Kumpulan Cerita Silat

10/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:55 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 08: Pertempuran Awal
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Tanggal 15 September pagi. Lu Xiao Feng berjalan keluar dari sebuah pintu di sudut halaman belakang toko roti itu, berbelok keluar dari halaman, dan berjalan menelusuri jalan yang tertutup oleh kabut pagi. Walaupun ia tidak tidur malam sebelumnya, ia tidak lelah. Setelah mandi air dingin, ia merasa lebih segar dan bertenaga, seluruh tubuhnya bahkan lebih siap untuk menghadapi hari ini.

Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membongkar persekongkolan ini dan menemukan dalang di balik semua ini. Patung lilin itu masih berada di dalam kantung sebelah dalam bajunya. Ia bersumpah akan meratakan wajah orang itu seperti wajah patung ini.

“Manusia Tanah Liat Zhang tinggal di Jalan Ikan Mas di belakang Jalan Cherry. Pintu depannya bercat hitam dan di depannya ada sebuah papan nama, sangat mudah untuk ditemukan.”

Ia telah menemui Ou Yang Qing. Walaupun gadis itu tidak berkata apa-apa, warna wajahnya telah berubah jauh lebih sehat, jelas ia telah melalui saat-saatnya yang kritis.

Xi Men Chui Xue bukan hanya memiliki ilmu pedang pembunuh, ia juga memiliki obat penolong jiwa.

“Menolong nyawa tampaknya benar-benar lebih nikmat daripada mencabut nyawa.”

Lu Xiao Feng tersenyum. Ia hanya bisa berharap bahwa seseorang yang biasa membunuh bisa berubah menjadi orang yang suka menolong nyawa orang lain.

Ia pun telah bertemu dengan Sun Xiu Qing. Sun Xiu Qing yang dulu suka bicara dan orangnya terus terang juga telah berubah, berubah menjadi seorang wanita yang lembut dan sabar. Karena ia bukan lagi seorang jago pedang wanita yang mencari nama di dunia persilatan, ia segera akan menjadi seorang ibu.

“Kalian telah lupa mengundangku minum arak, sebaiknya kalian jangan lupa untuk mengundangku makan telur merah!”

“Kapan kau akan mengundang kami untuk meminum arakmu””

Lu Xiao Feng melihat kehangatan dan kelembutan di mata Ou Yang dan bertanya sendiri di dalam hatinya: “Apakah ini sudah waktunya aku mulai berkeluarga””

Tentu saja hal ini masih terlalu dini. Tapi jika sebuah fikiran seperti itu muncul di hati seorang laki-laki, hari di mana hal itu menjadi kenyataan tentu tidak akan lama lagi.

Daun jatuh tidak jauh dari akar, manusia pun akhirnya akan selalu menetap. Di samping itu, ia pun telah terlalu lama mengembara. Hidup seorang perjaka yang tidak terikat mungkin mengalami banyak masa suka, tapi kekosongan dan kesepian setelah masa suka itu adalah sesuatu yang tidak semua orang bisa menahannya.

Dan juga merupakan sesuatu yang hanya bisa difahami oleh sedikit orang. Malam-malam yang panjang tanpa tidur, perasaan sunyi setelah musik berhenti dan orang-orang pergi, air mata dan penyesalan saat terbangun setelah mabuk semalaman.

“Bagaimana sebenarnya rasanya” Hanya di lubuk hatinya mereka benar-benar mengetahui yang sebenarnya.

Manusia Patung Zhang adalah seorang laki-laki tua. Tampaknya ia telah lupa bahwa ia pernah memiliki seorang anak yang pemboros seperti Zhang Ying Feng.

Di benak orang-orang tua ini, semua anak muda yang pergi keluar dan mengembara di dunia serta tidak menetap dan mempersembahkan hidupnya untuk bisnis keluarga adalah anak yang boros.

Tentu saja Lu Xiao Feng tidak mengungkit-ungkit kematian Zhang Ying Feng. Usia, dalam bentuk apa pun, adalah sejenis kesedihan. Ia tidak ingin menambahkan selapis kesedihan lagi pada hidup orang tua ini. Tapi saat pokok pembicaraan beralih pada keahliannya, orang tua yang bungkuk ini seperti tegak lagi tubuhnya dan sinar matanya berkerlap-kerlip dengan bangga.

“Tentu saja aku bisa memperbaiki patung lilin ini ke bentuk aslinya. Tidak perduli seperti apa patung ini sebelumnya, aku bisa mengembalikannya seperti semula.” Orang tua ini berkata dengan bangga. “Kau datang pada orang yang tepat, anak muda.”

“Berapa lama waktu yang kau butuhkan”” Mata Lu Xiao Feng pun tampak bersinar-sinar.

“Paling lama dua jam.” Orang tua itu tampak amat yakin. “Datanglah kembali dan ambil ini dua jam lagi.”

“Tidak bisakah aku menunggu di sini””

“Tidak.” Orang tua itu memperlihatkan keangkuhannya. “Aku tidak membiarkan orang lain melihatku bekerja.”

Ini adalah aturannya. Bila mengerjakan hal ini, kata-katanya adalah hukum, karena Lu Xiao Feng tidak bisa melakukan apa yang ia bisa. Maka Lu Xiao Feng pun terpaksa pergi.

Di samping itu, daripada selama dua jam tidak berbuat apa-apa, lebih baik pergi minum teh di warung teh di jalan depan sana.

Warung Kedamaian Surgawi merupakan sebuah warung teh yang besar. Bukanya tepat mulai fajar, dan tempat itu selalu dipenuhi oleh pembeli sejak buka. Karena warung-warung teh di ibukota tidak sesederhana warung-warung teh di tempat lain, para pembeli datang ke sana juga bukan sekedar untuk minum teh.

Terutama di pagi hari, sebagian besar orang sedang menunggu untuk dijemput atau ditawari pekerjaan. Tukang batu, tukang kayu, tukang antar barang, penjahit, dan segala macam tukang dan pedagang lain tentu akan berdatangan ke sekitar warung teh di pagi hari setelah memenangkan sebuah kontrak yang besar atau mendapat tugas untuk mencari pekerja. Jika mereka terlambat datang, mungkin mereka hanya akan mendapatkan pekerja yang buruk.

Bagian dalam warung teh itu mungkin tampak semrawut, tapi kenyataannya setiap profesi memiliki wilayah sendiri di dalamnya. Para tukang kayu tidak akan pernah duduk bersama dengan tukang batu, karena duduk di tempat yang salah berarti tidak akan mendapat pekerjaan.

Ada yang disebut “tempat persinggahan”. Setiap profesi memiliki beberapa buah meja yang membentuk “tempat persinggahan” dan tidak boleh ada kekeliruan. Ini bukan pertama kalinya Lu Xiao Feng mengunjungi ibukota, dan ia pun tahu pasti mengenai aturan-aturan ini. Maka ia mengambil tempat duduk di dekat pintu dan menuangkan secangkir teh “Delapan-Ratus-Sekantung” untuk dirinya sendiri.

Teh di sini tidak dijual menurut bobotnya, tapi dijual per kantung. Satu kendi teh, satu kantung daun teh. Ada yang disebut “Dua-Ratus-Sekantung”, “Empat-Ratus-Sekantung”, dan yang terbaik, “Delapan-Ratus-Sekantung”. Delapan ratus itu sebenarnya berarti delapan tael perak sekantung.

Tentu saja karena ini ibukota, yang tentu saja harus lebih mengesankan daripada tempat-tempat lain, delapan tael perak tadi disebut saja sebagai delapan ratus. Lu Xiao Feng menghirup cangkirnya sebanyak dua kali dan baru saja hendak memanggil pelayan untuk memesan kacang goreng saat dua orang tiba-tiba duduk di mejanya dan menghadap ke arahnya.

Berbagi meja di sebuah warung teh adalah hal biasa. Tapi raut wajah kedua orang ini terlihat amat aneh, tatapan mata mereka malah lebih aneh lagi. Di antara mereka berdua, keempat mata mereka menatap tak berkedip pada wajahnya.

Mereka mengenakan pakaian yang indah, mata mereka pun tampak bersinar-sinar, dan kening mereka pun menonjol. Jelas mereka adalah jago-jago kungfu.

Salah seorang di antara mereka tampaknya berusia lebih tua, ia adalah seorang yang bertubuh tinggi besar dengan gaya mengancam, dan walaupun ia tidak membawa senjata, ia memiliki sepasang tangan penuh otot dengan buku jari yang menonjol yang tampaknya bisa menghancurkan batu cadas. Orang yang lebih muda mengenakan pakaian yang lebih mewah, tampaknya ia memiliki kening yang tinggi dan memancarkan hawa yang lebih kuat daripada si tua tadi. Matanya yang jernih terlihat merah seperti darah, seakan-akan ia tidak tidur semalaman, seakan-akan mata itu dipenuhi oleh kebencian dan kemarahan.

Mereka menatap Lu Xiao Feng, tapi Lu Xiao Feng tidak melirik mereka sedikit pun.

Mereka berdua saling berpandangan. Laki-laki yang lebih tua tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kayu dan meletakkannya di atas meja.

“Tuan, apakah Tuan ini Lu Xiao Feng””

Lu Xiao Feng terpaksa mengangguk, dan menggigit bibirnya sedikit tanpa sadar. Kedua kumisnya yang ia sukai itu sepertinya telah banyak membawa masalah yang tidak diinginkan.

“Aku Bu Ju.”

“Halo.” Lu Xiao Feng menjawab tanpa memperlihatkan ekspresi sedikit pun, seakan-akan ia tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya. Kenyataannya, tentu saja ia pernah.

Mungkin tidak banyak orang di dunia ini yang pernah mendengar nama itu. “Telapak Pembelah Langit”. Nama Bu Ju telah mengendalikan sejumlah wilayah, mulai dari Sichuan hingga Hunan. Ia adalah Ketua Umum dari 36 kelompok bajak laut dan penjahat di daerah itu! Sudut mata Bu Ju tampak berkedut.

Biasanya, bila sudut matanya berkedut, itu berarti bahwa ia hendak membunuh. Tapi kali ini ia terpaksa menahannya.

“Kau pernah mendengar namaku, Tuan”” Ia menekan kemarahannya.

“Tidak.”

“Kalau begitu, seharusnya kau telah mendengar apa yang ada di dalam kotak ini.” Bu Ju mengejek.

Ia membuka kotak itu. Di dalamnya ada tiga buah cincin giok yang amat besar, berkilauan, dan benar-benar tanpa cacat. Lu Xiao Feng adalah orang yang pandai menaksir. Dengan mudah ia bisa melihat bahwa ketiga cincin giok ini adalah harta yang tak ternilai harganya.

Tapi ia kembali menggelengkan kepalanya.

“Belum pernah melihat benda-benda ini sebelumnya.”

“Aku tahu kau belum pernah melihatnya, tak banyak orang yang punya kesempatan untuk melihat harta ini.” Bu Ju menjawab dengan cepat sebelum tiba-tiba mendorongkan kotak itu ke sisi Lu Xiao Feng. “Tapi jika kau mau melakukan sesuatu untukku, semua ini menjadi milikmu!”

“Sesuatu seperti apa”” Lu Xiao Feng pura-pura tidak tahu.

“Ketiga cincin giok ini ditukarkan dengan tiga helai sabuk sutera itu.”

“Sabuk yang mana””

“Tidak ada gunanya bermain-main, jadi atau tidak”” Bu Ju menjawab dengan dingin, langsung ke tujuannya.

Lu Xiao Feng pun tersenyum. Ia telah menduga apa yang mereka kehendaki sejak mereka duduk tadi.

“Kami telah menyuruh orang untuk mulai menyebarkan informasi ini pada teman-teman di dunia persilatan!”

“Tanpa sabuk itu di tubuh mereka, tanpa memandang siapa pun orangnya, akan dieksekusi di tempat jika tertangkap saat memasuki Istana Terlarang tanpa izin!”

Ia tahu masalah yang akan terjadi saat ia mendengar kedua kalimat ini.

“Ya atau tidak”” Bu Ju mendesak dengan marah, ia mulai kehilangan kesabarannya.

“Tidak!” Jawabannya sederhana dan langsung. Ia bukanlah tipe orang yang takut pada masalah.

Bu Ju hampir melompat bangkit dan buku-buku jarinya terdengar bergemeretak seperti bunyi batu berjatuhan, ekspresi wajahnya pun tampak tidak bersahabat lagi. Tapi ia tidak bergerak, karena orang muda itu menahan tubuhnya dengan sebelah tangan dan mengeluarkan sebuah benda lagi dengan tangannya yang lain dan meletakkannya di atas meja. Benda itu adalah sebutir anggur beracun. Tidak lain daripada Anggur Beracun Keluarga Tang yang terkenal ke seluruh dunia, racunnya akan segera menghentikan nafas orang saat bersentuhan dengan darah.

Di bawah sinar matahari, jelas terlihat bahwa Anggur Beracun ini bukan hanya terbuat dari baja yang paling murni, desainnya pun amat rumit, pada setiap lembar daunnya tersembunyi 7 buah jarum baja. Saat terbentur, jarum-jarum ini akan beterbangan sehingga, tidak perduli apakah anggur ini mengenai tulang atau pun darah, orangnya pasti akan mati.

Senjata semacam ini tidak biasanya diletakkan di atas meja untuk dilihat oleh orang lain, dan amat sedikit orang yang sempat mengamatinya dengan teliti. Bahkan Lu Xiao Feng pun terpaksa mengakui bahwa senjata ini membawa semacam kekuatan yang tak dapat difahami. Walaupun tergeletak di atas meja, ia masih bisa merasakan kekuatannya.

“Nama keluargaku Tang.” Suara orang muda itu tiba-tiba memecahkan keheningan.

“Tang Tian Zong””

“Ya!” Orang muda itu mengakui dengan bangga. Ia benar-benar bangga pada dirinya sendiri. Kemampuannya adalah yang terbaik di antara saudara-saudaranya dan murid-murid keluarga Tang, walaupun usianya adalah yang termuda.

“Kau hendak menukar senjata rahasiamu ini dengan sabuk suteraku””

“Senjata ini benda mati. Jika kau tidak tahu cara menggunakannya, aku bisa memberimu sekantung penuh senjata seperti ini dan tetap tidak akan ada gunanya!” Tang Tian Zong memberi komentar dengan dingin.

Lu Xiao Feng menghela nafas. “Ternyata kau hanya bermaksud memperbolehkan aku melihatnya.”

“Tidak banyak orang yang bisa melihat senjata seperti ini.”

“Aku pun bisa mengeluarkan sabuk sutera itu untuk kalian lihat, juga tidak banyak orang yang bisa melihatnya!”

“Sayangnya sabuk itu tidak bisa digunakan untuk membunuh.”

“Tergantung berada di tangan siapa sabuk itu, kan” Di tangan yang tepat, bahkan sehelai rumput pun bisa membunuh.”

Ekspresi wajah Tang Tian Zong menjadi gelap dan ia menatap langsung ke mata Lu Xiao Feng. Tiba-tiba, ia menekan dengan menggunakan tangannya yang berada di atas meja dan Anggur Beracun itu segera melompat ke udara.

“Sing!” Dengan sebuah bunyi desiran, senjata rahasia itu telah melesat sejauh lebih dari 6 m.

“Tak!” Senjata itu melesak ke salah satu balok di langit-langit. Bukan hanya ke langit-langit, tapi hingga melesak ke dalam kayunya. Ternyata bukan hanya senjata pemuda ini didesain dengan terampil, keahlian tangannya pun mengejutkan. Tapi Lu Xiao Feng tampaknya sama sekali tidak memperhatikan.

Tatapan mata Tang Tian Zong tampak semakin menyeramkan.

“Itulah kemampuan membunuh yang sebenarnya dari senjata tersebut.”

“Oh!”

“Tiga cincin giok serta satu nyawa, kau setuju untuk bertukaran””

“Nyawa siapa””

“Nyawamu.”

Lu Xiao Feng kembali tersenyum.

“Jika aku menolak, kau akan mengambil nyawaku””

Sebuah seringai pun muncul di wajah Tang Tian Zong saat Lu Xiao Feng mengajukan pertanyaan itu. Dengan perlahan, Lu Xiao Feng menghirup cangkirnya sebanyak dua kali sebelum tiba-tiba ia menyadari sebuah hal yang amat penting. Jika Tang Tian Zong dan Bu Ju bisa menemukannya, maka orang lain pun tentu dapat melacak keberadaannya.

Jika Manusia Tanah Liat Zhang benar-benar mampu mengembalikan patung lilin itu ke bentuknya semula, maka tentu akan ada orang yang ingin membunuhnya dan menghilangkan petunjuk itu. Lu Xiao Feng meletakkan cangkir tehnya, ia memutuskan untuk berhenti bermain-main dengan kedua orang ini. Patung itu adalah petunjuk terakhirnya, Manusia Tanah Liat Zhang tidak boleh mati.

“Kau telah mengambil keputusan?” Tang Tian Zong mendesak.

Lu Xiao Feng tertawa kecil sambil bangkit dengan perlahan, mengambil 3 buah cincin giok itu dari atas meja, dan memasukkannya ke dalam kantungnya.

“Kau menyetujui pertukaran itu?”” Bu Ju mulai tersenyum.

“Tidak.”

Senyuman Bu Ju segera berubah menjadi kerutan.

“Lalu mengapa kau mengambil cincin giok-ku””

“Aku telah berbincang-bincang dan menemani kalian untuk beberapa lama, maka aku harus mendapatkan sesuatu sebagai balasannya.” Lu Xiao Feng menerangkan dengan santai. “Waktuku amatlah berharga.”

Sekali lagi Bu Ju melompat bangkit. Kali ini Tang Tian Zong tidak menariknya kembali, karena kedua tangannya telah berada di dalam kantung kulit macan tutul di pinggangnya.

Tapi Lu Xiao Feng tidak memperdulikan semua itu.

“Jika kalian benar-benar menginginkan sabuk sutera itu, masih ada sebuah cara, tapi aku punya syarat.” Ia berkata sambil tersenyum.

“Syarat apa”” Bu Ju mendesak, hampir tak dapat menahan kemarahannya lagi.

“Kalian berdua harus berlutut sekarang juga dan memberi hormat padaku sebanyak tiga kali.”

Sambil meraung murka, Bu Ju menyerang. Tangan Tang Tian Zong pun bergerak.

“Prang!” Sebuah poci tiba-tiba muncul di tangan Bu Ju dan ia menghancurkan poci itu hingga berkeping-keping, menumpahkan isinya ke seluruh jubah sutera ungu yang ia kenakan. Anehnya, ia tidak tahu bagaimana poci itu bisa berada di tangannya.

Tadi ia ingin mencengkeram pundak Lu Xiao Feng, tapi entah bagaimana caranya ia malah mencengkeram poci teh ini. Tang Tian Zong telah mengeluarkan sebelah tangan dari kantungnya dengan sebuah senjata rahasia di tangan, tapi, entah karena alasan apa, ia tetap menggenggamnya saja.

Lu Xiao Feng telah berada di seberang jalan, sambil melambai-lambaikan tangannya dengan gembira pada mereka.

“Kalian telah menghancurkan poci itu, maka kalian harus memberi ganti rugi. Kupersilakan juga kalian berdua untuk membayar tagihanku. Terima kasih banyak.”

Bu Ju hendak mengejar waktu tiba-tiba ia mendengar suara desisan beberapa kali dari mulut Tang Tian Zong. Wajahnya tampak pucat seperti kertas, tapi kemudian segera berubah menjadi hijau sebelum berubah lagi menjadi merah darah dan keringat dingin pun mengalir di keningnya. Jalan darahnya telah tertotok.

“Kapan Lu Xiao Feng melakukan gerakannya” Wajah Bu Ju yang membaja tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi dan ia menghela nafas panjang dan menjatuhkan dirinya kembali ke atas kursi.

“Sudah kubilang, jika kalian ingin Lu Xiao Feng mendengarkan kalian, kalian harus bergerak lebih dahulu.”

Tiba-tiba, dari luar pintu, terdengar suara tawa. “Asal ia masih bisa bergerak, kalianlah yang harus mendengarkan dia.”

Seseorang berjalan masuk sambil bicara, kepalanya gundul dan saat tersenyum ia terlihat seperti sebuah patung Budha: “Aku jujur, aku selalu mengatakan hal yang sebenarnya. Kalian percaya sekarang”

Lu Xiao Feng tidak melihat Hwesio Jujur. Jika ia melihatnya, tentu ia akan semakin gelisah. Tapi walaupun ia tidak melihat Hwesio Jujur, ia merasa seakan-akan ia sudah hampir mati karena cemas. Bukan hanya ia merasa amat cemas, ia pun merasakan penyesalan yang teramat dalam.

Seharusnya ia tidak meninggalkan si Manusia Tanah Liat Zhang sendirian. Seharusnya ia setidaknya duduk di sana dan berjaga di pintu. Sayangnya jika Lu Xiao Feng bisa duduk dan minum secangkir teh, ia tidak akan pernah mau berdiri di luar dan menunggu orang.

Sekarang ia hanya bisa berharap bahwa “orang ketiga” itu belum menemukan Manusia Tanah Liat Zhang. Ia bahkan bersumpah, jika Manusia Tanah Liat Zhang masih hidup dan bisa mengembalikan patung itu padanya, ia tidak akan minum teh selama 3 bulan berikutnya, tak perduli betapa enaknya rasa teh itu.

Manusia Tanah Liat Zhang ternyata masih hidup, dan dilihat dari tampangnya ia bahkan jauh lebih bahagia daripada sebelumnya. Karena patung lilin itu telah diperbaiki, itu berarti ia akan dibayar. Saat seseorang bertambah tua, ia semakin jarang memiliki kesempatan untuk membelanjakan uangnya, karena rasa tertariknya dalam mencari uang akan semakin bertambah dan bertambah.

Mendapatkan dan membelanjakan uang sepertinya selalu terlihat berbanding terbalik satu sama lain, hal yang amat aneh, bukan” Setelah ia masuk dan melihat Manusia Tanah Liat Zhang, barulah Lu Xiao Feng akhirnya menghela nafas lega. Anehnya, ia tidak lupa untuk memperingatkan dirinya sendiri.

Tidak minum teh selama 3 bulan berikutnya, tak perduli betapa enaknya rasa teh itu. Teh juga bisa membuat orang kecanduan. Orang yang suka minum akan merasa amat sukar untuk tidak minum teh. Untunglah baginya, ia pun tidak lupa untuk mengingatkan dirinya mengenai satu hal lagi: ia masih bisa minum arak, arak yang banyak.

Manusia Tanah Liat Zhang mengulurkan kedua tangannya, patung itu berada di satu tangan, tangan yang lain kosong. Lu Xiao Feng faham benar apa maksudnya.

Orang yang benar-benar ahli selalu ingin dibayar sesegera mungkin setelah mereka menyelesaikan tugasnya, kalau tidak mereka akan merasa amat tidak senang walau kau hanya terlambat sedikit. Kenyataannya, tindakannya tadi untuk tidak meminta Lu Xiao Feng membayar terlebih dulu adalah suatu hal yang mengagumkan.

Setelah tangan yang kosong itu terisi oleh cek, barulah Manusia Tanah Liat Zhang melepaskan genggamannya pada patung lilin di tangan yang lain. Setelah itu barulah sebuah senyuman muncul di wajahnya. Tapi Lu Xiao Feng tidak mampu tersenyum. Wajah di patung lilin itu tidak lain daripada wajah Xi Men Chui Xue.

Jalan Ikan Mas adalah sebuah jalan yang amat sepi dan tenang. Matahari bulan September yang menyinari punggung orang tidak terasa dingin atau pun panas. Dapat berjalan di sebuah jalan seperti ini pada hari seperti ini adalah suatu hal yang amat menyenangkan.

Tapi Lu Xiao Feng tidak merasa gembira. Ia benar-benar tidak percaya kalau Xi Men Chui Xue yang membunuh Zhang Ying Feng, ia pun tidak percaya kalau Xi Men Chui Xue bekerja sama dengan kasim-kasim itu. Yang terpenting, ia tidak percaya kalau Xi Men Chui Xue akan berdusta, apalagi berdusta padanya. Tapi wajah patung ini memang wajahnya Xi Men Chui Xue.

“Apakah kau membuat kekeliruan”” Ia ingin bertanya begitu pada Manusia Tanah Liat Zhang, tapi tidak jadi.

Ia selalu menghormati keahlian dan kedudukan orang lain. Dalam bidang ini, Manusia Tanah Liat Zhang memiliki kemampuan yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Jika ia menyatakan bahwa Manusia Tanah Liat Zhang telah membuat kekeliruan, perbuatan itu akan dianggap lebih menghina daripada sebuah tamparan di pipi.

Lu Xiao Feng tidak pernah suka membuat orang lain merasa tidak enak, tapi saat ini ia sendiri yang merasa tidak enak. Patung ini merupakan petunjuknya yang paling menjanjikan, tapi sekarang setelah ia mendapatkan petunjuknya, ia malah lebih bingung daripada sebelumnya. Bagaimana hal ini bisa terjadi” Ia tidak bisa membayangkannya.

Sinar matahari yang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas pun memandikan wajahnya, dan juga wajah patung lilin di tangannya. Sambil menatap patung itu, ia pun terus berjalan. Tapi, saat ia berjalan keluar dari gang itu dan masuk ke jalan raya, tiba-tiba ia melompat di tempat, segera berputar, dan berlari kembali ke arah semula, seakan-akan seseorang telah mencambuknya dari belakang. Apa yang baru saja ia temukan?

Tempat Manusia Tanah Liat Zhang bertemu dengan pelanggan-pelanggannya juga merupakan ruang kerjanya. Jendela menutupi ketiga sisi ruangan itu. Di sana juga ada sebuah meja besar dengan bermacam-macam benda keramik, debu, cat, pisau ukir, dan sikat. Selain dari membuat patung lilin, ia juga membuat ukiran peta dan melukis beberapa gambar jimat yang bisa menakut-nakuti setan.

Kali ketiga Lu Xiao Feng masuk ke sini, orang tua itu sedang membungkuk di meja sambil mengukir. Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya saat Lu Xiao Feng masuk.

Walaupun ada jendela, ruangan itu masih terasa gelap. Pandangan mata orang tua itu, tentu saja, tidak tertuju ke arah semula, wajahnya saat itu sudah hampir menyentuh meja.

Lu Xiao Feng berdehem beberapa kali, tidak ada reaksi dari orang tua itu. Ia berdehem lagi, kali ini lebih keras. Masih tidak ada reaksi. Bahkan tidak ada gerakan sedikit pun, begitu juga dengan pisau di tangannya. Bagaimana dia bisa mengukir peta tanpa menggerakkan pisaunya”

“Apakah ada orang yang telah mendatangi orang tua ini?” Jantung Lu Xiao Feng seperti karam, tapi ia lalu melompat dan berdiri di belakang si Manusia Tanah Liat Zhang dan hendak menarik tubuhnya untuk melihat apa yang telah terjadi.

“Di luar sana amat berangin, pergilah tutup pintu!” Orang tua itu tiba-tiba memberi perintah.

Jantung Lu Xiao Feng pun berdetak lagi mendengar suara itu, lalu ia mundur dan, sambil menertawakan kebodohannya sendiri, menutup pintu dengan perlahan. Ia merasa seperti seorang wanita tua yang gila.

“Apa yang kau inginkan””

“Aku ke sini untuk menukar patung lilin tadi!”

“Menukar patung lilin yang mana””

“Yang kau berikan tadi itu adalah patung yang salah, jadi aku menginginkan kembali patung yang kuberikan padamu!”

Tadi waktu ia berjalan keluar dari gang, barulah ia menyadari bahwa patung lilin yang diberikan si Manusia Tanah Liat Zhang itu berwarna kekuning-kuningan, sementara yang diberikan Yan Ren Ying padanya berwarna hijau terang. Tentu patung-patung itu ditukar oleh orang tua ini untuk mengarahkan tuduhan pada Xi Men Chui Xue sebagai si pembunuh. Jika orang tua ini bukan salah satu dari mereka, setidaknya dia tentu telah dibeli mereka.

“Aku tadi memintamu untuk mengembalikan patung lilin itu ke bentuknya semula, bukan untuk dibuatkan sebuah patung lainnya.”

Dengan lambat ia kembali mendekati orang tua itu, tanpa mengalihkan matanya dari pisau di tangannya. Sebatang pisau yang digunakan untuk mengukir peta pun bisa digunakan untuk membunuh, ia tidak ingin diperlakukan seperti peta itu dan membiarkan orang lain membuat beberapa ukiran di tenggorokannya.

Anehnya, si Manusia Patung Lilin Zhang lalu menurunkan pisau di tangannya sebelum berpaling dengan lambat.

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti.”

Lu Xiao Feng juga tidak, karena ia baru melihat wajah orang tua ini. Manusia Tanah Liat Zhang ini bukanlah Manusia Tanah Liat yang tadi ia temui.

Ia hampir menelan lidahnya sendiri. Setelah beberapa saat barulah ia bisa menarik nafas lagi dan kemudian memandang orang tua itu beberapa kali lagi.

“Kau ini Manusia Tanah Liat Zhang”” Akhirnya ia bertanya.

Orang tua itu tersenyum dan terlihatlah barisan giginya yang kuning.

“Memang ada Tukang Cukur Wang Bopeng yang asli dan palsu, tapi hanya ada satu Manusia Tanah Liat Zhang yang asli, tidak ada toko lainnya!”

“Lalu siapa yang tadi itu””

Manusia Tanah Liat Zhang menyipitkan matanya dan memandang ke sekeliling ruangan.

“Siapa yang kau bicarakan? Aku baru saja kembali, bahkan bayangan pun tidak ada di sini.”

Lu Xiao Feng merasa seakan-akan seseorang baru saja menyumpalkan segenggam buah persik busuk ke dalam tenggorokannya.

Jadi Manusia Tanah Liat Zhang yang tadi ia temui adalah yang palsu. Ternyata lebih mudah menipunya daripada mencuri permen dari seorang anak bayi.

Manusia Tanah Liat Zhang menatap patung lilin yang berada di tangannya.

“Tapi aku memang membuat patung ini, bagaimana kau bisa mendapatkannya”” Tiba-tiba ia bertanya.

“Kau pernah melihat orang ini sebelumnya”” Lu Xiao Feng segera memburu.

“Tidak.”

“Bagaimana kau bisa membuat patung yang mirip dirinya tanpa pernah bertemu dengannya sebelumnya””

Manusia Tanah Liat Zhang tersenyum.

“Aku belum pernah bertemu Guan Yu, tapi aku juga bisa membuat patungnya!”

“Apakah seseorang membawakan lukisan dirinya padamu dan memintamu untuk membuatkan patung ini untuknya””

“Akhirnya kau faham juga.”

“Siapa yang memintamu untuk membuat ini””

“Orang ini.” Ia berputar dan mengambil sebuah patung lilin dari atas meja. “Waktu ia datang, kebetulan aku memegang sepotong tanah liat di tanganku, maka aku pun membuatkan patung dirinya tanpa sadar. Tapi aku lupa memberikan patung ini padanya.”

Mata Lu Xiao Feng tampak bersinar-sinar. Tapi tangan orang tua itu kebetulan memegang patung tersebut di bagian kepala, maka ia tidak bisa melihat hal yang paling ingin ia lihat, wajah itu. Manusia Tanah Liat Zhang menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

“Waktu kau bertambah tua, ingatanmu pun tidak bekerja dengan baik lagi. Jika kau lupa yang ini, kau pun lupa yang itu.” Ia bergumam.

“Mungkin ingatanmu tidak bekerja dengan baik lagi, tapi keberuntunganmu masih bekerja dengan amat baik.” Lu Xiao Feng tiba-tiba bergurau.

“Keberuntungan apa””

“Jika kau tidak lupa memberikan patung ini padanya, kau tentu tidak akan mendapatkan 500 tael perak secara gratis.”

Mata si Manusia Tanah Liat Zhang pun tampak bersinar-sinar: “Kau mau memberiku 500 tael perak””

“Asal kau berikan patung tanah liat itu padaku, 500 tael perak ini menjadi milikmu!”

Manusia Tanah Liat Zhang tak bisa menahan dirinya lagi dan ia segera mengangsurkan patung tanah liat itu tepat ke arah wajah Lu Xiao Feng. Lu Xiao Feng baru saja hendak mengulurkan tangannya dan menerimanya waktu “brak!”, kepala patung itu tiba-tiba terbuka dan tujuh atau delapan buah bintang jatuh yang berukuran kecil dan dingin pun melesat ke arah tenggorokannya. Ternyata di dalam patung tanah liat itu tersembunyi sebuah pegas dan pegas itu bekerja pada jarak kurang dari setengah meter dari tenggorokan Lu Xiao Feng!

Jaraknya kurang dari setengah meter, dengan kecepatan yang luar biasa seperti kilat, serangan yang tidak terduga oleh siapa pun, dan tujuh batang jarum beracun yang akan membunuh orang saat menyentuh darahnya.

Tampaknya kali ini Lu Xiao Feng akan mati! Siapa pun akan tewas dalam kondisi seperti ini! Jarak sedemikiran rupa, kecepatan seperti ini, senjata semacam ini, tidak satu pun makhluk di khayangan atau di kedalaman neraka yang mampu menghindari serangan ini.

Perangkap ini jelas telah direncanakan dengan teliti hingga detil yang terkecil, jebakan ini bukan hanya seharusnya berhasil, tapi juga hampir mustahil gagal!

Bahkan Lu Xiao Feng pun tidak mampu menghindari serangan ini. Tapi ia tidak mati, karena masih ada sebuah patung lilin di tangannya. Waktu pegas tadi mengeluarkan bunyi “brak!”, tangannya pun mengibas dan patung lilin itu melayang dari tangannya dan ketujuh jarum tadi pun menancap di patung tersebut.

Walaupun sudah menancap di patung itu, tenaga jarum beracun itu belum hilang sepenuhnya dan patung tersebut masih membentur tenggorokan Lu Xiao Feng. Walaupun patung lilin itu tidak bisa membunuh, hal tersebut masih mengejutkan dirinya. Di saat yang kacau itulah, Manusia Tanah Liat Zhang telah melesat dan melompat melalui salah satu jendela. Saat Lu Xiao Feng sadar apa yang terjadi, ia telah berada di luar.

Reaksi “Manusia Tanah Liat Zhang” ini pun amat cepat, setelah melihat jebakannya gagal, ia pun kabur.

Tapi setelah keluar lewat jendela, terdengar serentetan suara teriakan diikuti oleh sebuah suara “duk” yang keras dan agak datar, seakan-akan sesuatu yang berat berbenturan dengan sepotong kayu.

Setelah suara “duk” itu, teriakan tadi pun berhenti. Saat Lu Xiao Feng keluar dari ruangan itu, orang tersebut tampak tergeletak di atas tanah di tengah-tengah halaman, sepertinya ia pingsan. Seorang laki-laki sedang berdiri di sampingnya dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, kepalanya terlihat gundul.

“Hwesio Jujur!” Lu Xiao Feng hampir menjerit.

Sambil memegangi kepalanya, Hwesio Jujur berusaha tersenyum.

“Tampaknya aku harus mengganti namaku, menggantinya jadi Hwesio Sial.”

“Kenapa kau jadi sial””

“Jika aku tidak sial, lalu mengapa orang membenturkan kepalanya pada kepalaku tanpa sesuatu sebab””

Saat ini sebuah memar yang amat besar dan berwarna hitam terlihat di kepala si “Manusia Tanah Liat Zhang”. Lu Xiao Feng tidak tahu apakah ia harus tertawa atau bingung. Ia tahu pasti bahwa tidak mungkin dua kepala bisa berbenturan secara tidak sengaja, ia pun tidak bisa membayangkan kenapa Hwesio Jujur mau membantunya.

“Untunglah kepalaku keras.” Hwesio Jujur bergumam dan ia terus-terusan menggosok kepalanya.

“Itulah sebabnya kau mungkin tidak beruntung, tapi Manusia Tanah Liat Zhang ini yang nasibnya jauh lebih buruk.” Lu Xiao Feng bergurau.

“Kau bilang dia ini Manusia Tanah Liat Zhang””

“Apa bukan””

“Jika dia adalah Manusia Tanah Liat Zhang, maka aku adalah Lu Xiao Feng.”

Tentu saja Lu Xiao Feng tahu Manusia Tanah Liat Zhang ini bukanlah yang asli, tapi ia pun tidak faham mengapa yang pertama, Manusia Tanah Liat Zhang yang asli, mau mengganti patung lilin itu untuk memperdayainya.

“Aku mungkin tidak ganteng, tapi aku pernah datang ke sini dan meminta si Manusia Tanah Liat Zhang untuk membuat patung tiruanku.”

“Jadi kau mengenal Manusia Tanah Liat Zhang””

Hwesio Jujur mengangguk.

“Kau datang ke mari untuk menyuruh Manusia Tanah Liat Zhang membuatkan patung tiruanmu juga””

“Tak tahu apakah ia mampu menirukan keempat alis mataku dengan baik.” Lu Xiao Feng tertawa.

“Walaupun kau punya 8 alis, ia pasti mampu meniru semuanya dengan baik, hingga ke setiap utas rambut sekalipun. Sayangnya, sekarang dia hanya bisa menunggu orang lain yang membuatkan tiruannya!”

“Mengapa begitu”” Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

“Aku tadi datang lewat belakang, di belakang sana ada sebuah sumur.”

“Apa yang ada di dalam sumur itu””

Hwesio Jujur menghela nafas.

“Mungkin sebaiknya kau melihat sendiri!”

Tentu saja di dalam sumur ada air. Tapi di dalam sumur ini, selain air, juga ada darah. Darah si Manusia Tanah Liat Zhang!

“Aku datang ke sini karena aku menangkap bau amis darah dari sumur ini.” Dengan sebuah kerutan di wajahnya, Hwesio Jujur merangkap tangannya dan membungkuk. “Lebih baik aku tidak melihat apa yang telah kulihat. Amitaba Buddha, Buddha Maha Pengampun.”

Yang ia lihat adalah empat sosok mayat, dan sekarang Lu Xiao Feng pun melihat mereka juga. Empat orang anggota keluarga si Manusia Tanah Liat Zhang telah tewas di dasar sumur.

Lu Xiao Feng tidak bicara ataupun membuka mulutnya, ia tidak ingin muntah di depan si Hwesio Jujur. Seluruh isi perutnya seperti jungkir balik.

Baru sekarang ia menyadari bahwa kedua Manusia Tanah Liat Zhang yang ia temui hari ini adalah gadungan. Yang pertama bertanggung-jawab atas penukaran patung dan membuatkan patung Xi Men Chui Xue. Dan bila Lu Xiao Feng tidak terperdaya oleh tipuan itu, ia tentu akan kembali dan gadungan yang kedua menunggu di sini untuk mencabut nyawanya!

Jebakan yang begitu berbahaya dan licik, jika jebakan yang satu gagal maka ada satu jebakan lagi yang menunggumu. Lu Xiao Feng tiba-tiba menghela nafas. Tiba-tiba ia menyadari bahwa nasibnya memang amat baik, ia masih selamat hingga saat ini.

Hwesio Jujur pun menghela nafas bersamanya.

“Dari dulu sudah kubilang, kau diselubungi oleh aura nasib buruk dan tentu akan mengalami nasib buruk!”

“Nasib buruk macam apa yang akan kualami sekarang””

“Apa yang sedang kau lakukan? Kau datang untuk meminta orang mati membuatkan patung tiruan dirimu. Apakah itu bukan nasib buruk””

Lu Xiao Feng balas menatap Hwesio Jujur.

“Walaupun aku datang ke mari untuk meminta orang mati membuatkan patung diriku, kau sendiri sedang melakukan apa di sini””

Pertanyaan itu tampaknya telah membuat Hwesio Jujur tertegun. Untunglah baginya, tepat pada saat itu si “Manusia Tanah Liat Zhang” yang kepalanya memar itu tiba-tiba mengeluarkan suara erangan. Waktu mereka pergi ke belakang tadi, mereka tidak membiarkan orang itu tergeletak di sana dan membawanya.

“Tampaknya ia hampir siuman,” Hwesio Jujur menghela nafas lega. “Syukurlah aku tidak membenturnya hingga tewas!”

“Apakah kau bermaksud membenturnya hingga tewas”” Lu Xiao Feng menatapnya.

Hwesio Jujur segera merangkap tangannya kembali untuk berdoa: “Amida Buddha, keliru, keliru. Tuhan menganugerahkan kehidupan, jika aku punya maksud begitu, bukankah aku akan dilemparkan ke neraka tingkat 18″”

Lu Xiao Feng tertawa.

“Di sana tidak seburuk itu, setidaknya kau tentu akan bertemu beberapa teman lama. Di samping itu, jika kau tidak masuk ke neraka, lalu siapa yang akan masuk””

{Catatan: Kalimat Lu Xiao Feng “jika kau tidak masuk ke neraka, lalu siapa yang akan masuk”” adalah analog dengan sebuah ucapan sang Buddha yang berbunyi: “Jika aku tidak masuk ke neraka, lalu siapa yang akan masuk””}

Hwesio Jujur menggelengkan kepalanya dengan kesal dan mulai bergumam sendiri: “Tidak boleh berdebat dengan orang ini. Tidak boleh berdebat dengan orang ini. Tidak boleh”

“Kau sedang berdoa?” Lu Xiao Feng tak bisa menahan senyumannya.

“Aku hanya mengingatkan diriku sendiri agar aku tidak berdebat tentang neraka lagi di kemudian hari.” Hwesio Jujur menghela nafas.

Lu Xiao Feng ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Ia melihat orang yang tergeletak di atas tanah itu akhirnya sadar dan berusaha duduk sambil memegangi kepalanya. Lu Xiao Feng memandangnya, dan waktu ia juga melihat Lu Xiao Feng, matanya segera memperlihatkan perasaan takut. Ketika ia melihat Hwesio Jujur, ia tampaknya semakin terkejut. Kelihatannya ia mengenali hwesio ini.

Tapi tidak ada ekspresi sama sekali di wajah Hwesio Jujur, Lu Xiao Feng pun tidak membuka mulutnya. Mereka berdua berdiri di depannya dalam bisu, menatapnya. Orang ini mungkin bukan Manusia Tanah Liat Zhang yang sebenarnya, tapi ia memang seorang laki-laki tua. Lu Xiao Feng tahu tidak ada gunanya baginya untuk bicara, tentu ia telah menyadari situasinya.

Laki-laki tua itu menghela nafas: “Aku tahu kalian tentu memiliki banyak pertanyaan untukku, dan aku pun tahu apa yang ingin kalian tanyakan.”

Tentu saja ia seharusnya tahu. Siapa pun orangnya, setelah dijebak, tentu ingin bertanya dari mana asal musuhnya dan siapa yang merencanakan jebakan itu. Seorang laki-laki yang berusia lebih dari 50 tahun bagaimana mungkin tidak tahu akan hal itu.

“Tapi apa pun yang kalian tanyakan, ada satu kalimat yang tidak bisa kukatakan, karena sekali aku mengatakannya, aku tentu akan mati.”

“Kau takut mati?” Lu Xiao Feng bertanya.

“Aku mungkin sudah tua, aku tahu kalau hidupku tidak lama lagi, tapi saat ini aku lebih takut mati daripada sewaktu aku masih muda!” Ia berkata sambil tersenyum kaku. Itu adalah kenyataan.

Semakin bertambah usia seseorang, semakin ia takut mati. Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang tidak kenal takut adalah orang-orang muda, itulah sebabnya orang-orang yang terjun dari gedung-gedung juga adalah orang-orang muda. Kapan kau melihat orang yang sudah tua melakukan bunuh diri”

“Jika kau begitu takut pada kematian, apakah kau tidak takut kalau kami membunuhmu”” Lu Xiao Feng bertanya dengan wajah kosong.

“Tidak, aku tidak takut!”

“Mengapa tidak”” Lu Xiao Feng heran.

“Karena dilihat dari penampilanmu, aku tahu kalau kau tidak suka membunuh, dan tampaknya kau pun tidak bermaksud untuk membunuhku.”

“Kau tahu itu?”

“Aku hidup hingga seusia ini, jika aku tidak tahu itu, lalu apa saja yang kukerjakan seumur hidupku ini”” Ia pun mulai tertawa, tertawa seperti seekor rubah tua.

“Kau keliru!” Lu Xiao Feng menatapnya dengan garang dan memotong suara tawanya.

“Oh””

“Kau tidak keliru tentang diriku, aku tidak akan membunuhmu. Tapi kau keliru tentang orang yang mengirimmu ke mari. Kau tidak berhasil membunuhku, maka tidak perduli apakah kau membocorkan rahasia atau tidak padaku, ia akan tetap membunuhmu.”

Senyuman di wajah orang tua itu pun membeku dan perasaan takut muncul di matanya.

“Aku yakin kau tahu bagaimana cara dia bekerja. Jika kau ingin pergi, aku tidak akan mencegahmu. Tapi aku tidak perduli jika kau mati atau tidak!”

Orang tua itu bangkit dan berdiri, tapi ia tidak bergerak dari tempatnya.

“Aku tidak banyak membunuh orang, tapi yang kuselamatkan tidaklah sedikit!” Lu Xiao Feng meneruskan.

“Kau? kau mau menolongku””

“Kau mau membocorkan rahasia itu?”

Orang tua itu bimbang, ia belum mampu mengambil keputusan.

“Silakan berfikir, aku…”

Tiba-tiba ia berhenti bicara, hampir berhenti bernafas pula. Tiba-tiba ia melihat bahwa bagian putih mata orang tua itu telah berubah menjadi hijau pucat. Tapi di dalam mata yang hijau pucat itu ada setitik darah, siap untuk menetes. Saat ia berlari ke sisi orang tua itu, sudut matanya telah pecah, tapi tampaknya ia sama sekali tidak merasakan sakit.

Lu Xiao Feng menggenggam tangannya, tangan itu terasa dingin seperti es. Lu Xiao Feng terperanjat.

“Cepat, beritahukan namanya padaku!”

Bibir orang tua itu bergerak sedikit dan sebuah senyuman yang aneh pun muncul di wajahnya. Senyuman itu baru saja muncul dan segera membeku. Seluruh tubuhnya telah menjadi kaku dan kulitnya telah kering seperti kulit sapi. Lu Xiao Feng mengulurkan tangan dan menyentuhnya.

“Bum!” Kulitnya berdebum seperti genderang.

“Bubuk Mumi Kayu!” Hwesio Jujur hampir menjerit, ia pun terperanjat.

Lu Xiao Feng menghela nafas perlahan.

“Racun di dalam darah, manusia pun menjadi mumi.”

“Mungkinkah dia telah keracunan dari semula dan baru sekarang racun itu bereaksi?”

“Jika kau tadi tidak berbenturan dengannya, mungkin ia telah berubah menjadi mumi segera setelah ia terbang keluar dari halaman.”

“Jadi tidak perduli apakah jebakan yang dipasangnya berhasil atau tidak, ia memang pasti mati.”

Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Rencana yang begini rumit, begitu banyak nyawa yang telah melayang, semuanya ini untuk apa?”

“Untuk membunuhmu!”

Sebuah tatapan tidak percaya pun muncul di wajah Lu Xiao Feng: “Jika semua ini adalah untuk membunuhku, harga yang mereka bayarkan mungkin sudah terlalu banyak!”

“Dan kau telah menilai dirimu sendiri terlalu rendah!”

“Mereka ingin membunuhku hanya karena mereka takut kalau aku merintangi jalan mereka!”

“Menurutmu, mereka punya tujuan lain””

“Mm.”

“Apa tujuan itu””

“Dengan melihat besarnya harga yang telah mereka bayarkan sebegitu jauh, tentu ini menyangkut sesuatu yang amat besar!”

“Tapi apakah itu?”

“Mengapa kau tidak bertanya pada sang Buddha-mu Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun itu””

“Sang Buddha hanya mendengar doa hwesio, dan hwesio tidak bisa mendengar kata-kata sang Buddha.”

“Lalu mengapa kau menjadi hwesio?”

Hwesio Jujur tersenyum.

“Karena menjadi hwesio itu lebih baik daripada menjadi Lu Xiao Feng, Lu Xiao Feng terlalu banyak mengalami kecemasan dan masalah, hwesio amat sedikit mengalaminya!”

Tiba-tiba ia mulai bernyanyi dengan keras dan bertepuk-tangan: “Kau mengalami masalah, aku tidak bermasalah. Masalah yang begitu besar, kau sendiri yang mencari gara-gara. Kau ingin mencari tahu lebih banyak, maka aku ingin pergi!”

Nyanyian itu tidak berhenti, tapi ia benar-benar pergi.

“Masalah yang begitu besar, kau sendiri yang mencari gara-gara.”

Lu Xiao Feng menatap sosok tubuhnya hingga menghilang dan tersenyum letih: “Sayangnya, walaupun aku berhenti mencari masalah, merekalah yang datang mencariku.”

——————-

Langit cerah, cuaca menyegarkan. Musim gugur telah tiba dengan kekuatan penuh. Lu Xiao Feng berjalan keluar dari gang dan bertemu dengan seorang laki-laki yang berdiri di mulut gang menantinya. Pakaiannya indah, tapi wajahnya pucat. Dia tak lain adalah jago nomor satu dari keluarga Tang, Tang Tian Zong.

Mengapa ia menunggu di sini? Masalah apa lagi yang akan ditemui Lu Xiao Feng?

Lu Xiao Feng tersenyum: “Di mana temanmu? Apakah dia telah membayar teh itu””

Tang Tian Zong menatapnya dengan mata yang merah seperti darah. Tiba-tiba, ia berlutut dan menyembah Lu Xiao Feng sebanyak 3 kali, sehingga Lu Xiao Feng pun dibuat terkejut bukan main.

“Masing-masing kalian berlutut sekarang juga dan ber-kowtow padaku sebanyak tiga kali.”

Lu Xiao Feng sendiri yang telah memberikan syarat itu, tapi ia tidak pernah menduga kalau Tang Tian Zong benar-benar mau melakukannya.

Seorang pemuda angkuh seperti dirinya biasanya lebih suka kepalanya dipancung daripada ber-kowtow pada seseorang, siapa pun orangnya.

Tapi walaupun demikian, Tang Tian Zong telah melakukannya, dan bukan hanya benar-benar ber-kowtow, bunyi kepalanya saat membentur tanah pun terdengar cukup keras.

Pemuda yang congkak dan sombong ini mau merendahkan diri sedemikian rupa, sebenarnya apa tujuannya?

Lu Xiao Feng menghela nafas. “Haruskah kau memburu Ye Gu Cheng?” Kau mungkin tidak akan berhasil membalaskan dendammu walaupun kau berhasil memburunya!”

Tang Tian Zong bangkit lagi dan kembali menatap Lu Xiao Feng dalam kebisuan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun atau mengeluarkan satu suara pun.

Yang bisa dilakukan Lu Xiao Feng hanyalah melepaskan sehelai sabuk sutera dari pinggangnya dan menyerahkannya. Tang Tian Zong menerima sabuk itu, berputar, dan berjalan pergi.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: