Kumpulan Cerita Silat

22/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:57 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 07. Im-tong-cu
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Liok Siau-hong sudah berangkat, dia berangkat seperti mau berjalan-jalan mencari angin. Leher baju saja tidak dikancingkan dengan baik.

Akan tetapi mengapa dia meninggalkan semua Ginbio itu, apakah lantaran dia tidak yakin benar akan dapat kembali dengan hidup?

Sesungguhnya betapa menakutkan orang macam Im-tong-cu itu?

Ting-hiang-ih memandangi Ginbio yang terletak di atas meja, mendadak ia menghela napas dan bergumam, “Ah jika kau tidak pulang, meski aku takkan menjadi janda, tapi ada orang yang akan menjadi duda.”

oooOOOooo

Halaman Kiat-siang-keh-can meliputi empat kompleks, rombongan Im-tong-cu agaknya tinggal di deretan halaman keempat, seluruh kompleks diborongnya.

Baru saja Siau-hong seperti mendengar di sana ada suara gurau orang perempuan dan suara orang bernyanyi, tapi sekarang tidak terdengar lagi.

Ia mengitar ke sana lewat pintu samping belakang, tiada seorang pun dilihatnya, agaknya hotel ini memang kurang laris. Meski di dalam rumah masih ada cahaya lampu, tapi tidak terdengar suara apapun. Apakah semua penghuninya tidak berada di tempat.

Sekali melompat Siau-hong naik ke atas pagar tembok yang pendek itu, cahaya lampu menerangi jendela, tapi tetap tiada nampak bayangan orang.

Di situ rasanya masih ada sisa bau harum bedak orang perempuan dan bau sedap arak dan santapan, hanya sejenak sebelum ini di sini baru saja ada pesta. Ada sementara orang bila melakukan sesuatu tidak pernah ketinggalan arak dan perempuan.

“Akan tetapi sekarang di mana mereka?”

Angin meniup, mendadak Siau-hong berkerut kening, di tengah tiupan angin itu selain membawa bau harum bedak dan arak serta daging, rasanya juga ada semacam bau yang sangat khas. Semacam bau yang biasanya cuma dapat tercium di rumah jagal.

Dia sengaja menerbitkan sedikit suara, tapi di dalam rumah tetap tidak ada sesuatu reaksi Selagi dia merasa sangsi apakah harus menerjang kc dalam atau tidak, mendadak didengarnya suara jeritan ngeri.

Suaranya melengking tajam, kedengarannya hampir tidak menyerupai suara manusia.

Jika dikatakan suara ini suara manusia, maka orang ini pasti makhluk aneh yang cacat.

Seketika Siau-hong teringat kepada manusia yang kurang separoh itu.

Apakah mungkin Swe-han-sam-yu lebih cepat satu langkah lagi daripada dia?

Ia melayang lewat wuwungan rumah, didengarnya suara itu berkumandang dari belakang, cahaya lampu dalam rumah bagian belakang terlebih redup daripada yang di depan, dua sayap daun jendela dan daun pintu tampak cuma setengah dirapatkan.

Bau anyir darah tambah keras. Cepat Siau-hong melompat turun di depan pintu, perlahan ia mendorong pintu dengan dua jari.

Segera di dalam ada suara orang mendengus, “Hm, ternyata benar kau datang. Memang sudah kuduga begitu peti diantar ke sana tentu pula kau akan datang kemari. Silakan masuk, lekas!”

Tapi Siau-hong tidak masuk ke situ. Bukannya tidak berani masuk melainkan tidak tega masuk. Sebab keadaan di dalam rumah jauh lebih mengerikan daripada di tempat pemotongan hewan, jauh lebih memualkan.

Tertampak tiga anak gadis yang belum lagi akil balig tergantung miring telanjang bulat seperti domba yang baru dipotong di tepi tempat tidur, tubuhnya yang polos kelihatan mengucurkan darah dan menetes ke lantai melalui kedua kakinya yang halus.

Seorang yang kurang separoh menongkrong di ujung tempat tidur serupa iblis jahat dengan belati terhunus, ujung belati juga masih meneteskan darah.

“Masuk!” teriaknya, suaranya tajam serupa burung hantu, “Kusuruh kau masuk, maka harus lekas kau masuk, kalau tidak, biarlah kusembelih dulu ketiga budak busuk ini hingga menjadi delapan potong.”

Sekuatnya Siau-hong mengertak gigi untuk menahan rasa mualnya, tumpah biasanya bisa membikin orang lemas.

Im-tong-cu, si manusia kurang separoh, terlihat menyeringai dan berkata pula, “Meski ketiga perempuan busuk ini tidak ada sangkut paut apa pun denganmu, namun sayang, kau terkenal seorang penyayang wanita, tentunya tidak lega kau saksikan mereka mati di depan hidungmu.”

Makhluk aneh yang jahat ini benar-benar dapat memegang titik kelemahan Liok Siau-hong. Hati Siau-hong menjadi tertekan. Dia memang benar tidak sampai hati.

Ternyata hati Siau-hong tidak sekeras sebagaimana dugaannya sendiri, biarpun jelas diketahuinya cepat atau lambat ketiga anak perempuan itu tetap sukar terhindar dari kematian, tapi dia tetap tidak tega menyaksikan mereka mati di depannya.

Terpaksa ia melangkah masuk ke situ.

Im-tong-cu terbahak, “Haha, mestinya kami tak ingin membunuhmu, tapi seharusnya tidak boleh kau …”

Suara tertawanya mendadak berhenti, tiga titik sinar tajam menerobos masuk membobol jendela, sekali titik terang berkelebat, tahu-tahu ketiga titik perak itu menancap di tenggorokan ketiga anak perempuan telanjang tadi.

Im-tong-cu meraung murka terus menubruk ke sana, bukan menubruk ke arah Liok Siau-hong, tapi hendak mengejar orang yang menyambitkan senjata rahasia di luar jendela itu.

Akan tetapi Liok Siau-hong tidak tinggal diam Ketiga anak perempuan itu sudah mati, ia tidak mempunyai resiko lagi, tidak dibiarkannya Im-tong-cu angkat kaki begitu saja.

Im-tong-cu mengapung di udara, kaitan besi tangan kiri menggantol pada belandar, tubuhnya lantas berputar seperti gasingan, sebelah kakinya yang palsu menerbitkan suara menderu keras, nyata kaki palsu itu pun terbuat dari besi.

Sekali dia mengeluarkan gerakan yang aneh ini, siapa pun sukar mendekatinya. Liok Siau-hong juga tidak dapat mendekat, terpaksa ia menyaksikan orang berputar tiada hentinya.

Sekonyong-konyong kaitannya mengendur dan tubuh Im-tong-cu terus terlempar keluar jendela secepat panah. Nyata dia tidak menginginkan keunggulan, yang diharapkan hanya meloloskan diri. Rupanya dia cukup tahu diri bahwa dia pasti bukan tandingan Liok Siau-hong.

Cuma sayang, din tetap agak menilai rendah Liok Siau-hong. Baru saja dia hendak meluncur keluar, tangan Liok Siau-hong mendadak terangkat, kedua jarinya menutuk perlahan.

Segera terdengar suara “trang” Im-tong-cu terbanting di luar jendela kaki besi membentur lantai dan memercikkan lelatu api.

Siau-hong tidak ingin membunuhnya, hanya dengan gerak cepat ia menutuk Hiat-to lawan. Selagi dia hendak menyusul keluar untuk mengusut asal-usulnya dan maksud tujuan kedatangannya. Mendadak cahaya tajam berkelebat pula di halaman luar, tenggorokan Im-tong-cu juga tertancap oleh sesuatu senjata rahasia.

“Siapa itu?” bentak Siau-hong.

Malam sangat kelam, bintang bulan suram, mana ada bayangan orang yang kelihatan, karena tidak terlihat apa-apa, dengan sendirinya tidak dapat mengejar.

“Ai, untung mereka datang bertujuh, masih sisa enam yang hidup,” gumam Siau-hong dengan gegetun.

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba ada orang menjengek di belakangnya, “Hm. tapi sayang, sekarang setengah orang hidup saja tidak tersisa lagi.”

Yang bicara cuma satu orang, tapi bayangan yang tercetak di tanah ada tiga orang, tersorot oleh cahaya lampu dari balik jendela sehingga tertarik memanjang.

Swe-han-sam-yu. tiga sekawan orang tua dari Kun-lun-san. Perlahan Siau-hong membalik tubuh, katanya kemudian, “Apakah keenam orang lainnya bukan orang hidup lagi?”

Salah seorang kakek itu mendengus, “Jika mereka masih hidup, tadi tentu takkan mudah bagimu untuk keluar dari rumah ini.”

Rupanya keenam orang yang dimaksudkan bersembunyi di sekitar tempat ini dan menantikan Liok Siau-hong masuk perangkap, di luar dugaan mereka, tanpa sesuatu suara, jiwa mereka sudah melayang dalam kegelapan.

Tidak perlu diragukan keenam orang itu pasti jago kelas tinggi seluruhnya, untuk membunuh mereka mungkin tidak sulit, tapi hendak membunuh mereka sekaligus tanpa menerbitkan suara, hal inilah yang tidak gampang.

Maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi ilmu silat ketiga kakek ini serta betapa keji dan jitu serangannya.

Siau-hong menghela napas dan diam-diam memperingatkan dirinya sendiri agar apa pun juga jangan sembarangan merecoki mereka.

Pada tangan seorang tua ini kelihatan memegang cawan arak dan masih ada sisa araknya, kecuali Koh-siong Siansing dari Swe-han-sam-yu. siapa lagi di dunia ini yang mampu membunuh orang dalam sekejap mata hanya dengan sebelah tangan saja?

Koh-siong Siansing menghirup araknya seceguk, lalu mendengus, “Mestinya kami ingin menyisakan setengah orang hidup ini, cuma sayang, meski ada kepandaianmu untuk membunuh orang, tapi tidak punya kepandaian menyelamatkan orang.”

“Masa tadi bukan kalian yang turun tangan?” tanya Siau-hong.

“Hm, benda sebangsa rongsokan besi begini, sudah belasan tahun tidak pernah kujamah,” ujar Koh-siong Siansing dengan angkuh.

Senjata rahasia yang bersarang di tenggorokan Im-tong-cu itu adalah sebatang paku segitiga yang terbuat dengan sangat indah. Ketiga gadis cilik tadi juga mati di bawah paku serupa. Hanya sebentar saja wajah mereka sudah berubah hitam, tubuh juga mulai mengerut, nyata pada paku itu terdapat racun yang sangat ganas.

Maka Siau-hong percaya senjata rahasia itu pasti bukan milik Swe-han-sam-yu. Bilamana seorang sudah memiliki tenaga dalam maha tinggi. Bisa menggetar rontok bunga dari jarak ratusan langkah, dapat memetik daun untuk melukai musuh, maka sekenanya digunakan beberapa biji batu kerikil juga lebih daripada cukup untuk menyerang musuh dan tidak perlu menggunakan senjata rahasia berbisa keji semacam ini.

Tapi mau lak mau ia harus bertanya, sebab dia tidak mengerti siapakah yang turun tangan sekeji ini.

Koh-siong Siansing memandang Siau-hong dengan dingin Katanya, “Sudah lama kudengar kau ini tokoh angkatan muda yang paling lihai, tapi tidak kulihat sedikit pun tanda demikian atas dirimu.”

Tiba-tiba Siau-hong tertawa, jawabnya, “Terkadang bila aku bercermin, aku pun selalu merasa kecewa alas diriku sendiri.”

“Sepanjang jalan ini hendaknya hati-hati dan lebih waspada,” pesan Koh-siong.

“Ya, tentu, sebelum kutemukan kembali Lo-sat-pai kalian, mana boleh kumati,” ujar Siau-hong.

Koh-siong Siansing mendengus lagi sekali, mendadak ia mengebaskan lengan bajunya, di tengah deru angin dan goyang ranting pohon, dengan cepat bayangan ketiga kakek itu lantas menghilang.
Sungguh Ginkang yang maha sakti, sungguh watak yang sukar dilayani, barang siapa mempunyai tiga lawan semacam ini, pasti hatinya tak bisa terlalu gembira.

Dengan dua jari Siau-hong menjepit sehelai daun rontok dan diperiksa, lalu dibuang lagi, gumamnya, “Daun sudah kering, bila dua hari lagi lebih ke utara, tentu salju akan turun, orang yang tidak takut dingin boleh silakan terus mengintil padaku.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: