Kumpulan Cerita Silat

05/02/2008

Duke of Mount Deer (24)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 10:10 pm

Duke of Mount Deer (24)
Oleh Jin Yong

Siau Po menerima uang yang disodorkan itu. “Terima kasih…!” katanya sambil tertawa. Dia lalu menoleh kepada rekannya. “Yo toako, ambillah uang ini semuanya!”

Ek-ci terperanjat juga gembira. Di samping itu dia juga merasa heran, seakan tiba-tiba dia menemukan harta karun.

“Kongkong, apa artinya Ciangkun?” tanyanya dengan nada berbisik. “Apa pangkatnya?”

Sekarang giliran Siau Po yang menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Dia menoleh kepada si bandar yang dipanggil Ciangkun itu.

“Ciangkun, bolehkah aku menanyakan she dan namamu yang mulia?”

Bandar itu berdiri dan tertawa. Dengan penuh hormat dia menjawab: “Aku yang rendah bernama Ouw Pek-seng. Aku adalah Cong peng dari Thian Cin dan merupakan bawahan langsung dari Kong Cin ong.”

Cong peng setingkat dengan Brigadir Jendral. Siau Po tertawa dan berkata: “Ciangkun, aku yakin dalam peperangan, seratus kali terjun, seratus kali pula kau mendapat kemenangan. Sayangnya dalam perjudian, nasibmu kurang beruntung.”

Nama ciangkun itu Pek Seng, artinya memang seratus kali perang seratus kali menang.

Ouw Pek-seng tertawa mendengar kata-kata Siau Po.

“Kongkong, sebetulnya dalam perjudian pun, biasanya seratus kali main, aku juga seratus kali menang. Tapi ada pepatah yang mengatakan, di atas gunung masih ada gunung lainnya. Kita jago, ada yang lebih jago. Karena itu, hari ini bertemu dengan kongkong, aku seperti membentur batu. Seratus kali berjudi, aku pun seratus kali kalah,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Siau Po juga tertawa. Kemudian dia mengundurkan diri. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. “Akh. Tidak mungkin Cong peng itu kalah! Melihat caranya melempar dadu, dia sebenarnya seorang ahli, tapi kenyataannya dia kalah. Hal ini membuktikan bahwa dia sengaja mengalah. Tapi, kenapa? Oh, aku mengerti! Tentu karena kedudukanku yang lebih mantap daripadanya!”

Siau Po merasa puas. Akhirnya dia kembali ke dalam ruangan dan duduk di tempatnya semula. Pada saat itu seorang wanita sedang bernyanyi dan banyak penonton yang memuji keindahan suaranya.

Siau Po merasa heran mengapa dirinya sendiri tidak tertarik mendengarkan nyanyian itu? Kemudian bangun kembali.

Melihat gerak-gerik thaykam muda itu, Kong Cin ong tersenyum: “Saudara Kui, apa yang kau pikirkan? Apa kau ingin berjalan-jalan? Pergilah, jangan sungkan-sungkan!”

“Terima kasih,” sahut Siau Po gembira karena Kong Cin ong bisa memahaminya. Kemudian dia pun meninggalkan ruangan tersebut. Ketika melihat orang-orang masih asyik bermain judi, hampir saja dia kepincut kembali. Untung akhirnya dapat mengendalikan diri. Ia terus menuju belakang, masih diingatnya jalan-jalan dalam istana Kong Cin ong itu.

Di mana-mana tampak sinar lilin menerangi. Setiap orang di istana itu yang melihat Siau Po segera memberi hormat. Selagi berjalan, tiba-tiba Siau Po merasa ingin buang air kecil. Dia berjalan ke kiri menuju taman bunga. Disana ada sebuah jendela, dia lalu menolakkan daun jendela dan pergi ke sudut yang gelap. Ketika bermaksud membuka ikat pinggangnya, tiba-tiba dia mendengar suara yang sedang berbicara dengan lirih sekali di balik pepohonan.

“Uangnya dulu nanti baru aku mengantarkan engkau,” kata orang yang pertama.

“Kau antarkan aku dulu!” sahut orang yang satunya. “Setelah mendapatkan barang itu, jangan khawatir uangnya berkurang sepeser pun!”

“Uangnya dulu!” Terdengar orang yang pertama berkata kembali. “Kalau kau sudah mendapatkan barang itu, tapi uangnya tidak kau serahkan, kemana aku harus mencarimu?”

“Baiklah!” sahut orang kedua yang akhirnya mengalah juga. “Nah, ini kau terima dua ribu dulu. sisanya belakangan!”

Siau Po merasa heran. Ribuan tail bukan jumlah yang sedikit. Barang apakah yang demikian berharga? Ditundanya keinginan untuk membuang air, pendengarannya dipertajam untuk mencuri dengar pembicaraan antara kedua orang itu.

“Dua ribu dulu? Tidak!” kata orang yang pertama. “Aku tidak setuju! Kau toh tahu, urusan ini bisa membuat kepalaku pindah rumah. Kau kira main-main?”

Orang yang kedua rupanya merasa terdesak. “Baiklah! Nih, kau terima selaksa tail!” katanya.

“Terima kasih!” sahut orang yang pertama. “Sekarang ikutlah denganku!” Siau Po semakin heran. Perhatiannya menjadi tertarik. Urusan apakah yang dapat membuat kepala pindah?

“Aku akan mengintai mereka!” ia memutuskan dalam hati. Dia pun lalu mengikuti kedua orang itu secara diam-diam. Kedua orang itu menuju ke barat. Mereka berjalan di balik pepohonan. Setelah berjalan kira-kira dua tombak, mereka berhenti. Kemudian duanya celingak-celinguk ke sekelilingnya.

“Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan tentunya mereka mengandung niat tidak baik,” pikir si bocah dalam hatinya. “Kong Cin ong memperlakukan aku dengan baik. Sebaiknya aku mengintil kedua orang ini untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Kalau benar maksudnya memang jahat biar mereka mengenal kehebatan aku, si Kui kong kong!”

Kedua orang itu berjalan lagi. Siau Po tetap mengintil di belakang. Namun sekarang dia sudah mengeluarkan pisau belatinya yang tajam itu. Dengan demikian perasaan takutnya jadi berkurang. Kedua orang itu kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan kecil. Cepat-cepat Siau Po menghampiri jendela. Dilihatnya ada cahaya dari dalamnya. Dengan hati-hati dia mengintai.

Rupanya kamar itu merupakan sebuah Hudtong (tempat memuja sang Buddha). Patungnya terletak di atas meja. Di depannya ada sebuah pelita minyak. Apinya bergerak-gerak karena hembusan angin.

Seseorang yang berdandan seperti pelayan berkata dengan perlahan: “Sudah satu tahun lebih aku mengadakan penelitian, sekarang aku baru tahu tempat penyimanan barang itu. Pokoknya tidak sia-sia kau mengeluarkan uang sebanyak selaksa tail!”

“Oh ya, di mana tempatnya?” tanya seorang lainnya. Punggungnya menghadap Siau Po.

“Sini!” kata orang yang pertama.

Orang yang kedua pun menoleh. Kali ini Siau Po dapat melihat wajah orang itu dengan jelas. Dia merasa heran karena ia mengenalinya sebagai Ci Goan-Kay.

“Sini apa?” Pelayan itu tertawa.

“Ci suhu memang paling bisa berpura-pura! Tentu saja kurangnya yang selaksa tail lagi!”

“Kau sungguh cerdik, sobat!” kata Ci Goan-kay sambil merogoh sakunya untuk mengeluarkan uangnya yang selaksa tail lagi. Kemudian dia menghitung uang itu.

Jantung Siau Po berdebar-debar. Bukan karena jumlah uang yang banyak itu, tapi karena dia insyaf kelihayan Ci Goan-kay. Apabila dia sampai kepergok, pasti celakalah dia. Sudah barang tentu Ci Goan-kay akan curiga padanya dan menduga yang bukan-bukan.

Setelah menerima uang sisanya, pelayan itu tertawa lagi. “Betul!” katanya, kemudian ia berbisik di telinga Ci Goan-kay.

Ci Goan Kay menganggukkan kepalanya berkab kali. Siau Po berusaha menerka, tapi dia tidak tahu apa yang dibisikkan pelayan itu.

Tiba-tiba Goan Kay melompat naik ke atas meja, dia melihat ke belakang namun tangannya terulur ke atas untuk meraba telinga kiri sang patung Buddha. Setelah berhasil meraba sesuatu, Goan Kay mencelat turun kembali. Sekarang tangannya memegang suatu benda kecil. Di bawah cahaya pelita dia memeriksanya dengan teliti. Siau Po tidak mengerti. Dia melihat Ci Go kay menggenggam sebuah kunci emas yang cahayanya berkilauan.

Setelah memeriksa anak kunci itu, Ci Goan Kay lalu menunduk. Dia segera menghitung batu lantai yang melintang jumlahnya ada beberapa puluh sedangkan yang memanjang hanya belasan. Disela kaos kakinya dia mencabut sebilah golok kecil yang kemudian digunakan untuk mencungkil batu tersebut. Setelah berhasil, terdengar dia berseru gembira.

“Itu kan barang asli dan harganya sesuai!” kata si pelayan. “Kau lihat, aku tidak berbohong, kan?”

Goan Kay tidak menjawab. Dia memasukkan anak kuncinya, terdengar suara kelotekan. Tampaknya dia tercengang. “Kenapa tidak bisa dibuka? Apakah kuncinya tidak cocok?’ tanyanya.

“Mana mungkin?” sahut si pelayan. “Ongya sendiri yang membukanya dengan kunci itu dan ternyata bisa. Ketika itu aku mengintip dari jendela. Aku dapat melihatnya dengan jelas!”

Pelayan itu lalu membungkuk dan tangannya menjulur ke depan. Tentu dia merasa tidak percaya dan ingin membuktikannya sendiri. Tampak tangannya menangkap sesuatu.

Tapi, tepat pada saat itu juga, terdengar suara angin berkesiur. Tahu-tahu sebatang anak panah melesat ke atas.

“Aduh!” jerit si pelayan karena anak panah itu tepat menancap di dadanya. Tubuhnya roboh ke be1akang. Tangannya yang memegang tutup besi menyebabkan tutup itu terlepas dan terpental.

Goan Kay terkejut, tetapi dia tabah dan gesit. Ia berhasil menyambar tutup besi itu. Kalau tutup besi itu sampai terjatuh di atas lantai pasti menimbulkan suara berisik. Setelah itu dia berjongkok untuk memeriksa keadaan si pelayan. Dia membekap mulutnya agar jeritannya tidak terdengar orang lain. Kemudian dia menggunakan tangannya yang kosong itu untuk meraba-raba ke dalam lubang batu.

“Rupanya masih ada alat rahasia lainnya.’ Pikirnya Siau Po dalarn hati. Dia terus mengintai. “Sunggut lihay orang she Ci itu….” Ternyata kali ini tidak ada alat rahasia lainnya.

Karena itu Goan Kay lalu memasukkan tangannya sendiri dan menarik keluarsebuah bungkusan. Tangan kanannya mengibas sehingga si pelayan terguling. Dia sendiri langsung bangun. Kaki kanannya menekan mulut si pelayan agar tidak bersuara.

Dengan sedikit memiringkan tubuhnya, Goan Kay meletakkan bungkusaan itu di atas meja. Lalu dia membukanya sehingga isinya terlihat. Rupanya sebuah kitab. Tampak Ci Goan-kay menghembuskan nafas lega.

Kitab itu rupanya Si Cap Ji Cin-keng dan merupakan kitab keempat yang pernah dilihat oleh Siau Po. Persis sama dengan yang pernah didapatkannya dari rumah Go Pay. Bedanya hanya kain suteranya berwarna biru dan ikatannya dari sute merah.

Dengan gesit Goan Kay membungkus lagi kitab itu kemudian memasukkannya ke dalam saku. Setelah itu dia mengangkat kakinya dan menginjak anak panah yang menancap di dada si pelayan sehingga tembus ke dalam. Tanpa sempat bersuara sedikit pun, pelayan itu menghembuskan nafas terakhir.

Siau Po terperanjat melihat apa yang terjadi hadapannya. Sungguh licik sekali orang she Ci itu, dia bekerja tidak kepalang tanggung. Setelah itu ia merogoh saku pelayan itu untuk mengambil uangnya kembali. Sembari tertawa ia berkata: “Sekarang kau sudilah mendapatkan bagianmu!”

Sesaat kemudian dia mencelat keluar.

Siau Po berpikir dengan cepat. “Dia mau kabur! Apakah aku harus berteriak?” pikirnya ragu.

Tepat di saat pikiran si bocah masih bekerja, sesosok bayangan melesat naik ke atas genting. Dia adalah Ci Goan-kay.

Siau Po mengerutkan tubuhnya, jangan sampai dirinya terlihat oleh orang itu. Dia mendengar suara perlahan dari atas genting, tidak lama kemudian suara itu lalu lenyap. Setelah itu tampak Ci Goan kay melompat turun. Kali ini ia berjalan dengan tenang kembali ke ruangan dalam, di mana pertunjukan sedang berlangsung.

“Tidak salah!” pikir Siau Po. “Pasti dia menyembunyikan kitab itu di atas genting. Lain kali kalau kesempatan dia bisa mengambilnya kembali. Tidak semudah yang kau bayangkan, sobat!”

Siau Po menunggu lagi beberapa saat sampai yakin Goan Kay sudah pergi jauh. Setelah itu baru dia keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas naik ke atas genting untuk mencari kitab Dia berusaha keras mengira-ngira di mana Goan Pay menyembunyikannya seperti tadi dia dengar suaranya dari bawah.

Setelah menyingkap belasan potong genting, akhirnya Siau Po berhasil mendapatkan bungkus yang berisi kitab Si Cap Ji Cin-keng tersebut. Dia ambil bungkusan itu dan kemudian merapikan kembali genting-genting yang terbuka. Malam itu cuaca cukup gelap. Keadaan di sekitar hanya reman-remang.

“Mengapa kitab ini demikian berharga sehingga banyak orang yang menginginkannya?” pikirnya dalam hati.

“Mula-mula si kura-kura tua, lalu ibu suri. Ada lagi Go Pay, Kong Cin ong dan sekarang orang she Ci! Kalau aku sekarang tidak mengambilnya, aku pantas disebut orang tolol! Percuma aku she Wi!”

Ia segera membuka bungkusan itu dan lalu memasukkan kitab tersebut ke dalam sakunya. Karena dia mengenakan jubah yang longgar, dari luar tidak kentara kalau dia menyembunyikan sesuatu. Bungkusannya sendiri dilemparkan ke atas pohon lalu cepat-cepat dia kembali ke ruangan besar untuk mengikuti perjamuan yang masih berlangsung.

Pesta masih dilanjutkan. Demikian pula orang-orang yang berjudi, mereka masih asyik dengan permainan itu. Pertunjukan sandiwara juga masih berlangsung dan sang wanita masih bernyanyi terus

“Apakah peran wanita yang menyamar sebagai biarawati itu?” tanya Siau Po kepada So Ngo-tu.

Orang yang ditanya tertawa. “Dalam cerita dikisahkan bahwa biarawati itu merindukan seorang pria. Dia bermaksud melarikan diri ke bawah gunung untuk menikah dengan pria pujaannya. Kau lihat, bukankah wajahnya menyiratkan kalau dia sedang dirundung asmara?”

Berkata sampai di situ,tiba-tiba So Ngo-tu menghentikan kata-katanya. Dia teringat bahwa yang diajaknya berbicara adalah seorang thaykam. Thaykam itu seperti juga sebangsa pendeta yang tidak suka membicarakan soal perempuan.

“Cerita itu tidak menarik. Nanti aku pilihkan sebuah kisah yang bagus untuk kongkong!” katanya kemudian. Mereka berdua telah mengangkat saudara, tapi hal ini masih dirahasiakan. ltulah sebabnya di depan umum mereka tetap saling menyebut dengan formalitas.

Selesai berkata, So Ngo-tu memerintahkan kepada tukang cerita untuk mengganti pertunjukannya dengan kisah ‘Nge Koan Lau’, cerita tentang Liu Cun-houw yang memukul harimau. Setelah selesai, pertunjukan diganti lagi dengan ‘Ciong Hok menikah’. Seru sekali jalan ceritanya di mana kelima pembantu si Raja setan bertempur dengan sengit….

Siau Po bertepuk tangan dan berseru menyatan pujiannya. Setelah itu dia menambahkan: “Aku harus segera kembali ke istana. Maaf kalau aku tidak dapat menonton lebih lama lagi.”

Ketika dia menoleh, dilihatnya Ci Goan-kay sedang bermain teka-teki tangan dengan asyiknya bersama dua orang pengawal. Justru saat itu terdengar Ci Goan-kay bertanya: “Sin Ciau siangjin, di mana orang she Long tadi?”

“Sudah agak lama juga aku tidak melihat, kemungkinan dia sedang keluar…” sahut beberapa pengawal lainnya.

Sin Ciau siangjin lantas tertawa.

“Orang itu tidak tahu kebaikan orang. Mungkin dia malu berada di sini lama-lama,” katanya.

“Betul. Kemungkinan dia sudah menyingkir dari sini. Sikap orang itu mencurigakan dan dia juga dikenal licik, bisa jadi dia mencuri sesuatu…” kata Ci Goan-kay.

“Mungkin saja,” sahut seorang pengawal lainnya.

“Orang she Ci ini sungguh cerdik. Cara kerjanya juga sempurna. Belum apa-apa dia sudah menimpakan kesalahan kepada orang lain. Kalau kitab ketahuan hilang, tentu orang she Long itulah yang akan dicurigai. Apalagi kalau pelayan itu diketemukan sudah jadi mayat. Bisa jadi mereka menduga she Long yang membunuhnya. Cara kerjanya orang Ci ini bagus sekali. Lain kali bila aku ingin melakukan sesuatu, aku harus mencari kambing hitamnya dulu,” pikir Siau Po dalam hati.

Karena malam sudah mulai larut, Siau Po segera memohon diri pada tuan rumah.

Kong Cin ong tahu thaykam cilik ini bisa dikunci dari dalam apabila pulang terlalu malam. Karena itu dia tidak menahannya lagi. Dia hanya tertawa dan mengantarkan Siau Po sampai di depan pintu.

Go Eng-him dan So Ngo-tu serta yang lainnya juga ikut mengantarkan. Ketika Siau Po naik ke atas joli, Yo Ek-ci segera menghampirinya. “Kongkong, tuan muda kami menghadiahkan barang yang tidak berharga ini. Harap kongkong sudi menerimanya.”

Siau Po tertawa. “Terima kasih!” katanya sembari menerima bungkusan itu. “Yo toako, kita baru pertama kali bertemu, tetapi hubungan kita sudah seperti sahabat lama. Senang rasanya aku bergaul denganmu. Kalau aku menghadiahkan uang untukmu, mungkin kau akan merasa terhina. Karena itu, sebaiknya lain kali aku mentraktirmu saja!”

Yo Ek-ci tertawa. Dia senang sekali mendengar ucapan Siau Po “Kongkong sudah menghadiahkan aku seribu enam ratus tail, apakah itu masih belum cukup?”

“Itu kan hadiah dari orang lain, tidak masuk hitungan!” tukas Siau Po dengan cepat.

Tidak lama kemudian joli itu sudah sampai di depan istana. Siau Po segera membuka bungkusan yang diserahkan Yo Ek-ci. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui isinya. Isinya tiga kotak yang berisi air emas. Kotak pertama berisi sebuah ayam-ayaman dari batu kumala hijau. Semuanya terdiri dari sepasang, buatannya halus sekali.

Kotak kedua berisi dua renceng mutiara. Memang mutunya tidak sebagus yang dia tumbuk buat si kuncu cilik, tapi ukurannya sama. Jumlahnya dua ratus butir.

“Aku berbohong pada si kuncu akan membeli mutiara guna meracik obatnya. Siapa sangka Go Eng-him benar-benar menghadiahkan mutiara untukku sehingga dustaku menjadi kenyataan. Tentunya si kuncu jadi percaya karenanya,” pikirnya dalam hati.

Kemudian dia membuka koatak yang ketiga. Ternyata isinya dua puluh lembar cek yang nilainya masing-masing sepuluh tail uang emas. Jumlahnya jadi dua ratus tail uang emas. Sedangkan cek itu keluaran toka emas Ju Liong Seng yang sangat terkenal di kotaraja.

Untung saja pintu istana belum dikunci. Siau Po langsung kembali ke kamarnya. Setelah memalang pintu kamarnya, dia menyulut lilin lalu menyingkap kelambu.

“Tentu kau sudah tidak sabar menunggu kepulanganku,” katanya sambil tertawa. “Dia melihat nona cilik itu masih berbaring tanpa berkutik sedikit pun. Mulutnya masih tersumpal kue yang belum dimakannya. Dia segera mengeluarkan dua renceng mutiaranya yang indah. Sembari tertawa dia berkata kembali: “Kau lihat, aku membelikan kau dua renceng mutiara yang sangat indah. Nanti aku akan menumbuknya untuk dijadikan bedak agar wajahmu sepuluh kali lipat lebih cantik dari sekarang. Kau akan menjadi nona yang tercantik di kolong langit ini! Kalau gagal, aku bukan orang she Kui lagi. Wah, aku sampai lupa. Kau lapar tidak? Kenapa kau tidak makan kue itu? Mari, aku bantu kau agar bisa bangun dan duduk….”

Tiba-tiba kata-kata Siau Po terhenti. Dia mengeluarkan seruan tertahan, sebab mendadak tulang rusuknya terasa seperti kebal dan disusul dengan rasa nyeri di dadanya.

“Aduh!” Dia menjerit saking kagetnya. Kemudian dia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas. Lututnya terkulai dan dia pun roboh ke depan pembaringan. Dia merasa tidak mempunyai tenaga sehingga tidak dapat berkutik sama sekali.

Tiba-tiba terdengar si kuncu tertawa merdu sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuhya. Kemudian dia turun dari tempat tidur dan berkata: “Jalan darahku sudah bebas! Sudah cukup lama ku menantikan kepulanganmu! Kenapa kau baru atang sekarang?”

Siau Po heran. “Siapa yang membebaskan jalan darahmu?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaan si nona.

“Tentu saja bebas sendiri!”sahut si nona cilik. “Setelah kau membebaskan jalan darah gaguku, maka jalan darah yang lainnya juga akan bebas setelah waktunya sampai. Aku tidak membutuhkan pertolonganmu lagi sekarang. Aku akan membantumu naik ke atas tempat tidur agar bisa berbaring dengan enak. Aku sendiri akan meninggalkan tempat ini.”

Siau Po terperanjat setengah mati. “Tidak bisa!” katanya cepat. “Kau belum boleh pergi. Wajahmu belum pulih secara keseluruhannya. Kau masih membutuhkan obat agar dapat sembuh dari lukamu dan bersih kembali seperti sediakala.

Si nona tertawa geli. “Kau memang manusia licin dan busuk!” katanya. “Kau pintar membohongi orang! Kapan kau mengukir wajahku? Tadinya aku memang kaget dan ketakutan mendengar kata-katamu yang ternyata hanya bualan belaka!”

“Eh, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Siau semakin bingung.

“Tadi aku sudah turun dari tempat tidurku dan bercermin,” sahut si nona cilik. “Ternyata di wajahku tidak ada ukiran apa pun….”

Siau Po memperhatikan wajah si nona yamemang sudah tampak putih bersih. Dia merasa menyesal.

“Dasar aku yang teledor,” katanya. “Kenapa aku tidak memeriksa wajahmu terlebih dahulu? Kalau tidak, mana mungkin aku kena ditipu olehmu. Kalau demikian halnya, buat apa aku pergi membeli mutiara yang begitu mahal? Kau lihat, aku sudah menjelajahi seluruh kota untuk mencari barang-barang ini. Selain kalung mutiara, aku juga membeli sepasang barang mainan lainnya!”

Si nona cilik masih kekanak-kanakan, mendegar barang mainan hatinya jadi tertarik. “Barang mainan apa?”

“Kau bebaskan dulu jalan darahku. Nanti aku perlihatkan kepadamu,” sahut Siau Po. Dia memang ditotok oleh si nona sehingga tidak dapat berkutik sama sekali.

“Baik!” sahut si nona cilik yang langsung mengulurkan tangannya. Tapi tiba-tiba dia menghentikan karena sinar matanya bertemu pandang dengan sinar mata Siau Po yang jelalatan sehingga kecurigaannya jadi timbul.

Siau Po tidak mengerti mengapa si nona tidak jadi membebaskan jalan darahnya. Dia memperhatikan gadis cilik itu lekat-lekat.

Si nona tertawa. “Aih! Hampir saja aku kena kau kelabui lagi! Begitu aku membebaskanmu, tentu kau akan melarang aku pergi,” katanya.

“Tidak, tidak akan!” sahut Siau Po. “Kalau orang laki-laki sudah mengeluarkan kata-katanya, entah kuda apa pun tidak bisa mengejarnya!”

“Empat ekor kuda sulit mengejarnya!” kata si nona membetulkan. “Mana ada kuda apa yang tidak bisa mengejarnya?”

“Tapi kuda yang kumaksudkan ini lebih cepat dari keempat kudamu!” kata Siau Po berkeras.

“Kalau kudaku saja tidak dapat mengejar, apalagi empat ekor kudamu itu.”

Si nona tersenyum. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ’kuda apa pun’, karena itu dia hanya menatap Siau Po lekat-lekat kemudian berkata: “Baru kali ini aku mendengar kalimat kuda apapun tidak bisa mengejarnya.”

“Itulah sebabnya aku mengajari kau hari ini.” kata Siau Po yang kecerdikannya luar biasa itu juga nakal sekali dan suka bergurau. “Hari ini aku ingin menyenangkan hatimu. Barang mainan itu indah sekali, terdiri dari sepasang jantan dan betina.”

“Apakah itu sepasang kelinci?” tebak si nona cilik yang semakin penasaran dan tertarik.

Siau Po menggelengkan kepalanya. “Bukan! Tentunya lebih menarik sepuluh kali lipat daripada kelinci!”

“Mungkinkah ikan mas?” tanya si nona lagi semakin ingin tahu.

Sekali lagi Siau Po menggelengkan kepalanya.

“Apa sih?” tanya si nona. Dia bingung sekali. Disebutnya beberapa jenis binatang dan benda, tapi Siau Po tetap menggelengkan kepalan.

“Ayo, keluarkanlah!” kata si nona akhirnya merasa kewalahan. “Barang apa sih sebetulnya yang kau beli?”

“Cepat kau bebaskan dulu diriku,” kata Siau “Setelah bebas, aku akan perlihatkan kepadamu.

“Tidak bisa!” kata si nana cilik sambil menggelengkan kepalanya.

“Sekarang juga aku akan meninggalkan tempat ini. Sudah lama kakakku tidak melihat aku, pasti dia khawatir dan bingung sekali!”

Siau Po menatap gadis cilik itu lekat-lekat. “Kau mengatakan bahwa kau telah bebas, bukan? Kau juga mengatakan akan meninggalkan tempat ini? Nah, mengapa kau tidak pergi dari tadi saja? Mengapa harus menunggu sampai aku pulang?”

“Kau baik sekali terhadapku. Kau ingin membelikan aku barang permata. Karena itu, aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu. Dan aku harus pamitan kepadamu. Kalau aku pergi begitu saja, bukankah aku bisa dikatakan tidak tahu sapan santun dan tidak menghargaimu sama sekali?”

Mendengar ucapan si nana cilik, Siau Po segera berpikir dalam hati.”Ah, dasar nona tolol! Kalau aku mengatakan keluarga Bhak itu keluarga kayu, perkiraanku memang tidak salah. Nama keluarga mereka salah!”

Meskipun dalam hati dia berpikir demikian, namun mulutnya berkata lain: “Kau tahu, aku mencemaskan keadaanmu. Sepanjang jalan aku tidak dapat tenang. Aku terburu nafsu memasuki toko-toko emas intan untuk mencari barang yang aku inginkan. Di beberapa toko, yang aku masuki itu tidak ada. Aku menjadi bingung karena sudah terlalu lama di luaran. Ketika sudah mendapatkannya, aku berlari-lari pulang, sampal aku tersandung jatuh beberapa kali.”

“Oh!” seru si nona cilik. “Kau tentu merasa kesakitan, bukan?”

Siau Po sengaja meringis. “Sekali aku terjatuh sehingga dadaku kebentok kayu,” sahutnya. “Ketika itu aku merasa bukan main sakitnya….”

“Apakah sekarang kau masih merasa saki?” tanya si nona.

Siau Po mengeluarkan suara mirip erangan. “Iya, sekarang aku masih merasa sakit,” desah nya. “Kau menotok jalan darahku dan membuat aku roboh, rasa nyerinya semakin bertambah. Kau.. Ah, aku….” Suaranya semakin perlahan.

Nona cilik itu memperhatikannya. Dia melihat Siau Po seperti benar-benar kesakitan. Tiba-tiba dia melihat sepasang mata bocah itu membelalak ke atas, sehingga yang tampak hanya bagian yang putihnya saja. Kemudian mata itu dipejamkan rapat rapat dan orangnya pun diam saja. Tampaknya bocah cilik itu hampir jatuh pingsan.

Si putri bangsawan itu terkejut sekali melihat keadaan Siau Po. “Eh… kau… kenapa?” tanyanya gugup. “Apakah… kau merasa sakit sekali?”

Dengan suara yang lemah sekali, Siau Po menjawab. “Mungkin a… ku akan ma… ti. Tapi… aku ti.. dak takut. Hanya ada satu hal yang memberatkan hatiku, mem… buat perasaanku tidak tenang….”

“Apa itu?” tanya si nona. “Katakanlah!”

“Tempat ini sangat berbahaya,” kata Siau Po, yang seakan memaksakan dirinya untuk berbicara.

“Kalau aku mati, tidak ada orang yang membantumu. Kau tahu, ada orang-orang yang ingin menahanmu, mereka hendak membunuhmu….”

“Kau tidak akan mati,” kata si nona. “Kau tidurlah, sebentar kau akan sehat kembali. Aku akan pergi sekarang!”

“Tapi… aku sukar ber… nafas…” sahut Siau Po. Suaranya demikian lemah. Tampaknya dia sedih sekali. Nafasnya tertahan. Nona Bhok lantas mengulurkan tangannya ke depan hidung bocah itu. Dia terkejut sekali karena tidak merasakan hembusan nafas.

“Oh!” serunya tertahan. Air matanya langsung menetes keluar.

Diam-diam Siau Po melirik. Dia melihat kejadian si nona dan mendengar isak tangisnya. Dalam hati dia malah menertawakan. “Dasar nona kelas sembilan! Tampaknya dia belum pengalaman sama sekali….”

“Apakah kau pingsan?” tanya si nona. “Kau tidak boleh mati!”

Siau Po menatap si nona dengan sinar mata sayu.

“Kau tidak boleh mati!” seru si nona cilik sekali

“Tapi… kau menotok… jalan da… rah yang salah,” kata si bocah dengan suara lemah.

“Tahukah kau, yang… kau to… tok itu jalan… darah ke matianku?”

Kuncu cilik itu tampak terkejut setengah mati

“Tidak mungkin!” katanya bingung. “Kau tidak mungkin mati! Aku tidak mungkin salah menotok. Ajaran guruku tidak mungkin keliru! Kau, tadi barusan aku menotok kedua jalan darah Leng dan Pou Long, kemudian aku juga menotok jalan darah Thian ti di tubuhmu.”

“Tapi, kau sedang bingung. Pikiranmu sedang ka…lut,” sahut Siau Po. “Karena pikiranmu bingung dan kacau, kau… salah menotok. Aduh! Rasanya da… rahku… bergolak… aduh!”

“Apakah jalan darahmu tersesat?” tanya si noca cemas.

“Ya… ter.. sesat!” sahut Siau Po tersendat-sendat. “Aih! Il… mu menotok… mu be…lum sempurna. Kenapa kau… sembarangan me… notok. Kau bukan menotok… jalan darah Thian ti dan long, tapi ja… lan darah kematianku yang totok!”

Sebetulnya Siau Po tidak tahu nama-nama, darah, dia hanya meniru kata-kata si nona cilik Untungnya si nona cilik juga belum begitu paham semua jalan darah. Jumlahnya memang banyak kali sehingga timbul kesangsian dalam hati si nona cilik bahwa ada kemungkinan memang dia salah menotok.

“Aih!” serunya kemudian. “Mungkinkah aku telah menotok jalan darah Tan tiong?”

“Iya, tidak salah lagi!” kata Siau Po cepat. “Tapi… kuncu… sudahlah. Kau tidak perlu khawatir ..atau menyesal. Aku tidak menyalahkan engkau. Aku tahu kau tidak sengaja menotokku. Niatmu baik. Kalau aku sudah mati nanti, dan ditanyakan oleh penjaga Akherat, aku tidak akan mengatakan bahwa kau yang menotokku sampai mati. Aku akan mengatakan bahwa aku menotok diriku sendiri!”

Kuncu cilik itu tercekat hatinya ketika mendengar Siau Po menyebut-nyebut penjaga akherat, di samping itu dia juga agak lega mendengar bocah itu berjanji tidak akan menyeret-nyeret dirinya.’

“Begini saja,” kata si nona cepat. “Nanti aku akan menotokmu lagi untuk membebaskanmu. Aku harap akan berhasil….”

Benar saja, nona bangsawan itu segera merababa dada Siau Po kemudian menotok beberapa kali. Juga bagian iga dan bawah ketiaknya.

Siau Po merintih. “Aih, jalan darahku sudah tertotok. Pasti jiwaku tidak bisa tertolong lagi,” katanya.

“Belum tentu,” sahut si nona. “Aku menyesal telah salah menotokmu.”

“Aku tidak menyalahkan engkau. Aku tahu kau baik hati. Kalau aku sudah mati nanti, dari alam baka aku akan melindungimu. Dari pagi sampai malam, arwahku akan selalu mengikutimu. Aku bisa mencegah apabila ada orang yang akan mencelakaimu!”

Si nona semakin tercekat hatinya, dia jadi bingung sekali.

“Apa katamu?” tanyanya menegaskan. “Arwahmu akan mengikutiku terus?”

“Jangan takut, kuncu,” kata Siau Po. “Arwahku tidak akan mengganggumu. Hanya ada satu hal yang harus kau ketahui, siapa yang membunuhmu, setanku akan terus mengikutinya.”

Si nona masih bingung. “Sesungguhnya aku tidak berniat mencelakaimu….”

Siau Po menarik nafas panjang. “Kuncu, sebenarnya siapakah namamu?” tanyanya kemudian.

“Untuk apa kau menanyakan namaku?” tanya nona cilik dengan menatap tajam pada Siau Po “Apakah kau ingin menuntutku di akherat nanti. Tidak! Aku tidak akan memberitahukan namaku kepadamu!”

“Kalau aku tahu siapa namamu, di akherat nanti aku bisa memberikan keterangan,” sahut Siau Po. “Di sana aku akan memohon para iblis untuk melindungimu! Di sana ada setan-setan yang mati gantung diri! Ada setan yang tadinya pendeta, juga ada setan tanpa kepala! Akan kusuruh mereka mengiringi kau setiap waktu!”

Si nona jadi ketakutan mendengar kata-katanya. “Tidak! Tidak!” serunya. “Aku tidak sudi diikuti mereka!”

“Habis bagaimana?” tanya Siau Po. “Bagaimana kalau yang mengikutimu hanya satu setan saja?”

Nona cilik itu bimbang beberapa saat. “Kau… kau…” katanya kemudian. “Kalau kau yang mengikutiku, asal kau berjanji tidak akan membuat aku kaget….”

“Sudah pasti aku tidak akan membuat kau kaget,” janji Siau Po. “Siang hari di saat kau duduk-duduk, aku akan menemanimu mengusir lalat. Di alam hari kalau kau sedang tidur, aku akan menemanimu membasmi nyamuk yang nakal. Kalau kau sedang kesal atau berduka, arwahku akan mengirimkan mimpi tentang dongeng yang menarik agar hatimu terhibur.”

“Mengapa kau memperlakukan aku begini baik?” tanya si nona sambil menarik nafas panjang. “Kalau demikian, lebih baik kau jangan mati….”

“Dalam satu hal kau telah berjanji padaku…” kata Siau Po. “Kalau kau tidak menepatinya, bukankah aku bakal mati dengan mata melek?”

“Apa itu?” tanya si nona cilik. “Apa yang telah kujanjikan kepadamu.”

“Kau pernah berjanji akan memanggil aku kakak yang baik sebanyak tiga kali,” sahut si bocah.

“Tapi kau baru memanggilnya satu kali. Kalau di saat sebelum menutup mata kau memanggilku lagi, barulah aku dapat mati dengan tenang.”

Puteri ini hidup di Propinsi Inlam dan leluhurnya turun temurun merupakan raja muda. Begitu pula ayah bundanya, saudara-saudaranya semua memperlakukannya dengan baik sekali. Dia sangat disayangi. Meskipun belakangan negara runtuh dan keluarganya ikut tertimpa musibah, keagungannya tetap tidak berubah. Semua Ke Ciang, pengawal maupun sekalian budak-budaknya tetap memperlakukannya sebagai keluarga bangsawan. Selama hidupnya, belum pernah ada orang yang berani mendustainya atau menggertaknya dengan kata-kata yang tidak benar. Itulah sebabnya ketika mendengar ucapan Siau Po, dia percaya sepenuhnya.

Padahal ketika berbicara, dia melihat sinar mata bocah yang mengandung kelicikan, tetapi pada dasarnya hati si nona cilik ini memang masih polos dan belum mengerti apa arti keculasan, atau tepatnya dia sendiri masih hijau, dia jadi tidak mengambil hati. Namun akhirnya dia tersadar juga.

“Kau sedang berbohong!” katanya. “Kau tidak bakalan mati!”

Siau Po pun tertawa. “Andaikata benar aku tidak mati sekarang, lewat beberapa hari lagi aku akan mati juga sahutnya.

“Lewat beberapa hari nanti juga kau tidak akan mati!” kata si nona tegas. Siau Po kembali tertawa.

“Seandainya lewat beberapa hari aku tidak mati, tapi lama kelamaan aku toh akan mati juga.” kata Siau Po berkeras. “Kalau kau tetap tidak sudi memanggil aku kakak yang baik, kalau aku sudah mati nanti, setiap hari arwahku akan memanggilmu… adik yang ba… ik… a… dik yang ba… ik….”

Sengaja Siau Po membuat ucapannya menjadi panjang dan menyeramkan, nadanya seperti ratapan sehingga si nona menjadi ketakutan dan tubuhnya gemetar. Siau Po malah sengaja menjulurkan lidahnya keluar seperti mayat yang mati menggantung diri.

“Oh!” jerit si nona yang langsung hendak lari keluar kamar.

Siau Po sempat menyusul. Sebelah tangannya menjambret pinggang gadis cilik itu dan kemudian merangkulnya, sedangkan sebelah tangannya yang lain digunakan untuk memalang pintu.

“Kau tidak boleh keluar!” kata Siau Po. “Di luar banyak setan jahat!”

“Lepaskan aku!” teriak si nona. “Aku mau pulang!”

“Kau tidak boleh keluar!” kata Siau Po ngotot.

Kuncu itu marah sekali. Dia menghajar tangan Siau Po yang merangkulnya. Tapi, bocah itu menangkis sekaligus mencekal tangan nona cilik itu.

Kuncu tersebut semakin gusar. Dia menggunakan tang an yang satunya lagi untuk menghajar kepala bocah itu. Namun Siau Po dapat menghindarkan diri dengan merendahkan tubuhnya. Tangannya yang sebelah digunakan untuk merangkul paha gadis cilik itu, sehingga si kuncu tidak dapat menggerakkan kakinya.

Kuncu itu penasaran, dia menyerang kembali. Kali ini Siau Po tidak sempat mengelak, bahunya terhajar tapi dia dapat menahan rasa sakitnya. Ditariknya kaki si nona cilik yang dirangkulnya sehingga si kuncu terjatuh, kemudian dia menerjang dengan maksud hendak menindihnya.

Kuncu itu mengadakan perlawanan. Dia mengirimkan sebuah tendangan dengan gerakan Wan yo Tui mengarah muka orang. Untuk itu, si bocah memiringkan wajahnya sedikit dan di samping dia masih mencekal tangan si nona keras-keras.

Sebenarnya dalam hal ilmu silat, si kuncu masih menang jauh daripada Siau Po. Kalau sekarang tidak berdaya, hal ini karena Siau Po mengajaknya bergumul, dengan tanpa memperdulikan tata krama. Apalagi tangannya sudah kena dicekal.

Bocah itu malah tertawa dan berkata. “Nah, kau menyerah tidak?”

“Tidak!” sahut si nona berkeras.

Siau Po mengangkat kaki kirinya. Dengan dekulnya dia menekan punggung nona cilik itu. “Menyerah tidak?” bentaknya.

“Tidak!” sahut si nona ketus. Dia mendongkol sekali. Seumur hidupnya belum pernah dia diperlakukan orang sedemikian rupa. Biasanya dia justru dimanjakan sekali.

Siau Po menambah tenaganya. Dia menarik tangan gadis cilik itu keras-keras.

“Aduh!”.jerit si nona.. Mau tidak mau air matanya mengalir karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Selama Siau Po bertatih gulat dengan kaisar Kong Hi, helum pernah ada satu pihakpun yang menjerit kesakitan, apalagi menangis. Biasanya kalau salah satunya sudah bertetiak: ‘Menyerah tidak?’ asal yang lainnya menyerah, pergulatan pun selesai. Apabila masih ingin dilanjutkan, perkelahian pun dimulai lagi dari awal. Siapa sangka si kuncu cilik ini malah menangis saking sakitnya.

“‘Hah!! Budak tidak ada gunanya!” kata Siau Po sambil tertawa. Dia pun lalu. melepaskan cekalannya.

Kuncu itu bergerak bangun, tiba-tiba tangan kirinya melayang ke depan.

Hal ini tidak disangka-sangka oleh si bocah. Tinju itu sempat mampir juga di hidungnya, sedangkan tangan sia nona yang satunya lagi telah meluncur dengan jurus ’Sepasang walet terbang’ Bahu kanannya sudah terhajar, sekarang bahu kirinya terkena hantaman pula.

Bocah itu jadi jatuh terduduk. Dengan demikian Kuncu itu pun segera lari ke pintu. Dia bermaksud menyingkirkan kayu palangnya dan kemudian keluar.

Dengan menahan rasa sakilnya, Siau Po melompat mengejar. Disambarnya nona cilik itu kemudian dirangkulnya Iehernya. Si nona cilik itu pun menggerakkan kedua sikutnya untuk menghajar dada si bocah. Sekali lagi Siau Po kena batunya.

Untung saja tenaga si nona sudah jauh berkurang sehingga akibatnya lidak begitu hebat.
Siau Po sadar, seandainya si nona berhasil lolos dari kamarnya, mereta berdua akan tertimpa bencana. Karena itu dengan menahan rasa sakit, di terus merangkul. Sedangkan si nona tidak henti-hentinya meronta.

Satu kali si kuncu berhasil memuntir batang leher Siau Po sehingga wajah mereka berbadapan. Tapi dia menjadi terkejut sekali begitu melihat wajah si bocah berlumuran darah.

“Eh, kenapa kau?” tanyanya kaget. “Kau berdarah”

Sebetulnya tinju Ii nona yang mampir di hidung Siau Po yang menyebabkan darah mengalir. Namun Siau Po tidak sempat memperdulikannya. Lukanya tidak berarti, rasa sakitnya pun sudah hilang. Hanya darahnya saja yang masih menlucur terus, meskipun tidak terlalu banyak.

“Kau tidak boleh pergi dari sini!” kata Siau Po yang tidak memperdulikan pertanyaan itu.

“Lekal lepaskan aku'” teriak si nona.

“Tidak!” sahut Siau Po, yang tetap merangkul erat-erat.

Si nona mulai kebingungan melihat darah dari hidung Siau Po yang terus mengalir.

“Apakah kau merasa sakit?” tanyanya kemudian.

“Aku merasa kesakitan, malah sudah hampir mati” sahut si bocah yang masih tidak lupa bergurau.

“Biarlah kali ini kau hajar aku sampai mampus sekalian!”

Bocah ini memang cerdik. Dia mencekal kedua tangan si nona sehingga tidak dapat digerakkan untuk menotoknya.

“Kau tidak akan mati!” kata si nona. “Meskipun hidungmu terhajar dan mengeluarkan darah, kau tetap tidak akan mati!”

“Darahku masih belum berhenti mengucur. Kau nanti sudah berhenti, aku pasti akan mati. Biar sudah menjadi mayat, aku akan memelukmu terus. Apapun yang kau katakan, pokoknya aku tidak mau melepaskan!”

“Biarkan aku mengambil kapas untuk menyumbat hidungmu. Dengan demikian darahnya tidak akan mengalir terus: kata si nona kemudian.

“Biarkan saja. Aku lebih suka darahku mengalir terus, semakin deras dan semakin banyak, semakin baik. Biar aku cepat menjadi mayat!”

Si kuncu cilik jadi kewalahan.

“Kau tidak boleh mati,” katanya kemudian. “Aku minta jangan kau menjadi mayat!”.

“Aku tidak akan mati kalau kau berjanji tidak akan pergi dari sini!” kata’Siau Po

“Baik, aku tidak akan pergi!” sahut si nona. Namun dalam hatinya dia berpikir: “Kau tidak akan mati!’

“Asal kau melangkah keluar dari pintu kamar aku akan bunuh diri!” kata Siau Po mengancam. Kemudian dia mengendorkan dekalannya pada tangansi nona sehingga dapat bergerak bebas.

Si kuncu cilik menarik nafas 1ega. “Kau berharinglah dulu, nanti aku bantu kau menghentikan darah yang mengalir dari hidungmu. Pernah satu kali aku tersandung dan hidungku juga berdarah, tapi aku toh tidak mati.”

Selesai berkata, si nona cilik itu segera memegang tangan Siau Po dengan maksud memayangnya. Siau Po pura-pura limbung sehingga tubuhnya menabrak dan saling menempel dengan si kuncu. Tapi si nona cukup sigap, dia berhasil memegangi tubuh si Siau Po dan membawanya ke atas pembaringan. Setelah itu dia lalu mengambil sehelai sapu tangan yang kemudian dicelupkan ke air yang digunakannya untruk menompres dahi si bocah. Di samping itu, dia menggunakan sapu tangan lainnya untuk mengusut darah si hidung Siau Po. Dia bekerja dengan hati-hati namun cekatan.

“Kau berbaringlah dan istirahat sebentra” kata si nona; “Darah di hidungmu akan berhentimengalir. Barusan aku telah menghajarmu. Aku merasa menyesal. Sekarang aku benar-benar akan pergi. Jangan kau menghalang-halangiku lagi. Kalau tidak aku akan memukulmu lagi!”

“Aduh!” tiba-tiba Siau Po menjerit. “Bagian belakang telingaku sakit!”

Si nona terkejut setengah mati. Dia menolehkan kepalanya dan membatalkan niatnya keluar. Segera dia menghampiri Siau Po.

Begitu si nona mendekat, mendadak Siau Po menyambar pinggang gadis itu sambil mengerahkan ternaganya. Si nona cilik terkejut. Dia meronta-ronta namun tidak bertenaga. Rangkulan Siau Po kali ini menggunakan jurus Tenglo Si atau lilitan rotan yang membuat orang tidak bisa mengerahkan ternaganya.

Ketika si kuncu masih berusaha memberontak, tiba-tiba terdengar suara di jendela.

“Diam!” bisik Siau Po. “Ada setan!”

Kuncu itu tercekat hatinya. Dia segera diam. Gagallah usahanya untuk meronta lebih jauh. Sedangkan tadinya dia berniat menghajar wajah si bocah untuk membuatnya kesakitan sehingga rangkulannya terlepas.

Kembali terdengar suara di jendela yang seakan ada seseorang sedang mendorongnya. Siau Po tereranjat. Sejak Hay kongkong sakit, jendela itu sudah dipantek dengan paku dan terus dibiarkan dalam keadaan demikian saja. Hal ini untuk mencegah apabila ada orang yang hendak mengintai.

Tapi sekarang untuk pertama kali ada orang yang berusaha membongkarnya.

“Benar-benar setan?” tanya Siau Po seakan pada dirinya sendiri.

Kuncu tadi semakin ketakutan. Dia yang tadinya berdiri di sisi tempat lidur segera naik ke atasnya. Kepalanya menyusup ke dalam selimut dan bersandar di dada si bocah cilik. Tubuhnya gemetar

“Siau Kui cu… Siau Kui cu….” Terdengar panggilan dari luar jendela. Suara seorang wanita.

“Ah! Setan perempuan!” kata Siau Po.

Kuncu tersebut semakin takut. Dia merangkul si thaykam gadungan erat-erat. Tiba-tiba terasa angin berhembus, lilin dalam kamar jadi padam. Tahu-tahu di dalam kamar telah bertambah seseorang yang suaranya terdengar kembali.

“Siau Kui cu…. Siau Kui cu… Giam Lo ong (raja akherat) lelah memanggilmu! Katanya Giam Lo ong, kau telah menganiaya Hay kongkong sampai mati..”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: