Kumpulan Cerita Silat

15/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:58 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Epilog – Tamat
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Tanggal 16 bulan sembilan. Malam hari. Bulan purnama mulai naik. Malam ini bulan tentu akan berbentuk lebih bundar daripada tanggal 15.

Sukong Ti-sing entah sudah berapa kali berjalan mondar-mandir di sepanjang pagar istana. Ia ingin menghitung berapa jumlah tiang pagar istana, tapi tidak berhasil juga, karena benaknya pun sibuk memikirkan Liok Siau-hong yang belum keluar juga dari istana. Mengapa kaisar menahannya? Menemani seekor harimau masih lebih aman daripada menemani kaisar. Bila berada di hadapan kaisar, orang tidak boleh sembarangan bicara, kalau tidak kepala pun bisa pindah dari sarangnya.

Tetapi bukan cuma Sukong Ti-sing yang merasa khawatir. Asalkan dia sahabat Liok Siau-hong, tentu akan merasa cemas. Dan sahabat Liok Siau-hong berjumlah banyak.

Gui Cu-hun sendiri pun amat gelisah. Sudah beberapa kali dia keluar masuk istana, tapi keadaan di dalam Lam-siu-hong tampaknya tenang-tenang saja. Tanpa titah Kaisar, tentu saja Gui Cu-hun tidak berani masuk ke dalam ruangan itu.

Setiap kali dia keluar dari istana, semua orang tentu mengharapkan munculnya berita darinya.

Saat keenam kalinya dia keluar dari dalam istana, beberapa orang sudah merasa begitu gelisahnya hingga hampir gila. Tapi sikap Gui Cu-hun malah berbeda dari sebelumnya, matanya tampak bersinar-sinar.

Melihat sorot matanya, Sukong Ti-sing segera menyambutnya dan bertanya, “Ada kabar?”

Gui Cu-hun mengangguk.

Sukong Ti-sing berkata, “Bocah busuk itu sudah keluar?”

Gui Cu-hun menggelengkan kepalanya.

Sukong Ti-sing bertanya lagi, “Kau melihatnya?”

Gui Cu-hun kembali menggelengkan kepalanya.

Sukong Ti-sing hampir berteriak karena kesalnya, “Lalu terhitung berita apa ini?”

Gui Cu-hun berujar, “Walaupun aku tidak melihatnya, namun aku mendengar suaranya.”

Sukong Ti-sing bertanya, “Suara apa?”

Gui Cu-hun menjawab, “Tentu saja suara tawanya.”

Ia pun tersenyum dan menambahkan, “Di samping suara tawa, kau kira suara apa lagi yang bisa dia keluarkan?”

Sukong Ti-sing membelalakkan matanya dan berkata, “Bukankah suara tawanya amat keras?”

Gui Cu-hun berkata, “Kau adalah sahabatnya, tentunya kau yang lebih jelas.”

Mata Sukong Ti-sing semakin melotot, dia berkata, “Di depan Kaisar pun dia berani tertawa seperti itu?”

Gui Cu-hun berujar, “Coba kau fikir, urusan apa di dunia ini yang tidak berani dia lakukan?”

Sukong Ti-sing menghela nafas dan berkata, “Tak ada.”

Gui Cu-hun pun berkata, “Aku juga merasa tidak ada.”

Sukong Ti-sing berkata lagi, “Tapi urusan apa di Lam-siu-hong sana yang bisa membuatnya begitu gembira?”

Gui Cu-hun merendahkan suaranya dan berkata, “Kudengar mereka sedang minum arak.”

Sukong Ti-sing bertanya, “Siapa mereka itu?”

Gui Cu-hun menekan suaranya rendah-rendah dan menyahut, “Mereka adalah Kaisar dan Liok Siau-hong.”

Sukong Ti-sing makin heran dan bertanya, “Dari mana kau tahu?”

Gui Cu-hun berkata, “Ketika aku berada di dalam, kebetulan lewat seorang Thaykam cilik yang hendak mengantarkan arak.”

Sukong Ti-sing segera bertanya lagi, “Lalu kau meminta dia untuk memata-matai keadaan di sana?”

Gui Cu-hun menghela nafas dan berkata, “Setelah aku berjanji untuk membelikan sebuah gedung di luar kota untuknya, barulah dia mau memenuhi permintaanku.”

Sukong Ti-sing kembali bertanya, “Apa yang dia dengar?”

Gui Cu-hun menjawab, “Dia mendengar sebuah kalimat.”

Sukong Ti-sing tertegun, “Sebuah kalimat dibayar dengan sebuah gedung? Kalimat itu benar-benar terlalu mahal.”

Gui Cu-hun berujar, “Sama sekali tidak mahal.”

Sukong Ti-sing semakin heran dan bertanya, “Tidak mahal?”

Gui Cu-hun berkata, “Mungkin kalimat itu sama nilainya dengan selaksa gedung mewah.”

Dia benar-benar bisa menahan dirinya. Sampai sekarang, dia tetap belum memberitahukan kalimat itu.

Sukong Ti-sing sudah mengucurkan keringat di sekujur tubuhnya karena merasa gelisah, tak tahan lagi dia pun bertanya, “Sebenarnya siapa yang mengucapkan kalimat itu? Apa yang dikatakannya?”

Gui Cu-hun akhirnya menjawab, “Kalimat itu merupakan janji Kaisar pada Liok Siau-hong tentang suatu urusan.”

Sukong Ti-sing bertanya, “Urusan apa?”

Gui Cu-hun menyahut, “Apa pun permintaan Liok Siau-hong, beliau akan mengabulkannya.”

Gui Cu-hun berkata pula, “Di dunia ini, urusan apa lagi yang tidak bisa diwujudkan jika Kaisar sudah mengabulkan?”

Sukong Ti-sing merasa lega, benar-benar lega.

Walaupun yang bicara sejak tadi hanya dia sendiri, tentu saja yang lain pun ikut mendengarkan. Maka semua orang pun sekarang merasa lega.

Di dunia ini, ucapan Kaisar mungkin sama mukjizatnya dengan seorang tukang sihir yang bisa mengubah besi menjadi emas, atau orang miskin menjadi kaya dan terhormat. Setelah terdiam sekian lama, akhirnya Sukong Ti-sing menghela nafas dan berkata, “Apa permintaannya?”

Gui Cu-hun berkata, “Tidak tahu, Thaykam cilik itu hanya mendengar kalimat tadi.”

Sukong Ti-sing berujar, “Walaupun dia tidak mendengarnya, aku bisa menduga apa yang diminta bocah itu.”

Gui Cu-hun berkata, “Oh!”

Sukong Ti-sing berkata, “Di dalam istana kerajaan tentu terdapat segala jenis arak yang enak.”

Gui Cu-hun bertanya, “Kau menduga bahwa yang dia inginkan adalah arak?”

Sukong Ti-sing berujar, “Ternyata ada juga orang yang tidak menghendaki nyawanya sendiri.”

Gui Cu-hun berkata, “Kalaupun ada biasanya amat jarang.”

Sukong Ti-sing berkata, “Arak adalah kehidupan bocah itu, apalagi yang dia inginkan selain arak?”

Tiba-tiba Lau-sit Hwesio berkata, “Yang dia inginkan pasti akar nyawa.”

Sukong Ti-sing bertanya, “Akar nyawa?”

Lau-sit Hwesio berujar, “Walaupun arak adalah kehidupannya, tapi yang benar-benar merupakan akar nyawanya adalah perempuan.”

Bok-tojin bertanya, “Kau benar-benar menduga bahwa yang dia minta dari Kaisar adalah seorang perempuan cantik?”

Lau-sit Hwesio berkata, “Mungkin bukan seorang perempuan, tapi 365 orang perempuan cantik agar dia bisa berganti pasangan setiap harinya.”

Bok-tojin berkata sambil tersenyum, “Itu adalah pendapat hwesio sendiri, hwesio memang sudah hampir sinting karena selalu memikirkan perempuan. Kita tidak bisa menilai Liok Siau-hong hanya berdasarkan pendapat seorang hwesio semacam kau.”

Lau-sit Hwesio pun berkata, “Bagaimana pendapat tosu tua?”

Bok-tojin berkata, “Walaupun bocah itu suka minum arak dan main perempuan, tapi dia bukan orang bodoh apalagi pikun. Dia tahu, dengan harta, tidak akan kekurangan arak dan perempuan. Apalagi dia sendiri sering kesulitan uang.”

Lau-sit Hwesio menghela nafas dan berkata, “Tak heran kalau orang berkata, makin tua orangnya maka semakin tamak pula dia terhadap harta. Orang tua memang selalu gila harta.”

Tiba-tiba Pok Ki pun mengajukan pendapatnya, “Seandainya aku menjadi dia, maka yang kuminta dari Kaisar adalah agar aku diangkat menjadi seorang panglima yang memimpin penyerangan ke barat. Pengaruhku akan menyebar ke segala penjuru, namaku akan dikenang selamanya.”

Gui Cu-hun segera menyetujui pendapat itu.

Nama, harta, wanita cantik, kekuasaan dan pengaruh, itu semua adalah hal yang selalu diimpikan setiap orang.

Kecuali itu, apalagi yang mungkin diminta oleh Liok Siau-hong?

Sukong Ti-sing pun berkata, “Sudah lama kutahu, bocah ini memang berhati hitam, benar-benar hitam.”

Lau-sit Hwesio berkata pula, “Tak perduli apa pun, yang dia inginkan pasti salah satu dari yang telah kita sebutkan tadi.”

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata, “Bukan.”

Seseorang melangkah keluar dari dalam istana. Dadanya membusung, wajah tampak berkilauan penuh semangat, Liok Siau-hong akhirnya muncul juga. Semua orang segera menyambut dan berebut bertanya, “Apakah semua tebakan kami salah?”

Liok Siau-hong mengangguk.

Lau-sit Hwesio pun berkata, “Sebenarnya apa yang kau minta?”

Liok Siau-hong berujar, “Tidak bisa kukatakan, tidak bisa.”

Ia lalu memisahkan diri, berjalan di depan rombongan itu. Bagaimana pun orang bertanya, dia tidak mau membuka mulutnya.

Tampaknya dia sudah bertekad untuk membuat orang-orang ini mati kesal.

Tapi orang-orang ini tentu saja bukan orang yang mudah menyerah. Mereka segera membuntuti di belakangnya.

Lau-sit Hwesio menarik Sukong Ti-sing ke pinggir dan berkata, “Kau adalah batu sandungan bocah busuk itu. Di dunia ini, orang yang bisa membuatnya buka mulut tentu saja cuma dirimu.”

Sukong Ti-sing memutar-mutar biji matanya, lalu berkata, “Baiklah, aku akan mencobanya.”

Lalu ia berjalan dengan cepat untuk menyusul Liok Siau-hong dan berkata, “Kau benar-benar tidak mau mengatakannya?”

Liok Siau-hong menyahut, “Ya.”

Sukong Ti-sing pun berujar, “Bagus.”

Liok Siau-hong bertanya, “Apanya yang bagus?”

Sukong Ti-sing berkata pula, “Jika kau tidak mau mengatakannya, maka aku…aku akan…”

Lalu dia mendekatkan mulutnya ke telinga Liok Siau-hong dan membisikkan sesuatu. Liok Siau-hong tiba-tiba menghentikan langkahnya, tertegun sekian lama di tempatnya, menghela nafas panjang, lalu balas berbisik di telinga Sukong Ti-sing. Sukong Ti-sing tampak terperanjat, raut mukanya seperti orang yang baru saja menelan dua butir telur ayam, dua butir telur bebek, dan empat buah bakpao gede.

Liok Siau-hong pun meneruskan langkahnya ke depan.

Sukong Ti-sing pun mulai melangkah lagi. Tapi baru selangkah, tiba-tiba dia pun mulai tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak hingga air matanya bercucuran.

Lau-sit Hwesio menarik bajunya dan berkata, “Apa yang dia katakan padamu?”

Sambil tersenyum dan sambil menggelengkan kepalanya, Sukong Ti-sing berkata, “Tidak boleh kukatakan, tidak boleh.”

Lau-sit Hwesio pun berkata, “Jangan lupa siapa yang mengajarimu tadi. Apalagi, jika tidak kau katakan, maka aku akan………”

Ia pun mendekatkan mulutnya ke telinga Sukong Ti-sing dan membisikkan beberapa patah kata.

Sukong Ti-sing segera menghentikan langkahnya. Setelah tertegun sekian lama, dia pun balas berbisik di telinga Lau-sit Hwesio.

Lau-sit Hwesio pun tampak tertegun, lalu dia pun tersenyum dan tertawa terbahak-bahak seperti seorang hwesio yang baru saja mengawini tiga orang nikouw dewasa, dua orang nikouw cilik, dan empat orang nikouw yang tidak besar dan juga tidak kecil.

Lalu Bok-tojin pun memaksanya bicara, Gui Cu-hun meminta Bok-tojin untuk bicara. Ting Go, To Hong, In Cu, Pok Ki, akhirnya semua pun tahu.

Lalu setiap orang mulai tersenyum dan tertawa terbahak-bahak……..

Malam tanggal 16 bulan sembilan. Sinar bulan tampak jernih seperti air. Di bawah sinar bulan, Liok Siau-hong melangkahkan kakinya di atas jembatan, dengan semangat yang tinggi dan tenaga penuh, seluruh tubuhnya tampak penuh dengan energi.

Dia tidak tersenyum, tapi orang-orang di belakangnya semua tersenyum, tertawa, tersenyum sambil tertawa, tertawa terbahak-bahak seperti segerombolan bocah kecil. Mereka tertawa sambil melangkah di atas jembatan, lalu masuk ke jalan raya yang diterangi oleh sinar bulan. Orang-orang di jalan, di jendela, di warung, semuanya menatap mereka dengan heran. Tak seorang pun yang tahu bahwa orang-orang ini adalah jago-jago paling tangguh di dunia persilatan dewasa ini, juga tidak ada yang tahu mengapa mereka tertawa begitu gembiranya. Tidak seorang pun yang tahu…

TAMAT

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: