Kumpulan Cerita Silat

23/02/2008

Amanat Marga (04)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 12:26 am

Amanat Marga (04)
Oleh
Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Kening Ciok Tim bekernyit rapat, katanya pula, “Tapi orang ini sebenarnya kawan atau lawan, sungguh sukar untuk diraba. Jika maksud orang ini tidak jahat, dengan sendirinya boleh kita naik ke atas dengan memanjat tali, kalau sebaliknya … wah, keadaan kita saat ini sungguh sangat berbahaya.”

Giok-he tersenyum dan menggeleng, “Jika dipandang dari kelihaian orang ini, jika dia bermaksud membikin susah kita, untuk apa membuang tenaga percuma cara begini?”

“Jika begitu biarlah kucoba naik dulu ke atas,” sela So-so.

“Biar kutemanimu naik ke atas, jika terjadi apa-apa jadi dapat saling membantu,” tukas Ciok Tim, agaknya dia telah melupakan kemungkinan bahaya.

“Bukankah kau bilang berbahaya?” kata So-so, tiba-tiba ia menyesal karena ucapannya terlalu menyinggung perasaan, maka cepat ia menyambung, “Jika ada bahaya kan lebih baik dihadapi seorang saja.”

Ciok Tim menunduk kikuk.

Giok-he lantas menyambung, “Simoay sudah naik satu kali, sekali ini biar aku saja yang naik ke atas.”

“Betul, sekali ini giliran kita,” tukas Liong Hui.

Mendadak Ciok Tim membusungkan dada dan berseru, “Biar kutemani Toaso ke atas!”

Agar kelihatan gagah berani di depan orang yang dirindukannya, biarpun sekarang di atas sana terpasang perangkap maut juga tak terpikir lagi olehnya.

“Boleh juga Site ikut bersamaku,” ucap Giok-he.

Segera ia melompat ke atas setinggi dua tiga tombak, diraihnya tali itu dengan kuat lalu ia berpaling ke bawah dan berseru, “Toako, bila aku jatuh harus kau tangkap diriku dengan baik!”

“Jangan khawatir,” segera Liong Hui siap memasang kuda-kuda di bawah.

Waktu Ciok Tim ikut melompat ke atas, akhirnya So-so berucap juga, “Hati-hati!”

Mesti lirih suaranya, namun cukup jelas didengar Ciok Tim, seketika ia berbesar hati dan semangat terbangkit, serunya, “Jangan khawatir!”

Di tengah remang malam kelihatan bayangannya semakin cepat naik ke atas, hanya sebentar saja lantas menghilang dalam kegelapan.

Liong Hui mendongak sampai sekian lama, mendadak ia berkata, “Apakah tidak ada sesuatu bahaya di atas?”

“Bukankah Toaso sudah bilang, kepandaian orang itu jauh di atas kita, jika dia mau membikin susah kita buat apa dia bersusah payah menjebak kita,” ujar So-so.

“Tapi sudah sekian lama mereka tidak kelihatan,” kata Liong Hui, segera ia berteriak, “Hei, adakah kalian menemukan sesuatu.”

Namun suasana sunyi senyap tiada sesuatu suara jawaban.

Bekernyit kening Liong Hui, gumamnya, “Wah, masakah mereka tidak mendengar suaraku?”

Sekali ini dia berteriak terlebih keras sehingga anak telinga So-so yang berdiri di sampingnya ikut mendengung. Namun puncak karang di atas tetap sunyi tanpa sesuatu jawaban, hanya desir angin yang mengumandangkan suara Liong Hui itu ke empat penjuru.

So-so juga mulai gelisah, ia sangsi, biarpun puncak tebing ini sangat tinggi dan menjulang ke tengah awan, namun sekeliling tiada barang pengalang lain, masakah suara teriakan mereka tidak terdengar.

Diam-diam ia berkhawatir bagi mereka, tapi tidak berani diutarakannya. Ia coba melirik Liong Hui, di bawah cahaya obor yang redup air muka Liong Hui kelihatan juga berubah.

“Coba, kau bilang Toaso berdua takkan menemukan bahaya, tapi … tapi mengapa mereka tidak menjawab suaraku?” kata Liong Hui kemudian.

So-so tidak tahu cara bagaimana harus menjawab, sampai sekian lama baru ia menghela napas perlahan dan berucap, “Jika ada bahaya seharusnya mereka juga bersuara memberitahukan kepada kita, tapi sampai sekarang tetap tiada sesuatu gerak-gerik apa pun di atas, sungguh sangat aneh ….”

“Ya, sungguh aneh,” tukas Liong Hui sambil memegang tali panjang yang terjulur itu, mendadak ia melenggong, tangan pun agak gemetar.

So-so menjadi heran, “He, Toako, ada apa?”

Liong Hui berpaling dengan wajah penuh rasa kejut dan khawatir, “Coba kau lihat!”

Berbareng tangannya bergerak, tali yang terjulur itu dapat diayunnya hingga jauh seperti tidak dibebani sesuatu.

Cepat So-so ikut memegang tali itu dan digoyangkan dua-tiga kali, betul juga, di atas tidak terasa diganduli sesuatu, dengan gugup ia menyurut mundur dan mendongak ke atas, ucapnya dengan suara gemetar, “Ya, mengapa tali ini bebas lepas, ke … ke manakah mereka?”

“Bukankah kau bilang tidak ada bahaya?!” seru Liong Hui dengan air muka kelam.

So-so tertegun, mendadak ia mengertak gigi dan meloncat ke atas, dengan cepat ia pun merambat ke atas ….

Kiranya tadi Ciok Tim terus ikut Giok-he merambat ke atas dengan cepat dan gesit, hatinya terasa hangat ketika mendengar pesan So-so kepadanya agar hati-hati, ia pikir, “Betapa pun dia tetap memerhatikan diriku.”

Karena itulah caranya merambat pun bertambah semangat dan juga tambah cepat, ketika mencapai belasan tombak tingginya, tiba-tiba terdengar Kwe Giok-he berkata di atas, “Tulisan inilah yang dilihat Simoay tadi. Ai, daya ingatnya sungguh sangat kuat, dia dapat menghafalkan tanpa kurang satu huruf pun.”

“Ya, daya ingatnya memang hebat,” sahut Ciok Tim,

Sekilas ia baca tulisan yang dimaksud di dinding tebing, lalu merambat lagi ke atas dan diam-diam membatin pula, “Betapa pun Simoay tetap memerhatikan diriku. Mesti terkadang dia suka bersikap kasar padaku, hal itu hanya karena keangkuhan seorang gadis saja. Apa pun juga sudah lima tahunan kami tinggal bersama, mustahil dia tidak menaruh sesuatu perasaan padaku?”

Berpikir demikian, tersembul juga senyuman pada ujung mulutnya.

Selagi dia tenggelam dalam perasaan bahagia, mendadak dahinya menyentuh sesuatu, ia terkejut dan mendongak, kiranya kaki Kwe Giok-he.

Kaki yang bersepatu kain sutera hijau bersulam bunga ungu kecil, indah dan serasi membungkus kakinya yang putih, ujung sepatu yang agak mencuat ke atas itu dihiasi sebiji mutiara mengilat.

Sekarang kedua biji mutiara itu tepat berada di depan mata Ciok Tim, semacam bau harum yang sukar dilukiskan sayup-sayup terbawa angin tercium oleh hidung Ciok Tim.

Lebih ke atas lagi adalah ujung kaki celana yang juga bersulam bunga kecil menutupi permukaan kaki.

Seketika sorot mata Ciok Tim terhenti di situ. Baru sekarang ia tahu sebab apa sang Toaso yang kecantikannya termasyhur di dunia Kangouw ini tidak suka memakai sepatu bersol tipis yang biasanya digunakan orang perempuan kalangan Kangouw atau sejenis sepatu yang bagian bawahnya tersembunyi senjata tajam. Hal ini serupa kebiasaan guru mereka yang tetap suka memaki sepatu sol tebal yang biasa dipakai kaum pembesar negeri itu. Hal ini disebabkan sepatu sol tinggi dapat melambangkan kebesaran dan kewibawaannya dan jelas-jelas menggariskan perbedaannya dengan orang persilatan umumnya.

Hanya sepatu bersol tipis yang ringan inilah dapat menonjolkan keindahan kaki seorang perempuan.

Melihat sepatu bagus dengan kaki yang indah ini, seketika Ciok Tim jadi terkesima.

Tiba-tiba terdengar Giok-he menegur dengan tertawa, “Apa yang kau lihat?”

Muka Ciok Tim menjadi merah.

“Lekas naik kemari dan bacalah tulisan di sini,” terdengar Giok-he berseru lagi sambil merambat ke atas.

Waktu Ciok Tim menengadah, dilihatnya di tengah keremangan wajah yang cantik itu sedang tersenyum kepadanya, dengan kikuk ia berdehem dan menjawab, “Apa … apa yang tertulis di situ?”

“Naiklah dan baca sendiri,” kata Giok-he sambil merapatkan tubuhnya ke dinding tebing,

Dengan begitu ada tempat luang untuk Ciok Tim naik ke situ.

Segera Ciok Tim ikut merambat ke atas, ia tidak berani memandang langsung kepada Giok-he, tapi lantas membaca tulisan yang terukir di dinding, di situ tertulis: “Liong Po-si, akhirnya kau datang juga ke sini. Bagus sekali. Kungfumu memang tidak telantar, kini jika kau naik lagi sedikit dan berjalan lima belas langkah ke kanan juga terdapat sebuah celah-celah, jalan tembus ini terlebih dekat, cuma lebih sulit dilalui, namun bila engkau mendaki tujuh tombak lagi ke atas akan kau temukan sebuah jalan yang terlebih dekat, cuma engkau jangan memaksakan kemauanmu untuk menempuh jalan yang sukar ditempuh, ambil saja jalan yang mudah dilalui, akhirnya kan tetap dapat berjumpa denganku.”

Meski keadaan cukup kelam namun dapatlah Ciok Tim membaca jelas dan cepat tulisan di dinding itu. Malahan berbareng dengan itu dirasakan bau harum pun semakin menusuk hidung.

Tanpa terasa terkenang olehnya kejadian masa lampau. Waktu itu dia baru masuk perguruan Sin-liong, baru berumur sepuluh, usia Kwe Giok-he lebih tua dua-tiga tahun. Pada masa emas anak-anak mereka itu, meski berada di bawah asuhan guru yang keras, mereka pun pernah bermain-main sebagaimana layaknya anak-anak umumnya.

Karena pergaulan dekat dan teman bermain setiap hari itu, diam-diam ia mencintai kakak seperguruan yang lebih pintar dan juga lebih tua dua tahun daripadanya itu. Cuma cinta itu boleh dikatakan cinta suci murni anak-anak, cinta antara kakak dan adik, suci bersih tanpa noda, sampai dia sudah agak lebih besar rasa cinta itu tetap disimpannya di dalam hati.

Pada waktu dia berumur 15 barulah Ong So-so juga masuk perguruan. Itulah suatu hari yang cerah, biarpun kejadian itu sudah lima tahun berselang, namun Ciok Tim masih ingat betapa cemerlang cahaya bintang pada malam itu.

Malam itu Put-si-sin-liong Liong Po-si mengadakan beberapa meja pesta dan mengumumkan dua peristiwa menggembirakan, pertama ialah diterimanya seorang murid perempuan baru, kedua sekaligus diumumkan perjodohan murid utamanya, yaitu Liong Hui dengan murid kedua, Kwe Giok-he.

Pada malam itu juga diam-diam Ciok Tim mengucurkan air mata di kamarnya sendiri. Sejak itu sedapatnya dia ingin melupakan cintanya yang suci murni itu, sebab si dia sudah dipersunting oleh Toasuheng yang dihormat dan diseganinya itu, selanjutnya si dia telah menjadi Toaso (kakak ipar) dan bukan lagi Suci (kakak guru) kecilnya, dia terpaksa harus melupakan perasaannya itu.

Maka sedapatnya ia berusaha menjauhi si dia serta menghindari bicara dengan mereka, karena itulah lambat-laun Ciok Tim berubah menjadi pendiam dan suka menyendiri.

Pada suatu pagi hari ketika mereka bertemu di lapangan latihan, kebetulan Ciok Tim bertemu sendirian dengan Giok-he, ia ingin menghindarinya, tapi Giok-he sempat memanggilnya dan menegur, “Mengapa akhir-akhir ini engkau selalu menghindari diriku, memangnya aku bukan lagi Suci cilikmu?”

Ciok Tim hanya menggeleng saja tanpa bicara dan orang lain pun keburu datang. Untuk seterusnya mereka pun tidak pernah bertemu berduaan lagi, sampai kini ….

Kini peristiwa lampau seakan-akan terbayang kembali dalam benak Ciok Tim, rasanya Kwe Giok-he seperti menggelendot di sampingnya dengan baunya yang harum itu dan membuatnya lupa si dia adalah “Toaso”-nya.

Ketika ia berpaling, kedua orang beradu pandang, tanpa terasa ia menghela napas dan memanggil perlahan, “Siausuci ….”

Panggilan ini sangat perlahan, namun serupa sepotong batu raksasa dilempar ke tengah laut dan menimbulkan gelombang dalam hati Kwe Giok-he yang tenang itu.

Giok-he mengerling sayu wajah Ciok Tim dan entah apa yang terpikir olehnya, ia cuma perlahan meraba sekali muka Ciok Tim dan berkata, “Engkau agak kurus!”

Bergolak juga hati Ciok Tim, namun di luarnya sedapatnya ia berlagak tenang, katanya, “Suhu … Suhu tentu naik ke atas!”

Ia tidak berani memandangnya lagi, tapi lantas mendahului merambat tali ke atas.

Jarak yang tidak sampai sepuluh tombak itu dengan cepat dapat dicapainya. Di atas memang sudah sampai ujungnya, tanpa pikir ia melompat ke atas, puncak tebing ini sungguh sangat aneh, lapang, datar, serupa ditabas oleh senjata tajam.

Selagi Ciok Tim merasa heran, tiba-tiba dari belakang sudah berjangkit bisikan Giok-he yang perlahan, mana Ciok Tim berani menoleh, meski timbul juga hasratnya, namun dia tetap memandang lurus ke depan.

Angin meniup menerbangkan rambut di pelipis Giok-he ke tepi telinga dan bawah dagu Ciok Tim, terdengar keluhan Giok-he perlahan, “Kutahu sejak kuikut Toakomu, senantiasa engkau lantas menghindari diriku. Hari itu waktu kita bertemu di tempat latihan, bahkan engkau tidak berani bicara padaku, mengapa engkau tidak berani bicara padaku, mengapa engkau tidak serupa dulu ….”

Pada saat itulah terdengar gema suara Liong Hui dari bawah, “Adakah melihat sesuatu di atas?!”

Ciok Tim terkesiap dan berpaling, seketika bibirnya menyentuh ujung mulut Giok-he yang manis dan hangat.

Keduanya tidak bersuara, juga tidak bergerak lagi, keduanya tidak ada yang menjawab suara Liong Hui itu.

Giok-he mengembus napas panjang dan berbisik pula, “Apakah masih ingat waktu di bawah pohon mangga di belakang perkampungan dahulu ….”

Ciok Tim mengangguk, “Ya, waktu itu ku … kupeluk dirimu dan minta engkau bermain pengantin baru denganku ….”

“Kau minta aku menjadi mempelai perempuan dan masuk kamar pengantin bersamamu, tapi aku tidak mau ….”

“Ya kau bilang usiamu lebih tua daripadaku, hanya dapat menjadi Ciciku dan tidak dapat menjadi pengantinku ….”

“Dan lantas kau peluk diriku, kau paksa dan …. dan aku ….”

Sekonyong-konyong terdengar lagi bentakan dari bawah, “Hei, kalian mendengar suaraku tidak?”

Hati Ciok Tim terkesiap pula, mendadak dirasakan bibir yang hangat menyentuh bibirnya …. Lalu terdengar Giok-he berkata pula perlahan, “Waktu itu serupa sekarang ini, engkau telah mencium aku ….”

“Namun kemudian engkau menikah dengan Toako dan menjadi Toaso ….” ia tidak bergerak, sebab pergolakan darah panas anak muda membuatnya hampir tidak tahan.

“Meski kunikah dengan Toakomu, tapi …. masakah engkau tidak tahu hatiku?”

“Hati … hatimu ….”

“Dalam hal apa aku tidak membelamu? Terkadang aku pun ikut bicara bagimu bila ucapan Simoay terlalu keras padamu, masakah engkau tidak tahu sebab apa aku berbuat demikian?”

“Jika … jika begitu, mengapa engkau mau menikah dengan Toako?” tanya Ciok Tim.

Giok-he mengerling sendu, ucapnya lirih, “Usiaku lebih tua, juga Sucimu, sekalipun aku mau menikah denganmu juga takkan diluluskan oleh Suhu.”

“Semula kukira engkau ingin menjadi istri murid pewaris Sin-liong-bun, karena ingin berkuasa mewarisi Ci-hau-san-ceng kelak, maka engkau menikah dengan Toako, sebab … sebab kutahu benar watakmu sama sekali berbeda daripada pribadi Toako yang keras itu.”

Air muka Giok-he tampak berubah, seperti isi hatinya tepat kena diungkap orang, serupa juga orang yang merasa penasaran, ia menghela napas panjang dan bertanya, “Apa benar semula engkau berpikir demikian.”

“Ya, tapi sekarang kutahu pikiranku itu keliru,” jawab Ciok Tim sambil mengangguk.

Giok-he tersenyum, mendadak ia berbisik lagi, “Meski kita tidak dapat menjadi suami-istri, tapi … tapi selanjutnya kalau setiap saat kita masih dapat ber … bertemu, kan sama saja.”

Terguncang juga perasaan Ciok Tim, ia pandang orang dengan termangu, sampai sekian lama napas pun seakan-akan terhenti.

Mendadak terdengar lagi kumandang suara di bawah, “Simoay, mungkin ada bahaya di atas, biarlah aku naik dulu!”

Ciok Tim terkejut, cepat ia melompat mundur dan berdiri di samping sepotong batu karang di tepi puncak tebing itu.

Hampir pada saat yang sama bayangan Ong So-so yang ramping pun melayang ke atas, menyusul tubuh Liong Hui yang kekar juga melompat tiba.

Di bawah cahaya bintang sorot mata keempat orang saling pandang sekejap, masing-masing sama mengunjuk rasa tercengang. Dengan sendirinya pada sorot mata Ciok Tim juga tertampil rasa kikuk dan takut.

Liong Hui dan So-so sama bersuara heran, “Kiranya kalian baik-baik saja di atas?!” ucap Liong Hui.

Ketika dilihatnya Ciok Tim berdiri di sana dengan sikap kikuk, betapa pun lugasnya Liong Hui timbul juga rasa curiganya, “Ada apa kalian?”

Giok-he lantas menarik muka, “Aneh pertanyaaanmu ini, memangnya kau kira ada apa?”

“Seruanku dari … dari bawah tadi masa tidak kalian dengar?” tanya Liong Hui dengan agak tergegap.

“Tentu saja dengar,” jawab Giok-he.

“Jika dengar mengapa tidak menjawab, bikin cemas orang saja,” keluh Liong Hui dengan menyesal.

“Huh, kau linglung, masakah orang lain harus ikut linglung?” jengek Giok-he.

“Aku linglung apa?” tanya Liong Hui dengan melongo.

“Masa kau lupa betapa bahaya keadaan kita, musuh di tempat gelap dan kita di tempat yang terang, tapi engkau sengaja gembar-gembor, memangnya kau khawatir musuh tidak tahu tempat kita berada dan sengaja memberitahukan padanya? Huh masih berani kau tegur, kami segala?”

Liong Hui tercengang, akhirnya menunduk.

“Ai, memang pikiran Toaso jauh lebih cermat daripada kita,” ucap So-so dengan gegetun.

Rasa gugup Ciok Tim tadi sudah mulai tenang kembali, namun air mukanya lantas bertambah kecut. Terhadap Giok-he selain kagum juga timbul rasa takutnya. Sungguh tak terpikir olehnya seorang sudah berbuat dosa malah berani mengomeli orang lain.

Terhadap Liong Hui timbul juga rasa kasihan dan juga malunya, dilihatnya Liong Hui menunduk sejenak, mendadak mendekatinya dan tepuk-tepuk bahunya sambil berucap, “Maafkan kesalahanku.”

Berdetak hati Ciok Tim, sahutnya dengan gelagapan, “Meng … mengapa Toako minta maaf padaku? ….”

“Tadi aku salah mengomelimu,” ujar Liong Hui dengan menyesal. “Meski tidak kukatakan terus terang, sebenarnya dalam hatiku agak curiga. Ai, aku pantas mampus, masakah mencurigaimu.”

Ciok Tim terkesima, darah panas bergolak hebat dalam rongga dadanya, menghadapi lelaki yang tulus, jujur dan berjiwa terbuka ini, sungguh ia merayakan dirinya sendiri sedemikian kecilnya, sedemikian kotor, dengan gelagapan ia menjawab, “O, Toako … aku … aku yang ….”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Giok-he melompat maju dan berseru, “Di antara saudara sendiri, jika terjadi salah paham, asal sudah jelas persoalannya, apa pula yang perlu dikatakan lagi.”

“Betul aku takkan banyak omong lagi,” kata Liong Hui sambil memegang pundak Ciok Tim, tapi mendadak ia berteriak pula sambil memandang ke belakang Ciok Tim dengan tercengang, “Hei, apa ini?”

Dengan kaget Ciok Tim berpaling, maka terlihatlah pada batu karang di belakangnya itu terukir gambar seorang perempuan berdandan sebagai pendeta To, rambutnya disanggul tinggi di atas kepala dan pakai tusuk kundai hitam, berdiri tegak dengan tangan kiri lurus ke bawah dan jari tengah dan telunjuk agak menjengkat ke atas. Sedangkan tangan kanan memegang pedang dengan ujung pedang agak serong ke bawah, mukanya jelas serupa hidup, pakaiannya dilukiskan berkibar serupa sedang menari. Dipandang di tengah remang malam seperti perempuan hidup berdiri di depanmu.

Di samping gambar terdapat pula beberapa baris tulisan, waktu diamati, tulisan itu berbunyi: “Liong Po-si, Kungfumu bertambah maju lagi. Akan tetapi dapatkah kau patahkan juru seranganku ini? Kalau dapat, maju lebih lanjut, jika tidak mampu, segera kembali?”

Liong Hui mengawasi gambar itu sekian lama, mendadak ia mendengus, “Huh, aku saja mampu mematahkan jurus serangan ini, apalagi Suhu?”

“Nada tulisan ini sedemikian angkuh, tapi jurus yang diperlihatkan ini tampaknya tiada sesuatu yang luar biasa, jangan-jangan ada keajaiban di balik tulisan ini,” ujar Ciok Tim.

Tiba-tiba So-so menukas, “Jurus serangan yang kelihatan biasa ini pasti mengandung keajaiban yang tidak dipahami kita.”

“Ya, setiap jurus serangan yang kelihatan biasa saja sesungguhnya semakin lihai dan sukar diduga,” kata Giok-he, ia merandek sejenak lalu menyambung dengan tersenyum, “Sudah sekian lama kalian memandangnya, adakah kalian melihat sesuatu keistimewaan pada gambar ini?”

Liong Hui memandang lagi beberapa kejap, katanya, “Pedang terhunus dan siap menyerang, seharusnya kaki pasang kuda-kuda yang tepat, tapi kedua kaki Tokoh (pendeta perempuan agama To) ini berdiri dengan ujung kaki menatap di depan, sungguh janggal kuda-kudanya ini.”

“Betul, inilah salah satu keistimewaannya,” kata Giok-he.

Dada Liong Hui membusung terlebih tinggi, wajah pun berseri-seri, sambungnya lagi, “Dia berdandan sebagai Tokoh, tapi sepatu yang dipakainya serupa sepatu orang lelaki, ini pun sangat janggal.”

“Dandanan tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu pedang, ini tidak masuk hitungan,” ujar Giok-he dengan tertawa.

“Mengapa tidak masuk hitungan, dandanan yang tidak benar menandakan jiwanya tidak baik, ilmu pedangnya juga pasti tidak murni, ilmu pedang yang tidak bersih mana dapat memperlihatkan keampuhan dan mengalahkan musuh,” kata Liong Hui dengan serius.

“Baik, baik, boleh juga dihitung ….”

“Dengan sendirinya harus dihitung,” kata Liong Hui dengan mantap. So-so juga mengangguk, “Ya, ilmu pedang yang tidak bersih, biarpun dapat menjagoi dunia seketika juga tidak tercatat dalam sejarah. Ucapan Toako memang beralasan.”

“Memang betul,” sambung Ciok Tim. “sejak dulu hingga kini sudah banyak juga contohnya. Lihat saja ilmu pedang perguruan Siau-lim dan Bu-tong yang turun-temurun entah sudah berapa angkatan dan sampai sekarang masih tetap dipuji. Sebaliknya berbagai macam ilmu pedang yang pernah menjagoi dunia persilatan karena kekejian dan keganasannya, sampai sekarang hanya namanya saja masih dikenal, namun bekasnya sudah menghilang, ucapan Simoay sungguh ….”

“Sudah cukup bicaramu?” mendadak Giok-he memotong dengan kurang senang. Ciok Tim melengak.

Maka Giok-he menyambung lagi, “Sungguh aku tidak mengerti dalam keadaan demikian dan di tempat begini kalian bisa mengobrol iseng, kalau mau mengobrol selanjutnya kan masih banyak waktu, kenapa kalian mesti terburu-buru.”

Muka So-so menjadi merah juga dan tanpa terasa menunduk.

Dengan tersenyum lalu Giok-he berkata lagi, “Kecuali kedua segi yang disebutkan Toako tadi ….”

“Tiga segi,” sela Liong Hui.

“Baik, kecuali ketiga segi ini, apa lagi yang kalian lihat?” tukas Giok-he dengan tertawa.

Ciok Tim mengangkat kepala, meski memandang ke arah gambar, padahal pandangannya kabur tidak melihat sesuatu.

Perlahan So-so bicara, “Kulihat titik yang paling aneh terletak pada matanya, mata perempuan ini terukir terpejam, padahal mana bisa jadi memejamkan mata pada waktu bertempur dengan orang?”

Dia bicara tanpa mengangkat kepala, mungkin karena hal ini sudah dilihatinya sejak tadi, hanya sejauh ini belum dikemukakannya.

“Betapa pun memang Simoay lebih cermat,” ujar Liong Hui dengan gegetun.

“Betul juga.” kata Giok-he. “Semula aku pun menganggap hal ini sangat aneh, tapi setelah kupikirkan lagi, kurasa sebabnya dia memejamkan mata sangat beralasan, bahkan merupakan titik paling lihai daripada jurus serangannya ini.”

“Mengapa begitu?” tanya Liong Hui dan Ciok Tim berbareng.

“Jurus serangannya ini mengutamakan ketenangan, sebaliknya setiap orang persilatan tahu Thian-liong-cap-jit-sik (tujuh belas gerakan naga langit) perguruan kita mengutamakan kedahsyatan serangan, terutama empat jurus terakhir, banyak gerak perubahannya sehingga lawan sukar menahannya. Tapi gambar orang perempuan ini hanya meluruskan pedangnya ….”

“Karena pedangnya cuma bergerak lurus sehingga lawan pun sukar mengetahui bagaimana gerak lanjutannya,” tukas So-so. “Sama halnya orang menulis, jika pensilnya cuma menggores satu garis, siapa pun tidak tahu apa yang akan ditulisnya, tapi bila dia menggores melingkar atau sesuatu awalan huruf, orang lantas tahu huruf apa yang akan ditulisnya.”

“Haha, meski sejak mula kutahu dalil ini, tapi sukar untuk kujelaskan, setelah diuraikan Simoay, semuanya menjadi jelas, perumpamaan Simoay dengan menulis memang sangat tepat,” kata Liong Hui dengan tertawa.

“Ya, Simoay memang lebih pintar daripada kalian,” ujar Giok-he.

“Ah, Toaso ….” So-so menunduk malu.

“Tapi ingin kutanya padamu, adakah kau lihat bagaimana gerak lanjutan dari pada pedangnya ini?” tanya Giok-he.

So-so berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Meski tidak banyak pengetahuanku, tapi menurut hematku, gerak pedangnya ini dapat menimbulkan tujuh gerak perubahan.”

“Ketujuh gerak perubahan apa?” tanya Giok-he. Ciok Tim dari Liong Hui juga sama pasang telinga.

“Jurus serangannya ini tak jelas berasal dari ilmu pedang aliran mana,” kata So-so, “Tapi jelas dapat berubah menjadi jurus Gan-loh-peng-sah (burung belibis hinggap di rawa) dari ilmu pedang Bu-tong-pay.”

“Betul, asal ujung pedangnya berputar ke kiri akan jadilah jurus Gan-loh-pang-sah,” tukas Giok-he.

Kening Liong Hui bekernyit rapat, dan mengangguk.

Lalu So-so menyambung lagi, “Dan bila ujung pedangnya menyontek ke atas, akan jadi jurus Liu-ji-ging-hong (ranting pohon menyongsong angin) dari Tiam-jong-pay. Kalau pergelangan tangannya berputar ke bawah, jadilah jurus Kong-jiok-kay-peng (burung merak membentang sayap) dari Go-bi-pay.”

Bertutur sampai di sini, nadanya mulai emosional.

Giok-he tersenyum dan berkata, “Bicaralah perlahan, tidak perlu tergesa.”

So-so menarik napas, lalu menyambung, “Kecuali itu, dapat juga berubah menjadi … menjadi jurus ….”

Di bawah cahaya bintang yang suram kelihatan wajah Ong So-so berkerut-kerut, meringis kesakitan.

“He, Simoay, ken … kenapa?” tanya Ciok Tim kaget.

Dada So-so tampak berjumbul naik-turun, setelah menarik napas, air mukanya mulai tenang kembali, katanya, “O, tidak … tidak apa-apa, cuma … cuma dada agak sakit, sekarang sudah baik.”

“Dan apa keempat gerak perubahan yang lain?” tanya Giok-he dengan tersenyum.

“Jurus perubahan lain adalah Koay-hun-loan-moa (memotong tali kusut dengan cepat) dari Thian-san-pay, Giok-tiang-hun-po (pentung kemala menembus ombak) dari Kun-lun-pay, Lip-coan-im-yang (memutar balik gelap menjadi terang) dari Siau-lim-pay dan jurus Tho-li-ceng-jun (dua saudara berebut rezeki) dari Sam-hoa-kiam-hoat tinggalan pendekar pedang Sam-hoa-kiam-khek dahulu.”

Air mukanya sudah tenang kembali, namun sorot matanya masih menampilkan rasa sakit, seperti enggan bertutur pula, tapi terpaksa melanjutkan.

Liong Hui menghela napas, katanya, “Simoay, sungguh tidak nyana pengetahuan ilmu silatmu seluas ini, mungkin sebelum masuk perguruan kita engkau sudah banyak belajar Kungfu perguruan lain?”

“Ah, mana … tidak ….” sahut So-so dengan gelagapan.

“Mara tidak, aku tidak percaya,” ujar Liong Hui. Ia memandang sang istri dan berkata pula, “Aku justru tidak melihat ada gerak perubahan-begitu, apakah kau lihat?”

“Aku juga tidak,” sahut Giok-he sambil menggeleng, “aku cuma tahu kemungkinan akan berubah menjadi jurus Gan-loh-peng-sah dari Bu-tong-pay dan Lip-coan-im-yang dari Siau-lim-pay, selebihnya aku tidak dapat melihatnya. Maklumlah, aku sendiri tidak pernah lihat Sam-hoa-kiam-hoat dan juga ilmu pedang dari Thian-san-pay dan Tiam-jong-pay, dengan sendirinya tidak tahu kemungkinan akan berubah pada jurus serangan ilmu pedang tersebut.”

Liong Hui menarik muka, dengan sorot mata tajam ia tanya So-so, “Dari mana kau belajar ilmu pedang sebanyak itu?”

“Ya, aku pun rada heran,” sambung Giok-he.

Ciok Tim juga memandang So-so dengan penuh tanda tanya. Wajah So-so kelihatan rada pucat dengan sinar mata gemerdep seperti menyembunyikan sesuatu rahasia.

Maka Giok-he berkata pula, “Pada waktu Simoay mengangkat guru aku sudah merasa heran. Coba Toako, apakah ingat siapa yang memasukkan Simoay ke perguruan kita?”

“Ya, kutahu, yang memasukkan dia ialah Suma Tiong-thian, pemimpin umum Ang-ki-piaukiok (perusahaan mengawal panji merah) yang terkenal dengan tombak besi dan panji merah menggetar Tiongciu (negeri tengah) itu,” jawab Liong Hui.

“Betul,” kata Giok-he. “Namun Suma-congpiauthau juga tidak menjelaskan asal-usulnya, Suhu hanya diberi tahu bahwa Simoay adalah putri seorang sahabatnya. Suhu adalah orang jujur dan percaya penuh kepada sahabat sendiri, maka tidak pernah bertanya tentang asal-usul Simoay”

Meski senyuman tetap menghias wajahnya, namun senyuman yang tidak bermaksud baik, sorot matanya juga terkadang melirik Ciok Tim dan lain saat melirik So-so.

Air muka So-so kelihatan pucat, jari tangan pun rada gemetar.

Dengan tersenyum Giok-he bicara pula, “Sekian tahun kita berkumpul, hubungan kita laksana saudara sekandung, akan tetapi terhadap keadaan Simoay sekarang mau tak mau aku ….”

“Meski aku tidak dapat menikah denganmu, asalkan selanjutnya kita dapat bertemu setiap saat kan sama saja,” mendadak So-so menukasnya seperti bergumam.

Serentak berubah air muka Giok-he dan Ciok Tim, tanpa terasa Ciok Tim menyurut mundur selangkah.

“Apa katamu, Simoay?” tanya Liong Hui dengan bingung,

“Oo, tidak … aku omong tanpa sengaja ….” jawab So-so dengan tergegap.

“Dia tidak omong apa-apa,” sambung Giok-he dengan tertawa sambil melangkah maju. Segera So-so menyurut mundur.

Tentu saja Liong Hui sangat heran, “Sebenarnya ada apa?”

Mendadak Giok-he berkata dengan tertawa, “Ai, kita memang terlalu, pekerjaan penting tidak kita urus, sebaliknya mengobrol iseng di sini. Tentang asal-usul Simoay, kalau Suhu tidak tanya dan tidak khawatir, kenapa kita mesti merisaukannya. Kan banyak murid Sin-liong-bun yang belajar dengan membekal kepandaian, Kungfu apa yang pernah dilatih Simoay sebelum masuk perguruan kan tidak menjadi soal?”

“Aku kan tidak bilang ada soal, cuma ….” Liong Hui tambah bingung.

“Ai, untuk apa kau bicara lagi,” omel Giok-he. “Jika asal-usul Simoay kurang beres, berdasarkan kehormatan pribadi Suma-congpiauthau pun jauh lebih dari cukup untuk dipercayai.”

“Namun ….”

“Namun apalagi? Ayolah kita mencari Suhu!” seru Giok-he sambil menarik tangan So-so dan diajak menuju ke balik batu karang sana.

Diam-diam Ciok Tim kebat-kebit, tidak kepalang kusut pikirannya. Sekarang diketahuinya bahwa apa yang dibicarakannya dengan Kwe Giok-he tadi telah didengar oleh So-so. Keruan pikirannya tertekan dan memandangi bayangan punggung si nona yang baru menghilang di balik batu karang sana.

Hanya Liong Hui saja yang berwatak jujur dan serbaterbuka, sama sekali ia tidak melihat perbuatan jahat di dalam urusan ini. Ia cuma melenggong saja dan coba bertanya, “Samte, sesungguhnya ada apa?”

“Aku pun tidak tahu,” Ciok Tim menunduk, sungguh ia merasa malu bertatap muka dengan sang Suheng yang jujur dan suka terus terang ini.

Setelah tercengang sejenak, mendadak Liong Hui bergelak tertawa, “Haha, urusan anak perempuan sungguh sangat membingungkan. Sudahlah, aku pun tidak mau pusing mengurusnya.”

Lalu berpaling kepada Ciok Tim dan berkata pula, “Samte, ingin kukatakan padamu, betapa pun memang lebih tenteram dan bebas hidup bujangan. Sekali engkau tersangkut urusan orang perempuan, bisa pusing kepalamu.”

Kagum, hormat dan juga malu Ciok Tim terhadap Suheng yang polos ini, ia tahu biarpun ada rasa curiga dalam benak lelaki yang lugu ini sekarang pun sudah lenyap terbawa oleh gelak tertawanya itu.

Meski hati merasa lega, namun diam-diam Ciok Tim tampak malu diri.

Saat itu Giok-he dan So-so telah membelok ke balik batu besar sana, mendadak Giok-he berhenti.

“Ai, ada apa, Toaso?” tanya So-so.

“Hm, memangnya kau kira aku tidak tahu permainanmu,” jengek Giok-he.

“Apa yang Toaso maksudkan, sungguh aku tidak tahu?” jawab So-so dengan agak keder juga terhadap sang Toaso yang berwibawa ini.

Bola mata Giok-he berputar, ucapnya, “Sesudah turun nanti, bila mereka sudah tidur aku akan bicara denganmu.”

“Boleh,” sahut So-so.

Tiba-tiba terlihat Liong Hui dan Ciok Tim menyusul tiba.

Sesudah dekat, Liong Hui bersuara heran, “He, apa yang kalian lakukan di sini?”

“Memangnya kau kira kami datang ke sini untuk mencari angin?” ujar Giok-he dengan tersenyum.

Belum habis ucapannya tiba-tiba Liong Hui berseru pula, “Hah, kiranya di sini juga ada tulisan.”

Kiranya di situ tertulis: “Liong Po-si, jika cuma tujuh gerak perubahan ini yang dapat kau lihat, lebih baik lekas kau pulang saja.”

Setelah membaca tulisan itu, Liong Hui jadi melenggong. Kiranya perubahan jurus ini tidak cuma tujuh macam saja.

Dalam pada itu Ciok Tim juga sudah mendekat, katanya sambil menatap tulisan di dinding itu, “Gan-loh-peng-sah, Lip-coan-im-yang …. Hah, ketujuh serak perubahan yang disebut Simoay tadi ternyata cocok dengan tulisan di sini.”

“Sungguh sukar dipercaya hanya sejurus yang sederhana ini bisa membawa gerak perubahan lebih dari tujuh macam,” gerutu Liong Hui.

Tiba-tiba terlihat di samping tulisan ini masih ada beberapa huruf lagi, cuma ukiran ini lebih cetek, juga kurang teratur, bila tidak diperhatikan sukar menemukannya.

“He, bukankah ini tulisan tangan Suhu?” seru Giok-he.

“Betul,” tukas So-so.

Serentak keempat orang berkerumun lebih dekat, tertampak di situ tertulis, “Dengan pedang sebagai senjata utama, dibantu dengan kaki, ilmu pedang sakti, tendangan negeri asing, untuk mematahkan jurus serangan ini, cara yang tepat adalah lain daripada cara biasa.”

Kecuali tulisan tersebut, ada lagi tulisan lain yang lebih kasar lagi dan berbunyi, “Kebagusan jurus seranganmu ini terletak pada lengan kirimu yang merapat pada tubuhmu serta sepatu aneh yang kau pakai ini, memangnya kau kira aku tidak tahu. Hahaha ….”

“Haha, coba lihat, kehebatan jurus serangan ini justru terletak pada sepatunya yang aneh, tadi kau bilang dandanannya tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu pedang,” Liong Hui juga tertawa senang.

Kening Ciok Tim bekernyit, gumamnya, “Untuk mematahkan jurus ini harus memakai cara lain daripada cara biasa …. Apa artinya kata-kata ini?”

Giok-he melirik Liong Hui sekejap, lalu memandang Ciok Tim pula, katanya, “Letak kehebatan ilmu padang ini rasanya sukar dipecahkan biarpun kita peras otak tiga hari tiga malam lagi.”

“Tapi aku ….” kata Liong Hui.

“Biarpun secara kebetulan dapat kau terka sebagian, tapi dapatkah kau ketahui di mana letak keajaiban sepatunya ini?” potong Giok-he.

Liong Hui jadi melenggong.

“Masih ada sesuatu yang mencurigakan, tapi tidak kalian lihat,” kata Giok-he.

“Hal apa?” tanya Liong Hui.

“Dapatkah kalian menerka cara bagaimana huruf ini ditulis di sini?”

“Seperti dengan tenaga jari,” ujar Ciok Tim setelah mengamati lagi.

“Ini kan tidak perlu diherankan, tenaga jari Suhu memang mahakuat,” kata Liong Hui.

“Hm, bagaimana dengan kau?” jengek Giok-he.

“Aku mana sanggup,” sahut Liong Hui.

“Setelah Suhu menyusutkan tenaganya tujuan bagian, kekuatannya bukankah sebanding denganmu?”

“Ah, betul,” seru Liong Hui sambil menepuk dahi sendiri. “Jika begitu, pada waktu menulis ini kekuatan Suhu tentu sudah pulih. Sungguh aneh dan sukar dimengerti? Dalam keadaan begini dan di tempat seperti ini siapakah yang membuka Hiat-to Suhu yang tertutuk itu?”

Giok-he menghela napas, lalu bertutur, “Urusan bertanding Kungfu sebenarnya adalah kejadian biasa, sebelum mendaki Hoa-san kukira urusan ini pasti tidak ada sesuatu keajaiban meski ada bahayanya juga. Tapi setelah naik ke atas gunung, setiap kejadian yang kita lihat ternyata melampaui kewajaran umum, dari zaman dulu hingga sekarang rasanya tidak ada urusan pertandingan yang lebih aneh daripada apa yang kita alami ini.”

Ia berhenti sejenak dan memandang sekelilingnya, lalu menyambung, “Perempuan she Yap itu menggunakan berbagai jalan agar Suhu mau menyusutkan tenaga dalam sendiri dan Suhu ternyata menyanggupi, begitu saja, inilah kejadian aneh yang belum pernah terdengar di dunia persilatan. Lalu si Tojin berjubah hijau yang berusaha rebut sebuah peti mati kosong juga tidak kurang anehnya. Semua ini sudah membuat hatiku tidak enak, siapa tahu kemudian timbul lagi hal-hal aneh yang lebih banyak lagi. Jika kupikirkan sekarang, di balik pertandingan di Hoa-san ini pasti terkandung macam-macam lika-liku dan rahasia, bisa jadi ada sementara orang telah mengatur rencana sekian lama dan memasang sesuatu perangkap untuk menjebak Suhu, tapi Tan-hong Yap Jiu-pek yang ditonjolkan sebagai pelakunya. Coba kalian pikirkan ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Liong Hui berlari ke depan sana.

“He, ada apa?” seru Giok-he.

Liong Hui menjawab sambil menoleh, “Kita sudah berada di sini, biarpun bicara tiga hari lagi juga tidak ada gunanya, yang penting lekas kita mencari dan membantu Suhu. Pantaslah Suhu suka bilang engkau memang pintar, cuma terlalu banyak bicara dan sedikit berbuat.”

Air muka Giok-he berubah kecut.

“Tunggu, Toako?” seru So-so dan segera ikut berlari ke sana.

Ciok Tim ragu sejenak dan memandang Giok-he sekejap, lalu menyusul juga ke sana.

Giok-he mencibir memandangi bayangan punggung mereka, cepat ia pun menyusulnya,

Siapa tahu, mendadak Liong Hui berhenti lagi.

Kiranya beberapa tombak jauhnya di depan situ terdapat lagi sepotong batu karang dan juga terukir gambar seorang Tokoh, hanya gayanya agak berbeda. Jika gambar yang pertama tadi bergaya bertahan, gambar yang ini bergaya menyerang. Juga gambar yang pertama berdiri kukuh, gambar yang ini mengapung di udara dengan pedang menebas, lalu di samping gambar ada tulisan: “Liong Po-si, jika jurus bertahan tadi dapat kau patahkan, dapatkah kau hindarkan jurus serangan ini?”

Liong Hui hanya membaca sekadarnya dan segera memutar lagi ke sana, benar juga, di belakang batu ada tulisan lagi.

“Huh, lagu lama!” jengek Ciok Tim yang menyusul tiba.

“Untuk apa membacanya?” Liong Hui pun mengejek dan segera mendahului melangkah lagi ke depan.

Sementara itu Giok-he telah menyusul sampai di sebelah sang suami. Liong Hui memandangnya sekejap sambil menghela napas, katanya, “Tadi aku telanjur omong, jangan kau marah padaku.”

Giok-he seperti mau bicara, tapi segera terlihat ada gambar lagi di batu karang di depan sana, cuma gambarnya sudah dirusak orang, batu kerikil bertebaran di sekitar situ.

Liong Hui saling pandang sekejap dengan Giok-he, waktu ia memutar lagi ke balik batu, tulisan di belakang juga telah dirusak dan tak terbaca lagi.

Kening Liong Hui bekernyit, “Suhu ….”

“Ya, selain Suhu siapa pun tidak memiliki Lwekang sehebat ini,” kata Giok-he.

“Mengapa beliau berbuat demikian, mungkinkah beliau tidak … tidak mampu mematahkan jurus serangan ini?” ucap Liong Hui setengah bergumam.

Giok-he hanya menggeleng tanpa bicara, mereka coba menuju ke depan lagi, tanah batu mulai curam, beberapa tombak lagi jauhnya kembali sepotong batu karang mengadang di depan, di atas batu ada tulisan besar: “Kakek usia 61 Liong Po-si berdendang sampai di sini!”

Tulisan ini jelas terukir dengan tenaga jari, di bawahnya terdapat lagi empat huruf yang mengejutkan, bunyinya: “Tidak pulang untuk selamanya!”

Goresan keempat huruf ini tidak sama dengan tulisan di atas, goresannya lebih halus, tenaganya lebih tajam, jelas diukir dengan senjata sebangsa pedang atau golok.

Dengan beringas mendadak Liong Hui menghantam, “blang”, batu kerikil muncrat, Liong Hui juga tergetar mundur dan jatuh terduduk. Meski dia terkenal Sebagai “Si kepalan besi”, apa pun juga tubuhnya terdiri dari darah dan daging.

“Ai, kenapa kau marah terhadap sepotong batu, simpan tenaga saja untuk menghadapi musuh nanti,” kata Giok-he sambil menarik bangun sang suami.

“Hm, kau ….” karena mendongkol Liong Hui jadi tidak sanggup bicara.

Segera Giok-he mendahului menuju ke depan sana.

“Toako sangat baik terhadap siapa pun, terutama terhadap Toaso,” kata So-so sambil melirik Ciok Tim sekejap.

Muka Ciok Tim menjadi merah dan menunduk.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara seruan Giok-he di balik batu sana, cepat mereka memburu maju.

Di balik batu karang ini adalah tepi jurang, justru di tepi tebing yang curam ini dibangun sebuah gubuk bambu secara gaib. Warna bambu sudah berubah kuning kering, waktu angin meniup bambu lantas menerbitkan suara keriat-keriut dan bergoyang seperti mau runtuh.

Di depan pintu gubuk tidak ada sesuatu tanda apa pun, di kanan kiri juga tidak ada sesuatu hiasan, gubuk ini berdiri menyendiri di puncak tebing yang terjal.

Liong Hui berhenti di samping Giok-he dengan melenggong, mendadak ia berteriak, “Suhu!”

Secepat kilat ia menerjang maju dan mendorong pintu gubuk.

“Toako! ….” seru Ciok Tim khawatir dan segera bermaksud menyusulnya.

Tapi Giok-he lantas menarik baju Ciok Tim dan berkata, “Tunggu dulu!”

“Tunggu apa?” jengek So-so. “Jika Toako menghadapi bahaya apakah kita juga mesti menunggu?”

Dia bicara dengan tajam, nona yang lembut ini mendadak bisa bicara ketus begini, hal ini membikin Giok-he jadi terkesiap. Tanpa menghiraukan orang lagi segera So-so memburu maju.

Dilihatnya Liong Hui berdiri di ambang pintu dengan termangu, di dalam rumah gubuk tiada terlihat seorang pun, yang aneh adalah di tengah rumah gubuk yang luang ini terlihat ada lima biji mutiara, gubuk ini ada empat pintu, tiga comot noda darah, dua bekas kaki dan sebuah kasur bundar yang biasa digunakan orang berduduk semadi.

Kelima biji mutiara terbingkai di atap rumah yang dianyam dengan bambu hijau, keempat buah pintu tidak sama besarnya, pintu tempat Liong Hui masuk itu paling kecil dan sukar dimasuki dua orang berjajar.

Di kanan kiri gubuk juga ada pintu yang lebih besar, sedangkan pintu yang terbesar berada di seberang Liong Hui berdiri, dan kasur bundar yang sudah butut itu terletak di depan pintu.

Yang paling tidak sepadan dengan kelima butir mutiara mestika itu adalah kasur butut ini, kasur bundar ini sudah pipih saking lamanya dipakai, di samping kasur tua inilah terdapat tiga comot darah segar, secomot darah segar itu terletak di samping bekas telapak kaki sana.

Bekas darah lain terletak di sebelah kiri bekas kaki dan ada lagi bekas darah di belakang kasur butut, dari situ ada lagi tetesan darah yang menuju ke pintu paling besar itu. Sedangkan daun pintu semuanya tertutup rapat sehingga orang yang semula berada di dalam gubuk ini seolah-olah menerobos keluar begitu saja melalui celah bambu.

Ketika angin meniup masuk melalui celah bambu, tanpa terasa Liong Hui menggigil, di bawah cahaya mutiara yang kontras suasana demikian terasa cukup seram, semuanya serbamisterius, terutama tiga comot darah itu semakin menambah seramnya keadaan rumah gubuk ini.

Setelah melenggong sejenak, mendadak Liong Hui melompat ke pintu sebelah kiri, pintu ditariknya terbuka, tertampaklah sebuah jalan berliku menuju ke bawah tebing.

So-so juga coba membuka pintu sebelah kanan, di luar juga terdapat sebuah jalan berliku menuju ke bawah. Lebar jalan berliku ini sama sempitnya, hanya berbeda derajat kelandaiannya.

Tiba-tiba terpikir oleh Liong Hui, “Kedua jalan ini mungkin adalah jalan yang dimaksudkan pada tulisan di dinding tebing tadi. Tempat tujuan cuma satu, tapi jalan untuk mencapainya ada tiga, tentulah penghuni rumah gubuk ini sengaja menggunakan cara ini untuk menjajaki Kungfu Suhu, begitu beliau masuk rumah gubuk ini, tanpa bergebrak pun penghuni di sini sudah dapat mengukur sampai di mana kelihaian Kungfu Suhu.”

Hendaklah maklum, watak Liong Hui cuma jujur dan lugu, tapi bukan bodoh, meski ceroboh, tapi tidak kasar. Dalam hal-hal tertentu bukannya dia tidak mengerti melainkan cuma tidak mau menggunakan pikiran saja.

Kini setelah dipikirnya berulang, mau tak mau ia menjadi prihatin, pikirnya pula, “Jika penghuni gubuk ini ialah Yap Jiu-pek, mengingat hubungannya dengan Suhu serta kedudukannya di dunia persilatan, tentu dia takkan menjebak Suhu dengan cara licik dan keji. Lantas apa maksud tujuannya berbuat demikian? Bila penghuni gubuk ini bukan Yap Jiu-pek, lalu siapa lagi? Melihat kasur butut ini, dia pasti sudah lama tinggal di sini, bangunan gubuk bambu ini juga sangat kasar, bahkan hujan angin pun tidak tahan ….”

Begitulah dia terus berpikir kian kemari dan tetap tidak menemukan kesimpulan. Dilihatnya So-so telah mendekati pintu yang paling besar itu, segera ia hendak membuka pintu.

Sambil memandang bayangan punggung So-so, Giok-he menjengek dengan suara tertahan, “Hm, apa yang diketahui genduk ini sudah terlalu banyak ….”

“Jika Toaso tahu ….” suara Ciok Tim menjadi gemetar dan tidak sanggup meneruskan.

“Orang yang tahu terlalu banyak terkadang suka mengalami bencana tiba-tiba,” gumam Giok-he.

Sekilas lirik Ciok Tim melihat sorot mata Giok-he penuh nafsu membunuh, tanpa terasa ia berseru, “Toaso ….”

Giok-he menoleh, ucapnya, “Aku masih tetap Toasomu?”

“Aku … aku takut ….” Ciok Tim menunduk dan bergemetar.

Mendadak Giok-he tertawa cerah, ucapnya dengan lembut, “Takut apa? Tidak perlu takut, biarpun banyak yang diketahuinya pasti tak berani disiarkannya sepatah kata pun.”

“Tapi ….” Ciok Tim tampak ragu.

“Jangan khawatir, ia sendiri pun ada rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain, asalkan kugunakan sedikit akal lagi …. Hmk!” jengek Giok-he dengan menyeringai.

Ciok Tim termangu memandangi wajahnya yang cantik itu, entah bingung dan entah takut.

Sekonyong-konyong terdengar jeritan So-so di dalam rumah gubuk itu.

“Lekas!” seru Giok-he sambil mendahului menerobos ke dalam gubuk.

Dilihatnya So-so berdiri di samping Liong Hui menghadapi sebuah pintu yang besar dan sama menunduk ke bawah. Di ambang pintu situ ada sebuah telapak tangan kurus kering berwarna hitam.

Dari celah kaki Liong Hui dan So-so dapatlah Giok-he dan Ciok Tim melihat tangan yang kurus kering itu mencengkeram erat ambang pintu terbuat dari bambu, kuku jari sama amblas ke dalam bambu, kuku yang putih kelabu terembes darah.

Cepat Giok-he memburu maju dan menyelinap ke tengah Liong Hui dan So-so, serunya, “He, sia … siapakah dia?”

Di luar sana adalah tebing yang terjal dengan gumpalan awan membelit di pinggang tebing, sesosok tubuh yang kurus kering tampak bergelantungan di luar pintu, bilamana tangannya tidak meraih ambang pintu, mungkin sudah terjerumus ke jurang yang tak terkirakan dalamnya.

Orang ini mendongak ke atas, matanya melotot, kulit daging pada wajahnya berkerut dan beringas, penuh rasa dendam dan juga memohon, rasa dendam dan memohon sebelum ajalnya ini lantas terukir pada wajahnya lantaran membekunya darah dan otot daging, serupa juga telapak tangannya yang masih tetap mencengkeram ambang pintu sebelum dia mati.

Liong Hui berempat memandangi wajah yang beringas ini dengan tercengang, sampai sekian lama barulah Liong Hui bersuara, “Dia sudah mati!”

Lalu ia berjongkok untuk menarik mayat ini ke atas setelah lebih dulu jari orang yang mencengkeram ambang pintu itu dilepaskan, mayat itu lantas diletakkan di lantai.

Tertampaklah tubuhnya yang kurus kering itu memakai baju hitam ringkas, meski wajah beringas, namun jelas usianya belum lanjut, paling-paling baru 30-an tahun saja.

Perlahan Liong Hui meraba kelopak mata orang yang tak terpejam sampai mati itu, ucapnya dengan menyesal, “Entah siapa orang ini, mestinya dari dia dapat diketahui ….”

“Coba geledah bajunya, mungkin ada barang tinggalannya,” tukas, Giok-he.

“Jangan,” seru Liong Hui sambil berdiri, “kita tidak kenal dia, juga tidak ada permusuhan apa pun, sekalipun dia musuh kita juga tidak boleh mengganggu jenazahnya setelah, dia mati. Selama hidup Suhu bertindak luhur dan tetap mempertahankan kehormatannya, mana boleh kita mengingkari beliau dan bertindak kurang bijaksana begini?”

Sekali ini dia bicara dengan tegas dan mantap tak terbantahkan.

Terpaksa Giok-he mengalah, “Baiklah menurut padamu!”

Ciok Tim berdehem, lalu berkata, “Menurut tanda-tanda yang terlihat sepanjang jalan, jelas Suhu sudah datang ke sini. Cukup dilihat dari tapak kaki ini saja kan jelas bekas kaki beliau …. Jika tenaga Suhu sudah pulih, maka bekas kaki yang kita lihat di bawah sana pasti juga tinggalan beliau. Namun, lantas ke mana perginya Suhu sekarang?”

Dia seperti bergumam dan juga lagi bertanya akan pendapat orang. Tapi tidak seorang pun yang menjawabnya. Seketika ia jadi termangu sendiri.

Di tengah kesunyian kemudian Ciok Tim bergumam pula, “Di sini ada tiga comot genangan darah, dapat dibayangkan yang terluka di sini tidak cuma satu orang saja, sebaliknya pada mayat ini tidak terlihat luka, lantas siapakah yang terluka dan siapa pula yang melukainya? ….”

“Toako,” So-so ikut bicara. “Untuk mencari jejak Suhu, kalau kita tidak memeriksa orang ini ….”

“Tidak, justru demi kebesaran Suhu, kita tidak boleh berbuat sesuatu yang memalukan beliau.” ucap Liong Hui dengan tegas. “Simoay, kutahu, biarpun banyak urusan yang dapat diperbuat seorang tanpa diketahui orang lain, tapi hati nurani sendiri tetap tercela, bahkan menanggung sesal selama hidup. Misalnya menemukan harta karun atas kehilangan orang lain, menemui perempuan cantik di ruang tersendiri, melihat musuh terancam bahaya, semua ini adalah batu ujian bagi hati nurani setiap orang. Sebabnya orang jahat zaman ini sedemikian banyak adalah karena pada waktu orang melakukan kejahatan selalu berusaha di luar tahu orang lain dan tidak mau tahu apakah tidak malu terhadap hati nurani sendiri. Simoay, kita adalah anak murid pendekar luhur budi, mana boleh berbuat sesuatu yang melanggar hati nurani?!”

Dia bicara dengan perlahan, mantap dan tegas, meski bicara terhadap So-so, tapi juga seperti lagi memperingatkan yang lain.

Tangan Ciok Tim terasa gemetar, darah bergolak dalam rongga dadanya, mendadak ia berseru, “Toako, aku … aku ingin bicara padamu …. Sungguh aku ….”

Ia tidak sanggup bicara lebih lanjut, air mata berlinang dan menyurut mundur dengan menunduk. Sesal dan malu hatinya membuatnya tidak berani mengangkat kepala sehingga tidak diketahuinya wajah Ong So-so yang jauh lebih menderita daripadanya itu.

Hati So-so seperti terlebih menanggung malu daripada Ciok Tim, bahkan air matanya lantas menitik.

Keruan Liong Hui tercengang, “Hei, kenapa menangis, Simoay?”

So-so mendekap mukanya dan meratap, “Toako, aku … aku bersalah padamu, berdosa terhadap Suhu ….” mendadak ia menuding mayat yang kurus kering itu dan berkata, “Sebenarnya kukenal orang ini, aku pun kenal banyak orang lain lagi, juga banyak urusan kuketahui ….”

Karena rangsangan emosi sehingga ucapannya menjadi agak kacau.

“Bicaralah perlahan, Simoay, ada urusan apa boleh kau katakan saja kepada Toako,” ucap Liong Hui.

Ciok Tim terbelalak melihat perubahan sikap So-so itu, sinar mata Giok-he juga gemerdep, tampak agak gugup.

Perlahan So-so lantas menyambung, “Toako, kau tahu sesungguhnya segenap anggota keluargaku adalah musuh bebuyutan Suhu, semuanya dendam dan ingin membunuh Suhu. Sebabnya kumasuk ke perguruan Sin-liong juga karena bermaksud menuntut balas terhadap Put-si-sin-liong atas kematian anggota keluargaku.”

Ia berganti napas, lalu melanjutkan, “Aku tidak she Ong, juga tidak bernama So-so, yang benar aku bernama Koh Ih-hong, keturunan Coat-ceng-kiam Koh Siau-thian yang tewas di bawah pedang Put-si-sin-liong.”

Belum habis ucapannya tubuhnya lantas terhuyung-huyung dan begitu berhenti bicara segera ia jatuh terduduk di atas kasur buntut dan dekil itu. Dalam sekejap itu dia telah kehilangan beribu kati tekanan batin yang ditahannya selama ini, perubahan besar ini sukar ditahan oleh lahir-batinnya sehingga ia jatuh terkulai di tanah, sampai sekian lama …. lalu ia menangis lagi.

Namun tekanan batin itu dengan keras kini telah memukul hati Ciok Tim dan Kwe Giok-he.

Sungguh tak terpikir oleh Ciok Tim bahwa Sisumoay yang biasanya lemah lembut itu sesungguhnya adalah agen rahasia musuh yang mengemban tugas sedemikian besar, lebih-lebih tak terpikir olehnya bahwa Sisumoaynya yang paling disayang dan berhubungan paling rapat dengan sang guru sebenarnya adalah putri musuh yang menanggung dendam kesumat terhadap gurunya itu.

Seketika ia terbelalak dan menyurut mundur ke sudut sana sambil memandang So-so dengan melongo.

Meski sebelumnya Giok-he juga sudah dapat menduga asal-usul So-so pasti ada sesuatu rahasia yang belum terungkap, tapi tak terduga olehnya gadis yang kelihatan lemah ini mempunyai keberanian untuk membeberkan rahasia pribadinya.

Mestinya Giok-he bermaksud menggunakan rahasia orang untuk memerasnya, tapi sekarang terasa timbul rasa ngeri dalam hatinya, sebab modal yang diandalkannya sekarang telah berubah tidak berguna sama sekali. Jika So-so berani membeberkan rahasia pribadi sendiri, mustahil dia tidak berani membongkar rahasia hubunganku dengan Ciok Tim?

Rasa ngeri yang timbul dari lubuk hatinya ini membuat Kwe Giok-he yang biasanya cerdas dan cekatan itu menjadi bingung dan berubah menjadi lemah, mukanya menjadi pusat dan sampai sekian lama tidak sanggup bicara.

Hanya Liong Hui saja, sekarang ia berbalik jauh lebih tenang daripada biasanya, perlahan ia mendekati Ong So-so alias Koh Ih-hong, ia menghela napas dan membelai rambutnya perlahan, tidak sedih juga tidak marah, ia memanggil lirih, “Simoay ….”

Namun panggilan yang lirih ini membuat hati Koh Ih-hong bertambah pedih dan haru. Dengan menangis ia bertutur pula, “Empat puluh tahun yang lalu, kakek pulang dengan terluka parah dan akhirnya meninggal dunia. Kasihan ayahku yang tidak tahan oleh pukulan berat ini, beliau sangat berduka dan akhirnya kurang waras pikirannya, sepanjang hari dia cuma berduduk mengelamun di bawah pohon di depan rumah, apa pun tidak dikerjakan dan juga tidak bicara, berulang-ulang ayah cuma bergumam apa yang diucapkan kakek sebelum mengembuskan napas penghabisan, yaitu kata, ‘Apabila jurus seranganku Thian-ce-keng-hun (mengejutkan arwah di ujung langit) lebih keras sedikit ….’ Kata-kata inilah berulang-ulang disebutnya. Sejak aku mulai tahu urusan aku selalu mendengar gumaman ayah itu sampai meninggalnya ayah. Hatiku sangat sedih setiap kali mendengar ayah mengulangi kata-kata itu.”

Suaranya semakin lemah dan agak gemetar, Liong Hui mengikuti ceritanya itu dengan cermat. Mendadak Giok-he seperti mau bicara, tapi segera dicegah oleh Liong Hui.

Terdengar Koh Ih-hong menyambung lagi, “Dendam kesumat selama 40 tahun ini, membuat hati setiap anggota keluarga kami tak pernah lupa untuk menuntut balas, setiap saat mereka berusaha memperdalam kepandaian, sebab mereka pun tahu Kungfu Put-si-sin-liong kini sudah tidak ada tandingannya di dunia ini.”

Ia memandang kegelapan malam di luar dan berucap pula, “Sang waktu terus berlalu dengan cepat dan kami tetap tidak tahu cara bagaimana harus menuntut balas. Sebab itulah dendam kesumat ini pun kian hari kian tambah mendalam. Ayah-bundaku loksun (sakit tebece) karena menanggung dendam tak terbalas ini dan tersia-sia hidupnya, selama hidup mereka merana dan tidak pernah gembira.”

Air matanya bercucuran dan tak diusapnya.

Darah Liong Hui bergolak, sungguh sukar dibayangkan seorang yang hidup tanpa senyum gembira, tanpa kebahagiaan keluarga, yang ada cuma dendam dan menuntut balas, betapa pedih dan menakutkan kehidupan demikian?

Dengan tersendat Koh Ih-hong menyambung lagi ceritanya, “Waktu ayah-bundaku meninggal usiaku masih kecil, famili yang dapat kuandalkan cuma kakak saja, tapi setengah tahun kemudian kakak juga pergi secara mendadak, maka setiap hari aku pun duduk melamun di bawah pohon yang biasa diduduki ayah itu untuk menunggu pulangnya kakak dan merenung sakit hati ayah, hidupnya tidak pernah mendapatkan cinta kasih, tapi telah belajar cara bagaimana mendendam dan menuntut balas ….”

Hati Liong Hui tergetar, dapat dibayangkan betapa merana anak yang dibesarkan di tengah keluarga yang penuh dendam itu. Kehidupan anak itu sendiri sudah cukup dibuat berduka.

Namun So-so alias Ih-hong menyambung lagi, “Setahun kemudian kakak pun pulang, dia membawa pulang sekian banyak sahabatnya, meski rata-rata usia mereka masih muda, tapi bentuk rupa dan dandanan mereka sangat berbeda satu sama lain, logat bicara mereka juga jelas bukan datang dari suatu tempat yang sama. Namun mereka sama mahir ilmu silat, meski tinggi rendah Kungfu mereka juga tidak sama, namun selisihnya tidak jauh. Kakak pun tidak memperkenalkan mereka kepadaku dan langsung membawa mereka ke sebuah ruangan rahasia, selama tiga hari mereka tidak keluar, selama tiga hari itu entah apa yang mereka bicarakan dan entah berapa banyak arak yang telah mereka minum ….”

Tangisnya mulai reda, suaranya juga mulai jelas, cuma sorot matanya tetap buram serupa orang yang tenggelam dalam lamunan masa lalu, masa lalu yang memilukan.

“Tiga hari kemudian,” sambungnya, “aku menjadi tidak tahan. Kucoba mencuri dengar di luar pintu ruang rahasia itu, siapa tahu kelakuanku telah diketahui orang di dalam dan pintu mendadak terbuka. Aku terkejut, kulihat seorang tinggi kurus berdiri di depan pintu, begitu tinggi perawakannya sehingga kepalanya hampir menyundul kosen pintu, mukanya juga pucat pasi. Aku ketakutan dan ingin lari, siapa tahu baru saja aku bergerak segera terpegang olehnya, gerak tangannya sungguh secepat kilat.”

Liong Hui berkerut kening, pikirnya, “Jangan-jangan kakaknya mencari bala bantuan untuk menuntut balas?”

Terdengar Koh Ih-hong menyambung lagi, “Waktu itu kurasakan tangannya sekuat tanggam menjepit tanganku, untung kakak lantas keluar dan memberitahukan dia siapa diriku. Kemudian baru kutahu dia adalah Boh-hun-jiu (si tangan pembelah langit) yang disegani di dunia persilatan. Ayahnya juga dikalahkan Put-si-sin-liong dan hidup merana. Kecuali dia, semua orang yang berkumpul di ruang rahasia situ juga keturunan musuh Put-si-sin-liong, semula mereka tersebar di berbagai tempat dari tidak saling kenal, tapi kakak telah menghubungi mereka satu per satu dan dikumpulkan.”

Kening Liong Hui bekernyit lagi, pikirnya, “Jika demikian, tentu kakaknya juga tokoh yang lihai, mengapa tidak terkenal di dunia persilatan?”

“Begitulah mereka telah berunding secara rahasia selama tiga hari dan memutuskan beberapa hal penting, pertama, akan berusaha mengirim diriku ke dalam perguruan Sin-liong-bun untuk mengawasi gerak-gerik Put-si-sin-liong serta belajar Kungfunya, jika ada kesempatan juga ….”

“Jika ada kesempatan Suhu akan kau bunuh, begitu bukan?” tanya Giok-he.

Dengan perasaan tertekan Ciok Tim menatap Koh Ih-hong dan dilihatnya nona itu mengangguk dan berkata, “Ya, memang betul.”

Alis Giok-he menegak, bentaknya. “Dosa berkhianat terhadap perguruan tidak terampunkan, untuk apa orang semacam ini dibiarkan hidup?!”

Segera ia menubruk maju dan bermaksud menghantam batok kepala Koh Ih-hong, dia sudah bertekad akan membunuhnya untuk menjaga segala kemungkinan, maka pukulannya ini tidak kenal ampun sedikit pun.

Siapa tahu mendadak Liong Hui lantas menangkisnya sambil membentak, “Nanti dulu!”

Giok-he tercengang dan tergetar mundur, dengan gusar ia menegur, “Toako, kenapa kau ….”

“Toaso,” kata Koh Ih-hong dengan tenang, “jika hari ini kubeberkan seluk-beluk urusan ini, sebelumnya aku memang sudah siap untuk mati bila perlu, maka hendaknya Toaso jangan tergesa-gesa bertindak.”

Tangisnya sudah berhenti malah dan berkata dengan sangat tenang, sambungnya, “Jika aku tidak dapat berbakti kepada ayah-bunda, juga tidak setia terhadap perguruan, bagiku memang tiada pilihan lain lagi kecuali mati. Selama beberapa tahun ini boleh dikatakan Suhu sangat baik padaku, tapi semakin beliau baik padaku, semakin sedih hatiku. Tidak cuma satu kali saja ingin kubeberkan persoalan ini kepada beliau secara terus terang, namun ….”

Ia menghela napas panjang, lalu menyambung, “Namun aku juga tidak dapat melupakan wajah ayah sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir.”

“Selama ini apakah engkau tidak pernah berbuat sesuatu yang mengkhianati perguruan?” tanya Giok-he dengan tajam.

Koh Ih-hong menjawab dengan menunduk, “Selama beberapa tahun ini aku memang sering berbuat hal-hal yang berkhianat, tidak cuma satu kali saja kuberi tahukan kepada kakak atau orang suruhannya rahasia ilmu silat yang kubelajar dari Suhu.”

“Hm, masa cuma itu saja?” jengek Giok-he.

“Juga pada pertandingan di Hoa-san ini aku pun tahu komplotan kakak telah merancang perangkap di sini.”

“Tapi hal ini sama sekali tidak kau katakan kepada Suhu!” jengek Giok-he.

“Tidak kukatakan sebab antara budi dan dendam mempunyai bobot yang sama di dalam hatiku,” kata Koh Ih-hong. Mendadak ia mendongak dan bertanya kepada Liong Hui, “Toako, jika engkau menjadi diriku, apa yang akan kau lakukan?”

Kening Liong Hui berkerut, air mula kelam dan tidak menjawab.

Koh Ih-hong menuding mayat yang menggeletak di lantai itu dan berkata pula, “Orang ini adalah keturunan keluarga Peng yang juga menjadi korban pedang Suhu. Dia, kakak, ada lagi Boh-hun-jiu dari Kun-lun-pay dan murid Tiam-jong-pay serta keturunan keluarga Liu, merekalah yang merencanakan perangkap di Hoa-san ini, untuk itu entah berapa banyak tenaga dan pikiran yang telah mereka peras.”

“Dan sekarang terkabul juga cita-cita kalian, Suhu … Suhu benar telah ….” sampai di sini Giok-he tidak sanggup meneruskan lagi, ia mendekap muka sendiri dan menangis.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: