Kumpulan Cerita Silat

09/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:54 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 07: Penyelamatan Di Krematorium
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Larut malam. Cahaya di aula tampak redup, membuat aula itu tampak lebih mirip kuburan. Udara malam di bulan September seharusnya dingin dan menyegarkan, tapi di dalam sini, seperti membawa bau busuk yang luar biasa.

Bau busuk di markas para kasim dulu sudah cukup untuk membuat orang muntah, tapi bau busuk di sini berbeda. Bau ini aneh dan menakutkan. Karena ini adalah bau daging yang membusuk. Di beberapa buah peti terlihat bercak darah, darah yang merah gelap perlahan-lahan terlihat mengalir keluar dari sela-sela potongan kayu.

“Brak!” Tiba-tiba sepotong kayu tampak terpental dan sebuah retakan muncul di atas peti itu. Seakan-akan ada seorang manusia hidup di dalam peti itu yang sedang berusaha untuk keluar.

“Mungkinkah orang mati bisa hidup kembali”

Bahkan Xi Men Chui Xue pun merasakan punggungnya menjadi dingin.

“Jangan khawatir,” Lu Xiao Feng menepuk pundaknya dan memaksakan sebuah senyuman berani di wajahnya. “Orang mati tidak bisa hidup kembali.”

Xi Men Chui Xue tertawa mendengar ucapan itu.

“Tapi orang mati akan membusuk, dan tubuh mereka akan membengkak, membengkak sedemikian rupa hingga menghancurkan peti.”

“Tidak ada yang meminta penjelasan darimu.” Xi Men Chui Xue berkata dengan dingin.

“Aku khawatir kalau kau ketakutan.”

“Aku hanya takut pada satu jenis manusia!”

“Manusia macam apa””

“Yang tidak mau tutup mulut.”

Lu Xiao Feng tertawa, walaupun itu bukan tawa yang teramat riang. Tidak ada orang yang bisa merasa gembira di tempat seperti ini.

“Aneh, tidak seorang pun dari mereka yang berada di sini.” Lu Xiao Feng bergumam sambil berjalan mondar-mandir di antara peti-peti itu.

Ia lebih suka dimaki orang karena tidak menutup mulutnya daripada benar-benar menutup mulut. Di tempat seperti ini, sebentar saja orang akan jadi gila jika tidak bicara. Bicara bukan hanya membantunya untuk merasa tenang, hal itu juga akan membuatnya bisa melupakan bau yang menakutkan ini untuk sementara.

“Mungkin mereka sedang mengkremasi mayat Zhang Ying Feng di belakang, satu-satunya tungku pembakaran di tempat ini berada di belakang gedung.”

“Satu-satunya tungku pembakaran””

“Di sini hanya ada satu tungku, dan tungku itu mengeluarkan asap.”

“Kau tahu banyak.”

“Ada satu hal yang tidak ia ketahui.” Terdengar seseorang mengejek dari belakang gedung sana. “Tungku itu bisa mengkremasi 4 orang sekaligus. Kalian berempat akan terbakar menjadi abu.”

Pendeta lhama tidak semuanya ganjil dan aneh, tapi kedua lhama ini bukan hanya ganjil, tapi juga aneh. Tidak ada orang yang bisa menguraikan bagaimana wajah mereka, karena wajah mereka terlihat seperti dua topeng setan yang terbuat dari tembaga bercat hijau.

Mereka mengenakan jubah kuning, tapi jubah itu hanya menutupi setengah bagian tubuh atas dan pundak kiri mereka dibiarkan terbuka. Di tangan kiri mereka ada 9 buah cincin tembaga hijau yang sepadan dengan anting yang tergantung di telinga mereka. Senjata di tangan mereka pun berupa cincin tembaga berwarna hijau. Selain tempat genggaman mereka di cincin itu, badan cincin itu tampak tajam dan runcing. Siapa pun, bila melihat dua orang seperti ini di sebuah tempat seperti ini, tentu akan mengucurkan keringat dingin karena ketakutan. Tapi Lu Xiao Feng malah tertawa.

“Ternyata pendeta lhama tidak bisa menghitung,” ia bergurau. “Di sini kami hanya berdua, bukan berempat.”

“Dua di depan, ditambah dua di belakang.” Salah satu lhama itu tiba-tiba tersenyum menyeramkan, memperlihatkan gigi-giginya yang menakutkan. Tapi wajah lhama yang satunya lagi tampak membeku seperti muka mayat.

“Siapa dua orang yang ada di belakang”” Lu Xiao Feng tidak memahami ucapannya.

“Dua orang yang akan menemani kalian berdua ke Tanah Barat.”

Lu Xiao Feng kembali tertawa.

“Aku tidak ingin pergi ke sana, aku tidak punya teman di sana.”

“Bunuh!” Lhama yang tidak tersenyum tadi tiba-tiba memberi perintah. Cincin tembaga itu bergetar ketika kedua lhama tersebut bersiap-siap untuk menyerang.

“Mereka berdua adalah pendeta lhama.” Xi Men Chui Xue berkata dengan dingin.

“Mereka hanya berdua.”

“Lhama-lhama itu bagianmu.”

“Jadi apa yang akan kau lakukan””

Xi Men Chui Xue tertawa. Tiba-tiba ia menghunus pedangnya. Dengan sebuah sinar kilat, pedang itu terbang ke arah sebuah peti kayu di pinggir. Tidak ada orang yang bisa membayangkan kecepatan ia menghunus pedangnya dan menyerang, juga tidak ada yang bisa menduga kalau ia akan menyerang peti itu, pedangnya tidak pernah membunuh orang yang sudah mati.

“Brak!” Tepat saat itu, sebuah peti lain tiba-tiba hancur berantakan dan sebatang pedang berbentuk seperti ular pun melayang keluar, langsung menuju selangkangan Lu Xiao Feng. Serangan ini benar-benar amat cepat dan mendadak, juga amat tidak terduga.

Orang mati masih bisa membunuh” Jika Lu Xiao Feng bukan Lu Xiao Feng, ia tentu telah terbunuh oleh pedang itu! Tapi Lu Xiao Feng adalah Lu Xiao Feng. Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya dan, dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, menangkap pedang itu!

Tidak perduli apakah serangan itu berasal dari manusia atau hantu, asalkan ia mau, ia akan selalu berhasil menangkap pedang itu, baik itu pedang manusia atau pedang setan.

Ini benar-benar sebuah ilmu tunggal di dunia ini dan tidak pernah gagal.

“Ssttt!” Dan tepat saat itu pula pedang Xi Men Chui Xue menembus peti tadi. Tiba-tiba sebuah raungan yang menggetarkan sukma terdengar dari dalam peti saat potongan-potongan kayu beterbangan dan seseorang melompat keluar.

Seorang laki-laki bertubuh gelap dan kurus dengan pedang berwarna hitam di tangannya. Wajahnya penuh dengan darah, darah yang merah.

“Ternyata mereka ada empat orang!” Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Empat orang, tujuh mata.” Xi Men Chui Xue memberi komentar dengan dingin.

Mata kiri laki-laki berpakaian hitam yang melompat keluar dari dalam peti itu telah, ajaib sekali, terkorek keluar oleh ujung pedang tadi. Seperti orang gila, ia mengayun-ayunkan pedang hitamnya yang berbentuk ular dan ia, dengan kecepatan seperti kilat, melakukan 9 kali serangan. Tekniknya ganjil tapi efektif, aneh tapi keji. Sayangnya ia menggunakan pedang. Sayangnya ia bertemu dengan Xi Men Chui Xue!

“Aku tidak bermaksud untuk membunuh.” Xi Men Chui Xue berkata dengan dingin.

Pedangnya melesat sekali lagi, dan sekali lagi! Raungan orang berbaju hitam itu tiba-tiba berhenti dan tubuhnya tiba-tiba membeku dan ia berdiri di sana seperti patung. Darah masih menyembur, tapi ia telah roboh seperti balon yang ditusuk.

Dengan pedang terjepit di antara jari-jarinya, Lu Xiao Feng memandang pada peti di hadapannya. Ajaib, tidak ada sedikit pun gerakan atau suara dari dalam peti itu.

“Tentu bukan seorang lhama yang berada di dalam peti ini.” Tiba-tiba ia menarik kesimpulan.

“Mm.”

“Aku menangkap sebatang pedang untukmu, bagaimana kalau kau menangkap seorang lhama untukku dan kita pun boleh menganggapnya impas””

“Setuju.” Xi Men Chui Xue tiba-tiba melayang dan kilauan pedangnya lalu menghujani lhama yang tersenyum tadi seperti badai petir. Ia tidak menyukai tampang lhama itu saat tersenyum.

Cincin lhama itu mulai berputar-putar dan mengelilingi dirinya. Gerakannya juga ganjil tapi efektif, aneh tapi keji. Cincin kembar itu merupakan sepasang senjata yang aneh, jika sebatang pedang atau golok tersangkut dalam lingkarannya, tentu pedang atau golok itu setidaknya akan terampas, kalau tidak tentu akan patah.

Kilauan pedang tampak berkerlap-kerlip saat memasuki lingkaran cincin kembar itu seperti seekor kupu-kupu yang melemparkan dirinya sendiri ke dalam nyala api. Senyum menyeramkan pun muncul kembali di wajah lhama itu saat ia tiba-tiba memutar cincin kembar itu dan berusaha mematahkan pedang Xi Men Chui Xue menjadi dua potong!

“Patah!” Kata itu belum sempat keluar dari tenggorokannya, karena saat ia hendak membuka mulutnya dan bicara, tiba-tiba ia menyadari bahwa pedang itu telah tiba di depan tenggorokannya. Pedang yang begitu dingin seperti es! Ia hampir bisa merasakan dinginnya pedang saat perlahan-lahan memasuki darahnya. Lalu ia tidak merasakan apa-apa lagi, ia pun tidak tersenyum lagi. Xi Men Chui Xue tidak menyukai tampangnya waktu ia tersenyum.

Walaupun wajah lhama yang tidak tersenyum tadi telah pucat pasi, ia masih mengkertakkan giginya dan hendak menyerang.

Tapi Xi Men Chui Xue malah hanya menunjuk pada Lu Xiao Feng.

“Kau adalah bagiannya.” Perlahan-lahan ia mengangkat tangannya dan meniup dengan lembut setetes darah di ujung pedangnya dan tidak memandang lhama itu lagi. Lhama tersebut mundur selangkah dengan heran dan melihat tetesan darah itu jatuh ke atas tanah. Akhirnya, ia menghentakkan kakinya ke tanah dan menyerbu Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng masih menjepit pedang yang berasal dari peti tadi di antara jari-jarinya. Sebuah senyuman ironis pun muncul di wajahnya.

“Orang ini benar-benar tidak mau rugi untuk apa saja”.”

“Cring!” Bunyi itu memotong ucapannya. Sembilan cincin di tangan kiri lhama itu tiba-tiba semuanya datang berputar-putar ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Lhama itu sendiri juga melesat pergi dengan kecepatan tinggi.

Setelah cincin tembaga itu lepas dari tangannya, ia melesat ke sebuah jendela dan kabur. Xi Men Chui Xue telah memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya dan berdiri di sana, menonton dengan santai, sambil menggendong tangan di balik punggung, seolah-olah semua itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.

“Cring! Cring! Cring!” Serentetan bunyi dering, seperti bunyi mutiara yang bergulir di atas sebuah piring giok, kembali terdengar, dengan beberapa kali sentilan jarinya, Lu Xiao Feng telah mementalkan semua cincin tembaga itu ke udara.

Cincin seperti ini sebenarnya merupakan senjata yang amat berbahaya dan sukar diatasi, tapi bagi dirinya, senjata itu seperti mainan anak-anak.

“Pernah terpikir untuk menjual jari-jarimu itu”” Xi Men Chui Xue tiba-tiba bertanya.

“Itu tergantung dengan apa kau hendak membelinya.”

“Kadang-kadang aku ingin menukar salah satu jariku dengan itu.”

Lu Xiao Feng tertawa.

“Aku tahu ilmu pedangmu lumayan dan cukup cepat saat menyerang. Tapi satu buah jari tanganmu paling-paling hanya sama nilainya dengan satu buah jari kakiku.” Ia bergurau.

Peti itu masih tetap sunyi-sepi. Pedang tadi tidak mungkin bisa menusuk sendiri. Di mana orangnya”

Lu Xiao Feng mengetuk peti tersebut.

“Kau hendak bersembunyi di sana sampai mati””

Tidak ada jawaban.

“Jika kau tidak keluar, kami terpaksa akan menghancurkan rumahmu.”

Masih tidak ada jawaban.

“Orang ini mungkin tidak tahu bahwa apa yang aku katakan, akan selalu kulakukan.” Lu Xiao Feng menghela nafas.

Ia mengangkat tangannya dan menampar. Peti itu pun terbelah hancur. Orangnya masih ada di dalam peti, berjongkok di dalam peti, tidak bergerak sedikit pun. Air mata, air liur, dan ingus dari hidungnya telah keluar semuanya, dari tubuhnya juga tercium bau busuk. Ternyata dia sudah mati ketakutan.

Hal ini mengejutkan Lu Xiao Feng. Gunung Perairan Dewi, sekte pedang yang misterius, semua nama ini terdengar menakutkan, tapi siapa yang menyangka kalau orangnya bisa mati ketakutan”

“Orang ini bukan berasal dari Gunung Perairan Dewi.” Xi Men Chui Xue tiba-tiba berkata.

“Bagaimana kau tahu””

“Aku mengenal ilmu pedang mereka.”

“Seperti apa ilmu pedang mereka itu””

“Jurus tadi adalah Pusaran Angin dari Sekte Pedang Laut Selatan.”

“Mereka adalah murid-murid Sekte Pedang Laut Selatan””

“Pasti.”

“Mengapa mereka menyamar sebagai jago-jago pedang dari Gunung Perairan Dewi””

“Pertanyaan itu seharusnya kau ajukan padanya.”

“Sayangnya ia tampaknya tidak mampu bicara lagi.”

“Jangan lupa kalau di belakang sana masih ada dua orang lagi.”

“Siapakah dua orang yang berada di belakang”

Satu orang mati dan satu orang hidup!”

Tentu saja orang yang mati tidak bisa bergerak, tapi orang yang hidup pun ternyata tidak bisa bergerak juga. Orang yang mati adalah Zhang Ying Feng, yang hidup adalah Yan Ren Ying. Pemuda yang angkuh itu sekarang sedang tergeletak di atas tanah seperti orang mati, seolah-olah mereka berdua sedang berada dalam antrian untuk dikremasi.

Lu Xiao Feng tahu bahwa ia hanya tertotok urat nadinya dan ia pun membantu pemuda itu duduk. Dengan sebuah sentilan tangan yang cepat, Xi Men Chui Xue telah membuka totokan itu dan menatap pemuda itu dengan tatapan sedingin es.

Pemuda itu juga melihat wajah Xi Men Chui Xue yang pucat dan beku seperti es saat ia berusaha untuk berdiri.

“Siapa kau””

“Xi Men Chui Xue.”

Wajah Yan Ren Ying menjadi pucat pasi dan ia pun jatuh lagi.

“Bunuh aku!” Ia menghela nafas.

Xi Men Chui Xue tertawa dengan dingin.

“Mengapa kau tidak membunuhku”” Yan Ren Ying berkata sambil mengkertakkan giginya. “Mengapa kalian malah menolongku””

“Karena ia tidak pernah ingin membunuhmu.” Lu Xiao Feng pun menghela nafas. “Kaulah yang ingin membunuhnya.”

Yan Ren Ying menundukkan kepalanya, sepertinya ia lebih suka mati daripada merasakan apa yang ia rasakan sekarang.

“Cara mereka menotok urat nadinya juga berasal dari Sekte Laut Selatan.” Xi Men Chui Xue tiba-tiba berkata.

“Mereka adalah bala bantuan yang diundang olehnya, mengapa mereka malah menyakitinya”” Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

“Pertanyaan itu seharusnya kau ajukan sendiri padanya!” Xi Men Chui Xue menjawab dengan dingin.

“Mereka tidak diundang.” Belum lagi Lu Xiao Feng sempat bertanya, Yan Ren Ying telah menjawab. Sambil mengkertakkan giginya, ia menerangkan. “Mereka yang datang mencariku.”

“Mereka sukarela membantumu untuk balas dendam””

Yan Ren Ying mengangguk.

“Mereka bilang, mereka adalah sahabat guruku.”

“Dan kau percaya””

Sekali lagi kepala Yan Ren Ying ditundukkan dengan malu. Ia memang masih terlalu muda, masih mudah terpengaruh oleh semua dusta dan jebakan yang ditawarkan oleh dunia persilatan.

Lu Xiao Feng hanya bisa tersenyum simpatik.

“Kau tahu mengapa mereka ingin menyingkirkanmu””

Yan Ren Ying terdiam.

“Mereka menyerangku setelah kami tiba di sini. Tapi rasanya aku mendengar mereka mengatakan satu hal.”

“Apa itu””

“Bukan kami yang membunuhmu, tiga patung lilin itulah yang membunuhmu.” Itulah yang mereka katakan sebelum Yan Ren Ying tadi roboh.

“Patung apa””

“Patung yang dibuat oleh kakak seperguruanku.”

“Di antara kami bertujuh, ia selalu menjadi yang paling cerdas, dan ia pun memiliki sepasang tangan yang cekatan.” Ia meneruskan penjelasannya. “Sekali saja ia melihat wajahmu, dengan cepat ia bisa membuat gambarmu di lengan bajunya yang terlihat amat mirip denganmu.”

“Apakah ia sanak saudara “Manusia Tanah Liat Zhang” di ibukota””

“Ibukota adalah kampung halamannya. Ia amat mengenal orang-orang di sana.”

Hal itu pun menjelaskan kenapa ia mengenal Kakak Ke-enam Ma.

“Waktu kami berpisah, ia tidak membawa patung apa pun. Tapi waktu aku sedang memeriksa mayatnya, 3 buah patung terjatuh dari balik bajunya.”

“Di mana patung-patung itu sekarang”” Lu Xiao Feng segera bertanya.

“Di sini bersamaku. Tapi aku tidak mengenal 3 orang ini.”

Tapi Lu Xiao Feng mengenalnya; setidaknya ia mengenal dua orang di antaranya. Ia langsung mengenalinya saat ia melihat patung-patung itu.

“Ini adalah Tuan Wang dan Kakak Ke-enam Ma.”

Kecekatan tangan Zhang Ying Feng benar-benar mengagumkan, tapi sayangnya patung yang ketiga telah rusak.

“Ia tentu membuat 3 buah patung ini sebelum ia mati, karena ia tahu bahwa 3 orang ini hendak membunuhnya.”

“Menurutmu, 3 orang ini adalah pembunuh yang sebenarnya”” Xi Men Chui Xue bertanya.

“Tak perlu diragukan lagi.”

“Jadi sebelum ia mati, ia masih sempat memikirkan cara untuk meminta saudara-saudara seperguruannya membalaskan dendamnya dan membuat patung wajah para pembunuh yang sebenarnya””

“Benar.”

“Tapi di saat genting antara hidup dan mati seperti itu, di mana ia bisa menemukan lilin””

“Ia tidak perlu mencarinya,” Yan Ren Ying yang menjawab pertanyaan ini. “Ia selalu membawa sepotong lilin bersamanya. Kapan saja ia punya waktu luang, ia tentu akan bermain-main dengan lilin itu.”

“Tampaknya tangannya yang cekatan itu bukan hanya bakat alami, tapi karena latihan juga.” Lu Xiao Feng menghela nafas.

Kenyataannya, untuk mendapatkan keahlian seperti itu bukan hanya diperlukan latihan yang keras, tapi juga harus dibarengi dengan semangat yang berapi-api dan tak mudah padam yang mungkin tidak bisa difahami oleh orang lain. Hal ini sama seperti keahlian mana pun. Jika tujuanmu adalah kesempurnaan, maka kau harus memiliki semangat yang menyala-nyala. Semangat seperti itu pula yang dimiliki Xi Men Chui Xue terhadap ilmu pedang.

Sebuah perasaan tersentuh pun muncul di wajah Xi Men Chui Xue, karena ia juga memahami semangat ini. Tidak ada orang yang tahu dan memahami semangat ini sejelas dirinya. Pada masa mudanya, tak perduli ke mana pun ia pergi, ia pun selalu membawa-bawa pedangnya, bahkan waktu ia sedang mandi atau pun tidur lelap.

“Zhang Ying Feng dibawa oleh Kakak Ke-enam Ma ke sarang kasim itu untuk mencarimu!” Lu Xiao Feng berkata.

“Tapi ia malah menemukan rahasia Tuan Wang dan Kakak Ke-enam!” Xi Men Chui Xue menduga-duga.

“Maka mereka membunuhnya.”

“Tuan Wang dan Kakak Ke-enam Ma mungkin sama sekali tidak berguna, tapi orang ketiga itulah majikan mereka.”

“Ia tahu sebelumnya bahwa ia bukanlah tandingan orang ini dan ia pasti mati. Maka diam-diam ia membuat patung-patung ini agar orang lain tahu siapa pembunuhnya!”

Karena ia telah menduga bahwa orang lain tidak akan pernah mencurigai orang ketiga ini sebagai pembunuh yang sebenarnya. Jika begitu, hal ini berarti rahasia yang sedang dibicarakan 3 orang itu tentulah sebuah rahasia yang bisa mengguncangkan dunia.

“Bangunan-bangunan di sana semuanya kecil dan sempit, dan selalu penuh sesak.” Lu Xiao Feng meneruskan. “Mereka tidak berhasil menemukan tempat untuk menyembunyikan mayat ini, mereka pun tidak bisa menemukan cara untuk menghancurkan mayat ini.”

“Maka mereka melemparkan mayat ini ke atas punggung seekor kuda dan mengusir kuda itu keluar.” Xi Men Chui Xue menarik kesimpulan.

“Mereka bermaksud melemparkan kesalahan ini padamu, agar kau berhadapan dengan Sekte E”Mei. Menimpuk dua ekor burung dengan sebutir batu.”

Walaupun kebenaran telah tersingkap, mereka tetap tidak tahu bagian terpenting dari informasi ini. Patung ketiga telah rusak.

Xi Men Chui Xue mengamati patung yang rusak itu dengan teliti.

“Orang ini pasti bukan Hwesio Jujur!”

Orang ini mempunyai rambut. Zhang Ying Feng bukan hanya bisa membuat tiruan yang mirip, ia pun bisa menjiplak rambut orangnya.

“Tampaknya ia sangat gemuk.”

“Bukan, wajahnya telah rata, itulah sebabnya ia terlihat begitu gemuk.”

“Ia punya jenggot, tapi tidak terlalu panjang.”

“Jadi ia tidak begitu tua.”

“Wajahnya tampak hijau.”

“Itu warna lilinnya, bukan wajahnya.”

“Jadi sekarang kita tahu bahwa ia berjenggot, tidak begitu gemuk, tidak begitu kurus.” Lu Xiao Feng menghela nafas dan sebuah senyuman letih pun muncul di wajahnya.

Ada puluhan ribu orang yang sesuai dengan deskripsi itu di kota sana, di mana mereka akan mencarinya.

Api di dalam tungku telah menyala. Lhama-lhama itu sepertinya sudah lama berencana untuk mengkremasi Yan Ren Ying dan Zhang Ying Feng.

“Mereka mungkin berada di bawah komando Tuan Wang dan datang ke sini untuk membunuh Yan Ren Ying dan membungkamnya. Jadi mereka mungkin tidak mengira kalau kita akan tiba di sini!”

“Atau mungkin mereka bukan diperintah ke sini oleh Tuan Wang, mungkin “orang ketiga” itulah dalang sebenarnya di balik semua ini.”

“Apa pun juga, lhama-lhama itu juga pendeta, mereka juga memakai kaus kaki putih.”

“Ada sejumlah pendeta Tao di dalam Sekte Laut Selatan.”

Api tampak berkerlap-kerlip dan menyinari wajah Zhang Ying Feng, juga menyinari luka mematikan di lehernya.

“Tahukah kau siapa yang membuat luka itu””

“Tidak. Tapi ada beberapa orang selain diriku yang mampu membuat luka seperti itu!”

“Selain darimu, ada berapa banyak””

“Tidak banyak, tidak lebih dari 5 orang yang masih hidup.”

“Siapa saja 5 orang itu””

“Ye Gu Cheng, Tosu Kayu, dan 2 atau 3 orang jago pedang lainnya yang tidak akan kau kenali walaupun kusebutkan namanya. Salah seorang dari mereka adalah seorang pertapa yang tinggal di Gunung Air Dewi.”

“Kau mengenalnya””

“Walaupun aku tidak mengenalnya,” Xi Men Chui Xue menyeringai, “Aku tahu ilmu pedangnya.”

“Bagaimana dengan Jago Pedang Hunan Wei Zi Yun””

“Tekniknya tidak mantap, juga tidak cukup cepat,” Xi Men Chui Xue menggelengkan kepalanya, “apalagi Yin Xian.”

Lu Xiao Feng merenung sebentar.

“Mungkin ada beberapa orang yang ilmu pedangnya tinggi, tapi amat jarang terlihat menggunakan pedang.”

“Sepertinya tidak mungkin, tapi tetap tidak mustahil.”

“Jika Hwesio Jujur menggunakan pedang, aku yakin ilmu pedangnya pasti mengagumkan. Aku selalu merasa bahwa tingkat pemahamannya terhadap ilmu kungfu sebenarnya amat mendalam dan luas.”

“Hwesio Jujur tidak punya rambut, atau jenggot.”

Lu Xiao Feng tertawa.

“Kalau ada manusia yang palsu, apalagi cuma jenggot palsu.” Tampaknya ia tetap curiga pada Hwesio Jujur.

Yan Ren Ying selama itu selalu berdiri di pinggir; mendadak ia berjalan mendekat dan membungkuk pada Xi Men Chui Xue.

“Tidak perlu berterimakasih padaku, yang menolongmu bukan aku, tapi Lu Xiao Feng.” Xi Men Chui Xue buru-buru berkata.

“Aku bukan berterimakasih padamu, hutang budiku pada kalian karena telah menyelamatkan nyawaku tidak mungkin dibalas dengan sekedar ucapan terimakasih.” Sebuah raut wajah yang aneh pun muncul di wajahnya, dalam kerlipan cahaya api, sukar memastikan apakah ia ingin tertawa atau menangis.

“Aku ingin memohon agar kau membawa permintaan maafku kepada adik seperguruanku.”

“Kenapa begitu””

“Karena aku telah salah faham terhadapnya selama ini. Aku memandang rendah dirinya. Aku berfikir bahwa ia seharusnya tidak pergi bersama musuh sekte kami.” Yan Ren Ying bimbang sebelum akhirnya mengumpulkan cukup keberanian untuk meneruskan. “Tapi sekarang aku akhirnya faham, balas dendam tidaklah sepenting yang kufikir sebelumnya”.”

Balas dendam bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. Ada jauh lebih banyak emosi dan perasaan yang lebih agung dan mulia daripada kebencian. Ia tidak mengucapkan kata-kata ini, karena ia tak sanggup untuk mengatakannya. Tapi akhirnya ia faham di dalam hatinya. Karena saat ini kebencian di hatinya tidak mungkin bisa dibandingkan dengan pekatnya perasaan terima kasih. Tiba-tiba ia membungkuk, mengangkat mayat kakak seperguruannya, dan mulai melangkah pergi dengan kepala yang tegak. Jalan yang akan ditempuh masih tertutup oleh kegelapan, tapi terangnya cahaya sudah datang mendekat.

Lu Xiao Feng memperhatikan kepergiannya sebelum akhirnya menghela nafas: “Ia masih muda, setiap kali aku melihat seorang pemuda seperti dia, aku selalu merasa bahwa dunia ini tidak terlalu buruk. Tidak ada buruknya bila kita tetap hidup.”

Betapa harga kehidupan akan selalu terisi oleh harapan. Mata Xi Men Chui Xue kembali terlihat berkerlap-kerlip dengan kehangatan. Ini bukanlah pantulan nyala api di matanya, tapi pantulan es yang mencair di hatinya.

Lu Xiao Feng memandangnya dan tiba-tiba menepuk pundaknya. “Kau akhirnya menyelamatkan sebuah nyawa hari ini, bagaimana rasanya””

“Lebih baik daripada mencabut nyawa!”

______________________________

Di bawah nyala api yang berkerlap-kerlip, wajah “orang ketiga” tampak menyeringai dan aneh. Tidak seorang pun akan terlihat menyenangkan bila wajahnya rata.

“Sekarang Kakak Ke-enam telah mati, hanya tinggal satu orang yang tahu identitasnya!”

“Tuan Wang””

“Mm.”

“Kau ingin mencarinya””

“Tidak.” Lu Xiao Feng menghela nafas. “Ia mungkin berada jauh di dalam Kota Terlarang sekarang, aku tak akan bisa menemukannya walaupun aku berusaha.”

“Dan walaupun kau menemukannya, ia tidak akan pernah menyingkap rahasia itu.”

Lu Xiao Feng memandang patung di tangannya dengan seksama, matanya kembali terlihat bersinar-sinar.

“Masih ada satu cara lagi bagiku untuk mengetahui siapa dirinya.”

“Cara apa””

“Aku bisa pergi mencari si Manusia Tanah Liat Zhang, aku yakin ia tahu cara untuk mengembalikan patung ini kembali ke keadaannya semula.”

Xi Men Chui Xue menatap matanya dengan secercah senyuman.

“Kau benar-benar cerdas.”

“Aku memang tidak bodoh.” Lu Xiao Feng tertawa.

“Kau akan pergi sekarang juga””

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya, sebuah kehangatan yang lembut dan halus pun muncul di matanya.

“Sekarang aku hanya ingin menemui seseorang”.”

Ia tidak menyebutkan nama orang itu, tapi Xi Men Chui Xue telah tahu siapa orang tersebut.

Bintang perlahan-lahan menghilang, langit yang tiada batas dan berangin akhirnya lenyap. Sinar yang terang pun mulai muncul.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: