Kumpulan Cerita Silat

22/02/2008

Amanat Marga (03)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 12:22 am

Amanat Marga (03)
Oleh
Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Begitu tutup peti mati terbuka, seketika kedua orang berdiri melongo seperti patung.

Butiran keringat tampak berketes dari dahi si Tojin, dengan muka pucat ia bergumam, “Ini … ini … dia … dia ….”

Kiranya peti mati itu kosong melompong tiada terisi sesuatu.

Muka Lamkiong Peng berubah pucat, mendadak ia membentak, “Kau berani main gila ….”

Ia putar pedangnya terus menusuk si Tojin.

Saat itu si Tojin lagi memandangi peti kosong dengan linglung, tusukan Lamkiong Peng seolah-olah tidak dilihatnya, tertampak bibirnya bergerak seperti mau bicara, tapi hanya sempat terucapkan, “Peti ini tentu ….” tahu-tahu dada kiri sudah tertusuk oleh pedang Lamkiong Peng.

Dada kiri tepat di atas jantung, bagian yang mematikan, keruan darah lansas muncrat membasahi jubah pertapaannya. Tojin itu tampak melongo kaget, ia mengerang dan meraih batang pedang, tubuh bergoyang, dengan sinar mata buram ia pandang Lamkiong Peng, dengan suara terputus-putus ia berucap, “Suatu … suatu hari kelak kau pasti akan … akan menyesal ….”

Suaranya serak, pedih dan penuh rasa penasaran, tapi lemah dan akhirnya roboh terkulai.

“Bluk”, tutup peti juga menutup kembali terlepas dari pegangan Lamkiong Peng, ia pandang jenazah yang menggeletak tak bergerak itu, lalu memandang pedang yang dipegangnya dengan terkesima, tetes darah terakhir pada ujung pedang baru saja menitik.

Karena guncangan emosinya, hampir saja ia lemparkan pedang itu ke jurang, ia berdiri termenung dan bergumam, “Akhirnya aku … aku membunuh orang ….”

Untuk pertama kalinya ia membunuh orang, sungguh tidak enak perasaannya. Padahal Tojin ini baru saja bertemu dengan dia, bahkan nama masing-masing saja tidak tahu, namun jiwa orang yang tak dikenalnya ini sekarang telah melayang di bawah pedangnya.

Dengan bimbang ia angkat peti mati itu dan melangkah ke arah datangnya tadi, kembali ke puncak Jong-liong-nia, tiba-tiba teringat olehnya, “Seyogianya kukubur mayat Tojin itu ….”

Cepat ia berlari lagi ke sana. Tapi aneh, darah masih kelihatan berceceran di tanah, namun jenazah si Tojin yang malang itu sudah menghilang entah ke mana.

Suasana sunyi senyap, angin meniup kencang, gumpalan awan mengambang di udara, Lamkiong Peng berdiri bingung di situ, ia memandang ke jurang yang tak terkirakan dalamnya itu, ia mengira mayat si Tojin mungkin tertiup angin ke dalam jurang, diam-diam ia berdoa semoga roh si Tojin mendapatkan tempat yang lapang di alam baka.

Entah berapa lama lagi, akhirnya ia merasakan hawa tambah dingin, ia angkat peti mati dan menuruni puncak gunung itu, setiba di pinggang gunung, angin dingin rada mereda, suasana lereng pegunungan semakin sunyi.

Pikiran Lamkiong Peng juga tambah kusut, selain rasa penyesalannya terhadap si Tojin yang terbunuh olehnya itu, dalam hati juga penuh tanda tanya yang belum terpecahkan.

Yang aneh dan membingungkannya adalah peti mati kayu cendana yang dibawanya ini sesungguhnya mengandung rahasia apa sehingga mendiang sang guru perlu memberi tugas khusus kepadanya untuk menjaga peti mati ini.

Ia mencari tempat sepi di bawah pohon yang rindang, perlahan ia menaruh peti mati itu di atas tanah rumput yang mulai layu. Ia coba menyingkap lagi tutup peti, jelas kosong tanpa sesuatu isi apa pun. Ia coba meneliti lagi, ia merasakan dipandang dari luar peti ini cukup besar, namun bagian dalam peti ternyata sangat dangkal dan sempit. Pada papan peti yang berwarna gelap itu seperti ada beberapa titik noda minyak, kalau tidak diperiksa dengan cermat sukar mengetahuinya. Namun tetap tidak ditemukannya sesuatu tanda mencurigakan pada peti mati itu.

Ia duduk di bawah pohon dan mengelamun dengan bertopang dagu, sukar baginya memecahkan tanda-tanda tanya ini, ia sampai lupa mencari tahu sebab apa para saudara seperguruannya sampai saat ini belum kelihatan menyusulnya.

Ia coba mengeluarkan kain kuning tinggalan sang guru, ikut terogoh keluar bangkai burung yang mati menumbuk dinding tebing dan hampir menimpanya itu.

Kain sutera kuning itu dibentangnya, tertampaklah tulisan tangan yang sudah dikenalnya dengan baik, yaitu tulisan sang guru, ia coba membacanya.

“Selama hidupku memang tidak sedikit kubunuh orang, namun orang yang kubunuh itu adalah orang yang pantas dibunuh, sebab itulah hidupku boleh dikatakan tidak ada yang perlu disesalkan ….”

Tulisan sang guru ini mengingatkan Lamkiong Peng kepada si Tojin yang dibunuhnya itu, pikirnya, “Apakah aku pun tidak perlu menyesal setelah membunuh Tojin itu?”

Lalu teringat juga oleh uraian si Tojin tentang pribadi gurunya, jika hidup sang guru tidak ada sesuatu yang perlu disesalkan, apa yang dikatakan si Tojin pasti tidak betul.

Maka dengan penuh keyakinan ia membaca lagi, “Namun selama hidupku toh ada juga sesuatu yang membuatku menyesal ….”

Terkesiap Lamkiong Peng, segera ia membaca lebih lanjut, “Belasan tahun yang lalu, di dunia persilatan tersiar berita tentang kelakuan buruk seorang, sudah cukup lama kubenci kepadanya, kebetulan seorang kawanku dicederai olehnya aku lantas mencarinya dan kubinasakan dia di bawah pedangku. Namun setelah kejadian ini barulah kutahu kesalahan sebenarnya terletak pada diri sahabatku, sebaliknya orang yang biasanya banyak melakukan kejahatan itu justru tidak bersalah, sebab itulah aku ….”

Tulisan selanjutnya mendadak sukar terbaca karena tertutup oleh darah bangkai burung.

Dengan sendirinya Lamkiong Peng mendongkol karena bagian yang penting itu tak terbaca, namun darah burung sudah kering, umpama dicuci juga tulisan itu tetap sukar dibacanya, ia coba membaca bagian bawah yang tertulis, “Maka kuserahkan orang ini kepadamu, hendaknya kau jaga dia dengan baik ….”

Bekernyit kening Lamkiong Peng gumamnya heran, “Dia? …. Dia siapa?”

Setelah termenung sejenak, ia membaca pula, “Karena terburu-buru harus berangkat sehingga tidak sempat kuberi tahukan urusan ini kepadamu, namun pada suatu hari kelak pasti dapat kau ketahui duduk perkara yang sebenarnya. Selama ini tidak ada sesuatu kebaikanku terhadapmu, hal ini pun membuatku menyesal. Semoga selanjutnya engkau berusaha maju dan menjadi manusia berguna sehingga tidak mengecewakan harapanku atas dirimu.”

Lamkiong Peng membaca ulang beberapa baris terakhir ini dengan terharu, air mata pun berlinang-linang.

“Apakah … apakah benar Suhu sudah meninggal? …. Pada suatu hari kelak pasti akan tahu duduk perkara yang sebenarnya ….” selain duka Lamkiong Peng jadi tambah curiga.

Dengan bimbang ia menggali sebuah lubang kecil, lalu bangkai burung ditanamnya, gumamnya pula, “Betapa pun antara kita ada jodoh juga. Dunia seluas ini, mengapa engkau justru jatuh menimpa diriku? Hendaknya kau pun dapat istirahat dengan tenang di liang yang kecil ini ….”

Ia menghela napas menyesal ketika teringat pula Tojin yang terbunuh olehnya mungkin mayatnya takkan terkubur selamanya di dasar jurang sana.

Ia memejamkan mata, ia inginkan ketenangan, kelelahan pun terasa menjalari sekujur badannya. Karena harus menghadapi pertarungan pagi tadi, setiap anak murid Ci-hau-san-ceng hampir semalam suntuk tidak tidur, apalagi Lamkiong Peng harus menempur lagi si Tojin sehingga hampir seluruh tenaganya terkuras.

Kelelahan fisik membuat ketegangan batinnya agak mengendur, lamat-lamat ia tenggelam dalam kantuknya ….

Sisa cahaya senja menyinari pucuk pepohonan, hari sudah hampir gelap. Mendadak di tengah pepohonan rindang terdengar suara “krekk”, terjadi sesuatu pada peti mati kayu cendana yang misterius itu, tutup peti mati perlahan terbuka ke atas.

Meski suara ini sangat lirih, namun di tengah pegunungan yang sunyi cukup membuat jantung Lamkiong Peng berdetak, mendadak ia membuka matanya dan kebetulan dapat melihat adegan yang mengejutkan itu. Tutup peti mati kosong itu diangkat oleh sebuah tangan yang putih halus.

Lenyap seketika rasa kantuk Lamkiong Peng, dilihatnya makin tinggi tutup peti mati itu terangkat. Menyusul lantas tertampak sebuah wajah yang putih pucat dengan rambut hitam panjang terurai.

Betapa tabahnya Lamkiong Peng, mengirik juga melihat kejadian luar biasa ini, dengan suara gemetar ia menegur, “Sia … siapa kau?”

Saat itu si cantik telah mulai menegakkan tubuhnya dari dalam peti mati, perawakan yang menggiurkan itu terbungkus oleh jubah putih bersih serupa wajahnya itu.

Perlahan si cantik melangkah keluar dari peti mati dan mendekati Lamkiong Peng, air mukanya tidak ada senyuman sedikit pun, juga tidak ada warna darah, sampai bibirnya yang mungil juga putih pucat. Melihat dia di pegunungan sunyi ini secara mendadak, siapa pun akan menyangka dia datang dari alam halus.

Lamkiong Peng mengepal tinjunya erat-erat, tangan sendiri terasa dingin, ia coba membentak lagi, “Siapa kau?”

Selagi Lamkiong Peng hendak melompat bangun, sekonyong-konyong si cantik dari peti mati itu tertawa dan berkata dengan lembut, “Kau takut apa? Memangnya kau sangka aku ini ….” mendadak ia tidak meneruskan kecuali cuma tersenyum saja.

Suaranya begitu lembut serupa sepoi angin musim semi, senyumnya begitu menggiurkan dan dapat merontokkan perasaan seorang yang berhati baja. Rasa seram yang dibawanya ketika keluar dari peti mati itu seketika lenyap oleh suara tertawa dan kelembutan ucapnya itu.

Lamkiong Peng melenggong, ia merasa senyum si cantik dari peti mati ini terlebih menggiurkan daripada Yap Man-jing, senyum yang lebih mendebarkan bagi siapa pun yang melihatnya.

Segera Lamkiong Peng berbangkit dan berdiri berhadapan dengan si cantik, dapat dilihatnya dengan jelas wajah orang, pulih kembali rasa percaya atas diri sendiri, kembali ia menegur, “Siapa kau?”

Si cantik memandangnya dua kejap, mendadak tertawa geli dan berucap, “Meski usiamu masih muda belia, tapi ada bagian tertentu memang lain daripada yang lain, pantas Liong-loyacu menyerahkan diriku di bawah perlindunganmu tanpa merasa khawatir.”

Lamkiong Peng lantas teringat kepada tulisan pada kain sutera kuning yang antara berbunyi, “Maka kuserahkan orang ini kepadamu, hendaknya kau jaga dengan baik ….”

Sekarang dapat diketahuinya bahwa “si dia” yang dimaksudkan itu tidak lain ialah si mahacantik berwajah pucat dan berbaju putih mulus yang berdiri di hadapannya ini.

Namun tanda tanya yang lain tetap belum terjawab, diam-diam ia merasa menyesal mengapa setiap urusan terkadang bisa begini kebetulan, mengapa bagian yang penting dari tulisan gurunya itu bisa kebetulan dikotori oleh darah burung sehingga tidak terbaca.

Dilihatnya si cantik dari peti mati ini mengulet kemalasan, lalu berduduk di sebelah Lamkiong Peng dengan gaya yang memesona, lalu menengadah memandang langit dan bergumam, “Sang waktu sudah berlalu dengan cepat, malam sudah hampir tiba pula, padahal hidup manusia bukankah berlalu dengan cepat, sejak dahulu kala hingga kini siapa yang dapat mencegah makin meningkatnya usia.”

Nada ucapannya seperti menyesali kehidupan sendiri, mestinya tidak pantas seorang perempuan muda secantik bidadari bicara demikian melainkan lebih mirip suara seorang janda atau perawan tua yang menyesali nasibnya yang terlampaui secara sia-sia.

Memandangi profil si cantik yang memesona itu, tanpa terasa Lamkiong Peng bertanya, “Apakah nona …. O, nyonya ….”

Tiba-tiba si cantik tertawa dan menukas, “Masakah tak dapat kau bedakan diriku ini nona atau nyonya? Sungguh aneh juga.”

Lamkiong Peng tergagap, “Tapi aku … aku tidak kenal ….”

“Jika Liong-loyacu telah menyerahkan diriku di bawah perlindunganmu, masa beliau tidak pernah berbicara denganmu mengenai diriku?”

Kening Lamkiong Peng bekernyit pula, benaknya terbayang kembali apa yang telah dibacanya, diam-diam ia membatin, “Mungkinkah dia ini Leng-hiat Huicu yang disebut-sebut si Tojin itu? Tapi Leng-hiat Huicu alias Kong-jiok Huicu itu konon sudah terkenal pada belasan tahun yang lalu, jika begitu usianya sekarang sedikitnya kan di atas 30, mengapa dia ….”

Waktu ia berpaling, dilihatnya si cantik dari peti mati ini lagi menatapnya dengan kerlingan mata yang memikat, wajahnya putih halus, kalau ditaksir usianya paling-paling juga baru 20-an saja.

“Bagaimana, kenapa tidak kau jawab pertanyaanku?” kata si cantik dengan tertawa sambil membelai rambutnya yang hitam panjang terurai sebatas pinggang itu. Lalu menambahkan. “Ah, tentu ada yang sedang kau pikirkan mengenai diriku, apalagi kau sangsi mengenai umurku?”

Muka Lamkiong Peng menjadi merah, ia menunduk dan menjawab, “Ya, memang sedang kupikirkan usiamu.”

“Tentang usiaku, lebih baik jangan kau terka saja,” ujar si cantik dari peti mati sambil menghela napas hampa.

Selagi Lamkiong Peng tercengang, terdengar si cantik telah menyambung lagi, “Orang seusia diriku sesungguhnya tidak ingin orang berbicara lagi mengenai umurku.”

Lamkiong Peng tidak berani menatapnya lagi, dalam hati ia heran mengapa nada ucapan si cantik serupa seorang nenek saja. Tanpa terasa ia berkata pula, “Tapi engkau kan masih muda belia, mengapa ….”

Belum lanjut ucapannya, mendadak si cantik berbangkit sambil meraba wajah sendiri dan berucap dengan heran, “Kau bilang aku masih muda belia?”

“Masa muda adalah masa bahagia orang hidup, mengapa engkau tampak kesal dan tidak bergairah hidup, jangan-jangan dalam hatimu menanggung kesedihan sesuatu urusan yang sukar diatasi ….” Lamkiong Peng berhenti sejenak, lalu berucap pula dengan serius, “Jika guruku telah menugaskanku untuk menjaga nona, maka sudilah nona memberitahukan kesedihan hatimu kepadaku, mungkin akan dapat kubekerja sesuatu bagimu.”

Hati Lamkiong Peng suci murni, walaupun dia tidak mengerti sebab apa gurunya menyerahkan seorang nona muda jelita di bawah perlindungannya, tapi sekali menerima amanat sang guru yang demikian itu, biarpun dia disuruh terjun ke lautan api juga takkan ditolaknya.

Tak tersangka, mendadak si cantik berucap pula perlahan, “Apa betul begitu? ….” dan segera ia membalik tubuh dan berlari pergi dengan cepat.

Keruan Lamkiong Peng terkesiap, teriaknya, “Hei, mau ke mana kau?”

Tapi si cantik seperti tidak mendengar seruannya, tanpa berpaling ia terus berlari ke depan secepat terbang, dalam sekejap orangnya sudah melayang jauh, sungguh luar biasa Ginkangnya.

Meski heran dan sangsi, terpaksa Lamkiong Peng tidak sempat memikirkannya lagi, sampai peti mati itu pun tidak dihiraukan, segera ia ikut berdiri ke sana sambil berseru, “Suhu sudah menyerahkan dirimu kepadaku, kalau ada urusan ….”

Namun cuma sekejap saja bayangan si cantik sudah menghilang, ia coba mencari lagi lebih jauh ke depan dan tetap tidak terlihat bayangan orang.

“Wah, kalau dia pergi begitu saja, lalu bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap pesan Suhu?” demikian ia membatin dengan gegetun.

Pegunungan sunyi, malam sudah hampir tiba, ke mana lagi akan dapat menemukan s nona misterius tadi?

Terpaksa Lamkiong Peng cuma berlari melintasi lereng gunung itu, nama orang saja tak diketahuinya, tentu saja ia tidak dapat bersuara memanggilnya.

Di tengah desir angin tiba-tiba didengarnya gemercik air, dia memang merasa haus, segera ia mencari dan menuju ke arah suara air,

Dilihatnya sebuah sungai kecil mengalir dari sana, di bawah remang cahaya bulan yang baru menongol sungai itu serupa tali perak. Setelah menyusuri hutan, sungai itu sudah kelihatan membentang di depan. Cepat ia memburu ke sana, begitu tiba di tepi sungai, segera ia meraup air untuk diminum.

Tapi baru saja ia minum dua teguk, tiba-tiba didengarnya dari hulu sana berkumandang suara ngikik tawa orang perempuan.

Terbangkit semangat Lamkiong Peng, cepat ia menyusul ke hulu sana mengikuti tepi sungai, tidak jauh terlihatlah sesosok bayangan putih sedang berjongkok di tepi sungai, seperti lagi memandangi air sungai, seperti juga sedang bercermin pada air sungai.

Tanpa ragu Lamkiong Peng mendekatinya dilihatnya si cantik tadi masih berjongkok tanpa bergerak dengan tertawa, lalu bergumam, “Hah, ternyata memang benar, ternyata memang betul! ….”

Meski Lamkiong Peng sudah berada di sampingnya si cantik masih juga belum tahu, masih tetap memandangi air sungai dengan terkesima.

Sungguh tak terpikir oleh Lamkiong Peng bahwa nona misterius ini berlari ke sini hanya untuk mengelamun memandangi air sungai, ia jadi melenggong juga, ia berdiri di samping si nona, ketika ia pun melongok permukaan air sungai, tertampaklah bayangan wajah seorang bidadari yang mahacantik serupa lukisan saja.

Bayangan dalam air sungai dari seorang berubah menjadi dua, hal ini tidak dirasakan oleh si cantik dari peti mati itu, dalam pandangannya saat ini kecuali bayangannya sendiri agaknya tidak ada barang lain yang diperhatikan olehnya.

Berulang-ulang ia meraba raut wajah sendiri dengan tangannya yang putih halus sambil bergumam, “Ternyata sungguh, ternyata benar aku masih semuda ini ….” lalu dia tertawa keras, tertawa senang, serunya. “Hah, untung memang sukar diraih dan malang sukar ditolak, siapa tahu tanpa sengaja aku telah mendapatkan ilmu awet muda yang sukar dicari dan diimpi-impikan setiap orang perempuan di dunia ini.”

Mendadak ia berbangkit dan berputar-putar sambil mengebaskan lengan bajunya sehingga rambutnya yang panjang ikut bertebaran di udara, rupanya saking gembiranya ia sampai menari-nari.

“Haha, sejak kini siapa lagi yang dapat mengenali aku, siapa pula yang dapat menerka aku inilah Kong-jiok Huicu ….”

Terkesiap Lamkiong Peng, tegurnya, “Hei, jadi engkau benar Bwe Kim-soat?”

Si cantik yang sedang menari itu mendadak menggeser dan berhenti di depan anak muda itu dan menjawab, “Betul!”

Lamkiong Peng melenggong sejenak, katanya kemudian dengan menyesal, “Ai, tak tersangka keterangan Tojin itu ternyata benar, aku … sungguh aku pantas mampus!”

Melihat anak muda itu merasa menyesal dan sedih, Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat tersenyum, perlahan ia pegang pundak Lamkiong Peng dan bertanya dengan suara halus, “Jadi kau kenal namaku?”

“Ya, kukenal namamu,” sahut Lamkiong Peng dengan pikiran kusut.

“Jika begitu, apakah kau tahu orang macam apakah aku ini?”

“Ya, kutahu,” Lamkiong Peng mengangguk. “Suhu telah memberi pesan agar kujaga dirimu baik-baik, dengan sendirinya akan kulaksanakan perintah beliau. Siapa yang hendak mengganggumu harus berhadapan dulu denganku. Kupercaya penuh terhadap Suhu, apa yang dikatakan dan diperbuat beliau pasti tidak salah.”

Bwe Kim-soat termenung sejenak, katanya kemudian dengan menghela napas, “Ai, Liong-loyacu sungguh teramat baik kepadaku.”

Tangannya yang memegangi pundak Lamkiong Peng itu dari putih tadi telah berubah agak kehijauan dan kini kembali berubah putih lagi dan ditarik kembali. Anak muda itu tidak menyadari bahwa dalam waktu singkat itu sesungguhnya dia telah lolos dari bahaya maut.

Ia pandang orang dengan bimbang dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan pula.

“Tampaknya engkau masih sangsi terhadap diriku,” kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum. “Apakah gurumu hanya menyerahkan peti cendana kepadamu tanpa menceritakan hubungannya denganku?”

“Tidak, hanya ini saja ….” Lamkiong Peng mengeluarkan kain sutera kuning itu, “Boleh kau baca sendiri.”

Dengan kuning bekernyit Bwe Kim-soat menerima kain kuning itu dan dipandangnya sekejap, tiba-tiba ia tanya, “Bekas darah siapakah ini?”

“Darah burung mati!” tutur Lamkiong Peng.

“Burung mati apa?” melengak juga Bwe Kim-soat.

Lamkiong Peng menceritakan apa yang dialaminya secara ringkas.

“O, kiranya begitu, semula kusangka darah gurumu,” ujar si cantik dengan tertawa.

Dengan agak emosi Lamkiong Peng merampas kembali kain sutera itu dan berucap dengan mendongkol, “Aku pun ingin tanya padamu, sampai ajalnya guruku tetap memikirkan kepentingan dirimu, maka dia memberi pesan padaku agar menjaga dirimu dengan baik. Sebaliknya kau, setelah mengetahui nasib malang guruku engkau sama sekali tidak berdukacita bagi beliau, sungguh terlalu ….”

Bwe Kim-soat memandangnya beberapa kejap seperti melihat sesuatu yang lucu, mendadak ia bergelak tertawa pula dan berkata, “Duka? Apa artinya duka! Selama hidupku belum pernah berduka bagi apa dan siapa pun, memangnya kau minta aku berduka untuk menipu dirimu dan diriku sendiri?”

Lalu dia tertawa terkial-kial lagi.

Mata Lamkiong Peng menjadi merah, tidak kepalang rasa gemasnya, tapi segera teringat olehnya akan julukan orang.

Leng-hiat Huicu, si putri berdarah dingin!

Akhirnya Lamkiong Peng menghela napas, pikirnya, “Ya, pantas orang Kangouw menyebutnya si putri darah dingin, kiranya dia tidak kenal apa artinya berduka segala ….”

Teringat untuk selanjutnya entah berapa lama dirinya masih harus mendampingi perempuan cantik berdarah dingin ini, ia jadi sedih.

Tiba-tiba Bwe Kim-soat berkata pula, “Jangan kau kira aku sengaja tidak menghiraukan kematian gurumu, malahan seharusnya aku gembira bagi kematiannya itu.”

Gusar sekali Lamkiong Peng oleh ucapan orang yang keji itu, dampratnya, “Kalau saja guruku tidak menyuruhku menjaga dirimu, bisa jadi akan ku ….”

“Hm, apakah kau tahu sebab apa gurumu menyuruhmu menjaga diriku?” jengek Bwe Kim-soat.

“Apa pun juga, yang jelas Suhu telah salah menilai orang,” jawab Lamkiong Peng dengan mendongkol, “jika beliau memiara seekor kucing atau seekor anjing akan lebih baik ….”

“Hm, kau tahu apa?” jengek Bwe Kim-soat pula. “Sebabnya gurumu berbuat demikian padaku adalah karena dia ingin menebus dosa, ingin membalas budi. Tapi biarpun begitu dia tetap bersalah padaku, maka dia mengharuskan muridnya ikut menebus dosanya yang belum lunas itu, untuk membalas budi yang belum sempat dilakukannya.”

Lamkiong Peng jadi tercengang, mendadak ia balas mendengus, “Hm, menebus dosa dan membalas budi apa segala? Memangnya guruku bisa ….”

Tapi lantas teringat olehnya tulisan pada kain kuning itu antara berbunyi “urusan ini memang salahku ….”, seketika ia urung bicara lebih lanjut, pikirnya, “Jangan-jangan Suhu memang berbuat sesuatu kesalahan terhadap dia.”

“Hm, kenapa engkau tidak bicara lagi?” jengek Bwe Kim-soat. “Agaknya kau pun dapat merasakan dosa yang diperbuat gurumu, bukan?”

Lamkiong Peng menunduk, mendadak ia mengangkat kepala pula dan berseru, “Barang siapa bicara kasar terhadap guruku, tentu takkan kuampuni ….”

“Huh, jangankan di depanmu, sekalipun di depan Put-si-sin-liong juga aku berani bicara demikian, sebab aku berhak!”

“Hak apa?” teriak Lamkiong Peng saking tak tahan. “Meski guruku menyuruhku menjaga dirimu, tapi engkau tidak berhak bicara sesukamu di depanku.”

“Aku berhak bicara, sebab tanpa berdosa nama baikku telah dicemarkan olehnya dan tubuhku dilukainya. Aku berhak bicara, sebab Kungfu yang kulatih dengan susah payah telah dipunahkan olehnya dengan sekali pukul. Aku berhak bicara karena kebodohan dan kebandelannya telah mengorbankan masa remajaku, telah menyia-nyiakan sepuluh tahun masa hidupku yang paling indah, akibatnya setiap hari, siang dan malam, senantiasa berbaring di dalam peti mati yang terisolir dari dunia luar, hidup tersiksa melebihi orang hukuman ….”

Makin bicara makin emosi, nadanya yang semula dingin kini berubah menjadi teriakan serak.

Tanpa terasa Lamkiong Peng jadi ngeri, tubuh yang semula tegak menjadi agak lemas dan tidak berani bersikap keras lagi.

Mendadak Bwe Kim-soat menarik tangan Lamkiong Peng terus dibawa lari secepat terbang ke sana.

Ilmu silat Lamkiong Peng mestinya tidak lemah, Ginkangnya juga sangat tinggi, tapi sekarang tanpa berdaya tangannya seperti terisaps oleh semacam tenaga mahakuat dan ikut lari terlebih cepat daripada Ginkang sendiri.

Selagi ia bermaksud meronta untuk melepaskan diri, dilihatnya lari orang sudah mulai mengendur, tempat yang dituju ternyata hutan tadi, di situ peti mati masih tertinggal.

Begitu tiba di depan peti mati, segera Bwe Kim-soat membuka tutup peti dan berteriak, “Nah, di dalam peti inilah kuhidup selama sepuluh tahun. Kecuali pada malam hari gurumu mengangkatku keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang perlu, boleh dikatakan tidak pernah kukeluar dari sini.”

Dia berhenti sejenak, lalu menyambung, “Nah, boleh coba kau bayangkan, kehidupan macam apakah selama sepuluh tahun ini, bagimu mungkin sepuluh hari saja tidak tahan, apa lagi sepuluh tahun ….”

Lamkiong Peng memandang ruang peti yang sempit dan gelap itu, lalu bergumam seperti mengigau, “Sepuluh … sepuluh tahun ….”

Tanpa terasa ia bergidik.

Cahaya bintang yang redup menyinari wajah Bwe Kim-soat yang pucat, ia menarik napas panjang, lalu berucap pula dengan hampa, “Yang kuharap selama mengeram di dalam peti adalah datangnya malam, saat kebebasanku yang tidak panjang itu, walaupun cuma sebentar saja gurumu membawaku ke ruang yang tidak berlampu, namun bagiku saat itu serupa hidup di surga.”

Tergerak pikiran Lamkiong Peng, “Pantas kamar tidur Suhu terletak pada pojok perkampungan yang paling terpencil. Pantas juga pada malam hari beliau tidak suka memasang lampu, kamarnya juga tanpa jendela. Pantaslah setiap malam Suhu membawa peti mati ini masuk kamarnya dan ditaruh di samping tempat tidurnya ….”

Ia menghela napas panjang dan tidak berani memikirnya lebih lanjut.

Sorot mata Bwe Kim-soat bergeser di antara remang cahaya bintang dan kegelapan hutan itu seperti lagi membayangkan penderitaannya dahulu, lalu bertutur pula, “Untunglah setiap hari datang harapanku serupa itu, kalau tidak, lebih baik kumati daripada hidup tersiksa cara begini. Dan harapan dan menanti itu sendiri pun menimbulkan derita yang tak terhingga. Pernah satu hari tanpa sengaja gurumu membuka pintu kamar sehingga ada cahaya bulan menembus masuk ke kamar, sungguh girangku tak terkatakan. Tapi di bawah sinar bulan kulihat keadaan gurumu yang semakin tua, aku menjadi sedih, sang waktu terus berlalu, kupikir aku sendiri tentu juga tambah tua ….”

Suaranya berubah menjadi lembut dan rawan, tanpa terasa Lamkiong Peng juga ikut terharu kepada sifatnya yang berdarah dingin dan mulai menaruh simpati terhadap nasibnya yang malang, ia menghela napas dan berkata, “Yang sudah lalu biarlah lalu, jangan kau ….”

“Sudah lalu? …. mendadak Bwe Kim-soat bergelak tertawa pula. “Put-si-sin-liong sudah mati, secara ajaib aku tetap awet muda, aku tidak perlu terkurung lagi di dalam peti mati. Malahan orang di dunia tidak ada yang tahu asal-usulku yang sebenarnya … kecuali kau!”

“Secara ajaib engkau telah bertahan awet muda, secara ajaib pula telah pulih kehidupanmu yang bebas, untuk itu seharusnya engkau bersyukur dan berterima kasih dan bukan merasa dendam, meski aku ….”

“Aku berterima kasih apa?” jengek Bwe Kim-soat.

“Berterima kasih kepada Thian yang maha pengasih,” jawab Lamkiong Peng.

“Hmk!” dengus Bwe Kim-soat sambil mengebaskan lengan baju dan melangkah ke sana.

Seperti orang linglung Lamkiong Peng memandangi bayangan punggung orang yang ramping dengan gayanya yang memesona itu, ketika bayangan orang hampir menghilang di kegelapan sana, cepat ia memburu maju dan menegur, “Nona Bwe, engkau hendak ke mana?”

Mendadak Bwe Kim-soat berpaling dan berkata kepadanya dengan dingin, “Kau tahu, orang bodoh di dunia ini sangat banyak, tapi tidak ada yang lebih bodoh daripadamu.”

Dengan bingung Lamkiong Peng menjawab dengan gelagapan, “Iy … iya ….”

Sorot mata Bwe Kim-soat yang dingin itu tiba-tiba timbul secercah cahaya kelembutan, namun di mulut dia tetap bicara dengan ketus, “Jika engkau bukan orang bodoh, tadi waktu kubilang ‘kecuali kau’, seharusnya kau lari segera!”

“Tapi mana boleh kutinggalkan dirimu?” jawab Lamkiong Peng tegas. “Suhu telah menyerahkan dirimu di bawah penjagaanku, jika kutinggal pergi, lalu cara bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap beliau?”

“Tanggung jawab apa? Put-si-sin-liong kan sudah mati?!” jengek Kim soat.

Lamkiong Peng menarik muka, jawabnya tegas, “Tidak peduli beliau sudah meninggal atau tidak tetap tidak dapat kulanggar amanat tinggalan beliau.”

“Lantas cara bagaimana akan kau jaga diriku?” tanya Bwe Kim-soat.

Bibir Lamkiong Peng bergerak, namun sukar untuk menjawab.

Bwe Kim-soat membetulkan rambutnya yang terurai di depan dadanya ke belakang punggung, lalu mendengus, “Hm, jika engkau tidak mau pergi dan tetap ingin ‘menjaga’ diriku, apakah selanjutnya engkau akan selalu mengikuti aku?”

“Ya, memang begitulah perintah guruku,” jawab Lamkiong Peng.

“Sungguh begitu?” Bwe Kim-soat menegas dengan tertawa.

Lamkiong Peng tidak berani memandang tertawa orang yang menggiurkan itu, dengan prihatin ia menjawab, “Menurut pesan Suhu, aku diharuskan menjaga peti mati dan tidak boleh meninggalkannya, maksud beliau dengan sendirinya aku diharuskan menjaga dirimu setiap saat.”

Setelah bicara demikian, diam-diam timbul juga rasa sangsinya, “Ilmu silatnya kan jauh lebih tinggi daripadaku, mengapa Suhu menugaskanku menjaga dia? Jika Kungfunya begitu tinggi, setiap saat mestinya dia dapat membobol peti mati dan pergi sesukanya, mengapa hal ini tidak dilakukannya?”

Selagi dia merasa heran, terdengar Bwe Kim-soat berkata pula dengan tertawa, “Jika demikian, bolehlah kau ikut diriku, ke mana pun kupergi boleh kau ikut.”

Habis berkata ia lantas melangkah ke depan.

Jantung Lamkiong Peng berdetak dan entah bagaimana rasanya, pikirnya, “Apa benar harus kuikut dia ke mana pun juga?”

Tapi tidak urung kakinya ikut melangkah ke sana, katanya, “Demi melaksanakan amanat guru, biarpun kau pergi ke ujung langit juga akan kuikuti.”

“Ujung langit ….” perlahan Bwe Kim-soat mengulang kata itu dengan tersenyum.

Tanpa terasa muka Lamkiong Peng menjadi merah.

Perasaan kedua orang itu sungguh sukar diraba oleh siapa pun juga, hubungan mereka yang aneh juga sukar dilukiskan. Bwe Kim-soat berjalan di depan dan Lamkiong Peng ikut di belakang, berulang Bwe Kim-soat membelai rambutnya yang panjang, agaknya dia juga banyak menanggung pikiran.

Malam tambah larut, di suatu sudut yang paling gelap di tengah hutan sana mendadak melayang keluar sesosok bayangan orang berbaju hitam tanpa suara, dia memondong seorang pula yang agaknya terluka parah.

Dalam kegelapan wajah orang itu tidak terlihat jelas, juga tidak jelas siapa orang terluka yang dibawanya itu, hanya terdengar dia membisiki telinga yang terluka, “Apakah engkau merasa agak baikan?”

Yang luka itu menjawab lemah, “Ya, sudah baikan, kalau bukan Anda ….”

“Sungguh aku tidak mampu membawamu turun dari Hoa-san sini,” potong orang berbaju hitam itu, “dalam keadaan terluka parah engkau juga tidak dapat ditinggalkan di tengah pegunungan sunyi ini. Terpaksa engkau harus menahan sakit dan jangan bersuara, minumlah obat yang kutaruh di dalam bajumu itu menurut waktunya, dalam beberapa hari saja kesehatan tentu akan pulih, tatkala mana engkau tentu sudah berada di bawah gunung dan dapat mencari kesempatan untuk melarikan diri.”

Dengan mengertak gigi orang yang luka itu merintih kesakitan, lalu berkata dengan lemah, “Budi pertolonganmu pasti akan ….”

“Sudahlah, jangan banyak bicara lagi,” potong si baju hitam. “Saat ini mereka pasti takkan membuka lagi peti mati ini, Bwe Kim-soat juga pasti tak mau masuk lagi ke dalam peti. Asalkan dapat kau tahan rasa sakit pada saat tubuh berguncang, tentu engkau dapat mencapai kaki gunung dengan aman.”

Sembari bicara ia lantas membuka tutup peti cendana itu, orang luka itu dimasukkannya dengan perlahan, lalu berkata pula, “Obatku ini selain dapat menyembuhkan luka, juga dapat membuatmu tahan lapar, maka jangan khawatir!”

Si luka yang sudah berbaring di dalam peti bertanya, “Bila tidak keberatan, sudilah memberitahukan nama Anda ….”

“Namaku tentu akan kau ketahui kelak,” si baju hitam memberi tanda supaya jangan bicara lagi, perlahan tutup peti lantas dirapatkannya kembali. Setelah menyapu pandang sekejap sekeliling situ lalu membalik tubuh dan berlari cepat ke arah Jong-liong-nia.

Saat itu Bwe Kim-soat dan Lamkiong Peng sedang melangkah tanpa tujuan serupa orang mimpi menjalan.

Setelah berjalan sekian lama, mendadak Bwe Kim-soat berkata, “Engkau berasal dari keluarga terhormat dan perguruan ternama, jika engkau berjalan bersamaku seperti ini, apakah tidak takut menimbulkan desas-desus umum yang mencemarkan namamu?”

Dia bicara tanpa berpaling sehingga tidak diketahui bagaimana air mukanya.

Langkah Lamkiong Peng agak merandek, jawabnya dengan tegas, “Asalkan hati kita tidak merasa berdosa, pula semua ini atas amanat guruku, hanya desas-desus orang iseng saja takkan menjadi soal bagiku, apalagi ….”

Ia berdehem dan tidak melanjutkan.

“Apalagi usiaku sedikitnya belasan tahun lebih tua daripadamu sehingga pada hakikatnya tidak perlu khawatir dicurigai orang, begitu bukan maksudmu?” tanya Bwe Kim-soat mendadak sambil berpaling.

Lamkiong Peng melenggong sejenak, jawabnya kemudian dengan menunduk, “Ya, begitulah.”

“Jika demikian, harus kau terima suatu syaratku,” kata Kim-soat pula.

“Syarat? ….”

“Ya, yaitu tidak boleh kau katakan nama asliku terhadap siapa pun.”

“Sebab apa?”

“Jika namaku diketahui orang bahwa aku masih hidup segar bugar di dunia persilatan, sekalipun gurumu sendiri tidak mampu melindungi diriku apalagi engkau?”

“Oo,” melengak Lamkiong Peng. Pikirnya, “Dia pasti banyak musuh di dunia persilatan, bilamana musuhnya mengetahui dia belum mati pasti akan mencari dia dan menuntut balas padanya.”

Seketika seperti terngiang pula di tepi telinganya kata-kata si Tojin, “… Perempuan jalang, perempuan jahat ….”

Mendadak timbul pertentangan batinnya, masakah dirinya harus membela seorang perempuan semacam ini? Tapi lantas teringat lagi, “Jika Suhu sendiri membelanya, tugas ini lalu diserahkan lagi kepadaku, kuyakin tindakan beliau pasti benar, mana boleh kulanggar amanat guru?”

Selagi terjadi pergolakan pikirannya, didengarnya Bwe Kim-soat bertanya pula, “Kau terima syaratku?”

“Ya,” jawab Lamkiong Peng segera.

Bwe Kim-soat memandangnya sekejap sambil tertawa lembut, katanya, “Meski di mulut kau terima dengan baik, tapi di dalam hati enggan, betul tidak?”

Waktu Lamkiong Peng mengangkat kepalanya, di bawah malam tertampak wajah Bwe Kim-soat yang cantik laksana bidadari itu, seketika hatinya bergetar, pikirnya, “Perempuan secantik ini mengapa bisa berbuat jahat dan jalang?”

“Betul tidak?” kembali Bwe Kim-soat menegas sambil mendekati anak muda itu.

“Apa yang kuucapkan sama dengan apa yang kupikirkan,” jawab Lamkiong Peng sambil menunduk, terendus bau harum semerbak, tahulah dia orang telah berada di sampingnya.

Didengarnya Bwe Kim-soat bicara pula dengan lembut, “Kutahu sekali kau terima syaratku, selamanya tentu akan kau pegang teguh. Akan tetapi perlu kuberi tahukan pula bahwa perangaiku sangat aneh, terkadang bisa membikinmu tidak tahan, dalam keadaan begitu lantas bagaimana tindakanmu?”

Kening Lamkiong Peng bekernyit, “Asalkan engkau tidak berbuat sesuatu yang membikin susah orang, urusan lain aku pasti tahan.”

Tiba-tiba dirasakannya bila dirinya terus mendampinginya cara begini, kecuali melaksanakan amanat sang guru dapat juga setiap saat mencegahnya berbuat sesuatu yang tidak baik. Jangan-jangan maksud tujuan amanat sang guru yang menugaskan dia menjaganya justru demikianlah adanya?

Berpikir sampai di sini, mendadak dadanya terasa lapang, apa alangannya mengalami sedikit hinaan asalkan dapat memperbaiki watak seorang jahat menuju ke jalan yang benar?

Segera ia angkat kepala dan memandang orang dengan ikhlas.

“Sudah malam, tentu kita tidak dapat tinggal di sini,” kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum lembut.

“Ya, kita turun saja ke bawah,” kata Lamkiong Peng.

Tapi belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba Lamkiong Peng berseru, “Nanti dulu, nona Bwe!”

“Ada apa?” tanya Bwe Kim-soat sambil berpaling.

“Harap nona menunggu sebentar, ada urusan yang perlu ku ….”

“Ah, tentu mengenai peti mati itu, bukan?” tukas Bwe Kim-soat.

“Ya, kecuali itu, beberapa saudara seperguruanku juga masih ketinggalan di atas gunung dan entah sudah pergi atau belum, betapa pun harus kutunggu mereka.”

“Jika saudara seperguruanmu melihat dirimu selalu mendampingiku, lantas apa yang akan mereka katakan? Apalagi sudah sekian lamanya, kukira mereka sudah lama meninggalkan gunung ini,” ujar Kim-soat. “Mengenai peti mati itu, kukira sekarang tidak ada gunanya lagi, buat apa mesti kau bawa kian kemari pula. Lebih baik kita mencari suatu tempat istirahat yang tenang, nanti akan kuceritakan berbagai hal yang belum kau ketahui.”

“Tapi … tapi peti itu adalah barang tinggalan guruku, betapa pun harus kubawa pergi,” setelah berhenti sejenak, dengan tegas ia menyambung pula, “Dan mengenai saudara seperguruanku, apa pun juga perlu kutunggu mereka dulu sekadar memenuhi kewajibanku sebagai sesama saudara seperguruan.”

“Ah, apa yang kukatakan tampaknya tidak kau turut sama sekali,” omel Bwe Kim-soat sambil memandangi anak muda itu dengan lembut seolah-olah dengan sorot matanya yang hangat itu ingin mencairkan hati Lamkiong Peng yang keras.

Kedua orang kembali beradu pandang, sampai lama sekali keduanya tidak berkedip dan tetap bertahan, entah di antara mereka siapa yang lebih kuat.

Kerlip bintang di langit bertambah terang, sebaliknya malam bertambah larut.

Di bawah cahaya bintang dan suasana malam yang sama, apa yang dihadapi Liong Hui saat itu juga pandangan yang sama lembut dan sama hangatnya.

Saat itu dia sedang berjalan di balik lereng Hoa-san sana, di antara batu padas yang terjal dan pepohonan yang rimbun serta malam yang tambah kelam.

Tangan Kwe Giok-he yang halus memegangi lengan sang suami yang kekar, tubuh Giok-he yang kecil mungil juga setengah menggelendot di bahu sang suami, meski Ginkangnya terlebih tinggi daripada suaminya, Kungfunya juga tidak lebih lemah, tapi sikapnya yang manja itu seakan-akan kalau tidak ada perlindungan sang suami akan sukar bergerak di lereng gunung ini.

Yang ikut di belakang mereka adalah Ong So-so yang cantik itu, dia malah tidak menghendaki bantuan Ciok Tim meski wajahnya sudah dihiasi butiran keringat.

Terpaksa Ciok Tim ikut berjalan di belakangnya dengan hati-hati.

Mereka berempat sudah hampir menjelajahi seluruh pegunungan ini, namun tidak menemukan sesuatu bekas tinggalan sang guru.

Di tengah kesunyian perjalanan, akhirnya Kwe Giok-he berucap, “Rupanya tiada sesuatu yang dapat kita temukan.”

“Ya,” sahut Liong Hui sambil berpaling.

Ong So-so mengangguk perlahan, Ciok Tim juga menghela napas dan berkata, “Ya, tidak menemukan apa pun.”

“Ayolah kita pulang saja,” kata Giok-he pula dengan menyesal.

“Ya, pulang saja,” kata Ciok Tim.

“Tapi … tapi mungkin dia sedang mencari atau menunggu kita,” kata So-so tiba-tiba.

Air muka Ciok Tim agak berubah, sebab ia tahu “si dia” yang dimaksudkan So-so, yaitu Lamkiong Peng, Sute mereka yang termuda.

“Tanjakan di depan sana tampak lebih curam, kita sudah mencari sampai di sini, marilah kita coba periksa sana sekalian,” ajak Giok-he.

Tidak ada yang membantah, dengan menunduk So-so ikut berjalan ke depan. Liong Hui agak bingung melihat kelakuan anak dara itu.

Makin ke depan langkah mereka bertambah lambat karena terjalnya tempat. Maklumlah, puncak selatan Hoa-san ini juga disebut Lok-gan-hong atau puncak menjatuhkan burung belibis, puncak tertinggi pegunungan Hoa, biasanya sangat jarang didatangi manusia, burung saja sering menubruk tebing yang tinggi ini, keadaan di sini sangat sepi, apalagi di malam yang sunyi ini.

Kwe Giok-he menggelendot terlebih erat di bahu Liong Hui, sebaliknya So-so semakin jauh jaraknya dengan Ciok Tim.

Pembawaan seorang gadis yang lemah tentu saja berharap akan dibantu dan dibela oleh seorang yang gagah dan kuat, tapi hasrat ini hanya disembunyikan di dalam batin saja oleh So-so. Kecuali “dia”, rasanya tidak mau menerima cinta orang lain lagi. Tapi di manakah si dia sekarang?

Makin dipikir makin sedih, tanpa terasa air mata pun berlinang-linang. Tapi ia tidak berani mengusapnya, sebab ia tidak mau Ciok Tim melihat kesedihannya.

Sekonyong-konyong So-so berhenti melangkah sambil menjerit.

Cepat Liong Hui dan Giok-he berpaling, Ciok Tim juga lantas memburu maju sambil berseru, “Ada apa?”

Di tengah remang malam terlihat wajah Ong So-so yang terkejut dan air mata berlinang lagi memandang permukaan tanah dengan tercengang.

Permukaan tanah yang kelam, tampaknya tiada sesuatu yang mengherankan.

Ketika Giok-he dan lain-lain ikut memandang ke tempat yang membuat So-so tercengang itu, ternyata di atas batu di situ ada bekas kaki yang mendekuk cukup dalam. Serentak mereka pun berseru kaget.

Tanah berbatu di sini sangat keras, orang biasa biarpun menggunakan senjata tajam juga sukar membuat bekas kaki sedalam ini, akan tetapi orang ini cuma menginjak begitu saja lantas meninggalkan tapak kaki sedalam ini.

Bekas kaki itu tidak lurus, tapi miring ke kiri, ujung kaki tepat mengarah sebuah jalan simpang yang membelok ke kiri.

So-so memandangnya dengan tercengang, sekian lama baru dia berkata dengan tergegap, “Bekas … bekas kaki ini apakah mirip dengan kaki … kaki Suhu? ….”

Kemudian Giok-he menjawab, “Bekas kaki ini bukan kaki Suhu! Hanya tampaknya memang mirip ….”

“Ya, bukan saja besar-kecilnya sama, sampai bentuk sepatunya juga sama,” tukas So-so.

“Saat ini orang persilatan sudah jarang yang memakai sepatu bersol tebal semacam sepatu Suhu ini,” kata Ciok Tim.

Supaya diketahui, orang Kangouw umumnya suka memakai sepatu tipis ringan untuk memudahkan gerak-gerik mereka, jarang yang mau menggunakan sepatu bersol tebal seperti yang biasa dipakai kaum pembesar negeri. Apalagi kalau digunakan menempuh perjalanan di tanah pegunungan, jelas sepatu tebal ini tidak cocok.

Perlahan Giok-he mengangguk, katanya, “Memang benar jarang ada orang Kangouw yang mau memakai sepatu tebal begini. Tapi di dunia Kangouw sekarang siapa pula yang memiliki tenaga dalam sehebat ini ….”

“Betul juga, bekas kaki yang ditinggalkan beliau pasti untuk menunjukkan ke arah mana beliau pergi,” tukas Liong Hui.

“Ya, kukira begitu,” kata So-so berbareng dengan Ciok Tim.

“Tapi kalian sama melupakan sesuatu,” jengek Giok-he mendadak.

“Sesuatu apa?” tanya Ciok Tim heran.

“Meski bekas kaki ini mirip kaki Suhu, dipandang dari dekukan sedalam ini juga cuma Suhu saja yang mampu, akan tetapi bekas kaki ini pasti bukan ditinggalkan oleh Suhu, sebab ….” Giok-he sengaja merandek, lalu menyambung sekata demi sekata, “Sebab saat ini Suhu tidak lagi mempunyai tenaga dalam sekuat ini.”

Liong Hui, Ciok Tim dan So-so sama melengak, tapi segera mereka pun sadar persoalannya dan berseru serentak, “Ya, betul!”

Liong Hui lantas menambahkan, “Suhu sudah melemahkan tenaga sendiri tujuh bagian untuk memenuhi tuntutan gadis she Yap itu, kekuatannya sekarang tidak lebih hanya sebanding dengan kita, mana beliau sanggup meninggalkan bekas kaki sedalam ini di atas batu.”

Ia pandang Giok-he dengan penuh rasa kagum, lalu bergumam pula, “Hal ini sama diketahui kita, tapi mengapa cuma engkau saja yang mengingatnya.”

“Soalnya kalian sudah lelah, lapar dan juga tegang, dalam keadaan demikian orang memang sering melupakan sesuatu,” ujar Giok-he dengan tersenyum.

Mendadak So-so mengangkat kepala dan berkata pula, “Tapi kalau bekas kaki ini bukan bekas kaki Suhu, lantas bekas kaki siapa? Di dunia Kangouw zaman ini, kecuali Suhu siapa pula yang memakai sepatu model begini dan berjalan di lereng pegunungan yang curam dan sepi ini? Siapa pula yang memiliki Lwekang setinggi ini?”

Seperti telah diceritakan, sejak pertemuan Hoa-san dahulu, hampir segenap inti kekuatan dunia persilatan telah gugur bersama, selama ini belum terdengar di dunia persilatan ada tokoh yang berkuatan sebanding dengan Tan-hong dan Sin-liong, sebab itulah pertanyaan So-so ini benar-benar sangat tepat.

Mereka saling pandang dengan bingung sampai sekian lamanya, akhirnya Liong Hui bergumam, “Jangan-jangan di dunia persilatan sekarang telah muncul tokoh kelas tinggi baru.”

“Jangan-jangan Suhu ….” mendadak Ciok Tim urung meneruskan ucapannya.

“Suhu kenapa?” tanya Liong Hui dengan gelisah.

Ciok Tim memandang kiri-kanan, dilihatnya Giok-he dan So-so juga sedang memandangnya seperti ingin tahu lanjutan ucapannya itu.

Akhirnya ia berdehem dan berkata pula, “Kukira bisa jadi … bisa jadi bekas kaki itu di … ditinggalkan Suhu waktu … waktu ….”

“Maksudmu mengkhawatirkan Suhu mengalami luka parah setelah bertanding dengan orang dan bekas kaki ini ditinggalkan beliau waktu buyarnya Lwekang sebelum ajal?” tukas Giok-he tak sabar.

“Ya … ya, kukhawatir begitulah adanya,” sahut Ciok Tim dengan menunduk.

“Hah, apakah benar Suhu … Suhu telah meninggal?” teriak Liong Hui dengan cemas.

Hendaknya maklum, orang yang menguasai Lwekang tinggi, pada sebelum ajalnya setiap jurus yang dikeluarkannya dengan sepenuh tenaga pasti lihai luar biasa. Begitu pula bila tenaga dalam itu dibuyarkan pada waktu menghadapi ajal, setiap gerakan kaki atau tangan tentu luar biasa kuatnya.

Sejak kecil Liong Hui telah belajar silat dengan guru ternama, dengan sendirinya ia cukup paham dalil ini, maka dia pula yang paling berduka, tanpa terasa air mata lantas berlinang.

“Mungkin itu cuma dugaanku saja, hendaknya Toako jangan ….” ucap Ciok Tim dengan gelagapan.

“Betul, ucapanmu memang ngawur,” kata Giok-he tiba-tiba.

“Masa ucapannya tidak berdasar?” tanya Liong Hui sambil mengusap air mata.

“Kusangsikan bila betul ini bekas kaki Suhu, mengapa di sekitar sini tidak ada sesuatu tanda waktu dia bertempur dengan lawan?” ujar Giok-he. “Selain itu pesan yang ditinggalkan Suhu apakah mungkin ditulis di sini?”

“Betul, bila betul Suhu membuyarkan Lwekangnya menghadapi ajalnya, mana beliau dapat meninggalkan pesan sejelas itu?” seru Liong Hui.

“Habis bekas kaki siapakah ini?” kata So-so dengan gegetun.

Giok-he memandang anak dara itu dengan tersenyum, mendadak ia berkata dengan suara lantang, “Siapa yang meninggalkan bekas kaki ini sekarang belum dapat diketahui, yang jelas orang yang meninggalkan bekas kaki ini pasti ada hubungannya dengan Suhu ….”

“Apa dasarnya?” tanya Liong Hui.

Giok-he memandang sang suami sekejap, lalu menyambung malah, “Dan pasti juga mengisyaratkan sesuatu rahasia.”

Liong Hui tambah bingung, “Kenapa kau bilang bekas kaki ini ada sangkut pautnya dengan Suhu?”

“Sebab kalau bukan urusan yang menyangkut Tan-hong dan Sin-liong, mana bisa ada tokoh Bu-lim kelas tinggi berkeliaran di pegunungan Hoa yang sunyi ini,” tutur Giok-he.

“Kau bilang bekas kaki ini mengisyaratkan sesuatu rahasia, kalau begitu bolehlah kita tunggu saja di sini, coba lihat sesungguhnya apa persoalannya?” ujar Liong Hui.

Tiba-tiba Ciok Tim menanggapi, “Kukira Toaso tidak bermaksud menghendaki kita tinggal di sini, cuma aku pun tidak tahu apa yang harus kita lakukan.”

“Jika begitu, lebih baik kita … kita pulang saja,” tukas So-so.

“Tampaknya Simoay telah merindukan rumah,” Giok-he berseloroh. “padahal kita tentu juga ingin cepat pulang. Cuma kebetulan dapat kita temukan petunjuk yang menyangkut diri Suhu, mana boleh kita tinggalkan begini saja. Saat ini memang belum diketahui sesungguhnya apa arti bekas kaki ini serta rahasia apa yang terkandung di dalamnya, tapi dapat kupastikan satu hal, yakni arah yang ditunjuk ujung kakinya ini pasti arah kepergian Suhu.”

“Jika begitu, marilah kita mengikuti arah yang ditunjuk,” kata Ciok Tim.

“Setuju!” seru Liong Hui.

Giok-he tersenyum, segera Liong Hui mendahului membelok ke arah kiri.

Pegunungan Hoa memang sunyi dan kelam, jalan setapak ini terlebih curam dan sukar dilalui, jika mereka tidak menguasai Ginkang yang tinggi tentu satu langkah saja sulit meneruskan perjalanan.

“Alangkah baiknya jika membawa obor,” gumam Ciok Tim.

Kening Ong So-so tetap bekernyit, ia berjalan dengan lesu. Mendadak ia mengertak gigi terus melompat maju dan malah mendahului di depan Liong Hui.

“Simoay memang tidak mau kalah, coba lihat dia ….”

Belum lanjut ucapan Giok-he, tiba-tiba So-so berseru terkejut lagi. Menyusul Giok-he bertiga juga bersuara kaget.

Kiranya tidak jauh di depan So-so sana mendadak ada cahaya api, di tengah pegunungan sepi ini, nyala api ini jelas buatan manusia.

Dengan terkejut mereka coba mengawasi depan sana, tertampak di depan sebuah tebing menegak mengadang jalan mereka. Karena nyala api itu dirasakan seperti timbul mendadak, maka dinding tebing itu seakan-akan juga muncul secara ajaib.

Dinding tebing itu ternyata halus licin, sama sekali tidak ada tumbuhan apa pun. Waktu mereka melongok ke atas, karena tidak tercapai oleh cahaya api, bagian atas tebing kelihatan gelap gulita sehingga sukar diraba betapa tingginya.

Angin mendesir, sinar api bergoyang menambah seramnya keadaan.

Setelah tertegun dan ragu sejenak akhirnya So-so mendekati tempat obor itu diikuti oleh Liong Hui bertiga.

Jarak obor yang tidak jauh ini dirasakan oleh mereka makan waktu sekian lamanya baru dapat dicapai. Sesudah dekat baru terlihat jelas obor itu terbuat dari empat tangkai kayu cemara yang terikat menjadi satu.

Terkesiap Ciok Tim, “Hah, obor, ternyata ada obor!”

Tadi dia menggerundel alangkah baiknya jika ada obor, sekarang obor yang disebutnya benar-benar muncul.

Liong Hui saling pandang sekejap dengan Giok-he dengan melenggong.

“Jangan-jangan gerak-gerik kita telah … telah diawasi orang?!” kata Liong Hui.

Giok-he berpikir sejenak, katanya kemudian, “Urusan ini memang aneh, memangnya siapakah yang mampu mengikuti kita secara diam-diam tanpa ketahuan. Sesungguhnya apa maksud tujuannya, kawan atau lawan? ….”

Ucapannya terhenti ketika ia memandang ke arah dinding tebing yang licin itu, sebab mendadak ditemukan sebaris tulisan yang sangat mengejutkan di dinding tebing itu.

Semua orang ikut memandang ke sana dan sama terkejut. Ternyata tulisan itu berbunyi: “Liong Po-si, bagus sekali kedatanganmu! Di ketinggian tebing sana ada tulisan yang ingin kau baca, apakah kau berani naik ke sana?”

Tulisan yang bernada menantang, gaya tulisan yang kuat!

Memangnya siapa yang berani menantang terhadap Put-si-sin-liong yang namanya menggetarkan dunia persilatan itu? Siapa yang memiliki Lwekang selihai ini sehingga sanggup meninggalkan ukiran tulisan di dinding batu yang keras ini?

Liong Hui menarik napas dingin, ia coba melompat maju untuk mengamati ukiran tulisan yang luar biasa itu.

Sedangkan pandangan Kwe Giok-he lagi tertarik oleh bagian lain daripada dinding tebing, yaitu suatu tempat bersih agak jauh di sebelah sana, ia termangu-mangu sejenak, tiba-tiba bergumam perlahan, “Ucapanmu memang betul, Gote, Suhu … Suhu memang benar tidak meninggal!”

Nadanya ternyata lebih banyak mengandung rasa kecewa daripada rasa gembira, memangnya dia kecewa akan urusan apa? Karena iri terhadap kecerdikan Lamkiong Peng atau urusan lain? Tapi apa pun juga dalam keadaan dan di tempat begini tentu saja tidak ada orang yang memerhatikan maksud yang terkandung dalam ucapannya itu.

Serentak Liong Hui bertanya dengan gembira dan bersemangat, “Hah, kau bilang ucapan Gote benar dan Suhu tidak meninggal dunia?”

Giok-he mengangguk sambil menuding bagian batu gunung yang agak bersih sana, katanya, “Ya, Suhu tidak meninggal, setiba di sini beliau melihat tulisan ini, segera beliau menggunakan Ginkang dan naik ke atas.”

Dia bicara dengan mantap seakan-akan melihat sendiri apa yang terjadi, katanya pula, “Jika tulisan yang terukir ini ditujukan kepada Suhu, dengan sendirinya orang yang meninggalkan tulisan ini sudah memperhitungkan Suhu pasti akan datang kemari, dan kalau dipandang pada bagian tebing ini, orang yang naik ke atas pasti tidak menggunakan Kungfu sebangsa ‘cecak merayap dinding’ segala, sebab Kungfu ini harus dilakukan dengan merayap ke atas dengan punggung menempel dinding. Tapi dari bekas telapak tangan yang terlihat di sini jelas orang naik ke atas dengan muka menghadap dinding. Kalian sama tahu, di kolong langit ini hanya Kungfu ‘Sui-hun-hu’ (mengapung mengikuti awan) dari Sin-liong-bun kita yang merupakan Ginkang mahahebat untuk merayap ke atas dengan muka menghadap dinding. Berdasarkan semua ini, orang yang mendaki ke atas siapa lagi kalau bukan Suhu?!”

Serentak Liong Hui bersorak gembira, “Ya, Suhu tidak meninggal ….”

Ciok Tim juga bergirang.

“O, Suhu tidak …” saking girangnya So-so lantas menangis malah.

Sebaliknya Giok-he lantas menghela napas menyesal.

“Jika Suhu jelas tidak meninggal, apa yang kau sesalkan?” tanya Liong Hui.

“Kau tahu apa?” sahut Giok-he sambil memandang lagi tulisan tadi, “Setiba di sini Suhu memang tidak mengalami sesuatu, tapi setelah beliau naik ke atas berarti akan menghadapi bahaya, masakah tidak kau lihat bahwa semua mi pada hakikatnya cuma sebuah perangkap.”

“Perangkap?” Liong Hui menegas.

“Ya, perangkap,” kata Giok-he. “Lebih dulu orang menjangkitkan emosi dengan kata-katanya yang menantang, lalu menyusutkan Lwekang Suhu, kemudian memancingnya ke sini. Ketiga hal ini satu per satu telah diatur dengan sangat rapi ….” ia menghela napas pula dan menyambung, “Pantaslah Suhu lantas terjebak.”

Seketika rasa girang Liong Hui bertiga berubah menjadi khawatir lagi.

Dengan prihatin Ciok Tim berkata, “Jika demikian, jadi keterangan nona she Yap yang mengatakan Tan-hong sudah mati mungkin juga dusta belaka.”

“Ya, sangat mungkin,” ujar Giok-he sambil mengangguk. “Dengan alasan ini dia minta Suhu menyusutkan Lwekangnya, juga berdasarkan ini melemahkan pengaruh Suhu sehingga beliau terpencil sendirian lalu dipancing lagi ke sini. Ai, setiba di sini, menuruti watak beliau yang keras, biarpun di depan sana sudah menanti gunung golok dan lautan minyak mendidih juga akan diterjangnya. Maka … maka beliau pun terjebak!”

Belum habis ucapannya, mendadak So-so melompat ke kaki dinding tebing terus merayap ke atas dengan cepat. Dipandang dari bawah, bajunya mengembung perlahan ke atas sehingga mirip gumpalan awan yang mengapung.

“Simoay, biarkan aku saja yang naik ke sana!” seru Ciok Tim sambil menyusul ke sana.

Namun So-so sudah cukup tinggi merayap ke atas.

Giok-he lantas mencegah Ciok Tim, katanya, “Tempat belasan tombak tingginya mungkin tidak menjadi soal bagi Simoay, jangan khawatir. Biarkan Simoay melihat apa yang tertulis di atas!”

Ciok Tim tidak membantah lagi, ia mendongak ke atas dengan rasa khawatir.

Semakin tinggi semakin gelap, gerak tubuh So-so juga mulai lamban.

“Sudah kau lihat sesuatu, Simoay?” seru Giok-he sambil menengadah.

“Ya, dapat kulihat dengan jelas,” jawab So-so.

“Hati-hati, Simoay!” seru Ciok Tim.

So-so tidak menjawab.

“Setelah membaca lekas turun kemari,” seru Giok-he pula.

Belum lenyap suaranya, dilihatnya So-so malah merayap perlahan ke atas lagi.

“Ha, Simoay, untuk apa naik ke atas lagi” teriak Liong Hui. Sampai di sini mendadak ia menjerit khawatir, “Wah, celaka!”

Tertampaklah tubuh So-so baru merayap sedikit ke atas lantas tidak tahan lagi dan segera merosot ke bawah.

Dengan khawatir Ciok Tim berlari maju dan siap di bawah.

Liong Hui dan Giok-he juga berteriak, “Awas, Simoay!”

Sementara itu tubuh So-so sudah jatuh ke bawah, meski dia berusaha mengimbangi dengan Ginkangnya, tapi terperosot dari tempat setinggi itu tetap sangat berbahaya.

Dengan memasang kuda-kuda yang kuat, sepenuh tenaga Ciok Tim menahan tubuh So-so yang anjlok ke bawah itu, ia tergetar mundur sempoyongan, akhirnya dapat berdiri tegak lagi.

Siapa tahu begitu kaki menyentuh tanah, So-so lantas mendorongnya sehingga Ciok Tim tertolak dua-tiga tindak lagi, keruan ia melenggong, di bawah cahaya obor kelihatan mukanya sebentar merah sebentar pucat, jelas sangat tidak enak perasaannya.

So-so memandangnya sekejap, mendadak menghela napas dan menunduk, ucapnya perlahan, “Maaf, terima kasih atas pertolonganmu!”

Hatinya bajik dan tidak suka melukai perasaan orang lain, apalagi tindakan Ciok Tim itu adalah karena ingin menolongnya, dengan sendirinya ia merasa tidak enak juga.

Giok-he memandang kedua muda-mudi itu, sedangkan Liong Hui sama sekali tidak memerhatikan persoalan pelik antara anak muda itu, ia lantas bertanya, “Simoay, apa yang tertulis di atas, kan sudah kau lihat dengan jelas?”

“Ya, sudah kulihat dengan jelas,” jawab So-so lirih sambil mengangkat kepala, tampaknya sangat kesal.

“Apa yang tertulis di sana?” tanya Liong Hui tak sabar.

Perlahan So-so lantas menguraikan apa yang dibacanya tadi, “Liong Po-si, engkau jadi naik ke sini? Jika demikian jelaslah Kungfumu tidak telantar. Turunlah kembali lurus ke bawah, lalu melangkah tujuh belas tindak ke kiri, di kaki tebing ada tetumbuhan akar-akaran, singkap tetumbuhan itu akan terlihat celah-celah yang cukup diterobos tubuh seorang, langsung masuk ke sana, setiba di ujung dapatlah kau lihat diriku! ….”

So-so berhenti sejenak, tapi Liong Hui lantas melangkah ke sebelah kiri sana sambil berhitung, “Satu, dua, tiga ….”

Cepat So-so memanggilnya, “Nanti dulu, Toako, masih ada ….”

“Ada apa? Maksudmu belum-habis tulisan yang kau baca itu?” tanya Liong Hui sambil menoleh.

So-so mengangguk, “Ya, masih ada satu baris yang berbunyi: Dan bila engkau masih ada sisa tenaga, naik lima tombak lagi ke atas, di situ juga ada tulisan, apakah kau ingin tahu?”

“Menuruti watak Suhu, biarpun mengadu jiwa juga pasti akan naik ke atas,” ujar Giok-he dengan gegetun.

“Tapi … tapi aku tidak sanggup lagi naik ke atas!” ucap So-so dengan menunduk, tampaknya sangat kecewa.

Liong Hui tertegun, katanya kemudian, “Ginkang Simoay jauh lebih hebat daripadaku, jika dia tidak mampu naik ke atas apalagi aku.”

“Biar kucoba,” seru Ciok Tim.

“Ginkang Toaso lebih bagus daripadamu, biarkan dia saja yang naik ke atas,” ujar Liong Hui.

“Tidak perlu dicoba lagi,” sela So-so, “Toaso juga takkan mampu naik ke atas. Setelah mencapai ketinggian sana, untuk merayap sejengkal lagi rasanya terlebih sulit daripada merayap setombak dari bawah sini, kalau ingin mendaki lima tombak yang disebutkan itu, biarpun kulatih sepuluh tahun lagi juga tidak sanggup.”

“Ya, dapat kupahami keteranganmu ini,” kata Giok-he sambil mengangguk.

Hendaknya diketahui, Ginkang sebagai “cecak merayap” dan “awan mengapung” segala itu pada dasarnya cuma dorongan tenaga yang dikerahkan seketika. Bilamana sudah mencapai ketinggian dari tenaga yang dikerahkan, untuk naik lebih tinggi lagi jelas sangat sulit.

Dengan sendirinya Liong Hui dan Ciok Tim juga dapat memahami dalil ini.

“Lantas bagaimana?” tanya Liong Hui kemudian.

“Jika tidak ada jalan lain, betapa pun harus kucoba!” ujar Ciok Tim.

“Bila tidak ada jalan lain, biarpun kau coba juga percuma,” kata Giok-he. “Lebih baik kita periksa celah-celah di sebelah kiri yang disebutnya itu.”

“Betul, harus kita periksa sesungguhnya siapakah yang meninggalkan tulisan itu,” seru Liong Hui.

Giok-he tersenyum, “Tanpa melihatnya juga kutahu siapa dia.”

“Oo, memangnya siapa?” tanya Liong Hui.

“Kecuali Tan-hong Yap Jiu-pek masakah ada orang lain? Selain Yap Jiu-pek masakah ada orang berani bicara seketus itu terhadap Suhu?”

“Tapi … bukankah Yap Jiu-pek sudah mati?” Liong Hui merasa sangsi.

“Kan sudah kukatakan sejak tadi bahwa semua ini cuma perangkap saja,” kata Giok-he. “Cuma di mana letak ujung tali jeratan ini sejauh ini belum kita ketahui, kecuali … kecuali dapat kulihat sebenarnya apa yang tertulis di tempat paling atas sana.”

Belum lenyap suaranya sekonyong-konyong dari ketinggian tebing yang tak terlihat jelas itu terjulur seutas tali panjang.

Keruan So-so berempat berteriak kaget mereka memandangi tali yang terjulur di depan mereka ini dengan melongo dan tak dapat bersuara sampai sekian lamanya.

Keempat orang itu saling pandang dengan sangsi dan ngeri. Ternyata di atas tebing yang tak terlihat jelas itu terdapat jejak manusia.

Dengan suara tertahan akhirnya Ciok Tim berkata, “Yang melemparkan tali ke bawah ini entah apakah juga orang yang menyalakan obor ini?”

Giok-he mengangguk, “Ya, kukira orang yang sama.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: