Kumpulan Cerita Silat

20/02/2008

Duke of Mount Deer (26)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 12:15 am

Duke of Mount Deer (26)
Oleh Jin Yong

“Aku tidak punya,” sahut si kuncu cilik.

“Itu si perempuan bau, dia membawa obat luka atau tidak?” tanya Siau Po kembali.

“Tidak!” sahut si nona yang sedang terluka.

“Dan kaulah yang bau!”

Si kuncu cilik tidak berdiam diri. Dia segera merobek baju dalamnya nona yang sedang terluka itu. Tiba-tiba dia terkejut dan berseru.

“Aduh! Bagaimana ini?”

Mendengar seruan si kuncu, Siau Po segera menolehkan kepalanya. Ia melihat dua liang kecil tanda luka di dada gadis itu. Luka itu masih mengucurkan darah.

Kuncu kebingungan sampai menangis.

“Kau…. Lekas tolongi kakakku ini… Cepat!” katanya panik.

Tapi si nona yang terluka itu justru merasa jengah dan berusaha bangkit untuk duduk di atas tempat tidur.

“Jangan! Jangan biarkan dia melihat aku!” katanya bingung dan malu.

“Fuh!” Siau Po membuang ludah. “Aku juga tidak sudi melihatnya!”

Meskipun demikian, bocah cilik itu tetap meoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari kapas atau barang lainnya yang dapat digunakan untuk menyumbat luka yang berdarah itu. Dia melihat Bit-hu, bahan pelekat dari madu.

“Nah, itu obat menghentikan darah yang manjur!” katanya. Dia segera mengambil bahan perekat itu dan kemudian bekerja dengan gesit. Dioleskannya perekat itu di lubang luka. Ketika melihat buah dada gadis itu, timbul lagi rasa isengnya. Dia sengaja menggeser tangannya dan meraba-raba susu si nona.

Bukan main malu dan gusarnya hati si nona itu.

“Kuncu, bunuh dia!” katanya kepada Siau kuncu dengan suara keras.
.

“Tapi, suci… dia sedang mengobatimu….”

Saking kesalnya, si nona tidak banyak bicara lagi. Dia hampir pingsan diperlakukan sedemikian rupa oleh Siau Po. Sayang dia tidak dapat bergerak, kalau tidak, kemungkinan Siau Po benar-benar akan dibunuhnya.

“Lekas totok jalan darahnya!” kata Siau Po kemudian. “Dia tidak boleh bergerak terus, nanti darahnya tidak akan berhenti mengalir dan jiwanya akan terancam bahaya!”

“Iya!” sahut Siau kuncu yang langsung menotok kakak seperguruannya di bagian perut, iga dan pahanya beberapa.kali.

“Suci, jangan sembarangan bergerak!” Tidak lupa dia memesankan kepada kakak seperguruannya.

Sementara itu, Siau kuncu sendiri sampai meneteskan air mata karena baru sekarang ,dia merasakan bahwa lukanya sendiri menimbulkan rasa sakit. Dia terluka di bagian pahanya.

“Kau juga sebaiknya berbaring saja,” kata Siau Po yang terus menggantikannya memberikan pertolongan.

Ketika di Yangciu, Siau Po sering melihat orang memberikan pertolongan kepada orang lain yang terluka di bagian kakinya. Sekarang sebisanya dia mengikuti cara tersebut. Dia mencari dua helai papan kemudian dijepit dan diikatkan pada kaki si nona. Setelah itu dia menjadi bingung sendiri.

“Kemana aku harus mencari obat?” tanyanya tidak kepada siapa pun. Sesaat kemudian, dia menemukan akal yang bagus.

“Kau berbaring saja di sini,” katanya kepada Siau kuncu. “Jangan sekali-sekali bersuara!”

Dia menurunkan kelambu dan kemudian berjalan menuju pintu.

“Kau mau kemami?” tanya Siau kuncu ketika si bocah membuka pintu.

“Aku akan mencari obat untuk mengobati kakimu!”

“Jangan lama-lama!” pesan si kuncu khawatir.

“Aku tahu!” sahut Siau Po. Dia merasa puas, karena dari nada suara si nona, Siau Po yakin dia mempercayainya. Dia segera memalangkan pintunya kembali. Dia merasa tenang, sebab dia tahu, kecuali Sri Baginda atau Ibu Suri, tidak ada orang lain lagi yang berani sembarangan masuk ke kamarnya.

Baru berjalan beberapa langkah, Siau Po merasakan pinggangnya agak nyeri.
‘Ibu suri, si perempuan jalang itu sungguh kejam!’ pikirnya dalam hati. ‘Dia telah menghajar aku! Kalau begini, aku tidak bisa berdiam terlalu lama lagi di istana ini. Siang atau pun malam, nyawaku selalu terancam maut. Ya, aku harus pergi secepatnya!”

Thaykam gadungan ini segera menuju tempat di mana terlihat cahaya api. Di sana beberapa siwi tengah meronda. Ketika melihat Siau Po, semuanya segera menghampiri untuk menyambutnya.

“Berapa jumlah siwi yang terluka?” tanyanya prihatin.

“Harap kongkong ketahui,” sahut salah seorang pengawal itu. “Ada delapan orang yang luka parah dan lima belas orang yang luka ringan.”

“Di mana mereka dirawat?” tanya Siau Po kembali. “Tolong kalian antarkan aku menjenguknya.”

“Terima kasih, kongkong. Kami sangat menghargai kebaikan kongkong,” kata siwi itu yang kemudian meminta dua orang kawannya mengantarkan Siau Po ke tempat di mana para pengawal istana itu sedang dirawat. Di sana tampak dua puluh orang lebih siwi yang sedang terluka dan ada empat orang thaykam yang repot memberikan pertolongan.

Siau Po segera menghampiri dan menghibur semuanya dengan memuji keberanian mereka menghalau para penyerbu. Dia juga tidak lupa menanyakan nama para siwi itu untuk dilaporkan kepada Sri Baginda.

Puas hati para siwi tersebut mendapat perhatian begitu besar dari thaykam kesayangan Sri Baginda. Hal ini bahkan membuat rasa nyeri yang mereka rasakan hilang sebagian besar.

“Apakah kalian tahu dari pihak mana kawanan pemberontak yang menyerbu itu?” tanya Siau Po.

“Mungkinkah mereka antek-anteknya Go Pay?”

“Entah mereka dari pihak mana? Tapi kami yakin mereka orang-orang bangsa Han…” sahut siwi yang ditanya dan dibenarkan oleh rekan-rekannya yang lain.

“Kami juga tidak tahu apakah ada di antara mereka yang tertangkap hidup-hidup atau tidak?”

Ketika pembicaraan berlangsung, Siau Po memperhatikan cara pengobatan yang dilakukan para Thaykam. Mereka menggunakan obat buatan tabib istana. Semuanya merupakan obat luka, ada obat luar dan ada juga obat dalam.

“Obat semacam itu harus kusediakan,” kata Siau Po. “Kalau ada saudara siwi yang terluka dan tabib belum sempat datang, mereka dapat menggunakan obat persediaanku. Oh, kawanan penyerbu itu bear-benar ganas dan nyalinya besar sekali. Malam ini mereka tidak dibasmi semuanya, mungkin lain kali mereka akan datang lagi!”

Beberapa siwi menganggukkan kepalanya.

“Kongkong baik sekali, kami bersyukur,” kata mereka.

“Kita harus saling prihatin,” kata Siau Po yang langsung memohon diri. Sebelumnya dia telah meminta tabib istana membungkuskan sejumlah obat. Dia juga menanyakan sampai jelas cara pemakaiannya.

Biarpun bocah ini tidak berpendidikan, tapi pengalamannya banyak sekali akibat pergaulannya di rumah pelesiran dulu. Karena itu bahasanya juga kasar. Untung saja para siwi itu juga bukan semuanya berasal dari orang-orang golongan atas, itulah sebabnya mereka tidak memperhatikannya.

Siau Po langsung pulang ke kamarnya. Sebelum masuk, dia memasang telinga dulu di depan jendela. Setelah mendapat kepastian kamarnya sunyi saja seperti semula, dia baru mengeluarkan suara dengan lirih sekali.

“Kuncu, aku pulang!” Dia berkata demikian karena khawatir Siau kuncu mengira orang lain yang datang serta langsung mengirimkan serangan kepadanya.

“Oh!” Terdengar suara si gadis cilik. “Sudah cukup lama aku menunggumu!”

Siau Po menolakkan daun jendela dan lalu melompat ke dalam. Setelah itu dia menyulut lilin dan menyingkapkan kelambu tempat tidurnya.

Kedua nona itu tampak berbaring berdampingan. Gadis yang terluka itu sedang membuka matanya lebar-lebar, namun ketika dia melihat Siau Po, cepat-cepat dia memejamkan matanya. Mungkin dia masih jengah atau malu.

Lain dengan Siau kuncu, dia malah menatap si bocah cilik dengan matanya yang jeli dan indah. Sinar matanya menunjukkan hatinya terhibur dan senang dapat melihat Siau Po lagi.

“Kuncu, sini aku obati lukamu!” kat a Siau Po.

“Tidak!” sahut Siau kuncu. “Kau obati dulu kakak seperguruanku. Kesinikan obatnya, biar aku yang memakaikannya!”

“Kau selalu berbahasakan aku dan kau, apakah tidak ada sebutan lainnya yang lebih enak didengar?” goda Siau Po.

Siau kuncu tertawa. Rupanya dia merasa bocah ini lucu sekali.

“Siapa namamu yang sebenarnya? Aku selalu mendengar orang-orang memanggilmu Kui kongkong!”

“Kui kongkong adalah panggilan orang lain,” sahut Siau Po. “Kau sendiri bagaimana kau memanggilku?”

Siau kuncu berdiam diri beberapa saat. Matanya dikedap-kedipkan.

“Di dalam hatiku…” katanya kemudian. “Aku…memanggilmu kakak yang… baik. Tetapi di mulut, terasa… aneh untuk menyebutkan… nya.”

“Baik, baik! Kita atur begini saja,” kata Siau Po.

“Di depan orang lain, aku memanggilmu Siau kuncu, dan kau memanggilku Kui toako. Tetapi kalau hanya kita berdua yang ada, aku akan memanggilmu adik dan kau harus memanggilku kakak yang baik.”

Belum lagi Siau kuncu sempat memberikan jawabannya, si nona yang sedang terluka sudah mencibirkan bibirnya sambil mengejek.

“Manis benar kedengarannya! Siau kuncu, jangan kau ladeni dia. Aku tahu dia sedang mengambil hatimu!”

“Hm!” Siau Po mendengus dingin. “Aku toh tidak suruh kau yang memanggil aku? Untuk apa kau usil? Seandainya kau yang memanggil aku, tentu aku tidak sudi mendengarnya!”

Siau kuncu tertawa mendengar pertengkaran di antara kedua orang itu.

“Lalu, kau mau dia memanggil apa kepadamu?” tanyanya.

Siau Po juga tertawa.

“Aku ingin dia memanggilku suami yang baik! Ya, suami yang terbaik!” sahutnya.

Wajah si nona jadi merah padam mendengarnya.

“Kalau kau ingin menjadi suami orang, kau harus menjelma sekali lagi pada penghidupan mendatang!” katanya sengit dan wajahnya memperlihatkan mimik mencemooh.

“Sudah, sudah!” Siau kuncu segera menengahi.

“Kalian berdua kan bukan musuh bebuyutan? Kenapa baru bertemu sudah bertengkar terus? Kui toako, aku harap kau bersedia memberikan obatnya kepadaku!”

“Baik!” sahut Siau Po. “Tapi biarkan aku mengobati lukamu terlebih dahulu!”

Dia segera menyingkap selimut yang menutupi tubuh kedua nona itu. Kemudian dia menggulung celana Siau kuncu dan memakaikan obat di kakinya yang terluka.

“Terima kasih!” kata Siau kuncu tanpa malu-malu. Nada suaranya juga mengandung ketulusan.

“Siapa nama istriku?” tanya Siau Po.

Siau kuncu tertegun.

“Istrimu?” tanyanya bingung.

“Iya, istriku!” kata Siau Po. Kepalanya menoleh kepada nona yang sedang terluka itu dengan bibir dimonyongkan.

Siau kuncu tertawa. Dia mengerti kakak seperguruannya itulah yang dimaksudkan thaykam cilik itu.

“Aih! Kau memang suka bercanda!” katanya.

“Kakak seperguruanku ini she Pui dan namanya….”

“Jangan beritahukan kepadanya!” tukas si nona yang terluka gugup.

Begitu mendengar nona itu she Pui, Siau Po segera teringat ketika mengadakan perjalanan di Kangsou utara, dia bertemu dengan dua orang anak muda. Seorang pria dan seorang wanita. Mereka adalah orang-orang dari Bhok onghu. Mereka juga yang membuat Mau Sip-pat segan serta menghajarnya setengah mati. Namun nona yang mereka lihat hari itu, sedikit lebih tua dari nona Pui.

“Oh, dia she Pui. Aku tahu! Di sana aku masih mempunyai seorang toa-ku dan toa-ie,” katanya kemudian. Toa-ku dan toa-ie adalah ipar laki-laki dan ipar perempuan.

“Aneh! Apa yang kau maksud dengan toa-ku dan toa-ie?” tanya Siau kuncu bingung.

“Dia mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan, bukan? Mereka itulah ipar-iparku!” sahut Siau Po seenaknya.

Siau kuncu semakin heran.

“Oh, jadi di antara kalian masih ada hubungan keluarga?” Tampaknya dia percaya saja dengan ocehan si thaykam cilik.

“Siau kuncu, jangan layani dia bicara!” kata nona Pui. “Bocah itu benar-benar busuk hatinya. Dia tidak ada hubungan keluarga denganku. Benar-benar sial kalau aku memilikinya!”

Siau Po tidak marah. Dia malah tertawa lebar. Cepat dia menyerahkan obat pada Siau kuncu sambil berbisik di telinganya.

“Adikku yang baik, coba kau katakan siapakah nama belakangnya istriku itu?”

Jarak antara kedua gadis itu dekat sekali. Meskipun Siau Po berbicara dengan suara berbisik, tetapi nona Pui dapat mendengarnya dengan jelas.

Karena itu dia segera berkata.

“Jangan beritahukan!”

Siau Po tertawa lagi.

“Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberitahukannya. Tapi aku ingin menciummu dulu satu kali. Pertama-tama, aku akan mencium pipi kirimu lalu aku akan mencium pipi kananmu dan terakhir bibirmu. Nah, sekarang kau katakan terus terang, kau lebih suka dicium atau memberitahukan namamu saja?”

Nona itu tidak bergerak. Pikirannya bingung. Thaykam cilik ini benar-benar iseng dan agak ceriwis. Selain bingung, nona Pui juga kesal sekali. Untung saja Siau Po masih seorang bocah cilik dan tadi dia juga mendengar para siwi memanggilnya kongkong.

Siau Po seakan ingin membuktikan ancamannya. Dia menggerakkan tubuhnya dan kepalanny’a dicondongkan ke depan seperti ingin mendekatkan bibirnya ke wajah nona itu. Tentu saja nona Pui itu berdebaran jantungnya melihat perbuatan Siau Po.

“Baik, baik!” kata si nona Pui cepat dan gugup, “Baik, setan cilik! Aku akan memberi tahukan namaku!”

Siau kuncu tertawa.

“Seperti apa yang kukatakan barusan. Kakakku she Pui, sedangkan nama suci hanya satu huruf Ie, jadi namanya Pui ie.”

Siau Po buta huruf, dia tidak tahu bagaimana tulisan nama itu, namun dia menganggukkan kepalanya juga.

“Ah…. Nama yang dipilih secara sembarangan, sama sekali tidak bagus!” katanya.

“Sekarang giliran kau, Siau kuncu, siapakah namamu?”

“Aku she Bhok, namaku Kiam Peng. Kiam artinya pedang. Peng artinya tirai,” sahut Siau kuncu.

“Namamu lebih bagus!” kata Siau Po kembali. Tapi sayangnya bukan dari kelas satu!”

“Tentu namamu baru nama dari kelas satu, bukan?” sindir Pui Ie. “Siapa she dan namamu? Sampai mana bagusnya?”

Ditanya sedemikian rupa, untuk sesaat Siau Po tertegun. Dia sadar dirinya dijebak oleh ucapannya sendiri.

‘Aku tidak boleh menyebutkan nama asli,’ pikirnya dalam hati. Tapi Siau Kui cu bukan nama yang dapat dibanggakan! Biar bagaimana, dia harus menyebutkan sebuah nama. Akhirnya dia berkata,

“Aku she Go, karena aku seorang thaykam, orang-orang memanggil aku Go laokong….”

“Go laokong…. Go laokong…” Pui Ie mengulangi nama itu beberapa kali. “Ah! Namamu itu……”

Mendadak kata-katanya terhenti, wajahnya menjadi merah padam. Sebab dia sadar bahwa yang disebut Siau Po bukan nama orang. Go laokong artinya mertuaku.

“Cis!” seru si nona kemudian. “Kau hanya mengoceh sembarangan.”

“Aih! Lagi-lagi kau menggoda orang!” kata Bhok Kiam Peng. “Aku dengar orang-orang memanggilmu Kui kongkong, kau bukan she Go!”

Siau Po tidak mau kalah.

“Kalau laki-Iaki, mereka memanggilku Kui kongkong, tapi kalau perempuan, dia memanggilku Go laokong.”

“Aku tahu siapa namamu!” kata nona Pui Ie yang mulai banyak bicara. Hal ini karena dia merasa tidak mau kalah dan ingin membalas ejekan Siau Po.

Siau Po agak terkejut mendengar kata-katanya.

“Kau tahu? Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya heran.

“Aku tahu namamuyang sebenarnya adalah Ho Pat-to!” kata nona itu.

Siau Po tertawa terbahak-bahak. Nama yang disebut nona itu hanya sebuah sindiran yang artinya ‘Ngaco belo.’

Setelah Siau Po tertawa terbahak-bahak, tiba saja tampak nafas Pui Ie memburu. Rupanya hati gadis itu mendongkol sekali dan sejak tadi dipendam, lagipula dia juga terlalu banyak bicara.

“Oh, adikku yang baik!” kata Siau Po kepada Kiam Peng. “Cepat kau pakaikan obat yang kuberikan. Jangan membiarkan dia mati karena aku! Aku Go laokong hanya mempunyai dia seorang istri. Kalau dia sampai mati, kemana lagi aku bisa mencari istri yang kedua?”

Kiam Peng tersenyum.

“Kakakku mengatakan kau senang mengoceh yang bukan-bukan. Ucapannya memang tepat,” katanya. Dia segera menurunkan kelambu kemudian mengobati luka Pui Ie.

“Apakah darahnya sudah berhenti mengalir?” tanya Siau Po.

“Sudah berhenti,” sahut Kiam Peng.

“Bagus! Memang obatku mujarab sekali. Bahkan melebihi obatnya Pou sat. Sekarang baru kau percaya. Nanti, sesudah lukanya sembuh, dadanya tidak akan meninggalkan bekas cacat sedikit pun sehingga bunga dan rembulan pun merasa malu terhadapnya.”

“Aih! Kau memang paling bisa!”

Kiam Peng tertawa mendengar ueapan si bocah yang lucu.

“Setelah lukanya tidak mengeluarkan darah lagi, kau pakaikan lagi obat luar,” kata Siau Po.

“Iya,” sahut Kiam Peng.

Tepat pada saat itu, dari luar terdengar suara panggilan.

“Kui kongkong! Kui kongkong! Apakah Kui kongkong sudah tidur?”

“Sudah?” sahut Siau Po namun ia bertanya juga.

“Siapa? Kalau ada urusan apa-apa, tunggu besok pagi saja!”

Orang di luar menjawab.

“Aku yang rendah Sui Tong!” Nama itu membuat Siau Po terkejut.

“Oh, Sui congkoan! Entah ada keperluan apakah?” tanyanya cepat.

Rupanya Sui Tong itu adalah Hu congkoan, pemimpin muda dari Gi Cian siwi, pasukan pengawal pribadi Raja. Siau Po sering mendengar nama orang itu yang menurut para siwi ilmu silatnya tinggi sekali. Hanya selama beberapa tahun belakangan ini dia sering bertugas di luar istana. Karena itu Siau Po belum pernah bertemu dengannya.

“Aku yang rendah mempunyai urusan yang penting!” terdengar Sui Tong berkata kembali. “Kui Kongkong, harap maafkan. Aku yang rendah telah mengganggu ketenangan kongkong. Tapi aku yang rendah ada urusan yang penting hendak dibicarakan.

Nyali Siau Po menjadi ciut. Diam-diam dia berpikir. ’Tengah malam begini dia datang kemari, entah apa yang diinginkannya? Mungkinkah dia tahu kalau aku menyembunyikan kawanan pemberontak dan sekarang dia datang untuk memeriksa dan menggeledah kamarku? Bagaimana baiknya sekarang? Kalau aku tidak membukakan pintu, dia tentu akan memaksa masuk. Sedangkan kedua perempuan bau yang sedang terluka ini tidak bisa melarikan diri. Sebaiknya aku pandai-pandai melihat situasi!’ Kalau ditilik dari suara langkah kaki di luar pintu, tampaknya Sui Tong hanya seorang diri.
‘Ah… mengapa aku tidak mencari kesempatan membokongnya saja? Memang tidak ada jalan lain kecuali membunuhnya!’ pikirnya kemudian.
Dari luar kamar kembali terdengar suara Sui Tong.
“U rusan ini penting sekali. Kalau tidak, nanti aku yang rendah berani mengganggu kongkong yang sedang bermimpi indah!” “Baiklah,” sahut Siau Po. “Nanti aku akan memukakan pintu!” Tapi, bukannya membukakan pintu, dia malah menyusupkan kepalanya ke dalam kelambu dan erbisik kepada Kiam Peng serta Pui Ie.
“KaIian jangan bersuara!” Nadanya serius, tampangnya juga bersungguh-sungguh. Setelah itu baru dia berjalan menuju pintu. Siau Po menenteramkan hatinya agar dia tampak tenang; kemudian bam dia membuka pintu.
Di depan pintu berdiri seorang siwi yang tubuhnya tinggi besar. Kepala Siau Po paling-paling sampai dadanya saja.

4 KAKi T1GA MANJANGAN . JllId 7

Orang itu, Hu congkoan Sui Tong, segera menjura ketika melihat Siau Po.
“Maaf, kongkong,” katanya. “Aku telah mengganggu kongkong!” “Tidak apa-apa!” sahut Siau Po sambil mengangkat wajahnya untuk memperhatikan orang di depannya. Dia. melihat seraut wajah yang tidak menyiratkan mimik perasaan apa-apa. Wajah itu egitu kaku, sehingga orang sulit menerka apa yang i pikirkannya.
“Sui congkoan, ada keperluan apakah?” tanyaya dengan sikap wajar. Dia sengaja tidak mengndang orang itu masuk ke dalam kamarnya karena khawatir congkoan itu akan curiga dan memergoki Kiam Peng serta Pui Ie.

“Aku yang rendah baru saja menerima perintah dari Ibu suri,” katanya. “Menurut surat titah yang diturunkan Ibu suri itu, kawanan pemberontak yang menyerbu istana malam ini berhasil masuk karena ajakan Kui kongkong!”

Mendengar ucapan ‘titah Ibu suri,’ Siau Po sudah terkejut setengah mati. Inilah pertanda buruk. Apalagi mendengar tuduhan yang dijatuhkan pada dirinya. Pikirannya bekerja dengan cepat. Berkat kecerdasannya dia segera mendapat akal. Pertama-tama dia menunjukkan mimik keheranan.

“Aneh sekali! Aku baru saja menghadap Sri Baginda untuk menanyakan keselamatannya. Di sana aku mendengar beliau berkata, ’Ah! Sungguh besar nyali si budak Sui Tong. Baru pulang ke istana, dia sudah… hm!”

Mendengar keterangan itu, Sui Tong terkejut setengah mati. Untuk sesaat dia berdiri terpaku. Dia justru menerima titah Ibu suri untuk membekuk thaykam cilik ini sebab menurut Ibu suri, dia telah membawa kawanaan pemberontak menyelundup ke dalam istana. Sekarang mendengar kata-kata Siau Po, ia percaya sekali, sebab dia tahu bocah di hadapannya ini merupakan thaykam cilik kesayangan raja.

“Apakah Sri Baginda ada mengatakan hal lainnya?” tanya Sui Tong seakan melupakan tugasnya sendiri. Sebenarnya Ibu suri malah mengatakan kalau perlu dia boleh membinasakan bocah ini. Sekarang dia malah sudah ketakutan lebih dulu….

Siau Po berbicara demikian sebetulnya untuk mengulur waktu agar ia mendapat kesempatan untuk meloloskan diri. Tentunya dia senang sekali melihat sikap pengawal Ibu suri yang begitu ketakutan. Dia pun segera menjawab pertanyaan Hu congkoan itu.

“Setelah berkata demikian, Sri Baginda menurunkan perintah agar besok pagi, begitu fajar menyingsing, aku harus mencari keterangan dari para siwi, mengapa Sui Tong bisa membawa kawanan pemberontak itu masuk ke dalam istana dan apa maksudnya yang sebenarnya serta perintah siapa yang dijalankannya. Sri Baginda ingin tahu apa rencana berikutnya dan siapa saja konco-konconya!”

Begitu khawatir dan terkejutnya Sui Tong sehingga pertanyaan berikutnya menjadi gugup dan tersendat-sendat.
“Ke… napa…. Sri Ba… ginda menga…takan a…ku yang membawa… ka… wanan pemberon… tak menyerbu ke… mari? Sia… pa yang mengo… ceh semba… rangan di… hadap… an beliau? Bukan…kah fitnah i… tu hebat se… kali?”

Sebetulnya Sui Tong gagah dan cerdas otaknya. Namun dalam keadaan seperti ini, otaknya seakan menjadi keruh dan tidak sanggup berpikir secara normal, sebab ucapan Sri Baginda bagaikan penentuan hukuman mati baginya.

“Sri Baginda menugaskan aku untuk mencari keterangan secara teliti,” kata Siau Po kemudian. “Sri Baginda juga berpesan bahwa aku harus berhati-hati. Katanya, ‘kalau budak Sui tong mengetahui tugasmu ini, mungkin dia akan mencarimu dan membunuhmu!’ Tapi aku meminta Sri Baginda agar menentramkan hatinya. Karenanya aku. berkata kepada Sri Baginda, ‘Meskipun Sui Tong bernyali besar, tidak akan dia berani lancang melakukan pembunuhan di dalam istana! Sri Baginda tidak percaya. Beliau berkata: ‘Hm! Hal itu bukan tidak mungkin. Dia berani membawa kawanan pemberontak menyerbu istana untuk mencelakai junjungannya, perbuatan apa lagi yang tidak berani dilakukannya ?”

“Kau ngaco!” Tiba-tiba Sui Tong menukas dengan nada membentak. “A… ku… aku tidak mengajak orang menyerbu istana! Tidak mungkin Sri Baginda berani sembarangan menuduh!”

Di saat Sui Tong berkata demikian, pikiran Siau Po kembali bekerja dengan cepat.
‘Aku harus mendahuluinya menghadap Sri Baginda untuk menuduhnya! Setelah terang tanah, aku harus segera meninggalkan tempat ini. Tapi, bagaimana dengan Siau kuncu serta nona Pui itu? Huh! Perduli amat dengan mereka! Yang penting ialah menyelamatkan jiwa sendiri! Bukankah aku berada di bawah ancaman maut?’

Setelah berpikir demikian, Siau Po berkata lagi kepada Sui Tong.

“Kalau begitu, bukan engkau yang membawa kawanan pemberontak itu menyerbu istana?”

“Sudah tentu bukan!” sahut Sui Tong tegas. “Ibu suri sendiri mengatakan bahwa kaulah yang membawa kawanan pemberontak itu menyelundup ke sini!”

“Kalau begitu, kita berdua sama-sama kena difitnah!” kata Siau Po kemudian. “Sui congkoan, kau tidak perlu takut. Nanti aku akan menghadap Sri Baginda untuk membelamu. Asal kau memang jujur. Meskipun Sri Baginda masih muda sekali, namun beliau bijaksana dan cerdas. Beliau juga sangat mempercayai aku. Aku yakin kata-kataku akan didengarnya dan urusan ini segera dapat dielesaikan dengan mudah!”

“Baik!” sahut Sui Tong. “Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Sekarang kau ikutlah aku menemui Ibu suri!”

Tidak berani Sui Tong membunuh Siau Po, meskipun Ibu suri sudah memberikan ijinnya. Biar bagaimana, hatinya merasa bimbang mengingat bocah ini adalah thaykam kesayangan raja. Apalagi setelah mendengarkan ocehan ini. Nyalinya seakin ciut. Setidaknya, kalau Siau Po tidak mati, ia masih mempunyai seorang yang dapat diandalkan untuk membelanya.

Siau Po berlagak pilon.

“Sekarang kan sudah tengah malam, buat apa aku menghadap Ibu suri?” tanyanya. “Aku rasa sebaiknya besok pagi-pagi aku menghadap Sri Baginda terlebih dahulu. Siapa tahu sekarang beliau sudah menurunkan titah untuk membekuk dan menghukummu? Ya… Sui congkoan, aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu. Nanti kalau ada siwi dari Sri Baginda yang ingin menawanmu, jangan sekali-sekali kau melakukan perlawanan. Sebab, sekali kau melawan, berarti kau telah membangkang perintah raja dan hal ini membuat fitnah atas dirimu sudah dicuci bersih kembali!”

Bagaimana Sui Tong jadi bingung. Sebenernya ia meragukan juga kata-kata Siau Po, namun hatinya dilanda kebimbangan. Rasa takut membuat pikirannya kacau. Bukankah dia membutuhkan keterangan bocah ini di hadapan Sri Baginda nanti? Pikirannya lantas bekerja keras.

’Memang aku membutuhkannya untuk memberikan keterangan tentang kebersihanku di hadapan Sri Baginda. Tapi aku sedang menjalankan perintah thayhou. Dan Ibu suri telah mengancamku kalau aku berbuat kesalahan besar apabila Siau Po sampai lolos. Tidak bisa tidak! Pokoknya aku harus membawa bocah ini menghadap Hong thay-au terlebih dahulu. Dengan demikian aku telah menunaikan tugasku….’

Dengan membawa pikiran demikian, Sui Tong segera berkata kepada Siau Po.

“Aku toh tidak bersalah, mengapa Sri Baginda harus menawanku? Sekarang sebaiknya kau ikut aku dulu menghadap Ibu suri!”

Siau Po menggeser tubuhnya ke samping. Sui Tong mengulurkan sebelah tangan untuk menariknya. Sembari menyingkir, dia berkata dengan suara perlahan.

“Kau lihat! Di sana datang beberapa orang yang hendak menawanmu!”

Sui Tong terkejut setengah mati. Wajahnya menjadi pucat pasi. Dengan cepat dia menolehkan kepalanya.

Tepat di saat Sui Tong menoleh, bocah yang cerdik itu langsung memutar tubuhnya dan mencelat ke dalam kamar. Justru di saat itulah Sui Tong menggerakkan tangannya menyambar sebab dalam sekejap mata dia sudah melihat bahwa pada arah yang ditunjuk Siau Po tidak ada seorang pun yang mendatangi.

Siau Po takut tertangkap oleh siwi itu. Dia telah menyembunyikan dua orang nona dalam kamarnya dan dia menduga rahasia itu sudah bocor.. Kalau dia sampai diringkus dan dibawa ke hadapan Hong thayhou, pasti sulit baginya untuk meloloskan diri dari bahaya. Kalau saja dia bisa lari sampai ke taman, tentu banyak tempat baginya untuk bermain petak umpet dengan orang itu. Namun dia tidak menyangka gerakan Sui Tong begitu cepat.

Setelah berhasil menghindarkan diri dari sambaran tangan Sui Tong, Siau Po mencelat dan sampai di depan jendelanya. Tapi Sui Tong telah mengejarnya. Sebelum dia sempat melompat keluar lewat jendela, tangan pengawal muda itu telah mengenai punggungnya sehingga kedua kakinya lemas dan tubuhnya roboh seketika!

Sui Tong mengulurkan tangan kirinya untuk menyambar pinggang Siau Po. Dia tidak ingin Thaykam cilik itu meloloskan diri.

Siau Po berusaha membela diri. Kedua tangannya digerakkan, dia mengerahkan jurus Kim Na jiu-hoat. Sayangnya, tubuh bocah itu jauh lebih kecil sehingga kalah tenaga. Karena dia mengadakan perlawanan, tubuhnya terdorong dan jatuh ke dalam gentong air.

Gentong air itu milik Hay kongkong yang digunakan untuk merendam diri mengobati penyakitnya. Sampai sekarang memang Siau Po belum sempat membuangnya.

Melihat bocah itu tercebur, Sui Tong tertawa terbahak-bahak. Tangannya diulurkan kembali untuk mencekal bocah yang hendak melarikan diri itu, tapi dia hanya berhasil mencengkeram batang leher Siau Po.

Di dalam gentong air, Siau Po mengerutkan tubuhnya. Namun gentong itu memang tidak terlalu dalam. Sesaat kemudian tangan Sui Tong sudah berhasil mencekiknya kemudian dia diangkat ke atas dalam keadaan basah kuyup.

Siau Po masih mencoba melawan. Ketika di dalam gentong, dia menyedot air cukup banyak dan sisanya masih dibiarkan berkumur dalam mulut. Setelah kena dicekal, wajahnya berhadapan dengan wajah Sui Tong. Dia menyemburkan air itu sekeras-kerasnya ke arahmatanya!

Sui Tong terkejut setengah mati. Dia juga gelagapan karena air masuk ke dalam mata, hidung dan juga mulutnya!

Dalam waktu yang bersamaan, Siau Po menerjang tubuh orang itu, tangan kirinya meluncur ke leher Sui Tong untuk dipelintir.

Sui congkoan terperanjat. Dia berseru tertahan, tubuhnya menggidik beberapa kali. Lambat laun cekalan tangannya jadi kendor, kedua matanya mendelik dan wajahnya menyiratkan rasa nyeri. Sedangkan dari mulutnya meluncur kata-kata atau lebih tepat gumaman yang tidak jelas.

Hal ini disebabkan oleh pisau mustika Siau Po yang telah menancap di tubuh Sui Tong ketika dia menerjang ke depan. Dan tidak kepalang tanggung. Begitu berhasil menusuk dada lawannya, Siau Po segera menghentakkan pisaunya ke bawah sampai terkoyak ke bagian perut.

Hal ini pula yang menyebabkan Sui Tong tidak berdaya. Dia tidak menyadari dari mana datangnya bokongan itu, juga tidak sanggup mempertahankan diri terIebih lama. Darah menyembur dengan deras dari bekas lukanya, tubuhnya terjengkang ke belakang dan nyawanya pun melayang! Dapat dikatakan bahwa dia mati penasaran!

“Hm!” Siau Po mendengus dingin. Setelah itu dia mencabut pisau belatinya. Meskipun kepandaian Sui Tong sangat tinggi namun sayangnya kecerdikannya masih kalah dengan Siau Po. Karena itulah, dengan akal yang licik, bocah kita sanggup membunuhnya.

Selama Siau Po melompat ke dalam kamar dan akhirnya tercekal oleh siwi yang kemudian mati itu. Kiam Peng dan Pui Ie dapat melihat jelas dari balik kelambu. Hanya saja mereka tidak tahu bagaimana caranya Siau Po membinasakan orang itu. Karenanya mereka menjadi heran.

Siau Po sendiri menjadi gugup setelah melakukan perbuatan itu. Untuk sesaat dia tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ketika dia membuka mulut akhirnya, suaranya terdengar tidak jelas.

“A..ku… a… ku……”

“Terima kasih kepada Langit dan Bumi. Akhirnya kau berhasil juga membunuh orang itu!” kata Kiam Peng.

“Sui Tong ini mempunyai julukan Tian-Ciang Bu tek (Tangan besi tanpa lawan).” Pui Ie turut memberikan keterangan. “Tadi dia sudah membinasakan tiga orang anggota Bhok onghu. Perbuatanmu berarti telah membalaskan sakit hati mereka bertiga. Bagus!”

“Bagus?” Dengan cepat Siau Po berhasil menenteramkan hatinya.

“Dia dijuluki Tangan besi tanpa lawan, tapi dia tidak sanggup berhadapan dengan aku, Wi Siau Po!” katanya senang. Rasa bangga membuatnya jadi sombong. “Akulah jago silat nomor satu yang lain dari umumnya!” Selesai berkata, Siau Po memeriksa kantong Sui Tong dan akhirnya dia berhasil menarik sebuah buku kecil yang penuh dengan huruf-huruf kecil.

Juga didapatkan beberapa helai surat. Tapi karena dia buta huruf, dia meletakkan semuanya di samping. Ketika dia memeriksa lagi, tangannya menyentuh sesuatu yang agak keras di pinggang koran. Dengan pisaunya dia merobek jubah orang itu, akhirnya dia menemukan sebuah bungkusan yang dipak rapi dengan kain minyak.

‘Entah mustika apa yang ada di dalamnya. Penyimpanannya saja demikian sempurna,’ pikirnya dalam hati.

Kembali dia menggunakan pisaunya untuk memutuskan tali pengikat bungkusan tersebut. Setelah dibukanya, dia mendapatkan sejilid kitab Si Cap Ji Cin-keng yang ukurannya dan bentuknya sama dengan yang pernah ia lihat sebelumnya.

“Ah!” serunya girang. Lekas-lekas ia mengeluarkanbukunya yang sama. Untung saja tidak ikut basah karena dirinya tercebur ke dalam gentong air tadii. Diletakkannya kedua kitab itu secara berdampingan. Ternyata tidak ada bedanya.

‘Pasti ada sesuatu yang aneh dalam kitab ini,’ pikirnya kemudian. ‘Sayangnya aku buta huruf. Kalau aku meminta penjelasan dari kedua nona itu, tentu mereka mengerti. Tapi mereka pasti jadi tidak memandang sebelah mata terhadapku!’

Setelah berpikiran demikian, Siau Po membatalkan niatnya dan menyimpan kedua jilid kitab tersebut di dalam lacinya.

“Bagaimana sekarang?” terdengar Kiam Peng bertanya. “Kau sudah membunuh orang ini, pasti sebentar lagi ada orang yang menyusulnya kemari!”

Pikiran Siau Po bekerja dengan cepat.

‘Tadi thayhou sendiri datang kemari untuk membunuhku. Hal ini pasti disebabkan rahasianya yang telah diketahui olehku dan dia khawatir aku akan membocorkannya. Setelah gagal, dia mengirim Sui Tong melanjutkan keinginannya yang tidak kesampaian. Perempuan tua itu sungguh lihay! Bagaimana dia mendapat akal menuduhku sebagai konconya para pemberontak yang menyerbu istana malam ini? Bukankah itu fitnahan yang sadis? Biar bagaimana, aku harus mendahuluinya turun tangan! Tindakan inilah yang paling tepat! Aku harus menghadap Sri Baginda selekasnya untuk memberikan penjelasan. Begitu fajar menyingsing, aku harus meninggalkan tempat ini dan tidak akan kembali lagi untuk selama-lamanya!’

Setelah berpikir demikian, Siau Po langsung mengambil keputusan. Dia berkata kepada Pui Ie.

“Aku harus mengarang cerita bahwa Sui Tong telah bersekongkol dengan pihak Bhok onghu kalian. Maka itu, nona Pui…. Tolong kau jelaskan apa maksud kalian yang sebenarnya menyerbu istan a malam ini?”

Siau Po menatap si nona cantik lekat-lekat.
“Karena kami sudah menganggap kau seperti orang sendiri, rasanya tidak apa-apa kalau kami bicara terus terang kepadamu,” sahut nona Pui Ie.

“Kami menyamar sebagai orang-orangnya Go Enghim, putera dari Go Sam-kui. Penyerbuan kami kemari bermaksud melakukan pembunuhan gelap terhadap Raja. Kami pikir, syukur kalau kami berhasil. Andaikata tidak sekalipun, kami bisa menimpakan kesalahan ini kepada pihak Go Sam-kui. Bahkan apabila Sri Baginda gusar, ada kemungkinan Go Sam-kui sekeluarga akan dihukum mati!”

Siau Po menarik nafas panjang. Hatinya lega mendengar keterangan Nona Pui itu.
“Bagus, bagus!” katanya memuji. “Tapi, dengan bukti apa kalian memfitnah Go Sam-kui?”

“Sengaja kami meninggalkan tanda di baju-baju ini,” sahut Pui Ie. “Tanda itu akan memberikan bukti bahwa kami orang-orang dari pihak Peng Si Ong. Beberapa senjata kami juga sengaja diukir huruf ‘Tay Beng Sanhay kwan hu congpeng’.”

Siau Po tertawa. Sebelum berpihak pada kerajaan Ceng, Go Sam-kui memang menjabat sebagai congpeng di Sanhay kwan pada masa kerajaan dinasti Beng.

“Akal itu bagus sekali!”

Ketika kami merencanakan penyerbutan ke istana ini, kami sudah berpikir bahwa ada kemungkinan beberapa di antara orang-orang kami yang akan tertawan atau terluka sehingga tidak sempat melarikan diri. Tapi, demi bangsa dan negara, kami rela mengorbankan diri! Kami sudah menerka, apabila ada orang kami yang tertangkap, tanda-tanda itu pasti ditemukan. Mulanya kami pasti tidak mau mengaku. Setelah disiksa beberapa hari, barulah kami menyerah dan menyatakan bahwa kamilah orang-orang yang dikirim oleh Peng- Si ong untuk membunuh Raja. Begitu masuk ke dalam istana, kami melemparkan beberapa senjata dengan tanda khusus itu secara sembarangan. Maksud kami, apabila kami beruntung bisa lolos semuanya, bukti itu tah sudah tertinggal!” Nona Pui berbicara dengan serius, nafasnya sampai memburu saking bersemangatnya. Wajahnya sampai bersemu dadu.

“Jadi kedatangan kalian bukan untuk menolong Siau kuncu?” tanya Siau Po kembali.

“Bukan!” sahut Pui Ie. “Kami toh bukan dewa. Bagaimana kami bisa tahu Siau kuncu ada di dalam istana ?”

“Apakah kau pun membawa senjata yang telah diberi tanda bukti itu?” tanya Siau Po.

“Ada!” sahut Pui Ie yang segera menyusupkan tangannya ke dalam selimut dan mengeluarkan sebatang golok. Karena tenaganya sudah lemah sekali, dia tidak sanggup mengangkat golok itu tinggi-tinggi.

Siau Po tertawa melihatnya.

“Untung aku tidak tidur di sampingmu, kalau tidak, tentu mudah bagimu untuk menikam aku sampai mati!” Wajah nona itu menjadi merah padam karena jengahnya.

“Fui!” serunya dengan mata mendelik.

Siau Po tersenyum. Dia menerima golok kecil kemudian disembunyikan di balik pakaian Sui Tong.

“Aku akan memberikan laporan kepada Sri Baginda. Aku akan mengatakan bahwa Sui Tong adalah anteknya para penyerbu malam ini. Bukankah senjata tadi akan menjadi suatu bukti?”

Tapi Pui Ie menggelengkan kepalanya.

“Sebetulnya huruf apakah yang terukir di golok itu?” tanya Siau Po. Dia merasa dirinya toh buta huruf, buat apa dia melihat sendiri huruf-huruf

Tadi aku toh sudah mengatakan bahwa bunyinya ’Tay Beng Sanhay kwan hu congpeng’. Sedangkan Sui Tong adalah orang Boan, tidak mungkin dia menghamba pada seorang congpeng dari dinasti Beng!”

“Iya, benar juga yang kau katakan,” kata Siau Cepat-cepat dia mengambil kembali golok kecil yang diselipkan dalam pakaian SuiTong. “Sekarang apa yang harus kita masukkan ke dalam pakaian orang ini?” tanyanya kemudian.

Tapi sebelum Kiam Peng atau Pui Ie sempat menjawab, sebuah ingatan sudah melintas di benaknya.

“Oh, ya! Ada!”

Siau Po segera mengeluarkan barang-barang pemberian Go Eng-him, yakni dua renceng mutiara, sepasang ayam-ayaman dari batu kumala dan beberapa helai uang kertas. Semuanya dia masukkan ke dalam pakaian Sui Tong. Dia merasa barang-barang itu akan menjadi bukti yang kuat sekali, terutama uang kertasnya.

“Nah, Go sicu,’ kata Siau Po dalam hatinya. ‘Lohu harus meninggalkan tempat ini. Yang lainnya terserah padamu. Maafkan tindakan lohu ini.’ Kemudian Siau Po mengangkat tubuh itu untuk diletakkan dalam taman, namun belum sempat dia membuka pintu, tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki mendatangi. Ia terkejut sekali.
Dengan cepat dan berhati-hati, dia meletakkan tubuh itu kembali. Setelah itu dia memasang telinganya.

Dari luar kamar terdengar seseorang berseru.

“Sri Baginda menitahkan agar Siau Kui cu datang melayaninya!”

Senang sekali hati Siau Po mendengarnya. ’Aku justru khawatir tidak sempat bertemu dengan Sri Baginda lagi. Siapa sangka Sri Baginda sendiri yang mencari aku. Apalagi baru saja timbul keonaran, tentu merupakan saat yang tepat bila aku bertemu dengannya sekarang. Tapi, untuk sementara terpaksa aku tidak dapat membawa tubuh Sui Tong ini,’ pikirnya dalam hati.

“Iya, hambamu sudah mengerti!” sahut Siau Po cepat. “Hambamu hendak mengganti pakaian terlebih dahulu. Sebentar lagi hamba akan menghadap!”

Sembari berbicara, Siau Po mendorong tubuh Sui Tong ke kolong tempat tidur. Kemudian dia menggerak-gerakkan tangannya kepada kedua nana di atas tempat tidur agar mereka jangan bangun. Ketika dia akan meninggalkan kamarnya, tiba-tiba dia berpikir: ‘Non a Pui itu tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Celaka kalau dia mencuri harta bendaku…’ Karena itulah dia lalu mengambil kedua kitab serta semua uangnya dan disimpan dalam pakaiannya. Setelah memadamkan lilin, baru dia membuka pintu dan berjalan keluar.

Di luar pintu berdiri menunggu empat orang Thaykam yang semuanya tidak ada yang dikenalnya. Diam-diam dia menjadi heran. Thaykam yang menjadi pemimpin segera tertawa dan berkata.

“Kui kongkong, tengah malam buta seperti ini. Baginda masih memanggilmu juga. Hal ini memperlihatkan bagaimana sayangnya junjungan kita kepada Kui kongkong!”

Siau Po bersikap tenang.

“Istana telah diserbu orang. Karena itu, aku sendiri ingin secepatnya bertemu dengan Sri Baginda untuk menanyakan keselamatannya serta menghadapnya. Tapi, justru karena belum ada panggilan, aku tidak berani lancang menjenguk beliau di tengah malam….”

“Kau begitu setia terhadap Raja, tidak heran Sri baginda menyayangimu…” kata thaykam tadi. “Sekarang, mari kau ikut dengan kami.”

Dia memutar tubuhnya dan melangkahkan kaki untuk berjalan di depan Siau Po.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: