Kumpulan Cerita Silat

05/02/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (27)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:29 pm

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 27. Golok Keluar Dari Sarungnya
Oleh Gu Long

Musim gugur. Dikejauhan pemandangan di pegunungan, dipenuhi oleh warna musim semi yang serupa dengan lukiran hutan pohon mapple yang merah.

Tiga puluh empat kuda, dua puluh enam orang. Para pengendara di punggung kuda tersebut bersorak-sorai, bersorak karena mereka mereka telah mencapai hutan. Kuda-kuda mereka melesat dengan cepat, para pengendara tersebut terlihat tangkas dan gesit.

Wajah mereka terlihat lelah dan letih, bahkan beberapa dari mereka terlihat terluka. Namun mereka tidak mempedulikannya, karena hadiah dari hasil pengejaran kali ini betul-betul sangat banyak dan menggiurkan.

Apa yang mereka kejar adalah darah dan keringat orang-orang lain. Apa yang mereka peroleh, ditaruh di atas punggung beberapa ekor kuda, berupa empat puluh peti berat yang berisi penuh dengan kepingan uang perak.

Banyak orang mencaci maki mereka karena menjadi bandit dan pencuri, namun mereka tidak mempedulikannya. Karena mereka percaya bahwa apa yang mereka kerjakan sudah pantas — pantas merasa menjadi penjahat.

Saat penjahat mabuk-mabukan minum anggur, mereka bisanya menggunakan mangkuk yang besar. Saat mereka makan, setiap irisan daging yang mereka makan harus diiris setebal mungkin.

Mangkuk-mangkuk anggur yang besar, irisan daging yang tebal, dan tumpukan peti uang perak, semuanya diletakkan di atas meja, menunggu untuk dibagikan oleh pemimpin mereka.

Pemimpin mereka adalah seorang laki-laki yang hanya memiliki satu maya, itulah sebabnya dia memiliki nama panggilan Naga Satu Mata. Dia mengenakan pakaian yang berwarna hitam, karena dia merasa pakaian hitam membuat dia terlihat menjadi lebih gagah. Kenyataannya, dia memang seorang yang gagah. Meskipun dia cukup kasar, namun dia selalu adil dan tidak pernah berat sebelah. Hanya orang yang adil dan tidak berat sebelah yang dapat memimpin sekelompok begal.

Tambahan lagi, dia memiliki dua orang pembantu yang siap memberikan nyawanya setiap saat dia perlukan. Yang seorang berani dan kuat, sementara yang satunya lagi seorang yang pintar dan pandai. Yang berani dan kuat memiliki panggilan Pembantai Macan, sementara yang pintar dan pandai dipanggil Pengelana Muka Putih.

Semua begal biasanya memang memiliki nama alias. Mereka sudah sangat terbiasa menggunakan panggilan seperti itu, karena sebagian besar dari mereka memang telah melupakan nama aslinya.

Pembantai Macan memang sebenarnya tidak lebih pandai dari macan seperti dalam nama panggilannya. Namun, setelah minum sebotol anggur dia menjadi seperti macan, bahkan dua kali lebih garang. Pukulannya terkenal hebat. Bahkan diyakini, dia dapat memukul mati seekor macan yang besar hanya dengan sekali pukulannya. Meskipun hal itu tidak ada seorangpun yang menyaksikannya, namun tidak ada seorangpun yang meragukan hal itu. Karena orang yang menjadi korban pukulannya hingga mati tidak sedikit. Pada misi kali ini, Pemimpin Kedua Ekspedisi Zhenyuan, yang memiliki nama panggilan Berlian Besi dipukul mati hanya dengan sekali pukulan. Itu sebabnya dia memperoleh uang perak yang terbanyak kali ini, sebagai hadiah atas kontribusinya.

“Saat Berlian Besi berhadapan dengan pukulan Pemimpin Kedua kita, dia menjadi seperti kertas yang kusut.”

Pembantai Macan tersenyum, dia merasa sangat bahagia.

Tiba-tiba, dia menyadari bahwa semua tawa dan pujian terhenti. Setiap pasang mata menatap ke arah pintu utama yang besar. Sesaat dia menatap pintu tersebut, tawanya terhenti juga. Dia benar-benar tidak mempercayai kedua matanya.

Seseorang berjalan perlahan-lahan melalui pintu utama di ruangan tersebut. Seseorang yang seharusnya tidak pernah muncul di sini.

Seorang wanita, wanita cantik yang saking cantiknya membuat setiap pria lupa untuk menarik napas.

Sarang Naga dan Macan, yang tersembunyi dibalik hutan mapple yang lebat yang dikelilingi oleh area perbukitan, menyerupai seekor binatang buas dengan rahan yang terbuka. Menanti siapapun untuk dimangsa. Dan para begundal yang berdiam di tempat tersebut juga seperti sekumpulan binatang buas.

Siapa yang ingin diganyang oleh sekumpulan binatang buas? Itulah sebabnya kenapa orang asing sangat jarang berkeliaran di daerah tempat tinggal para begundal ini. Bahkan, burung-burungpun sangat jarang beterbangan di atas daerah ini.

Namun wanita tersebut berdiri disana, wanita misterius itu keliaran di sarang binatang buas. Dia mengenakan baju yang berwarna hijau yang sangat indah yang terbuat dari bahan yang terbaik. Rambutnya yang panjang dihiasi dengan mutiara yang bersinar, yang membuat rambutnya menjadi lebih hitam dan kulitnya menjadi lebih putih. Dia memperlihatkan senyumnya yang termanis diwajahnya namun ekspresi wajahnya memperlihatkan kematangan dan kewibawaan. Dia mulai melangkah memasuki gedung, langkahnya pendek-pendek dan gemulai, sepertinya dia sedang berjalan diatas kuntum bunga teratai. Dia seperti seorang putri bangsawan yang sedang memasuki ruangan perjamuan yang diadakan untuk menghormati dirinya.

Setiap pasang mata melekat kepadanya. Mereka bukanlah laki-laki yang belum pernah melihat wanita sebelumnya, namun mereka betul-betul tidak pernah melihat wanita seperti ini.

Meskipun pemimpin mereka isi kepala yang cerah, secerah mentari pagi, jarang sekali dia terperangah seperti itu. Dia memeluk tangannya sendiri dan menoleh ke arah Pembantai Macan. Pembantai Macan menggebrakan tangannya ke atas meja dan berseru,” Orang macam apa kau?”

Si cantik bergaun hijau hanya tersenyum dan menjawab perlahan,” Memang kalian tidak dapat melihat bahwa aku seorang wanita?”

Dari kepala hingga jari kaki, dia betul-betul seorang wanita. Bahkan orang butapun dapat mengatakan bahwa dia seorang wanita.

“Kenapa kau ada disini?” Pembanti Macan bertanya.

“Kami ingin berdiam disini selama tiga bulan, apakah tidak apa-apa?”

Wanita ini pasti sudah gila, dia ingin tinggal di sarang begundal selama tiga bulan?

“Aku menginginkan ruangan terbaik yang kau miliki. Sprei dan kelambu harus diganti paling sedikit dua kali sehari. Kami sangat terbiasa dengan kebersihan, namun tidak terlalu cerewet dengan makanan. Kami sudah puas selama tersedia daging sapi dalam setiap hidangan kami tiap hari. Tapi kita menginginkan potongan daging yang terbaik, karena selama ini daging yang kita makan di tempat lain tidak enak. Kami tidak minum anggur saat siang hari, tapi kami menginginkan beberapa botol anggur dimalam hari. Lebih baik kalau anggur Persia dan anggur Bambu Hijau yang sudah berumur 30 tahun.”

“…”

“Saat kami tidur, kami menginginkan penjagaan beberapa orang selama tiga shift, tapi mereka tidak boleh membuat suara sedikitpun yang dapat mengganggu kami. Karena kami susah tidur, dan butuh waktu beberapa saat untuk tidur lagi bila kami terjaga. Yang lainnya kami tidak ambil peduli. Kami tahu bahwa kalian semua adalah begunda,”

Setiap orang menatapnya dengan tercengang sesaat dia berceloteh, sepertinya mereka mendengar nyanyian gila yang dinyanyikan untuk dirinya sendiri. Namun wanita itu berbicara dengan tenang dan alamiah, dan keinginannya itu bukanlah hal yang aneh juga.

Ketika akhirnya dia selesai berbicara, Pembantai Macan meledak tawanya dan berkata,” Memangnya kau pikir ini tempat apa? Penginapan? Restoran?”

“Kami tidak membawa uang.” Si cantik bergaun hijau berkata.

“Apakah kau juga ingin kami memberikan uang perak?” Pembantai Macan mengejek.

“Bila kau tidak mengingatkanku, aku pasti sudah melupakan hal itu. Kami juga menginginkan uang perak di atas meja itu.” Wanita itu menambahkan sambil tersenyum.

“Seberapa banyak?”

“Cukup setengahnya saja.”

“Apakah kau yakin setengahnya tidak terlalu sedikit?”

“Seperti yang aku katakan sebelumnya, kami bukan orang yang minta berlebihan.”

Pembantai Macan kembali tertawa, sepertinya dia tidak pernah mendengar hal yang paling menggirankan sebelumnya. Setiap orang disana mulai tertawa juga. Hanya Naga Satu Mata dan Pengelana Muka Putih yang masih memperlihatkan ekspresi seirus diwajah mereka.

Wajah Pengelana Muka Putih bahkan terlihat lebih pucat sesaat tiba-tiba dia bertanya,” Kau selalu mengatakan kami, berapa orang yang bersamamu?”

“Hanya berdua.” Wanita itu menjawab.

“Siapakah orang yang satu lagi?”

“Tentu saja suamiku. Siapa lagi yang bersama denganku kalau bukan suamiku.”

“Lalu dimana dia?”

“Dia berada diluar.”

Pengelana Muka Putih tersenyum dan bertanya,” Kenapa dia tidak masuk saja ke dalam bersamamu?”

“Wataknya sangat berangan, aku takut akan melukai kalian.”

“Apakah kau yakin bukan sebaliknya, kalau kau takut kami yang akan melukainya?” Pengelana Muka Putih berkata sambil menyeringai.

“Apapun itu, hari ini aku datang sebagai tamu, bukan sebagai seseorang yang cari gara-gara.”

“Jadi kau datang ke tempat yang tepat, kami bukan orang yang suka cari ribut.” Paras wajah Pengelana Muka Putih mulai kesal, seraya dia melanjutkan,” Kami hanya suka membunuh!”

Hutan pohon maple masih terlihat dihalaman luar. Seseorang berdiri di tengah-tengah halaman, menatap pegunungan dikejauhan.

Cahaya matahari pagi terhalang kabut yang biru gelap, dikejauhan pegunungan berwarna abu-abu pucat. Beberapa titik-titik hijau tampak dari dataran yang abu-abu tersebut. Pada musim gugur ini, cahaya matahari selalu terlihat melankolis.

Pandangan kedua mata orang tersebut juga terlihat sendu dan buram seperti pegunungan dikejauhan. Kedua tangannya memeluk dirinya sendiri hingga ujung jarinya ke punggungnya. Dia bahkan terlihat lebih jauh dari pada jarak pegunungan disana, sepertinya dia berada dibukan bagian di dunia ini.

Cahaya matahari terakhir menyinari dengan hambar ke atas wajahnya. Keriput di wajahnya terlihat dalam dan banyak sekali. Setiap keriput diwajahnya sepertinya menyimpan tragedi dan kesedihan yang tak terhitung banyaknya. Mungkin dia semakin bertambah tua, namun dia masih berdiri tegak dan lurus dan postur tubuhnya memancarkan aura yang berwibawa dan kuat.

Dia tidak terlihat terlalu tinggi atau sangat tegap, namun kekuatan yang terpancar dari tubuhnya memancarkan kewibawaan dan kehoramatan. Sayanya semua begundal itu tidak pernah memberikan rasa hormatnya pada siapapun.

Pembantai Macan tertawa lebar dan berseru,” Bila aku tidak dapat membunuhnya dengan sekali pukukran, maka aku akan memanggil kalian berdua sebagai nenek moyangku dan akan memperlakukan kalian seperti itu selama tiga tahun.”

“Kenapa kau tidak langsung mencobanya dan melakukannya?” Si cantik bergaun hijau menjawab.

“Kau tidak takut akan menjadi janda?” Pembantai Macan sambil tertawa terkekeh-kekeh. Dengan tertawa lebar dia melangkah lebar ke arah orang tua tersebut. Dia memiliki badan yang besar dan tinggi, dan ketawanya memekakan seluruh ruangan.

Namun sepertinya orang tersebut tidak memperhatikannya sama sekali, sepertinya dia tidak mendengarkan ketawanya juga sama sekali. Ekspresi wajahnya bahkan terlihat lebih serius dan lelah. Area tersebut terlihat sangat tenang …

“Bila kau mencari tempat untuk beristirahat, diam saja disini sesukamu. Namun aku harus memperingatkanmu bahwa disini tidak ada tempat tidur, tapi peti mati.” Pembantai Macan mengejek.

Orang tua tersebut menjawab tanpa meliriknya sama sekali,” Bila kau tidak dapat membantu kami, maka kami akan pergi.”

“Sekarang kau sudah disini, kau pikir dapat pergi sesuka hatimu?’

Senyum yang tajam tersungging diujung mulut orang tua tersebut seraya menjawab,” Jadi sebaiknya aku menunggu disini.”

“Apa yang kau tunggu?”

“Pukulanmu.”

“Jadi kau tidak perlu menunggu lebih lama.”

Pembantai Macan melayangkan pukulannya dengan cepat. Betul-betul pukulan yang mematikan, cepat, tepat dan sangat kuat. Sangat bertenaga. Sebelum pukulan tersebut mencapai sasarannya, udara yang bergerak karena tenaga pukulan tersebut berhembus meniup rambut di kepala orang tua tersebut.

Orang tua tersebut tetap tidak bergerak, bahkan diapun sama sekali tidak berkedip. Dengan tenang dia memandangi datangnya pukulan tersebut mendekat kearahnya, kemudian tersenyum dan mengeluarkan pukulannya. Dia lebih pendek, dan pukulannya terlihat lebih lambat. Namun sebelum pukulan Pembantai Macan masih tiga inchi lagi darinya, pukulan si orang tua tersebut telah menghajar tepat ke hidung Pembantai Macan.

Setiap orang pasti mendengar suara tulang patah yang sangat menyakitkan. Sesaat suara tersebut terdengar, tubuh Pembantai macan yang besar dan berat telah melayang ke udara, setiap orang dapat melihat bahwa hidungnya telah penyok melesek ke dalam mukanya dan seluruh wajahnya sudah tidak karuan bentuknya.

Orang tua tersebut masih tidak memalingkan pandangannya ke arahnya. Dia menarik selendang sutranya dan mengelap darah yang berada ditangannya sambil meneruskan pandangannya ke araha pegunungan dikejauhan. Kedua matanya tetap sama sendu dan buram, seburam warna pegunungan tersebut.

Ekspresi wajah Naga Mata Satu berubah. Setelah peristiwa mengejutkan itu berlalu, seluruh begundal diruangan itu berteriak dan siap untuk menghajar orang tua tersebut. Namun Pengelana Muka Putih menahan mereka, sesaat dia membisikan beberapa kata ke telinga Naga Mata Satu.

Naga Mata Satu ragu-ragu sejenak, kemudian dia menganggukan kepalanya. Dia mengangkat jempolnya dan tersenyum.

“Hebat! Kemampuan yang hebat. Kami tdak dapat mengundang tamu sehebat itu bahkan bila kita menginginkannya sekalipun. Bagaimana mungkin kita menolak anda untuk tinggal.”

“Aku tahu kalau saudara besar pasti akan diterima sebagai tamu terhormat.” Pengelana Muka Putih berkata sambil tersenyum.

Naga Mata Satu berjalan kearah orang tua itu dan menyoja,” Bolehkan aku mengetahui nama sahabat yang terhomat?”

“Kau tidak harus mengetahui siapakah aku ini dan kita bukanlah sahabat.” Orang tua itu menjawab dengan dingin.

Ekspresi wajah Naga Mata Satu tidak berubah dan dengan sederhana melanjutkan,” Berapa lama anda berencana akan tinggal disini sebagai tamu kami?”

“Kau tidak perlu khawatir, kami sudah mengataknnya bahwa kami hanya tinggal disini selama tiga bulan.” Si cantik bergaun hijau memotong.” Saat kita sudah tinggal selama tiga bulan, kita tidak akan tinggal lebih lama lagi, bahkan meskipun kau meminta kami untuk tetap tinggal.”

Namun wanita itu juga tahu kalau tidak ada seorangpun yang akan mencoba menahan mereka.

“Setelah tiga bulan, kemana kalian akan pergi?”

“Apapun masalahnya, selama tiga bulan ini ada banyak hal yang kami khawatirkan. Kenapa harus pusing-pusing memikirkan yang setelah tiga bulan, sekarang ini.”

________________________________________

Dia perlahan-lahan berjalan maju. Kaki kirinya melangkah, dan kaki kanannya terseret dari belakang. Tangannya mengenggam dengan erat goloknya. Golok hitam yang pekat!

Kedua matanya juga hitam pekat, gelap dan tidak dapat diduga, sama seperti malam yang sebentar lagi datang.

Malam musim gugur, gang yang sempit.

Dalam keadaan seperti ini, dia telah berjalan kesemua jalan dan gang yang tidak terhitung lagi jumlahnya. Berapa lama lagi dia harus berkelana?

Dia sama sekali tidak mendengar tentang orang yang sedang dia cari. Dan dia telah bertanya berkali-kali hingga tidak terhitung lagi jumlahnya.

“Apakah kau melihat seorang tua?”

“Setiap orang pasti pernah melihat orang tua, tahukah kau berapa banyak orang tua di dunia ini?

“Tapi orang tua ini berbeda, keempat jari pada salah satu tangannya telah buntung.”

“Aku tidak melihat orang tua seperti itu.”

Apa yang dia bisa lakukan hanya meneruskan mencari.

Wanita itu menundukan kepalanya dan perlahan-lahan mengikutinya dari belakang. Sepertinya wanita itu tidak ingin berjalan disisinya, dia hanya merasa bahwa laki-laki itu juga sepertinya tidak mengijinkan dia berjalan disisinya. Meskipun dia tidak pernah berkata-kata, namun dia selalu memperlakukan wanita itu seperti agak jijik.

Mungkin, bukan kepada wanita itu dia merasa jijik, namun pada dirinya sendiri.

Wanita itu tidak pernah mengajari atau mencoba untuk meyakinkan dia itu berhenti mencari. Dia hanya mengikutinya membisu dari belakang. Mungkin wanita ini juga sudah tahu bahwa laki-laki itu tidak akan pernah dapat menemukan orang yang dicarinya.

Di sisi jalan yang lebar di luar gang yang kosong, cahaya lentera terang benderang dan menerawang kemana-mana.

Apa maksudnya membuat penerangan seterang itu? Bila bukan karena hendak mencari informasi, mungkin dia lebih suka untuk berdiam di dalam gang yang gelap itu. Keduanya akhirnya berjalan keluar.

Sinar mata wanita itu seraya menjadi cerah, senyuman tersungging dibibirnya yang indah, seluruh tubuhnya kembali hidup. Wanita itu tidak seperti laki-laki itu. Dia menikmati perayaan, dia menikmati kemewahan dan dia menikmati pujian. Meskipun pada awalnya dia selalu terlihat menolak, sebenarnya dia hanya berusaha untuk meningkatkan daya jualnya. Wanita itu mengetahui bagaimana membuat para pria jatuh kedalam pelukannya. Pria biasanya tidak akan pernah jatuh ke dalam pelukan seorang wanita yang dianggap rendah olehnya.

Rumah makan sudah sangat ramai malam itu. Kalau kau hendak mencari informasi, tidak ada tempat yang lebih baik disana. Dan jalan ini memiliki lebih banyak rumah makain dibanding di jalan lainnya.

Keduanya berjalan keluar dari gang dan memasuki jalan, kemudian tiba-tiba terdengar suara berteriak,” Cui Nong!”

Dua orang turun dari salah satu rumah makan. Dua pria yang mengenakan pakaian yang bagus, yang satu memiliki golok di sampingya, dan yang satu lagi memiliki pedang dipinggangnya.

Yang memiliki golok menggapai lengannya dan bertanya,” Cui Nong, apa yang kau lakukan disana? Kapan kau tiba disini? Aku kan sudah katan sebelumnya, berhenti saja bekerja dikota kecil ini. Seorang wanita secantik dirimu kalau bekerja di kota besar, aku jamin tidak sampai dua tahun kau pasti m\bisa mengumpulkan sekarung emas dan perhiasan.”

“Kenapa kau tidak mau bicara? Kita kan teman lama? Jangan katakan kau sudah melupakan ku!”

Orang yang memiliki golok sudah minum anggur beberapa gelas dan baru saja mencaci maki dan teriak-teriak ditempat umum itu dan sepertinya menginginkan setiap orang tahu bahwa dia adalah teman dari wanita cantik itu.

Cui Nong tetap menundukkan kepalanya dan menatap sesekali ke arah Fu Hong Xue.

Fu Hong Xue tidak memutar kepalanya. Dia telah berhenti berjalan dan tangan yang menggenggam goloknya telah mengeras dan dipenuhi oleh pembuluh darah yang membesar.

Orang yang memiliki golok menatapnya, kemudian balik melihat Cui Nong dan akhirnya mengerti.

“Tidak heran kau tidak berkata sepatah katapun, kau telah menemukan seorang pria. Tapi kenapa kau tidak berusaha mencari dengan keras, kenapa kau malah berhubungan dengan pria pincang ini?

Sebelum kata-katanya selesai diucapkan, dia melihat tatapan Cui Nong telah berganti menjadi tatapan ketakutan. Dia mengikuti arah tatapan mata Cui Nong dan dia melihat sepasang mata yang lain. Sepasang mata ini tidak terlalu besar, juga tidak terlalu tajam, namun memancarkan sorot mata yang dingin.

Pemilik golok tersebut bukanlah orang yang pengecut, dan dia juga sudah mabuk setelah menenggak beberapa gelas arak, namun saat kedua matanya memandang padanya, dia tidak dapat menahan diri bahwa kedua tangannya telah berubah menjadi dingin.

“Fu Hong Xue menatapnya dingin dan tiba-tiba bertanya,” Nama keluargamu Peng?”

“Apa urusannya denganmu?” Pemilik golok menjawab tajam.

“Kau satu dari Lima Golok Maut Macan dari Shanxi, keluarga Peng?”

“Kau mengenaliku?” Pemilik golok bertanya.

“Aku tidak mengenalimu sama sekali, namun aku mengenali golok itu!” Fu Hong Xue menjawab dingin.

Golok tersebut memiliki ornamen dan hiasan yang berlebihan, seperti halnya pakaian yang dia kenakan. Ukuran golok tersebut aneh, kepala lebih besar dari pada bagian badanya yang lebih ramping sementara sarungnya dihiasi dengan lima macam warna kain satin.

Pemilik golok mengangkat dadanya, berkata padanya,” Betul sekali, akulah Peng Lie!”

Fu Hong Xue perlahan-lahan menganggukan kepalanya dan berkata,” Aku sudah mendengar tentangmu.”

Peng Lie memperlihatkan senyumnya dan menjawab,” Seharusnya memang begitu.”

“Aku juga mendengar bahwa Keluarga Peng dan Ma Kong Qun adalah sahabat.” Fu Hong Xue berkata.

“Dia tepatnya adalah sahabat dari keluarga kami.” Peng Lie berkata.

“Apakah kau pernah ke Gedung Sepuluh Ribu Kuda?”

Tentu saja dia pernah kesana sebelumnya, kalau tidak bagaimana dia bisa mengenal Cui Nong?

“Tahukah kau dimana Ma Kong Qun?” Fu Hong Xue menyelidik.

“Dia tidak berada di Gedung Sepuluh Ribu Kuda?”

Peng Lie terlihat terkejut, diapun belum mengetahui apa yang terjadi dengan Gedung Sepuluh Ribu Kuda.

“Kau juga kenal dengan Majikan Ketiga?” Peng Lie bertanya.

Fu Hong Xue perlahan-lahan tersenyum. Kedua matanya bergerak ke arah golok Peng Lie seraya berkata,” Golokmu betul-betul enak dilihat.”

Ekspresi gembira tersembul dibalik wajah Peng Lie. Goloknya tentu saja lebih menarik dibanding golok Fu Hong Xue.

“Sayangnya golok bukan dimaksudnya untuk dikagumi.” Fu Hong Xue berkata.

“Lalu untuk apa?”

“Memangnya kau tidak tahu golok digunakan untuk membunuh?” Fu Hong Xue berkata.

“Kau pikir golok ini tidak dapat membunuh?” Peng Lie bertanya.

“Paling tidak aku tidak pernah melihatnya.”

Paras wajah Peng Lie berubah,” Jadi kau ingin melihatnya membunuh?”

“Betul sekali.” Fu Hong Xue menjawab.

Paras wajahnya juga berubah. Menjadi pucat, saking pucatnya hampir seperti transparan. Peng Lie memandang wajahnya dan tidak sadar telah mundur selangkah.

“Dan bagaimana dengan golokmu, kau pikir bisa digunakan untuk membunuh?” Peng Lie berkata dengan lantang. Semakin dia takut, semakin keras suaranya.

Pada titik ini, Fu Hong Xue tidak berkata sepatah katapun. Dia tidak ingin berkata-kata lagi, kata-kata selanjutnya yang dia ucapkan mungkin berasal dari goloknya! Kata-kata yang diucapkan dengan golok biasanya lebih efektif dari pada yang diucapkan oleh mulut.

Temannya yang memiliki pedang dipinggangnya adalah seorang yang tampan. Dia tinggi dan memiliki sepasang alis mata yang tebal. Wajahnya selalu memperlihatkan penghinaan, sepertinya tidak ada seorangpun yang pantas menghabiskan waktunya.

Selama ini dia berdiam diri namun tiba-tiba dia berbicara.” Seseorang mengucapkan hal yang sama sebelumnya.”

“Mengatakan apa?” Peng Lie bertanya.

“Mengatakan goloknya tidak dapat membunuh.”

“Siapa yang mengatakan hal itu?”

“Seseorang yang saat ini sudah mati.”

“Siapa?”

“Gong Sung Duan!”

“Gong Sung Duan sudah mati?” Peng Lie bertanya dengan terkejut.

“Dia terbunuh dibawah golok.” Pendekar muda itu menjawab.

Butiran keringat tiba-tiba muncul di dahi Peng Lie.

“Dan tambahan lagi, Majikan Ketiga telah terusir keluar dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda.” Pendekar Muda itu menambahkan.

“Bagaimana … bagaimana kau tahu semua ini?” Peng Lie bertanya.

“Aku baru saja kembali dari daerah tenggara.”

Fu Hong Xue menatap ke arah pendekar muda itu dan seraya bertanya,” Urusan apa yang kau lakukan disana?”

“Aku sedang mencari dirimu.” Pendekar Muda itu menjawab.

Kali ini Fu Hong Xue tidak terlihat terkejut.

“Aku ingin bertemu denganmu.” Pendekar Muda itu berkata.

“Kau pergi kesana hanya untuk bertemu denganu?” Fu Hong Xue bertanya.

“Aku tidak ingin bertemu denganmu, aku ingin melihat mata golokmu! Aku ingin tahu seberapa cepat golokmu!”

Genggaman Fu Hong Xue mengeras, wajahnya menjadi semakin pucat.

“Nama keluargaku Yan, namaku Yuan Qing Feng. Keluarga Yuan dan Gedung Sepuluh Ribu Kuda adalah sahabat yang sangat baik.”

Fu Hong Xue menganggukan kepalanya dan berkata,”Aku mengerti.”

“Kau seharusnya mengerti.” Yan Qung Feng berkata.

“Apakah kau masih ingin menyaksikan mata golokku?” Fu Hong Xue bertanya.

“Ya.”

“Yes.”

Fu Hong Xue menurunkan tatapannya dan menatap ke arah tangan yang menggengam goloknya.

“Kau masih tidak ingin menarik golokmu?”

“Baiklah, tarik pedangmu lebih dahulu!”

“Jurus pedang Tianshan tidak pernah menarik pedangnya lebih dahulu!” Yuan Qing Feng menjawab dengan angkuh.

Paras wajah aneh menyelimuti muka wajah Fu Hong Xue seraya dia bergumam,”Tianshan … Tianshan…!”

Kedua matanya berkelana ke kejauhan, sorot matanya dipenuhi dengan duka dan kesedihan.

“Tarik golokmu!” Yuan Qung Feng meminta.

Kedua tangan Fu Hong Xue bahkan menjadi semakin gemetar. Goloknya berada di tangan kirinya sesaat sekonyong-konyong tangan kanannya meraih gagangnya. Peng Lie secara tidak sadar mundur lagi selangkah. Kedua mata Cui Nong membesar dan dipenuhi kegelisahan. Ekspresi wajah Yuan Qing Fen tidak berubah sama sekali, namun tangannya menggengam dengan erat gagang pedangnya.

“Tianshan … Tianshan …”

Tiba-tiba golok telah berkelebat! Hanya ada sekali kelebatan!

Sesaat dia telah melihat kilatan cahaya yang lebih cepat dari kilat, golok telah kembali kesarungnya.

Angin berhembus dengan keras. Segaris sutra merah telah terlempar ke angkasa. Sutra merah yang menghiasi pedang Yuan Qing Feng telah terpotong.

Kepala Fu Hong Xue masih menunduk, kedua matanya masih menatap ke arah golok yang masih digenggamnya,” Dan sekarang kau sudah melihat mata golokku.”

Masih tidak ada perubahan pada ekspresi wajah Yuan Qing Feng, namun keringat dingin sudah mengalir turun dari dahinya.

“Golokku bukan untuk dikagumi, namu aku membuat pengecualian untukmu.” Fu Hong Xue berkata.

Yuan Qing Feng tidak berkata sepatah katapun. Perlahan-lahan dia berbalik dan berjalan ke belakang salah satu rumah makan. Dia masih belum melihat mata golok Fu Hong Xue, yang dia lihat hanya kilatan mata golok yang berkelebat. Namun, itu sudah cukup. Orang tersebut telah pergi, namun satu atau dua helai sayatan sutra merah masih melayang-layang tertiup angin.

Tangan Peng Lie yang memegang golok masih dibasahi oleh keringat.

Pandangan Fu Hong Xue berbalik kearahnya seraya bertanya,” Kau sudah melihat golokku?”

Peng Lie menganggukan kepalanya.

“Sekarang aku ingin melihat golokmu.” Fu Hong Xue berkata.

Peng Lie menggertakan giginya. Suara yang timbul dari gertakan giginya seperti suara yang timbul saat sebilah golok sedang diasah.

Tiba-tiba terdengar suara keras,” Tidak ada hal yang menarik mengenai golok.”

Sebuah tandu perlahan-lahan bergerak dari jalan dan berhenti. Suara tersebut berasal dari dalam tandu itu. Suara seorang wanita, suara seorang wanita yang merdu. Tapi pemilik suara itu tidak terlihat. Jendela tandu tersebut tertutup.

“Kalau tidak ada yang menarik mengenai golok, lalu apa yang harus dilihat?” Fu Hong Xue bertanya dingin.

Suara dari dalam tandu menjawab,”Aku lebih tertarik untuk melihat yang lain dari pada sebuah golok.”

Tidak hanya suaranya yang berbunyi seperti bel, namun disana benar-benar ada suara bel berdenting. Denting suara bel yang jernih muncul sesaat orang tersebut melangkah keluar dari tandu, seperti kuntum bunga teratai yang sedang mekar. Dia mengenakan gaun warna putih yang indah, pinggangnya dihiasi dengan bel yang berdenting.

Ding Ling Lin.

Alis mata Fu Hong Xue terangkat seraya berseru,” Rupanya kau?”

Mata Ding Ling Lin bergerak-gerak dengan lincah sesaat menjawab dengan riang,” Aku terkejut kau mengenaliku.”

Fu Hong Xue sebetulnya tidak mengetahui siapa wanita itu, dia hanya teringat kalau wanita itu bersama Ye Kai.

“Tidak ada yang menarik melihat sebuah golok sebab itu bukanlah Lima Golok Maut Macan.” Ding Ling Lin berkata sambil tersenyum.

“Bukan?”

“Kalau kau ingin melihat Lima Golok Maut Macan yang sebenarnya, kau harus pergi ke Gedung Lima Tingkat di daerah perbatasan.”

Dia tiba-tiba berbalik ke arah Peng Lie dan berkata,” Dia tidak ingin melihat golokmu lagi, lebih baik kau pergi saja dan minum arak, Sikecil Ye sudah menunggumu.”

“Sikecil Yee?”

“Sikecil Yee sudah mengundang beberapa orang tamu malam ini, kita termasuk tamunya.” Ding Ling Lin menjelaskan.

Dia tersenyum dan menambahkan,” Dia tidak menyukai tamu yang mati, dan pastinya dia juga tidak ingin tamunya mati.”

“Ye Kai?” Fu Hong Xue bertanya.

“Siapa lai?”

“Dia berada disini juga?”

“Dia ada di dalam rumah makan Surga Keberuntungan. Dia pasti senang sekali bertemu denganmu.”

“Dia tidak akan bertemu dengan ku.” Fu Hong Xue berkata.

“Kau tidak pergi?”

“Aku bukan tamunya.”

Ding Ling Lin menghela napas,” Bila kau tidak ingin pergi, maka tidak ada apapun yang dapat memaksamu pergi, hanya saja …” dia mengerdipkan matanya ke Fu Hong Xue dan melanjutkan,” Tamu-tamu yang dia undang hari ini, mereka orang-orang yang suka bepergian dan pasti merupakan sumber informasi yang bagus. Mungkin tidak ada tempat lain yang lebih baik sebagai sumber informasi.”

Fu Hong Xue tidak berkata-kata lagi. Dia berbalik dan berjalan ke arah rumah makan Surga Keberuntungan. Kelihatannya dia telah melupakan seseorang telah menunggunya.

Ding Ling Lin menatap Cui Nong dan menghela napas,” Dia kelihatannya sudah melupakanmu.”

Cui Nong tersenyum dan menjawab,” Tapi aku tidak pernah melupakannya.”

Bersinar mata Ding Ling Lin dan berkata,” Kenapa dia tidak membawamu pergi?”

“Karena dia tahu kalau aku pasti mengikutinya.”

Dia benar-benar mengikutinya. Ding Ling Lin menatap sosok tubuhnya yang mengagumkan berjalan dengan gemulai.” Sepertinya dia memiliki cara untuk menangani laki-laki.” Dia bergumam pada dirinya sendiri.

Suaranya sebenarnya sangat pelan, namun Cui Nong memiliki pendengaran yang bagus,” Kau dapat belajar satu atau dua hal dariku.” Dia menjawab.

“Aku tidak suka menggunakan cara orang lain.” Ding Ling Lin menjawab balik.

________________________________________

Banyak sekali tetamu di rumah makan Surga Keberuntungan. Setiap orang menggunakan pakaian yang mewah dan sangat menjaga penampilan diri mereka. Ding Ling Lin betul-betul tidak membual, yang pasti mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan yang luar yang juga adalah soerang yang sangat berkecukupan dan makmur. Mengundang orang-orang seperti itu bukanlah suatu tugas yang mudah, menggunakan mereka semua dalam hari sama malah hampir tidak mungkin.

Sepertinya Ye Kai sudah menjadi orang yang terkenal dalam dua bulan terakhir ini. Dia mengenakan pakaian yang sehari paling tidak tidak lima puluh tael perak, dikakinya telah terpasang sepasang sepatu yang disepuh emas, rambutnya hitam dan bercahaya yang dihiasi dengan mutiara yang berkilauan. Dia jarang mengenakan pakaian seperti ini, sehingga Fu Hong Xue hampir tidak mengenalinya. Namun, Ye Kai mengenalinya, bahkan sesaat dia menjejakan kakinya ke dalam rumah makan, pandangan Ye Kai tertuju kearahnya.

Cahaya lentera bersinar terang.

Wajah Fu Hong Xue terlihat lebih gelap di bawah cahaya ini. Banyak orang mengarahkan pandangannya ke arah goloknya. Tatapan awal mereka semua kegoloknya, kemudian kewajahnya. Namun, Fu Hong Xue seperti tidak melihat seorangpun disana.

Ye Kai melangkah kearahnya dan memperlihatkan senyuman diwajahnya. Senyum ini yang merupakan satu-satunya yang tidak pernah berubah diwajahnya, sehangat dan seramah biasanya. Mungkin karena hal ini, Fu Hong Xie memandang kepadanya, pandangan yang dingin.

“Aku tidak pernah mengira kau akan datang.” Ye Kai berkata.

“Aku juga berpikir tidak.” Fu Hong Xue berkata.

“Mari silahkan duduk.”

“Tidak terima kasih. Aku bisa berbicara sambil berdiri.”

Ye Kai tersenyum dan berkata,” Aku tahu apa yang kau inginkan.”

“Kau tahu?”

Ye Kai menganggukan wajahnya dan menghela napas,” Sayangnya aku juga belum mendengar kabar mengenai orang tersebut.”

Fu Hong Xue jatuh terdiam. Setelah beberapa saat tiba-tiba dia menjawab,” Selamat tinggal.”

“Kau tidak ingin mencoba beberapa cangkir?”

“Tidak, terima kasih.”

“Secangkir tidak akan melukaimu.”

“Tapi aku tidak pernah membayarimu minum.”

“Aku pernah mendengar hal ini sebelumnya.”

“Aku juga tidak akan pernah minum anggurmu.”

“Memangnya kita bukan teman?”

“Aku tidak punya teman.”

Tiba-tiba dia berbalik dan mulai berjalan keluar. Kaki kirinya melangkah maju, dan kaki kanannya diseret dari belakang. Sesaat Ye Kai melihatnya melangkah keluar, senyumnya menjadi kecut. Namun sebelum Fu Hong Xue mencapai pintu, Ding Ling Lin dan Cui Nong tiba-tiba berjalan masuk.

Tangga tersebut sangat sempit dan Cui Nong berdiri dibawahnya sepertinya dia terkejut. Dia melihat Ye Kai begitu juga dia melihat dirinya. Fu Hong Xue juga menatap wanita itu, sementara Ding Ling Lin menatap Ye Kai. Sorot mata keempat pasang mata tersebut sangat berbeda, tidak ada seorangpun yang dapat menggambarkan ekspresi mereka.

Cui Nong menundukan kepalanya. Namun pandangan Ye Kai masih melekat kearahnya. Ding Ling Lin cepat-cepat naik ke atas. Fu Hong Xue mulai berjalan turun. Cui Nong berbalik dan mengikutinya tanpa sedikitpun melirik kearah Ye Kai. Namun Ye Kai masih terpaku pada tangga yg kosong sepertinya dia sudah linglung.

Ding Ling Lin tidak tahan melihat hal itu dia memukul punggung dan berseru,” Semua orang sudah pergi.”

“Oh?”

“Kenapa kau tidak pergi dengan mereka.”

“Oh.”

“Bila kau ingin merebut kekasihnya dari ujung goloknya, kau harus hati-hati. Golok orang itu sangat cepat.” Dia berkata dingin.

Ye Kai tertawa. Ding Ling Lin balik tertawa, tapi ketawa yang hambar,” Wanita itu sangat menyenangkan untuk dilihat, aku juga sudah mendengar apa yang dia kerjakan sebelumnya. Aku yakin dia telah menggaet banyak uangmu sebelumnya.”

“Kau pikir aku sedang melihatnya?”

“Jangan katakan kau tidak?”

“Aku hanya berpikir …”

“Berpikir dengan hati lebih buruk dari pada berpikir dengan mata.”

Ye Kai menarik napas,” Kau tidak boleh percaya apa yang hatiku pikirkan.”

“Selama kau mengatakannya kepadaku, aku akan mempercayainya.”

“Aku hanya berharap dia benar-benar mengasihi Fu Hong Xue dengan tulus, jadi dia benar-benar bersedia menghabiskan hidupnya dengannya, atau bila tidak …”

“Bila tidak apa?”

Pandangan khawatir tersembul dari sorot mata Ye Kai, sesaat dia berkata dengan ragu-ragu,” Bila tidak aku tidak punya pilihan untuk membunuhnya!”

“Kau benar-benar akan melakukan hal itu?”

“Aku selalu menjadi orang yang kejam dan tidak memiliki perasaan,” Ye Kai berkata blak-blakan.

Ding Ling Lin menggigit bibirnya dan melirik Ye Kai dari sudut matanya,” Aku tahu orang seperti apa dirimu.”

“Oh?”

“Kau adalah orang yang agak munafik, karena itu aku tidak pernah mempercayai setiap patah kata yang keluar dari mulutmu.”

Ye Kai tersenyum. Senyuman yang pahit.

Sesaat kemudian, terdengar suara keras dari bawah,” Ye Kai, Ye Kai …”

Seorang pemuda yang mengenakan pakaian ungu dengan topi jerami menghentikan kudanya di depan rumah makan Surga Keberuntungan. Dia mengikat kudanya dengan satu tangan dan mengupas kacang dengan tangannya yang lain.

Sebuah pedang tanpa sarung, tipis dan tajam.

Seseorang lainnya di rumah makan berteriak,” Lu Xiao Jia!”

Ketiga kata itu dalam namanya terlihat memiliki hal menarik yang misterius diantara mereka. Setiap orang yang mendengar nama itu menolehkan kepalanya ke jendela untuk melihat.

Ye Kai melangkah dan berkata,” Kenapa kau tidak naik ke atas untuk minum?”

Lu Xiao Jia melihat ke atas dan menjawab,” Kau tidak pernah memperoleh kacangku, kenapa kau mengundangku untuk minum?”

“Keduanya adalah hal yang berbeda.” Ye Kai berkata. Dia mengambil sebuah cangkir dan melemparkannya ke atas. Cangkir tersebut melayang dengan ringan ke arah Lu Xiao Jia, seperti ada yang sedang sebuah tangan yang mengantarkannya. Cangkir tersebut berbalik di udara dan mengeluarkan isinya ke arah mulut Lu Xiao Jia.

“Arak yang bagus!” dia berseru.

“Secangkir lainnya?” Ye Kai menawarkan.

Lu Xiao Jia menggelengkan kepalanya.” Aku hanya ingin bertanya apakah kau telah menerima undangan atau tidak?”

“Aku memperolehnya kemaren.”

“Apakah kau berencana untuk pergi?”

“Kau tahu aku selalu menyukai pesta perjamuan.”

“Bagus. Kita akan bertemulagi pada tanggal lima belas bulan sembilan di Gedung Awan Putih.” Lu Xiao Jia menjawab. Dia melemparkan sebuah kacang ke udara dan kacang itu baru saja akan melayang ke arah mulutnya. Siapa yang menyangka bahwa pada saat yang tepat, Ye Kai melayang ke udara dan menangkap kacang tersebut dengan mulutnya. Dengan gerakan salto yang ringan, tubuhnya telah kembali ke rumah makan.

Dia tertawa lebar dan berkata,” Akhirnya aku bisa merasakan kacangmu.”

Lu Xiao Jia terlihat kaget. Dengan sekali kebutan tangan, kudanya mulai melesat pergi. Dari kejauhan, dia tertawa keras dan berkata,” Betul-betul ngawur. Ibunya pasti sundal, betul-betul ngawur.”

________________________________________

Mie sudah menjadi dingin, sementara kuahnya sudah menjadi keruh. Beberapa irisan sayuran sudah mengambang di kuah tersebut. Sayuran dan mie yang sudah tidak menimbulkan selera, tersaji di dalam mangkuk yang sudah terlihat jelek.

Kepala Cui Nong masih menunduk. Ditangannya terdapat sepasang sumpit yang sudah digunakan oleh banyak orang. Dia mengambil beberapa helai mie, kemudian menjatuhkannya kembali. Meskipun saat ini dia benar-benar sudah lapar, namun mie di dalam mangkuk tersebut betul-betul tidak menimbulkan selera. Mie yang biasanya dia makan dimasak dengan kaldu ayam. Mangkuk yang biasanya dia pakai terbuat dari perselen yang bagus. Melihat mangkuk yang saat ini dia pegang, dia benar-benar tidak tahan lagi untuk tidak menghela napas, dan dia meletakan sumpit yang dipegangnya.

Mangkuk Fu Hong Xue sudah bersih. Dia memandang wanita tersebut membisu, kemudian bertanya,” Kau tidak bisa memakannya?”

Cui Nong tersenyum terpaksa dan menjawab,” Aku …. aku tidak lapar.”

“Aku tahu kau tidak terbiasa makan makanan seperti ini, kau seharusnya pergi ke rumah makan Surga Keberuntungan.”

Cui Nong menjawab perlahan,” Kau tahu kalau aku tidak akan pergi, aku…”

“Apakah kau takut kalau kau tidak akan diterima disana?”

Cui Nong menggelengkan kepalanya.

“Jadi kenapa kau tidak pergi?”

Cui Nong perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan memandangnya,” Karena kau disini, aku akan disini bersamamu. Tidak ada tempat lain di dunia ini yang dapat aku datangi.”

Fu Hong Xue jatuh terdiam. Cui Nong perlahan-lahan meraih dan memegang tangannya, tangan yang tidak menggenggam golok. Tangan wanita tersebut lembut dan halus, sentuhannya juga lembut. Wanita tersebut tahu bagaimana harus meringankan kewajiban seorang pria.

Dengan dingin Fu Hong Xue menolaknya dan bertanya,” Kau mengenal orang itu?”

Cui Nong menundukkan kepalanya dan menjawab,” Hanya … hanya seorang pelanggan biasa.”

“Pelanggan biasa apa?”

“Kau tahu aku biasanya … di tempat seperti itu, aku bertemu dengan banyak bajingan.

Ekspresi wajah sakit dan sedih tersembul di wajah Fu Hong Xue.

“Harap maafkan aku, kau seharusnya tahu kalau aku tidak pernah peduli dengan orang-orang seperti itu.”

Fu Hong Xue mengepalkan tangannya dan menjawab,”Semua yang aku tahu kau tadi memandanginya sepanjang waktu.”

“Saat aku menatapnya? Pada saat aku melihatnya aku hanya ingin muntah.”

“Oh?”

“Aku betul-betul tidak tahan untuk membunuhnya setiap kali aku melihatnya.”

Fu Hong Xue tersenyum dingin dan menjawab,”Kau pikir orang yang aku bicarakan adalah orang yang bernama Peng itu?”

“Memangnya bukan?”

“Yang aku maksudkan Ye Kai.”

Cui Nong terlihat kaget.

“Kau mengenalnya dengan baik juga kan? Apakah dia juga hanya seorang pelanggan biasa?”

Pandangan sedih dan pahit tersembut dari wajah Cui Nong, sesaat dia menjawab dengan sedih,”Kenapa kau harus berkata begitu? Apakah kau ingin menyiksaku? Atau kau ingin menyiksa dirimu sendiri?”

Wajah pucat Fu Hong Xue mendadak memerah. Dia berusaha mengontrol dirinya dan bertanya,”Yang aku ingin tahu hanyalah kau mengenalnya atau tidak.”

“Meskipun aku pernah mengenalnya, tapi aku sekarang tidak ingin mengenalinya lagi.”

“Kenapa?”

“Karena satu-satunya orang yang aku kenal sekarang adalah kau. Kau dan tidak ada orang lain lagi.”

Fu Hong Xue memandang kedua tangan wanita itu sepertinya ekspresi wajah frustasi tersirat diwajahnya.

“Aku minta maaf kalau aku tidak bisa memberikan kehidupan yang pernah kau nikmati. Bila kau mengikutiku, makanan yang dapat aku berikan adalah makanan seperti mie ini.”

“Tidak ada yang salah dengan mie ini.”

“Tapi kau tidak dapat memakannya.”

“Aku akan makan.” Dia mengambil sumpitnya dan mulai mengaduk mie di dalam mangkuk itu. Saat dia memasukan makanan ke dalam mulutnya, senyum terpaksa menyembul di wajahnya dan dia terlihat seperti sedang memakan racun.

Fu Hong Xue menatapnya, dan tiba-tiba merampas sumpit itu.”Kalau kau tidak mau, kenapa harus memakannya? Aku tidak memaksamu untuk memakannya.”

Suaranya mulai bergetar dan kedua tangannya mulai bergetar. Kedua mata Cui Nong mulai memerah sesaat air mata mulai mengalir. Akhirnya dia tidak tahan dan berkata,”Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Aku …”

“Kau apa?”

Cui Nong menggigit bibirnya dan berkata,”Aku hanya berpikir tidak seharusnya kita hidup seperti ini.”

Dia menghela napas dan melanjutkan,”Kau kehabisan uang, tapi aku masih punya banyak.”

Dada Fu Hong Xue naik dan turun seraya dia berseru,”Semua itu milikmu, tidak ada hubungannya denganku.”

“Aku sudah menjadi milikmu, kenapa kau masih harus berpikir seperti ini?”

Wajah pucat Fu Hong Xue telah menjadi merah seluruhnya, seluruh tubuhnya mulai bergetar.

“Apakah kau pernah berpikir betapa kotornya uangmu? Setiap saat aku berpikir bagaiman kau memperoleh uang itu, aku ingin muntah.”

Ekspresi wajah Cui Nong berubah sesaat dia pun mulai bergetar. Dia menggigit bibirnya dan menjawab,”Mungkin tidak hanya uangku, tubuhku juga kotor, kan?”

“Kau benar.”

“Kau tidak harus mengatakannya kepadaku, aku sudah kalau kau memandang rendah diriku.”Dia menggigit bibirnya dengan keras hingga mulai berdarah,”Aku harap kau juge berpikir mengenai hal itu juga.”

“Mengenai apa?

“Berpikir mengenai kenapa aku harus melakukan hal itu semua? Untuk kepentingan siapa? Untuk tujuan apa?”

Dia berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan dirinya, namun air matanya telah menutupi seluruh wajahnya. Dia tiba-tba berdiri dan menangis,”Karena kau malu terhadap diriku, kenapa juga aku harus peduli denganmu, aku …”

“Kau benar. Kau memiliki sekantung penuh uang emas yang kau kumpulkan, kenapa juga kau mengikutiku? Kau seharusnya sudah pergi jauh-jauh hari.”

“Kau sudah tidak menginginkan diriku lagi?”

“Ya.”

“Baik, baik, baik … baik.”

Dia menuturpi wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai mengelap air matanya. Fu Hong Xue tidak menghentikannya, juga tidak melihatnya. Dia pergi dan membanting pintu hingga terdengar suara BBLLLLANNGG. Fu Hong Xue masih tetap duduk tidak bergerak. Tubuhnya mulai berhenti bergetar, namun pembuluh darah di kedua tanganya mulai membengkak, dan keringat dingin mulai menutupi dahinya. Tiba-tiba dia terjatuh ke atas lantai dan mulai mengejang, Busa putih mulai keluar dari sisi mulutnya. Dia mulai bergulingan di atas lantai, terengah-engah dan megap-megap seperti hewan. Megap-megap untuk bernapas … seperti hewan yang sudah sekarat hampir mati.

Pintu tiba-tiba terbuka.

Cui Nong perlahan-lahan masuk ke dalam. Air mata di atas lantai telah mengering, air mata itu mengering dengan cepatnya. Kedua matanya kembali dipenuhi dengan cahaya, namun kedua tangannya masih bergetar. Namun bukan karena kesedihan, tapi karena khawatir terhadap Fu Hong Xue. Dia perlahan-lahan berjalan kearahnya, selangkah demi selangkah …

Tiba-tiba dia mendengar suara yang aneh, suara orang mengunyah! Tidak ada seorangpun yang tahu kapan orang ini telah melayang masuk ke dalam dan duduk di atas jendela sambil mengunyah kacang.

Lu Xiao Jia!

Ekspresi wajah Cui Nong berubah dan dia bertanya dengan tajam,”Kenapa kau kesini?”

“Memangnya aku tidak dapat datang kesini?”

“Kau kesini untuk membunuhnya?”

Lu Xiao Jia tertawa dan mendengus,” Memangnya aku yang mencoba membunuhnya? Atau kau?”

Berubah paras wajah Cui Nong.” Kau gila, kenapa aku harus membunuhnya?”

LU Xiao Jia menghela napas dan menjawab,”Wanita pasti memiliki banyak alasan untuk membunuh pria.”

Cui Nong berjalan kedepan Fu Hong Xue dan berkata,”Aku tidak peduli apa yang kau katakan, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu.”

“Meskipun kau memohon aku tidak akan melakukannya. Aku tidak pernah tertarik menyentuh pria.”

“Lalu apa yang ingin kau lakukan?”

“Aku hanya ingin bertanya kepada kalian berdua, apakah sudah menerima undangan.”

“Undangan? Undangan apa?”

Lu Xiao Jia menghela napas dan berkata,”Sepertinya kalian berdua berkeliaran tanpa arah yang jelas selama ini.”

“Kita tidak perlu berkeliaran.”

“Bila kalian tidak berkeliaran, jadi kenapa tidak bisa menemukan orang yang kalian cari?”

Dia tiba-tiba menarik keluar pedangnya dan dalam sekejap mata dia telah mengukir delapan buah kata di dinding.

“Tanggal lima belas bulan sembilan, Gedung Awan Putih.

“Apa maksudnya?” Cui Nong bertanya.

“Maksudnya aku berharap kalian berdua masih hidup untuk datang pada tanggal lima belas bulan sembilan ke Gedung Awan Putih. Orang mati tidak akan diterima disana.” Lu Xiao Jia berkata sambil tersenyum.

Segulung angin berhembus. Sebutir kuling kacang telah jadih dari lubang jendela. Lu Xiao Jia telah menghilang terbawa angin.

Angin menggoyangkan dedaunan dan ranting diluar.

Suara terengah-engah Fu Hong Xue mulai berkurang.

Cui Nong masih berdiri diam sejenak. Akhirnya dia membungkuk dan memeluknya. Pelukannya hangat dan lembut. Dia selalu mengetahui bagaimana memeluk seorang pria.

ooOoo

Undangan apa yang diberikan oleh Lu Xiao Jia? Bagaimana duel antara Fu Hong Xue dan Lu Xiao Jia?

(Cerita silat ini terhenti di sini. Saya kesulitan mencari sumber lanjutannya. Ada yang mau membantu?)

2 Comments »

  1. coba cari “salju merah”!

    Comment by sunmei — 04/06/2008 @ 4:36 pm

  2. Salam kenal, kisah salju merah bagus cuma kok berhenti sampai sini saja ?

    Comment by Aris Farizi S — 18/01/2009 @ 9:46 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: