Kumpulan Cerita Silat

08/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:54 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 06: Lolos Dari Kematian
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Hanya ada dua jenis orang yang bisa tidur selama 40 jam terus-menerus: orang yang mujur dan orang yang sakit. Lu Xiao Feng tidak sakit, ia juga tidak mujur. Saat ini Ou Yang Qing telah tak sadarkan diri selama sehari semalam. Saat ia melihat warna di wajah perempuan itu, semakin mustahil bagi Lu Xiao Feng untuk tertidur lelap.

Nyonya Ke-13 pun terlihat amat cemas.

“Sejak tadi malam, dia hanya bangun sekali, dan hanya mengucapkan satu kalimat!” Ia berbisik.

“Apa yang ia katakan?”

Sebuah senyuman kaku muncul di wajah Nyonya Ke-13.

“Ia bertanya padaku apakah kau menyukai rumah siput lapis menteganya.”

Hati Lu Xiao Feng seperti tenggelam. Sambil memandang piring berisi rumah siput berlapis mentega di atas meja itu, tiba-tiba ia merasa bahwa ia benar-benar seorang bajingan yang tidak punya perasaan.

“Aku yakin aku menyukainya,” ia juga memaksakan sebuah senyuman kaku di wajahnya. “Aku yakin aku akan memakan semuanya.”

“Bila telah dingin, rasanya tidak akan renyah lagi, ayo kita hangatkan dulu untukmu.”

“Tak perlu, dia yang membuat ini, aku akan memakannya seperti ini!”

Nyonya Ke-13 menghela nafas.

“Akhirnya kau memperlihatkan sedikit tanda kalau kau mempunyai hati.”

Lu Xiao Feng duduk dan, dengan satu gerakan, melemparkan dua butir ke dalam mulutnya.

“Di mana Li Yan Bei?” Sekonyong-konyong ia bertanya.

“Ia telah pergi.”

“Ke mana dia pergi?”

“Tak tahu,” senyumannya bahkan terlihat makin kaku. “Dia punya rumah lebih dari satu.”

Lu Xiao Feng hendak memasukkan satu butir rumah siput lagi ke dalam mulutnya. Tiba-tiba ia melihat ekspresi wajah Nyonya Ke-13 seperti menyembunyikan air mata dan kesedihan.

Kesepian yang dialami seorang wanita yang harus menghabiskan 29 hari sebulan dalam kesendirian bukanlah hal yang mudah untuk ditahan.

Tapi ia berhasil menahannya, karena ia terpaksa. Ini adalah takdirnya, sebagian besar wanita memiliki kemampuan dan kemauan untuk menerima takdirnya. Dengan cara ini, mereka jauh lebih kuat daripada laki-laki. Ia memahami Nyonya Ke-13, tapi ia tak bisa memahami Ou Yang Qing.

“Aku seharusnya tidak menanyakan ini,” ia bimbang sebelum meneruskan. “Tapi aku harus bertanya.”

“Silakan bertanya kalau begitu.”

“Kau dan Ou Yang Qing adalah sahabat baik, dan seharusnya tidak ada rahasia di antara sahabat, di samping itu”.”

“Di samping itu kami adalah perempuan, semakin sedikit rahasia yang tidak disimpan di antara sesama perempuan.” Nyonya Ke-13 menyelesaikan kalimatnya untuknya.

Lu Xiao Feng memaksakan sebuah senyuman kaku lagi di wajahnya.

“Maka kau mungkin tahu banyak tentang urusan pribadinya!”

“Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?”

“Kudengar Nyonya Pertama Gong Sun pernah berkata bahwa ia masih perawan,” Lu Xiao Feng akhirnya mengumpulkan cukup keberanian untuk bertanya, “apakah itu benar?”

“Memang benar.” Nyonya Ke-13 bahkan tidak ragu saat menjawabnya.

“Ia bekerja di bidang seperti itu, bagaimana mungkin ia masih perawan?”

“Ada banyak perempuan baik-baik di bisnis tersebut,” Nyonya Ke-13 mendengus dengan dingin. “Dia bukan hanya seorang perempuan yang baik, ia bahkan seorang yang amat istimewa!”

Lu Xiao Feng kembali menutup mulutnya dengan rumah siput. Sekarang, ia pun bisa menduga bahwa Nyonya Ke-13 pun terlibat di bisnis seperti itu juga. Dari situlah mereka bisa menjadi sahabat baik.

Wanita-wanita seperti mereka akan sangat jarang bersahabat dengan perempuan dari “keluarga baik-baik”. Bukan karena mereka memandang rendah pada orang lain, tapi karena merekalah yang amat takut bila dipandang rendah.

Lu Xiao Feng menghabiskan sepiring penuh rumah siput itu, seolah-olah ia tidak akan punya muka jika ia menyisakan satu potong pun.

Nyonya Ke-13 mengawasi dirinya makan sampai habis sebelum bertanya dengan tiba-tiba: “Mengapa kau begitu perduli tentang hal itu? Apakah ia perawan atau tidak? Apakah itu ada hubungannya dengan orang lain?”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Empat atau lima bulan yang lalu, aku bertemu dengan Hwesio Jujur.” Ia menjelaskan dengan lambat. “Ia mengatakan bahwa ia menghabiskan waktu malam sebelumnya bersama dengan Ou Yang”.”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba ia roboh dan tidak sadarkan diri. Kenapa Nyonya Ke-13 hanya menatap dengan begitu dingin saat ia roboh seperti itu? Apakah senyuman sinis di wajahnya itu benar-benar nyata?

Sesungguhnya Lu Xiao Feng memang tidak memahami wanita, apalagi wanita seperti Nyonya Ke-13. Ia hanya mengira bahwa ia tahu banyak tentang wanita.

Tak perduli siapa pun orangnya, jika seorang laki-laki mengira bahwa ia benar-benar memahami wanita, maka ia telah ditakdirkan untuk bernasib buruk. Sekalipun dia adalah Lu Xiao Feng.
______________________________

Anehnya, ada orang yang sepertinya selalu diberkahi oleh Tuhan. Walaupun mereka sedang tidak beruntung, mereka tidak selalu berada dalam keadaan seperti itu. Jelas Lu Xiao Feng termasuk jenis orang seperti ini. Ajaib, ia tidak mati. Waktu ia bangun, ia bukan hanya menemukan bahwa semua anggota tubuhnya masih bisa berfungsi dengan baik, bahkan ia pun menemukan dirinya sedang berbaring di atas sebuah ranjang yang amat nyaman dan bersih.

Ruangan itu amat bersih, dan aroma bunga crysanthenum dan osmanthus menyebar ke seluruh ruangan. Lentera telah menyala di atas meja. Di luar jendela sinar bulan tampak murni seperti air. Seseorang berdiri dalam diam di luar jendela, menghadap bulan musim gugur, pakaiannya putih seperti salju.

“Xi Men Chui Xue!”

Lu Xiao Feng sudah bersusah-payah mencari Xi Men Chui Xue, bagaimana dia malah tiba-tiba muncul di sini dan saat ini” Ia melompat bangkit. Ajaib, ia masih bisa melompat bangkit, hanya saja kakinya masih agak lemah. Jelas kekuatannya masih belum pulih sepenuhnya.

“Bangsat kecil, dari lubang mana kau keluar?” Lu Xiao Feng berseru, berdiri di sana dengan bertelanjang kaki. “Di mana kau bersembunyi beberapa hari terakhir ini?”

“Orang seharusnya tidak bicara seperti itu pada tuan penolongnya!” Xi Men Chui Xue membalas dengan dingin.

“Tuan penolong?” Ia masih berseru. “Kau menyelamatkan nyawaku?”

“Jika bukan aku, mungkin nasibmu akan sama seperti Li Yan Bei, terbakar hingga menjadi abu!”

“Li Yan Bei mati?” Lu Xiao Feng berteriak.

“Nasibnya tidak sebaik dirimu, tampaknya kau memang terlahir dengan kemujuran yang luar biasa!”

Ia akhirnya berpaling dan balas menatap mata Lu Xiao Feng. Wajahnya masih pucat dan dingin, suaranya pun tetap dingin, tapi matanya menyiratkan kehangatan. Kehangatan yang hanya bisa ditemukan orang di mata seorang sahabat yang telah lama menghilang.

Lu Xiao Feng pun balas menatap matanya.

“Nasibmu pun tampaknya tidak terlalu buruk akhir-akhir ini.”

“Kelihatannya satu-satunya orang yang benar-benar bernasib buruk adalah Li Yan Bei.”

“Kau tahu bagaimana dia mati?”

Xi Men Chui Xue mengangguk.

“Tapi aku tidak tahu sejak kapan kau mulai percaya pada tipe wanita seperti itu!”

“Tipe wanita yang mana?” Lu Xiao Feng kembali berbaring, karena perutnya tiba-tiba mulai terasa sangat tidak enak. “Tipe wanita seperti Ou Yang Qing?”

“Bukan Ou Yang Qing.”

“Bukan dia. Nyonya Ke-13?”

“Rumah siput berlapis mentega itu memang dibuat oleh Ou Yang Qing, tapi racun itu dimasukkan oleh Nyonya Ke-13.” Xi Men Chui Xue memandang pada Lu Xiao Feng, secercah senyuman tampak muncul di matanya. “Apakah itu membuat perasaanmu sedikit lebih baik?”

Lu Xiao Feng benar-benar merasa jauh lebih baik, tapi ia masih agak bingung.

“Sejak kapan kau tahu segalanya tentang perasaan di antara pria dan wanita?”

Xi Men Chui Xue tidak menjawab pertanyaannya, ia malah berpaling sekali lagi ke arah rembulan. Sinar bulan turun dari langit seperti mata air. Saat ini adalah malam hari tanggal 14 September.

“Aku tentu telah lama tertidur!” Lu Xiao Feng menduga-duga.

“Nyonya Ke-13 memang ahli dalam hal obat tidur, ia tidak memasukkan banyak-banyak dalam rumah siput berlapis mentega itu!”

“Karena ia tahu, jika ia memasukkan terlalu banyak maka aku akan tahu.”

“Dan karena ia tahu kau tentu akan memakan sepiring penuh masakan itu.”

Lu Xiao Feng tertawa tanda mengaku kalah. Jelas Nyonya Ke-13 jauh lebih ahli daripada dirinya dalam hal ini.

“Tapi bagaimana kau bisa tahu tentang hal ini?” Ia bertanya. “Bagaimana kau bisa menyelamatkanku?”

“Waktu kau roboh, aku sedang menonton dari luar jendela.”

“Kau melihatku roboh?”

“Aku tidak mengira kau akan roboh, aku juga tidak tahu kalau ada sesuatu di dalam rumah siput itu!”

“Karena kau sebenarnya datang hanya untuk bicara denganku?”

“Tapi aku tidak ingin orang lain melihatku. Aku bermaksud menunggu sampai Nyonya Ke-13 pergi. Tapi setelah kau roboh, ia lalu mengeluarkan sebilah pisau.”

“Apakah Li Yan Bei terbunuh oleh pisau yang sama?”

Xi Men Chui Xue mengangguk.

“Apakah kau memaksanya bicara? Apakah kau yakin dia mengatakan yang sebenarnya?”

“Sangat sedikit orang yang berani berdusta di hadapanku!” Xi Men Chui Xue berkata dengan dingin.

Semua orang tahu bahwa Xi Men Chui Xue tidak akan pernah menarik kembali pedangnya bila ia telah bermaksud untuk membunuh. Tangannya baru saja menyentuh pedangnya sebelum Nyonya Ke-13 mulai membeberkan hal yang sebenarnya.

“Aku benar-benar tidak menyangka kalau wanita seperti dirinya benar-benar mampu membunuh orang!” Lu Xiao Feng menghela nafas dan tersenyum menertawakan penilaiannya yang buruk.

“Mengapa kau tidak bertanya padaku kenapa dia melakukan hal itu?”

“Karena aku tahu mengapa ia melakukannya,” Lu Xiao Feng menghela nafas. “Aku masih ingat sesuatu yang pernah ia katakan padaku.”

“Apa yang ia katakan?”

“Li Yan Bei memiliki wanita lain selain dirinya. Ia bukanlah seorang wanita yang tahan menderita dan menjalani hidup yang sunyi. Ia tak mau hidup seperti itu, ia juga tidak bisa minggat, maka ia terpaksa membunuh Li Yan Bei.” Sambil tersenyum sedih, ia meneruskan: “Ia khawatir kalau aku berusaha menyelidiki apa yang telah terjadi pada Li Yan Bei, itulah sebabnya ia berbuat seperti itu padaku.”

“Kau melupakan satu hal!”

“Oh?”

“Cek satu juta sembilan ratus lima puluh ribu tael.” Ia mendengus. “Tanpa cek itu, ia tak akan mau melakukannya, ia juga tak akan berani!”

Tapi, dengan cek itu, tidak banyak tempat di dunia ini yang tak bisa dikunjungi oleh seorang wanita seperti dirinya, dan tidak banyak hal yang tak berani ia lakukan.

“Ia hendak pergi dengan cek itu setelah membunuhmu, ia bahkan telah mengemasi barang-barangnya.”

“Tentu saja, orang yang punya cek satu juta sembilan ratus lima puluh ribu tael tidak perlu mengemas barang yang terlalu banyak.” Lu Xiao Feng tertawa pertanda kalah.

“Mengapa kau tidak bertanya padaku apa yang telah terjadi padanya?”

“Apakah aku perlu bertanya?”

Tidak seorang pun bisa pergi dalam keadaan hidup bila bertemu dengan pedang Xi Men Chui Xue.

“Kau keliru,” Xi Men Chui Xue menjawab dengan santai. “Aku tidak membunuhnya.”

Kepala Lu Xiao Feng tersentak dengan terkejut.

“Kau tidak membunuhnya” Mengapa tidak?”

Xi Men Chui Xue tidak menjawab, ia memang tidak perlu melakukannya.

Dan Lu Xiao Feng pun telah tahu jawabannya: “Kau telah berubah” dan berubah amat banyak!”

Ia menatap Xi Men Chui Xue dengan sebuah senyuman di matanya.

“Bagaimana kau bisa berubah? Merubah orang sepertimu tidaklah mudah.”

“Dan kau tetap tidak berubah.” Xi Men Chui Xue menjawab dengan dingin. “Tidak mengajukan pertanyaan yang seharusnya kau tanyakan dan mengajukan semua pertanyaan yang seharusnya tidak kau tanyakan!”

Lu Xiao Feng tertawa.

“Memang ada satu pertanyaan yang ingin kuajukan padamu.” Ia terpaksa mengakui.

“Maka sebaiknya kau mulai bertanya.”

“Di mana Ou Yang Qing berada?”

“Ia ada di sini, seseorang sedang merawatnya saat ini.”

“Nona Sun?”

“Bukan.” Kehangatan muncul kembali di mata Xi Men Chui Xue. “Nyonya Xi Men.”

Lu Xiao Feng tidak bisa menahan kegembiraannya.

“Selamat. Selamat. Selamat”.” Ia memberi ucapan selamat pada Xi Men Chui Xue sebanyak 7 atau 8 kali berturut-turut. Ia benar-benar berbahagia untuk Xi Men Chui Xue, untuk Sun Xiu Qing. Kebahagiaan dan nasib baik seorang sahabat akan selalu terasa sama seperti kebahagiaan dan nasib baik kita sendiri.

Lu Xiao Feng benar-benar orang yang menyenangkan. Bahkan Xi Men Chui Xue pun tak tahan untuk tidak tertawa kecil dan tersenyum. Ia jarang tersenyum, tapi bila ia melakukannya, rasanya seperti angin musim semi yang meniup daratan.

“Kau tidak mengira kalau aku akan memiliki keluarga?”

“Benar-benar tidak.” Lu Xiao Feng masih merasa sukar untuk menghapus senyuman dari wajahnya. “Sedikit pun aku tidak pernah bermimpi.”

Tapi ia telah menduga bahwa hal inilah yang menjadi penyebab atas perubahan yang terjadi pada Xi Men Chui Xue.

“Bagaimana denganmu? Kapan kau akan berkeluarga?” Xi Men Chui Xue bertanya sambil tersenyum.

Senyuman Lu Xiao Feng segera diselubungi oleh sebuah bayangan. Bayangan Xue Bing, dan juga bayangan Ou Yang Qing.

“Mengapa kau tadi mencariku ke sana?” Ia segera mengganti pokok pembicaraan.

“Aku tahu kau adalah sahabat Li Yan Bei, dan aku juga tahu ia memiliki beberapa orang bawahan yang terpercaya!”

“Mereka pun tidak berani berdusta padamu?”

“Sedikit pun tidak!”

“Dan mereka tidak berani membocorkan keberadaanmu?”

“Aku yang menemukan mereka, tidak ada yang tahu kalau aku tinggal di sini.”

Dan inilah pertanyaan yang paling ingin diajukan oleh Lu Xiao Feng.

“Jadi tepatnya di manakah tempat ini berada?”

“Mengapa kau tidak pergi keluar dan melihat-lihat?”

Di seberang kebun yang indah dan terawat rapi itu, ada sebuah toko roti. Di depan pintu, yang merupakan sebuah pintu rangkap, terukir beberapa gambar yang amat halus. Di atas pintu, tertulis dalam tinta emas, tertera: “Toko Vegetarian Harum dan Lezat”. Lu Xiao Feng melihat sekilas dan berputar kembali. Ia masih tertawa saat ia kembali.

“Ini sebuah toko roti yang amat tua, dan orang-orang yang bekerja dan lalu-lalang di sini semuanya berasal dari kampung halamanku.” Xi Men Chui Xue berkata dan sebuah perasaan bangga muncul di wajahnya. “Apakah kau pernah menduga kalau aku akan menjadi seorang pemilik toko roti?”

“Tidak pernah.”

“Pernahkah kau melihat orang dunia persilatan membeli tepung?”

“Tidak pernah.”

“Itulah sebabnya, jika kau mencari-cari ke seluruh kota di negeri ini, kau tetap tidak akan bisa menemukanku!” Xi Men Chui Xue tersenyum.

“Aku tidak akan menemukanmu walaupun kau menghancurkan kepalaku!” Lu Xiao Feng menyetujui ucapannya itu.

“Kau tahu mengapa aku melakukan hal ini?”

“Ya.” Lu Xiao Feng tersenyum. “Itulah sebabnya aku bukan hanya akan minum arak untukmu, aku pun tak sabar untuk merasakan telur merahmu!”

{Catatan: Di sini Lu Xiao Feng menyinggung pernikahan Xi Men Chui Xue dan kelahiran anaknya. Mengundang seseorang untuk minum “Xi Jiu”, atau “Arak Kebahagiaan”, adalah sebuah pepatah yang artinya mengundang orang untuk merayakan pernikahan seseorang. Sedangkan “Hong Dan”, atau “Telur Merah”, adalah upacara saat kelahiran seorang anak.}

Tapi sebuah bayangan pun muncul dalam senyuman Xi Men Chui Xue.

“Aku mencarimu karena aku hendak meminta sesuatu padamu.” Sesudah hening beberapa lama, akhirnya ia berkata dengan lambat. Kenapa ia merubah pokok pembicaraan? Mungkinkah karena ia takut untuk terlalu jauh memikirkan masa depan? Karena ia takut kalau ia mungkin tidak akan hidup sampai hari itu?

“Silakan. Aku berhutang budi padamu.”

“Aku ingin kau menemaniku ke Kota Terlarang besok.” Tinju Xi Men Chui Xue terkepal erat. “Jika aku kalah, aku ingin kau membawa mayatku kembali ke sini.”

Senyuman Lu Xiao Feng berubah menjadi kaku.

“Walaupun kau kalah, itu bukan berarti kematian?”

“Dalam kekalahan, hanya ada kematian!” Ekspresi wajah Xi Men Chui Xue terlihat angkuh, kejam, dan teguh. Ia bisa menerima kematian, tapi tidak bisa menerima kekalahan!

Lu Xiao Feng merasa ragu. Ia tidak ingin memberitahukan rahasia Ye Gu Cheng pada Xi Men Chui Xue, karena Ye Gu Cheng pun sahabatnya juga.

Tapi walaupun ia tidak mengatakannya, kenyataan tetap tidak akan berubah. Cepat atau lambat, Xi Men Chui Xue pun akan tahu.

“Kau tidak akan kalah!” Ia akhirnya berkata.

“Mengapa tidak?”

“Karena luka Ye Gu Cheng cukup parah.”

Xi Men Chui Xue tampak terkejut.

“Tapi kudengar kemarin dia telah melukai Tang Tian Rong hingga parah di Paviliun Musim Semi Timur.”

“Tang Tian Rong bukanlah Xi Men Chui Xue.”

“Jadi lukanya itu benar-benar serius?”

“Ya.”

Warna wajah Xi Men Chui Xue pun berubah. Jika orang lain tahu bahwa musuh mereka satu-satunya menderita luka yang berat, ia tentu akan merasa beruntung dan senang. Tapi Xi Men Chui Xue bukan orang seperti itu!

Warna wajahnya bukan hanya berubah, secara dramatis wajahnya pun tampak gelap menakutkan.

“Jika bukan karena aku, kami tentu telah berduel pada tanggal 15 Agustus yang lalu, dan mungkin aku telah mati di bawah pedangnya. Tapi sekarang…”

“Sekarang dialah yang pasti mati?”

Xi Men Chui Xue mengangguk.

“Kau tidak bisa membunuhnya?”

“Walaupun aku tidak membunuhnya, ia tentu tetap akan mati!” Xi Men Chui Xue menjawab dengan muram.

“Tapi…”

“Mungkin kau tidak memahami orang-orang seperti kami,” Xi Men Chui Xue memotong. “Kami boleh mati, tapi tidak boleh kalah!”

Lu Xiao Feng menghela nafas panjang. Bukannya ia tidak memahami mereka, ia telah lama tahu bahwa mereka adalah jenis orang yang sama. Jenis orang yang mungkin tidak kau sukai, tapi harus kau hormati! Jenis orang yang hampir seperti dewa.

Tidak perduli seni apa pun, baik itu ilmu pedang, catur, atau musik, agar benar-benar mampu mencapai puncak ilmu itu, orangnya haruslah tipe orang seperti ini. Karena hal tersebut adalah sifat seni itu sendiri, karena ia menuntut seluruh hidup orang itu sebagai pengorbanannya.

“Tapi kau telah berubah!” Lu Xiao Feng keberatan. “Dulu aku berpendapat bahwa kau adalah semacam dewa yang setengah gila dan setengah kerasukan, tapi sekarang kau memiliki rasa kemanusiaan di dalam dirimu.”

“Mungkin aku benar-benar telah berubah. Jika demikian, mungkin sekali aku tidak akan mampu menandingi Ye Gu Cheng, jika ia tidak sedang terluka.” Sikap Xi Men Chui Xue tampak semakin muram. “Tapi sekarang ia tidak punya kesempatan sedikit pun untuk mengalahkanku. Ini tidak adil…”

“Jadi kau bermaksud untuk…”

“Aku hendak menemuinya.”

“Untuk apa?”

“Apakah kau benar-benar mengira kalau aku hanya tahu cara membunuh?” Xi Men Chui Xue tertawa dingin.

Mata Lu Xiao Feng tampak bersinar-sinar. Ia tiba-tiba teringat bahwa Xi Men Chui Xue dulu pernah terluka oleh Pasir Beracun keluarga Tang. Tapi ia jelas masih tetap hidup dan sehat walafiat hingga sekarang.

“Aku akan membawamu.” Lu Xiao Feng melompat bangkit. “Jika hanya ada satu orang yang bisa mengobati luka Ye Gu Cheng, itu adalah kau!”

Daerah pinggiran kota yang sunyi, bulan yang dingin. Bulan telah bulat penuh. Sinar bulan yang dingin tampak menyinari halaman yang gelap dan menyeramkan itu. Lampu telah menyala di dalam ruang meditasi.

“Majikan Benteng Awan Putih mau tinggal di sini?”

“Ia seperti dirimu, ia pun tidak ingin orang lain menemukan dirinya!”

“Jadi bagaimana kau bisa menemukannya?”

“Dari hwesio yang tinggal di sini. Dia bernama Sheng Tong.”

“Ia yang membawamu ke sini?”

“Aku juga pernah berbuat baik, aku pernah menyelamatkan nyawa beberapa orang.” Lu Xiao Feng tersenyum. “Kau tidak pernah tahu kapan seseorang akan membalas budimu karena telah menyelamatkan jiwanya.”

Ini mungkin bukanlah segi yang paling menyenangkan bila kita menolong orang, tapi setidaknya ini adalah salah satu hal yang menyenangkan.

“Saudara Ye, ini aku.” Ia mengetuk pintu. “Lu Xiao Feng.”

Tidak ada jawaban. Walaupun Ye Gu Cheng sedang tidur, tidak mungkin ia tidur selelap ini. Mungkin kamarnya sudah kosong? Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya. Xi Men Chui Xue telah menerobos masuk lewat pintu. Di dalam kamar ada seseorang, orang mati! Orang yang tercekik hingga mati!

Dia bukan Ye Gu Cheng. “Ini Sheng Tong.”

“Siapa yang membunuhnya? Mengapa dia dibunuh?”

“Tampaknya ia bukan hanya berhutang budi padaku.” Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya. “Ia membawa orang lain ke sini, tapi Ye Gu Cheng telah pergi. Orang itu mengira bahwa Sheng Tong telah membocorkan gerakan mereka dengan sengaja, maka ia pun membunuhnya karena marah!”

Penjelasan ini bukan hanya tampak logis, mungkin inilah satu-satunya penjelasan yang masuk di akal.

Lu Xiao Feng menghela nafas lagi.

“Ini adalah orang kedua yang kulihat tercekik sampai mati!”

“Siapa yang pertama?”

“Nyonya Pertama Gong Sun.”

“Apakah mereka mati di tangan orang yang sama?”

“Mungkin sekali.”

Walaupun Sheng Tong tidak tercekik mati oleh sehelai pita sutera merah, tapi metode pembunuhannya tampaknya amat mirip.

“Apa hubungan Nyonya Pertama Gong Sun dengan urusan ini?”

“Seharusnya ada,” Lu Xiao Feng tertawa jengkel. “Tapi aku belum bisa membayangkannya. Aku belum menemukan benangnya!”

“Benang apa?”

“Benang yang menghubungkan semuanya.”

“Apa lagi yang kau ketahui?”

“Ye Gu Cheng terluka karena seseorang menjebaknya, kalau tidak Tang Tian Yi tidak akan pernah sempat menyerang.”

“Siapa yang menjebaknya?”

“Seseorang yang bisa memikat ular dengan sebuah seruling bambu.”

“Racun yang diderita Ou Yang Qing pun racun ular juga.”

“Orang ini bukan hanya melukai Ye Gu Cheng dan Ou Yang Qing, ia juga membunuh si Untung Besar Sun, Sheng Tong, dan Nyonya Pertama Gong Sun!”

“Kau yakin?”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Karena aku telah membuktikan bahwa orang yang mencekik Nyonya Pertama Gong Sun hingga mati tidak lain adalah si pemikat ular. Ia bermaksud mengalihkan perhatianku dan menimpakan kesalahan pada Nyonya Pertama Gong Sun.”

“Tampaknya tidak ada hubungan di antara 5 orang itu.”

“Dan itulah sebabnya aku tidak bisa membayangkan kenapa seseorang ingin menyingkirkan mereka semua!”

“Apakah ada orang yang kau curigai?”

“Hanya satu orang yang tingkah-lakunya mencurigakan.”

“Siapa?”

“Hwesio Jujur!”

Hwesio Jujur menjebak dan membunuh orang? Siapa yang akan percaya hal itu?

“Aku tahu tidak ada orang yang akan percaya padaku, tapi ia benar-benar merupakan orang yang paling mencurigakan!”

“Kapan kau mulai mencurigainya?”

“Sejak satu kalimat itu.”

“Kalimat yang mana?”

“Ou Yang Qing adalah seorang perawan.”

“Apa hubungannya keperawanan Ou Yang Qing dengan Hwesio Jujur?”

“Ada hubungannya.”

Xi Men Chui Xue tidak mengerti, tidak ada orang yang akan mengerti.

“Waktu aku sedang mengusut perkara Puteri DanFeng, aku pergi mencari si Untung Besar Sun. Hari itu si Untung Besar Sun kebetulan berada di tempat pelacurannya Ou Yang Qing. Dan dalam perjalanan ke sana, aku bertemu dengan si Hwesio Jujur.”

Xi Men Chui Xue masih belum bisa membayangkan apa yang terjadi.

“Maka aku bertanya padanya, dari mana saja dia? Ke mana ia hendak pergi?”

“Apa yang ia katakan?”

“Ia mengatakan bahwa ia baru dari kamar Ou Yang Qing!”

“Tapi Ou Yang Qing adalah seorang perawan.”

“Berdasarkan hal itu, kau bisa melihat bahwa Hwesio Jujur tidaklah benar-benar jujur.”

“Itu bukan berarti bahwa ia pun membunuh!”

“Setiap orang berdusta untuk suatu alasan, apa alasan dia?”

“Jadi menurutmu, ia tentu telah melakukan sesuatu yang tidak boleh diceritakan pada malam sebelumnya, maka ia berdusta padamu sebagai alibinya?”

“Tentu saja, ia tidak menduga kalau aku kebetulan mengenal Ou Yang Qing!”

“Mengapa ia tidak menggunakan orang lain? Mengapa ia menggunakan Ou Yang Qing?”

“Karena Ou Yang Qing memang berurusan dengan dirinya!”

Xi Men Chui Xue kembali terpaku.

“Setelah aku menghancurkan Paviliun Baju Hijau, aku menemukan bahwa ada sebuah organisasi rahasia lainnya di dunia persilatan yang disebut “Sepatu Merah”. Tampaknya mereka juga yang mengendalikan Paviliun Baju Hijau secara diam-diam.”

“Aku pernah mendengar hal itu.”

Lu Xiao Feng adalah sosok yang legendaris. Keberhasilannya menghancurkan Paviliun Baju Hijau, mengalahkan Huo Xiu, menangkap si Bandit Penyulam, dan bersama Nyonya Pertama Gong Sun menjebak Jin Jiu Ling untuk mengorek pengakuannya telah lama tersebar ke seluruh dunia persilatan.

“Setelah mengetahui tentang Sepatu Merah, barulah aku akhirnya menyadari bahwa mereka juga dikendalikan orang!”

“Yang mengendalikan mereka adalah sebuah kelompok rahasia lain?”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Paviliun Baju Hijau adalah kelompok yang anggotanya laki-laki, Sepatu Merah semuanya terdiri dari wanita, kelompok rahasia yang satunya lagi bisa jadi seluruhnya terdiri dari hwesio dan mungkin disebut sebagai Kaus Kaki Putih!”

“Dan menurutmu, ketua organisasi ini tak lain adalah Hwesio Jujur?”

Lu Xiao Feng mengangguk lagi.

“Aku sangat jarang bertemu dengannya, tapi waktu aku menangani urusan Paviliun Baju Hijau, ia tiba-tiba muncul. Lalu waktu aku sedang mencari Sepatu Merah, ia pun muncul lagi. Terlalu banyak kebetulan.”

“Tapi ia tidak mencegahmu saat kau menghancurkan Paviliun Baju Hijau, ia juga tidak mencegahmu saat mencari Sepatu Merah!”

“Karena ia tahu pasti bahwa aku telah bertekad kuat untuk melakukannya. Walaupun ia berusaha, ia tidak akan bisa menghentikanku.”

Bahkan Xi Men Chui Xue pun terpaksa mengakui bahwa memang mustahil bagi siapa pun untuk mencegah Lu Xiao Feng melakukan apa yang ia inginkan.

Lu Xiao Feng tertawa dingin dan meneruskan: “Hwesio semuanya memakai kaus kaki putih. Ia mengatakan bahwa kaus kaki yang ia kenakan hanyalah kaus kaki dari daging. Aku mengatakan bahwa kaus kaki dagingnya pun putih, tapi ia bilang bahwa kulitnya tidak putih.”

“Kulitnya memang tidak putih.”

“Jika ada lumpur di kaus kaki putihmu, apakah kaus kaki itu tetap putih?” Lu Xiao Feng mendengus.

“Ya,” Xi Men Chui Xue terpaksa mengakui hal itu. “Jadi kau curiga bahwa ia membunuh Nyonya Pertama Gong Sun dan Ou Yang Qing untuk membungkam mulut mereka?”

“Karena aku bukan hanya mengenal mereka, aku pun telah menjadi sahabat mereka. Maka ia khawatir kalau mereka akan membocorkan rahasianya.”

“Malam itu, si Untung Besar Sun pun berada di tempat pelacuran itu.”

“Di samping itu, si Untung Besar Sun benar-benar tahu terlalu banyak.”

Jika ada seseorang yang tahu terlalu banyak, harapannya untuk hidup panjang mungkin tidak akan terpenuhi.

Xi Men Chui Xue merenung sebentar sebelum menarik kesimpulan: “Tak perduli apa, semua ini hanyalah dugaanmu. Kau tidak punya bukti.”

“Dugaanku amat jarang keliru!”

“Jadi kau telah menemukan benang yang menghubungkan si Untung Besar Sun, Ou Yang Qing, dan Nyonya Pertama Gong Sun.”

“Ya.”

“Bagaimana dengan Ye Gu Cheng? Mengapa Hwesio Jujur memburu Ye Gu Cheng?”

“Karena ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk memperluas kekuasaannya hingga ke ibukota.”

Xi Men Chui Xue kembali terpaku.

“Ia tahu bahwa Li Yan Bei dan Du Tong Xuan telah memasang taruhan besar untuk kalian berdua karena kedua orang itu pun ingin menggunakan kesempatan ini untuk memperluas wilayah mereka.”

“Li Yan Bei bertaruh untukku?”

“Itulah sebabnya, pertama-tama ia mencoba untuk membeli tanah Li Yan Bei.”

“Dengan menggunakan cek itu?”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Seorang pendeta yang membeli tanah itu, Gu Qing Feng.”

“Karena ia berpendapat bahwa Ye Gu Cheng pasti akan kalah, maka Du Tong Xuan pasti akan kalah dalam taruhan itu?”

“Dengan cara ini, ia bisa melenyapkan dua kekuatan besar di ibukota hanya dalam satu sapuan, dan dengan usaha yang minimum pula.”

“Rencana yang demikian rumit, hanya kalian berdua yang bisa memikirkan sesuatu seperti ini.” Xi Men Chui Xue menghela nafas.

“Bukan aku yang membuat rencana ini, tapi dia!”

“Tapi kaulah orang yang bisa menebaknya,” Xi Men Chui Xue membalas dengan dingin. “Bukankah itu berarti kau lebih hebat daripada dia?”

“Menurutmu, dugaanku itu tidak benar?”

“Aku tidak berkata begitu.”

“Tapi kau tentu berpendapat begitu, aku tahu.” Sebuah senyuman agak kesal pun muncul di wajah Lu Xiao Feng. Tiba-tiba ia menghela nafas dan menambahkan: “Di samping itu, aku pun berpendapat begitu!”

“Kau pun berpendapat bahwa dugaanmu itu tidak sepenuhnya logis?”

“Itulah sebabnya mengapa aku tadi mengatakan bahwa aku belum menemukan benangnya!”

“Bukankah kau telah menemukan salah satunya?”

“Itu tidak cukup.”

Tentu saja mereka saat itu bukan sedang berbincang-bincang sambil berdiri di ruangan tersebut.

Tidak ada orang yang suka berada dalam ruangan yang gelap dan lembab bersama dengan sesosok mayat. Angin dingin daerah pinggiran kota, di fihak lain seperti menjernihkan fikiran orang, membuat otak lebih tajam. Mereka berjalan dengan lambat menelusuri sebuah jalan kecil, di bawah sinar bulan September. Angin musim gugur meniup dengan lembut rerumputan kuning di pinggir jalan, dunia tampak sunyi dan sepi. Mereka telah berjalan cukup jauh.

“Benang ini masih tidak bisa menjelaskan semuanya,” Lu Xiao Feng tiba-tiba bicara lagi. “Masih ada satu kematian lagi yang tidak bisa dijelaskan.”

“Kematian siapa?”

“Zhang Ying Feng.”

Xi Men Chui Xue mengenalnya. “Tiga Orang Gagah dan Empat Perempuan Cantik” semuanya berasal dari sekte yang sama. Ini berarti kakak seperguruan Yan Ren Ying itu tidak lain daripada kakak seperguruan Sun Xiu Qing juga. Sekarang Sun Xiu Qing telah menjadi Nyonya Xi Men, Xi Men Chui Xue pun tentu harus menangani urusan Zhang Ying Feng ini.

“Ia terbunuh?”

“Ia terbunuh kemarin,” Lu Xiao Feng merasa harus menceritakan kembali kejadian itu. “Kematian yang amat aneh.”

“Siapa yang membunuhnya?”

“Seharusnya kau.”

“Seharusnya aku?” Xi Men Chui Xue mengerutkan keningnya. “Seharusnya aku yang membunuhnya?”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Karena tujuan kedatangannya ke ibukota sini tidak lain adalah untuk membalas dendam!”

“Jadi itulah alasanku untuk membunuhnya?” Xi Men Chui Xue menjawab dengan dingin.

“Luka yang mematikan ada di tenggorokannya, di situ hanya ada satu tetes darah.”

Tentu saja Xi Men Chui Xue mengerti apa arti ucapannya itu.

Hanya sebuah serangan yang amat tajam, luar biasa menakutkan, dan cepat sekali yang bisa menimbulkan luka seperti itu. Dan itu hanyalah satu serangan saja! Selain dari Xi Men Chui Xue, siapa lagi yang mampu menyerang secepat itu”

Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Sayangnya aku sekarang pun sudah tahu bahwa kau bukan pembunuhnya!”

“Kau telah tahu siapa orangnya?”

“Ada dua orang tersangka utama, seorang kasim dan seorang muka bopeng.”

“Mati di tangan dua orang seperti itu tidaklah memalukan.” Xi Men Chui Xue bukanlah orang yang tidak memiliki perasaan humor.

“Sayangnya Zhang Ying Feng tidak mungkin mati di tangan mereka.” Lu Xiao Feng menertawakan keadaan serba sulit itu. “Pertama, aku masih belum menemukan motif mengapa mereka ingin membunuh Zhang Ying Feng. Kedua, mereka tidak mungkin mampu menandingi Zhang Ying Feng.”

“Jadi dua orang yang seharusnya merupakan pembunuh tidak mungkin menjadi pembunuh!”

“Karena itu kepalaku jadi sakit.”

“Siapa pembunuhnya?”

“Itulah yang ingin kuketahui. Mau tak mau, aku curiga bahwa kematian Zhang Ying Feng ada hubungannya dengan semua ini!”

“Kenapa begitu?”

“Karena kau pun bisa menganggap kasim sebagai pendeta. Dan mereka juga memakai kaus kaki putih.”

Xi Men Chui Xue merenungkan keadaan itu dalam diam.

“Yan Ren Ying yang menemukan mayat Zhang Ying Feng?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Ya.”

“Di mana dia sekarang?”

“Kau ingin bertemu dengannya?”

“Aku ingin melihat luka mematikan di tenggorokan Zhang Ying Feng, mungkin aku bisa menduga siapa pemilik pedang yang membunuhnya itu!”

“Aku telah memeriksa luka itu, memeriksanya dengan amat teliti.”

“Aku tahu ilmu kungfumu tidak buruk, ketajaman mata dan keahlianmu pun tidak rendah.” Xi Men Chui Xue membantah dengan dingin. “Tapi bila menyangkut pedang, pengetahuanmu tidak jauh lebih baik daripada seorang perempuan tua!”

Lu Xiao Feng hanya bisa tertawa pada dirinya sendiri. Ia tidak bisa membantah. Tidak ada orang yang bisa berdebat tentang pedang dengan Xi Men Chui Xue.

“Jika kau bersikeras untuk pergi, aku akan membawamu ke sana.” Ia meneruskan, senyuman lelah masih terlihat di wajahnya. “Tapi kau sebaiknya berhati-hati.”

“Mengapa?”

“Karena Yan Ren Ying telah menemukan beberapa pembantu, di antara mereka bukan hanya terdapat 2 orang lhama dari Tibet, tapi juga ada dua orang jago pedang misterius yang telah terlatih selama bertahun-tahun dan berasal dari sebuah sekte pedang yang misterius di puncak Gunung Perairan Dewi.”

“Apakah mereka menggunakan pedang?”

Tidak perduli betapa misteriusnya sebuah sekte pedang, pada akhirnya mereka tentu akan tetap menggunakan pedang.

“Asal mereka menggunakan pedang, mereka yang seharusnya berhati-hati bila mereka bertemu denganku!” Xi Men Chui Xue memberi komentar dengan dingin.

“Jadi yang harus berhati-hati itu mereka, bukan kamu.” Lu Xiao Feng tersenyum.

“Tentu saja.”

“Bagaimana dengan kedua lhama itu?”

“Lhama itu bagianmu.”

Pendeta Budha dan Tao telah banyak membuat Lu Xiao Feng sakit kepala, sekarang lhama-lhama itu menjadi urusannya pula.

“Ada orang yang mencari kemasyuran, kekuasaan, ada pula yang mencari harta, kau tahu apa yang kucari?” Ia bergumam.

“Masalah.”

“Tepat. Tidak perduli ke mana pun aku pergi dan ke mana pun aku memandang, yang kutemukan hanya masalah!”

“Jadi ke mana kita akan pergi?”

“Losmen Keberuntungan.”

Losmen Keberuntungan terletak di jalan utama di sebelah timur kota. Mungkin, inilah hotel tertua dan terbesar di ibukota. Saat mereka tiba, hari telah larut malam, tapi Yan Ren Ying dan teman-temannya tidak berada di sana.

“Tuan Yan ingin menguburkan kakak seperguruannya,” pegawai hotel menerangkan. “Ia pergi beberapa saat yang lalu dengan kedua tuan lhama!”

“Ke mana tujuan mereka?”

“Altar Tanaman Dewa.”

—————

Altar Tanaman Dewa terletak di luar Gerbang Kedamaian Abadi.

“Mengapa mereka membawanya ke sana?”

“Karena altar itu telah lama tidak digunakan, maka lhama-lhama itu hendak menggunakannya untuk kremasi.”

“Kremasi?”

“Secara tradisional, para petani dan penggembala di wilayah luar tembok besar selalu dikremasi oleh pendeta lhama saat mereka meninggal. Walaupun ada di antara mereka yang telah pindah ke daerah tengah, mereka tetap memelihara tradisi itu, begitu juga dengan kebiasaan mengimpor rumput tertentu dari wilayah luar sana.”

“Apakah ada sesuatu yang istimewa dengan rumput itu?”

“Ya, bukan hanya rumput itu amat lembut, warnanya juga tetap hijau walaupun telah kering.”

“Apa yang mereka lakukan dengan rumput itu?”

“Mereka membantali peti-peti itu dengan rumput tersebut!”

“Peti apa?”

“Semacam peti mati, tapi hanya digunakan sampai saat kremasi.”

“Mengapa begitu?”

“Karena lhama-lhama itu meminta upah, jika upahnya tidak dibayar penuh, maka kau harus menunggu. Aku pernah melihatnya sekali, seluruh aula dipenuhi oleh peti-peti selebar setengah meter dan setinggi satu meter.”

“Peti-peti itu lebarnya hanya setengah meter dan tingginya satu meter?”

Lu Xiao Feng mengangguk, sepertinya ia hampir muntah.

“Jadi mayat itu tidak berbaring atau berdiri, tapi harus berjongkok di dalam peti.”

Xi Men Chui Xue pun mengerutkan keningnya.

“Aula utama itu bukan hanya terisi oleh peti-peti ini, kantung-kantung kuning pun bergantungan di langit-langit.”

“Apa isi kantung-kantung itu?”

“Abu mayat. Mereka mengirimkan abu mayat itu kembali ke kampung halaman mereka hanya satu kali dalam setahun. Maka, sebelum dikirim, mereka menggantungnya di langit-langit aula utama.”

“Kita tidak bisa membiarkan mereka memasukkan abu Zhang Ying Feng ke dalam salah satu kantung itu.”

“Maka kita sebaiknya bergegas.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: