Kumpulan Cerita Silat

07/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:53 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 05: Hwesio Jujur
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Empat belas September, pagi. Sinar matahari menerpa sudut barat laut Kota Terlarang. Walaupun matahari sedang bersinar, sudut ini tetap gelap dan sepi. Jika orang tidak pernah pergi ke sana, mungkin ia tak pernah bisa membayangkan bahwa di dalam tembok Kota Terlarang yang indah dan megah ini ada sebuah sudut yang demikian gelap dan terlantar. Setidaknya Lu Xiao Feng memang tak pernah membayangkannya.

Di bawah Tembok Kota yang spektakuler dan megah ini, ajaibnya, ada sebuah kota kumuh dengan bangunan-bangunan kecil yang jelek dan sederhana dan terbuat dari papan kayu serta batu bata kotor. Jalanan di “kota” ini tampak sempit dan berlubang-lubang dengan beberapa rumah makan kecil yang hitam karena asap di satu sisi, serta warung-warung teh dan toko-toko kecil yang halamannya penuh dengan telur dan saus kacang.

Udara dipenuhi oleh bau asap, alkohol, ikan yang digarami, dan tahu busuk, belum lagi bau-bau aneh lainnya yang entah dari mana asalnya, aroma wewangian rambut wanita, serta bau aneh daging rusuk dan daging anjing panggang yang mengundang selera. Semua ini bercampur menjadi satu serangan yang tak dapat dijelaskan dan tak bisa dibayangkan pada hidung setiap orang.

Lu Xiao Feng tak pernah membayangkan kalau aroma seperti ini bisa ada di dunia, ia pun tidak bisa percaya kalau tempat ini berada di dalam Kota Terlarang.

Tapi ia benar-benar sedang berada di dalam Kota Terlarang. Seorang kasim teman Ganer Zhao yang membawa mereka masuk.

Gan’er Zhao benar-benar orang yang mudah bersahabat, ia memiliki segala macam teman yang aneh-aneh dan menarik.

“Sudut barat laut Kota Terlarang merupakan tempat yang aneh. Aku bisa menjamin bahwa sekali pun kau, Tuan Lu, pasti tidak pernah pergi ke sana. Walau seseorang ingin pergi ke sana, hal itu mungkin mustahil.”

“Kenapa”

“Karena di sanalah rumah-rumah para kasim. Sangat sukar bagi seorang kasim di Istana Kerajaan untuk bisa keluar dari kota. Maka, bila mereka punya waktu luang, mereka akan pergi ke sana. Jadi segala macam hal yang aneh dan gila bisa terjadi di sana.”

“Kau ingin pergi ke sana untuk menyelidiki”

“Aku kenal kasim bernama An-Fu yang bisa membawa kita masuk.”

“Tapi kenapa kita harus pergi ke tempat seperti itu”

“Karena, dari informasi yang kudapatkan, kuda itu berasal dari sana.”

“Lalu apa yang kau tunggu” Cepat cari An-Fu!”

“Ada satu hal lagi yang harus kukatakan!”

“Apa itu? Katakanlah!”

“Kasim-kasim itu semuanya gila. Mereka bukan hanya memiliki tingkah yang aneh, mereka pun bau!”

“Dari mana asal bau itu”

“Karena walaupun tidak ada masalah yang sedang mereka hadapi, mereka sering sakit kepala. Mandi, terutama, yang menimbulkan sakit kepala itu. Jadi mereka sering tidak mandi selama berbulan-bulan.”

“Apakah kau menghendaki agar aku hanya menyeringai saja dan bertahan sedikit terhadap bau itu”

“Karena mereka itu gila, mereka amat marah kalau orang lain memandang rendah pada mereka. Jadi jika An”zi Kecil berbuat sesuatu yang mungkin tidak disukai Pendekar Besar Lu, kuminta agar Pendekar Besar Lu tidak memperdulikannya.”

“Jangan khawatir, asalkan aku bisa menemukan Xi Men Chui Xue, aku tidak akan perduli jika kasim kecil itu menaiki kepalaku.”

Saat mengatakan hal itu, Lu Xiao Feng pun tertawa. Ia merasa situasi ini bukan hanya lucu, tapi juga menarik.

Tapi sekarang ia tidak tertawa lagi. Tiba-tiba ia menyadari bahwa seluruh situasi ini bukan hanya tidak lucu, menarik juga tidak.

Kasim bernama “An”zi Kecil” ini memang tidak menaiki kepalanya, tapi ia memegang tangannya erat-erat, seperti menunjukkan semacam perasaan kasih sayang, kadang-kadang juga mengelus-elus kumisnya sambil tertawa. Lu Xiao Feng merasa seluruh tubuhnya hampir saja menggigil tak tertahan.

Tak seorang pun bisa membayangkan bagaimana rasanya disentuh oleh seorang kasim jika tidak mengalaminya sendiri.

“Dan berapa banyakkah orang di dunia ini yang pernah disentuh oleh seorang kasim”

Lu Xiao Feng tiba-tiba merasa seluruh mulutnya dipenuhi oleh ludah yang masam dan pahit yang hampir membuatnya muntah-muntah. Kenyataan bahwa ia belum muntah-muntah hingga saat ini adalah sebuah keajaiban.

Terakhir kali, setelah ia menghabiskan waktu 10 hari untuk menggali cacing tanah, ia mengira bahwa ia telah menjadi makhluk yang paling bau di dunia ini. Baru sekarang ia menyadari bahwa, dibandingkan dengan seorang kasim, bau tubuhnya itu seperti aroma lilin yang wangi. Dan sepertinya An”zi Kecil memang hendak memperlakukan dirinya sebagai sebatang lilin wangi. Kasim ini bukan hanya menggenggam tangannya, tampaknya dia juga ingin meraba sedikit di sana-sini. Dia bukan hanya menyentuh kumisnya, sepertinya dia juga menahan diri untuk tidak mencoba meraba tempat-tempat lain di tubuhnya.

Melihat raut wajah Lu Xiao Feng, Gan’er Zhao hanya bisa menahan tawanya. Kenyataan bahwa ia belum tertawa hingga saat ini juga merupakan sebuah keajaiban.

Bau di dalam warung teh itu tampaknya malah lebih menyengat daripada di luar. Pelayannya adalah seorang yang bertampang aneh, seperti laki-laki juga seperti perempuan, selalu melirik ke arah Lu Xiao Feng atau mengedipkan matanya pada si An”zi Kecil. Lu Xiao Feng pun merasa sebal melihat orang ini.

Ia datang ke warung teh ini karena An”zi Kecil mengundang dirinya untuk minum teh dengan setengah memaksa. Tak perduli apa, minum secangkir teh tentu lebih baik daripada diseret-seret oleh seorang kasim mengitari tempat itu. Di samping itu, teh yang disediakan ternyata merupakan teh yang bermutu tinggi. Dan An”zi Kecil pun akhirnya melepaskan tangannya.

“Aku sendiri yang menyelundupkan teh ini keluar dari Istana, kalian tidak mungkin bisa mendapatkannya di luar sana.”

“Aku belum pernah merasakan teh yang begini enak!” Lu Xiao Feng mengakui.

“Jika kau mau, kau boleh datang kapan saja kau ingin minum.” An”zi Kecil tersenyum begitu lebar sehingga matanya menyipit. “Mungkin ini memang takdir, saat aku melihatmu, aku merasa yakin bahwa kita bisa menjadi sahabat baik.”

“Aku” aku” aku tentu saja akan sering datang bertamu nantinya!” Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa ia sedang menghadapi masalah yang pelik, untuk sesaat ia merasa seperti orang yang gagu.

Untunglah bagi Lu Xiao Feng, seorang kasim tua tiba-tiba masuk saat itu, memaksa An”zi Kecil melepaskan tangannya lagi dan menghampiri kasim itu untuk menyapanya. Para kasim memiliki cara berjalan yang aneh, kaki mereka lebih renggang daripada orang biasa.

Cara berjalan kasim tua ini malah lebih buruk daripada kasim-kasim lain, tapi pakaiannya jauh lebih indah. Ia terus menggerak-gerakkan tangannya saat bicara dengan seseorang, di mana ia merapatkan ibu jari dan jari tengahnya seperti seorang penari. Hanya saja, bila ia yang melakukannya, hal itu membuat dirinya terlihat seperti seorang wanita tua. Lu Xiao Feng terpaksa memalingkan mukanya agar tidak muntah.

“Ini bos kami, Tuan Wang,” An”zi Kecil tiba-tiba datang kembali. “Sekarang Tuan Wang telah pulang, permainan judi Kakak Ke-enam Ma akan segera dimulai, kalian ingin bermain”

Lu Xiao Feng segera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.

“Sebenarnya aku punya urusan denganmu!” Ia berusaha memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.

“Oh, tanya saja!” An”zi Kecil tampaknya hendak memegang tangan Lu Xiao Feng lagi. “Tak perduli apa, asal kau yang bertanya, aku akan menjawabnya!”

“Aku ingin tahu apakah kau mau bertanya pada orang-orang di sekitar sini dan mencari tahu apakah baru-baru ini ada orang lain yang berkunjung ke sini!”

“Tentu! Aku akan bertanya sekarang juga!” An”zi Kecil tersenyum dan menambahkan. “Aku bisa mengambil kesempatan ini untuk pergi dan mengunjungi isteriku juga.”

Dan dengan itu, ia akhirnya pergi, tapi sebelumnya ia sempat menggenggam tangan Lu Xiao Feng sebentar. Selama itu Gan’er Zhao terus menatap ke bawah dan menyembunyikan mukanya dan dengan sembunyi-sembunyi menahan tawanya lagi.

Lu Xiao Feng meliriknya dengan jengkel.

“Bagaimana mungkin seorang kasim memiliki isteri” Akhirnya ia tak tahan untuk tidak bertanya.

“Itu cuma pura-pura dan sandiwara belaka,” Gan’er Zhao menjawab. “Tapi memang ada beberapa orang isteri kasim!”

“Oh”

“Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh kasim dan dayang di Istana Kerajaan, maka mereka kadang-kadang hidup berpasangan. Beberapa kasim yang lebih “kaya” malah mau menghabiskan uang dan membeli perempuan dari luar untuk dijadikan isteri.”

“Menjadi isteri seorang kasim bukanlah hidup yang menyenangkan.” Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Sama sekali tidak menyenangkan,” Gan’er Zhao juga menghela nafas. “Sebenarnya, para kasim sendiri pun menjalani hidup yang menyedihkan. Sepertinya hari-hari mereka tidak menyenangkan lagi.”

Lu Xiao Feng tiba-tiba merasa amat tidak enak hati.

“Kurasa tidak mungkin Xi Men Chui Xue akan bersembunyi di sini.” Ia segera mengganti pokok pembicaraan.

“Mungkin ia memperhitungkan kenyataan bahwa tidak ada orang yang akan mengira bahwa ia mungkin tinggal di sini!”

“Semula aku pun berfikir begitu, tapi sekarang”.” Lu Xiao Feng tersenyum pertanda kalah. “Sekarang aku telah melihat tempat ini. Aku tahu kalau aku bisa gila jika aku harus tinggal di sini satu hari saja, apalagi Xi Men Chui Xue!”

Xi Men Chui Xue selalu lebih rapi dan bersih daripada dirinya.

“Tapi kuda putih itu memang berasal dari sini!”

Lu Xiao Feng terdiam.

“Dan Zhang Ying Feng mungkin tewas di sekitar sini juga!” Ia menebak-nebak, sambil memandang jalanan yang sempit dan bangunan-bangunan kecil di luar sana. “Hampir mustahil untuk menyembunyikan sesosok mayat di sini setelah kau membunuh seseorang!”

“Jadi yang harus dilakukan adalah mengirimnya ke luar di atas punggung kuda.”

Lu Xiao Feng mengangguk, tapi segera mengerutkan keningnya.

“Tapi, jika Xi Men Chui Xue tidak ada di sini, lalu siapa yang membunuh Zhang Ying Feng” Siapa lagi orang yang memiliki serangan secepat itu”

Itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Gan’er Zhao.

Mereka berdua lalu minum teh dan menatap kosong untuk beberapa lama sebelum An”zi Kecil kembali, dengan membawa informasi tentunya.

“Dua malam yang lalu, Kakak Ke-enam Ma membawa seseorang ke sini, seorang pemuda yang tampan.”

Semangat Lu Xiao Feng segera tergugah.

“Siapa namanya” Apakah itu Zhang Ying Feng”

“Itu belum kuketahui!”

“Di mana dia sekarang” Lu Xiao Feng terus mengejar.

“Siapa yang perduli!” An”zi Kecil tertawa. “Kakak Ke-enam Ma adalah seorang bajingan tua, ia mungkin telah menyembunyikan pemuda yang kuat dan bersemangat itu di suatu tempat rahasia.”

Matanya terlihat menyipit saat ia menatap Lu Xiao Feng lagi, seakan-akan ia sedang berencana untuk menyembunyikan Lu Xiao Feng di suatu tempat juga. Orang-orang ini, di tempat seperti ini, apa pun tampaknya mungkin saja terjadi.

“Jadi di mana tempat judi Kakak Ke-enam Ma” Lu Xiao Feng tiba-tiba bangkit. “Tiba-tiba aku merasa gatal untuk mencoba!”

“Tentu, aku akan membawamu ke sana!” An”zi Kecil tersenyum dan menggenggam tangannya lagi. “Jika kau tidak punya cukup uang untuk ikut main, aku akan meminjamkan. Kau hanya cukup mengatakannya saja.”

Lu Xiao Feng tiba-tiba menghela nafas.

“Aku memang ingin meminjam sesuatu darimu, tapi kurasa kau tidak mungkin memilikinya.” Ia bergumam dengan perlahan.

Satu-satunya yang ia inginkan saat ini adalah sebuah belenggu untuk menyingkirkan tangan orang ini darinya.
______________________________

Marga Kakak Ke-enam Ma bukanlah Ma, dia juga bukan seorang kasim. Ia adalah seorang laki-laki bertubuh jangkung, kekar, dan penuh otot dengan dada yang penuh bulu dan wajah yang bopeng. Di wajahnya selalu tersungging sebuah senyuman yang sombong dan angkuh.

Berdiri di tengah kerumunan para kasim, ia mirip seperti seekor ayam jantan yang sedang berjalan di antara sekelompok ayam betina, angkuh dan puas diri.

Para kasim yang berada di sekelilingnya pun memandang padanya seperti selir yang memandang pada tuannya, dengan tatapan yang diliputi oleh perasaan hormat, takut, dan kagum.

Lu Xiao Feng menganggap hal itu sebagai kejadian yang lucu, menyedihkan dan memuakkan.

— Orang-orang yang paling menyedihkan dan mengibakan selalu punya sesuatu yang agak memuakkan.

Ruangan itu seperti sebuah sarang binatang atau gua, udaranya penuh dengan asap dan baunya menyengat hingga ke langit ketujuh. Di antara orang-orang yang berkumpul di sekitar meja judi, 9 dari setiap 10 orang tentulah seorang kasim, yang sedang menggenggam dadu, memutar-mutar telinganya, mencubit kakinya, mengendus-endus jarinya setelah mencubit kaki, mencubit kakinya lagi setelah selesai mengendus jarinya, dan sesekali meraba sini atau menyentuh sana.

Rumah itu tentu saja milik Kakak Ke-enam Ma. Sambil berdiri di tengahnya, ia terlihat begitu angkuhnya sehingga sebuah lampu merah seperti bersinar-sinar dari setiap bopeng di wajahnya. Gan’er Zhao tidak ikut masuk. Setelah tiba di pintu, ia segera menyelinap keluar.

“Aku hendak melihat-lihat apakah aku bisa menemukan informasi lain di sini, akan kembali dengan segera.”

Ia memang seorang ahli menyelinap kabur, bahkan Lu Xiao Feng pun tidak berhasil mencegahnya. Maka Lu Xiao Feng terpaksa masuk sendirian.

An”zi Kecil mengiringinya dengan membuka jalan di depannya.

“Beri jalan, beri jalan! Minggirlah sedikit. Aku punya teman yang ingin mencoba juga!”

Saat melihat Lu Xiao Feng, mata Kakak Ke-enam Ma tampak terbelalak. Tatapan matanya terlihat dipenuhi oleh kebencian, seperti seekor ayam jantan yang tiba-tiba melihat seekor ayam jantan lainnya menyelinap ke daerah kekuasaannya.

Ia mengamat-amati Lu Xiao Feng beberapa kali dengan matanya yang tajam sebelum akhirnya, dan dengan dingin, berkata: “Kau ingin bermain apa” Kau ingin bermain sesuatu yang besar atau cuma kecil-kecilan” Sesuatu yang nyata atau hanya pura-pura”

Kasim-kasim itu semuanya tertawa, suara tawa mereka seperti suara sekelompok ayam betina yang berkotek, membuat Lu Xiao Feng merasa sakit di sekujur tubuhnya.

“Temanku ini tidak main-main, tentu saja ia ingin memainkan sesuatu yang besar, lebih besar lebih baik!” An”zi Kecil berkata sebelum Lu Xiao Feng sempat.

“Kau ingin bermain besar” Kakak Ke-enam Ma menatap Lu Xiao Feng. “Berapa banyak uang yang kau punya”

“Tidak banyak, juga tidak sedikit!”

“Sebenarnya ada berapa banyak” Kakak Ke-enam Ma mendengus. “Coba kita lihat sebelum kita mulai bermain!”

Lu Xiao Feng tertawa. Bila ia telah cukup banyak mendapatkan hukuman batin, ia juga akan tertawa.

“Apa ini cukup” Ia mengambil sehelai cek yang kumal dari saku baju sebelah dalam dan melemparkannya ke atas meja.

Semua orang di ruangan itu kembali tertawa terbahak-bahak. Cek itu terlihat seperti sehelai kertas wc. Salah satu kasim yang bertubuh kecil pun ikut tertawa, membuka gumpalan cek itu dengan sepasang jarinya yang baru saja digunakan untuk mencubit kakinya. Ia melicinkan cek itu dan membaca nilai yang tertera di situ. Matanya hampir melompat keluar dari kelopaknya.

“Sepuluh ribu tail!”

Ajaib, cek yang terlihat seperti kertas wc itu ternyata bernilai sepuluh ribu tail perak. Bukan hanya itu, cek tersebut ternyata berasal dari “Empat Besar Abadi” yang tentu saja bisa menjamin pembayarannya.

Sekarang giliran An”zi Kecil yang tertawa.

“Seperti yang kubilang tadi, temanku ini tidak main-main.” Ia membusungkan dadanya dengan bangga.

Keangkuhan Kakak Ke-enam Ma segera lenyap separuh bagian, sikapnya juga berubah.

“Cek sebesar itu, bagaimana kita bisa membaginya dalam berapa kali putaran? Sebuah senyuman dipaksa pun muncul di wajahnya.

“Tidak perlu,” Lu Xiao Feng menjawab dengan santai. “Aku menaruhnya untuk satu lemparan saja.”

“Sepuluh ribu tail untuk satu lemparan dadu” Keringat mulai mengucur di wajah Kakak Ke-enam Ma, setetes keringat untuk setiap lubang burik di wajahnya.

“Hanya satu.”

Kakak Ke-enam Ma bimbang dan menatap uang beberapa puluh tail perak yang ada di hadapannya.

“Kami tidak bermain sebesar itu di sini!” Ia bergumam.

“Aku tahu kau tidak akan dapat melayani taruhan ini, jadi jika kau kalah aku hanya akan meminta dua potong kalimat darimu.”

“Dan jika kau yang kalah”

“Jika aku kalah, cek sepuluh ribu tail ini menjadi milikmu!”

Mata Kakak Ke-enam Ma kembali memancarkan sinarnya.

“Dua kalimat apa yang kau inginkan dariku”

Lu Xiao Feng menatap langsung ke matanya, dan berkata dengan perlahan, sambil menekankan setiap patah katanya: “Apakah orang yang kau bawa ke sini dua malam yang lalu adalah Zhang Ying Feng” Bagaimana dia bisa tewas”

Ekspresi wajah Kakak Ke-enam Ma tampak berubah, ekspresi wajah para kasim pun ikut berubah.

“Bajingan kecil ini bukan datang ke sini untuk berjudi, dia ke sini untuk menimbulkan keributan, ringkus dia untukku!” Sebuah suara yang dingin tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

Suara ini bernada tinggi dan melengking, tidak lain berasal dari kasim yang terlihat seperti seorang wanita tua, Tuan Wang.

“Bunuh bajingan kecil ini!” Kakak Ke-enam Ma adalah orang pertama yang melompat untuk menyerang, tapi semua kasim segera mengikutinya, menggigit, mencakar, memukul, merobek.

Tentu saja Lu Xiao Feng tidak membiarkan dirinya digigit oleh mereka, tapi ia pun tidak berniat menyakiti makhluk-makhluk aneh ini.

Satu-satunya pilihan baginya adalah memburu satu orang. Bila ingin menangkap pencuri, carilah pemimpinnya. Jika ia bisa menguasai Kakak Ke-enam Ma, mungkin itu bisa menakut-nakuti para kasim.

Tapi, yang mengejutkan, Kakak Ke-enam Ma ini ternyata tahu sejurus dua jurus kungfu. Dia bukan hanya mempelajari ilmu Kaki Naga dan Tinju Bandang dari Sekte Utara, ia pun cukup mahir memainkannya. Serangan-serangan pertamanya cukup keji dan kuat. Sayang baginya, orang yang ia hadapi adalah Lu Xiao Feng.

Dengan sebuah dorongan lunak tangan kirinya, Lu Xiao Feng berhasil menangkis serangannya dan, dengan amat perlahan menggunakan tangan kanannya, memukul dadanya. Hanya dengan begitu saja, tubuhnya yang amat besar dan kekar itu telah terguling ke belakang. Saat ini ruangan tersebut telah dipenuhi orang.

Maka waktu ia terguling ke belakang, ia mendarat di atas tubuh beberapa orang. Saat ia bangkit kembali, wajahnya telah pucat pasi dan terlihat noda darah di sudut mulutnya.

Hal ini menghentikan langkah Lu Xiao Feng. Ia tidak mengerahkan banyak tenaga dalam pukulan tadi, seharusnya orang ini tidak akan terluka sedemikian rupa.

Bagaimana ini bisa terjadi. Tenggorokan Kakak Ke-enam Ma mengeluarkan suara parau tak jelas dan matanya mulai melotot keluar.

Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari apa yang telah terjadi.

Seseorang telah menusuknya tepat di bawah rusuk sebelah kiri. Pisau itu masih tertanam di tubuhnya dengan hanya gagangnya saja yang menonjol keluar.

Tidak ada yang bisa selamat dari tusukan seperti itu. Siapa yang melakukannya? Ruangan ini begitu ramai dan begitu kacau sehingga Lu Xiao Feng pun tidak melihat siapa yang melakukannya. Satu-satunya bukti yang ia miliki hanyalah pisau itu sendiri.

Ia bergegas maju dan menarik pisau itu, darah pun menyembur ke mana-mana. Sekali lagi Kakak Ke-enam Ma roboh. Tampaknya ia ingin mengatakan sesuatu saat ia roboh, tapi tidak ada yang tahu apa yang hendak diucapkannya itu.

Kasim-kasim itu pun menjadi panik.

“Tolong! Tolong! Ada pembunuh di sini!” Mereka menjerit-jerit sambil berlari keluar dari pintu dengan kacau.

Walaupun Lu Xiao Feng tidak akan membiarkan dirinya ditangkap oleh kasim-kasim ini, ia pun tidak tahu apa yang hendak mereka lakukan padanya.

Ia juga tidak ingin terlalu memusingkan hal itu. “Tiga puluh enam strategi bertempur, melarikan diri adalah yang terbaik”. Sambil mengangkat bahu dengan cepat, ia pun melayang.

“Brak!” Dengan suara benturan yang keras, ia menerobos melalui atap.

Saat melompat ke atap, ia bisa melihat bahwa orang-orang sedang berkumpul di sekeliling bangunan itu dari segala penjuru, ada yang membawa tongkat, ada pula yang membawa pisau.

Satu-satunya pilihan bagi dirinya untuk kabur adalah dengan melompati tembok. Tapi tembok ini adalah Tembok Kota Terlarang. Tingginya mungkin paling sedikit 40 m. Tidak ada orang di dunia ini yang mampu melompatinya. Bahkan jika orang yang telah mengejutkan dunia dengan ilmu meringankan tubuhnya, Chu Liu Xiang, lahir kembali, ia pun tak akan mampu melakukannya.

Untunglah bagi Lu Xiao Feng, ia masih memegang pisau tadi. Tiba-tiba ia melayang lagi. Saat tubuhnya telah melesat sejauh 15 m, ia pun mengangkat pisau itu di atas kepalanya dan menusuk dengan kuat hingga pisau itu menghilang ke dalam tembok.

Tubuhnya sekarang mepet ke dinding. Ia menarik kembali pisau itu dan memanjat dinding seperti seekor cicak. Ketika sudah dekat ke puncak tembok, ia pun menjejakkan kakinya ke tembok dan bersalto di udara. Dengan gerakan yang sederhana, ia mendarat dengan perlahan di atas tembok.

Tiba-tiba, dari atas tembok terdengar suara tertawa dingin.

“Masih berusaha kabur? Kau bisa lari tapi kau tidak bisa sembunyi!”

Lu Xiao Feng hanya mendengar suaranya, tapi tidak bisa melihat orangnya, ia juga tidak tahu apakah orang ini telah menyerang.

Maka dengan menjejakkan kakinya kembali ke tembok, ia melayang dan bersalto lagi. Barulah ia bisa melihat orang itu. Ajaib, orang ini sedang berjemur di antara pos-pos penjagaan di tembok kota. Ia mengenakan sebuah jubah hijau yang kotor dan compang-camping, sepasang sandal jerami yang benar-benar usang, dan kepalanya begitu licin hingga tampak berkilauan di bawah sinar matahari.

Orang ini adalah seorang hwesio.

“Hwesio Jujur!” Lu Xiao Feng hampir berteriak, dan hampir terpeleset jatuh dari atas tembok.

Hwesio Jujur tertawa terbahak-bahak, tawa yang keras dan tulus.

“Tenanglah, hwesio tidak akan menangkapmu, aku sedang bicara tentang si kecil ini.” Ia mengangkat dua buah jarinya, di antara jari-jari itu ada seekor kutu kecil. Ia tertawa lagi dan meneruskan. “Kedua jariku ini mungkin tidak sekuat jarimu, tapi tidak ada kutu di dunia ini yang bisa meloloskan diri darinya.”

Dengan sedikit tambahan tenaga, ia membinasakan kutu itu.

“Tuhan menganugerahkan kehidupan,” Lu Xiao Feng mengejek dengan dingin, “mengapa kau harus membunuh”

“Jika aku tidak membunuh, maka kutu ini yang akan memakanku hidup-hidup.”

“Seorang hwesio yang telah mendapat pencerahan tentu rela mengorbankan tubuhnya sendiri untuk memberi makan elang, maka apa salahnya membiarkan kutu itu memakan dirimu”

{Catatan: Lu Xiao Feng menyinggung tentang sebuah dongeng agama Budha yang terkenal. Dalam dongeng itu, seorang hwesio menyelamatkan seekor burung kecil dari seekor elang. Tapi elang itu mengeluh pada si hwesio bahwa ia sekarang akan mati kelaparan karena si hwesio. Hwesio itu lalu memotong sebagian daging dari tubuhnya yang bobotnya sama dengan bobot burung kecil tadi. Tentu saja si hwesio akhirnya tewas, tapi elang itu selamat.}

“Sayangnya aku hanya punya darah yang banyak dan tidak bisa digunakan untuk memberi makan kutu.”

“Maka kau pun membunuhnya”

Hwesio Jujur tidak menjawab.

“Dan jika kau telah membunuh, maka kau mungkin telah membunuh orang juga sebelumnya.”

Hwesio Jujur masih tidak menjawab.

“Mengapa kau tidak bicara” Lu Xiao Feng mengejek.

“Aku tidak bisa berdusta, maka aku tak akan bicara.” Hwesio Jujur menghela nafas.

Tatapan mata Lu Xiao Feng seperti sebatang pisau saat ia memandang Hwesio Jujur: “Kau tidak pernah berdusta?”

“Setidaknya aku tak pernah berdusta pada orang yang malang dan menderita.”

“Aku ini malang dan menderita”

“Kau telah mengangkat ekormu dan berlarian ke sana ke mari sepanjang hari,” Hwesio Jujur menghela nafas, “Bagaimana keadaanmu bila dibandingkan dengan keadaan diriku yang sedang santai dan asyik berjemur ini”

“Kudengar kau pun sedang sibuk!” Lu Xiao Feng berkata dengan dingin.

“Siapa yang mengatakannya?”

“Aku.” Lu Xiao Feng tertawa pahit dan meneruskan. “Dua hari yang lalu kau berada di Zhang Jia Kou, kemarin kau baru saja tiba di ibukota. Sejak kedatanganmu, kau telah sibuk menyebar kabar burung dan berita untuk Ye Gu Cheng, ikut menjadi saksi sebuah transaksi bisnis, dan sekarang kau telah memasuki Kota Terlarang. Seorang hwesio seperti itu tampaknya tidak menjalani keadaan yang santai dan tenang.”

Hwesio Jujur tertawa.

“Mungkin aku memang selalu punya kegiatan, tapi setidaknya hati dan fikiranku bebas dari perasaan khawatir.” Ia membalas.

“Mungkin kau tidak menghadapi masalah, tapi kau seperti sedang melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi.”

“Aku tidak pernah berbuat sesuatu secara sembunyi-sembunyi!”

“Lalu apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini”

“Karena aku tahu di sini ada seseorang yang sedang mencari seekor kuda putih yang membawa mayat!”

“Tampaknya kau bukan hanya orang yang cerdik, kau pun suka ikut campur dalam urusan orang lain!” Lu Xiao Feng tertawa pahit.

“Aku harus perduli pada urusan ini!”

“Mengapa”

“Karena walaupun aku tidak punya putera, aku punya seorang keponakan!”

“Maksudmu Zhang Ying Feng adalah keponakanmu”

Hwesio Jujur mengangguk.

“Sekarang aku bahkan tidak punya keponakan lagi.” Ia menghela nafas.

Lu Xiao Feng tidak bicara apa-apa lagi, karena ia terperanjat mendengar ucapan tadi. Hari ini memang penuh dengan kejadian-kejadian aneh, setiap kejadian tampaknya memiliki hubungan dengan kejadian lainnya, tapi semuanya masih kabur. Ye Gu Cheng, Nyonya Pertama Gong Sun, si Untung Besar Sun, Ou Yang Qing, Li Yan Bei, Zhang Ying Feng, semua ini adalah korban dan dilihat dari permukaan, tidak ada sesuatu apa pun yang menghubungkan mereka semua.

Tapi Lu Xiao Feng merasa ada satu kesamaan, satu hubungan tertentu di antara mereka semua. Yang mencelakai Ye Gu Cheng, Ou Yang Qing, dan si Untung Besar Sun jelas adalah orang yang sama, bahkan dia pun menggunakan metode yang sama. Tapi tidak ada alasan kenapa mereka bertiga ada hubungannya.

“Zhang Ying Feng memang mati di sini!” Lu Xiao Feng memecahkan kesunyian.

“Apakah hasil penyelidikanmu telah membuatmu yakin”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Kematiannya ada hubungannya dengan seseorang di sekitar sini yang telah membunuh “Kakak Ke-enam Ma”!”

“Kau telah bicara dengan Kakak Ke-enam Ma?”

“Saat aku hendak melakukannya, seseorang membunuhnya untuk membungkam mulutnya!”

“Tapi kau tidak tahu siapa yang membunuhnya!”

“Yang kutahu adalah kematiannya itu amat erat hubungannya dengan seorang Tuan Wang!”

“Dan siapakah Tuan Wang itu”

“Seorang kasim tua yang terlihat seperti seorang wanita tua.”

“Mengapa mereka ingin membunuh Zhang Ying Feng”

“Aku tidak pernah mengatakan kalau mereka yang membunuh Zhang Ying Feng.” Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Lalu siapa yang membunuhnya?”

“Tak perduli siapa yang melakukannya, yang pasti dia bukan Xi Men Chui Xue.”

“Mengapa bukan?”

“Karena aku bisa menjamin bahwa Xi Men Chui Xue tidak ada di sini, dan tidak pernah datang ke sini!”

Walaupun ucapannya terdengar amat yakin, di hatinya ia masih menyisakan keraguan. Selain Xi Men Chui Xue, tampaknya tidak ada alasan bagi orang lain untuk membunuh Zhang Ying Feng. Selain Xi Men Chui Xue, siapa lagi yang memiliki pedang setajam dan secepat itu”

Hwesio Jujur tiba-tiba menghela nafas lagi.

“Setelah kau bicara beberapa lama, aku akhirnya menyadari sesuatu.”

“Dan apakah itu?” Lu Xiao Feng tentu saja tidak tahu apa yang telah ia sadari.

“Bahwa aku benar-benar telah kehilangan akalku sebagai seorang hwesio, dan kau telah kehilangan akalmu sebagai seorang Lu Xiao Feng!”

Lu Xiao Feng tertawa mendengar ucapan itu, tawa yang letih dan jengkel. Matahari perlahan-lahan naik semakin tinggi di langit, langsung menyinari kepala Hwesio Jujur yang botak itu.

Lu Xiao Feng menatapnya, menatapnya untuk beberapa lama.

“Sepertinya aku terus-menerus bertemu dengan hwesio dan tosu di semua tempat dalam dua hari terakhir ini!”

“Kau memang orang yang beruntung, hanya orang-orang beruntung yang selalu bertemu dengan hwesio dan tosu!”

“Bagaimana tiba-tiba aku bisa menjadi orang yang demikian beruntung?”

“Itu terjadi begitu saja, kau saja yang tidak tahu!”

“Sebenarnya aku tahu,” Lu Xiao Feng tertawa dingin. “Karena aku ikut campur dalam urusan ini, itulah sebabnya aku menjadi orang yang demikian beruntung.”

“Oh?”

“Hwesio seharusnya tinggal di biara dan menutup diri dari dunia luar, dari kejadian-kejadian di dunia luar. Tapi urusan ini tampaknya telah menarik perhatian begitu banyak hwesio!”

Hwesio Jujur, Tosu Kayu, Gu Qing Feng, dan Sheng Tong dari kuil kecil itu, semua tampaknya ada hubungannya dengan seluruh urusan ini.

“Hwesio semuanya memakai kaus kaki putih,” Lu Xiao Feng meneruskan. “Jika ada organisasi yang semua anggotanya menggunakan baju hijau dan sepatu merah, maka bisa saja ada yang menggunakan Kaus Kaki Putih.”

Hwesio Jujur kembali tertawa.

“Kau mungkin memang sudah kehilangan akal, tapi daya khayalmu masih bekerja dengan baik.” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan termenung.

“Walaupun demikian, aku tetap mempunyai perasaan bahwa ada seorang hwesio di balik semua ini, melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi.” Lu Xiao Feng membalas dengan dingin.

“Oh?”

“Kau adalah seorang hwesio.”

Hwesio Jujur tiba-tiba mengangkat kakinya yang penuh lumpur itu ke udara.

“Sayangnya hwesio ini tidak memakai kaus kaki putih, tapi kaus kaki daging!” Ia bergurau.

“Kaus kaki daging tetaplah kaus kaki putih.”

“Tapi kulitku tidak putih!”

Sekali lagi Lu Xiao Feng terdiam.

Tentu saja ada banyak hal yang belum bisa ia bicarakan. Maka ia bersiap-siap untuk pergi. Tapi baru saja ia hendak melangkah, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia tidak bisa pergi lagi.

Jika ia menuju ke arah Timur, ada dua orang laki-laki di pos penjagaan, dengan tangan berada di balik punggung, perlahan-lahan menuju ke sini. Jika ia menuju ke arah Selatan, juga ada dua orang laki-laki yang sedang menuju ke arahnya saat ini. Jika ia melompati tembok, di satu sisi adalah pusatnya para kasim, dan di sisi lain ada belasan orang pemanah dan serdadu sedang menunggunya.

Sebuah senyuman tanda menyerah pun muncul di wajahnya.

“Ternyata Kota Terlarang bukanlah tempat yang tepat untuk berbincang-bincang dengan hwesio.”
______________________________

Tembok itu amat lebar, cukup bagi dua orang untuk berjalan berdampingan tanpa harus bersempit-sempitan. Di antara dua orang laki-laki yanag datang dari arah Timur, yang satu adalah seorang laki-laki tua dengan wajah yang tirus dan terang serta memiliki sikap yang angkuh dan agung; orang yang satunya lagi memiliki wajah yang pucat dan terlihat sebuah seringai dingin di wajahnya. Di antara dua orang laki-laki yang mendekat dari arah Selatan, yang satu memiliki mata yang tajam seperti mata rajawali, bahkan hidungnya pun bengkok seperti paruh rajawali; dan orang yang satunya lagi tidak lain dari Yin Xian.

Mereka berempat mengenakan pakaian yang paling mahal, dan membawa sikap yang angkuh, tampaknya amat sesuai dengan kedudukan mereka. Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Para Komandan Utama Pengawal Istana telah berada di sini, menurutmu apa yang harus kita lakukan?”

Hwesio Jujur tertawa.

“Untunglah bagiku, aku tidak membunuh siapa-siapa, aku juga bukan seorang tersangka,” ia melompat bangkit dan, masih sambil tertawa, tiba-tiba bertanya, “Boleh aku bertanya siapa di antara kalian ini “Jago Pedang dari Hunan”, Tuan Wei Zi Yun?”

“Itu aku.” Laki-laki tua yang berwajah tirus dan terang itu menjawab.

“Dan siapa di antara kalian ini “Dewa Rajawali dari Padang Rumput” Tuan Tu Fang?”

“Aku.” Laki-laki setengah umur bermata tajam tadi menjawab dengan singkat.

“Yang berada di samping Tuan Wei di sana itu adalah “Tangan Pemetik Bintang” Ding Ao. Namaku Yin Xian.” Yin Xian memotong. “Selamat siang, Tuan Hwesio!”

“Aku bukan Tuan Hwesio, hanya seorang hwesio tua biasa, seorang hwesio yang jujur.” Hwesio Jujur menunjuk Lu Xiao Feng dan meneruskan. “Tapi, orang ini, sama sekali tidak jujur. Ia adalah orang yang kalian cari-cari, bukan aku!”

“Kami memang sedang mencarinya.” Ding Ao menjawab dengan dingin.

“Apakah kalian hendak mengundangku minum” Lu Xiao Feng bergurau.

“Kau masuk tanpa izin ke Kota Terlarang, melakukan pembunuhan, masih berani minta minum?” Wajah Du Fang terlihat semakin bersungguh-sungguh.

Ia memang orang yang tidak suka bergurau. Bila berhadapan dengan orang seperti ini, yang bisa dilakukan Lu Xiao Feng hanyalah memaksakan sebuah senyuman dungu.

“Masuk tanpa izin ke Kota Terlarang, bagian itu memang benar. Tapi melakukan pembunuhan itu tidak.”

“Golok di tanganmu itu kan nyata!” Ding Ao tertawa.

“Orang yang membawa pisau belum tentu pembunuh, dan pembunuh belum tentu membawa pisau di tangannya!”

“Kau bukan si pembunuh?” Du Fang mendesak.

“Bukan.”

“Jika ia mengatakan tidak, maka dia tidak melakukannya.” Yin Xian segera berkata. “Aku tahu pasti kalau orang ini tidak akan pernah berdusta!”

“Aku belum pernah bertemu dengan orang yang tidak pernah berdusta!” Ding Ao memotong dengan dingin.

“Kalau begitu, kau bertemu dua orang hari ini!” Wei Zi Yun tersenyum.

Ding Ao tidak berkata apa-apa lagi.

“Jika Yin Xian mengatakan dia tidak pernah berdusta, maka dia bukanlah pembunuh itu!” Wei Zi Yun berkata.

Du Fang ingin mengatakan sesuatu, tapi ia akhirnya memutuskan untuk membatalkannya.

“Di samping itu, jika ada sepuluh orang Ma lagi yang mati, itu tetap tidak ada hubungannya dengan kita,” ia menambahkan. “Tuan Lu mungkin telah menduga bahwa kita datang ke mari bukan untuk itu!”

“Untuk kejahatan memasuki Kota Terlarang tanpa izin, kau bisa dimaafkan kali ini, karena kau harus melanggar larangan itu lagi besok malam!” Yin Xian menambahkan sambil tersenyum.

“Majikan Benteng Awan Putih dan Xi Men Chui Xue adalah jago-jago pedang yang abadi dan tiada bandingannya,” Wei Zi Yun berkata. “Duel mereka besok malam tentu merupakan kejadian yang mengguncangkan dunia.”

“Aku yakin tidak ada orang yang persilatan yang mau ketinggalan duel ini!” Yin Xian menambahkan.

“Bahkan walaupun kami ini pejabat, kami tetaplah orang persilatan. Kami ingin melihat dua jago pedang ini di masa jayanya, ingin melihat ilmu pedang mereka yang tiada tandingannya.”

“Sebenarnya, karena kami telah mengetahui hal ini, seharusnya kami melipat-gandakan keamanan dan memasang perangkap untuk mencegah mereka masuk!” Yin Xian meneruskan.

“Tapi kami tidak ingin menjadi orang yang merusak kesenangan dan mengganggu rencana semua orang. Kami juga tidak ingin menyinggung perasaan semua pendekar dunia persilatan!” Wei Zi Yun menerangkan. “Jika seseorang telah keluar dari dunia persilatan, maka ia sebaiknya tidak melupakan asal-usulnya. Aku yakin Tuan Lu sangat memahami hal ini!”

“Ya.” Sikap Lu Xiao Feng tiba-tiba berubah menjadi amat serius dan hormat, karena ia menyadari bahwa Jago Pedang dari Hunan ini memang seorang laki-laki yang bersungguh-sungguh dan tulus.

“Walaupun demikian, kami masih punya tanggung-jawab dan tidak boleh lengah dari perlindungan kami terhadap Paduka Kaisar, Kota Terlarang juga tidak boleh menjadi taman bermain dunia persilatan di mana orang-orang datang dan pergi seenaknya.”

“Aku pun sangat memahami hal ini!”

“Sejujurnya, tujuan pertemuan kita sekarang ini adalah agar Tuan Lu benar-benar memahami hal ini.”

Bahkan Lu Xiao Feng pun harus mengakui ucapan ini. Di bawah mereka, di kaki tembok, kapak dan golok tampak berkilauan diterpa sinar matahari, anak panah pun telah ditarik pada busur-busur yang terpentang penuh; di atas tembok, ada 4 orang laki-laki yang kemampuan dan kemasyurannya telah mengguncangkan dunia persilatan sejak 10 tahun yang lalu. Jika mereka menyerang secara serentak, tidak ada orang di dunia ini yang mampu bertahan terhadap serangan pertama sekali pun!

“Semua pembicaraan ini mengarah pada satu hal, kami benar-benar berharap bahwa Tuan Lu mau melakukan sesuatu untuk kami!” Wei Zi Yun mengakhiri.

“Jangan bimbang untuk memintanya!”

“Kami hanya berharap agar tidak terlalu banyak orang yang datang besok malam; kalau bisa jumlahnya tidak lebih dari 8 orang!”

Lu Xiao Feng akhirnya faham. Mereka mungkin telah menghitung-hitung, dengan kekuatan dan kemampuan Pengawal Istana, walaupun nantinya terjadi masalah, mereka masih mampu mengatasi keadaan jika hanya 8 orang yang datang.

Tapi masih ada satu hal yang membingungkan Lu Xiao Feng.

“Tapi mengapa hal ini diminta dariku? Aku tidak bisa mengambil keputusan untuk orang lain, aku juga tidak mungkin tahu berapa banyak orang yang akan datang.”

“Kami ingin Tuan Lu yang mengambil keputusan untuk yang lainnya!”

Lu Xiao Feng semakin bingung.

“Selain dari Majikan Benteng Awan Putih dan Xi Men Chui Xue, kami ingin Tuan Lu yang bertanggung-jawab untuk memilih enam orang lainnya.” Wei Zi Yun menerangkan lagi sebelum Lu Xiao Feng sempat bertanya.

“Maksudmu, besok malam, hanya 6 orang yang kupilih yang boleh masuk?”

“Itulah yang kami maksud!”

Lu Xiao Feng tersenyum, senyuman pertanda sakit, menyerah dan letih. Tiba-tiba ia menyadari bahwa Jago Pedang dari Hunan ini bukan hanya seorang laki-laki yang bersungguh-sungguh dan terlihat tulus, ia juga seorang rubah liar yang pandai berhitung dan licik. Jika ia yang memilih siapa saja yang boleh masuk, maka jika terjadi masalah, jelas dialah yang harus bertanggung-jawab dan terpaksa harus ikut mengatasi keadaan.

“Di sini ada 6 buah sabuk sutera,” Wei Zi Yun meneruskan. “Jika Tuan Lu memilih seseorang untuk ikut menyaksikan duel tersebut, maka berikan sehelai untuknya dan suruh dia memakainya saat datang!”

“Sutera ini diimpor dari Persia dan merupakan salah satu harta Istana Kerajaan,” Yin Xian menjelaskan lebih lanjut. “Di bawah sinar bulan, ia akan berubah warna, jadi mustahil untuk dipalsukan!”

“Kami telah menginstruksikan orang-orang kami untuk menyebarkan informasi ini pada sahabat-sahabat kita di dunia persilatan!” Wei Zi Yun meneruskan.

“Yang tidak membawa sabuk ini, tak perduli siapa pun orangnya, akan dieksekusi di tempat jika tertangkap saat memasuki Istana Terlarang tanpa izin!” Ding Ao menekankan dengan dingin.

“Jadi begitulah, kami meminta Tuan Lu mau menerima ini.” Wei Zi Yun mengeluarkan sebungkus sabuk sutera dan menyerahkannya pada Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng menatap sabuk-sabuk sutera itu, yang tampak berkilauan terkena sinar matahari, seperti setumpuk batu-bara yang sedang menyala dan amat panas. Ia tahu pasti bahwa menerima sabuk-sabuk ini tentu akan membawa banyak masalah bagi dirinya sendiri.

Jelas Wei Zi Yun melihat keraguan di wajahnya.

“Jika Tuan Lu tidak mau menerimanya, kami tidak akan memaksamu, hanya saja..” Ia berkata dengan tenang.

“Hanya saja apa?”

“Hanya saja, demi tanggung-jawab kami terhadap keamanan Yang Mulia, kami tentu akan menutup Istana Terlarang dan meminta Majikan Benteng Awan Putih dan Xi Men Chui Xue untuk memindahkan lokasi duel mereka ke tempat lain.”

“Kalau begitu, akulah yang harus bertanggung-jawab. Kalau orang lain ingin menyalahkan seseorang, tentu mereka akan menyalahkan diriku!”

“Maka kami meminta Tuan Lu mempertimbangkan ini lagi…” Wei Zi Yun menawarkan dengan santai.

“Tampaknya aku tidak punya banyak pilihan.” Lu Xiao Feng menghela nafas dan menertawakan nasibnya sendiri.

Wei Zi Yun tidak berkata apa-apa dan hanya tersenyum.

“Mengapa kalau ada sesuatu masalah yang sulit, maka masalah itu dilemparkan padaku” Lu Xiao Feng kembali menghela nafas dan bergumam pada dirinya sendiri.

Hwesio Jujur tiba-tiba tertawa.

“Karena kau adalah Lu Xiao Feng.”

Dan tampaknya alasan itu sudah cukup.
______________________________

Dengan sabuk-sabuk di atas pundaknya, Lu Xiao Feng perlahan-lahan menuruni tembok. Para serdadu yang menunggu di bawah tembok tiba-tiba telah menghilang dengan sama cepatnya seperti saat muncul tadi. Para Pengawal Istana di Kota Terlarang tentu saja merupakan prajurit yang paling terlatih di dunia.

Walaupun ilmu kungfu mereka secara perseorangan tidaklah hebat, tapi busur-busur mereka yang kuat dan pedang mereka yang tajam, serta pengambilan posisi dan pergerakan mereka yang taktis, akan membuat sangat sukar, jika tidak bisa dibilang mustahil, bagi jago kungfu mana pun untuk menghadapi mereka. Selain itu, di samping Wei Zi Yun dan para Komandan Utama lainnya, mungkin ada banyak lagi jago-jago kungfu di antara para Pengawal Istana.

“Selain dari 6 orang yang kau pilih, orang lain yang kedapatan memasuki Kota Terlarang tanpa izin akan dieksekusi di tempat tanpa pengecualian!”

“Kau percaya pada apa yang mereka katakan?” Tiba-tiba ia bertanya.

Hwesio Jujur sedang berjalan di depannya, kepalanya terangkat dengan tiba-tiba saat mendengar pertanyaan itu.

“Bagian yang mana?”

“Jika kau tidak punya sabuk, beranikah kau memasuki Kota Terlarang besok malam?”

Hwesio Jujur tersenyum.

“Aku tidak punya keberanian itu, tapi aku punya sabuk.”

“Kau punya sabuk” Di mana”

“Di atas pundakmu.”

Lu Xiao Feng pun tersenyum.

“Mengapa aku harus memberimu sehelai sabuk”

“Karena aku seorang hwesio, hwesio yang jujur.”

“Sepertinya itu alasan yang cukup bagus,” Lu Xiao Feng mengangguk sambil tertawa.

“Lebih dari cukup.”

Lu Xiao Feng mengambil sehelai sabuk dan meletakkannya di atas pundak Hwesio Jujur.

“Mungkin kau seharusnya menukar pakaianmu!” Ia termenung.

“Mengapa”

“Warna sabuk ini tidak sesuai dengan pakaianmu!”

“Tak apa, kami para hwesio tidak perduli dengan hal itu. Di samping itu, warna sabuk ini nantinya akan berubah!”

“Aku hanya ingin mengingatkan dirimu bahwa biarpun kau bisa menukar pakaianmu, kau tidak bisa menukar sabuk itu.” Lu Xiao Feng berkata terus terang.

Hwesio Jujur kembali tertawa.

“Kau memberiku sesuatu, aku akan balas memberimu sesuatu,” tiba-tiba ia menawarkan. “Karena kau memberiku sabuk ini, aku pun akan memberimu sesuatu.”

“Apa itu?”

“Sebuah kalimat.”

“Aku mendengarkan.”

Hwesio Jujur melirik Lu Xiao Feng sekilas dan mulai berkata: “Matamu gelap, warna mukamu seperti debu, nasehatku padamu adalah cepat-cepatlah temukan sebuah tempat untuk tidur, tidurlah dengan nyenyak sampai besok malam. Kalau tidak…”

“Kalau tidak, apa?”

Hwesio Jujur menarik nafas.

“Walaupun orang mati punya 5 sabuk, ia tetap tidak bisa masuk ke Kota Terlarang.”

“Apakah itu ancaman? Atau peringatan?”

“Itu hanya kebenaran yang sejujur-jujurnya, semua yang kukatakan adalah hal yang sebenarnya.”

Hwesio Jujur pun pergi. Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa cara berjalannya pun terlihat amat ganjil, seperti kasim-kasim itu.

Apakah hwesio tidak berbeda dengan kasim?

Tapi hwesio masih bisa mendatangi pelacur secara diam-diam?

Jika kasim punya isteri, mengapa hwesio tidak boleh mendatangi pelacur?

Lu Xiao Feng menghela nafas dan memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lagi, masih banyak persoalan mendesak yang harus ia renungkan.

Tosu Kayu, Gu Qing Feng, Pertapa Cemara Kuno, Li Yan Bei, Hua Man Lou, Yan Ren Ying, keluarga Tang, para pendeta lhama, jago-jago pedang yang misterius itu, belum lagi jago-jago lainnya dari 7 sekte pedang utama.

Tidak seorang pun dari mereka yang mau ketinggalan acara duel besok malam, tapi sekarang hanya tersisa 5 lembar sabuk. Bagaimana cara yang tepat untuk membagi-bagikan sabuk ini” Mungkin tidak ada.

Lu Xiao Feng kembali menghela nafas.

“Yang tidak mendapatkan sabuk mungkin akan mengincar jiwaku,” ia bergumam pada dirinya sendiri.

“Tampaknya aku benar-benar harus tidur nyenyak sampai besok malam!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: