Kumpulan Cerita Silat

03/02/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (25)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:21 pm

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 25. Pedang Yang Berkelebat Kesegala Arah
Oleh Gu Long

Panas yang membakar.

Seharusnya tidak pernah sepanas ini setelah turun hujan yang panjang.

Butiran-butiran keringat mengalir pada tiap leher-leher orang-orang turun ke baju mereka sehingga membuat baju mereka transparan. Seekor kadal yang besar merangkak perlahan-lahan dibalikg sebuah batu sepertinya mencari tempat berteduh dari sengatan matahari. Rumput-rumput yang baru saja dibasahi oleh air hujan terlihat telah mengering karena panas matahari.

Bahkan, hembusan anginpun terasa hangat. Angin yang berhembus dari padang rerumputan terasa seperti setan dari neraka yang sedang menghembuskan napasnya ke arah mereka.

Keadaan di dalam ruangan hanya sedikit lebih baik.

Sebuah konter selebar tiga kaki yang dibatasi oleh sutera dan satin yang berwarna-warni yang dipasang dengan baut-baut, memajang pakaian-pakaian yang telah jadi. Ye Kai duduk pada salah satu sudut dengan menjulurkan kaki dan melihat dengan kemalas-malasan ke arah Ding Ling Lin yang masuk ke toko melihat-lihat.

Ada dua orang di toko tersebut. Yang satu sudah cukup tua dan berdiri menyender dengan kedua tangannya. Yang lainnya lebih lebih muda, sedang melongok keluar untuk melihat apa yang terjadi diluar.

Keduanya telah menggeluti bisnis ini cukup lama. Mereka sudah tahu bahwa wanita tidak akan peduli dengan pendapat maupun usulan saat mereka sedang melihat-lihat dan mencari baju.

Ding Ling Lin mengambil sebuah gaun berwarna hijau muda,mencoba-cobanya sebentar ditubuhnya, lalu mengembalikannya lagi. Dia menghela napas dan berkata,” Siapa yang kira mereka memilik stok yang banyak.”

“Orang-orang biasanya komplain kalau mereka hanya memiliki variasi stok yang sedikit, kau malah komplain stoknya terlalu banyak?” Ye Kai berkata.

Ding Ling Lin menganggukan kepalanya dan menjawab,” Semakin banyak pilihan, semakin susah aku memutuskan. Bila hanya ada beberapa yang dijual, maka aku dapat memborong semuanya.”

“Memangnya betul seperti itu.” Ye Kai menghela napas.

“Karena Nyonya dan Nona Muda dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda seringkali mendatangi toko kami, maka kami tidak punya pilihan selain menyediakan stok yang banyak. Kami sangat menyesali hal ini.” Orang yang muda menjelaskan.

Ding Ling Lin tidak dapat menahan ketawanya,” Kenapa kau menyesali hal ini, ini bukan kesalahanmu.”

“Tamu selalu benar. Bila kau memiliki stok yang banyak, maka itu adalah kesalahan kami.”

“Kalian betul-betul tahu cara menjalankan bisnis, sepertinya aku tidak memiliki pilihan selain harus belanja sesuatu.” Ding Ling Lin menjawab.

Orang yang lebih muda yang di pintu masuk menghela napas dan berkata,” Aku tidak pernah mengira, aku betul-betul tidak pernah mengira …”

“Kau, apa yang kau tidak pernah kira?” Ding Ling Lin bertanya.

Dia terlihat sedikit terkejut saat berbalik kearahnya dan berkata,” Maaf, aku tidak berani menanyakan pertanyaan ini.”

“Pertanyaan apaan sih?” Ding Ling Lin bertanya.

“Aku hanya tidak pernah membayangkan kalau Nona Ma baru saja menggosok punggung seseorang.” Orang yang lebih muda menjawab,

“Nona Ma?”

“Anak perempuan kesayangan Majikan Ketiga dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda.”

“Orang yang mengenakan baju merah?”

“Majikan Ketiga hanya memiliki seorang anak perempuan.”

“Punggung siapa yang sedang dia gosok?”

“Orang itu … orang itu adalah orang yang sedang mandi di tengah jalan.”

Mata Ding Ling Lin membesar dan tiba-tiba menoleh ke arah Ye Kai. Kedua matanya sedang tertutup dan kelihatannya dia tidak mau ambil pusing.

“Hey, emangnya kau tidak dengar apa yang baru dia katakan?” Ding Ling Lin menanyainya.

“Mmm.” Ye Kai menjawab.

“Teman baikmu sedang menggosok punggung seseorang, masa kau tidak mau melihat?”

“Mmm.”

“Apa maksudnya?”

Ye Kai menguap dan menjawab,” Bila seorang laki-laki sedang menggosok punggun wanita, sebelum kau mengatakannya kepadaku aku pasti sudah pergi melihatnya. Namun seorang wanita sedang menggosok punggun laki-laki itu adalah hal yang biasa-biasa saja, apa yang musti dilihat?”

Ding Ling Ling menatapnya dan akhirnya dia tidak dapat menahan senyumnya.

Orang yang muda menghela napas dan berkata,” Aku rasa aku tahu kenapa Nona Ma mau merendahkan dirinya seperti ini.”

“Oh?”

“Nona Ma melakukan ini semua untuk Majikan Ketiga.”

“Bagaimana bisa?”

“Sipincang adalah musuh Majikan Ketiga yang mematikan. Dia khawatir kalau-kalau Majikan Ketiga sudah menjadi tua dan tidak setimpalh dengannya.”

“Jadi dia bersedia merendahkan dirinya dengan harapan Lu Xiao Jia akan membunuhn si pincang untuknya?”

“Dia sungguh-sungguh anak perembuan yang berbakti.” Orang tersebut menghela napas.

Ding Ling Lin tersenyum dingin dan menimpali,” Mungkin dia memang menikmati menggosok punggung laki-laki.”

Orang yang lebih muda terkejut dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Namun orang yang lebih tua memelototinya dan dia menundukan kepalanya.

Sesaat terdengar derap suara kaki kuda memenuhi udara. Jelas sekali suara itu berasal dari lebih dari satu orang.

Mata Ding Ling Lin melihat kesekitar saat dia berkata,” Pergilah keluar dan lihatlah dan katakan kepadaku siapa yang datang kekota.”

Meskipun pelayan muda itu kelihatannya sangat tidak suka kepadanya, dia masih mengikuti perintahnya dan berjalan keluar.

“Mereka adalah pendekar-pendekar tua dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda.

“Berapa banyak?”

“Paling tidak empat puluh sampai lima puluh.”

Ding Ling Lin membisu dan memandang Ye Kai dari sudut matanya.” Kau pikir mereka akan membantunya? Atau hanya melihat saja?”

Ye Kai menghela napas dan menjawab,” Tergantung apakah mereka tolol atau pintar.”

“Jadi kalau mereka membantu, mareka pasti orang tolol?” Ding Ling Lin berkata.

“Seratus persen tolol.” Ye Kai menjawab.” Hanya orang yang seratur persen tolol yang melewatkan pertunjukan bagus.”

Ding Ling Lin menghela napas dan berkata,” Jadi kau benar-benar tertarik untuk melihat apakah golok Fu Hong Xue atau pedang Lu Xiao Jia yang lebih cepat?”

“Meskipun aku harus menunggu sampai tiga hari, itu masih pantas.” Ye Kai menjawab.

“Itu sebabnya kenapa kau bukan orang tolol.”

“Sama sekali bukan.”

Saat ini jalan telah dipenuhi oleh keributan-keributan, suara batuk dan suara teriakan, namun sebagian besar dari mereka yang melihat merasa kasihan atau terkaget-kaget. Banyak orang terkaget-kaget melihat Nona Ma menggosok punggung seseorang. Namun tidak ada seorangpun yang campur tangan.

Betul-betul sedikit sekali orang tolol di dunia ini.

Tiba-tiba, semua keributan itu tiba-tiba berhenti total. Bahkan anginpun sepertinya berhenti berhembus.

Kedua pelayan toko tiba-tiba merasakan tekanan yang sangat besar yang sulit dijelaskan dan membuat mereka susah bernapas.

Mata Ding Ling Lin membesar,” Dia telah datang, akhirnya dia telah datang …”

Tidak ada seorangpun yang bergerak. Tidak ada seorangpun yang membuat suara.

Setiap orang merasakan suasana saat itu penuh dengan tekanan sepertinya membuat mereka susah bernapas.

“Dia telah datang, akhirnya dia telah datang …”

Matahari yang menyengat. Panas yang membara.

Angin berhembus dari padang rerumputan. Orang tersebut datang dari padang rerumputan juga.

Tanah di jalan telah mengering dan pecah-pecah. Dia perlahan-lahan berjalan, kaki kirinya membuat langkah kecil kedepan, kemudian kaki kanannya diseret dari belakang. Setiap pandang mata sedang menatapanya. Matahari bersinar di atas wajahnya.

Wajahnya putih pucat, seperti salju dan es dari puncak gunung yang jauh. Namun matanya dipenuhi dengan api, kedua matanya menatap ke arah Ma Fang Ling.

Tangan Ma Fang Ling berhenti. Handuk tersebut meneteskan air. Hatinya meneteskan darah.

Satu tetes, dua tetes … duka, kemarahan, rasa malu, kebencian.

“Kenapa kau belum juga pergi? Kenapa kau masih disini?”

“Aku tidak dapat pergi, karena aku ingin melihat dia mati, di depan kedua mataku!”

Hatinya sedang bertarung dan bertempur, namun tidak sedikitpun emosi terlihat diwajahnya.

Mata Fu Hong Xue beralih ke Lu Xiao Jia. Lu Xiao Jia bahkan tidak melihat sekejappun kearahnya. Sebaliknya, dia malah melambaikan tangannya ke arah Ding Lao Si dan penjaga toko Hu. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menuruti perintah.

“Orang yang kau ingin untuk kubunuh, apakah dia?”

Ding Lao Si ragu-ragu dan menoleh ke arah penjaga toko Hu. Mereka berdua kemudian menganggukan kepalanya.

“Apakah benar-benar dia yang kau ingin untuk kubunuh?”

“Benar sekali.” Ding Lao Si menjawab.

Lu Xiao Jia mengeluarkan tawanya dan berkata,” Baiklah, maka aku pasti akan membunuhnya untukmu.”

Dia mengulurkan tangannya dan mengambil pedangnya. Fu Hong Xia segera mengenggamkan tangannya ke goloknya.

Lu Xiao Jia masih belum melihat kepadanya saat dia memandang pedangnya dan berkata,” Aku selalu menepati apa yang kujanjikan.”

“Sudah pasti.” Ding Lao Si berkata,

“Jadi kau yakin?” Lu Xiao Jia bertanya.

“Tentu Saja.” Ding Lao Shi menjawab.

Lu Xiao Jia menghela ringan dan berkata,” karena kalian berdua yakin, maka kalian berdua bisa mati sekarang.”

“Apa yang kau katakan.”

“Aku mengatakan, kalian berdua bisa mati sekarang.”

Dia tiba-tiba mengayunkan pedangnya. Pedang tersebut bergerak dengan sangat perlaha, dan sepertinya pedang itu tidak akan dapat menusuk siapapun juga. Saat Ding Lao Si perlahan-lahan mengikuti pedang itu dengan kedua matanya, tiba-tiba dia terjatuh kaku. Kemudian, seluruh tubuhnya merasa kaku.

Setiap orang menatap dengan kaget diwajahnya, tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah terjadi. Kemudian, tubuh Ding Lao Si telah rubuh. Saat dia jatuh ke lantai, darah keluar dari perutnya.

Lalu, setiap orang menyadari bahwa ada pedang yang lainnya di dalam bak mandi, dan telah meneteskan darah. Saat Ding Lao Sia melihat pedang di tangan kanan Lu Xiao Jia, pedang di tangan kiri Lu Xiao Jia telah menembus bak mandi dan menusuk perutnya.

Sesaat kemudian, penjaga toko Hu terjatuh juga. Darah telah mengucur dari tenggorokannya.

Pedang di tangan kanan Lu Xiao Jia telah meneteskan darah juga sekarang. Saat penjaga toko Hu menyadari bahwa ada pedang yang lain di tangan kiri Lu Xiao Jia, pedang di tangan kanannya tiba-tiba berubah arah dan melesat seperti kilat. Sebelum dia menyadari apa yang telah terjadi, pedang tersebut telah menusuk tenggorokannya.

Tada seorangpun yang bergerak. Tidak ada seorangpun yang bersuara. Tidak ada seorangpun yang bahkan berani bernapas.

Darah masih menetes dari ujung pedangnya. Saat dia melihat tetesan darah yang menjatuhi lantai, Lu Xiao Jia menghela napas dan berkata,” Dalam pekerjaanku, bahkan saat mandipun, aku harus menyiapkan pedang tambahan. Paling tidak, sekarang kalian berdua mengerti hal ini.”

“Tapi aku tidak mengerti.” Ma Fang Ling tiba-tiba bertanya.

“Kau tidak mengerti kenapa aku membunuh mereka?” Lu Xiao Jia berkata.

Tentu saja Ma Fang Ling tidak mengerti,” Mereka bukanlah orang yang kau harus bunuh!”

Lu Xiao Jia menghela napas dan memutar kepalanya. Dia akhirnya melihat kepada kedua mata Fu Hong Xue.”

“Mengertikah kau?”

Tentu saja Fu Hong Xue pun tidak mengerti. Tidak ada seorangpun yang mengerti.

“Mereka tidak sungguh-sungguh mengundangku kesini untuk membunuhmu. Mereka hanya ingin membokongmu saat kita bertarung.” Lu Xiao Jia menjelaskan.

Fu Hong Xue masih tidak mengerti dengan jelas.

“Rencana mereka bagus. Tidak ada seorangpun yang dapat menghindari dari serangan senjata rahasia saat mereka bertarung denganku. Khususnya bila mereka melepaskannya dari bagian dalam bak mandi.”

“Bagian dalam bak mandi?” Fu Hong Xue bertanya.

Tiba-tiba terdengar suara PPEENNGG yang keras keluar dari bagian dalam bak mandi. Lalu, bak mandi hancur dan terbuka seluruhnya. Air muncrat kesegala arah, dibawah pantulan cahaya matahari terlihat seperti kilasan sinar keperakan.

Sesaat, sesosok tubuh lari keluar dari bagian dalam bak mandi. Orang ini amat sangat cepat, namun pedang Lu Xiao Jia jauh lebih cepat. Pedangnya melesat dan diikuti dengan jeritan orang yang malang.

Cucuran darah lainnya telah memenuhi jalan. Seorang lain telah rubuh ke atas lantai. Dia Naga Punggun Emas!”

Tidak ada seorangpun yang membuat suara. Tidak ada seorangpun yang berani bernapas. Jeritan malangnya telah terbawa angin berhembus ke padang rerumputan.

Setelah beberapa lama, Ding Ling Lin akhirnya menghela napas panjang dan berseru,” Pedang yang amat sangat cepat!”

Ye Kai menganggukan kepalanya. Dia nampaknya setuju.

Tidak ada seorangpun yang menyangkalnya. Sebatang besi yang ditempa menjadi pedang, saat berada ditangan Lu Xiao Jia, sudah bukan sekedar pedang. Pedang tersebut berubah menjadi senjata yang mematikan, kilatan cahaya yang berkelebat dari neraka yang paling dalam.

“Bahkan sekarang aku mengaguminya sekarang.” Ding Ling Lin menghela napas.

“Oh?” Ye Kai berkata.

“Dia mungkin bukan orang yang pintar, atau orang yang baik, namun dia sudah pasti jago pedang yang hebat.” Ding Ling Lin berkata.

Tetes darah terakhir akhinya menetes ke atas lantai. Pandangan Lu Xiao Jia bergeser dari mata pedangnya lalu ke arah Fu Hong Xue.

“Sekarang kau mengerti?”

Fu Hong Xue menganggukan kepalanya. Tentu saja dia telah mengerti sekarang, setiap orang juga mengerti.

Ada ruangan kosong di bawah bak mandi, sangat cocok dan pas untuk tempat bersembunyi didalamnya. Setelah bak mandi diisi dengan air, tidak ada yang dapat mengetahuinya seberapa dalam bak mandi tersebut. Lu Xiao Jia pun tidak berdiri tegak, sehingga tidak ada seorangpun yang mengira terdapat ruangan dibawah bak mandi tersebut. Jadi bila Naga Punggung Emas melepaskan senjata rahasia dari sana, Fu Hong Xue tidak akan pernah mengira, bahkan di dalam mimpinya sekalipun.

“Jadi sekarang kau seharusnya mengerti aku mandi bukan karena aku takut menjadi kotor, tapi karena seseorang membayarku lima ribu tael perak.” Lu Xiao Jia menghela napas dan melanjutkan,” Bahkan Ye Kai pun pasti akan bersedia mandi untuk lima ribu tael perak.

Ye Kai menebarkan senyumnya.

Ekspresi wajah Fu Hong Xue masih pucat dan sedingin es. Di bawah matahari yang membara, tidak ada setetespun keringat dikepalanya.

“Meskipun aku pikir rencana mereka sangat bagus. Namun mereka salah menilai satu hal.”

Fu Hong Xue tidak dapat menahan untuk bertanya,” Apa?”

“Aku.” Lu Xiao Jia menjawab.

“Oh?”

“Aku telah membunuh sebelumnya dan aku akan selalu membunuh. Aku menyukai uang juga. Untuk lima ribu tael perak aku akan selalu bersedia mandi kapanpun dan dimanapun.” Lu Xiao Jia tertawa seraya melanjutkan,” Namun aku membenci orang yang mencoba memanfaatkanku. Dan aku membenci orang yang mengira dapat menggunakanku sebagai alat mereka.”

Fu Hong Xue menghela napas panjang. Es diwajahnya perlahan-lahan mulai meleleh.

“Bila aku membunuh seseorang, aku akan melakukannya sendiri.” Lu Xiao Jia berkata.

“Itu kebiasaan yang bagus,” Fu Hong Xue menjawab.

“Aku memiliki kebiasaan yang bagus lainnya.”

“Oh?”

“Kebiasaan lainnya yang kumiliki adalah aku tidak pernah menelan ucapanku sendiri.”

“Aku mendengarkan.”

“Jadi aku masih harus membunuhmu.”

“Tapi aku tidak ingin membunuhmu.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak pernah menikmati membunuh orang sepertimu.”

“Dan orang seperti apakah aku?”

“Orang yang lucu.”

Lu Xiao Jia terlihat kaget,” Aku lucu?”

Dia telah dicap berbagai hal yang jelek selama ini, namun tidak pernah seorangpun memanggilnya lucu!

“Aku selalu merasa bahwa orang yang mandi sambil mengenakan celana lebih lucu daripada orang yang melepaskan celananya.” Fu Hong Xue berkata.

Ye Kai tidak dapat menahan ketawanya. Begitu juga Ding Ling Lin.

Orang yang sudah besar yang hanya mengenakan celana yang basah sungguh lucu. Dan pada akhirnya, orang ini bukanlah jenis orang yang kau harapkan dapat membunuh.

Lu Xio Jia tiba-tiba tersenyum dan berkata,” Membingungkan, sungguh-sungguh membingungkan! Siapa yang sangka kalau kau ternyata orang yang membingungkan. Aku selalu menyukai orang seperti ini.

Kemudian, dia tiba-tiba menurunkan suaranya dan mengumumkan,” Namun sayangnya aku masih harus mencabut nyawamu!”

“Sekarang juga?”

“Sekarang juga!”

“Dalam celana basah itu?”

“Bahkan, meski aku tidak mengenakan celana sama sekali.”

“Sungguh bagus.” Fu Hong Xue berseru.

“Sungguh bagus?” Lu Xiao Jia bertanya.

“Aku juga merasa sungguh disayangkan untuk membiarkan kesempatan ini begitu saja.” Fu Hong Xue menjawab.

“Kesempatan apa?”

“Kesempatan untuk membunuhku.”

“Aku hanya memiliki kesempatan untuk membunuhmu sekrang juga?” Lu Xiao Jia menjawab.

“Karena saat ini kau tahu bahwa aku tidak ingin membunuhmu!” Fu Hong Xue menjawab.

“Apa yang kau maksudkan dengan perkataanmu?” Lu Xiao Jia bertanya dengan ekspresi wajah yang berubah.

“Aku hanya ingin kau pun tahu bahwa aku pun tidak pernah menelan kembali ucapanku.” Fu Hong Xue berkata.

Lu Xiao Jia menatapnya, raut wajah aneh muncul diwajahnya.

Wajah Fu Hong Xue benar-benar tidak beremosi.

Kemudian, Lu Xiao Jia mulai tertawa.

Disana terdapat kantong kulit dibawah tumpukan celana. Dia mencongkel kantong itu dengan pedangnya dan mengambil dua buah uang kertas dari dalamnya. Yang satu senilai sepuluh seribu tael perak dan yang lainnya senilai lima ribu tael perak.

“Meskipun aku belum membunuh seseorang, tapi aku sudah mandi. Jadi aku akan menyimpan yang lima ribu tael. Namun yang sepuluh ribu tael ini, akan kukembalikan kepadamu.”

Lu Xiao Jia melemparkan uang kertas tersebut kepada tubuh Ding Lao Si dan berkata,” Aku minta maaf yang sebesar-besarnya, sangat sulit bagi seseorang untuk menarik kembali apa yang telah diucapkan. Aku yakin kau tidak akan menyalahkanku.”

Tentu saja mereka tidak akan menyalahkannya. Orang mati tidak dapat membuka mulutnya.

Lu Xia Jia mengambil kantong itu dengan cara menutulkan pedangnya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia bahkan tidak melirik sedikitpun kepada Fu Hong Xue atau Ma Fang Ling. Setiap orang hanya dapat melihat dia dengan bingung saat dia melangkah pergi.

Namun saat dia melewati Ye Kai, tiba-tiba kakinya berhenti. Ya Kai masih tersenyum.

Lu Xiao Jia melihatnya dari atas ke bawah dan tertawa,” Tahukah kau kenapa aku menyimpan lima ribu tael ini?”

“Tidak, aku tak tahu.” Ye Kai menjawab.

Lu Xiao Jia memberikan uang kertas itu kepadanya dan berkata,” Untuk diberikan kepadamu.”

“Diberikan kepadaku? Untuk apa?”

“Karena aku memohon sesuatu kepadamu.”

“Apakah itu?”

“Aku mohon kepadamu untuk mandi. Bila kau tidak mandi lebih lama lagi, aku rasa aku akan mati tidak bisa bernapas karena bau busukmu.”

Dia tidak membiarkan Ye Kai menjawabnya, seraya dia membalikan badan dan melangkah pergi. Ye Kai menatap uang kertas ditangannya dan tidak tahu apakah harus marah atau senang.

Ding Ling Lin tidak dapat menahan ketawanya,” Apapun yang terjadi, mandi untuk memperoleh lima ribu tael selalu layak untuk dilakukan.”

Ye Kai cemberut bercanda dan menjawab,” Kau betul-betul mengaguminya kan?”

Ding Ling Lin mengedipkan matanya dan berkata,” Namun orang paling aku kagumi bukanlah dia.”

“Apakah dirimu sendiri?” Ye Kai bertanya.

“Bukan, tapi dirimu.’ Ding Ling Lin menjawab.

“Jadi kau mengagumi ku juga?”

Ding Ling Lin menganggukan kepalanya dan berkata,” Karena ada orang yang mau membayarmu lima ribu tael perak hanya untuk mandi.”

Ye Kai ingin melepaskan tawanya, namun dia menahannya. Karena kemudian, suara tangisan memenuhi telinganya.

Mereka mendengar suara tangis Ma Fang Ling. Dia sudah berusaha untuk menahannya selama beberapa saat, dia telah berusaha menggunakan segenap tenaganya untuk mengendalikan dirinya. Namun hal itu telah melewati batas-batas daya tahannya dan dia tidak dapat menahan diri untuk menangis. Dia benar-benar mengalami kesedihan dan kemarahan yang amat sangat, karena dia merasa dirinya satu-satunya orang yang disakiti dan dianiaya.

Saat dia menangis, Fu Hong Xue berjalan melewatinya. Namun dia sama sekali tidak menoleh, bahkan sedikitpun tidak meliriknya. Seperti saat dia berjalan melewati mayat Naga Punggung Emas.

Seluruh penjaga berkuda dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda masih berdiri disisi. Beberapa menundukan kepalanya, yang lainnya memandang kearah yang lain. Mereka semua adalah orang yang gagah dan kasar, namun saat melihat anak perempuan Majikan Gedung telah dihina, mereka semua berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi.

Ma Fang Ling tiba-tiba melangkah kearah mereka dan menunjuk Fu Hong Xue saat dia melangkah berjaland dan terisak,” Tahukah kau siapa dia? Dia adalah musuh besar Majikan Gedung. Dia adalah pembunuhn yang telah mengambil nyawa teman-teman dekat kalian.”

Masih tidak ada seorangpun yang berkata-kata. Masih tidak ada seorangpun yang memandang kearahnya. Semua mata mengarah kepada wajah seorang setengah tua. Mereka memanggilnya Situa Jiao, karena dia memang penjaga berkuda yang paling tua. Kelihatannya dia telah menghabiskan seluruh hidupnya melayani Gedung Sepuluh Ribu Kuda. Waktu-waktu terbaik dari hidupnya dihabiskan di atas punggung kuda. Kedua kakinya telah bengkok dan punggungnya banyak luka panah. Kedua matanya yang biasanya gembira telah memerah karena minum-minuman berarak yang lama.

Setiap malan saat dia tertidur di tempat tidurnya yang dingin dan keras, dia selalu berharap dia dapat pergi dan mengejar hal yang lain. Tapi sungguh-sungguh tidak ada tempat lainmnya yang dapat dia datangi, yang dia tahu seumur hidupnya adalah untuk Gedung Sepuluh Ribu Kuda.

Saat pertama kali Ma Fang Ling menaiki kuda, dia yang menolongnya. Sekarang, dia gadis itu menatapanya dan berteriak,” Situa Jiao, kau telah bersama-sama dengan ayahku lebih lama dari yang lainnya, bagaimana kau masih belum bersuara juga?”

Sorot mata Situa Jaio dipenuhi oleh kebencian dan kesedihan juga, namun dia dapat mengontrol dirinya. Setelah beberapa saat, dia menghela napas dan menjawab,” Tidak ada yang dapatku katakan.”

“Kenapa?” Ma Fang Ling bertanya.

Situa Jiao mengepalkan kedua tangannya dan menggertakan giginya saat menjawab,” Aku bukan lagi bagian dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda.”

“Kata siapa?” Ma Fang Ling menanyakan.

“Majikan Ketiga.” Situa Jiao berkata.

Ma Fang Ling terkejut.

“Dia telah memberikan kepada kami masing-masing kuda yang bagus dan tiga ratus tael perak, kemudian berkata kepada kami untuk pergi.” Si Tua Jiao menerangkan.

Ma Fang Ling menatapnya dengan kosong sesaat kedua kakinya terhuyung beberapa langkah. Tidak ada lagi yang dia dapat katakan.

Ye Kai mendengarkan dengan seksama selama ini, akhirnya dia berucap,” Tidak baik.”

“Apanya yang salah?” Ding Ling Lin bertanya.

Ye Kai menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tiba-tiba, dia melihat asap tebal membumbung tinggi ke langit. Asap tersebut berasal dari tempat dimana bendera besar Gedung Sepuluh Ribu Kuda berada!

Asap yang tebal. Api yang besar.

Sesaat Ye Kai dan setiap orang telah berlari ke arah Gedung Sepuluh Ribu Kuda yang telah tertelan lautan api. Udara terasa agak kering, sekali api dinyalakan, maka tidak akan dapat dipadamkan. Pada api tersebut ditambahkan minyak – hal yang hanya terjadi di padang belukar, hal yang sangat mudah terbakar.

Api telah bergerak dengan cepat hingga dua puluh atau tigapuluh gedung. Sekali terbakar, maka seluruh area segera ditelan api. Kuda-kuda berlompatan dalam keadaan panik dan meringkik putus asa saat mereka semua mencoba mencari jalan keluar dari bencana yang hebat ini. Beberapa beruntung dapat melarikan diri namun kebanyakan mati karena tidak bisa bernapas.

Bau anyir daging terbakar menyebar dari tempat kebakaran tersebut.

Gedung Sepuluh Ribu Kuda telah hancur, benar-benar hancur.

“Orang yang menghancurkannya juga orang yang membangunnya.”

Ye Kai dapat membayangkan Ma Kong Qun berdiri di dalam api dengan tersenyum dingin. “Ini kerajaanku, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merebutnya dari kedua tanganku!”

Sekarang, dia telah menepati janjinya. Sekarang, Gedung Sepuluh Ribu Kuda selamanya menjadi miliknya.

Api masih menyala, namun kedua telapak tangan Ye Kai dipenuhi oleh keringat dingin.

Siapa yang dapat mengerti apa yang dia rasakan saat ini, siapa yang dapat menebak apa yang ada di dalam pikirannya?

Ding Ling Lin menghela napas dan berkata,” Karena dia tidak dapat memilikinya, maka dia menhancurkannya jadi tidak ada orang lain yang dapat memilikinya. Mungkin tindakannya ini sungguh-sungguh tidak beralasan.”

Wajahnya yang putih pucat terlihat agak kemarahan karena cahaya api. Tiba-tiba sesuati terlihat oleh matanya sesaat dia berseru,” Aneh, kenapa ada anak kecil disini?”

Api telah membuat seluruh angkasa menjadi berwarna merah transparan seperti batu amber. Mathari yang berwarna merah darah tergantung tidak bergerak di tengah-tengah batu amber. Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Dimana ada kebakaran, disitu selalu terjadi angin kencang. Rumput-rumput yang tidak termakan api bergoyang kedepan dan kebelakang dikejauhan. Pasir yang kuning beterbangan dari kejauhan dan menghilang ke dalam api. Suara ringkikan kuda yang sekarang masih terdengar.

Dibawah matahari yang memerah, ditengah rerumputan yang tinggi, seorang anak laki-laki berdiri ditengahnya. Dia memandangi api yang tanpa kasihan melalap rumahnya. Air matanya sepertinya telah menguap karena panas. Dia terlihat sangat sedih.

Xiao Hu Zi.

Anak itu adalah anak laki-laki Ma Kong Qun.

Ye Kai mendekatinya dan bertanya,” Kau … apa yang kau lakukan disini?”

Xiao Hu Zi menengokan kepalanya memandang Ye Kai. Dia perlahan-lahan menjawab,” Aku sedang menunggumu.”

“Ayah berkata kepadaku untuk menunggumu disini. Dia tahu kau pasti akan datang.”

“Dimana dia sekarang? Ye Kai tidak tahan bertanya.

“Dia telah pergi … dia telah pergi …” Xiao Hu Zi berkata.

Kesedian dan kedukaan masih terlihat diwajah anak kecil ini. Dia kelihatannya mau menangis, namun dia dapat menahannya.

Ye Kai mencoba menghiburnya dengan memegang tangannya.”Kapan dia pergi?”

“Dia telah pergi lama.”

“Dia pergi sendiri?”

Xiao Hu Zi menggelengkan kepalanya.

“Siapa yang bersamanya?”

“Bibi Ketiga.”

“Nyonya Ketiga Shen?”

Xiao Hu Zi menganggukan kepalanya sesaat bibirnya mulai bergetar.” Dia membawa Bibi Ketiga namun dia meninggalkanku disini. Hu … hu …”

Sebelum anak kecil ini menyelesaikan ucapannya, tangisnya pecah. Tangisannya dipenuhi dengan kesedihan, keputusasaan, dan kemarahan. Juga terlihat rasa takut yang tidak dapat disembunyikan di dalam sorot matanya. Dia hanyalah seorang anak kecil.

Ye Kai juga merasakan rasa sakit saat dia melihatnya menangis. Ding Ling Lin mulai membantunya mengusap air mata Xiao Hu Ji saat mengalir kepipinya.

Anak kecil itu tiba-tiba melompat ke dada Ye Kai dan meraung,” Ayahku berkata kepadaku untuk menunggumu, dia mengatakan kau telah berjanji kepadanya bahwa engkau akan menjagaku. Dan juga saudara perempuanku … benar kan? Benar kan?”

Bagaimana Ye Kai bisa berkata tidak?

Ding Ling Lin menariknya kesisinya dan berkata dengan lembut,” Jangan khawatir, aku berjanji bahwa dia akan menjaga kau.”

Xiao Hu Zi menatap gadis itu, kemudian menundukan kepalanya dan bertanya,” Bagiaman dengan kakak perempuanku? Apakah dia akan menjadi kakak perempuanku juga?”

Ding Ling Lin tidak punya cara untuk menjawabnya, yang dapat dia lakukan hanyalah tersenyum lemah.

Ye Kai baru menyadari bahwa Ma Fang Ling tidak berada dimana-mana.

Fu Hong Xue juga.

Matahari mulai terbenam di ufuk barat.

Meskipun api masih menyala, akhirnya mulai melemah.

Angin bertiup dari arah barat. Langit sore mulai merangkak ke atas.

Gedung Sepuluh Ribu Kuda yang megah sekarang bukan apa-apa lagi melainkan hanyalah memori. Saat api padam, yang tertinggal hanyalah kuburan dan padang luas yang menyelubungi bumi.

Dan pendiri gedung yang megah ini tidak ada dimanapun.

Apa yang menyebabkan semua ini?

Kebencian!

Kadang-kadang, cinta tidak dapat melawan kekuatan kebencian.

Hati Fu Hong Xue dipenuhi oleh kebencian. Dia membenci dirinya sendiri dengan cara yang sama — mungkin orang yang paling dibencinya adalah dirinya sendiri.

Jalan panjang telah kosong. Paling tidak, dia tidak dapat melihat makhluk hidup lainnya di jalan. Setiap orang telah berlari ke arah kebakaran. Mereka takut api akan merembet ke desa. Mereka semua takut desa mereka akan berakhir seperti mayat Naga Punggung Emas – kering dan mengkerut.

Fu Hong Xue berjalan sepanjang jalan tersebut seorang diri. Kaki kirinya melangkah kedepan, dan kaki kanannya diseret dari belakang. Meskipun dia berjalan cukup lambat, tiada apaun yang dapat menghentikannya.

“Mungkin aku harus mencari seekor kuda.”

Sesaat hal tersebut melintas dipikirannya, dia menangkap seseroang berjalan ke arahnya dari gang kecil. Seorang wanita yang cantik membawa sebuah kantong besar ditangannya.

Cui Nong.

Rasa sakit yang tajam menembus hati Fu Hong Xue, karena dia telah memutuskan untuk melupakannya. Saat dia menemukan bahwa wanita itu bekerja di gedung Xiao Bie Li, dia telah memutuskan untuk melupakannya sama sekali. Namun dia masih satu-satunya wanita di dalam hidupnya.

Sepertinya wanita itu sedang menunggunya. Wanita itu perlahan-lahan menundukan kepalanya dan bertanya,” Kau mau pegi?”

Fu Hong Xue menganggukan kepalanya.

“Mencari Ma Kong Qun?”

Dia menggangguk lagi. Bagaimana mungkin dia tidak mengejar Ma Kong Qun?’

“Apakah kau akan meninggalkan aku sendiri disini?”

Rasa sakit kembali menusuk hatinya. Dia telah memutuskan untuk tidak pernah melihatnya lagi, namun dia tidak dapat menahan diri untuk memandangnya sekali saja. Satu pandangan sudah cukup.

Matahari yang berwarna merah darah menyinari wajahnya yang putih pucat, wajahnnya yang cantik. Matanya dipenuhi oleh keputusasaan, sepertinya mereka mencoba berkata kepadanya,” Bila kau tidak ingin membawaku maka aku tidak akan meminta. Namun aku ingin kau mengetahui bahwa aku selalu jadi milikmu.”

Kenangan manis dikegelapan, pelukan yang bergairah, bibir yang lembut dan wangi, semuanya ini memenuhi pikiran Ye Kai sekaligus. Telapak tangannya mulai berkeringat.

Matahari bergerak turun tepat di atas kepalanya. Sinar matahari yang panas.

Cui Nong semakin menundukan kepalanya, rambutnya yang hitam dan lembut bergelombang seperti air yang mengalir disungai.

Fu Hong Xue tidak dapat menahan dirinya seraya dia menjulurkan tangannya menyentuh dan mengelus rambutnya.

Rambutnya hampir sehitam goloknya.

ooOOOoo

Kemana Ma Kong Qun pergi? Apa yang akan terjadi antara Ye Kai dan Xiao Bie Li?

Apakah pada akhirnya akan terjadi pertarungan antara Fu Hong?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: