thian-giok-hou sering tidak di rumah, maka kesempatan ini digunakan Ting hiang-ih untuk membawa lari isi gudang kekayaan Hek-hou-tong. dia minggat bersama seorang kacung Hui- thian-giok-hou.”

Setelah tertawa, lalu Giok-hiang menyambung. “Sebenarnya kau pun tidak perlu heran, perempuan yang kabur bersama gendaknya dengan membawa harta simpanan sang suami, jelas dia bukan orang pertama, juga pasti bukan orang terakhir.”

Akhirnya Siau-hong menghela napas gegetun, “Ai, tampaknya si Muka Pulih (anak muda yang suka jual tampang untuk memelet perempuan) ini tidak rendah kepandaiannya sehingga sanggup menyuruhnya minggat dengan menyerempet bahaya besar.”

“Apa engkau merasa cemburu?” tanya Giok-hiang dengan tertawa.

Siau-hong menarik muka, jengeknya. “Aku cuma ingin tahu sesungguhnya orang macam apakah dia itu?”

“Tapi sayang sekarang tidak dapat kau lihat dia lagi.” Kata Giok-hiang.

“Sebab apa?” tanya Siau-hong

“Sebab dia sudah dipotong jadi delapan bagian oleh Liau-si-ngo-hiong dan dimasukkan ke dalam peti, kini sudah dikirim kembali ke Hek-hou-tong.”

Liau-si-ngo-hiong atau lima jago keluarga Liau yang dimaksud tentunya kelima orang yang menguntit di belakang sejak permulaan perjalanan Liok Siau-hong itu.

Baru sekarang juga diketahui Siau-hong bahwa sebenarnya yang dibuntuti bukanlah dirinya melainkan Ting-hiang-ih.

“Sesudah si Muka Pulih mati barulah Ting-hiang-ih mengetahui orang Hek-hou-tong menguntit jejaknya, maka dia menjadi takut, maka…”

“Maka akulah yang dicarinya,” tukas Siau-hong.

“Setiap orang Kangouw kan tahu, Liok Siau-hong yang beralis empat itu tidak boleh sembarangan direcoki, sampai maha raja juga ada hubungan baik dengan dia, bahkan Pek-in-sengcu dan Giam Tok-ho juga terjungkal di bawah tangannya. Bila Ting-hiang-ih mendapatkan pengawal sehebat ini, tentu saja Hek-hou-tong tidak berani sembarangan bertindak.”

“Tapi mereka pasti tidak menyangka masih ada lagi tiga pengawal yang jauh lebih lihai selalu melindungi diriku secara diam-diam.”

“Ya, makanya di antara 13 orang mereka yang datang telah mati 12 orang.”

“Siapa lagi sisa yang seorang itu?”

“Hui-thian-giok-hou sendiri.”

“Dia juga datang?” Siau-hong terkejut. “Dimana dia sekarang?”

“Tadi sepertinya masih berada di luar, sekarang tentunya sudah pulang.”

“Sebab apa dia pulang?” tanya Siau-hong.

“Sebab orang yang hendak dicarinya pasti sudah ditemukannya,” tutur Giok-biang. “Cara bekerjanya biasanya tegas dan tuntas. Ia pun tahu engkau tidak lebih hanya boneka yang diperalat saja oleh Ting-hiang-ih, tidak nanti dia mencari dirimu.”

“Maka dapatlah aku merasa lega,” ucap Siau-hong dengan dingin, “sebab kungfu Hui-thian-giok-hou terlalu tinggi, jika dia mencari diriku, pasti mati aku.”

“Sudah tentu kutahu engkau tidak gentar padanya,” kata Giok-hiang. “Cuma kesulitan demikian kalau dapat dihindarkan kan lebih baik.”

Siau-hong berpaling dan menatapnya tajam, tiba-tiba ia bertanya. “Tampaknya pengetahuanmu mengenai Hek-hou-tong jauh lebih jelas daripada Ting-hiang-ih.”

Giok-hiang menghela napas, “Bicara terus terang, akulah yang memperkenalkan Ting-hiang-ih kepada Hui-thian-giok-hou sebab itulah aku pun ikut malu atas perbuatannya yang rendah ini.”

“Juga lantaran dia tidak jadi menikahimu, tapi mengawini Ting-hiang-ih, karena gemasnya maka engkau lantas berjudi mati-matian dan akhirnya kawin dengan si Jenggot Biru.”

Giok-hiang mengangguk, ucapnya perlahan. “Ya makanya antara diriku dengan si Jenggot Biru boleh dikata tidak ada keakraban bathin, sungguh aku sangat menyesal, mengapa kukawin dengan orang yang membuka rumah judi.”

Umumnya, baik lelaki maupun perempuan, apabila mengalami patah cinta, kebanyakan akan mencari penyaluran, kalau tidak mabuk-mabukan, bisa jadi berjudi hingga lupa daratan, kemudian sekenanya mencari pasangan, tapi setelah sadar kembali, biasanya lantas timbul penyesalan yang tak terhingga, tapi beras sudah menjadi nasi, terpaksa tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Tentu saja kisah tragis demikian ini, juga kisah yang umum. Biasanya kaum lelaki terlalu sibuk bekerja, si perempuan tidak tahan kesepian lalu akan main pat gulipat dengan lelaki lain, bahkan minggat bersama gendaknya. Kejadian ini pun sangat jamak.

Rupanya Ting-hiang-ih khawatir Siau-hong takkan menggubris padanya lagi bila mengetahui seluk-beluknya, maka dia tidak memberi kesempatan bicara kepada Im-tong-cu. Ia harus turun tangan lebih dulu dan membunuhnya.

Ketika diketahuinya Pui Giok-hiang menyusul tiba. Mestinya Ting-hiang-ih bermaksud angkat kaki. tapi begitu dia keluar, segera diketahuinya penguntitan Hui-thian-giok-hou. Terpaksa ia balik lagi, tak tersangka ia lantas dipaksa keluar pula oleh Pui Giok hiang.

Semua persoalan itu sudah ada penjelasan yang cukup beralasan.

Akan tetapi Liok Siau-hong belum merasa puas. Entah mengapa ia merasa di dalam urusan ini pasti ada lagi intrik dan rahasia lain yang belum diketahuinya.

“Konon Hui-thian-giok-hou adalah seorang yang sangat misterius, selamanya jarang ada orang yang melihat wajah aslinya,” kata Siau-hong.

Maklumlah, gembong sesuatu sindikat rahasia yang di zaman ini dikenal sebagai ‘Godfather’ tentu harus selalu menjaga kemisteriusannya agar dapat hidup terlebih panjang.

“Namun kau tentunya harus dikecualikan.” demikian Siau-hong menyambung pula. “Kau pasti pernah melihat dia?”

“Ya, sangat sering kulihat dia,” Giok-hiang mengaku.

“Sesungguhnya dia orang macam apa?” tanya Siau-hong. “Akhir-akhir ini banyak orang berpendapat ada dua tokoh Kangouw yang paling misterius dan paling menakutkan, kedua orang ini adalah Se-pak-siang-giok.”

Se-pak-siang-giok, dua Giok (kemala) dari barat dan utara, maksudnya Hui-thian-giok-hou dari utara dan Giok Lo-sat dari barat.

“Jika namanya dapat disejajarkan dengan Giok Lo-sat, maka dia pastilah seorang yang lihai dan berhati keji.”

“Bagaimana bentuknya?” tanya Siau-hong.

“Meski usianya sudah lebih 40, tapi tampaknya cuma antara 35-an, perawakannya pendek kecil, kedua matanya jelilatan seperti mata kokok beluk.”

“Dia she apa dan siapa namanya?”

“Entah,” jawab Giok-hiang.

“Masa kau pun tidak tahu'” desak Siau-hong.

“Agaknya dia juga mempunyai kisah hidup yang memilukan hati, sebab itulah tidak pernah dia menyebut nama dan asal-usulnya sendiri di depan orang lain, aku pun tidak dikecualikan.” Tiba-tiba tangan Giok-hiang mulai beraksi lagi. Siau-hong sendiri diam saja.

“Sekarang semuanya sudah kau ketahui, apa pula yang kau takuti?” ucap Giok-hiang dengan suara lembut.

Siau-hong tidak menjawab “Sudah jauh malam begini, angin pun meniup kencang di luar masa kau tega mengusir pergi diriku?” suaranya genit menggiurkan, tangannya juga bekerja terlebih aktif.

Akhirnya Siau-hong menghela napas. “Dengan sendirinya takkan kuusir dirimu, namun…”

“Namun apa?” desak Giok-hiang.

Siau-hong memegang lagi tangan si dia yang terlalu aktif ucapnya, “Aku hanya ingin membikin terang sesuatu urusan lebih dulu.”

“Urusan apa?” tanya Giok-hiang.

“Kedatangan Ting-hiang-ih ke sini jelas adalah karena ingin menggunakan diriku sebagai tameng, dan bagaimana dengan kedatanganmu ini?”

“Memangnya kau pun menganggap hendak kuperalat dirimu?”

“Kuharap kedatanganmu ini adalah karena jatuh hati padaku, cuma sayang, jalan pikiran demikian ini sukar untuk dipercaya biar pun kuhabis menenggak 30 kati arak.”

Giok-hiang menghela napas, “Jika kau minta kubicara sejujurnya, baiklah akan kukatakan, kedatanganku ini adalah karena ingin membicarakan sesuatu bisnis denganmu.”

“Bisnis apa?” tanya Siau-hong.

“Dengan diriku akan kutukar Lo-sat-pai yang akan kau temukan nanti,” tutur Giok-hiang. “Diriku sudah kukirim prangko ke sini sekarang, akan kuserahkan lebih dulu kepadamu, nanti kalau Lo-sat-pai sudah kau dapatkan, harus juga kau serahkannya kepadaku.”

Dia tertawa, lalu menyambung. “Aku kan isteri si Jenggot Biru, jika kau serahkan Lo-sat-pai kepadaku berarti sudah menunaikan tugas, maka tidak merugikan sedikit pun padamu.”

“Tapi bagaimana kalau … kalau tidak dapat kutemukan Lo-sat-pai?”

“Ya. anggap saja nasibku yang kurang mujur, kan aku yang mengajukan tawaran ini secara sukarela tidak nanti kusesalkan dirimu.”

Suara Giok-hiang bertambah genit. “Malam sudah selarut ini, angin pun sedemikian kencang, aku jadi semakin tidak berani ke luar.”

Siau-hong juga menghela napas, “Kau sudah kukatakan, tidak nanti kuusir dirimu, tapi kan dapat kuusir diriku sendiri?”

Dia benar-benar berbangkit, tanpa menoleh ia melangkah ke luar. Mendadak terdengar suara gemuruh, tempat tidur yang kukuh dan kuat itu mendadak runtuh berantakan.

Maka tertawalah Siau-hong.

Didengarnya suara caci maki Pui Giok-hiang, maka tertawa Siau-hong bertambah riang, serunya, “Kau kacau tidurku, aku pun membikin engkau tidak dapat tidur.”

Dia bukan nabi, juga bukan kuncu (gentleman). Untung dia adalah Liok Siau-hong, satu-satunya Liok Siau-hong dan tidak ada yang kedua.

Tidak ada yang dapat membayangkan malam ini dia tidur di mana?

Ternyata dia tidur di atap rumah, maka pada waktu mendusin esok paginya, mukanya hampir kering tertiup angin. Dia menggelengkan kepala sampai sekian lamanya barulah ia dapat melemaskan tangan dan kakinya.

Untung Pui Giok-hiang sudah pergi, maklum, siapa pun pasti tidak dapat tidur di tempat tidur yang sudah berantakan.

Tentunya si dia juga tidak dapat melampiaskan gemasnya alas diri Siau-hong yang tidur di atap rumah, maka rasa dongkolnya lantas dilampiaskan atas pakaiannya.

Pada waktu Siau-hong ingin ganti baju barulah diketahui segenap pakaiannya telah morat-marit dan compang-camping, semuanya robek. Satu-satunya baju panjang yang masih utuh juga telah bertambah beberapa baris huruf yang berbunyi, “Liok Siau-hong. hatimu sungguh lebih kecil daripada Siau-keh (ayam kecil), daripada bernama Hong cilik kenapa namamu tidak diganti saja menjadi Liok Siau-keh?”

Ayam juga tidak jelek, paling tidak daging ayam kan cukup lezat. Maka kecuali ayam goreng, di atas meja Siau-hong masih terdapat satu porsi sosis, satu porsi telur dadar dan satu porsi as inan.

Sedikitnya Liok Siau-hong telah menghabiskan empat mangkuk bubur panas itu. Kini badannya masih terasa pegal, tapi bathinnya sangat gembira.

Cuma sayang, kegembiraannya tidak berlangsung lama ketika dia hendak menambah bubur lagi, sekonyong-konyong seorang mengantarkan sepucuk surat untuknya.

Kertas surat kelihatan sangat indah, tulisannya juga bagus, bunyi surat itu, “Rase garang itu sudah pergi belum? Aku tidak berani mencari dirimu, kau berani mencari diriku tidak? Kalau tidak berani berarti cucu kura-kura”.

Siau hong kenal yang membawakan surat itu adalah si pelayan, dari nada tulisannya dengan sendirinya ia pun tahu penulis surat itu ialah Ting-hiang-ih.

“Masakah dia belum lagi mati?”

“Siapa yang menyuruhmu mengantarkan surat ini kepadaku?”

“Seorang nona, yaitu nona Ting yang kemarin datang bersama tuan tamu,” tutur si pelayan.
Dia ternyata benar-benar tidak mati.

Seketika Siau-hong melupakan sakit pegal badannya, serentak ia melonjak bangun dan berseru, “Dimana dia? Lekas antar ke sana!”

Waktu tiba di tempat tujuan, terlihat pintu setengah dirapatkan. Setelah pintu didorong, segera tercium bau harum semerbak.

Di dalam rumah tidak ada bunga, tapi ada satu orang yang berbaring di tempat tidur.

Bukan untuk pertama kalinya Siau-hong mencium bau harum demikian, jelas inilah bau harum tubuh Ting-hiang-ih. Dan yang berbaring di tempat tidur itu ialah perempuan yang berbau harum ini.

Cahaya matahari menyinari jendela, suasana dalam rumah adem ayem penuh rasa hangat dan menyenangkan. Si dia berbaring di sebuah tempat tidur yang sangat longgar dan empuk, berlapis selimut yang tersulam sepasang merpati.

Selimut yang berwarna merah mencorong dengan burung merpati hijau kelabu, air mukanya kemerah-merahan, rambutnya hitam gilap, jelas baru saja disisir. Wajahnya kelihatan tersenyum, agaknya sedang menantikan kedatangannya.

Tiba-tiba timbul lagi perasaan hangat Liok Siau-hong, tapi ia sengaja menarik muka dan berkata, “Untuk apa kau minta kudatang kemari? Apakah ingin mengembalikan 50 laksa tahil perak itu kepadaku?”

Ting-hiang-ih juga sengaja memejamkan mata dan tak menghiraukannya.

“Hm, seorang kalau sudah mempunyai 30 laksa tahil emas, untuk apalagi 50 laksa tahil perak?” jengek Siau-hong.

Ting-hiang-ih tetap tidak menghiraukannya, akan tetapi matanya yang terpejam itu tiba-tiba mengucurkan dua baris air mata.

Butiran air mata perlahan mengalir ke pipinya yang merah, serupa butiran embun di atas kelopak bunga mawar.

Hati Siau-hong menjadi lunak lagi, perlahan ia mendekat ke sana dan ingin mengucapkan beberapa kata lembut.

Tetapi tidak sempat dia bicara, sebab tiba-tiba diketahuinya sesuatu yang aneh. Perempuan yang jelita itu tampaknya seperti menyurut lebih pendek bagian bawah selimut tampaknya seperti kosong. “Aneh, mengapa bisa begini?”

Sungguh Siau-hong tidak berani memikirkannya, mendadak ia singkap selimut bersulam indah itu, seketika ia seperti tercebur ke dalam air dingin, sekujur badan seperti beku.

Ting-hiang-ih masih tetap harum, tetap sangat cantik, dadanya masih tetap montok menegak, pinggangnya masih ramping, akan tetapi kedua tangannya dan kedua kakinya, semuanya sudah lenyap.

Siau-hong memejamkan mata, dia seperti melihat sebuah wajah yang kurus kecil dengan matanya yang jalang serupa mata burung tentu penuh mengandung rasa keji dan benci sedang menyeringai terhadap Ting-hiang-ih, “Kubuntungi kedua tangannya coba kau berani lagi mencuri emasku atau tidak? Kubuntungi kedua kakimu, coba kemana lagi akan kau lari?”

Siau-hong mengepal kedua tinjunya erat-erat. Setiap lelaki memang berhak membekuk kembali isterinya yang minggat, untuk ini dia tidak sirik kepada Hui-thian-giok-hou, ketika diketahui Ting-hiang-ih ditangkap pulang, paling-paling cuma timbul perasaan kecut dan bimbang saja. Tapi sekarang keadaannya menjadi lain.

Siapa pun tak berhak menganiaya sekejam ini kepada orang lain. Ia benci kepada kekerasan yang melampaui balas. Seperti halnya pak tani benci kepada wereng.

Waktu dia membuka mata, diketahuinya Ting-hiang-ih juga sedang memandangnya, sudah memandangnya sekian lama.

Sorot matanya tidak ada tanda marah, hanya ada rasa duka. tiba-tiba ia berucap perlahan, “Lekas pergi!”

Semula dia menghendaki kedatangan Siau-hong, setelah bertemu mengapa malah menyuruhnya lekas pergi? Apakah tidak menginginkan Siau-hong melihat keadaannya yang mengenaskan ini? Atau khawatir Hui-thian-giok-hou akan muncul mendadak?

Bisa jadi surat yang ringkas itu ditulisnya atas paksaan Hui-thian-giok-hou, mungkin di sinilah suatu perangkap ?

Perlahan Siau-hong melepaskan selimut, ia pindahkan kursi ke depan tempat tidur dan berduduk, meski tidak bicara satu kata pun, tapi tidak ada ubahnya seperti telah memberi jawaban tegas, “Aku takkan pergi!”

Apa pun alasannya dia minta Siau-hong pergi, sekarang Siau-hong sudah bertekad akan tinggal di sini untuk menemaninya. Sebab ia tahu sekarang dia sangat memerlukan seorang teman, pada waktu Siau-hong sendiri kesepian, bukankah si dia juga pernah menemaninya?

Siau-hong pasti bukan orang yang berjiwa sempit, biar pun orang lain pernah berbuat sesuatu kesalahan padanya, dengan cepul juga akan dilupakannya. Selamanya dia cuma mengingat kepada kebaikan orang lain.

Dengan sendirinya Ting-hiang-ih juga paham maksudnya, kecuali merasa berduka, sorot matanya bertambah lagi rasa terima kasih yang tak tcrkatakan.

“Sekarang tentunya kau tahu urusanku,” suara Ting-hiang-ih sangat lirih, seolah-olah khawatir didengar orang lain, “Ke-30 laksa tahil emas itu tentu saja tidak dapat kubawa kian kemari. Demi memaksa kuserahkan kembali emas itu, dia telah menyiksa diriku sedemikian rupa.”

Siau-hong pikir sekarang tentu saja tak dapat kau kembalikan emas itu kepadanya, mengapa baru akan kau serahkan kembali setelah dia menyiksa dirimu? Emas itu kan miliknya, memang seharusnya kau kembalikan kepadanya.

Dengan sendirinya pikiran ini tidak diucapkan oleh Siau-hong, betapapun ia tidak tega menusuk lagi perasaannya.

Angin mendesir di luar, daun rontok bertaburan. Apa yang mesti diucapkan Liok Siau-hong? Menghiburnya tidak diperlukan lagi. sebab betapapun ia menghiburnya tetap Lak dapat memperbaiki keadaan yang sudah terjadi.

Cukup lama keduanya bungkam. Mendadak Ting-hiang-ih bertanya. “Apakah kau tahu sebab apa pula kucuri ke-30 laksa tahil emas itu?”

Siau-hong menggeleng, terpaksa ia pura-pura tidak tahu. Tapi penjelasan Ting-hiang-ih ternyata sangat di luar dugaannya, “Juga lantaran Lo-sat-pai itu.”

Alasan ini tidak baik, sebab itulah juga tidak terasa sebagai dusta.

“Kutahu Li He membawa lari Lo-sat-pai, juga mengetahui dia sudah pulang ke Lau-ok,” kata Ting-hiang-ih pula.

“Lau-ok?” Siau-hong tidak mengerti.

“Lau-ok sama dengan Rahasu,” tutur Tmg-hiang. “Rahasu adalah bahasa daerah setempat, artinya Lau-ok (rumah tua),” demikian Ting-hiang-ih menjelaskan pula.

“Kau kenal Li He?” tanya Siau-hong.

Ting-hiang-ih mengangguk, tiba-tiba Wajahnva menampilkan Semacam perasaan yang aneh, setelah ragu sejenak, akhirnya berkata pula dengan perlahan, “Dia sebenarnya ibu tiriku.”

Jawaban ini lebih-lebih di luar dugaan Siau-hong.

Malahan Ting-hiang-ih lantas menjelaskan lagi. “Sebelum Li He kawin dengan si Jenggot Biru, sebenarnya dia ikut ayahku.”

“Ayahmu …?” Siau-hong merasa bingung.

“Sekarang beliau sudah wafat,” tutur Ting-hiang. “Aku dan Li He selama ini masih terus ada kontak.”

Li He adalah ibu tiri Ting-hiang-ih, sedang Pui Giok-hiang adalah Piauci atau kakak misannya, dan kakak misan ternyata merampas suami ibu tirinya, suami Ting-hiang-ih sendiri dulunya diperkenalkan kepadanya oleh sang Piauci.

Tiba-tiba Siau-hong merasa hubungan di antara ketiga perempuan itu sungguh terlalu ruwet, biar pun sudah dijelaskan oleh Ting-hiang-ih tetap membuatnya bingung.

Rupanya Ting-hiang-ih dapat melihat jalan pikiran Siau-hong, ucapnya dengan pedih, “Perempuan adalah kaum lemah, banyak pengalaman kaum wanita yang malang, mereka sering dipaksa melakukan hal-hal yang mestinya tidak suka diperbuatnya. Tapi kaum lelaki sedikit pun tak memahami mereka, sebaliknya menghinanya malah.”

Siau-hong menghela napas, ucapnya. “Aku … aku mengerti.”

“Perbuatan Li He sekali ini meski tidak benar, tapi aku bersimpatik kepadanya,” kata Ting-hiang-ih pula.

“Dia mencuri Lo-sat-pai suaminya, dan kau nyolong emas suamimu, perbuatan kalian memang setali tiga uang alias sama, dengan sendirinya kau bersimpatik padanya.” Dengan sendirinya pikiran ini tidak diucapkan Siau-hong, tapi Ting-hiang-ih dapat melihatnya.

“Kubilang perbuatannya tidak benar, maksudku bukan lantaran dia mencuri Lo-sat-pai,” untuk pertama kalinya Ting-hiang-ih memperlihatkan rasa duka dan marah.

“Seorang perempuan kalau disia-siakan suaminya, cara bagaimana pun dia membalasnya adalah pantas.” Ini adalah jalan pikiran kaum wanila, kebanyakan perempuan sama mempunyai pendirian semacam ini.

Ting-hiang-ih adalah orang perempuan. Sebab itulah Siau-hong menyatakan sependapat.

“Kukatakan dia berbuat salah adalah karena dia mestinya tidak boleh berjanji akan menjual Lo-sat-pai kepada Kah Lok-san,” kata Ting-hiang-ih pula.

“Kah Lok-san dari Kanglam?” melengak juga Siau-hong, sebab ia tahu orang yang disebut ini.
Kah Lok-san adalah hartawan maha kaya yang terkenal di daerah Kanglam (selain sungai Tiang-kang atau Yangce), juga seorang dermawan terkenal, hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa dahulunya dia adalah bajak laut besar yang malang melintang di samudra raya, sampai-sampai suku Ainu dari kepulauan lautan timur (penduduk asli Jepang di kepulauan Okinawa dan sekitarnya) juga sebagian besar berada di bawah kekuasaannya.

Suku Ainu itu terkenal ganas, kejam, tangkas, dan tidak takut mati, hidupnya kebanyakan menjadi bajak laut, sifatnya pagi satu sore dua, tidak dapat dipercaya. Tapi Kah Lok-san justru dapat mengatasi mereka sehingga takluk benar-benar, dari sini dapat dibayangkan, betapa lihainya tokoh Kah Lok-san ini.

“Kutahu Li He telah mengadakan perundingan rahasia dengan utusan Kah Lok-san yang sengaja dikirim ke daerah Tionggoan,” tutur Ting-hiang-ih pula. “Bahkan mengenai harganya juga sudah diputuskan, lelah disepakati untuk bertemu lagi di Rahasu, di sana akan dilakukan pembayaran dan penyerahan barang.”

“Jika mereka berunding di daerah Tionggoan, mengapa mesti berjanji pula untuk bertemu lagi di kota kecil yang terpencil jauh di utara sana?” tanya Siau-hong.

“Ini pun salah satu syarat yang diminta Li He,” tutur Ting-hiang-ih. “Ia tahu kekejian dan keganasan Kah Lok-san, ia khawatir dicaplok mentah-mentah, sebab itulah ia berkeras akan menyerahkan barangnya di Lau-ok.”

“Sebab apa?”

“Sebab di sanalah kediaman asal ayahku,” tutur Ting-hiang-ih. “Dia juga belasan tahun tinggal di sana. Baik tempat maupun orang di sana sudah cukup apal baginya, berada di sana, betapa pun besar kekuatan Kah Lok-san juga tidak dapat berbuat sewenang-wenang kepadanya.

“Jika demikian, tampaknya dia juga seorang perempuan yang sangat cerdik dan lihai,” ujar Siau-hong.

Ting-hiang-ih menghela napas, “Maklum, mau tidak mau dia harus berundak agak cerdik, sebab dia sudah terlalu sering ditipu kaum lelaki.”

‘Tapi dia toh memberitahukan rahasia ini kepadamu,” ujar Siau-hong.

“Ya, sebab setelah dia membawa lari Lo-sat-pai. Orang pertama yang dicarinya ialah diriku.”

“Oo?” tak terduga juga oleh Siau-hong,

“Dia juga berjanji padaku, asalkan pada akhir tahun aku dapat mengumpulkan 20 laksa tahil emas, maka ia akan menjual Lo-sat-pai kepadaku.”

“Untuk apa kau incar Lo-sat-pai?”

“Sebab aku pun ingin menuntut balas,” dengan menggreget Ting-hiang-ih menyambung pula. “Sudah lama kutahu Hui-thian-giok-hou mempunyai simpanan perempuan lain, aku dianggapnya duri di dalam daging, gendaknya itu lebih-lebih benci padaku, sebab selama aku masih hidup, tentu sukar baginya untuk menjadi permaisuri Hek-hou-tong secara resmi.”

“Masa mereka bermaksud membunuhmu?”

“Jika aku kurang cerdik, mungkin sudah lama kumati di tangan mereka. Akan tetapi, bilamana Lo-sat-pai sudah kupegang, mereka pasti tidak berani lagi merecoki diriku.”

Jika seorang perempuan berani membeli sesuatu barang dengan 20 laksa tahil emas, tentu alasannya cukup kuat.

“Sebab apa?” tanya Siau-hong

“Sebab dengan memegang Lo-sat-pai, maka jadilah aku Kau-cu (ketua agama) Lo-sat-kau atau Ma-kau yang dikenal orang. Bahkan Hui-thian-giok-hou sendiri juga jeri terhadap pemimpin agama dari barat ini.”

Matanya yang kelihatan sayu itu mendadak terbeliak, dia mencernakan pula sesuatu rahasia yang sangat mengejutkan orang.

Kabarnya Giok lo-sat dari barat itu sudah mati, mati secara mendadak pada saat putranya mulai masuk ke daerah Tionggoan. Ketua Ma-kau itu meninggalkan pesan. “Bila aku mati, Lo-sat-pai kuberikan kepada siapa yang memegangnya, dia itulah yang akan menjadi Kaucu penerus, jika ada yang berani membangkang, hukumannya dicincang, mati pun masuk neraka dan takkan menitis untuk selamanya.”

Giok Lo-sat dari benua barat tentu saja seorang yang sangat cerdik dan maha lihai, dia khawatir sesudah dirinya mati, untuk memperebutkan kedudukan, anak muridnya mungkin akan saling membunuh dan menghancurkan agama yang telah dipupuknya dan dibesarkannya seperti sekarang ini. Sebab itulah dia sengaja meninggalkan pesan yang merupakan hukum yang tak dapat dibantah itu.
Lantaran itu juga, makanya lebih dulu Lo-sat-pai itu sudah diwariskannya kepada putranya sendiri.

Cuma sayang, Giok Thian-po juga serupa anak badung dari keluarga hartawan umumnya, anak yang kelewat dimanja orang tua, akhirnya jadi rusak.

“Jika di alam baka Giok Lo-sat mengetahui putra kesayangannya itu menggadaikan Lo-sat-pai di rumah judi, kuyakin dia akan murka sehingga tumpah darah,” kata Ting-hiang-ih pula.

Siau-hong menghela napas panjang, akhirnya ia tahu duduknya perkara mengapa ada orang sebanyak itu ingin merebut Lo-sat-pai dengan cara apa pun.

“Demi memperingati wafatnya Giok Lo-sat dan juga untuk mengangkat Kaucu baru. Para Hou-hoat-tianglo dan anak murid yang berkuasa telah memutuskan akan mengumpulkan segenap anak murid yang penting untuk bertemu di puncak Kun-lun-san pada tanggal tujuh bulan satu nanti.”

Dan apabila pada hari tersebut engkau dapat hadir dengan membawa Lo-sat-pai, maka engkau yang akan diangkat menjadi Kaucu baru Ma-kau, selanjutnya juga tidak ada orang lagi yang berani bertindak kasar padamu,” tukas Siau-hong.

Pengaruh Ma-kau sudah berakar cukup mendalam dan merata di seluruh dunia, barang siapa dapat menjabat Kaucu, seketika akan berubah menjadi orang yang paling berpengaruh di dunia Kangouw, seorang kalau sudah berkuasa, maka keuntungan moril dan material juga akan diperolehnya dengan mudah.

Daya pikat ini jelas sukar dilawan oleh siapa pun. Pantas Ting-hiang-ih berusaha mendapatkan Lo-sat-pai tanpa memikirkan resiko apa pun.

Siau-hong menghela napas, tiba-tiba ia merasakan urusan ini jadi semakin ruwet, tugasnya juga semakin berat dan sulit.

Cuma ada satu hal yang membuatnya tidak mengerti maka tanyanya, “Mengapa Li He sendiri tidak membawa Lo-sat-pai ke Kun-lun-san?”

“Sebab dia khawatir sebelum mencapai Kun lun-San akan mati dulu di tengah jalan,” kata Ting-hiang. “Dia lebih takut kalau-kalau hidupnya tak bisa bertahan sampai tanggal tujuh bulan satu tahun depan.”

Maklumlah, sebelum tiba hari yang ditentukan itu, berada di tangan siapa pun, Lo-sat-pai itu lebih mirip bom yang dapat meledak setiap waktu dan menghancur leburkan si pemegang.

“Biasanya dia sangat cerdik, ia tahu jalan yang paling selamat adalah menjual Lo-sat pai kepada orang lain,” setelah menghela napas menyesal, Ting-hiang-ih melanjutkan, “seorang perempuan sebaya dia, jika hidupnya tidak punya sandaran dan jiwanya juga tidak tenteram, biasanya lantas mencari duit mati-matian, maka….”

“Maka meski hubungannya denganmu lain daripada yang lain, dia tetap minta kau beli Lo-sat-pai dengan 20 laksa tahil emas.” tukas Siau-hong.

“Ya, sayang sekarang aku lebih mengenaskan daripada dia,” ucap Ting-hiang-ih dengan pedih, “akulah yang benar-benar tidak punya apa-apa lagi.”

“Sedikitnya kau masih mempunyai seorang sahabat.” sambung Siau-hong dengan tersenyum.

“Engkau?” Ting-hiang-ih menegas.

Siau-hong mengangguk, tiba tiba timbul semacam perasaan yang sukar dijelaskan. Mestinya mereka bukan ‘sahabat’, hubungan mereka justru jauh lebih akrab daripada sahabat. Akan tetapi sekarang…

Ting-hiang-ih memandangnya, sorot matanya menampilkan semacam perasaan yang sukar dijelaskan, entah berduka? Bersyukur? Atau berterima kasih?

Selang agak lama, tiba-tiba ia bertanya, “Dapatkah kau sanggupi suatu permintaanku?”

“Katakan saja,” sahut Siau-hong.

“Bagiku sekarang, biar pun Lo-sai-pai juga tidak berguna lagi,” kata Ting-hiang-ih. “Tapi tetap kuharapkan akan dapat melihatnya, sebab … sebab aku telah berkorban segalanya baginya. Jika melihatnya saja tidak pernah, mati pun aku penasaran.”

“Kau harapkan setelah kutemukan barang itu, akan kubawa ke sini untuk diperlihatkan padamu?”

Ting-hiang-ih mengangguk, lalu ia pandang Siau-hong lekat-lekat, “Engkau mau berjanji?”

Mana bisa Siau-hong menolak, “Cuma hal ini paling cepat baru dapat terlaksana sebulan lagi, tatkala mana engkau masih berada di sini?”

“Aku akan berada di sini,” jawab Ting-hiang-ih dengan sedih, “sekarang aku sudah seorang cacat, mati atau hidup takkan diperhatikan lagi oleh mereka.”

Matanya menjadi merah, air matanya menetes pula, “Apalagi orang semacam diriku ini kemanakah dapat kupergi?”

Rembulan mulai tinggi di tengah langit, suasana bertambah sunyi.

Perlahan Siau-hong mengusap air mata Ting-hiang-ih dengan lengan bajunya, ia duduk lagi.

Sampai sekian lama barulah Ting-hiang-ih menghela napas, lalu berkata,”Sudah waktunya kau pergi.”

“Kau minta kupergi?” tanya Siau-hong

Ting-hiang-ih tersenyum, “Tentunya engkau tidak dapat berduduk menemani diriku selamanya.”

Meski tersenyum, namun wajahnya jauh lebih pedih daripada waktu menangis tadi.

Siau-hong ingin bicara tapi urung.

“Apakah engkau ingin bertanya sesuatu kepadaku?” tanya Ting-hiang.

Siau-hong mengangguk. Memang ada sesuatu yang mestinya tidak pantas ditanyakannya, ia tidak ingin menyinggung perasaan nya, tapi mau tidak mau ia harus bertanya, “Hui-thian-giok-hou sebenarnya orang macam apa?”

Jawaban Ting-hiang-ih juga serupa Pui Giok-hiang. Ternyata dia juga tidak tahu asal-usul dan nama asli Hui-thian-giok-hou. Keterangan yang dapat diberitahukannya hanya asal-usulnya sangat misterius, gerak-geriknya sukar diraba, perawakannya kurus kecil, sorot matanya setajam elang, tidak menaruh kepercayaan kepada siapa pun, sekalipun istrinya juga tidak terkecuali. Akan tetapi ilmu silatnya sangat tinggi, selama ini belum pernah menemukan tandingan.

Siau-hong bertanya. “Sesungguhnya tempat macam apakah Rahasu itu?”

“Tempat itu pun serupa pribadi Hui-thian-giok-hou, misterius dan menakutkan, penduduk di sana sama berjiwa sempit, berpikiran picik, selalu bersikap memusuhi setiap pendatang baru kecuali dua orang, apa yang dikatakan orang di sana sebaiknya jangan dipercaya.”

“Dua orang macam apakah yang bicaranya boleh dipercaya?” tanya Siau-hong.

“Yang seorang berjuluk Kambing Tua, dia adalah bekas pegawai ayahku, seorang lagi bernama Tan Cing-cing. Sejak kecil dibesarkan bersamaku, jika mereka tahu engkau adalah sahabatku, tentunya mereka akan membantumu sepenuh tenaga.”

Siau-hong mengingat-ingat kedua nama itu dengan baik.

“Selewatnya Tiongciu (pertengahan bulan kedelapan), cuaca di sana lantas mulai dingin, belum lagi bulan kesepuluh, air sungai sudah membeku,” tutur Ting-hiang-ih.

Liok Siau-hong juga pernah mendengar bilamana Siang-hoa-kang sudah membeku, maka sungai berubah menjadi sebuah jalan raya yang lengang.

“Orang yang tidak pernah berkunjung ke sana selamanya sukar membayangkan betapa dingin tempat itu,” tutur Ting-hiang-ih pula, “Pada waktu hawa paling dingin, begini ingus keluar dan hidung segera akan beku menjadi es, sampai hawa napas yang terembus keluar juga akan beku menjadi biji es.”

Siau-hong menghela napas, tanpa terasa ia meninggikan leher bajunya.

“Kutahu selama ini engkau cuma berada di daerah Kanglam, tentu takut dingin,” kata Ting-hiang. “sebab itulah engkau harus lekas berangkat ke sana mumpung hawa belum terlalu dingin, di tengah jalan sebaiknya engkau membeli beberapa potong baju kulit penahan dingin.”

Tiba-tiba Siau-hong merasa hangat lagi, apa pun juga, Ting-hiang-ih jelas tetap memperhatikannya.

Seorang kalau mengetahui di dunia ini ternyata ada orang yang memperhatikan dirinya, tentu hatinya akan merasa senang.

Cuma masih ada juga sesuatu urusan perlu ditanyakan lagi dengan jelas.

Setelah termenung sejenak, lalu Siau-hong berkata. “Kematian Giok Lo-sat tentu akan menimbulkan keruwetan di dalam agamanya, demi menghindari kemungkinan menangkap ikan di air keruh oleh anasir tertentu, maka kematiannya sampai saat ini masih dirahasiakan.”

“Ya. memang tidak banyak orang yang mengetahui rahasia ini,” ujar Ting-hiang-ih.

“Dan darimana kau tahu?” tanya Siau-hong.

“Kau tahu, di bawah Hek-hou (harimau hitam) terbagi lagi menjadi Pek-kap (merpati putih), Hwe-long (serigala kelabu) dan wi-kian (anjing kuning), ketiga seksi ini mempunyai lugas sendiri-sendiri. Wi-kian bertugas melacak, Hwe-long bertugas membunuh dan kewajiban Pek-kap adalah mencari info dan menyampaikan berita di segenap penjuru.”

“Bahwa Hek-hou-tong dapat menonjol secepat ini, sebagian adalah jasa ketiga seksi ini yang dapat bekerja cepat dan efektif. Hampir setiap tokoh dunia persilatan yang terkenal, baik mengenai asal-usulnya bentuk wajahnya dan ciri ilmu silatnya serta segala sesuatu kekhususannya, pada seksi merpati putih itu pasti terdapat dokumentasi yang lengkap. Sebab itulah sebelum kulihat dirimu lebih dulu sudah kuketahui engkau ini orang macam apa.”

Dan apakah dia juga mengetahui kelemahan Siau-hong terletak pada orang perempuan, makanya timbul niatnya akan menggunakan Siau-hong sebagai tameng?

Siau-hong tidak memikirkan hal ini, apa yang diperbuat orang lain terhadapnya biasanya tidak suka dipikirkannya, sebab itulah hatinya bisa selalu riang gembira.

Tiba-tiba Ting hiang-ih tertawa, tertawa pedih dan kecut. “Sebenarnya aku menjabat dua kedudukan di dalam Hek-hou-tong.”

“Oo?” heran juga Siau-hong.

“Selain menjadi alat pelampias pemimpin umum Hek-hou-tong, aku pun merangkap menjadi kepala seksi merpati…”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: