Kumpulan Cerita Silat

03/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:52 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 03: Duel Dua Jago Pedang
Bab 01: Pesan Penting Dari Orang Tak Dikenal
Oleh Gu Long

(Terima Kasih Kepada Ansari)

Musim gugur. Pohon maple di gunung telah berubah menjadi rimbunan dedaunan berwarna merah, kilauan jalan raya sekarang telah ditutupi oleh sebuah lapisan putih. Akhir musim gugur telah dekat.

Tanggal 13 September. Tepat sebelum fajar tiba. Li Yan Bei melangkah keluar dari kantor nomor 12 dari ke-30 buah kantornya dan berjalan dengan cepat menelusuri jalan raya yang masih tertutup kabut. Satu kendi arak Bambu Hijau dan satu jam berjalan-jalan tampaknya tidak memberikan efek yang melelahkan bagi dirinya.

Ia memiliki tinggi 2 m dengan bangun tubuh yang amat besar dan kuat serta membayangkan tenaga yang luar biasa. Pada wajahnya yang serius, beralis hitam, bermata tajam dan berhidung bengkok selalu terlihat mimik muka yang seram, persis seperti seekor macan tutul yang baru melompat keluar dari semak belukar.

Siapa pun, tidak perduli orangnya, akan merasa sedikit segan dan takut bila mereka kebetulan bertemu dengannya, dan ia sendiri memang selalu bersikap garang.

Sejak 10 tahun yang lalu, ia telah menjadi salah satu orang yang paling berkuasa di kota kuno ini. Segerombolan orang mengikutinya pada jarak kira-kira 5 m di belakangnya, tampaknya mereka harus berlarian untuk bisa mengiringinya. Di dalam kelompok orang ini terdapat ketua dan pegawai-pegawai dari 3 buah perusahaan ekspedisi terbesar di seluruh ibukota ini, serta ketua-ketua organisasi bawah tanah dari kota-kota di luar ibukota, belum lagi bendahara-bendahara dan bos-bos dari perusahaan-perusahaan bisnis yang paling sukses dan rentenir-rentenir di kota itu.

Di situ juga terdapat beberapa orang yang telah menetap di kota ini lebih dari 10 tahun yang lalu tapi tidak ada orang yang tahu mengenai latar belakang mereka.

Mereka adalah orang-orang setengah umur yang kaya dan sukses, dan sebenarnya tidak seorang pun dari mereka yang mau meninggalkan kehangatan rumah mereka untuk berkeliling di jalan raya yang udaranya dingin menusuk tulang saat di pagi hari begini. Tapi mereka harus ikut berjalan-jalan seperti ini setiap pagi.

Karena Li Yan Bei suka berjalan-jalan setiap pagi sebelum fajar selama paling sedikit satu jam. Tempat ini memang boleh disebut sebagai kerajaannya. Selama berjalan-jalan, matanya akan selalu tajam dan penilaiannya akan selalu akurat. Ia selalu suka kalau orang-orang kepercayaannya mengikuti di belakangnya sehingga ia bisa memberikan instruksi pada mereka selama di perjalanan. Di samping itu, hal ini telah menjadi kebiasaannya selama bertahun-tahun. Persis seperti sidang pagi hari yang diadakan Kaisar, tidak perduli kau menyukainya atau tidak, kau tidak boleh ketinggalan.

Sejak Ketua “Perusahaan Ekspedisi Yang Mengguncangkan Dunia”, Golok Emas Feng Kun diseret olehnya turun dari ranjang dan diceburkan ke sebuah sungai yang airnya sedang beku di suatu pagi yang dingin, tidak ada lagi yang tidak mau ikut dalam acara jalan-jalan ini walau satu kali pun.

Matahari pagi masih belum naik, angin masih membawa udara malam yang dingin, dahan-dahan pohon di pinggir jalan telah lama berguguran daunnya, dan embun di daun yang gugur telah berubah menjadi selapis es musim gugur.

Tinju Li Yan Bei terkepal erat saat ia berjalan dari tembok luar dinding kota ke pusat kota yang tepat berada di luar gerbang depan.

“Sun Chong!” Tiba-tiba ia berseru.

Segera seorang laki-laki setengah umur berbaju sasterawan dan berkumis tipis berlari keluar dari rombongan orang-orang di belakangnya dan menghampirinya. Ia adalah salah satu orang terbaik dan paling terkenal di bawah komando Li Yan Bei, tidak lain dari kepala “Aula Kepuasan”, tempat pembuatan senjata yang terkenal di seluruh China.

“Bukankah aku telah memberimu perintah sejak 15 tahun yang lalu untuk tidak mengambil bisnis Da Zong lagi?” Li Yan Bei bertanya dengan suara suram. Ia tidak memperlambat langkahnya dan menunggu Sun Chong untuk menyusulnya, bahkan ia pun tidak memandang pada orang itu.

“Ya, tuan.”

“Lalu mengapa tadi malam kau menjual 66 batang golok, 50 batang pedang, dan semua busur dan panah dari gudang senjatamu?”

Kepala Sun Chong tertunduk dan ekspresi wajahnya tampak ditekuk. Jelas ia tidak mengira kalau Li Yan Bei bisa mengetahui hal ini dengan begitu cepat.

“Penghasilan dari perdagangan ini amatlah besar, ini tidak pantas ditolak,” ia tergagap, “Di samping itu…”

“Di samping itu, bisnis adalah bisnis, kan?” Li Yan Bei mengejek.

Sun Chong tidak menjawab tapi malah semakin menundukkan kepalanya.

Tinju Li Yan Bei terkepal semakin erat dan wajahnya terlihat murka.

“Kau tahu siapa orang yang berada di belakang pembelian ini?” Tiba-tiba ia bertanya.

Sun Chong menggelengkan kepalanya dengan ragu. Tapi matanya diam-diam melirik ke sekitarnya. Saat itu mereka sedang berjalan ke sebuah jalan yang amat sempit dengan pohon-pohon buah cherry di pinggirannya yang berbatasan dengan jalan-jalan lain. Toko-toko dan pedagang di pinggir jalan masih belum ada yang buka. Tapi tepat saat itu, dua buah kereta kuda yang amat besar dan tertutup terlihat menerjang keluar dari gang-gang sempit di kedua sisi jalan dan menghadang mereka di tengah jalan.

Selanjutnya, kain hitam yang menutupi kereta itu tiba-tiba terangkat terlihat kira-kira duabelas orang berpakaian hitam di atas kedua kereta, masing-masing dengan busur di tangan, semua busur telah dipentang penuh, masing-masing dengan sebatang anak panah dibidikkan ke arah Li Yan Bei. Sun Chong ingin melompat ke atas salah satu kereta, tapi Li Yan Bei telah mencengkeram pergelangan tangannya.

Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi dan ia berusaha menjerit.

“Berhenti!” Hanya itu yang bisa ia ucapkan sebelum terdengar bunyi tali busur yang dilepaskan dan anak panah pun memenuhi angkasa.

Li Yan Bei mementangkan kakinya dan, dengan sebuah sentakan sederhana, mengangkat tubuh Sun Chong ke udara dan tepat menghadap ke arah anak-anak panah yang berdatangan itu. Dalam sekejap tubuh Sun Chong telah dipenuhi anak panah seperti seekor landak. Tapi dengan tak terduga, setelah gerombolan pemanah itu melepaskan anak panah mereka, mereka segera menjatuhkan diri ke lantai kereta untuk kemudian digantikan oleh sebaris pemanah lainnya yang tadi berada di belakang mereka.

Dua puluh delapan busur dipentangkan, anak panah siap dilepaskan. Tubuh Li Yan Bei menjadi kaku.

Rombongan orang di belakangnya telah dihadang oleh kereta ketiga. Walaupun tubuhnya terbuat dari besi, tak mungkin ia bisa selamat dari rentetan usaha pembunuhan seperti ini!

Sesudah 20 tahun berjuang, beberapa ratus macam pertempuran dan pertarungan, ia masih tidak bisa menghindar dari perangkap musuh.

Mata Li Yan Bei seperti dipenuhi darah dan ia tampak seperti seekor serigala yang telah jatuh ke dalam perangkap pemburu. Hanya satu kali bunyi denting tali busur dan pemimpin ibukota yang angkuh dan berkuasa ini akan sukar terhindar dari serangan hujan panah.

Tapi tepat saat itu pula, tiba-tiba sebuah suara yang tajam dari sesuatu yang melayang di udara pun terdengar dari atap sebelah kiri.

Sing! Dua larik sinar hijau melesat ke arah busur-busur itu.

“Tang! Tang! Tang!”

Dengan rentetan suara seperti bunyi kelereng yang berjatuhan di atas lantai, 28 buah tali busur itu tiba-tiba terpotong oleh dua larik sinar tadi! Lalu terdengar sebuah suara yang keras tapi datar saat kedua sinar itu menabrak pintu di sebelah kanan. Ternyata dua sinar tadi tidak lebih dari dua keping uang perunggu.

Siapa yang begitu kuatnya sehingga mampu memotong 28 tali busur hanya dengan dua keping uang logam” Wajah para pemanah itu tampak pucat pasi dan mereka semua mulai tunggang-langgang turun dari kereta dan berlarian ke arah gang-gang sempit tadi. Tapi Li Yan Bei tidak mengejar mereka.

Orang-orang itu bukanlah lawannya, mereka tidak berharga untuk menjadi musuhnya. Di samping itu, ia sudah lama belajar bahwa membunuh tidaklah bisa membuat orang lain benar-benar menghormatimu.

Ia malah menarik nafas dalam-dalam dan berkata dengan suara yang serak: “Perlahan saja, tidak usah terburu-buru. Pulanglah dan beritahu majikan kalian bahwa karena Li Yan Bei tidak mati hari ini, dia tentu akan menemukannya suatu hari nanti!”

Seseorang bertepuk tangan di atas atap sebelah kiri.

“Hebat! Ketenangan yang luar biasa! Kepercayaan diri yang tinggi! Sungguh sesuai dengan nama Li Yan Bei yang termasyur!” Orang itu berseru sambil tertawa.

Li Yan Bei pun mulai tertawa.

“Sayangnya walaupun Li Yan Bei yang termasyur ini memiliki tiga kepala dan enam tangan, ia masih bukan tandingan dua jari Lu Xiao Feng!”

Sambil tertawa terbahak-bahak, orang itu pun melompat turun dari atas atap. Wajahnya yang bulat lonjong tampak tertutup oleh debu dan keringat karena perjalanan jauh, tapi matanya masih jernih dan alis matanya masih hitam bersinar.

Empat alis mata. Selain dari dia, siapa lagi di dunia ini yang bisa merawat kumis seindah alis matanya”

“Kau tahu siapa aku?”

“Sentilan Keping Uang Emas tadi selalu mengandalkan tenaga jari orangnya,” Li Yan Bei berujar.

“Selain dari Lu Xiao Feng, siapa lagi yang mampu memutuskan 28 buah tali busur sekaligus?”

______________________________

Matahari telah terbit. Di bawah sinar matahari, uap yang mengepul dari panci masak itu terlihat seperti kabut pagi.

Lu Xiao Feng memegang sepotong daging babi yang masih mengepulkan asap di satu tangannya dan semangkuk sup kacang panjang yang difermentasi di tangannya yang lain, ini adalah mangkuk ketiganya. Setelah menghabiskan isi mangkuk ketiganya, barulah ia akhirnya menarik nafas panjang dan menghapus keringat di keningnya.

“Selama tiga tahun sejak aku pulang dari ibukota, kau tahu apa yang paling kurindukan?” Ia bertanya sambil tersenyum.

“Sup kacang panjang?” Li Yan Bei menjawab sambil tersenyum.

Lu Xiao Feng mendongakkan kepalanya dan tertawa.

“Yang paling kurindukan memang sup kacang panjang, dan yang kedua adalah hati goreng, terutama hati goreng dari Losmen Dewa Berkumpul, belum lagi daging panggang Paviliun Sinar Gemilang dan pai daging dari Jalan Pai Daging.”

“Bagaimana denganku?” Tanya Li Yan Bei senang.

“Yah, bila aku tidak lapar, barulah aku memikirkanmu,” jawab Lu Xiao Feng sambil tersenyum.

“Tapi kau mungkin tidak mengira, akan datang suatu hari di mana aku hampir tewas di tangan orang lain.”

Lu Xiao Feng terpaksa mengakui kebenaran hal itu.

“Aku tidak menyangka kalau kau akan melepaskan mereka begitu saja!”

“Kau kira aku suka membunuh?”

Sebuah senyuman kembali muncul di wajah Lu Xiao Feng.

“Jika kau suka membunuh, maka aku khawatir kalau kau tidak akan hidup hingga hari ini.”

“Tapi kau?”

“Tapi kau setidaknya harus bertanya siapa yang mengirimkan mereka!” Lu Xiao Feng memotongnya.

Sebuah senyuman pun muncul di wajah Li Yan Bei.

“Aku tidak perlu bertanya.”

“Kau sudah bisa menebaknya?”

Senyuman di wajah Li Yan Bei terlihat tidak begitu senang.

“Selain dari Du tua di bagian selatan kota, siapa lagi yang cukup berani untuk membuat sebuah gerakan seperti itu?” Ia berujar dengan santai.

“Du Tong Xuan?”

Li Yan Bei mengangguk, tapi kulit kerang rebus yang baru saja ia ambil telah diremasnya menjadi debu.

“Kalian berdua tidak berhubungan satu sama lain selama sepuluh tahun terakhir ini, dan seharusnya ia sudah lama tahu kalau kau bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi. Mengapa ia mau mengambil resiko seperti ini?”

“Untuk enam ratus ribu tail perak dan wilayahnya di sebelah selatan kota.”

Lu Xiao Feng tidak mengerti.

“Aku telah bertaruh dengannya, dan imbalannya adalah enam ratus ribu tail perak dan seluruh wilayah kekuasaannya.”

Ini baru taruhan yang luar biasa. Bahkan Lu Xiao Feng pun tak tahan untuk tidak menarik nafas dalam-dalam.

“Apa yang kalian pertaruhkan?”

“Duel tanggal 15 September!”

Malam bulan purnama, puncak Zi Jin, sebatang pedang dari barat, seorang malaikat dari luar langit!

“Duel itu awalnya dijadwalkan pada tanggal 15 Agustus di puncak Zi Jin. Tapi Xi Men Chui Xue minta ditunda selama sebulan dan mengganti tempatnya jadi di sini.”

“Aku tahu.”

“Sejak tanggal 15 Agustus, tidak seorang pun di dunia ini yang pernah melihat atau mendengar tentang Xi Men Chui Xue lagi!”

Lu Xiao Feng kembali menarik nafas. Tentu saja ia pun tahu tentang hal ini. Ia juga sedang berusaha mencari Xi Men Chui Xue, berusaha amat keras.

“Itulah sebabnya, semua orang berpendapat bahwa Xi Men Chui Xue tentu takut pada Ye Gu Cheng,” Li Yan Bei meneruskan, “bahwa ia tentu telah pergi bersembunyi.”

“Tapi kau tahu pasti bahwa ia bukanlah orang seperti itu!”

Li Yan Bei mengangguk.

“Itulah sebabnya, walaupun orang lain berpendapat bahwa ia tentu akan kalah, aku tetap bertaruh untuk kemenangannya! Tidak perduli berapa pun besar taruhannya!”

“Tentu saja Du Tong Xuan tidak membiarkan kesempatan seperti ini dilewatkan begitu saja.”

“Maka ia pun bertaruh denganku.”

“Menggunakan wilayahnya serta wilayahmu sebagai taruhannya?”

“Dan jika ia kalah, ia masih harus membayar enam ratus ribu tail perak sebagai tambahannya.”

“Aku tahu, bahkan sebulan yang lalu orang mau bertaruh 2 berbanding 3 bahwa Ye Gu Cheng akan menang!”

“Perbandingannya bahkan mencapai 2 lawan 1 sejak beberapa hari yang lalu. Semua orang masih berpendapat bahwa Ye Gu Cheng yang akan menang. Sampai kemarin pagi, Du Tong Xuan masih yakin bahwa ia memiliki kesempatan menang 9 berbanding 10.”

“Sampai kemarin pagi?”

“Karena situasi telah berubah kemarin sore!”

“Oh?”

Li Yan Bei menatap Lu Xiao Feng dengan hampir tak percaya.

“Kau belum mendengar berita bahwa Ye Gu Cheng telah terluka?”

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya, jelas ia terkejut mendengar berita itu.

“Bagaimana ia bisa terluka” Siapa yang mampu melukainya?”

“Tang Tian Yi.”

“Putera tertua keluarga Tang?” Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

“Benar.”

“Menurut kabar burung, karena sesuatu sebab yang tidak diketahui, mereka berdua telah bertempur di dekat Zhang Jia Kou. Walaupun jurus Ye Gu Cheng, Malaikat Luar Langit, memberi luka yang berat pada Tang Tian Yi, ia juga terkena segenggam Pasir Beracun dari Tang Tian Yi.”

Racun keluarga Tang hanya bisa diobati oleh keturunan keluarga Tang. Bila seseorang terkena racun mereka, tidak perduli siapa pun dia, walaupun ia tidak segera mati, nyawanya tentu tidak akan berumur panjang.

“Setelah berita itu tiba di sini, orang-orang yang memasang taruhan untuk Ye Gu Cheng jadi seperti semut di atas penggorengan, ada yang hendak bunuh diri, yang lainnya berusaha mencari cara agar taruhan mereka bisa dibatalkan.”

“Dan tentu saja, jika lawan bertaruhnya mati, maka taruhan itu pun batal!” Lu Xiao Feng menyimpulkan.

Li Yan Bei mendengus dingin.

“Itulah sebabnya Du Tong Xuan mau mengambil resiko seperti itu dan berusaha membunuhku!” Li Yan Bei menyelesaikan kesimpulannya itu.

Lu Xiao Feng menarik nafas. Ia akhirnya faham sebab-musabab kejadian tadi.

“Menurut kabar angin, tadi malam saja setidaknya ada 30 orang yang mati di kota ini karena hal tersebut. Bahkan Komandan Istana Kerajaan Barat, “Telapak Tangan Besi Membalik Langit”, dijebak oleh seseorang di dalam gang di belakang Jalan Singa Besi karena ia memasang taruhan delapan ribu tail untuk Xi Men Chui Xue.”

“Tidak disangka delapan ribu tail perak sudah cukup untuk membeli nyawa Zhao si Telapak Tangan Besi!”

“Kadang-kadang, delapan puluh tail perak pun sudah cukup untuk membeli nyawa orang!”

Lu Xiao Feng menatap makanan yang ada di hadapannya dan menyadari bahwa, tiba-tiba, ia tidak merasa lapar lagi.

“Apakah ada yang melihat duel antara Ye Gu Cheng dan Tang Tian Yi dengan mata kepalanya sendiri?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Tidak.”

“Jika tidak ada yang melihatnya, lalu bagaimana kita bisa yakin bahwa berita ini dapat diandalkan?” Lu Xiao Feng bertanya.

“Karena semua orang percaya bahwa sumber berita ini tidak akan berdusta!”

“Siapa sumbernya?”

“Hwesio Jujur!”

Lu Xiao Feng tidak bisa bicara lagi. Bukan untuk pertama kalinya orang tidak bisa berkata apa-apa bila menyangkut kredibilitas Hwesio Jujur.

“Hwesio Jujur tiba di kota ini kira-kira tengah hari kemarin,” Li Yan Bei menjelaskan, “hal pertama yang ia lakukan adalah pergi ke restoran “Mata Telinga” dan memesan kue bola rebus. Ia makan sebuah kue, dan kemudian menarik nafas!”

Saat ini, minyak di daging babi itu tampak telah membeku karena hembusan angin bulan September dari Utara. Sekilas pandang, minyak itu terlihat seperti selapis es.

“Empat Pedang Dari Langit kebetulan sedang makan di sana pada saat itu, maka mereka pun bertanya padanya mengapa ia menarik nafas,” Li Yan Bei meneruskan. “Saat itulah Hwesio Jujur mengungkapkan berita tersebut.”

Tentu saja, bukan hanya Empat Pedang Dari Langit yang mendengar berita itu.

“Selain dari Hwesio Jujur dan Empat Pedang Dari Langit, setidaknya ada empat atau lima ratus orang terpandang yang telah melakukan perjalanan ke kota ini dalam setengah bulan terakhir.”

Lu Xiao Feng menatap minyak pada daging itu, tiba-tiba ia merasa ingin muntah.
“Dari apa yang aku dengar, setidaknya tentu ada tiga sampai empat ratus orang-orang yang lebih terkenal dari dunia persilatan yang akan tiba sebelum tanggal 15, di antara mereka setidaknya ada lima ketua sekte, sepuluh pemimpin organisasi, dan dua puluh tiga ketua perusahaan ekspedisi. Bahkan Tosu Kayu dari Wu Dang dan Ketua Kuil Shaolin pun akan datang ke sini. Tidak seorang pun yang ingin ketinggalan duel ini.”

Lu Xiao Feng tiba-tiba memukulkan tinjunya ke atas meja.

“Menurut mereka, siapa itu Xi Men Chui Xue dan Ye Gu Cheng” Dua ekor monyet sirkus yang sedang beraksi” Dua ekor anjing yang sedang berkelahi untuk memperebutkan tulang di jalanan?” Ia mengejek.

Daging dan penggorengan pun sampai mencelat dari atas meja waktu ia memukulkan tinjunya dan akhirnya bergulingan hingga berhenti di lantai.

Li Yan Bei memandang Lu Xiao Feng dengan heran. Ia tidak pernah melihat Lu Xiao Feng demikian emosionalnya, ia juga tidak tahu apa yang membuat Lu Xiao Feng begitu marahnya.

“Bukankah kau datang ke sini untuk menonton duel itu juga?” Ia terpaksa bertanya.

Tinju Lu Xiao Feng tampak terkepal erat.

“Aku hanya berharap tidak pernah melihat duel ini!”

“Tapi sekarang Ye Gu Cheng telah terluka, tidak mungkin Xi Men Chui Xue akan kalah!”

“Tidak perduli siapa pun yang menang atau kalah, itu sama saja!”

“Bukankah Xi Men Chui Xue sahabatmu?”

“Karena dia sahabatku, itulah sebabnya aku tidak ingin melihatnya seperti seekor anjing yang memburu sekerat tulang yang tidak kelihatan!”

“Tulang yang tidak kelihatan apa?” Li Yan Bei masih tidak mengerti.

“Reputasi.” ” Apa yang orang fikirkan tentangmu adalah sekerat tulang yang tidak kelihatan itu.

“Jika ia memenangkan duel ini, maka kau akan memperoleh wilayah Du Tong Xuan, dan jago-jago pedang yang egois itu akan mendapatkan tontonan yang bagus, juga bisa melihat jurus-jurus mereka serta cacat dan kelemahan-kelemahan dari teknik mereka. Tapi bagaimana dengan dia sendiri?” Lu Xiao Feng meneruskan dengan nada yang dingin.

Bukankah dia pun belum tentu menang” Tapi jika pun ia menang, apa manfaatnya bagi dirinya” Adakah orang yang benar-benar memahami perasaan sunyi yang dialami oleh pemenangnya” Li Yan Bei akhirnya memahami Lu Xiao Feng.

Ia menatap Lu Xiao Feng dalam bisu, menatapnya untuk waktu yang lama.

“Duel mereka ini, mereka sendiri yang ingin bertarung,” akhirnya ia berkata, dengan lambat. “Tidak ada yang memaksa mereka untuk melakukan ini!”

Tentu saja tidak. Tidak ada orang di dunia ini yang bisa memaksa kedua orang itu untuk berbuat sesuatu.

“Aku juga sahabat Xi Men Chui Xue,” Li Yan Bei meneruskan. “Aku pun tidak ingin melihatnya mengambil resiko ini, aku juga tidak bermaksud menggunakan dirinya untuk mendapatkan wilayah Du Tong Xuan. Tapi jika ia sendiri yang ingin bertarung, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya!”

Ia menatap mata Lu Xiao Feng dan meneruskan, sambil menekankan setiap patah katanya.

“Bahkan kau pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya!”

Lu Xiao Feng tidak ingin mengakuinya, tapi ia pun tidak bisa menyangkalnya.

“Yang lebih penting lagi, bahkan mereka berdua pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya!” Li Yan Bei menarik kesimpulan.

Banyak hal di dunia ini yang seperti itu. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang manusia di dunia ini, tidak perduli apakah ia menginginkannya atau tidak.

Lu Xiao Feng tiba-tiba menarik nafas dengan perlahan.

“Aku lelah, aku ingin mandi air hangat!”
______________________________

Bak mandi itu terbuat dari pualam dan airnya pun sangat panas. Lu Xiao Feng merendam seluruh tubuhnya dalam air panas dan berusaha sebisanya untuk merenggangkan tangan dan kakinya. Ia benar-benar letih, perasaan letih secara mental dan fisik yang berasal dari dalam hati seseorang.

Setiap kali menyelesaikan sesuatu yang besar, atau menyelesaikan sebuah kasus yang besar, ia selalu merasa seperti ini. Tapi tidak pernah sedalam ini.

Si Bandit Penyulam, Jin Jiu Ling, Lu Shao Hua, Nyonya Pertama Gong Sun, Jiang Chong Wei, Ou Yang Qing, Xue Bing” ia tidak ingin memikirkan orang-orang ini lagi, terutama Xue Bing.

Setiap kali teringat pada Xue Bing, hatinya akan merasa tertusuk — tertusuk oleh sebatang jarum jahit, jarum yang panjang, tajam, panas, dan beracun. Untuk melarikan diri dari perasaan sakit, ia selalu berusaha menghindar dari Nyonya Pertama Gong Sun. Itulah sebabnya, setelah tiba di Jin Ling, ia lalu menemukan sebuah cara dan diam-diam meninggalkan wanita itu.

Sayangnya ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa dilupakan, juga tidak bisa dihindari. Xi Men Chui Xue, Ye Gu Cheng, Du Tong Xuan, Hwesio Jujur”.

Ia tidak ingin berfikir lagi.

“Xi Men Chui Xue tentu telah tiba di sini!” Tiba-tiba ia berkata.

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?” Li Yan Bei sedang berbaring di tepi bak mandi. Seorang laki-laki kekar dan bertelanjang dada sedang sibuk menggosok-gosok punggungnya. Tempat ini berada di dalam wilayahnya. Ia aman di sini seperti pejabat di benteng mereka sendiri.

“Xi Men Chui Xue selalu menggunakan sebuah prinsip yang aneh.”

“Prinsip apa itu?”

“Ia selalu beranggapan bahwa membunuh atau dibunuh adalah sebuah peristiwa yang amat suci!”

“Oh?”

“Maka tidak perduli dengan siapa pun dia berduel, dia akan selalu tiba beberapa hari lebih dulu, berpuasa selama tiga hari, dan kemudian melakukan upacara mandi untuk membersihkan dirinya.”

Li Yan Bei tiba-tiba tertawa kecil.

“Dan kau berfikir bahwa ia aneh karena berbuat seperti itu?”

“Kau tidak berpendapat begitu?”

“Tidak.”

“Mengapa tidak?”

“Karena jika aku adalah dia, aku akan melakukan hal yang sama!”

Ia mengangkat tangannya untuk memberi tanda pada orang bertubuh kekar itu agar menggosok dengan lebih keras. Lebih dari sepuluh tahun menikmati arak dan wanita terbaik tidaklah meninggalkan tanda sedikit pun di tubuhnya. Perutnya masih rata seperti papan cuci dan otot-otot di tubuhnya masih terlihat menonjol seperti di waktu mudanya. Mandi dan pijat setiap hari benar-benar amat membantunya.

“Puasa dan membersihkan diri bisa menjernihkan fikiran seseorang dan membantunya berkonsentrasi. Tiba beberapa hari lebih dulu di lokasi duel akan membantu seseorang beradaptasi dengan tempat itu, memberinya keuntungan tersendiri dalam duel itu. Itulah sebabnya aku selalu yakin bahwa Xi Men Chui Xue bukanlah orang yang mudah dikalahkan. Karena jika ia tidak yakin 70 % menang, ia tidak akan pernah bertarung.”

“Jadi menurutmu pun ia telah tiba?”

“Mmhmm.”

“Tapi sampai hari ini, kau masih belum menemukan jejaknya.”

“Tidak.”

Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

“Dua orang yang begitu menarik perhatian seperti mereka telah tiba di sini dan kau tidak mendengar apa-apa” Itu benar-benar aneh.”

Li Yan Bei pun mengerutkan keningnya.

“Dua” Siapa yang satunya lagi?”

“Sun Xiu Qing.”

“Seorang wanita?”

“Seorang wanita yang sangat cantik!”

“Ia membawa seorang wanita di sisinya walaupun waktunya duel sudah dekat?”

“Ia tidak akan pernah membiarkan wanita lain berada di sisinya, tapi wanita ini berbeda.”

Li Yan Bei semakin mengerutkan keningnya dan berfikir beberapa lama sebelum menarik nafas keras-keras.

“Untunglah Ye Gu Cheng telah terluka, kalau tidak”.”

Ia berputar dan tiba-tiba berhenti bicara. Di luar ruangan yang penuh uap itu, sesosok tubuh manusia tiba-tiba muncul.

“Siapa itu?” Li Yan Bei berseru dengan galak.

Orang itu tidak menjawab, malah terdengar suara tawanya yang keji.

“Seharusnya kau tidak datang ke sini untuk mandi hari ini!”

“Mengapa tidak?” Li Yan Bei berseru lagi.

“Karena jika Du Tong Xuan bisa membeli Sun Chong, ia tentu bisa membeli orang yang menggosok punggungmu itu!”

Ekspresi wajah laki-laki bertubuh kekar itu tampak berubah secara dramatis dan ia tiba-tiba berusaha lari ke pintu. Tapi Li Yan Bei telah mencengkeram tangannya. Orang itu adalah seorang laki-laki yang kuat, tapi di bawah cengkeraman Li Yan Bei, tiba-tiba ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk bertarung. Ia berusaha melepaskan diri, tapi hanya terdengar suara pergelangan tangannya sendiri yang terpelintir.

“Racunnya ada di handuk. Jika kau menginginkan penawarnya, pergilah ke Paviliun Musim Semi Timur di luar sana.”

Sosok laki-laki itu bergerak seperti hantu, hanya dengan sebuah kibasan lengan baju, ia telah pergi. Tapi suaranya masih bisa terdengar dari jauh.

“Setibanya di Paviliun Musim Semi Timur, kau akan tahu siapa aku, kau masih bisa memburuku nanti!”

Setelah ucapannya selesai, setidaknya suaranya telah menjauh 200 m.
Li Yan Bei merenggut handuk dari tangan laki-laki kekar itu. Orang itu masih menjerit-jerit kesakitan saat Li Yan Bei menyumpalkan handuk itu ke dalam mulutnya yang terbuka. Jeritannya tiba-tiba berhenti dan tubuhnya mengejang dengan keras. Seluruh tubuhnya seperti mengerut saat ia melingkar dan roboh ke atas lantai, tidak bergerak lagi. Benar-benar ada racun di handuk itu!

Waktu laki-laki itu menggosok-gosok punggungnya tadi, racun di handuk tentu telah masuk lewat kulitnya. Tiba-tiba, setiap urat di tubuh Li Yan Bei mulai tersentak dan melompat tak terkendali.

Bahkan Lu Xiao Feng pun dibuat tercengang melihat pemandangan di depannya itu.

“Du Tong Xuan! Benar-benar siasat yang keji!”

“Dan siapakah laki-laki tadi?” Li Yan Bei bertanya, tinjunya terkepal erat dan ia berusaha mengendalikan diri. “Bagaimana ia tahu tentang rencana Du Tong Xuan” Dan mengapa ia menyelamatkanku?”

Untuk menemukan jawabannya, hanya ada satu hal yang bisa dilakukan.

“Pergi ke Paviliun Musim Semi Timur!”

—————-

Paviliun Musim Semi Timur juga berada di dalam wilayah Li Yan Bei. Mereka pergi ke sana dengan menaiki kereta walaupun Li Yan Bei biasanya lebih suka berjalan kaki. Tapi, karena ia khawatir kalau racun itu menyebar, ia tidak ingin membuang-buang lebih banyak tenaga daripada yang diperlukan.

Orang-orang yang melihatnya tetap bersikap sopan dan hormat seperti biasa, membungkuk dalam-dalam sebagai tanda hormat saat mereka melihatnya lewat. Tidak ada yang tahu bahwa nyawa harimau ini sedang dalam bahaya. Tentu saja Li Yan Bei tidak bersikap sopan dan hormat seperti biasa ” tidak ada orang dengan “sekarung bahan peledak” yang sewaktu-waktu bisa meledak di dalam dirinya akan tetap bisa bersikap ramah.

Paviliun Musim Semi Timur berukuran besar dan merupakan sebuah bisnis yang maju pesat. Saat mereka tiba, tidak ada meja yang kosong, tapi ke mana pun Li Yan Bei pergi tentu seseorang akan bangkit dan menyerahkan meja untuknya. Mereka lalu mengambil sebuah meja di tengah ruangan, menghadap ke tangga agar mereka segera bisa melihat setiap orang yang menaiki tangga. Tidak ada orang yang naik ke lantai atas, hanya ada orang-orang yang turun.

Melihat tatapan gusar di wajah Li Yan Bei, orang-orang yang tahu gelagat telah bersiap-siap untuk pergi, ada yang diam-diam segera melakukan pembayaran dan yang lainnya diam-diam membicarakan keadaan itu.

Tiba-tiba, semua hiruk-pikuk dan suara di gedung itu pun lenyap. Setiap mata terpaku pada satu orang, seseorang yang baru saja berjalan di tangga.

Orang ini bertubuh amat jangkung, dan sangat kurus. Pakaiannya terbuat dari bahan pilihan dan sikapnya pun luar biasa sopan. Walaupun ia belum begitu tua, rambutnya telah banyak yang beruban. Wajahnya yang tirus dan hijau bukan hanya membawa tanda-tanda penyakit tapi juga sikap berkuasa dan wibawa yang menonjol, membuat mustahil bagi orang lain untuk memandang rendah dirinya.

Ia mengenakan pakaian berwarna biru jamrud dari bahan kain dan warna terbaik, di tiap tangannya yang halus dan terawat baik ada sebutir cincin giok putih yang tidak ternilai harganya. Bahkan pada sabuk suteranya pun ada sebutir giok tak bercacat yang berukuran besar. Dilihat dari penampilannya, ia seperti seorang pejabat dari Istana Kerajaan atau seorang sarjana dari Akademi Kerajaan.

Kenyataannya, sejumlah orang memang memanggilnya Tuan Sarjana, dan ia benar-benar menyukai panggilan itu. Tapi ia bukanlah sarjana yang sesungguhnya.

Tidak ada orang yang membayangkan bahwa Du Tong Xuan tiba-tiba akan muncul di dalam wilayah Li Yan Bei, sama seperti tidak ada orang yang membayangkan bahwa seekor serigala akan memasuki sarang harimau. Dalam sepuluh tahun terakhir, Du Tong Xuan tidak pernah sekali pun menjejakkan kakinya di luar wilayah selatan kota itu.

Sarjana Du adalah orang yang selalu teliti dan berhati-hati, apa yang membuatnya berubah hari ini”

Lebih tak bisa dibayangkan lagi bagi setiap orang yang hadir, ia tampak berjalan menghampiri Li Yan Bei.

“Kuharap Jenderal Li baik-baik saja hari ini?” Ia bertanya sambil tersenyum saat merangkap tangannya.

Ia suka bila orang lain memanggilnya Sarjana Du, tapi Li Yan Bei benci bila disebut sebagai Jenderal Li. Lu Xiao Feng tertawa. Baginya, baik itu Sarjana atau Jenderal, kedua sebutan itu amat lucu.

“Dan mungkin Tuan ini adalah Pendekar Cepat Hati Tangkas Fikiran Lu Xiao Feng?” Du Tong Xuan pun memandangnya dan tersenyum.

“Tuan bukan sarjana, dia bukan jenderal, dan aku bukan pendekar, menurutku sebaiknya kita menghapus sebutan basa-basi ini.” Lu Xiao Feng menjawab sambil tertawa.

Ekspresi wajah Du Tong Xuan tampak tidak berubah dan sikapnya pun tetap sopan dan agung. Lu Xiao Feng merasa sukar untuk membayangkan bahwa Du tua dari selatan kota ini adalah seorang pembunuh yang berdarah dingin.

Tatapan mata Li Yan Bei seperti pisau, langsung menusuk ke arahnya.

“Jika aku adalah kau, aku tidak akan pernah datang ke mari!” Tiba-tiba ia berkata.

“Aku bukan kau, maka aku pun datang!”

“Seharusnya kau tidak datang!”

“Aku telah datang!”

“Jika kau ingin datang ke sini, itu boleh-boleh saja.” Li Yan Bei mengejek. “Tapi aku khawatir perginya tidaklah begitu mudah.”

Du Tong Xuan hanya tersenyum.

“Apakah ini cara Jenderal Li membalas orang yang menyelamatkan nyawanya?”

Jawaban ini mengejutkan Li Yan Bei.

Du Tong Xuan, dengan menggunakan sepasang tangannya yang memakai cincin giok, menarik sebuah kursi dan duduk di meja.

“Tadinya kukira, setidaknya kau akan mengajakku minum.” Ia meneruskan sambil tersenyum.

“Apakah orang yang menyelamatkanku itu benar-benar kau?” Li Yan Bei akhirnya bertanya.

Du Tong Xuan mengangguk.

Li Yan Bei terbelalak.

“Hari ini telah terjadi dua kali usaha pembunuhan terhadapku, itu juga perbuatanmu?”

“Kadang-kadang aku merasa amat mudah merubah fikiranku!” Du Tong Xuan menjawab seenaknya.

“Apa yang membuatmu berubah fikiran?”

Du Tong Xuan tidak menjawab pertanyaan itu; ia malah tiba-tiba berseru: “Penawarnya!”

Hampir sebelum ia selesai berteriak, seorang laki-laki telah muncul di belakangnya. Seorang laki-laki bertubuh pendek dan kurus serta berpakaian serba hitam. Raut wajahnya yang pucat pasi benar-benar tidak menampilkan emosi, tapi matanya cekung ke dalam dan gelap seperti lubang. Jika bukan karena matanya, ia tentu disangka mayat.

Semua orang berada di ruangan itu, tapi anehnya tidak ada yang melihat cara dia tiba di situ. Wajah seperti mayat, kecepatan seperti hantu. Li Yan Bei segera faham bahwa dia bukan lain adalah orang yang muncul dan menghilang secara misterius dari kamar mandi tadi. Dengan tangannya yang seperti cakar setan, ia meletakkan sebuah kotak kayu berwarna hijau di atas meja.

“Ini adalah obat penawarnya, kusarankan agar kau menggunakannya sesegera mungkin, karena pengaruh racun itu akan segera menyebar!”

Tinju Li Yan Bei tetap terkepal. Baginya, mengambil obat penawar ini di hadapan semua orang benar-benar merupakan sebuah peristiwa yang amat memalukan.

Tapi ia pun tidak bisa menolak.

Dan Du Tong Xuan tahu kalau ia tidak bisa menolak.

“Aku datang ke sini hanya untuk memberikan penawarnya, tapi sekarang”.” Ia berkata dengan santai.

“Kau berubah fikiran lagi?”

Du Tong Xuan tersenyum.

“Aku baru teringat bahwa ada sesuatu yang hendak diminta darimu!”

“Apa?”

“Tak tahu apakah kau tertarik untuk menambah taruhan kita sedikit lagi!”

Li Yan Bei tercengang sekali lagi.

“Kau ingin menaikkan taruhannya?”

“Kau takut?”

“Berapa banyak yang ingin kau tambahkan?”

“Berapa banyak yang bisa kau pertaruhkan?”

Tinju Li Yan Bei di bawah meja kembali terkepal.

“Di empat rumah judiku, masih tersimpan lebih dari delapan ratus ribu tail perak lagi!”

“Maka aku akan memasang satu juta dua ratus ribu tail perak lagi di sana besok pagi!” Matanya tampak bersinar-sinar. “Aku tidak ingin mengambil keuntungan darimu, maka pertaruhan kita tetap dua berbanding tiga!”

Mata Li Yan Bei pun tampak bersinar-sinar, ia menatap wajah Du Tong Xuan dan berujar, kata demi kata: “Jika aku kalah, aku akan segera meninggalkan ibukota. Selama kau hidup, aku tak akan pernah menginjakkan kaki lagi di ibukota!”

“Jika aku kalah, aku akan segera meninggalkan negara ini. Selama kau hidup, aku tak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di wilayah dalam Tembok Besar!”

“Taruhan ini jadi?”

“Mari kita bertepuk tangan sebagai tanda jadi!”

Kedua laki-laki itu mengangkat tangan mereka dengan lambat, mata tidak pernah meninggalkan mata lawannya. Tiba-tiba, satu suara pun tidak terdengar lagi di dalam gedung itu. Taruhan seperti ini benar-benar di luar bayangan semua orang, mereka telah mempertaruhkan hidup seluruh keluarga mereka hingga ke anak cucu.

Setiap orang menatap kedua telapak tangan itu, telapak tangan mereka sendiri telah dipenuhi oleh keringat dingin.

“Plak!” Suara bertemunya dua telapak tangan terdengar membahana, tapi untuk siapakah lonceng berbunyi”

Ekspresi wajah Li Yan Bei terlihat amat serius, setelah beberapa lama barulah ia akhirnya menurunkan tangannya.

Tapi Du Tong Xuan tampak tersenyum angkuh.

“Kau tentu heran, mengapa aku mau menaikkan taruhan setelah aku tahu bahwa Ye Gu Cheng terluka?”

Li Yan Bei tidak menyangkal ucapan itu, karena ia benar-benar merasa hal ini amat aneh. Semua orang pun merasa demikian. Du Tong Xuan merupakan orang yang selalu berhati-hati dan tidak pernah melakukan hal yang tidak ia yakini. Mengapa ia begitu yakin akan hal ini” Jawaban untuk pertanyaan tersebut akan datang dengan amat cepat!
______________________________

Angin bertiup di luar jendela. Tiba-tiba, semua orang mencium aroma bunga yang aneh. Enam orang gadis muda dengan rambut hitam pekat hingga ke bahu dan berpakaian putih terlihat berjalan menaiki tangga sambil menyebarkan bunga-bunga dari keranjang di tangan mereka ke atas lantai, menciptakan sebuah karpet bunga hingga ke atas tangga.

Seorang laki-laki, sambil melangkah di atas bunga-bunga itu, berjalan dengan perlahan menaiki tangga. Wajahnya putih, bukan putih tak berwarna atau putih pucat, tapi semacam warna putih yang menggetarkan dan bersinar-sinar, seperti sekeping giok putih.

Matanya tidak begitu hitam, tapi bening menakutkan, seperti dua buah bintang dingin. Di bagian atas rambutnya yang hitam pekat terdapat sebuah mahkota mutiara yang terbuat dari kayu putih. Pakaian yang ia kenakan juga putih seperti salju. Waktu berjalan, ia bersikap seperti seorang raja yang sedang berjalan memasuki istananya sendiri, atau seperti seorang malaikat yang datang mengunjungi dunia fana.

Li Yan Bei tidak mengenal orang ini, ia pun belum pernah melihat laki-laki ini sebelumnya. Tapi ia tahu siapa orang ini!

“Sebatang pedang dari barat, seorang malaikat dari luar langit!” Majikan Benteng Awan Putih Ye Gu Cheng telah muncul! Ia masih hidup!

Terdapat seberkas cahaya yang hampir membuat orang juling yang terpancar dari tubuhnya. Tidak ada orang waras yang berani mengatakan bahwa ia tampaknya sedang terluka.

Saat Li Yan Bei melihatnya, nafasnya hampir saja berhenti, tapi hatinya benar-benar karam. Ye Gu Cheng tidak meliriknya, matanya yang dingin dan berkilauan itu sedang menatap Lu Xiao Feng. Lu Xiao Feng pun tersenyum.

“Kau juga datang!” Ye Gu Cheng berkata.

“Aku juga datang!” Lu Xiao Feng menjawab.

“Bagus, aku tahu kau akan datang!”

Lu Xiao Feng tidak menjawab, karena mata Ye Gu Cheng tiba-tiba telah berpaling.

“Siapa di antara kalian yang bernama Tang Tian Rong?” Tiba-tiba ia bertanya.

Saat ia mengajukan pertanyaan ini, matanya telah berhenti pada seorang laki-laki yang berada di sudut sebelah kiri.

Wajah orang ini sebenarnya amat tampan, tapi sekarang tiba-tiba tampak membeku dan tertekuk. Selama ini ia duduk dalam diam di sudut sana, bahkan Lu Xiao Feng pun tidak melihat kapan ia datang. Ia masih amat muda, pakaiannya sangat mentereng dan indah, tapi di matanya terlihat sinar mata yang kejam seperti mata seekor burung pemakan bangkai.

“Aku Tang Tian Rong!” Ia menjawab, sambil menekankan setiap patah katanya.

Orang-orang yang duduk pada tujuh atau delapan buah meja di antara dia dan Ye Gu Cheng tiba-tiba berpencaran ke dua sudut lainnya di ruangan itu.

“Kau tahu siapa aku?” Ye Gu Cheng bertanya.

Tang Tian Rong mengangguk.

“Kau heran kenapa aku masih hidup?”

Sudut mulut Tang Tian Rong tampak agak meringis.

“Siapa yang memberimu obat penawarnya?”

Baru sekarang semua orang tahu bahwa, kali ini pun Hwesio Jujur tidak berkata bohong. Ye Gu Cheng benar-benar terluka, terluka oleh Pasir Beracun dari keluarga Tang. Tapi bagaimana mungkin racun yang telah lama menakutkan semua orang di dunia persilatan itu tidak memberikan pengaruh apa-apa pada Ye Gu Cheng” Siapa yang memberinya obat penawar”

Semua orang ingin mendengar jawaban Ye Gu Cheng, tapi ia tidak akan mau menjawab pertanyaan ini.

Ia malah menjawab dengan santai: “Tidak ada racun, mengapa meributkan obat penawarnya?”

“Tidak ada racun?”

“Mana ada racun di dalam segelintir debu?”

Wajah Tang Tian Rong tampak tertekuk.

“Pasir Terbang keluargaku itu bukan apa-apa selain hanya segelintir debu di matamu?”

Ye Gu Cheng mengangguk. Tang Tian Rong tidak bicara lagi, ia pun bangkit dengan perlahan dan melonggarkan jubahnya untuk memperlihatkan baju yang ia kenakan di sebelah dalam.

Bajunya tidak aneh, juga tidak mengerikan. Yang menakutkan adalah dua buah kantung kulit macan tutul yang tergantung erat di sekeliling pinggulnya serta sepasang sarung tangan kulit-ikan di pinggangnya!

Seluruh paviliun itu tiba-tiba menjadi sepi lagi. Setiap orang ingin pergi, tapi tidak ada yang mau pergi. Karena semua orang tahu bahwa di sinilah, saat inilah, sebuah pertarungan yang luar biasa akan terjadi.

Tang Tian Rong melepaskan jubahnya dan memasang sarung-tangannya. Sarung tangan kulit ikan itu mengeluarkan sinar hijau yang menyeramkan, wajah pemuda itu pun tampak hijau.

Ye Gu Cheng berdiri dengan tenang di sana, sambil mengawasi. Seorang anak laki-laki berbaju putih berjalan menghampiri dari belakangnya dan menyerahkan sebatang pedang antik yang indah dan bersarung hitam. Pedang itu sekarang telah berada di tangannya!

Mata Tang Tian Rong tidak pernah lepas dari pedang di tangannya.

“Ada lagi yang menganggap bahwa Pasir Terbang keluargaku tidak lebih dari segelintir debu?”

Tiba-tiba ia berseru.

Tentu saja tidak ada orang yang menyahut!

“Jika tidak ada lagi yang berpendapat demikian, maka sebaiknya semua orang silakan turun ke bawah untuk menghindari nasib naas!”

Orang-orang yang tadi tidak mau pergi sekarang terpaksa harus pergi. Pasir Beracun keluarga Tang, di mata orang-orang dunia persilatan itu, bahkan lebih menakutkan daripada Bencana Hitam (Penyakit Pes). Tidak ada yang berani mengambil resiko walau seorang pun.

“Tidak usah pergi!” Tiba-tiba Ye Gu Cheng berucap.

“Tidak usah?”

“Aku menjamin bahwa kau tak akan bisa melepaskan Pasir Beracun itu dari tanganmu!” Ia menjawab seenaknya.

Ekspresi wajah Tang Tian Rong tampak berubah lagi.

Pasir Beracun Keluarga Tang bukan hanya menakutkan karena kandungan racunnya, tapi juga karena gerakan anak murid Keluarga Tang yang amat cepat luar biasa!

Bahkan orang-orang yang telah menyaksikan serangan mereka tidak bisa menjelaskan bagaimana cara mereka menyerang. Tapi kali ini Tang Tian Rong benar-benar tidak mampu melepaskan pasir beracun itu. Saat tangannya bergerak, sinar pedang pun telah melesat!

Tidak ada yang bisa menjelaskan betapa spektakuler dan mempesonanya serangan itu, apalagi menjelaskan kecepatannya! Ini bukan sekedar pedang, tapi raungan marah dari dewa petir. Seperti kilat, ia melesat, dan menghilang.

Ye Gu Cheng telah kembali berada di atas karpet bunga. Tapi Tang Tian Rong pun masih berdiri di sana, tidak bergerak sedikit pun, tangannya telah menggelantung di sisinya, dan wajahnya tampak kaku membeku.

Baru kemudian semua orang melihat darah tiba-tiba menyembur dari bawah tulang pundak di kedua bahunya. Air mata pun membanjir keluar bersama darah. Ia tahu, saat ini, bahwa dalam hidupnya ia tak akan pernah bisa menggunakan racun lagi. Bagi seorang anggota keluarga Tang, nasib itu bahkan lebih menakutkan dan kejam daripada kematian sendiri!

Tapi sekarang perhatian Ye Gu Cheng telah beralih kembali pada Lu Xiao Feng.

“Jurus Malaikat Luar Langit yang luar biasa!” Bahkan Lu Xiao Feng pun terpaksa memuji jurus itu.

“Ini memang sebuah jurus yang tiada tandingannya di dunia!” Ye Gu Cheng berujar.

“Aku tidak membantahnya!” Lu Xiao Feng setuju.

Sebuah emosi yang aneh tiba-tiba muncul di mata Ye Gu Cheng dan ia mengajukan sebuah pertanyaan yang amat aneh.

“Bagaimana dengan Xi Men Chui Xue?”

“Aku bukan Xi Men Chui Xue!” Lu Xiao Feng menjawab.

Sebuah pertanyaan yang aneh hanya bisa dijawab dengan sebuah jawaban yang aneh pula.

Ye Gu Cheng tersenyum dan menatap Lu Xiao Feng.

“Baguslah kalau kau bukan,” ia menjawab dengan lambat.

Masih sambil tersenyum, ia berputar dan berjalan menuruni tangga.

Setelah ia pergi, seluruh paviliun itu tiba-tiba seperti meledak. Ada yang berdebat dengan suara keras, sementara yang lainnya saling berlomba untuk menjadi orang pertama yang menyebarkan berita itu. Ye Gu Cheng bukan hanya tidak mati, ia bahkan tidak terluka. Semua orang telah melihat jurusnya! Jurus yang tiada tanding, tiada banding! Li Yan Bei juga melihatnya, melihatnya dengan amat jelas. Itulah sebabnya ia sekarang terlihat sedang menerawang kosong.

Du Tong Xuan meliriknya dan tiba-tiba tersenyum.

“Aku yakin kau sekarang sadar mengapa aku tadi berubah fikiran!”

Li Yan Bei tidak menjawab, dan ia memang tidak perlu menjawab.

“Biasanya aku hanya membunuh orang, bukan menyelamatkan mereka, tapi kali ini aku membuat sebuah pengecualian.” Du Tong Xuan meneruskan. “Karena aku tidak ingin kau mati!”

Masih sambil tersenyum, ia bangkit berdiri.

“Karena mayat tidak bisa membayar hutang, hutang judi!”
______________________________

Hutang judi. Hanya mayat yang boleh tidak membayar hutang seperti itu. Selama Li Yan Bei masih hidup, maka ia harus membayarnya. Seorang laki-laki yang berpegang pada kata-katanya tidak akan pernah dapat hidup di tempat seperti ini!

Sekarang, walaupun pertarungan itu belum dimulai, setiap orang telah yakin bahwa Li Yan Bei akan kalah. Tapi jika ia benar-benar kalah taruhan, bertahan hidup tidaklah lebih baik daripada mati.

Perlahan, dengan bimbang, Li Yan Bei memungut obat penawar yang ditinggalkan Du Tong Xuan di atas meja. Tiba-tiba ia tertawa.

“Tidak perduli apa, setidaknya Du Tong Xuan pernah menyelamatkan hidupku satu kali!”

Tawanya terlihat amat dipaksakan. Tangan yang memungut obat itu pun tampak agak gemetaran.

“Tidak perduli apa, setidaknya kau sekarang masih hidup, dan belum kalah!” Lu Xiao Feng berusaha menghiburnya.

“Setidaknya belum,” Li Yan Bei mengangguk.

Lu Xiao Feng menatap wajah Li Yan Bei.

“Tapi tampaknya kau tidak seyakin sebelumnya.”

Li Yan Bei tidak menyangkalnya, ia memang tidak bisa. Setelah lama terdiam, barulah ia akhirnya menarik nafas yang panjang dan lelah.

“Yang tadi itu benar-benar sebuah jurus tanpa tandingan di dunia ini!”

“Sebuah jurus tanpa tanding bukanlah berarti sebuah jurus yang pasti menang!” Lu Xiao Feng berujar.

“Oh?”

“Tidak ada jurus yang pasti menang di dunia ini!”

“Aku tahu bahwa Xi Men Chui Xue belum pernah kalah, setidaknya ia tentu memiliki setengah kesempatan untuk menang, tapi sekarang”.”

“Sekarang kenapa?”

Li Yan Bei kembali tersenyum, sekali lagi sebuah senyuman yang semakin dipaksakan.

“Jika ia telah tiba di kota ini, setidaknya aku tentu telah mengetahuinya sekarang!”

“Jadi jika kau tidak mengetahuinya, maka itu berarti ia belum datang?”

“Kau bisa berkata begitu!”

“Dan jika dia belum datang ke sini, itu menunjukkan bahwa ia pun tidak yakin pada dirinya sendiri?”

“Bagaimana menurutmu?” Li Yan Bei balas melemparkan pertanyaan itu padanya.

“Aku tidak tahu, aku tidak suka berspekulasi terlalu banyak mengenai hal-hal yang belum terjadi!”

Mendengar komentar itu, Li Yan Bei kembali terdiam.

“Kau mengenal orang yang datang bersama Du Tong Xuan tadi?” Tiba-tiba ia bertanya.

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya.

“Tapi kau mungkin sudah melihat bahwa ilmu meringankan tubuhnya sama sekali tidak rendah!”

“Jauh dari rendah. Sekarang ini, yang lebih baik darinya mungkin jumlahnya kurang dari 10 orang!”

“Kau telah pergi ke mana-mana dan melihat banyak hal, setidaknya kau mungkin bisa menebak siapa dia?”

“Jika bukan karena bentuk tubuhnya yang kecil dan ceking, aku mungkin akan mengira kalau dia adalah SiKong Zhai Xing!” Lu Xiao Feng berkata, sambil berfikir.

“Tapi bukan?”

“Sama sekali bukan.”

“Itulah sebabnya kau tidak bisa menebak siapa dirinya?”

“Tapi aku tak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak benar!”

“Apa yang mengusikmu?”

“Tidak perduli siapa pun dia, berdasarkan kemampuannya, tak mungkin dia menjadi pelayan orang seperti itu!”

Li Yan Bei tidak berkata apa-apa lagi untuk beberapa lama.

“Kau baru tiba di ibukota sini, aku tahu kau tentu sangat ingin berkeliling kota sebentar. Aku yakin kau akan bertemu banyak teman.”

Lu Xiao Feng tidak menyangkal ucapan itu.

Ia sebenarnya ingin melihat orang-orang macam apa yang muncul di sini, dan ia juga ingin mencari Hwesio Jujur.

“Malam ini aku akan pergi ke Gedung Kebahagiaan Kekal di Jalan Ikan Emas dan memesan dua piring makanan dan minta dikirimkan ke rumahku. Kita akan merayakan pertemuan kita di rumahku malam ini!”

“Bagus!” Lu Xiao Feng menjawab sebelum tiba-tiba tertawa dengan terbahak-bahak. “Rumahmu yang mana?”

Li Yan Bei pun tertawa.

“Hari ini tanggal 13″ Aku akan makan malam di rumah isteriku yang ke-13 malam ini. Di samping itu, ia ingin bertemu denganmu dan mencari tahu kenapa kau memiliki 4 alis mata.”

“Aku juga ingin bertemu dengannya, kudengar dia sangat terkenal karena kecantikannya!” Lu Xiao Feng tersenyum.

“Bagus!” Li Yan Bei tertawa. “Bila waktu makan malam sudah dekat, aku akan menyuruh orang untuk menunggumu di sini dan membawamu ke tempatku!”

“Jika aku kebetulan bertemu dengan Hua Man Lou, aku mungkin akan mengajaknya juga!”

“Tidak masalah!”

Lu Xiao Feng tiba-tiba menarik nafas.

“Hal yang aneh adalah, tampaknya ia pun telah menghilang bersama Xi Men Chui Xue. Jika aku bisa menemukannya, aku mungkin dapat menemukan Xi Men Chui Xue juga!”

“Mengapa begitu?”

“Ia memiliki kemampuan aneh untuk mencari orang, bahkan aku pun tak bisa menjelaskan dengan tepat bagaimana cara dia melakukannya!”

“Jika kau pergi berjalan-jalan ke luar, mungkin malah dia yang akan menemukanmu!”

“Sangat mungkin.”

“Lalu apa yang kau tunggu?”

Lu Xiao Feng memandang wajah Li Yan Bei dan menjawab dengan lambat: “Menunggumu minum obat penawar itu!”

“Kau ingin melihatku mengambil obat penawar ini sebelum kau pergi?”

Lu Xiao Feng mengangguk.

Li Yan Bei tiba-tiba mendongakkan kepalanya dan tertawa.

“Jangan khawatir, aku masih belum mau mati. Aku tidak ingin membuat 30 orang wanita sekaligus berubah menjadi janda!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: