Kumpulan Cerita Silat

22/02/2008

Darah Ksatria: Bab 13. Gadis Penjual Bunga

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:44 pm

Darah Ksatria
Bab 13. Gadis Penjual Bunga
Oleh Gu Long

Malam yang dingin, tidak berawan dan penuh bintang. Di bawah sinar bintang, punggung gadis penjual bunga itu terasa sudah dikenalnya, seolah-olah gadis itu adalah kenalan lamanya. Dia tidak menggunakan ginkang, dia pun tidak lari. Tapi Ma Ji-liong tetap tidak mampu menyusulnya.

Maka dia lalu menggunakan Thian-ma-hing-khong yang termasyur di dunia Kang-ouw. Tapi tiba-tiba gadis itu sudah menjauh 50-60 kaki. Dia berusaha menyusulnya lagi, tapi gadis itu malah semakin jauh di depan sana.

Ketika dia menurunkan kecepatannya, maka langkah kaki gadis itu pun melambat.

Ketika dia berhenti, maka gadis itu pun berhenti.

Agaknya, meskipun gadis itu tidak mau dia menyusulnya, ia pun sebenarnya tidak mau meninggalkan dirinya jauh-jauh di belakang.

Mendadak Ma Ji-liong bertanya, “Kau tidak membiarkan aku melihatmu karena kau tidak ingin aku tahu siapa kau, benarkah begitu?”

Dia tidak menjawab. Dia pun tidak membantah.

Ma Ji-liong tertawa kecil, “Sayangnya aku sudah tahu siapa kau.”

“Tentu saja kau seharusnya sudah tahu.”

Dia tertawa cekikikan dan berkata, “Karena kau tentu tidak begitu bodoh.”

Tentu saja gadis itu adalah Toa-hoan yang tadinya telah lari karena takut pada seorang gadis penjual bunga. Saat ini dia telah mengenakan baju gadis penjual bunga itu, bahkan keranjang bunga di tangannya juga milik gadis itu. Tapi di manakah penjual bunga yang misterius itu?

Ma Ji-liong tidak memahami gadis ini. Kehidupan Toa-hoan, kungfunya dan asal-usulnya, semua terlalu misterius. Bagaimana dia dulu bisa terkubur di dalam es dan salju? Coat-taysu dan Giok-tojin termasuk jago-jago terbaik di dalam Bulim, tapi kenapa mereka begitu takut padanya? Tidak seorang pun yang bisa menjelaskan kejadian yang terjadi di sekitarnya ini. Semakin lama dia bergaul dengan gadis ini, sebaliknya dia malah semakin tidak bisa memahaminya.

Dan dia tentu saja tidak bisa pergi. Setiap kali gadis ini muncul, sesuatu yang misterius tentu akan terjadi. Kali ini apa lagi yang akan diperbuat olehnya? Tipuan licik apa lagi yang ada di dalam benaknya? Ma Ji-liong benar-benar ingin tahu.

Tentunya Toa-hoan punya tipuan lain. Dengan mata yang bersinar-sinar, tiba-tiba dia berkata, “Aku sudah tahu bahwa kau adalah orang yang pemberani, maka kali ini aku akan membawamu ke sebuah tempat yang aneh.”

“Untuk apa?”

“Untuk bertemu dengan seseorang.” Toa-hoan sengaja bersikap misterius. “Seorang perempuan yang amat aneh.”

“Pernahkah aku bertemu dengannya?”

“Mungkin pernah satu kali.”

“Maksudmu gadis penjual bunga itu?”

“Kau memang tidak bodoh.”

Lalu Toa-hoan meliriknya dan bertanya, “Kau berani pergi menemuinya?”

Ma Ji-liong tentu saja berani. Meskipun gadis penjual bunga itu adalah makhluk pemakan manusia, dia tetap ingin bertemu dengannya.

Sambil mengedipkan mata penuh arti, Toa-hoan bertanya lagi, “Kau tidak akan menyesal? Setelah kau bertemu dengannya dan apa pun yang terjadi, kau sama sekali tidak akan menyesalinya?”

Jawaban Ma Ji-liong sudah pasti. “Aku sudah banyak mengalami hal yang patut disesalkan. Apa artinya kalau ditambah dengan satu lagi?”

Toa-hoan tertawa dan berkata, “Tidak ada artinya.” Suara tawanya terdengar nyaring seperti bunyi lonceng. “Memang tidak ada artinya.”

Maka mereka pun berangkat. Dalam perjalanan, Ma Ji-liong terus bertanya-tanya tentang tempat tujuan mereka. Dia memikirkan beberapa tempat yang aneh, tapi dia tidak pernah menduga kalau gadis itu ternyata membawanya ke kantor pengadilan Xiangcheng.

Meskipun hakim di sini hanya berpangkat rendah, tempat ini tetap saja kantor pengadilan dan ukurannya jauh lebih besar daripada yang dulu dibayangkan oleh Ma Ji-liong. Jalan masuknya sudah ditutup, sehingga mereka pun masuk lewat pintu samping.

Inilah pertama kalinya Ma Ji-liong memasuki kantor pengadilan. Di atas kepalanya ada sebuah genderang dan di aula utama tergantung sebatang tongkat bambu untuk menghukum terdakwa. Di situ juga dipertunjukkan segala jenis alat siksaan. Semua yang ada di sini membuatnya merasa ganjil dan aneh.

Di sana juga ada prajurit-prajurit bertopi merah. Walaupun hakim telah keluar dari aula utama itu, di sana tetap ada prajurit-prajurit yang bertugas jaga, dua orang di tiap pintu. Tapi prajurit-prajurit ini seperti buta semua matanya, tidak perduli akan kedatangan mereka.

Prajurit-prajurit itu pasti tidak buta. Dia dan Toa-hoan jelas-jelas berjalan melewati mereka. Kenapa mereka tidak melihatnya? Apakah Toa-hoan menggunakan semacam ilmu sihir? Apakah dia bisa menyembunyikan sosok mereka dari pandangan para prajurit itu?

Di belakang aula utama itu ada sebuah halaman yang suram, di sana juga ada dua orang prajurit bertopi merah yang bertugas jaga. Tiba-tiba Ma Ji-liong berjalan menghampiri salah seorang dari mereka dan berkata, “Hei, kau tidak melihatku?”

Prajurit itu tidak perduli, bahkan tidak meliriknya. Dia malah bertanya pada temannya, “Apakah barusan ada orang yang bicara?”

“Tidak.”

“Apakah kau melihat seseorang?”

“Tidak, bahkan bayangan setan pun tidak ada.”

Tentu saja Ma Ji-liong merasa heran. Jika bukan Toa-hoan yang membawanya datang ke halaman ini, dia tentu akan mencoba untuk mencubit mereka. Apakah mereka akan kesakitan?

Sambil tertawa cekikikan, Toa-hoan berkata, “Meskipun kau berjungkir-balik di depan mereka, mereka tidak akan melihatmu.”

“Kenapa begitu?”

Tiba-tiba gadis itu merubah pokok pembicaraan dan berkata, “Apakah kau tahu tempat apa ini?”

Ma Ji-liong tidak tahu, tapi dia sudah bisa merasakan hawa yang menyeramkan di tempat itu.

“Ini adalah kamar mayat,” kata Toa-hoan. “Jika ada orang yang terbunuh di daerah ini, mayat mereka akan dibawa ke sini untuk diotopsi.”

Ma Ji-liong tidak melihat jenazah, juga tidak mencium bau darah yang menyengat, tapi perutnya sudah mulai terasa tidak enak. Di tempat seperti ini, tidak ada orang yang bisa merasa tenang. Kenapa Toa-hoan membawanya ke sini?

Di halaman itu ada dua baris bangunan, tanpa lampu maupun jendela. Tapi dari kamar terakhir di sebelah kanan, meskipun pintunya tertutup, sepertinya ada secercah cahaya yang merembes keluar dari retakan pintu. Dan Toan-hoan berjalan memasuki pintu itu.

Ma Ji-liong tak tahan lagi dan bertanya, “Apakah kau membawaku ke sini untuk bertemu dengan seseorang di kamar ini?”

“Kenapa kau tidak masuk dan melihat sendiri?” Dan gadis itu mendorong pintu hingga terbuka.

Di kamar itu memang ada cahaya, dan orang bisa melihat sebuah lampu yang redup dan sebuah ranjang yang besar. Di atas tempat tidur ada selembar kain putih yang menutupi sesosok tubuh di bawahnya. Walaupun mukanya tertutup kain, tapi kakinya tidak.

Yang pertama dilihat Ma Ji-liong adalah kaki itu, sepasang kaki yang seputih salju dan betis yang indah.

Jari-jari kakinya tampak lembut dan indah. Siapa pun yang melihat sepasang kaki ini tentu segera menyadari bahwa ini adalah sepasang kaki wanita, yang tentunya milik seorang perempuan yang cantik jelita.

Ma Ji-liong sekarang teringat bahwa dia belum sempat melihat wajah gadis penjual bunga tersebut di dalam gang gelap itu. Tak tahan lagi dia pun menghela napas.

“Apakah dia sudah mati?”

“Tampaknya begitu.”

“Apakah kau yang membunuhnya?”

Toa-hoan menjawab dengan acuh tak acuh, “Dia selalu memandang rendah pada diriku, dia mengira bahwa dia lebih baik dariku dan bisa mengalahkanku kapan saja. Asal melihatnya, aku pasti lari. Itulah yang membuat dirinya menganggap enteng padaku.”

Meremehkan musuh selalu merupakan kesalahan yang tak bisa dimaafkan.

Toa-hoan berkata dengan tenang, “Dia memandang rendah pada diriku, itulah sebabnya aku masih bisa berdiri tegak sementara dia sudah ambruk. Bagiku, dia sama saja sudah mati.”

Ma Ji-liong terpaksa bertanya sekali lagi, “Kau bilang, dia sama saja sudah mati?”

“Hmm.”

“Jadi dia sebenarnya belum mati?”

“Kenapa kau tidak melihat sendiri?” Gadis itu tersenyum misterius. “Lihatlah baik-baik.”

Agar bisa dilihat, lembaran kain itu pun harus disingkap. Ma Ji-liong lalu menyingkapnya dan segera melepaskannya kembali secara mendadak, wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan jantungnya berdebar-debar semakin keras. Walaupun dia belum melihat dengan jelas, dia tidak berani melihat lagi.

Di balik kain itu adalah tubuh seorang gadis yang telanjang bulat sama sekali. Dia belum pernah melihat seorang perempuan dengan tubuh yang seindah dan wajah yang secantik itu. Jika perempuan seperti dia benar-benar sudah mati, hal ini benar-benar patut disayangkan.

Toa-hoan bertanya lagi, “Lihatlah. Apakah dia sudah mati?”

Ma Ji-liong tidak tahu.

Toa-hoan berkata, “Kau cuma melihatnya sepintas, tentu saja kau tidak tahu apakah dia sudah mati atau tidak. Tapi kau tentu bisa melihat bahwa perempuan secantik dia itu adalah langka.”

Ma Ji-liong mengakui hal itu.

Toa-hoan berkata, “Kalau begitu, seharusnya kau tahu bahwa dia masih hidup.”

“Kenapa begitu?” Ma Ji-liong bertanya.

Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata, “Karena dia benar-benar terlalu cantik. Aku tidak tega membiarkan dia mati. Meskipun aku sangat ingin membunuhnya, tapi aku tidak tega.”

Ma Ji-liong menghela napas.

Toa-hoan bertanya, “Kenapa kau menghela napas?”

Ma Ji-liong berkata, “Bagaimana kau bisa menemukan dia?”

Sambil menghela napas sekali lagi, Ma Ji-liong lalu meneruskan, “Aku sudah melihatnya, dan aku yakin bahwa dia masih hidup. Tapi aku malah semakin bingung.”

Toa-hoan bertanya, “Bingung kenapa?”

Ma Ji-liong berkata, “Apakah aku mengenalnya?”

“Tidak,” jawab Toa-hoan.

Ma Ji-liong bertanya, “Lalu apa hubungan dia denganku?”

“Sekarang memang belum ada hubungannya,” jawab Toa-hoan.

Ma Ji-liong berkata, “Lalu kenapa kau membawaku untuk bertemu dengannya?”

Toa-hoan berkata, “Karena meskipun kalian berdua belum ada hubungannya, tapi nanti pasti ada.”

Ma Ji-liong bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”

Senyuman Toa-hoan menjadi makin misterius. Dia berkata, “Ada hal-hal yang belum bisa kuceritakan kepadamu saat ini, tapi aku berjanji, apa pun yang kuingin kau lakukan, kau tidak akan menyesalinya.”

Ma Ji-liong bertanya, “Apa yang sekarang sudah kau rencanakan untukku?”

“Aku hendak membawamu untuk bertemu seorang lagi,” kata Toa-hoan.

Ma Ji-liong bertanya, “Siapa dia?”

Toa-hoan menjawab, “Seorang laki-laki yang amat menyukaimu, dan agaknya kau pun menyukainya.”

Ma Ji-liong bertanya, “Bagaimana kau tahu kalau aku menyukainya?”

Toa-hoan menjelaskan, “Asalkan orang berjumpa dengannya, sangat sulit bagi orang itu untuk tidak menyukainya.”

Segera Ma Ji-liong teringat pada seorang laki-laki yang tidak sulit untuk disukai orang lain dan dia pun berkata, “Kanglam Ji Ngo?”

Toa-hoan berkata, “Siapa lagi kalau bukan dia?”

Ma Ji-liong bertanya, “Dia juga ada di sini?”

“Ada di sisi sana,” jawab Toa-hoan.

Ma Ji-liong bertanya, “Apa yang sedang dia lakukan?”

Toa-hoan tertawa dan berkata, “Seumur hidupmu, kau tidak akan bisa menebak apa yang sedang dia kerjakan.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: