Kumpulan Cerita Silat

20/02/2008

Harimau Kumala Putih: Bab 04

Filed under: Gu Long, Harimau Kumala Putih — ceritasilat @ 11:49 pm
Harimau Kumala Putih
Oleh Gu Long
Bab 04

Sebelum Bu-ki sempat menikmati suatu yang menarik hati, orang orang itu sudah pada meng­undurkan diri.

Sebelum berangkat, sekali lagi orang-orang itu menyembah pada tuan rumah yang misterius sambil mengucapkan selamat.

Setelah itu diantara mereka sendiri baru saling mengucapkan selamat berpisah: “Sampai jumpa tahun depan!”

Suaranya itu masih berdengung ditepi telinga tapi orang-orang itu sudah berlalu semua hingga tak berbekas, hanya pikulan-pikulan penjaja makanan mereka yang ditinggal semua….

“Mungkinkah mereka sudah sedemikian mabuknya sampai alat peraga pencari makanpun kelupaan untuk dibawa serta ?”

Sugong Siau-hong tak dapat menahan rasa ingin tahunya, tiba tiba ia bertanya: “Mengapa kau tidak suruh mereka membawa pergi semua barang barang miliknya?””

“Benda-benda itu memang khusus mereka bawa untuk diberikan kepadaku, masa barang yang telah dipersembahkan mereka bawa pulang lagi?”

“Mengapa mereka harus mengirim barang-barang seperti ini kepadamu?”

“Karena mereka tahu aku harus memelihara tiga puluh orang pengiring dan delapan ratus ekor kuda!”

Sugong Siau-Kong tak dapat menahan rasa gelinya, ia terbahak-bahak.

“Haaahh . . baaahhh . . haaahhh apa gunanya barang-barang semacam itu untukmu ? Masa kaupun ingin bertukar usaha dengan berjualan daging bumbu ngo-hiang?” Tuan rumah ikut tertawa bergelak.

SETAN JUDI DAN MAYAT HIDUP

Tiba-tiba dari luar hutan berkumandang suara teriakan seseorang, suara itu keras seperti guntur yang membelah bumi, membuat telinga orang mendengung tajam.

“Haaahh…haaahhh…haaahhh…aku sudah tahu kalau kau pasti berada di sini, kau tak dapat menghindari pencarianku!” kata orang itu sambil terbahak-bahak.

Ketika gelak tertawa itu mulai kedengaran, suaranya masih berada ditempat yang sangat jauh, tapi ketika gelak tertawa itu terhenti, orang itu sudah berada dihadapan mereka.

Seorang laki-laki tinggi besar yang hampir menandingi besarnya Oh Ki dengan memanggul sebuah karung goni yang amat besar di pangung dan menenteng sebuah lagi ditangan, bagaikan burung walet terbang di udara meluncur datang dengan cepatnya.

Bu-ki cuma merasakan berkelebatan bayangan manusia, tahu-tahu orang itu sudah berdiri di muka pintu kereta.

Seandainya tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, orang tak akan percaya kalau seorang laki-laki sebesar ini ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh yang lincah dan gesit.

Udara di bulan keempat ini sudah mulai panas, tapi laki-laki itu mengenakan sebuah baju tebal yang terbuat dari kulit kambing, rambutnya yang awut-awutan macam rumput kering diikat dengan seutas tali. kakinya segede gajah mengenakan sepasang sepatu rumput yang sudah butut.

Belum lagi kakinya berdiri tegak, ia sudah menuding hidung tuan rumah sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…haaahh…haaahh…bocah keparat, kau memang hebat sekali, sampai akupun tidak menyangka kalau tahu ini kau bakal memilih suatu tempat pertemuan yang begini dekat dengan jalan raya, akupun tak mengira kalau kau telah menitahkan anak cucu muridmu untuk menyaru sebagai penjaja makanan kecil.”

Kalau orang lain bersikap amat hormat kepada tuan rumah, maka orang ini bukan saja tidak menaruh sikap hormat, bahkan mencaci maki seenaknya dengan kata kata yang paling kasar.

Tapi tuan rumah tidak menegur atau kurang senang hati, bahkan diapun ikut tertawa dengan gembira.

“”Akupun tidak menyangka kalau tahun ini masih dapat bertemu lagi denganmu.”

Laki laki itu tertawa.

“Meskipun aku Samwan Kong setiap kali berjudi tentu kalah, tapi kepandaianku mencari orang adalah nomor satu di dunia!”

“Kepandaianmu untuk kalah berjudipun merupakan nomor satu di dunia!” tuan rumah menambahkan.

Samwan Kong tergelak gelak.

“Haahhh….haaahhh…haahh. … betul betul, neneknya kura-kura, tepat memang perkataanmu itu!”

“Kalau kau sudah tahu bila berjudi pasti kalah, mengapa tahun ini datang ke mari lagi.”

“Setiap orang pasti mempunyai saat ber­untung dan saat sial, siapa tahu setelah kalah habis-habisan tahun lalu, tahun ini nasibku akan mengalami perubahan?”

“Jadi tahun ini kau betul-betul ingin berjudi lagi?

“Siapa yang tak mau berjudi dia adalah cucu kura-kura!” Samwan Kong berteriak.

Tiba-tiba ia menumpahkan seluruh isi karung goninya ke atas tanah, lalu katanya lagi: “Akan kugunakan benda-benda ini untuk mempertaruhkan pikulan-pikulan penjaja makanan milik anak cucu muridmu !”

Untuk kesekian kalinya Bu-ki tertegun.

Meskipun semua benda yang berhamburan ke luar dari karung goni itu termasuk juga barang acak-acakan yang beraneka ragam, namun diantara sekian banyak barang itu tak ada satupun yang bukan merupakan benda berharga.

Cahaya gemerlapan memantul dari atas tanah, diantara benda-benda yang berserakan di tanah itu tampak tempat lilin yang terbuat dari emas, tungku emas patung emas, perhiasan-­perhiasan dari emas, kopiah emas, ikat pinggang emas, lantakan emas, poci emas, cawan emas dan aneka macam benda lain yang keseluruhan­nya terbuat dari emas murni.

Pokoknya semua benda yang bisa dibuat dari emas, dapat ditemukan semua dari atas tanah, malahan diantara gemilangnya sinar emas terdapat pula butiran butiran intan permata, berlian dan mutiara yang tak ternilai harganya.

“Jangan-jangan orang ini sudah edan?” demikian Bu-ki berpikir.

Sebab hanya orang edan saja yang akan menggunakan begini banyak emas murni dan benda berharga lainnya untuk mempertaruhkan beberapa puluh buah pikulan penjaja makanan itu.

“Tidak, aku tak mau bertaruh!” ternyata tuan rumah lebih edan, ia telah menolak tawaran tersebut.

Paras muka Samwan Kong segera berubah menjadi merah padam seperti kena ditampar, teriaknya dengan penasaran:

“Kenapa kau tak mau bertaruh?”

“Karena barang yang kau pertaruhkan belum cukup!” jawab tuan rumah tenang.

Tak seorangpun yang beranggapan bahwa modal taruhannya kurang memadai, siapa tahu ia sendiri ternyata mengakuinya.

Dengan wajah masam ia berkata: “Sekalipun modal taruhan yang kubawa kali ini masih belum memadahi, tapi bagai­manapun juga kau harus bertaruh denganku!”

“Kenapa?”

“Sebab selama sepuluh tahun terakhir, sekalipun aku tak pernah menangkan dirimu, kau musti memberi satu kesempatan kepadaku untuk menangkan taruhan ini.”

Tuan rumah masih juga mempertimbangkan hal ini, lama sekali ia termenung sambil meng­hitung untung ruginya, akhirnya secara terpaksa dia menyetujui juga : “Baiklah, kuberi kesempatan yang baik untukmu guna mencari kemenangan…. . bersiap-siaplah!”

Belum habis kata-kata itu, Samwan Kong lelah berjingkrak kegirangan.

“Cepat ambil dadu…cepat ambit dadu…mari kita bertaruh sekarang juga.”

Dadu telah dipersiapkan sejak tadi, se­akan-akan tuan rumah memang telah persiapkan benda itu semenjak tadi.

Dadunya terbuat dari batu kemala putih, sedang mangkuknya dibuat dari emas murni.

Dengan semangat yang menyala-nyala Samwan Kong berseru: “Setiap kali aku bisa melihat ketiga biji dadu ini, belum-belum hatiku sudah merasa puas sekali, sekalipun musti kalah, akupun tetap puas sekali !”

“Siapa yang akan melemparkan dadu ini lebih dulu?” tanya tuan rumah kemudian.

“Aku!”

“Pertaruhan ini hanya berlangsung antara kau melawan aku, perlu tidak seorang bandar?”

“Tidak, tidak perlu bandar!” Samwan Kong gelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, sekalipun kau berhasil melemparkan dadumu dengan angka empat lima dan enam, aku masih sanggup untuk menyusul­nya.

“Baik, kalau begitu akan kulempar dadu ini dengan angka empat, lima dan enam, ingin kulihat dengan cara apa kau hendak menyusul­nya!”

Sekali comot dia ambil dadu dadu itu dari mangkuk, kemudian dengan jepitan jari tengah, jari telunjuk dan jari manisnya ia angkat dadu­-dadu itu lalu diketukkan tiga kali di tepi mangkuk….”

“Ting, ting, ting!” diiringi dentingan nyaring dadu itupun disebarkan dalam mangkuk.

Gaya tangannya bukan cuma berpengalaman bahkan sangat indah, tampaklah ketiga biji dadu yang putih mulus itu bergelinding lalu berputar tiada hentinya di dalam mangkuk.

Akhirnya dadu yang pertama telah berhenti, dadu itu menunjukkan angka “empat,” me­nyusul kemudian dadu keduapun berhenti, dadu ini menunjukan angka “enam”.

Samwan Kong segera membentak nyaring “Lima!”

Dadu ketiga yang berhenti berputar benar­-benar menunjukkan angka “lima,” dengan begitu maka ia benar benar berhasil meraih angka “empat, lima dan enam”

Dalam perjudian dadu, kecuali tiga angka kembar maka angka tertinggi yang bisa diraih orang adalah angka “empat lima enam”

Tentu saja untuk mendapatkan angka “macan tutul” atau angka kembar itu jauh lebih sulit dari pada mengharapkan pohon besi berbunga.

Samwan Kong segera tergelak gelak dengan riangnya.

“Haaahhh…huaahhh…haaahhh…. agaknya nasibku tahun ini telah mengalami perubahan besar, coba lihat hasil angka yang berhasil kuraih…rasa-rasanya untuk men­derita kalah kali ini bukan suatu hal yang gampang terjadi.”

Tuan rumah menghela napas panjang.

“Aaaai…yaa, memang tidak mudah!” keluhnya.

Tiba-tiba ia berpaling ke arah Bu-ki, kemudian tegurnya:

“Kau pernah bermain dadu?”

Tentu saja Bu-ki pernah bermain dadu.

Ia bukan termasuk seorang anak baik-baik, perjudian macam apapun pernah ia lakukan seringkali uang sakunya ludas di meja judi.

“Bagaimana kalau kau membantu aku untuk menyebarkan dadu-dadu itu?” pinta tuan rumah lagi.

“Baik!”

Sudah menjadi kebiasaan baginya, setiap masalah yang belum tentu bisa ditolak olehnya, serta merta dia akan menyanggupi dengan begitu saja.

Jarang sekali ia tolak permohonan orang lain.

“Bolehkah kuminta bantuannya untuk memutarkan biji-biji dadu itu?” tanya tuan rumah kemudian kepada lawan judinya.

“Tentu saja boleh!” Samwan long segera menyetujui.

“Andaikata ia mampu meraih tiga angka kembar si macan tutul, kaupun tak akan menyesal?” desak tuan rumah lagi.

“Kalau dia mampu meraih tiga angka kembar, maka aku akan…. ”

“Apa yang hendak kau lakukan?”

“Terserah apa yang dia minta! pokoknya semua yang dia harapkan akan kulaksanakan.” tukas Samwan Kong cepat.

“Oooh…. jadi maksudmu, apapun yang ia minta kau lakukan, akan kau laksanakan tanpa membantah?”

“Betul!”

“Tahukah kau bahwa perkataan semacam ini tak boleh diutarakan secara sembarangan?”

“Kenapa?”

“Dahulu aku pernah kenal dengan seorang anak gadis yang gemar bertaruh dengan se­orang kawanku, seringkali ia mengucapkan kata-kata seperti apa yang barusan kau katakan!”

“Dan akhirnya?”

“Akhirnya dia menjadi bininya temanku”

Tiba-tiba Bu-ki tertawa lebar.

“Tapi kau tak usah kuatir” selanya, “bagaimanapun juga, tak nanti kupaksa kau untuk menjadi biniku!”

Seperti juga apa yang dilakukan Samwan Kong, dengan ketiga jari tangannya ia mencekal dadu-dadu itu, lalu diketukkan tiga kali ditepi mangkuk emas.

“Ting ting, ting…!” dentingan nyaring menggema di udara dan… Kerontang…, !” tiga biji dadu itu ter­sebar di dalam mangkuk dan berputar tiada hentinya.

Samwan Kong menatap tajam ketiga biji dadu yang sedang berputar itu, matanya terbelalak lebar dan berkedip pun tidak.

Tiba tiba tuan rumah menghela napas panjang.

“Aaaai… lagi-lagi kau yang kalah!” bisiknya.

Belum habis kata-katanya itu, ketiga biji dadu tersebut telah berhenti berputar, benar juga, dadu-dadu itu menunjukkan ke angka “enam” semuanya.

“Lak pa” atau kembar enam merupakan angka paling top dari dadu.

Untuk sesaat lamanya Samwan Kong berdiri tertegun, lama, lama sekali, tiba-tiba ia berteriak penasaran: “Maknya, bikin mendongkol hati orang saja!”

Tanpa banyak komentar ia berjumpalitan tiga kali di udara dan tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Begitu berkata akan pergi, dia lantas pergi bahkan sewaktu pergi jauh lebih cepat gerakannya ketimbang sewaktu datang, andaikata cawan emas mangkuk emas, lantakan emas dan batangan emas yang berserakan di tanah tidak masih tersebar di atas tanah, orang akan mengira bahwa di sana tak pernah kedatangan seorang manusia semacam dia.

Sugong Siau-hong selalu duduk di samping dengan senyuman dikulum selama adegan demi adegan berlangsung, dia hanya duduk menikmati dengan mulut membungkam, saat itulah tiba-tiba ia berkata: “Setelah menyaksikan semua adegan yang berlangsung barusan, aku jadi teringat dengan Cap-toa-ok-jiu (sepuluh orang paling jahat) di dunia yang pernah menggetarkan sungai telaga belum lama berselang, terutama si Ok-to-kui (si setan judi) Samwan Kong!

Tentu saja kejadian itu diketahui siapapun juga didunia persilatan, sebab tokoh tokoh per­silatan yang terlibat di dalamnya merupakan tokoh tokoh sakti yang punya nama besar.

Yaaa, siapa yang tidak kenal dengan Ok-to-kui (setan judi) Samwan Kong, Hiat-jiu (si tangan darah) To Sat, Put-si-jin-tan (tidak makan kepala manusia) Li Toa jui, Put-lam-put-li (setengah laki setengah perempuan) To Kiau kiau, Mi-si-jin-put-bei-mia (memikat orang sampai mati tidak ganti nyawa) Coa Mie mie, Sian-li-cong-to (senyuman dibalik golok) Ha ha ji…

Masih ada lagi Siau Hi ji yang tersohor karena kecerdikannya beserta saudara kembar­nya Hoa Bu koat, semuanya merupakan tokoh-tokoh persilatan yang menggemparkan seluruh dunia.

Walaupun kini, sepuluh orang jahat Cap-toa-ok-jiu sudah punah, Siau Hi ji dan Hoa Bu koat telah mengasingkan diri dari dunia persilatan, tapi nama mereka masih terkenang selalu dalam ingat­an semua orang.

“Aku menjadi curiga, mungkinkah Samwan Kong yang kujumpai sekarang adalah saudara kembar dari Samwan Kong yang dulu?”

Tuan rumah segera tersenyum.

“Tentu saja kau tak akan tahu kalau mereka adalah satu orang yang sama…!” katanya.

“Kenapa?”

“Karena kau tak pernah berjudi!`

“Apakah dia masih segila dulu?”

“Tentu saja, bahkan cara berjudinya lebih garang lagi ketimbang dulu, dan kalahnya tentu saja lebih besar ketimbang dulu.”

“Yaa, dia memang biasanya cuma kalah dalam bertaruh” Sugong Siau-hong mengakui.

“Kalau Samwan Kong dimasanya Siau Hi-ji baru akan ludas uang dan hartanya bila fajar telah menyingsing…”

“Bagaimana sekarang?”

“Sebelum fajar menyingsing, sebelum penjudi buyar, uangnya sudah ludas lebih duluan, bahkan ludas dalam sekali bertaruh!”

“Kayakah dia?”, tanya Sugong Siau-hong lagi. Tuan rumah tidak menjawab, sebaliknya sambil berpaling ke arah Bu-ki ia balik bertanya: “Menurut pandanganmu, dia kaya tidak?”

“Tentu saja!”” Terpaksa Bu ki harus meng­akui.

“Selamanya dia pasti tak akan melupakan dirimu, sebab orang yang bisa meraih tiga angka enam dalam satu kali putaran dadu tidak terlampau banyak jumlahnya”

“Yaa, manusia dengan kepandaian khusus ini memang tidak banyak jumlahnya”

“”Kau bisa meraihkan kemenangan besar bagiku berarti nasib mujur memang masih berada di pihakku, tentu saja aku harus memberi persen atas jerih payahmu itu”

Bu ki tidak menyatakan sikap keberatan.

“Kau boleh memilih beberapa buah pikulan di antara pikulan-pikulan yang berserakan di luar sana” kata tuan rumah lagi.

“Baik!” jawab Bu ki singkat.

Pemuda itu tidak banyak komentar, dia pun tidak berkata demikian.

“Aku toh tak akan menjadi penjual daging ngo-hiang, gunanya pikulan sebanyak itu bagiku?” Dalam anggapannya persoalan semacam ini tidak perlu ditampik, tidak ada gunanya pula untuk ditanyakan.

Ketika tuan rumah menyaksikan di balik sinar matanya memancarkan cahaya riang, kembali katanya
“Kau boleh memilih lima batang pikulan!”

“Baik.”

Ia segera maju menghampiri pikulan-pikulan itu dan sembarangan mengambil satu diantaranya, tapi begitu pikulan itu diangkat, rasa kaget dan tercengang segera menghiasi wajahnya.

Ternyata pikulan itu beratnya bukan kepalang hampir saja dia tak kuat untuk mengangkatnya ke atas.

Ketika ia memilih sebuah pikulan lagi, rasa kaget dan tercengangnya makin menjadi, akhirnya tak tahan lagi ia bertanya.

“Apakah semua pikulan pikulan ini terbuat dari emas murni?”

“Betul, semuanya terbuat dari emas!”

“Emas murni?”

“Yaa, seratus persen emas murni!”

Bukan pikulannya saja yang terbuat dari emas murni, agaknya benda benda yang lainnya pun sama saja, sekalipun bukan terdiri dari emas murni semua paling sedikit yang bukan terdiri dari perak.

Sekarang Bu ki baru sadar, Samwan Kong tidak edan, tuan rumah juga tidak edan, yang edan justru adalah pedagang-pedagang kecil itu.

“Padahal mereka semua tidak edan!” tuan rumah menerangkan sambil tertawa.

“Tidak edan?”

“Mereka tahu aku musti menghidupkan tiga puluh orang pembantu dan delapan ratus ekor kuda jempolan, mereka juga tahu biaya hidup sehari-hari ku sangat besar, padahal pemasukan hampir tak ada, maka setiap tahun pada hari ini mereka selalu berkumpul di sini sambil memberi sedikit hadiah untukku.”

Tentu saja orang orang itu bukan penjual makanan kecil, sebab berjualan selama tiga ratus tahun penuhpun belum tentu bisa mendapat laba sebentar satu pikulan emas murni.

“Dahulu mereka adalah bekas-bekas bawahan­ku,” demikian tuan rumah menerangkan, ” tapi sekarang sebagian besar dari mereka sudah menjadi pedagang-pedagang besar”

“Agaknya dagangan mereka pada saat ini bagus sekali, tentu laba, yang diperolehpun berlimpah ruah.”

Ia tak ingin bertanya terlalu banyak, diapun tak ingin mengetahui terlalu banyak.

“Kau kenal dengan Hek Popo?” tiba tiba tuan rumah bertanya lagi.

“Kenal!”

“”Tahukah kau pekerjaan apa yang ia lakukan?”

“Tidak tahu”

“Kau juga tak ingin tahu?”

“Tidak ingin!”

“Mengapa tak ingin?”

“Sebab setiap orang mempunyai hak untuk menyimpan sedikit rahasia pribadinya, kenapa aku musti mengetahui rahasia pribadi orang lain?”`

Kembali tuan rumah tertawa.

“Mereka sedikitpun tak ingin rahasia pribadi­nya diketahui orang, maka bila mereka akan datang ke mari setiap tahun, jejak mereka pasti dirahasiakan dengan sebaik-baiknya”

“Aku dapat melihatnya!”

“Tempat pertemuan yang kami adakan setiap tahun selalu berbeda dan rahasia sekali, tiap tahun kami selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain”

Bu-ki termenung untuk berpikir sejenak, tiba-­tiba ia berkata: “Tapi yang pasti setiap tahun Samwan Kong selalu berhasil menemukan tempat pertemuan kalian!”

“Yaa, karena itulah saat yang paling bagus baginya untuk bertaruh sampai puas, tak pernah ia sia-siakan kesempatan yang paling baik itu barang satu kalipun!”

Bu-ki tersenyum.

“Kepandaiannya untuk kalah bertaruh memang sangat hebat sekali!” pujinya lirih.

Bukan cuma hebat saja, hakekatnya nomor satu di dunia”

“Apakah kepandaiannya untuk mencari orang juga nomor satu di dunia…?”

“Benar!”

Mencorong sinar terang dari balik mata Bu-ki, ia menundukkan kepalanya dan sembarangan me­milih lima batang pikulan, lalu dibopong dengan kedua belah tangannya.

Lima batang pikulan itu sungguh-sungguh berat sekali.

Tuan rumah memandang sekejap ke arahnya lalu tertawa tawa.

“Jika dia ingin mencari jejak seseorang, kemanapun orang itu menyembunyikan diri, ia mampu untuk mencarinya sampai ketemu, sayang­nya jika orang lain yang ingin mencari jejaknya, kalau dia belum ingin menampakkan diri, jangan harap kau bisa menemukannya,” demikian ia berkata.

Bu-ki bersikap seolah-olah tidak mendengar apa yang sedang ia katakan, pelan-pelan pikulan itu diletakkan ke lantai kemudian katanya secara tiba-tiba: “Meskipun kudaku bukan termasuk jenis kuda kenamaan yang mahal harganya, tapi aku tak ingin, menggencetnya sehingga mati karena keberatan.”

Tuan rumah segera memahami maksud hati­nya, ia berkata: “Masa kelima batang pikulan itu dapat me­nindihnya hingga mati karena keberatan?”

“Jangankan dia, akupun hampir mati keberatan karena musti menggotong kelima batang pikulan ini!”

“Tentu saja kau tidak ingin mati bukan?” sambung tuan rumah sambil tertawa lebar.

“Sebab itulah benda-benda ini terpaksa ku­tinggalkan dulu di sini, apabila aku sangat mem­butuhkannya, pasti, akan kucari dirimu untuk memintanya kembali.”

“Masa kau bisa menemukan jejakku?”

“Sekalipun aku tak berhasil menemukan jejak­mu, yang pasti kau punya cara untuk membuat aku bisa menemukan kembali jejakmu, bukankah demikian?”

“Apakah kau selalu jarang sekali menampik keinginan orang lain?”

“Yaa, jarang sekali!”

Tuan rumah segera menghela napas panjang.

“Aaaai…kalau begitu tampaknya akupun tak punya cara lain untuk menampik keinginan­mu itu” keluhnya.

Bu-ki mengangkat kepalanya dan menatap wajah orang itu, lalu katanya pula: “Maka dari itu, kau harus mencarikan sebuah akal bagiku, agar setiap saat akupun bisa me­nemukan jejakmu”.

Tuan rumah segera tertawa, sambil berpaling ke arah Sugong Siau-hong katanya: “Aku lihat tampaknya pemuda ini jauh lebih cerdas dalam segala-galanya daripada dirimu.”

“Yaa, dia memang tidak bodoh!” Sugong Siau-­hong membenarkan sambil tersenyum.

“Aku suka dengan orang-orang yang cerdik, aku selalu mengharapkan orang-orang yang cerdik bisa hidup lebih panjang.”

Lagi-lagi perkataan itu diucapkan secara aneh, seakan-akan dibalik kata katanya itu terkandung suatu maksud tertentu.

Entah Bu-ki dapat memahami perkataan itu atau tidak?

Tiba-tiba tuan rumah mengambil lonceng emas yang berada pada sandaran tangannya dan dilemparkan kepada pemuda itu.

“Jika kau ingin mencari jejakku, bunyikan saja lonceng emas ini sebanyak tujuh kali, lalu ketuk tujuh kali untuk masa berikutnya, segera akan muncul seseorang yang akan menghantarmu untuk menjumpai diriku”

Bu-ki tidak bertanya lagi, dia pungut lonceng emas itu dan disimpan ke dalam sakunya, bahkan disimpan secara teliti dan rahasia sekali…”

Sekulum senyuman puas segera menghiasi wajah Sugong Siau-hong, agaknya ia puas sekali dengan apa yang dilihat barusan.

Pada waktu itulah dari tempat ke jauhan berkumandang suara kentongan, rupanya kentongan kedua sudah menjelang tiba.

ooo0ooo

Bila malam sudah menjelang tiba suara kentongan memang sudah umum terdengar di mana­-mana, sesungguhnya hal itu bukan suatu peristiwa yang patut diherankan atau dikejutkan.

Tapi Bu-ki seperti merasa kaget bercampur tercengang.

Sekalipun suara dua kali kentongan itu berasal dari tempat yang jauh sekali, tapi cukup nyaring dalam pendengaran mereka, seakan-akan kentongan itu dibunyikan orang dari sisi telinganya.

Tak kuasa lagi dia bertanya: “Benarkah pada saat ini kentongan ketiga belum menjelang tiba?”

Tiada seorangpun yang menjawab pertanyaan­nya itu.

Semua lampu-lampu yang semula menyinari sekelilingnya, kini sudah dipadamkan semua.

Seketika itu juga suasana dalam hutan ber­ubah menjadi gelap gulita. di tengah kerdipan sinar lirih yang memancar ke luar dari sela-sela ruang kereta, lamat-lamat ia saksikan munculnya serombongan manusia yang menggotong sebuah peti kotak yang besar sekali.

Kalau dilihat dari kejauhan, maka kotak itu mirip sekali dengan sebuah peti mati.

ooo0ooo

Tiba tiba tuan rumah menghela napas sambil bergumam: “Aaaai…akhirnya ia datang juga!”

“Siapa yang telah datang?” tanya Bu-ki keheranan.

Suatu perubahan mimik wajah yang sangat aneh tercermin di wajah tuan rumah, lewat lama sekali, sepatah demi sepatah dia baru menjawab: “Dia adalah seseorang yang telah mati!”

Pada umumnya orang mati selalu berada dalam peti mati!

Ternyata kotak itu memang bukan sebuah kotak, melainkan sebuah peti mati, peti mati tempat mayat disimpan.

Delapan orang laki laki berbaju hitam yang kurus dan jangkung menggotong peti mati ber­warna hitam itu dan selangkah demi selangkah menghampiri kearah mereka.

Di atas peti mati itu ternyata duduk se­seorang, dia adalah seorang bocah berusia sepuluh tahunan yang mengenakan baju serba putih.

Dikala sinar lampu menyorot di atas wajah bocah itu, tiba tiba Bu-ki merasa terkejut sekali.

Ternyata bocah itu tak lain adalah bocah yang membawanya datang ke sana, cuma kali ini dia telah mengganti pakaiannya dengansatu stel pakaian berwarna putih bersih.

Mengapa secara tiba-tiba bocah itu duduk di atas peti mati?

Ketika Bu-ki masih berpikir dengan perasaan tidak habis mengerti, tiba-tiba ada seseorang men­jawil ujung bajunya sambil bertanya dengan suara lirih: “Hei, coba lihatlah! Bukan bocah yang duduk di atas peti mati itu mirip sekali dengan wajahku?!”

Sekali lagi Bu-ki merasa terkejut. Ternyata bocah yang menarik ujung bajunya adalah bocah yang membawanya datang ke sini, ia masih mengenakan baju warna merahnya yang menyala.

Yaa, hakekatnya dua orang bocah itu mem­punyai wajah maupun potongan badan yang lama, ibaratnya pinang yang dibelah dua.

“Tok! Tok! Tok!`

Bunyi kentongan kembali terdengar, akhirnya Bu-ki sempat melihat si tukang kentongan itu, dia memakai baju warna hijau, kaus putih sepatu dari rumput kering dan bermuka pucat pias, di tangan yang satu membawa gemberengan kecil, pemukul kecil tangan yang lain memegang tambur, bambu dan sebuah pemukulnya berwarna putih.

Toh mia keng hu (tukang kentongan perenggut nyawa) Liu Sam keng telah datang pula!

Ia tidak melihat kehadiran Bu ki di sana apapun tidak terlihat olehnya…

Ia masih memusatkan segenap perhatiannya untuk memukul kentongan mautnya…

Walaupun sekarang belum sampai kentongan ketiga, tapi kentongan kedua sudah lewat mungkin­kah kentongan ketiga masih jauh?

Tapi, sampai kapankah kentongan ketiga baru tiba?

Nyawa siapa yang kali ini hendak direnggutnya?

ooo0ooo

Bocah berbaju putih duduk tegak dan kaku di atas peti mati, bergerak sedikitpun tidak.

Sedang si bocah “berbaju merah” sedang me­mandang ke arah bocah yang lain sambil menertawakannya.

Dengan muka cemberut bocah berbaju putih itu diam dalam seribu basa berkutik tidak memperdulipun juga tidak.

Bocah berbaju merah itu segera memburu ke muka dan menunjukkan muka setan ke arahnya.

Tapi dengan cepat bocah berbaju putih itu melengos ke arah lain, melirik sekejappun tidak.

Meskipun kedua orang bocah cilik itu mem­punyai raut wajah bagaikan pinang dibelah dua, tapi watak mereka tampaknya jauh berbeda antara satu dengan lainnya.

Lama kelamaan Bu-ki tak dapat mengendali­kan diri, diam-diam ia berbisik lirih: “Kau kenal dengan dia?”

“Tentu saja kenal!” sahut, bocah berbaju merah itu.

“Apakah dia adalah saudaramu?”

“Bukan, dia adalah musuh bebuyutanku!”

Bu-ki lebih terkejut lagi sesudah mendengar jawaban itu, katanya lagi: “Kalian berdua sama-sama masih bocah, kenapa bisa menjadi musuh bebuyutan?”

Kami memang sudah ditakdirkan menjadi sepasang musuh bebuyutan, semenjak dilahirkan sudah menjadi musuh bebuyutan!” jawab bocah berbaju merah itu.

Siapa pula yang berada dalam peti mati itu?”

Tiba-tiba bocah berbaju merah itu menghela napas sambil mengeluh:

Kenapa makin lama kau semakin bodoh? Yang berada dalam peti mati tentu saja orang mati, masa persoalan semacam inipun tidak kau pahami?”

Peti mati itu sudah diturunkan dan diletakkan di muka pintu kereta, warna hitam yang berkilauan dari peti mati itu terasa makin bercahaya ketika tertimpa sinar lampu.

Sinar itu bukan pantulan sinar karena cairan minyak!

Mungkinkah peti mati ini seperti juga dengan pikulan-pikulan itu? Terbuat pula dari emas murni.

Delapan orang laki laki berbaju hitam yang gotong peti mati itu meski berdiri dengan muka hijau membesi dan tanpa emosi, namun butiran peluh telah membasahi jidat mereka.

Jelas peti mati itu beratnya bukan kepalang, seakan-akan memang terbuat dari emas murni.

Dengan menggunakan sebuah peti mati yang terbuat dari emas murni, hendak digotong ke manakah orang mati itu?

Bocah berbaju putih yang masih duduk di atas peti mati itu tiba-tiba menggape ke arah Liu Sam keng.

Seakan-akan melihat gapean tersebut Liu Sam keng segera menghampirinya sambil membungkuk kan badan.

Pelan-pelan bocah berbaju putih itu bangkit berdiri, kemudian melangkahkan kakinya meng­injak di atas bahunya.

Kelihatan sekali betapa jeri dan hormatnya Toh mia keng hu si tukang kentongan perenggut nyawa yang tersohor namanya dalam dunia per­silatan ini terhadap bocah cilik tersebut, ia mem­biarkan bocah itu berdiri diatas bahunya, sedang ia sendiri sama sekali tidak menunjukkan perasaan tak senang hati.

Lagi-lagi bocah berbaju merah itu berbisik kepada Bu ki, katanya: “Percayalah kau, sejak dilahirkan belum pernah kakinya menginjak debu atau pasir barang satu kalipun”

“Aku percaya!”

Bocah berbaju merah itu segera menghela napas.

“Aaaai… tapi, sepasang kakiku justru penuh dengan pasir, debu dan lumpur!”

“Aku lebih suka anak-anak yang kakinya ber­lumpur, sewaktu masih kecil dulu bukan cuma kaki saja yang berlumpur, mukakupun ikut ber­lumpur…”

Bocah berbaju merah itu segera tertawa riang, tiba tiba digenggamnya tangan pemuda itu lalu katanya:

Akupun amat suka kepadamu, meski kadang­kala kau bisa berubah menjadi bodohnya luar biasa, tapi aku masih tetap menyukai dirimu…percaya tidak?”

Bu-ki ingin ikut tertawa, tapi ia tak sanggup tertawa lagi.

Penutup peti mati itu sudah diangkat orang, terlihatlah sesosok tubuh berbaring membujur dalam peti mati itu, sepasang tangannya disilang­kan di depan dada, bajunya yang putih mulus tampak sangat bersih dan tak berdebu, mukanya pucat pias seperti tak ada warna darah barang sedikitpun juga, sehingga kelihatan seperti orang yang sudah mati lagi, sesosok mayat yang sudah lama menjadi kaku.

Peti matinya berwarna hitam pekat, sedang wajah mayatnya berwarna putih seperti kertas, warna kontras yang sangat berlawanan ini tampak lebih menyeramkan dan menggidikkan di bawah timpaan sinar lampu yang redup…

Mengapa mereka membuka peti mati itu? Mungkinkah mereka bermaksud agar mayat itu dapat melihat si tuan ramah? Atau mungkin mereka menghendaki agar tuan rumah bisa me­lihat mayat itu?

Mayat kering itu memejamkan sepasang matanya. Mayat kering memang tak ada yang menarik, malah menyeramkan bagi siapa yang melihatnya.

Tapi tuan rumah benar-benar sedang mem­perlihatkan mayat itu, lalu secara tiba-tiba menghela napas panjang.

“Aaaai…setahun kembali sudah lewat, baikkah penghidupanmu selama ini?”

Masakan mayat kering bisa mendengar pem­bicaraan manusia?”

Aneh betul tuan rumah itu, ternyata dia meng­ajak berbicara si mayat kering tersebut!

ooo0ooo

Mayat kering itu bukan saja dapat mendengar, bisa berbicara malah.

Tiba tiba ia menjawab:

“Aku tidak baik”

Ketika mendengar jawaban tersebut sepatah demi sepatah diucapkan oleh sesosok mayat kering, bahkan Sugong Siau-hong pun ikut merasa terperanjat sekali.

Mau tak mau dia jadi teringat kembali dengan dongeng-dongeng kuno yang ada hubung­annya dengan mayat hidup pula.

“Bagaimana dengan kau?” mayat itu bertanya.

“Akupun tidak baik!”

“Tiba-tiba mayat itu menghela napas panjang.”

“Aaaai…Siau Tanglo wahai Siau Tang­lo, kau telah mencelakai diriku, dan akupun telah mecelakai dirimu”

ooo0ooo

Hingga sekarang Bu-ki baru tahu bahwa nama tuan rumah yang misterius itu ternyata bernama Siau Tang lo.

Lantas siapa pula mayat hidup itu?

Meskipun suaranya serak-serak basah dan ke­dengaran ketus sekali, namun dibalik kesemuanya itu terselip suatu perasaan sedih dan menyesal yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Seseorang, apabila ia benar-benar sudah mati, benar-benar telah berubah menjadi mayat, tidak mungkin dalam tubuhnya masih mengalir segala perasaan, apalagi emosi.

Tapi kelihatannya ia justru lebih mirip dari pada sesosok mayat, seorang manusia yang tidak membawa hawa kehidupan lagi, lebih-lebih lagi semangat dari hidup.

Sekalipun dia masih hidup, bukan berarti dialah yang ingin tetap hidup di dunia ini.

Karena ia sudah tidak memiliki kesenangan atau gairah untuk melanjutkan hidup.

Raut wajah Siau Tang lo yang selalu dihiasi sekulum senyuman, dalam detik itu pula seakan-akan telah berubah menjadi sedih, benci dan menyesal, tapi luapan emosi itu hanya berlangsung sebentar, sekulum senyuman kembali menghiasi wajahnya.

“Sudah kuduga, begitu datang di sini kau akan segera menyebutkan namaku” katanya sambil tersenyum.

“Apabila kau tidak menghendaki orang lain mengetahui namamu, aku boleh mewakilimu untuk membunuh semua orang yang ikut mendengarkan namamu itu!”

“Tahukah kau siapakah mereka ini?”

“Perduli siapapun orangnya, bagiku adalah sama saja!”

Sepasang matanya belum juga dipentangkan, seakan-akan tiada seorang manusiapun yang terpandang olehnya di dunia ini.

Sekalipun ia sendiri cuma sesosok mayat hidup yang sepanjang tahun berbaring dalam peti mati sepanjang tahun tak dapat menyaksikan indahnya sinar matahari, tapi ucapannya begitu besar, begitu sombong dan menggelilan hati.

Bu-ki tak dapat mengendalikan perasaannya, tiba-tiba ia tertawa tergelak, tertawa dengan suara yang melengking dan tak sedap didengar.

Selamanya dia tak ingin menampik kebaikan orang lain, tapi selamanya diapun tak ingin me­nerima dampratan atau cemoohan dari orang lain.

Meskipun mayat hidup itu berbaring dengan mata yang terpejamkan rapat, bukan berarti telinganya tersumbat.. tentu saja ia dapat me­nangkap maksud dibalik kata-katanya itu.

Benar juga, mayat hidup itu segera bertanya: “Siapa yang sedang kau tertawakan?”

“Kau! Aku sedang mentertawakan kau!” jawaban Bu-ki ternyata gamblang dan langsung.

“Kelucuan apa yang kumiliki sehingga kau tertawakan?”

“Bukan cuma perkataanmu saja yang lucu dan menggelikan, bahkan hakekatnya seperti dagelan saja.”

Tiba-tiba mayat hidup itu membuka mata­nya dan memancarkan sinar tajam yang melebihi tajamnya sembilu, siapapun tak akan me­nyangka kalau mayat hidup yang hakekatnya sudah mati banyak tahun ini ternyata memiliki se­pasang sorot mata yang tajamnya bukan kepalang.

Sorot mata itu langsung ditujukan ke atas wajah Bu-ki.

Bu ki sendiri sedang melototkan pula sepasang matanya, sama sekali tak berubah paras mukanya walau menjumpai kejadian seperti itu.

“Tahukah kau siapakah aku ini?” tegur mayat hidup itu.

“Perduli amat siapakah kau, bagiku semua orang itu sama” jawab Bu-ki ketus.

Baru saja ia menyelesaikan kata katanya, mendadak mayat hidup itu sudah bangkit dari peti matinya.

Yang aneh ternyata sewaktu menggerakkan tubuhnya untuk bangkit tadi, sekujur badannya sama sekali tak berkutik, siapapun tidak sempat melihat dengan cara bagaimana ia bangkit dari peti matinya.

la tidak menggerakkan kakinya, tidak pula mengangkat kakinya, tapi tahu-tahu orangnya sudah berada di luar peti mati…Ketika sepasang tangan­nya yang kurus kering itu diayunkan ke tengah udara, beberapa jenis benda emas yang semula berserakan di tanah segera terbang dan terjatuh ke dalam cengkeramannya.

Baik poci, cawan maupun mangkuk emas Itu semuanya terbuat dari emas murni, tapi setelah berada dalam cengkeramannya, benda benda itu berubah seperti barang rongsokan, ketika dipencet dan digencet menjadi satu, benda benda emas itu segera remuk dan ketika diremas-remas maka terbentuklah emas-emas tadi menjadi sebuah tongkat emas yang lurus dan panjang.

Peluh dingin mulai membasahi telapak tangan Bu ki.

Kalau dibilang ia sama sekali tidak takut setelah menyaksikan demonstrasi kekuatan hawa murni dan kekuatan telapak tangan yang dilaku­kan mayat hidup itu, hakekatnya pengakuan ter­sebut adalah pengakuan yang tidak jujur.

Tentu saja, walaupun hatinya ketakutan se­tengah mati, hal ini tak sampai membuat anak muda itu mundur dengan badan gemetar atau putar badan mengambil langkah seribu.

Mayat hidup itu lagi lagi bertanya: “Sekarang kau sudah percaya bukan bahwa setiap saat aku dapat membinasakan dirimu?”

“Aku percaya!” Bu-ki mengakuinya.

“Lantas siapa yang barusan kau tertawakan?”

“Kau!”

Tiba-tiba mayat hidup itu menengadah dan berpekik nyaring, toya emasnya segera disodok ke muka dengan kecepatan serta tenaga serangan yang tiada bandingannya di dunia, rasanya tak seorang manusiapun di dunia ini yang sanggup menghindari serangan tersebut.

Tapi tusukan toya itu bukan tertuju ke tubuh Bu ki.

Yaa, sasaran dari sodokan toya emasnya ternyata adalah Siau Tang lo.

Tentu saja lebih lebih tak mungkin bagi Siau Tang lo untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Tampak cahaya emas berkilauan memenuhi angkasa, menyelusuri jalan darah Sau yang hiat di atas telapak tangan, dalam waktu singkat ia telah menotok enam puluh empat jalan darah besar dan kecil di tubuh tuan rumah…

Tiba-tiba toya emasnya kembali dijungkit ke atas membuat tuan rumah terjungkit dengan enteng kemudian sambil memutar telapak tangannya se­cara beruntun dia lancarkan kembali enampuluh empat buah totokan diatas punggung tuan rumah.

Semua gerak serangannya bukan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, gayanyapun aneh sekali bukan cuma seram rasanya bahkan hakekatnya belum pernah kedengaran dalam dunia persilatan.

Diantara tiga puluh enam buah jalan darah besar dan tujuh puluh dua jalan darah kecil di tubuh manusia, sesungguhnya paling sedikit ada separuh di antaranya merupakan jalan darah ke­matian. tapi totokan yang dilancarkan mayat hidup pada saat ini justru semuanya ditujukan pada bagian-bagian yang mematikan.

Anehnya, ternyata Siau Tang lo tidak tewas akibat serangan tersebut. Dengan tubuh yang enteng dan lembut tubuhnya melayang kembali ke atas pembaringannya yang empuk, bukan pen­deritaan yang terlihat sebaliknya justru ia kelihatan lebih segar dan enteng, seakan-akan seseorang yang baru sembuh dari penyakit parah. seperti juga seseorang yang baru saja menurunkan beban yang berat sekali.

Setelah menghembuskan napas panjang, ia bergumam: “Aaaai.. tampaknya aku bisa bertahan selama satu tahun lagi!”

“Bagaimana pula dengan aku?” tanya si mayat hidup.

“Asal aku tidak mampus, kau tentu saja tak akan sampai mampus!”

“Yaa, tentu saja! Sebab kau tahu cuma aku seorang yang dapat mampertahankan kehidupanmu”

“Oooh . . tentang soal ini, aku tak akan melupakan untuk selamanya…

“Di mana obat pemunah bagiku?”

Pelan-pelan Siau Tang lo merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol hijau kecil yang berbentuk panjang.

Setelah minum obat itu paras muka mayat hidup itu menunjukkan pula perubahan mimik wajah seperti apa yang dialami Siau Tang lo barusan.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia masuk ke dalam peti matinya dan berbaring membujur dalam peti mati, matanya terpejam rapat-rapat seakan-akan sudah tertidur pulas.

Selama kejadian itu berlangsung, bocah berbaju merah itu menggenggam terus tangan Bu ki erat-erat, dia seperti kuatir kalau pemuda itu tak bisa mengendalikan emosinya dan mencampuri urusan tersebut.

Menanti si mayat hidup itu telah berbaring kembali di dalam peti matinya, bocah itu baru merasa amat lega, bisiknya kemudian:

“Barusan aku benar-benar merasa agak takut!”

“Apa yang kau takuti?”

“Aku takut kau menyerbu ke muka dan coba menolong guruku, bila kau sampai berbuat demikian maka tindakanmu itu sama halnya dengan mencelakai selembar jiwanya.”

“Kenapa?”

“Aku sendiripun kurang begitu jelas,” kata bocah berbaju merah itu, “aku cuma tahu bahwa hawa murni dalam tubuhnya telah membeku, hawa yang beku itu hanya dapat ditembusi oleh mayat hidup itu dengan ilmu totokan menunggalnya, sebab dengan tubuhnya yang lemas dan setengah lumpuh, hakekatnya tak mungkin baginya untuk mengalirkan sendiri hawa murni dalam tubuhnya, kecuali mayat hidup ini seorang, tak mungkin ada orang kedua di dunia ini yang mampu menembusi ke seratus duapuluh delapan buah jalan darahnya dalam sekejap mata.”

Setelah berpikir sebentar, kembali katanya. “Yang paling penting adalah hawa murninya tak boleh putus, sebab satu kali terputus berarti jiwanya tak tertolong lagi”

“Sebetulnya soal itu merupakan rahasia pribadi dari gurumu, tidak seharusnya kau men­ceritakan rahasia tersebut kepadaku.”

“Kita sudah berteman, kenapa aku tak boleh memberitahukan rahasia ini kepadamu?” bantah bocah berbaju merah itu.

Bu-ki tidak berbicara apa-apa lagi.

Dia adalah seorang pemuda yang gampang dibikin terharu oleh keadaan yang dijumpainya, bila hatinya sedang terharu, seringkali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Bocah berbaju merah itu memutar sepasang biji matanya, tiba tiba ia bertanya: “Seandainya mayat hidup itu bertanya lagi kepadamu, siapa yang kau tertawakan tadi, bagaimana jawabanmu?”

“Aku sedang mentertawakan dia!” jawab Bu-ki tanpa berpikir panjang lagi.

Bocah berbaju merah itu kembali bertanya: “Dapatkah kau saksikan gerakan apa yang digunakan olehnya ketika melancarkan totokan tadi?”

“Bukankah ilmu pedang?”

“Betul, memang gerakan ilmu pedang!” bocah berbaju merah itu membenarkan. “Bila meng­gunakan gerakan pedang untuk menotok jalan darah orang, hal ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang gampang”

Bu-ki mengakui keheranan dari perkataan tersebut.

Yang diutamakan dalam gerakan ilmu pedang adalah gaya yang enteng dan lincah, dengan gerakan semacam ini tidak gampang baginya untuk meng­incar dengan tepat jalan darah orang lain.

Kembali si bocah berbaju merah itu berkata: “Pernahkah kau saksikan ilmu pedang dengan gerakan secepat ini?”

“Belum pernah!” jawab Bu ki.

“Akupun belum pernah menyaksikan gerakan ilmu pedang setepat ini”, ia menambahkan, “Bukan saja sekaligus dapat menusukkan seratus dua puluh delapan buah tusukan, lagi pula setiap tusukan tersebut dapat mengarah jalan darah secara tepat, setengah milipun tidak meleset”

“Jangan jangan kau sudah kagum kepadanya?” bisik bocah berbaju merah itu lagi.

“Aku hanya mengagumi ilmu pedangnya!”

Bocah berbaju merah itu segera tertawa.

“Tahukah kau kenapa aku sangat menyukai dirimu?” katanya.

Ia percaya sekalipun Bu-ki tahu, belum tentu dia akan mengucapkannya ke luar.

Maka ia menerangkan lebih lanjut: “Sebab tulang-belulangmu sungguh keras sekali, kerasnya bukan kepalang…! ”

Bu-ki sama sekali tidak bermaksud membantah atau menyangkal, sebab dalam hal inilah seringkali ia merasa bangga.

Tiba-tiba si bocah berbaju merah itu bertanya lagi: “Coba lihatlah, bukankah bocah itu terus menerus mendelik kepadaku…?”

Sejak pertama kali tadi, Bu-ki telah memperhatikan tentang hal itu.

Si bocah berbaju putih yang selama hidup tak pernah menginjak tanah itu sejak tadi sampai sekarang selalu melotot ke arah mereka dengan sepasang matanya yang bulat, jeli dan terang.

“Dia pasti mendongkolnya setengah mati!” demikian bocah berbaju merah itu berkata lagi.

“Kenapa ia marah kepadamu?”

“Sebab ia sedang menunggu diriku, sebaliknya aku tidak menggubrisnya malahan meng­ajak kau bercakap cakap”

“Apa yang sedang ia nantikan?”

“Ia menunggu untuk berkelahi dengan diriku!”

“Berkelahi?”

*Kedatangan suhunya kemari disamping untuk mendapatkan obat pemunah baginya, bocah itu memang sengaja datang untuk ber­kelahi dengan diriku…!”

Bocah itu tertawa sejenak, lalu terusnya: “Semenjak kami berusia delapan tahun, setiap tahun tentu akan berkelahi satu kali, kami sudah melangsungkan pertarungan semacam ini selama lima tahun”

“Kenapa kalian musti berkelahi?” tanya Tio Bu-ki dengan perasaan tak habis mengerti.

“Sebab suhunya dan suhuku sudah tak mungkin untuk berkelahi lebih jauh, maka dari itu masing-masing pula menerima seorang murid, kalau suhunya tak mampu melanjutkan pertarungan. Tentu saja muridnya yang harus melanjutkan, murid siapa yang berhasil menangkan pertarungan, kepandaiannya pula yang terhitung nomor satu di dunia”

Bu-ki memandang sekejap ke arahnya, lalu memandang pula bocah yang kakinya tak pernah menempel tanah itu, kemudian tak tahan lagi ia bertanya: “Apakah kaliau adalah saudara kembar ?”

Bocah berbaju merah itu segera menarik wajahnya.

“Kami bukan saudara kembar, kami adalah musuh bebuyutan yang sudah ditakdirkan sejak dilahirkan”

“Kalau memang dia sedang menunggu dirimu, kenapa tidak suruh kau menghampirinya!”

“Sebab dia musti bergaya seolah-olah seorang yang terpelajar, seseorang yang berwibawa dan mempunyai iman yang tebal, karena itu dia musti sabar dan mengendalikan emosinya”

“Maka dari itu, kau sengaja memanasi hatinya agar cepat menjadi mendongkol dan mangkel?” tanya Bu-ki.

“Yaa, yang dia pelajari adalah ilmu pedang, sedang aku belajar ilmu tenaga dalam, apa bila ia tidak kubikin mendongkol lebih dahulu, mungkin sudah lima kali aku dikalahkan olehnya”

Bu-ki dapat memahami maksud hatinya.

Bagi siapa yang belajar ilmu pedang maka dia lebih menitik beratkan pada kecerdasan, sebaiknya bagi yang mempelajari tenaga dalam lebih menitik beratkan soal pondasi, walaupun kedua-duanya mempunyai perjalanan yang sama, namun kemajuan yang dicapai bagi orang yang mempelajari ilmu pedang biasanya jauh lebih cepat.

Cuma, walau apapun yang dipelajari, sebelum pertarungan dilangsungkan orang tak boleh marah.

Marah akan menciptakan keteledoran, bagai manapun kecilnya keteledoran itu bisa mengakibatkah kematian yang fatal.

Bocah berbaju putih itu sudah mulai tak sanggup mengendalikan diri, tiba-tiba teriaknya: “Hei!”

Tapi bocah berbaju merah itu masih juga tidak memperdulikan dirinya. Suara teriakan dari bocah berbaju putih itu semakin lantang, kembali dia berseru:

“Hei, semenjak kapan kau menjadi tuli?”

Bocah berbaja merah itu berpaling dan memandang sekejap kearahnya, kemudian ia bertanya: “Eeeh…kau lagi berbicara dengan siapa?”

“Dengan kau” jawab bocah baju putih itu gemas.

“Keliru mungkin kau, sebab aku tidak merasa bernama hei!”

Tiba-tiba bocah berbaju putih itu mengenjotkan badannya, dari atas bahu Liu Sam-keng tahu-tahu ia sudah berada di atas atap kereta.

“Apapun namamu aku tak ambil perduli, pokoknya ke mari dulu kau!” bentaknya.

Akhirnya dengan ogah-ogahan bocah berbaju merah itu melangkah maju kedepan.

“Sekarang aku sudah datang!” katanya lirih.

“Naik ke mari !”

“Ogah, aku ogah naik ke atas!” tampik bocah berbaju merah itu sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

“Kenapa?”

“Bagaimanapun juga tidak mungkin bagiku untuk berkelahi dengan dirimu di atas kepala guruku”

Lalu setelah tertawa sebentar katanya lagi: “Kau boleh saja tak tahu aturan, tapi aku tak bisa menuruti cara berandalmu yang tak tak tahu aturan itu!”

Paras muka bocah berbaju putih itu sudah berubah menjadi merah padam, tiba-tiba ia meloncat turun.

Sebagaimana diketahui, waktu itu hujan baru saja berhenti, bagai manapun sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya. tak urung berlepotan lumpur juga kakinya.

“Adduuh mak!” bocah berbaju merah itu pura-pura berteriak.

“Hei, kenapa kau aduh-aduh?” tegur bocah berbaju putih itu semakin mendongkol.

“Aku lagi aduhkan kakimu itu, manusia terhormat macam kau mana boleh berlepotan lumpur kakinya?”

Bocah berbaju putih itu kontan saja tertawa dingin.

“Kau tak perlu menguatirkan bagiku, setiap saat aku membawa sepatu cadangan untuk di tukar!” katanya.

“Waaah…berapa banyak sepatu yang kau miliki?” tanya bocah berbaju merah pura-pura ingin tahu.

Kembali bocah berbaju putih tertawa dingin.

“Paling sedikit juga mencapai tujuh-delapan puluh pasang!”

“Haaahhh…haaahhh…baaahhh…bagus, bagus sekali!” bocah berbaju merah itu terbahak-bahak, “hakekatnya sepatumu jauh lebih banyak dari pada sepatu yang dimiliki permaisuli Nyo Kui-hui!”

Lalu pura-pura menunjukkan sikap ber sungguh-sungguh, kembali katanya: “Cuma bagaimanapun juga, aku masih rada kuatir bagimu!”

“Apa lagi yang kau kuatirkan?” tanya bocah berbaju putih itu tak tahan lagi, pucat pias sudah wajahnya karena gemas bercampur mendongkol.

“Aku kuatir kau tak bisa tumbuh lebih tinggi!” kata si bocah berbaju merah.

Sepintas lalu dua orang bocah itu bagaikan pinang dibelah dua, baik wajahnya maupun tinggi badan dan perawakannya, tapi setelah mereka berdiri bersama, oracg lain baru bisa melihat dengan jelas bahwa tinggi badan bocah berbaju merah itu dua inci lebih tinggi daripada bocah berbaju putih itu.

Lagi-lagi bocah berbaju merah berkata: “Bocah manapun yang kakinya enggan menempel tanah, badannya tak bakal bisa tumbuh menjadi tinggi, apalagi kau terlalu gampang naik darah…wah, wah, sulit…sulit…”

Bocah yang satu sengaja menggoda bocah yang lain, meski bocah yang digoda telah berusaha untak menunjukkan gaya dari seorang dewasa, walaupun ia berusaha untuk tidak ribut dengan bocah yang menggodanya, akan tetapi justru ia tak sanggup mengendalikan emosinya, justru kata-kata yang ditujukan kepadanya adalah olok-oloknya yang sangat mengena, hampir saja ia tak bisa mengendalikan diri lagi.

Yaa, sewaktu saling olok mengolok, dua orang bocah kembar itu kelihatan menarik sekali, tapi begitu mereka mulai turun tangan, tak ada yang merasa menarik lagi.

DUA ORANG BOCAH

DUA orang bocah sedang bermain.
Wajah mereka mirip satu sama yang lain.
Yang satu tertawa terkikik.
Yang lain marah mendelik.
Yang satu naik kuda.
Yang lain naik kaki dua.
0h sayang !
Kalau tahu bersaudara kembar.
Kenapa harus bertengkar ?

oo0oo

Senjata yang mereka pergunakan adalah pedang, dua bilah pedang yang sama bentuknya, sama panjangnya, sama beratnya dan sama bahannya.

Bocah berbaju merah itu memilih sebilah lebih dulu, kemudian berkata: “Kau adalah seorang ahli dalam ilmu pedang, sudah sepantasnya kalau mengalah tiga jurus untukku.”

Tapi kenyataannya, satu juruspun bocah berbaju putih itu tidak mengalah…

Gerakannya dikala meloloskan pedang jauh lebih cepat daripada gerakan bocah berbaju merah itu, sewaktu melancarkan serangan, gerakannya juga cepat, dalam sekejap mata ia sudah melepaskan sebelas buah tusukan berantai.

Bocah berbaju merah itu segera tertawa.

Lagi-lagi . bocah berbaju putih itu ter­perangkap dalam siasatnya, dia memang sengaja memancing bocah itu agar melancarkan serangan terlebih dahulu.

Sebab ilmu pedangnya bukan termasuk ilmu pedang yang sanggup merebut kemenangan dengan kecepatan.

“Dengan tenang mengendalikan gerak, dengan lambat membendung cepat, meski menyerang belakangan tapi merobohkan lebih duluan,” itulah menjadi inti pokok dari ilmu pedang yang dipelajarinya.

Akan tetapi, ilmu pedang dari bocah bar­baju putih itu tidak berhasil dikendalikan olehnya.

Kecepatan, ketepatan serta keganasannya sewaktu melancarkan serangan benar-benar me­rupakan serangan mematikan yang luar biasa, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak berkutik.

Walaupun kedua orang bocah itu kelihatan menarik sekali, tapi ilmu pedang yang mereka miliki jauh lebih menakutkan dari pada apa yang dibayangkan orang sebelumnya.

Siau Tang lo sempat menangkap rasa kaget dan tercengang di atas wajah Sugong Siau-hong, sambil tersenyum tanyanya: “Coba lihatlah, bagaimana pendapatmu dengan ilmu pedang yang mereka miliki?”

“Seandainya Pek Siau-seng masih hidup di dunia, ilmu pedang yang dimiliki kedua orang bocah ini tentu akan tercantum pula dalam deretan nama orang-orang terkenal dalam kitab catatan senjatanya!”

Atau dengan perkataan lain, ilmu pedang yang dimiliki kedua orang bocah itu sudah berhak untuk tercantum pula dalam deretan nama dari kelima puluh orang jago kenamaan.

Padahal usia mereka sakarang belum lagi mencapai sebelas dua belas tahun.

Tiba tiba Sian Tang lo menghela napas panjang, lalu katanya: “Cuma sayang selamanya mereka tak mungkin bisa menjadi jago nomor satu di kolong langit.”

“Kenapa?” tanya Sugong Siau-hong ke­heranan.

“Sebab mereka berdua terlampau cerdik.”

“Apa jeleknya menjadi orang cerdik?”

“Untuk menjadi seorang jagoan nomor wahid di kolong langit, kecuali ilmu pedangnya harus mengungguli orang lain, merekapun harus mempunyai jiwa yang besar serta keberanian dan niat yang tak pernah lumer atau rontok, agar bisa berhasil mendapatkan kesemuanya itu maka mereka harus meraihnya dari pelbagai pengalaman dan penderitaan yang luar biasa.”

Ia tertawa getir lalu melanjutkan: “Biasanya orang yang terlalu cerdik tak tahan untuk menerima siksaan dan penderitaan semacam ini, mereka pasti akan menggunakan kecerdikan otaknya untuk meng­hindarkan diri dari penderitaan tersebut, lagi pula biasanya mereka selalu berhasil meng­hindarinya.”

“Barang siapa tidak pernah merasakan pen­deritaan dan siksaan yang sungguh-sungguh, selamanya jangan harap ia bisa berhasil dengan sukses” kata Sugong Siau-hong kemudian.

“Yaa, tak mungkin bisa!” Siau Tang lo membenarkan.

“Akan tetapi mereka yang pernah merasa­kan penderitaan dan siksaan, belum tentu pada akhirnya bisa menjadi sukses pula.”

“Oleh sebab itulah selama puluhan tahun belakangan ini pada hakekatnya dalam dunia persilatan tak pernah ada orang yang bisa me­raih gelar Thian-he tit it ko jiu (jago tangguh nomor wahid di kolong langit)!”

“Bagaimana pendapatmu dengan See bun kongcu yang pernah bertarung sengit melawan Liok Siau-hong, Liok tayhiap di puncak bukit Kun lun itu?”

“Tahukah kau bagaimana akhir dari per­tarungan itu?” Siau Tang lo balik bertanya.

“Konon mereka berdua sudah terjatuh ke dalam jurang yaug tak terhingga dalamnya kedua-duanya tewas!”

“Seandainya See bun kongcu memang jago tangguh nomor wahid di kolong langit, siapa­kah yang sanggup untuk mendesaknya hingga terjatuh ke dalam jurang dan mati bersama?”

Berkilauan sepasang mata Sugong Siau-hong setelah mendengar perkataan itu, katanya lagi: “Bagaimana pula dengan sahabat yang kini sedang berbaring di dalam peti matinya?”

Siau Tang lo tertawa hambar. “Apabila dia adalah seorang jago tangguh nomor satu di dunia, bagaimana mungkin ke­adaan sekarang bisa berubah menjadi begini?”

Sugong Siau-hong tidak bertanya lebih lanjut.

Dalam beberapa waktu yang amat singkat, kedua orang bocah itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang kian lama kian ber­tambah sengit.

Serangan demi serangan yang mereka lancar­kan makin lama semakin berbahaya, bila dilihat dari cara pertarungan itu berlangsung, akhirnya mungkin akan mengulangi kembali tragedi yang telah dialami See-bun kongcu serta Liok Siau-hong, yakni kedua belah pihak sama-sama terluka parah dan tewas.

Akan tetapi keadaan mereka pada saat ini sudah tidak terkendalikan lagi, sebab kedua belah pihak sama-sama tak mungkin menarik kembali serangannya.

Dalam keadaan yang kritis itulah, tiba tiba… “Triiing!” sekilas cahaya putih menyambar lewat dan mematahkan ujung pedang dari dua orang bocah itu.

Advertisements

5 Comments »

  1. wah cersilnya bagus amat nih,,,tapi nerusin baca biar sampe kelar gimana yah? tolong dibantu dong
    trima kasih

    Comment by OKIE — 20/06/2009 @ 12:36 am

  2. Lanjutannya kapan nih…..
    sudah lama menanti….

    Comment by dudu — 21/06/2009 @ 3:55 am

  3. Iya…Ya…

    Sabar menunggu, ya.

    Comment by ceritasilat — 28/06/2009 @ 6:32 am

  4. W0w.. Crita’n bgus Banget Yaa…ah?!.,abis deng,trim’s linkX

    Comment by B0im — 13/07/2009 @ 7:10 pm

  5. HKP ini mengandung banyak kesalahan (eja dan tulis). Akibatnya, proses editnya menjadi lama.

    Comment by ceritasilat — 20/07/2009 @ 2:11 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: