Kumpulan Cerita Silat

06/02/2008

Duke of Mount Deer (25)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 10:11 pm

Duke of Mount Deer (25)
Oleh Jin Yong

“Aku tidak menganiaya Hay kongkong…” kata Siau Po tapi hanya dalam hati.

“Siau Kui cu…. Giam Lo ong akan meringkusmu!” kata si setan. “Kau akan dilemparkan ke gunung golok dan dimasukkan ke dalam kuali panas! Kau tidak mungkin lolos lagil”

Sampai di situ, hilang sudah perasaan terkejut di hati Siau Po. Sebaiknya dia merasa terkesiap, karena dia mengenali suara wanita itu sebagai suara Hong thayhou. Baginya, Ibu suri ini justru lebih menakutkan dari setan mana pun sebab Hong thayhou bisa merenggut nyawanya dengan mudah!

Tadinya perasaan Siau Po sudah agak tenang. Dia mengira Hong thayhou sudah percaya sepenuhya kepada dirinya karena sudah sekian lama tidak pernah mengambil tindakan apa-apa. Dia juga mempunyai dugaan bahwa Ibu suri tidak berani mencelakainya karena dia sangat disayang oleh Sri Baginda.

Padahal, alasan mengapa Ibu suri selama ini tidak melakukan tindakan apa-apa, adalah karena harus merawat lukanya yang cukup parah akibat bentrokan dengan Hay kongkong tempo hari. Dia juga penasaran mengapa si bocah tidak mati oleh pukulan Hay kongkong yang lihay itu. Karena itulah dia menduga tenaga dalam si thaykam cilik sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Sedangkan untuk membunuh si bocah, selama lukanya belum sembuh, ibu suri enggan menggunakan tangan orang lain. Kalau saja dia mau menggunakan tenaga orang lain, dia tinggal mengeluarkan perintahnya dan bereslah sudah.

Malam ini, tibalah saatnya bagi Hong thayho untuk menghabisi duri dalam mata yang satu ini Sebetulnya dia belum sehat betul, tapi dia tidak bisa bersabar lebih lama lagi. Itulah sebabnya dia mendatangi kamair si thaykam cilik dan membongkar jendelanya.

Sama sekali tidak terbayangkan oleh Ibu suri bahwa di dalam kamar itu ada orang lainnya. Tenaga dalamnya sudah dikerahkan pada lengan kanannya. Setindak demi setindak thayhou berjalan mendekati tempat tidur. Kepandaiannya tidak terpaut jauh dengan Hay kongkong. Dapat dibayangkan apabila serangannya mencapai sasaran!

Siau Po sendiri diam-diam sudah mempertajam pandangan matanya. Meskipun keadaan di dalam kamar remang-remang, namun dia bisa melihat gerak-gerik Ibu suri. Dia tidak berani mengadakan perlawanan. Juga tidak terpikir olehnya untuk melarikan diri. Mungkin karena dia merasa sia-sia. Dia hanya menggeser tubuhnya agar tertutup oleh kasur. Tapi karena tubuhnya bergerak, otomatis tubuh si kincu cilik ikut tergeser juga.

Thayhou segera melancarkan serangan. Dia tidak ingin kepalang tanggung dalam turun tangan.

Namun Siau Po tidak terhajar telak. Hanya ada sedikit nyeri yang dirasakannya. Tubuhnya pun sudah bergeser dari tengah-tengah tempat tidur.

Thayhou masih belum puas. Dia tidak mendengar suara apa pun dan juga tidak bisa melihat keadaan musuhnya. Dia segera melancarkan serangan untuk kedua kalinya.

Tepat ketika dia meluncurkan tangannya, di saat itu juga Hong thayhou mengeluarkan seruan terkejut namun perlahan. Dalam waktu yang bersamaan dia merasa sakit juga heran. Tinjunya seakan mengenai benda yang tajam. Sambil menjerit dia mencelat ke belakang!

Tepat pada saat itu juga, di luar kamar terengar suara teriakan-teriakan gaduh.

“Ada pembunuh gelap! Ada pembunuh gelap!”

Hati thayhou benar-benar tercekat.

“Mengapa ada orang yang tahu perbuatanku?’ tanyanya dalam hati. Dengan gesit dia melompat keluar lewat jendela. Dia adalah seorang Ibu suri, meski para bawahannya sendiri sekalipun, tidak boleh ada seorang pun yang memergokinya. Dia kabur tanpa sempat mencari tahu apakah Siau Po masih hidup atau sudah mati. Dia juga dibingungan oleh rasa nyeri di tangannya.

Tepat di saat Ibu suri melompat keluar dan kakinya belum sempat menginjak lantai, tiba-tiba seseorang yang menyerangnya. Dia terkejut namun cukup waspada. Matanya juga sempat melihat sehingga kedua belah tangannya segera menangkis datangnya serangan bokongan itu. Akibatnya penyerang itupun terhajar mundur.

Di saat thayhou masih kebingungan, dari kejauhan terdengar orang berteriak.

“Pasukan pertama dan kedua melindungi Baginda! Pasukan ketiga kanan lekas melindungi thayhou! Ingat, jangan sampai ada yang meninggalkan pos masing-masing!”

Menyusul itu, dari sebelah kanan di mana terdapat gunung-gunung buatan terdengar lagi teriakan.

“Awas! Di sini ada orang jahat! Dia ingin mencelakai Kui kong kong!”

Thayhou segera mengetahui bahwa teriakan-teriakan itu merupakan suara dari para siwi para pengawal istana. Dia tidak ingin dipergoki oleh mereka. Lekas-lekas dia melompat ke taman untuk bersembunyi di antara pepohonan bunga. Dia bingung sekali karena tangannya terasa sakit sekali. Dari sana dia dapat menonton serombongan orang tengah bertempur sengit. Juga terdengar bentrokan senjata tajam yang nyaring dan bising.

“Oh… Rupanya ada pemberontak yang menyerbu istana!” pikir Hong thayhou. “Entah mereka ini antek-anteknya Hay kongkong atau Go Pay.” Thayhou hanya menduga tentang kemungkinan salah satu di antara kedua orang tersebut.

Dari kejauhan masih terdengar suara teriakan. Kali ini diiringi munculnya sinar obor serta lentera di sana-sini yang semuanya mendekati arena pertempuran.

‘Ah! Kalau aku tidak cepat-cepat kembali ke istanaku, pasti aku akan celaka,’ pikir Ibu suri kemudian. Dia pun langsung berjalan dengan mengendap-endap lalu lari menuju kamarnya.

Baru beberapa tombak dia berlari, tiba-tiba ada sesosok bayangan yang menghadangnya. Sambil membentak orang itu lantas melancarkan serangan.

“Pemberontak! Berani kau menyerbu istana?”

Thayhou menggeser tubuhnya, tangan kanannya bersikap menangkis sedangkan tangan kirirtya enghantam ke pundak penyerangnya itu.

Si penyerang menghindarkan diri. Dia menggunakan sebatang senjata yang mirip dengan garpu raksasa. Dia balas menyerang kembali sehingga kali ini giliran Hong thayhou yang harus mengelakkan diri. Dengan demikian terjadilah pertempuran yang sengit di antara mereka berdua.

Thayhou bingung juga jengkel. Siwi yang satu ini lihay sekali. Ia sanggup melayani Ibu suri sebanyak dua puluh jurus lebih. Malah dia sempat membentak: “Oh! Kiranya pemberontak perempuan! Bagaimana kau begitu berani mati menyerbu ke dalam istana?”

Thayhou sadar, untuk merobohkan siwi itu setidaknya dia memerlukan tiga puluhan jurus lagi, sedangkan dia tidak menginginkan hal itu terjadi karena penundaan waktu merupakan bencana baginya. Bagaimana kalau para siwi yang lainnya sempat berdatangan? Celakalah kalau dia sampai terkurung. Rahasianya pasti akan terbongkar.

Pada saat itu dia melihat kurungan ke arah berdirinya semakin merapat.

“Hei, budak celaka!” akhirnya dia memutuskan untuk membuka suara. Dia sadar bahwa dia tidak dapat melayani siwi itu bertempur lebih lama lagi. Dia juga sengaja tidak merubah suaranya.

Bukan main terkejutnya hati si pengawal. Dia membatalkan penyerangannya sambil mencelat ke belakang sejauh dua tindak.

“Apa katamu?” tanyanya bimbang. Dia merasa kenaI dengan suara itu, tapi dalam keadaan gelap dia tidak dapat melihat dengan jelas.

“Aku Ibu suri!” bentaknya sambil melancark serangan dengan menggunakan kesempatan ketika si pengawal sedang tertegun. Orang itu pun segera terjengkang roboh dengan nyawa melayang.
Demi keselamatan dirinya sendiri, thayhou terpaksa menurunkan tangan kejam. Setelah itu, dia langsung melarikan diri ke kamarnya.

Sementara itu, Siau Po masih merasa terkejut karena hajaran thayhou tadi membawa rasa sakit tapi kesadarannya masih utuh dan untung saja dia ingat untuk membela dirinya sendiri. Menjelang saat-saat genting, dia mengeluarkan pisau belatinya dan kemudian mengangsurkan pisau tersebut ke atas menembus kasur.

Sungguh kebetulan, tepat pada saat itu tinjunya Ibu suri datang menyambut pisau tersebut. Karena itulah Hong thayhou sampai terkejut kesakitan dan langsung lari pergi. Apalagi dalam waktu yang bersamaan terdengar suara-suara teriakan yang gaduh. Sedangkan pisau Siau Po sempat menembus telapak tangannya dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya.

Kepergian Hong thayhou menguntungkan Siau Po. Kalau tidak, dia tentu akan terus terancam bahaya. Cepat-cepat dia menyingkap kasur dan selimutnya. Sekarang dia juga dapat mendengar dengan jelas suara berisik di luar. Namun dia masih belum mengerti apa yang telah terjadi.

‘Celaka, thayhou pasti mengirim orang untuk menangkapku!’ Hal inilah yang pertama-tama teringat olehnya.

“Cepat kita lari!” katanya kepada si kuncu cilik.

Tapi nona itu malah menangis.

“Aduh! Aduh!” keluhnya.

Rupanya pukulan Hong thayhou yang mengenai pinggang Siau Po sempat menyerempet si kuncu cilik. Dia merasa sakit sekali, namun saking takutnya sejak tadi dia diam saja. Setelah mendengar kata-kata Siau Po, dia baru berani mengeluarkan suara.

“Kenapa kau?” tanya Siau Po terkejut sekaligus heran. Dia menarik leher baju nona cilik itu untuk membangunkannya.

“Mari kita lari secepatnya! Cepat!”

Tubuh kuncu itu tertarik bangun, tapi sebelum sempat menginjak lantai, dia terjatuh kembali sehingga kembali dia merintih kesakitan. Pahanya terasa nyeri sekali. Dia tidak sanggup berdiri.

“Pahaku sakit!” katanya kemudian. “Tulang pahaku mungkin patah.”

Siau Po menjadi kebingungan.

“Setan alas! Celaka!” serunya sambil mendamprat. “Kenapa tulangmu justru patah pada saat seperti ini?’

“Aih! Perduli amat! Yang penting aku harus menyingkir dari sini!” katanya dalam hati.

Dia melompat ke jendela untuk mengintai keluar. Dia bermaksud kabur lewat jendela itu.
Namun pada saat itulah Siau Po sempat melihat Ibu suri merobohkan seorang penghadang yang dikenalinya sebagai salah seorang pengawal istana karena baju seragamnya terlihat jelas. Dia menjadi heran.

“Ah! Kenapa thayhou membunuh pengawalnya sendiri?” pikirnya diam-diam. Dia juga melihat thayhou bersembunyi di dalam taman.

Setelah itu, Siau Po juga melihat serombongan orang sedang bertempur dengan sengit tidak jauh dari tempat persembunyian Hong thayhou. Disusul dengan suara teriakan di sana-sini, bocah yang cerdik ini langsung dapat menduga bahwa istana telah kedatangan penyerbu.

“Tangkap pembunuh gelap! Tangkap pembunuh gelap!” demikian suara teriakan yang terdengar olennya.

Mendengar suara-suara itu, hati Siau Po menjadi lega seketika. Jadi, bukan dia yang hendak ditangkap, hanya para siwi yang sedang bertempur melawan pemberontak yang datang menyerbu.

Ketika itu Siau Po sempat juga melihat Hong thayhou merobohkan seorang siwi lainnya. Dia melihat pertempuran itu berjalan seru. Setelah si pengawal roboh, thayhou lari kembali, kemudian menghilang di balik kegelapan.

“Para siwi bukan hendak menangkap aku. Mungkinkah mereka mendapat titah Sri Baginda untuk meringkus thayhou?’ pikirnya kemudian. ‘Kalau begitu, aku tidak perlu pergi dulu!’

Dia segera menolehkan kepalanya melihat si kuncu. Nona itu duduk di lantai sembari merintih perlahan. Dia berjalan mendekati. Sekarang hatinya sudah lega, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.

“Bagaimana? Apakah kau merasa sakit sekali? Jangan membuka suara! Di luar ada orang yang menawanmu!”

Kuncu itu takut sekali sehingga dia terus menghentikan rintihannya. Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara seruan seseorang.

“Giginya si anjing kaki hitam ini lihai sekali, sebaiknya kita bergegas mendaki gunung Cong san!”

Mendengar suara itu, Si kuncu terperanjat. “Ah! Itulah orang-orang kami!” serunya perlahan.

“Apa? Orang-orang kalian?” tanya Siau Po heran. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Kata-kata rahasia yang mereka ucapkan adalah kata sandi keluarga Bhok kami,” sahut si nona.

“Cepat! Cepat! Aku ingin melihat mereka!”

“Apakah kedatangan mereka kemari memari untuk menolongmu?” tanya Siau Po kembali.

“Aku tidak tahu. Apakah ini istana raja?” nona malah balik bertanya.

Siau Po tidak menjawab. Diam-diam dia berpikir. “Kalau rombongan penyerbu itu mengetahui kuncu mereka berada di sini, mungkin mereka akan menyerbu ke kamarku ini. Mana mungkin dengan seorang diri aku melawan mereka yang jumla begitu banyak?”

Karena itu dia mengulurkan tangannya membekap mulut si nona sembari berkata: “Kau jangan bicara dulu. Kalau sampai orang yang mendengarnya, pasti ada orang yang datang ke sini untuk menghajar kakimu sebelah lagi. Aku tidak sampai hati melihatnya.”

Tiba-tiba terdengar suara teriakan disusul dengan suara jeritan dan seseorang berseru.

“Dua orang pembunuh gelap telah terbunuh!”

Ada lagi seruan yang lainnya.

“Sisa kawanan penyerbu melarikan diri ke arah timur! Lekas kejar”

Segera terdengar suara langkah kaki yang ramai berlari serabutan. Suara itu semakin lama semakin jauh.

“Orang-orangmu sudah kabur…” kata Siau Po yang kemudian melepaskan bekapan tangannya pada mulut si nona.

“Mereka bukan kabur,” sahut si kuncu “Tadi mereka mengatakan akan mendaki gunung Cong San, itu artinya mereka hendak mundur untuk sementara waktu.”

“Lalu apa yang dimaksud dengan anjing kaki hitam?” tanya Siau Po.

“Anjing kaki hitam itu adalah para pengawal raja.”

Dari kejauhan masih terdengar sayup-sayup suara perintah-perintah. Siau Po menduga pastilah para penyerbu itu masih terus diserang atau mungkin sedang dikepung.

Tepat pada saat itulah, terdengar suara rintihan lemah dari luar pintu. Suara seorang perempuan.

“Masih ada pembunuh gelap yang belum sempat kabur” kata Siau Po. “Biar aku keluar untuk membacoknya dua kali lagi.”

Siau Po dapat menduga bahwa orang yang ada di luar pintu kamarnya pasti rombongan penyerbu, karena para siwi di istana itu terdiri dari kaum pria.

“Jangan! Jangan kau membunuhnya! Mungkin dia salah satu dari anggota keluargaku!” cegah si kuncu.

Dengan berpegangan pada lengan Siau Po, si kuncu berusaha berdiri. Dia bertumpu pada bahu si bocah cilik itu. Tanpa menghiraukan pahanya yang sakit, dia melompat-lompat dengan kaki kirinya menuju jendela kemudian melongok keluar.

“Apakah langit selatan dan bumi utara?” tanyanya.

Siau Po segera membekap mulut gadis cilik itu sehingga suaranya jadi tertahan. Dari luar jendela terdengar sahutan seorang perempuan.

“Sebawahannya Kong Ciak-Beng ong. Apakah Siau kuncu di sana?”

“Perempuan ini berhasil menemukan tuan putrinya. Ini berbahaya sekali,” pikir Siau Po.

Dia segera mengangkat pisaunya untuk menimpuk kepala perempuan itu. Tapi tiba-tiba tangannya yang membekap mulut si kuncu terlepas karena lengannya terasa nyeri. Rupanya si kuncu sudah berhasil mencekal lengan kanannya itu sehingga seluruh tubuhnya kesemutan dan tenaganya lenyap.

“Apakah suci di sana?” tanya kuncu tersebut pada perempuan yang ada di luar.

“Benar,” sahut perempuan itu dengan nada keheranan. “Kenapa kau ada di sini?”

Belum lagi si kuncu menjawab, Siau Po sudah mendamprat perempuan itu terlebih dahulu.

“Setan alas! Kau sendiri, kenapa kau ada di situ?”

“Jangan… kau maki dia!” kata si kuncu kepada Siau Po cepat. “Dia adalah suci-ku (kakak seperguruan)

“Suci… kau terluka, bukan? Eh… eh, lekas cari akal untuk menolongnya. Kakak seperguruanku yang satu ini paling baik terhadapku!” kata si kuncu panik.

Kali ini giliran Siau Po yang tidak sempat memberikan sahutan, sebab perempuan itu sudah menukas.

“Aku tidak sudi ditolong olehnya. Lagipula, belum tentu dia mempunyai kesanggupan untuk memberikan pertolongan!”

Siau Po meronta dari cekalan si kuncu.

“Perempuan bau!” dampratnya. “Aku tidak sanggup memberikan pertolongan? Hm! Kau budak perempuan yang ilmu silatnya dari golongan kelas sembilan? Asal aku mengeluarkan sebuah telunjukku saja, aku bisa menolong orang sebangsamu sebanyak dua puluh tiga puluh orang, mungkin malah lebih!”

Pada saat itu dari kejauhan masih terdengar suara teriakan-teriakan. “Tangkap pembunuh gelap! Tangkap pembunuh gelap!”

Kuncu cilik mendengar suara-suara itu, dia menjadi bingung sekali.

“Cepat kau tolongi suci-ku itu. Aku akan memanggilmu tiga kali ‘Kakak yang baik, kakak yang baik… kakak yang baik…!”

Sebetulnya Siau kuncu atau si kuncu cilik tidak suka memanggil Siau Po dengan sebutan itu. Tapi sekarang keadaan sedang gawat-gawatnya dan dia berusaha membaiki hati Siau Po agar mau menolong kakak seperguruannya.

Siau Po tertawa terbahak-bahak. Dia merasa puas dan gembira sekali. “Oh, adikku yang baik,” katanya. “Adikku, apakah yang kau ingin kakakmu ini lakukan?”

Wajahnya si kuncu jadi merah padam. Dia merasa jengah sekali. “Aku minta agar kau mau menolong kakak seperguruanku itu…” sahutnya dengan terpaksa.

Dari luar jendela, terdengar si perempuan menukas. “Siau kuncu, jangan minta pertolongannya! Bocah itu belum tentu dapat menolong dirinya sendiri dalam marabahaya!”

“Hm!” Siau Po mendengus dingin. “Justru karena memandang muka adikmu, aku baru berniat menolongmu. Adikku, apa yang telah kita ucapkan tidak boleh kita ingkari. Kau meminta aku menolong dia, baik! Aku akan menolongnya. Tapi kau sendiri, jangan kau ingkari janjimu. Untuk selama-lamanya kau harus memanggil aku kakak yang baik!”

“Apa pun aku bisa memanggilmu. Aku bisa memanggilmu paman yang baik, kongkong yang baik!” sahut si nona.

Siau Po tertawa lagi. “Cukup kau memanggilku kakak yang baik!” katanya. “Orang yang memanggilku kongkong, sudah kelewat banyak!”

“Ya, ya!” sahut si nona. “Baik! Untuk selama-lamanya aku memanggil kau….”

“Kau apa?” goda Siau Po.

“Ka… kak yang baik…” kata si kuncu sambil mendorong tubuh Siau Po sehingga bocah itu terpaksa melompat keluar jendela.

Seorang perempuan dengan pakaian serba hitam sedang meringkuk di bawah jendela.

Kepada nona itu, Siau Po berkata: “Para siwi di istana ini sebentar lagi akan berdatangan. Mereka akan meringkusmu kemudian mencincang tubuhmu sampai hancur untuk dijadikan bakso dan dimasukkan ke dalam air mendidih! Eh, mungkin juga kau akan dijadikan bakpao!”

“Masa bodoh!” bentak perempuan itu. “Pasti akan datang orang yang membalaskan sakit hatiku!”

“Dasar budak bau! Mulutmu pintar sekali bicara, ya? Bagaimana kalau para siwi itu tidak langsung membunuhmu? Bagaimana kalau mereka membuka dulu seluruh pakaianmu sehingga kau telanjang bulat kemudian mereka semua akan… akan… mengambil kau sebagai istri mereka?”

Sembari berkata, Siau Po membungkukkan tubuhnya untuk membopong nona itu. Si nona terkejut setengah mati. Tanpa sadar tangannya melayang untuk menampar pipi bocah tanggung itu. Untungnya nona itu sudah kehabisan tenaga sehingga Siau Po seperti merasa pipinya sedang dielus. Karena itu dia tertawa lebar dan berkata: “Aih! Kau sungguh keterlaluan! Belum lagi menjadi istriku sudah hendak menampar!”

Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membawa si nona dan melompat ke dalam kamar. Si kuncu cilik gembira bukan main. Dia menyambut kakak seperguruannya itu kemudian meletakkannya di atas tempat tidur.

Tepat pada saat itu dari luar pintu terdengar suara yang perlahan sekali. “Kui… kong… kong, pe… perempuan i… tu tidak dapat ditolong. Dia a… dalah rombongan… penjahat yang ta… di menyer… bu is… tana!”

Siau Po terkejut setengah mati. “ltu suara siwi yang dihajar oleh thayhou tadi. Rupanya dia tidak mati!’ pikirnya dalam hati.

“Siapa kau?” tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Aku… adalah salah seorang pengawal dalam istana,” sahut orang itu.

Siau Po sudah mendapat kepastian dari keterangan orang itu. Dia juga menduga bahwa siwi itu pastinya sedang terluka parah. Pikirannya bekerja dengan cepat.

‘Kalau aku menyerahkan perempuan berpakaian hitam ini kepadanya, tentunya perbuatanku ini merupakan sebuah jasa besar. Tapi bagaimana dengan Siau kuncu? Apabila rahasia si nona cilik ini bocor, celakalah aku!’

“Apakah kau terluka?” tanyanya sembari melompat keluar lewat jendela.

“Da… daku…” sahut pengawal itu.

“Coba aku lihat!” tukas Siau Po sambil maju mendekati orang itu. Dia bukan memeriksa luka siwi itu, malah ia menikam dada pengawal itu. Hanya satu kali orang itu sempat mengeluarkan seruan tertahan, kemudian nyawanya pun putus.

“Maaf, aku terpaksa melakukannya demi menjaga keselamatan diriku sendiri,” kata si bocah dalam hatinya.

Setelah itu, dia masih melihat-lihat keadaan di sekitar kamarnya kalau-kalau masih ada siwi lainnya yang melihat apa yang dilakukannya..la menemukan lima sosok mayat. Tiga di antaranya adalah para siwi istana tersebut, sedangkan dua lainnya tidak dikenalinya, pasti orang-orang dari pihak pemberontak yang menyerbu.

Siau Po segera memondong seorang pengawal kemudian meletakkannya di bawah kusen jendela. Kepalanya dibiarkan terkulai di bagian dalam. Punggung siwi itu ditikamnya beberapa kali agar terdapat bekas luka.

Kuncu terkejut sekali. “Dia… adalah orang onghu kami!” katanya marah. “Mengapa orang yang sudah mati kau tikam lagi dengan pisau?”

“Kau tahu apa! Dengan cara ini aku justru menolong kakak seperguruanmu yang bau itu!” sahut Siau Po.

“Kaulah yang bau!” si nona yang terbaring dalam keadaan terluka balas memaki. Dia tidak senang dikatakan bau oleh Siau Po.

Si bocah nakal tertawa lebar. “Kau kan tidak pernah mencium aku?” tanyanya. “Bagaimana kau bisa tahu kalau aku bau?”

“Karena di kamar ini ada bau busuk!” kata si nona kembali.

Kembali bocah yang nakal dan banyak akal ini tertawa. “Sebenarnya kamarku ini baunya harum,” katanya. “Setelah kau masuk kemari, barulah timbul bau tidak sedap ini!”

“Hai,” Si kuncu menghadang di tengah. “Kalian berdua toh belum saling mengenal? Kenapa datang datang kalian bertengkar? Ayo, berhenti! Jangan mengadu mulut lagi! Suci, kenapa kau bisa datang kemari?” tanya kuncu kepada kakak seperguruannya. “Apakah kalian ingin menolong aku?”

“Kami sama sekali tidak tahu kau berada di sini” sahut nona itu. “Kami tidak berhasil menemukanmu. Kami sudah mencari kemana-mana. Karena itulah kami mempunyai dugaan kemungkinan bahwa kau sudah ditawan oleh bangsa Tatcu!”

Nona itu hanya sanggup mengucapkan beberapa patah kata itu saja lalu berdiam diri karena kehabisan tenaga. Siau Po segera berkata.

“Kalau kau sudah kehabisan tenaga dan tidak sanggup bicara lagi, jangan paksakan dirimu untuk berbicara!”

“Aku justru mau bicara,” teriak si nona memaksakan diri. “Kau mau apa?”

“Kalau kau memang sanggup, bicaralah terus,” kata Siau Po sambil tersenyum datar.

“Lihat orang lain, nona bangsawan, luwes, lemah lembut, beda bagai bumi dan langit dengan kau perempuan galak, cerewet!”

“Tidak!” tukas si kuncu cepat. “Kau belum kenaI suci-ku ini. Sebenarnya dia baik sekali. Jangan kau sindir dia terus, pasti dia tidak akan marah. Suci, bagian mana yang terluka? Parahkah?”

“Dasar ilmu silatnya yang masih cetek,” kata Siau Po ikut bicara. “Tidak tahu diri! Berani-beraninya datang menyatroni istana ini. Sudah pasti dikalahkan dan terluka parah. Tampaknya dia malah tidak akan hidup lebih lama lagi. Tidak sampai besok pagi, mungkin dia sudah berpulang ke alam baka!”

“Tidak! Tidak mungkin!” tukas kuncu kembali.” Ka… kak ya… ng baik, carilah akal untuk menolong suciku!”

Si nona yang menjadi kakak seperguruannya Siau kuncu itu justru kesal sekali. Kegusarannya seakan hampir meledak dalam dadanya.

“Biarkan saja aku mati! Tidak sudi aku ditolong olehnya!” katanya ngotot. “Siau kuncu, binatang kecil ini mulutnya jahat sekali. Mengapa kau malah memanggil… nya dengan sebutan itu tadi?”

“Memangnya Siau kuncu memanggil apa padaku?” tanya Siau Po yang semakin senang menggoda nona itu.

Nona itu tidak mau mengulangi panggilan Siau kuncu, dia sengaja berkata dengan sengit. “Dia memanggilmu si kunyuk kecil!”

“Bagus! Bagus! Aku memang si kunyuk kecil. Tapi aku ini kunyuk laki-laki, sedangkan kaulah kunyuk betinanya!”

Dalam hal bersilat lidah, Siau Po memang ahlinya. Sejak kecil dia sudah terlatih dalam pergaulannya sehari-hari, baik di rumah pelesiran maupun dengan segala bujang dan kuli setempat.

Mendengar orang bicara sekasar itu, si nona tidak sudi melayaninya lagi. Dia mengatur nafasnya yang masih memburu karena tadi tidak sanggup mengendalikan emosi dalam hatinya. Lagipula dia menahan rasa sakitnya yang terasa berdenyutan.

Setelah si nona berdiam diri, Siau Po mengangkat lilin lalu menghampirinya. “Mari kita periksa lukanya,” katanya kepada Siau kuncu. “Di bagian mana dia terluka?”

“Jangan periksa lukaku! Jangan periksa lukaku!” teriak si nona yang merasa kesal juga malu.

“Hus! Jangan berteriak-teriak!” bentak Siau Po.”Apakau memang ingin suaramu terdengar kemudian diringkus untuk dijadikan istri sekalian para siwi?”

Dia tetap membawa lilinnya dan mendekati nona yang terluka itu. Lalu dia menyalakannya.

Wajah nona itu penuh dengan noda darah. Kemungkinan usianya sekitar tujuh atau delapan belas tahun. Wajahnya berbentuk kuaci. Meskipun wajahnya kotor oleh darah, tapi kecantikannya masih kentara jelas.

Diam-diam Siau Po mengagumi keelokan paras si nona. “Oh, rupanya nona bau ini seorang gadis yang cantik sekali!” katanya.

“Jangan menyindir ciciku, dia memang sangat cantik!” tukas Siau kuncu.

“Kalau begitu,” kata Siau Po dengan suara sungguh-sungguh. “Biar bagaimana aku harus mengambilnya sebagai istri!”

Nona itu terkejut setengah mati. Dia berusaha untuk bangun. Tangannya bergerak dengan maksud menghajar mulut si bocah yang ceriwis. Tapi terdengar mulutnya mengeluarkan seruan “Aduh!” karena tubuhnya langsung terguling jatuh dari atas tempat tidur. Lukanya yang cukup parah membuat dia tidak sanggup mengendalikan gerakan tubuhnya.

Melihat gadis itu jatuh terguling, Siau Po tidak membantunya bangun tapi malah menertawakannya.

“Jangan terburu nafsu!” katanya. Semakin senang hatinya menggoda gadis itu. “Kau harus dapat bersabar! Kita belum lagi menjalankan upacara pernikahan, mana mungkin langsung menjadi suami istri? Oh! Lukamu mengeluarkan darah lagi. Lihat, kau mengotori tempat tidurku!”

Darah memang masih mengalir dari luka si nona. Hal ini menandakan bahwa lukanya memang tidak ringan.

Tepat pada saat itu terdengar suara langkah kaki dari orang banyak yang mendatangi dengan tergesa-gesa. Kemudian terdengar suara seruan yang mengandung kepanikan.

“Kui kongkong, Kui kongkong! Apakah kau baik-baik saja?” Ketika itu para siwi sudah berhasil mengusir penyerbu. Mereka segera melindungi Sri Baginda dan Ibu suri serta para selir Raja. Juga thaykam dari tingkat atas. Karena Siau Po adalah thaykam kesayangan Raja, maka dia juga butuh perlindungan. Itulah sebabnya belasan siwi langsung mendatanginya untuk menjaga keselamatannya.

Sebelum menjawab pertanyaan para siwi itu Siau Po berkata terlebih dahulu kepada Siau kuncu.
“Kuncu, naiklah ke atas tempat tidur.”

Dia langsung mengangkat nona yang terluka itu kemudian menutupi mereka dengan selimut. Setelah itu dia juga menurunkan kelambu lalu berkata dengan suara lantang.

“Kalian cepat masuk! Di sini ada orang jahat!”

Nona yang terluka kaget sekali. Dia ingin bergerak, tapi tenaganya sudah lemah sekali.

Si kuncu ikut khawatir. Dia segera berkata kepada Siau Po. “Jangan bersuara! Nanti ciciku akan kepergok dan tertawan!”

Siau Po tertawa. “Dia toh tidak sudi menjadi istriku. Mengapa aku harus berbuat kebaikan kepadanya?” .

Pada saat itu, belasan siwi sudah sampai di luar jendela.

“Di sini ada orang jahat!” Salah satu di antaranya berseru. Rupanya tadi dia yang mendengar suara si thaykam cilik.

Siau Po mengeluarkan suara tertawa. “Kalian tidak perlu khawatir, atau pun bingung. Barusan memang ada penjahat yang datang kemari, namun aku sudah berhasil merobohkannya!”

Ia menunjuk kepada mayat penyerbu yang sengaja dicantolkannya pada kusen jendela. Darah mayat itu sampai berceceran mengotori jendela dan lantai kamarnya.

“Aih! Kongkong pasti terkejut sekali!” kata beberapa siwi.

“Tidak! Kui kongkong tidak akan terkejut,” sahut seorang siwi lainnya. “Ilmu silat Kui kongkong tinggi sekali. Dengan sekali gerakan saja, dia berhasil merobohkan seorang penyerbu. Kalau saja tadi ada beberapa orang jahat yang menyatroninya mereka pasti akan mati juga!”

“Iya, kongkong memang lihay!” kata beberapa lainnya lagi memuji. Mereka ingin mengambil muka si thaykam gadungan itu. “Jasa kongkong besar sekali!”

“Aih, tidak dapat dikatakan jasa,” kata Siau Po sambil tertawa. “Sebenarnya penjahat itu sampai di kamarku memang dalam keadaan sudah terluka, sehingga dengan mudah aku dapat menghabisinya!

“Sie loliok dan Him loji gugur dalam melaksanakan tugas…” kata seorang siwi yang menarik nafas panjang pertanda menyesalkan kejadian itu.

“Kawanan pemberontak yang menyerbu itu benar-benar lihai sekali!”

“Sekarang, silahkan kalian mengundurkan diri” kata Siau Po. “Pergilah kalian melindungi Sri Baginda. Aku di sini sudah tidak ada urusan apa-apa.”

“Sekarang tempat Sri Baginda sudah dijaga oleh dua ratus lebih pengawal,” kata seorang siwi lainnya. “Kawanan penyerbu itu sudah kabur denga meninggalkan teman-temannya yang mati maupun terluka. Seluruh istana sudah aman kembali.”

“Bagus!” puji Siau Po. “Mengenai para siwi yang sudah mengorbankan diri itu sebaiknya kalian memohon pada Sri Baginda untuk menghibur dan memberi hadiah kepada keluarga yang ditinggakan. Kalian juga sudah mengeluarkan jasa, tidak mungkin Sri Baginda melupakan kalian.”

Rombongan siwi itu senang sekali. Tidak lupa mereka mengucapkan terima kasih.

Melihat sikap para siwi itu, Siau Po berkata dalam hatinya.

“Peduli amat! Toh, bukan aku yang mengeluarkan uang untuk hadiah kalian. Tidak ada ruginya bagiku berbuat kebaikan ini!” Karena itu dia berkata lagi:

“Tuan-tuan sekalian, aku sudah lupa nama besar kalian. Tolong disebutkan sekali lagi semuanya agar aku bisa melaporkan apabiia Sri Baginda menanyakan siapa saja yang berjasa malam ini.”

Para siwi itu senang sekali. Cepat-cepat mereka menyebutkan nama masing-masing dan Siau Po mengulanginya beberapa kali sampai hapal betul.

“Sekarang kalian meronda lagi. Siapa tahu masih ada orang jahat yang bersembunyi di tempat-tempat gelap atau di antara pohon-pohon yang rimbun. Andaikata berhasil meringkus penjahat, yang laki-laki harus dirangket dengan rotan dan yang perempuan harus ditelanjangi dan diperlakukan seperti istri kalian sendiri!”

Mendengar kata-katanya, para siwi tertawa geli. “Iya! Iya!” jawab mereka serentak. Mereka merasa thaykam cilik itu benar-benar lucu dan suka bergurau.

“Sekarang, tolong kalian singkirkan mayat ini,” pinta Siau Po kemudian.

“Baik,” sahut para siwi itu yang terus berebutan mengangkat mayat itu. Lalu mereka pun memohon diri untuk mengundurkan diri.

Siau Po mengawasi kepergian mereka dan menutup pintu kamarnya kembali. Setelah itu dia menghampiri tempat tidur serta menyingkapkan kelambunya.

“Kau benar-benar biang iseng!” kata Siau kuncu. “Kau benar-benar membuat kami terkejut!”

Tapi ketika dia menoleh kepada kakak seperguruannya, gadis cilik itu terkejut setengah mati. Tanpa dapat menahan diri lagi dia mengeluarkan seruan tertahan. Wajah nona itu pucat pasi, nafasnya juga lemah sekali.

“Bagian manakah yang terluka?” tanya Siau Po.

“Dia harus cepat ditolong supaya darahnya berhenti mengucur.”

“Kau… menyingkirlah jauh-jauh…” kata si nona yang sedang terluka itu. “Kuncu, a… ku terluka di… dada….”

Sebenarnya Siau Po masih ingin menggoda tetapi ketika melihat darah nona itu mengucur semakin banyak, dia membatalkan niatnya. Dia khawatir nona itu akan mati karena lukanya yang terlalu parah, tapi di mulutnya dia malah berkata: “Baru darah yang mengalir, apa bagusnya sih dilihat? Eh, kuncu, apakah kau mempunyai obat luka?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: