Kumpulan Cerita Silat

04/02/2008

Duke of Mount Deer (23)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 10:08 pm

Duke of Mount Deer (23)
Oleh Jin Yong

Kongcin ong tahu, di antara orang-orang barunya, Sin Ciau siangjin terhitung yang paling lihay. Sekarang mendengar kata-kata biku itu, dia tahu orang ingin menunjukkan kepandaiannya. Karena itu, dia langsung menganggukkan kepalanya. Hatinya senang sekali.

“Silahkan, siangjin! Rusak sepotong batu saja tidak menjadi masalah!” katanya.

Sin Ciau siangjin menganggukkan kepalanya. Tubuhnya membungkuk sedikit, tangannya terulur ke bawah menekan lantai, ketika dia mengangkat tangannya kembali. Tangan itu sudah bertambah sepotong batu hijau berukuran satu kaki lebih. Batu itu bukan dipegangnya, tetapi menempel pada telapak tangannya sebagai bukti tenaga dalamnya hebat sekali!

“Bagus!” seru Siau Po yang disusul dengan tepukan tangan dan sorak memuji yang lainnya.

Sin Ciau siangjin tersenyum. Batu itu diangkat ke atas. Tenaga hisapannya pun buyar, namun sebelum batu itu sempat terjatuh ke lantai. Sin Ciau siangjin bergerak dengan cepat. Sepasang tangannya kembali menjepit batu itu kemudian ditekannya keras-keras sehingga batu itu menjadi hancur dan abunya jatuh di atas lantai.

Kembali para hadirin bersorak. Sin Ciau siangjin segera menghampiri pengawalnya Go Eng-him yang berbicara tadi.

“Tuan, bolehkah aku mengetahui she dan nama tuan yang mulia?”

“Tenaga dalam siangjin besar dan mengagumkan,” kata pengawal itu. “Dengan demikian mataku yang rendah jadi terbuka. Aku hanya orang kecil dari tanah perbatasan. Hanya seorang tidak ternama….”

Sin Ciau siangjin tertawa.

“Meskipun orang liar dari tanah perbatasan tidak mungkin tanpa she atau nama, bukan?”

Sepasang alis pengawal itu menjungkit ke atas. Hal ini membuktikan hatinya mulai marah, namun dalam sekejap mata wajahnya pulih kembali. Seperti tidak terjadi apapun dia menyahut: “Orang liar dari tanah perbatasan, seandainya punya nama pun tidak lebih dari A-mau atau A-kau(kucing atau si anjing) Karena itu, tidak ada gunanya meskipun taysu mengetahuinya!”

“Tuan, kau sungguh sabar sekali,” kata Sin Ciau siangjin sambil tertawa. “Hari ini Kong cing ong mengadakan pesta, tamu-tamunya banyak. Bagi kota Peking, jarang ada pesta semeriah ini. sekarang ongnya menyuruh kami mengadakan pertunjukan, maksudnya untuk menggembirakan para tamunya. Dengan demikian semuanya merasa senang. Karena itu, kalau tuan tidak memberikan pelajaran, bukankah tuan menganggap dirimu terlalu tinggi?”

“Aku yang rendah hanya pernah mempelajari beberapa jurus petani pedesaan yang kasar. Mana mungkin aku sanggup menandingi Sin Ciau siangjin dari kuil Tiat-hud Si di kota Congciu? Kalau taysu tetap ingin bertanding, biarlah di sini juga aku yang rendah mengaku kalah dan silahkan taysu mengambil goanpo yang besar itu….”

Setelah berkata orang itu memutar tubuhnya untuk mengundurkan diri.

“Tunggu dulu!” seru Sin Ciau siangjin. “Pokoknya pinceng harus mencoba kepandaian tuan! Kedua tanganku akan bergerak dalam waktu yang bersamaan seperti memukul tambur. Aku akan mengincar kedua pelipismu, silahkan tuan membalasnya!”

Orang itu tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang digelengkan.

Sin Ciau siangjin membentak lantang, tiba-tiba tubuhnya seperti melar menjadi besar. Hal itu membukikan bahwa dia sedang mengerahkan tenaga dalamnya, kemudian kedua tangannya bergerak melebar ke arah kepala orang itu. Benar saja! Dia mengincar bagian pelipis seperti yang dikatakannya barusan.

Para hadirin terkejut. Kepala orang itu pasti hancur apabila terkena hantaman pukulan Sin Ciau sianjin. Sedangkan sebuah batu hijau saja sampai hancur lebur karenanya.

Pengawalnya Go Eng-him sungguh luar biasa.

Dia tetap berdiri tanpa bergeming sedikit pun. Apalagi menangkis atau menghindarkan diri. Sikapnya lebih mirip sebuah patung pajangan.

Sin Ciau siangjin sengaja menyerang agar orang itu terpaksa melayaninya. Tetapi melihat orang hanya berdiam diri, terpaksa dia mengubah pikirannya. Tidak mungkin dia menyerang orang yang tidak melakukan perlawanan. Apalagi orang itu bawah nya Peng-Si ong. Kalau orang itu sampai celaka bagaimana dia harus bertanggung jawab? Bukanya perbuatannya bisa berarti mengajukan tantangan perang? Karena itu, dia menaikkan tangannya ke atas sehingga hanya ujung jubahnya saja yang mengenai kepala orang.

Si pengawal tersenyum.

“Sungguh hebat tenaga dalam taysu!”

Mata semua orang membelalak saking kagumnya. Orangnya Peng-Si ong itu benar-benar tabah dan sabar. Karena itu, orang-orangnya mempunyai dugaan bahwa dia pasti bukan orang sembarangan. Kalau tadi dia sampai terhajar, bukankah dia akan mati konyol? Mengapa dia memandang nyawanya sendiri sedemikian tidak berharga? Lagaknya mirip orang edan.

Sin Ciau siangjin menarik kedua tangannya kembali. Dia memandangi orang di depannya lekat-lekat. Dia juga merasa heran dan menduga-duga dalam hatinya. Orang itu memang tolol atau justru terlalu angkuh? Dia juga menjadi bingung, sebab dia merasa tidak enak mengundurkan diri begitu saja. Akhirnya dia berkata: “Tuan, rupanya tuan tidak sudi memberi muka kepadaku! Baiklah, sekarang pinceng akan menyerangmu dengan jurus Hek-hou tau sim (harimau hitam mencuri jantung).”

Siapa saja yang pernah belajar ilmu silat, pasti mudah menghindari serangan itu. Sebab jurus itu sangat umum. Apalagi sebelumnya telah diberitahu akan diserang dengan jurus yang satu ini. Dengan serangan semacam itu bisa timbul anggapan bahwa lawan tidak memandang sebelah mata kepadanya.

Orang itu masih tidak memberikan jawaban, bibirnya hanya tersenyum. Semakin tidak puas rasanya hati si biku. “Seandainya aku menghajar kau, tentu kau hanya akan terluka, tidak mungkin begitu mudah untuk mati. Dengan demikian aku juga tidak melakukan kesalahan besar terhadap Peng-Si ong,” pikirnya dalam hati.

Karena itu dia segera memasang kuda-kudanya dan terus mengirimkan sebuah serangan. Orang itu tetap tidak menangkis ataupun menghindarkan diri.

Blam! Terdengarlah suara yang keras karena dadanya terkena hantaman Sin Ciau siangjin. Tubuhnya tersurut satu tindak. Namun dia segera tertawa dan berkata:

“Nah, taysu sudah menang! Aku telah tergeser mundur satu langkah!”

Sin Ciau siangjin jadi heran. Walaupun serangannya tadi tidak merupakan pukulan yang mematikan, tetapi cukup keras juga. Siapa sangka orang itu sanggup menerimanya seperti tidak merasakan apa-apa, bahkan masih sempat tertawa dan berbicara.

Bagi pembesar negeri yang bukan golong tentara, hal itu memang terasa aneh. Tidak demikian halnya dengan para perwira atau jenderal, mereka ini melihat tegas bahwa pengawal si raja muda dari Inlam justru sengaja mengalah.

Demikian pun si biku, sehingga dia menjadi kurang senang. Rasanya sudah habis kesabaranya. Wajahnya menjadi merah padam.

“Sebaiknya kau terima satu kali lagi tinjuku ini!” katanya sengit. Dan dia langsung menyerang kembali dada orang itu. Dan kali ini dia menggunakan tenaga dalam sebanyak tujuh bagian. Dia tidak perduli lagi walaupun orang bisa muntah darah karena pukulannya.

Para hadirin yang mengerti ilmu silat melihat bahwa si biku telah menggunakan tenaga dalam yang besar. Mereka juga menduga orang yang terkena pukulan itu bisa celaka. Mereka memperhatikan jalannya peristiwa itu sambil berdiam-diam mengkhawatirkan keselamatan pengawal peng Si ong itu.

Tapi, pengawal itu memang sungguh luar biasa. Tatkala serangan itu tiba, dadanya diciutkan dalam dan tubuhnya mencelat ke belakang sejauh setengah tombak. Sepertinya dia kena terhajar tapi dalam waktu yang bersamaan dia bergerak mundur. Siapa yang ilmunya tanggung-tanggung tentu tidak dapat melihat cara mengelakkan diri yang istimewa itu. Caranya itu meminta ketajaman mata dan kelincahan tubuh.

Si biku benar-benar marah ketika mengetahui serangannya kembali gagal. Dia segera membentak keras dan menyerang kembali. Kali ini dia mengirimkan tendangan kaki kanannya yang secara tiba-tiba mengarah ke perut lawan.

“Aduh! Celaka!” seru si pengawal dari Inlam.

Dalam waktu yang bersamaan, tubuhnya menghempas ke belakang sehingga posisinya lurus, sedangkan kedua lututnya ditekuk sehingga telapak kakinya masih memijak tanah seperti semula. Sungguh suatu cara pengelakkan diri yang luar biasa. Namanya Tiat-poan kio (Jembatan papan besi). Dengan demikian, perutnya terhindar dari tendangan Sin Ciau siangjin.

Ketegangan di hati para hadirin menjadi mengendur dan berganti dengan perasaan kagum. Sungguh hebat pengawal itu, dia selalu mengalah dan menghindarkan diri dari ancaman maut.

Sin Ciau siangjin jadi penasaran. Tanpa menunda waktu dia mengulangi serangannya. Kali ini dengan tendangan berantai. Tipu silat yang digunakannya adalah Wan-yo lian hong (tindakan berantai si burung Wan Yo).

Begitu tendangan tadi meleset, si pengawal segera bangkit kembali. Namun tepat pada saat itu, datanglah serangan susulan dari Sin Ciau siangjin. Sebenarnya dia baru saja menegakkan tubuhnya jadi tidak sempat lagi dia menghindarkan diri. Tapi dia memang lihay sekali, kembali dia dapat meluputkan diri. Sekali lagi dia menggunakan jurus silat Tiat-poan kio tadi.

Meledaklah suara sorak dan tepukan dari para hadirin. Mereka merasa kagum sekali. Sekalipun seorang ahli silat jarang menyaksikan pertunjukan langka semacam ini.

Sampai di sini, hilang sudah rasa penasaran hati Sin Ciau siangjin. Dia sadar ilmu silatnya masih kalah dengan pengawal itu. Karena itu dia segera memberi hormat.

“Kepandaianmu hebat sekali! Aku sungguh kagum!” katanya.

Pengawal itu membalas hormat. Sikapnya tetap tenang seperti semula.

“Taysu hanya memuji saja!” sahutnya sabar.

Kongcin ong segera berkata: “Kedua pihak sama-sama lihay. Sicu tianhe, pengawalmu itu sabar sekali. Dia tidak mau membalas serangan. Karena itu, pertandingan kali tidak dapat disamakan dengan pertandingan biasa. Mari! Kedua-duanya sama-sama memperoleh sepotong goanpo!”

Pengawal itu menjura.

“Hamba yang rendah tidak berjasa apa-apa. Karenanya hamba tidak berani menenma hadiah dari Kongcin ong!” katanya.

Menyaksikan pengawal itu tidak mau menerima hadiah dari tuannya, Sin Ciau siangjin juga malu maju ke depan. Kongcin ong segera berkata kepada seorang pelayannya.

“Kau antarkan dua potong goangpo kepada kedua orang itu!”

Karena didesak sedemikian rupa, si pengawal terpaksa menerima juga hadiah itu sambil mengucapkan terima kasih. Karena itu, Sin Ciau siangjin juga menerima sepotong goanpo dan menghaturkan terima kasih pula.

Kongcing ong mengerti pertandingan barusan berakhir dengan kekalahan di pihak Sin ciau siangjin. Dia berbuat demikian hanya demi menjaga pamornya saja. Dalam hati dia merasa penasaran.

Diam-diam dia berpikir: “Pengawalnya Go Eng-him itu lihay sekali. Entah bagaimana dengan yang lain-lainnya. Kemungkinan di antara mereka ada juga yang berkepandaian rendah. Orang-orangku mempunyai kepandaian tersendiri. Umpamanya Ci Goan-kay, tentunya juga tidak kalah dengan Sin Ciau siangjin. Sebaiknya mencoba lagi….’

Raja muda itu penasaran. Dengan cepat dia mengambil keputusan. Kemudian dia berkata kepada orangnya.

“Barusan pibu gagal, itu artinya ada keretakan di dalam kesempurnaan. Karena itu, Ci suhu, kau mengajak lima belas rekanmu dan siapkan senjata masing-masing lalu memohon pertandingan kepada keenam belas pengawal Peng-Si ong. Nah, saudara Go, kau perintahkan seluruh pengawalmu untuk menyiapkan senjata masing-masing!”

Go Eng-him mengawasi tuan rumah.

“Kami adalah tamu-tamu Kongcin ong, mana berani kami membawa senjata tajam ke dalam istana ini!” sahutnya sabar.

Kongcin ong tertawa. “Siau tianhe selalu sungkan!” katanya. “Ayah Siau tianhe yang terhormat beserta aku adalah sama-sama panglima perang. Seumur hidup kita sudah biasa bercampur dengan segala macam senjata tajam. Karena itu, tidak usahlah kita perdulikan pantangan orang…. Mana orang? Bawa kemari delapan belas alat senjata supaya para pengawal Siau tianhe dapat memilihnya sendiri!”

Memang Kongcin ong adalah seorang panglima perang. Sejak mulai berangkat dari Kwan gwa yakni Manchuria, sampai menyerang serta menduduki wilayah Tionggoan. Dia selalu menyiapkan delapan belas macam senjata di istananya. Oleh karena itu mendengar perintahnya, beberapa orang pelayannya segera mengiakan serta melaksanakan tugas Dalam waktu singkat, semua senjata telah tersedia kemudian dikumpulkan di hadapan orang-orangnya Go Eng-him.

Ci Goan-kay sendiri sudah memilih empat belas orang busu, sebab dia meminta Sin Ciau siangjin yang memimpin kelompok itu.

Sin Ciau siangjin sendiri sebetulnya masih penasaran. Dia merasa inilah kesempatan yang baik untuk mengembalikan pamornya yang sempat jatuh tadi, tetapi agar tidak menyolok, dia mencoba menolak. Setelah didesak berkali-kali barulah dia menerima dengan baik tugas itu, dengan demikian orang akan mengira dia menerimanya karena terpaksa.

“Biar bagaimana, aku harus sanggup melukai beberapa orang pengawal dari Inlam ini,’ katanya dalam hati. Sekarang dia tidak perduli lagi apakah perbuatannya menyalahi Peng Si ong.

Kelompok Ci Goan-kay sudah siap dengan senjatanya masing-masing. Sin Ciau siangjin sendiri memegang sepasang golok. Sambi! menggengga senjatanya itu, dia memberi hormat kepada sang pangeran.

Kong Cin ong juga membalas penghormatannya. Senang hati Siau Po melihat keadaan itu. Diam-diam dia berkata dalam hatinya.

“Hebat orang-orang ini. Mereka semua berkepandaian tinggi, nama mereka terkenal, namun mereka bersikap hormat kepada si pangeran. Dengan memberi hormat kepada Kong Cin ong, mereka juga seperti menghormati aku. Bukankah mereka menghadap ke arahku?”

Setelah itu, Sin Ciau siangjin memutar tubuhnya menghadap para pengawal dari Inlam. Dia berkata dengan suara lantang: “Sahabat-sahabat dari Inlam, silahkan kalian memilih senjata masing-masing!” Pengawal yang tadi melayani si biku segera menjawab dengan sopan.

“Kami sudah menerima perintah dari Yang Mulia Peng Si ong, bahwa sesampainya di kotaraja, kami tidak boleh bertempur dengan siapa pun!”

“Bagaimana seandainya ada orang yang bermaksud memenggal batok kepala kalian? Apa kalian akan menjulurkan leher panjang-panjang dan membiarkannya saja?” tanya Sin Ciau siang yang hatinya mulai panas. “Atau mungkin kalian akan menyembunyikan kepala kalian dalam-dalam sehingga tidak terlihat?”

Kata-katanya yang terakhir merupakan penghinaan, sebab di dunia ini hanya kura-kura yang suka menyembunyikan kepalanya. Mendengar ucapan itu, para pengawal Go Eng-him segera memperlihatkan tampang marah. Akan tetapi, pemimpin mereka yang bertubuh kurus menjawab dengan datar.

“Titah Peng Si ong berat bagaikan gunung. Jikalau kami sampai melanggarnya, begitu kembali ke Inlam, kami semua akan mendapat hukuman mati!”

Sin Ciau siangjin tetap tidak mau mengerti.

“Baiklah kalau begitu. Kita coba-coba saja!” katanya.

Biku ini lalu mengumpulkan rekan-rekannya di sudut ruangan untuk mengajak mereka berunding. Dia berbicara dengan nada berbisik: “Kita serang bagian tubuh yang berbahaya. Kita lihat, apakah mereka akan memberikan perlawanan ….”

“Kalau mereka sampai terluka, tidak jadi masalah,” kata Ci Goan-kay ikut memberikan pendapatnya. “Lebih baik kita panas-panasi hati mereka agar memberikan perlawanan….”

“Tapi, kita harus berhati-hati,” kata seorang lainnya.

“Baiklah! Mari kita mulai!” kata Sin Ciau siangjin akhirnya. Kali ini si biku tidak berayal lagi. Selesai berseru, dia segera maju ke depan bersama kelima belas rekannya dan menyerang orang-orang Go Eng-him.

Para pengawal Peng Si ong berdiri tegap tanpa bergerak sedikit pun. Tangan mereka lurus ke bawah seperti tidak bermaksud menghindarkan diri sama sekali. Hanya mata mereka yang menatap mereka sudah terkurung.

Para hadirin merasa heran dan juga tercekat hatinya, bahkan ada yang berseru: “Hati-hati!”

Para jago yang diundang Kong Cin ong menggerak-gerakkan senjatanya sehingga ada yang saling bentrok dan ada juga yang secara tidak langsung mengenai para pengawal dari Inlam itu. Ada seorang yang terluka bagian bahunya dan seorang lagi terluka wajahnya. Darah mengalir dengan deras. Tampaknya luka kedua orang itu tidak ringan tapi mereka tetap berdiri tegak seperti posisi semula, bahkan merintih pun tidak!

Kong Cin ong menyaksikan semuanya dengan seksama. Dia sadar apabila pertandingan yang tidak seimbang ini dilanjutkan, pasti akan jatuh korban sebab orang-orang Peng Si ong terang-terangan tidak mau mengadakan perlawanan. Karena segera dia berseru: “Bagus! Berhentilah semuanya!”

Perintah itu dilaksanakan. Sin Ciau sianjin mengiakan kemudian bergerak mundur, tetapi sebelumnya dia mengibas jatuh topi salah seorang pengawal itu. Perbuatannya diikuti oleh rekan-rekannya yang lain. Setelah itu, dia tertawa dengan gembira.

Siau Po melihat di antara para pengawal itu, ada tujuh orang yang kepalanya plontos sehingga tampak licin mengkilap. Dia langsung bertepuk tangan sambil berseru: “Tetok, matamu tajam sekali. Lihat, kepala mereka benar-benar botak!”

Belum habis kata-katanya, dia melihat wajah keenam belas pengawal itu berubah demikian kelam. Mata mereka menyorotkan sinar kemarahan, dia pun jadi urung melanjutkan ucapannya. Di samping itu, dia sendiri merasa perbuatan Sin Ciau siangjin dan rekan-rekannya memang rada keterlaluan. Dia sendiri, kalau sedang bermain judi, tidak pernah membuat lawannya kalah habis-habisan. Karena itu ia segera bangun dari tempat duduknya dan menghampiri para pengawal yang kesabarannya luar biasa itu. Dipungutnya topi yang dikibaskan Sin Ciau siangjin tadi kemudian dipakaikannya kembali kepada pengawal yang tinggi kurus itu.

“Tuan, kau lihai sekali!”

“Terima kasih!” sahut pengawal itu singkat.

Siau Po kembali memungut semua topi-topi yang tergeletak di atas tanah dan menyerahkannya kembali kepada sisa lima belas pengawal itu.

“Perbuatan mereka agak keterlaluan, ya?” katanya sambil tertawa ramah. Para pengawal itu memilih topi masing-masing mengenakannya kembali.

“Terima kasih!” kata mereka serentak. “Tidak pantas kami menerima kehormatan ini.”

Mereka berkata demikian karena yakin bocah tanggung ini berkedudukan tinggi. Kalau tidak, mana mungkin bocah ini bisa duduk berdampingan dengan Kong Cin ong dan Go Eng-him tuan muda mereka. Sekali lagi para pengawal itu mengucapkan terima kasih sembari menjura.

Sebetulnya Siau Po tidak mempunyai kesan baik terhadap para pengawal Peng Si ong, maupun puteranya, Go Eng-him. Alasannya berbuat demikan, hanya karena merasa tindakan Sin Ciau siangjin dan yang lainnya memang rada keterlaluan.

“Ongya,” katanya kepada Kong Cin ong. “Bolehkah aku meminjam beberapa tail perak?”

Kong Cin ong tertawa.

“Saudara Kui, ambillah sesukamu!” sahutnya ramah. “Apakah sepuluh laksa tail cukup?”
.
“Tidak perlu begitu banyak,” kata Siau Po sambil tersenyum. Dia lalu menoleh kepada pelayan pangeran itu dan memerintahkan: “Cepat kau pergi membeli topi yang harganya paling mahal. Semakin cepat semakin baik!” Pelayan itu segera mengiakan dan kemudian mengundurkan diri.

Melihat gerak-gerik si thaykam cilik, Go Eng-him segera memberi hormat. “Terima kasih, kongkong!” katanya. “Kongkong baik sekali. Kami merasa bersyukur,” katanya.

“Terima kasih apa? Kau sebenarnya anak kura-kura!” maki Siau Po dalam hati.

Kong Cin ong sendiri sebetulnya merasa tidak enak hati melihat Sin Ciau siangjin dan yang lainnya menjatuhkan topi para pengawal dari Inlam. Ia khawatir Go Eng-him bakal tersinggung. Tetapi untuk meminta maaf, dia merasa gengsi. Biar bagaimana dia lebih tua ketimbang anak muda itu kedudukannya setingkat dengan ayahnya. Karena itu pula, dia senang melihat tindakan Siau Po yang sesuai dengan keinginan hatinya.

Dia menggunakan kesempatan yang baik itu untuk berkata, “Mana orang? Cepat hadiahkan lima puluh tail perak kepada masing-masing pengawal Go sicu juga masing-masing lima puluh tail untuk orang-orang kita!”

Hadiah untuk Sin Ciau siangjin dan rekan-rekannya memang disengaja agar mereka tidak merasa dibedakan atau diperlakukan tidak adil. Tindakannya itu justru mengundang sorak riuh dan tepuk tangan dari para hadirin.

To Lung juga ikut berdiri. Dia menuangkan arak ke dalam cawan para hadirin. Kemudian dia berkata kepada para tamu tersebut: “Sicu tianhe, Ayah sicu adalah seorang pangaran yang sudah terkenal sekali. Sekarang barulah kita membuktikannya dengan mata kepala sendiri. Lihatlah para pengawalmu itu, mereka begitu taat kepada perintah sehingga tidak takut menghadapi kematian. Tidak heran setiap kali maju di medan perang, mereka selalu memperoleh kemenangan. Nah, mari kita minum bersama untuk menghormati Peng Si ong yang berjasa itu.”

Go Eng-him bangkit sambil mengangkat cawannya. “Aku mewakili ayahku minum arak ini. Terima kasih untuk kebaikan tuan-tuan sekalian!”

Para hadirin pun mengangkat cawannya dan mengeringkan isinya. Setelah itu Go Eng-him berkata kembali: “Ayah berkedudukan di wilayah selatan dan keselamatannya terjamin. Semua ini berkat rejeki besar junjungan kita Yang Mulia serta bantuan para menteri dalam istana. Ayah hanya ingat untuk bersetia terhadap Sri Baginda, tidak berani dia bermalas-malasan. Jadi dalam hal ini, sebetulnya ayah tidak berjasa apa-apa.”

Tidak lama kemudian, pelayan yang diperintahkan oleh Siau Po telah muncul kembali. Dia membawa enam belas topi yang paling mahal harganya dan menyerahkannya kepada thaykam cilik kita.

Siau Po menghadap Kong Cin ong: “Ongya, barusan para suhu telah menjatuhkan topi para pengawal dari Inlam. Karena itu sudah selayaknya Ongya menggantikan kerugian mereka dengan topi yang baru.”katanya.

Kong Cin ong lantas tertawa: “Itu sudah selayaknya! Kau benar-benar pandai berpikir, saudara Kui! Kau bisa mengingat sampai ke sana!”

Kemudian dia menyuruh pelayannya untuk menyerahkan topi-topi itu kepada para pengawal dari Inlam.

Orang-orang Go Eng-him menerima hadiah itu. Mereka menjura dalam-dalam serta menyatakan terima kasih sekali lagi. Setelah itu mereka melihat topi itu dan menyimpannya dalam saku, sedang kepala mereka masih tetap mengenakan topi yang lama.

Kong Cin ong dan Siau Po saling pandang sekilas. Mereka mengerti apa sebabnya para pengawal dari Inlam itu bersikap demikian. Tentu karena mereka tidak mau berlaku lancang.

Perjamuan diteruskan sampai tiba saatnya pertunjukan dimulai. Kong Cing ong meminta tamunya memilih cerita yang disukai. Go Eng-him menyebut kisah ‘Ban Cong Hud’ atau Kisah Jenderal Kwe Cu-gi mengadakan pesta ulang tahun di mana hadir ketujuh putera dan delapan menantunya yang datang mengucapkan selamat kepadanya. Jenderal itu hidup berbahagia. Jasanya banyak sekali. Pangkatnya tinggi, panjang umur serta mempunyai keluarga besar.

Selesai pertunjukan itu, Kong Cin ong menoleh kepada Siau Po: “Saudara Kui, ayo! Kau juga memilih cerita kesukaanku!”

Siau Po tertawa dan berkata: “Aku tidak bisa memilih, biar Ongya saja yang pilihkan! Yang penting ceritanya seru dan ada perkelahiannya!”

“Kalau begitu kau pasti suka cerita mengenai ’kegagahan’,” kata Kong Cin ong seraya tertawa.

“Baiklah! Aku pilihkan kisah seorang pemuda yang mengalahkan seorang tua, seperti waktu kau membekuk Go Pay! Kisah Pek Sui-tha!”

Setelah kedua kisah yang diminta selesai dipertunjukkan, tukang cerita menyambung lagi sebuah kisah yang berjudul ‘Yu Wan Keng-Bong’ yang mengisahkan seorang pemuda yang berjalan-jalan di taman bunga di mana dia tertidur dan tersentak bangun oleh mimpinya.

Siau Po tidak sabaran. Karena perannya kebanyakan menyanyi dan berpantun, hal ini tidak disukainya. Kemudian dia berdiri dan menuju paseban belakang di mana dia melihat ada beberapa meja yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berjudi. Ada yang main dadu, juga ada yang main kartu ceki.

Dia merasa tertarik. Sayangnya dia tidak merbawa dadunya yang istimewa. Tapi tidak apa-apa karena dia membawa uang dalam jumlah yang cukup banyak. Dia melihat di meja yang satunya satu bandar sudah menang banyak. Uang di depannya sudah bertumpuk tinggi.

“Eh, Kui kongkong!” sapa sang bandar sambil tertawa. “Apakah kongkong berminat ikut mengabil bagian dalam permainan ini?”

“Baik!” sahut Siau Po tanpa bimbang lagi.

Saat itu juga, dia melihat ada seorang bertubuh kurus tinggi, yakni pengawal Go Eng Him yang sabarnya luar biasa itu. Dia menaruh kesan baik terhadap orang yang satu ini. Dia hanya menonton permainan dari samping. Siau Po segera melangkah kepadanya dan menyapanya.

Pengawal itu segera menghampiri si bocah memberi hotmat dengan menjura dalam-dalam: “Entah ada perintah apa, Kui kongkong?” tanyanya ramah.

Siau Po tertawa: “Di meja judi tidak ada perbedaan derajat, baik ayah dan anak sama saja, karena itu janganlah kau bersikap sungkan. Toako, siapakah she dan namamu yang mulia?”

Tadi ketika ditanya oleh Sin Ciau siangjin, pengawal ini tidak memberikan jawaban. Tapi keramahan Siau Po membuat perasaannya jadi tidak enak. “Hamba she Yo bernama Ek-ci!”

“Oh, nama yang bagus sekali! Nama yang bagus sekali!” kata Siau Po yang sebetulnya buta huruf dan tidak tahu apa arti nama itu.

“Banyak orang gagah yang berasal dari keluarga Yo. Umpamanya Yo Leng-kong, Yo Lak-say, Yo Cong-po, Yo Bun-ong! Nah, Yo toako, mari kita main bersama-sama!”

Senang sekali hati Ek-ci mendengar para leluhur yang bermarga sama dengannya mendapat pujian tinggi dari thaykam cilik ini. Lekas-lekas dia menyahut: “Maaf, kongkong. Hamba tidak bisa berjudi.”

“Tidak bisa berjudi?” tanya Siau Po. “Tidak apa-apa! Jangan takut! Aku akan mengajarimu!

“Keluarkanlah uang goanpo milikmu yang besar itu.”

Ek-ci menurut. Dia mengeluarkan uang goanpo hadiah Kong Cin ong. Siau Po sendiri mengeluarkan selembar cek kemudian meletakkannya di atas meja. Sembari tertawa dia berkata: “Aku akan berkongsi dengan Yo toako, jumlah modalnya seratus tail.” Bandar itu pun ikut tertawa.

“Bagus! Makin besar jumlahnya, makin baik!” sahutnya sambil melempar dadu. Setelah itu giliran Siau Po, dia mendapat angka titik tujuh. Dengan demikian seratus tail itu melayang ke tangan si bandar karena dia kalah.

“Aku pasang lagi seratus tail!” katanya kemudian. Kali ini dialah yang menang. Selanjutnya permainan seri. Tidak ada yang kalah atau pun menang.

“Ah, tidak benar kalau begini. Kasihan, apabila Yo toako sampai kalah. Buat aku sih tidak apaapa…” pikir Siau Po dalam hati.

Karena itu dia memasang lagi lalu melemparkan dadunya sambil berseru: “Bayar!”

Kali ini keluar angka dobel enam. Si bandar kalah dan dia harus membayar dua kali lipat. Seratus tail jadi dua ratus. Dua ratus jadi empat ratus. Dan empat ratus tail jadi delapan ratus.

“Kui kongkong mujur sekali!” kata si bandar seraya tertawa lebar. Dia kalah, tapi ia masih bisa tersenyum.

Siau Po juga ikut tertawa.

“Kau mengatakan aku mujur? Bagaimana kalau kita main dua kali lagi?” Dia pun menggulung kembali uangnya yang delapan ratus tail itu.

Apa daya si bandar memang sedang apes. Dia kalah lagi. Dengan demikian uang Siau Po menjadi seribu enam ratus tail!

“Bagaimana, Yo toako?” tanya bocah itu pada kongsiannya. “Apakah kita lanjutkan lagi permainan ini?”

“Terserah Kui kongkong,” sahut Yo Ek-ci, tapi di dalam hatinya dia berpikir: ‘Kau toh sudah menang banyak, buat apa main terus?”

Pada saat itu sudah banyak orang yang mengerumuni tempat Siau Po berjudi. Sebab jarang ada orang yang menang sampai seribu tail lebih.

Siau Po masih memegang dadu, sambil melemparkan dadunya dia berseru. Dadu itu berputaran. Yang satu berhenti, angkanya enam. Tinggal yang atu masih terus berputaran. Dadu itu bukan miliknya, karena itu dia belum bisa menguasainya dengan baik. Akhirnya dadu itu berhenti. Angkanya dua.

Sekarang giliran bandar yang melemparkan dadunya. Seperti Siau Po tadi, dadu itu terus berputaran. Yang satu berhenti lebih dahulu, angkanya lima.

Si bandar tertawa. “Kongkong, mungkin kali ini kau bisa kalah!” katanya. Dadu yang satu masih berputar.

“Dua! Dua!” teriak Siau Po.

Apabila keluar angka tiga, empat atau lima, dia pasti kalah. Kalau keluar angka dua, bandarlah yang harus mengganti pasangannya. Sedangkan kalau dapat angka tiga, berarti jumlahnya delapan. Sama dengan angka yang didapatkan oleh Siau Po. Tapi dalam permainan ini, tetap si bandar yang menang.

Itulah sebabnya Siau Po meminta angka dua.

Tampaknya kemujuran memang sedang berada di pihak si thaykam cilik. Dadu itu. bolak-balik beberapa kali kemudian berhenti. Ternyata memang yang muncul dua titik.

Siau Po pun bersora gembira, selekasnya. “Ciangkun, kau benar-benar apes!”

“Betul, kongkong. Hari ini kau memang mujur sekali!” kata bandar itu sambil menghitung uangnya untuk membayar pasangan Siau Po.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: