Kumpulan Cerita Silat

23/02/2008

Darah Ksatria: Bab 14. Tiada Ampunan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:46 pm

Darah Ksatria
Bab 14. Tiada Ampunan
Oleh Gu Long

Pertama kalinya Ma Ji-liong melihat Ji Ngo, Ji Ngo sedang memasak makanan. Banyak orang yang memasak setiap harinya di dunia ini, jadi memasak bukanlah hal yang aneh. Tapi bila Kanglam Ji Ngo yang memasak di dapur, orang-orang pasti akan merasa kagum.

Tapi tempat ini adalah kamar mayat, bukan rumah makan atau sebuah dapur.

“Jika kau bisa menebak apa yang sedang dia lakukan, aku akan menghormatimu.”

“Aku tidak ingin kau menghormatiku. Aku tidak bisa menebak.”

“Dia sedang menyisir rambut.”

Menyisir rambut pun bukanlah hal yang aneh. Kanglam Ji Ngo tentu saja menyisir rambutnya sendiri seperti yang dilakukan orang lain. Tapi ternyata dia bukan sedang menyisir rambutnya sendiri. Dia sedang menyisir rambut orang lain. Dia sedang menyisir rambut seorang perempuan tua yang hampir semua giginya sudah ompong.

Di sebuah kamar di seberang sana, entah sejak kapan tahu-tahu sudah menyala sebuah lampu. Seorang perempuan tua sedang duduk di bawah cahaya lampu. Dia memakai baju merah, kelihatan seperti seorang pengantin yang mengenakan gaun sulam merah. Salah satu kakinya sedang diangkat, dan dia mengenakan sepasang sepatu sutera berwarna merah cerah. Wajahnya penuh dengan kerutan. Jumlah giginya juga lebih sedikit daripada seorang bocah berumur dua tahun. Tapi rambutnya masih hitam mengkilap, persis seperti sutera hitam.

Orang akan tercengang bila melihat Kanglam Ji Ngo sedang menyisir rambut seorang perempuan tua seperti ini. Gerakan menyisirnya sama seperti gerakan waktu dia sedang menggoreng makanan, indah dan mempesona. Tidak ada bedanya apakah dia sedang memegang sudip atau sisir. Bagaimana pun juga dia adalah Kanglam Ji Ngo, Kanglam Ji Ngo yang tiada duanya itu.

Meskipun Ma Ji-liong tidak bisa menebak kenapa dia menyisir rambut perempuan tua itu, atau kenapa Toa-hoan membawanya untuk melihat hal ini, dia mulai merasa heran. Agaknya Ji Ngo tidak melihat kedatangan mereka. Apa pun yang dia lakukan, dia selalu melakukannya dengan hati dan jiwanya. Itulah sebabnya dia melakukannya lebih baik daripada orang lain.

Saat itu dia menggunakan sebuah jepit rambut yang hitam dan panjang untuk membuat sanggul rambut yang rapi buat perempuan itu, dan dia pun mengagumi karyanya sendiri sembari melakukannya. Memang itulah sebuah karya yang bagus, bahkan Ma Ji-liong pun harus mengakuinya. Perempuan tua itu menjadi tampak lebih muda puluhan tahun. Ji Ngo menutup matanya sebentar, dan ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang dibelai oleh kekasihnya.

“Kau benar-benar tidak ada tandingan. Benar-benar tidak ada orang yang bisa dibandingkan denganmu.” Suara perempuan itu terdengar parau, tapi orang masih bisa merasakan betapa merdu dan lembutnya suara itu di masa mudanya dulu. Dia menghela napas dengan perlahan dan berkata, “Jika ilmu kungfumu bisa setengah saja dari keahlian menata rambutmu, kau pasti akan menaklukkan dunia.”

Ji Ngo tergelak, “Untunglah, aku tentu saja tidak ingin menaklukkan dunia.”

“Kenapa tidak?”

“Karena jika seseorang berhasil menaklukkan dunia, hari-harinya tentu akan menjadi sangat membosankan.”

Perempuan tua itu tertawa terbahak-bahak. Lalu dia berkata, “Aku suka padamu. Aku benar-benar menyukaimu. Meskipun kau tidak menata rambutku, kurasa aku tetap akan melakukannya untukmu.”

Siapakah perempuan tua ini? Ji Ngo ingin dia melakukan apa? Saat keinginan-tahu Ma Ji-liong semakin membesar, Toa-hoan malah menariknya keluar.

“Sekarang kau tentu sedang bingung. Kau tidak tahu apa yang hendak kulakukan.”

“Apakah rencanamu? Siapa lagi yang akan kita temui kali ini?”

Toa-hoan berkata, “Kita akan melihat ‘orang dalam lukisan’.” Lalu dia meneruskan, “Meskipun kau seratus kali lebih cerdik daripada sekarang, kau pasti tidak akan bisa menebak identitasnya.”

Sebuah lampu sedang menyala di kamar sebelah, terlihat sebuah lukisan di atas dinding. Itulah lukisan seorang laki-laki setengah baya yang tampaknya amat jujur.

Ma Ji-liong belum pernah melihat orang ini. Atau kalau pun pernah, dia pasti tidak ingat lagi.

Orang seperti ini bukannya tidak berharga untuk diingat, tapi dia memang tidak akan meninggalkan kesan yang mendalam di hati orang lain.

“Dia bermarga Thio. Namanya Thio Eng-hoat. Dia adalah orang yang amat jujur dan baik hati. Dia membuka sebuah toko kelontong kecil di kota, bersama seorang pembantu yang hampir sama jujurnya dengan dia sendiri.”

Toa-hoan menjelaskan tentang orang dalam lukisan itu, “Dia terlahir pada tahun Babi, dan tahun ini dia berusia empat puluh empat tahun. Ketika berumur sembilan belas tahun, dia menikah dengan seorang perempuan bernama Guizhi. Perempuan itu pemarah dan jatuh sakit karena dia tidak bisa punya anak. Semakin timbul amarahnya, maka makin menjadi sakitnya. Terakhir sakitnya menjadi begitu parah, sehingga dia harus berbaring saja di tempat tidur dan si tua Thio yang harus memberinya makan. Setelah sakit yang teramat parah ini, perangainya yang buruk malah semakin menjadi-jadi. Tidak satu pun tetangga yang tahan mendengar ocehannya.”

Tiba-tiba dia berhenti dan bertanya pada Ma Ji-liong, “Apakah kau mendengarkan dengan jelas?”

Ma Ji-long memang mendengar uraiannya dengan jelas, tapi dia tetap merasa bingung. Dia tidak bisa membayangkan kenapa Toa-hoan membawanya untuk melihat lukisan ini dan menjelaskan tentang laki-laki dalam lukisan itu secara begitu terperinci.

Tentu saja dia pun akhirnya bertanya, “Jadi laki-laki ini ada hubungannya denganku?”

“Begitulah.”

“Bagaimana mungkin dia punya hubungan denganku?”

“Karena orang ini adalah kau.” Agaknya Toa-hoan tidak sedang bergurau. “Kau adalah dia, dan dia adalah kau.”

Ma Ji-liong merasa sangat lucu, begitu lucunya sehingga dia hampir bergulingan di lantai sambil tertawa sampai perutnya sakit. Sayangnya tidak ada suara tawa yang keluar. Karena dia tahu bahwa Toa-hoan tidak sedang bergurau. Dia pun tidak gila.

Maka dia pun bertanya, “Orang bernama Thio Eng-hoat ini adalah aku?”

“Tepat sekali.”

“Sedikit pun dia tidak mirip denganku.”

“Tapi kau akan segera mirip dengannya, sangat mirip dengannya. Bahkan aku bisa mengatakan, persis seperti dia.”

“Sayangnya aku tidak bisa merubah diriku sendiri.”

“Kau tidak bisa, tapi orang lain bisa melakukannya untukmu.”

Toa-hoan tiba-tiba bertanya, “Tahukah kau kenapa Ji Ngo menata rambut perempuan muda itu?”

Ma Ji-liong berkata, “Perempuan itu tidak muda lagi. Tampaknya dia sudah tua.”

Anehnya Toa-hoan tidak setuju dengannya. “Dia tidak tua. Dia perempuan muda. Ada orang yang bisa hidup sampai berusia 180 tahun. Jadi dia masih terhitung muda.”

“Apakah dia orang seperti itu?”

“Benar.” Toa-hoan meneruskan, “Jika bukan begitu, takkan ada orang seperti itu di dunia ini.”

“Kenapa bisa demikian?”

“Karena dia bermarga Giok (1).”

Ma Ji-liong akhirnya teringat pada seseorang, “Apakah dia ada hubungannya dengan Giok-hujin yang termasyur sejak 60 tahun lalu itu?”

Toa-hoan menjawab, “Dialah Giok-hujin. Dialah Giok-jiu Ling-long, Giok Ling-long.”

—–

(1) Giok = batu giok, kemala

Advertisements

2 Comments »

  1. keren banget nih , kapan dong sambungannya hehehe

    Comment by afat — 27/03/2008 @ 1:24 pm

  2. Saya masih mencarinya,Mas. Tetap diusahakan, kok.

    Comment by ceritasilat — 28/03/2008 @ 10:08 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: