Kumpulan Cerita Silat

05/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:52 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 03: Menangkap Ular, Menolong si Cantik
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Malam. Kegelapan telah menyelimuti dunia, gelap seperti tinta. Angin musim gugur, rerumputan yang tak dipelihara, pohon poplar putih yang sunyi. Bulan yang dingin dan tak berperasaan terlihat naik dan menyinari kebun yang dingin dan terlantar itu. Tak seorang pun manusia yang terlihat, tidak juga hantu.

Walaupun di sana ada hantu, orang tidak bisa melihatnya. Sambil menantang angin musim gugur yang datang berhembus, Lu Xiao Feng menggigil tak tertahan.

Tepat sebelum hal-hal buruk terjadi, ia akan selalu mengalami perasaan aneh seperti ini. Ia pun sedang mengalami perasaan aneh itu sekarang. Tidak ada cahaya, tidak ada bintang, bahkan bulan pun terlihat dingin dan muram.

Di bawah sinar bulan, pohon-pohon yang layu bergoyang tertiup angin, terlihat seperti bayangan hantu. Tiba-tiba sebuah bunyi seruling terdengar dari kegelapan.

Lu Xiao Feng segera melesat ke arah suara itu. Akhirnya ia melihat sekilas seseorang yang sedang meniup seruling, di bawah pohon layu di depan sana. Tapi Lu Xiao Feng tiba-tiba menghentikan larinya. Tampaknya ia kembali terkejut. Orang yang sedang bermain seruling itu hanyalah seorang anak kecil yang usianya tidak lebih dari 10 tahun.

Tubuh anak itu tidak tinggi dan ia mengenakan pakaian yang compang-camping. Di wajahnya yang bundar terdapat sepasang mata yang besar dan jernih. Sebentar-sebentar ia menggigil dan mengusap hidungnya, jelas ia sedang kedinginan dan ketakutan. Tapi di tangannya terdapat seruling bambu yang berbentuk aneh itu.

Dengan tatapan tak pernah lepas dari anak itu, Lu Xiao Feng berjalan menghampiri dengan perlahan. Anak itu tidak pernah meliriknya, sebentar melihat ke kiri, lalu menoleh ke kanan. Tiba-tiba anak itu melihat sebuah bayangan di atas tanah, ia lalu menjerit dan segera berusaha melarikan diri. Ia tidak bisa kabur, tentu saja.

Baru beberapa langkah, Lu Xiao Feng telah mencengkeram tangannya. Anak itu segera menjerit-jerit seperti seekor babi yang dikuliti.

Setelah ia berhenti menjerit, barulah Lu Xiao Feng bicara: “Aku bukan hantu.”

Anak itu memandang wajahnya. Walaupun tahu ia bukan hantu, perasaan takut tetap terlihat di wajahnya.

“Apakah kau? Kau benar-benar bukan hantu?” Hidungnya mengeluarkan lendir lagi.

“Hantu tidak punya bayangan, aku kan punya.”

Anak itu akhirnya yakin, menghela nafas, dan segera mencibirkan bibirnya.

“Lalu mengapa kau mencengkeramku?”

“Karena ada beberapa pertanyaan yang hendak kutanyakan padamu!”

Anak itu bimbang.

“Maukah kau melepaskanku setelah bertanya padaku?”

“Aku bukan hanya akan melepaskanmu, aku pun akan memberimu dua untai uang!” Lu Xiao Feng tidak begitu suka tersenyum, tapi ia pun tidak bisa terus-menerus memasang muka kaku di hadapan seorang anak kecil.

Melihat senyumannya, anak itu menjadi sedikit tenang.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” Ia bertanya, sambil mengedip-ngedipkan matanya.

“Siapa namamu, di mana rumahmu?” Lu Xiao Feng bertanya dengan lembut.

“Namaku Makhluk Kecil Yang Malang, aku tidak punya rumah!”

Tentu saja Makhluk Kecil Yang Malang tidak punya rumah, hanya anak-anak gelandangan yang memiliki nama Makhluk Kecil Yang Malang.

Anak itu bukan hanya terlihat amat simpatik, ia pun tampak jujur, seakan-akan ia tidak tahu caranya berdusta.

“Malam sudah larut, apa kau tidak takut di luar sini sendirian?” Suara Lu Xiao Feng terdengar semakin lembut.

“Aku tidak takut! Aku pergi ke mana aku suka!” Makhluk Kecil Yang Malang membusungkan dadanya. Tapi orang yang mengatakan bahwa mereka tidak takut sering kali jauh lebih ketakutan daripada orang lain.

“Menurutmu ini adalah tempat yang menyenangkan?”

“Sama sekali tidak!”

“Jika tidak, lalu mengapa kau datang ke sini untuk meniup seruling?”

“Seorang laki-laki tua bungkuk yang menyuruhku untuk melakukannya, dan ia pun memberiku dua untai uang.”

Kembali laki-laki tua bungkuk. Dialah orang yang memesan peti mati untuk Xi Men Chui Xue dan Ye Gu Cheng, dia juga yang membunuh si Untung Besar Sun. Siapakah dia”

“Apakah dia juga yang memberimu seruling itu?”

Makhluk Kecil Yang Malang mengangguk.

“Seruling ini jauh lebih menarik daripada yang dijual di jalan, dan suaranya pun benar-benar keras!”

Jelas ia benar-benar menyukai seruling itu dan tak tertahan ia mendekatkan seruling itu ke bibirnya dan meniupnya sekali. Semua suara lain seperti hilang ketika seruling bernada tinggi itu ditiup. Lu Xiao Feng tidak mendengar suara lainnya, tapi ia merasakan sebuah desakan untuk berputar dan melihat ke belakangnya.

Dari mana ia mendapat desakan it?” Mengapa ia mendapatkannya? Bahkan ia sendiri tidak bisa menjelaskannya. Tapi dalam sekejap setelah ia berbalik, ia melihat sebuah bayangan berwarna merah darah melesat dari atas tanah. Bentuknya seperti anak panah, tapi jauh lebih cepat daripada anak panah mana pun.

Hampir lebih cepat daripada kilat! Dalam sekejap, bayangan merah itu telah tiba di tenggorokan Lu Xiao Feng. Tepat saat itulah Lu Xiao Feng mengulurkan tangan dan menjepitkan jari-jarinya.

Ia menangkap sesuatu di antara jari-jarinya. Sesuatu yang dingin, berlendir dan licin. Seekor ular berwarna merah darah!

Taringnya telah keluar dan hampir menyentuh tenggorokan Lu Xiao Feng. Tapi hewan itu tidak bisa bergerak lagi, Lu Xiao Feng menjepitnya tepat kira-kira 7 inci dari kepalanya. Seandainya gerakan Lu Xiao Feng sedikit lebih lambat, seandainya jepitannya tadi sedikit meleset dari tubuh ular, seandainya ia menggunakan tenaga yang tidak cukup saat menjepitkan jari-jarinya tadi”.

Tentu dia telah mati sekarang! Sejak muncul di dunia persilatan, baru kali ini Lu Xiao Feng benar-benar hampir menghadapi kematian.

Ia telah berjalan di antara hidup dan mati berulang-ulang kali dan bertemu sekian banyak pembunuh dan monster-monster keji yang tak terhitung jumlahnya.

Tapi belum pernah ia menghadapi sesuatu yang begini berbahaya dan mematikan seperti saat ini. Di tangannya ada seekor ular yang dingin, tapi seluruh tubuhnya pun terasa dingin. Tiba-tiba ia harus melawan desakan keinginan untuk melemparkan ular itu jauh-jauh.

“Ular? Di sini ada ular!” Makhluk Kecil Yang Malang menjerit dan lari.

Lu Xiao Feng menarik nafas dalam-dalam dan melemparkan ular itu sekuat-kuatnya pada sebuah batu cadas raksasa di sampingnya. Waktu ia melirik lagi, anak kecil yang jujur dan malang itu sudah tak terlihat batang hidungnya.

Angin menghembus rerumputan, pohon-pohon yang layu tampak bergoyang-goyang. Sambil berdiri di tengah malam musim gugur ini, Lu Xiao Feng menarik nafas dalam-dalam sebanyak beberapa kali sebelum detak jantungnya akhirnya kembali normal. Tapi saat itulah sebuah jeritan lain terdengar menembus kegelapan. Jeritan itu berasal dari anak tadi!

Makhluk Kecil Yang Malang telah tak sadarkan diri. Saat Lu Xiao Feng tiba di sana, anak kecil itu telah tergeletak di atas tanah. Pada malam hari seperti ini, di sebuah tempat seperti ini, bagaimana mungkin anak kecil seperti ini tidak ketakutan saat ia tiba-tiba melihat sesosok mayat”

Mayat itu berada tepat di depan anak tersebut. Itu adalah mayat seorang laki-laki tua bungkuk. Rambutnya telah dipenuhi uban, tapi ia tercekik mati oleh sehelai pita sutera merah. Dia yang memesan peti mati, dialah yang membunuh si Untung Besar Sun! Jadi kenapa dia malah mati di tangan orang lain? Siapa yang membunuhnya? Mengapa?

Pada malam hari, pita sutera itu terlihat hampir bersinar merah, merah darah. Lu Xiao Feng pernah melihat pita sutera seperti ini sebelumnya, dan ia pun pernah melihat orang lain tercekik hingga mati oleh pita sutera ini.

Pedang Nyonya Pertama Gong Sun terikat pada pita seperti ini, Raja Ular juga tercekik mati oleh pita seperti ini. Siapa kali ini si pembunuh? Mungkinkah itu Nyonya Pertama Gong Sun?

Memang sangat mungkin Nyonya Pertama Gong Sun telah tiba di ibukota ini. Ia tentu tidak ingin ketinggalan duel itu. Tapi siapakah laki-laki tua ini? Mengapa ia membunuh si Untung Besar Sun? Dan mengapa Nyonya Pertama Gong Sun membunuhnya?

Lu Xiao Feng tidak pernah mendengar tentang laki-laki tua seperti ini di dunia persilatan sebelumnya. Ia merasa bimbang. Akhirnya ia membungkuk. Mungkin ada sesuatu di tubuhnya yang bisa memberikan petunjuk tentang laki-laki tua ini.

Tapi mungkin juga ada ular-ular lagi! Ujung jari Lu Xiao Feng terasa dingin seperti es saat ia menggunakan kedua jarinya untuk menyingkap baju laki-laki tua itu. Tidak ada ular, ular tentu sudah bergerak dari tadi dalam situasi seperti ini.

Lu Xiao Feng meraba-raba tetapi tiba-tiba berhenti dengan kaget. Di depan matanya adalah kening seorang laki-lak tua berambut putih. Tapi tangannya merasakan sesuatu yang berbeda. Laki-laki tua ini adalah seorang wanita!

Tangannya menyentuh kulit halus seorang wanita. Rambut putih itu adalah rambut palsu, dan wajah itu pun samaran belaka. Setelah melepaskan rambut dan merobek topeng itu, Lu Xiao Feng melihat sebuah wajah yang kaku membeku tapi masih terlihat amat cantik!

Ia mengenal wajah ini! Laki-laki tua bungkuk ini tak lain adalah Nyonya Pertama Gong Sun!

Lu Xiao Feng tahu betul tentang kemampuan menyamar Nyonya Pertama Gong Sun. Setahunya, tidak banyak orang yang mampu mengetahui samarannya.

Ia juga tahu betul betapa hebatnya ilmu kungfu yang dimiliki perempuan ini. Siapa yang mampu mencekiknya hingga mati? Ilmu kungfu pembunuh ini tentu lebih hebat lagi. Lu Xiao Feng diam-diam menggigil.

Ia baru sehari berada di ibukota, tapi dalam satu hari ini, ia telah terlalu banyak mengalami kejadian-kejadian yang membingungkan dan tak dapat dijelaskan. Ia tak bisa membayangkan kenapa Nyonya Pertama Gong Sun membunuh si Untung Besar Sun, ia juga tak faham bagaimana Nyonya Pertama Gong Sun bisa mati di sini.

Jika terlalu banyak hal yang tak dapat difahami, maka sebaiknya tinggalkan saja dan jangan coba difikirkan lagi; jika semakin berfikir malah semakin bingung, maka sebaiknya tidak difikirkan lagi. Ini selalu menjadi salah satu prinsip Lu Xiao Feng.

Tapi jika ia tidak berusaha berfikir, ia masih bisa merasakan bahwa di satu sudut di kota kuno ini, mengintai sepasang mata, yang bahkan lebih licik daripada rubah yang paling cerdik, lebih berbisa daripada ular yang paling berbisa, menatapnya, menunggu saat yang tepat untuk mengambil nyawanya!

Tak perduli siapa pun orang ini, tak diragukan lagi bahwa ia pastilah musuh yang paling menakutkan dan paling kuat yang pernah ia hadapi dalam hidupnya. Ia bahkan tak bisa membayangkan siapa musuh ini sebenarnya!

——

Cahaya itu terlihat samar-samar dan kabur. Cahaya yang samar-samar itu menerpa wajah Ou Yang Qing yang pucat. Hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan pada wajahnya yang cantik, matanya yang indah tertutup rapat, rahangnya pun mengatup dengan erat.

Bisakah ia membuka matanya lagi? Masih bisakah ia bicara? Dalam hening, Lu Xiao Feng berdiri di sisi tempat tidur, menatapnya, berharap agar ia meliriknya lagi atau melemparkan beberapa makian seperti dulu. Li Yan Bei dan Nyonya ke-13 berada di sampingnya, ekspresi wajah mereka pun tampak muram.

“Saat kami tiba di dapur, dia telah tak sadarkan diri!”

Lu Xiao Feng menatap dengan teliti pada tenggorokannya, ia tak bisa menemukan tanda-tanda sebuah luka pun.

“Di bagian mana dia digigit?”

“Di tangannya, tangan yang sebelah kiri.”

Lu Xiao Feng menarik nafas lega. Waktu ular itu melesat ke arah gadis ini, mungkin ia bereaksi sama seperti Lu Xiao Feng tadi dan berusaha menangkapnya. Walaupun refleksnya tidak sebanding dengan Lu Xiao Feng, setidaknya masih lebih baik daripada si Untung Besar Sun. Si Untung Besar Sun benar-benar terlalu banyak minum.

“Untunglah kau menyuruh kami untuk melihat keadaannya, jadi kami tidak begitu terlambat!” Li Yan Bei menerangkan.

Setelah menemukan luka Ou Yang Qing, ia segera menotok urat darah di pundak gadis itu untuk memperlambat penyebaran racun.

“Jadi orang yang benar-benar telah menyelamatkan dia bukanlah aku, tapi kau!” Ia meneruskan.

“Tapi aku masih bingung, bagaimana kau tahu kalau ia yang menjadi sasaran?” Nyonya ke-13 bertanya.

“Sejujurnya, aku pun tidak tahu!”

“Tapi kau berhasil menyelamatkannya!”

“Aku telah melakukan banyak hal yang bahkan aku sendiri tidak begitu yakin bagaimana aku melakukannya,” Lu Xiao Feng menjawab sambil tersenyum dipaksa. “Jika kalian bertanya padaku apa yang terjadi atau mengapa hal itu terjadi, aku pun tak dapat memberitahu kalian karena aku tidak tahu.”

“Walaupun kau tidak tahu, kau tetap bisa melakukannya,” Nyonya ke-13 berujar. “Banyak orang yang tak dapat melakukannya walaupun mereka tahu.”

“Itulah sebabnya Lu Xiao Feng benar-benar Lu Xiao Feng, satu-satunya Lu Xiao Feng di dunia ini.” Li Yan Bei menyimpulkan.

Nyonya ke-13 menghela nafas dengan lembut.

“Tak heran dia begitu memperdulikanmu!”

Apakah Ou Yang Qing benar-benar memperdulikan dirinya?

“Walaupun ia telah tergigit di tangan kirinya dan tak sadarkan diri, tangan kanannya masih mencengkeram piring berisi siput lapis mentega itu.” Nyonya ke-13 meneruskan. “Ia tak mau melepaskannya walaupun ia mati, karena ia membuatkannya untukmu, karena..”

Ia tidak meneruskan, karena yang ia katakan itu sudah cukup. Hal ini saja sudah cukup untuk membuktikan perasaan Ou Yang Qing padanya.

Lu Xiao Feng menatap wajah Ou Yang Qing, hatinya tiba-tiba dipenuhi oleh sebuah perasaan yang tak dapat diuraikan. Ia tak bisa membiarkan Ou Yang Qing mati, tentu saja tidak! Kematian Xue Bing telah cukup memberinya duka cita dan penyesalan hingga akhir hayatnya kelak.

Selama itu ada sebuah pertanyaan yang tersimpan di benak Li Yan Bei, akhirnya ia tak bisa menahannya lagi.

“Apakah kau menemukan orang yang meniup peluit itu?”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Siapa dia?”

“Seorang anak kecil!”

Li Yan Bei pun tercengang.

“Apakah ada dalang di balik semua ini?” Ia segera bertanya. Ia memang orang yang berpengalaman di dunia persilatan, pengamatannya pun tampaknya selalu lebih akurat dan lebih mendalam daripada orang lain.

“Menurut anak itu, seorang laki-laki tua bungkuk yang menyuruhnya untuk melakukan hal itu!”

“Apakah kau menemukan laki-laki tua itu?”

“Mungkin tidak pernah ada laki-laki tua seperti itu di dunia ini. Aku memang menemukannya, tapi itu adalah Nyonya Pertama Gong Sun yang sedang menyamar!”

“Siapa Nyonya Pertama Gong Sun ini?”

“Dia adalah kakak Ou Yang Qing, dan juga sahabatku.”

Li Yan Bei terdiam.

Nyonya ke-13 tak tahan untuk tidak mendengus sedikit.

“Setidaknya dia memiliki kakak seperti itu, dan kau memiliki sahabat seperti itu!”

Tidak segera menjawab, Lu Xiao Feng memikirkan keadaan itu selama beberapa saat.

“Nyonya Pertama Gong Sun benar-benar seorang kakak, dan juga teman yang baik.”

“Kau masih berpendapat begitu sekarang?”

“Karena aku yakin bahwa dalang sebenarnya di balik semua ini bukanlah Nyonya Pertama Gong Sun!” Lu Xiao Feng menjelaskan.

“Jika bukan dia, lalu siapa?”

“Orang yang lebih licik dan keji daripada Huo Xiu, lebih cerdik dan tak berperasaan daripada Jin Jiu Ling,” Tinju Lu Xiao Feng terkepal erat-erat. “Dan kungfu orang ini mungkin lebih hebat daripada semua orang yang pernah kutemui!”

Satu atau dua kali, ia berpendapat bahwa Huo Xiu dan Jin Jiu Ling adalah musuh paling tangguh yang pernah ia hadapi karena mereka berdua hampir saja merenggut nyawanya. Setelah menemui begitu banyak bahaya, kesukaran, dan sedikit keberuntungan, barulah ia berhasil menyingkap kedok kedua orang itu. Tapi musuh kali ini bahkan lebih menakutkan!

“Bagaimana kau tahu kalau Nyonya Pertama Gong Sun bukanlah dalang yang sebenarnya?” Li Yan Bei bertanya.

“Aku tidak tahu.”

“Tapi kau curiga bahwa begitulah keadaannya, kau merasa bahwa begitulah keadaan yang sesungguhnya?” Nyonya ke-13 bertanya.

Lu Xiao Feng tidak menyangkal.

“Kau tidak begitu yakin kenapa kau merasa seperti itu, kan?”

Lu Xiao Feng pun tidak membantahnya.

“Kau benar-benar ajaib,” Nyonya ke-13 menghela nafas. “Tak perduli siapa pun musuhmu, orang itu benar-benar dalam kesulitan!”

“Tapi kali ini mungkin saja aku yang berada dalam kesulitan!” Sebuah senyuman yang hampir mengakui kekalahannya muncul di wajah Lu Xiao Feng.

“Jadi di mana Nyonya Pertama Gong Sun sekarang?” Li Yan Bei bertanya lagi.

“Mati!”

“Dan anak itu?”.” Nyonya ke-13 bertanya.

“Masih tergeletak di tempat ia pingsan tadi!”

“Kau tidak membawanya ke sini untuk diberi pertolongan?”

“Aku meninggalkannya di sana supaya dia selamat!”

Nyonya ke-13 tidak faham.

“Menurutmu anak itu adalah kaki tangan musuh?” Li Yan Bei malah bertanya.

“Seorang anak berusia 10 tahun tidak akan pernah pergi ke tempat seperti itu sendirian pada malam hari seperti ini. Peluit itu juga amat aneh, orang yang tidak memiliki tenaga dalam tak akan dapat membunyikannya!” Lu Xiao Feng kemudian tersenyum. “Di samping itu, dia pun tidak benar-benar pingsan!”

“Lalu mengapa kau tidak membawanya ke sini untuk ditanyai?” Tanya Li Yan Bei.

“Ia tidak akan mengatakan apa-apa, dan aku tak bisa menanyai seorang anak kecil!”

“Setidaknya kau bisa mengikutinya dengan diam-diam, mungkin dia akan membawamu ke pembunuh yang sesungguhnya!”

“Jika aku mengikutinya, maka ia tentu akan mati!” Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Menurutmu, dalang yang sebenarnya akan membunuhnya untuk menutup mulut?”

“Mm.”

“Hatiku tidak bisa lagi dianggap dingin, tapi aku tidak menyangka kalau kau bahkan lebih lunak daripada diriku!” Li Yan Bei menghela nafas.

Kembali Lu Xiao Feng terdiam beberapa lama.

“Seseorang pernah berkata padaku bahwa walaupun sifatku seperti batu-batu di jamban, keras dan bau, hatiku selembut tahu.” Ia berkata lambat-lambat.

“Lupakan tahu, hatimu itu sudah hampir seperti siput lapis mentega!” Nyonya ke-13 menghela nafas sebelum tiba-tiba tersenyum. “Piring berisi siput lapis mentega itu telah keluar, ia membuatkannya khusus untukmu, setidaknya kau harus makan satu.”

“Aku akan memakannya bila aku telah kembali nanti!”

“Kau akan pergi ke luar? Ke mana?” Li Yan Bei bertanya.

“Mencari seseorang!”

“Siapa?”

“Ye Gu Cheng!”

Li Yan Bei terdiam sekali lagi.

“Jika dia bisa mengobati Pasir Beracun Keluarga Tang dan menolong dirinya sendiri, mungkin dia pun bisa menyelamatkan Ou Yang Qing!” Lu Xiao Feng menjelaskan.

Bayangan putih menakutkan telah muncul di wajah Ou Yang Qing dan bagian kiri wajahnya mulai membengkak. Ilmu menotok Li Yan Bei tidak begitu hebat, penyebaran racun itu tidak benar-benar berhasil dihentikan.

“Maukah orang seperti Ye Gu Cheng menolong orang lain?” Nyonya ke-13 mengerutkan keningnya.

“Walaupun ia tidak mau, aku tetap harus pergi. Walaupun aku harus merangkak dan memohon, aku akan berusaha agar dia datang ke sini!”

Sambil menatap wajah Ou Yang Qing, Lu Xiao Feng meneruskan dengan lambat-lambat, sambil menekankan setiap patah katanya: “Tak perduli apa, aku akan mencari cara untuk menyelamatkannya!”

———

Malam semakin larut. Bahkan di tempat yang paling ramai dan paling akhir tutup, Kedai Teh Musim Semi Yang Cerah, tamu-tamu mulai berpulangan. Dilihat dari keadaannya, kedai itu tampaknya akan segera tutup. Tapi Lu Xiao Feng masih duduk di sana, sambil menatap sepoci teh yang baru saja disediakan.

Ia telah menelusuri kota ini dan mengunjungi banyak penginapan, tapi ia tetap tak bisa menemukan tanda-tanda keberadaan Ye Gu Cheng. Orang yang begitu menyolok dan terkenal seperti Ye Gu Cheng seharusnya merupakan orang yang amat mudah untuk ditemukan karena tak perduli ke mana pun dia pergi, dia tentu akan selalu menarik perhatian orang.

Tapi sejak pertemuan di Paviliun Musim Semi Timur, ia seperti menghilang dalam kota ini seperti Xi Men Chui Xue. Tidak ada satu pun tanda bahwa ia masih berada di sekitar sini.

Lu Xiao Feng tidak bisa membayangkan apa penyebabnya. Tidak ada alasan bagi Ye Gu Cheng untuk bersembunyi. Bahkan Tang Tian Rong, orang yang tulang pundaknya telah ia potong dan seumur hidupnya mungkin akan menjadi cacat, tidak pergi bersembunyi.

Tang Tian Rong tinggal di sebuah penginapan besar yang bernama “Losmen Keberuntungan” di salah satu bagian utama di sebelah timur kota. Menurut kabar angin, di sana ada sejumlah tabib yang memiliki keahlian dalam cedera tulang dan ahli-ahli pengobatan terkenal lainnya. Alasan kenapa ia masih tinggal di kota ini bukanlah karena lukanya, tapi karena semua jagoan keluarga Tang telah keluar dari sarangnya dan turun ke kota malam ini juga untuk membalas dendam bagi saudara mereka.

Tentu saja, hal ini akan menjadi salah satu peristiwa yang mengguncangkan dunia persilatan hingga ke intinya. Yang satunya lagi adalah, walaupun Yan Ren Ying tidak berhasil menemukan Xi Men Chui Xue, ia berhasil mencari beberapa pembantu yang amat tangguh.

Di antara mereka bukan hanya ada seorang lhama dari Tibet, tapi juga dua jago pedang misterius yang berlatih selama bertahun-tahun di bayangan Perairan Gunung Dewi. Karena satu atau lain sebab, orang-orang ini bersedia untuk membantu Yan Ren Ying.

Tidak satu pun perkembangan ini yang akan membantu Xi Men Chui Xue atau Ye Gu Cheng. Kelompok pertama ingin mencari Ye Gu Cheng, yang kedua mencari Xi Men Chui Xue. Maka tak perduli apa pun yang akan terjadi dalam duel nanti, tidak seorang pun dari mereka yang akan menjalani hidup yang nyaman sesudahnya, siapa pun yang hidup, atau bahkan jika keduanya tetap hidup. Lu Xiao Feng berhasil menggali banyak berita dan informasi, tapi tak satu pun merupakan apa yang ingin ia temukan. Ia bahkan tidak berhasil menemukan Tosu Kayu atau Pertapa Cemara Kuno.

Para pelanggan warung itu terus berpulangan. Pelayan yang membuatkan teh telah meletakkan poci air besar yang berada di tangannya dan tiada hentinya melirik ke arah Lu Xiao Feng, jelas menyuruhnya pulang. Satu hal yang bisa dilakukan Lu Xiao Feng adalah pura-pura tidak melihatnya, ia benar-benar tak tahu harus pergi ke mana.

Bagaimana mungkin ia pulang menemui Ou Yang Qing tanpa berhasil menemukan Ye Gu Cheng” Teh yang baru dibuat tadi telah dingin, malam pun semakin dingin.

Lu Xiao Feng menghela nafas dan mengangkat cangkir itu ke bibirnya. Tapi sebelum cangkir teh itu menyentuh bibirnya ” “Trang!” Tiba-tiba, bersamaan dengan sebuah sinar dingin, cangkir di tangannya telah hancur.

Waktu sinar itu menghilang, ternyata benda tersebut adalah sebuah panah kecil penusuk tulang yang bercabang tiga dan berukuran agak besar! Di luar pintu ada sebuah lentera, yang memegangnya adalah seorang hwesio yang memakai sebuah jubah hijau, kaus kaki putih, dan sepatu yang terbuat dari anyaman rumput. Ia mendengus dingin pada Lu Xiao Feng. Di antara jago-jago kungfu di utara, timur laut, hampir tak ada yang menggunakan panah kecil seperti ini.
Tapi lemparan hwesio ini akurat dan cepat. Dari lemparan tadi, Lu Xiao Feng bisa mengetahui bahwa ia tentu merupakan salah satu yang terbaik di dunia dalam ilmu ini. Tapi ia tidak mengenal hwesio ini, juga tidak tahu mengapa dia tiba-tiba menyerang. Yang paling aneh, walaupun lemparannya tadi tidak mengenai sasaran, ia tidak kabur tapi malah tetap berdiri di luar.

Lu Xiao Feng tersenyum. Ia bukan hanya tidak mengejar hwesio itu, tapi malah tersenyum padanya. Sudah cukup banyak masalah yang sedang ia hadapi dan ia tidak ingin menambahnya lagi. Sayangnya hwesio ini tidak mau mengerti dan, sambil mengibaskan tangannya, melepaskan dua panah kecil lagi. Potongan kain kecil yang terikat pada panah itu terdengar berkelepak saat meluncur di udara; jelas tenaga di balik anak panah ini amatlah kuat.

Lu Xiao Feng menghela nafas lagi. Ia telah menduga bahwa hwesio ini tentu akan menambah masalah bagi dirinya. Sekarang, walaupun ia tidak ingin keluar, terpaksa ia harus keluar juga.

Sebelum panah itu tiba, ia telah berada di luar. Tapi tak terduga, hwesio itu, saat melihat ia keluar, membalikkan tubuhnya dan berusaha kabur. Dan waktu Lu Xiao Feng berhenti mengejarnya, hwesio ini pun akan berhenti dan melambaikan tangannya.

Kejadian-kejadian aneh datang dengan cepat dan terus-menerus sekarang, dan sepertinya Lu Xiao Feng kembali menemui salah satunya.

Ia tidak ingin meneruskan pengejaran, tapi ia pun tidak bisa berhenti. Setelah melewati dua jalan raya lagi, hwesio itu tiba-tiba berhenti di mulut sebuah jalan yang gelap.

“Lu Xiao Feng, kau berani masuk ke sini?” Ia mengejek.

Tentu saja Lu Xiao Feng berani, tidak banyak hal di dunia ini yang tidak berani ia lakukan. Walaupun ia tahu bahwa bila ia berjalan memasuki jalan yang gelap itu, hwesio tersebut bisa menyerang kapan saja, di sana juga mungkin terdapat banyak perangkap yang tidak bisa ia lihat, atau si hwesio itu bisa jadi memiliki jurus pembunuh yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Tapi ia tetap berjalan masuk. Ajaib, saat ia masuk, hwesio itu tiba-tiba bertekuk lutut dan menjura padanya sebanyak tiga kali!

Lu Xiao Feng kembali terperanjat.

Sambil tersenyum, hwesio itu menatapnya.

“Kau mengenaliku?”

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya, ia belum pernah melihat hwesio ini sebelumnya.

“Lalu apakah kau mengenali panah penusuk tulang bercabang tiga tadi?”

Mata Lu Xiao Feng tampak berkilauan.

“Kau adalah salah seorang anggota keluarga Sheng si “Panah Terbang” dari China tengah?”

“Aku tidak lain adalah Sheng Tong.”

Lu Xiao Feng pun tidak begitu mengenal nama ini. Keluarga Sheng si Panah Terbang tidak termasuk keluarga yang amat terkenal di dunia persilatan.

“Aku ke sini untuk membalas budi!” Sheng Tong meneruskan.

“Membalas budi?” Lu Xiao Feng semakin tercengang.

“Seluruh Keluarga Sheng berhutang budi yang amat besar pada Pendekar Besar Lu!”

“Kau tentu keliru, aku tidak pernah berhutang budi pada orang lain, orang juga tidak pernah berhutang padaku!”

“Aku tidak keliru.” Sheng Tong tampaknya amat yakin pada ucapannya dan sikapnya pun semakin sungguh-sungguh. “Enam tahun yang lalu, 11 orang anggota keluarga kami lenyap di tangan Huo Tian Qing dan seluruh keluarga kami diusir keluar dari rumah kami. Sejak itu, orang tuaku pun terpisah, saudara-saudaraku kehilangan kontak satu sama lain, dan aku terpaksa menjadi seorang hwesio. Walaupun hutang itu tertulis dalam darah, ilmu kungfu Huo Tian Qing begitu kuat sehingga aku tidak berani berharap untuk membalaskan dendam itu!”

“Menurutmu, karena aku membunuh Huo Tian Qing dan membalaskan dendam untukmu, maka kau datang ke sini untuk membalas budi?”

“Benar!”

Lu Xiao Feng hanya bisa menertawakan penderitaannya. Huo Tian Qing bukan mati di tangannya, begitu pula DuGu Yi He dan Su Shao Ying. Tapi orang-orang tetap menganggap dirinya yang bertanggung-jawab atas kematian mereka, baik itu yang datang untuk membalas dendam atau yang mau membalas budi. Apakah sesulit ini memisahkan jaring-jaring pembalasan dan hutang budi di dunia persilatan”

Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Huo Tian Qing tidak..”

Sheng Tong tampaknya tidak tertarik mendengar keterangannya dan memotong: “Tak perduli apa, seandainya Pendekar Besar Lu tidak berada di sana, Huo Tian Qing mungkin akan menikmati hidup dengan kemasyuran dan kekayaan di Paviliun Intan dan Mutiara dan bukannya di tempat dia berada sekarang!”

Pernyataan itu tidak salah. Sekali lagi, yang bisa dilakukan Lu Xiao Feng hanyalah menertawakan penderitaannya sendiri.

“Ok, katakanlah kau berhutang budi padaku, kau barusan telah membayarnya!”

“Menjura hanyalah menunjukkan sikap hormat, bagaimana bisa dihitung sebagai balas budi?”

“Itu tidak terhitung?”

“Tentu saja tidak!”

“Lalu apa yang terhitung?”

Sheng Tong tiba-tiba mengeluarkan sebungkus kain minyak yang tergulung amat rapi dan menyerahkannya dengan kedua tangan.

“Aku datang ke sini untuk memberikan ini pada Pendekar Besar Lu!”

Lu Xiao Feng hanya bisa menerimanya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa dipaksa menerima pembalasan budi ternyata rasanya tidak jauh lebih baik daripada dipaksa menerima pembalasan dendam.

Ia belum pernah memikirkan hal ini sebelumnya, tapi yang lebih tidak bisa difikirkan olehnya adalah kenyataan bahwa di dalam bungkusan itu hanya ada sehelai kain putih dengan bercak darah dan noda kuning di atasnya. Setelah ia membukanya, bau busuk yang menyengat segera tercium di udara.

Sekarang Lu Xiao Feng bahkan tak bisa memaksakan dirinya untuk tertawa.

“Kau datang ke sini untuk memberiku kain ini?”

“Ya.”

“Dan kau memberiku ini untuk membalas hutang budimu padaku?”

“Benar.”

Lu Xiao Feng menatap campuran noda dan darah di kain itu, tidak begitu yakin apakah ia ingin tertawa atau menangis. Hwesio ini melemparkan 5 anak panah padanya sebelum memberinya potongan kain yang bau ini, semuanya demi membalas hutang budi. Baru pertama kalinya ini ia pernah mendengar hal seperti ini!

Untunglah dia datang untuk membalas budi, apa yang akan dilakukan Lu Xiao Feng jika dia datang ke sini untuk membalas dendam?

Satu-satunya harapan Lu Xiao Feng sekarang ini adalah menyingkir dari hwesio ini secepat mungkin.

“Sekarang kurasa kau telah membalas hutang budimu!”

Ajaib, Sheng Tong tidak menyangkal ucapan ini. Tapi ia masih tidak mau pergi.

“Potongan kain ini mungkin terlihat biasa-biasa saja, bahkan mungkin tak bernilai. Tapi, saat ini, benda ini amat tinggi nilainya!” Ia berbisik dengan perlahan.

Tak ada orang yang akan setuju bahwa kain ini adalah harta yang tak ternilai, tak perduli bagaimana pun cara mereka memandangnya. Tapi saat hwesio ini mengatakannya, dengan mimik yang amat serius, tidak sedikit pun tanda-tanda bergurau bisa ditemukan pada suaranya.

Bahkan perasaan tertarik Lu Xiao Feng pun mulai timbul.

“Apakah ada yang istimewa dengan kain ini?”

“Hanya satu.”

“Apa itu?”

Ekspresi wajah Sheng Tong terlihat semakin berhati-hati dan ia makin merendahkan suaranya.

“Kain ini diambil dari tubuh Ye Gu Cheng!”

Mata Lu Xiao Feng segera bersinar-sinar. Kain yang kotor dan bau ini, di matanya, memang merupakan sebuah harta yang nilainya melebihi emas padat dan intan.

“Dalam usaha bersembunyi dari Huo Tian Qing serta karena terlalu malu untuk melihat dunia, aku tinggal di sebuah biara yang terpencil dan telah ditelantarkan. Setelah hwesio tua di sana meninggal dunia, aku menjadi satu-satunya orang yang tinggal di sana!”

“Apakah Ye Gu Cheng pernah datang ke sana juga?”

“Ia datang sore tadi, di biara itu hanya ada dua kamar tidur. Tidak ada yang tinggal di kamar hwesio tua setelah si hwesio tua meninggal, apalagi para dermawan atau penziarah. Maka kedatangan orang itu hari ini merupakan sebuah kejutan besar bagiku!”

“Ia sendirian?”

Sheng Tong mengangguk: “Waktu ia tiba, aku tak tahu kalau dia adalah Majikan Benteng Awan Putih yang terkenal di seluruh dunia!”

“Lalu bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Sejak kedatangannya, ia mengunci diri di kamarnya dan memintaku untuk membawakan sebaskom air bersih ke kamarnya setiap jam, pada jam”.”

Ia adalah orang dunia persilatan juga. Bila ia menemui seseorang yang berkelakuan mencurigakan, ia tentu akan memberikan perhatian lebih.

“Selain air bersih, ia juga memintaku untuk pergi dan membelikan segulung kain putih dan memberiku bungkusan ini, menyuruhku untuk menguburkannya.”

Tentu saja Ye Gu Cheng tidak mugkin curiga bahwa di biara rusak itu tinggal seorang anggota dunia persilatan. Maka ia tentu tidak begitu berhati-hati.

“Saat aku pergi ke kota untuk membeli kain, barulah aku mendengar berita tentang lukanya Ye Gu Cheng oleh Pasir Beracun Keluarga Tang di Zhang Jia Kou, tapi ia datang kembali dan melukai Tang Tian Rong di Paviliun Musim Semi Timur.”

Karena itu, ia segera meminta penjelasan tentang bagaimana rupa Majikan Benteng Awan Putih itu.

“Sesudah membandingkan penjelasan yang kuketahui, aku pun tahu bahwa tamu asing di biaraku itu tak lain adalah Majikan Benteng Putih yang telah mengguncangkan seluruh ibukota!”

Lu Xiao Feng menghembuskan nafas yang panjang dan lelah. Akhirnya ia bisa menduga tentang dua macam teka-teki yang telah membingungkan dirinya selama ini.

Ye Gu Cheng, yang tidak menyukai bunga dan tidak pernah perduli pada wanita, membawa gadis-gadis cantik yang menebarkan karpet bunga untuk tempat berjalannya, semua itu adalah menutupi bau yang muncul dari lukanya.

Lu Xiao Feng tidak berhasil menemukan dirinya di dalam kota karena ia memang tidak tinggal di kota dan sebenarnya menetap di sebuah biara terpencil.

Tentu saja dia tidak membiarkan orang lain tahu bahwa bukan hanya lukanya itu belum sembuh, tapi malah semakin parah.

Bila seekor singa terluka, ia tentu akan bersembunyi sendirian di gunung, karena khawatir kalau anjing-anjing liar akan datang memburunya.

Hati Lu Xiao Feng seperti tenggelam. Tadinya ia berharap bahwa Ye Gu Cheng akan dapat mengobati racun di tubuh Ou Yang Qing. Tapi sekarang ia baru tahu bahwa Ye Gu Cheng mungkin tak mampu menolong dirinya sendiri, apalagi orang lain.

“Waktu aku memasuki kota, kira-kira 8 atau 9 dari 10 orang tentu bertaruh untuk Ye Gu Cheng,” Sheng Tong meneruskan. “Mereka bahkan berani memasang taruhan 7 berbanding 1 untuk dirinya.”

Demonstrasi yang diperlihatkan si Malaikat dari Luar Langit di Paviliun Musim Semi Timur telah mengguncangkan seisi kota.

“Jika seseorang, siapa saja, mengetahui berita ini, melihat kain ini, mungkin”.” Sheng Tong tidak menyelesaikan ucapannya.

Jika seseorang tahu tentang hal ini, apa yang akan terjadi di kota ini bukanlah hanya sesuatu yang tidak mampu ia ucapkan, tapi sesuatu yang bahkan tak sanggup ia bayangkan.

“Kau benar, kain ini benar-benar merupakan harta yang tak ternilai,” Lu Xiao Feng menghela nafas. “Aku tidak sepadan untuk menerima hadiah yang demikian berharga.”

“Walaupun aku bukan siapa-siapa, aku juga tidak suka berhutang budi pada orang lain, persis seperti Pendekar Besar Lu,” sebuah senyuman akhirnya muncul di wajah Sheng Tong. “Asalkan Pendekar Besar Lu menerima hadiah kecil yang sederhana ini, aku akan lebih dari puas.”

Bukannya menjawab, Lu Xiao Feng malah berfikir dulu sebentar.

“Di mana letak biaramu itu?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Apakah Pendekar Besar Lu ingin datang dan menemui Majikan Benteng Awan Putih?”

Lu Xiao Feng tersenyum.

“Bukannya aku tidak percaya padamu, aku sebenarnya memang ingin menemuinya.” Terlihat tanda-tanda kesedihan dan kesepian dalam senyumannya, dengan perlahan-lahan ia meneruskan. “Walaupun kami hanya bertemu dua kali secara singkat, aku tetap menganggapnya sebagai seorang sahabat”.”

Ia faham bahwa Ye Gu Cheng tentu membutuhkan seorang sahabat saat ini, dan ia juga tahu bahwa Ye Gu Cheng tidak memiliki banyak sahabat. Saat ini, bagi Ye Gu Cheng, seorang sahabat sejati mungkin lebih sukar ditemukan daripada obat.

———-

Kamar itu gelap dan lembab. Walaupun tidak kecil, di kamar itu hanya ada sebuah ranjang, sebuah meja, dan sebuah kursi, sehingga kamar itu bahkan terasa lebih kosong dan terlantar daripada keadaan yang sesungguhnya. Di kamar itu hanya ada sebuah lampu kecil yang mengeluarkan sinar yang redup. Dindingnya penuh dengan debu dan jaring laba-laba terlihat memenuhi langit-langit. Di samping lampu terlihat lembaran-lembaran kertas doa, tapi sepertinya kertas-kertas itu sudah lama tidak disentuh.

Betapa sepi hidup yang telah dijalani si hwesio tua selama tinggal di sini”

Baginya, mungkinkah kematian terlihat sebagai jalan untuk melarikan diri? Ye Gu Cheng terbaring miring di atas ranjang yang dingin dan keras itu. Walaupun ia sudah lama mulai merasa lelah, tapi ia tak bisa tidur, tak perduli berapa kali ia membolak-balikkan tubuhnya.

Ia telah lama terbiasa dengan kesunyian. Jago pedang seperti dirinya telah ditakdirkan untuk terpisah dari dunia, persis seperti hwesio pengembara, tak dapat menikmati semua kesenangan dunia persilatan.

Seumur hidupnya, kesepian telah menjadi temannya, satu-satunya teman. Tapi ia tak bisa menahan perasaan dingin dan terlantar seperti ini yang jauh lebih menakutkan daripada perasaan kesepian. Karena sebelumnya, walaupun hari-harinya penuh dengan kesunyian, tapi juga ada kemasyuran dan kejayaan.

Tapi sekarang?. Angin berhembus masuk lewat jendela, menyebabkan tirai yang robek-robek itu mengepak-ngepak dengan keras seperti daun yang berjatuhan. Kamar itu masih penuh dengan bau yang bahkan tak bisa dibuyarkan oleh angin. Ia sekarang tahu bahwa lukanya telah bernanah, baunya seperti sepotong daging yang penuh dengan ulat.

Ia adalah orang yang angkuh, tapi sekarang ia bersembunyi di sebuah lubang di suatu tempat seperti seekor anjing liar. Ia lebih suka mati daripada menghadapi siksaan dan hinaan seperti ini, tapi ia harus menghadapinya.

Karena ia harus hidup sampai tanggal 15 September! Angin kembali berhembus, malam terasa dingin. Bagaimana ia bisa melewati malam-malam yang panjang ini”

Jika ia punya seorang sanak saudara atau sahabat bersamanya saat ini, keadaannya mungkin jauh lebih baik. Tapi sayangnya ia telah ditakdirkan untuk hidup sendirian, selalu menolak tawaran persahabatan dari orang lain. Tiba-tiba ia menyadari bahwa inilah kali pertama dalam hidupnya ia menyadari bahwa ia pun membutuhkan seorang sahabat.

Ia merenungkan banyak hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia berfikir tentang bagaimana ia selalu berlatih tiada hentinya di pagi hari, darah musuh-musuhnya mengalir di bawah pedangnya, tapi ia juga berfikir tentang langit yang biru seperti samudera, matahari yang bersinar cerah, awan yang indah seperti giok”.

Ia ingin mati, dan pada saat yang bersamaan tidak ingin mati. Mengapa harus ada begitu banyak konflik yang tak bisa diselesaikan dalam kehidupan seseorang”

Nanah kembali mengalir dari lukanya, dan baunya semakin menyengat. Ia hendak bangkit dan membersihkan luka itu sedikit dan mengganti pembalutnya lagi.

Walaupun ia tahu bahwa melakukan hal itu tidak bisa menyembuhkan lukanya, malah mungkin menambah parah, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan.

Senjata yang begitu kuat, racun yang demikian menakutkan. Akhirnya ia bisa turun dari tempat tidur. Baru saja kakinya menyentuh lantai, terasa angin berhembus di luar jendela “sesuatu yang tidak wajar”.

Pedangnya ada di atas meja; hanya dengan sebuah kibasan pergelangan tangan, pedang itu telah berada di tangannya. Reaksinya masih cepat, gerakannya pun masih tangkas.

“Tidak perlu menghunus pedangmu,” Seseorang berkata, sambil tersenyum, dari luar jendela. “Tapi jika kau punya arak, jangan bimbang untuk menuangkan secangkir atau dua cangkir.”

Genggaman Ye Gu Cheng pada pedangnya perlahan-lahan mengendur. Ia mengenali suara itu: “Lu Xiao Feng?”

Tentu saja itu Lu Xiao Feng. Ye Gu Cheng berusaha untuk berdiri, berdiri tegak. Ia merapikan bajunya, menghilangkan kerutan di wajahnya, berjalan ke pintu, dan membukanya.

Lu Xiao Feng sedang tersenyum padanya.

“Tak disangka kalau aku akan muncul?”

Ye Gu Cheng tidak menjawab, ia malah membalikkan tubuhnya dan duduk di atas satu-satunya kursi.

“Seharusnya kau tidak datang, tidak ada arak di sini!” Barulah kemudian ia menjawab dengan perlahan.

“Tapi ada seorang sahabat di sini.”

Sahabat! Kata itu seperti arak, secangkir arak yang hangat panas, tertuang ke dalam tenggorokan Ye Gu Cheng, masuk ke dalam dadanya.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa darah di dadanya telah berubah hangat, tapi wajahnya tetap dingin dan tanpa emosi.

“Di sini juga tidak ada sahabat, hanya ada seorang jago pedang pembunuh!”

“Jago pedang pembunuh tetap bisa menjadi sahabat.”

Satu-satunya kursi telah diambil, tapi Lu Xiao Feng tidak mau terus berdiri.

Ia pindah ke samping lampu minyak, juga gulungan-gulungan kertas dan pedang di sebelahnya, dan duduk di atas meja.

“Jika kau tidak memandangku sebagai seorang sahabat, lalu bagaimana kau bisa meletakkan kembali pedangmu di atas meja?”

Ye Gu Cheng tidak berkata apa-apa dan hanya balas menatap Lu Xiao Feng. Es di wajahnya tampaknya mulai mencair sedikit. Bila seseorang tiba di ujung asanya dan tiba-tiba menemukan bahwa ia masih memiliki seorang sahabat, perasaan itu tidak ada bandingannya, mungkin juga tidak bisa dibandingkan dengan cinta.

Ye Gu Cheng tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.

“Rasanya aku tidak ingat kalau kau telah bersahabat denganku sebelumnya.” Ia berkata dengan lambat-lambat.

“Karena sebelumnya kau terkenal ke seluruh dunia, Majikan Benteng Awan Putih yang sungguh-sungguh tiada tandingannya!”

“Dan sekarang?” Sudut mulut Ye Gu Cheng menjadi kaku.

Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Sebelum duel seperti itu berlangsung, seharusnya kau tidak bertarung dengan orang seperti Tang Tian Yi, seharusnya kau tahu bahwa racun mereka tidak ada obatnya.”

Ekspresi wajah Ye Gu Cheng tampak berubah.

“Berapa banyak yang kau ketahui?”

“Mungkin sudah terlalu banyak!”

Sekali lagi, Ye Gu Cheng tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama.

“Aku pun tidak ingin bertarung dengannya!”

“Tapi kau…”

“Tapi dia yang datang menghampiriku dan memaksaku untuk menghunus pedangku.” Ye Gu Cheng memotong ucapan Lu Xiao Feng. “Ia berkata bahwa aku ia menuduhku berusaha menggoda isterinya saat ia sedang pergi!”

“Tentu saja kau tidak melakukannya.”

Ye Gu Cheng menyeringai.

“Karena kau tidak melakukannya, lalu mengapa kau tidak berusaha menjelaskannya?”

“Jika kau adalah aku, apakah kau akan berusaha menjelaskannya?”

Lu Xiao Feng kembali menghela nafas. Ia terpaksa mengakui bahwa ia pun tak akan mau menjelaskan apa-apa jika ia menemui keadaan seperti itu. Karena hal seperti itu tidak ada gunanya dipermasalahkan, juga tidak bisa dijelaskan.

“Maka satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah bertarung!”

“Yang bisa kulakukan hanyalah bertarung!”

“Tapi aku masih tidak faham. Dengan kemampuanmu, Tang Tian Yi seharusnya bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bergerak!”

Kembali Ye Gu Cheng tidak berkata apa-apa, tapi tinjunya terkepal erat.

“Aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi satu-satunya alasan mengapa ia mampu membuat sebuah gerakan adalah karena, saat aku hendak menghunus pedangku, aku mendengar sebuah suara siulan yang aneh.”

Ekspresi wajah Lu Xiao Feng pun berubah.

“Dan kemudian kau segera menemukan seekor ular?”.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” Ye Gu Cheng bangkit dengan marah.

“Hari ini, aku telah melihat dua orang sahabatku mati digigit ular seperti itu, dan seorang lagi terbaring di tempat tidur, hidupnya melayang di awing-awang.” Tinju Lu Xiao Feng pun terkepal.

Biji mata Ye Gu Cheng terbelalak dan ia perlahan-lahan duduk. Keduanya faham bahwa ada seseorang di balik semua kejadian ini. Tapi siapakah dia? Dan apa tujuannya?

“Orang yang akan mendapat keuntungan dari lukamu adalah Xi Men Chui Xue.” Lu Xiao Feng berujar, setelah lama terdiam.

“Tapi orang yang melakukan ini padamu tidak mungkin Xi Men Chui Xue!”

“Aku tahu, aku tidak percaya kalau dia adalah orang yang serendah itu!”

“Kau benar-benar yakin?”

“Orang yang sehina itu tidak mungkin mampu mencapai tingkat penguasaan yang tinggi dalam ilmu pedang!”

Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Tidak disangka kalau kau pun amat memahami Xi Men Chui Xue!”

Ye Gu Cheng menatap pedang di atas meja.

“Aku bukan memahami dirinya, tapi pedangnya!” Ia menjelaskan dengan perlahan.

Lu Xiao Feng menatap wajahnya.

“Mungkin karena kalian berdua adalah tipe orang yang sama!”

Walaupun Ye Gu Cheng tidak menyetujui ucapan itu, ia pun tidak menyangkalnya.

Dua pedang tanpa tanding, dua laki-laki yang tiada bandingannya, bagaimana mungkin mereka tidak saling memahami”

“Tampaknya bukan hanya sahabat sejati yang saling memahami, tapi musuh sejati juga saling memahami satu sama lain.” Lu Xiao Feng menghela nafas. Tentu saja, tapi yang kedua itu jauh lebih sukar untuk ditemukan daripada yang pertama.

“Mungkin banyak orang yang memasang taruhan untuk kemenanganku!” Ye Gu Cheng tiba-tiba berkata.

“Perbandingannya adalah 7 lawan 1 untukmu!” Lu Xiao Feng berkata sambil tersenyum. “Tapi, itu artinya tetap ada orang yang memasang uang untuk kemenangan Xi Men Chui Xue!”

“Ya.”

“Jika aku harus kalah, apakah orang-orang itu tidak akan melakukan usaha pembunuhan?”

“Menurutmu, orang licik itu adalah salah satu dari orang-orang yang memasang taruhan untuk Xi Men Chui Xue?”

“Kau tidak berfikir begitu?”

Lu Xiao Feng tidak menjawab.

Walaupun ia tidak berkata begitu, ia tahu dalam hatinya bahwa itulah perkaranya. Karena orang itu tidak hanya melukai Ye Gu Cheng, tapi juga membunuh si Untung Besar Sun dan Nyonya Pertama Gong Sun serta mencederai Ou Yang Qing. Tentu ada sebuah persekongkolan yang lebih besar, sasaran yang lebih besar di balik semua ini daripada hanya memenangkan sebuah taruhan.

Ye Gu Cheng bangkit lagi. Ia berjalan ke jendela dan membukanya.

“Sekarang tanggal 14 September”.” Ia bergumam sambil memandang sinar bulan.

“Kau bermaksud tetap meneruskan duel itu?”

“Apakah aku terlihat seperti orang yang suka menarik kembali kata-katanya?” Ye Gu Cheng menjawab dengan dingin.

“Tapi luka-lukamu”.”

Ye Gu Cheng tersenyum, senyuman yang sedih dan sunyi.

“Tidak ada orang yang mampu mengobati luka ini, maka matilah orangnya. Jika kematian pasti datang, bukankah mati di bawah pedang Xi Men Chui Xue akan lebih terhormat?”

“Kau” kau bisa menunda duel itu lagi!”

“Tidak! Tidak mungkin!” Ye Gu Cheng membuang jauh-jauh usul itu.

“Mengapa tidak?”

“Karena, dalam hidupku, aku belum pernah menarik kembali kata-kataku!”

“Jangan lupa kalau kalian berdua pernah merubah tanggalnya sekali!”

“Itu karena ada alasan khusus!”

“Alasan apa?”

“Kau tidak perlu tahu!” Wajah Ye Gu Cheng tampak gelap.

“Aku harus tahu!”

Ye Gu Cheng mendengus dingin mendengar ucapan itu.

“Aku bukan hanya sahabat Xi Men Chui Xue, aku juga sahabatmu. Aku berhak untuk tahu!” Lu Xiao Feng mendesak.

Ye Gu Cheng menutup jendela dengan perlahan-lahan hanya untuk kemudian membukanya lagi. Sinar bulan kembali masuk seperti sebelumnya.

Ia tidak berpaling, seakan-akan ia tidak ingin Lu Xiao Feng melihat ekspresi wajahnya. Kedua orang itu tetap seperti itu untuk beberapa lama.

“Kau tahu kalau ia akan punya seorang anak?” Tiba-tiba ia berkata.

“Apa katamu?” Lu Xiao Feng melompat turun dari meja.

Ye Gu Cheng tidak berkata apa-apa lagi, ia tahu bahwa Lu Xiao Feng mendengar dengan jelas ucapannya tadi.

Tentu saja Lu Xiao Feng mendengarnya, ia hanya tidak bisa mempercayainya.

“Kau mengatakan bahwa Xi Men Chui Xue akan punya seorang anak?”

Ye Gu Cheng mengangguk.

“Maksudmu, Sun Xiu Qing hamil?” Lu Xiao Feng bertanya lagi. Kembali, Ye Gu Cheng mengangguk.

Lu Xiao Feng tidak berkata apa-apa lagi. Jika seorang laki-laki, sebelum menghadapi sebuah duel hidup-atau-mati, tiba-tiba mengetahui bahwa kekasihnya sedang hamil, apa yang harus ia lakukan”

“Jadi dia pergi menemuimu untuk meminta penundaan, karena ia harus meyakinkan diri bahwa Sun Xiu Qing tidak terlantar sesudahnya. Karena ia tidak yakin kalau ia bisa mengalahkanmu!” Lu Xiao Feng akhirnya faham.

“Ia adalah seorang laki-laki yang bertanggung-jawab, ia tahu bahwa ia memiliki terlalu banyak musuh!”

“Dan jika ia mati di tanganmu, musuhnya pun tentu tidak ingin isteri atau anaknya tetap hidup!”

“Ia tidak pernah memohon seumur hidupnya, maka walaupun ia mati, ia tetap tidak ingin memohon orang lain untuk melindungi isterinya!”

“Dan itulah sebabnya ia memintamu untuk menunda duel itu selama satu bulan, maka ia bisa meyakinkan diri bahwa keluarganya akan aman sesudahnya!”

“Jika kau adalah aku, apakah kau akan menyetujuinya?”

Lu Xiao Feng menghela nafas. Akhirnya ia faham mengapa Xi Men Chui Xue tiba-tiba menghilang. Tentu ia sedang mencari sebuah tempat rahasia di mana isterinya bisa menetap sehingga ia bisa melahirkan bayi itu dengan aman. Tempat seperti ini tentu saja tidak boleh diketahui orang lain.

Ye Gu Cheng menatap bulan, saat itu bulan sedang purnama: “Malam bulan purnama, puncak Zi Jin”.”

“Malam bulan purnama masih “Malam bulan purnama”, tapi kenapa “puncak Gunung Zi Jin” jadi berubah?” Lu Xiao Feng tak bisa menahan keinginan untuk bertanya.

“Menjadi “puncak Zi Jin” saja!” Ye Gu Cheng menjawab dengan perlahan setelah hening beberapa lama.

“Puncak Zi Jin?” Zi Jin Cheng” Di Kota Terlarang?” Lu Xiao Feng terperanjat.

“Ya!”

“Kalian berdua akan berduel di dalam Kota Terlarang, di atas atap Balai Keselarasan Utama?” Bahkan Lu Xiao Feng pun sukar mempercayai lokasi yang dipilih itu.

Balai Keselarasan Utama adalah balai terbesar di Kota Terlarang, maka puncak Kota Terlarang tidak lain adalah atap balai itu. Atap balai tersebut tingginya 27 m dan ditutupi oleh genting kaca yang amat licin, berdiri di atasnya saja sudah hampir tidak mungkin, apalagi untuk naik ke atasnya. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa balai itu adalah tempat di mana Kaisar mengadakan sidang dan membuat keputusan, jadi tempat itu merupakan tempat yang paling dijaga ketat di seluruh dunia. Tapi kedua orang ini malah memilih tempat itu untuk duel mereka.

Bahkan Lu Xiao Feng pun terpaksa menarik nafas dalam-dalam saat ia menyadari hal itu.

“Tidakkah kalian berdua agak terlalu berani dalam hal ini?” Ia terpaksa tertawa.

“Jika kau takut, maka tidak usah datang!” Ye Gu Cheng dengan santai membuang jauh-jauh kekhawatirannya.

“Kalian memilih tempat itu karena kalian tahu bahwa di sana tidak akan banyak jumlah penontonnya, begitu kan?” Lu Xiao Feng tiba-tiba sadar.

“Sebenarnya, duel ini bukan merupakan bahan tontonan untuk orang lain!”

“Lalu untuk apa?” Lu Xiao Feng terpaksa bertanya.

“Karena dia adalah Xi Men Chui Xue dan aku adalah Ye Gu Cheng!”

Ini bukan jawaban yang nyata, tapi sudah cukup. Xi Men Chui Xue dan Ye Gu Cheng ditakdirkan untuk bertemu dalam hidup mereka untuk menentukan siapa yang terbaik. Alasan lain tidak dibutuhkan lagi! Dua jago pedang yang tiada tanding, tiada banding, adalah seperti dua buah meteor. Jika mereka bertemu, mereka tentu akan menampilkan pertunjukan yang paling spektakuler dan mengejutkan. Kejutan ini mungkin akan segera menghilang, tapi akan menjadi legenda untuk selamanya!

Bulan begitu terang benderang dalam lingkaran sinarnya, hanya beberapa buah bintang yang bisa terlihat. Malam semakin larut.

“Apa yang ingin kau ketahui, telah kau ketahui, lalu mengapa kau belum pergi?” Ye Gu Cheng bertanya dengan perlahan.

“Selain dari diriku, apakah ada orang lain yang tahu di mana duel itu akan berlangsung?” Lu Xiao Feng masih belum bersedia untuk pergi.

“Aku tidak memberitahu orang lain,” Ye Gu Cheng menjawab dengan dingin. “Aku tidak punya sahabat lain!”

Suaranya mungkin terdengar dingin, tapi kata-katanya terasa hangat. Ia telah mengakui bahwa Lu Xiao Feng adalah sahabatnya, satu-satunya sahabatnya.

Advertisements

1 Comment »

  1. Membaca serial pendekar empat alis, pada seri awalnya bernama liok siau hong kemudian pada seri lanjutannya berubah menjadi lu xiao feng, sebun jui soat menjadi Xi Men Chui Xue, yap koh seng menjadi Ye Gu Cheng, rasanya kok aneh dan kurang nyaman..apalagi bok tojin menjadi tosu kayu, adalagi pendeta phon cemara segala lah…kalo boleh dan memungkinkan, apakah mas cersil bisa mengedit kembali nama2 tsb agar konsisten, rasa2nya lebih enak nyebut namanya pake bahasa hokkian kali ya (liok siau hong, sebun jui soat, dll)…trims.

    Comment by ivan gindink — 14/06/2010 @ 1:45 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: