Kumpulan Cerita Silat

21/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:55 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 06. Ting-hiang ih, si nona Bunga Cengkeh
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Cuma saja, rasa lega demikian tidak bertahan lama. Pada esok paginya, diketahuinya orang yang menguntitnya dari tiga orang telah berubah lagi menjadi sepuluh orang.
Agar malamnya bisa tidur nyenyak, sedapatlah Siau-hong tidak menoleh, sebisanya ia berlagak tidak tahu.

Sebaliknya Ting-hiang-ih justru terus menerus berpaling dan mengintip ke belakang melalui jendela kecil di belakang kereta.

“Akhirnya ia tidak lahan dan bertanya. “Orang-orang di belakang itu kembali hendak membuntuti jejakmu?” Dengan ogah-ogahan Siau-hong mengangguk.

“Agaknyu sejak kemarin malam mereka mulai mengintai dirimu.”

“Oo?” heran juga Siau-hong.

“Apakah kau tahu siapakah mereka?”

“Tidak!” Siau-hong memang benar tidak tahu.

Ting-hiang-ih lantas menutup jendela kecil itu dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Siau-hong, tubuhnya yang hangat menempel rapat di dada Liok Siau-hong yang bidang, tapi kedua tangannya terasa sedingin es.

“Aku takut!” desis si nona sambil merangkul Siau-hong erat-erat.

“Takut apa?” tanya Siau-hong.

“Di antara ketujuh orang penguntit itu ada seorang yang ‘kurang separoh’ bentuknya sangat menakutkan!”

“Apa artinya ‘kurang separoh’?”

Ternyata yang dimaksudkan ‘kurang separoh’ adalah mata buta sebelah, telinga hilang satu, tangan kiri juga buntung dan kaki kiri diganti dengan kaki palsu dari kayu, yang hilang itu semuanya sebelah kiri.

“Tapi yang paling menakutkan justru separoh bagian yang tidak berkurang itu,” kata Ting-hiang-ih pula.

Ternyata mata kanan, hidung dan mulut orang itu, semuanya merot, miring, berubah bentuk.
Tanpa sadar Ting-hiang-ih menggenggam tangan Siau-hong erat-erat, ucapnya, “Orang ini tampaknya serupa boneka kain yang mengerut terkena air, lalu disobek orang separoh bagian kirinya.”

“Boneka kain?” Siau-hong merasa bingung.

“Usianya belum begitu lanjut, perawakannya juga kecil, mukanya semula tentu bundar serupa boneka, tapi sekarang…”

Ting-hiang-ih tidak melanjutkan, dilihatnya sinar mata Siau-hong memancarkan rasa mual, maka cepat ia berganti nada dan bertanya, “Apakah kau tahu siapa dia?”

Siau-hong hanya menggeleng saja. Dia seperti tidak suka membicarakan orang ini, serupa dia tidak suka menginjak seekor ular berbisa.

Akan tetapi Ting-hiang-ih justru bertanya lagi, “Namun kau pasti tahu siapa dia bukan?”

Ada sementara orang perempuan memang suka bertanya dan bertanya lagi, apabila dia ingin tahu sesuatu dan tidak kau beritahukan padanya, bisa jadi dia akan bertanya tiga hari tiga malam terus menerus tanpa bosan.

Akhirnya Siau-hong menghela napas dan berkata, “Semula orang ini bernama Im-yang-tongcu (si anak Im dan Yang, maksudnya banci), setelah bertemu dengan Sukong Ti-sing, lalu berganti nama.”

“Berganti nama apa?” tanya pula Ting-hiang-ih.

“Im-tong-cu!” tutur Siau-hong.

Ting-hiang-ih tertawa, “Semula dia bernama Im-yang-tongcu, tentu lantaran dia memang seorang banci!”

“Ehmm,” Siau-hong bersuara singkat.

“Akan tetapi Sukong Ti-sing telah memusnahkan separo badannya yang lelaki, maka dia terpaksa berganti nama menjadi Im-tong-cu!” kata Ting-hiang-ih lebih lanjut.

“Ehmm,” Siau-hong mengangguk.

“Mengapa Sukong Ti-sing tidak membunuhnya saja sekalian?”

“Sebab biasanya Sukong Ti-sing sangat jarang membunuh orang!”

“Apakah juga disebabkan Sukong Ti-sing menganggap separuh tubuhnya yang perempuan itu tidak berbuat kejahatan apa-apa?” tanya pula Ting-hiang-ih.

Kembali Siau-hong hanya bersuara “ehmm” saja.

Tiba-tiba Ting-hiang-ih berkata, “Sungguh aku ingin mencari seorang banci, ingin kulihat sebenarnya bagaimana bentuk kelainan tubuh mereka?”

“Ada juga sesuatu yang aku tidak mengerti!” kata Siau-hong.

“Hal apa?”

“Mengapa mukamu tidak pernah merah bilamana membicarakan hal-hal demikian.”

oooOOOooo

Sekarang muka Ting-hiang-ih kelihatan sangat merah, bukan lantaran dia merasa malu, tapi karena dia baru habis mandi air panas.

Hotel ini bernama Kiat-siang-keh-can atau hotel Selamat. Sewa kamarnya juga tiga tahil perak semalam dengan servis air mandi panas tersedia siang dan malam.

Dengan sebelah tangan memegang gelung rambut dan tangan lain memegang handuk, Ting-hiang-ih keluar dari kamar mandi, dengan pantatnya yang padat ia mendorong pintu kamar, serunya sambil tertawa ngikik. “Ai, kamar di sini terlalu mahal, tamu sangat sedikit, di luar tidak ada seorang pun. seharusnya kau mandi bersamaku.”

Siau-hong tidak menghiraukan, sebab ia sedang tekun mempelajari sebuah peti kayu cendana. Peti ini terletak di atas meja di depannya, terukir dengan sangat indah, bagian ujung peti dilapisi emas, serupa jenis peti yang biasanya digunakan menyimpan barang berharga di keluarga hartawan.

Ketika Ting-hiang-ih membalik tubuh dan melihat peti itu, ia lantas bertanya, “Darimana datangnya peti ini?”

“Pelayan yang mengantarnya kemari,” tutur Siau-hong.

“Siapa yang menyuruhnya?”

“Entah!”

“Apa isi peti ini?” Siau-hong juga tidak tahu.

Ting-hiang-ih mendekatinya dan berkata pula, “Kenapa tidak kau buka saja, memangnya kau takut akan menerobos keluar seekor ular berbisa?”

“Kutakut nanti menerobos keluar seorang perempuan serupa dirimu,” kata Siau-hong.

Setelah melototi Siau-hong sekejap, dengan tertawa Ting-hiang-ih berucap pula. “Aku justru berharap akan menerobos keluar seorang lelaki, sebaiknya semacam dirimu!”

Tanpa disuruh ia lantas membuka peti itu, tapi wajahnya yang tertawa seketika membeku, ia melongo kaget.

Isi peti ternyata ada ratusan biji gigi putih dan lima utas ikat pinggang hitam, ikat pinggang yang berlepotan darah.

Gigi Ting-hiang-ih gemertuk, setelah menggigil barulah ia dapat bersuara, “Ini … ini gigi manusia?”

Siau-hong mengangguk, air mukanya juga kelihatan rada pucat.

“Lalu apa artinya pula kelima utas ikat pinggang hitam ini?”

“Tidak tahu,” sahut Siau-hong.

“Tampaknya segala apa kau bilang tidak tahu.” omel Ting-hiang-ih.

“Aku cuma tahu sesuatu,” ujar Siau-hong.

“Coba katakan!”

“Urusan orang lelaki sebaiknya orang perempuan jangan ikut campur, juga jangan bertanya.”

Sekali ini Ting-hiang-ih ternyata sangat penurut benar-benar berduduk dan tutup mulut.

Hal ini disebabkan dia lemas ketakutan, setelah tenaga agak pulih, segera ia bersuara pula. “Ketujuh orang yang menguntit dirimu tadi, tampaknya juga mengenakan ikat pinggang hitam.”
Siau-hong hanya menarik muka tanpa menjawab. Diam-diam ia pun merasa kagum atas kecermatan si nona.

Pembawaan orang perempuan memang lebih cermat daripada orang lelaki, terutama jenis perempuan yang suka mengusut dan bertanya urusan tetek bengek.

“Ketujuh orang penguntit baru ini apakah sekomplotan dengan kelima orang yang terbunuh semalam itu?” tanya Ting-hiang-ih pula.

Siau-hong memandangnya tanpa menjawab, sejenak kemudian barulah ia berkata, “Jadi sengaja kau ingin ikut campur urusanku?”

Ting-hiang-ih tersenyum. “Seharusnya kau tahu, sedikitnya kita bukan lagi orang luar!”

Siau-hong berkala pula, “Jika begitu kau mesti melakukan sesuatu bagiku.”

“Urusan apa?” tanya Ting-hiang-ih.

“Antarkan peti ini ke seberang sana!”

“Apa katamu?” teriak si nona.

“Kuminta padamu antarkan peti ini ke kamar seberang, sebab pembunuh kelima orang ini yang sesungguhnya tinggal di sana.”

Ting-hiang-ih memandangnya dengan tercengang, air mukanya berubah pucat lagi.

“Jika urusan kecil begini saja tidak berani kau kerjakan, berdasarkan apa kau berani ikut campur urusan orang lain!” jengek Siau-hong.

Ting-hiang-ih mengertak gigi, setelah menggentakkan kakinya, “blang”, ia tutup peti itu dan diangkatnya terus menerobos keluar tanpa berpaling.

Siau-hong sengaja tidak memandangnya, tiba-tiba ia merasa hati sendiri jauh lebih keras daripada dahulu, bagi seorang petualang seperti dia, hal ini jelas semacam perbuatan yang baik. Cuma sayang, hatinya tetap merasa tidak enak.

Betapapun terasa kejam menyuruh seorang anak perempuan membawa sebuah peti yang berisi gigi orang mati dan diantarkan kepada tiga orang pembunuh.

“Tapi harus kuberitahukan mereka akan persoalan ini,” ia coba menghibur diri sendiri. “Harus kusuruh dia ke sana. mengingat harga diri ketiga makhluk tua aneh itu, tentunya mereka takkan membikin susah seorang anak perempuan.”

Setelah perasaannya agak tenteram, barulah ia mulai memikirkan hal-hal yang seharusnya dipikirkannya sejak tadi-tadi.

Ia tidak mengerti sesungguhnya ada permusuhan apa antara orang-orang itu dengan dirinya. Mengapa mereka menguntitnya sejauh ini dan ingin membinasakannya?

Mengapa mereka sama memakai ikat pinggang hitam? Sesungguhnya mereka berasal dari organisasi atau sindikat apa?”

Tali hitam, ikat pinggang hitam.

Siau-hong menunduk, ia ingin melihat ikat pinggang sendiri berwarna apa? Tapi lebih dulu terlihat kaos kaki sendiri yang berwarna putih.

Seketika teringat olehnya akan sindikat “Sepatu Merah” dan “Jing-ih-lau” atau gedung baju hijau.

Cuma peristiwa yang mendebarkan tempo hari itu bilamana direnungkan lagi rasanya menjadi tidak seberapa lagi. Kini yang paling menakutkan adalah Hek-tai-cu atau tali hitam.

Jika orang semacam Im-tong-cu juga menjadi anggota komplotan ini, maka dapat dibayangkan sindikat mereka ini pasti sangat rahasia, ketat dan menakutkan.

Selagi Siau-hong berusaha merenungkan apa yang masih teringat olehnya untuk menemukan asal-usul sindikat tali hitam ini, dilihatnya Ting-hiang-ih telah kembali, kembali dengan bertangan kosong.

“Sudah kau antar ke sana peti tadi?” tanya Siau-hong.

“Ehmm.” Ting-hiang-ih mengangguk.

“Apa yang mereka katakan?”

“Tidak berkata apa-apa!” muka Ting-hiang-ih masih cemberut, “Sebab mereka tidak berada di tempat, maka kuserahkan peti itu kepada kacung mereka.”

“Kacung itu juga tidak tahu dimana mereka berada?” tanya Siau-hong pula.

Ting-hiang-ih menggeleng, tiba-tiba ia mendengus, “Hm, tidak peduli kau kirim peti itu kemana pun tetap orang banci itu akan mencari dirimu.”

“Tidak nanti dia mencari diriku!”

“Kenapa?” tanya Ting-hiang-ih.

“Sebab sekarang juga hendak kupergi mencari dia!” jawab Siau-hong.

Ting-hiang-ih terkejut, meski dia berlagak hendak marah, tapi sorot matanya menunjukkan rasa prihatin, tanyanya. “Apakah kau tahu mereka berjumlah berapa orang?”

“Tujuh!”

“Tentunya kau tahu tujuh orang berarti ada 14 tangan?”

“Aku dapat menghitung!”

“Tapi tanganmu hanya sepasang!”

Siau-hong tertawa. “Coba jawab, lebih berharga mana emas satu tahil atau besi satu kati?”

“Tentu saja emas satu tahil !”

“Nah, makanya terkadang sepasang tangan jauh lebih berguna daripada 14 tangan!”

Ting-hiang-ih memandangi Siau-hong melangkah keluar, setiba di ambang pintu, mendadak ia bertanya, “Kau yakin akan pulang dengan hidup?”

Siau-hong tertawa tanpa menjawab.

“Ada berapa bagian keyakinanmu?”

Mau tak mau Siau-hong menoleh dan berkata. “Untuk apa kau tanya sejelas ini?”

Ting-hiang-ih menarik muka. jengeknya. “Jika setengah keyakinan saja tidak ada, akan lebih baik kau tinggalkan Ginbio dalam bajumu, umpama aku harus menjadi janda, biarlah jadi janda kaya.”

Siau-hong memandangnya hingga lama. perlahan ia mengeluarkan segebung Ginbio tadi dan ditaruh di atas meja tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Jangan khawatir, selama hidupmu ini tidak nanti menjadi janda.”

“Sebab apa?” tanya Ting-hiang-ih.

“Sebab berani kujamin di dunia ini pasti tidak ada lelaki yang berani mengambil dirimu sebagai isteri.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: