Kumpulan Cerita Silat

06/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:52 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 04: Seseorang Yang Harus Dirawat
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Tanggal 14 September, pagi hari. Li Yan Bei keluar dari rumah ke-13 dari 30 buah rumahnya dan mulai berjalan kaki menembus kabut. Walaupun langkah kakinya masih lebar, tapi juga terlihat berat. Walapun ia masih berjalan dengan tegak seperti biasa, matanya menyiratkan keletihan. Ia tidak tidur semalaman.

Dalam 11 tahun terakhir ini, biasanya ada segerombolan orang yang mengikutinya saat berjalan kaki pagi hari di tengah kabut. Tapi hari ini berbeda. Tidak seorang pun berada di sana.

Matahari belum terbit, es menutupi dedaunan dan pohon-pohon. Hari ini bahkan lebih dingin daripada kemarin, tidak lama lagi gumpalan salju tentu akan mulai memenuhi angkasa.

Musim dingin di negara-negara utara akan selalu datang lebih cepat, khususnya bagi Li Yan Bei. Bagi dirinya, musim dingin telah tiba di hatinya.

Di tengah kabut yang tebal, seseorang berjalan menghampirinya di jalan raya. Sebelum Li Yan Bei melihat wajahnya, ia telah melihat sepasang mata yang berkilauan itu.

“Lu Xiao Feng?”

“Ini aku.” Lu Xiao Feng berhenti di bawah sebatang pohon yang layu, menunggunya. “Jika seseorang bisa berjalan-jalan setiap pagi, ia tentu akan memiliki kesehatan yang baik dan umur yang panjang.”

Ia sedang tersenyum, tapi itu bukanlah senyuman yang riang.

“Sudah berapa lama kau berjalan-jalan di luar sini?” Li Yan Bei bertanya.

“Rasanya sekitar satu jam lebih!”

“Mengapa kau tidak masuk?”

Lu Xiao Feng tersenyum lagi, kali ini bahkan lebih dipaksakan lagi.

“Aku takut!”

Li Yan Bei memandangnya dengan heran.

“Kau takut” Kau bisa takut juga?”

“Tentu saja, dan amat sering.”

“Apa yang kau takuti?” Li Yan Bei tidak menunggu jawaban Lu Xiao Feng sebelum mengajukan sebuah pertanyaan lain. “Apakah kau takut melihat Ou Yang?”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Ia masih hidup,” Li Yan Bei menepuk pundaknya. “Tampaknya racun itu tidak begitu mematikan seperti kelihatannya!”

Lu Xiao Feng menghela nafas yang panjang dan lega.

“Cuma kau hari ini?” Tiba-tiba ia bertanya.

Li Yan Bei mengangguk, tiba-tiba ia tampak amat lelah.

“Mereka harus melakukan sesuatu hari ini!”

“Kalau begitu seharusnya kau tidak keluar!”

Li Yan Bei tertawa kecil, tawanya itu pun tidak terlihat riang.

“Sesudah kejadian kemarin, seharusnya kau lebih berhati-hati.”

Li Yan Bei berjalan bersisian dengan Lu Xiao Feng, tanpa mengucapkan apa-apa.

“Dalam 11 tahun terakhir, aku selalu berjalan-jalan di sekitar sini pada pagi hari,” tiba-tiba ia berkata setelah mereka berjalan beberapa lama. “Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, hujan atau salju, aku tak pernah melewatkannya satu hari pun.”

Daerah ini adalah miliknya. Kapan pun ia berjalan-jalan menelusuri jalanan yang tua tetapi lebar ini, hatinya akan selalu dipenuhi oleh perasaan bangga dan puas, persis seperti seorang jenderal yang sedang memeriksa pasukannya, atau seorang Kaisar yang sedang melihat-lihat wilayah kekuasaannya.

“Jika aku adalah kau, aku pun mungkin akan berjalan-jalan seperti ini setiap harinya.” Lu Xiao Feng memahami perasaannya.

“Tentu saja kau pun akan melakukannya!”

“Tetapi, aku akan membuat pengecualian hari ini!”

“Tentu saja kau tidak akan melakukannya!”

“Tapi hari ini”.”

“Terutama hari ini, kau tidak boleh melewatkannya!”

“Mengapa tidak?”

Li Yan Bei bimbang, sambil mengamati toko-toko tua tetapi bersih di kedua sisi jalan, matanya tampak dipenuhi oleh perasaan sedih dan nostalgia. Setelah hening beberapa lama, akhirnya ia menjawab.

“Karena hari ini mungkin saat terakhir untukku!”

“Saat terakhir?” Lu Xiao Feng memandangnya dengan heran. “Mengapa ini saat terakhirmu?”

Li Yan Bei tidak menjawab pertanyaan ini, ia malah tetap diam untuk beberapa lama sebelum mengajukan pertanyaannya sendiri: “Kau pernah bertemu dengan anak-anakku?”

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya. Ia belum pernah bertemu, juga tidak faham mengapa Li Yan Bei tiba-tiba mengajukan pertanyaan ini.

“Aku punya 19 orang putera, yang terkecil baru berusia 2 tahun.” Li Yan Bei meneruskan dengan perlahan. “Mereka semua puteraku, darah dagingku sendiri.”

Lu Xiao Feng tidak berkata apa-apa dan mendengarkan saja apa yang hendak ia katakan.

“Tahun ini aku berusia 50 tahun. Walaupun aku terlihat kuat, kenyataannya aku sudah tua.”

“Kau belum tua,” Lu Xiao Feng berusaha tertawa. “Ada orang yang mengatakan bahwa hidup seorang laki-laki dimulai saat mereka berusia 50 tahun!”

“Tapi aku tidak.” Li Yan Bei pun berusaha tertawa, tetapi gagal. “Karena aku tidak ingin melihat anak-anakku menderita.”

“Apakah kau benar-benar telah menjual seluruh tanah ini?” Lu Xiao Feng akhirnya memahami apa yang ia maksudkan.

“Aku tidak ingin melakukannya,” Li Yan Bei mengangkat kepalanya dan ia menjawab dengan muram. “Tapi mereka memberiku penawaran yang terlalu bagus untuk dilewatkan begitu saja.”

“Penawaran apa itu?”

“Mereka bukan hanya mau mengambil tanggung-jawab mengenai masalah hutang, mereka juga menjamin keselamatan seluruh keluargaku untuk pindah ke Selatan!” Akhirnya ia tertawa, tapi tawa itu terlihat menyedihkan. “Aku tahu bahwa wilayah selatan sungai Yangtze adalah tempat yang bagus. Setiap musim semi, burung-burung akan memenuhi angkasa, buah persik pun akan matang untuk dipetik, pohon willow akan bergoyang-goyang. Jika anak-anak tumbuh di sana, mereka tidak akan pernah tumbuh menjadi seorang bajingan tua seperti diriku.”

Lu Xiao Feng memandangnya.

“Kau benar-benar seorang bajingan tua!” Ia menghela nafas.

“Kau tidak punya anak, maka kau mungkin tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ayah!” Li Yan Bei tersenyum kesal.

“Aku mengerti.”

“Jika kau mengerti, maka seharusnya kau tahu mengapa aku berbuat seperti ini!”

“Aku tahu.”

“Jika Xi Men Chui Xue kalah, maka aku tidak bisa pergi ke mana-mana, dan tidak ada yang bisa kuperbuat dalam hal ini.”

Lu Xiao Feng juga tahu hal ini. Tak ada orang yang memiliki 19 orang putera bisa berbuat banyak dalam hal ini.

“Setelah melihat Ye Gu Cheng kemarin, aku tahu kalau aku tidak punya kesempatan untuk menang.”

“Bukan kau, Xi Men Chui Xue!”

“Tapi jika dia kalah, aku kalah jauh lebih banyak darinya!”

“Aku tahu.”

“Maka kau seharusnya tidak menyalahkanku karena berbuat seperti ini.”

“Aku tidak menyalahkanmu,” Lu Xiao Feng menjawab. “Aku hanya merasa bahwa hal itu agak memalukan bagimu.”

“Agak memalukan” Apa maksudmu?”

Lu Xiao Feng tidak menjawab pertanyaan ini, tapi ia malah balik bertanya: “Pada siapa kau menjual tanahmu?”

“Gu Qing Feng.”

“Siapa Gu Qing Feng itu?”

“Seorang pendeta Tao.”

“Pendeta Tao?” Lu Xiao Feng terkejut mendengar jawaban itu.

“Ada banyak jenis pendeta Tao.”

“Jenis apakah dia?”

“Jenis yang kaya dan berkuasa.” Li Yan Bei meneruskan penjelasannya. “Ada dua sekte Taoisme, pemimpin Sekte Selatan adalah Pendeta Zhang dari Gunung Naga dan Harimau, dan pemimpin Sekte Utara adalah Ketua Kuil Awan Putih!”

“Dia adalah Ketua Kuil Awan Putih?”

Li Yan Bei mengangguk: “Kuil Awan Putih berada di luar kota. Banyak pejabat yang sering bertamu di kuil itu, bahkan ada yang menjadi muridnya!”

“Jadi, walaupun namanya adalah seorang pendeta Tao, sesungguhnya dia adalah tuan tanah yang terkaya dan paling berkuasa di sini.” Lu Xiao Feng mengejek.

“Jika dia bukan orang seperti itu, mungkinkah aku menyerahkan tanahku padanya?” Li Yan Bei tersenyum sedih.

“Masih bisakah kau menundanya?”

“Aku telah menerima tawarannya dan telah memberikan semua surat-suratku padanya.”

“Apakah semua anak buahmu sekarang juga telah menjadi anak buahnya?”

“Kendali sebenarnya untuk wilayah ini bukan berada di tanganku, tapi di tangan Komisi.”

“Apakah ia telah menjadi ketua Komisi sekarang?”

“Posisi ketua juga sudah menjadi miliknya sekarang ini,” Li Yan Bei menghela nafas. “Aku telah menyerahkan padanya Bendera Naga yang diserahkan padaku oleh ketua terdahulu di hadapan beberapa orang saksi!”

“Siapa yang mencari saksi-saksi itu?”

“Dia, tapi mereka semua adalah jago-jago kungfu dan pejabat yang selalu aku hormati.”

“Siapa saja?”

“Yang satunya adalah Tosu Kayu dari Wudang, yang lain adalah Pertapa Cemara Kuno dari Gunung Huang, dan yang terakhir adalah Hwesio Jujur!”

Lu Xiao Feng terkejut. Begitu terkejutnya sehingga ia berhenti berjalan.

“Tak heran kalau aku tidak bisa menemukan mereka!” Wajahnya pun tampak berubah warna. “Aku pergi dan mereka datang!”

“Aku tidak menyebut-nyebut namamu pada mereka!”

“Jika mereka yang menjadi saksinya, maka kau benar-benar tidak bisa membatalkannya lagi!”

“Aku memang tidak ingin membatalkannya, aku telah membuat keputusan yang tetap!” Ia menatap wajah Lu Xiao Feng. “Tapi tampaknya kau ingin mengatakan sesuatu.”

Lu Xiao Feng terdiam untuk beberapa lama.

“Ada sesuatu yang hendak kuberitahukan padamu!” Akhirnya ia mengangguk dengan begitu perlahan.

“Apa?”

“Daerah selatan sungai Yangtze bukan hanya tempat yang bagus, tapi juga penuh dengan wanita cantik. Lebih baik kau jaga sikapmu saat kau tiba di sana.” Ia tertawa. “Hanya ada 30 hari dalam sebulan. Jika kau menikahi 30 orang wanita lagi, kepalamu tentu akan pecah!”

Li Yan Bei juga tertawa, menepuk-nepuk pundak Lu Xiao Feng dan tertawa: “Jangan khawatir. Aku akan menyerahkan semua gadis cantik di sana untukmu!”

Lu Xiao Feng mendongakkan kepalanya dan tertawa.

“Kalau begitu, sebaiknya aku segera mengunjungimu, jangan-jangan nanti kau berubah fikiran!”

Ia tidak berkata apa-apa tentang Ye Gu Cheng. Beberapa kali ia ingin menyebut-nyebut tentang hal itu, tapi akhirnya membatalkannya. Li Yan Bei adalah sahabatnya. Jika seorang sahabat hendak pergi, mengapa tidak mengantarkan kepergiannya dengan senyuman? Jika seorang sahabat bisa tersenyum, maka jangan buat dia menderita atau menyesal. ” Ini adalah prinsip Lu Xiao Feng. Tapi ia tentu harus mengenali dulu siapa sahabat dan siapa musuhnya.

“Kapan kau hendak berangkat?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Mungkin lusa.” Sambil menatap kota yang kuno tetapi indah itu, mata Li Yan Bei tiba-tiba dipenuhi oleh perasaan sedih dan nostalgia. “Walaupun aku sekarang hanya seorang penonton biasa, aku tetap ingin tahu hasil duel ini.”

Lu Xiao Feng mengangguk dengan perlahan, ia faham perasaan Li Yan Bei saat ini.

“Bila kau pergi nanti, mungkin aku tidak dapat mengantarkanmu. Tapi jika kau datang lagi, tak perduli betapa derasnya hujan, betapa kuatnya tiupan angin, aku tentu akan berada di sana untuk menyambutmu!” Ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Aku tidak pernah menyukai perpisahan.”

Perpisahan selalu membuat orang sedih, walaupun ia tidak begitu perduli pada hidup atau mati, ia selalu memandang penting pada perpisahan.

“Aku tahu.” Li Yan Bei juga memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Walaupun aku tak pernah kembali jika aku telah pergi, aku akan selalu menyambutmu kapan saja kau datang ke selatan.”

Lu Xiao Feng tidak berkata apa-apa lagi dan hanya berjalan beriringan dengannya selama beberapa saat.

“Tosu Kayu dan kelompoknya, apakah mereka pergi bersama Gu Qing Feng?”

“Ya.”

“Menurutmu, ke mana mereka pergi?”

“Kuil Awan Putih. Masakan sayur dan arak mereka amat terkenal di sini.”

————-

Kuil Awan Putih seperti benar-benar berada di awan. Atapnya yang keemasan tampak berkilauan diterpa sinar matahari dan kuil itu berdiri tegak dan megah di atas sebuah gunung. Kabut masih belum buyar, maka dari jauh kuil itu terlihat seperti sebuah istana yang mengambang di antara awan. Pintu-pintunya yang hitam besar dengan pengetuk pintu berbentuk seperti kepala binatang dan terbuat dari perunggu telah dibuka, tapi tidak ada orang yang terlihat. Angin pagi sayup-sayup membawa suara dengungan orang yang membaca doa. Para pendeta Tao tentu sedang melakukan renungan pagi.

Tapi di aula utama pun tidak ada orang, hanya sejumlah daun yang baru gugur terlihat menari-nari tertiup angin di luar sana.

Lu Xiao Feng melangkahkan kakinya ke halaman, melewati aula utama yang dipenuhi oleh asap dupa, dan keluar melalui sebuah pintu kecil di belakang. Di sana ia bertemu dengan seorang pendeta Tao yang mengenakan jubah hijau dan topi kuning dan sedang berdiri di bawah sebatang pohon payung China, memandang padanya dengan tatapan sedingin es. Walaupun daun-daun di pohon itu belum berguguran, warna musim gugur di halaman itu tampak lebih kental.

“Apakah Pendeta Gu Qing Feng berada di sini?” Lu Xiao Feng mencoba bertanya.

Tosu itu tidak menjawab. Matanya yang berkilauan tampak seperti pisau belati yang menembus kabut. Angin berhembus lewat dan rompi kuning di punggung pendeta itu tampak menari-nari. Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa di punggungnya terdapat sebatang pedang bersarung hitam.

“Apakah bapak pendeta sendiri Pendeta Gu itu?”

Masih tidak ada jawaban dari tosu itu, wajahnya pun tetap tanpa emosi.

Lu Xiao Feng tertawa canggung untuk mencoba memecahkan ketegangan itu.

“Sepertinya tosu ini tuli, kurasa aku bertanya pada orang yang salah.”

Tapi tosu ini tidak tuli, tiba-tiba ia mendengus dengan dingin: “Kau bukan bertanya pada orang yang salah, tapi kau datang ke tempat yang salah.”

“Bukankah ini Kuil Awan Putih?”

“Ya.”

“Orang tidak boleh datang ke mari?”

“Orang lain boleh, hanya kau yang tidak!”

“Kau tahu siapa aku?” Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak bertanya.

Tosu itu hanya menyeringai dan tiba-tiba ia bergeser selangkah ke samping. Kulit di sisi pohon itu telah terkelupas dan di situ tertulis 8 patah kata dalam tinta hitam: “Phoenix Kecil Terbang Melintas, Mati Di Bawah Pohon Ini!”

“Kau memang tahu siapa diriku!” Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Phoenix mati di bawah pohon, pohon ini akan menjadi nisanmu!”

“Pernahkah kita bertemu sebelumnya?” Lu Xiao Feng tiba-tiba bertanya.

“Belum.”

“Apakah ada sengketa masa lalu di antara kita?”

“Tidak.”

“Bagaimana dengan sengketa baru?”

“Juga tidak ada.”

“Karena kita belum pernah bertemu sebelumnya, dan tidak ada sengketa di antara kita, mengapa kau ingin membunuhku?” Sebuah tawa pertanda jengkel muncul di wajah Lu Xiao Feng.

“Karena kau adalah Lu Xiao Feng!”

“Tampaknya alasan itu sudah cukup!” Senyuman Lu Xiao Feng terlihat semakin menyedihkan.

“Memang!” Dengan sebuah kibasan tangannya, ia telah menghunus pedangnya!

“Pedang yang bagus!” Pedang itu berkilauan seperti banjir bandang di musim gugur. Tosu itu menyentil badan pedang dengan jarinya, terdengar suara denting yang keras. Mendengar suara itu, 6 orang tosu yang berpakaian serupa dengannya tiba-tiba muncul di keempat penjuru. Enam orang, enam pedang, semuanya sama-sama merupakan pedang antik yang amat bagus.

Rumbai-rumbai kuning di ujung pedang terlihat mengepak-ngepak dihembus angin. Tiba-tiba, mereka bertujuh menyerang pada saat yang bersamaan, yang digunakan tak lain adalah ilmu pusaka Sekte Tao Utara, Formasi Bintang Biduk Besar dari Sekte Quanzhen yang terkenal di seluruh dunia. Tosu bermuka kayu tadi jelas merupakan orang yang bertanggung-jawab dalam memimpin formasi itu.

Jurus-jurusnya amat cekatan dan mengalir seperti arus, walaupun ia masih belum sehebat Xi Men Chui Xue dan Ye Gu Cheng, pedangnya cukup tangkas dan bergerak sekehendak hatinya, membuat dirinya termasuk seorang jago pedang di dunia persilatan.

Belum lagi susunan Formasi Bintang Biduk Besar itu, dengan kerja sama tim yang baik, ketujuh pedang itu seperti memiliki kekuatan 70 buah pedang. Bahkan Lu Xiao Feng pun merasakan kesukaran untuk balas menyerang. Pedang-pedang itu seperti jala di sekelilingnya. Ia merasa seperti seekor ikan yang terperangkap di dalam jala, melompat naik turun, ke kiri dan ke kanan di dalam jala, tapi ia tetap tidak bisa keluar. Jala itu pelan-pelan mulai merapat.

“Pedangnya bagus, jurus pedangnya pun hebat, tapi sayang orang-orangnya keliru!” Lu Xiao Feng tiba-tiba menghela nafas.

Tidak ada yang bertanya: “Keliru di mana?” Bahkan jika ada yang ingin bertanya, ia tidak memiliki kesempatan itu. Dalam sekejap, Lu Xiao Feng mulai bergerak. Hanya dengan sebuah liukan tubuhnya yang sederhana, tangannya telah berhasil mencengkeram pergelangan tangan si tosu kepala dan mendorongnya dengan pelan. Yang terjadi selanjutnya adalah rentetan suara dentingan logam saat pedang-pedang itu berbenturan dan bunga api pun beterbangan. Lu Xiao Feng, kembali dengan sebuah gerakan sederhana, berhasil lolos dari kepungan jala itu.

Tapi dalam sekejap itu juga, sebuah suara tawa yang dingin terdengar saat selarik sinar terbang menghampiri seperti pelangi. Kekuatan dan kecepatan serangan ini jauh di atas tosu tadi. Lu Xiao Feng baru saja lolos dari cengkeraman formasi tadi dan larik sinar itu telah tiba beberapa inci dari tenggorokannya.

Hawa pedang yang dingin membeku telah menyentuh kulitnya. Lu Xiao Feng malah tertawa dan ia tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menjepitkan jari-jarinya.

Musuhnya bahkan belum sempat mendengar tawanya saat pedangnya telah terjepit. Tangannya ternyata lebih cepat daripada suara!

Hawa itu menghilang. Dengan dua jari tangan menjepit pedang, Lu Xiao Feng tersenyum pada laki-laki di hadapannya. Seorang laki-laki setengah umur berwajah putih dengan sedikit jenggot dan mengenakan pakaian sutera yang indah. Orang ini balas menatapnya, dengan terperanjat.

Tak ada orang yang bisa percaya bahwa ada orang yang secepat ini di dunia, orang ini tentu saja tidak mempercayainya juga. Ia yakin bahwa ilmu pedangnya setara dengan Ye Gu Cheng dan Xi Men Chui Xue, percaya bahwa serangan terakhirnya itu tak akan pernah gagal. Baru sekarang ia menyadari bahwa ia keliru.

Saat itulah sebuah suara tawa bisa terdengar dari bangunan di belakang pohon payung China itu: “Sudah kubilang kan sebelumnya! Malaikat Luar Langit Ye Gu Cheng dan jari Lu Xiao Feng adalah ilmu kungfu yang tidak ada tandingannya di dunia ini! Sekarang kau percaya padaku?”

“Kita beruntung melihat pertunjukan ini, aku merasa kagum!” Satu orang lagi terdengar menghela nafas.

Laki-laki setengah umur itu pun tiba-tiba menghela nafas: “Lu Xiao Feng benar-benar Lu Xiao Feng!”

Suara tawa itu berasal dari Tosu Kayu dan Lu Xiao Feng menduga bahwa orang yang menghela nafas tadi tak lain adalah Gu Qing Feng. Ada orang yang tampaknya selalu memiliki senyuman di wajahnya dan Gu Qing Feng adalah salah satu di antaranya. Dia memang orang yang bersih dan enak dilihat, bila tersenyum maka dirinya terlihat lebih hangat dan ramah.

Sambil tersenyum, ia mendekat dan menghapus tulisan di pohon itu dengan perlahan: “Tuan Lu mungkin sudah tahu bahwa semua ini hanya…”

“Hanya sebuah gurauan.” Lu Xiao Feng menyelesaikan ucapannya.

“Kau tahu?” Gu Qing Feng tampak terkejut.

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Karena sudah banyak orang yang bergurau seperti ini sebelumnya denganku.”

“Ini memang bukan gurauan yang begitu lucu,” tatapan mata tanda penyesalan pun muncul di mata Gu Qing Feng.

“Tidak, tidak begitu lucu, tapi juga tidak jelek!” Lu Xiao Feng meyakinkan dirinya.

“Setidaknya, setiap kali seseorang bergurau seperti ini padaku, akhirnya aku selalu merasa amat beruntung.”

“Mengapa?”

“Jika aku tidak beruntung, maka gurauan ini tidak menjadi gurauan lagi!” Lu Xiao Feng menjawab terus terang dan ia dengan lembut dan perlahan-lahan meletakkan pedang yang berada di antara jari-jari tangannya, seolah-olah ia khawatir kalau pedang itu akan melukai jarinya.

Laki-laki setengah baya berpakaian sutera itu juga tersenyum, itu juga senyuman pertanda meminta maaf: “Awalnya aku tidak ingin terlibat dalam gurauan ini, tapi mereka semua menjamin bahwa tidak ada orang yang bisa menyentuh tenggorokan Lu Xiao Feng dengan serangan pedangnya, maka aku…”

“Maka kau pun menguji ucapan itu?” Lu Xiao Feng menyelesaikan ucapannya. Ia tertawa kecil dan meneruskan: “Walaupun aku ingin marah, aku tidak berani marah di hadapan Komandan Istana Yang Mulia!”

“Kau tahu siapa aku?” Orang itu tampak terkejut.

Lu Xiao Feng tersenyum.

“Selain dari “Bangsawan Pedang Dewa” Tuan Ketiga Yin Xian, siapa lagi di dunia ini yang mampu melancarkan jurus “Gadis Memintal Benang” tadi?”

Tosu Kayu kembali tertawa terbahak-bahak.

“Bukankah sudah kubilang sebelumnya” Bukan hanya tangannya yang luar biasa, matanya pun begitu pula!”

Setiap orang di dunia persilatan tahu bahwa ada empat orang jago kungfu yang bertindak sebagai Komandan Utama di Istana Kerajaan, tapi hanya segelintir orang yang pernah melihat mereka.

“Matamu benar-benar luar biasa!” Sambil tertawa terbahak-bahak, Yin Xian menepuk pundak Lu Xiao Feng. “Belum sampai sepuluh tahun aku memasuki dunia persilatan, tidak kuduga kalau kau pun tahu siapa aku!”

“Hanya ada beberapa orang yang mampu melancarkan jurus “Gadis Memintal Benang”, tapi yang benar-benar mampu mengeluarkan seluruh kekuatan dan tenaga dari jurus itu hanya ada satu orang di dunia ini!” Lu Xiao Feng menambahkan sambil tersenyum, orang ini memberikan kesan yang baik pada dirinya.

Dalam bayangannya, Komandan Istana tentu tipe orang yang selalu melihat ke atas. Setidaknya orang ini terlihat ramah dan memiliki tawa yang amat murni dan menyenangkan serta membuat orang gembira. Maka Lu Xiao Feng pun berharap dapat menghiburnya sedikit.

Mata Yin Xian segera bersinar-sinar dan ia tiba-tiba mencengkeram tangan Lu Xiao Feng.

“Kau mengatakan yang sebenarnya?”

“Aku tidak pernah berdusta.”

“Kalau begitu, tolong katakan padaku, bagaimana jurus Gadis Memintal Benang-ku tadi bila dibandingkan dengan Malaikat Luar Langit Ye Gu Cheng?”

Lu Xiao Feng menghela nafas. Kebenaran tidak selalu ingin didengar orang.

“Kau yakin kalau kau ingin aku mengatakannya padamu?”

“Aku tahu kalau kau juga pernah menghadapi Malaikat Luar Langit sebelumnya, maka kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang pantas untuk menilai!”

“Waktu aku menangkap pedangnya, di belakangku ada sebuah dinding,” Lu Xiao Feng menjawab sambil berfikir. “Aku tidak perlu mengkhawatirkan bagian belakangku. Saat aku menangkap pedangmu, di belakangku masih ada 7 buah pedang!”

Sinar di mata Yin Xian kembali meredup.

“Jadi aku tidak sehebat dia?”

“Sejujurnya, tidak!”

“Setidaknya aku akhirnya bisa menyaksikan engkau beraksi, tapi Malaikat Luar Langit..”

Tawa Gu Qing Feng tiba-tiba menghentikan mereka.

“Kau akan segera menyaksikan Malaikat Luar Langit!”

“Benarkah?”

“Tentu saja!”

Mata Yin Xian kembali bersinar-sinar.

“Karena besok malam adalah malam bulan purnama!”

“Dan di “puncak Zi Jing” sekarang menjadi “puncak Zi Jin”!” Gu Qing Feng tersenyum. “Jadi jika orang lain tidak, kau pasti akan menonton.”

Tinju Yin Xian mengepal di pedangnya. “Di puncak Kota Terlarang, mereka memilih tempat seperti itu” Dari mana mereka mendapat keberanian itu!” Ia bergumam.

“Tanpa kungfu yang amat hebat, dari mana lagi bisa mendapatkan keberanian itu?” Gu Qing Feng menjawab.

Yin Xian terdiam sebentar.

“Seharusnya kau tidak memberitahukan hal ini padaku.” Tiba-tiba ia berujar.

“Mengapa tidak?”

“Jangan lupa bahwa aku adalah seorang Komandan Pengawal Istana, bagaimana mungkin aku bisa membiarkan mereka memasuki istana?”

“Kau bisa membuat pengecualian!”

“Mengapa aku harus membuat pengecualian?”

“Karena aku tahu bahwa kau tentu sangat ingin menyaksikan Malaikat Luar Langit yang tiada tandingannya itu!”

Yin Xian menghela nafas dan sebuah senyuman tanda menyerah lalu muncul di wajahnya.

“Kau tahu masalahmu yang terbesar? Kau tahu terlalu banyak!”

“Benar-benar terlalu banyak!” Lu Xiao Feng pun menghela nafas.

“Kurasa kau tidak mengira kalau aku akan tahu tentang hal ini, kan?”

“Ini memang sebuah rahasia!”

“Rahasia,” Gu Qing Feng tersenyum. “Di ibukota ini, tidak ada yang benar-benar rahasia!”

“Jadi kau pun tahu kalau aku akan datang?”

“Kau adalah sahabat Li Yan Bei. Jika bukan karenamu, dia mungkin sudah mati di tangan Du Tong Xuan!”

“Sebenarnya, kami memang sedang mencarimu,” Tosu Kayu tiba-tiba memotong. “Tapi akhirnya kami malah menjadi saksi transaksi itu!”

“Bagaimana dengan Hwesio Jujur?”

“Aku yang mengajaknya. Aku tahu kalau kau sedang mencari dirinya.”

“Sayangnya kami terlambat tiba di sana,” Gu Qing Feng menambahkan. “Tidak sempat merasakan daging kambing Nyonya Ke-13 yang terkenal itu!”

“Seorang pendeta boleh makan daging kambing?”

Gu Qing Feng tertawa.

“Jika seorang pendeta tidak boleh makan daging kambing, mengapa dia mau menghabiskan uang satu juta sembilan ratus lima puluh ribu tail perak untuk membeli sesuatu dari Li Yan Bei?”

“Mungkin karena dia amat yakin kalau dia tidak akan kalah?” Tatapan Lu Xiao Feng seperti menembus wajah Gu Qing Feng.

“Jika itu adalah taruhan yang tidak mungkin bisa dimenangkan, maukah kau membayarnya?” Gu Qing Feng menjawab dengan santai.

“Tidak.”

“Dan jika kau setuju untuk menanggung taruhan itu, bukankah itu berarti bahwa kau setidak-tidaknya cukup punya keyakinan?”

Lu Xiao Feng tertawa.

“Tampaknya kau persis seperti aku, tidak tahu bagaimana caranya berdusta!”

“Bagaimana seorang pendeta bisa berdusta?”

“Tapi sayangnya, sepertinya juga sukar bagiku untuk memintamu mengatakan yang sebenarnya!”

“Seorang pendeta harus menguasai seni menghindar,” Gu Qing Feng bergurau. “Orang harus dapat berdiri pada garis antara kejujuran dan dusta. Tidak jujur, juga tidak berdusta!”

Yin Xian tiba-tiba menepuk pundak Lu Xiao Feng lagi.

“Sebenarnya kau telah mempelajari sesuatu yang kecil darinya,” ia bergurau. “Sekali-sekali, katakan separuh bagian dari suatu kebenaran, dan berdustalah sekali atau dua kali.”

“Sayangnya, setiap kali berdusta kakiku terasa kejang dan aku jadi bicara tak keruan.” Lu Xiao Feng menghela nafas.

Yin Xian menatapnya tidak percaya.

“Benarkah?”

“Tidak!”

______________________________

Ruang meditasi itu penuh dengan orang. Setiap orang duduk dengan rapi, tenang, dan khusyuk dalam barisannya, seperti sebuah ruangan berisi murid-murid yang baik dan penurut yang sedang menunggu lonceng sekolah. Tentu saja, mereka bukan anak-anak, mereka juga tidak terlalu baik.

Lu Xiao Feng pernah melihat mereka sebelumnya, semuanya. Orang-orang ini telah mengikuti Li Yan Bei berjalan pagi setiap harinya sejak hari saat si “Golok Emas” Feng Kun dilemparkan ke sungai es, tidak seorang pun berani ketinggalan acara jalan pagi itu. Tapi mulai hari ini, tidak seorang pun dari mereka akan mengikuti acara itu lagi.

Cuma kau hari ini?

Mereka semua ada urusan hari ini!

Ternyata inilah urusan yang sedang mereka lakukan.

“Duduk di sini memang jauh lebih nyaman daripada berjalan kaki,” Lu Xiao Feng tertawa kecil dan berujar. “Tapi hati-hati, duduk terlalu banyak akan menyebabkan dirimu sakit perut, dan itu bukanlah pertanda nasib baik.”

Mereka semua menundukkan kepala dengan malu, satu di antaranya menundukkan kepalanya lebih rendah daripada yang lain.

“Gan’er Zhao” Gan Zheng Wo. Melihat dirinya, Lu Xiao Feng segera teringat pada kuda putih, mayat di atas kuda, dan Yan Ren Ying muda yang angkuh itu.

“Bagaimana dia bisa mati” Dari mana kuda itu berasal?” Lu Xiao Feng ingin bertanya, tapi tidak bisa. Ini bukan saat yang tepat, bukan tempat yang tepat.

Jika itu orang lain, hal yang terbaik adalah benar-benar mengacuhkannya dan pura-pura tidak ada yang terjadi. Tapi Lu Xiao Feng bukan orang lain.

Gu Qing Feng sedang menikmati araknya saat Lu Xiao Feng tiba-tiba menyerang dan mencengkeram leher baju Gan’er Zhao.

“Kudapat kau! Akhirnya aku menemukanmu!” Ia berseru. “Ayo kita lihat bagaimana kau bisa kabur sekarang!”

Semua orang terkejut, tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi. Orang yang paling terperanjat tentu saja Gan’er Zhao. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi.

Gu Qing Feng ingin menengahi, Tosu Kayu hendak bicara untuk menenangkan semua orang. Tapi Lu Xiao Feng menghentikan semua usaha mereka sambil berkata dengan wajah yang kaku: “Aku ada urusan dengan orang ini, urusan yang harus kuselesaikan. Setelah beres, aku akan kembali untuk menikmati arak bersama semua orang. Jika ada yang berusaha menghentikanku…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, juga tidak perlu menyelesaikannya. Tidak ada orang yang ingin berhadapan dengan Lu Xiao Feng hanya demi seseorang seperti Gan’er Zhao. Di depan semua orang, Lu Xiao Feng bisa menyeret Gan’er Zhao ke luar pintu, keluar dari kuil, dan masuk ke sebuah hutan yang letaknya tidak jauh dari kuil.

Matahari telah naik, naik tinggi di angkasa, hari ini adalah hari yang cerah. Tapi di dalam hutan tetaplah gelap. Sinar matahari mengintip melalui dedaunan dan jatuh menerpa wajah Gan’er Zhao.

Wajah Gan’er Zhao telah pucat karena ketakutan.

“Apa? Apa salahku pada Pendekar Besar Lu?” Ia tergagap.

“Tidak ada,” Lu Xiao Feng tiba-tiba melepaskannya dan tersenyum. “Dan tidak ada urusan lama juga, tidak ada sama sekali.”

Gan’er Zhao terkejut untuk kedua kalinya. Tapi setidaknya wajahnya mulai berwarna kembali.

“Jadi semua ini cuma lelucon?”

“Rasanya ini memang bukan lelucon yang bagus, mungkin lebih buruk daripada lelucon yang mereka lakukan padaku.”

“Bukan, bukan lelucon yang bagus,” Gan’er Zhao menghela nafas dengan lega dan tertawa. “Tapi setidaknya masih lebih baik daripada “bukan lelucon”!”

Sikap Lu Xiao Feng tiba-tiba berubah lagi.

“Walaupun kadang-kadang lelucon bisa berubah menjadi sesuatu yang amat serius!” Ia berkata dengan dingin.

Gan,er Zhao menghapus keringat dingin dari keningnya.

“Jika aku menemukan informasi yang ingin dicari Pendekar Besar Lu, apakah lelucon ini akan berubah?”

“Tidak,” Lu Xiao Feng tertawa. “Tidak mungkin!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: