Kumpulan Cerita Silat

03/02/2008

Duke of Mount Deer (22)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — ceritasilat @ 10:08 pm

Duke of Mount Deer (22)
Oleh Jin Yong

“Masa kau makan wajahku dengan kacang kedelai dan daging anjing?”

“Pokonya, kau mau wajahmu pulih kembali atau tidak?” tanya Siau Po kesal. Dia mengambil sepotong ham kemudian disodorkannya ke depan mulut si nona.

Si nona tidak berani menolak lagi. Pertama karena dia takut akan digoda lagi oleh Siau Po, kedua dia juga melihat bocah itu tidak menyayangkan keempat butir mutiaranya yang mahal untuk racikan obat pemulih wajahnya. Karena itu membuka mulutnya dan mengunyah daging ham itu.

“Adik manis, ini baru anak pintar!” puji Siau Po gembira.

“A…ku bukan adikmu yang manis?”

“Kalau begitu, kau adalah ciciku yang baik.” goda Siau Po.

“Bukan juga!” sahut si nona cilik.

“Kalau begitu, kau adalah ibuku yang kusayangi!” kat a Siau Po.

Si nona cilik jadi geli sehingga tertawa.

“Mana… bisa aku menjadi ibu….”

Sejak dibawa oleh si Cian sampai sekarang, baru sekali ini Siau Po mendengar suara tawa si nona cilik itu. Sayang wajahnya tertutup racikan obat sehingga tidak dapat dilihat bagaimana bentuk bibirnya yang sedang tersenyum, hanya suaranya yang merdu seperti keliningan di pagi hari. Siau Po menyebutnya ibu yang kusayangi. Sebetulnya mengejek nona itu sebagai perempuan pelesir. Tapi mendengar suara tawanya yang begitu polos, Siau Po merasa agak menyesal juga. Dia berpikir dalam hati. “Aih! Masa bodoh! Jadi pelacur juga bukan tidak baik. Mungkin uang yang dihasilkan ibu jauh lebih banyak dari ibunya yang kawin dengan segala manusia kayu!” Dia mengambil lagi beberapa potong ham lalu disuapkannya lagi ke mulut nona cilik itu.

“Kalau kau berjanji tidak melarikan diri, aku akan membebaskan totokan di tanganmu,” katanya

“Untuk apa aku melarikan diri? Lagipula kau sudah mengukir seekor kura-kura di wajahku. Sebelum aku pulih kembali aku tidak berani keluar di jalan raya!”

Diam-diam Siau Po berpikir dalam hatinya.

“Kalau nanti kau tahu di wajahmu tidak ada ukiran kura-kura, tentu kau akan melarikan diri. Sedangkan si Cian tidak mengatakan kapan dia akan menjemputmu. Aku menyembunyikan seorang nona asing di dalam istana. Kalau sampai ketahuan, celakalah aku! Apa yang harus kulakukan?”

Ketika pikirannya melayang-layang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Kemudian ada seseorang yang berkata: “Kui Kongkong, hambamu adalah pesuruh dari Kong cin-ong! Hamba datang karena ada urusan penting!”

“Baik!” sahut Siau Po. Kemudian dia berkata kepada si nona cilik dengan nada direndahkan.

“Ada Orang! Jangan bersuara! Tahukah kau tempat apa ini?” Si nona menggelengkan kepalanya.

“Kalau aku beritahukan kepadamu, mungkin kau bisa melompat bangun saking terkejutnya.” kata Siau Po. “Di sini, setiap orang berniat mecelakakan dirimu. Hanya aku seorang yang iba melihat nasibmu. Karenanya aku bersedia menampung kau di sini, tapi kalau kau sampai kepergok, hm…!”

Siau Po mengasah otak memikirkan kata-kata yang bisa menggertak si nona cilik ini. Sesaat kemudian dia baru berkata lagi. “Kalau kau sampai kepergok, kau akan ditelanjangi. Setelah itu kau akan dirangket sehingga kau merasa sakit yang tidak terkirakan!”

Si nona cilik benar-benar ketakutan. Wajahnya pucat pasi seketika. Diam-diam Siau Po merasa senang. Kemudian dia membuka pintu dan berjalan keluar. Orang itu juga thaykam. Usianya kurang lebih tiga puluh tahun. Dia segera berkata: “Ongya kami mengatakan bahwa sudah lama beliau tidak bertemu dengan kongkong. Ong-ya merasa rindu sekali. Karena itu, sengaja hari ini ong-ya mengundang kongkong datang untuk menonton pertunjukan sekaligus minum arak.”

Orang itu membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

Mendengar dia diundang untuk menonton pertunjukan, hati Siau Po senang sekali. Tetapi mengingat bahwa di kamarnya tersembunyi seorang nona keluarga Bhok, hatinya menjadi ragu. Bagaimana kalau jejak nona itu ketahuan?

Melihat Siau Po agak bimbang, thaykam itu berkata kembali: “Ongya berpesan bahwa bagaimana pun kongkong harus berhasil diundang datang, karena pertunjukan hari ini ramai sekali. Juga ada berbagai jenis perjudian!”

Hati Siau Po semakin tertarik mendengar adanya perjudian. Sejak berkenalan dengan Sri Baginda, dia tidak pernah berjudi lagi dengan kawan-kawannya. Mereka tidak berani datang ke istana. Dan sekarang merupakan kesempatan baik baginya untuk meeraih keuntungan. Saking gembiranya dia jadi lupa tentang si nona cilik yang disembunyikan dalam kamarnya.

“Baiklah!” sahutnya kemudian. “Tunggu sebentar. Nanti aku akan ikut denganmu!”

Siau Po kembali ke dalam kamar. Setelah itu dia mengangkat tubuh si nona untuk direbahkan di atas tempat tidur. Dia mengikat kaki dan tangan gadis cilik itu kemudian ditutupinya dengan sehelai selimut. Nona itu menatapnya dengan perasaan bingung. Siau Po berkata: “Aku ada urusan sedikit. Karena itu aku harus keluar. Sebentar saja aku sudah kembali lagi!”

Nona itu tidak memberikan komentar. Matanya memperhatikan thaykam gadungan itu lekat-lekat.

Siau Po segera menambahkan: “Mutiaranya masih kurang. Aku harus membelinya lagi. Dengan demikian aku bisa memakaikannya padamu dan kau menjadi sepuluh kali lipat lebih cantik dari sebelumnya!”

“Jangan… pergi,” kata si nona cilik yang percaya dengan kata-katanya Siau Po. “Harganya mahal sekali!”

“Tidak apa-apa!” sahut Siau Po. “Aku mempunyai banyak uang. Aku ingin membuat kau menjadi luar biasa cantik sehingga rembulan maupun bunga di taman merasa malu melihatinu. Apa artinya menghamburkan uang beberapa ribu tail?”

“Aku… di sini sendirian. Aku… takut!” kata nona pula.

Sebenarnya Siau Po merasa iba melihat tampang si nona cilik yang benar-benar ketakutan. Hampir saja dia membatalkan kepergiannya. Tapi membayangkan perjudian yang digemarinya, terpaksa dia mengeraskan hati. Dia segera menyuakan ikan ke dalam mulut nona itu.

“Kau makanlah!” katanya. “Hati-hati! Jangan sampai berjatuhan!”

Si nona cilik ingin berbicara, tapi suaranya tak terdengar jelas karena tersumpal ikan.

“Kau… ja…ngan… pergi!”

Siau Po tetap meninggalkan si nona cilik dalam kamarnya. Dia membawa sejumlah uang kemudian mengunci pintu kamarnya dari luar dan menemui thaykam tadi.

Di depan istana Kongcin ong sudah berbaris dua deretan siwi, pasukan pengawal si raja. Seragamnya rapi serta mewah. Selanjutnya ada golok, juga pedang. Tampang mereka gagah. Tampaknya barisan itu lebih rapi daripada ketika dia datang untuk pertama kalinya. Kemungkinanpenjagaan lebih ketat setelah penyerbuan orang dari Tian-te hwe.

Baru Siau Po melangkah di ambang pintu, Kong Cin-ong sendiri sudah keluar menyambutnya. Dia langsung merangkul Siau Po berkata.

“Oh, saudara Kui. Sudah beberapa hari kita kita tidak bertemu. Kau tampak semakin tinggi dan tampan!”

“Aih! Ongya hanya memujiku saja!” sahut Siau “Bagaimana kabar Ongya sendiri?”

“Terima kasih atas perhatianmu. Aku baik-baik saja” sahut si pangeran tertawa lebar. “Kau jarang datang ke rumahku. Kalau sering melihat kau, hatiku tentu senang sekali. Tapi jarang melihat saudara, hatiku menjadi gundah!”

Siau Po tertawa.

“Itu tandanya ong-ya mengharap aku dapat datang sering kemari. Sebetulnya aku tidak berani mengharapkan hal ini!”

“Nah, kau harus ingat janjimu sendiri. Sebetulnya sudah beberapa kali aku meminjam saudara dari Sri Baginda agar kita dapat bersenang-senang selama beberapa hari. Tapi aku khawatir Sri Baginda tidak akan mengijinkannya walaupun untuk sehari saja.”

Selesai berkata dia menggandeng Siau Po dan mendampinginya masuk ke ruangan dalam.

Hati Siau Po senang sekali. Meskipun dalam istana dia juga sering dihormati, tapi biar bagaimana julukannya tetap seorang thaykam. Sedangkan di sini dia dianggap saudara oleh seorang pangeran. Bayangkan saja!

Sesampainya di ruangan dalam, dia disambut lagi oleh dua orang. Yang pertama adalah To Lung, kepala siwi yang baru diangkat menggantikan orangnya Go Pay yang sudah digeser dan ditangkap. Yang kedua adalah saudara angkatnya Sou Ngo-tu. Orang itu langsung melompat bangun dari tempat duduknya dan memegang tangan Siau Po erat-erat.

“Mendengar ong-ya mengundangmu kemari, aku juga langsung datang. Dengan demikian bisa bersenang-senang sama-sama!” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Berempat mereka melangkah ke dalam ruangan. Segera terdengar musik penyambutan. Siau Po merasa bangga sekali. Dia belum pernah mendapat penyambutan yang demikian meriah. Untuk sesaat dia menjadi gugup. Sesampainya di ruangan dalam, sudah ada dua puluhan perwira dan pembesar yang sedang menantikannya.

Tepat pada saat itu, seorang Lwekam melangkah masuk dengan tergesa-gesa. “Ong-ya, putra Pengsi ong tiba!” katanya melaporkan.

Kongcin ong tertawa lebar: “Bagus! Saudara Kui, kau tunggu sebentar di sini. Aku akan menyambut kedatangan tamu.

“Putra Pengsi ong?” pikir Siau Po dalam hati. “Bukankah dia putera Go Sam-kui? Untuk apa dia datang ke sini?”

So Ngu-tu segera berbisik di telinga Sia Po. “Hari ini kau akan mendapat keuntungan besar!” Siau Po tertegun.

“Keuntungan besar apa?” “Go-Sam-kui menitahkan puteranya datang ke kotaraja untuk mengantarkan upeti. Karena itu, para pembesar dan para menteri pasti akan mendapat bagian!” bisik So Ngu-tu kembali.

“Oh, puteranya Go Sam-kui datang ke kotaraja untuk mengantar upeti? Tapi, aku kan bukan menteri atau pembesar negeri?” tanya Siau Po.

“Kau terhitung seorang pembesar negeri dalam istana!” kata So Ngu-tu. “Kau malah lebih penting daripada para menteri. Puteranya Go Sam-kui itu, namanya Go Eng-him, otaknya cerdas sekali dan banyak urusan yang diketahui!”

So Ngu-tu menghentikan kata-katanya sejenak. Dia kemudian berbisik lebih perlahan lagi. “Nanti kalau Go Eng-him memberikan hadiah kepadamu, biar nilainya besar atau kecil, jangan kau perlihatkan tampang gembira. Kau boleh berbicara dengannya secara datar saja. Begini: Oh, Sicu datang dari tempat yang jauh. Tentunya letih dalam perjalanan, bukan?’ Kalau dia melihat tampangmu senang, selanjutnya pasti tidak ada apa-apa lagi. Sebaliknya kalau sikapmu dingin, dia pasti menganggap hadiahnya terlalu sedikit dan besok pasti dia akan menambahkan lebih banyak lagi!”

Siau Po tertawa. “Kiranya ajaran toako ini ajaran memeras orang!” katanya.

So Ngu-tu juga tertawa.

“Bodoh namanya kalau tidak bisa menggenggam kesempatan baik-baik. Bukankah ayahnya menguasai wilayah Inlam, Kui ciu dan lain-lainnya juga? Coba bayangkan berapa banyak uang rakyat yang sudah masuk ke kantong orang itu! Kalau kita tidak membantunya menghamburkan, ke satu kita tidak menghormati ayahnya. Kedua, kita tidak menghargai jerih payah rakyat Inlam dan Kui ciu serta sekitarnya!”

Siau Po tertawa geli mendengar kata-katanya.

“Kau benar!” sahutnya kemudian.

Tepat pada saat itu, Kongcin ong sudah kembali lagi bersama Go Eng him. Puteranya Pengsi ong itu berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Tampangnya gagah dan wajahnya tampan. Langkahnya tegap. Sungguh pantas menjadi putera seorang jenderal besar.

Mula-mula Kongcin ong menarik tangan Siau Po kemudian berkata kepada tamunya: “Siau tianhe, inilah Kui kongkong, kongkong yang paling disayangi oleh Sri Baginda. Ketika terjadinya penangkapan atas diri Go Pay di kamar tulis raja, jasa kongkong inilah yang paling besar.

Siau tianhe adalah panggilan untuk pangeran muda. Kongcin ong adalah seorang pangeran, tapi Go Sam-kui adalah seorang panglima besar yang dianugerahi jabatan sebagai raja muda di beberapa propinsi. Karena itu puteranya harus dipanggil Tianhe.

Go Sam-Kui mempunyai banyak mata-mata di kotaraja. Sedikit gerakan saja yang terjadi di kota Peking, pasti segera ada yang melaporkan kepadanya. Karena itu, baik dia sendiri ataupun puteranya, Go Eng-him juga sudah mendengar prihal tertangkapnya Go Pay oleh beberapa orang thaykam cilik. Dan ada satu di antaranya yakni Siau Kui cu yang mempunyai jasa besar.

Itulah sebabnya, sebelum datang ke Kotaraja sebagai utusan, kedua ayah dan anak itu sudah merundingkan tindakan apa saja yang harus dilakukan Go Eng-him selama Kotaraja. Biar bagaimana, Go Sam-kui merasa segan terhadap kaisar Kong Hi yang meskipun masih muda namun cerdas sekali itu. Otomatis dia ingin menggunakan segala macam cara untuk mempertahankan kedudukannya yang tinggi.

Karena itu pula, Go Sam-kui mengirim puteranya ke kotaraja untuk menyelidiki gerak-gerik kaisar Kong Hi dan kaki tangannya. Eng Him harus mengetahui segala sesuatu yang dapat memperkokoh kedudukan mereka.

Bukan main senangnya hati Go Eng-him yang datang berkunjung ke Kongcin ong dan mendapat kesempatan bertemu dengan kongkong kesayangan Baginda itu. Dia langsung mengulurkan tangannya menjabat tangan Siau Po erat-erat dan berkata:

“Kui kongkong, aku… yang rendah selama Inlam sudah sering mendengar nama besarmu. Kami ayah dan anak sungguh mengagumi Sri Baginda dan kongkong. Usia kongkong masih muda sekali, tapi sudah sanggup menanam jasa besar bagi negara. Karena itu ayahku juga menitipkan sedikit hadiah bagi kongkong. Tapi ada peraturan bahwa pembesar di luar kota dilarang berhubungan erat dengan menteri-menteri ataupun orang penting istana. Meskipun ada niat dalam hati, tapi aku tidak berani mengajukan permohonan tersebut, maka sungguh kebetulan kita dapat bertemu di istana Kongcin ini. Aku benar-benar gembira sekali!”

Puas hati Siau Po mendengar kata-kata pangeran itu. Ternyata dia pandai bicara. Dia juga merasa bangga mengetahui Go Sam-kui yang ada pada jarak ribuan li juga telah mendengar namanya, tetapi pada dasarnya Siau Po memang cerdik, apalagi dia sudah mendapat petunjuk dari So-Ngu tu. Karena itu dia sengaja bersikap tawar.

“Kami yang menjadi budak hanya melakukan perintah Sri Baginda. Yang penting, pertama, jangan takut menderita. Kedua, jangan takut mati. Mana ada kebiasaan atau jasa apa-apa? Siau ong-ya hanya memuji saja!” Di samping itu, diam-diam dia berpikir dalam hatinya. “So toako benar-benar dapat menyimak urusan ibarat dewa. Begitu sampai, si kunyuk kecil itu langsung saja menyebut urusan hadiah!”

Go Eng-him adalah tamu dari jauh. Dia juga putera sulung Pengsi ong. Karenanya Kongcin ong mempersilahkan dia duduk di kursi pertama. Sedangkan Siau Po dipersilahkan menduduki kursi kedua. Di dalam ruangan itu hadir banyak perwira serta pembesar lainnya. Meskipun Siau Po berandal, tapi dia tidak berani duduk di kursi kedua itu.

Berulang kali dia menolak dengan halus.

Kongcin ong tertawa lebar. “Saudara Kui, kau adalah tangan kanan Sri Baginda. Semua orang menghormatimu, juga berarti menunjukkan kesetiaan kepada Raja kita. Harap kau tidak sungkan-sungkan lagi!”

Selesai berkata dia menekan bahu bocah itu dan memaksanya duduk. Setelah itu para perwira lainnya juga ikut mengambil tempat duduk masing-masing. Sedangkan So Ngu-tu tentu memilih duduk samping Siau Po.

Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati: “Neneknya! Ketika di Li cun-wan, sering ibu menyuruh aku berdiri di belakangnya dan secara mengumpat menyodorkan makanan kepadaku. Itu juga aku sering diusir oleh para putera hartawan yang lagaknya setinggi langit. Pada waktu itu, aku hanya berpikir kapan bisa menjadi orang kaya agar para putera hartawan dan hidung belang itu menjadi iri melihat aku dilayani oleh seluruh wanita penghibur dari Li Cun-wan. Tidak tahunya hari ini aku duduk di sini ditemani Kongci ong, pangeran serta menteri dan pembesar negeri. Sayangnya para kutu busuk di Yangciu tidak melihat pamorku hari ini!

Para hadirin duduk menikmati arak. Keenam belas pengawal yang mengiringi Go Eng-him berbaris di depan jendela. Mata mereka sekali-sekali melirik ke arah para pelayan yang mengantarkan hidangan ke dalam ruangan.

Siau Po memperhatikan semua itu secara diam-diam. Otaknya yang cerdas bekerja dengan cepat. “Hm! Keenam belas orang itu pasti jago-jago yang ditugaskan melindungi Siau ong-ya ini. Kemungkinan besar orang-orang dari Bhok ong-ya juga sudah menantikan di luar istana Kongcin on. Paling baik apabila terjadi perkelahian sengit antara kedua belah pihak. lngin aku lihat, apa pihak Go Sam-kui yang menang atau pihak Bhok-onghu yang berjaya?”

Perutnya terasa panas mengingat perlakuan yang diterimanya dari Mau Sip-pat gara-gara orang dari Bhok onghu yang mereka temui dalam jalanan di Kangouw. Dia berharap kedua belah pihak akan sama-sama terluka parah dalam perkelahian.

Kongcin ong sendiri juga memperhatikan gerak-gerik keenam belas pengawal Go Eng-him. Dia tahu mereka takut tuan mudanya diracuni atau dicelakai. Tapi sebagai tuan rumah yang baik, dia juga tidak dapat mengatakan apa-apa yang dapat membuat tamunya tersinggung.

Si kepala siwi, To Lung mempunyai watak yang polos dan suka berterus-terang. Setelah meneguk beberapa cawan arak, terdengar dia berkata: “Siau ong-ya, orang-orang yang mengiringimu pasti tergolong dari perwira pilihan yang mempunyai kepandaian tinggi, bukan?”

Go Eng-him tersenyum: “Memangnya mereka punya kebisaan apa? Mereka tidak lebih dari para prajurit yang biasa mengikuti aku kemana-mana. Mereka semua tahu watakku yang buruk. Kalau ada mereka di samping, seandainya aku mabuk, kan ada orang yang menggotong!”

To Lung ikut tertawa: “Siau ong-ya benar-benar pandai merendah. Coba lihat kedua orang itu. Keningnya terang bercahaya, hal ini menunjukkan tenaga dalamnya sudah mencapai taraf kesempurnaan. Dan dua orang yang lainnya, mempunyai wajah yang kencang berminyak, menandakan dia seorang ahil gwakang (tenaga luar) yang sudah tinggi sekali kepandaiannya. Sedangkan sisanya, coba suruh mereka buka topi, pasti kepala mereka botak semua!”

Go Eng-him tidak memberikan komentar, namun bibirnya tersenyum. Sedangkan So Ngo-tu langsung tertawa dan berkata: “Tadinya aku mengira Ciangkun hanya pandai maju ke medan perang sehingga selalu merebut kemenangan. Ternyata Ciangkun juga pandai lihat wajah orang seperti peramal.” To Lung tertawa.

“So tayjin tidak tahu, sudah lama Peng-si ong menetap di San-hay kwan. Banyak perwiranya yang berasal dari perguruan Kim-teng bun kota Kimciu. Sedangkan umumnya murid-murid Kim-teng bun yang ilmunya sudah mencapai taraf yang tinggi, wajahnya selalu berminyak bahkan kepalanya botak.”

Kong Cin-ong tertarik mendengar keterangan itu. Dia tersenyum. “Bolehkah tianhe menyuruh mereka membuka topi supaya kita bisa membuktikan kata-katanya te-tok (jenderal yang menjadi kepala siwi) benar atau tidak?” tanyanya.

“Mata Te tok sungguh tajam. Kata-katanya memang tepat,” sahut Eng Him. “Beberapa pengiringku ini memang orang-orang dari perguruan Kim-teng bun, hanya saja kepandaian mereka belum sampai taraf kesempurnaan sehingga kepalanya tidak seratus persen botak, masih ada sisa rambutnya sedikit. Kalau menyuruh mereka membuka topi akhirnya hanya menjadi bahan tertawaan saja.

Mendengar keterangan itu, para hadirin tawa. Karena si pangeran sudah menolak secara halus, tentu tidak enak bagi mereka apabila memaksakan kehendaknya.

Justru di saat itu Siau Po memperhatikan para penggiring putera Peng-si ong itu. Di dalam hatinya dia berkata: “Entah ada berapa helai rambut di atas kepala orang yang tinggi besar itu? Dan yang tubuhnya kurus kering mungkin kalah lihay. Pasti rambutnya masih cukup banyak.”

Dengan berpikir demikian, thaykam gadungan itu teringat sesuatu hal. Sehingga tanpa disadari dia tertawa.

Kongcin ong merasa heran. “Mengapa kau tertawa, saudara Kui?” tanyanya. “Coba kau terangkan agar para tamu sekalian bisa mendengar dan ikut mengetahui apanya yang lucu!”

“Aku sedang berpikir bahwa para suhu dari Kim-teng bun itu pasti mempunyai sifat yang penyabar sekali,” sahut Siau Po. “Mereka pasti jarang berkelahi dan malah mungkin tidak bisa melakukannya!”

Cing ong tidak mengerti maksudnya: “Mengapa kau bisa mempunyai pendapat seperti itu, saudara Kui?”

Siau Po tertawa kembali: “Sebab kalau mereka pemarah, tentu mata mereka akan mendelik dan menantang lawannya untuk menghitung jumlah rambut mereka. Di samping itu, mereka juga akan menyuruh lawan mereka membuka topi serta akhirnya bertanding rambut siapa lebih banyak, dialah yang kalah. Sedangkan rambutnya yang lebih sedikit, dialah yang menang!”

Kata-katanya Siau Po membuat orang-orang dalam ruangan itu merasa geli dan tertawa. Ucapannya dianggap lucu sekali.

Terdengar Siau Po berkata kembali: “Aku yakin para suhu dari Kim-teng bun selalu membawa suipoa (papan yang berbiji-biji digunakan sebagai alat hitung pada jaman itu) kemana-mana. Sebab tanpa alat itu, tentu sulit mehitung rambut.”

Lagi-lagi para hadirin tertawa.

“Kong ong-ya.” Kemudian terdengar To Lung berkata. “Setelah tempo hari sisa antek-antek Go Pay mengacau di istana ini, menurut kabar, ong-ya banyak mengundang tokoh-tokoh lihay. Benarkah?”

Kongcin ong memilin kumisnya sembari menjawab, wajahnya menunjukkan perasaannya yang bangga: “Tidak mudah mengundang tokoh-tokoh yang sudah punya nama dan berkepandaian tinggi. Hanya beberapa gelintir pesilat-pesilat kelas dua kelas tiga saja,” sahutnya merendah. Kemudian melanjutkan kembali. “Tapi peruntunganku memang cukup bagus. Selain gaji yang tinggi, aku juga membantu mereka menyelesaikan beberapa persoalan, karena itu mereka sudi datang kemari memberi muka kepadaku untuk menggebah para pemberontak.”

“Bolehkah tayjin memberitahu, kiat apa yang digunakan untuk mengundang para jago ini?” tanya To Lung.

Kepandaian Te tok sendiri sudah terhitung jago kelas satu. Untuk apalagi mengundang orang luar?” kata Kong Cin-ong tersenyum.

“Terima kasih atas pujian ong-ya,” sahut To Lung. “Menurut selentingan di luaran, ilmu memanah ong-ya tinggi sekali. Tempo hari ketika para pemberontak datang mengacau, katanya ong-ya menggunakan panah membidik mati dua puluh orang lebih anggota pemberontak itu.”

Kongcin-ong hanya tersenyum. Dia tidak memberikan komentar. Kenyataannya, tempo hari dia memang memanah mati anggota Tian-te-hwe, tetapi jumlahnya hanya dua orang. Cerita di luaran hanya dibesar-besarkan saja.

“Saat itu aku memang menyaksikan, dengan mata kepala sendiri,” kata Siau Po ikut berbicara. “Aku merasa tiba-tiba deru angin berkesiuran. Kemudian di depanku terdengar suara ‘aduh! Aduh!’ dan di belakang ada beberapa orang yang memuji, ’panah bagus!’ ‘bidikan hebat!'”

Go Eng-him segera mengangkat cawan araknya tinggi-tinggi.

“Hebat sekali ilmu memanah Cin ong! Boanseng kagum sekali. Dengan ini Boanseng ingin megulanginya!”

Para hadirin ikut mengangkat cangkirnya dan meneguk arak bersamaan. Kongcin ong senang sekali. Diam-diam dia berpikir dalam hati: “Siau Kui cu ini sungguh pandai mengikuti perkembangan. Tidak heran Sri Baginda begitu menyayanginya!”

“Ongya,” kata To Lung kembali. “Ongya telah mempekerjakan begitu banyak busu. Bagaima kalau mereka itu diundang keluar agar kita dapat berkenalan satu dengan lainnya?”

Kongcin ong suka membanggakan diri. Ia langsung menerima baik permintaan Kiubun Te tok itu. Segera dia menurunkan perintah kepada seorang bawahannya: “Lekas siapkan dua buah meja perjamuan sebelah sana dan undang Sin Ciau siangjin seyang lainnya hadir di sini!”

Perintah itu langsung dilaksanakan. Pelayan-pelayan bekerja dengan gesit. Sebentar saja perjamuan sudah tersedia. Di lain saat, dua puluh orang lebih busu yang dipimpim seorang berjubah merah. Tubuhnya tinggi besar gemuk. Dia seorang biku.

Kong Cing-ong bangun dari tempat duduknya. “Para sahabat sekalian, mari kita duduk minum bersama!”

Melihat tuan rumah berdiri, yang lainnya ikut bangkit untuk menyambut rombongan baru masuk itu.
“Terima kasih! Terima kasih!” kata si biku merangkapkan sepasang tangannya sambil tertawa.

“Tayjin sekalian, silahkan duduk!” Suara si biku nyaring dan lantang. Menandakan tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Rekan-rekannya yang lain ikut memberi hormat, mereka juga mengucapkan terima kasih kemudian mengambil tempat duduk di dua meja yang baru selesai diatur itu.

To Lung paling suka ilmu silat. Wataknya juga polos dan suka terus-terang. Tanpa menunggu para busu itu meneguk kering cawannya masing-masing, sudah berkata: “Ongya, menurut penglihatan siauciang, para busu itu gagah-gagah. Kepandaian mereka pasti tinggi sekali. Bolehkah ong-ya menyuruh mereka mempertunjukkan sedikit kelihayannya? Kebetulan disini ada Go sicu dan Kui kongkong, mereka tentu ingin melihat kepandaian orang-orang ong-ya.

Kongcin ong tertawa. “Tuan-tuan yang terhormat,” katanya pada rombongan Sin Ciau siangjin. “Banyak tamu agung di sini ingin menyaksikan kepandaian kalian. Bolehkah kalian mempertunjukkanya sedikit?”

Seorang busu setengah tua yang duduk di sebelah kiri, langsung bangun. Dia berkata dengan suara lantang: “Aku kira ong-ya menghargai kepandaian orang sehingga mengundang aku datang kemari. Siapa sangka kami dipandang sebagai orang kangouw yang suka menjual silat di depan umum. Kalau para hadirin sekalian ingin menonton pertunjukan topeng monyet, mengapa tuan-tuan tidak pergi ke Tiankio saja? Maaf, ijinkanlah aku yang rendah memohon diri!”

Selesai berkata, orang itu mengangkat tangan kirinya dan terdengarlah suara ‘Plok!’, hancurlah bagian belakang kursinya, kemudian dia melangkah lebar-lebar keluar dari ruang pesta itu.

Melihat keadaan itu, para hadirin jadi tertegun. Seorang laki-laki tua yang bertubuh kurus bangkit dari tempat duduknya dan mencegah busu tengah tua yang hendak berlalu itu dengan berkata: “Long suhu, kata-katamu itu tidak memakai aturan. Ongya sangat menghargai kepandaian kita. Ongya ingin menyaksikan kepandaian kita, seharusnyalah kita menyambut dengan baik. Andaikata Long suhu tidak setuju, tidak mungkin ong-ya memaksamu. Tapi kenapa kau harus menghancur kursi di tempat pesta ini? Seumpamanya ong-ya sangat bijaksana dan tidak menyalahkan kau, tapi kami semua, di mana kami harus meletakkan muka ini?”

Orang she Long itu langsung tertawa dingin. “Setiap orang mempunyai pendirian tersendiri. To suhu, kalau kau suka menunjukkan kepandaianmu, silahkan. Tapi, maaf, aku tidak dapat menemani kalian lebih lama!” katanya sambil berjalan pula.

Terdengar orang tua she To berkata: “Kalau kau memang hendak pergi juga, seharusnya kau memberi hormat kepada ongya dengan menyembah dan mengangguk. Apabila ongya sudah menyatakan persetujuannya, baru kau boleh meninggalkan tempat ini!”

Kembali orang she Long itu tertawa dingin. “Aku toh tidak menjual diriku menjadi budak onghu!” katanya sengit. “Bukankah sepasang kakiku ini menempel di tubuhku sendiri? Kalau aku ingin pergi, aku bebas untuk berjalan. Siapa yang berani melarang aku?”

Selesai berkata, dia berjalan lagi. Tampaknya si orang tua she To masih tidak mau mengalah. Ketika melihat orang she Long itu hampir menubruknya, dia langsung mencekal lengan kiri orang itu sambil membentak dengan suara keras.

“Tidak bisa tidak! Aku memang hendak melarangmu!”

Orang she Long ingin menghindarkan diri dari cekalan orang she To. Tubuhnya berputar dan tinjunya meluncur ke pinggang orang she To. Dan lawannya mendahuluinya dengan mengirimkan sebuah tendangan ke arah dada.

Long suhu ternyata lincah sekali. Dia mengangkat tangan kanannya dan menyambut tendangan itu. Karena gerakannya yang cepat, dia berhasil meyanggah bagian dalam lutut lawannya kemudian dia mengerahkan tenaganya untuk mendorong dari bawah ke atas.

Orang she To tidak dapat melepaskan diri cekalan itu. Tubuhnya kena dipentalkan ke belakang. Namun dia juga cukup gesit, dia sempat membuang diri sehingga tidak sampai.terjatuh. Namun dia sudah kalah angin sehingga wajahnya menjadi merah padam saking malunya.

Orang she Long juga tidak menunda waktu, dia segera menghambur ke pintu ruangan. Tiba-tiba muncullah rintangan yang lain. Seseorang yang bertubuh kurus tahu-tahu sudah menghadang di depannya. Orang itu tidak menyerang, hanya merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat seraya berkata:

“Long toako, harap kau kembali ke dalam ruangan!” Orang she Long itu sedang menghambur ke depan, sulit baginya untuk mengendalikan gerakan tubuhnya. Namun si orang bertubuh kurus tidak mau menyingkir. Karena itu keduanya jadi beradu. Lebih tepat lagi bila mengatakan orang Long itu menubruk tubuh si kurus.

Kesudahannya sungguh luar biasa. Bukan orang yang bertubuh kurus itu terdorong atau terpental ke belakang. Namun malah si orang she Long yang tersurut mundur sejauh tiga langkah. Tubuhnya terhuyung-huyung. Sulit baginya untuk menjaga keseimbangan. Dia limbung ke kanan, bukannya berhenti atau berdiam diri, dia terus berlari menuju jendela. Jelas dia tidak sudi berdiam lebih lama dalam ruangan itu.

Si kurus itu ternyata hebat sekali. Tahu-tahu dia sudah ada di depan jendela dan menghadang kepergian si orang she Long.

Busu setengah baya itu sadar bahwa lawannya lihay sekali. Benturan tadi membuatnya insaf dan dia tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Dia menahan gerakan tubuhnya sedemikian rupa segga ketika luncurannya terhenti. Jarak mereka ya tinggal dua dim saja.

Si kurus berdiam diri. Sepasang matanya menatap si orang she Long tanpa berkedip sekali pun.

Orang she Long itu tetap berusaha mencapai luar ruangan agar dapat melarikan diri. Namun si kurus tampaknya tidak sudi memberinya kesempatan sama sekali. Ketika si orang she Long mengirimkan tinjunya ke depan, dia hanya mengangkat tangannya dan mendorong dengan asal-asalan. Namun akibatnya sekali lagi si orang she Long terhuyung mundur kebelakang.

“Hebat!” seru beberapa tamu yang memuji kepandaian si kurus.

Si Long berdiam diri. Wajahnya pucat dan merah secara bergantian. Dia merasa terkejut juga bingung. Tampaknya sulit baginya untuk keluar dari dari istana tersebut, akhirnya terpaksa dia berdiam diri saja.

Si orang kurus memberi hormat kepadanya. “Saudara Long, silahkan duduk! Ongya mengharapkan kita menunjukkan sedikit kepandaian bukankah kita sudah melakukannya?”

Kali ini, selesai berkata, si kurus kembali ke tempat duduknya semula. Dengan perasaan malu. orang she Long terpaksa kembali ke tempat duduknya dengan kepala tertunduk. Dia masih merasa kesal juga gundah.

Para hadirin bersorak menyaksikan peristiwa itu, yang memang merupakan sebuah pertunjukan. Kongcin ong sendiri sebetulnya merasa tidak enak hati, karena orang she Long menentangnya depan umum. Tapi perbuatan si kurus juga mengembalikan pamornya. Karena itu dia segera menitahkan pelayannya mengambil uang sebesar lima puluh tail perak.

“Ilmu silat suhu itu hebat sekali.” kata Go Eng-him. “Siapakah namanya? Mudah saja dia mehadang kepergian orang.”

Pangeran itu tidak langsung menjawab. Dia juga tidak kenal siapa adanya orang bertubuh hitam itu. Diajuga tidak tahu kapan orang itu datang. Tapi tentunya tidak baik baginya untuk mengatakan terus-terang.

“Siau ong sungguh pelupa, tidak ingat lagi namanya!” sahut Kongcin-ong asal-asalan.

Pelayan yang disuruh tadi sudah kembali dalam waktu singkat. Dia membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat uang goanpo masing-masing senilai dua puluh lima tail.

Kong Cin-ong tertawa sambil berkata: “Para busu telah memperlihatkan kepandaiannya. Karena itu harus ada orang yang pertama-tama menerima hadiah. Sahabat, silahkan kemari. Ambilah sepotong goanpo ini!”

Yang dipanggil adalah orang yang bertubuh kurus tadi. Dia segera menghampiri si pangeran dan menyambut sepotong goanpo yang disodorkan kepadanya. “Sahabat,” panggil Siau Po. “Siapakah she dan namamu yang mulia?”

“Aku yang rendah bernama Ci Goan-kay,” sahut orang itu. “Terima kasih tuan besar telah sudi menanyakannya!”

“Memang lihay kepandaian busu Ongya,” kata To Lung kemudian. “Sekarang aku ingin sekali menyaksikan kepandaian para pengawal Siau tianhe. Siau ong-ya, tolong tunjuk salah seorang pengawalmu untuk bermain-main sejenak dengan Ci suhu ini!”

Go Eng-him tidak segera menjawab. Tampaknya dia sedang merenung. Melihat keadaan itu, To Lung berkata kembali: “Ini hanya pertunjukan saja. Batasnya saling menowel. Juga tidak perlu hadiah segala macam. Dengan demikian persahabatan kita tidak akan terganggu. Siapa yang menang atau kalah tidak akan jadi masalah!”

“Pikiran Te tok baik sekali!” Kongcing ong yang suka keramaian ikut berbicara. “Tapi sebaiknya para busu semua mendapat sesuatu. Aku akan menghadiahkan goanpo bernilai besar pada yang menang namun yang kalah juga mendapat bagian, hanya nilainya lebih kecil sebagai tanda penghargaan.”

Kong Cin ong menoleh kepada pelayannya tadi. “Ambillah lagi sejumlah goanpo bernilai dua puluh lima tail.” Pelayan tadi masuk ke dalam ruangan. Tidak lama kemudian dia sudah keluar lagi dengan membawa dua nampan besar uang goanpo yang berkilauan.

“Pihak kami mengajukan Ci Goan-kay,” kata Kongcin ong. “Busu manakah yang mula-mula aka mewakili pihak Peng-si ong?”

Para hadirin senang mendengar kata-kata tuan rumah. Perhatian mereka segera beralih pada keenam belas orang yang mengawal kedatangan Go Eng-him. Mereka tahu, meskipun pertandingan ini hanya pertandingan persahabatan, tetapi kedua pihak itu justru Kongcin ong dan Peng-si ong. Rata-rata mereka mengharap pihak tuan rumahlah yang akan meraih kemenangan.

Di saat Go Eng-him masih memikirkan jalan keluar terbaik, salah seorang pengawalnya segera melangkah ke depan kemudian memberi hormat kepada pihak tuan rumah seraya berkata: “Harap ong-ya ketahui, ketika mengikuti sicu berangkat ke kotaraja. Kami telah dipesan untuk menjaga dan merawat sicu sebaik-baiknya. Pe Si-ong juga telah memesan berulang kali bahwa selama di kotaraja kami dilarang berbentrokan dengan siapa pun. Pesan beliau sama sekali tidak boleh dilanggar.”

Kongcin ong tertawa: “Peng-si ong sungguh teliti dan waspada!” pujinya. “Tapi ini bukan bentrokan, hanya pertandingan bermain-main. Anggaplah kalian sedang berlatih. Apabila Peng-si ong sampai menanyakan, katakan saja aku yang memintanya!”

Orang itu menjura sekali lagi. “Maaf, ong-ya,” sahutnya. “Dengan sesungguhnya kami tidak berani menerima perintah ong-ya ini.”

Kongcin ong menjadi kurang senang. Hatinya mulai marah. Diam-diam dia berpikir:
“Kau selalu menyebut Peng-si ong, seakan-akan aku tidak dipandang sebelah mata olehmu! Mungkin perintah Sri Baginda sekalipun akan kau abaikan!”

Saking sengitnya, dia segera berkata: “Tidak mungkin kalau kau akan diam saja apabila orang menghajarmu!”

Orang itu menjura kembali. “Sewaktu kami berada di Inlam, kami sudah mendengar bahwa semua pembesar negeri, tentara bahkan rakyat di kotaraja sangat tahu aturan. Kalau tidak melakukan kesalahan terhadap orang lain, tidak mungkin orang sengaja mencari perkara dengan kita!”

Pengawal Go Eng-him itu bertubuh tinggi besar, tampaknya cerdik. Suaranya tajam. Seandainya Kongcin ong memaksakan kehendaknya, berarti dia tidak tahu aturan. Karenanya dia jadi mendongkol sekali. Akhirnya dia menoleh kepada Sin Cia siangjin sembari berkata:

“Sin Ciau siangjin, Ci suhu, sahabat-sahabat dari Inlam itu tidak sudi memberi muka kepada kita. Karenanya kita juga tidak bisa berbuat apa-apa!”

Mendengar kata-kata pangeran itu, Sin Cia siangjin segera bangkit. “Ongya,” katanya. “Sahabat-sahabat dari Inlam itu justru ketakutan kalah. Dengan demikian mereka akan kehilangan muka. Toh, tidak mungkin mereka mendiamkan saja apabila ada orang yang menyerang pada bagian tubuh mereka yang membahayakan!”

Begitu suaranya berhenti, biku itu langsung mencelat ke samping pengawalnya Go Eng-him kemudian tertawa lebar.

“Tenaga tangan aku, si biku biasa-biasa saja dibandingkan orang she Long tadi, mungkin aku hanya menang satu tingkat. Ongya, pinceng ini merusak sebuah batu di tempat ong-ya ini. Apakah ong-ya akan berkecil hati karenanya?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: