Kumpulan Cerita Silat

19/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:45 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 04. Dikuntit Tiga Kelompok Orang
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Angin mendesir, tiba-tiba Siau-hong merasa dingin, sebab tiba-tiba teringat olehnya harus segera menempuh perjalanan jauh, teringat kepada sungai Siong-hoa yang hampir sepanjang tahun selalu membeku dan teringat kepada kota Rahasu yang penuh es itu.

Semua orang tahu Liok Siau-hong adalah seorang petualang. Bertualang juga semacam penyakit, serupa penyakit kanker, tidaklah mudah untuk menyembuhkannya, ingin punya penyakit ini juga sama sulitnya.

Sebab itulah siapa pun tidak nanti berubah menjadi seorang petualang hanya dalam semalam saja. bilamana ada seorang berubah menjadi petualang secara mendadak, maka pastilah disebabkan oleh sesuatu alasan yang sungai khas.

Konon pada waktu Siau-hong berumur 17, dia pernah mengalami sesuatu peristiwa berduka yang hampir membuatnya terjun ke sungai. Dia tidak jadi bunuh diri dengan terjun ke sungai, sebab dia telah berubah menjadi petualang.

Petualang selamanya tidak akan terjun ke sungai. Kaum petualang biasanya tidak suka memperlakukan diri sendiri dengan sadis, sebab satu-satunya orang di dunia yang mau menjaga diri mereka ialah diri mereka sendiri.

Dan Liok Siau-hong selamanya sangat baik menjaga diri sendiri, bila tersedia kereta, tidak nanti dia berjalan kaki. Kalau ada hotel mewah dengan sewa tiga tahil perak semalam, tidak nanti dia tinggal di hotel kelas kambing.

“Sekarang juga dia berada di sebuah hotel, namanya Thian hok-keh-can. Hotel Rejeki. beberapa kamar utama hotel terkenal ini memang sewanya tigatahil perak semalam.

Semua tamu yang pernah bermalam di Thian-hok-keh-can sama mengakui sewa tiga jahil perak semalam tidaklah mahal.

Tempat tidurnya yang longgar dan lunak, seprainya yang resik, bantalnya yang empuk, tersedia pula air mandi panas yang dapat diminta setiap waktu.

Siau-hong sedang berbaring di tempat tidurnya, dia baru saja habis mandi air panas dan bersantap malam yang lezat, ditambah habis minum dua kati arak Tiok-yap-jing yang terkenal. Dalam keadaan begini, satu-satunya pekerjaan yang dapat dilakukannya adalah memejamkan mala dan tidur senyenyaknya.

Dia memang sudah memejamkan mata. tapi justru sukar terpulas. Maklum, ada banyak urusan harus dipikirkannya. Persoalan yang sekarang rasanya seperti ada beberapa lubang kelemahan, tapi dimana letak titik kelemahan itu justru sukar dipecahkannya.

Apabila dia memejamkan mata, segera terbayang orang perempuan. Yang seorang memakai baju tipis berwarna hijau apel, mukanya sama sekali tidak berbedak, sikapnya senantiasa dingin, serupa sebuah gunung es.

Seorang lagi seperti cahaya matahari di musim semi, hangat, genit, menggiurkan Iebih-lebih kedua matanya, bilamana dia sedang memandangmu rasanya sekaligus sukmamu akan terbetot.

Sukma Liok Siau-hong belum lagi terbetot, sebab pada hakikatnya si dia belum pernah memandang sekejap pun secara benar terhadap Liok Siau-hong. Akan tetapi Liok Siau-hong justru selalu memandangi si dia, bahkan selama dua hari terakhir ini. hampir setiap saat, setiap waktu, senantiasa dapat melihatnya.

Maklumlah, perempuan itu diketahui senantiasa mengintil di belakang Liok Siau-hong, seakan-akan terikat oleh seulas tali yang tidak kelihatan.

Liok Siau-hong sudah sering menguntit orang, sebaliknya juga sering dibuntuti orang. Cuma pada saat yang sama sekaligus ada tiga kelompok orang menguntit jejaknya, untuk ini baru pertama kali dialaminya sekarang.

Tiga kelompok tidak berarti tiga orang.

Anak perempuan yang kelihatan hangat itu hanya satu di antaranya, dan dia merupakan satu kelompok yang cuma terdiri dari dia sendiri.

Kelompok kedua ada lima orang, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada orang tua, ada anak muda., semuanya menunggang kuda tinggi besar dengan persenjataan lengkap, semuanya melotot dan mendelik, tampaknya mereka tidak khawatir diketahui oleh Liok Siau-hong.

Tapi Siau-hong justru berlagak tidak tahu.

Kelompok ketiga adalah tiga orang cendekia yang berdandan seperti guru, menunggang kereta besar, ada kacung yang meladeni dengan macam-macam perbekalan, serupa orang yang sengaja keluar untuk pesiar.

Tapi Siau-hong tahu mereka bukan kaum pelancongan, sekali pandang ia lantas kenal mereka, betapapun mereka menyamar pasti dapat dikenali Siau-hong. Sebab meski mereka dapat mengubah dandanannya, tapi sukar mengubah air muka mereka yang selalu dingin dan angkuh itu.

Ketiga guru tua ini dengan sendirinya adalah ketiga Hou-hoat-tianglo dari Makau, yaitu Swe-han-sam-yu. Tiga sekawan orang tua yang tinggal di Thian-Iiong-long di puncak pegunungan Kun-lun.
Siau-hong tidak ingin menghindari mereka, mereka juga cuma menguntit dari jauh dan tidak menyusulnya.

Sebab si Jenggot Biru sudah memberitahukan kepada mereka bahwa satu-satunya orang di dunia ini yang dapat menemukan kembali Lo-sat-pai bagi mereka, maka orang ini ialah Liok Siau-hong.

Kalau Liok Siau-hong bermalam di Thian-hok-keh-can, apakah ketiga kelompok pengintil itu juga tinggal di hotel yang sama ini? Sesungguhnya apa kehendak mereka terhadap Siau-hong?

Siau-hong merasa kesal, ia tidak takut orang lain mencari perkara padanya, cuma rasanya tidak enak bilamana harus menunggu orang lain datang mencari gara-gara padanya.

Pada saat dia lagi kesal itulah, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu.

“Hah, ini dia! Akhirnya datang juga. Kelompok mana yang datang dan apa yang hendak dilakukannya?” Siau-hong terus berbaring dengan lebih lurus di tempat tidurnya, tidak bergerak, bahkan tanpa bertanya terus berseru, “Masuk!”

Waktu pintu terdorong, yang masuk ternyata pelayan yang membawakan poci air minum.

Meski Siau-hong menghela napas lega, tapi juga merasa sangat kecewa. Dia bukan cuma tidak takut orang lain mencari perkara padanya, terkadang dia malah berharap orang lain lekas datang mencari gara-gara padanya.

Meski pelayan kelihatan dalang membawakan air minum, tapi gerak-geriknya tampak mencurigakan, sembari menaruh poci teh di atas meja, ia coba memancing bicara, “Sungguh dingin hawa hari ini, seperti di akhir tahun saja.”

Liok Siau-hong tidak menanggapi, ia memandangnya, ia tahu kata-kata si pelayan pasti masih bersambung.

Benar juga, si pelayan lantas berkata pula, “Hawa sedingin ini. kalau tidur sendirian sungguh kurang sip!”

“Apakah maksudmu hendak mencarikan seorang perempuan untuk teman tidurku?” ucap Siau-hong dengan tertawa.

Si pelayan juga tertawa, “Apakah tuan tamu ingin mencari teman tidur?”

“Sudah tentu aku perlu teman tidur, tapi harus kulihat bagaimana bentuknya?” kata Siau-hong.
Sambil memicingkan mata si pelayan bertutur, “Wah. kalau perempuan lain tidak berani kukatakan, tapi perempuan yang ini, ku jamin tuan tamu pasti puast sebab….”

“Sebab apa?” potong Siau-hong.

Si pelayan tertawa pula, tertawa yang misterius, kemudian menyambung dengan suara tertahan. “Perempuan ini bukan barang lokal, tapi pendatang. Mestinya juga tidak bekerja di bidang ini pula, kecuali kepada tuan tamu saja. Tampaknya dia tidak mau menerima tamu yang lain.”

“Memangnya dia yang minta kau bicara denganku?” tanya Siau-hong.

Ternyata si pelayan lantas mengangguk.

Seketika mata Siau-hong terbeliak, bayangan si cantik yang hangat itu seakan-akan terbayang pula di depan mata.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: