Kumpulan Cerita Silat

19/02/2008

Kisah Membunuh Naga (04)

Filed under: Jin Yong, Kisah Membunuh Naga — Tags: — ceritasilat @ 10:29 pm

Kisah Membunuh Naga (04)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Tapi si jubah sulam tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin, mendadak ia memutar badan, disusul dengan suara “krak-krek” dari si kakek yang di sebelah timur, terbang menghantam dan menjeblos atap rumah, akan kemudian jatuh di pekarangan gedung!

Kakek yang martilnya terbang, dapat berpikir cepat. Ia tahu bahwa mereka tengah menghadapi musuh yang satu pihaknya dan meskipun tiga lawan satu, pihaknya pasti bakal dapat dirobohkan. Maka itu, buru-buru ia mengambil satu jepitan api untuk menjepit golok To Liong To.

Pada waktu itu si kakek yang berdiri di sebelah selatan, sudah siap sedia dengan senjata rahasianya dan menunggu kesempatan untuk menimpuk si jubah sulam. Akan tetapi karena gerakan pemuda itu gesit luar biasa, maka sedari tadi ia belum mendapatkan lowongan untuk menyerang.

Sekarang, begitu lihat si kakek di sebelah timur mengangkat jepitan untuk menjepit To-Liong To, hatinya terkesiap. Ia yakin begitu lekas golok mustika itu jatuh kedalam tangan orang lain, ia sukar mendapatkannya kembali. Sesudah si kakek memiliki To Liong To, mana mampu ia melawannya? Dalam bingungnya, ia jadi nekad dan bagaikan kilat, tangannya menyambar ke dapur dan menggenggam gagang golok.

Meskipun tidak sampai lumer sebagai akibat dari pembakaran yang sangat hebat itu, golok itu panas luar biasa. Begitu tangan si kakek menggenggam gagang golok, uap putih mengepul ke atas dan semua orang mengendus bau daging dibakar. Tapi, ia seperti tidak merasa sakit dan mengeluh, ia tetap menggenggam gagang golok itu.

Karena kaget, pertempuran terhenti dan semua orang berdiri terpaku. Di lain saat, kakek itu sudah melompat ke belakang dan kemudian, sambil menenteng To Liong To, bagaikan seorang gila, ia kabur dari ruangan itu.

Si jubah sulam tertawa dingin. “Mana bisa begitu mudah?” katanya seraya turut melompat dan menjabret punggung si kakek yang lalu dihentak ke belakang. Orang tua itu membalik tangannya dan To Liong To menyambar.

Sebelum mata golok tiba, hawa panas sudah menyambar muka si jubah sulam sehingga rambut dan alisnya lantas jadi hangus. Pemuda itu terkejut dan tak berani menyambut dengan tangannya. Cepat bagaikan kilat, kedua tangannya mendorong kedepan dan tubuh si kakek terbang ke arah mulut dapur!

Jie Tai Giam yang sejak tadi menonton pertempuran itu sebenarnya tak ingin mencampuri sebab persoalan golok mustika tidak bersangkut paut dengan dirinya. Tapi pada detik jiwa si kakek terancam kebinasaan tanpa memikir panjang-panjang lagi, ia mengempos semangat dan melompat.

Saat badannya masih berada di tengah udara, ia menjambret rambut orang tua itu lalu mengangkatnya ke atas dan kemudian dengan gerakan yang sangat indah ia hinggap di atas lantai. Lompatan itu yang merupakan ilmu mengentengkan badan paling tinggi dalam rimba persilatan dinamakan Tee in ciong (lompatan awan tangga)

Si jubah sulam dan Tiang-Pek-Sam-khim yang tadinya tidak memperhatikan padanya jadi kaget bukan main. “Bukankah lompatan itu Tee in ciong yang kesohor di kolong langit?” tanya pemuda itu.

Mendengar orang menyebutkan nama ilmunya, Jie Thai Giam bermula merasa kaget, tapi kemudian ia girang karena mendapat pujian. “Ilmu yang cetek itu tiada artinya untuk disebut-sebut”, jawabnya dengan suara merendah. “Apakah aku bisa mendapat tahu she dan nama tuan yang mulia?”

“Bagus! Bagus!” katanya, tanpa menjawab pertanyaan orang. “Orang mengatakan bahwa ilmu mengentengkan badan Bu Tong Pay tiada keduanya dalam dunia. Perkataan itu ternyata ada benarnya juga”. Walaupun kata2nya memberi pujian, tapi suaranya bernada sombong, seolah-olah seorang Cianpwee (orang yang tingkatannya lebih tinggi) sedang memuji kepandaian seorang Hoanpwee (orang yang tingkatannya lebih bawah).

Jie Thai Giam mendongkol tapi ia menahan sabar. “Dengan sekali bergerak tuan sudah membinasakan seorang jago Hai See Pay. Kepandaian tuan sungguh-sunnguh tak bisa diukur bagaimana tingginya.”

Si baju sulam kaget. “Eeh, dia lihat aku, tapi aku sendiri tak lihat dia,” katanya di dalam hati. “Di mana bocah itu bersembunyi?”

Ia tersenyum tawar dan berkata dengan suara yang tawar pula. “Benar ilmu itu sukar dimengerti oleh orang luar. Jangankan tuan, sedangkan Ciang boen jin Bu Tong Pay sendiripun belum tentu bisa mengerti.”

Jie Thai Giam adalah seorang yang sangat sabar tapi mendengar hinaan terhadap gurunya, darahnya naik juga. Baik juga ia masih bisa menguasai dirinya dan merasa tidak perlu untuk menambah musuh karena beberapa perkataan kurang ajar itu ia bersenyum seraya berkata, “Dalam dunia persilatan memang terdapat banyak sekali ilmu-ilmu yang murni dan sesat. Bu Tong Pay hanya memiliki sekelumit ilmu dari lautan ilmu yang dalam dan luas. Ilmu yang dimiliki tuan memang tidak dipunyai oleh guruku.” Jawabnya yang sungkan itu mengandung duri dan ia seperti juga mau mengatakan bahwa Bu Tong Pay memang tidak mengerti segala ilmu sesat dan menyeleweng.

Sementara itu, si kakek yang menggenggam golok mendadak memutar To Liong to dan lari menerjang ke luar.

Jie Thai Giam yang berdiri paling dekat paling dulu menerima serangan. Tiba-tiba ia merasakan sambaran angin hebat ke arah pinggangnya. Sesudah menolong jiwa orang tua itu, sedikitpun ia tidak duga bahwa dirinya bakal diserang cara begitu. Pada saat yang sangat berbahaya, ia menotol lantai dengan kakinya dan badannya lantas saja melesat ke atas. Kakek itu sendiri terus lari keluar sambil menyabetkan To Liong To secara membabi buta.

Si jubah sulam dan dua kakek lainnya tidak berani merintangi dengan kekerasar dan seraya berteriak-teriak, mereka lalu mengumbar dari belakang.

Jie Thai Giam pun lantas turut mengudak. Berkat ilmu mengentengkan badannya yang sangat tinggi, biarpun menguber belakangan, ia lebih dulu menyandak kakek yang lari dengan langkah limbung dan kedua tangan menggenggam To liong to itu, seperti juga tidak kuat menentengnya dengan satu tangan.

Begitu tahu dicandak orang, sambil mangeluarkan teriakan keras, ia melompat jauh dengan menggunakan seantero tenaga dan badannya lantas saja melesat keluar pintu depan. Heran sungguh, begitu kedua kakinya hinggap di tanah, ia terguling dan berteriak kesakitan seperti juga terluka berat.

Si jubah sulam dan kedua kakek lainnya menyusul dan coba merebut To Liong To. Tapi dengan serentak merekapun turut-turut roboh dan mengeluarkan teriakan menyayat hati, seolah-olah dipagut ular atau binatang berbisa lainnya. Si jubah sulam yang ilmunya paling tinggi dengan cepat melompat bangun dan lantas kabur sekeras2nya. Tapi ketiga kakek itu terus bergulingan dan tak bisa bangun lagi.

Melihat kejadian luar biasa itu Jie Thay Ciam segera bergerak untuk memberi pertolongan. Mendadak ia kaget sendiri sebab tiba-tiba saja ia ingat garam beracun yang disebar oleh orang-orang Hai See Pay. Melihat akibatnya terhadap Tiang-pek Sam khim dan si jubah sulam, racun itu mestinya hebat luar biasa ia tahu bahwa seputar gedung itu telah dikurung dengan garam beracun sehingga ia sendiripun tak tahu bagaimana harus meloloskan diri.

Ia berdiri diam dan mengasah otak. Sekonyong konyong ia lihat dua kursi tinggi di kedua samping pintu dan mendadak ia dapat pikiran baik. Buru-buru ia membalik kedua kursi itu dan sambil menggaetkan kakinya di kursi ia berjalan seperti orang main jangkungan.

Ketiga orang tua masih terus bergulingan di atas tanah sambil mengeluarkan teriakan hebat. Thai Giam mengerti bahwa ia sedang berada ditempat yang sangat berbahaya cepat cepat ia merobek ujung bajunya dan dengan menggunakannya sebagai alat ia menjambret punggung si kakek yang mencekal To Liong To dan sambil menentengnya ia lari kejurusan timur secepat-cepatnya.

Inilah kejadian yang tak diduga-duga oleh orang Hai See Pay. Dengan serentak, mereka melepaskan sejata rahasia. Tapi Jie Thai Giam yang gerakannya cepat luar biasa dalam sekejap sudah berada di luar jarak senjata rahasia. Orang-orang Hai See Pay tak mau mengerti dan terus mengejar sekuat-kuatnya.

Sekonyong-konyong, Jie Thai Giam melompat tinggi, sedang kedua kakinya menendang kedua kursi itu lantas saja terbang ke belakang dan menghantam beberapa pengejarnya. Mereka berteriak kesakitan dan semua kawannya terpaksa berhenti sejenak untuk melihat keadaan mereka.

Dengan menggunakan kesempatan itu sambil mengempos semangat, Jie Thai Giam mempercepat tindakannya dan dalam sekejap ia sudah meninggalkan pengejarnya jauh sekali.

Sesudah lari lagi beberrapa jauh, ia hanya mendengar suara ombak laut dan suara kejaran musuh sudah tidak terdengar lagi.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

Si kakek tidak menjawab. Ia merintih kesakitan. “Lebih baik cuci badannya yang penuh garam beracun,” pikir Thai Giam. Ia segera membawa orang tua itu ke air yang cetek dan lalu melemparkannya keair itu, dengan menjaga supaya air laut tidak mengenakan badannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, kakek itu kelihatan tersadar tapi belum bisa bangun. Selagi Thai Giam mau mengangsurkan tangan untuk menariknya, tiba-tiba menyambar gelombang besar yang secara kebetulan, sudah melontarkan badan si tua ke atas pasir.

“Sekarang kau sudah terlolos dari bahaya dan karena mempunyai urusan penting aku tidak bisa menemani terus. Maka, di sini saja kita berpisah.” kata Thai Giam.

Sambil menekan pasir dengan kedua tangan nya si kakek mengangkat badannya. “Kau kau…mengapa kau tidak merampas golak mustika ini?” tanyanya dengan suara heran.

Thai Giam tertawa. “Biarpun bagus, golok itu bukan milikku,” jawabnya. “Bagaimana aku bisa merampasnya?”

Si kakek jadi semakin heran. Ia tak percaya dalam dunia ada orang begitu mulia. “Kau…kau…tipu busuk apa yang dijalankan olehmu?” tanyanya. “Kau ingin menyiksa aku?”

“Kita sama sekali tidak bermusuhan, bagaimana aku bisa menyiksa kau?” Thai Giam balas tanya seraya tersenyum. “Malam ini, secara kebetulan kita bertemu dan karena merasa tak tega melihat kau terluka, aku sudah memberi pertolongan.”

Orang tua itu menggeleng-gelengkankan kepalanya. “Jiwaku berada dalam tanganmu, kalau kau mau, bunuhlah sekarang!” katanya dengan suara keras. “Tapi jika kau turunkan tangan beracun, sesudah mati, aku akan jadi setan penasaran dan akan terus mengejar-ngejar kau.”

Thai Giam tahu otak si tua masih kalang-kabut dan ia hanya bersenyum tanpa meladeni. Baru saja ia mau berlalu, mendadak menyambar sebuah gelombang besar, sehingga pakaiannya basah kuyup dan kakek sendiri mendekam di atas pasir dengan badan gemetaran.

Dengan adanya kejadian itu, Thai Giam berubah pikiran. “Jika menolong orang, kita harus menolong sampai di akhirnya,” pikirnya “Kalau aku berlalu, mungkin sekali dia akan mati di dalam laut.”

Memikir begitu, ia lantas saja menjambak punggung si kakek itu dan sambil menentengnya, ia berjalan kearah se buah bukit, ia mengawasi keadaan di seputarnya dan melihat sebuah rumah kecil yang bentuknya menyerupai kelenteng. Ia lalu pergi kesitu dan benar saja rumah itu rumah berhala yang didepannya terdapat huruf2 “Hay sin bia” (Kelenteng Malaikat Laut). Ia membuka pintu dan mendapat kenyataan bahwa kelenteng yang sangat kecil itu hanya mempunyai sebuah ruangan.

Sesudah meletakkan si kakek di atas meja sembahyang, ia mengeluarkan bahan api, tapi tak dapat menggunakannya karena basah. Dalam gelap, ia meraba2 meja sembahyang dan sungguh untung di atas meja terdapat bahan api yang diperlukannya. Ia lalu menyalakan bahan api itu dan menyulut lilin yang tinggal sepotong.

Dibawah sinar lilin ia lihat muka si kakek yang berwarna hijau ungu sebagai tanda keracunan hebat. Dengan kaget ia merogo saku dan mengeluarkan sebutir Thian sin Kay tok tan (pil pemunah racun). “Telanlah pil ini,” katanya.

Si kakek membuka mataya. “Tidak,” katanya dengan suara gusar. “Aku lebih suka mati daripada makan pil racunan.”

Biar bagaimana sabarpun, Jie Thai Giam naik juga darahnya. Sambil mengerutkan alis, ia berkata dengan suara keras: “Kau anggap aku siapa? Walaupun Bu Tong Cit hiap bukan orang-orang mulia, mereka sedikitnya bukan manusia-manusia yang gemar mencelakakan sesama manusia. Sebenarnya pil ini adalah untuk memusnahkan racun. Karena kau sudah kena racun hebat, biarpun belum tentu bisa menolong jiwamu, sedikitnya pil ini bisa memperpanjang usiamu selama tiga hari. Paling benar kau menyerahkan To Liong To kepada Hai See Pay dan menukarkannya dengan obat pemunah.”

Mendadak kakek itu melompat bangun dan berteriak: “Tidak . . . .! Tidak bisa !”

“Perlu apa golok mustika itu, kalau jiwamu sendiri sudah melayang?” tanya Thai Giam.

“Jiwaku boleh melayang, tapi To Liong To mesti tetap jadi milikku” jawabnya dengan suara pasti seraya mencekal golok itu erat-erat dan menempelkannya dipipinya dengan sikap sangat menyayang.

Jie Thai Giam jadi heran bukan main. Ia sebenarnya ingin menanya, “Apa kefaedahan golok tersebut sehingga dicinta sampai begitu.” Tapi melihat sorot mata si kakek yang serakah dan ganas, ia jadi merasa muak dan sesudah memutar badan, ia lantas saja berjalan pergi.

“Tahan! Mau kemana kau?” bentak orang tua itu.

Thai Giam tertawa. “Kemana aku mau pergi, bukan urusanmu,” jawabnya sambil berjalan terus. Tapi baru ia berjalan beberapa tindak, mendadak kakek itu menangis keras seperti jeritan binatang yang terluka hebat yang penuh kesakitan dan putus harapan.

Tangisan itu telah membangkitkan rasa ksatria Jie Thai Giam. Ia balik kembali menanya: “Mengapa kau menangis?”

“Sesudah mengalami banyak sekali penderitaan, barulah aku memiliki golok mustika ini.” jawabnya. “Tapi sekarang aku tahu, dalam sekejap mata, jiwaku akan terpulang ke alam baka. Sesudah aku mati, perlu apa golok mustika ini ?”

“Hm…untuk menyelamatkan jiwamu tak ada jalan lain kecuali menyerahkan golok itu kepada Hai See Pay untuk ditukar dengan obat pemunah” kata Jie Thai Giam.

Si kakek menangis menggerung-gerung. “Aku tak tega untuk menyerahkannya! Tak tega untuk menyerahkan!” teriaknya dengan nada penuh keserakahan.

Thai Giam merasa geli melihat serakahnya orang tua itu tapi dengan menyaksikan penderitaannya yang sangat hebat, ia tidak bisa tertawa pula. Seorang ahli silat yang sejati hanya mengandalkan kepandaiannya untuk mengalahkan musuh dan dalam sepak terjang ia selalu berjalan lurus dan bersedia untuk menolong sesama manusia supaya namanya tetap harum turun temurun.

“Golok atau pedang mustika adalah benda-benda yang berada di luar badan kita. Kalau mendapatkannya kita tak usah bergirang, sedang kalau kehilangan kita juga boleh tak usah merasa sedih. Maka itu, perlu apa Lootiang mesti bersedih sampai begitu rupa?”

“Enak saja kau bicara!” bentak si kakek! “Apa kau pernah dengan kata-kata seperti berikut. ‘Boe lim cie cun, po to to liang, hauw leng thian hee boh kam poet cong’.” (Yang termulia dalam rimba persilatan golok mustika pembunuh naga perintahnya di kolong langit tiada manusia yang berani tidak menurut)

Jie Thai Giam tertawa. “Tenta saja aku pernah mendengarnya,” jawabnya. “Di sebelah bawah parkataan itu masih ada dua baris perkataan lain yang berbunyi ‘Ie thian poet coat, swee ie ceng hong’. Sepanjang tahuku, apa yang dimaksudkan dengan ucapan itu adalah suatu peristiwa yang menggemparkan rimba persilatan pada beberapa puluh tahun berselang dan sama sekali bukan membicarakan golok mustika To Liong To. Ie Thian berarti mengandalkan Langit atau Tuhan. Tapi disini Ie thian adalah namanya sebatang pedang mustika. Maka itu, ‘Ie thian poet coat, swee ie ceng hong’ berarti ‘Ie thian tidak keluar siapa lagi yang melawan ketajamannya'”

“Kejadian apa yang menggemparkan?” tanya si kakek. “Coba kau ceritakan.”

“Peristiwa itu diketahui oleh hampir setiap orang dalam rimba persilatan,” menerangkan Thai Giam. “Yang dimaksudkan ialah peristiwa dibunuhnya kaisar Mongol Hian cong oleh Sintiauw Tayhiap Yo Ko. Mulai dari waktu itu, setiap perintah yang dikeluarkan oleh Sintiauw Tay hiap tidak pernah tidak diturut oleh segenap orang-orang gagah dikolong langit. Dengan ‘Liong’ (naga) dimaksudkan kaisar Mongol dan ‘To Liong’ berarti pembunuh kaisar Mongol. Apa kau kira dalam dunia ini benar-benar ada naga?”

Si kakek tertawa dingin. “Aku mau tanya. Senjata ada yang biasa digunakan oleh Yo Tay hiap ?” tanyanya.

Thai Giam agak terkejut: “Menurut katanya guruku, Yo Tayhiap berlengan satu dan ia biasanya tidak menggunakan senjata apapun juga,” jawabnya. “Tapi pada hari waktu bertempur melawan Kim Loen Hoan ong di luar kota Siang yang, ia menggunakan senjata pedang”

“Senjata apa yang digunakan Yo Tayhiap untuk membinasakan kaisar Mongol?” tanya pula si kakek.

“Ia menimpuk Hian cong dengan sebutir batu dan kejadian ini dilihat oleh semua orang.” jawabnya.

Orang tua itu kelihatan girang. “Baiklah” katanya. “Menurut katamu sendiri, Yo Tayhiap biasa menggunakan saja tangannya atau seseklai menggunakan pedang. Senjata yang digunakanya sebutir batu. Dengan begitu, dari mana datangnya perkataan po to to liong atau golok mustika membunuh naga?”

Jie Thai Giam terperanjat dan untuk beberapa saat ia tak dapat menjawab pertanyaan itu. “Ah! Kurasa itu hanya kata-kata yang ditemukan seenaknya saja oleh orang-orang rimba persilatan,” jawabnya sesudah selang beberapa saat. “Orang tentu tidak bisa mengatakan ‘batu membunuh naga’. Kata-kata itu tak enak didengarkan.”

Sekali lagi si kakek tertawa dingin. “Alasanmu adalah alasan dibuat-buat yang tak ada dasarnya sama sekali,” katanya dengan suara mengejek. “Aku mau tanya lagi, apa artinya perkataan Ie thian poet-coet wee ie ceng hong?”

Lagi2 Jie Thai Giam bungkam. Sesudah mengasah otak beberapa lama, baru ia menjawab: “Mungkin sekali Ie thian namanya orang. Sepanjang cerita, Yo Thayhiap belajar ilmu silat dari istrinya. Bisa jadi Yo Hujin bernama Ie Thian dan mungkin juga perkataan itu dimaksudkan Kwee Tay hiap yang telah membela kota Siang yang mati-matian.”

“Hm!” si orang tua mengeluarkan suara di hidung.

“Aku memang sudah duga, kau tak tahu apa artinya perkataan itu. Sekarang kau dengarlah. To liong adalah sebilah golok yaitu golok To Liong To yang sedang dicekal olehku. Ie Thian adalah namanya sebatang pedang. Pedang itu dikenal sebagai Ie Thian kiam. Makanya perkataan itu berarti begini ‘Dalam rimba persilatan, benda yang termulia adalah golok To Liong To. Segala perintah dari orang yang bisa memiliki golok itu akan diturut oieh segenap orang gagah di kolong langit. Asal saja Ie Thian kiam tidak muncul, maka senjata yang terlihai dalam dunia adalah To Liong To sendiri.”

Thai Giam separuh percaya separuh tidak. “Boleh aku lihat golok itu ?” tanyanya.

Sikakek memeluk To Liong To era-erat. “Kau kira aku bocah usia 3 tahun?” katanya dengan suara gusar. “Jangan kau harap bisa akali aku”. Sesudah kena racun ia sebenarnya tidak bertenaga lagi, tapi setelah menelan pil yang di berikan oleh Jie Thai Giam sebagian tenaganya pulih kembali dan dapat mengerahkgn lwekang untuk memeluk golok mustika.

Di lain saat, sebagai akibat dari pengarahan tenaga dalam itu napasnya ter sengal-sengal.

“Kalau kau tidak mempermisikan, aku pun tidak ingin memaksa,” kata Thai Giam seraya tertawa.

“Sekarang sesudah kau memiliki golok mustika To Liong To, siapakah yang bersedia untuk menuruti perintahmu? Apakah karena melihat kau memeluk golok itu, aku segera menurut segala kemauanmu? Benar-benar menggelikan. Menurut pendapatku, kau adalah seorang yang baik tapi sebab percaya segala omongan gila pada akhirnya akan mengorbankan jiwamu sendiri. Hai! Malahan sampai detik ini kau masih belum tersadar juga. Bahwa kau tidak bisa memerintah aku adalah suatu bukti bahwa golok itu sebenarnya tidak luar biasa sama sekali.”

Si kakek bengong dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. “Lau tee,” katanya sesudah berpikir beberapa lama. “Sekarang kita mengadakan serupa perjanjian. Kau menolong jiwa ku dan aku akan membuka sebagian rahasia dari kebagusannya golok mustika ini. Apa kau sepakat?”

Jie Thai Giam tetawa terbahak-bahak. “Looliang dengan berkata begitu kau sungguh memandang rendah murid-murid Boe Tong,” katanya. “Menolong manusia yang harus ditolong adalah tugas dari kami semua. Apakah kau kira dalam menolong orang kami mengharapkan pembalasan budi? Kau kena garam beracun tapi aku sendiri tidak tahu racun apa adanya itu. Maka itulah sebagaimana kukatakan jalan satu-satunya adalah meminta obat pemunah dari Hai See Pay sendiri.”

“Tak mungkin!” kata si tua sambil menggelengkan kepala.

“Golok mustika ini telah dicuri dari tangan Hai See Pay. Mereka sangat membenci aku dan mereka pasti tak akan sudi menolong.”

“Dengan menyerahkan golok itu kepada mereka, segala sakit hati akan menjadi hilang.” kata Thai Giam. “Perlu apa mereka mengambil jiwamu?”

Tapi sikakek tetap menggeleng2kan kepala, “Kulihat kau mempunyai kepandaian yang sangat tinggi dan kau pasti bisa mencuri obat pemunah dari Hai See Pay.” katanya. “Pergilah curi obat itu dan tolonglah selembar jiwaku.”

“Aku merasa menyesal tak dapat meluluskan permintaanmu itu,” kata Thai Giam. “Pertama, aku sendiri mempunyai urusan penting dan tidak boleh berdiam terlalu lama di tempat ini. Kedua, kau telah mencuri golok orang dan dalam hal ini, kaulah yang bersalah. Mana bisa aku membela pihak yang tidak benar? Lootian, lekaslah kau meminta pertolongan pihak Hai See Pay. Jika terlambat aku khawatir tidak keburu lagi.”

Melihat Thai Giam memutar badan untuk segera berlalu, si tua buru-buru berkata “Sudahlah, tak apa jika kau tak mau menolong. Tapi aku ingin ajukan sebuah pertanyaan lagi. Pada waktu kau mengangkat tubuhku, apakah akan ada merasakan apa2 yang luar biasa?”

“Benar, aku sendiri merasa sangat heran,” jawabnya. “Kau bertubuh kurus dan kecil tapi pada waktu aku mengangkat badanmu aku merasa herat sekali. Kira-kira ada duaratus kati, Kau tidak membawa barang berat, tapi mengapa berat badanmu begitu hebat?”

Orang tua itu segera menaruh To Liong To di atas tanah dan berkata: “Nah, coba sekarang kau angkat lagi badanku.”

Thai Giam segera mencekal baju si kakek dan mengangkatnya. Benar saja, dengan heran mendapat kenyataan, bahwa berat badan orang tua itu hanya kira-kira delapan puluh kati. “Betul luar biasa,” katanya. “Aku tak nyata berat golok itu ada seratus kati lebih.” Sambil berkata begitu, perlahan-lahan ia melepaskan tubuh si kakek di atas tanah.

“Keanehan golok ini bukan hanya terpihak pada beratnya saja.” kata pula si kakek. “Lau-tee, kau she apa, she Jie atau she Thio?”

“Aku she Jie, namaku Thai Giam, Lootiang bagaimana kau bisa menebak begitu?”

Si kakek tertawa seraya berkata: “Diantara Bu Tong Cit-hiap, Song Tayhiap berusia lebih tua dari padamu. In hiap dan Boh hiap baru berusia kira-kira dua puluh tahun. Jie hiap dan Sam hiap kedua-duanya she Jie. Sie hiap dan Ngo hiap masing-masing she Thio. Dalam Rimba persilatan, siapakah yang tidak tahu itu? Lautee kalau begitu kau adalah Jie Samhiap. Tak heran jika kau memiliki kepandaian yang begitu lihai. Nama Bu Tong Cit hiap menggemparkan seluruh dunia persilatan dan kini hari, aku mendapat bukti, bahwa nama besar itu benar-benar bukan kosong.”

Walaupun masih berusia muda, Jie Thai Giam sudah kenyang makan asam garam dunia Kangouw. Ia mengerti bahwa pujian itu mempunyai maksud untuk dapat pertolongannya, sehingga oleh karenanya ia menjadi kheki terhadap sikakek yang coba mengumpak dirinya.

“Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama Loo tiang?” tanyanya.

“Aku she Tek, namaku Seng,” sahutnya. “Sahabat-sahabat di wilayah Liao tong memberi gelar Hay tong ceng kepadaku.” Hay tong ceng adalah semacam burung elang yang terdapat di daerah Liao tong. Burung itu ganas dan buas dan biasa makan binatang-binatang kecil.

Thai Giam segera merangkap kedua tangannya seraya berkata. “Sudah lama sekali aku mendengar nama besar Loo tiang. Aku merasa sangat beruntung bahwa di hari ini bisa berkenalan dengan Loo tiang.” Sehabis berkata begitu ia dongak mengawasi langit.

Tek Sang mengerti bahwa pemuda itu akan segera berangkat pergi. Ia menganggap bahwa untuk menahannya ia harus memancing Thai Giam dengan keuntungan besar. Maka itu, ia lantas saja berkata. “Dalam hal ini ada hal-hal yang belum dimengerti olehmu. Kata-kata ‘hauw len thian hee, boh kam po pang’ pada hakukatnya bukan berarti bahwa perintah orang yang memiliki To Liong to, ia akan dituruti dengan begitu saja oleh orang-orang gagah dalam rimba Persilatan. Bukan arti yang sebenarnya bukan begitu.”

Ia berdiam sejenak dan kemudian berbisik: “Jie Lau tee, di dalam golok mustika itu tersimpan kitab rahasia ilmu silat. Ada yang kata Kiu yang Cin keng, ada pula yang kata Kiu im Cin keng. Asal saja orang bisa mengeluarkan kitab tersebut dan beralih menurut petunjuk-petunjuknya, maka orang itu akan memiliki kepandaian yang sedemikian tinggi sehingga semua orang tak akan berani membantah segala perintahnya.”

Cerita mengenai kedua kitab itu memang pernah di dengar oleh Jie Thai Giam dari gurunya. Dulu, pada sebelum Kak Wan Taysoe meninggal dunia, guru2 dari Siauw Lim, Bu Tong dan Go Bie telah memetik beberapa bagian dari Kiu yang Cin keng, tapi kitab itu sendiri tak diketahui lagi dimana adanya.

Mengenai Kiu im Cin keng, sudah beberapa tahun orang tidak pernah menyebut-nyebut lagi kitab itu. Sehingga dalam rimba persilatan, orang sangat menyangsikan kebenarannya cerita itu.

Melihat paras Jie Thai Giam yang penuh rasa tidak percaya, Tek Seng lantas saja berkata lagi: “Sesudah mendapat golok mustika ini, kami bertiga coba mencairkannya dengan menggunakan api guna mengambil kitab yang tersimpan di dalamnya. Tapi rahasia itu bocor dan sebelum berhasil, orang sudah datang mengganggu. Jie Lau tee, sekarang aku ingin minta pertolonganmu untuk mencuri pemunah racun. Sesudah aku sembuh, kita bisa pergi ke tempat yang sepi dan jauh dari manusia untuk mencairkan To Liong To dan mengambil kitab itu. Dalam beberapa tahun saja, kita berdua sudah bisa menjagoi di kolong langit. Jie Lau tee, bagaimana pendapatmu?”

Thai Giam menggelengkan kepalanya. “Hal itu tidak boleh terlalu dipercaya,” katanya. “Jangankan dalam golok itu memang tidak tersimpan kitab. Sedangkan sekalipun benar ada kitabnya, sebelum golok itu menjadi cair, kitab tersebut tentu sudah menjadi abu.”

“Golok itu keras luar biasa dan tak dapat dibuka dengan pahat yang bagaimana tajam pun.” kata Tek Seng. “Jalan satu-satunya adalah mencairkannya dengan menggunakan api. Bicara sampai di situ paras Jie Thai Giam mendadak berubah dan dengan tangannya ia mengebut lilin-lilin yang lantas padam. “Ada orang” bisiknya.

Tek Sen yang lwekangnya masih kalah jauh dari pemuda itu, tak dapat dengar apapun juga. Baru saja ia mau menanya, di sebelah kejauhan mendadak terdengar suara seruan yang saling sambut. “Musuh mendatangi!” katanya dengan suara kaget. “Mari kita kabur dari belakang kelenteng.”

“Di belakang kelenteng juga sudah ada musuh,” kata Thai Giam.

“Celaka!” mengeluh Hay tong ceng.

“Tek Loo tiang,” kata Thai Giam. “Yang datang adalah orang Hai See Pay. Dengan menggunakan kesempatan ini, paling baik kau minta obat pemunah. Aku sendiri tak dapat mencampuri urusanmu dan segala apa terserah atas putusan Lootiong sendiri.”

Si kakek ketakutan setengah mati dan ia mencekal tangan Jie Sam hiap erat2. “Tidak, tidak… kau tidak boleh meninggalkan aku…Tak boleh meninggalkan aku…” katanya dengan suara gemetar dan terputus-putus.

Thai Giam merasa jari tangan si kakek yang mencekal pergelangan tangannya bagaikan jepitan besi, dingin seperti es. Dengan sekali membalik tangan, ia melepaskan cekalan itu dan berbalik mencengkeram lima jari orang itu. Tek Seng merasa tulang jarinya seperti mau patah, tapi pada saat itu ia yakin, bahwa orang satu-satunya yang bisa menolong jiwanya adalah pemuda itu.

Untuk menyerahkan To-liong to yang telah direbutnya dengan mempertaruhkan jiwa, ia sungguh tak rela. Lebih tak rela daripada memotong dan memberikan sepotong dagingnya sendiri. Maka itu, sekonyong-konyong ia memeluk Thai Giam dengan tangannya secara nekat.

Dengan kaget pemuda itu menggoyang pundak untuk melepaskan pelukan itu. Tapi mati-matian si kakek memeluk terus seperti orang tenggelam di air. “Krek…krek…” demikian terdengar suara berkekreknya tulang. Thai Giam mengerti, bahwa jika ia mengerahkan lwekang lagi, tulang kedua lengan Tek Seng akan lantas menjadi patah. Hatinya tak tega dan ia tidak mengeluarkan lagi tenaga dalamnya. “Lepas!” bentaknya.

Sesaat itu, suara tindakan kaki sudah tiba di luar kelenteng disusul dengan suara gedebrukan dan pintu terpental karena ditendang orang, Thai Giam terkesiap. “Orang ini bukan lawan enteng.” pikirnya. Hampir berbareng ia mengendus bau amis dan di dalam kegelapan serupa benda dilontarkan kedalam.

Dengan sekali menggoyang badan, seperti seekor cacing ia meloloskan diri dari pelukan Tek Sang dan dengan kecepatan luar biasa, sebelum benda itu atau senjata rahasia menghantam, ia sudah melompat ke belakang patung Malaikat Laut. Hampir berbareng. ia dengar teriakan si kakek yang lantas roboh bergulingan dilantai, sedang senjata rahasia itu masih terus dilepaskan tak henti-hentinya.

Semakin lama bau amis jadi semakin hebat seolah-olah ratusan ikan busuk dilemparkan k edalam kelenteng itu. Tek Seng yang sudah bisa bangun kembali, melompat kesana sini dengan tindakan limbung seperti orang mabuk tapi karena ruangan itu sangat sempit dan juga sebab keadaannya memang sudah payah, maka beruntun senjata-senjata rahasia itu mengenakan badannya dengan jitu.

Sesudah mendengar suara menyambarnya, Thai Giam berkata dalam hatinya : “Senjata apa itu? Pasir beracun? Kalau pasir beracun, bagaimana Tek Seng bisa mempertahankan diri begitu lama?”

Di lain saat ia mendusin. “Ah! Tak salah! Garam beracun dari Hai See Pay,” pikirnya. Walaupun kepandaian tinggi, tapi karena garam menyambar terus-menerus mama mana ia berani menerjang keluar? Sementara itu di atap kelenteng kembali terdengar suara keras dan atap itu lantas saja berlubang di susul dengan turunnya garam dari lubang tersebut.

Sampai d isitu Jie Thai Giam yang bernyali besar keder juga hatinya. “Celaka! Tak dinyana aku harus membuang jiwa di tempat ini” ia mengeluh. Ia ingat kejadian pada waktu si jubah sulam dan Tiang pek Sam khim kena garam beracun. Ketika kakek itu, sudah tak usah dikatakan lagi, tapi malahan si Jubah sulam yang berkepandaian tinggi masih tak tahan menghadapi garam itu.

Ia merasa dadanya menyesak dan hampir2 muntah karena bau amis itu dan ia yakin bahwa dalam tempo cepat ia tak akan bisa terlolos lagi dari racun yang menyambar dari depan dan turun dari atas seperti hujan gerimis. Dalam bingungnya ia menghantam punggung patung yang lantas saja berlubang besar, melihat begitu hatinya girang dan buru-buru masuk kedalam perut patung. Dengan adanya aling2 itu garam itu tak bisa mencelakakan dirinya lagi.

Karena bekerjanya racun garam agak lambat, maka meskipun Tek Seng berteriak kesakitan ia masih bergulingan. Sementara itu karena merasa jerih akan kepandaian Jie Thai Giam, orang-orang Hai See Pay belum berani menerjang masuk dan masih terus menimpuk dengan senjata rahasia mereka untuk menunggu sampai tak berdayanya kedua musuh itu.

Menurut kebiasaan senjata rahasia beracun yang dikenal dalam dunia Kang ouw, seperti jarum emas, pasir besi dan sebagainya, mencelakakan manusia sesudah senjata itu menancap ditubuh dan racunnya masuk kejalanan darah. Tapi bekerjanya racun Hai See Pay sedikit berbeda. Sesudah garam itu menempel di kulit, racunnya masuk ke dalam badan manusia dengan perlahan-lahan sampai si korban binasa.

Jie Thai Giam mengerti bahwa dengan bersembunyi di dalam perut patung, ia tak akan bisa menghentikan serangan Hai See Pay. Tapi karena tak ada jalan yang lebih baik ia harus menunggu sampai tumpukan garam itu mereda dan barulah coba menerjang keluar dari lubang asap.

Ia segera mengeluarkan pil pemunah racun yang lalu ditelannya dan kemudian memusatkan semangat seraya menjalankan pernapasannya. Beberapa saat kemudian dadanya yang menyesak jadi lega kembali.

Sementara itu, orang-orang Hai See Pay yang berada di luar kelenteng berdamai dengan suara perlahan.

“Tak ada suaranya lagi mungkin mereka sudah pingsan” kata yang satu.

“Tunggulah sebentar. Pemuda itu lihai sekali. Kita tidak boleh tergesa-gesa” kata yang lain.

“Sekali ini kita mendapat hasil besar dan Toako pasti akan memberi hadiah yang besar juga” kata orang ketiga.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras: “Hei! Lebih baik kamu menakluk supaya jangan membuang jiwa secara cuma cuma-cuma.” Bentakan itu disusul dengan teriakan komando dan beberapa belas orang lantas saja menerjang masuk. Mereka semua sudah memakai obat pemunah sehingga tak takuti lagi garam beracun.

“Dengan Heng See Pay aku tidak mempunyai ganjelan apapun juga, sedang kedatanganku di sini juga bukan untuk merebut To Liong To. Sekarang paling benar aku munculkan diri dan coba mendamaikan mereka.” Tapi di lain saat ia mendapat pikiran lain. “Tidak bisa, tidak bisa aku berbuat begitu.” pikirnya, “Bu Tong Pay adalah sebuah partai besar yang namanya menggetarkan rimba persilatan. Jika aku ke luar dan coba bicara baik-baik dengan mereka, artinya seperti juga aku menekuk lutut dan sikapku ini sangat memalukan guruku.”

Selagi ia bersangsi, di tempat yang jauh memdadak terdengar serupa seruan. Seruan itu halus bagaikan benang sutera tapi tajam dan menusuk kuping, sehingga orang yang mendengarnya berdebar-debar hatinya.

Di lain saat seruan itu sudah terdengar di depan kelenteng sehingga bukan main kagetnya Thai Giam karena kecepatan yang sungguh luar biasa. Pertama kali, seruan itu terdengar di tempat yang jaraknya beberapa li dan di lain detik sudah tiba di depan pintu.

Dalam dunia ini kecuali beberapa macam burung yang terbangnya luar biasa cepat, baik manusia maupun binatang tak akan mempunyai kecepatan yang begitu hebat. Lebih aneh di dengar dari suaranya seruan manusia.

Hampir berbareng dengan berhentinya seruan itu, Tek Seng mengeluarkan teriakan ketakutan. “Kau…kau juga maui To Liong To…Peh bie” Peh bie berarti Alis Putih.

Mendadak di luar kelenteng terjadi perubahan luar biasa. Puluhan orang Hai See Pay tiba-tiba bungkam mulutnya. Keadaan sunyi senyap seolah-olah puluhan manusia itu berubah menjadi batu. Mereka seperti juga melihat sesuatu yang sangat menakuti sehingga bahwa takutnya tak dapat mereka mengeluarkan suara lagi.

Beberapa saat kemudian kesunyian itu dipecahkan dengan suara “bruk!” dan salah seorang roboh terguling. Robohnya orang itu disusuri dengan teriakan yang gemetar:” Peh bie!…Lari…Ayo lari….!” Teriakan itu putus di tengah jalan. Mungkin sekali orang yang berteriak tak bisa meneruskan teriakannya dan kawan-kawannya tak kuat lari lagi, sebab sesuatu yang ditakuti sudah masuk ke dalam klenteng.

Jie Thai Giam heran tak kepalang. “Apa itu Peh bie?” tanyanya di dalam hati. “Apa binatang buas atau manusia yang lihai luar biasa, sehingga semua orang ketakutan begitu rupa?”

Sekonyong-konyong terdengar suara seorang: “Kaucu (Pemimpin) agama tanya kamu, di mana adanya To Liong To. Lekas keluarkan. Kaucu akan mengampuni kamu semua. Suara itu manis dan lemah lembut, tapi mengandung keangkeran.”

“Dia…dia yang curi,” demikian terdengar jawaban seorang Hai See Pay. “Kami datang kemari justru untuk coba merebut pulang Kaucu…..Kaucu…..”

“Eh, mana golok mustika itu?” tanya suara yang manis itu. Thai Giam tahu, orang itu menanya Tek Seng, tapi kakek itu tidak menjawab. Di lain saat terdengar robohnya sesosok tubuh.

“Celaka! Tek Seng dibinasakan,” pikir Thai Giam. Ia yakin bahwa dengan seorang diri, ia bukan tandingan musuh. Tapi sesudah mencampuri urusan ini, ia merasa malu untuk bersembunyi terus. “Mundur dada waktu berbahaya, bukan perbuatan seorang lelaki,” katanya didalam hati. Baru saja ia mau melompat keluar, mendadak terdengar suara yang dingin: “Dia sudah mati karena ketakutan. Geledah badannya.”

Lain-lain Thai Giam terkesiap. “Mati sebab ketakutan?” tanya dalam hati. Sementara itu sudah terdengar suara dirobeknya pakaian dan dibolak-baliknya badan manusia.

“Melaporkan kepada Kaucu bahwa di badan orang ini tidak terdapat apapun juga,” kata orang yang suaranya lemah-lembut.

Perkataan orang itu disusul dengan suara pemimpin Hai See Pay yang berkata dengan suara gemetar: “Kaucu…terang dia yang mencuri. Kami tak berani berdusta…” Ia bicara dengan ketakutan sangat hebat, seperti juga nyalinya hancur, sehingga bulu roma Jie Thai Giam bangun semua.

“Benar-benar heran.” katanya di dalam hati. “Golok mustika itu memang dicekel Tek Seng. Ke mana perginya.”

“Kamu mengatakan bahwa golok inustika itu dicuri olehnya tapi mengapa tak kedapatan?” tanya pula orang yang suaranya manis. “Tak salah lagi kamulah yang menyembunyikannya. Begini saja! Siapa yang bicara terus terang, dialah yang diampuni jiwanya. Di antara kamu hanya seorang yang boleh hidup terus. Siapa yang bicara lebih du1u, dialah yang dapat pengampunan.”

Keadaan sunyi senyap dan beberapa saat kemudian, barulah si pemimpin Hai See Pay berkata: “Dengan sejujurnya kami melaporkan kepada Kaucu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang hilangnya golok mustika itu. Tapi kami berjanji akan berusaha untuk menyelidiki sampai seterang-terangnya”

Kauwcoe itu tidak menjawab ia hanya mengeluarkan suara dihidung.

Orang yang suaranya manja berkata lagi. “Siapa yang bicara terus terang, dialah yang boleh hidup terus.” Keadaan kembali sunyi senyap.

Tiba-tiba, kesunyian yang menakuti itu dipecahkan oleh teriakan seorang. “Dengan sebetul-betulnya kami sedang mencari golok mustika itu yang mendadak menghilang secara luar biasa. Jika kau tetap tidak percaya, dari pada mati konyol, lebih baik kami melawan mati-matian sampai dimana kepandaian Peh bie Kauw…” Suara itu berhenti di tengah jalan dan keadaan kembali sunyi senyap. Rupanya dia sudah binasa dengan begitu saja.

“Tadi seorang lelaki yang berusia kira-kira 30 tahun telah menolong kakek itu,” menerangkan Hai See Pay. “Dia memiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi. Entah kemana perginya sekarang. Golok mustika itu pasti dibawa lari olehnya,”

Kaucu itu kembali mengeluarkan suara di hidung dan kemudian berkata dengan suara dingin; “Ampuni jiwa orang ini…” Hampir berbareng terdengar kesiuran angin dan ia sudah keluar dari pintu kelenteng. Tiba-tiba terdengar pula suara, nyaring ditempat yang jauhnya belasan tombak.

Jie Thai Giam tak bisa menahan sabar lagi seraya melompat keluar dari perut patung ia berteriak “Aku berada di sini, jangan celakakan orang!”

Tapi keadaan lagi-lagi sunyi-senyap. Thai Giam mengawasi di sekitarnya dan ia lihat semua orang berdiri seperti patung. Ia heran bukan main dan buru-buru menyulut lilin di atas meja sembahyang.

Mendadak ia mengeluarkan seruan tertahan karena dua puluh lebih anggota Hai See Pay berdiri tegak tanpa bergerak seperti juga tertotok jalan darahnya. Sedang muka mereka mengunjuk rasa takut yang sangat hebat. Dengan nyalinya yang besar dan pengalamannya yang luas tak urung jantung Thai Giam memukul keras, “Bagaimanakah lihainya Kaucu Peh bie kauw it?” tanyanya di dalam hati.

“Orang-orang Hai See Pay bukan sembarang orang tapi mengapa bertemu dengan Kaucu mereka ketakutan sampai begini rupa ia mengangsurkan tangannya dengan niat menotok jalanan darah Hoa kay hiat dari salah seorang itu untuk membuka jalanan darahnya yang tertutup.

Tapi lagi-lagi ia kaget. Jarinya menotok jalanan darah yang sudah membekuk dan orang itu tetap tidak bergerak. Setelah memeriksa pernapasannya, baru dia tahu dia sudah binasa? Kecuali seorang, semua anggota Hai See Pay sudah binasa sebab totokan perjalanan darah yang membinasakan orang yang masih hidup itu yaitu orang yang bicara paling belakang.

Rasa heran dan kagetnya Thai Giam sukar dilukiskan benar ia tak mengerti bagaimana dalam sekejap mata, Kaucu itu bisa membinasakan dua puluh orang lebih yang berkepandaian tinggi. Sambil mengangkat tubuh orang itu, ia bertanya: “Agama apa Peh bie kauw? Siapa Kaucu itu?”

Orang itu tidak menjawab pertanyaannya yang diulangi beberapa kali dia hanya mengawasi dengan mata membelalak. Thai Giam memegang nadinya dan ternyata aliran darah orang itu sudah kalang kabut sebagai tanda bahwa beberapa uratnya telah diputuskan sehingga ia menjadi gagu dan terganggu otaknya.

Darah Jie Thai Giam lantas saja meluap. “Apa itu Peh-bie kauw? Mengapa dia begitu kejam?” tanyanya didalam hati dengan penuh kegusaran. Tapi ia tabu bahwa ia bukan tandingan orang itu.

Sesaat itu juga, ia sudah menghitung-hitung tindakan yang akan diambilnya. Ia ingin segera berangkat ke Bu Tong san untuk melaporkan kejadian itu dan menanyakan asal-usul Peh bie kauw kepada gurunya. Ia berniat mengajak semua saudara seperguruannya untuk menyatroni manusia yang dinamakan Peh Bie Kaucu. Ia menganggap bahwa walaupun Kauwcoe itu lihay luar biasa Bu Tong Cit hiap masih dapat menandinginya.

Melihat garam beracun yang tersebar di seputar kelenteng itu, ia menghela napas panjang. “Orang-orang Hai See Pay juga bukan manusia baik-baik, sehingga kebinasaannya yang begitu rupa mungkin ada pantasnya juga,” katanya. Di dalam kelenteng sangat tak pantas banyak orang mati. Ditambah dengan adanya garam beracun itu, dan orang bisa celaka, jika kebetulan datang ke sini.”

Memikir begitu, ia segera mangambil golok dan menggali satu lubang besar di dalam kebun sayur. Sesudah itu, dengan hati-hati ia mengangkat mayat-mayat itu yang lalu memasukkan ke dalam lubang.

Sesudah memindahkan belasan mayat, tiba-tiba ia terkejut, karena mayat itu berat luar biasa, sedangkan badannya hanya berukuran sedang. Ia segera memeriksa dan ternyata, dari pundak terus ke punggung mayat itu terdapat luka besar yang sangat panjang. Begitu ia meraba tangannya menyentuh benda yang keras dingin dan setelah ditarik keluar benda itu bukan lain daripada To Liong To yang diperebutkan!

Secara kasar ia segera menebak apa yang sudah terjadi. Rupanya, begitu melihat Peh-bie Kauwcu, Hay-tong ceng Tek Seng hancur nyalinya dan ia mati ketakutan. Pada waktu menghembuskan napasnya yang penghabisan golok itu terlepas dari cekalannva dan jatuh dipunggung orang itu. Karena berat dan tajam To Liong to amblas dibadan orang itu.

Maka itu tidaklah heran jika pada waktu menggeledah semua orang, kaki tangan Kaucu tidak bisa mendapatkan apapun juga.

Kalau dalam hati Jie Thai Giam tidak muncul rasa kasihan mungkin sekali golok mustika yang menggemparkan itu, akan hilang dari dunia persilatan.

“Golok ini adalah mustika dalam rimba persilatan,” kata Thai Giam dan dalam hatinya “Akan tetapi, menurut pendapatku, senjata ini bukan senjata yang mujur. Hay tong ceng Tek Sang dan-puluhan orang Hai See Pay binasa karena gara To liong To. Sekarang paling benar aku mempersembahkan senjata ini kepada suhu untuk meminta keputusan.”

Sesudah selesai menguburkan semua mayat itu, karena kuatir garam beracun mencelakakan orang, ia segera mencari cabang-cabang kering yang lalu disulut untuk membakar kelenteng tersebut.

Dibawah sinar api itu ia lalu meneliti golok mustika itu yang ternyata berwarna hitam bukan besi dan juga bukan emas. Entah dibuat dari logam apa. Dari gagang sampai badannya samar-samar terlihat garis-garis yang berwarna biru.

Dengan mata kepala sendiri, ia telah menyaksikan dibakarnya golok itu, tapi sungguh aneh, golok tersebut tidak rusak sedikitpun. “Bagaimana orang bisa menggunakan golok yang begini berat?” tanyanya didalam hati. “Dulu, Ceng liong Yan-goat to dari Kwan Ong-ya, yang mempunyai tenaga malaikat, hanya delapan puluh satu kati beratnya.” Kwan Ong-ya, Kwan Kong dari jaman Sam Kok.

Ia segera me masukkan golok itu kedalam buntalannya dan kemudian berkata dengan suara perlahan di depan kuburan Tek Seng. “..Tek Loo tiang, bukan mau serakahi golok ini. Tapi karena To liong To senjata luar biasa, maka jika jatuh ke tangan manusia jahat, bencananya bukan kecil. Aku ingin menyerahkannya kepada suhu, seorang adil yang berhati mulia, yang tentu akan bisa
membereskan persoalan golok ini sebaik-baiknya.”

Sesudah berkata begitu, ia lalu menggendong buntalannya dan meneruskan perjalanan kejurusan utara.

Sesudah berjalan kurang lebih setengah jam, tibalah ia di tepi sungai. Ketika itu ribuan bintang yang sinarnya sudah suram masih berkelip-kelip diatas sungai. Ia mengawasi k eberbagai jurusan tapi tak terlihat sebuah perahu pun. Ia lalu berjalan di sepanjang pinggir dan kira-kira semakanan nasi, ia lihat sinar lampu dari sebuan perahu penangkap ikan yang terpisah kira-kira belasan tombak dari tepi sungai.

“Toako penangkap ikan!” teriaknya. “Tolong seberangkan aku?”

Karena perahu ikan itu terpisah terlalu jauh si penangkap ikan rupanya tidak mendengar teriakannya.

Thai Giam segera mengempos semangat dan berteriak lagi. Terikan itu yang disertai dengan lweekang yang sudah dilatih kira2 dua puluh tahun nyaring dan sangat tajam. Beberapa saat kemudian dari aliran sebelah atas muncul sebuah perahu kecil yang menggunakan layar dan yang perlahan-lahan menempel di tepi sungai. “Apa tuan mau menyeberang” tanya si juru mudi.

“Benar, aku ingin minta pertolongan Toako untuk menyeberangkan aku,” jawabnya dengan girang.

“Sekali menyeberang ongkosnya satu tahil perak.” kata pula juru mudi itu.

Permintaan itu sebenarnya terlalu mahal tapi sebab ingin buru-buru, Thai Giam tak rewel lagi. “Baiklah,” katanya seraya melompat turun ke dalam perahu yang melesak kedalam air.

“Tuan, bawa apa kau? Mengapa begitu berat,” tanya juru mudi itu dengan perasaan heran.

Jie Thai Giam segara mengangsurkan sepotong perak dan menjawab sambil tertawa: “Tak apa-apa. Badanku berat. Ayohlah”‘

Si juru mudi kelihatannya bercuriga dan berulang kali melirik buntalan Thai Giam. Sesaat kemudian, dengan menuruti aliran air, perahu itu belayar dengan mengambil arah timur laut. Sesudah melalui satu li lebih tiba-tiba terdengar suara gemuruh.

“Juru mudi, apa mau turun hujan?” tanya Thai Giam.

“Bukan,” jawabnya seraya tertawa. “Suara itu suara air pasang sungai Cian tong kang. Dengan mengikuti aliran air pasang, dalam sekejap kita bisa sampai di lain tepi.”

Thai Giam mengawasi kearah suara itu. Jauh-juh ia lihat sehelai garis putih yang mendatangi dengan bergulung-gulung. Suara itu kian lama kian menghebat dan gelombang juga jadi makin besar. “Baru sekarang kutahu, bahwa di antara langit dan bumi terdapat pemandangan yang seangker ini,” katanya di dalam hati. “Tidak cuma-cuma aku membuat perjalanan ini.” Di lain saat, ombak sungai sudah tiba dan mendorong perahu dengan kekuatan luar biasa.

Selagi memandang dengan penuh perhatian sekonyong-konyong Thai Giam mengeluarkan seruan tertahan karena di puncak ombak terlihat sebuah perahu yang menerjang ke depan menurut gerakan ombak itu. Apa yang luar biasa ialah pada layar putih dari perahu itu terdapat lukisan yang merupakan sebuah tangan berwarna merah dengan lima jari yang terpentang lebar. Karena memiliki mata yang sangat tajam, biarpun di dalam kegelapan, dalam jarak puluhan tombak ia sudah bisa lihat tangan berdarah itu.

Si juru mudi sendiri baru bisa melihatnya sesudah perahu itu datang terlebih dekat. Mendadak ia mengeluarkan teriakkan ketakutan:” Hiat chioe hoan.” (Hiat chioe hoan, perahu layar tangan berdarah).

“Apa itu Hiat chioe hoan?” tanya Thai Giam.

Sebaliknya dari menjawab ia menerjun ke dalam air! Thai Giam terperanjat dengan gelombang yang sebear itu biarpun pandai berenang, orang tak akan bisa bertahan lama di dalam air. Buru-buru ia mengambil sebatang gala yang lalu disodor ke air. Tapi juru mudi itu menggoyangkan tangan dengan paras muka ketakutan dan di lain saat ia masuk k edalam gelombang untuk tidak keluar lagi.

Tanpa juru mudi, begitu terpukul ombak, perahu itu lantas saja terputar. Cepat-cepat Thai Giam pergi kebelakang perahu untuk memegang kemudi pada saat itulah mendadak terdengar suara “dak” dan perahu Hiat chioe hoan membentur perahunya Thai Giam. Karena kepala Hiat chioe hoan dilapis besi, begitu terbentur, perahu Thai Giam lantas saja bocor dan air menerobos masuk.

Bukan main gusarnya Thai Giam. “Perahu siapa yang begitu kurang ajar?” bentaknya dengan suara keras. Melihat perahunya sudah hampir tenggelam, dengan sekali menotol ujung kaki, ia melompat keatas kepala perahu Hiat chioe hoan. Pada yang bersamaan satu ombak besar menerjang, sehingga Hiat chioe hoan “terbang” ke atas, setombak lebih tingginya. Kejadian itu terjadi pada sesaat badan Thai Giam berada di tengah udara sehingga perhitungannya meleset semua dan ia melayang jatuh ke dalam air.

Pada detik yang sangat genting sambil mengempos semangatnya ia menggoyang kedua pandaknya dan dengan menggunakan gerakan Tee in ciang, tiba-tiba tubuhnya meleset ke atas lagi setombak lebih dan kedua kakinya hinggap di atas kepala perahu Hiat-chioe-hoan.

“Ada orang tercebur di air! Lekas tolong!” teriak Thai Giam. Ia mengulangi teriakannya beberapa kali. Tapi tidak mendapat jawaban.

Dengan mendongkol ia menolak pintu gubuk perahu tapi pintu itu yang terbuat dari besi, tidak bergeming. Seraya menggerakkan lwekang di kedua lengannya ia mendorong sambil membentak keras. Pintu belum terbuka tapi sudah berlobang karena menghubungkan gubuk dan pintu telah putus dan jatuh dengan mengeluarkan suara berkerincingan.

Tiba-tiba di dalam gubuk terdengar suara orang “Tee in ciong dan Tin san ciang (Pukulan menggetarkan gunung) yang tersohor dari Bu Tong Pay sungguh bukan pujian kosong. Jie Sam hiap serahkan To Liong To yang berada dalam buntalanmu dan kami akan mengantarkan kau menyeberang sungai. Suara yang lemah-lembut itu bukan lain dari pada suara kaki tangan Peh bie Kaucu yang pernah didengarnya di kelenteng Hay sin bio. Sekarang baru ia tahu bahwa perahu Hiat cioe hosn adalah milik Peh bie Kaucu sehingga tidak heran si juru mudi jadi ketakutan setengah mati.

Tapi ia tak mengerti bagimana orang itu tahu namanya dan beradanya To Liong To di dalam tangannya.

Sebelum ia bertanya, orang itu sudah berkata lagi:” Jie Sam Hiap mungkin kau merasa heran mengapa kami tahu she dan namamu bukankah begitu tapi sebenarnya kau tak usah heran kecuali ahli silat Bu Tong Pay dalam dunia ini siapa lagi yang memiliki lompatan Tee in ciong dan pukulan Tin san ciang? Tiga hari sebelum Jie Sam hiap menginjak wilayah Ciat kang kami sudah mendapat warta. Hanya sayang kami tidak keburu menyambut dari tempat jauh.

Thai Giam tak tahu bagaimana harus menjawab perkataan orang itu tapi mengingat si juru mudi yang tercebur di dalam air, ia lantas saja berkata. “Hal lain dapat ditunda paling dulu kita harus menolong jiwanya juri mudi itu.”

Orang itu tertawa terbahak-bahak. “Jie Sam hiap hatimu terlalu mulia.” katanya. “Juragan perahu itu mempunyai satu gelar yang sangat bagus yaitu Sauw cay Seei kwie (setan air yang menagih hutang). Di sungai Ciang tong-kang ini, entah berapa banyak jiwa melayang di dalam tangannya. Jie Sam hiap adalah seorang yang berhati sangat mulia. Tapi setan air itu sebenarnya sudah mengincar buntalanmu dan ingin menagih hutang dari penitisan yang lain. Ha ha!”

Thai Giam sendiri sebelumnya sudah menaruh curiga, karena lihat gelahat juru mudi itu yang seperti lagak bangsat. Sekarang ia mendapat kenyataan, bahwa kecurigaannya sangat beralasan. “Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama tuan yang besar dan apa boleh aku bertemu muka denganmu?” tanya Thai Giam.

“Antara Peh bie kauw dan partai tuan sama sekali tidak mendapat tali persahahatan atau permusuhan,” jawabnya. “Maka itu menurut pendapatku, lebih baik kita tak usah bertemu muka. Jie Sam hiap taruh saja To liong to dikepala perahu dan kami akan menyeberangkan kau ke tepi”

Mendengar perkataan itu, darah Thai Giam lantas saja naik. “Apakah To Liong To milik Peh bie kauw?” tanyanya dengan suara kaku.

“Bukan,” jawabnya. “Tapi golok itu adalah senjata termulia dalam rimba persilatan, maka dapatlah dimengerti, jika setiap ahli silat sangat ingin memilikinya.”

“Kalau begitu, dengan sangat menyesal aku tak bisa meluluskan permintaanmu,” kata Thai Giam. “Golok ini sudah jatuh kedalam tanganku dan aku merasa berkewajiban uniuk menyerahkan kepada guruku supaya ia bisa memberi keputusan. Aku masih berusia muda dan tak dapat mengambil keputusan apa-apa.”

Orang itu kembali bicara, tapi suaranya sehalus bunyi nyamuk, sehingga Thai Giam tak dapat menangkapnya. “Apa kau kata?” tanyanya sambil maju beberapa tindak.

Sesaat itu, gelombang besar kembali menghantam, sehingga perahu layar itu “terbang” ke atas dan terombang ambing di tengah-tengah ombak. Mendadak Jie Thai Giam merasa sakit gatal di dada dan pahanya, seperti digigit nyamuk. Waktu itu adalah permulaan musim semi dan biasanya tidak ada nyamuk.

Tapi ia tidak menghiraukan dan lalu menepuk beberapa kali di tempat yang gatal. “Untuk merebut sebilah golok, Peh bie kauw telah membinasakan tidak sedikit manusia,” katanya dengan suara nyaring. “Di kelenteng Hay sin bio saja, beberapa puluh orang telah melayang jiwanya. Menurut pendapatku, tanganmu agak terlalu kejam.”

“Kau salah. Dalam menurunkan tangan, Peh bie kauw selalu membuat perbedaan. Terhadap orang jahat, kami turunkan tangan yang berat, sedang terhadap orang baik, kami turunkan tangan enteng. Jie Sam hiap, namamu yang mulia telah menggetarkan dunia Kangouw dan kami tentu tidak akan mengambil jiwamu. Jika kau menyerahkan To Liong To, kami akan segera memberikan obat pemunah jarum Boen sie ciam kepadamu.” Boen sie ciam berarti jarum kumis nyamuk.

Mendengar kata-kata “Boen sie ciam,” Thai Giam terperanjat. Buru-buru ia meraba dada, di bagian yang bekas digigit nyamuk. Ia merasa gata1-gatal. Tiada bedanya seperti akibat gigitan nyamuk. Tapi sesudah memikir sejenak, ia mengert, bahwa rasa gatal itu tak mungkin akibat gigitan nyamuk karena pada waktu itu adalah musim semi. Lagian jika diingat bahwa ia sedang berada di atas sungai.

Dari mana datangnya nyamuk? Mendadak ia mendusin. “Aha! Kalau begitu, ia sengaja bicara perlahan untuk memancing supaya aku datang terlebih dekat agar ia bisa menimpuk dengan senjata rahasianya yang sangat halus,” katanya di dalam hati. Mengingat ketakutan Tek Seng dan orang-orang Hay See Pay dan si juragan perahu, maka boleh dipastikan, racun itu hebat luar biasa. Maka itu, jalan yang terbaik adalah menangkap dan memaksanya untuk mengeluarkan obat pemunah. Memikir begitu, sambil membentak keras, ia melompat ke dalam gubuk perahu itu.

Sebelum kedua kakinya hinggap di papan perahu, angin yang sangat tajam menyambar mukanya dan dalam gusarnya, iapun segera menghantam dengan sekuat tenaga. Begitu kedua tangan kebentrok, kedua orang itu terpental ke belakang dengan berbarengan.

Jie Thai Giam sendiri terdorong keluar. Ia tak sampai roboh terguling hanya telapak tangannya dirasakan sakit sekali ia mengerti bahwa musuh telah menyembunyikan senjata dalam tangannya sebab pada waktu kedua telapak tangan beradu ia merasa tujuh batang jarum atau paku, menancap di telapak tangan nya. Dalam segebrakan itu ia sudah tahu bahwa tenaga lawan kira-kira setanding dengan tenaganya sendiri.

“Racun Ciang sim Cit sang tengku hebat luar biasa” demikian terdengar suara orang itu “lwekang Jia Sam hiap sungguh lihai dan aku merasa takluk. Ciang sim Cit seng teng (Paku tujuh bintang) yang ditaruh di telapak tangan.

Jie Thai Giam yang sabar sekarang menjadi kalap lalu meraba buntalannya dan lalu mencabut To Liong To. Sambil mencekal gagang golok dengan kedua lengan ia membacok. “Trang!” pintu besi itu terbelah dua melihat tajamnya golok itu. Semangatnya terbangun dan ia lalu membacok kalang-kabut sehinga gubuk itu yang terbuat dari besi lantas menjadi hancur dan lembaran-lembaran besi jatuh ke dalam air.

Orang yang berada di dalam gubuk tak dapat menyembunyikan dirinya lagi. Ia lalu melompat ke belakang perahu seraya menbentak “Kau sudah kena dua macam racun, mau apa kau banyak lagak.” Jie Thai Giam yang sudah mata gelap tidak menghiraukannya dan terus menerjang sampai memutar golok.

Melihat serangan kalap itu buru-buru orang itu menangkis dengan sebuah jangkar. “Trang” jangkar itu juga terbelah dua dengan hati mencelos ia melompat kesamping dan berteriak.

“Hei? Kau lebih sayang jiwa atau lebih sayang golok?”

Thai Giam berhenti menyerang. “Baiklah” katanya. “Serahkan obat pemunah aku akan menyerahkan golok ini kepadamu.” Sesaat itu merasa pahanya semakin gatal dan sakit sebagai tanda bahwa racun sudah mulai bekerja. Mengingat bahwa To Liong To telah didapatinya secara kebetulan dan sebab ia memang tak ingin memiliki harta benda orang lain maka hilangnya golok itu juga tidak dirasakan berat olehnya. Di lain saat, ia sudah melemparkan To Liong to di atas papan perahu.

Orang itu kegirangan dan buru-buru menjemput nya, akan kemudian mengusap-usap badan golok itu dengan sikap yang sangat menyayang. Ia berdiri dengan membelakangi rembulan sehingga Thai Giam tak dapat lihat nyata mukanya. Tapi dalam perhatiannya kepada golok itu, ia rupanya lupa akan janjinya untumemberikan obat pemunah.

Lewat beberapa saat, rasa sakit dan gatal di dada dan paha Thai Giam makin menghebat. “Eh, mana obat?” tanyanya.

Orang itu tertawa berkakakan seperti juga mendengar cerita lucu.

Tentu saja Thai Giam jadi gusar sekali.” Hei! Aku minta obat yang dijanjikan olehmu,” bentaknya. “Apa yang lucu?”

Orang itu menuding muka Thai Giam dan berkata seraya tertawa: “Hi hi hi! Kau sungguh tolol! Sebelum aku mengeluarkan obat, kau sudah lebih menyerahkan golok?”

“Perkataan seorang laki-laki seperti juga larinya seekor kuda,” kata Thai Giam dengan amarah meluap-luap. “Kita sudah berjanji untuk menukar golok dengan obat, apa kau lupa?”

Orang itu tertawa lagi. “Dengan golok dalam tanganmu, aku masih jerih juga,” katanya dengan suara mengejek. “Andaikata kau tidak bisa menangkan aku, kau masih dapat melemparkan golok itu ke dalam sungai dan belum tentu aku bisa mencarinya. Tapi sekarang, sesudah golok ini berada dalam tanganku, apa kau masih mengharapkan obat pemunahan ?”

Perkataan itu seolah-olah air dingin yang mengguyur kepala Thai Giam. Mimpipun ia tidak pernah mimpi bahwa orang itu bisa berlaku begitu licik. Ia ingat bahwa Bu Tong Pay tak mempunyai permusuhan apapun jugs dengan Peh bie-kauw, sedang orang itupun memiliki kepandaian tinggi, sehingga kedudukannya pasti bukan kedudukan rendah. Tapi mengapa ia menjilat lagi ludah yang sudah dibuang?

“Jie Sam hiap,” orang itu berkata pula. “Ada satu hal yang harus diterangkan kepadamu. Racun dari Boen sie ciam masih tidak begitu hebat tapi racun Cit-seng benar-benar luar biasa. Dalam tempo dalam duapuluh empat jam semua dagingmu akan copot dan jatuh di tanah. Dalam dunia kecuali obat pemunah dari Peh bie kauw, jangankan manusia, sedang dewapun tak akan bisa menolongnya. Di samping itu andaikata sekarang aku memberikan obat pemunah, obat itu hanya bisa menolong selembar jiwamu, tapi ilmu silat Jie Sam-hiap yang tersohor dalam dunia Kangouw tak akan bisa pulih kembali untuk selama-lamanya. Perkataan itu dikeluarkan dengan suara manis dan lemah lembut, seolah-olah manusia itu sedang bicara dengan sahabat karibnya.

“Hidup atau mati adalah takdir,” kata Thai Giam sambil menahan amarah. “Selama hidup Jie Thai Giam belum pernah melakukan apa-apa yang tidak baik, sehingga ia boleh tak usah merasa malu terhadap langit dan bumi. Andaikata sekarang aku binasa dalam tangan seorang rendah, sedikitpun aku tidak merasa jerih.”

Orang itu mengacungkan jempolnya. “Bagus!” ia memuji. “Nama besarnya Bu Tong Cit hiap benar-benar bukan nama kosong. Orang gagah yang kena Cit-seng-teng dan Boe sie-ciam tak bisa dihitung berapa banyaknya. Kalau bukan, meminta ampun, mereka yaitu orang-orang yang mempunyai tulang punggung tentu mencaci aku. Tapi orang yang seperti Jie Sam-hiap, yang tidak menghiraukan masih akan hidup, aku sungguh jarang menemui.”

Thai Giam mengeluarkan suara dihidung “Tapi apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?” tanyanya.

“Aku hanyalah seorang kecil dalam Peh-bie-kauw dan jika Bu Tong-pay ingin membalas sakit hati adalah Kaucu yang akan melayaninya.” jawabnya. “Malam ini, Jie Sam hiap akan mati dengan diam-diam.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: