Kumpulan Cerita Silat

11/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:55 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 09: Sabuk-Sabuk Yang Membawa Masalah
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Tanggal 15 September, siang hari. Sinar matahari tampak berkilauan saat menyinari kota itu. Lu Xiao Feng berjalan keluar dari Jalan Ikan Mas dan mulai menelusuri jalan raya yang kuno tetapi tetap ramai itu. Walaupun ia tidak tidur malam sebelumnya, ia masih tampak penuh energi dan semangat.

Laki-laki dan perempuan berjalan mondar-mandir di jalanan dan pedagang besar dan kecil di kedua sisi jalan sedang sibuk menawarkan barang dagangannya. Walaupun ia lebih sering terlibat dalam masalah daripada yang bisa ia hitung, hatinya tetap dipenuhi oleh perasaan gembira. Karena ia menyukai manusia.

Ia menyukai wanita, ia menyukai anak-anak, ia suka bersahabat, ia selalu punya hati yang dipenuhi oleh kehangatan untuk semua orang. Orang-orang pun banyak yang menyukai dirinya. Pakaian di badannya mungkin agak kotor, tapi matanya tetap bersinar-sinar, ia tetap berdiri tegak dan bangga seperti sebelumnya. Wanita mana pun, dari usia 14 hingga 40 tahun, sekali melirik dirinya, diam-diam tentu akan meliriknya lagi untuk kedua kalinya.

Ia telah melepaskan sabuk-sabuk yang terlilit di pinggangnya dan meletakkannya di atas pundaknya. Dari 6 sabuk sutera, ia telah memberikan 2: satu pada Hwesio Jujur, satu lagi pada Tang Tian Zong.

Sekarang ia hanya berharap dapat menyingkirkan ke-4 sabuk sisanya sesegera mungkin. Satu-satunya pertanyaan yang menghalang adalah ia tidak tahu kepada siapa ia harus menyerahkan sabuk-sabuk itu. Di depan sana ada sebuah pertunjukan monyet yang baru saja hendak dimulai dan anak-anak segera mengerumuninya.

Seorang laki-laki tua berambut perak, sambil bertopang pada sebatang tongkat, berjalan perlahan-lahan keluar dari sebuah toko obat dan hampir ditabrak jatuh oleh dua orang anak kecil yang sedang berlari-lari ke tempat pertunjukan monyet itu.

Lu Xiao Feng segera berlari menghampiri dan memapahnya, mencegahnya jatuh.

“Bagaimana keadaanmu, Tuan?” Ia tersenyum.

Laki-laki tua itu terbungkuk-bungkuk, sambil berusaha mengambil nafas. Tiba-tiba, ia memalingkan kepalanya ke arah Lu Xiao Feng, mengedipkan mata, menjulurkan lidahnya, dan membuat muka setan.

Lu Xiao Feng terheran-heran. Ia telah banyak melihat kejadian-kejadian aneh, tapi belum pernah ia bertemu laki-laki tua yang membuat muka setan pada dirinya.

Waktu ia akhirnya memperhatikan mata laki-laki tua itu, ia hampir menjerit. Si Kong Zhai Xing! Ternyata laki-laki tua ini sebenarnya adalah samaran si “Raja Pencuri” yang tiada tanding dan tiada banding itu.

Walaupun ia berusaha untuk tidak menjerit, ia lalu mengerahkan sedikit tenaga di tangannya dan menjepit lengan atas si raja maling dengan keras.

“Bajingan kecil, kau pun muncul juga?” Ia berkata dengan suara yang rendah.

“Hehe, karena bajingan besar sepertimu telah muncul, mengapa bajingan kecil sepertiku tidak boleh berada di sini?”

Lu Xiao Feng menambah sedikit tenaga lagi dalam jepitannya: “Kau hendak mencuri salah satu sabuk suteraku?”

Wajah SiKong Zhai Xing berkerut-kerut karena kesakitan dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan marah.

“Tidak?”

“Tidak, aku benar-benar tidak mengincar sabuk suteramu itu.”

Melihat tampangnya, Lu Xiao Feng akhirnya melepaskan jepitannya dan tersenyum.

“Kau sudah berganti profesi?”

“Tidak!” SiKong Zhai Xing menjawab, ia menghela nafas dan menggosok-gosok pundaknya itu.

“Jika kau belum berganti profesi, lalu mengapa kau tidak mencuri?”

“Aku sudah punya satu, mengapa aku masih harus mencuri satu lagi?”

“Apa yang sudah kau punyai?”

“Sehelai sabuk sutera.”

Lu Xiao Feng terdiam sebentar.

“Kau sudah punya sehelai sabuk sutera?”

“Ya.”

“Dari mana kau mendapatkannya?”

SiKong Zhai Xing tersenyum.

“Aku baru saja mengambilnya dari seorang teman.”

“Dan teman itu adalah aku?”

SiKong Zhai Xing menghela nafas: “Kau tahu bahwa aku tidak mempunyai teman sebanyak itu.”

Lu Xiao Feng tersentak dan mengulurkan tangan, berusaha mencengkeram tangan SiKong Zhai Xing lagi.

Tapi SiKong Zhai Xing tidak mau membiarkan dirinya mencengkeram tangannya lagi dan ia segera berlari menjauh.

“Dari empat helai sabuk yang ada padamu, aku hanya mengambil satu, itu berarti aku sudah cukup murah hati, apakah kau tidak puas?” ia bertanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Lu Xiao Feng menatapnya dengan marah, tapi kemudian tiba-tiba ikut tertawa pula.

“Dulu kukira kau adalah orang yang cerdas, tapi ternyata kau hanya orang tolol!”

SiKong Zhai Xing mengedip-ngedipkan matanya, menunggu apa yang hendak ia katakan selanjutnya.

“Apakah kau telah bertanya pada dirimu sendiri mengapa aku seenaknya saja membawa-bawa sabuk sutera ini jika sabuk-sabuk ini adalah sabuk-sabuk sutera yang sesungguhnya?”

“Apakah sabuk sutera ini palsu?” SiKong Zhai Xing hampir menjerit.

Lu Xiao Feng mengedipkan mata padanya, menjulurkan lidahnya, dan balas membuat muka setan pada dirinya.

SiKong Zhai Xing berdiri tertegun di sana selama beberapa saat dan kemudian, seperti main sulap, mengeluarkan sabuk sutera itu dari dalam lengan bajunya.

“Tampaknya sabuk ini benar-benar palsu.” Ia bergumam.

Lu Xiao Feng tertawa.

“Aku tahu kau selalu mengatakan tidak pernah mencuri barang palsu, tapi siapa yang menduga bahwa hari ini adalah hari di mana kau berhasil diperdayai orang.”

“Tolong jangan ceritakan pada siapa pun tentang hal ini, kau akan menghancurkan reputasiku.”

“Kau mencuri dariku, dan aku tidak boleh bercerita pada orang lain tentang hal itu?” Lu Xiao Feng merenung.

“Bagaimana jika aku mengembalikannya?”

“Jika kau mengembalikannya, aku tetap akan bercerita pada orang-orang. Raja Maling telah mencuri barang palsu! Semua pencuri bawahanmu tentu akan tertawa terbahak-bahak hingga gigi mereka copot bila mereka mendengar tentang hal ini!”

“Bagaimana jika aku mengembalikan sabuk sutera ini padamu dan kemudian mengundangmu makan besar?”

Lu Xiao Feng bimbang dan pura-pura menimbang-nimbang tawaran itu.

“Ini patut dipertimbangkan, tapi tergantung makanan macam apa yang akan kau suguhkan padaku.”

“Sirip ikan yang dimasak dalam saus kacang, ditambah dengan dua ekor bebek yang gemuk dan besar, bagaimana menurutmu?”

{Catatan: Karena mereka berada di Beijing, dua ekor bebek yang disebut SiKong Zhai Xing itu, tentu saja, bebek Peking}

Lu Xiao Feng tampaknya tidak begitu yakin, akhirnya, setelah banyak pertimbangan, ia mengangguk juga. Kenyataannya, ia hampir terbahak-bahak di dalam hatinya dan berguling-gulingan di tanah, hampir mati ketawa.

Akhirnya, ia berhasil memperdayai bajingan kecil ini. Melihat SiKong Zhai Xing mengangsurkan sabuk sutera itu padanya dengan demikian hormat dan sopan, ia hampir tak bisa menahan tawanya. Ia bukan saja hampir bergulingan di tanah sambil tertawa terbahak-bahak, ia pun merasa ingin berjungkir-balik.

Tapi kemudian, secara tak terduga, SiKong Zhai Xing tiba-tiba menarik kembali sabuk sutera itu.

“Tidak, tak bisa jadi!” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apanya yang tak bisa jadi?” Lu Xiao Feng segera bertanya.

“Bebek-bebek itu terlalu gemuk, dan sirip ikan terlalu berminyak. Jika kau makan terlalu banyak, kau akan sakit perut. Kita kan sahabat lama, aku tidak bisa melakukan itu pada seorang sahabat lama!”

Lu Xiao Feng tertegun sekali lagi.

SiKong Zhai Xing mengedip-ngedipkan matanya.

“Di samping itu, aku baru saja teringat sesuatu. Mendapatkan sabuk palsu kan masih lebih baik daripada tidak mendapat sabuk sama sekali, bagaimana menurutmu?” Ia tampaknya juga sedang berusaha amat keras untuk menahan ledakan tawanya sebelum akhirnya melepaskannya sambil bersalto tiga kali dan melompat ke atas atap sebuah bangunan. Masih sambil tertawa, ia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan pada Lu Xiao Feng dan tiba-tiba menghilang.

Perut Lu Xiao Feng hampir meledak karena marahnya.

“Aku bersumpah, bajingan kecil itu adalah musuhku. Aku tidak mendapat apa-apa selain nasib buruk setiap kali bertemu dengannya.” Ia bergumam dengan gigi yang dikertakkan.

Ia bahkan belum selesai bicara ketika tiba-tiba ia menyadari bahwa anak-anak kecil yang tadinya menonton pertunjukan monyet itu sekarang sedang mengerumuninya. Setiap pasang mata mereka sedang memandangnya, seakan-akan mereka merasa bahwa dirinya jauh lebih menarik daripada pertunjukan monyet kecil itu.

“Mengapa kalian tidak menonton monyet di sana itu?” Lu Xiao Feng hampir tak bisa memasang muka kaku, karena ia menyadari nada ironi ucapannya itu.

Satu orang anak menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Monyet itu tidak lucu, kau yang lucu.”

Lu Xiao Feng tidak tahu apakah ia harus tertawa ataukah marah.

“Apa yang lucu denganku?” Ia terpaksa bertanya.

“Kau bersahabat dengan kakek tadi, kau tentu juga tahu caranya terbang.”

Lu Xiao Feng akhirnya faham, anak-anak ini berkumpul di sekelilingnya untuk melihatnya terbang.

Anak-anak itu semuanya mulai berseru dan memohon: “Tuan, bisakah kau terbang untuk kami” Tolonglah!”

Lu Xiao Feng menghela nafas, tapi tiba-tiba ia kemudian tertawa kecil mengingat kejeniusan dirinya sendiri.

“Aku akan mengajarkan kalian sebuah lagu pendek, dan jika kalian menyanyikannya untukku, aku akan terbang untuk kalian. Bagaimana?”

Semua anak itu segera bertepuk-tangan dengan senang.

“Ya, kami akan bernyanyi, kami akan menyanyikannya setiap hari mulai sekarang!”

Lu Xiao Feng segera duduk untuk mengajari anak-anak itu lagu berikut:
“SiKong Zhai Xing, si peri monyet. Peri nakal, juga bajingan yang busuk. Bajingan yang jahat sekali, patut mendapat pukulan di pantat.”

Anak-anak ini adalah pelajar yang baik, mereka segera hafal lagu tersebut dan mulai menyanyikannya sekeras-kerasnya, bernyanyi tiada hentinya.

Semakin lama Lu Xiao Feng mendengarkan lagu ini, semakin lucu rasanya. Segera ia terbungkuk-bungkuk sambil tertawa terbahak-bahak. Maka, ia pun lalu bersalto tiga kali, mendarat di atas atap sebuah bangunan, dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan pada anak-anak itu.

“Jika kalian menyanyikan lagu ini kapan pun kalian bisa, aku akan datang kembali dan terbang untuk kalian kapan pun aku bisa!” Ia berkata di tengah-tengah deraian tawanya.

______________________________

Benar saja, satu sabuk telah berkurang dari 4 sabuk yang tadinya berada di atas pundaknya. Bahkan Lu Xiao Feng pun terpaksa mengakui bahwa SiKong Zhai Xing benar-benar hebat, peri monyet kecil itu mampu mencuri sesuatu dari Lu Xiao Feng tepat di depan hidungnya sendiri.

Semula ia merasa perutnya hampir meledak karena marahnya, lalu hampir meledak karena tawanya, tapi sekarang ia hanya merasa kekosongan di dalam perutnya. Ia amat kelaparan. Untunglah baginya, saat itu sudah tiba waktunya makan siang. Terdengar dari semua rumah makan, baik besar atau pun kecil, dentingan suara pisau dan peralatan dapur saat mereka mempersiapkan segala jenis masakan. Bahkan orang-orang yang tidak lapar pun akan segera lapar saat mendengarnya. Jika ia tidak makan besar sekarang juga, perutnya yang tadi hampir meledak karena marah dan kemudian hampir meledak karena tawa mungkin akan segera mengempis karena kelaparan.

“Bawakan aku sepiring besar sirip ikan yang dimasak dalam saus kacang, seekor bebek goreng, sekilo biskuit, dan selain itu, berikan aku satu setengah kilo arak Bambu Hijau dan 4 jenis masakan lain yang cocok dinikmati bersama arak.”

Ia pergi ke rumah makan terdekat, mengambil meja terdekat, memesan 8 jenis lebih masakan yang teringat di kepalanya, dan menunggu.

Tidak satu pun dari 8 macam masakan itu yang telah tiba, tapi dari luar sana telah berdatangan beberapa orang. Orang yang di depan mengenakan pakaian sutera terbaik dan bersikap seakan-akan dialah orang yang memiliki tempat itu. Walaupun sudah ada sedikit uban di kepalanya, ia masih berpakaian seperti seorang pemuda. Di sekeliling pinggangnya terlilit sehelai sabuk giok yang bertatahkan kristal-kristal yang amat besar dan bahkan jamrud-jamrud yang lebih besar lagi ukurannya. Sabuk itu saja sudah tak ternilai harganya, tapi pedang yang terikat pada sabuk itu jauh lebih berharga daripada sabuk itu sendiri.

Di belakangnya ada segerombolan pemuda yang tampak angkuh luar biasa, masing-masing berpakaian lebih mentereng daripada yang lain dan mereka semua tampaknya telah memasang matanya tinggi-tinggi di atas kepala. Tapi setiap orang dari mereka bergerak dengan lincah dan gesit yang menunjukkan bahwa mereka semuanya cukup ahli dalam ilmu kungfu.

Orang-orang ini berjalan masuk, melirik sekilas pada Lu Xiao Feng, dan duduk bergerombol di meja terbesar. Walaupun mereka tidak memandang orang lain, seakan-akan semua orang tiada harganya untuk dilihat oleh mereka, setidaknya mereka sesekali masih melirik Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng tidak mengalihkan perhatiannya pada mereka, tapi ia masih bisa mengenali pedang yang terikat pada sabuk giok itu.

Sebatang pedang yang bersarungkan kulit ikan hitam dengan mulut terbuat dari emas putih, sebatang pedang yang berbentuk amat aneh dan berukuran luar biasa panjang. Bersama dengan rumbai-rumbainya yang berwarna merah darah, ada dua buah patung ikan yang terbuat dari giok putih murni. Siapa saja yang mengenali pedang ini tentu juga akan mengenali orang yang membawa pedang.

Orang setengah umur berpakaian sutera itu, tentu saja, tak lain daripada majikan Gedung Kesenangan Abadi, di Telaga Ikan Kembar, Bukit Harimau, di sebelah selatan sungai Yangtze, “Jago Pedang Damai dan Tenang” Si Ma Zi Yi. “Emas Nan Gong, Perak Ou Yang, Giok Si Ma”. Ungkapan itu khusus ditujukan pada tiga keluarga besar yang kaya-raya di dunia persilatan.

Giok selalu dipandang sebagai yang paling berharga di antara ketiganya, maka Gedung Kesenangan Abadi, tak diragukan lagi, merupakan yang terkaya dan termewah di antara ketiganya. Di samping kungfu warisan keluarga yang ia miliki, Si Ma Zi Yi juga merupakan satu-satunya murid “Majikan Pedang Besi” yang termasyur puluhan tahun yang lalu. Dulu dia adalah seorang pemuda yang menonjol baik dalam bidang akademis maupun kungfu, ditambah dengan warisan keluarganya yang terkenal, dan hasilnya adalah ia telah termasyur ke seluruh dunia sebelum usianya mencapai duapuluh tahun. Walaupun sekarang ia telah memasuki usia setengah baya, ia masih memiliki keangkuhan dan sikap seperti di masa mudanya serta wajah yang tampan.

Bisa melihat seorang laki-laki di masa jayanya adalah sebuah peristiwa yang amat menyenangkan, tapi Lu Xiao Feng lebih suka memasang pandangannya pada sepiring sirip ikan yang dimasak dalam saus kacang.

Sirip ikan itu dimasak dengan baik, dan araknya pun memiliki suhu yang pas. Lu Xiao Feng mengambil sumpitnya dan baru saja hendak mulai makan saat ia melihat seorang pemuda berpakaian ungu, dengan sepasang patung ikan yang terbuat dari giok putih menggantung di pedangnya, berjalan ke arahnya.

Lu Xiao Feng menghela nafas sendiri. Masalah kembali datang padanya. Maka ia segera, sebelum pemuda itu tiba di dekatnya, menyumpal mulutnya sendiri dengan sirip ikan.

Dengan tangan di pedang, pemuda itu beberapa kali memperhatikan Lu Xiao Feng dari atas ke bawah dengan pandangan yang dingin, sebelum akhirnya merangkap tangannya sebagai tanda memberi hormat: “Tuan tentu Lu Xiao Feng.”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Aku Hu Qing, dari Suzhou, Bukit Harimau, Gedung Kesenangan Abadi di Telaga Ikan Kembar. Yang duduk di sana itu adalah guruku. Kufikir Tuan tentu telah tahu.”

Lu Xiao Feng mengangguk lagi.

“Tidak bermaksud mengganggu semak belukar, Guru menyuruhku datang ke sini untuk meminta Tuan meminjamkan sabuk di pundakmu itu dan juga mengundang Tuan untuk minum.”

Kali ini Lu Xiao Feng tidak mengangguk, ia pun tidak menggelengkan kepalanya, ia malah menunjuk mulutnya sendiri. Ia belum menelan sirip ikan itu, maka tidak mungkin ia bisa bicara.

Hu Qing mengerutkan keningnya. Walaupun kelihatannya ia telah kehilangan kesabarannya, yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri di sana dan menunggu Lu Xiao Feng selesai mengunyah.

“Tuan bisa memberiku sabuk itu sekarang juga jika Tuan mau. Jika Tuan ingin menyimpan satu untuk Tuan sendiri, itu juga boleh.” Ia mengajukan tawaran saat Lu Xiao Feng mengunyah sirip ikan itu. Kelihatannya ia sudah mulai marah.

Ia bersuara seolah-olah ucapannya itu bukan apa-apa, seakan-akan kenyataan bahwa ia telah membuka mulutnya itu telah amat banyak memberi muka pada Lu Xiao Feng.

Dengan tenang-tenang saja Lu Xiao Feng menelan sirip ikan itu, lalu menghirup araknya sekali sebelum mengeluarkan desahan puas. Lalu ia melemparkan sebuah senyuman pada Hu Qing.

“Aku telah lama mengagumi kemasyuran dan reputasi Tuan Si Ma, dan aku amat berterimakasih atas maksud baik dan keramahan Tuan Si Ma. Sedangkan sabuk itu”.”

“Bagaimana dengan sabuk-sabuk itu?”

“Kalian tidak bisa meminjamnya.” Lu Xiao Feng menolak tawaran itu dengan santai.

Ekspresi wajah Hu Qing tampak tertekuk dan ia segera mencengkeram pedangnya. Tapi Lu Xiao Feng bahkan tidak meliriknya saat ia mengambil sebuah sirip ikan lagi dan mulai mengunyahnya dengan hati-hati di dalam mulutnya, sambil menikmati rasanya.

Hu Qing memandangnya dengan marah dan urat-urat darah di punggung tangannya tampak berdenyut-denyut, seakan-akan ia telah bersiap-siap untuk menghunus pedangnya. Tiba-tiba seseorang terbatuk beberapa kali di belakangnya.

“Seharusnya kau tidak menggunakan kata “pinjam” itu, tidak ada orang yang mau meminjamkan benda seperti itu.”

Si Ma Zi Yi pun benar-benar telah merendahkan dirinya untuk datang menghampiri, tapi ia masih berhenti pada posisi yang agak jauh, seakan-akan ia mengharapkan Lu Xiao Feng untuk bangkit dan menyambutnya.

Lu Xiao Feng tidak perduli. Ia jelas lebih memperhatikan piring berisi sirip ikan yang berada di hadapannya daripada benda atau orang lain.

Maka Si Ma Zi Yi sendiri yang terpaksa berjalan menghampiri dan, dengan tangannya yang terawat baik, menunjuk meja. Hu Qing segera mengeluarkan sehelai cek dan meletakkannya di atas meja.

Dengan menggunakan tangan yang sama, Si Ma Zi Yi mengelus-elus jenggotnya yang juga terawat dengan baik: “Cincin giok mungkin indah, tapi kurang berguna bila dibandingkan dengan uang. Bu Ju tidak faham sifat orang, maka tentu saja ia pun terjungkal.”

Berita benar-benar menyebar dengan cepat di ibukota ini, bahkan seseorang seperti dirinya pun bisa tahu tentang hal itu hanya dalam waktu dua jam.

“Saya yakin Tuan merasakan hal yang sama.” Si Ma Zi Yi mengakhiri.

Lu Xiao Feng mengangguk tanda setuju.

“Ini adalah sehelai cek bernilai 50 ribu tael yang bisa diuangkan dengan segera. Dengan uang sebanyak itu, orang biasa akan dapat hidup tanpa perasaan cemas untuk seumur hidupnya.”

Lu Xiao Feng pun sependapat mengenai hal itu.

“Lima puluh ribu tael perak sudah lebih dari cukup untuk dua helai sabuk sutera, kapan saja waktunya, di mana pun tempatnya.”

Lu Xiao Feng pun amat setuju dengan hal itu. Sebuah senyuman pun muncul di wajah Si Ma Zi Yi dan ia bermaksud untuk pergi, karena kesepakatan telah tercapai.

Tapi tiba-tiba Lu Xiao Feng yang bicara.

“Mengapa Tuan tidak membawa cek ini?”

“Membawanya?”

“Ke tukang jahit.”

Si Ma Zi Yi tidak faham.

“Di luar sana ada sejumlah tukang jahit. Tuan bisa membuat kesepakatan dengan siapa pun dari mereka, itu jauh lebih sederhana.”

Ekspresi wajah Si Ma Zi Yi pun jadi tertekuk.

“Aku ingin menukar cek ini dengan sabukmu.”

Lu Xiao Feng tertawa.

“Sabuk ini bukan untuk dipertukarkan.”

Wajah Si Ma Zi Yi yang selalu bersinar-sinar sekarang berubah menjadi kehijau-hijauan.

“Jangan lupa, ini bernilai lima puluh ribu tael perak.” Ia membentak.

Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Jika Tuan mengijinkanku makan sepiring sirip ikan ini dengan tenang, aku akan membayar Tuan lima puluh ribu tael perak!”

Wajah Si Ma Zi Yi yang hijau membesi tampak berubah menjadi merah padam. Seseorang yang duduk di meja pinggir sana tak dapat mengendalikan dirinya lagi dan tertawa kecil.

Setelah suara tawa itu terdengar, terlihat seberkas sinar pedang.

“Tring!” Ujung pedang itu telah terjepit oleh sepasang sumpit.

Orang yang tertawa tadi adalah seorang saudagar yang setengah mabuk, pedang itu milik Hu Qing. Hanya dengan sebuah putaran pergelangan tangannya, pedang panjang di pinggangnya telah terbang. Tapi Lu Xiao Feng lebih cepat lagi, karena ia secara tiba-tiba, dan dengan santai, mengulurkan sumpitnya dan menjepit ujung pedang itu, seperti seorang pawang ular yang menangkap seekor ular. Wajah Hu Qing pun tampak membeku dan ia tertegun memandang pada Lu Xiao Feng.

“Dia sedang mabuk.” Lu Xiao Feng berkata.

Hu Qing mengigit bibirnya dan berusaha menarik pedang itu, tapi pedang tersebut seperti telah menyatu dengan sumpit.

“Tidak ada aturan tak boleh tertawa di sini, ini bukan Gedung Kesenangan Abadi.” Lu Xiao Feng berkata dengan santai.

Keringat pun muncul di kening Hu Qing.

“Trang!” Tiba-tiba terlihat seberkas sinar pedang lagi dan pedang di tangannya telah patah menjadi dua bagian!

Pedang Si Ma Zi Yi telah meninggalkan sarungnya, tapi sekarang telah kembali ke tempatnya.

“Mundur.” Ia memerintah dengan gusar. “Sejak hari ini, kau dilarang menggunakan pedang.”

Dengan kepala tertunduk malu, Hu Qing menatap pedang patah yang berada di tangannya, lalu mulai mundur dengan perlahan. Setelah 7 atau 8 langkah, air mata tiba-tiba muncul di wajahnya.

“Sayang, sia-sia belaka!” Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Sia-sia?”

“Aku mengatakan sayang tentang pedang itu, sayang juga tentang pemuda itu. Tekniknya tidak terlalu jelek, dan pedangnya pun tidak terlalu buruk.”

Ekspresi wajah Si Ma Zi Yi masih tetap gelap dan ia berkata dengan dingin: “Pedang yang bisa terpotong menjadi dua bagian bukanlah pedang yang bagus!”

“Mungkin satu-satunya sebab mengapa pedangnya terpotong menjadi dua bagian adalah karena seseorang sedang menjepit ujung pedang itu.”

“Jika pedang itu bisa ditangkap, tentu tidak ada gunanya menyimpannya lagi.”

Lu Xiao Feng meliriknya.

“Jadi pedangmu tak akan pernah tertangkap orang jika kau menyerang dengan pedangmu?”

“Tak pernah.”

Lu Xiao Feng tersenyum, tersenyum secara tiba-tiba.

“Sabukku bukan untuk dipinjamkan, dipertukarkan, apalagi dijual!”

“Kau menantangku untuk mengambilnya dengan paksa?” Si Ma Zi Yi mengejek.

“Atau kita bisa bertaruh saja.”

“Taruhan seperti apa?”

“Taruhan terhadap pedangmu.”

Si Ma Zi Yi tidak faham.

“Jika benar tidak ada orang yang bisa menangkap pedangmu, maka kau menang. Dan kau bukan hanya bisa pergi dengan membawa sabuk suteraku, kau pun boleh mengambil kepalaku kapan saja kau mau.”

“Aku tidak menginginkan kepalamu.”

“Tapi kau menginginkan sehelai sabuk suteraku.”

Si Ma Zi Yi menatap dengan gusar. “Selain dari itu, apakah tidak ada cara lain?”

“Tidak.”

Si Ma Zi Yi tidak berkata apa-apa untuk beberapa lama.

“Aku akan mengincar pundak kirimu, bersiaplah.” Tiba-tiba ia berkata.

Sambil tersenyum Lu Xiao Feng menepuk pundak kirinya: “Bajuku tidak begitu bersih, aku belum mencucinya selama dua hari ini. Jadi kau mungkin harus menyerang secepat yang kau bisa agar pedangmu tidak menjadi kotor.”

“Asal ada darah yang bisa dipakai untuk mencuci, tidak masalah jika pedangku jadi kotor.” Si Ma Zi Yi membalas tanpa perasaan humor.

“Aku tak tahu apakah darahku bersih atau tidak.”

“Kau akan segera mengetahuinya.”

Saat kata “nya” terdengar, pedang itu telah terhunus dari sarungnya. Seperti kilat, sinar pedang pun terbang ke arah pundak kiri Lu Xiao Feng. Pedang itu jauh lebih panjang daripada pedang biasa, jadi seharusnya lebih sulit untuk dihunus dengan cepat. Tapi ia menggunakan sebuah teknik khusus untuk menghunus pedangnya, sehingga sekali pedang itu keluar dari sarungnya, senjata itu sudah hampir menyentuh pundak Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng mengulurkan tangannya dan menjepitkan kedua jarinya! Seharusnya gerakannya itu merupakan sebuah gerakan yang amat sederhana, tapi akurasi dan kecepatannya merupakan hal yang tidak bisa dibayangkan siapa pun, apalagi menguraikannya.

Gerakan ini mungkin sederhana, tapi ia telah menempanya melalui ribuan kali percobaan untuk merubahnya menjadi sesuatu yang luar biasa. Si Ma Zi Yi bisa merasakan hatinya karam, ia juga bisa merasakan darahnya karam. Pedangnya telah tertangkap!

Ia mulai berlatih dengan pedang bamboo pada usia empat tahun. Pada umur 7 tahun, ia mulai menggunakan pedang sebenarnya yang ditempa dengan baja murni. Saat ini ia telah mempelajari ilmu pedang selama lebih dari 40 tahun. Bahkan bagaimana cara menghunus pedang pun telah ia pelajari sebanyak lebih dari 130 macam manuver. Saat ini ia mampu, dalam satu gerakan saja, menghunus pedangnya dan menusukkan ujung pedangnya menembus 12 keping uang perunggu yang dijatuhkan secara sembarangan.

Tapi sekarang, pedangnya telah tertangkap orang. Saat itu ia hampir tidak bisa mempercayai kenyataan ini. Ia menatap tangan Lu Xiao Feng, hampir tidak percaya kalau tangan ini benar-benar terdiri dari daging dan darah.

Lu Xiao Feng pun sedang menatap tangannya.

“Kau tidak menggunakan kekuatan penuh dalam serangan tadi.” Tiba-tiba ia berkata. “Kelihatannya kau benar-benar tidak memburu kepalaku.”

“Kau?”

Lu Xiao Feng memotong ucapannya dengan sebuah senyuman.

“Aku bukan orang yang baik, tapi kau pun bukan orang yang jahat. Karena kau tidak menginginkan kepalaku, aku akan memberimu sehelai sabuk sutera!”

Ia melepaskan satu sabuk dan menggantungnya di ujung pedang Si Ma Zi Yi sebelum bangkit dan berjalan keluar tanpa memandang ke belakang lagi. Ia khawatir berubah fikiran kalau ia melakukannya.

Walaupun ia belum kenyang, Lu Xiao Feng tetap merasa senang dalam hatinya. Karena ia tahu bahwa saat ini Si Ma Zi Yi tentu telah memahami 2 hal. Pedang siapa pun bisa tertangkap, dan cara pendekatan yang lembut terhadap orang tertentu akan jauh lebih baik daripada pendekatan yang kasar.

Ia yakin bahwa, setelah mempelajari dua macam hal tersebut, Si Ma Zi Yi tentu akan merubah sikapnya yang angkuh dan suka mengancam itu.

Tapi apa gunanya semua ini bagi dirinya? Ia bahkan tidak memikirkan hal itu. Apa pun yang ia lakukan, Lu Xiao Feng tidak pernah berfikir untuk dirinya sendiri.

Tetapi perutnya yang keberatan. Ia mungkin sedang tidak memiliki selera yang besar seperti biasa, tapi dua suap sirip ikan tentu tidak cukup memuaskan perutnya. Bagi dirinya, bisa makan penuh dengan tenang seperti telah berubah menjadi sesuatu yang hampir mustahil.

Selama ia membawa-bawa sabuk sutera itu, tidak perduli ke mana pun ia pergi, masalah tentu akan segera mencarinya.

Bagaimana ia harus menyingkirkan dua helai sabuk sutera terakhir? Kepada siapa ia harus memberikannya? Tadinya ia bermaksud memberikan salah satunya pada Tosu Kayu, tapi Tosu Kayu tidak kelihatan. Yang seharusnya tidak muncul malah muncul, tapi yang seharusnya muncul malah tidak satu pun yang terlihat.

Karena ada orang yang tidak pernah muncul bila mereka diharapkan muncul dan selalu muncul saat mereka tidak diduga akan muncul. Lu Xiao Feng sepertinya selalu bertemu dengan orang-orang semacam ini. Ia menghela nafas. Tiba-tiba, ia melihat Hwesio Jujur sedang berjalan dari arah yang berlawanan, sambil menggigit sepotong roti manis yang amat besar di tangannya. Saat ia melihat Lu Xiao Feng, ia bereaksi seakan-akan ia baru saja melihat hantu dan segera berusaha untuk kabur.

Tapi Lu Xiao Feng telah menghadangnya dan menariknya hingga berhenti.

“Pergi begitu tergesa-gesa? Ke mana kau akan pergi?”

Hwesio Jujur memutar-mutar bola matanya dan menjawab: “Aku tidak mengganggumu, aku tidak melanggar hukum, mengapa kau menghadangku?”

Lu Xiao Feng mengedip-ngedipkan matanya, dan kemudian mengembangkan sebuah senyuman.

“Karena aku ingin membuat kesepakatan denganmu.”

“Aku tidak ingin membuat kesepakatan denganmu, aku tidak mau dirampok.”

“Kujamin kau tidak akan dirampok.”

Hwesio Jujur memandangnya dan terlihat bimbang.

“Coba kudengar dulu kesepakatan macam apa yang ada di benakmu.”

“Aku akan menukar dua helai sabuk sutera ini dengan roti manis hangat yang ada di tanganmu itu.”

“Tidak bisa.”

“Mengapa tidak?” Lu Xiao Feng berteriak.

“Karena aku tahu tidak ada kesepakatan yang begini bagus di dunia ini.” Ia memutar-mutar bola matanya lagi. “Bu Ju berusaha menukar sabuk itu dengan cincin giok, kau menolak. Si Ma menawarkan lima puluh ribu tael perak, kau menolak. Sekarang kau ingin menukarnya dengan rotiku yang hangat, dan kau kan tidak gila.”

“Kau takut kalau akan memasang perangkap untukmu?”

“Aku tidak perduli kau memasang perangkap atau tidak, aku tidak akan terperdaya.”

“Jadi kau sudah tetap pada keputusanmu?”

“Ya.”

“Tidak menyesal?”

“Tidak menyesal.”

“Baik, tidak jadi kalau begitu. Tapi bila aku ingin bicara, kau tidak bisa mencegahku bicara.”

“Bicara tentang apa?” Hwesio Jujur terpaksa bertanya.

“Bicara tentang kisah seorang hwesio yang pergi ke rumah pelacuran untuk bertemu dengan seorang pelacur.”

Hwesio Jujur tiba-tiba menyusupkan roti hangat itu ke tangan Lu Xiao Feng, meraup sabuk-sabuk sutera itu, dan berjalan pergi ke arah yang berlawanan.

“Jangan lupa, salah satu dari sabuk itu adalah untuk Tosu Kayu, kau harus menyimpan satu untuknya. Kalau tidak aku akan tetap bicara.” Lu Xiao Feng berteriak ke arah sosok tubuhnya yang menjauh itu.

Hwesio Jujur bahkan tidak mau berpaling dan ia menghilang lebih cepat daripada seekor kuda jantan yang dicambuk. Lu Xiao Feng tertawa. Ia tidak ingat kapan perasaannya pernah seenteng ini, seakan-akan ia tidak pernah sebahagia dan setenang ini dalam hidupnya.

Akhirnya ia berhasil menyingkirkan “bara panas” itu pada orang lain. Rasanya seolah-olah beban seberat satu ton telah terangkat dari punggungnya.

Roti itu masih belum benar-benar dingin, saat menggigitnya ia pun hampir berani bersumpah bahwa roti ini benar-benar lebih enak daripada sirip ikan tadi.

Tadinya ia mencurigai Hwesio Jujur sebagai dalang di balik semua persekongkolan ini, tapi sekarang tampaknya ia telah lupa. Apakah ia bodoh? Atau benar-benar cerdik?

Matahari pelan-pelan bergeser ke barat. Sudah dua jam berlalu sejak Lu Xiao Feng menyerahkan sabuk sutera itu pada Hwesio Jujur. Tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan selama dua jam itu.

Tampaknya ia hanya berjalan-jalan mengelilingi kota beberapa kali. Walaupun tadi ada beberapa orang yang mengikutinya, sekarang ia telah berhasil melepaskan diri dari untitan mereka. Tentu saja ia tidak mau mengambil resiko membawa mereka ke Rumah Makan Lezat dan Harum.

Ia masuk lewat pintu belakang, tidak terdengar satu pun suara di halaman belakang. Udara dipenuhi oleh campuran aroma bunga crysanthemum dan osmanthus. Bahkan ikan-ikan mas kecil di dalam kolam di bawah pohon delima itu tampak terlalu malas untuk bergerak.

Setelah melewati semak-semak crysanthemum, terlihat seseorang duduk di dalam pondok kecil itu. Seperti terpesona, orang tersebut duduk di atas pagar pembatas.

Bunga-bunga crysanthemum itu berwarna kuning, pagar tersebut bercat merah, tapi bajunya berwarna hijau cerah dan ujungnya melambai-lambai di sekitar tubuhnya yang langsing bagaikan pohon liu. Tanda-tanda sakit belum benar-benar hilang dari wajahnya yang pucat, tapi semangat baru bisa terlihat dengan jelas di dalam dirinya. Tampaknya ia hampir tidak kuat untuk menahan lambaian pakaiannya itu.

Warna musim gugur di halaman ini mungkin indah, tapi tidak bisa dibandingkan dengan kecantikannya. Tampaknya baru sekarang Lu Xiao Feng menyadari betapa cantiknya Ou Yang Qing sebenarnya. Apakah itu hanya karena baru sekarang ia tahu bahwa gadis itu diam-diam mencintainya”

Angin meniup semak-semak bunga crysanthemum yang berada di dekat pagar. Beberapa helai daun yang gugur telah jatuh di atas jalan setapak. Diam-diam ia berjalan menghampiri. Tiba-tiba ia melihat mata Ou Yang Qing yang bersinar-sinar sedang menatap lurus ke arahnya.

Mereka tidak sering bertemu. Kenyataannya mereka belum pernah berbincang-bincang lebih dari 10 kalimat.

Tapi sekarang ada sebuah perasaan yang tak dapat diuraikan dan susah difahami yang menyentak jantung Lu Xiao Feng, menyebabkan jantungnya berdebar lebih cepat. Ia seperti benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.

Apa yang dirasakan gadis itu di dalam hatinya? Setidaknya Lu Xiao Feng tidak mampu melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya. Gadis itu memandang padanya dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Apakah ia memang orang yang amat tenang pembawaannya, ataukah ia orang yang amat pandai bersandiwara? Dan berapa banyak wanita di dunia ini yang tidak pintar bersandiwara?

Lu Xiao Feng menghela nafas dan berjalan memasuki pondok itu.

“Kau sudah merasa baikan?” Ia bertanya sambil tersenyum canggung.

Ou Yang Qing mengangguk dan menunjuk kursi batu di hadapannya. “Duduklah.”

Tadinya Lu Xiao Feng hendak duduk di sampingnya, tapi jika gadis itu bersikap begitu dingin, tentu ia pun tidak bisa bersikap terlalu hangat.

Mengapa wanita begitu suka bersandiwara?

Apakah itu karena mereka semua tahu bahwa jenis perempuan seperti inilah yang disukai laki-laki? Jika Ou Yang Qing sejak dulu bersikap ramah dan hangat pada Lu Xiao Feng, mungkin sudah sedari dulu ia kabur jauh-jauh.

Maka ia pun duduk dengan patuh di atas kursi batu itu.

“Di mana Xi Men Chui Xue?” Ada banyak hal di dalam hatinya yang ingin ia tanyakan, tapi ia tidak sanggup mengatakannya, maka ia sembarangan saja bertanya.

“Ia ada di dalam rumah bersama isterinya, kurasa ada banyak hal yang hendak mereka bicarakan.”

Lu Xiao Feng bangkit, tapi kemudian terduduk lagi. Ia ingin masuk dan berbicara dengan Xi Men Chui Xue, tapi ia tidak ingin Ou Yang Qing menganggap dirinya tidak mengerti keadaan orang. Duel sudah dekat, hasilnya masih diragukan, perpisahan ini sangat bisa jadi merupakan yang terakhir kalinya bagi mereka.

Seharusnya ia membiarkan mereka berdua menghabiskan sore ini bersama-sama dengan tenang, membiarkan mereka membicarakan semua hal yang seharusnya tidak didengarkan oleh orang lain.

Taman itu seperti menelan mereka, aroma bunga tercium di udara, pemandangan di sekitar mereka terasa seperti mimpi. Bukankah hanya mereka berdua pula yang ada di sana? Bukankah ada banyak hal yang juga hendak mereka bicarakan?

Tapi ia tidak bisa memikirkan apa yang hendak dikatakan! Tampaknya ia seperti telah berubah menjadi anak remaja yang sedang mengalami kencan pertamanya.

“Kau mengenalnya?” Ou Yang tiba-tiba memecahkan kesunyian.

“Siapa?”

Ou Yang Qing menunjuk ke sampingnya, barulah Lu Xiao Feng melihat patung lilin kecil yang duduk di atas pagar pembatas itu. Itulah patung Tuan Wang.

Ia tak faham mengapa gadis itu tiba-tiba begitu tertarik pada patung kasim tersebut: “Kau mengenalnya?”

“Aku pernah melihatnya, ia pernah datang ke tempat kami.”

Yang dimaksud “tempat kami” itu tentu saja rumah pelacuran tempat Ou Yang Qing bekerja.

Lu Xiao Feng semakin bingung.

“Kau tahu kalau orang ini adalah seorang kasim?” Ia tak tahan untuk tidak bertanya.

“Di tempat kami terdapat segala jenis pelanggan.” Ou Yang Qing menjawab dengan acuh tak acuh.

“Bukan hanya kasim, hwesio juga ada.”

Tampaknya ia masih ingat apa yang terjadi hari itu, masih ingat bahwa Lu Xiao Feng pernah berbuat salah padanya. Tapi Lu Xiao Feng tampaknya benar-benar telah melupakan hal itu, ada terlalu banyak pertanyaan yang lebih penting baginya untuk direnungkan.

“Ia bukanlah kasim pertama yang datang ke tempat kami, dan pada hari itu, ia tidak datang sendirian!” Ou Yang Qing melanjutkan.

“Siapa lagi yang datang bersamanya?” Lu Xiao Feng segera memburu.

“Waktu ia tiba, ia hanya sendirian, tapi setelah itu dua orang jago pedang dari Sekte Laut Selatan pun muncul mencarinya, seakan-akan mereka telah mengatur sebuah pertemuan sebelumnya.”

“Bagaimana kau tahu kalau mereka berasal dari Sekte Laut Selatan?”

“Aku mengenali pedang mereka.” Pedang Sekte Laut Selatan bukan hanya luar biasa panjang dan sempit, tapi juga memiliki bentuk yang istimewa.

“Aku juga tahu bahwa orang tua ini adalah seorang kasim. Tak perduli bagaimana bagusnya ia menyamar, aku selalu bisa tahu.”

“Si Untung Besar Sun berada di sana juga hari itu?”

“Mm.”

Mata Lu Xiao Feng pun bersinar-sinar. Tuan Wang tentu telah mengatur pertemuan itu dengan dua jago pedang dari Sekte Laut Selatan di rumah pelacuran untuk membicarakan sebuah rencana rahasia.

Sewaktu mereka tahu bahwa Ou Yang Qing dan si Untung Besar Sun telah tiba di ibukota, mereka takut kalau salah satu dari keduanya akan mengenali mereka, maka mereka pun memburu keduanya untuk dibungkam. Kematian Nyonya Pertama Gong Sun tentu ada hubungannya dengan hal ini. Dua jago pedang Sekte Laut Selatan itu mungkin sama dengan dua jago pedang yang binasa di krematorium.

Lu Xiao Feng menghela nafas dalam-dalam. Ia akhirnya menemukan benang itu. Sekarang yang harus ia lakukan adalah mencari benang yang bisa menghubungkan benang ini dengan benang-benang lain yang telah ia temukan, lalu ia akan berhasil memecahkan kasus ini. Apakah ia bisa menemukan beberapa benang lagi saat ini? Banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu dua jam.

“Jika ada kasim yang berkunjung ke tempat kami, aku selalu membawanya ke kamarku!” Ou Yang Qing tiba-tiba berkata.

“Mengapa begitu?”

“Karena mereka bukan laki-laki,” ia menjelaskan dengan dingin. “Semakin tidak berguna seorang laki-laki, semakin ia ingin memperlihatkan kejantanannya. Maka walaupun aku memaksa mereka untuk tidur di lantai, mereka tidak akan berani mengeluh dan mau membayar persenan. Karena mereka amat khawatir kalau orang lain tahu tentang kelemahan mereka.”

“Malam itu, waktu Hwesio Jujur bermalam di kamarmu, apakah ia pun tidur di lantai?” Lu Xiao Feng bertanya.

Ou Yang Qing mengangguk.

“Mungkinkah ia juga seorang kasim?”

“Ia mungkin bukan kasim, tapi ia pun bukan seorang laki-laki.”

Lu Xiao Feng kembali menghela nafas dalam-dalam. Akhirnya ia menemukan sebab mengapa Hwesio Jujur berdusta padanya. “Impoten” adalah sebuah kata yang dipandang laki-laki sebagai aib yang amat memalukan. Itulah sebabnya ada laki-laki yang mau menghabiskan uang untuk tidur di lantai kamar seorang wanita daripada membiarkan orang lain tahu bahwa ia impoten.

Hwesio Jujur adalah seorang laki-laki. Bahkan hwesio pun tidak terhindar dari perasaan bangga seperti itu.

Ou Yang Qing menatap patung kecil itu: “Malam itu, orang tua ini bahkan tidak berani menyentuhku sama sekali karena ia begitu takut kalau aku mengetahui bahwa ia seorang kasim.”

Ia berkata sambil tersenyum mengejek. “Ia tidak pernah curiga bahwa satu-satunya sebab mengapa aku memperbolehkannya tinggal adalah karena aku tahu kalau ia seorang kasim.”

Sebuah ekspresi aneh pun tiba-tiba muncul di wajahnya. “Kau tahu mengapa tidak ada laki-laki yang pernah menyentuhku?” Tiba-tiba ia bertanya.

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya.

“Karena aku membenci laki-laki.”

“Kau pun membenciku?” Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak bertanya.

Ou Yang Qing meliriknya dengan dingin. Walaupun ia tidak menyangkalnya, ia pun tidak mengakui hal itu. Lu Xiao Feng mulai tertawa. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu: Ou Yang Qing tidak mencintainya, bahkan sedikit pun tidak ada fikiran ke arah itu.

Jika bukan Nyonya Ke-13 yang berkata begitu padanya, Lu Xiao Feng pun tidak akan pernah berfikir demikian. Tapi semua ucapan Nyonya Ke-13 itu mungkin memang disengaja, agar ia memakan sepiring rumah siput berlapis mentega itu. Ou Yang Qing sendiri bukan hanya tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun tentang hal itu, ia bahkan tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda perasaan itu.

Setelah mengetahui hal ini, walaupun ada sedikit rasa masam di hatinya, Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak menghela nafas lagi, seakan-akan ia baru saja terbebas kembali dari sebuah beban. Sikapnya pun tiba-tiba berubah menjadi lebih wajar. Ia tidak pernah percaya adanya cinta pada pandangan pertama.

“Apa yang sedang kau tertawakan?” Ou Yang Qing tampak heran.

“Aku sedang menertawakan Hwesio Jujur. Aku baru saja mengoper dua potong batu bara yang amat panas kepadanya!”

“Batu bara panas?”

“Sabuk sutera.”

“Sabuk sutera apa?” Ou Yang Qing tidak faham.

Lu Xiao Feng segera menerangkan semua yang telah terjadi. Waktu ia bercerita tentang SiKong Zhai Xing yang mencuri sehelai sabuk, kemarahannya hampir bangkit lagi. Waktu ia bercerita tentang Hwesio Jujur, ia hampir terbungkuk-bungkuk karena tertawa, tingkah-lakunya benar-benar seperti seorang anak kecil.

Ou Yang Qing menatap wajahnya, sebuah tatapan aneh pun muncul kembali di matanya. Laki-laki ini telah menukar dua helai sabuk sutera yang tak ternilai harganya dengan sepotong roti, dan masih bersikap seolah-olah dialah yang telah merampok Hwesio Jujur. Ia benar-benar belum pernah bertemu dengan orang seperti ini.

“Sayangnya kau belum benar-benar pulih, kalau tidak aku tentu akan menyimpan satu sabuk untukmu agar kau bisa melihat pertunjukan itu.”

“Kau tidak memiliki sehelai pun sekarang?”

“Setengah helai pun tidak.”

“Kau akan datang ke lokasi duel itu malam ini?”

“Tentu saja.”

“Di mana sabukmu?”

Lu Xiao Feng tertegun. Baru sekarang ia menyadari bahwa ia sama sekali lupa untuk menyimpan satu sabuk untuk dirinya sendiri. Mungkinkah itu sebabnya mengapa si Hwesio Jujur pergi begitu cepat setelah mendapatkan sabuk itu, ia takut kalau-kalau Lu Xiao Feng tiba-tiba teringat?

“Hehehe!” Melihat ekspresi wajahnya, Ou Yang Qing tak tahan untuk tidak tertawa kecil. Bertemu dengan orang yang begini bodoh tidaklah sering terjadi. Lu Xiao Feng duduk di situ dengan ekspresi tertegun di wajahnya untuk beberapa lama, tanpa bicara sama sekali. Tiba-tiba ia melompat bangkit dan terbang keluar dari pondok itu.

Secara kebetulan Xi Men Chui Xue dan Sun Xiu Qing sedang melangkah menelusuri jalan setapak saat mereka berpapasan dengannya. Lu Xiao Feng bahkan tidak punya waktu untuk menyapa mereka saat ia terbang melintas di depan mereka, seakan-akan seseorang sedang mengejar-ngejarnya sambil mengacung-acungkan sapu.

Sun Xiu Qing memandang pada Ou Yang Qing, sambil duduk di atas pagar.

“Apakah kau mengusirnya?” Ia bertanya.

Ou Yang Qing menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Senyumannya begitu manis, tidak seorang pun akan percaya kalau ia tega mengusir orang lain.

“Jadi kau menakut-nakutinya?”

“Tidak perlu ada orang lain yang menakut-nakutinya, ia sendiri sudah amat pintar menggebah dirinya sendiri.” Ou Yang Qing menjawab dengan nada main-main.

Sun Xiu Qing beberapa kali menatapnya dari atas ke bawah dan tersenyum: “Tampaknya kau cukup cepat mengenali sifatnya.”

“Aku tahu hanya tahu kalau dia adalah seorang badut besar.”

“Tapi ia adalah badut yang paling cerdik.”

“Ia cerdik?”

“Bila menyangkut dirinya sendiri, ia memang seorang badut, karena ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Tapi jika ada orang yang benar-benar menganggapnya hanya sebagai badut dan berusaha memperdayainya, maka orang itu akan bernasib buruk.”

“Tidak perduli apakah ia jenius atau cuma seorang badut, semua itu tidak ada hubungannya denganku.” Ou Yang Qing berkata.

Sun Xiu Qing mengedip-ngedipkan matanya: “Bukankah kau menyukainya?”

“Kau kira semua wanita di dunia ini harus menyukainya atau bagaimana?” Ou Yang Qing mencemooh.

“Aku bukan membicarakan semua wanita, aku membicarakan dirimu!”

“Mengapa kau tidak bicara tentang hal yang lain?”

“Kau sama sekali tidak tertarik padanya?”

“Tidak.”

Sun Xiu Qing kembali tersenyum. “Kau tidak bisa membodohiku, aku bisa melihatnya.” Perlahan-lahan ia meletakkan tangannya di atas perutnya dan sebuah sinar mata yang senang dan bangga pun berkilauan di matanya. “Aku bukan hanya seorang wanita, aku pun akan segera menjadi seorang ibu. Seorang gadis kecil sepertimu tidak akan bisa mengibuliku.”

Ou Yang Qing tidak menjawab, tapi wajahnya yang pucat telah merah merona.

“Kalian perempuan ini memang aneh.” Xi Men Chui Xue tiba-tiba berkata.

“Apanya yang aneh?”

“Semakin kalian menyukai seorang laki-laki di dalam hatimu, semakin kalian bersikap tidak tertarik di luarnya. Aku benar-benar tidak faham mengapa kalian berbuat seperti itu.”

“Menurutmu apa yang harus kami lakukan? Melompat ke pelukan laki-laki saat kami melihat mereka?”

“Setidaknya kalian bisa bersikap lebih ramah dan hangat padanya dan tidak menakut-nakutinya hingga dia pergi.”

“Waktu kita pertama kali bertemu, apakah aku baik padamu?”

“Tidak.”

“Tapi kau tidak ketakutan dan menjauh.”

Xi Men Chui Xue menatapnya, kehangatan itu kembali muncul di matanya.

“Seorang laki-laki sepertiku tidak bisa ditakut-takuti oleh apa saja atau siapa saja!”

“Benar,” Sun Xiu Qing mengiyakan dengan nada main-main. “Laki-laki seperti dirimu inilah yang disukai perempuan.”

Ia berjalan menghampiri dan menggenggam tangan suaminya.

“Karena wanita kadang-kadang seperti domba, kami perlu diburu.” Ia menjelaskan dengan lembut. “Jika kau tidak cukup berani untuk memburunya dan hanya menontonnya saat mondar-mandir di depan matamu, maka kau tidak akan pernah berhasil memegang tanduknya yang berharga.”

Xi Men Chui Xue tersenyum. “Kau telah memberikan tandukmu padaku?”

Sun Xiu Qing menghela nafas dengan lembut: “Aku telah memberimu tandukku, kulit, tulang, segalanya.”

Sambil berpelukan, mereka berdiri di sana dalam kebisuan di bawah sinar matahari terbenam. Mereka seperti telah lupa kalau orang lain masih ada di sana, seperti telah melupakan seluruh dunia ini. Matahari terbenam mungkin tampak indah, tapi sebentar lagi malam pun tiba. Berapa lama lagi mereka masih bisa saling berpelukan?

Ou Yang mengawasi mereka dari kejauhan. Walaupun di dalam hatinya ia senang melihat kebahagiaan mereka, ia juga merasa amat khawatir, khawatir atas kebahagiaan mereka.

Karena ia faham orang seperti apa Xi Men Chui Xue itu, karena ia memahami pedang Xi Men Chui Xue. Pedangnya itu bukanlah pedang manusia.

Orang biasa yang punya perasaan, darah dan daging tidak akan mampu mencapai ilmu pedang tak berperasaan seperti itu. Pedang itu benar-benar telah mencapai tingkatan “dewata”.

Xi Men Chui Xue bukanlah orang biasa yang punya perasaan, daging dan darah. Hidupnya telah lama dikorbankan untuk pedangnya, pada pedangnya. Seakan-akan dirinya dan pedangnya telah melebur menjadi satu, dan juga telah mencapai tingkatan “dewata”.

Tapi sekarang ia telah berubah menjadi orang biasa, sekarang ia juga terdiri dari daging dan darah, ia juga punya perasaan. Masih mampukah ia menggunakan pedang tanpa perasaan itu?Mungkinkah ia mampu mengalahkan Ye Gu Cheng?

Matahari terbenam mungkin terlihat indah, tapi sebentar lagi akan berlalu dan bulan pun segera akan muncul. Bulan malam ini tampaknya telah ditakdirkan akan berlumuran darah oleh darah seorang laki-laki. Tapi darah siapa?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: