Kumpulan Cerita Silat

12/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:56 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 10: Sabuk Sutera Yang Ketujuh
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Tanggal 15 September, senja hari. Warna-warna matahari terbenam yang spektakuler tampak memenuhi angkasa. Lu Xiao Feng terbang keluar dari toko roti itu dan mulai melesat di sepanjang jalan raya yang tampak kemerah-merahan.

Ia harus menemukan satu sabuk sutera sebelum bulan terbit. Ia tidak boleh ketinggalan acara duel malam ini. Sama sekali tidak boleh!

Karena Ye Gu Cheng dan Xi Men keduanya adalah sahabatnya, karena ia telah menyadari bahwa, di bawah sinar bulan purnama, saat duel mereka, sesuatu yang mengguncangkan dunia akan terjadi, sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan daripada duel itu sendiri.

Tentu saja ia tidak bisa meminta kembali sabuk-sabuk sutera yang telah ia berikan pada orang lain. Tetapi sabuk curian tentu berbeda. Kau bukan hanya bisa menuntut kembali apa yang telah dicuri orang darimu, kau pun bisa balas mencurinya, atau bahkan mengambilnya secara paksa. Ia telah memutuskan apa yang harus ia lakukan. Satu-satunya masalah adalah bagaimana cara ia menemukan SiKong Zhai Xing”

Orang ini seperti angin, malah mungkin lebih sukar dilacak daripada angin. Orang yang tidak ingin mencari tentu akan sering bertemu dengannya, tapi yang ingin mencarinya tentu tidak akan pernah menemukannya.

Untunglah bagi Lu Xiao Feng, ia masih memiliki satu petunjuk. Ia masih ingat nama toko obat dari mana SiKong Zhai Xing tampak berjalan keluar.

SiKong Zhai Xing jauh lebih sehat daripada sebagian besar orang yang telah menjadi korbannya, tidak mungkin ia mencari semacam obat di toko itu. Maka, jika ia berjalan keluar dari toko obat itu, tentu toko obat itu setidaknya ada hubungannya dengan dirinya.

Huruf-huruf emas nama toko obat itu tampak berkilauan tertimpa sinar matahari. Di depan pintu ada seorang anak kecil yang sedang bermain bulu ayam. Saat ia melihat Lu Xiao Feng mendekat, ia segera memasukkan jarinya ke dalam mulut dan bersuit.

Dengan tiba-tiba, dari kedua ujung jalan, kiri dan kanan, selusin atau lebih anak-anak kecil yang tertawa cekikikan tampak berhamburan ke jalan dan berkumpul di depan Lu Xiao Feng.

Mereka masih mengenali Lu Xiao Feng, dan tentu saja, masih ingat pada lagu pendek yang bisa membunuh orang dengan cara membuatnya meledak karena marah atau sesak nafas karena tertawa itu.

Lu Xiao Feng pun tertawa cekikikan, ia yakin anak-anak ini hendak menyanyikan lagu “SiKong Zhai Xing, si peri monyet lagi.

Tapi anak-anak itu malah mulai bernyanyi sekuat-kuatnya: “Xiao Feng bukanlah burung, tapi kutu busuk. Kutu busuk berkepala runcing, suka menggali lubang seharian. Anjing buang air di lubang itu, maka dia pun makan kotoran. Setumpuk besar kotoran anjing yang bau, kutu busuk pun bisa terbang di atasnya.”

Baris-baris kalimat macam apa itu? Hampir tidak ada artinya.

Lu Xiao Feng tidak bisa memutuskan apakah ia harus tertawa ataukah marah. Sepertinya ia telah lupa kalau baris-baris lagu yang ia berikan dulu pun sama sekali tidak berirama.

Tentu saja ia tahu dari mana asal lagu itu. SiKong Zhai Xing tentu telah kembali ke tempat itu.

Setelah bersusah-payah, akhirnya ia berhasil menyuruh anak-anak itu berhenti. “Apakah laki-laki tua berambut putih itu datang kembali”” Ia segera bertanya, tidak mau mengambil resiko sedikit pun.

Anak-anak itu mengangguk. “Ia mengajari kami lagu itu, ia bilang lagu itu adalah lagu kesukaanmu dan jika kami menyanyikannya dengan baik, kau akan membelikan kami permen!” Mereka semua berteriak.

Lu Xiao Feng merasa dirinya hampir tertawa terbahak-bahak lagi. Siapa yang mau membelikan orang lain permen setelah dihina habis-habisan

Anak-anak itu mengedip-ngedipkan mata sambil menatapnya dengan penuh harap. “Bagaimana lagu kami tadi””

“Bagus, sangat bagus.” Lu Xiao Feng mengangguk.

“Kau akan membelikan kami permen””

Lu Xiao Feng menghela nafas dan tertawa pertanda mengaku kalah: “Ya, tentu saja.”

Apa saja yang orang lain tidak mau melakukannya, Lu Xiao Feng sering kali melakukannya. Bagaimana mungkin ia mengecewakan hati anak-anak ini” Ia segera pergi dan membelikan permen, permen yang amat banyak. Saat melihat keceriaan anak-anak itu, hatinya pun mencair.

Dengan permen di mulut, dua orang anak lalu menarik-narik bajunya.

“Kakek itu benar, kau adalah orang yang baik, Tuan!” Mereka bersorak.

“Ia benar-benar mengatakan kalau aku orang yang baik”” Lu Xiao Feng tampak acuh tak acuh.

“Ia bilang kau ini amat penurut, bahkan sejak kau masih bayi.”

Lu Xiao Feng makin tidak percaya: “Bagaimana ia tahu seperti apa diriku saat aku masih bayi””

“Ia melihatmu tumbuh, ia bahkan sering mencebokimu saat kau buang kotoran, tentu saja ia tahu.”

Lu Xiao Feng menggeram tanpa sadar, saat itu tidak ada yang lebih ingin ia lakukan daripada mengikat peri monyet itu dan memukulinya beberapa kali, mungkin lebih.

“Kakek itu tadi ada di sini, jika kau datang lebih cepat, Tuan, kau tentu akan bertemu dengannya.”

“Ke mana dia pergi””

“Ia terbang lagi, dan begitu tinggi! Tuan, kau bisa terbang lebih tinggi darinya””

Lu Xiao Feng merapikan leher baju dan lengan bajunya: “Aku tidak begitu yakin, mengapa kalian tidak memperhatikan saja dan melihatnya””

Karena SiKong Zhai Xing tidak berada di sana, tidak ada gunanya baginya untuk tinggal di sini lebih lama lagi.

Tapi anak-anak itu segera mencegahnya: “Tunggu sebentar, Tuan, ada satu hal lagi yang hendak kami beritahukan padamu.”

“Apa itu””

“Kakek itu meninggalkan sebuah bungkusan kecil untukmu. Ia bilang, kami harus memberikannya padamu jika kau membelikan kami permen dan membuangnya ke selokan jika kau tidak membelikan permen.”

Anak yang larinya tercepat telah berlari masuk ke dalam toko obat dan berjalan keluar dengan sebuah bungkusan di tangan. Tak pernah terduga oleh Lu Xiao Feng kalau di dalam bungkusan itu terdapat dua helai sabuk sutera.

Di bawah sinar matahari terbenam, sabuk-sabuk itu telah berubah warna menjadi kemerah-merahan. Selain dari sabuk, di dalam bungkusan itu juga terdapat secarik kertas: “Mencuri satu darimu, mengembalikan dua padamu. Aku seorang peri monyet, kau seekor kutu busuk. Kau ingin memukul pantatku? Aku akan membuatmu makan kotoran.”

Lu Xiao Feng tertawa, tertawa dengan keras: “Bajingan kecil itu benar-benar tidak waras, ya kan?”

Mengapa ia mengembalikan dua helai sabuk sutera lagi setelah mencuri satu? Dari mana asal sabuk sutera yang satunya lagi”

Lu Xiao Feng tidak mau lama-lama memikirkan pertanyaan itu. Sekarang kedua sabuk sutera ini telah berada di tangannya tanpa harus bersusah-payah, jelas ia lebih gembira daripada anak-anak itu saat mereka melihat banyaknya permen yang ia belikan untuk mereka: “Perhatikan sekarang, katakan siapa yang terbangnya lebih tinggi ya””

Masih sambil tertawa, ia bersalto tiga kali dan mendarat lagi di atas atap bangunan.

“Kau lebih tinggi! Kau terbang lebih tinggi daripada kakek itu!” Anak-anak itu bersorak.

Dengan mata yang jernih dan kepolosan mereka, mereka tidak akan pernah berdusta. Lu Xiao Feng merasa lebih enak, jika itu mungkin. Ia merasa seakan-akan sedang melayang, seakan-akan sepasang sayap baru saja tumbuh di tubuhnya dan ia pun seakan terbang ke bulan. Bulan mungkin belum terbit, tapi matahari terbenam telah menghilang di cakrawala.

Malam pun perlahan-lahan turun. Lu Xiao Feng kembali ke Rumah Makan Lezat dan Harum lewat pintu belakang. Melalui jendela, ia bisa melihat kalau lampu telah dinyalakan. Sinar lampu yang lembut itu membuatnya lebih mudah melihat Sun Xiu Qing dan Ou Yang Qing melalui jendela yang terbuka dari semak-semak bunga.

Mereka berdua memang cantik, dan di bawah sinar lampu, mereka bahkan terlihat lebih cantik. Pintu itu tidak tertutup rapat. Lu Xiao Feng sama sekali lupa untuk mengetuk karena hatinya terasa berat. Kapan Xi Men Chui Xue pergi?

Ia ingin bertanya, tapi tidak jadi. Ia tidak berani, juga tidak bisa menahan fikiran itu. Di atas meja ada tiga buah cangkir kosong dan satu poci arak. Ia menuangkan secangkir untuk dirinya sendiri dan perlahan-lahan meminum isi cangkir itu sebelum menuangkan secangkir lagi dan dengan cepat menghabiskan isinya lagi.

“Ia sudah pergi.” Tiba-tiba terdengar Sun Xiu Qing berkata.

“Aku tahu.”

“Ia bilang, ia ingin pergi lebih cepat agar ia bisa meninggalkan kota dan masuk lagi, sehingga orang-orang tidak mengira kalau selama ini ia sebenarnya telah berada di dalam kota!”

“Aku bisa menduganya.”

“Kuharap kau pun pergi ke sana lebih cepat, karena…karena ia tidak punya sahabat lain.”

Lu Xiao Feng tidak bisa berkata apa-apa dan Sun Xiu Qing pun tidak berkata apa-apa lagi. Ia berpaling dan menatap kegelapan melalui jendela. Malam pun perlahan-lahan turun, bulan purnama pelan-pelan telah naik ke angkasa. Angin pun terasa semakin dingin.

Setelah beberapa lama, Sun Xiu Qing bicara lagi dengan perlahan: “Malam ini amat indah, jauh lebih indah daripada biasanya. Tapi segera ia pun hilang.”

Ia menutup matanya dan air mata pun mengalir di pipinya. Setelah hening beberapa saat, ia meneruskan: “Mengapa sesuatu yang bagus dan indah selalu begitu cepat menghilang? Mengapa mereka tidak bisa tinggal di dunia ini sedikit lebih lama?”

Apakah ia sedang bertanya pada Tuhan? Atau ia bertanya pada Lu Xiao Feng? Lu Xiao Feng tak tahu harus menjawab apa. Tidak ada yang tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan ini.

Ia menghabiskan secangkir arak lagi sebelum ia bisa memaksakan sebuah senyuman di wajahnya: “Aku pergi juga. Aku berjanji akan membawanya pulang!”

Ia tidak berani berkata apa-apa lagi, juga tidak berani melirik pada Ou Yang Qing. Tadinya ia bermaksud memberikan sabuk sutera yang satunya lagi pada gadis itu agar ia pun bisa menyaksikan duel abad ini.

Tapi ia tidak jadi menyebut-nyebut tentang hal itu. Ia tahu Ou Yang Qing tentu lebih suka tinggal di sini untuk menemani Sun Xiu Qing. Ia faham bagaimana perasaan Sun Xiu Qing, perasaannya itu bukanlah cemas, takut, berat hati..

Kata-kata itu mungkin tidak cukup. Saat ini ia benar-benar berharap dapat membawa pulang Xi Men Chui Xue.

Tepat saat ia bangkit dan hendak pergi, Ou Yang Qing tiba-tiba menggenggam tangannya, memaksanya berpaling dan melihat matanya. Air matanya juga tampak menetes. Bahkan orang tolol pun bisa melihat perhatian dan kasih sayangnya.

Tentu saja Lu Xiao Feng bisa melihatnya juga, walaupun ia hampir tidak bisa percaya. “Bagaimana mungkin Ou Yang Qing yang sedang menatapnya saat ini sama dengan Ou Yang Qing sebelumnya yang sedingin es”

Mengapa ia tiba-tiba berubah? Lu Xiao Feng baru menyadari betapa sedikitnya pengetahuan yang ia miliki tentang wanita.

Untunglah ia cukup faham bahwa seorang wanita tidak akan pernah menatapnya seperti ini jika ia benar-benar membencinya, ia juga tak akan menggenggam tangannya. Tangan Ou Yang Qing terasa dingin, tapi tangan itu menggenggam tangannya dengan erat. Baru sekarang gadis ini benar-benar faham betapa sakit rasanya bagi seorang wanita jika ia kehilangan laki-laki yang dicintainya.

Mereka berdua saling bertatapan untuk beberapa lama. “Kau juga akan pulang?” Ia akhirnya bertanya dengan suara hampir berbisik.

“Aku akan pulang!”

“Kau berjanji?”

“Aku berjanji!”

Ou Yang Qing pelan-pelan berpaling dan ia melepaskan tangan Lu Xiao Feng dengan perlahan-lahan: “Aku akan menunggumu.”

“Aku akan menunggumu.” Perasaan yang berada di lubuk hati seorang laki-laki saat ia tahu ada seorang wanita yang menunggunya adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh perasaan apa pun.

“Aku akan menunggumu.” Betapa indah, hangat, dan ajaib kalimat itu. Lu Xiao Feng seperti mabuk, tapi ia bukan mabuk karena alkohol.

———————–

Bulan yang terang terlihat jauh di angkasa, dan Lu Xiao Feng sedang menghadapi satu teka-teki lagi ” Ada sehelai sabuk sutera lagi yang harus diberikan, tapi pada siapa ia harus memberikannya” Orang-orang yang patut menerima sabuk sutera itu tidak terlihat di mana-mana.

Jalan raya itu terlihat ramai, tetapi lebih ramai lagi di dalam rumah-rumah makan dan warung arak. Segala jenis orang sedang duduk di meja, membicarakan urusan mereka malam itu.

Lu Xiao Feng tidak perlu mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena ia tahu bahwa mereka sedang menunggu hasil duel malam ini. Tak diragukan lagi, banyak di antara mereka yang telah mempertaruhkan uang untuk Xi Men Chui Xue atau pun Ye Gu Cheng.

Duel ini bukan hanya mengguncangkan dunia persilatan, bahkan telah menembus hingga kedalaman masyarakat ibukota. Tidak pernah ada duel yang berdampak luas seperti ini sebelumnya.

Lu Xiao Feng merasa hal itu amat lucu. Ia yakin, jika Xi Men Chui Xue dan Ye Gu Cheng tahu tentang ini, mereka pun akan merasa hal ini amat lucu.

Saat itulah ia melihat seorang laki-laki berjalan keluar dari sebuah warung teh di seberang jalan. Orang ini bertubuh amat jangkung dan kurus, berpakaian mewah, gayanya pun amat berbudaya, dan mengenakan sehelai jubah biru yang indah. Di pelipisnya ada beberapa helai rambut perak. Dia tidak lain adalah “Majikan Kota Selatan”, Du Tong Xuan.

Ini mungkin bukan wilayah Li Yan Bei lagi, tapi tetap merupakan wilayah saingan Du Tong Xuan. Mengapa ia tiba-tiba muncul di sini? Dan bahkan tanpa membawa satu pun pengawal”

Lu Xiao Feng segera memburunya dan menepuk pundaknya.

“Sarjana Du, apa kabar””

Du Tong Xuan benar-benar terperanjat dan ia memutar kepalanya dengan segera. Ketika ia menyadari bahwa orang yang menyapanya itu adalah Lu Xiao Feng, ia lalu memaksakan sebuah senyuman yang palsu: “Lumayan, terima kasih!”

“Di mana pengawalmu”” Ia bertanya, menyebut laki-laki misterius yang berpakaian hitam itu.

“Ia sudah pergi!”

“Mengapa dia pergi””

“Kolam yang kecil tidak bisa menghidupi ikan besar, tentu saja ia pergi!”

Lu Xiao Feng diam-diam melihat ke sekelilingnya sebelum merendahkan suaranya dengan sengaja: “Jadi kau datang sendirian ke wilayah Li Yan Bei ini””

Du Tong Xuan tersenyum.

“Rasanya ini bukan wilayah Li Yan Bei lagi.” Ia menjawab dengan santai.

“Ia mungkin sudah mati, tapi ia masih memiliki sekelompok anak buah!”

“Setelah seseorang mati, bahkan isterinya pun boleh menikah lagi, apalagi ‘anak buah’!”

Lu Xiao Feng pun tertawa: “Tampaknya kau bukan hanya tahu kalau Bos Li sudah mati, tapi kau juga tahu bahwa orang-orangnya pun telah ditelan oleh Kuil Awan Putih!”

Tapi wajah Du Tong Xuan tetap tidak memperlihatkan emosi. “Di dalam bisnis kami, yang tidak bisa mendapatkan berita dengan cepat tidak akan berumur panjang.” Ia berkata dengan dingin.

“Mungkinkah Gu Qing Feng adalah temanmu””

“Ia mungkin bukan seorang teman, tapi setidaknya ia juga bukan seorang musuh!”

“Tak heran kau berada di sini sendirian.” Lu Xiao Feng tersenyum.

“Jika kau punya waktu, Tuan, kedatanganmu selalu diterima di wilayahku. Dan kau boleh membawa berapa banyak pun orang yang kau inginkan.”

Bola mata Lu Xiao Feng pun berputar-putar dan sebuah ide muncul di benaknya: “Karena kau telah memasang taruhan begitu besar untuk Ye Gu Cheng, aku berani bertaruh kalau kau sebenarnya ingin sekali menyaksikan langsung duel malam ini!”

Du Tong Xuan tidak mengakui, juga tidak menyangkal.

“Aku punya satu sabuk sutera, jika kau tertarik, aku bisa memberinya padamu!”

Du Tong Xuan tidak menjawab selama beberapa saat, seakan-akan ia sedang mempertimbangkan tawaran itu.

“Bos Bu Ju pun berada di warung teh tadi.”

“Oh””

“Mengapa kau tidak memberikan sabuk sutera itu padanya?”

Lu Xiao Feng terdiam. Orang lain mencoba segalanya untuk mendapatkan sabuk sutera ini, tapi sekarang saat ia menawarkannya pada Du Tong Xuan secara gratis, secara tak terduga malah ditolak.

Du Tong Xuan merangkap tangannya dan memberi hormat sekilas pada Lu Xiao Feng. “Jika tidak ada yang lain, Tuan, aku harus pergi. Selamat tinggal.”

Dan hanya begitu saja, ia pun pergi, bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun tanda-tanda ingin tinggal sebentar.

Dengan bingung Lu Xiao Feng berdiri di sana seperti orang tolol selama beberapa saat sebelum tiba-tiba mengangkat kepalanya dan melihat bahwa Bu Ju baru saja berjalan keluar dari warung teh itu. Bu Ju juga melihatnya serta sabuk sutera di pundaknya itu. Tiba-tiba ia tersenyum.

“Kau belum menjual seluruh sabukmu?” Senyuman itu tampak amat ganjil, seperti ada tanda-tanda ejekan di dalamnya.

“Sabuk sutera ini bukan untuk dijual, tapi bisa diberikan pada siapa pun. Jika kau masih menginginkannya, aku akan memberikannya padamu.”

Bu Ju kembali menatapnya, senyumannya bahkan semakin ganjil: “Sayangnya aku tidak suka ber-kowtow!”

“Tak perlu ber-kowtow.”

“Benarkah””

“Tentu saja.”

“Dan aku pun benar-benar tidak menginginkannya!” Ekspresi wajahnya tiba-tiba tampak tertekuk dan ia mengibaskan lengan bajunya pada Lu Xiao Feng dan berjalan pergi, bahkan tidak melirik ke arah Lu Xiao Feng lagi.

Kembali Lu Xiao Feng terdiam. Ini adalah orang yang sama dengan orang yang tadi siang bersedia menukarkan 3 buah cincin giok yang amat besar dengan sehelai sabuk sutera, tapi sekarang ia bahkan tidak menginginkannya walaupun gratis.

Lu Xiao Feng tidak faham apa yang sedang terjadi, tapi ia tidak punya waktu untuk merenungkannya. Bulan purnama telah naik dan ia harus pergi ke Kota Terlarang sesegera mungkin. Ia tidak boleh terlambat.

Aula Keselarasan Utama berada di dalam Gerbang Keselarasan Utama. Di luar Pintu Gerbang Keselarasan Utama terdapat Sungai Sabuk Giok Emas yang, di bawah sinar bulan, terlihat seperti sehelai sabuk giok emas.

Lu Xiao Feng berjalan melalui Gerbang Timur, Gerbang Nenek Moyang, dan Gerbang Tengah yang terletak di bawah Menara Pengawas Naga dan Phoenix sebelum akhirnya tiba di bagian paling terlarang dari Kota Terlarang ini, kota di dalam kota.

Dalam perjalanan ke tempat itu, ada berpeleton-peleton penjaga dan pos penjagaan di setiap beberapa langkah. Amatlah sukar bagi siapa pun untuk tiba di sana tanpa membawa sabuk sutera, dan walaupun mereka bisa sampai di sana, mustahil bagi mereka untuk maju lebih jauh melewati tempat yang seperti medan ranjau ini.

Walaupun tidak terlihat satu pun bayangan manusia pada saat itu, tentu ada seorang jago kungfu dalam kelompok Penjaga Istana itu yang menunggu untuk menjebakmu di setiap sudut yang gelap.

Segala macam naga yang bersembunyi dan harimau mendekam ada di antara Penjaga Istana, beberapa di antaranya merupakan jago-jago kungfu yang mewarisi ilmu pusaka keluarga mereka, ada yang merupakan pendekar-pendekar muda yang ambisius dan pemberani, dan ada pula beberapa penjahat yang berusaha sembunyi dari musuh-musuhnya. Ujung-ujungnya, tidak ada orang di dunia ini yang berani memandang rendah kemampuan mereka. Di bawah sinar bulan, terlihat seseorang duduk di jembatan yang menghubungkan kedua tepi parit itu. Kepalanya terlihat bersinar-sinar.

“Hwesio Jujur.” Lu Xiao Feng segera berlari menghampirinya.

“Kau tiba di sini sebelum waktunya.” Ia tersenyum.

Hwesio Jujur sedang menggigit sepotong roti hangat waktu ia melihat Lu Xiao Feng berlari menghampiri. Dengan tergesa-gesa ia membungkus roti itu dan memasang tampang tak bersalah pada Lu Xiao Feng, berharap ia tidak melihat rotinya tadi.

Lu Xiao Feng tertawa: “Melihatnya berada di tanganmu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku sadar kalau aku tadi lupa makan malam lagi.”

Hwesio Jujur memutar-mutar bola matanya: “Kau hendak mencoba menipu roti ini lagi dariku””

Lu Xiao Feng balas menatapnya: “Kapan aku pernah berdusta padamu” Aku bertukar dua helai sabuk sutera untuk satu roti denganmu. Kau merasa dirampok””

Hwesio Jujur memandang sekelilingnya sebentar sebelum tiba-tiba tersenyum pula: “Aku akan berkata jujur, aku punya tiga potong roti lagi padaku, ditambah setengah potong. Kau tertarik untuk menukarnya””

“Ya.”

“Apa yang akan kau gunakan sebagai alat tukarnya””

“Semua yang aku punya, aku membawanya. Apa pun yang kau inginkan, aku akan memberikannya padamu!”

Hwesio Jujur menimbang-nimbang beberapa kali.

“Sepertinya yang kau punya tidak lebih banyak dariku!” Ia tertawa, menertawakan keadaannya yang sama menyedihkannya dengan Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng pun tertawa.

“Setidaknya aku punya satu kumis lebih banyak darimu, belum lagi beberapa ribu utas rambutku.”

“Aku tidak menginginkan rambut atau kumismu, aku hanya ingin kau berjanji satu hal padaku, maka setengah bagian dari makanan ini akan menjadi milikmu.”

“Apa itu””

“Bila lain kali kau bertemu denganku, kau pura-pura tidak mengenalku. Dengan begitu, akhirnya aku tentu bisa menghabiskan hari-hariku dalam ketenangan.”

Lu Xiao Feng mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak dan menepuk-nepuk pundak Hwesio Jujur sambil duduk di sampingnya, ia masih tidak mampu mengendalikan tawanya.

“Jadi bagaimana?”

“Tidak.”

“Kau tidak menginginkan rotiku?”

“Ya.”

“Lalu mengapa tidak””

“Karena aku sudah punya sepotong roti hangat.”

Hwesio Jujur tertegun.

“Dari mana kau mendapatkannya””

“Dari SiKong Zhai Xing!”

“Si Kong Zhai Xing”” Hwesio Jujur semakin bingung.

Lu Xiao Feng tersenyum.

“Jika bukan karena sesuatu hal kecil yang kuambil dan kutiru darinya, bagaimana mungkin aku bisa mengambil rotimu” Jadi tentu saja roti ini berasal darinya!”

Hwesio Jujur tidak berkata apa-apa lagi, sekarang ia sadar bahwa rotinya telah berkurang satu. Roti itu telah berada di tangan Lu Xiao Feng, muncul begitu saja, seperti sulap.

Hwesio Jujur menghela nafas.

“Ia tidak mempelajari yang lain, ia malah belajar mencuri.” Ia bergumam.

“Setidaknya pencuri tak pernah kelaparan.” Lu Xiao Feng tertawa sambil menyumpalkan setengah bagian roti ke dalam mulutnya. “Apa yang kau tunggu di sini””

“Menunggu Kaisar pergi tidur.” Hwesio Jujur menjawab dengan muka yang kaku.

“Jadi kita belum bisa masuk””

“Belum.”

“Berapa lama kita harus menunggu””

“Kita akan tahu bila waktunya telah tiba!”

Lu Xiao Feng mundur dan memandang ke sekelilingnya dengan lebih teliti.

“Apakah Xi Men Chui Xue dan Ye Gu Cheng pun belum tiba””

“Aku tidak tahu.”

“Bagaimana dengan yang lain””

“Aku tidak tahu.”

“Kau melihat orang lain””

“Aku melihat satu setengah manusia.”

“Satu setengah””

“Yang satu adalah Yin Xian, dialah yang menyuruhku untuk menunggu di sini!”

“Siapa yang setengahnya lagi””

“Kau, paling banyak kau hanya bisa dihitung sebagai setengah manusia.”

Sekali lagi Lu Xiao Feng tertawa. Tiba-tiba, dari balik kegelapan, sesosok bayangan muncul. Ia melayang di udara, memperlihatkan gerakan “Delapan Langkah Mengejar Jangkrik” yang berasal dari aliran lurus. Setelah beberapa kali lompatan, bayangan itu telah berada di hadapan mereka. Mengenakan jubah hijau, rambut perak yang berkibar-kibar, ia tidak lain adalah pemimpin Sekte Wu Dang, Tosu Kayu.

“Kau benar-benar jujur.” Lu Xiao Feng berkata sambil tersenyum. “Jadi kau tidak menelan sendiri apa yang menjadi hak teman pendetamu.”

“Aku hanya tahu cara menelan roti, sayangnya roti itu pun sekarang telah dicuri.”

Tosu Kayu melirik Lu Xiao Feng dan pura-pura mengerutkan keningnya: “Orang macam apa yang begitu rendahnya hingga mencuri roti seorang hwesio””

“Bila punya kesempatan, aku pun akan mencuri dari seorang tosu.”

Tosu Kayu tersenyum. “Setidaknya orang ini jujur, ia mengaku tanpa dipaksa.”

Saat ia berkata begitu, sebuah bayangan lain pun muncul.

Lu Xiao Feng melirik dan mengerutkan keningnya: “Pada siapa kau berikan sabuk sutera yang lainnya””

“Yan Ren Ying.”

“Orang ini bukan Yan Ren Ying.” Tosu Kayu segera menyimpulkan.

“Juga bukan Tang Tian Zong, apalagi Si Ma Zi Yi.”

Gerakan orang ini amat unik, saat mendekat lengan bajunya tampak berkibar-kibar tertiup angin. Seakan-akan ia melayang bersama angin tanpa perlu mengeluarkan tenaga sedikit pun.

Yan Ren Ying, Tang Tian Zong, dan Si Ma Zi Yi tidak mampu melakukan gerakan seperti itu. Kenyataannya, termasuk Lu Xiao Feng, tidak lebih dari tiga sampai lima orang di dunia persilatan yang mampu melakukan hal tersebut.

“Siapa ini?” Hwesio Jujur bertanya-tanya.

“Ia bukan manusia, bahkan bukan setengah manusia. Ia adalah peri monyet.” Lu Xiao Feng menjawab.

Sebelum ucapannya selesai, bayangan itu melesat ke arah mereka seperti roket, pakaiannya meraung-raung terhembus angin, seakan-akan ia bermaksud untuk menabrak Lu Xiao Feng. Tapi tepat sebelum ia bertubrukan dengan Lu Xiao Feng, tiba-tiba ia berjumpalitan ke belakang sebanyak tiga kali di udara dan perlahan-lahan mendarat di atas tanah. Ia adalah seorang laki-laki tua berambut putih, yang terbungkuk-bungkuk karena menahan batuk yang parah.

“Kalian berdua tahu siapa peri monyet ini?” Lu Xiao Feng berkata dengan muka yang kaku.

“SiKong Zhai Xing, si peri monyet. Aku mendengar lagu itu sore ini.” Tosu Kayu berkata sambil tersenyum.

“Tampaknya samaranku benar-benar tidak berguna!” SiKong Zhai Xing menghela nafas.

“Seharusnya kau tidak memperlihatkan ilmu meringankan tubuhmu itu, selain dari SiKong Zhai Xing, siapa lagi yang mampu melakukannya?” Tosu Kayu berujar.

“Aku.” Lu Xiao Feng menukas.

“”Setumpuk besar kotoran anjing, bahkan kutu busuk pun bisa terbang di atasnya.”” SiKong Zhai Xing bernyanyi sambil tersenyum.

Lu Xiao Feng pura-pura tidak mendengarnya dan, malah, menatap sabuk sutera yang ada padanya: “Kau mencuri salah satu sabukku, dan memberiku dua.”

“Kau tahu aku, selalu mengingat sahabat. Saat aku tahu kau lupa untuk menyisakan satu sabuk untuk dirimu sendiri, aku pun pergi dan menemukan dua untukmu.”

“Dari mana kau mendapatkannya””

“Jangan lupa kalau aku adalah si Raja Pencuri!”

“Apakah kau mencuri miliknya Si Ma Zi Yi dan Tang Tian Zong””

SiKong Zhai Xing hanya tertawa dan tiba-tiba menunjuk ke kejauhan: “Mengapa kau tidak melihat siapa yang datang itu””

Dua sosok bayangan kembali mendekat dari kejauhan. Orang yang di sebelah kiri tampaknya selalu mengangkat bahunya di udara, seakan-akan ia bermaksud untuk melepaskan senjata rahasia, menggunakan ilmu meringankan tubuh milik keluarga Tang. Orang yang di sebelah kanan tampak amat berat dan canggung, seakan-akan ia telah menghabiskan terlalu banyak waktu dalam berlatih tenaga luar. Jika Tang Tian Zong tidak memperlambat kecepatannya, ia tentu akan tertinggal jauh di belakang.

“Tampaknya tuan muda keluarga Tang telah berada di sini!” Hwesio Jujur berujar.

“Siapa yang satunya lagi?” Tosu Kayu bertanya.

“Bu Ju!” Hwesio Jujur menjawab. Itu memang Bu Ju. Sekali lagi senyuman mengejek pun muncul di wajahnya saat ia melihat kehadiran Lu Xiao Feng, seakan-akan ia berkata: “Kau tidak memberiku sabuk, aku tetap berada di sini.”

Anehnya, ada sehelai sabuk sutera terikat di pinggangnya. Di bawah sinar bulan, warna sabuk itu berubah-ubah dari ungu terang ke perak, tergantung sudutnya. Jelas sabuk itu terbuat dari bahan yang sama dengan sabuk-sabuk sutera lainnya. Sabuk sutera yang diterima Lu Xiao Feng berjumlah 6 buah. Tapi, dengan dua helai yang sekarang ada pada Lu Xiao Feng, satu pada Hwesio Jujur, Tosu Kayu, dan SiKong Zhai Xing, ditambah dua yang ada pada mereka, semuanya ada 7 helai.

Bagaimana mungkin 6 sabuk bisa menjadi 7? Dari mana asal sabuk yang satunya? Wajah Bu Ju terlihat bangga saat ia melangkah ke atas jembatan itu dengan angkuh, tapi wajah Tang Tian Zong terlihat kaku saat ia melirik ke arah Lu Xiao Feng. Lu Xiao Feng tahu bahwa mereka tidak akan bercerita walaupun ia bertanya; di samping itu, ia tidak punya waktu untuk bertanya.

Sebuah bayangan melesat keluar dari dalam Gerbang Keselarasan Utama. Sebatang pedang panjang tampak tersandang di punggungnya dan ia mengenakan seragam Penjaga Istana. Seragam itu terlihat agak berantakan, jelas ia baru saja bersenang-senang sedikit. Tapi gerak-geriknya masih tetap tangkas. Ia tak lain daripada salah seorang Komandan Utama Pengawal Istana, Yin Xian.

Wajahnya juga tampak kaku dan ekspresinya pun muram.

“Aku tahu semua yang ada di sini adalah jago-jago dunia persilatan, tapi kuharap setiap orang pun sadar tempat macam apa ini. Ini bukanlah warung teh, jika kalian ingin berbincang-bincang, maka kalian telah datang ke tempat yang salah.” Ia bicara seperti seorang atasan pada bawahannya, tetapi semua orang terpaksa harus mendengarkan. Yin Xian dan kawan-kawannya telah mengambil resiko dan tanggung-jawab yang amat besar dalam hal ini, jadi mereka tentu sedikit merasa tertekan. Di samping itu, ini memang bukan tempat untuk berbincang-bincang.

Setelah gembar-gembor itu, ekspresi Yin Xian sedikit melunak saat ia menatap 6 orang yang hadir: “Sekarang semua orang telah ada di sini, silakan masuk. Setelah melewati altar besar itu, ada sebuah aula yang amat besar. Itulah Aula Keselarasan Utama.”

“Apakah tempat itu juga merupakan ruangan singgasana””

Yin Xian mengangguk.

“Bangunan tertinggi di Istana Kerajaan adalah Aula Keselarasan Utama. Jika dua jagoan itu akan berduel di puncak Kota Terlarang, mungkin sebaiknya setiap orang menunggu di sana.” Ia melirik Bu Ju, dan memandang orang tua bungkuk itu, dan meneruskan dengan dingin. “Karena kalian telah bersusah-payah sampai di sini, ilmu meringankan tubuh kalian tentu bagus. Tapi aku harus memperingatkan semua orang bahwa ini bukanlah atap bangunan biasa. Cukup sukar untuk naik ke atasnya, tapi genteng atap itu semuanya merupakan genteng kaca yang licin. Jadi setiap orang harus berhati-hati dalam melangkah karena kita semua akan menanggung akibatnya jika salah seorang dari kita terjatuh dari atas atap.”

Ekspresi wajah Bu Ju berubah menjadi muram, senyuman itu tidak terlihat lagi. Bahkan SiKong Zhai Xing tampak sedikit menarik nafas dalam-dalam. Hingga saat ini Lu Xiao Feng bahkan tidak punya kesempatan untuk bicara.

Ia baru saja hendak bicara saat Yin Xian memotongnya: “Jangan naik dulu ke atas atap, ada seseorang yang sedang menunggumu.”

“Siapa?”

“Jika kau ingin bertemu dengannya, ikuti aku.”

Sambil mengangkat bahunya sedikit, ia pun melayang pergi, seakan-akan ia ingin menunjukkan sedikit kemampuannya di depan semua orang.

Ia cukup cepat, hanya dengan satu lompatan sederhana, ia telah melesat sejauh 8 m. Lu Xiao Feng mengikutinya dalam jarak dekat, tidak ingin terlalu menonjolkan dirinya. Maka Yin Xian berusaha lebih keras untuk menjauh dan ia pun berjumpalitan dengan menggunakan gerakan “Burung Walet Meninggalkan Awan”.

Tapi saat ia membuat gerakan ini, seseorang dengan perlahan dan tanpa bersusah-payah melesat melewatinya dengan meninggalkan sedikit suara desiran. Ia tidak lain daripada laki-laki tua yang bungkuk itu.

Saat mereka menerobos Gerbang Keselarasan Utama, sikap dan tingkah laku Lu Xiao Feng pun benar-benar berubah. Ia bukan hanya tidak tersenyum-senyum lagi, bahkan nafasnya pun semakin perlahan. Keagungan dan kekuasaan Kaisar tetap merupakan sesuatu yang tidak berani disepelekan oleh orang-orang dunia persilatan.

Bahkan Lu Xiao Feng pun tidak berani. Dua baris tangga di depan Aula itu tampak seperti tangga biasa yang terbuat dari beberapa lusin lempengan batu. Tapi bila membayangkan adegan saat Kaisar mengadakan sidang bersama pejabat-pejabat tinggi dan jenderal-jenderal yang berdiri dengan serius di kedua sisi tangga sambil menunggu giliran untuk menjawab setiap isyarat dan perintah Kaisar, suhu tubuh Lu Xiao Feng pun naik karena perasaan tegang.

Semua jenius, orang luar biasa, pendekar dan pemimpin bersedia memeras otaknya, mengorbankan tubuhnya, dan ada pula yang bahkan bersedia untuk mengorbankan nyawanya agar dapat berdiri di atas tangga ini.

Aula Keselarasan Utama bahkan lebih menakjubkan. Bila kita menengadah, atap yang berkilauan tampak seperti berada di tengah awan. Di samping Aula Keselarasan Utama ada Aula Keselarasan Abadi. Di samping Aula Keselarasan Abadi, tepat di sebelah barat tangga di luar Gerbang Nirwana, menempel ke dinding utara, ada tiga buah bangunan beratap datar. Pintu-pintunya yang bercat hitam tampak tertutup rapat dan melalui jendela, sebuah lampu yang redup berkerlap-kerlip bisa terlihat. Sinarnya yang redup itu menerangi sebuah logam pipih berwarna putih yang tergantung di atas pintu. Di atas logam itu ada 5 patah kata yang menyuruh orang untuk menghentikan langkahnya: “Siapa yang masuk akan dieksekusi!”

Yin Xian membawa Lu Xiao Feng ke sana dan berhenti tepat di depan pintu itu: “Seseorang menunggumu di dalam, masuklah!”

Lu Xiao Feng segera menggelengkan kepalanya.

“Aku masih bisa membaca, tahu.” Ia berkata dengan sebuah senyuman yang agak lemah. “Aku tidak ingin kehilangan kepalaku.”

Yin Xian pun tersenyum.

“Aku yang menyuruhmu masuk, apa pun yang terjadi, aku akan menanggungnya. Apa lagi yang kau takutkan?”

Lu Xiao Feng memandangnya dan memutuskan bahwa ia tidak terlihat seperti orang yang bermaksud untuk mengirimkan dirinya ke dalam perangkap. Tapi di sini, di tempat yang begini penting dan khidmat, bahkan Lu Xiao Feng pun tetap harus berhati-hati. Ia lebih suka berdiri di luar saja.

Yin Xian kembali tersenyum: “Kau bisa menebak siapa yang menunggumu di dalam?”

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya. “Siapa?”

“Xi Men Chui Xue.”

Lu Xiao Feng terperanjat sebentar.

“Bagaimana ia bisa masuk””

Yin Xian memandang ke sekelilingnya untuk meyakinkan tidak ada orang di sekitar mereka sebelum ia mendekatkan tubuhnya.

“Kami semua bertaruh untuknya.” Ia berbisik. “Maka tentu saja kami akan memperlakukannya dengan baik dan memberinya waktu istirahat agar ia memiliki tenaga untuk menghadapi Malaikat Luar Langit itu.”

Lu Xiao Feng pun tersenyum.

“Tempat ini mungkin merupakan tempat terlarang, tapi Yang Mulia telah pergi tidur dan sidang pagi masih lama. Jadi selain kami Komandan-Komandan Utama, tidak ada orang yang akan datang ke sini!”

Masih sambil tersenyum, ia menepuk pundak Lu Xiao Feng. “Jadi hentikan kekhawatiranmu dan masuklah. Jika kau punya beberapa gerakan rahasia untuk menangkal gerakan Ye Gu Cheng, berikanlah dia beberapa petunjuk. Kami semua berada di fihaknya!”

Ia mungkin tadi agak menyombongkan pangkatnya, tapi sekarang ia seperti berubah menjadi orang yang benar-benar berbeda. Bahkan senyumannya pun tampak lebih ramah, ia bahkan membukakan pintu itu untuk Lu Xiao Feng.

Sambil tersenyum, Lu Xiao Feng pun balas menepuk pundaknya. “Bila kau punya waktu senggang, aku akan mengundangmu minum.”

Ruangan itu tidak besar, juga tidak ada perabotan yang mewah, tapi masih memiliki kesederhanaan yang alami dan menyiratkan perasaan terakhir, semangat dan nasib dari berpuluh-puluh atau beratus ribu nyawa yang nasibnya diputuskan di sini dengan hanya segoresan pena.

Saat seseorang, siapa pun orangnya, memasuki ruangan itu untuk pertama kalinya, tentu ia akan sangat gugup dan tegang. Saat Lu Xiao Feng berjalan masuk dengan perlahan, jantungnya pun berdebar lebih cepat dari biasanya.

Sambil menggendong tangan, Xi Men Chui Xue berdiri dalam bisu di dekat sebuah jendela kecil, pakaiannya putih seperti salju. Tentu saja ia mendengar seseorang membuka pintu dan masuk, tapi ia tidak berpaling, seakan-akan ia telah tahu bahwa orang itu tentu Lu Xiao Feng. Lu Xiao Feng pun tidak bicara.

Pintu telah tertutup dan sinar lampu yang redup tampak berkerlap-kerlip dalam kegelapan dan ruangan yang lembab itu. Tiba-tiba ia menyadari betapa dingin tangan dan kakinya. Ia benar-benar menginginkan secangkir arak. Tentu saja tidak ada arak di ruangan ini, tapi berapa banyak darah, air mata, dan keringat yang telah mengalir di sini?

Lu Xiao Feng menghela nafas dalam hati. Ia akhirnya faham bahwa ia bukanlah orang yang paling banyak menghadapi masalah di dunia ini, orang-orang yang datang ke ruangan ini setiap harinya memiliki masalah yang jauh lebih banyak daripada dirinya.

Xi Men Chui Xue tetap tidak berpaling, tapi tiba-tiba suaranya terdengar memecahkan kesunyian: “Kau tadi kembali ke tempatku?”

“Aku baru saja dari sana.”

“Kau bertemu dengannya?”

“Mm””

“Bagaimana keadaannya””

Lu Xiao Feng tersenyum lemah.

“Seharusnya kau yang lebih tahu dariku, ia bukanlah wanita yang semangatnya lemah, Tiga Pemberani dan Empat Perempuan Cantik tidaklah kurang terkenalnya dibandingkan dengan kita.”

Ia mungkin sedang tersenyum di wajahnya, tapi hatinya karam. Di saat yang genting sebelum duel, saat hidup atau mati begitu dekat dengan dirinya, orang ini masih memikirkan isterinya, ia bahkan tidak sedang memegang pedangnya.

Lu Xiao Feng merasa hampir tidak percaya kalau ini adalah Xi Men Chui Xue yang selama ini dikenalnya. Tapi ia pun agak terhibur karena akhirnya, Xi Men Chui Xue telah berubah menjadi manusia yang terdiri dari darah dan daging.

Sekonyong-konyong, Xi Men Chui Xue berputar. “Apakah kita bersahabat?” Ia bertanya, sambil menatap mata Lu Xiao Feng.

“Ya.”

“Jika aku mati, maukah kau menjaganya?”

“Tidak.”

Wajah Xi Men Chui Xue berubah menjadi pucat pasi. “Kau tidak bersedia?”

“Tidak, karena kau tidak bersikap seperti sahabatku lagi. Sahabatku adalah seorang laki-laki sejati dan tidak pernah berharap mati, ia malah selalu berharap untuk hidup.”

“Aku tidak berharap mati.”

“Tapi satu-satunya hal yang ada di benakmu dan di hatimu adalah kematian.” Lu Xiao Feng berkata dengan dingin. “Mengapa kau tidak memikirkan tentang kejayaanmu dulu? Mengapa kau tidak memikirkan cara untuk mengalahkan Ye Gu Cheng?”

Xi Men Chui Xue menatapnya dengan marah, menatapnya untuk beberapa lama sebelum ia menunduk dan menatap pedang yang berada di atas meja. Tiba-tiba ia meraih pedang itu dan menghunusnya.

Gerakan tangannya saat menghunus pedang tadi masih tetap cepat, masih indah, tidak mungkin ada orang di dunia ini yang bisa menandinginya.

Teknik Si Ma Zi Yi saat menghunus pedangnya mungkin juga amat cepat dan cerdik, tapi dibandingkan dengan Xi Men Chui Xue, ia seperti seorang tukang jagal yang menarik goloknya dari seekor bangkai babi.

“Kau sahabatku?” Lu Xiao Feng tiba-tiba balas bertanya.

Xi Men Chui Xue terdiam sebelum akhirnya mengangguk.

“Kau percaya apa yang kukatakan padamu?”

Kembali Xi Men Chui Xue mengangguk.

“Maka akan kukatakan padamu, aku hampir yakin bahwa aku bisa menghadapi serangan dari jago pedang mana pun di dunia ini, kecuali satu orang.” Ia menatap langsung ke mata Xi Men Chui Xue, tanpa berkedip sekali pun, dan meneruskan dengan lambat. “Orang itu adalah kau!”

Xi Men Chui Xue menunduk dan menatap pedang di tangannya, sebuah warna merah tua yang aneh tiba-tiba muncul di wajahnya yang pucat. Sinar lampu tampak lebih terang, sinar pedang itu pun semakin terang.

Segera Lu Xiao Feng merasakan hawa pedang yang mencorong, begitu mencorongnya hawa tersebut sehingga matanya menjadi silau. Ia tahu kepercayaan diri Xi Men Chui Xue telah muncul kembali.

Bagi orang yang sedang tidak bersemangat, kata-kata pembangkit semangat dari seorang sahabat mungkin jauh lebih bermanfaat daripada semua obat di dunia ini digabungkan menjadi satu.

Secercah senyuman pun muncul di wajah Lu Xiao Feng. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia diam-diam berputar dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Di luar, bulan bergantung di angkasa seperti cermin.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: