Kumpulan Cerita Silat

20/02/2008

Amanat Marga (01)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 12:13 am

Amanat Marga (01)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Angin menderu, awan berarak mengelilingi lereng bukit Jong-liong-nia yang merupakan lereng pegunungan Hoa. Bukit yang memanjang terjal dengan jurang yang dalam, puncaknya yang menegak dipandang dari jauh serupa sebilah pisau mengilat yang menembus awan di tengah langit.

Cahaya fajar menyimak awan, kabut pun mulai menipis. Di puncak Jong-liong-nia itu, di bawah tugu peringatan pujangga Han-bun-kong berdiri seorang gadis rupawan dengan gayanya yang indah sedang memandang jauh ke arah jalan yang menuju ke atas bukit dengan kening bekernyit.

Tidak lama kemudian, benarlah di jalan pegunungan itu muncul beberapa sosok bayangan orang. Wajah si nona cantik berubah berseri, lalu mendengus perlahan penuh rasa benci dan dendam.

Sekejap kemudian beberapa sosok bayangan itu sudah melayang tiba dan berhenti di depan si nona cantik.

Nona itu mengerling sekejap, lalu berucap dengan dingin, “Ikut padaku!”

Dengan suatu gerakan indah ia melompat mundur beberapa tombak jauhnya, tanpa memandang lagi ia terus melayang ke atas menuju ke puncak selatan sana.

Pendatang itu seluruhnya terdiri dari lima orang, seorang di antaranya lelaki kekar berbaju hitam, bermuka berewok, berbaju ringkas dan membawa pedang, alis tebal dan mata besar, ia berkata kepada seorang nyonya muda berbaju merah di sampingnya dengan tertawa, “Hah, latah benar nona cilik tadi, tampaknya lebih angkuh daripada waktu engkau masih muda.”

“Masa?” si nyonya muda berpaling dengan tersenyum.

“Sudah tentu benar,” seru lelaki baju hitam dengan tertawa. “Bilamana orang memperistrikan dia, tanggung akan lebih runyam daripada aku Liong Hui. Hahaha!”

Suara tertawanya menggema angkasa, mengandung rasa kasihan atas diri sendiri dan juga penuh rasa puas.

Si nyonya muda bersuara aleman dan mendekap ke dada si berewok, rambutnya tertebaran tertiup angin dan bertaut dengan jenggot pendek si lelaki kekar.

Di tengah gelak tertawa, seorang pemuda berbaju merah dan berbadan kurus yang menyusul tiba mendadak berdehem dan berucap, “Suhu datang!”

Seketika si berewok berhenti tertawa dan si nyonya baju merah juga berdiri tegak kembali.

Tertampaklah muncul seorang kakek berjubah satin, muka memakai kerudung kain sutera tipis warna hitam. Di belakangnya mengikut dua lelaki kekar lain dan juga berbaju hitam mulus, berdandan ringkas dan membawa golok.

Kedua orang ini menggotong sepotong barang sepanjang satu tombak dan lebarnya antara tiga kaki, berbentuk lonjong, tapi tertutup oleh sehelai kain pancawarna sehingga tidak jelas kelihatan sesungguhnya barang apa yang mereka usung ini.

Melihat si kakek, si berewok, nyonya muda baju merah dan pemuda kurus tadi sama berdiri dengan sikap hormat dan tidak berani bersuara lagi.

Sesudah berhenti, si kakek menyapu pandang sekejap dengan sinar matanya yang tajam, lalu bertanya dengan suara tertahan, “Di mana dia?”

“Sudah naik ke atas,” jawab si berewok dengan hormat.

Si kakek mendengus, “Ayo berangkat!”

Segera ia mendahului menuju ke atas puncak gunung, ujung jubahnya tersingkap oleh tiupan angin sehingga kelihatan sarung pedangnya yang berwarna hijau terbuat dari kulit ikan hiu.

Si nyonya muda yang tertinggal di belakang berucap perlahan, “Ai, hari ini ayah …” dia tidak meneruskan ucapannya.

Si pemuda kurus tadi berpaling memandang dua orang muda-mudi sekejap, ia terkesima sejenak, lalu berkata. “Simoay (adik perempuan keempat) dan Gote (adik kelima), boleh kalian menunggu di bawah gunung saja.”

Habis berkata ia lantas menyusul si berewok dan si nyonya muda. Kedua muda-mudi saling pandang sekian lama dan tiada yang bicara apa pun.

Puncak selatan merupakan puncak tertinggi di Jong-liong-nia, hampir seluruhnya tertutup oleh gumpalan awan, angin meniup kencang, sejak dahulu kala jarang ada manusia berkunjung ke sini.

Namun sekarang sang surya baru terbit, puncak utama pegunungan Hoa yang terkenal ini telah banyak didatangi orang. Tertampak empat perempuan setengah umur dengan rambut sudah mulai beruban dan berbaju hijau singsat berdiri berjajar di bawah pohon cemara tua, wajah setiap orang tampak prihatin.

Ketika si nona cantik tadi melayang tiba segera ia mendesis, “Itu dia sudah datang!”

Baru lenyap suara, dari bawah puncak lantas berkumandang seruan orang, “Janji sepuluh tahun yang lalu tidak pernah dilupakan Liong Po-si, mengapa Sip-tiok-li tidak menyambut kedatangan kenalan lama?”

Suaranya tidak keras, namun setiap katanya berkumandang dengan jelas.

Keempat perempuan berbaju hijau itu saling pandang sekejap, tapi tidak ada yang bergerak. Sedangkan si nona cantik hanya mendengus saja, lalu berduduk santai di atas batu hijau di samping pohon cemara.

Baru saja suara orang tadi lenyap, di atas puncak sudah muncul bayangan si kakek yang tinggi besar dan berwibawa itu, dengan sorot mata tajam ia menyapu pandang kelima orang perempuan di bawah pohon, lalu bertanya, “Apakah tempat ini puncak Hoa-san yang tertinggi? Apakah kalian anak murid Tan-hong?”

Dengan tak acuh si nona cantik menjawab, “Betul!”

“Dan di manakah Tan-hong Yap Jiu-pek?” tanya pula si kakek sambil melangkah maju.

Perlahan si nona cantik berbangkit, ia mengawasi si kakek beberapa kejap dari atas ke bawah dan dari bawah kembali ke atas, lalu menjengek, “Apakah engkau ini Put-si-sin-liong Liong Po-si?”

Put-si-sin-liong atau si naga sakti tak termatikan, Liong Po-si, yaitu si kakek berjubah satin itu tampak melenggong, mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, “Hahaha, bagus, bagus! Tak tersangka hari ini di dunia Kangouw masih ada orang berani menyebut namaku langsung di depanku!”

Si nona cantik tertawa dingin, ucapnya dengan sikap pongah, “Bagus, bagus! Tak terduga hari ini di dunia Kangouw ada orang berani menyebut nama guruku di hadapanku.”

Melengak juga si kakek, mendadak ia mendekati keempat perempuan berbaju hijau, ia tuding si nona cantik dan bertanya, “Apakah dia murid Yap Jiu-pek?”

Keempat perempuan berbaju hijau memandangnya tanpa berkedip dan menjawab berbareng, “Betul!”

Serentak Liong Po-si berpaling dan menegur dengan gusar, “Sepuluh tahun yang lalu gurumu berjanji akan bertemu denganku di sini, mengapa sekarang dia tidak muncul, sebaliknya menyuruhmu bersikap kurang sopan kepada kaum Cianpwe?”

“Hm, betapa pentingnya janji pertemuan juga takkan dipenuhi lagi oleh guruku,” kata si nona dengan dingin.

“Memangnya kenapa?” bentak Liong Po-si dengan gusar.

“Guruku telah wafat tiga bulan yang lalu,” jawab si nona dengan perlahan. “Sebelum meninggal beliau memberi pesan agar kuwakili pertemuan ini, tapi beliau tidak pernah memberitahukan padaku bahwa engkau ini kaum Cianpwe apa segala.”

Dia bicara dengan tenang, nadanya dingin tanpa emosi, sama sekali tidak ada tanda duka seorang murid lagi menyampaikan berita tentang meninggalnya sang guru.

Kembali Liong Po-si melengak, kain sutera yang mengerudungi mukanya tampak bergetar, jenggot perak di bawah dagunya juga rada gemetar.

Keempat perempuan berbaju hijau juga saling pandang lagi sekejap, tapi tetap tidak bersuara.

Dalam pada itu si berewok, si nyonya muda dan pemuda kurus berlima juga sudah menyusul tiba. Kedua lelaki berbaju hitam menaruh perlahan barang yang mereka usung itu, lalu menyurut mundur dengan sikap hormat.

Si berewok alias Liong Hui mendekati Liong Po-si, dengan suara perlahan ia tanya, “Bagaimana, ayah?”

Mendadak Liong Po-si menghela napas dan berkata, “Yap Jiu-pek sudah mati!”

Dengan menyesal ia lantas membalik tubuh dan melangkah pergi.

Sorot mata si nona cantik yang dingin itu memancarkan cahaya yang aneh, mendadak ia menengadah dan tertawa dingin, “Hah, sayang, sungguh sayang! Tak tersangka tokoh paling gagah yang termasyhur di dunia Kangouw Put-si-sin-liong ternyata cuma begini saja setelah kulihat.”

Serentak Liong Po-si berhenti di tempat. Alis Liong Hui juga menegak, dampratnya gusar, “Apa katamu?”

“Apa kataku tiada sangkut pautnya denganmu,” jawab si nona ketus, “Di sini tidak ada hak bicara bagimu.”

Tentu saja Liong Hui tambah gusar, tapi Liong Po-si telah memutar balik dan menegur si nona, “Kau bilang apa tadi?”

Dengan tenang si nona menjawab, “Apa yang ditetapkan dalam perjanjian guruku denganmu sepuluh tahun uang lalu mengenai pertemuan ini?”

Liong Po-si tampak kecewa, jawabnya, “Yang menang akan ditetapkan menjadi pemimpin dunia Kangouw selamanya, dan yang kalah …. Ai, kalau Yap Jiu-pek sudah mati, biarpun orang she Liong dapat merajai dunia Kangouw ….”

“Meski guruku sudah wafat, apakah engkau pasti dapat merajai dunia Kangouw?” mendadak si nona memotong dengan ketus.

“Memangnya hendak kau tantang diriku untuk bertanding?” tanya si kakek.

“Hm, biarpun ada maksudku demikian, mungkin engkau juga tidak sudi bergebrak denganku,” sahut si nona.

“Memang betul,” ujar Liong Po-si.

“Selama berpuluh tahun kira-kira ada berapa kali engkau bertanding dengan guruku?” tanya si nona mendadak.

“Berapa kali, sukar dihitung lagi.”

“Dan pernahkah engkau menangkan beliau setengah atau satu jurus?”

“Tapi juga tidak pernah kalah.”

“Nah, kalau kalah dan menang tidak pernah terjadi dan engkau lantas ingin merajai dunia Kangouw, apakah di dunia ini ada urusan segampang ini?”

Liong Po-si melenggong, “Yap Jiu-pek sudah mati, masakah harus kutantang orang mati untuk bertanding?”

“Hm, meski guruku sudah meninggal, tapi beliau meninggalkan satu seri ilmu pedang, bila engkau tidak mampu mengalahkan ilmu pedang ini, hendaknya segera engkau membunuh diri di puncak Hoa-san ini dan setiap anak murid Ci-hau-san-ceng selanjutnya dilarang berkecimpung di dunia Kangouw.”

Belum lagi Liong Po-si menjawab, mendadak si berewok Liong Hui bergelak tertawa dan berteriak, “Dan bagaimana kalau ayahku menang?”

Sama sekali si nona tidak menghiraukannya, melirik pun tidak, ucapannya seolah-olah tidak terdengar olehnya.

Liong Hui tertawa keras dan berseru pula, “Jika ayahku kalah diharuskan segera membunuh diri, bila ayah menang, memangnya Yap Jiu-pek itu dapat mati sekali lagi? Apalagi jelas-jelas kau tahu ayahku tidak sudi bergebrak dengan kaum muda, apa gunanya biarpun Yap Jiu-pek meninggalkan ilmu pedang segala?”

“Diam?” mendadak Liong Po-si membentak. Lalu ia mendekati si nona cantik dan berucap dengan suara tertahan, “Selama sepuluh tahun ini, apakah dia telah menciptakan pula seri ilmu pedang baru?”

“Betul,” jawab si nona.

Mencorong sinar mata Liong Po-si, tapi lantas menghela napas lagi dan berkata, “Biarpun ada ilmu pedang mahasakti, kalau tidak dimainkan oleh orang yang menguasai keuletan yang cukup, memangnya dapat mengalahkanku begitu saja?”

Perlahan ia menunduk, tampaknya sangat kecewa.

Dengan ketus si nona berkata pula, “Jika ada orang yang keuletannya sebanding denganmu, lalu dengan ilmu pedang tinggalan guruku untuk bergebrak denganmu, bukankah hal itu serupa halnya guruku bertempur sendiri denganmu?”

Sorot mata Liong Po-si tambah buram, ucapnya dengan hampa, “Sejak 17 tahun yang lalu segenap jago dunia persilatan kelas top berkumpul di Wi-san, kecuali gurumu dan aku, semuanya gugur dalam pertarungan di Wi-san sana. Sekarang bila ingin mencari seorang yang mempunyai kekuatan sebanding denganku, untuk itu mungkin perlu menunggu tiga atau lima puluh tahun lagi.”

“Untuk menguasai ilmu pedang dengan baik memang diperlukan kekuatan latihan yang cukup, kurang salah satu di antaranya takkan mampu menjadi jago kelas tinggi, dalil ini cukup jelas, sebab itulah setelah pertemuan Wi-san, tiada lagi jago lain yang mampu mengungguli Tan-hong dan Sin-liong. Biarpun di antara angkatan muda ada juga yang mendapatkan penemuan mukjizat dan memperoleh ilmu gaib, tapi tetap juga tiada seorang pun yang berkekuatan melebihi Tan-hong dan Sin-liong, betul tidak?”

“Ya, memang,” sahut si kakek.

“Sepuluh tahun yang lalu, apakah kekuatan guruku sebanding denganmu?”

“Umpama ada selisih juga tidak ada artinya.”

“Tapi selama sepuluh tahun ini guruku tidak pernah melupakan janji pertarungan denganmu di sini, beliau giat berlatih siang dan malam.”

“Memangnya aku tidak begitu?” ujar si kakek.

“Jika begitu keadaannya, bila sekarang kalian berhadapan, bukankah kekuatan kalian juga tetap tidak berbeda banyak?”

“Ya, kecuali di dalam sepuluh tahun ini gurumu (perempuan) bisa mendapatkan obat mukjizat yang dapat menambah kekuatannya dengan cepat, kalau tidak pati tidak dapat melebihiku.”

Setelah menghela napas, mendadak ia berpaling dan berkata kepada si berewok, “Nah, anak Hui, ketahuilah bahwa bertambahnya kekuatan latihan seorang serupa halnya kawanan burung membuat sarang dan manusia membangun gedung, harus setingkat demi setingkat maju secara teratur, sedikit pun tidak dapat dipaksakan, pantang tinggi hati dan ingin maju dengan cepat, fondasi harus terpupuk dengan kuat, kalau tidak, biarpun bangunan gedung sudah berdiri, jelas tidak tahan lama. Memang ada juga obat-obat mukjizat yang dapat menambah kekuatan, tapi obat ajaib demikian sukar dicari. Banyak juga orang Kangouw yang ingin menemukan obat mukjizat demikian sehingga menimbulkan macam-macam peristiwa menyedihkan.”

Liong Hui menunduk dan mengiakan.

“Apalagi, pertarungan di antara jago kelas tinggi, waktu, tempat dan si pelaku sendiri adalah faktor yang menentukan,” kata Liong Po-si pula.

“Tapi kalau guruku berhasil menciptakan satu seri ilmu pedang tanpa ciri, bukankah dengan mudah dapat mengalahkanmu?” kata si nona cantik.

“Di dunia ini mutlak tidak ada Kungfu yang tanpa ciri kelemahan,” ujar Liong Po-si. “Namun bila ciri di antara ilmu pedang gurumu itu tidak dapat kutemukan, atau satu jurus serangannya membuatku tak berdaya untuk mematahkannya, maka jelas aku akan kalah.”

“Janji pertemuanmu dengan guruku belum terlaksana dan guruku lantas wafat, sungguh di alam baka pun beliau tak bisa tenang,” ucap si nona cantik.

“Hm, memangnya tidak kurasakan sebagai penyesalan selama hidupku ini?” jengek Liong Po-si.

Nona itu menengadah, katanya pula, “Sebelum wafat guruku pernah berkata kepadaku bahwa di dalam sepuluh tahun ini engkau pasti juga akan menciptakan Kungfu baru untuk menghadapi beliau.”

“Haha, memang cuma Yap Jiu-pek saja benar-benar sahabat yang tahu perasaanku,” seru Liong Po-si dengan tertawa, namun tertawa yang pedih dan mengharukan.

Tiba-tiba si nona berkata pula, “Tapi kau pun tidak perlu risau karena Kungfu yang kau latih selama ini tidak berguna lagi. Sebelum wafat guruku sudah memikirkan satu cara bagimu bilamana engkau ingin menentukan kalah-menang dengan beliau.”

Suara tertawa Liong Po-si seketika berhenti, ia pandang si nona dengan tajam.

Nona cantik itu tidak menghiraukannya, katanya lagi, “Begini caranya, jika boleh kututuk tiga Hiat-to tubuhmu, yaitu Koat-bun-hiat di bagian bahu, Sin-cong-hiat di punggung dan Yang-koan-hiap di dekat pinggul, dengan begitu tertutuplah urat nadi Tok-im yang dapat mengekang sebagian tenagamu, dengan kelihaianmu tentu tertutuknya ketiga Hiat-to itu takkan membahayakan jiwamu, tapi tenagamu dapatlah susut menjadi cuma tujuh bagian saja dan berarti sama kuatnya denganku, lalu akan kugunakan ilmu pedang guruku untuk bergebrak sendiri denganmu.”

Dia bicara kian kemari, akhirnya yang dituju ternyata begini. Liong Po-si jadi melengak lagi.

Didengarnya si nona bcrkata pula, “Cara ini adalah pesan guruku sebelum wafat, bilamana tidak kau terima, tentu juga aku tak dapat memaksa.”

Mendadak pemuda berewok Liong Hui berseru, “Huh, kau bicara seperti permainan anak kecil saja, mana boleh pertandingan dilakukan secara begitu.”

Si nyonya muda berbaju merah yang berdiri agak jauh sana mendadak melompat maju dan menjengek, “Hm, jika begitu, bila kugunakan ilmu silat ayahku untuk bergebrak denganmu kan juga sama saja.”

Nona cantik itu mendengus dan melengos, mendadak ia menengadah dan menghela napas, katanya, “Wahai Suhu, kan sudah kukatakan dia pasti takkan terima caramu ini, tapi engkau tidak percaya, sekarang terbukti dugaan Suhu memang salah.”

Lalu ia mendekati keempat perempuan berbaju hijau di bawah pohon sana dan berucap, “Ayolah kita pergi, apa alangannya membiarkan Ci-hau-san-ceng merajai dunia persilatan.”

“Nanti dulu!” bentak Liong Po-si mendadak.

Si nona menoleh dan mengejek, “Jika engkau tidak mau menepati janji terhadap orang mati, tentu juga aku tidak menyalahkan dirimu. Anggap saja memang tidak pernah ada perjanjian sepuluh tahun yang lalu itu.”

Liong Po-si menengadah dan bergelak tertawa lantang, serunya, “Selama berpuluh tahun, entah sudah berapa kali aku menyerempet bahaya dan belum pernah kupikirkan soal mati dan hidup, lebih-lebih tidak pernah ingkar janji terhadap siapa pun. Meski Yap Jiu-pek sudah mati, namun janji tetap janji, jika dia telah meninggalkan pesan cara bertanding denganku, mana boleh kuingkar janji padanya.”

Keruan Liong Hui dan si nyonya muda terkejut, cepat mereka berseru, “Ayah! ….”

Tapi Liong Po-si terus menarik kain kerudungnya.

Sekilas pandang terkesiap juga hati si nona cantik. Dilihatnya wajah orang penuh bekas luka silang-menyilang, biarpun dipandang di siang hari tetap juga menimbulkan rasa seram.

Dengan suara berat Liong Po-si berkata kepada Liong Hui, “Selama hidup ayahmu sudah mengalami beratus kali pertempuran besar atau kecil dan belum pernah kalah, betapa pun tangguhnya lawan tetap dapat kutundukkan dia dengan pedangku, semua itu adalah karena dadaku lapang, tekadku yang bulat, tidak ada sesuatu yang kutakuti, tapi bila satu kali aku ingkar janji, tentu dadaku tidak lagi selapang itu, dan bisa jadi sudah lama kumati.”

Sinar matanya menjadi buram, dia seperti tenggelam dalam lamunan masa lampau.

Cahaya sang surya yang baru terbit menembus kabut tipis dan menyinari wajahnya yang penuh bekas luka sehingga garis-garis bekas luka itu bersemu merah.

Perlahan ia meraba dahi sebelah kanan, di situ ada sejalur luka pedang memanjang dari dahi kanan hingga ujung mata, bila miring lagi sedikit ke kiri tentu mata kanan itu sudah lama cacat.

“Empat puluh tahun yang lalu, di benteng Giok-lui-koan ….” dia bergumam perlahan dan seakan-akan terbayang kembali adegan dahulu ketika dia berhadapan dengan Ko Siau-thian, itu tokoh utama Go-bi-pay yang berjuluk Coat-ceng-kiam atau si pedang tanpa kenal ampun, dengan sejurus “Thian-ce-keng-hong” atau pelangi menghias ujung langit, pedang Ko Siau-thian telah meninggalkan bekas luka pada dahinya itu, sekarang dirabanya dengan perlahan, rasanya masih dapat merasakan penderitaan waktu kulit dagingnya tersayat pedang dahulu.

Mendadak ia menengadah dan bersuit, lalu bergelak tertawa dan berteriak, “Wahai Ko Siau-thian, meski aku tidak mampu menangkis jurus seranganmu Thian-ce-keng-hong itu, tapi engkau sendiri masakah mampu lolos dari pedangku? ….”

Suara tertawanya berubah lemah, tapi waktu tangan menyentuh tiga garis bekas luka di dahi kanan, kembali terkenang olehnya kejadian lain, waktu itu dia berkelana menjelajah dunia, dia berhadapan dengan Pah-san-kiam-kek, melawan jago keluarga Pang dan juga mengunjungi Siau-lim-si, di mana-mana dia menantang bertanding, setiap kali menyerempet bahaya, tapi selalu lolos dari elmaut dan akhirnya menang, semua itu mendatangkan julukan baginya sebagai Put-si-sin-liong atau si naga sakti tak termatikan. Teringat olehnya 30 tahun yang lalu orang Bu-lim mengadakan pesta di Sian-he-nia untuk mengukuhkan julukannya, di mana, berkumpul kesatria dari segenap penjuru, pesta yang meriah dan juga membanggakan, terkenang pada kejadian dulu itu, tanpa terasa tersembul senyuman pada ujung mulutnya.

Perlahan ia mengelus jenggotnya sehingga menyentuh setitik bekas luka tusukan pedang, inilah akibat serangan Sam-hoa-sin-kiam atau si pedang sakti tiga bunga, luka ini paling ringan, tapi juga paling berbahaya pada waktu itu.

“Kiu-ih-hui-eng (si elang sembilan sayap) Tik Bong-peng sungguh tokoh paling sulit dihadapi selama hidupku ….” demikian Liong Po-si bergumam pula perlahan, “tapi betapa lihai ilmu pedangnya tetap tidak dapat lolos di bawah pedangku.”

Lalu dia meraba lagi bekas luka di tepi mata kanan, itulah tusukan pedang jago Kun-lun-pay. Malahan bagian iganya juga terdapat bekas luka pedang Bu-tong-pay, diam-diam ia mengakui kebaikan hati orang Bu-tong, hanya menyerang tubuh tanpa merusak wajahnya, sebab itulah Liong Po-si sendiri juga tidak membunuh lawannya, tapi siapa yang menyangka dalam pertarungan di Wi-san itu, ketiga sesepuh Bu-tong-pay yang berhati welas asih itu juga tewas.

Terkenang kepada semua kejadian masa lampau itu, tanpa terasa Liong Po-si menghela napas panjang lagi. Bahwa dalam pertarungan di Wi-san itu hampir segenap jago inti dunia persilatan telah tewas seluruhnya, sebaliknya Liong Po-si sendiri tidak mengalami cedera apa pun, memangnya apa sebabnya?

“Hal ini lantaran segala ilmu silat di dunia ini telah kuuji dan kupelajari, maka tidak ada lagi sesuatu Kungfu yang mampu melukaiku!”

Ia memandang jauh puncak di gunung seberang sana, mendadak timbul semacam perasaan kosong yang sukar dijelaskan. Ingin menang tidak bisa adalah hal yang menyedihkan, minta kalah tidak dapat juga mengharukan. Segala kejadian masa lampau seolah-olah awan yang mengambang di udara itu melayang lewat dalam benaknya ….

Mendadak suara elang berkumandang dari bawah gunung menyadarkan lamunan Put-si-sin-liong Liang Po-si. Suasana di atas puncak terasa sunyi senyap, sorot mata tajam si nona cantik lagi menatapnya, seperti sedang menunggu, seperti juga hormat dan kagum, tapi juga seperti meremehkan.

Sekonyong-konyong Liong Po-si tertawa lantang sambil membentangkan kedua tangannya, terdengar suara “trang-tring” nyaring, belasan kancing emas jubahnya sama rontok jatuh ke tanah.

Terkesiap si berewok Liong Hui, serunya, “Ayah, buat apa? ….”

“Jika tidak kulayani ilmu pedang tinggalan Yap Jiu-pek, selain dia mati tidak tenteram di alam baka, aku pun akan menyesal selama hidup,” kata Liong Po-si dengan tertawa.

Si nona cantik mendengus, perlahan ia mengeratkan tali pinggang dan siap tempur.

“Tapi … tapi hal ini kurang adil, Ayah ….” seru Liong Hui pula.

“Kau tahu apa?” bentak Liong Po-si. Mendadak ia tertawa lagi. “Hahaha, selama hidupku dijuluki Put-si (tak termatikan), bilamana sudah tua harus mati di bawah pedang orang lain, rasanya juga menggembirakan bagiku.”

Cepat Liong Hui menyurut mundur ketika melihat tangan sang ayah bergerak, jubah satin berwarna ungu mendadak terlempar ke atas serupa segumpal awan terbang ke angkasa, lalu semampir di pucuk cemara.

“Koat-bun, Sin-cong, Yang-koan ….” dengan ketus si nona cantik menyebut nama ketiga Hiat-to.

Liong Po-si mendengus, ia lantas memutar punggungnya ke arah Liong Hui, katanya dengan tenang, “Anak Hui, apakah masih ingat gerakan Ho-cui-keng (tenaga cocokan bangau)?”

“Masih,” jawab Liong Hui dengan ragu.

“Nah, gunakan gaya Ho-cui-keng untuk menutuk ketiga Hiat-to yang disebutnya itu,” ucap Liong Po-si.

“Tapi … ayah ….”

“Cepat!” bentak si kakek.

Liong Hui ragu sejenak pula, akhirnya ia mengertak gigi dan memburu maju ke belakang sang ayah, tangan kanan terangkat, jari telunjuk dan jempol terangkap serupa paruh burung bangau dan perlahan menutuk Koat-bun-hiat di bagian pundak.

Si nyonya muda berbaju merah menghela napas, ia berpaling ke arah lain, sekilas terlihat barang yang tertutup oleh kain satin yang diusung kedua orang berbaju hitam tadi, serentak ia berpaling kembali dan dilihatnya si berewok Liong Hui belum lagi melancarkan tutukannya, rupanya baru terjulur sampai setengah jalan tangan Liong Hui lantas bergemetar dan tidak sanggup turun tangan lebih lanjut.

Liong Po-si melirik ke belakang dan mendamprat, “Manusia tak … becus!”

Cukup bengis dia memaki, tapi ketika mengucapkan “becus”, suaranya berubah menjadi lunak.

Liong Hui meluruskan kembali kedua tangannya dan menghela napas, ucapnya, “Ayah, kupikir urusan ini agak ganjil ….”

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melayang tiba, kiranya si pemuda belia dan tampak lemah lembut dan selalu mengikut di belakang pemuda kurus berbaju hitam itu bersama seorang anak dara tadi.

“Untuk apa kau datang kemari, Gote?!” seru Liong Hui dengan kening bekernyit.

Pemuda lemah itu menjawab dengan lugas, “Jika Toako tidak sanggup turun tangan, biarlah Siaute saja menggantikan engkau.”

“Apa kau gila?” bentak Liong Hui dengan mendelik.

Pemuda lemah itu memandang lurus ke depan dengan air muka kaku.

Put-si-sin-liong membalik tubuh dan mengawasi anak muda itu beberapa kejap, lalu berkata dengan gegetun, “Ai, selama ini kuanggap kau terlalu lemah lembut serupa anak perempuan, tak tersangka di luar kau halus tapi keras di dalam, serupa diriku pada waktu muda, jika sekali ini aku dapat ….” mendadak ia terbatuk, lalu menyambung, “Baiklah, jika kau pun paham gerakan Ho-cui-keng, boleh lekas kau turun tangan.”

Liong Hui lantas melangkah mundur dengan menunduk seperti tidak ingin melihat apa yang bakal terjadi.

Maka terdengarlah suara “tek-tek-tek” perlahan tiga kali, Liong Po-si lantas menghela napas lega, lalu menarik napas lagi dalam-dalam disusul dengan suara mendering dan cahaya pedang yang menyilaukan mata.

Dalam pada itu si nyonya muda lantas mendekati Liong Hui, dibisikinya, “Untuk apa kau sedih, toh ayah tidak pasti kalah.”

Mendadak Liong Hui mengangkat kepalanya, seperti mau bicara, tapi urung.

Terlihat si nona cantik tadi telah menerima sebatang pedang dari salah seorang perempuan berbaju hijau tadi, disentilnya batang pedang dengan dua jarinya, “tring”, terdengar suara nyaring bergema.

Liong Po-si juga sedang memandang pedang sendiri yang bercahaya hijau, sampai sekian lama ia tidak bergerak, hanya jarinya saja yang meraba-raba batang pedang serupa seorang ibu sedang membelai anak kesayangannya.

Kemudian dia menanggalkan sarung pedang yang masih tergantung di pinggangnya, ia membalik dan menyerahkan sarung pedang itu kepada si pemuda lemah tadi.

Pemuda yang berwajah putih cakap itu mendadak terkilas rasa kejut dan heran, cepat ia sambut pemberian sarung pedang itu.

“Mulai hari ini, pedang Yap-siang-jiu-loh (embun musim rontok di atas daun) ini adalah milikmu,” demikian kata Liong Po-si.

Dengan sinar mata mencorong pemuda itu memegang sarung pedang dan melangkah mundur, lalu dia berlutut dan menyembah tiga kali kepada Liong Po-si.

Air muka si berewok Liong Hui berubah hebat, alisnya yang tebal terkerut, dia seperti mau bicara, tapi si nyonya baju merah telah menarik ujung bajunya, keduanya saling pandang sekejap, lalu menunduk diam.

“Jangan sia-siakan pedang ini!” demikian pesan Liong Po-si.

Pemuda lembut itu lantas berbangkit, mendadak ia mendekati benda panjang yang tertutup oleh kain satin itu, perlahan ia menjulurkan sarung pedang untuk menyingkap kain penutup pancawarna itu. Maka tertampaklah benda itu ternyata sebuah peti mati terbuat dari kayu cendana.

Liong Po-si menatap anak muda itu tanpa berkedip, tanyanya dengan suara berat, “Adakah yang ingin kau katakan?”

Pemuda itu kembali berlutut lagi perlahan dan menyembah tiga kali terhadap peti mati itu, mendadak ia melolos sebilah belati berbentuk naga, dengan ujung belati ia menusuk ujung jari sendiri, darah lantas mengucur keluar, ia kebaskan tangannya sehingga beberapa titik darah menetes di atas peti mati.

Air muka Liong Po-si yang kereng mendadak tersembul senyuman puas, ucapnya, “Bagus, bagus!”

Habis itu barulah ia mendekati si nona cantik tadi.

“Anda menyiapkan peti mati dengan harapan akan kalah, Put-si-sin-liong memang tidak malu disebut sebagai jago perkasa nomor satu di dunia persilatan,” kata si nona dengan tersenyum.

Sampai di sini barulah nona ini memperlihatkan senyumannya, senyum yang manis bagai bunga yang mekar semarak, senyum yang memikat dan sukar untuk dilukiskan.

Pemuda lemah tadi telah menggantungkan sarung pedang kulit ikan hiu pada pinggangnya, mendadak sorot matanya memancarkan cahaya aneh menatap wajah si nona cantik, lalu selangkah demi selangkah didekatinya dengan perlahan.

Nona itu mengerling, sinar mata kedua orang kebentrok, tanpa terasa si nona terkesima, sesudah pemuda itu berada di depannya barulah ia menegur, “Kau mau apa?”

Liong Po-si juga lantas berkata, “Di sini sudah tidak ada lagi urusanmu, kenapa tidak mengundurkan diri saja!”

Namun anak muda itu tidak menjawab, mendadak kedua tangannya terpentang, telapak tangan kiri menghantam iga si nona, sebaliknya telapak tangan kanan memukul iga kiri Put-si-sin-liong Liong Po-si.

Sungguh luar biasa kecepatan dan ketepatan kedua serangan pemuda ini, si nona cantik dan Liong Po-si sama terkesiap, mereka tidak menyangka mendadak bisa diserang.

Pada saat mereka melenggong itulah tangan si pemuda lemah sudah menyambar tiba, cepat si nona cantik menangkis dengan sebelah tangan, “plok”, kedua tangan beradu.

Liong Po-si terpaksa juga menangkis, ia menggeser dan angkat sebelah tangannya, ia pun beradu tangan dengan muridnya itu.

Di tengah suara adu pukulan itu, si berewok Liong Hui memburu maju sambil membentak, “Apa kau gila, Gote?”

Tapi segera terlihat pemuda lembut itu menarik kembali tangannya dan menggeser mundur, lalu berkata dengan hormat, “Suhu, nona ini tidak berdusta!”

“Maksudmu, kekuatanku sekarang telah seimbang dengan dia?” tanya Liong Po-si, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata pula, “Haha, bagus, bagus, baru sekarang ketemukan lawan yang sama kuat!”

Liong Hui tampak tercengang sejenak, katanya kemudian kepada pemuda lembut, “Kiranya tujuanmu cuma untuk menguji kekuatan perempuan itu apakah sebanding dengan Suhu atau tidak?”

“Ya, begitulah,” sahut anak muda itu dengan menunduk.

“Jika maksudnya bukan untuk mencoba, mana dia bisa menyerang guru sendiri, kan mubazir pertanyaanmu itu,” ujar Liong Po-si dengan tertawa cerah.

Kakek yang gagah dan kereng ini, meski sekarang menghadapi pertempuran yang pasti sangat berbahaya, namun hatinya justru terasa sangat gembira, entah lantaran menemukan lawan yang “sama kuat” atau karena merasa tindakan muridnya itu sangat cocok dengan seleranya?

Liong Hui tampak kikuk dan mundur teratur sambil melirik sekejap kepada pemuda lembut itu.

Si nyonya muda berbaju merah tertawa dan berkata, “Usia Gote masih muda belia, tak tersangka sudah mempunyai kecerdasan dan kekuatan sehebat ini.”

Liong Po-si berucap dengan gegetun, “Sesudah lama baru ketahuan hati manusia, setelah perjalanan jauh baru tahu tenaga kuda. Untuk mengetahui watak dan kecerdasan seorang juga baru kelihatan bilamana menghadapi keadaan genting.”

Pemuda lembut tadi menunduk. Sedangkan Liong Hui saling pandang sekejap dengan si nyonya muda.

Anak dara yang berdiri berdampingan dengan si pemuda lembut tadi tampak tersenyum senang dan bangga.

Baru sekarang pandangan si nona cantik berpindah dari wajah si pemuda lembut, lalu menjengek, “Nah, sesudah dicoba, bolehkah dimulai sekarang?”

“Tentu saja,” kata Liong Po-si sambil mengayun pedangnya sehingga menerbitkan suara dering nyaring dan mengakibatkan rontoknya lidi cemara yang menjatuhi tubuh keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu.

Meski tenaga dalam Liong Po-si sudah susut banyak, tapi tetap selihai ini, tanpa terasa keempat perempuan itu saling pandang dengan terkesiap.

Tapi si nona cantik anggap seperti tidak tahu, ucapnya ketus, “Jika boleh mulai, silakan Anda ikut padaku!”

Liong Po-si jadi melenggong lagi, “Masakah bukan di sini?”

“Ya, di sini bukan tempat yang baik untuk bertanding,” segera si nona cantik seperti hendak membalik ke sana.

“Sebab apa?” tanya Liong Po-si.

“Jika kubunuh dirimu, tentu anak murid-mu akan menuntut balas padaku, padahal pengaruh Ci-hau-san-ceng di dunia persilatan sangat besar, sebaliknya guruku cuma menerima seorang murid seperti diriku saja, bila mereka menuntut balas padaku, tentu aku tidak mampu melawannya, betul tidak?”

“Dengan sendirinya engkau tidak mampu melawan!” bentak Liong Hui

“Hm, hanya mengandalkan sedikit kepandaianmu ini kau kira dapat mengalahkan guru kami?” jengek si nyonya muda mendadak.

Liong Po-si melirik kedua anak muridnya itu sekejap, diam-diam seperti merasa menyesal, segera ia berkata, “Tentu maksudmu ingin merahasiakan ilmu pedangmu untuk berjaga bilamana anak muridku menuntut balas padamu setelah berhasil kau bunuh diriku, begitu?”

“Betul,” jawab si nona cantik. “Pada waktu Suhu mengajarkan ilmu pedang ini padaku, kecuali menugaskanku membunuhmu, ada juga orang lain yang harus kubunuh, mana boleh kuperlihatkan ilmu pedang ini di depan umum sehingga orang sempat mempelajari ciri kelemahan ilmu pedangku ini?”

“Ya, betul juga, bilamana aku menciptakan sesuatu Kungfu baru, tentu aku pun akan merahasiakannya,” ujar Liong Po-si dengan mengangguk. Mendadak ia menghela napas panjang, dan menatap tajam si nona cantik, lalu bertanya sekata demi sekata. “Menjelang wafatnya gurumu, apakah dia masih begitu benci padaku?”

“Bila benci dan dendam sudah mendalam, apa bedanya waktu hidup atau sudah mati?” jengek si nona.

“Haha, apa bedanya … apa bedanya ….” mendadak Liong Po-si menengadah dan bersuit, lalu membentak, “Baik, di mana tempatnya? Ayo, akan kuikuti!”

Tanpa bicara lagi si nona cantik lantas, membalik tubuh dan melangkah pergi.

Mendadak si berewok Liong Hui membentak, “Nanti dulu!”

Tapi si nona tetap melangkah ke depan seperti tidak mendengar. Tiba-tiba terdengar kesiur angin lewat, tahu-tahu si pemuda lembut sudah mengadang di depannya.

Bekernyit juga kening si nona cantik, ia menoleh memandang Liong Po-si sekejap.

Segera Put-si-sin-liong Liong Po-si membentak, “Kalian mau apa lagi?”

Si nyonya muda melompat maju dan berkata, “Betapa pun kita harus berjaga segala kemungkinan, apabila mereka telah mengatur perangkap di sana, bukankah Suhu akan terjebak?”

Liong Po-si menjadi sangsi, ia memandang sekejap si nona cantik.

Si nona cantik batas menatapnya dengan dingin seakan-akan sedang berkata, “Pergi atau tidak tcrserah padamu ….”

Sebelum Liong Po-si berkata pula, cepat si nyonya muda mendahului bicara, “Sampai saat ini belum juga kami minta petunjuk akan nama nona yang terhormat, sungguh kurang sopan.”

Dia bicara dengan lemah lembut dan tersenyum pula sehingga mau tak mau orang harus menjawab pertanyaannya.

Meski air muka si nona tetap dingin, tidak urung ia menjawab singkat, “Namaku Yap Man-jing.”

“Sungguh nama yang bagus,” ujar si nyonya muda dengan tersenyum. “Dan namaku Kwe Giok-he, nama kampungan, tapi … ai, apa boleh buat.”

Dalam keadaan demikian dan di tempat seperti ini dia justru bicara tetek bengek, tampaknya Liong Po-si merasa tidak sabar, tapi agaknya dia sangat sayang kepada nyonya muda itu, maka dia tidak mencegahnya.

Si berewok Liong Hui tampaknya juga sangat hormat dan juga jeri terhadap nyonya muda itu. Hanya si pemuda lembut saja tetap kelihatan kaku tanpa emosi, tidak bicara juga tidak tertawa.

Terdengar nyonya muda itu menyambung lagi, “Nona Yap, meski kita tidak pernah bertemu sebelum ini, namun nama gurumu sudah lama kami dengar, ditambah lagi nona Yap sendiri ternyata begini cantik dan menyenangkan, sebab itulah segala apa yang diucapkan nona Yap telah kami turuti semua.”

Si nona cantik alias Yap Man-jing hanya mendengus saja tanpa menanggapi.

Maka Kwe Giok-he meneruskan lagi, “Cuma syarat yang dikemukakan nona Yap tadi betapa pun kami rasakan agak kurang baik ….”

“Kurang baik apa? Urusan ini tidak ada sangkut pautnya denganmu, mengapa engkau ikut campur?” jengek Yap Man-jing dengan ketus.

Namun Kwe Giok-he tetap tersenyum cerah dan berkata, “Jika benar nona Yap tidak menghendaki kami melihat rahasia ilmu pedang gurumu, seharusnya hal ini kau bicarakan jauh sebelumnya, mengapa mesti menunggu sampai sekarang baru dikemukakan olehmu. Sungguh aku tidak habis mengerti akan dalil ini.”

Yap Man-jing memandangnya beberapa kejap, lalu menjengek, “Hm, apa benar kau minta kukatakan terus terang?”

“Sebabnya kutanya kepada nona memang berharap engkau suka memberitahukan apa alasannya, kalau tidak untuk apa kuikut bicara?” ujar Kwe Giok-he dengan tersenyum.

Perlahan Yap Man-jing mengerling sekejap, setiap orang yang hadir di sini seolah-olah sudah dipandangnya semua, lalu menjengek, “Sebabnya hal ini tidak kukemukakan tadi adalah lantaran kulihat di antara kalian yang berada di sini tidak ada seorang pun yang dapat melihat ciri kelemahan ilmu pedangku,”

“Dan mengapa sekarang harus kau kemukakan?” tanya Kwe Giok-he.

Seperti tidak sengaja Yap Man-jing melirik sekejap si pemuda lembut, lalu berkata, “Sebabnya kukemukakan syaratku ini adalah lantaran tiba-tiba kulihat di antara anak murid Put-si-sin-liong ternyata bukan orang goblok semua, sedikitnya ada satu di antaranya terhitung pintar.”

Air muka Kwe Giok-he rada berubah, tapi segera ia tersenyum lagi dan berkata, “Terima kasih atas pujian nona Yap. Pantas Sip-tiok-li mati begitu dini dengan hati lega, sebab dia mempunyai seorang murid baik sebagai nona.”

Kata berjawab, gayung bersambut, kontan Kwe Giok-he membalas ucapan orang dengan sama tajamnya, namun tetap ramah tamah dan tersenyum manis.

Air muka Yap Man-jing tampak berubah juga, ia mendengus terus hendak melangkah pergi.

Dengan tersenyum Kwe Giok-he memandang bayangan punggung orang, agaknya dia merasa senang karena dapat mengalahkan orang dengan perang lidah.

Siapa tahu mendadak Liong Po-si menghela napas dan memandangnya dengan sorot mata buram, ucapnya, “Alangkah baiknya bilamana anak Hui memiliki setengah kecerdasanmu.”

Giok-he menunduk dengan tersenyum, tapi Liong Po-si lantas menambahkan, “Cuma sayang engkau terlampau pintar.”

Habis ini segera ia berteriak, “Tunggu dulu, nona Yap!”

Sekali lagi Yap Man-jing berhenti, katanya tanpa menoleh, “Ikut pergi atau tidak terserah kepada keputusanmu, buat apa banyak bicara lagi.”

Liong Po-si berdehem, lalu berkata pula, “Selama hidup Yap Jiu-pek terkenal jujur, kuyakin anak muridnya pasti juga bukan manusia pengecut. Selama hidupku tidak pernah gentar terhadap apa pun, andaikan di sana terdapat sesuatu perangkap juga bukan soal bagiku.”

Mendadak Yap Man-jing berpaling, meski tetap dingin air mukanya, tapi tampak menampilkan rasa kagum dan hormat.

“Hanya saja pedangku ini sudah mendampingiku selama beberapa puluh tahun, meski bukan senjata wasiat segala, namun juga pernah banyak mengalahkan berbagai tokoh ternama dunia persilatan,” demikian Liong Po-si bicara lebih lanjut dengan bangga dan juga setengah terharu. “Maka bilamana hari ini aku tidak dapat pulang dengan hidup, kuharap nona dapat menyerahkan kembali pedangku ini kepada muridku Lamkiong Peng.”

Suaranya yang kereng kini telah berubah menjadi rada duka dan sedih, suara duka demikian belum pernah didengar oleh anak muridnya, sampai si pemuda lembut, Lamkiong Peng, juga tercengang.

“Dan bila aku yang tidak kembali dengan hidup, kuharap juga kau serahkan pedangku Liong-gim-sin-im (ringkik naga suara malaikat) ini kepada mereka,” tiba-tiba si nona cantik Yap Man-jing juga meninggalkan pesan sambil menunjuk keempat perempuan berbaju hijau tadi.

“Baik,” sahut Liong Po-si.

Serentak Yap Man-jing melangkah ke sana sambil berkata, “Ayo berangkat!”

Sekilas ia lirik lagi Lamkiong Peng sekejap.

Tanpa ragu lagi Liong Po-si lantas ikut berangkat. Tapi baru saja lewat di samping Lamkiong Peng, mendadak ia menyurut mundur lagi selangkah dan menepuk pundak anak muda itu, seperti mau bicara, tapi urung. Ia cuma tersenyum saja, lalu menghela napas perlahan, ketika dia melangkah ke depan lagi, dalam sekejap lantas menghilang di balik gumpalan awan.

Meski bayangan sang guru sudah menghilang, Lamkiong Peng masih berdiri mematung sambil memandangi awan yang mengambang di udara itu, meski wajahnya kaku dingin, namun sorot matanya memancarkan perasaan hangat.

Terdengar Kwe Giok-he yang berdiri di belakangnya lagi bergumam, “Yap-siang-jiu-loh … Liong-gim-sin-im ….” Tak tersangka antara Suhu dan Tan-hong Yap Jiu-pek memang terjalin ….”

Tiba-tiba Liong Hui berdehem, katanya, “Urusan pribadi Suhu sebaiknya jangan kita bicarakan.”

Dia mendekati Lamkiong Peng dan berdiri diam sejenak sambil mengelus janggut, lalu memutar balik dan berduduk di atas batu sana serta mengelamun memandangi awan yang mengapung di udara.

Kwe Giok-he juga memandang Lamkiong Peng sejenak, mendadak ia menggapai dan memanggil, “Kemari, Simoay!”

Anak dara yang berdiri agak jauh itu mendekat dengan menunduk, langkahnya kelihatan enteng dan gesit, jelas tidak lemah Kungfunya, tapi gerak-geriknya kelihatan malu-malu serupa gadis pingitan, sama sekali tidak ada ciri khas sebagai anak murid Ci-hau-san-ceng atau perkampungan Ci-hau yang disegani.

Dengan tangan memainkan ujung baju seperti anak gadis yang takut-takut ia menyapa, “Ada apa, Toaso (kakak ipar)?”

Giok-he tersenyum dan berkata, “Gote datang belakangan tapi menonjol paling atas sehingga mewarisi pusaka Yap-siang-jiu-loh dari Suhu, kau gembira atau tidak?”

Anak dara yang memang malu-malu itu tambah likat, mukanya yang putih lantas bersemu merah, kepala menunduk terlebih rendah.

Pemuda kurus yang sejak tadi diam saja mendadak menimbrung, “Bukan saja Simoay merasa gembira, aku juga sangat senang!”

Dengan wajah berseri Kwe Giok-he memandang mereka kian kemari, lalu berkata, “Kalian sungguh dua sejoli yang setimpal, sampai kata hati keduanya juga sama. Pantas orang Kangouw suka merangkai Ciok Tim dan So-so menjadi satu dan menyebut mereka sebagai Liong-bun-siang-kiam (sepasang pedang keluarga Liong), cuma sayang ….”

Sampai di sini ia lantas berhenti dan cuma berdehem perlahan saja sambil melirik Lamkiong Peng.

Ciok Tim, pemuda kurus itu juga memandang ke arah Lamkiong Peng, di antara mata alisnya samar-samar kelihatan menampilkan rasa iri, tapi dengan lantang ia lantas berseru, “Tapi selanjutnya bila ditambah Gote, mungkin orang Kangouw akan menyebut kami sebagai Liong-bun-sam-kiam (tiga pedang keluarga Liong)!”

“Rupanya engkau belum tahu,” kata Giok-he dengan tertawa, “meski belum lama Gote masuk perguruan kita, tapi keluarga Lamkiong dari daerah Kanglam sudah lama terkenal sebagai keluarga hartawan, maka sudah lama juga orang Bu-lim sama memberi suatu nama julukan kepada Gote sebagai Hu-kui-sin-liong (si naga sakti kaya dan jaya)!”

“Toaso memang berpengetahuan banyak dan berpengalaman luas,” kata Ciok Tim dengan tertawa ewa, “Siaute sendiri jarang berkelana di dunia Kangouw, pengetahuanku kalau dibandingkan Toaso sungguh selisih terlalu jauh.”

Tiba-tiba si berewok Liong Hui menimbrung, “Memang pernah kudengar disebutnya nama Hu-kui-sin-liong, tapi itu cuma sanjung puji dari kalangan Piaukiok (perusahaan pengawalan) yang ada hubungan erat dengan grup keluarga Lamkiong, masa kau anggap sungguh-sungguh?”

“Baik, baik, kau lebih tahu dan aku tidak tahu,” gerutu Giok-he sambil melotot.

Mestinya Liong Hui hendak omong lagi, tapi demi melihat air muka sang istri yang kurang senang itu, seketika ia urung bicara.

Semua orang menjadi bungkam, hanya angin mendesir dan dedaunan gemersik, awan yang mengambang di udara melayang kian kemari serupa urusan dunia persilatan yang selalu berubah dengan suka dukanya.

Sampai sekian lamanya keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu jaga tetap berdiri di bawah pohon cemara, hanya terkadang mereka melirik ke arah anak murid Ci-hau-san-ceng ini, agaknya dapat mereka rasakan juga di antara anak murid keluarga Liong ini terdapat pertentangan dan saling curiga, sebab itulah di antara kerlingan mereka terkadang juga menampilkan rasa menghina dan mencemoohkan.

Sudah cukup lama juga, mendadak Liong Hui berbangkit dan memandang cuaca, ucapnya dengan suara tertahan, “Rasanya kepergian Suhu sudah … sudah lebih setengah jam!”

Kwe Giok-he menjawab, “Engkau selalu tidak sabaran, pantas Suhu tidak mau mewariskan Yap-siang-jiu-loh kepadamu. Coba kau lihat, sedikit pun Gote tidak kelihatan gelisah.”

Mau tak mau berubah juga air muka Liong Hui, ucapnya dengan tergegap, “Toh sesama saudara sendiri, diwariskan kepada … kepada siapa kan sama saja.”

“Hm, tentu saja sama,” jengek Giok-he.

Lamkiong Peng tampak adem ayem saja, ia tersenyum dan mendekati Kwe Giok-he, katanya dengan tersenyum, “Toaso, apakah kau tahu sebab apa aku tidak gelisah?”

Meski dia bicara dengan tersenyum, namun ucapannya tegas dan mantap.

Giok-he tersenyum dan menjawab, “O, dari … dari mana kutahu?”

Mendadak Liong Hui menyela, “Masa kau tahu hati Gote tidak gelisah? Sebelum jelas kalah-menang Suhu, setiap orang pasti gelisah.”

“Setiap orang memang gelisah, cuma aku saja tidak,” ujar Lamkiong Peng.

Seketika air muka Ciok Tim dan Liong Hui berubah, Kwe Giok-he lantas mendengus, sedangkan Ong So-so, si anak dara, juga mengernyitkan dahi dan memandang anak muda itu dengan heran.

Perlahan Lamkiong Peng menutur, “Sebabnya aku tidak gelisah adalah karena aku lebih daripada yakin bahwa Suhu pasti takkan kalah!”

Mendadak keempat perempuan berbaju hijau di bawah pohon sama mendengus dan melengos ke sana.

Giok-he juga mendengus, Liong Hui lantas bertanya, “Berdasarkan apa kau berani memastikannya? Setelah tenaga dalam Suhu susut sebanyak itu, sungguh hampir tidak ada kesempatan menang bagi beliau, apalagi genduk she Yap itu kelihatan sangat licin dan licik.”

“Sebenarnya dalam hal menganalisis sesuatu urusan biasanya Gote sangat meyakinkan, tapi apa yang kau katakan tadi rasanya sukar dipercaya orang!” tukas Ciok Tim tiba-tiba, dia selalu bicara dengan perlahan, setiap kalimat diucapkan secara teratur seakan-akan khawatir salah omong.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng menjawab, “Pukulanku tadi selain berhasil menguji kebenaran keterangan nona she Yap itu dan memang tidak berdusta kepada Suhu, juga dapat kuketahui gerak tubuh Suhu jauh lebih cepat daripada nona itu.”

Dia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan perlahan, “Waktu itu kulancarkan serangan sekaligus kepada mereka berdua, nona she Yap itu berdiri di sebelah kananku, meski tangan kanannya memegang pedang, tapi tanpa bergeser dia dapat menangkis pukulanku dengan tangan kiri ….”

Dengan telapak tangan kiri ia memberi contoh, lalu menyambung, “Tapi waktu itu Suhu berdiri di sebelah kiriku, tangan kanan beliau juga memegang pedang, waktu kupukul dengan sendirinya beliau tidak dapat menangkis dengan pedang yang dipegangnya pada tangan kanan, sebab itulah beliau baru berputar untuk menangkis seranganku dengan telapak tangan kiri.”

Dia bicara dengan teratur dan jelas sehingga tanpa terasa keempat perempuan berbaju hijau itu pun berpaling dan ikut mendengarkan dengan cermat.

“Dalam keadaan begitu,” demikian Lamkiong Peng menyambung, “gerak tangan Suhu jelas lebih banyak satu kali dan pada waktu menangkis pukulanku seharusnya juga lebih lambat sejenak daripada nona she Yap itu, namun pada waktu empat tangan beradu, suara yang timbul terjadi berbareng tanpa ada perbedaan mana lebih dulu, dari kejadian ini bukankah terbukti gerak tangan Suhu memang lebih cepat daripada nona Yap itu. Walaupun selisihnya tidak banyak, tapi pertarungan di antara jago kelas tinggi, selisih sedetik saja dapat menentukan kalah dan menang, apalagi Suhu sudah berpengalaman beratus kali tempur, maka kubilang beliau tidak mungkin kalah.”

Uraian Lamkiong Peng ini membuat si anak dara alias Ong So-so tersenyum cerah, Ciok Tim juga mengangguk-angguk, Kwe Giok-he bertopang dagu dan termenung. Malahan Liong Hui lantas berkeplok tertawa, “Haha, betul, memang ditimbang dari sudut mana pun, tidak nanti Suhu bisa kalah.”

Dengan telapak tangannya yang lebar ia tepuk pundak Lamkiong Peng dengan keras sambil berseru, “Gote, engkau memang hebat, sekarang Toako juga tidak perlu cemas lagi.”

Mendadak keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu sama mendengus, yang berdiri di ujung kiri lantas bertanya kepada teman di sebelahnya, “Leng-cu, apakah kau cemas?”

Leng-cu menggeleng kepala dan ganti bertanya kepada kawan di sebelahnya lagi, “Apakah kau cemas, Wat-cu?”

“Aku juga tidak cemas!” jawab Wat-cu.

“Jika begitu Ho-cu tentu juga tidak perlu cemas,” ujar Leng-cu.

“Aku memang tidak cemas sedikit pun,” kata Ho-cu dengan tertawa. “Barangkali An-cu yang lagi cemas.”

“Aku pun tidak cemas,” kata An-cu yang berdiri di ujung kanan, “Tapi apa sebabnya aku tidak cemas tidak dapat kuberi tahukan kepada kalian.”

Keempat orang lantas saling pandang, lalu sama mendekap mulut dan tertawa cekikak dan cekikik.

Dengan mendongkol mendadak Liong Hui menjengek, “Hm, kalau tidak mengingat kalian ini orang perempuan, tentu akan kuberi hajar adat!”

Serentak keempat perempuan itu berhenti tertawa, kontan An-cu balas menjengek, “Hm, kalau tidak mengingat kau ini orang lelaki, pasti kuberi hajaran setimpal!”

Tidak kepalang gusar Liong Hui, sambil membentak mendadak ia membalik dan menghantam sepotong batu hijau di sebelahnya, “blang”, batu hancur dan kerikil muncrat. Batu karang yang keras itu ternyata terpukul remuk.

“Hm, tenaga pukulan yang hebat!” jengek An-cu, mendadak tangannya berputar, “creng”, pedang dilolosnya.

Di tengah berkelebatnya sinar pedang dia terus melompat ke depan sepotong batu lain, sekali menusuk, “bles”, tahu-tahu ujung pedangnya telah amblas lebih satu kaki ke dalam batu serupa bambu menancap di atas lumpur saja,

Selagi Liong Hui terkesiap, terdengar An-cu telah berkata dengan tertawa, “Hah, rupanya batu di sini sangat lunak!”

“Ilmu pedang hebat!” seru Kwe Giok-he tiba-tiba, dengan tersenyum ia mendekati An-cu dan berucap, “Taci, bolehkah aku pun mencobanya?”

An-cu tampak melengak, sebelum dia menjawab, mendadak Kwe Giok-he turun tangan secepat kilat, jari tangannya yang putih halus itu mengebas ke iga lawan.

Karena terkejut An-cu menggeser ke samping, meski dapat menghindarkan serangan lawan, tapi pedang tidak sempat ditariknya kembali dan masih tertancap di dalam batu.

Dengan suara halus Giok-he lantas berkata, “Terima kasih atas kemurahan hatimu, setelah kucoba segera kukembalikan!”

Perlahan ia lantas menarik pedang itu dari jepitan batu, dipandangnya pedang itu dengan cermat, tampaknya dia lagi mengamat-amati pedang yang dipegangnya, tapi sebenarnya sedang menyelami batu gunung itu.

Sejenak kemudian dia tersenyum manis lagi, perlahan ia angkat pedang ke atas, sekali berputar pedang lantas disurung ke depan, kembali terdengar suara “bles” perlahan, batas pedang amblas lagi ke dalam batu hampir separuh.

Selagi keempat perempuan berbaju hijau itu terkesiap, dengan suara lembut Giok-he berkata pula, “Benar juga batu di sini sangat lunak seperti tahu!”

Lalu pedang ditariknya kembali, perlahan ia mendekati An-cu dan mengembalikan pedang itu.

Air muka An-cu sebentar merah sebentar pucat, jantung pun berdetak, tanpa bicara terima kembali pedang itu dan melangkah ke tempat semula.

Dengan suara lembut Giok-he berkata pula, “Kuharap engkau jangan kesal, meski tusukan pedangku kelihatan jauh lebih dalam, padahal ilmu pedang dan tenagaku selisih tidak terlalu banyak daripadamu.”

Diam-diam ia bersyukur telah dapat mengelabui lawan dengan cara yang licik.

Kiranya pedang yang ditusukkannya itu tadi mengulangi lagi tempat yang ditusuk An-cu semula, jadi sesungguhnya dia cuma menambah dalam sebagian saja tusukannya itu, namun kelihatannya menjadi amblas jauh lebih banyak daripada tusukan An-cu.

Dengan sendirinya An-cu tidak memerhatikan hal ini, dengan gemas ia kembali ke tempatnya tadi, mendadak ia berpaling dan mendengus, “Hm, mungkin betul Kungfumu lebih tinggi daripadaku, tapi gurumu …. Hm, kukira kalian tidak perlu lagi menunggunya.”

Serentak air muka Lamkiong Peng, Liong Hui, Ciok Tim, Kwe Giok-he dan Ong So-so sama berubah.

“Apa katamu?” bentak Liong Hui sambil melompat maju.

An-cu seperti mau bicara lagi, tapi dia keburu ditarik mundur oleh ketiga orang kawannya.

Tiba–tiba Kwe Giok-he mendekati An-cu, ucapnya dengan tersenyum, “Orang suka sembarangan mengoceh kan pantas diberi hukuman, betul tidak?”

Tanpa menghiraukan lagi apa reaksi lawan, secepat kilat jarinya menutuk Koh-cing-hiat di bahu An-cu.

Seketika An-cu melenggong, seperti menyesal akan ucapannya tadi, maka tutukan Giok-he itu seperti tidak dirasakannya. Untunglah Wat-cu yang berada di sebelahnya lantas menangkis tutukan Giok-he, berbareng ia balas mencengkeram pergelangan tangan lawan.

“Hm, berani kalian melawan diriku?” ucap Giok-he dengan tersenyum, ia tarik kembali tangannya, menyusul ia menutuk lagi iga kanan Wat-cu.

Sembari mendorong ke samping An-cu yang masih berdiri melenggong, Wat-cu juga menggeser, menyusul terdengarlah suara “crang-creng” dua kali, sekaligus ia lolos dua pedang terus balas menusuk pinggang Giok-he.

Karena didorong, An-cu tersandar, mendadak ia pun melolos pedang dan melancarkan serangan gabungan.

“Berhenti! … Berhenti! ….” Liong Hui berteriak-teriak.

Siapa tahu, bukannya berhenti, sebaliknya Leng-cu dan Ho-cu juga lantas ikut menerjang maju.

Liong Hui menjadi khawatir, serunya, “Selama hidupku tidak pernah bergebrak dengan orang perempuan, mengapa kalian tidak lekas membantu Toaso?!”

Terpaksa Ong So-so melompat maju, kontan ia hantam Wat-cu sehingga pertarungan bertambah seru.

Perlahan Ciok Tim melangkah maju, ucapnya dengan kening bekernyit, “Suhu melarang kita membawa pedang ke atas gunung, agaknya beliau tidak menghendaki kita main kekerasan, bilamana nanti kita disalahkan beliau, lantas bagaimana?”

Liong Hui menjadi ragu, waktu ia pandang ke sana, terlihat sinar pedang bertaburan, Giok-he dan So-so berdua telah terkurung oleh barisan pedang keempat perempuan berbaju hijau, meski seketika tidak sampai kalah, tapi jelas sukar memperoleh kemenangan.

“Bagaimana pendapatmu, Gote?” tanya Liong Hui kepada Lamkiong Peng.

Anak muda itu memandang sarung pedang hijau yang tergantung di pinggangnya dan menjawab, “Terserah kepada keputusan Toako.”

Alis Liong Hui bekernyit rapat dan sukar mengambil keputusan.

Lamkiong Peng lantas berkata pula, “Jika kuduk kita terancam pedang orang, apakah kita pun tidak boleh turun tangan?”

Mendadak Liong Hui berteriak, “Betul, ayo maju, Samte dan Gote!”

Tapi belum lagi mereka bertindak, mendadak terdengar seorang menjengek di belakang mereka, “Empat lawan dua memang tidak pantas, jika lima lawan empat, rasanya juga kurang adil! Tampaknya anak murid Tan-hong (burung Hong cantik) dan Sin-liong sama suka main kerubut?”

Cepat Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya di samping peti mati sana entah sejak kapan telah berdiri seorang Tojin (pendeta agama To atau Tao) dengan rambut disanggul tinggi di atas kepala, dahi lebar dan pipi kempot dengan sinar mata setajam mata elang, tubuhnya yang tinggi dan sangat kurus mengenakan jubah pertapaan berwarna hijau tua.

Meski jengekannya terdengar tidak keras, tapi seketika membuat Kwe Giok-he di satu pihak dan para perempuan berbaju hijau di lain pihak sama berhenti bertempur.

“Siapa kau?” segera Liong Hui membentak.

“Siapa aku? Em, sampai aku saja tidak kau kenal?” jengek Tojin sanggul tinggi itu sembari mendekati peti mati dengan perlahan.

Kedua lelaki penggotong peti sejak tadi berdiri diam saja, mendadak mereka membentak dan mengadang di depan si Tojin. Dalam pada itu terdengar kesiur angin lewat, Lamkiong Peng juga memburu maju untuk menjaga peti.

Tojin itu mendengus dan berhenti melangkah, ia mengamat-amati Lamkiong Peng beberapa kejap, lalu menegur, “Kau mau apa?”

“Dan kau mau apa?” jengek Lamkiong Peng dengan sama ketusnya.

“Haha, bagus, bagus!” mendadak Tojin itu terkekeh dan berputar ke depan Liong Hui, lalu bertanya, “Janji pertemuan gurumu dan Yap Jiu-pek sepuluh tahun yang lalu apakah sudah diselesaikannya?”

Liong Hui jadi melengak, jawabnya, “Dari … dari mana kau tahu?”

“Hahaha, masakah urusan gurumu aku tidak tahu?” seru si Tojin dengan gelak tertawa, lalu ia menyapu pandang sekeliling situ dan bertanya pula, “Ke mana perginya mereka berdua?”

“Peduli apa denganmu?” jawab Liong Hui dengan kurang senang.

“Hehe, bagus, bagus!” Tojin itu terkekeh pula, lalu berputar ke depan Ciok Tim dan bertanya, “Siapa yang kalah dan siapa yang menang?”

“Tidak tahu!” jawab Ciok Tim perlahan.

Kembali si Tojin terkekeh dan menggeser ke depan keempat perempuan berbaju hijau, lalu bertanya, “Apakah akhirnya Yap Jiu-pek dapat mengalahkan Put-si-sin-liong?”

Keempat perempuan itu saling pandang sekejap, tapi Kwe Giok-he lantas mengikik tawa.

Serentak si Tojin membalik tubuh dan menegur, “Apa yang kau tertawakan?”

“Kutertawa geli karena akhirnya Yap Jiu-pek telah mendahului guruku lebih cepat satu langkah!” sahut Giok-he dengan tersenyum.

“Mendahului apa?” tanya si Tojin.

“Akhirnya dia mati lebih dulu daripada guruku!” jawab Giok-he.

Tergetar hati si Tojin, seketika ia melenggong, sejenak kemudian barulah ia berucap dengan lemas, “Jadi … jadi Yap Jiu-pek sudah … sudah mati?”

“Ya,” jawab Giok-hc.

Mendadak si Tojin menghela napas panjang, katanya kemudian, “Tak tersangka ucapan Thian-ah Tojin sebelum ajalnya pada 20 tahun yang lalu ternyata sangat tepat.”

“Ucapan apa?” tanya Liong Hui.”

“Sin-liong pasti menangkan Tan-hong ….” kata si Tojin dengan menunduk.

Mendadak An-cu, salah seorang perempuan berbaju hijau itu mendengus, “Hm, meski nona Yap sudah meninggal, tapi Put-si-sin-liong juga tidak pernah menang.”

Si tojin menengadah, semangatnya tampak terbangkit, serunya, “Put-si-sin-liong tidak pernah menang! …. Memangnya mereka telah gugur bersama?!”

“Ken … omong kosong!” damprat Liong Hui.

Dengan tajam si Tojin menatap Liang Hui dan bertanya sekata demi sekata, “Kau mau bilang ken … apa?”

“Kentut!” teriak Liong Hui.

Mendadak si Tojin melolos pedang yang tergantung di pinggangnya, tapi baru tercabut setengah lantas dilepaskan kembali, ucapnya, “Meski engkau kurang sopan, tidak boleh aku meniru perbuatanmu.”

Lalu ia bergelak tertawa.

“Hm, memang ada sementara orang tidak sudi bergebrak dengan kaum muda, akan tetapi … saat ini Put-si-sin-liong justru sedang bertanding dengan murid nona Yap,” demikian jengek An-cu.

“Kau bilang Put-si-sin-liong bertanding dengan kaum muda?” si Tojin menegas dengan heran.

“Betul,” jawab An-cu tegas.

Segera Liong Hui berteriak, “Biarpun guruku bergebrak dengan murid Yap Jiu-pek, namun lebih dulu beliau telah menutuk beberapa Hiat-to tertentu sehingga tenaganya telah susut tujuh bagian, tindakan beliau yang luhur budi dan jujur ini mungkin jarang ada di dunia ini.”

Gemerdep sinar mata si Tojin, sambil mengelus jenggotnya yang sudah kelabu ia tersenyum, gumamnya. “Dia ternyata menyusutkan tenaga sendiri untuk bergebrak dengan orang ….”

“Ya, walaupun begitu beliau tetap akan menang!” seru Liong Hui.

“Apa betul?” ucap si Tojin perlahan.

“Tentu saja ….” teriak Liong Hui pula dan mendadak suaranya berubah lemah, “… betul.”

Padahal dia tidak yakin akan ucapannya itu dan sesungguhnya lagi berkhawatir.

Tojin itu memandangnya dua-tiga kejap, lalu melirik Lamkiong Peng yang berdiri di samping peti mati, katanya kemudian, “Sesungguhnya siapa di antara kalian yang menjadi murid utama Put-si-sin-liong?”

“Peduli apa denganmu?!” jawab Liong Hui dengan kurang senang.

“Ah, agaknya dirimu inilah!” kata si Tojin dengan tersenyum.

“Memangnya mau apa jika betul?” jengek Liong Hui.

Mendadak Tojin itu menuding sarung pedang hijau di pinggang Lamkiong Peng dan bertanya, “Jika benar engkau Ciangbun-tecu (murid pewaris ketua) Ci-hau-san-ceng, mengapa pedang Yap-siang-jiu-loh itu berada padanya?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: