Kumpulan Cerita Silat

04/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:49 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 02: Orang Mati Tidak Berdusta
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Tanggal 13 September, baru saja lewat tengah hari. Setelah Lu Xiao Feng berjalan turun dari Paviliun Musim Semi Timur, ia mulai melangkah dengan cepat menelusuri jalan raya. Matahari telah naik.

Ia merasa kota ini benar-benar indah, jalan-jalannya lebar dan rata, gedung-gedungnya pun terpelihara rapi dan bersih, setiap emperan toko terlihat lebih bersih dan indah daripada yang ditemukan di kota-kota lain.

Tapi ia juga tahu bahwa hal yang paling indah pada kota ini bukanlah jalan-jalannya yang sibuk atau arsitektur gedungnya yang indah, juga bukan pemandangan dan tempat-tempat wisatanya yang terkenal ke seluruh dunia, tapi orang-orangnya. Tak perduli kau berasal dari mana, tak perduli ke mana pun kau pergi, sekali kau berkunjung ke kota ini, kau tak akan pernah melupakannya.

Lewat tengah hari, angin pun mulai bertiup. Saat angin bertiup, udara akan dipenuhi debu. Tapi tidak ada badai debu di dunia ini, tak perduli betapa pun besarnya, yang bisa menutupi keindahan kota ini. Walaupun Lu Xiao Feng sedang berjalan dengan langkah-langkah kaki yang cepat, sesungguhnya ia tidak memiliki tujuan yang pasti di dalam benaknya.

Di antara orang-orang yang ingin dilihatnya, tak terlihat satu orang pun, tapi di antara orang-orang yang tidak ingin dilihatnya, ia melihat beberapa. Yang pertama ia lihat adalah Ou Yang Qing.

Ou Yang Qing sedang mondar-mandir di luar sebuah toko perhiasan, berdiri di dekat seorang nyonya berpakaian indah dengan kepala yang penuh dengan mutiara.

Wanita itu mungkin amat cantik, tapi Lu Xiao Feng tidak berani melirik lagi. Setelah melihat Ou Yang Qing, ia pun memalingkan kepalanya ke arah lain. Ia teringat kembali pada Xue Bing. Ou Yang jelas telah melihatnya juga, tapi pura-pura tidak. Tiba-tiba, ia mencengkeram tangan nyonya tadi dan naik ke atas sebuah kereta kuda berwarna hitam pekat.

Setelah kereta itu menghilang dari pandangan, barulah Lu Xiao Feng memalingkan kepalanya dan menatap dengan kaku pada debu yang ditinggalkan oleh kereta itu, ia sendiri tidak yakin bagaimana perasaannya saat itu.

Di sisi lain jalan raya, beberapa orang sedang melambai-lambaikan tangan padanya, tapi pada jarak beberapa langkah darinya telah berdiri seorang pemuda yang sedang menatapnya, dengan tangan meraba pedang.

Ia mengenali orang-orang itu, di antara mereka ada dua orang ketua perusahaan ekspedisi dari wilayah Sichuan dan Hunan, seorang murid Wudang, dan seorang ketua gerombolan penjahat dari sekitar Sichuan. Tapi ia tidak mengenal pemuda yang sedang menatapnya itu.

Tatapan itu pun amat sengit, dan ditambah lagi dengan ekspresi wajah yang sedang mencari gara-gara. Tapi Lu Xiao Feng tidak ingin mencari masalah, maka ia hanya mengangguk pelan ke arah orang-orang itu sebelum berputar dengan cepat dan berjalan ke arah timur.

Tiba-tiba, sebuah tangan tampak terulur keluar dari sebuah toko barang antik di pinggir jalan dan menepuk pundaknya.

“Kau di sini! Aku tahu kau akan datang!”

Seorang tosu tua dengan kepala penuh dengan rambut putih keperakan dan jubah penuh tambalan berjalan keluar dari toko itu, sambil tertawa; di belakangnya ada seorang laki-laki tua yang kurus tetapi tampak sehat dengan pakaian yang bersih dan rapi. Mereka tak lain adalah Tosu Kayu dan Pertapa Cemara Kuno.

Yang bisa dilakukan Lu Xiao Feng adalah membalas senyuman itu.

“Aku tahu kalian juga akan datang!”

Tosu Kayu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Walaupun usianya sudah lanjut, wajahnya masih terlihat merah penuh energi dan masih memperlihatkan tanda-tanda kenakalan. Sangat sedikit orang yang bisa menduga bahwa ia tak lain adalah salah seorang di antara tiga jago pedang yang paling dikagumi di dunia ini.

“Aku tak boleh ketinggalan duel ini!” Ia menepuk pundak Lu Xiao Feng lagi dan tersenyum.

“Bahkan, bila aku sudah terlalu tua untuk berjalan ke sini, aku akan datang merangkak!”

“Apakah itu karena kau ingin melihat di mana kelemahan dalam teknik mereka sehingga nantinya kau bisa menantang mereka?” Lu Xiao Feng bertanya terus terang.

Tosu Kayu tidak membantah, ia malah menarik nafas.

“Aku sudah tua, ikut dalam duel pedang atau adu minum tidak lagi menarik bagiku. Tapi aku masih tetap bersemangat untuk bertanding catur dengan siapa saja yang ingin menantangku!”

“Sebenarnya, kami sedang mencarimu!” Pertapa Cemara Kuno tiba-tiba berucap.

“Aku” Untuk apa?”

“Kami telah mengatur sebuah pertemuan dengan seseorang sore ini dan kami ingin mengajakmu juga!” Pertapa Cemara Kuno menjawab.

“Apa hubunganku dengan pertemuan itu?”

“Karena kau pun tentu ingin bertemu dengan orang ini!” Tosu Kayu menjawab sebelum Pertapa Cemara Kuno sempat menyahut. Senyuman di wajahnya tampak amat misterius.

“Siapa orang ini?” Lu Xiao Feng terpaksa bertanya.

Senyuman di wajah Tosu Kayu malah terlihat semakin misterius.

“Jika kau benar-benar ingin tahu siapa orang ini, mengapa kau tidak ikut ke pertemuan itu?”

Tentu saja Lu Xiao Feng ikut. Ia selalu tidak tahan terhadap godaan, apalagi ia selalu memiliki perasaan ingin tahu yang tak ada tandingannya.

————-

Lokasi pertemuan itu amat aneh. Tempat itu sebenarnya merupakan sebuah tempat pembakaran batu bara di luar kota. Semua debu yang menutupi tempat pembakaran batu bara itu tampak seperti gundukan-gundukan kuburan.

“Begitu banyak tempat yang indah di dalam kota, mengapa kalian memilih tempat ini untuk pertemuan itu?” Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

“Karena kita akan bertemu orang yang aneh!” Pertapa Cemara Kuno menjawab.

“Sejujurnya, kita akan bertemu tiga orang aneh. Yang satunya tidak pernah sehari pun melakukan pekerjaan yang jujur dalam hidupnya, dan yang dua lagi adalah orang-orang tua yang bahkan lebih aneh dariku!” Tosu Kayu menjelaskan.

“Tapi dua orang tua ini bukanlah orang tua biasa, menurut kabar angin tidak ada yang tidak mereka ketahui dan tidak ada masalah yang tidak bisa mereka selesaikan.” Pertapa Cemara Kuno menambahkan.

Tosu Kayu melirik Lu Xiao Feng.

“Aku yakin sekarang kau telah bisa membayangkan dengan siapa kami mengatur pertemuan di sini!” Ia tersenyum.

Tentu saja Lu Xiao Feng tahu. Saat itulah, seorang laki-laki pendek dan kurus dengan kepala yang besar terlihat mendekat dengan lambat di atas seekor keledai. Jaraknya masih belum begitu dekat, tapi bau alkohol telah santer tercium. Orang ini tampaknya selalu mabuk seumur hidupnya. Lu Xiao Feng tertawa. Setiap kali bertemu dengan si Untung Besar Anak Kura-kura, ia tak tahan untuk tidak tertawa kecil.

“Tampaknya kali ini Tuan tidak harus dibebaskan dari hutang dengan uang jaminan oleh orang lain! Benar-benar peristiwa yang langka!”

Si Untung Besar Sun meliriknya dan dengan kesal memutar-mutar matanya.

“Kau di sini juga”

“Aku…”

“Kau sudah lama tahu kalau aku pun akan datang, kan?” Lu Xiao Feng memotongnya sambil tertawa.

Si Untung Besar Sun menarik nafas dan bergumam: “Orang-orang yang seharusnya tidak ada di sini, semuanya ada di sini. Tapi yang seharusnya ada di sini, malah tidak”.”

Ia mengangkat sebelah kakinya ke atas punggung keledai dan melompat turun. Tapi kakinya lemah dan ia pun terhuyung-huyung, hampir saja ia terjatuh di atas tanah.

Bahkan Tosu Kayu pun tidak bisa menahan tawanya.

“Jujurlah, pernahkah kau tidak mabuk satu hari saja di dalam hidupmu?”

“Tidak!” Jawaban si Untung Besar Sun pun tidak begitu mengejutkan, apa adanya.

“Ada satu hal yang baik pada orang ini,” Tosu Kayu bergurau.

“Kadang-kadang ia bahkan lebih jujur daripada Hwesio Jujur!”

“Jalan ke kampung arak selalu datar, tempat lain tidak bisa menandinginya?”

Sebagai jawabannya, si Untung Besar Sun bergumam. “Dalam arak, nirwana pun terlihat besar, hari terasa panjang, mengapa aku tidak ingin mabuk?”

“Kau benar-benar orang yang sangat beruntung, lebih beruntung daripada kami semua!” Tosu Kayu tertawa dan menjawab.

“Karena aku memang lebih cerdas daripada kalian!”

“Oh?”

“Setidaknya aku tak akan menghabiskan uang 50 tail perak untuk mengajukan pertanyaan yang seharusnya tidak pernah ditanyakan!”

“Di manakah si Cerdik dan si Segala Tahu?” Pertapa Cemara Kuno bertanya dengan wajah yang kaku, ia tidak suka tertawa terlalu banyak.

“Karena aku telah mengatur pertemuan dengan kalian di sini, tentu saja mereka ada di sini juga!” si Untung Besar Sun menjawab.

“Di mana?”

“Di sana!” si Untung Besar Sun menunjuk sebuah lubang tempat pembakaran batu bara yang ada di depannya.

“Apa yang mereka lakukan di sana?” Pertapa Cemara Kuno mengerutkan keningnya.

Si Untung Besar Sun memutar-mutar matanya.

“Mengapa kau sendiri menanyakan mereka?”

“Dan pertanyaan itu bernilai 50 tail perak?” Lu Xiao Feng bertanya, sambil berusaha keras untuk menahan tawanya.

“Tentu saja! Pertanyaan apa pun, setiap pertanyaan, 50 tail perak, dan juga”.”

“Dan peraturan lama juga masih berlaku, kami hanya boleh menunggu di luar dan tidak boleh masuk!” Lu Xiao Feng menyelesaikan ucapannya.

“Tampaknya ada juga sedikit kecerdasan pada diri kalian!” Si Untung Besar Sun menarik nafas.

Lubang tempat pembakaran batu bara itu berukuran kecil dan gelap gulita, bahkan orang sekecil si Untung Besar Sun pun harus membungkuk-bungkuk untuk bisa masuk ke dalamnya. Semula Lu Xiao Feng merasa khawatir karena kepala orang itu lebih besar daripada lubangnya. Tapi akhirnya ia berhasil merangkak masuk, terlihat seperti sesosok mayat yang merayap masuk ke dalam kuburnya sendiri, sangat lucu dan sekaligus menakutkan.

Setelah hening sebentar, ia berseru dari dalam: “Mulailah!”

Yang pertama bertanya adalah Tosu Kayu, jelas dialah orang yang mengatur pertemuan ini. Tapi sebelum ia bertanya pun Lu Xiao Feng sudah tahu apa yang hendak ia tanyakan.

“Duel tanggal 15 September antara Xi Men Chui Xue dan Ye Gu Cheng, siapa yang akan menang menurutmu?”

Itu adalah pertanyaan yang ada di dalam benak setiap orang dan tidak sedikit orang yang mau membayar 50 kali lipat dari 50 tail perak untuk mengetahui jawabannya.

“Kau ingin mendapatkan jawabannya hanya dengan 50 tail perak”

“Terlalu murah, ya?” Orang yang menjawab adalah si Cerdik, Lu Xiao Feng pernah mendengar suaranya.

“Tak apa, aku akan memberitahumu!” Ia meneruskan. “Tidak ada yang menang!”

“Mengapa?” Itulah pertanyaan kedua, Tosu Kayu kembali melemparkan 50 tail perak.

“Pepatah kuno mengatakan bahwa bila dua ekor harimau bertarung, yang satunya pasti kalah, tapi itu keliru.” Si Cerdik terus menjawab. “Yang lebih sering terjadi sebagai hasil pertarungan antara dua harimau adalah kedua-duanya terluka. Pemenang sesungguhnya adalah pemburu yang menonton di pinggir.”

Sambil mendengarkan dalam bisu, mata Lu Xiao Feng tampak bersinar-sinar tanda setuju. Si “Cerdik” ini benar-benar “orang yang cerdik”, hanya orang yang benar-benar cerdas yang faham bahwa menjawab pertanyaan itu haruslah dengan cara yang cerdas juga.

“Apakah Xi Men Chui Xue sudah tiba di ibukota sini?” Tosu Kayu bertanya lagi.

“Sudah.”

“Di mana dia berada?”

“Di sebuah tempat yang amat sulit untuk ditemukan, karena ia tidak ingin bertemu siapa pun juga sebelum tanggal 15 September.”

Kembali sebuah jawaban yang amat cerdik, tapi tidak seorang pun bisa mengatakan bahwa jawaban itu keliru. Tosu Kayu menarik nafas, tampaknya ia merasa bahwa uang 200 tail perak itu telah hilang secara agak sia-sia.

“Apakah Ye Gu Cheng benar-benar terluka oleh Pasir Beracun Keluarga Tang?” Kali ini Pertapa Cemara Kuno yang mengajukan pertanyaan.

“Ya.”

“Selain obat penawar Keluarga Tang, apakah ada cara lain untuk melawan racun itu?”

“Ya.” Kali ini si Segala Tahu yang menjawab. Ia tahu seluk-beluk semua senjata atau senjata rahasia di dunia ini.

Pertapa Cemara Kuno pun menarik nafas, seakan-akan ia merasa berbahagia untuk Ye Gu Cheng. Tapi Lu Xiao Feng tahu bahwa ia bukanlah sahabat Ye Gu Cheng, Ye Gu Cheng tidak memiliki begitu banyak teman.

“Mengapa kalian berdua tidak pernah mau bertemu siapa pun?” Tosu Kayu tiba-tiba bertanya.

“Karena tidak ada orang di dunia ini yang berharga untuk ditemui!”

Tosu Kayu tertawa jengkel, uang 50 tail perak yang terakhir itu pun kembali terbuang dengan percuma. Ia berpaling pada Lu Xiao Feng: “Ada yang ingin kau tanyakan?”

Lu Xiao Feng sebenarnya tidak memiliki pertanyaan apa-apa yang tidak bisa ia jelaskan sendiri, tapi melihat Ou Yang Qing berada di kota itu, tiba-tiba ia teringat pada beberapa kejadian aneh. Semoga si Cerdik bisa menjelaskan semua ini padanya.

“Apakah Ou Yang Qing benar-benar masih perawan?” Ini sebuah pertanyaan yang amat aneh. Seumur hidupnya Tosu Kayu tidak pernah membayangkan kalau dia akan mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Ya!” Jawabannya datang dari dalam lubang pembakaran batu bara itu, tapi setelah hening beberapa lama.

“Apakah Hwesio Jujur benar-benar jujur?”

“Ya.”

Sebuah mimik muka yang bingung terlihat di wajah Lu Xiao Feng.

“Apa pekerjaannya sebelum ia menjadi seorang hwesio? Apa namanya sebelumnya? Dari mana ia berasal?”

“Tidak ada yang tahu dari mana dia berasal!” Ini hampir bukan sebuah jawaban lagi. Sebuah senyuman jengkel pun muncul di wajah Lu Xiao Feng.

Walaupun ia telah cukup banyak menghabiskan uang, ia masih punya beberapa pertanyaan lagi: “Kau tahu siapa orang yang bersama Du Tong Xuan?”

“Dia adalah…” Jawaban si Segala Tahu tiba-tiba terpotong oleh sebuah suara seruling yang amat aneh. Syukurlah, walaupun nadanya amat tinggi dan menusuk, bunyi itu pun amat singkat, hanya sejenak, dan kemudian menghilang.

“Siapakah orang berbaju hitam yang datang bersama Du Tong Xuan itu?” Lu Xiao Feng kembali bertanya. Tidak ada jawaban. Ia menunggu beberapa lama dan kemudian bertanya lagi. Masih tidak ada jawaban. Mengambil uang perak tapi tidak menjawab, inilah pertama kalinya hal itu terjadi.

Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya dan baru saja hendak bertanya lagi sebelum, tiba-tiba seekor ular kecil berwarna merah darah tampak melesat keluar seperti sebatang anak panah dari lubang tempat pembakaran batu bara itu, langsung masuk ke dalam semak-semak dan menghilang. Walaupun ular itu berukuran kecil, gerakannya cepat seperti kilat dan arah yang ia tuju pun tepat sama dengan asal suara seruling tadi.

Ekspresi wajah Lu Xiao Feng pun berubah secara dramatis.

“Untung Besar Sun! Untung Besar Anak Kura-kura!” Ia berteriak.

Masih tidak ada jawaban. Bahkan sebuah suara pun tidak terdengar dari dalam lubang itu. Lu Xiao Feng tiba-tiba melompat bangkit dan menghentakkan kakinya di atas lubang itu dengan gusar. Lubang itu segera melesak dan memperlihatkan sebuah lubang yang amat besar di sebelah dalamnya.

Sinar bulan menerobos lubang itu dan tepat menerpa wajah si Untung Besar Sun. Wajahnya tampak mengejang kaku; matanya, penuh dengan perasaan ngeri, melotot seperti mata ikan mati. Lidahnya terjulur keluar dari mulutnya, tapi warnanya telah berubah menjadi kelabu pucat, seakan-akan seseorang telah mematahkan lehernya dengan tiba-tiba.

Tapi lehernya tidak patah, di tenggorokannya terlihat dua buah luka berupa dua lubang kecil, sedikit darah tampak mengalir keluar dan berwarna hitam.

“Ular itu!” Tosu Kayu menebak-nebak.

Lu Xiao Feng mengangguk. Orang tolol pun tahu bahwa si Untung Besar Sun telah terkena bisa ular tadi. Sekali ular seperti itu menggigitmu, maka kau pasti mati. Itu bukanlah hal yang aneh, yang aneh adalah cuma si Untung Besar Sun satu-satunya orang yang berada di dalam lubang itu.

“Di mana si Segala Tahu dan si Cerdik?” Tosu Kayu bertanya dengan heran.

Lu Xiao Feng berfikir untuk beberapa saat, lalu menjawab dengan lambat: “Tidak pernah ada yang namanya si Segala Tahu dan si Cerdik itu.”

Tosu Kayu terperanjat. Ia sebenarnya faham, tapi saat itu, kenyataan tersebut masih belum bisa diterima di benaknya.

“Si Segala Tahu adalah si Untung Besar Sun, begitu pula si Cerdik.” Lu Xiao Feng menjelaskan.

“Mereka bertiga sebenarnya cuma dia seorang?”

Lu Xiao Feng mengangguk.

“Tapi suara mereka?”

“Beberapa orang bisa merubah suara mereka, bahkan ada yang bisa menirukan sekelompok orang yang sedang bertarung dengan segerombolan kucing dan anjing pada saat yang bersamaan.”

Tosu Kayu tidak bicara lagi, ia sendiri telah banyak melihat orang-orang aneh dan kejadian-kejadian aneh di dunia persilatan.

Tapi Pertapa Cemara Kuno tampak mengerutkan keningnya.

“Jadi si Untung Besar Sun menciptakan dua orang itu untuk menipu uang orang lain?”

“Ia tidak menipu siapa-siapa!” Lu Xiao Feng menegur dengan dingin.

“Tidak?”

“Ia memang mengambil uang orang lain, tapi di saat yang bersamaan ia pun banyak menyelesaikan masalah mereka. Pengetahuan dan kecerdasannya jauh lebih bernilai daripada sedikit uang perak.” Tanda-tanda kemarahan pun muncul di wajah Lu Xiao Feng. Si Untung Besar Sun adalah temannya, ia tidak suka orang lain memandang rendah temannya.

Pertapa Cemara Kuno pun melihat dengan jelas kemarahan di wajahnya. Ia segera merubah suaranya dan menghela nafas: “Aku hanya merasa aneh karena orang yang berbakat dan cerdas seperti dia mau menggunakan sebuah nama samaran dan bukannya mencari nama untuk dirinya sendiri?”

Ekspresi wajah Lu Xiao Feng pun berubah sedih. “Karena ia orang yang baik dan tidak memandang tinggi pada kemasyuran dan harta!”

Dan juga karena ia takut, takut pada masalah, pada tanggung-jawab. Itulah sebabnya ia selalu lari, selalu bersembunyi. Lu Xiao Feng tidak mengatakan itu, ia selalu menyukai si Untung Besar Sun.

“Tak perduli apa pun juga, perbuatannya ini hanya melukai dirinya sendiri, bukan orang lain.”

Tosu Kayu menghela nafas.

“Seorang laki-laki seperti ini seharusnya tidak mati begitu cepat.”

“Seharusnya ia sudah tahu bahwa ada ular berbisa di sekitar sini.” Pertapa Cemara Kuno pun menghela nafas.

“Tapi ular itu tidak datang sendiri ke sini!” Lu Xiao Feng berkata.

“Mengapa tidak?”

“Karena hanya ular terlatih yang akan menggigit tenggorokan.”

“Jadi menurutmu ular itu sengaja diletakkan di sini untuk membunuhnya?” Tosu Kayu terkejut mendengar pernyataan itu.

Lu Xiao Feng mengangguk, amarah pun muncul kembali di wajahnya: “Ular itu sengaja dilatih untuk menyerang hanya bila ia mendengar bunyi seruling!”

Di dalam lubang itu memang amat gelap, dan ular itu pun terlalu kecil untuk dilihat bagi si Untung Besar Sun, yang berjalan masuk dari tempat terang.

Tosu Kayu teringat kembali pada suara tadi: “Jadi menurutmu, orang yang memainkan seruling tadi adalah orang yang membunuh si Untung Besar Sun?”

“Mm.”

“Mengapa ia ingin membunuh si Untung Besar Sun?”

“Karena ia khawatir kalau si Untung Besar Sun membocorkan rahasianya!”

“Siapa dia? Rahasia apa?”

“Aku tidak perduli dia siapa, aku tidak perduli rahasianya apa,” Tinju Lu Xiao Feng tampak terkepal erat dan ia berkata dengan lambat. “Aku akan menemukan dia dan rahasianya!”

Tosu Kayu menghela nafas lagi. Baru sekarang ia benar-benar faham mengapa hanya si Untung Besar Sun yang bisa menemukan si Segala Tahu dan si Cerdik, dan mengapa mereka tidak pernah mau bertemu dengan orang lain.

Tapi ia tak pernah bisa mengerti berapa banyak rahasia yang diketahui si Untung Besar Sun sehingga orang-orang ingin membungkam mulutnya, ia juga tidak faham bagaimana dia bisa tahu semua rahasia itu. Si Untung Besar Sun mungkin akan membawa jawaban untuk semua pertanyaan yang misterius itu ke lubang kubur bersamanya. Bisakah Lu Xiao Feng mengungkapnya”

—————–

Aroma bunga yang baru dipetik tersebar di toko peti mati itu. Seharusnya aroma ini adalah aroma yang bersih dan menyegarkan, tapi di dalam toko itu aroma tersebut malah membuat semua orang merasa tidak nyaman.

Di sana ada dua buah peti mati berkualitas tinggi yang terbuat dari kayu nanmu, sepertinya di atasnya pun ada selapis pernis logam yang segar.

“Aku ingin yang ini.” Lu Xiao Feng memilih salah satu di antara dua peti itu. Bila memilih sesuatu untuk sahabatnya, ia selalu menginginkan yang terbaik, walaupun itu hanya peti mati.

“Kedua peti mati ini telah dipesan orang.” Pemilik toko itu bernama Cheng. Mungkin ia telah terlalu lama bekerja di sini, bahkan walaupun ia tersenyum, senyumannya itu terlihat menakutkan.

“Orang pun bisa memesan peti mati?”

Tauke Cheng mengangguk: “Seorang pelanggan memesan dua peti mati ini untuk malam tanggal 15 September. Aku pun merasa hal itu agak aneh, tampaknya ia tahu pasti bahwa dua orang tentu akan mati pada malam itu!”

Tanggal 15 September! Dua orang pasti mati!

“Siapa yang memesannya?” Ekspresi wajah Lu Xiao Feng tampak berubah.

“Ia telah membayar untuk kedua peti itu, tapi ia tidak meninggalkan namanya.”

“Seperti apa tampangnya?”

“Seorang laki-laki tua yang bungkuk.”

Lu Xiao Feng tidak bertanya lagi, siapa pun bisa menyamar sebagai seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk. Ia memilih peti mati lain dan bermaksud hendak pergi.

Tapi Tauke Cheng tiba-tiba teringat pada sesuatu: “Tapi pelanggan itu meninggalkan dua nama untuk diukir di atas kedua peti mati itu!”

“Nama siapa saja?” Lu Xiao Feng segera berputar.

“Dua nama yang amat unik. Satu adalah Ye Gu Cheng, satunya lagi Xi Men Chui Xue!”

Tosu Kayu adalah orang yang periang, tapi sekarang ekspresi wajahnya pun terlihat cemas.

“Tidak seorang pun yang akan menang” pemenang sesungguhnya adalah pemburu yang menonton di pinggir.”

Sekarang jelas, salah satu pemburu itu telah maju lebih dulu dan memesan dua peti mati untuk mereka.

“Mungkin ini hanya sebuah gurauan.” Tosu Kayu berusaha menenangkan hatinya sedikit.

Lu Xiao Feng memaksakan sebuah senyuman: “Mungkin saja.”

———————-

Dengan senyuman di wajah, mereka berjalan di bawah sinar matahari terbenam. Angin yang lembut berhembus lewat, menggerakkan lengan baju dan pakaian mereka. Orang-orang yang melihat mereka di jalan tentu berpendapat, betapa angkuh dan agungnya mereka. Tapi di dalam benak mereka, bayang-bayang kematian terasa membayangi segalanya. Tentu saja mereka tahu bahwa semua ini bukanlah senda gurau belaka.

Tosu Kayu memandang pada gumpalan awan putih di langit biru yang jauh.

“Kau telah bertemu Ye Gu Cheng?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Mm.”

“Apakah dia tampak terluka?”

Lu Xiao Feng tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung.

Ia malah menjawab: “Dengan satu gerakan, ia mampu menusuk kedua tulang pundak Tang Tian Rong.”

Orang yang terluka tidak akan pernah mampu berbuat seperti itu pada salah satu jagoan keluarga Tang dan Tang Tian Rong adalah salah satu dari empat jagoan keluarga Tang.

Tosu Kayu berfikir sebentar.

“Tapi Hwesio Jujur tidak pernah berdusta, dan ia memang telah terluka. Jadi siapa yang mengobatinya?”

Lu Xiao Feng tidak menjawab, ia memang tidak bisa. Ia juga malah menatap awan di kejauhan.

“Sudah lama aku ingin berkunjung ke Benteng Awan Putih, tapi masih belum sempat.” Tiba-tiba ia berkata.

“Aku pernah ke sana.” Tosu Kayu berujar.

“Kurasa tempat itu adalah sebuah tempat yang indah. Datang pada saat Musim Semi dan Musim Gugur, pemandangannya tentu amat indah dan penuh warna dengan semua bunga yang sedang mekar!”

“Di sana tidak terdapat begitu banyak bunga, Ye Gu Cheng bukanlah orang yang suka minum arak atau menikmati bunga!”

“Apakah ia menyukai wanita?”

Tosu Kayu tertawa kecil.

“Orang yang menyukai wanita mungkin tidak bisa mencapai tingkat ilmu pedang seperti yang dimiliki Ye Gu Cheng!”

Lu Xiao Feng tidak bertanya lagi, tapi sebuah mimik muka yang amat bingung pun muncul di wajahnya. Kapan saja ekspresi itu muncul di wajahnya, berarti ia sedang memikirkan sebuah masalah yang amat membingungkan.

“Dia tidak seperti Xi Men Chui Xue, tentu tidak sukar untuk menemukan tempat tinggalnya!” Lu Xiao Feng berucap.

“Aku ingin mencarinya!”

“Aku tahu kalian adalah sahabat lama.”

“Bagaimana denganmu?”

Lu Xiao Feng memandang ke langit: “Aku akan makan malam dengan seseorang malam ini, mungkin telah ada orang yang menungguku di Paviliun Musim Semi Timur!”

“Jadi tampaknya kita berpisah di sini sekarang juga!”

Lu Xiao Feng mengangguk tapi kemudian berhenti.

“Jika seseorang yang tidak menyukai bunga atau wanita tiba-tiba memiliki 6 atau 7 orang gadis yang berjalan di depannya sambil menebarkan bunga di sepanjang jalannya, apa pendapat kalian mengenai hal itu?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Orang macam itu tak akan pernah berbuat hal seperti itu!” Tosu Kayu menjawab.

“Tapi seandainya ia melakukannya?”

“Maka ia tentu sudah gila!” Tosu Kayu tertawa.

Seumur hidupnya, Lu Xiao Feng pun tidak bisa membayangkan kenapa Ye Gu Cheng berbuat seperti itu. Tapi setidaknya ia tahu suatu hal — Ye Gu Cheng tidak gila.
______________________________

Sore hari, beberapa saat menjelang senja. Rombongan makan malam di Paviliun Musim Semi Timur masih belum berkumpul. Lu Xiao Feng menemukan tempat duduk di salah satu kursi yang berserakan di lantai bawah, memesan sepoci teh kesukaan warga kota itu, dan menunggu kedatangan anak buah Li Yan Bei.

Hari masih belum begitu sore, seharusnya dia berjalan-jalan dulu di luar sana, karena masih banyak orang yang ingin ia cari. Hua Man Lou, Xi Men Chui Xue, Hwesio Jujur…

Ia harus menemukan semua orang ini, tapi tiba-tiba ia merasakan sebuah desakan untuk tetap duduk dan memikirkan semua itu dengan tenang. Banyak hal yang harus ia fikirkan.

Sinar matahari terbenam masuk melalui pintu, membawa bayangan sesosok manusia yang panjang dan sempit. Menyadari adanya bayangan di pintu, Lu Xiao Feng mengangkat kepalanya dan melihat pemuda yang menatapnya dengan marah tadi.

Pemuda itu sedang menatapnya lagi, tangannya yang panjang dan ramping masih mencengkeram gagang pedangnya. Secarik sutera lembut terlilit erat di sekeliling gagang pedang itu, mungkin untuk memudahkan penggunanya supaya dapat memegang pedang dengan tenaga yang lebih besar dan juga menjaga telapak tangan pemakainya agar tetap kering dengan menyerap keringat yang muncul. Hanya orang yang benar-benar faham cara menggunakan pedang yang tahu mengenai hal ini.

Dalam sekilas pandang, Lu Xiao Feng segera mengetahui bahwa ilmu pedang pemuda ini amatlah lihai, tapi ia tetap tidak bisa mengenalinya.

Ia tidak akan pernah melupakan wajah seseorang sekali saja ia melihatnya. Tapi pemuda ini sepertinya mengenali dirinya. Tiba-tiba pemuda itu berjalan menghampirinya dan berhenti tepat di hadapannya. Ekspresi wajahnya bahkan tampak lebih menakutkan daripada ekspresi wajah Du Tong Xuan saat berjalan menghampiri Li Yan Bei. Mungkinkah pemuda ini memiliki semacam dendam atau urusan yang belum terselesaikan dengan Lu Xiao Feng”

Lu Xiao Feng tidak bisa membayangkannya, maka ia pun tertawa kecil: “Tuan…”

Tapi pemuda itu memotongnya.

“Apakah kau Lu Xiao Feng yang beralis empat itu?” Ia bertanya dengan kasar.

“Dan Tuan adalah…”

“Aku tahu kau tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu!” Pemuda itu menyeringai. “Aku telah lama berusaha mencarimu!”

“Mencariku” Untuk apa?”

Pemuda itu menjawab dengan cara yang paling langsung. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan sebatang pedang. Tiba-tiba, pedangnya telah terhunus, dan dengan tiba-tiba pula, pedang yang tajam dan sedingin es itu telah tiba di tenggorokan Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng tertawa. Sebagai jawabannya, ia tidak menangkis, juga tidak menghindar, ia malah tertawa.

“Kau kira aku tidak berani membunuhmu?” Pemuda itu berkata, wajahnya berubah menjadi hijau membesi.

Walaupun ia belum menusuk, gerakan yang tadi ia gunakan memang sebuah gerakan membunuh yang cepat, tangkas dan gesit. Lu Xiao Feng pernah melihat gerakan seperti ini sebelumnya. Empat bulan yang lalu, di Paviliun Mutiara dan Intan milik Yan Tie Shan, Su Shao Ying, yang mati di bawah pedang Xi Men Chui Xue, juga menggunakan ilmu pedang yang persis sama.

Pemuda ini tentu salah seorang dari “Tiga Pendekar dan Empat Wanita Cantik” yang terlatih di bawah bimbingan DuGu Yi He.

“Aku tidak akan membunuhmu, hanya karena aku masih punya sebuah pertanyaan untukmu.” Ujung pedang itu pun maju satu inci.

“Apakah kau Zhang Ying Feng atau Yan Ren Ying?” Lu Xiao Feng malah bertanya.

Ekspresi wajah pemuda itu berubah sebentar sebelum kembali seperti semula. Ia mengagumi kemampuan Lu Xiao Feng dalam mengenali seseorang.

“Yan Ren Ying.”

“Dan kau ingin tahu di mana Xi Men Chui Xue berada?”

Otot-otot di tangan Yan Ren Ying tampak menonjol dan urat-urat merah pun muncul di matanya.

“Ia membunuh guruku, menculik saudara seperguruanku, tujuhpuluh orang murid sekte kami semuanya ingin menangkapnya dan membawanya ke EMei untuk dipersembahkan pada roh guru kami yang terhormat!”

“Tapi kalian tidak tahu di mana dia berada.”

“Maka aku bertanya padamu!”

Lu Xiao Feng menghela nafas dan tersenyum ironis: “Sayangnya kau bertanya pada orang yang salah!”

“Jika kau tidak tahu, lalu siapa yang tahu?” Yan Ren Ying mendesak.

“Tak seorang pun yang tahu.”

Yan Ren Ying menatap matanya.

“Keluar!” Tiba-tiba ia memerintah.

“Keluar?”

“Aku tidak ingin membunuhmu di sini!”

“Aku pun tidak ingin mati di sini, tapi aku juga tidak ingin pergi ke luar.”

Tangan Yan Ren Ying bergerak, sebuah bunga dengan kelopak pedang pun muncul dan, dalam sekejap, menyerang sebanyak 7 kali, tidak satu pun berjarak lebih dari 1 inci dari tenggorokan Lu Xiao Feng. Lu Xiao Feng kembali tertawa.

Kembali ia tidak menangkis atau menghindar, tapi malah tersenyum: “Kau tidak bisa membunuhku.”

Telapak tangan Yan Ren Ying telah penuh dengan keringat, keningnya pun begitu pula. Kenyataannya, seluruh tubuhnya seperti telah menjadi sebuah busur yang dipentang penuh, siap untuk menyerang.

Siapa pun bisa melihat bahwa ia hampir tidak mampu mengendalikan dirinya lagi, tapi Lu Xiao Feng tetap diam tak bergerak. Seakan-akan seluruh uratnya terbuat dari benang baja.

Saat itulah, sebuah keributan tiba-tiba terjadi di jalan raya.

“Mati. Dia mati”.” Seseorang berteriak.

Yan Ren Ying ingin memutar kepalanya untuk melihat tapi berhenti sendiri, tetapi tak tertahan matanya melirik juga ke arah sana sekejap. Dalam sekejapan mata itu saja, Lu Xiao Feng yang tadinya duduk diam di kursi di hadapannya, tiba-tiba telah menghilang!

Gerakan Lu Xiao Feng bahkan lebih cepat daripada serangannya tadi. Ekspresi wajah Yan Ren Ying berubah lagi dan ia pun melompat, bersalto, lalu mendarat di luar. Lu Xiao Feng sedang berdiri di tengah jalan raya sambil menggendong tangan di belakang punggungnya. Tidak ada orang lain di jalan.

Semua orang telah menyingkir ke bawah emperan rumah di kedua sisi jalan. Seekor kuda putih berlari menuju tempat itu dari mulut jalan sana, di atas punggung kuda itu ada seseorang. Dilihat dari jauh, orang itu seperti sebuah kantung kain kosong berwarna coklat, tergeletak di atas punggung kuda.

Pakaian orang ini hampir sama dengan yang dikenakan Yan Ren Ying. Lu Xiao Feng sudah bisa menduga siapa orang ini, tapi bagaimana dia bisa mati? Yan Ren Ying menurunkan mayat yang telah dingin itu dari punggung kuda. Hampir tidak ada luka sama sekali di tubuh itu, hanya ada sebuah luka kecil di tenggorokannya, seperti luka terkena gigitan ular.

Hanya saja luka ini bukan disebabkan oleh gigitan ular, tapi oleh sebuah pedang, sebuah pedang yang amat tajam dan mengerikan. Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

“Zhang Ying Feng?”

Yan Ren Ying mengkertakkan giginya dan mengangguk.

Lu Xiao Feng menghela nafas.

“Tahukah kau pedang siapa yang membunuhnya?” Tiba-tiba Yan Ren Ying bertanya.

Lu Xiao Feng kembali menghela nafas dan mengangguk. Di dunia ini mungkin hanya ada satu orang yang memiliki pedang yang demikian tajam dan menakutkan. Bukan Ye Gu Cheng yang melakukan hal ini. Jurus pembunuhnya tidak mungkin serapi dan seefisien ini.

Yan Ren Ying menatap luka di tenggorokan saudara seperguruannya itu.

“Xi Men Chui Xue. Hanya Xi Men Chui Xue”.” Ia bergumam.

“Ia mungkin telah menemukan Xi Men Chui Xue,” Lu Xiao Feng menghela nafas. “Sayangnya…”

Sayangnya ia tidak bisa lagi memberitahu di mana Xi Men Chui Xue berada. Lu Xiao Feng tidak perlu mengatakan lanjutannya, tapi Yan Ren Ying tetap mengerti.

“Satu nyawa lagi! Satu hutang lagi!” Ia menjerit sekuat-kuatnya, wajahnya yang pucat tiba-tiba telah dipenuhi oleh air mata.

“Xi Men Chui Xue! Jika kau bisa membunuh, mengapa kau tidak keluar!” Jeritannya itu telah menunjukkan perasaan yang putus asa.

Setelah jeritan putus asa itu, senja pun tiba-tiba menyelimuti dunia.

Dan bersamaan dengan itu pula dunia tiba-tiba dipenuhi oleh kemuraman dan suasana berkabung yang dingin. Badai debu kembali muncul. Yan Ren Ying, dengan mayat saudara seperguruannya masih berada di dalam pelukannya, melompat ke atas kuda dan pergi dengan marah. Tadi kuda itu datang dari arah barat.

Yan Ren Ying melarikan kuda itu ke arah barat, jelas ia hendak berusaha mencari lokasi Xi Men Chui Xue dengan menggunakan kuda itu.

Sambil menentang angin barat laut yang datang pada Musim Semi di negara-negara utara, Lu Xiao Feng mengawasi kepergian kuda dan penunggangnya itu.

“Aku mengenal kuda tersebut!” Seseorang di belakangnya tiba-tiba berkata dengan perlahan.

Lu Xiao Feng berpaling dengan cepat. Orang yang barusan bicara itu mengenakan pakaian berwarna hijau. Walaupun pakaiannya sederhana, ia masih terlihat berwibawa. Ia tak lain adalah salah satu dari orang-orang yang mengikuti Li Yan Bei tadi pagi.

“Aku Zhao Zheng Wo, dari sebelah timur kota, “Gan-Er Shang De”, semua orang memanggilku “Gan-Er Zhao”.”

“Gan-Er Shang De” adalah kata lain untuk ketua, berarti dia adalah pemimpin dari semua pengemis di tempat ini. Di sebuah kota, hal ini berarti kekuasaan dan kendali yang amat besar.

Tentu saja Lu Xiao Feng tahu siapa orang ini dan apa posisi yang ia miliki, tapi ia tidak bisa menunjukkan perasaan senangnya saat ini.

“Kau mengenali kuda itu?” Ia segera bertanya.

“Hanya Istana Kerajaan yang memiliki kuda putih jantan yang demikian bagus.” Suara Gan-Er terdengar semakin rendah. “Tak perduli berapa besar pun kekuasaan yang dimiliki orang lain, tak ada yang berani mengganggu tempat itu!”

Kuda putih melambangkan kemuliaan dan harta, hanya keluarga kerajaan yang bisa menyatakan diri sebagai keluarga yang paling mulia dan kaya.

“Jadi kuda itu berasal dari Kota Terlarang?” Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

Mungkinkah Xi Men Chui Xue bersembunyi di Istana Kerajaan? Ini bisa menjelaskan kenapa tidak ada orang yang bisa menemukannya. Tapi dengan jumlah penjaga dan petugas keamanan yang begitu banyak di dalam Istana Kerajaan, bagaimana mungkin orang bisa bersembunyi di sana” Gan-Er Zhao tidak berkata apa-apa sebagai jawaban terhadap pertanyaannya ini. Pertanyaan ini adalah salah satu hal yang paling terlarang di ibukota, ia tidak berani berkata apa-apa lagi.

Lu Xiao Feng berfikir sebentar dalam kebisuan.

“Bisakah kau menyuruh orang-orangmu untuk mencari tahu dari mana kuda itu berasal dan siapakah yang pertama melihatnya?” Ia bertanya.

Gan-Er bimbang sebentar sebelum akhirnya mengangguk: “Itu tidak sulit. Tapi aku telah menerima perintah untuk membawa Tuan ke rumah Nyonya ke-13.”

“Ini lebih penting, bisakah kau beritahukan di mana tempat itu berada dan aku akan mencarinya sendiri!”

Kembali Gan-Er Zhao bimbang sebentar.

“Ok, akan kuberitahu Xiao-Song, kusir itu akan membawa Tuan ke Jalan Tirai Tersingkap. Rumah Nyonya ke-13 adalah yang paling ujung di sebelah kiri.”

Setelah naik ke atas kereta, fikiran Lu Xiao Feng kembali kacau. Pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan tampaknya semakin banyak. Siapa yang membunuh si Untung Besar Sun? Untuk apa”? Mengapa tingkah laku Xi Men Chui Xue begitu misterius?

______________________________

Jalan Tirai Tersingkap adalah sebuah jalan yang amat sepi dan sunyi dengan rumah-rumah besar di kedua sisinya. Tidak terdengar satu suara pun dari balik dinding tembok yang tinggi. Angin berhembus membawa aroma bunga pohon delima yang harum. Warna senja pun semakin gelap, malam sudah hampir tiba.

Tetapi hari masih belum sampai di ujungnya. Rumah terakhir di sebelah kiri ternyata memiliki pintu gerbang yang paling rapat. Semua rumah Li Yan Bei yang jumlahnya 30 buah itu memang sangat aman, tidak ada penjaga yang ditempatkan di depannya. Lu Xiao Feng tidak mengetuk pintu, ia malah melompati tembok dan masuk.

Ia yakin bahwa Li Yan Bei tidak akan menyalahkan dirinya karena hal ini, demi persahabatan mereka. Halaman itu amat luas dengan pohon-pohon delima dan ikan mas berenang-renang di dalam kolam. Payung-payung yang digunakan untuk berjemur matahari telah dicopot dan perapian telah dikeluarkan untuk dibersihkan. Tentu belum lama ini perapian itu telah digunakan di dalam rumah.

Lampu terlihat menyala terang di ruang tamu sana. Aula bunga di sebelah kiri pun tampak terang. Li Yan Bei sedang duduk di dalamnya, sambil menghela nafas.

Di atas meja kayu cherry di hadapannya, ada beberapa lembar kertas perhitungan. Tarikan nafasnya terdengar amat berat, karena hatinya pun sedang berat.

Tapi ia masih bisa mengetahui kedatangan Lu Xiao Feng. Ia memang orang yang amat sensitif, dan gerakan Lu Xiao Feng pun tidak begitu hati-hati. Waktu Li Yan Bei membuka pintu ruangan itu, Lu Xiao Feng telah berada di hadapannya.

“Kau tahu aku yang datang?”

Li Yan Bei memaksakan sebuah senyuman sabar di wajahnya: “Selain dari kau, siapa lagi yang berani menerobos masuk seperti ini?”

Lu Xiao Feng balas tersenyum. Melihat lembaran kertas-kertas perhitungan itu, hatinya tiba-tiba terasa masam. Di kota ini, Li Yan Bei telah berjuang keras dan meneteskan darah dan keringat selama 20 tahun hingga sekarang.

Untuk bisa menemukan sebuah tempat berdiri tegak di kota yang penuh dengan manusia dan bahaya seperti ini adalah sesuatu yang sukar, tapi jatuhnya malah gampang.

Mengapa ia mempertaruhkan hasil kerjanya seumur hidup pada seseorang? Apakah itu pantas?

Senyuman Li Yan Bei terlihat semakin dipaksakan.

“Aku belum mengaku kalah, tapi sedikit persiapan kan tidak ada salahnya, ini lebih baik daripada harus melompat ke jurang di saat terakhir. Di samping itu..Di samping itu, jika Xi Men Chui Xue kalah, ia tentu harus segera pergi, ia harus meninggalkan segalanya dengan segera! Dan ini tidaklah mudah!”

Lu Xiao Feng faham apa maksudnya dan tahu perasaannya.

“Xi Men Chui Xue telah tiba.” Tiba-tiba ia berucap.

“Kau telah melihatnya?” Mata Li Yan Bei tampak bersinar-sinar.

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya. “Tapi aku tahu bahwa pedangnya masih tajam dan ia bisa membunuh serapi dan seefisien dulu.”

Sinar di mata Li Yan Bei tampak meredup. Ia berpaling dan mulai menyingkirkan kertas-kertas itu dari atas meja.

“Jurus membunuh bukanlah jurus yang tidak bisa dikalahkan.” Ia berkata dengan lambat.

“Aku kan pernah mengatakan, tidak ada jurus yang tak bisa dikalahkan di dunia ini, dan karena itu, tidak ada pula jurus yang tak bisa menang.”

Li Yan Bei lama terpaku mendengar pernyataan itu.

“Itulah sebabnya kita seharusnya minum-minum dulu!” Tiba-tiba ia tertawa, berpaling dan menepuk pundak Lu Xiao Feng. “Makanan pengiring arak tentu telah disiapkan. Tamu istimewa yang kuundang untuk menemanimu pun sudah ada di sini.”

“Tamu istimewa? Siapa?” Lu Xiao Feng tercengang mendengar ucapan itu.

Senyuman Li Yan Bei tampak amat misterius: “Tentu saja seseorang yang tidak akan membuatmu jengkel!”

Di atas meja telah tersedia 4 piring buah-buahan, 4 piring makanan pembuka, dan 8 piring makanan utama untuk dinikmati bersama arak ” sepiring ikan asap, sepiring bebek acar, sepiring kaki babi, sepiring angsa panggang, sepiring ayam hutan, sepiring daging keledai yang diiris-iris, sepiring daging bagian dalam tanduk kambing, sepiring usus kambing, dan yang terakhir sepiring kepala kambing bakar yang baru dewasa.

Lu Xiao Feng mengedip-ngedipkan matanya.

“Kau ingin membuatku kekenyangan?” Ia bergurau.

Li Yan Bei kembali tertawa. Ketika ia sedang tertawa, seorang wanita cantik yang berpakaian indah tampak berjalan masuk, sambil bergoyang pinggul. Lu Xiao Feng hampir mencelat mundur saat melihatnya.

“Ini adalah Lu Xiao Feng yang beralis empat itu,” Li Yan Bei berkata, masih sambil tertawa.

“Bukankah kau berkata kalau kau telah lama ingin bertemu dengannya?”

Nyonya ke-13 membungkuk sopan sebelum tiba-tiba tertawa cekikikan.

“Aku pernah melihatnya.”

“Kapan kau melihatnya?” Li Yan Bei terlihat agak terkejut.

“Waktu aku keluar bersama Ou Yang untuk membeli beberapa butir mutiara,” Nyonya ke-13 meneruskan dengan nada genit. “Ou Yang yang menunjukkannya padaku.”

“Kau juga kenal Ou Yang?” Li Yan Bei bertanya.

Lu Xiao Feng mengangguk. Li Yan Bei mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Tentu saja, seharusnya aku tahu. Jika kau tidak mengenal seorang wanita cantik seperti dia, pendekar macam apa Lu Xiao Feng jadinya?”

“Di mana dia?”

“Ia masih berada di dapur, membuatkan makanan penutup untukmu: siput lapis keju.”

Ou Yang Qing benar-benar sedang memasakkan makanan untuk Lu Xiao Feng?

Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak tertawa secara ironis: “Apakah ia hendak mencoba meracuniku?”

“Kau kira ia ingin meracunimu?” Nyonya ke-13 bertanya.

“Aku pernah menyakitinya. Ada orang yang tidak boleh kau sakiti sekali saja, karena mereka akan membencimu seumur hidupmu!”

“Dan menurutmu dia adalah salah satunya?”

Lu Xiao Feng tidak menyangkalnya. Nyonya ke-13 menatapnya, tanpa mengedipkan matanya sedikit pun. Wanita seharusnya tidak boleh memandang laki-laki seperti ini, terutama di depan suaminya sendiri. Bahkan Lu Xiao Feng pun merasa agak malu, tapi Nyonya ke-13 tampaknya tidak perduli.

“Apa yang kau pandang?” Li Yan Bei akhirnya bertanya.

“Aku hendak melihat apakah dia benar-benar tolol.”

“Tentu saja tidak!”

“Aku tahu dia tidak kelihatan tolol, tapi dia benar-benar tolol besar!”

“Benarkah?”

Nyonya ke-13 menghela nafas.

“Jika seseorang yang sudah lama ingin pergi, tapi tiba-tiba berubah fikiran saat mengetahui bahwa dia akan datang; jika seseorang yang biasanya tidak suka bekerja di dapur, tapi kemudian bekerja di dapur seharian saat mengetahui bahwa dia akan datang untuk makan malam. Jika ada seorang perempuan memperlakukanmu seperti itu, kau tahu apa artinya?”

“Aku tahu bahwa setidaknya ia tidak membenciku!”

“Kau saja bisa mengerti, tapi dia tidak!” Nyonya ke-13 menghela nafas. “Jika dia bukan orang tolol, lalu apa lagi?”

“Kurasa dia memang mulai terlihat tolol sekarang.” Li Yan Bei tersenyum.

Lu Xiao Feng terdiam, tentu saja ia faham apa maksud percakapan itu, tapi ia tidak pernah membayangkan hal ini seumur hidupnya.

“Sebenarnya, kau tidak bisa terlalu menyalahkan dia,” Li Yan Bei menambahkan sambil tersenyum.

“Urusan hati seorang wanita adalah sesuatu yang tidak bisa diraba oleh laki-laki. Apalagi jika dia sendiri yang terlibat dan tidak melihat dengan jelas seperti kita yang berada di pinggir.”

“Aku tidak menyalahkan dia, aku hanya kasihan pada Ou Yang kecil, itu saja,” Nyonya ke-13 menjawab dengan dingin.

Li Yan Bei kembali tertawa sambil mendongakkan kepalanya dan menepuk-nepuk pundak Lu Xiao Feng.

“Jika aku jadi kamu, saat Ou Yang kecil nanti datang, aku tentu akan memperlakukan dia”.”

Sebelum ucapannya selesai, sebuah suara seruling yang aneh tiba-tiba terdengar mengalun bersama angin. Itulah suara yang didengar Lu Xiao Feng di halaman tempat pembakaran batu bara tadi sore.

Wajah Lu Xiao Feng tiba-tiba tampak tertekuk.

“Selamatkan Ou Yang”.” Ia berseru. Sebelum kalimatnya itu selesai, ia telah berada di luar jendela, sekejapan mata lagi dan ia pun telah menjauh 30 meter lebih!

Suara seruling itu berasal dari arah barat daya, tidak terlalu jauh. Setelah melompati dinding sebelah barat halaman dan melewati sebuah gang kecil, terlihat sebuah kebun yang sudah lama terlantar.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: