Kumpulan Cerita Silat

14/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:57 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 12: Tewasnya Musuh Yang Amat Tangguh
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Walaupun bulan yang bersinar terang mulai tenggelam di barat, tapi bentuknya malah tampak semakin bundar.

Bulan purnama seakan menggantung di atas wuwungan istana. Di atas wuwungan itu telah berkumpul banyak orang, tapi tidak terdengar suara sedikit pun.

Sukong Ti-sing, Lau-sit Hwesio, semuanya menutup mulutnya, karena mereka sama-sama bisa merasakan semacam tekanan yang mengancam.

Tiba-tiba, seperti seekor naga yang sedang meraung, sinar pedang tampak menjulang ke angkasa.

Pedang Yap Koh-seng sudah dihunus.

Di bawah sinar bulan, pedang itu seakan tampak pucat.

Bulan yang pucat, pedang yang pucat, wajah yang pucat.

Yap Koh-seng hanya menatap pedang di tangannya dan berkata, “Silakan.”

Ia tidak memandang wajah Sebun Jui-soat, tidak memandang pedang di tangan Sebun Jui-soat, juga tidak menatap mata Sebun Jui-soat.

Ini adalah pertaruhan antara hidup dan mati.

Pertarungan di antara dua jagoan juga sama seperti pertempuran di antara dua pasukan tentara. Siapa yang mengetahui keadaan musuhnya, selamanya akan memenangkan pertempuran.

Karena itu gerak-gerik lawan harus selalu diamati dengan cermat, sedikit pun tidak boleh lengah.

Karena setiap kemungkinan akan mentukan siapa yang menang dan kalah.

Yap Koh-seng telah mengalami ratusan kali pertarungan. Sebagai orang yang tidak pernah kalah, tentu saja dia memahami prinsip ini.

Karena itu dia pun tidak boleh melakukan kesalahan, dia tak boleh melanggar prinsip ini.

Sorot mata Sebun Jui-soat tajam bagaikan pedang, seolah-olah tidak hanya bisa melihat tangannya, wajahnya, namun juga menembus hatinya.

Yap Koh-seng kembali berkata, “Silakan.”

Sebun Jui-soat tiba-tiba berujar, “Sekarang belum bisa.”

Yap Koh-seng bertanya, “Mengapa belum bisa?”

Sebun Jui-soat menyahut, “Kita harus menunggu sebentar.”

Yap Koh-seng bertanya lagi, “Mengapa?”

Sebun Jui-soat pun menyahut, “Karena hatimu tidak tenang.”

Yap Koh-seng terdiam.

Sebun Jui-soat melanjutkan, “Jika hati dalam keadaan kalut, ilmu pedangnya pun tentu akan kalut, orangnya tentu akan menghadapi kematian.”

Yap Koh-seng mendengus dan berkata, “Menurutmu, sebelum bertanding pun aku sudah kalah?”

Sebun Jui-soat berujar, “Jika sekarang kau kalah, sebabnya bukan karena kalah bertanding.”

Yap Koh-seng berucap, “Karena itu kau tidak mau memulai pertarungan ini?”

Sebun Jui-soat tidak menyangkal.

Yap Koh-seng berkata pula, “Karena kau tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan?”

Sebun Jui-soat pun mengangguk.

Yap Koh-seng berkata, “Tapi pertarungan ini harus terjadi.”

Sebun Jui-soat berujar, “Aku akan menunggu.”

Yap Koh-seng bertanya, “Kau mau menungguku?”

Sebun Jui-soat mengangguk dan berkata, “Aku yakin aku tidak akan menunggu terlalu lama.”

Yap Koh-seng tiba-tiba menatapnya, di matanya sekilas terlihat perasaan terima kasih, yang kemudian segera buyar oleh sinar pedang di tangannya.

Berterima kasih pada musuhmu adalah sebuah kesalahan yang fatal.

Yap Koh-seng berkata, “Aku tidak boleh membiarkanmu lama menungguku. Sementara kau menunggu, bisakah aku berbincang-bincang dengan seseorang?”

Sebun Jui-soat bertanya, “Apakah berbincang-bincang akan membuat fikiranmu lebih tenang?”

Yap Koh-seng menjawab, “Bila aku bisa berbicara dengan orang ini, barulah fikiranku akan menjadi tenang.”

Sebun Ji-soat bertanya pula, “Siapa orang itu?”

Pertanyaan ini sebenarnya tidak perlu diucapkan. Tentu saja yang akan diajak bicara oleh Yap Koh-seng adalah Liok Siau-hong, karena hanya si burung hong kecil yang bisa menjawab dan menguraikan seluruh pertanyaan yang ada di hatinya.

Liok Siau-hong sudah duduk, duduk di atas wuwungan Istana Terlarang, duduk di atas genteng licin yang bisa membuat orang tergelincir bila kurang berhati-hati itu.

Bulan yang terang bersinar di belakangnya, bersinar di atas kepalanya, cahaya terangnya yang membias di kepalanya seakan sinar yang berasal dari surga.

Yap Koh-seng menatapnya, menatapnya sekian lama, lalu tiba-tiba dia berkata, “Kau bukan dewa.”

Liok Siau-hong menyahut, “Memang bukan.”

Yap Koh-seng berkata pula, “Karena itu aku tidak bisa mengerti, bagaimana kau bisa mengetahui rahasia sebanyak itu?”

Liok Siau-hong tersenyum dan berkata, “Kau benar-benar mengira kalau selamanya kau bisa menyembunyikan rahasia ini dari orang banyak?”

Yap Koh-seng berujar, “Mungkin tidak seperti itu, tapi rencana kami…”

Liok Siau-hong berkata, “Rencana kalian itu benar-benar bagus, juga amat teliti. Hanya saja, walaupun rencana itu demikian cermat, tetap saja ada titik kelemahannya.”

Yap Koh-seng bertanya, “Di mana titik kelemahannya? Bagaimana kau bisa melihatnya?”

Liok Siau-hong bimbang sejenak, sebelum akhirnya menjawab, “Aku sendiri tidak tahu pasti. Hanya saja aku merasa, ada beberapa orang yang seharusnya tidak mati, tapi ternyata malah mati secara misterius.”

Yap Koh-seng bertanya pula, “Maksudmu Thio Eng-hong, Kongsun-toanio dan Auyang Cing?”

Liok Siau-hong berujar, “Juga si Tuan Besar Cucu Kura-kura.”

Yap Koh-seng berkata, “Mengapa kami harus membunuh mereka?”

Liok Siau-hong menjawab, “Sekarang aku sudah mengetahui jawabannya.”

Yap Koh-seng berucap, “Katakanlah.”

Liok Siau-hong berkata pula, “Rencana busuk kalian ini sudah lama berlangsung secara rahasia. Ong-congkoan melakukan hubungan dan kontak dengan fihak Lam-ong-hu, mereka bertemu di rumah bordil Auyang.”

Yap Koh-seng berkata, “Karena mereka yakin, orang tentu tidak akan menduga kalau seorang Thaykam dan Lhama akan sering datang ke rumah bordil.”

Liok Siau-hong berujar, “Tapi kalian tetap tidak merasa lega, karena kalian tahu Sun-loya dan Auyang Cing bukanlah orang biasa. Kalian curiga kalau mereka sudah mengetahui rahasia ini, karena itu–tentu saja kalian harus melenyapkan mereka dari muka bumi ini.”

Yap Koh-seng berkata, “Sebenarnya, aku memang harus membunuh mereka.”

Liok Siau-hong berujar, “Memang.”

Yap Koh-seng berkata pula, “Karena kaitan mereka dengan urusan ini sangatlah besar artinya, aku tidak boleh menyerempet bahaya.”

Liok Siau-hong pun berujar, “Karena itu aku pun kemudian sadar, di balik pertarungan besar kalian ini tentu tersimpan sebuah rahasia yang lebih besar lagi. Pertarungan kalian ini terselenggara bukan hanya karena pertaruhan antara Li Yan-pak dan Toh Tong-han semata.”

Yap Koh-seng menghela nafas dan berkata, “Kami pun memang harus membunuh Thio Eng-hong.”

Liok Siau-hong melanjutkan, “Karena dia terlalu tergesa-gesa dalam mencari Sebun Jui-soat. Dia berhasil menemukan sarang Ong-thaykam dan tanpa disengaja juga mengetahui keberadaanmu di sana, tentu saja dia harus dibunuh secepat mungkin.”

Yap Koh-seng berkata, “Kau tentu sudah tahu, patung lilin ketiga yang diukirnya itu adalah aku.”

Liok Siau-hong berujar, “Dan karena patung lilin ini pula, Thio si Boneka pun harus mati.”

Yap Koh-seng berkata, “Aku membunuh Kongsun-toanio, tujuannya adalah untuk memfitnah dirinya.”

Liok Siau-hong berucap, “Kau juga berharap agar aku mencuriga Lau-sit Hwesio.”

Yap Koh-seng mendengus dan berkata, “Kau benar-benar mengira kalau dia itu Lau-sit (jujur)?”

Liok Siau-hong tiba-tiba tersenyum dan berujar, “Walaupun aku sering curiga pada orang yang salah, juga sering memilih jalan yang salah, tetapi terkadang aku pun bisa menemukan keberuntungan dalam kesalahan.”

Yap Koh-seng bergumam, “Menemukan keberuntungan dalam kesalahan?”

Liok Siau-hong berkata pula, “Jika aku tidak curiga pada Lau-sit Hwesio, lalu tidak menanyai Auyang Cing dengan teliti, tentu aku tak akan tahu kalau Ong-thaykam dan Lhama dari Ong-lam-hu pun sering datang ke sana.”

Pek-in-sengcu berujar, “Sejak itu, kau pun mulai curiga padaku?”

Liok Siau-hong menghela nafas dan berkata, “Sebenarnya aku tidak mencurigaimu. Walaupun aku merasa kau tidak mungkin bisa dibokong orang, apalagi oleh jarum beracun keluarga Tong, tapi aku tidak pernah benar-benar mencurigaimu, karena…”

Ia menatap Yap Koh-seng dan menambahkan dengan lambat, “Karena aku selalu menganggapmu sebagai sahabatku.”

Yap Koh-seng memalingkan mukanya. apakah dia tidak punya muka untuk berhadapan dengan Liok Siau-hong lagi?

Liok Siau-hong berkata pula, “Kau menggunakan pertaruhan Li Yan-pak dan Toh Tong-han sebagai kedok, memanfaatkan pertarungan besar ini sebagai panggung sandiwara. Pertama kau atur dulu orang yang akan menyamar sebagai dirimu di tempat Toh Tong-han sana. Bila kau muncul, seluruh tubuhmu selalu penuh dengan aroma bunga, seakan-akan kau hendak menutupi bau yang berasal dari lukamu. Tapi sebenarnya di tubuhmu sama sekali tidak ada bau itu.”

Liok Siau-hong menghela nafas dan menambahkan, “Rencana ini benar-benar hebat, benar-benar luar biasa.”

Yap Koh-seng masih memalingkan mukanya.

Liok Siau-hong berkata pula, “Yang paling luar biasa adalah sabuk-sabuk sutera itu.”

Yap Koh-seng bergumam, “Oh?”

Liok Siau-hong berkata, “Gui Cu-hun membatasi jumlah orang-orang dunia Kangouw yang mendapatkan sabuk sutera itu, maka kau pun menyuruh Ong-congkoan untuk mencuri sisa gulungan sutera yang bisa berubah warna itu, membuat beberapa sabuk sutera, lalu mengirim orang-orangmu ke tempat pertarungan. Karena jumlah orang yang datang ternyata terlalu banyak, maka Gui Cu-hun terpaksa memusatkan penjagaan di Thay-ho-tian dan kalian akan bisa menerobos masuk ke istana tanpa hambatan.”

Yap Koh-seng menengadah dan memandang ke langit.

Liok Siau-hong berkata, “Sayangnya kau tetap salah perhitungan. Walaupun kau sudah menduga kalau Sebun Jui-soat tidak akan mau bertarung dengan orang yang telah terluka, tapi kau lupa kalau Tong Thian-ciong akan membalaskan dendam untuk Toako dan Jiko-nya.”

Yap Koh-seng bertanya, “Tong Thian-ciong?”

Liok Siau-hong berujar, “Kalau Tong Thian-ciong tidak melukai orang yang menyamar sebagai dirimu itu, aku mungkin tidak akan pernah mencurigaimu.”

Yap Koh-seng bergumam, “Oh?”

Liok Siau-hong berkata lagi, “Setelah mengetahui rahasiamu, aku pun segera teringat pada istana, juga pada Ong-thaykam. Saat itulah akhirnya aku memahami persengkongkolan kalian, persekongkolan busuk yang begitu menakutkan.”

Tiba-tiba Liok Siau-hong bertanya, “Kau masih bisa tersenyum?”

Yap Koh-seng berujar, “Aku tidak boleh tersenyum?”

Liok Siau-hong menatapnya, akhirnya ia mengangguk dan berkata, “Asal masih bisa tersenyum, orang memang harus banyak tersenyum.”

Tapi senyuman pun ada banyak jenisnya, ada senyuman bahagia, senyuman dipaksa, senyuman tanda tersanjung, senyuman pahit dan getir.

Yang manakah jenis senyuman Yap Koh-seng? Tidak perduli apa pun jenis senyumannya, asalkan dia masih bisa tersenyum saat ini, maka dia bukanlah orang biasa, dia adalah seorang enghiong.

Tiba-tiba ia menepuk pundak Liok Siau-hong dan berkata, “Aku pergi dulu.”

Liok Siau-hong berkata pula, “Tidak ada lagi yang ingin kau ucapkan?”

Yap Koh-seng berfikir sejenak, lalu berkata, “Ada.”

Liok Siau-hong berujar, “Katakanlah.”

Yap Koh-seng berkata, “Tak perduli apa pun pandanganmu, kau selalu menjadi sahabatku.”

Lalu ia melangkah pergi dan menghampiri Sebun Jui-soat. Tiba-tiba angin musim gugur terasa dingin seperti di akhir musim dingin……

***

Saat ini sinar bulan terlihat remang-remang, remang-remang seperti sinar bintang.

Sinar bintang memang remang-remang seperti impian, impian seorang kekasih.

Seorang kekasih tentu saja selalu menyenangkan. Terkadang ada orang yang lebih menyenangkan daripada kekasih, tapi tentu saja amat jarang.

Kebencian tentu saja bukan sekedar luapan perasaan yang kelewat batas. Dalam kebencian, terkadang juga tercakup pengertian dan perasaan hormat.

Sayangnya, musuh yang berharga tidaklah banyak, musuh yang patut dihormati malah lebih sedikit lagi.

Tapi dendam berbeda.

Kebencian adalah takdir, dendam adalah hasil suatu nasib. Kebencian menggerakkanmu, sedangkan dendam adalah kau sebagai penggeraknya.

Bisakah kau mengatakan bahwa Sebun Jui-soat membenci Yap Koh-seng? Bisakah kau mengatakan kalau Yap Koh-seng membenci Sebun Jui-soat? Di antara mereka tidak ada dendam, yang ada hanyalah kebencian, kebencian karena kelahiran mereka, kebencian karena kehidupan mereka.

Mungkin kebencian Yap Koh-seng adalah karena setelah Yap Koh-seng lahir, lalu mengapa lahir pula seorang Sebun Jui-soat?

Mungkin kebencian Sebun Jui-soat pun sama.

Antara cinta dan benci hanya ada sehelai benang yang amat tipis, lalu mengapa kita selalu memandang salah satunya secara berlebihan?

Sekarang telah tiba saatnya duel yang menentukan itu.

Bila duel yang menentukan ini sudah tiba waktunya, tidak seorang pun yang mampu mencegahnya lagi.

Walau detik ini mungkin singkat, tapi banyak orang yang sudah menunggunya, mereka sudah mengorbankan segala yang mereka miliki untuk menyaksikan duel ini.

Teringat pada orang-orang ini, tiba-tiba Yap Koh-seng merasa pahit dan getir.

Apakah pertarungan ini berharga untuk dilaksanakan? Apakah berharga juga untuk orang-orang yang menyaksikannya? Tidak ada yang bisa menjawabnya, tidak seorang pun yang bisa menilai.

Bahkan Liok Siau-hong pun tidak.

Tapi dia juga merasakan tekanan dan hawa pedang itu, ia merasakan tekanan yang mungkin jauh lebih besar daripada yang dirasakan oleh orang lain.

Karena Sebun Jui-soat adalah sahabatnya.

Sekali saja kau menganggap seseorang sebagai sahabatmu, maka selamanya dia adalah sahabatmu.

Karena itu Liok Siau-hong terus memperhatikan pedang Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng, mengawasi setiap gerak-gerik, tatapan mata, ekspresi wajah, bahkan denyutan otot mereka.

Ia mengkhawatirkan Sebun Jui-soat. Walaupun Sebun Jui-soat dulu dianggap sebagai seorang dewa, dewa pedang, tetapi sekarang dia bukan lagi dewa, dia adalah seorang manusia biasa.

Karena dia sudah mempunyai perasaan cinta, perasaan yang manusiawi.

Manusia selalu bersifat lemah, selalu punya kelemahan. Karena itu pula, manusia berbakat tetaplah seorang manusia.

Apakah Liok Siau-hong sudah mengetahui kelemahan Sebun Jui-soat? Liok Siau-hong merasa amat gelisah, apakah karena dia tahu kelemahan itu akan berakibat fatal?

Dia pun tahu bahwa, walaupun Yap Koh-seng mau melepaskan Sebun Jui-soat, Sebun Jui-soat belum tentu mau melepaskan dirinya sendiri.

Yang menang hidup, yang kalah mati.

Anehnya, dia pun mengkhawatirkan Yap Koh-seng.

Dia tidak pernah melihat perasaan cinta Yap Koh-seng pada manusia, dia pun tak pernah melihat luapan emosinya.

Kehidupan Yap Koh-seng adalah pedang, pedang adalah kehidupan Yap Koh-seng. Tapi kehidupan sendiri merupakan medan pertempuran, baik pertempuran besar maupun kecil. Tidak perduli pertempuran macam apa pun itu, biasanya hanya ada satu macam tujuan, yaitu kemenangan.

Kemenangan berarti kehormatan, kebanggaan, kebanggaan yang menaikkan derajat seseorang.

Tapi bagi Yap Koh-seng sendiri, kemenangan sudah hilang maknanya, karena kalau kalah dia pasti mati, menang juga pasti mati.

Tidak perduli menang atau kalah, kebanggaan itu tidak dapat mengembalikan kehormatannya. Semua orang pun tahu, malam ini ia tak dapat meninggalkan Istana Terlarang dalam keadaan hidup.

Karena itu, walaupun kedua orang ini mempunyai semua syarat untuk menang, tapi juga mempunyai alasan untuk kalah.

Sebenarnya siapakah yang akan memenangkan pertarungan ini? Siapa pula yang kalah? Saat ini sinar bulan semakin pucat, seluruh perhatian dunia seakan terpusat pada kedua pedang itu. Dua pedang dewata.

Tiba-tiba pedang itu mulai menusuk.

Tusukan pedang itu tidak begitu cepat, jarak di antara Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng pun masih terlalu jauh.

Belum lagi pedang mereka saling bersentuhan, gerakan pedang mulai menunjukkan perubahan yang tiada hentinya. Orangnya sendiri bergerak dengan amat lambat. Tetapi perubahan gerak pedangnya teramat cepat, karena sekali mereka memulai gerakannya, maka gerakan itu akan mengalir sesuai kehendak hati.

Orang biasa mungkin menganggap pertarungan ini tidak menegangkan, tidak seru, dan tidak luar biasa, tetapi Gui Cu-hun, Ting Go, In Cu dan To Hong berempat semuanya telah mengeluarkan keringat dingin dari sekujur tubuh mereka.

Keempat orang ini adalah jago-jago pedang kelas satu di jaman itu. Mereka melihat gerak perubahan pedang itu sudah melewati batas kemampuan manusia, sudah melewati tingkat yang bisa dicapai manusia.

Jika Yap Koh-seng bukan tandingan Sebun Jui-soat dan sebaliknya, tentu setiap gerakan dan serangan pedang itu sudah berhasil membunuh salah satunya.

Pedang dan orangnya berbaur menjadi satu, ini sudah menjadi ilmu pedang batin.

Liok Siau-hong pun tiba-tiba mengucurkan keringat dingin. Mendadak dia menyadari bahwa, walaupun gerak perubahan pedang Sebun Jui-soat terlihat lincah dan gesit, tapi di dalamnya ternyata lamban, tidak seringan dan selancar gerakan pedang Yap Koh-seng.

Pedang Yap Koh-seng bagaikan hembusan angin dari balik awan putih.

Pada pedang Sebun Jui-soat seakan ada benang yang menghubungkan dirinya dengan isterinya, keluarganya, perasaannya…

Liok Siau-hong pun menyadari, dalam 20 gerak perubahan lagi, pedang Yap Koh-seng tentu akan berhasil menembus tenggorokan Sebun Jui-soat.

Dua puluh gerak perubahan akan berlalu dalam sekejap mata.

Ujung jari Liok Siau-hong sudah terasa dingin bagaikan es.

Sekarang, siapa pun tak akan mampu merubah takdir Sebun Jui-soat. Liok Siau-hong tidak bisa, Sebun Jui-soat pun tidak.

Jarak kedua orang itu sudah amat dekat.

Tiba-tiba kedua pedang itu saling menusuk dengan seluruh tenaga dan kekuatannya.

Ini sudah menjadi akhir pertarungan, akhir yang akan menentukan siapa yang menang dan kalah. Baru sekarang Sebun Jui-soat menyadari bahwa pedangnya selangkah lebih lamban, pedangnya baru menusuk ke arah dada Yap Koh-seng, tapi pedang Yap Koh-seng sudah hampir menembus tenggorokannya.

Tampaknya, Sebun Jui-soat tidak punya pilihan lain kecuali menerima nasibnya ini.

Tapi saat itulah mendadak ia menyadari bahwa arah ujung pedang Yap Koh-seng tiba-tiba menyimpang, mungkin hanya berselisih sejauh 2 inci, tapi tentu saja selisih itu sudah cukup untuk menentukan hidup dan mati.

Bagaimana kesalahan ini bisa terjadi? Apakah karena Yap Koh-seng tahu hidupnya tak jauh lagi dari kematian? Ujung pedang terasa dingin bagaikan es.

Ujung pedang yang dingin bagaikan es itu pun menusuk dada Yap Koh-seng. Ia bahkan bisa merasakan ujung pedang itu menyentuh jantungnya.

Lalu dia merasakan semacam rasa sakit yang aneh, seakan dia melihat kekasihnya tercinta mati di atas pembaringan, rasa sakit yang menusuk ke hati itu persis sama.

Itu bukan hanya rasa sakit, tapi juga rasa takut, takut yang luar biasa.

Karena ia tahu, semua kegembiraan dan kesenangan dalam hidupnya telah berakhir dalam sekejap ini.

Sekarang hidupnya telah berakhir, berakhir di ujung pedang Sebun Jui-soat.

Tapi tentu saja dia tidak membenci Sebun Jui-soat, malah yang ada hanyalah perasaan terima kasih, yang selamanya tak akan dapat difahami orang.

Di saat terakhirnya itu – sekilas ia melihat gerakan pedang Sebun Jui-soat pun melambat, seakan siap untuk menarik kembali serangannya ini.

Yap Koh-seng melihat dan dapat merasakannya dengan jelas.

Ia tahu Sebun Jui-soat tentu saja tidak ingin membunuhnya, tapi tetap harus membunuhnya, karena Sebun Jui-soat tahu bahwa dia lebih suka mati di bawah pedangnya.

Karena harus mati, mengapa tidak mati saja di bawah pedang Sebun Jui-soat? Mati di bawah pedang Sebun Jui-soat, setidaknya merupakan kematian yang terhormat.

Sebun Jui-soat memahami perasaannya ini, karena itu dia pun membantunya.

Karena itu ia pun merasa berterima-kasih.

Saling pengertian dan simpati semacam ini hanya bisa timbul di antara seorang enghiong terhadap enghiong lainnya.

Dalam sekilas itu, sorot mata kedua orang itu pun bentrok, Yap Koh-seng berusaha membuka suaranya yang seperti berasal dari dunia lain.

“Terima kasih.”

Sesungguhnya kalimat itu tidak keluar dari bibirnya, tapi bisa dibaca dari sorot matanya.

Dia tahu bahwa Sebun Jui-soat tentu akan mengerti.

Sinar bulan yang terang-benderang telah menghilang, cahaya bintang pun sudah lenyap, akhirnya jago pedang yang tiada duanya itu rebah di atas tanah untuk selama-lamanya.

Apakah reputasinya pun akan menghilang sesudah ini? Di ujung langit terlihat segumpal awan datang melayang, apakah dia akan membawa berita ini ke dunia luar? Ataukah dia datang untuk memberi penghormatan terakhir pada jago pedang tanpa tanding ini? Cuaca seakan bertambah dingin, semakin gelap. Wajah Yap Koh-seng terlihat dingin, samar-samar dan penuh kegaiban.

Di ujung pedang masih menempel noda darah.

Sebun Jui-soat meniup darah itu, matanya menatap ke segala penjuru. Setelah terdiam sekian lama, tiba-tiba perasaan sepi terasa mencekam hatinya.

Sebun Jui-soat meletakkan pedangnya di pinggir, lalu ia membopong jenazah Yap Koh-seng. Pedang itu dingin, tapi mayat itu lebih dingin lagi.

Tapi yang paling dingin adalah hati Sebun Jui-soat.

Pertarungan yang menggoncangkan dunia itu telah berakhir, musuh yang lebih berharga daripada sahabat setia itu pun sudah mati di bawah pedangnya.

Urusan apa lagi di dunia ini yang mampu menghangatkan hatinya? Yang mampu membakar darahnya? Apakah dia telah memutuskan untuk menggantung pedangnya buat selamanya? Seperti tubuh Yap Koh-seng yang akan terbaring di dalam tanah untuk selamanya? Dia tidak mau orang lain mencampuri urusan itu.

Ting Go tiba-tiba menerobos maju, melintangkan pedangnya untuk menghadang jalannya, lalu menghardik dengan keras, “Kau tidak boleh membawa orang ini. Tak perduli dia masih hidup atau sudah mati, kau tetap tidak boleh membawanya.”

Sebun Jui-soat sama sekali tidak memperdulikannya.

Ting Go berkata pula, “Orang ini adalah buronan pemerintah, siapa pun yang merawat mayatnya, akan menanggung akibatnya.”

Sebun Jui-soat berkata, “Kau ingin aku meninggalkan jenazahnya?”

Ting Go mendengus dan berkata, “Apakah aku perlu memaksamu?”

Urat-urat di tubuh Sebun Jui-soat tampak menggelembung biru.

Ting Go berkata pula, “Bila Sebun Ji-soat dan Yap Koh-seng bergabung, mungkin tidak ada orang di dunia ini yang sanggup menghadapinya, tapi sayangnya Yap Koh-seng sekarang telah mampus, apakah kau seorang diri sanggup menghadapi tiga ribu orang tentara?”

Baru saja ia selesai bicara, tiba-tiba didengarnya seseorang mendengus.

Orang itu pun berkata sambil tersenyum, “Walaupun Yap Koh-seng sudah mati, tapi Liok Siau-hong masih hidup.”

Dan Liok Siau-hong pun muncul.

Ting Go tiba-tiba membalikkan badan dan berseru dengan keras, “Apa yang kau inginkan?”

Liok Siau-hong berkata dengan enteng, “Aku hanya ingin mengingatkanmu, Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng adalah sahabatku.”

Ting Go berujar, “Kau ingin melindungi buronan pemerintah? Kau tahu apa hukumannya?”

Liok Siau-hong berkata, “Aku hanya tahu 1 hal.”

Ting Go berucap, “Katakanlah.”

Liok Siau-hong berkata, “Aku hanya tahu, bila suatu urusan tidak seharusnya dilakukan, maka aku tidak akan melakukannya. Tapi bila urusan itu harus dilakukan, biarpun kau tebas kepalaku, aku tetap akan melakukannya.”

Wajah Ting Go tampak berubah.

To Hong dan In Cu segera melangkah maju, para pengawal pun menghunus senjata mereka. Ketegangan semakin terasa.

Tiba-tiba seseorang melompat maju dan berteriak dengan keras, “Walau kalian berjumlah tiga ribu orang, tapi Liok Siau-hong adalah temanku. Aku tidak takut kepalaku dipenggal karena membela teman.”

Orang ini adalah Pok Ki.

Bok-tojin pun segera melangkah ke depan dan berseru: “Walaupun pinto adalah seorang tosu yang tidak mau mencampuri urusan duniawi, tapi orang sepertiku juga harus membela seorang teman.”

Ia berpaling, memandang Lau-sit Hwesio dan bertanya, “Bagaimana denganmu, Hwesio?”

Lau-sit Hwesio pun menyahut, “Kalau tosu tua pun mempunyai seorang sahabat, mengapa hwesio tidak?”

Ia melirik Sukong Ti-sing dan bertanya, “Dan kau bagaimana?”

Sukong Ti-sing menghela nafas dan berkata, “Para pengawal istana selain bertubuh besar, juga memiliki kepandaian yang tinggi, apalagi mereka pun pejabat-pejabat negara. Aku hanya maling kecil, maling paling takut pada pejabat, karena itu…”

Lau-sit Hwesio bertanya, “Karena itu bagaimana?”

Sukong Ti-sing tersenyum getir dan berkata, “Karena itu, sebenarnya aku tidak ingin mengakui Liok Siau-hong sebagai sahabatku. Sayangnya, mau tak mau aku harus mengakuinya.”

Lau-sit Hwesio berujar, “Bagus sekali.”

Sukong Ti-sing berucap, “Sama sekali tidak bagus.”

Lau-sit Hwesio bertanya, “Mengapa tidak bagus?”

Sukong Ti-sing berkata pula, “Jika mereka tetap memaksa Sebun Jui-soat untuk meninggalkan mayat itu, Liok Siau-hong tentu akan membelanya?”

Lau-sit Hwesio berkata, “Ya.”

Sukong Ti-sing berkata lagi, “Jika kita mendukung Liok Siau-hong, berarti kita pun tidak akan menurut?”

Lau-sit Hwesio menyahut, “Ya.”

Sukong Ti-sing pun berujar, “Jadi kita tentu harus menghadapi mereka semua?”

Lau-sit Hwesio hanya mengiyakan.

Sukong Ti-sing berkata pula, “Aku sudah menghitung. Jika kita harus bentrok dengan mereka, setiap orang dari kita setidaknya harus menghadapi 317 orang musuh.”

Ia menghela nafas, lalu menambahkan, “Dua kepalan saja sulit mengatasi empat kepalan. Sekarang sepasang kepalan harus menghadapi 600 kepalan, membayangkannya saja rasanya sudah mengerikan.”

Lau-sit Hwesio tiba-tiba tersenyum dan berkata, “Jangan lupa kalau kau mempunyai tiga tangan.”

Sukong Ti-sing juga tersenyum.

Mereka tersenyum dengan ringan, di atas Thay-ho-tian, di Kota Terlarang, menghadapi gunung pedang dan hutan golok yang berkilauan, mereka masih tetap bisa bersikap santai.

Ting Go dan kawan-kawannya yang malah merasa gelisah, para pengawal itu sudah merasakan keadaan yang amat genting.

Bila pertempuran ini terjadi, siapa pun tidak berani membayangkan akibatnya.

Agaknya, mau tak mau pertempuran akan berlangsung juga.

Wajah Gui Cu-hun tampak tegang, kedua tangannya terkepal erat-erat. Dengan perlahan dia bekata, “Kalian semua adalah jago-jago Kangouw yang sudah lama kuhormati, sebenarnya aku tidak berani bersikap kurang sopan, sayangnya aku memiliki tanggung jawab terhadap negara, karena itu…”

Tiba-tiba Liok Siau-hong memotong perkataannya, “Maksudmu, kau berharap kami semua memahamimu, tapi aku juga berharap kau mau memahami kami.”

Gui Cu-hun berujar, “Katakanlah.”

Liok Siau-hong berkata pula, “Di antara kami, ada yang suka uang, ada pula yang suka perempuan. Ada yang berani mati, ada juga yang takut mati. Tapi bila tiba di saat yang kritis, kami selalu menghargai kesetiakawanan, kami memandangnya lebih berat dari segalanya.”

Gui Cu-hun terdiam sekian lama, baru kemudian ia menghela nafas dan mengangguk, lalu berkata, “Aku mengerti.”

Liok Siau-hong berkata, “Kau seharusnya memang mengerti.”

Gui Cu-hun berujar, “Tapi kau juga seharusnya mengerti.”

Liok Siau-hong berucap, “Oh?”

Gui Cu-hun berkata, “Akibat dari pertempuran ini, kedua pihak tentu akan ada yang terluka atau binasa, hal yang mengerikan untuk dibayangkan. Lalu siapa yang harus bertanggung-jawab nantinya?”

Liok Siau-hong tidak membuka mulut, di dalam hatinya pun diam-diam terasa berat.

Gui Cu-hun menatap ke segala penjuru, lalu ia menghela nafas dan berkata, “Tak perduli siapa pun yang bertanggung-jawab, tampaknya pertempuran ini tak akan dapat dihindarkan, tak seorang pun yang bisa mencegahnya.”

Liok Siau-hong merenung, lalu berkata dengan lambat, “Mungkin ada seseorang yang mampu mencegahnya.”

Gui Cu-hun berkata, “Siapa?”

Liok Siau-hong berpaling dan menatap istana di kejauhan, di matanya terpancar sebuah ekspresi yang amat aneh.

Saat itulah dari dalam istana tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan keras, “Firman Kaisar tiba!”

Seorang Thaykam berbaju kuning yang memegang selembar kertas, tampak berlari keluar dengan tergesa-gesa.

Semua orang segera berlutut. Thaykam itu segera membacakan firman dari Kaisar, “Kaisar memerintahkan Liok Siau-hong untuk segera pergi ke Lam-siu-hong. Orang lainnya segera tinggalkan istana.”

Perintah Kaisar tentu tak boleh dibantah. Yang disebut ‘orang lainnya’ tentu saja termasuk orang mati, karena itu pertempuran itu pun sudah berakhir sebelum dimulai.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: