Kumpulan Cerita Silat

21/02/2008

Amanat Marga (02)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 12:18 am

Amanat Marga (02)
Oleh
Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Pertanyaan si Tojin membuat Liong Hui melenggong, ia pandang Lamkiong Peng sekejap lalu berpaling kembali dan menjawab, “Tidak perlu kau ikut campur!”

Tojin itu mendengus, “Hm, jika hari ini gurumu kalah dan tidak kembali lagi, apakah kau tahu siapa yang akan menjadi kepala Ci-hau-san-ceng yang disegani dunia persilatan itu?”

Liong Hui berdiri tegak tanpa menjawab, sampai sekian lama mendadak ia membentak, “Siapa bilang Suhuku takkan kembali lagi? Siapa yang mampu mengalahkan beliau? Put-si-sin-liong selamanya tak termatikan!”

Suaranya yang kereng berkumandang jauh dan menimbulkan gema yang sahut-menyahut dari empat penjuru lembah gunung.

Mendadak terdengar seorang menjengek dengan suara tajam, “Siapa bilang di dunia ini tidak ada yang mampu mengalahkan Put-si-sin-liong? Siapa bilang Put-si-sin-liong tak termatikan!”

Hati Lamkiong Peng, Liong Hui dan lain-lain sama tergetar, cepat mereka berpaling ke sana, tertampak dari balik kabut sana muncul sesosok bayangan dan akhirnya terlihat jelas ialah Yap Man-jing dengan bajunya yang berkibar tertiup angin laksana dewi kahyangan yang turun dari langit. Pada kedua tangannya jelas memegang dua batang pedang bersinar gilap, sebatang di antaranya bercahaya hijau kemilau, segera dikenali mereka pedang hijau inilah Yap-siang-jiu-loh yang selama berpuluh tahun tak pernah berpisah dengan Put-si-sin-liong Liong Po-si itu.

Seketika Liong Hui melotot, rambut jenggotnya seakan-akan menegak, dengan beringas ia memburu ke depan Yap Man-jing dan membentak, “Suhuku bagaimana? Di mana Suhuku?”

“Di mana gurumu saat ini tentu kau tahu sendiri, masakah perlu tanya?” jawab Yap Man jing ketus.

Tubuh Liong Hui terasa lemas dan hampir saja tidak sanggup berdiri tegak.

Air muka Lamkiong Peng mendadak juga berubah pucat lesi seperti mayat.

Ciok Tim juga merasa seperti dada mendadak digodam orang, sekujur badan serasa kaku, sampai Ong So-so yang berdiri di sampingnya menjerit perlahan terus jatuh kelengar juga tidak diketahuinya.

Kwe Giok-he juga terperanjat dan bergemetar. Sedangkan keempat perempuan berbaju hijau tadi terus berlari menyongsong kedatangan Yap Man-jing.

Sambil meraba pedangnya si Tojin tadi pun bergumam, “Akhirnya Put-si-sin-long mati juga! …. Ai, akhirnya dia mati juga!”

Suaranya, makin lama makin lemah, entah menyesal atau bersyukur? Entah gembira atau berduka?

Dengan sorot matanya yang tajam Yap Man-jing mengawasi mereka dengan tenang.

Mendadak Liong Hui berteriak, “Engkau yang membunuh guruku, bayar jiwa guruku!”

Seperti kerbau gila ia terus menerjang ke depan.

Serentak Ciok Tim dan Kwe Giok-he juga memburu maju. Sedangkan Lamkiong Peng baru maju selangkah lantas menyurut mundur kembali ke samping peti mati sambil memandang sekejap si Tojin, tanpa terasa air matanya menitik.

Dalam pada itu Liong Hui sudah menerjang ke depan Yap Man-jing, sebelah tangannya mencengkeram muka si nona, tangan yang lain terus meraih pedang hijau yang dipegangnya.

Terdengar Yap Man-jing tertawa dingin, segera Liong Hui pun merasakan pandangannya menjadi silau oleh sinar pedang, tahu-tahu keempat perempuan berbau hijau telah memutar pedang masing-masing dan mengadang di depannya dengan membentuk selapis dinding sinar pedang.

Yap Man-jing sendiri lantas menyurut mundur, ia pindahkan pedang hijau pada tangan kanan, mendadak ia membentak, “Kim-liong-cai-thian (nama emas di atas langit)!”

Berbareng ia mengeluarkan sesuatu benda emas dan diacungkan ke atas, kiranya sebilah belati bertangkai ukiran naga terbuat dari emas.

Perlahan ia menurunkan belati naga emas itu sebatas hidung, lalu membentak lagi, “Kawanan naga hendaknya menerima perintah!”

Melihat belati emas itu air muka Liong Hui berubah pucat lagi, ia berdiri terkesima, pikiran menjadi kacau seperti merasa bingung oleh apa yang terjadi ini.

Sinar mata si Tojin tadi tampak gemerdep, kembali ia bergumam, “Kim-liong-bit-leng (perintah rahasia naga emas) kembali muncul lagi di dunia Kangouw …. Hehe!”

Mendadak terlihat Liong Hui melangkah mundur dua-tiga tindak, lalu bertekuk lutut dan menyembah, meski wajahnya menampilkan rasa gusar dan gemas, suatu tanda menyembahnya itu tidak sukarela melainkan terpaksa.

Yap Man-jing tertawa dingin pula, keempat perempuan baju hijau lantas menarik kembali pedangnya.

Lalu Yap Man-jing menggeser maju melewati keempat perempuan berbaju hijau, setiap langkah selalu diserta ketukan pedang yang dipegangnya sehingga menerbitkan suara “tring” yang nyaring memecah suasana yang mencekam ini

Kwe Giok-he lantas mendekati Liong Hui, katanya dengan suara tertahan, “Meski Kim-liong-bit-leng berada padanya, tapi ….”

Pandangan Yap Man-jing beralih kepada Kwe Giok-he, mendadak ia membalik belati emas itu ke bawah dan mendengus, “Hm, apakah kau tidak mau tunduk?”

Giok-he memandang belati yang dipegangnya, jawabnya tenang, “Kalau tunduk bagaimana, bila tidak tunduk bagaimana pula?”

Berubah lagi air muka Liong Hui yang masih berlutut, ia menoleh memandang istrinya sekejap, lalu berucap dengan rada gemetar, “Moaycu (adikku), mana … mana boleh ….”

Mendadak alis Kwe Giok-he menegak, teriaknya, “Dia telah membunuh guru kita dan mencuri benda pusaka beliau, apakah kita masih harus tunduk kepada perintahnya?”

Saat itu Ciok Tim baru saja mengangkat bangun Ong So-so yang jatuh pingsan tadi, mendadak terlihat bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Giok-he sudah berada di depannya dan bertanya, “Samte dan Simoay, bagaimana dengan kalian, apakah kita harus tunduk kepada perintahnya?”

Ciok Tim melirik sekejap ke arah belati emas yang dipegang Yap Man-jing, lalu menunduk diam tanpa menjawab.

Giok-he lantas mendekati Lamkiong Peng, tanyanya dengan suara gemetar, “Gote, biasanya engkau paling bisa berpikir, meski Kim-liong-bit-leng merupakan pusaka tanda kebesaran Ci-hau-san-ceng kita, tapi dalam keadaan demikian apakah kita masih harus tunduk kepada perintahnya?”

Dengan wajah dingin Lamkiong Peng memandang sekejap Yap Man-jing.

Sejak tadi Yap Man-jing mengawasi Kwe Giok-he, tiba-tiba ia mendengus, “Hm, Kim-liong-bit-leng sudah muncul dan kalian berani membangkang atas perintahnya, masakah Put-si-sin-liong baru saja mati lantas kalian melupakan sumpah yang pernah kalian ucapkan waktu mengangkat guru padanya?”

Rambut Giok-he agak kusut, butiran keringat juga menghiasi dahinya, biasanya dia banyak akalnya dan seorang periang, menghadapi urusan genting apa pun dapat diselesaikannya dalam suasana senda gurau, tapi sekarang dia kelihatan gugup dan bingung, agaknya dia telah menduga perintah yang akan diucapkan Yap Man-jing pasti sangat tidak menguntungkan dia.

Liong Hui memandang sekejap lagi kepada istrinya, lalu menghela napas panjang dan berkata, “Jika Kim-liong-bit-leng sudah berada di tanganmu, apa pula yang dapat kukatakan.”

“Hm, mendingan engkau belum lupa kepada ajaran gurumu!” jengek Man-jing.

“Hanya kenal pada Leng (tanda perintah) dan tidak kenal orang (yang memegang tanda perintah) ….” ucap Liong Hui dengan lesu, mendadak ia menengadah dan membentak, “Tapi telah kau bunuh guruku, aku ….”

Sampai di sini suaranya menjadi tersendat dan penuh emosi, sukar lagi meneruskan ucapannya.

Lamkiong Peng tetap tenang saja, katanya kemudian, “Kutahu, biarpun Kim-liong-bit-leng berada padamu, tapi di balik urusan ini pasti ada persoalan yang belum diketahui. Kalau tidak, tanda perintah ini pasti akan dimusnahkan oleh Suhu dan tidak nanti dibiarkan jatuh ke tanganmu. Apa pun juga, boleh coba uraikan dulu apa pesan beliau yang akan kau sampaikan kepada kami?”

Yap Man-jing menghela napas panjang, katanya, “Nyata, hanya engkau saja yang dapat menyelami jalan pikiran Put-si-sin-liong.”

Mendadak Kwe Giok-he membentak, “Tapi pesan lisan tidak ada bukti, cara bagaimana kami dapat membedakan benar dan tidaknya pesan yang akan kau sebutkan? Samte, Simoay, perempuan ini telah membunuh Suhu, jika kita tidak menuntut balas apa terhitung manusia?”

Seketika Ciok Tim mengangkat kepala dengan mata melotot sambil mengepal erat kedua tinjunya.

Tiba-tiba Yap Man-jing menjengek, “Hm, kau bilang pesan lisan tanpa bukti ….”

Ia terus menggigit belati emas dengan mulut, lalu mengeluarkan lagi sehelai kertas yang terlipat rajin, sekali jari menyelentik, kertas itu disambitkan ke depan Liong Hui.

Segera Giok-he memburu maju sambil membentak, “Coba kulihat.”

Selagi dia hendak menjemput kertas surat itu, sekonyong-konyong bagian iga terasa kesemutan.

Rupanya Yap Man-jing jaga telah bertindak, dengan ujung belati emas ia ancam iga Giok-he dan membentak, “Kau mau apa?”

“Sebagai muridnya, masakah aku tidak dapat membaca surat wasiat guru sendiri?” teriak Giok-he, meski di mulut ia membantah, namun tubuh tidak berani bergerak sama sekali.

“Mundur dulu ke sana!” bentak Man-jing.

“Kau ini apa, berani memerintah diriku?!” jawab Giok-he dengan gusar.

Tapi segera dirasakan setengah badan kaku kesemutan, tanpa terasa ia menyurut mundur ke belakang Liong Hui.

Karena perhatiannya terpusat kepada surat wasiat gurunya sehingga agak lengah dan dapat diatasi oleh Yap Man-jing, sungguh tidak kepalang rasa gusar dan dongkol Giok-he, bibir sampai gemetar dari sukar bicara lagi.

Liong Hui sangat sayang kepada sang istri, cepat ia berbangkit dan memegang tangannya yang terasa sangat dingin itu, tanyanya dengan khawatir, “Ba … bagaimana, Moaycu, engkau tidak apa-apa bukan?”

Tersembul senyuman terhibur di ujung mulut Kwe Giok-he, sahutnya, “Aku … aku tidak apa-apa!”

Mendadak ia mengisiki Liong Hui dengan suara tertahan, “Lekas kau baca surat wasiat itu, bila isinya tidak menguntungkan kita, sebaiknya jangan kau baca dengan suara keras!”

Liong Hui melengak, dipandangnya sang istri dengan bingung, agaknya baru sekarang ia dapat memahami jalan pikiran istrinya itu.

Didengarnya Yap Man-jing lagi mengejek, “Hm, pesan tinggalan guru tidak lekas dibaca, tapi buru-buru menghibur istri yang sok aksi, huh ….”

Muka Liong Hui menjadi merah, perlahan ia membalik tubuh, segera ia hendak menjemput surat wasiat itu.

Siapa tahu pedang Yap Man-jing lantas menyambar dari samping, dengan ujung pedang hijau Yap-siang-jiu-loh ia cungkit surat itu.

“Apa maksudmu ini?” damprat Liong Hui dengan kurang senang.

“Kau kelihatan ogah membaca surat ini, biarkan orang lain saja yang membacanya,” jengek Man-jing.

Sorot matanya lantas berputar, setiap orang dipandangnya sekejap secara bergiliran, tampaknya sedang mencari calon untuk disuruh membaca surat wasiat itu. Tiba-tiba ia mendekati Ong So-so dan berkata, “Ambil surat ini dan bacalah dengan suara keras supaya didengar semua orang!”

So-so baru saja siuman dari pingsannya, mukanya masih pucat, ia coba melirik Giok-he sekejap, lalu bertanya “Kenapa kau suruh kubaca pesan tinggalan Suhu?”

Sembari bicara, tidak urung ia ambil juga surat yang tersunduk di ujung pedang orang itu, setelah ragu sejenak lagi, dipandangnya Ciok Tim, lalu memandang pula Lamkiong Peng, akhirnya dia membentang kertas surat itu.

“Baca dengan suara keras, satu kata pun tidak boleh ketinggalan, baca selengkapnya!” seru Yap Man-jing.

Giok-he saling pandang sekejap dengan Liong Hui, dirasakan tangan sang istri sedingin es, ia menghela napas dan menghiburnya, “Segala apa terserah kepada takdir, buat apa engkau cemas.”

Giok-he memejamkan mata, dua titik air mata lantas menetes.

Liong Hui menggenggam tangan istrinya dengan erat. Didengarnya So-so telah mulai membaca.

“Janji pertarunganku dengan Yap Jiu-pek sudah dilakukan sejak sepuluh tahun yang lalu, yang menang tetap hidup, yang kalah harus mati, apa pun yang terjadi takkan disesalkan pihak mana pun, juga takkan benci dan dendam, jika aku kalah dan mati, ini pun kulakukan dengan sukarela, setiap anak muridku dilarang menuntut balas terhadap anak murid Tan-hong, yang melanggar pesan ini bukanlah muridku, pemegang Kim-liong-bit-leng berhak memecatnya dari perguruan.”

Mungkin karena tegang dan juga emosional, meski sedapatnya ia menenangkan diri, tidak urung suara So-so tetap agak bergemetar. Sampai di sini ia berganti napas, setelah agak tenang barulah ia membaca lebih lanjut.

“Di antara anak muridku, anak Hui yang pertama masuk perguruan, ia juga terhitung keponakanku sendiri, jujur dan lugas, sangat kusayang, hanya pribadinya teramat lugu dan kaku, mudah menerima kisikan, inilah cacatnya sehingga sukar memegang pekerjaan besar dan tidak dapat menghasilkan sesuatu.”

Sampai di sini So-so berhenti sejenak sambil melirik Liong Hui sekejap.

Liong Hui tampak menunduk kikuk.

Segera So-so menyambung lagi, “Adapun pribadi anak Tim cukup kuat, tegas dan bijaksana, So-so halus budi dan lemah lembut ….”

Karena menyangkut diri sendiri, muka So-so menjadi merah, ia membetulkan rambutnya yang kusut, lalu menyambung, “Hanya anak Peng saja berasal dari keluarga ternama, sejak kecil mendapat didikan ketat, tidak ada sifat dugal atau nakal. Terlebih pembawaannya pendiam dan tidak suka menonjol, malahan bakatnya sangat tinggi, maka kuputuskan ….”

Sampai di sini mendadak terdengar Kwe Giok-he menangis sedih.

Liong Hui menghela napas dan merangkulnya perlahan.

Terdengar Giok-he berkeluh, “Oo … sudah banyak yang kukerjakan bagi Ci-hau-san-ceng, tapi … tapi beliau sama sekali tidak menyinggung diriku di dalam pesannya ini.”

“Sabarlah, Moaycu, mengapa hari ini engkau berubah menjadi begini?!” ucap Liong Hui dengan kening bekernyit.

Giok-he mengangkat kepala, mukanya penuh air mata, katanya. “Sungguh hatiku sangat sedih, sudah … sudah sekian tahun kukerja keras bagi Suhu, tapi … tapi apa yang kita peroleh? Apa yang kita peroleh? ….”

Mendadak Yap Man-jing mendengus dan melengos, seperti tidak sudi melihatnya. Namun dia tetap berjaga di samping So-so.

Sesudah termangu sejenak, lalu So-so membaca lagi, “Maka sudah kuputuskan menyerahkan Yap-siang-jiu-loh yang sudah berpuluh tahun tidak pernah berpisah denganku ini serta tugas menjaga peti wasiat kepada anak Peng, tugas ini harus dilaksanakan hingga tuntas, peti rusak orang pun binasa.”

Bekernyit juga kening So-so, agaknya dia tidak paham arti kalimat terakhir itu, ia termenung sejenak dan mengulang lagi kalimat itu, “Peti rusak orang pun binasa!”

Kemudian ia melanjutkan, “Selama hidupku ada tiga cita-citaku yang belum terlaksana, semua ini juga harus dilaksanakan oleh anak Peng. Ketiga urusan ini sudah kuberi tahukan kepada nona Yap Man-jing ….”

Kembali So-so berhenti, sinar mata Ciok Tim tampak gemerdep.

So-so lantas melanjutkan, “Selama beberapa puluh tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw, tidak bisa terhindar dari lumuran darah kedua tanganku, tapi bila kuraba hati dan bertanya pada diri sendiri, rasanya aku tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar keadilan dan kemanusiaan. Selanjutnya aku tidak mampu mengikuti kejadian duniawi lagi, Ci-hau-san-ceng yang kudirikan ini seterusnya kuserahkan kepada ….”

Mendadak So-so berhenti pula sambil menarik napas dalam-dalam, air mukanya kelihatan terheran-heran.

“Serahkan kepada siapa, lanjutkan!” seru Yap Man-jing dengan tidak sabar.

Berputar bola mata Ong So-so, tanyanya lirih, “Memangnya surat ini belum kau baca?”

Alis Yap Man-jing menegak, katanya lantang, “Memangnya kau kira anak murid Tan-hong adalah manusia rendah begitu?”

So-so menghela napas hampa, katanya, “Oo, tadinya kukira surat ini sudah kau baca, karena menguntungkanmu tentu saja kau serahkan kepada kami, jika isinya tidak menguntungkanmu tentu takkan kau serahkan kepada kami.”

Nadanya jelas penuh rasa kagum dan hormat kepada orang, juga penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut. Setiap gerak-gerik So-so memang timbul sewajarnya dan setulusnya sehingga siapa pun tidak tega membikin susah dia.

Tangis Giok-he mulai reda, tiba-tiba ia menengadah dan bertanya, “Apakah betul surat itu tulisan tangan Suhu?”

So-so mengangguk perlahan.

Giok-he mengusap air matanya dan berkata pula, “Kau kenal tulisan pribadi Suhu?”

“Akhir-akhir ini Suhu sering berlatih menulis,” tutur So-so dengan perlahan, “dan akulah yang selalu meladeni beliau dengan mengasahkan tinta bak baginya.”

Sampai di sini dua titik air mata lantas menetes, rupanya dia terkenang kepada sang guru yang berbudi itu. Ketika dia hendak menyeka air matanya, tiba-tiba dirasakan pundak ditepuk orang perlahan, ternyata Yap Man-jing telah menyodorkan saputangan kepadanya.

Giok-he terdiam sejenak, kemudian ia tanya, “Lantas bagaimana, Suhu menyerahkan pengurusan Ci-hau-san-ceng kepada siapa!”

So-so mengusap air matanya, lalu mengembalikan saputangan kepada Yap Man-jing dengan tersenyum terima kasih, dibetulkannya kertas surat yang dipegangnya, lalu membaca lagi, “Ci-hau-san-ceng seterusnya kuserahkan kepada anak Hui dan Giok-he suami-istri!”

Serentak Giok-he berdiri tegak dan memandang langit yang biru kelam itu, ia termangu-mangu sekian lama, air mukanya tampak malu dan menyesal.

Liong Hui berdehem perlahan, ucapnya lirih, “Moaycu, betapa pun Suhu ternyata tidak melupakan dirimu!”

“O, Suhu ….” mendadak Giok-he berseru dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang suami dan menangis pula.

Kembali Yap Man-jing mengejek hina lagi padanya, “Hm, baru sekarang kau ingat kepada Suhu dan baru berduka baginya?!”

Tangis Giok-he tambah keras, sedangkan Liong Hui menunduk diam.

Terdengar So-so membaca lagi, “Ci-hau-san-ceng adalah hasil usaha selama hidupku, tanpa orang jujur dan lugas sebagai anak Hui tentu takkan mampu mengerahkan para pahlawan sedunia, tanpa kecerdasan dan kepintaran Giok-he untuk membantu kekurangan anak Hui, tentu juga Ci-hau-san-ceng sukar berdiri tegak abadi.”

Lamkiong Peng menghela napas, agaknya dia sangat kagum dan bersyukur terhadap pembagian tugas dan kewajiban dalam pesan sang guru itu.

Waktu ia memandang ke sana, dilihatnya Ong So-so lagi memandang surat yang terpegang dengan terkesima dan tidak membaca lebih lanjut.

Ciok Tim juga memandang ke sana, mendadak tertampil rasa girangnya, serunya, “Simoay, kenapa tidak kau lanjutkan membaca?!”

“Aku … aku ….” mendadak So-so menunduk dengan muka merah, tapi air mata lantas berlinang.

“Pesan Suhu masakah tidak kau baca lebih lanjut?” ujar Ciok Tim, dia cuma memerhatikan surat wasiat itu, sikap So-so yang malu dan juga kecewa itu tidak dilihatnya.

Perlahan So-so mengusap air mata, lalu membaca lagi, “Kim-liong-bit-leng adalah pusaka tertinggi perguruan kita, selanjutnya kuserahkan kepada anak Tim dan … dan So-so untuk dipegang bersama. Dengan ketulusan anak Tim dan kepolosan So-so, kuyakin mereka takkan sembarangan menyalahgunakan benda pusaka ini. Dengan Liong-bun-siang-kiam, gabungan kedua pedang ini pasti takkan membikin nama perguruan kehilangan wibawa. Segala urusan penting perkampungan sudah teratur dengan baik, untuk ini anak Peng tidak perlu resah, sesudah pulang dan berbenah seperlunya, tiga bulan kemudian boleh menemui nona Yap Man-jing di puncak Hoa-san untuk bersama-sama menyelesaikan tiga cita-citaku yang belum terlaksana itu, tapi juga jangan jauh meninggalkan peti sakti tinggalanku. Ingat dengan baik.”

So-so membaca semakin cepat, rasa kecewa pada wajahnya juga tambah mencolok.

Sementara itu tangis Giok-he sudah reda, ia menghela napas perlahan dan membisiki Liong Hui, “Segala apa cukup diketahui oleh Suhu, hanya perasaan Simoay saja tidak diketahuinya.”

“Perasaan apa?” tanya Liong Hui dengan melenggong.

“Simoay lebih suka berkelana di dunia Kangouw bersama Gote daripada bersama Samte memegang Bit-leng tanda kekuasaan perguruan kita,” tutur Giok-he.

“Oo, tampaknya engkau serbatahu,” ujar Liong Hui.

Dalam pada itu So-so telah membaca lagi, “Selama hidupku ke atas tidak bersalah kepada Thian, ke bawah tidak malu terhadap sesamanya, biarpun mati, di alam baka pun dapatlah kututup mata dengan tertawa.”

Ketika mengakhiri isi surat wasiat ini, suara So-so menjadi tersendat, perlahan ia melipat surat itu, dilihatnya Yap Man-jing telah menyodorkan belati naga emas kepadanya sambil berpesan, “Jagalah dengan baik!”

“Terima kasih,” jawab So-so lirih.

Man-jing tersenyum.

Tiba-tiba So-so menambahkan dengan perlahan, “Hendaknya selanjutnya kau pun dapat menjaga dia dengan baik.”

Dengan mata merah basah So-so lantas menyingkir.

Keruan Yap Man-jing melengak, sejenak ia berdiri termenung, lalu ia mendekati Lamkiong Peng, tanpa bicara ia tancapkan pedang Yap-siang-jiu-loh di depan anak muda itu dan berucap dengan dingin, “Pada tangkai pedang terdapat lagi sepucuk surat rahasia, boleh kau ambil dan dibaca sendiri!”

Lalu dia membalik tubuh dan tinggal pergi.

Pada sebelum So-so selesai membaca surat wasiat Put-si-sin-liong tadi, Lamkiong Peng memang sudah tenggelam dalam lamunannya. Setelah mendengar ucapan Yap Man-jing, segera ia cabut pedang dengan kening bekernyit dan tetap merasa bimbang.

Ketika bayangan Yap Man-jing sudah hampir menghilang baru mendadak ia berteriak, “Nanti dulu, nona Yap!”

Segera pula ia melayang ke sana.

Man-jing berpaling dan berkata dengan ketus, “Ada apa? Memangnya hendak kau bunuh diriku untuk membalas dendam bagi gurumu?”

Wajah Lamkiong Peng yang selalu tenang itu menjadi agak emosi, ucapnya dengan suara berat, “Betulkah guruku belum lagi meninggal? Di mana sekarang beliau berada?”

Tubuh Yap Man-jing seperti rada tergetar, tapi cepat ia bisa menenangkan diri dan menjawab, “Jika Put-si-sin-liong belum mati mengapa dia tidak pulang ke sini?”

“Untuk ini perlu ditanyakan padamu,” jengek Lamkiong Peng.

“Kenapa tidak kau tanya dulu kepada dirimu sendiri?” sahut Man-jing dengan lebih ketus. Tanpa menoleh lagi ia memberi tanda kepada keempat perempuan pengiringnya dan berkata, “Berangkat!”

Hanya sekejap saja lima sosok bayangan sudah menghilang di bawah sana.

Liong Hui, Giok-he, Ciok Tim dan So-so lantas mendekati Lamkiong Peng, berbareng mereka bertanya, “Mengapa engkau bilang Suhu mungkin belum meninggal?”

Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng berkata, “Jika Suhu sudah meninggal, kenapa beliau meninggalkan kata-kata seperti ‘bila kalah dan mati’ dan ‘bilamana aku mati’ dan sebagainya. Apalagi kalau Suhu benar gugur dalam pertandingan tadi, dengan watak beliau yang keras, mana mungkin ditinggalkannya pesan yang ditulisnya sejelas dan selengkap ini?”

So-so segera menambahi, “Ya, tulisan beliau juga sangat rajin dan teratur, serupa waktu beliau berlatih menulis indah biasanya.”

“Nah, kan tambah jelas lagi,” ujar Lamkiong Peng dengan mata mencorong, “Dalam keadaan begitu, umpama Suhu tidak langsung dicederai lawan, pasti juga tidak mungkin meninggalkan surat wasiat serapi ini, kuyakin di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres ….”

Ia berhenti sejenak, sorot matanya mendadak berubah guram, katanya pula dengan menyesal, “Akan tetapi, jika beliau belum meninggal, mengapa beliau tidak kembali ke sini?”

Semua orang saling pandang dan tak bisa memberi komentar. Kedua lelaki penggotong peti tadi juga ikut mendengarkan dengan cermat.

Si Tojin yang sejak tadi cuma menonton saja di samping rupanya tidak mendapat perhatian mereka oleh karena suasana yang tegang tadi.

Kini Lamkiong Peng agak jauh meninggalkan peti mati yang dijaganya dan asyik bicara dengan saudara seperguruannya, mendadak Tojin itu menggeser ke peti mati, secepat kilat ia menyergap selagi kedua penggotong peti ikut mendengarkan pembicaraan Lamkiong Peng, tahu-tahu bagian belakang kepala mereka terpukul.

Tanpa sempat bersuara, “bluk-bluk”, kedua orang lantas roboh kelengar.

Sama sekali si Tojin tidak menghiraukan korbannya lagi, secepatnya ia angkat peti mati itu terus dibawa lari ke bawah gunung.

Lamkiong Peng sendiri lagi memikirkan isi surat wasiat yang mencurigakan itu, ketika itulah terdengar suara “bluk” dua kali disusul dengan jeritan kaget Ong So-so, “Hei, apa yang kau lakukan?!”

Pembawaan So-so memang polos dan pemalu, mimpi pun tak terduga olehnya ada orang akan merampas peti mati kayu cendana itu, karena kagetnya ia hanya berdiri kesima saja.

Tapi karena jeritannya, buyarlah lamunan Lamkiong Peng, cepat ia membalik tubuh dan sekilas pandang sempat melihat bayangan si Tojin yang kabur ke bawah gunung dengan mengangkat peti mati itu.

Sungguh tidak kepalang kejutnya, tanpa pikir ia lantas mengejar, hanya beberapa kali loncatan saja sudah jauh di bawah sana.

“Toako, Samko ….” seru So-so khawatir.

Liong Hui juga berteriak, “Lekas kejar!”

“Kejar apa?” kata Giok-he.

“Kejar perampok peti mati itu,” seru Liong Hui dengan gusar.

“Hanya sebuah peti mati saja, biarpun terbuat dari kayu cendana, memangnya berapa harganya?” ujar Giok-he.

“Tapi apakah boleh kita membiarkan Gote sendiri menyerempet bahaya?”

“Dan bagaimana dengan Suhu, apakah beliau tidak kita urus lagi?” jengek Giok-he.

Serentak Liong Hui memutar balik dan menegas, “Apa katamu?”

Giok-he menghela napas, ucapnya, “Kukira apa yang dikatakan Gote tadi memang beralasan. Pokoknya kita tidak peduli apakah Suhu benar sudah meninggal atau belum, yang penting kita harus memeriksa ke tempat yang didatangi beliau tadi, apabila Suhu memang benar belum meninggal, kan beruntung sekali kita!”

“Akan … akan tetapi bagaimana dengan Gote?” ucap Liong Hui ragu.

“Tadi telah kau lihat gerakan ‘Kim-liong-coan-hun’ (naga emas menembus awan) Gote itu, bagaimana kalau dibandingkan kepandaianmu?” tanya Giok-he.

Liong Hui jadi melenggong, “Ini ….”

“Ini menandakan kepandaian Gote sesungguhnya di luar ukuran kita,” tukas Giok-he, “Dengan Kungfu yang dikuasainya sekarang, bukan soal lagi baginya untuk menghadapi jago mana pun, untuk menjaga diri tentu saja terlebih mudah.”

Liong Hui termenung, katanya kemudian, “Ya, ini … ini juga betul.”

So-so tampak gelisah, selanya, “Akan tetapi kalau Tojin itu berani main rampas peti mati, hal ini menandakan di dalam peti itu pasti ada sesuatu rahasia yang tidak kita ketahui ….”

Perlahan Giok-he menepuk pundak So-so dan berkata dengan lembut, “Simoay, apa pun usiamu masih terlalu muda, ada sementara urusan yang sukar kau pahami. Sebabnya Tojin itu menyerempet bahaya merampas peti mati itu, tujuannya tidak lebih hanya menggunakan kejadian ini untuk membuat namanya terkenal saja.”

“Namun … namun bila tiada sesuatu rahasia dalam peti, untuk apa Suhu menyuruh … menyuruh dia menjaga peti itu dengan baik?” kata So-so.

Giok-he menjadi kurang senang, katanya pula, “Sekalipun di dalam peti mati ada rahasia, memangnya rahasia itu bisa lebih penting daripada urusan mati-hidup Suhu?”

So-so meremas-remas kedua tangan sendiri dengan bimbang, meski ia merasa ucapan sang Suci kurang benar, tapi rasanya sukar membantahnya.

Segera Liong Hui menyela dengan mengangguk, “Simoay, ucapan Toasomu memang cukup beralasan. Kulihat kepandaian Tojin itu toh tidak terlalu tinggi, Gote pasti tidak akan mengalami kesukaran, lebih penting kita menyelidiki urusan Suhu saja.”

Sejak tadi Ciok Tim hanya termenung saja, dia seperti mau ikut bicara, tapi setelah memandang So-so sekejap, lalu urung buka mulut.

Giok-he tertawa cerah, perlahan ia tepuk pundak So-so lagi sekali, katanya, “Turutlah pada perkataan Toaso, pasti tidak salah lagi. Bila terjadi apa-apa atas diri Gote, boleh kau minta pertanggungan jawab Toasomu ini, tidak perlu khawatir.”

Ciok Tim tampak berpaling ke arah lain.

Giok-he lantas berkata pula, “Samte dan Simoay, mari kita pergi mencari Suhu!”

So-so mengangguk dan ikut melangkah ke sana bersama Giok-he, namun melirik sekejap juga ke arah menghilangnya bayangan Lamkiong Peng dengan perasaan berat.

“Jika Simoay tidak mau ikut mencari Suhu, dengan tenaga kita bertiga rasanya juga cukup,” kata Ciok Tim tiba-tiba.

“Ah, kenapa Samte bicara demikian.” ujar Giok-he dengan tertawa. “Biasanya Simoay paling berbakti kepada Suhu, selama ini Suhu juga paling sayang pada Simoay, mana bisa dia tidak mau mencari Suhu?”

“Ya, betul,” tukas Liong Hui.

Pada saat itulah terlihat seekor burung terbang tinggi menembus awan, mendadak berbunyi panjang, suaranya bergema seakan-akan lagi mengejek kebodohan Liong Hui, kecerdikan Kwe Giok-he, kecemburuan Ciok Tim dan kelemahan So-so, cuma sehabis berbunyi, mendadak burung itu pun menumbuk dinding tebing di tengah kabut tebal.

Liong Hui berjalan di depan dengan cepat, memandangi bangkai burung yang terjerumus ke bawah itu, katanya sambil menoleh, “Burung ini sungguh amat bodoh!”

“Burung yang kehilangan pasangan tidak mau hidup sendirian, maka sengaja membunuh diri dengan menumbuk dinding tebing,” tutur Ciok Tim.

“Jika aku menjadi burung itu, aku lebih suka mati merana!” ucap So-so dengan hampa.

“Kalian keliru semua,” kata Giok-he dengan tersenyum. “Burung itu tidaklah bodoh, juga tidak kesepian, dia tertumbuk mati hanya lantaran terbangnya terlalu tinggi dan karena lengahnya sendiri.”

“Terbang terlalu tinggi bisa mati tabrakan, terbang terlalu rendah bisa terbidik oleh pemburu,” ujar Liong Hui dengan menyesal. “Ai, tak tersangka menjadi manusia sulit, menjadi burung juga tidak sederhana,”

Tengah bicara mereka berempat sudah bergerak cukup jauh, tanah pegunungan yang kacau tadi kini tertinggal pohon cemara tua yang tetap berdiri tegak dengan desir angin kencang dan awan tebal.

Burung yang terjerumus ke jurang itu tertiup angin melayang jatuh ke bawah sana ….

Saat itu Lamkiong Peng sedang mengejar si Tojin secepat terbang, dia sudah melampaui tugu Han-bun-kong, dengan gelisah ia mengejar sepenuh tenaga.

Meski Tojin itu mengangkat sebuah peti mati, tapi gerak tubuhnya tetap sangat gesit dan cepat, Lamkiong Peng merasa bayangan di depan makin jelas kelihatan, tapi seketika tetap tak tersusulkan.

Sungguh ia tidak tahu mengapa Tojin ini sengaja menyerempet bahaya hanya untuk merampas sebuah peti mati, juga tidak dimengertinya mengapa gurunya menyuruhnya menjaga peti mati dengan baik.

Tiba-tiba teringat olehnya macam-macam dongeng kuno. Apakah mungkin di dalam peti mati ini tersimpan sesuatu rahasia dan rahasia ini menyangkut seperti harta karun yang sudah lama diincar orang atau tersimpan semacam senjata wasiat atau sejilid kitab pusaka ilmu silat mahatinggi?

Pikiran demikian terkilas dalam benaknya dengan cepat, dan pada detik itulah bayangan Tojin di depan mendadak bergerak lamban. Ketika ia menoleh, tiada tertampak seorang saudara seperguruan yang menyusul kemari, ia menjadi ragu apakah telah terjadi sesuatu di sana.

Pada saat itu tidak sempat baginya untuk memikirkan hal-hal yang demikian, mendadak ia melompat terlebih cepat ke depan hanya beberapa kali naik turun, jaraknya dengan si Tojin semakin dekat.

Mendadak terasa setitik bayangan hitam menyambar tiba, menghantam lengan kanannya, terkesiap juga Lamkiong Peng oleh sambaran angin keras ini, cepat ia membaliki tangan kanan dan meraihnya, dengan tepat setitik bayangan ini kena dipegangnya, tapi lantaran itu sarung pedang hijau yang dipegangnya judi terlepas dan jatuh ke dalam jurang.

Waktu bayangan hitam itu terpegang, segera dirasakan dingin dan basah, sekilas lirik ternyata yang terpegang itu adalah bangkai burung.

Ia tersenyum mengejek pada diri sendiri, sungguh terlalu, dunia selebar ini, masakah seekor burung mati bisa begitu kebetulan menimpanya. Betapa pun hal ini dirasakan sebagai “ada jodoh”, bangkai burung dimasukkan ke dalam bajunya.

Waktu ia memandang ke depan, sudah dekat dengan ujung puncak gunung, jaraknya dengan si Tojin juga tinggal beberapa meter saja.

Biarpun Tojin itu sangat kuat, tapi dengan mengangkat sebuah peti mati dan berlari di tanah pegunungan yang curam demikian, akhirnya ia mulai lelah juga. Ketika larinya mulai kendur, mendadak terdengar bentakan dari belakang, “Berhenti!”

Ia sedikit melirik ke samping, tertampaklah sebatang pedang hijau kemilau menyambar dari belakang, jaraknya sudah cukup dekat, angin tajamnya sudah dapat dirasakan.

Si Tojin masih terus berlari, cuma diam-diam ia telah siap berputar. Ketika menurut perhitungannya saatnya sudah tepat, mendadak ia membentak sambil membalik, peti mati diangkatnya terus dikeprukkan ke atas kepala Lamkiong Peng.

Peti mati buatan kayu cendana itu sangat berat, ditambah lagi si Tojin menghantam dengan sekuat tenaga, bobot peti itu menjadi beribu kati beratnya.

Cepat Lamkiong Peng bermaksud menahan langkahnya, akan tetapi sudah terlambat, tertampak segumpal bayangan hitam dengan angin dahsyat menindih dari atas. Berada di lereng gunting yang terjal begini jelas sukar baginya untuk menghindar.

Karena kepepet, Lamkiong Peng juga membentak sambil putar pedangnya, dengan cepat ujung pedang memapak peti mati yang menindih dari atas itu.

Dalam sekejap saja ujung pedangnya menutul beberapa kali, terdengar suara “tok-tek” berulang-ulang, setiap tutulan pedangnya serentak mengurangi daya tindih peti, inilah gerakan ringan melawan berat kaum ahli, gerak tangkis demikian memerlukan perhitungan yang jitu dan berani.

Dengan wajah kelam si Tojin berusaha menekan peti mati itu sekuatnya, Lamkiong Peng juga pasang kuda-kuda dengan kuat dan menegakkan pedang untuk menyanggah daya tekan peti.

Dalam keadaan demikian, kedua orang sama tidak berani ayal, sebab mereka tahu sedikit meleng saja tentu akan terjerumus ke jurang yang tak terbayangkan dalamnya.

Panjang peti itu lebih dua meter, sedang ujung pedang cuma setitik saja. Peti menindih dari atas, pedang harus menegak untuk menahan daya tekan yang kuat itu, betapa berbahayanya tentu dapat dibayangkan.

Lamkiong Peng merasakan daya tekan peti semakin berat, batang pedang buatan baja itu mulai melengkung.

Kain baju Lamkiong Peng mulai mengembung, rambut dan jenggot si Tojin seakan-akan menegak, kedua orang sama mengerahkan segenap tenaga dan berdiri sekukuh tonggak, namun sedikit demi sedikit kaki Lamkiong Peng mulai bergeser dengan perlahan.

Jika dia tidak geser kaki akhirnya kaki akan amblas, tapi geseran yang perlahan ini baginya sekarang boleh dikatakan mahasulit. Yang lebih sulit lagi adalah dia harus berjaga jangan sampai ujung pedangnya menusuk masuk ke dalam peti. Sebab kalau ujung pedang masuk peti, segera peti akan menindih ke bawah dan ini berarti maut baginya.

Angin gunung mendesir lewat di sisi telinganya, Lamkiong Peng merasakan pedang yang dipegangnya dari dingin mulai berubah menjadi panas. Pandangannya mulai kabur, maklumlah segenap tenaganya hampir terkuras habis.

Wajah si Tojin kelihatan tambah guram, sinar matanya tambah beringas, dengan menyeringai mendadak ia membentak, “Tidak turun ke bawah!?”

“Belum tentu bisa!” jawab Lamkiong Peng sambil membusungkan dada.

“Hm, usiamu masih muda belia, jika mati begini saja tanpa ada yang mengurus mayatmu, sungguh aku merasa kasihan bagimu,” jengek si Tojin.

“Huh, entah siapa yang akan mati!” kata Lamkiong Peng, diam-diam ia merasa menyesal kenapa tiada seorang pun saudara seperguruannya menyusul kemari, apakah betul akan terjadi mayatnya tak terurus?

“Mengapa mereka tidak menyusul kemari, apakah ….” selagi dia membatin demikian, sekonyong-konyong dirasakan daya tekan peti mati tambah kuat, ia terkejut dan cepat menenangkan diri dan bertahan lebih kuat. Ia sadar agaknya si Tojin sengaja membuyarkan konsentrasinya dengan ucapannya.

Tiba-tiba dilihatnya di bawah bayangan peti mati dahi si Tojin berhias butiran keringat, tergerak pikirannya, agaknya lawan sendiri juga sudah payah, asalkan aku bertahan sebentar lagi tentu akan dapat mengatasi lawan.

Segera ia balas mengejek, “Hm, memangnya kau kira aku tidak tahu keadaanmu. Biarpun Lwekangmu lebih tinggi daripadaku, tapi engkau telah berlari sejauh ini dengan mengangkat benda seberat ini, tenaga yang telah kau kuras jelas jauh lebih banyak daripadaku, biarpun keadaanku cukup payah, akan tetapi engkau justru serupa pelita yang kehabisan minyak.”

Air muka si Tojin yang kelam itu kembali berubah terlebih gelap, peti mati yang dipegangnya terasa bergetar, kesempatan itu digunakan Lamkiong Peng untuk menolak dengan pedangnya sehingga terangkat lebih tinggi sedikit. Lengan si Tojin yang putih itu mulai berubah merah dan akhirnya menjadi kebiru-biruan.

Lamkiong Peng merasa lega, perlahan ia berkata pula, “Jika kita terus bertahan seperti ini, meski aku bisa celaka, tapi engkau pasti mampus.”

Dia sengaja mempertegas kata “mampus” dengan suara keras, lalu menyambung pula, “Hm, hanya karena sebuah peti mati kayu cendana saja kenapa kau bela mati-matian, jika kau mau lepas tangan sekarang juga, mengingat sesama kaum persilatan, takkan kuusut lebih lanjut perbuatanmu ini dan akan kulepaskan kau pergi.”

Uraiannya meski bermaksud mengacaukan semangat tempur lawan, tapi ada sebagian kata katanya juga timbul dari lubuk hatinya yang murni.

Tak terduga si Tojin lantas tertawa dingin dan membentak, “Hm, masakah gampang kumati begitu saja? Jika mati tentu juga bersamamu!”

Mendadak ia mengerahkan sisa tenaganya dan menekan peti mati terlebih kuat. Selagi Lamkiong Peng terkesiap, dilihatnya si Tojin mendak ke bawah sedikit dan sebelah kakinya bahkan terus menendang.

Tenaga si Tojin dikerahkan seluruhnya pada kedua tangannya, maka tendangannya sebenarnya tidak keras, tapi tempat yang di arah justru sangat berbahaya, yaitu bagian selangkangan, bagian lemah ini cukup fatal bila terdepak dengan tepat, tidak perlu terlalu keras.

Dalam keadaan begini, jika Lamkiong Peng menghindari tendangan ini, berarti kuda-kudanya akan goyah dan peti mati akan jatuh dari atas, sebaliknya kalau tidak mengelak, pasti juga akan celaka.

Dalam gusarnya tanpa pikir ia mengayun telapak tangan kiri ke bawah, ditabasnya pergelangan kaki lawan. Baik waktu maupun tempat yang di arah sungguh sangat tepat.

Tapi Tojin itu segera juga berganti gerakan, kedua tangan tetap memegang peti mati, tubuh terapung, kaki kanan ditarik kembali, kaki kiri terus menendang pula secepat kilat.

Lamkiong Peng juga tidak kalah cepatnya, tangan kiri berputar, kembali ia cengkeram kaki lawan. Diam-diam ia pun terkesiap, cara si Tojin ini jelas sudah kalap, kalau perlu ingin gugur bersama dengan dia. Sebab dengan tubuh bergantungan dan kedua kaki menendang secara bergantian, bilamana Lamkiong Peng tertendang dan jatuh ke dalam jurang, si Tojin sendiri juga pasti akan ikut terjeblos ke jurang.

Dalam sekejap itu meski Lamkiong Peng dapat menahan beberapa kali tendangan berantai si Tojin, tapi tangan kanan yang memegang pedang terasa linu pegal, peti mati terasa semakin menekan ke bawah, tangan kiri juga mulai sukar menahan tendangan kilat musuh.

Dalam keadaan kepepet kalau dia mau melepaskan pedang dan melompat mundur, jelas dia dapat menyelamatkan jiwa sendiri. Tapi dia lantas teringat kepada pesan sang guru yang telah menyerahkan pedang pusaka Yap-siang-jiu-loh kepadanya dengan tugas membela peti sakti itu, “peti rusak orang binasa”, demikian kata terakhir amanat sang guru itu.

Diam-diam ia menghela napas, sukar diselaminya sesungguhnya ada keistimewaan apa pada peti mati ini sehingga perlu dibela mati-matian, tapi apa pun juga dia harus patuh kepada amanat sang guru.

“Peti rusak orang binasa”, itulah amanat yang tidak boleh dilupakan, mendadak ia berteriak, “Baiklah, biar kita gugur bersama!”

Mendadak ujung pedang menolak sekuatnya ke atas, tangan kiri terus mencengkeram ke depan, dia tidak lagi menangkis tendangan si Tojin melainkan mencengkeram dada orang. Ia menjadi nekat dan tidak memikirkan akibatnya lagi, yang penting amanat sang guru telah dilaksanakannya.

Berubah juga air muka si Tojin melihat kekalapan anak muda itu, mendadak ia tertawa keras, “Hahaha! Bagus, bagus, biarlah kita bertiga gugur bersama!”

Tergetar hati Lamkiong Peng, “Bertiga?!” ucapnya tanpa terasa. Mendadak ia tahan serangannya dan kembali menegas dengan membentak, “Dari mana datangnya orang ketiga?”

Meski timbul rasa curiganya dan ingin tahu sesungguhnya apa yang dimaksudkan si Tojin, tapi dalam keadaan begini, ibarat orang sudah berada di punggung harimau, ingin turun pun tidak bisa lagi.

Didengarnya si Tojin lantas membentak, “Di sini juga ada tiga orang!”

Berbareng kedua kakinya menendang pula secara berantai. Diam-diam Lamkiong Peng juga sudah siap untuk gugur bernama orang gila ini untuk menunaikan kewajibannya membela peti mati itu sesuai amanat sang guru.

Siapa duga, pada detik terakhir yang menentukan itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mendekati keajaiban. Dirasakan oleh Lamkiong Peng pedang yang menolak peti mati itu mendadak terasa ringan, peti mati yang semula menindih ke bawah dengan sangat kuat itu telah berubah seperti benda tak berbobot.

Begitu bobot peti mati berubah ringan, keadaan segera berubah. Si Tojin mendadak merasakan timbul semacam tenaga gaib dari dalam peti yang menghilangkan tenaga murni pada kedua tangannya yang berpegangan pada peti itu sehingga tubuh bagian bawah kehilangan daya gerak. Baru saja kedua kakinya menendang, seluruh tubuhnya lantas anjlok ke bawah.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini sama sekali tidak memberi peluang baginya untuk berpikir, dalam kagetnya cepat ia melejit di udara sehingga hinggap ke permukaan tanah dengan setengah berjongkok, lalu cepat melompat mundur.

Lamkiong Peng juga terkejut dan menarik pedang dari peti terus melompat mundur.

Kedua orang sama melompat mundur dan tetap berdiri berhadapan, si Tojin mengepal tinju dengan muka kelam dan mata melotot memandangi peti mati itu.

Lamkiong Peng juga memandang peti mati itu dengan penuh rasa heran dan bingung.

Tertampak peti mati itu bisa berhenti sejenak di atas udara meski sudah terlepas dari dukungan kedua orang itu, habis itu baru menurun ke bawah dengan perlahan seakan-akan di bagian bawah ditopang oleh seorang yang tidak kelihatan, malahan jatuhnya ke tanah begitu enteng tanpa menimbulkan suara sama sekali.

Mau tidak mau ngeri juga Lamkiong Peng menyaksikan kejadian luar biasa ini. Meski sudah banyak dongeng seram yang pernah didengarnya, tapi apa yang dilihatnya ini sungguh sukar untuk dipercaya.

Si Tojin juga lagi menatap peti mati itu dengan sorot mata yang kejut dan sangsi, malahan bibirnya kelihatan rada gemetar, katanya mendadak, “Ba … bagus sekali, ternyata benar engkau tidak … tidak mati!”

Habis itu, serentak ia menubruk maju lagi ke arah peti mati.

Kembali Lamkiong Peng terkejut, tanpa pikir ia membentak, “Kau mau apa?”

Segera ia putar pedangnya dan menyongsong si Tojin. Betapa pun dia lebih muda dan kuat, tenaganya dapat pulih lebih cepat.

Saat itu si Tojin sudah menerjang sampai di depan peti mati, tahu-tahu sinar hijau menyambar tiba, kalau dia tidak segera menarik diri berarti maut baginya.

“Mundur!” terdengar Lamkiong Peng membentak.

Benar juga, terpaksa Tojin melompat mundur kembali ke tempat semula. Dengan pedang melintang di depan dada, Lamkiong Peng lantas mengadang di depan peti mati.

Mendadak si Tojin menghela napas, ucapnya, “Ai, ada permusuhan apa antara dirimu denganku, mengapa engkau berbuat begini padaku?!”

Ucapan orang ini membingungkan Lamkiong Peng, sukar dirasakan ucapan menyesal mengomel atau memohon?

Sesudah melenggong sejenak barulah ia menjawab, “Selamanya kita tidak kenal, mana ada permusuhan?”

Si Tojin seperti orang linglung dan masih memandang peti mati dengan termenung, sejenak kemudian, tiba-tiba ia berkata pula, “Asalkan kau serahkan peti ini kepadaku, seterusnya engkau adalah penolongku yang terbesar, selama hidupku takkan melupakan budi kebaikanmu ini dan pasti akan kuberi balas jasa sebesar-besarnya.”

Lamkiong Peng menatapnya dengan tajam, lalu mendengus, “Hm, setelah tidak mampu merampas dengan kekerasan, lalu hendak kau gunakan cara memohon dengan halus?”

Mendadak si Tojin membusungkan dada dan menjawab dengan angkuh, “Selama hidupku tidak pernah memohon kepada orang.”

“Hm, apa pun juga selangkah saja tidak boleh lagi kau dekati peti ini,” jengek Lamkiong Peng.

Sungguh si Tojin kecewa dan tak berdaya, sudah digunakannya macam-macam jalan, main rampas, main labrak dan memohon secara halus, semua itu tetap tidak dapat melunakkan tekad anak muda itu yang membela peti mati dengan teguh.

Karena kehabisan akal, akhirnya Tojin itu berkata dengan sungguh-sungguh, “Apakah kau tahu sebabnya gurumu menyuruhmu membela peti mati ini!”

“Tidak tahu!” jawab Lamkiong Peng.

Sorot mata si Tojin menampilkan setitik sinar harapan pula, ucapnya, “Jika tidak tahu sebabnya, apakah berharga kau bela dengan jiwa ragamu?”

“Pokoknya itulah amanat perguruan, tiada gunanya kau putar lidah dan berusaha menghasut,” jengek Lamkiong Peng,

“Hehe, apakah kau kira aku benar-benar tak dapat menundukkan dirimu? Bila sebentar tenagaku pulih seluruhnya, memangnya kau mampu melawan lebih lama?”

“Belum lagi dicoba, tidak perlu membual dulu. Pokoknya mati-hidupku sudah kupertaruhkan atas peti pusaka ini.”

Si Tojin memejamkan mata sejenak dan termenung, waktu ia membuka mata lagi, ia menghela napas panjang dan berucap perlahan, “Ai, sungguh aku tidak habis mengerti mengapa kau bela peti ini mati-matian tanpa sayang akan jiwamu sendiri.”

“Hm, aku pun tidak habis mengerti untuk apa peti ini hendak kau rampas dengan mati-matian,” jawab Lamkiong Peng dengan ketus.

Si Tojin mengepal tinjunya erat-erat sambil menggereget, mendadak ia mendesak maju selangkah dan menatap Lamkiong Peng dengan tajam, sampai sekian lamanya barulah ia berkata, “Memangnya kau ingin kukatakan terus terang seluk-beluk urusan ini baru akan kau serahkan peti ini?”

“Biarpun kau beberkan seluk-beluk urusannya juga takkan kulepaskan,” jawab anak muda itu.

Tojin itu menengadah memandang jauh ke langit seperti tidak mendengar ucapan Lamkiong Peng itu, perlahan ia berkata pula, “Ada sementara orang selama hidupnya giat bekerja dan keras berusaha, selalu berbuat baik, tidak berani bertindak salah selangkah pun, tapi sekali dia salah langkah, dalam pandangan umum lantas berubah menjadi orang berdosa yang tak terampunkan. Sebaliknya ada sementara orang lagi yang selama hidupnya berbuat jahat melulu, tapi pada suatu kesempatan secara kebetulan ia telah berbuat sesuatu kebaikan sehingga orang pun sama memaafkan segala dosanya yang telah diperbuatnya ….”

Dia bicara dengan perlahan dan lirih, seperti bergumam, seperti juga lagi berkeluh kesah terhadap yang Mahakuasa.

Sampai di sini mendadak ia tertawa latah dan berseru, “Coba katakan, apakah adil Thian memperlakukan manusia sesamanya?”

Lamkiong Peng melongo bingung, ia heran Tojin bersanggul tinggi yang misterius ini mengapa dalam keadaan begini bisa bicara hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi.

Waktu ia memandang ke sana, dilihatnya air muka si Tojin yang menampilkan rasa sedih dan kecewa tadi mendadak berubah menjadi gusar, dengan tangannya yang kurus dan rada gemetar ia tuding Lamkiong Peng dan membentak, “Kau bela peti mati ini senekat ini, memangnya kau tahu siapa orang yang membujur di dalam peti ini?”

Keajaiban yang timbul dari peti mati ini tadi sebenarnya sudah dirasakan Lamkiong Peng, pasti ada sesuatu misteri yang belum terungkap, lamat-lamat memang juga dirasakannya peti ini sangat mungkin adalah satu orang.

Yang membuatnya tidak percaya adalah tindak-tanduk gurunya selama hidup terkenal gilang-gemilang, tidak ada sesuatu perbuatan sang guru yang perlu dirahasiakan, tidak ada sesuatu tindakannya yang merugikan orang.

Sebab itulah ia tetap tidak percaya kepada ucapan si Tojin, jawabnya, “Memangnya peti ini terisi seorang?”

Tojin itu tertawa dingin, katanya, “Di dunia persilatan terkenal ‘pemberani nomor satu, Put-si-sin-liong, membawa peti mati untuk mencari kalah’ hal ini selama beberapa puluh tahun telah menjadi buah bibir orang Kangouw, sekarang Put-si-sin-liong telah mati, apakah cerita ini akan dapat turun-temurun di tengah khalayak ramai belum lagi diketahui, namun ….”

Sampai di sini mendadak ia menengadah dan tertawa keras, lalu melanjutkan, “Padahal duduk perkara yang benar siapa yang tahu?”

Suara tertawanya itu penuh rasa ejek dan menghina, hal ini membuat Lamkiong Peng kurang senang, dengan lantang ia tanya, “Duduk perkara apa?”

“Hm, memangnya kau kira Put-si-sin-liong selalu membawa peti dalam perjalanan benar-benar cuma bertujuan mencari lawan untuk bertanding, supaya dia sekali tempo mengalami kekalahan dan ingin mati? Huh, peti mati ini dibawanya kian kemari tidak lain adalah karena di dalam peti mati ini tersembunyi satu orang!”

“Orang apa?” tanya Lamkiong Peng dengan air muka berubah.

“Orang apa? …. Hahahaha!” kembali si Tojin bergelak tertawa keras. “Seorang perempuan! Ya, seorang perempuan! Seorang perempuan mahajahat, perempuan jalang, tapi juga secantik bidadari!”

Seketika hati Lamkiong Peng tergetar, dadanya serasa digodam orang dengan keras, dengan mendelik ia membentak, “Apa katamu?”

“Apa kataku?” si Tojin menegas dengan tertawa latah. “Kubilang gurumu Put-si-sin-liong Liong Po-si meski mendapat nama kehormatan sebagai jago nomor satu yang membawa peti mati untuk mencari kalah, yang benar perbuatannya itu hanya karena membela seorang perempuan jalang!”

Suara tertawanya tambah keras, ucapannya juga tambah lantang, seketika kumandang suara bergema dari berbagai penjuru lembah gunung dan bergemuruh kata “perempuan jalang … perempuan jalang.”

Gema suara yang menusuk telinga itu serupa sebilah belati tajam menikam hati Lamkiong Peng. Maklum, hal ini menyangkut orang yang paling dihormatinya.

Meski sedapatnya ia menahan perasaannya, namun darah panas yang bergejolak sukar ditahan, mukanya yang putih berubah menjadi merah padam, mendadak ia berteriak, “Diam! Berani kau singgung lagi kehormatan guruku segera ku ….”

“Hahaha, kehormatan gurumu?” potong si Tojin dengan menjengek. “Hm, apa yang kukatakan tadi justru berdasarkan fakta, semuanya kejadian nyata. Jika engkau tidak percaya, boleh coba kau buka dan periksa peti itu, segera akan kau ketahui sesungguhnya siapa yang tersembunyi di situ.”

“Memangnya siapa?” tanya Lamkiong Peng.

“Meski usiamu masih muda, tapi sebagai orang persilatan tentu pernah kau dengar nama ….” si Tojin merandek, lalu sekata demi sekata menyebut, “Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat!”

Seketika Lamkiong Peng merinding dan tidak bersuara.

Didengarnya si Tojin berucap pula seperti orang berpantun, “Segala makhluk di dunia ini mana yang paling berbisa, ialah Kong-jiok Huicu- empedu si merak ….”

Suaranya menjadi lemah dan terputus, air mukanya juga pucat dan tampak berkerut-kerut penuh derita.

Dengan suara berat Lamkiong Peng bertanya. “Kong-jiok Huicu apakah sama orangnya dengan Leng-hiat Huicu?”

Si Tojin mendengus, tanpa memandangnya ia menyambung lagi ucapannya tadi, “Seratus burung sama menyembah Tan-hong, cuma sang merak sendiri tetap jaya ….”

Dengan mendongkol Lamkiong Peng memotong, “Apakah tidak kau dengar pertanyaanku?”

Namun si Tojin tetap menengadah dan berdendang pula, “Kong-jiok Huicu darahnya sudah dingin (Leng-hiat), si cantik berdarah dingin tidak diketahui orang, saking marah naga sakti turun ke bumi, terjadilah pertempuran sengit di Hoa-san, naga sakti terkenal tak termatikan, seratus kali tempur seratus kali menang, betapa pun sayap sang ratu merak tak terbentang lagi, sejak itu hilanglah bisul dunia persilatan, naga sakti semakin tangkas tak termatikan!”

Selesai mendengarkan dendang si Tojin, Lamkiong Peng menegas, “Jika begitu, jadi Kong-jiok Huicu memang sama dengan Leng-hiat Huicu?”

Dengan sorot mata tajam si Tojin menjawab “Betul, Bwe Kim-soat memang sama dengan Bwe Leng-hiat.”

Mendadak ia menengadah dan tertawa dingin pula, katanya, “Hm, Kim-soat, Leng-hiat! Hehe, indah benar namamu! Aku Kong … aku sungguh penasaran.”

“Kong apa katamu?” tanya Lamkiong Peng.

“Untuk apa kau tanya, peduli apa denganmu?” jawab si Tojin ketus.

“Hm, jika engkau sengaja main sembunyi kepala unjuk ekor dan tidak mau memberitahukan namamu yang sebenarnya, huh, aku pun tidak sudi bertanya,” jengek Lamkiong Peng.

Kembali si Tojin cuma mendengus dan memandang ke langit.

Dengan suara bengis Lamkiong Peng berteriak, “Tadi kau bilang seorang disembunyikan di dalam peti dan orang ini ialah Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat, begitu bukan?”

“Ya, ada apa?” jengek si Tojin.

“Lalu kau dendangkan pantun yang dahulu tersiar di dunia Kangouw, masakah engkau tidak tahu kisah yang terkandung di dalam pantun itu?”

“Masa aku tidak tahu?”

“Jika tahu, kenapa kau hina guruku dengan macam-macam perkataanmu tadi? Padahal dahulu Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat malang-melintang di dunia Kangouw, dengan Kungfunya yang tinggi dan kecerdasan dan kecantikannya, entah betapa banyak orang persilatan yang telah menjadi korbannya sehingga orangnya mati dan keluarga berantakan, akan tetapi toh tetap tidak sedikit orang yang terpikat oleh kecantikannya dan berlutut di bawah kakinya.”

“Hm, ternyata kau pun tahu kisahnya!” jengek si Tojin.

Lamkiong Peng melototinya sekejap, lalu menyambung, “Meski orang persilatan sama benci padanya, tapi juga terpikat oleh kecantikannya dan jeri terhadap Kungfunya sehingga tidak ada yang berani bertindak padanya. Guruku menjadi gusar dan tampil ke muka untuk menyelesaikan urusan ini, di puncak Hoa-san terjadi pertempuran selama tiga hari, akhirnya dengan ilmu pedang yang tidak ada taranya guruku berhasil menumpasnya. Tatkala mana tidak sedikit jago persilatan sama menanti kabar di kaki gunung, ketika melihat guruku turun sendirian tanpa cedera, semua orang bersorak gembira, betapa senang mereka waktu itu sampai belasan li jauhnya dapat mendengar suara sorak-sorai mereka.”

Ia berhenti sejenak, wajahnya menampilkan rasa kagum dan juga bangga, lalu menghela napas dan berkata, “Cuma sayang waktu itu aku belum masuk ke perguruan Suhu sehingga tidak dapat ikut menyaksikan adegan berjaya itu. Namun kejadian ini cukup diketahui setiap orang persilatan, meski guruku tidak pernah bercerita, dapat juga kudengar kisah ini dari orang lain. Tapi sekarang engkau justru bilang Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat belum mati, malahan mengatakan dia bersembunyi di dalam peti mati ini, sesungguhnya apa maksud tujuanmu? Hm, kalau tidak kau jelaskan sekarang juga, jangan menyesal bila terpaksa aku harus bertindak.”

Si Tojin mendengarkan dengan diam, wajahnya menampilkan sikap menghina. Setelah Lamkiong Peng selesai bicara barulah ia menanggapi dengan gelak tertawa, “Hah, murid membual bagi sang guru, wahai Liong Po-si, jika kau tahu di alam baka tentu kau pun akan merasa malu.”

Alis Lamkiong Peng menegak, bentuknya, “Kau bilang apa?”

Segera ia putar pedangnya dan siap menusuk.

Namun si Tojin tetap tenang saja tanpa gentar, ucapnya, “Tampaknya engkau sedemikian kagum dan hormat kepada gurumu, biarpun kuceritakan lagi seratus kali juga tidak ada gunanya.”

“Ya, engkau memang tidak perlu lagi putar lidah ….”

“Tapi meski tidak kau percayai keteranganku, mengapa tidak coba kau buka peti mati itu, lihatlah apakah yang tersembunyi di situ bukan Bwe Kim-soat, perempuan jalang yang diludahi setiap orang persilatan itu,” teriak pula si Tojin dengan gemas.

Mau tak mau hati Lamkiong Peng menjadi goyah, ia pikir orang bicara secara begini, apakah mungkin dia berdusta? Tapi lantas terpikir bila orang tidak berdusta, kan hal itu berarti gurunya memang benar telah menyembunyikan Kong-jiok Huicu yang terkutuk itu di dalam peti mati untuk mengelabui mata telinga orang persilatan. Padahal tindak tanduk sang guru selama hidup selalu gilang-gemilang, mana mungkin melakukan hal tercela begini?

Begitulah mulai timbul pertentangan batin anak muda itu. Didengarnya si Tojin berkata pula, “Asalkan kau mau membuka tutup peti itu, bilamana isinya bukan Leng-hiat Huicu, segera aku akan membunuh diri, mati pun aku sukarela dan takkan menyesali dirimu.”

Kening Lamkiong Peng bekernyit, ia menunduk dan berpikir menahan pertentangan batin. Jika dia membuka tutup peti berarti dia tidak lagi memercayai sang guru yang biasanya sangat dihormatinya itu. Tapi kalau peti tidak dibuka, rasanya sukar menghilangkan rasa curiga sendiri.

Melihat air muka Lamkiong Peng yang tampak serbasusah itu, si Tojin mendengus pula, “Jika engkau tidak berani membuka peti itu, hal ini pun menandakan engkau tidak percaya sepenuhnya terhadap pribadi gurumu.”

“Tutup mulut!” bentak Lamkiong Peng dengan gusar.

Si Tojin anggap tidak mendengar dan tetap bicara, “Kalau peti itu kosong umpamanya, gurumu kan juga tidak pernah melarang engkau membuka peti ini. Lantas apa sebabnya engkau tidak berani membukanya?”

Diam-diam Lamkiong Peng merasa ragu, dengan kereng ia berteriak pula, “Kalau di dalam peti tidak tersembunyi orang, apakah betul engkau akan ….”

“Ya, seketika juga aku akan membunuh diri di depanmu, pasti takkan kujilat ludahku sendiri,” seru si Tojin tegas.

“Baik,” bentak Lamkiong Peng mendadak sambil membalik ke sana menghadapi peti mati yang tergeletak di tanah itu.

Tojin itu lantas melompat maju ke samping peti, ucapnya, “Engkau yang membukanya atau aku?”

Lamkiong Peng ragu dan berpikir, “Jika benar peti ini terisi orang, tentu dia telah mendengar percakapan kami, mana mungkin sejauh ini tidak memperlihatkan sesuatu gerak-gerik.”

Karena pikiran ini, dia tambah yakin pada pendirian sendiri, dengan lantang ia menjawab, “Barang tinggalan guruku mana boleh dikotori oleh tanganmu, dengan sendirinya harus aku yang membukanya.”

“Jika begitu, tidak perlu banyak omong lagi, lekas buka!” seru si Tojin sambil memandangi peti itu tanpa berkedip, nadanya juga penuh yakin pada apa yang dikatakannya, seakan-akan begitu peti terbuka segera akan terlihat Leng-hiat Huicu membujur di dalam peti dalam keadaan hidup, padahal di dunia Kangouw perempuan jalang itu disiarkan sudah lama mati.

Perlahan Lamkiong Peng mengangkat pedang hijau untuk dimasukkan ke sarungnya, gemerdep sinar pedang mengingatkan dia sarung pedang itu telah dihilangkan olehnya, segera pula terlihat olehnya pada pangkal pedang terikat sepotong kain sutera kuning muda, maka teringat lagi olehnya ucapan Yap Man-jing tentu inilah pesan tinggalan sang guru yang khusus ditujukan kepadanya.

Maklumlah, bukan dia pelupa, soalnya kejadian seharian ini benar-benar membuat pikirannya kusut sehingga hal ini terlupakan seketika. Maka buru-buru ia melepaskan kain kuning itu dan disimpan di dalam baju

Selesai pedang dimasukkan ke dalam sarung, perlahan Lamkiong Peng memegang ujung peti mati dan diam-diam mengerahkan tenaga.

Dengan mata melotot si Tojin bergumam, “Wahai Bwe Kim-soat, betapa pun kini dapat kulihat dirimu pula ….”

Dilihatnya Lamkiong Peng telah mengangkat tutup peti, ujung peti terangkat dua-tiga kaki ke atas, tapi tutup tidak terbuka melainkan tetap lengket dengan bagian bawah peti.

Lamkiong Peng melengak dan menaruh kembali peti itu, ucapnya perlahan, “Peti ini sudah dipantek, sukar terbuka!”

“Hm, ini suatu bukti lagi, jika peti kosong, kenapa mesti dipantek” jengek si Tojin, lalu dia mengitari peti itu dengan perlahan sambil mengawasi dengan teliti.

Tiba-tiba ia mengangkat telapak tangan kanan terus menabok pangkal peti mati.

“Tahan!” bentak Lamkiong Peng cepat, pedang dilolos terus menebas ke kuduk si Tojin, jika orang tidak menarik tangan dan menghindar, kepalanya pasti akan terpenggal.

Terpaksa si Tojin mendak ke bawah sambil menggeser ke samping, pedang menyambar lewat hampir menebas sanggulnya. Dengan gusar ia mendamprat, “Huh, menyerang dari belakang, terhitung kesatria macam apa?”

“Peti pusaka guruku mana boleh sembarangan dikotori oleh tanganmu!” jengek Lamkiong Peng.

Muka si Tojin sebentar merah sebentar pucat, ia melototi Lamkiong Peng sekejap, mendadak ia melengos dan mendengus, “Hm, kau tahu apa? Kedua biji mata naga yang terukir di pangkal peti itulah merupakan kunci untuk membuka peti!”

Walaupun tidak percaya, tidak urung Lamkiong Peng mengamat-amati juga bagian peti yang disebut itu, dilihatnya memang benar kedua biji mata naga yang terukir di atas peti itu tampak sangat mencolok, meski peti ini terbuat dari kaya cendana yang sangat mahal tapi karena kehujanan dan kepanasan sekian lama, peliturnya sudah luntur sehingga peti kelihatan tua, hanya biji mata naga ini masih mengilat, hal ini menandakan bagian ini sering dipegang dan diraba.

Diam-diam Lamkiong merasa gegetun, pengamatan sendiri memang kalah teliti dibandingkan orang lain. Perlahan ia lantas menjulurkan tangan untuk memegang biji mata naga dan diputar.

Terdengarlah suara “kreekk”, nyata bagian putaran sudah bekerja.

“Coba angkat lagi!” kata si Tojin.

Kedua orang saling pandang dengan tegang, jantung mereka sama berdebar. Tangan Lamkiong Peng agak gemetar, mendadak ia membentak, “Naik! ….”

Dan ….

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: