Kumpulan Cerita Silat

21/02/2008

Duke of Mount Deer (27)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 12:15 am

Duke of Mount Deer (27)
Oleh Jin Yong

Siau Po heran sekali. Diam-diam dia berpikir di dalam hati.

“Aku adalah kepala para thaykam di Siang Sian tong, berarti kedudukanku lebih tinggi daripada kedudukanmu. Mengapa kau malah jalan di depanku? Usia thaykam ini sudah tidak muda lagi. Tidak mungkin kalau dia tidak tahu aturan.” Dengan membawa pikiran demikian, dia segera bertanya:

“Kongkong, siapakah nama dan she kongkong yang mulia? Rasanya kita jarang bertemu….”

Thaykam itu tertawa dan berkata, “Kongkong menjadi orang kesayangan Sri Baginda. Sebaliknya kami hanya para thaykam biasa. Sudah tentu kongkong tidak kenal dengan kami.”

“Tapi,” kata Siau Po. “Sri Baginda menitahkan kalian memanggilku, berarti kalian bukan thaykam biasa!”

Ketika berbicara, lagi-lagi Siau Po dilanda keheranan. Thaykam yang menjemputnya itu mengajaknya ke arah tiinur, sedangkan kamar raja letaknya di Tenggara.

“Eh, eh! Kau salah jalan!” tegur Siau Po sembari tertawa. Dia memang merasa heran, tapi tidak curiga. Dia malah menertawakan thaykam itu begitu tolol sehingga dimana letak kamar raja pun paham.

“Tidak salah!” sahut thaykam itu. “Sri Baginda sedang menjenguk thayhou. Agar kita tidak menganggunya, kita langsung saja menuju kamar Ibu Suri. ”

Mendengar thaykam itu menyebut Ibu suri, Siau Po terkejut setengah mati. Mendadak dia menghentikan langkah kakinya. Justru karena dia berhenti, ketiga thaykam yang mengiringinya langsung melompat dengan posisi mengurungnya. Siau Po tambah tercekat hatinya.

‘Celaka!’ pikirnya. ‘Ini pasti bukan panggilan dari Sri Baginda. Tentu thayhou yang menitahkan mereka untuk membekukku!’ Dia pun bingung. Dia tidak tahu apakah keempat thaykam itu mengerti ilmu silat atau tidak. Tapi satu lawan empat saja, Siau Po sudah sangsi. Lagipula, bila sampai terjadi pertempuran, pasti para siwi akan bermunculan dan pada saat itu semakin kecil kesempatannya untuk melarikan diri.

Meskipun hatinya tercekat, tapi pada dasarnya Siau Po memang cerdas sekali. Dengan cepat dia berhasil menguasai dirinya. Setelah tertegun sejenak, dia segera tertawa dan berkata.

“Ke kamarnya thayhou? Bagus! Setiap kali ke kamar thayhou, aku selalu diberinya hadiah. Kalau bukan uang emas, sedikitnya kembang gula serta kue yang lezat. Dalam hal memperlakukan para hambanya, thayhou memang yang paling baik hatinya. Dia suka mengatakan aku sebagai budak yang mulutnya paling rakus!”

Sembari berkata, Siau Po melangkahkan kakinya menuju arah kamar tidur Ibu suri.

Melihat keadaan itu, keempat thaykam yang mengiringinya tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka berjalan kembali seperti posisi semula. Satu di depan, tiga lagi mengintil di belakang.

Siau Po berkata kembali.

“Belum lama ini ketika aku menghadap thayhou, rejekiku bagus sekali. Aku dipersen uang emas sebanyak lima ribu tail dan uang perak dua laksa tail. Tenagaku masih kecil, mana kuat aku mengangkat uang sebanyak itu. Tapi thayhou memang sangat baik, dia mengatakan, kalau aku tidak kuat mengangkatnya sekaligus, aku boleh membaginya beberapa kali angkat. Kemudian thayhou juga bertanya kepadaku: ‘Eh, Siau Kui cu, uang sebanyak itu akan kau gunakan untuk apa?’

Aku pun menjawab: ‘Harap thayhou ketahui, hambamu gemar mengikat persahabatan dengan para thaykam di istana. Mana saja yang baik, pasti hambamu akan menghadiahkan uang agar dapat mereka gunaan untuk bersenang-senang!”

Sembari berbicara, sebetulnya otak Siau Po juga bekerja mencari akal agar mendapat kesempatan untuk meloloskan diri. Kata-katanya membuat mereka jadi ragu.

“Mana mungkin thayhou memberi persen dalam jumlah yang demikian banyak?” kata salah seorang thaykam yang mengiringinya dari belakang.

“Apa? Kau tidak percaya?” tanya Siau Po. “Nih, lihat sendiri!”

Siau Po merogo kantongnya serta mengeluarkan uangnya. Ada uang emas, ada juga uang perak. Nilainya paling kecil lima ratus tail. Melihat uang sebanyak itu, keempat thaykam itu jadi terpaku!

Siau Po memperhatikan mereka lekat-lekat. Dia menarik empat lembar uang kertasnya kemudian tersenyum.

“Sri Baginda dan thayhou tidak henti-hentinya menghadiahkan uang kepadaku. Mana mungkin aku bisa menghabiskannya? Di sini ada empat lembar uang kertas, ada yang nilainya seribu tail, ada yang nilainya dua ribu tail. Sekarang coba kalian uji peruntungan saudara sekalian! Masing-masing menarik sehelai!”

Keempat thaykam itu merasa heran. Untuk sesaat mereka jadi bimbang.

“Walaupun kau seorang dermawan, tidak mungkin kau menghadiahkan uang sebanyak itu!” kata para thaykam itu.

Siau Po tersenyum.

“Uangku banyak sekali, kemana aku harus menghamburkannya? Bahkan kadangkala aku direpotkan oleh uang-uang itu. Sekarang aku akan menghadap Sri Baginda dan thayhou, entah berapa banyak lagi hadiah yang akan kuterima!”

Dia mengangkat uangnya tinggi dan mengibar-ngibarkannya.

Seorang thaykam menatapnya dengan tajam. Kemudian dia tertawa dan bertanya.

“Kui kongkong, benarkah kau hendak memberi persen kepada kami? Apakah kau tidak sedang bermain-main?”

“Siapa yang main-main?” kata Siau Po. “Dari semua saudara-saudaraku di Siangsian tong, siapa yang belum pernah menerima hadiah sebanyak delapan ratus atau seribu tail dariku? Nah, saudara-saudara sekalian, mari! Cobalah peruntungan kalian dengan masing-masing menarik selembar uang ini. Ayo, siapa yang mengundi terlebih dahulu?”

Salah seorang thaykam tertawa.

“Aku!” katanya.

“Tunggu sebentar!” kata Siau Po kembali. “Kalian harus melihat dulu biar tegas!”

Lalu keempat lembar uang kertas itu didekatkan pada lentera. Keempat thaykam itu mengerumuni untuk memperhatikan. Ternyata memang benar, uang kertas itu bernilai seribu serta dua ribu

Hati mereka sampai berdenyutan melihatnya. Watak para thaykam memang aneh. Mereka dak mempunyai anak isteri. Juga tidak dapat mendapat pangkat yang tinggi, tapi mereka selalu tergila-gila akan uang. Mungkin harta benda merupakan satu-satunya hiburan bagi mereka dalam dunia. Meskipun tinggal dalam istana, gaji seorang thaykam sangat kecil, belum pernah mereka melihat uang yang nilainya sampai ribuan tail. Sekarang, melihat uang kertas di tangan Siau Po, iman mereka menjadi goyah.

Siau Po mengibas-ngibaskan uang kertasnya.

“Nah, saudara-saudara. Saudara inilah yang akan mencoba peruntungannya terlebih dahulu!” katanya pada thaykam yang mengajukan dirinya

Thaykam itu segera mengulurkan sebelah tangannya. Siau Po tidak menunggu sampai tangan itu berhasil menyentuh uang kertasnya. Secara tiba-tiba dia mengendorkan genggamannya sehingga uang kertas itu terlepas dan berterbangan terbawa angin. Lalu dia sengaja berseru.

“Ah! Kenapa kau tidak bertindak cepat dia mencekalnya erat-erat? Lekas, lekas rebut kembali! Siapa yang dapat, dia yang berhak memilikinya!”

Keempat thaykam itu adalah orang-orangnya Ibu Suri. Mereka mendapat perintah menyusul Sui Tong. Tugas mereka ialah memanggil Siau Po atas nama Sri Baginda. Kalau thaykam cilik itu membangkang, mereka harus membekuknya.

Ibu suri melakukan hal ini karena merasa khawatir. Meskipun Sui Tong berkepandaian tinggi, tapi takutnya dia kalah cerdas dengan Siau Po. Dia sendiri pernah ditusuk oleh Siau Po sehingga tangannya terluka parah.

Keempat orang itu tidak mendapat perintah untuk membunuh bocah cilik itu, karenanya mereka hanya bersikap mengurung. Tapi sekarang mereka disodori uang sebanyak ribuan tail, sehingga mereka lupa akan tugas yang sedang dijalankan. Mereka juga tidak curiga, karena si thaykam cilik yang seharusnya mereka bekuk, tidak mengadakan perlawanan sama sekali. Karena itu pula, melihat uang kertas yang berterbangan, mereka segera berlarian mengejarnya.

“Lekas! Lekas I!” seru Siau Po menambah semangat mereka. Namun, mulutnya berteriak, kakinya pun digerakkan juga. Dia berlari meninggalkan tempat itu dan masuk dari sebuah gunung buatan yang telah ia kenal baik situasinya. Memang dari tadi dia sudah memikirkan jalan untuk menyelamatkan diri. Di dalam taman itu banyak gunung buatan, banyak juga gua buatan yang berliku-liku. Siapa pun yang lari bersembunyi di tempat itu, tentu tidak mudah ditemukan.

Dari keempat thaykam itu, ada satu yang berhasil mendapatkan dua lembar uang kertas. Salah satunya malah tidak mendapatkan apa-apa, karena itu dia meminta bagian pada temannya yang mendapat dua lembar. Tapi permintaannya sudah tentu ditolak sehingga timbullah pertengkaran di antara mereka.

“Bukankah tadi Kui kongkong telah mengatakan bahwa siapa yang mendapatkan berhak memilikinya?” kata thaykam yang beruntung itu. “Maka kedua lembar uang kertas ini adalah milikku!”

“Tapi tadi juga sudah dijelaskan bahwa setiap orang mendapat satu helai!” kata kawannya berkeras. “Kau bagi selembar kepadaku. Cukup yang seribu tail saja!”

“Apa! Seribu tail?” bentak thaykam yang beruntung itu. “Enak saja! Satu tail pun tidak akan kuberikan!”

Kawan itu menjadi panas mendengarnya, dia segera menjambak dada rekannya.

“Kau mau memberikan atau tidak?” tanyanya dengan sikap mengancam.

“Mari kita minta Kui kongkong yang menentukan!” Kata si thaykam. yang beruntung itu. Dia segera memutar tubuhnya dan saat itu juga dia menjadi tertegun.

Siau Po tidak ada lagi di antara mereka.

“Lekas cari dia! Lekas!” teriak thaykam itu.

Para thaykam yang tidak mendapatkan uang tidak mau mengerti. Dia masih mencekal lengan orang itu.

Siau Po sudah lari sejauh belasan tombak, tapi mendengar suara pertengkaran di antara kedua orang. Diam-diam dia menertawakan dalam hati. Kemudian dia berpikir, “Aku akan bersembunyi di sini sampai fajar menyingsing. Aku akan menyingkir dari pintu samping. Aku tidak akan kembali ke sini lagi!”

Ketika itulah terdengar suata langkah kaki ramai mendatangi, disusul dengan suara percakapan.

“Malam ini datang pemberontak yang menyerbu, besok kita pasti mendapat teguran. Mungkin juga ada yang kena hukuman,” kata salah seorang di antaranya.

Siau Po mengenali mereka sebagai para pengawal istana. Lalu terdengar seorang yang lainnya berkata.

“Semoga besok Kui kongkong membantu kita berbicara beberapa patah kata di depan Sri Baginda….”

Kemudian terdengar lagi suara siwi yang ketiga.

“Kui kongkong masih muda sekali, tapi baik dan bijaksana. Sungguh sukar menemukan orang seperti dia!”

Mendengar suara mereka, senang sekali hati Siau Po. Segera dia keluar dari tempat persembunyiannya.

“Hai! Saudara-saudara sekalian! Jangan bersuara keras-keras!” katanya.

Dua orang yang berjalan di depan segera mengangkat lenteranya tinggi-tinggi.

“Oh, Kui kongkong!” seru mereka perlahan.

Siau Po melihat belasan siwi yang tadi ada di depan kamarnya. Dia bahkan masih ingat nama-nama mereka.

“Tio toako!” katanya. “Di sana ada empat orang Thaykam yang bersekongkol dengan kawanan pemberontak yang menyerbu malam ini. Lekas kalian bekuk mereka, pasti kalian bernyali besar sekali!” Kemudian dia menoleh kepada siwi lainnya. “Dan kau, Ong toako, Cia toako, kalian totok saja otot gagu mereka atau hajar rahang mereka agar tidak bisa berkaok-kaok, dengan demikian kalian tidak akan mengejutkan Sri Baginda!”

Sekalian siwi itu percaya penuh dengan ucapan Siau Po. Mereka juga tidak perlu merasa khawatir karena antek-antek para penjahat itu hanya terdiri empat orang thaykam. Segera mereka menghentikan pembicaraan, lentera juga dipadamkan. Dengan mengendap-endap mereka menuju tempat yang ditunjuk oleh Siau Po.

Keempat thaykam itu masih mencari-cari Siau Po. Tegasnya dua orang yang mencari, sedangkan yang lainnya masih bertengkar. Dalam sekejap keempat thaykam itu sudah didekati dan dengan mudah berhasil dibekuk. Di antara mereka ada yang tidak mengerti ilmu menotok. Karena itu mereka menghajar muka keempat thaykam itu sehingga mereka tidak sanggup berteriak. Suaranya hanya terdengar desahan saja.

“Bawa mereka ke kamar itu!” kata Siau Po seraya menunjuk sebuah kamar yang 1etaknya di samping. “Paksa mereka berkata sejujurnya!”

Dia sendiri juga ikut masuk ke dalam kamar itu. Bahkan dia duduk di tengah ruangan.begitu lentera dinyalakan kembali.

Para pengawal itu menyuruh keempat thaykam tersebut untuk bertekuk lutut, tetapi mereka membangkang karena menganggap mereka adalah orang-orangnya Ibu suri dan tidak pantas diperlakukan seperti itu. Itulah sebabnya mereka kembali mendapat hajaran keras. Para pengawal itu menampar, meninju juga menendang serta memaksa mereka bertekuk lutut.

“Barusan kalian berempat kasak-kusuk, sikap kalian mencurigakan. Lagak kalian seperti pencuri dan terus bertengkar,” kata Siau Po yang mulai dengan gayanya yang khas. “Kalian juga menyebut-nyebut jumlah uang. Kalau tidak salah, seribu tail milik si anu, dua ribu tail milik si ini! Mengapa kalian juga mengatakan bahwa kawan-kawan kalian dari luar itu tidak bagus peruntungannya karena ada beberapa yang terluka dan mati di tangan para siwi anjing?”

Mendengar kata-kata Siau Po, para siwi itu menjadi marah sekali. Lagi-lagi mereka mengirimkan tendangan dan tinju kepada keempat thaykam tersebut.

Para thaykam itu berteriak-teriak penasaran, tapi suara mereka tidak jelas kedengaran, karena rahang mereka sulit digerakkan.

“Kalian tahu, aku telah menguntit kalian!” kata Siau Po kembali. Dia terpaksa memfitnah untuk membela dirinya sendiri. Dia juga merasa tidak ada salahnya bersikap keras terhadap orang-orangnya Ibu Suri yang ingin mencelakakan dirinya. “Lekas bicara! Aku dengar tadi kau mengatakan: ‘Akulah yang menunjukkan jalan untuk mereka dan uang ini adalah pemberian mereka, karena itu mana boleh aku membagikannya kepadamu?”

Sembari berbicara, Siau Po menunjuk pada kedua lembar uang kertas yang diperebutkan tadi. Lalu dia menuding kepada thaykam yang tidak berhasil mendapatkan apa-apa.

“Bukankah tadi kau mengatakan bahwa perkalian ini dapat membuat batok kepala pindah rumah dan dosa yang harus dipikul eratnya sehingga uang itu harus dibagi sama rata. Kau juga mengatakan biar bagaimana pun kau harus mendapat bagian?”

“Mereka menjadi musuh dalam selimut, dosa mereka memang besar sekali. Ada kemungkinan batok kepala mereka memang bisa pindah rumah!” kata beberapa siwi memberikan pendapatnya. “Terbukti mereka sedang membagi hasil. Mari kita geledah pakaian mereka!”

kata-kata itu segera dibuktikan. Ternyata selain kedua lembar uang kertas yang sedang diperebutkan pada kedua thaykam ditemukan dua lembar uang kertas lainnya. Karena itu, para siwi itu jadi gaduh. Mereka tahu gaji seorang thaykam sebulannya hanya dua sampai tiga tail perak. Tapi sekarang mereka mempunyai uang kertas senilai seribu dan dua ribu tail.

“Bagus!” kata seorang siwi. “Para penyerbu itu pasti memberikan uang ini sebagai hadiah mereka yang telah menjadi pemasuk atau penunjuk jalan. Sialnya mereka juga mengejek kita sebagai siwi anjing! Sekarang biar mereka mendapatkan bagian masing-masing!”

Saking sengitnya para siwi itu menendang dengan hebat, salah seorang thaykam langsung terguling di atas tanah dan nyawanya pun melayang seketika.

“Jangan sembrono!” kata seorang siwi lainnya.

“Mereka harus diperiksa dengan seksama!” Rupanya siwi yang satu ini lebih sabar wataknya. Dia malah menolong seorang thaykam untuk bangkit dan mengurut-urut rahangnya agar dapat berbicara.

“Ayo katakan!” bentak Siau Po. “Siapa yang menyuruh kalian melakukan perbuatan nekat ini? Nyalimu sungguh besar sekali. Cepat katakan!”

“Aku merasa penasaran!” teriak thaykam itu.

“Kami adalah thaykam thayhou dan kami sedang menjalankan perintah….”

“Ngaco!” bentak Siau Po sambil menerjang ke depan. Dengan tangan kirinya dia membekap mulut Thaykam itu, sedangkan tangan kanannya menghajar batok kepala orang sehingga thaykam itu jatuh tidak sadarkan diri. Kemudian dia berkata kepada para siwi: “Saudara sekalian, dia menyebut-nyebut nama thayhou. Hal ini bisa membahayakan kita!”

Para siwi itu terkejut setengah mati. Untuk sesaat mcreka mempunyai pikiran yang sama.

“Mungkinkah mereka sedang menjalankan perintah thayhou untuk menjadi penunjuk jalan bagi para pemberontak itu?’

Para siwi itu mengetahui bahwa Sri Baginda bukan putra kandung thayhou yang sekarang. Ibu Suri juga sangat cerdik. Karena itu, mereka langsung menduga bahwa ada kemungkinan Raja telah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi thayhou sehingga ibu tirinya itu mengambil tindakan sedemikian rupa. Mereka juga sadar dalam istana segala hal apa pun dapat terjadi. Karena itu, hati mereka menjadi was-was.

Siau Po melanjutkan pemeriksaannya.

“Benarkah kalian sedang menjalankan titah Thayhou?” tanyanya pada salah seorang thaykam. “Urusan ini hebat sekali. Kalian tidak boleh sembarangan bicara! Benarkah kamu dititahkan oleh thayhou?”

Thaykam itu tidak dapat berbicara. Karena itu ia hanya menganggukkan kepalanya.

“Apakah uang ini juga pemberian Ibu suri?” tanyanya kembali.

Thaykam itu menggelengkan kepalanya.

Siau Po tahu apa yang harus dia katakan. “Kalian sedang menjalankan perintah. Karena itu apa yang kalian lakukan bukan keinginan kalian sendiri, bukan?” demikian dia bertanya.

Thaykam itu kembali menganggukkan kepalanya.

“Sekarang katakan! Kalian ingin hidup atau mati?”

Tentu saja pertanyaan itu menyulitkan kedua thaykam tersebut. Untuk sesaat mereka bingung. Yang pingsan tadi juga sudah sadar. Dia menganggukkan kepalanya sedangkan yang lain menggeleng. Lalu ketiga-tiganya mengangguk serentak dan akhirnya menggeleng bersama-sama pula.

“Jadi kalian mau mati?” tanya Siau Po menegaskan.

Ketiga thaykam itu menggelengkan kepalanya.

“Oh, jadi kalian ingin hidup?” tanya Siau Po.

Mereka segera menganggukkan kepala.

Siau Po segera menarik tangan dua orang siwi yang menjadi pemimpin lalu mengajaknya keluar dari kamar itu. Di sana dengan suara lirih dia berkata kepada kedua orang itu.
“Tio toako, Cio toako, kepala kita juga bisa pindah rumah!” Kedua siwi itu, yakni Tio Kong-lian dan Cia Ci-hian terkejut setengah mati mendengar perkataannya.

“Lalu… apa yang harus kita lakukan?” tanya mereka gugup.

“Aku juga bingung!” kata Siau Po. “Kakak berdua bagaimana pendapat kalian?”

“Celakalah kalau urusan ini sampai tersiar. Aku pikir sebaiknya kita cari akal untuk menutupinya…” sahut Tio Kong-lian.

“Benar begitu,” timpal Cio Ci-hian. “Bagaimana kalau mereka bertiga dibebaskan dan kita pura-pura tidak tahu saja?”

“Tapi, bagaimana kalau mereka berniat mencelekai kita?” tanya Tio Kong-lian. “Salah satu kawan mereka telah kita bunuh….”

“Memang ada baiknya kalau mereka dibebaskan, tapi khawatirnya mereka akan mengadu kepada thayhou,” kata Siau Po. “Bukankah hal itu bahaya sekali? Apa yang harus kita lakukan agar mereka tidak berani mengadu? Ada bagusnya apabila thayhou langsung membunuh mereka saja guna membungkamkan mereka. Tapi bagaimana kalau thayhou marah dan urusan diperpanjang? Tamatlah riwayat kita!”

Tubuh kedua siwi itu menggigil saking takutnya. Tapi akhirnya Kong Lian berhasil menguasainya. Dia mengangkat tangannya kemudian menghajar sasaran kosong!

Siau Po mengerti. Dia menoleh kepada Ci Hian.

“Bagus juga!” kata Ci Hian sambil mengangguk. “Tapi bagaimana dengan uangnya?”

“Mudah!” kata Siau Po. “Uang itu boleh saudara ambil dan dibagi rata. Aku takut sekali. Yang penting aku tidak terlibat dalam urusan ini!”

Mendengar uang sebanyak enam ribu tail diserahkan kepada mereka, para siwi itu menjadi senang sekali. Berarti mereka masing-masing akan mendapatkan empat ratus tail apabila dibagi rata. Karena itu mereka segera mengambil keputusan. Mereka kembali ke dalam dan berbisik kepada tiga orang siwi yang dapat dipercaya penuh. Ketiga siwi itu menganggukkan kepalanya mendengarkan bisikan pemimpinnya. Salah satu dari mereka segera berkata kepada tiga thaykam tadi.

“Kalian adalah orang-orangnya thayhou. Karena itu kami tidak ingin memperpanjang urusar ini. Kalian pergilah!”

Bukan main senangnya hati ketiga thaykam itu. Mereka langsung berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sedangkan ketiga siwi tadi mengikuti dari belakang.
Begitu mereka berada di luar, segera terdenga suara jeritan yang menyayat hati dari ketiga thaykam tersebut, kemudian disusul dengan teriakan salah seorang siwi tadi.
“Ada pembunuh gelap!Ada pembunuh gelap!”

“Celaka! Penyerbu gelap sudah membunuh empat orang thaykam!” teriak siwi lainnya.
Setelah itu, ketiga siwi tadi berlari ke dalam kamar sambil berteriak.

“Kui kongkong! Celaka! Ada orang jahat yang menyerbu lagi! Empat orang kongkong terbunuh!”

“Sayang sekali!” kata Siau Po sambil menarik panjang. “Cepat kalian tawan para penjahat Jangan sampai ada yang lolos!”

“Salah seorang penyerbu telah berhasil kami tangkap!” teriak seorang siwi lainnya.
Bagus!” kata Siau Po. “Sekarang cepat kalian laporkan kepada siwi congkoan tentang kematian keempat kongkong itu!”

“Baik!” sahut para siwi sambil menahan tawa. Mereka menganggap sandiwara mereka bagus

Sebaliknya Siau Po sendiri tidak dapat menahan rasa gelinya. dia tertawa cekikikan. Melihat hal itu, para siwi jadi ikut tertawa. Kemudian dia memberi selamat seraya berkata.

“Kakak semua, aku ucapkan selamat kepada kalian yang telah mendapatkan hadiah. Nah, sampai besok!”

Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po segera kembali ke kamarnya. Tapi baru dia sampai di pintu, dia dia mendengar suara dingin yang datang dari gerombolan pohon bunga.

“Siau kui cu, tindakanmu bagus sekali, ya?”

Bukan main terkejutnya hati Siau Po. Dia mengenali suara orang itu sebagai suara Ibu suri. Dia segera memutar tubuhnya untuk melarikan diri. Tapi baru kira-kira enam langkah, dia merasa bahu kirinya tereekal keras, tubuhnya gemetar. Di samping tidak dapat bergerak, dia juga terpaksa membungkuk. Namun pada saat itu juga, ketika dia berusaha mencabut pisau belatinya. Sebuah pukulan yang keras langsung mengenai tangannya sehingga dia menjerit kesakitan.

“Eh, Siau Kui cu!” terdengar kembali suaranya Hong thayhou. Kali ini lebih menyerupai bisikan. “Kau masih sangat muda, tapi kau sudah pandai bekerja. Dengan mudah kau berhasil membunuh keempat orang thaykam, malah kau menjatuhkan fitnah kepada diriku. Berani-beraninya kau mempermainkan aku! Hm!”

Siau Po takut setengah mati. Dia juga menyesal sekali sehingga dia memaki dirinya sendiri dalam hati.

‘Siau Po, kau benar-benar kura-kura cilik! Tolol! Ingat, kalau kali ini kau tidak dapat meloloskan diri, mana namamu bukan Wi Siau Po lagi!’

Tapi pada dasarnya dia memang cerdik sekali. Dalam keadaam terdesak, dia segera mengambil keputusannya. ‘Thayhou sangat membenci aku. Percuma bila aku merengek memohon pengampunannya. Baiklah. Aku akan bersikap keras. Aku harus bertahan terus sampai mendapat kesempatan untuk kabur!’

’Hm… dia harus digertak!’ Karena itu dia langsung berkata, “Thayhou, kalau sekarang kau ingin membunuh aku, sayang sekali sudah terlambat!”

“Apanya yang patut disayangkan?” tanya thayhou heran.

“Kau hendak membunuh aku agar mulut ini bungkam,” kata Siau Po. “Sayang kau terlambat satu langkah. Bukankah tadi kau sudah mendengar apa yang dikatakan oleh para siwi?”

“Kau mengatakan aku telah mengirim empat orang kongkong yang tak punya guna untuk bersekongkol dengan kawanan para pemberontak dan mengajak mereka masuk ke dalam istana! Benar bukan? Untuk apa aku bersekongkol dengan para pemberontak itu?”

“Mana aku tahu apa maksudmu?” kata Siau Po dengan berani. “Mungkin Sri Baginda bisa menduganya!” Thaykam gadungan ini benar-benar sudah nekat.

Ibu suri merasa gusar sekali tapi dia masih bisa menguasai dirinya.

“Kalau sekarang aku menyerangmu, dengan sekali hantaman saja, kau akan mampus!” katanya.”Tapi kalau benar demikian, peruntunganmu terlalu bagus!”

Siau Po benar-benar berani.

“Kalau sekarang kau membunuh aku Siau Kui cu, besok seluruh istana akan tahu!” katanya. “Pasti setiap orang akan bertanya: “Kenapa Siau Kui cu bisa mati?’ Dan jawabannya adalah: ‘Pasti thayhou yang membunuhnya!’ Lalu ada lagi yang bertanya: ‘Mengapa thayhou harus membunuh Siau Kui cu?’ Yang lain pun menyahut: ‘Karena Siau Kui cu telah mengetahui rahasia thayhou!’ Lalu ada lagi pertanyaan: ‘Rahasia apa yang telah diketahui oleh Siau Kui cu?’ Aih! Bicara soal itu, ceritanya pasti panjang sekali. Karena itu, mari! Mari masuk ke dalam kamarku. Nanti aku akan menjelaskan kepadamu!”

Thayhou terdiam beberapa saat. Dalam hatinya dia berkata:

’Apa yang diucapkan boeah ini ada benarnya juga!’ Hatinya mendongkol sekali. Saking menahan emosinya, tangan wanita itu sampai gemetaran.

Lalu dia berkata. “Biar bagaimana pun, kau harus dibunuh! Apa artinya belasan siwi? Besok aku akan menyuruh Sui Tong membekuk mereka dan dihukum mati! Setelah itu, aku akan terbebas dari ancaman!”

Mendengar kata-katanya, Siau Po tertawa terbahak-bahak.

“Kematianmu sudah di depan mata. Apa lagi yang kau tertawakan?” bentak Ibu suri yang hatinya panas bukan main melihat lagak Siau Po.

Lagi-lagi Siau Po tertawa.

“Ah! Thayhou, kau hendak menyuruh Sui Tong membunuh para siwi itu?” Tawa Siau Po semakin keras. “Dia… dia…. Ha… Ha… ha…!”

“Kena… pa dia?” tanya thayhou.

“Ha… ha… ha… ha…!” Siau Po kembali tertawa pula. “Dia telah aku …”

Tadinya Siau Po ingin mengatakan ’dia telah aku bunuh,’ tapi tiba-tiba dia mendapat akal yang bagus. Setelah tertawa sejenak, dia terus berdiam diri.

Thayhou heran. Dia menatap bocah itu lekat-lekat.

“Apa yang kau lakukan pada dirinya?” tanyanya.

Lagi-lagi si thaykam cilik yang cerdik ini tertawa.

“Dia telah aku tundukkan!” katanya. “Dia sekarang menurut sekali sehingga tidak sudi lagi mendengar kata-katamu!”

Thayhou tertawa dingin. Dia tidak percaya kata-kata Siau Po.

“Kau setan cilik! Sampai dimana kehebatanmu?” tanyanya dengan nada mengejek. “Bagaimana mungkin kau bisa membuat Sui congkoan tidak sudi mendengat kata-kataku?”

Siau Po terus memutar lidahnya yang tajam.

“Aku adalah seorang thaykam cilik, tentu dia tidak mungkin menurut padaku,” katanya. “Tapi di sana ada seorang lainnya yang dia takuti!”

Thayhou terkejut.

“Dia…dia…” katanya dengan suara bergetar. “Dia takut kepada raja?”

“Kami semua adalah para budak, siapa yang tidak takut kepada Sri Baginda?” kata Siau Po. “Hal itu tidak perlu diherankan, bukan?”

Thayhou penasaran sehingga tanpa sadar dia jadi terlibat pembicaraan dengan si bocah cilik.

“Apa saja yang kau katakan kepada Sui Tong?”

“Semuanya telah kukatakan kepada Sri Baginda…” sahut Siau Po.

“Semuanya telah kau katakan?” Tanpa sadar thayhou mengulangi ucapan bocah itu. Untuk sesaat dia berdiam diri. Sesaat kemudian baru dia bertanya lagi. “Di… mana dia sekarang?”

Yang dimaksudkannya tentu saja Sui Tong.

“Dia telah pergi jauh!” sahut Siau Po. “Ya! Dia telah pergi jauh sekali dan tidak akan kembali lagi Thayhou, kalau kau hendak menemuinya, rasanya tidak begitu mudah!”

Hati thayhou tercekat.

“Maksudmu, dia sudah meninggalkan istana ini?”

“Tidak salah! Dia berkata kepadaku bahwa dia takut kepada Sri Baginda dan dia juga takut kepadamu! Dia juga mengatakan bahwa sulit sekali hidup di antara dua orang yang terus menekannya Dia khawatir suatu hari jiwanya akan melayang Karena itu, dia menganggap pergi jauh-jauh adalah jalan yang terbaik baginya!”

“Jadi dia sudah melarikan diri?” tanya thayhou

“Benar! Eh, thayhou, bagaimana kau bisa tahu Apakah kau telah mendengar sendiri apa yang dikatakannya? Ya! Dia sudah pergi jauh, jauh sekali!”

“Hm!” Thayhou mendengus dingin. “Jadi pangkat pun tidak ia kehendaki lagi? Kemana tujuannya?”

“Dia… dia… pergi ke….” Baru berkata sampai disini, tiba-tiba sebuah ingatan melintas lagi di benak Siau Po. Karena itu langsung melanjutkan kata-katanya. “Katanya dia akan pergi ke… entah apa Tay san… Liok Tay…sCit tay… Eh, bukan! Kalau tidak salah Pat Tay san!” .

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: