Kumpulan Cerita Silat

18/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:39 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 04: Rumah Judi Pancing Perak
Bab 03. Arak Paksaan
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Edisaputra)

Membuka rumah judi dengan sendirinya bukan pekerjaan yang halal, orang yang berkecimpung di lapangan ini, hidupnya tentu juga tidak normal, sampai makan dan tidur juga sama sekali berbeda daripada orang lain.

Sekarang adalah waktunya mereka makan, sebab itulah di ruangan depan tadi cuma dijaga oleh si Kerbau Gede dan si Buta. Dan kini kedua orang itu sudah terkulai.

Siau-hong menggosok-gosok kedua tangannya, ia memejamkan mata. dengan sebuah jarinya ia terus meraba ke atas dinding melalui celah-celah pintu. Sesudah meraba naik turun beberapa kali, tiba-tiba jarinya menekan sambil membentak dengan suara tertahan. “Buka!”

Sungguh ajaib, pintu rahasia ini lantas terbuka dengan sendirinya, setelah menuruni undak-undakan batu, di bawah adalah sebuah lorong.

Dalam lorong ada lampu, di bawah lampu ada sebuah pintu lagi. Dua lelaki kekar berjaga di situ dengan golok terhunus.

Mata kedua lelaki ini tampak kaku serupa patung. Sudah jelas Siau-hong berdiri di depan mereka, tapi mereka seperti tidak tahu sama sekali. Siau-hong coba berdehem perlahan, dan kedua orang juga seperti tidak mendengar.

“Krek’, pintu rahasia di alas undak-undakan tadi mendadak merapat kembali.

Siau-hong coba melangkah ke depan, kedua lelaki itu tidak bergerak tidak bersuara, juga tidak merintanginya.

Siau-hong lantas mendorong pintu sekalian, dan pintu lantas terbuka.

Di dalam cahaya lampu terang benderang, di situ berduduk tiga orang, dua di antaranya ternyata sudah dikenal Siau-hong.

Seorang perempuan cantik molek dengan tangan bertopang dagu dan berduduk di samping piala kristal yang penuh berisi arak berwarna merah dan sedang memandangi Liok Siau-hong dengan dingin, tegurnya, “Kenapa baru sekarang kau datang?”

Siau-hong jadi teringat kepada ucapan Pui Giok-hui, “Perempuan ini serupa gunung es, jika berani kau sentuh dia, tanganmu bisa timbul bisul.”

Perempuan molek ini memang betul si Gunung Es alias Ling Yak-siang. Dia duduk di depan Pui Giok-hui.

“Awas, gunung es sangat licin, engkau bisa terpeleset!” demikian Pui Giok-hui pernah pula memperingatkan Liok Siau-hong.

Sekarang Pui Giok-hui lagi tersenyum dan angkat gelas kepada Liok Siau-hong.

Siau-hong juga tertawa, tertawa keras.

“Eh, konon pada waktu kau marah juga bisa tertawa?!” kata Pui Giok-hui

Namun Siau-hong masih terus tertawa.

Tertawa Pui Giok-hui sendiri telah berubah menjadi menyengir, katanya, “Kutahu kau marah padaku, tapi kan sudah kuperingatkan dirimu sebelumnya?!”

“Ya, kuingat memang seorang sahabatku pernah menasehati diriku agar jangan coba mendaki gunung es. Sahabatku itu bernama Pui Giok-hui!” demikian ucap Siau-hong dengan tertawa.

“Kuyakin kau pasti ingat!'” ujar Giok-hui dengan wajah cerah.

“Kau tahu? Memangnya kau ini Pui Giok-hui yang kumaksudkan itu?”

Giok-hui menghela napas, ucapnya dengan tersenyum. “Sebenarnya aku ingin menyamar sebagai orang lain, tapi kukhawatir samaranku tidak mirip.”

“Paling tidak kan bisa menyamar sebagai Liok Siau-hong.”

Berubah juga air muka Pui Giok-hui. Sekarang menyengir saja tidak dapat lagi.

Siau-hong lantas berpaling ke sana. Katanya pula dengan tersenyum. “Dan kau ini? Apakah kau Ling Yak-siang yang itu?”

“Dia tidak she Ling!” mendadak Pui Giok-hui menyela.

“Oo, kau tahu siapa dia?” tanya Siau-hong.

“Tidak ada yang mengenal dia lebih jelas daripadaku.” ujar Giok-hui.

“Sebab apa?”

“Sebab pada waktu dia dilahirkan, aku menunggu di sampingnya”

“Ah. kutahu sekarang. Dia inilah adik perempuanmu” seru Siau-hong

“Ya. dia inilah Pui Giok-hiang!” Maka Siau-hong bergelak tertawa pula.

Orang ketiga yang berduduk di antara kedua kakak, beradik ini adalah seorang setengah baya yang berdandan. Tapi dengan sikap yang halus, mukanya pulih bersih, bibir merah dan gigi putih rajin, pada waktu mudanya tentu orang akan bilang dia mirip anak perempuan. Sekarang meski usianya sudah lanjut, Siau-hong melihat orang ini masih mirip anak perempuan. Dan orang ini juga sedang tersenyum.

Selelah memandangnya sekejap lagi, Siau-hong berkata, “Jika dia ini Pui Giok-hiang, seharusnya kau ini Lam-hou-cu (si Janggut Biru)!”

“Memang betul.” sahut orang itu dengan tersenyum.

‘Tapi engkau tidak berjanggut, hitam, merah, putih, apalagi biru, tidak ada sama sekali!” kata Siau-hong.

“Kau sendiri punya Hong (phoenix)?” si Janggut Biru balas bertanya

“Tidak” jawab Siau-hong.

“Jika Liok Siau-hong tidak punya Hong, dengan sendirinya si Jenggot Biru juga boleh tidak punya jenggot!”

Sampai sekian lama Siau-hong memandangnya, ucapnya kemudian dengan menyengir, “Meski betul juga ucapanmu, tapi aku tetap tidak mengerti, orang semacam dirimu ini mengapa disebut si Jenggot Biru ?”

“Membuka rumah judi bukanlah pekerjaan yang mudah,” tutur si Jenggot Biru. “Jika tidak kau makan orang lain, orang lain yang akan mencaplok dirimu. Orang semacam diriku ini mestinya tidak mencari makan pada bidang ini.”

“Oo, lantaran orang lain melihat bentukmu lemah lembut begini, tentu mereka menyangka dirimu seorang yang mudah direcoki, maka mereka sama ingin makan dirimu?”

“Ya,” si Jenggot Biru manggut-rnanggut “makanya terpaksa aku harus mencari upaya khusus.”
“Upaya apa?” tanya Siau-hong.

Si Jenggot Biru tidak langsung menjawabnya, tapi berpaling dan menutupi mukanya dengan lengan bajunya yang lebar.

Waktu dia berpaling kembali ke sini, wajahnya ternyata sudah berubah sama sekali, berubah menjadi jelek, alis tebal, mata besar, gigi bertaring, muka hitam, bahkan penuh dengan cambang, jenggot lebat hitam kebiru-biruan.

Siau-hong melengak, mendadak ia bergelak tertawa, “Aha, akhirnya pahamlah aku. Si Jenggot Biru ternyata memang hebat dan tidak membuat kecewa padaku.”

Si Jenggot Biru juga tertawa, katanya, “Liok Siau-hong tetap Liok Siau-hong, kau pun tidak membuatku kecewa.”

“Oo?” Siau-hong ingin tahu alasannya.

“Sudah kita perhitungkan sebelumnya bahwa cepat atau lambat kau pasti akan mencari ke sini.”
Siau-hong menghela napas, “Aku sendiri justru tidak membayangkan akan dapat mencari sampai di sini.”

“Tapi kau toh datang juga?!”

“Ini adalah karena nasibku lagi mujur, kebetulan dapat kutemukan seorang anak yang pintar menirukan gonggong anjing.”

“Anak yang dapat menirukan suara gonggong anjing kan sangat banyak?” ujar si Jenggot Biru.

“Tapi ada sementara orang yang selain mahir menirukan anjing menyalak, hanya dengan mulutnya dapat mengeluarkan berbagai macam suara.”

Si Jenggot Biru tertawa, katanya. “Ya. setahuku ada seorang dapat menirukan suara mengalirnya air, suara kereta melintasi jembatan, juga suara ramai seperti di pasar. Semuanya dapat ditirukannya dengan sangat persis”

‘Wah. tampaknya anak ini tidak cuma mahir menirukan segala macam suara, tapi juga mahir ilmu bicara dengan suara dari perut!”

“Hah, tak tersangka engkau juga seorang ahli!” kata si Jenggot Biru dengan tertawa.

‘Dalam seratus hal. sedikitnya ada 80 hal kukuasai dengan baik, orang semacam diriku ini seharusnya bisa kaya. cuma sayang, aku mempunyai semacam penyakit”

“Oo.” heran juga si Jenggot Biru. “Penyakit apa?”

“Aku suka kepada orang perempuan.” jawab Liok Siau-hong. “Lebih-lebih suka kepada perempuan yang seharusnya tidak perlu disukai.”

Ia menghela napas menyesal, lalu menyambung pula. “Makanya. meski aku ini orang pintar lagi cekatan, tapi justru senang tertipu.”

Si Jenggot Biru tertawa, katanya, “Lelaki yang tidak pernah tertipu oleh perempuan pada hakikatnya tidak terhitung sebagai lelaki yang tulen.”

“Justru lantaran aku ini lelaki yang tulen, lelaki asli, makanya aku sok gagah dan mau menjadi pengawal binimu, menemaninya duduk di dalam kereta dan berputar di dalam kota. Bahkan serupa orang tolol, menurut saja ketika mata ditutup olehnya.”

“Tatkala mana tidak kau pikirkan bahwa dia akan membawamu ke sini lagi, bukan?”

“Ya. baru setelah aku bertemu dengan anak kecil itulah teringat olehku bahwa suasana pasar malam dan suara air mengalir, semuanya terletak pada mulut seorang.”

“Orang ini selain mahir bunyi-bunyian mulut juga pintar mengendarai kereta.” ujar si Jenggot Biru dengan tertawa.

“Dan suara rumah kosong itu tentu juga dibikin olehnya!”

“Bukan,” kata si Jenggot Biru.

Siau-hong jadi melengak, “Bukan. Memangnya rumah kosong bisa mengeluarkan suara sendiri?
“Rumah kosong itu berada di bawah kasino, asalkan dibuatkan sebuah lubang hawa. suara di atas lantas menembus ke bawah.”

“Ah, pantas sebegitu jauh tak dapat kupecahkan cara bagaimana dia keluar dari rumah itu,” ujar Siau-hong dengan tersenyum getir.

“Dan sekarang tentunya dapat kau pikirkan sebab apa berbuat demikian?”

“Tentunya kalian sengaja mengerjai diriku sehingga pusing tujuh keliling, agar aku sendiri bingung dan tidak jelas semalam sesungguhnya berada di mana, lalu kalian memalsukan diriku untuk melakukan operasi agar aku yang menanggung dosa perbuatan kalian.”

“Salah!” seru si Jenggot Biru tiba-tiba.

“Masakah salah?!” heran juga Siau-hong,

“Kami tidak bermaksud membikin engkau menanggung dosa perbuatan kami, tetapi kami cuma ingin engkau melakukan sesuatu bagi kami.”

Pui Giok-hui menyambung. “Asalkan urusan ini dapat dilaksanakan dengan baik, bukan saja kami akan mencuci bersih segala macam tuduhan padamu itu, bahkan apa yang kau inginkan pasti kami penuhi.”

“Jika kuminta kau jadi iparku, boleh tidak?” ejek Siau-hong.

“Boleh!” tukas si Jenggot Biru. Ia tersenyum lalu menyambung, “Sahabat laksana tangan dan kaki sendiri, isteri serupa pakaian dan pakaian kan dapat diganti setiap saat?”

“Kau sendiri pernah berganti berapa kali?” tanya Siau-hong.

“Cuma ganti satu kali, empat tukar satu.” jawab si Jenggot Biru.

Siau-hong tertawa, “Haha, tidak tersangka orang semacam dirimu bisa rugi berdagang.”

Di atas rak dinding belakang tertaruh beberapa gulung lukisan, si Jenggot Biru melolosnya satu gulung dan diberikan kepada Liok Siau-hong.

“Lukisan siapa ini?” tanya Siau-hong.

“Li Sin-tong si anak ajaib!” jawab si Jenggot Biru.

“Orang macam apa Li Sin-tong ini?”

“Iparku yang dahulu!”

Mestinya Siau-hong sudah menerima lukisan itu, segera ditolaknya kembali dan berkata. “Lukisan orang lain mungkin aku berminat, tapi lukisan tuan ini sungguh aku tak menghendakinya”

“Kan tidak ada alangannya coba kau buka dan melihatnya, betapa menakutkannya sebuah lukisan kan takkan membikin orang mati ketakutan?” ujar si Jenggot Biru dengan tertawa.

“Aku sih tidak takut mati kaget atau ketakutan, tapi khawatir mati keki.” kata Siau-hong.

Akhirnya gulungan lukisan itu ditentangnya juga, ternyata yang terlukis adalah empat orang perempuan.

Tiga di antaranya yang lebih muda dilukiskan sedang memetik bunga dan ada yang lagi menangkap kupu-kupu, seorang yang berusia lebih tua kelihatan anggun dan duduk prihatin di bawah rak bunga seakan-akan gedang mengawasi ketiga rekannya.

“Keempat perempuan ini semula adalah isteriku,” tutur si Jenggot Biru.

Siau-hong memandangi perempuan dalam lukisan itu, lalu memandang Pui Giok-hiang pula. kemudian bergumam. “Hah.tampaknya bisnis yang kau lakukan ini juga tidak rugi.” “Sebenarnya orangnya terlebih jelek daripada lukisannya,” tutur si jenggot.

“Iparku tidak gentar kepada siapa pun. Dia justru takut kepada tacinya ini. Maka pada waktu melukis tentu tidak berani melukisnya terlalu jelek, sebaliknya orang lain yang dilukisnya terlebih buruk. Jika cuma berdasarkan lukisan ini, biarpun berhadapan dengan mereka juga belum tentu kau sanggup mengenali mereka.”

“Untuk apa aku berhadapan dengan mereka?” Siau-hong mendelik.

“Sebab aku menghendaki kau cari mereka”

“Huh. memangnya hendak kau berikan perempuan lungsuranmu kepadaku?”

“Aku cuma minta kau tanyai mereka dan meminta kembali sesuatu barang.”

“Barang apa?” tanya Siau-hong.

“Lo-sat-pai,” kata si Jenggot Biru.

Kening Siau-hong terkerut, air mukanya juga rada berubah. Dia tidak pernah melihat Lo-sat-pai tapi pernah mendengar ceritanya.

Lo-sat-pai adalah sepotong batu kemala, batu kemala kuno yang berumur ribuan tahun. Konon sukar untuk dinilai harganya.

Batu kemala itu tidak terlalu besar, bagian depan terukir 108 malaikat, bagian belakang terukir isi kitab Hindu kuno yang konon meliputi lebih dari seribu huruf.

“Batu kemala ini sendiri sudah sukar dinilai harganya, yang penting ialah batu kemala ini merupakan pusaka Makau (agama Ma) dari benua barat. Anak murid Ma-kau yang tersebar di seluruh dunia bilamana melihat batu kemala ini dipandangnya seperti berhadapan dengan sang Kaucu sendiri.”

“Ya, kutahu,” ujar Siau-hong. “Yang aku tidak tahu cara bagaimana Lo-sat-pai itu bisa jatuh di tanganmu?”

“Ada orang kalah berjudi hingga ludes, lalu menggadaikan Lo-sat-pai itu kepadaku, digadaikan 50 laksa tahil perak, tapi dalam semalam jumlah 50 laksa tahil itu ludes pula di atas meja.” demikian tutur si Jenggot Biru.

“Wah, sungguh hebat kekalahan orang itu!” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Memang, selama 13 tahun ini. Orang yang kalah paling banyak di rumah judi Pancing Perak ini ialah dia'”‘ kata si jenggot.

“Waktu itu tidak kau ketahui siapa dia?”

“Aku cuma tahu dia she Giok. lengkapnya Giok Thian-po. tapi mimpi pun tak kusangka dia ini putra Giok Lo-sat dari barat!”

Giok Lo-sat dan benua barat itu orang macam apa? Lelaki atau perempuan? Cantik atau buruk?
Tiada seorang pun yang tahu, sebab tidak ada yang pernah melihat wajah aslinya.

Namun setiap orang percaya, tokoh Bu-lim akhir-akhir ini yang paling misterius dan paling menakutkan, tidak perlu diragukan lagi pastilah dia. Bukan saja asal-usulnya misterius, ilmu silatnya juga misterius, malahan mendirikan suatu aliran agama yang sangat misterius dan sangat menakutkan, yaitu agama Ma (Mani, orang Persia) dan benua barat.

“Waktu itu apakah dia datang sendirian?” tanya Siau-hong.

“Ya. bukan saja datang sendirian, bahkan seperti baru pertama kali ini berkunjung ke daerah Tionggoan.” tutur si Jenggot Biru.

Orang muda yang biasa hidup terpencil di daerah tandus, siapa yang tidak pingin belajar kenal dengan kehidupan mewah di negeri Tionggoan.

Siau-hong menghela napas, ucapnya. “Bisa jadi lantaran baru pertama kali dia berkunjung kemari, maka sekaligus lantas terjerumus”

“Setelah kutahu asal-usulnya, mestinya tidak berani kuterima Lo-sat-pai yang digadaikan padaku itu, tapi dia berkeras mendesak supaya kuterima.”

“Ya. tentunya dia terburu-buru ingin menggunakan 50 laksa tahil perak itu sebagai modal taruhan lagi.”

“Padahal bukan maksudnya ingin lekas menang, dia sanggup kalah,” kata si Jenggot Biru.

“Orang yang gemar berjudi, kebanyakan memang cuma hobi belaka, kalah menang tidak menjadi soal baginya. Akan tetapi, tanpa modal kan tidak dapat berjudi, maka banyak penjudi demi mendapatkan modal judi sampai bininya saja digadaikan atau dijual.”

“Jika bini digadaikan kan bisa juga tidak perlu ditebus kembali.” ujar si Jenggot Biru. “Tapi Lo-sat-pai ini mau tak mau harus ditebusnya. Sebab itulah, waktu kuterima barang gadai ini. hatiku kebat-kebit. Aku menjadi bingung sendiri dimana harus kusimpan barang yang tak ternilai harganya ini.”

“Lantas kau simpan dimana?” tanya Siau-hong.

“Semula kusimpan di dalam sebuah peti besi rahasia di kolong tempat tidurku.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang sudah hilang!” sahut si Jenggot Biru dengan menghela napas panjang.

“Kau tahu siapa yang mengambilnya?”

“Di luar peti besi itu ada tiga buah pintu besi dan hanya dua orang saja yang mampu membukanya.”

“Kecuali dirimu sendiri, siapa lagi orang yang lain?” tanya Siau-hong.

“Li He,” jawab si Jenggot Biru.

“Binimu yang lagi duduk membaca di bawah rak bunga ini?” tanya Siau-hong.

“Hm, belasan tahun dia menjadi biniku, rasanya belum pernah kulihat dia memegang sejilid buku apa pun,” jengek si Jenggot Biru.

“Dia menjadi binimu selama belaan tahun dan kau ceraikan dia dengan begitu saja?”

“Telah kuberikan mereka setiap orang lima laksa tahil perak.”

“Hanya lima laksa tahil perak dapat membeli belasan tahun keremajaan seorang perempuan, bisnis ini rasanya tidak merugikan,” jengek Siau-hong.

“Ya. kutahu mereka pasti juga kurang puas,” ujar si Jenggot Biru menyesal, “sebab itulah …”
“Sebab itulah Lo-sat-pat itu dicurinya untuk melampiaskan dendam,” tukas Siau-hong.

“Cuma perbuatannya terasa agak kejam,” kata si Jenggot Biru. “Jelas-jelas diketahuinya bilamana Lo-sat-pai itu tidak dapat kukembalikan, tentu anak murid Ma-kau takkan menyudahi urusan ini dan pasti akan menuntut padaku.”

“Cinta yang mendalam biasanya akan menimbulkan benci yang sangat, mungkin lantaran itulah dia menginginkan jiwamu.”

“Tapi aku tidak menghendaki jiwanya, aku cuma menginginkan kembalinya Lo-sat-pai.”

“Apakah kau tahu di mana dia berada?”

“Dia kabur keluar Kwan (pintu gerbang tembok besar), tampaknya seperti hendak menuju ke utara, tapi entah mengapa dia berhenti di sekitar Rahasu di hulu sungai Siong-hoa, seperti hendak melewatkan musim dingin di sana.”

“Sekarang sudah masuk bulan kesepuluh, apakah benar kau minta kupergi ke daerah utara sejauh itu. ke tempat yang bisa membikin hidung terlepas saking dinginnya?”

“Kan dapat kau siapkan sepotong kulit untuk menutupi hidungmu.” ujar si Jenggot Biru.

Maka Siau-hong tidak bicara lagi

“Jika mempunyai sesuatu pendapat, boleh katakan supaya kita rundingkan bersama.”

“Aku cuma ingin bicara satu kalimat,” kata Siau-hong setelah termenung sejenak.

“Cuma satu kalimat?” si jenggot menegas.

“Ya. kalimat yang singkat, hanya terdiri dari dua kata!”

“Hanya dua kata?”

“Selamat tinggal.” ucap Siau-hong. Habis itu dia lantas berbangkit dan melangkah pergi.

Si Jenggot Biru ternyata tidak merintanginya, ia malah berkata dengan tersenyum, “Rupanya benar-benar kau hendak pergi? Selamat jalan, aku tidak mengantar!”

Andaikan dia mau mengantar juga tidak keburu lagi, sebab Liok Siau-hong segera melayang keluar pintu serupa seekor kelinci yang melejit terkejut.

Kedua lelaki kekar di luar itu masih berdiri kaku di sana, masih didengarnya Pui Giok-hui lagi berkata di dalam rumah tadi, “Tersedia arak sebaik ini tidak diminum dan terus pergi begitu saja, sungguh sangat sayang.”

“Ada sementara orang yang pembawaannya bernilai rendah, disuguh arak tidak mau minum, dipaksa minum barulah dia mau minum,” jengek Pui Giok-hiang.

Terpaksa Siau-hong berlagak tidak mendengar sindiran mereka itu.

Selama beberapa bulan ini sudah terlalu banyak kesulitan yang ditimbulkannya, dia bertekad akan istirahat sebaik-baiknya dan tidak mau lagi ikut campur urusan orang lain.

Apalagi Auyang Cing masih berada di kotaraja sedang merawat lukanya di samping menunggui isteri Sebun Jui-soat yang hendak melahirkan.

Dia sudah berjanji kepada mereka, pada waktu salju mulai turun, dia pasti akan pulang ke kotaraja untuk menemani mereka makan gulai kambing.

Terbayang olehnya pandangan Auyang Cing yang sayu itu. Siau-hong memutuskan esok pagi-pagi akan berangkat pulang ke kotaraja.

Undakan batu itu tidak terlalu tinggi, hanya beberapa kali melangkah saja sudah bisa dicapainya. Meski pintu rahasia di atas itu sudah tertutup kembali, tapi dia yakin mampu membukanya.

Gin-kau tu-hong alias rumah judi Pancing Perak … Si cantik Gunung Es … Rumah kosong buatan pelat besi … Giok Lo-sat dan benua barat ….

Semua itu akan dianggap Siau-hong sebagai mimpi buruk saja dan takkan dipikir lagi.

Akan tetapi sayang, semua itu ternyata bukan impian. Baru saja dia mendorong pintu rahasia itu, segera didengarnya di luar ada orang berkata sambil tertawa, “Di sini serba ada. apakah engkau ingin berjudi, atau cuma ingin minum arak, semuanya masuk perhitunganku!”

“Perhitunganmu? Memangnya kau ini terhitung apa?” jengek lagi seorang.

Suara orang ini kaku lagi tajam. Takabur, seperti paling kuasa sendiri, asal buka mulut tentu memaki orang.

Siau-hong menghela napas, tidak perlu melihat lagi lantas diketahuinya siapa orang ini.

Akan tetapi rasa ingin tahu membualnya mengintip juga ke luar, maka dengan sebuah jari ia angkat sedikit lukisan yang menutupi piniu rahasia itu, maka tertampaklah seorang tua berjubah hijau yang tersulam seekor binatang aneh itu berdiri di depan pintu dan sedang memandang ke sana-sini dengan sorot mata yang tajam.

Yang bicara tadi berdiri di belakangnya, ternyata dia inilah Nyo-pothau yang sehari-hari suka berlagak garang itu.

Waktu mengintip lebih jauh. dilihatnya kedua kakek berjubah hijau yang lain juga datang semua, air mukanya sama dingin dan keren. sorot matanya juga sama terang menakutkan. Kedua pelipis mereka pun menonjol tinggi serupa dua gumpalan daging lebih. Bagi orang yang sedikit mempunyai pandangan tajam segera dapat diketahui bahwa Lwekang mereka sangat dalam dan sukar diukur.

Sungguh aneh sekali, Siau-hong tidak mengerti cara bagaimana ketiga makhluk tua ini bisa muncul di sini. Setelah menghela napas, perlahan Siau-hong merapatkan kembali pintu rahasia itu, lalu berjumpalitan ke bawah undakan batu lagi. Kedua orang yang berdiri kaku di depan pintu menyaksikan kembalinya Siau-hong.

Kini sorot mata mereka seolah-olah mengandung senyum. Tapi sekali ini Siau-hong seakan-akan tidak melihat mereka dengan langkah tegap ia lewat ke sana, lalu berseru, “Lekas kalian sediakan arak, arak suguhan tidak mau, tapi sengaja ingin minum arak paksaan!”

Dengan sendirinya arak enak sudah tersedia di situ, sekaligus Siau-hong menenggak 13 cawan, Pui Giok-hui dan adiknya, Pui Giok-hiang, serta si Jenggot Biru, mereka cuma menyaksikannya minum sesukanya.

“Memang sudah kami duga kau pasti akan kembali !” ucapan ini tidak dikeluarkan mereka, memangnya juga tidak perlu diucapkan.

Kembali Siau-hong menghabiskan tiga cawan lagi, lalu berhenti dan berkata, “Cukup tidak?”

“Apa arak paksa memang lebih sedap daripada arak suguhan?” tanya si Jenggot Biru dengan tertawa.

“Asalkan arak tanpa bayar pasti sedap'” ujar Siau-hong “Haha, jika begitu, akan kusuguh 16 cawan lagi padamu!” seru si Jenggot Biru.

“Jadi!” seru Siau-hong

Dia benar-benar menghabiskan lagi 16 cawan, habis itu baru berduduk di alas kursi, dengan terbelalak dipandangnya si Jenggot Biru, tiba-tiba ia bertanya, “Benar benar kau takut kepada Giok Lo-sat dari benua barat?”

“Benar,” jawab si Jenggot Biru.

“Tapi kau berani membunuh putranya. Giok Thian-po” tanya Siau-hong pula.

“Aku tidak punya keberanian sebesar itu.” jawab si Jenggot Biru, “Dia bukan mati di tanganku”

“Apakah betul bukan?” Siau-hong menegas.

Si Jenggot Biru menggeleng, “Betul-betul bukan. Tapi kutahu siapa pembunuhnya, asalkan dapat
kau temukan Lo-sat-pai bagiku, pasti dapat kutemukan si pembunuh itu bagimu untuk diserahkan kepada Swe-han-sam-yu!”

“Swe-han-sam-yu? Maksudmu tiga sekawan kakek yang tinggal di Thian-liong-tong di puncak pegunungan Kun-lun itu?”

“Sedikitnya sudah 20 tahun mereka mengasingkan diri di sana, tak tersangka kau pun tahu akan mereka”

Siau-hong menghela napas. “Aku pun tidak menyangka mereka belum lagi mati.”

“Mungkin lebih tak tersangka olehmu bahwa sekarang mereka telah menjadi Hou-hoat-tianglo (tetua pembela agama) Ma-kau yang diketuai Giok Lo-sat dan barat itu.”

“Wah. dia dapat menaklukkan ketiga makhluk tua aneh ini, tampaknya kepandaiannya memang tidak kecil” ujar Siau-hong.

“Untung aku pun ada akal yang dapat digunakan melayani dia.”

“Akal apa?” tanya Siau-hong

“Lebih dulu menemukan kembali Lo-sat-pai dan mengembalikan dan serahkan padanya, kemudian aku akan menyingkir sejauh-jauhnya dan takkan merecoki dia selamanya.”

“Tampaknya cara inilah satu-satunya jalan keluar.”

“Ya, sebab itulah mumpung hawa belum terlalu dingin, lekas kau berangkat ke Rahasu sana.”
“Kau yakin Li He pasti berada di sana?”

“Darimana kau tahu?”

“Dengan sendirinya ada caraku untuk mengetahuinya.”

“Setiba di sana, pasti juga dapat kutemukan dia?”

“Asalkan kau mau pergi ke sana, seumpama tidak dapat menemukan dia tentu juga ada orang yang siap membawamu untuk mencarinya.”

“Orang siapa?”

“Setibamu di sana, tentu ada orang akan mengadakan kontak denganmu.”

“Siapa?”

“Pergilah dan akan kau ketahui nanti.”

“Ketiga makhluk tua aneh itu menyumbat jalan keluar di atas, cara bagaimana dapat kukeluar?”
Si Jenggot Biru tertawa, “Liang kelinci ada tiga lubang, dengan sendirinya tempat ini juga tidak melulu sebuah jalan tembus saja.”

Ia membalik badan dan menarik pintu di balik dinding yang tertutup, segera tertampak pula sebuah pintu rahasia.

Siau-hong tidak bicara lagi, ia berbangkit terus pergi. “Kau pun tidak perlu khawatir akan dikejar mereka, sebab bila mereka mengetahui kau pergi untuk mencari Lo-sat-pai, tidak nanti dia mengganggu seujung rambutmu.”

Sebelum melangkah keluar pintu rahasia itu Siau-hong sempat menoleh dan berkata pula, “Ada sesuatu ingin kutanyakan padamu.”

Si Jenggot Biru mengangguk dan mendengarkan. “Giok Thian-po adalah putra Giok Lo-sat dari barat, tentunya dia bukan orang yang terlalu bodoh.” Kembali si Jenggot Biru mengangguk. “Lantas siapakah yang memenangkan ke-50 laksa tahil peraknya?”

“Aku,” tukas Pui Giok-hiang. Siau-hong tertawa.

‘Tapi sayang, didapatnya gampang, hilangnya juga mudah” tidak sampai dua hari. ke-50 tahil perak itu telah diludeskannya pula di atas meja.”

“Dia kalah kepada siapa?” tanya Siau-hong.

“Aku,” sambung si Jenggot Biru.

Liok Siau-hong terbahak-bahak, “Hahaha, ini namanya setali tiga uang, setan judi mendapat jodoh setan judi. kutu busuk juga mendapat kutu busuk.”

Sambil tertawa ia terus melangkah keluar, di luar masih ada sebuah pintu, ia coba mengetuknya, terdengar suara nyaring, “ting-ting”, memang betul terbuat dan pelat besi.

Setelah melalui sebuah lorong dan mendaki undakan batu, terlihatlah bintang bertaburan di langit. Cahaya bintang gemerlapan. jelas malam sudah sangat larut.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: