Kumpulan Cerita Silat

02/02/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (24)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:31 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 24. Bendera Besar Berkibar di Senja Hari
Oleh Gu Long

Bendera Gedung Sepuluh Ribu Kuda yang besar dan khas berkibar dengan megahnya tertiup angin. Bila kau berdiri dari kejauhan, bendera tersebut kadang terlihat seperti sebuah saputangan yang melambaikan selamat tinggal. Kelima tulisan tebal berwarna merah di atasnya adalah darah dan airmata kekasihnya.

Kelima tulisan tersebut mungkin ditulis oleh darah dan airmata.

Seseorang berdiri membisu di tengah-tengah padang rumput memandangi bendera yang berkibar tertiup angin tersebut. Tubuhnya tinggi dan kurus dan membawa hawa kesepian dan keterkucilan.

Dia berdiri ditengah-tengah lautan rumput yang berwarna biru kehijauan seperti sebuah pohon yang kokoh. Pohon yang kuat dan keras, sendiri dan terkucil. Namun, bukankah pohon mengalami rasa sakit dan kebencian di dalam hatinya?

Ma Fang Ling melihatnya, melihat golok ditangannya.

Seorang yang dingin dan tak berperasaan. Golok pembawa petaka.

Namun untuk suatu alasan tertentu saat dia melihatnya, hatinya dipenuhi dengan kehangatan yang sulit dijelaskan. Seperti rasa arak yang menguap ditenggorokanmu.

Dia seharusnya tidak boleh merasakan perasaan seperti itu.

Hanya seorang yang kesepian yang mengerti perasaan orang lain yang merasakan jiwanya kesepian. Namun, gadis itu tidak ingin berpikir lagi, kudanya dipacu kearahnya.

Fu Hong Xue sama sekali terlihat tidak menyadari kehadirannya – paling tidak seharusnya dia menolehkan kepalanya.

Dia melompat turun dan berdiri menatap bendera itu juga. Saat angin berhembus, dia dapat mendengarkan napasnya sendiri yang memburu. Angin tidak bertiup terlalu kencang. Sepertinya dia ditekan oleh besarnya tenaga yang muncul dari matahari yang bergerak terbenam. Namun angin bertiup cukup kencang untuk membuat bendera itu tetap bergerak.

“Aku tahu yang ada dipikiranmu.” Ma Fang Ling tiba-tiba berkata.

Fu Hong Xue tidak mendengarnya, dia menolak mendengarkannya.

“Kau berpikir suatu hari kau pasti datang menurunkan dan merobek bendera itu.” Ma Fang Ling berkata.

Fu Hong Xue menutup bibirnya, dia menolak untuk berbicara.

Tetapi dia tidak dapat menghentikan Ma Fang Ling berhenti berbicara. Gadis tiu tertawa dingin dan berkata,” Namun hari itu tidak akan pernah datang! Tidak akan pernah!”

Pembuluh darah ditangan Fu Hong Xue mulai membesar.

“Jadi aku menasihatimu untuk pergi, semakin jauh semakin baik.”

Fu Hong Xue tiba-tiba menoleh dan menatapnya. Matanya berapi-api, sepertinya dia ingin membakar gadis itu.

Kemudian, dia berkata,” Tahukah kau yang aku ingin potong bukanlah bendera itu, akan tetapi kepala Ma Kong Qun!”

Nada suaranya lebih tajam dari mata pedang.

Ma Fang Ling terhuyung mundur dua langkah tanpa disadarinya dan berteriak balik,” Kenapa kau begitu membencinya?”

Fu Hong Xue tiba-tiba tersenyum. Memperlihatkan giginya yang seputih salju, senyumnya seperti seringai binatang buas. Setiap orang yang melihat senyum itu pasti melihat kebencian yang mendalam di hatinya.

Ma Fang Ling kembali mundur setengah langkah dan berteriak,” Kau tetap tidak akan pernah dapat menjatuhkannya. Dia lebih kuat dari yang kau bayangkan. Kau bukan tandingannya!”

Dia berteriak. Semakin marah seseorang, suaranya semakin keras.

Suara Fu Hong Xue masih tenang,” Tahukah kau kalau aku dapat membunuhnya. Dia sudah tua, sudah cukup tua. Dia mungkin akan melukai dirinya sendiri hingga mati.”

Ma Fang Ling menngertakann giginya, namun seluruh tubuhnya telah jatuh limbung. Sepertinya dia merasakan dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk marah. Yang dia rasakan hanya ketakutan.

Dia menundukan kepalanya dan berkata dengan sedih,” Kau benar, dia sudah tua. Dia bukan apa-apa, melainkan hanya seorang tua yang tidak memiliki tenaga lagi sekarang. Meskipun kau membunuhnya, kesenangan apa yang kau dapatkan?”

Sorot kejam keluar dari kedua mata Fu Hong Xue,” Apakah kau memohon untuk mengampuni nyawanya?”

“Aku … ya, aku memohon padamu. Aku tidak pernah memohon pada siapapun seumur hidupku.”

“Kau pikir aku akan setuju?”

“Bila kau setuju, aku akan …”

“Kau akan apa?”

Mata Ma Fang Ling tiba-tiba memerah, dia menundukan kepalanya dan menjawab,” Aku akan melakukan semua yang kau minta. Bila kau ingin aku berjalan, maka aku akan berjalan. Bila kau ingin aku lari, maka aku akan lari.”

Saat perkataan tersebut keluar dari mulutnya, dia menyesal telah mengatakan itu semua. Dia tidak mengerti kenapa dia berkata seperti tadi, tidak bahkan tidak yakin apakah dia bermaksud seperti itu atau tidak. Apakah karena dia hanya berusaha membuatnya pergi? Apakah karena dia dengan bingung menginginkannya sejak hari itu?

Bersikap seperti itu pada seseorang seperti dia terlalu sembrono, terlalu berbahaya dan terlalu menakutkan.

Untungnya Fu Hong Xue tidak menolaknya. Dia hanya menatapnya dingin. Tiba-tiba gadis itu menyadari bahwa sorot matatnya tidak hanya kejam, namun dia merasakan suatu hal yang sulit dicerna melalui sorot yang aneh seperti itu.

Sepertinya dia berkata,” Kau menolakku hari itu, kenapa kau balik kepadaku sekarang?” Perasaan Ma Fang Ling seperti diaduk-aduk di dadanya. Cemoohan yang tak terucapkan seperti itu lebih buruk dari pada diabaikan.

Fu Hong Xue memandangnya dan tiba-tiba berkata,” Aku hanya ingin tahu. Apakah kau memohon padaku untuk ayahmu? Atau untuk dirimu sendiri?”

Dia tidak menunggu balasan. Sesaat dia menyelesaikan ucapannya, dia berbalik dan mulai berjalan pergi. Kaki kirinya melangkah maju, dan kaki kanannya diseret dari belakang. Cara melangkahnya yang aneh dan kaku kadang-kadang berubah menjadi seperti ejekan.

Ma Fang Ling mengepalkan jari-jarinya dan mengatupkan giginya namun dia tidak dapat menahan dirinya sesaat dia jatuh limbung. Kotoran ditanah terasa panas asin dan panas pahit. Airmatanya pun terasa sama. Sebelumnya dia mengasihani dirinya sendiri, namun sekarang dia membenci dirinya sendiri. Dia membenci dirinya sendiri hingga ke titik kegilaan, dia membenci dirinya sendiri hingga mati. Dia berharap bumi akan membelah dan menelannya kedalamnya. Sebelumnya dia ingin menghancurkan orang yang telah mengabaikannya, sekarang dia ingin menghancurkan dirinya sendiri.

________________________________________

Cahaya matahari menyinari jalan raya. Tidak ada seorangpun di jalan, namun dibalik pintu yang retak dan dibalik celah jendela, beberapa pasing mata mengintip keluar melihat kepada satu orang.

Lu Xiao Jia.

Dia tengah mandir di dalam bak mandi yang besar setinggi tujuh kaki yang diletakan di tengah jalan. Air didalamnya cukup dalam, saat dia berdiri di dalamnya bagian ujung atas kepalanya sepenuhnya terendam. Sepasang baju baru seputih salju terlipat dengan rapih diatas papan disamping bak mandi. Pedangnya juga diletakan disana, bersama dengan sekantong besar kacang.

Dia hanya cukup menjangkaukan tangannya untuk mengambil pedangnya, dia hanya cukup menjangkaukan tangannya untuk mengambil kacang-kacangnya. Kemudian, dia mengambil kacang, membuka kulitnya, dan menjentikannya ke udara. Sesaat kacang tersebut telah jatuh ke dalam mulutnya, perasaan puas dan senang terpancar dari wajahnya.

Matahari bersinar dengan sangat panasnya, air tersebut juga telah mendidih, namun tidak terlihat sedikitpun keringat diwajahnya. Sepertinya air tersebut masih kurang panas, dia berteriakn,” Air panas, tambah air panas.” Dua orang segera datang tergopoh-gopoh dari pintu kecil membawa pot. Salah satunya Ding Lao Si, dan yang lain Hu Ji Shou. Dia berlari seperti seekor tikus yang mulutnya dibubuhi arak, dia adalah penjaga toko makanan. Penampilan seperti seekor tikus yang sedang mencuri makanan.

“Kenapa hanya kalian berdua? Dimana orang yang bernama keluarga Chen?”

“Dia tidak bisa kesini saat ini, dia mungkin sedang mencari seorang wanita untukmu seperti yang kau minta. Tidak banyak wanita disini.” Penjaga toko Hu berkata.

Sesaat perkataannya selesai diucapkan, tiba-tiba di melihat seorang wanita yang benar-benar layak untuk dipandangi.

Dia berjalan bersamaan dengan terdengarnya bunyi bel. Suara ketawanya sama menariknya dengan suara gemerincing belnya. Cahaya matahari menyinari seluruh tubuhnya yang memancarkan cahaya emas, yang masih memperlihatkan kulitnya yang seputih salju. Dia mengenakan jubah tipis berwarna putih. Saat angin bertiup, jantung pria pasti akan berhenti. Tangannya yang halus, indah dan panjang sementara jari-jarinya sedang menggandeng tangan seorang pria.

Penjaga toko Hu tidak tahan untuk terus menatap. Semua pasang mata dibalik jendela dan pimtu juga tidak tahan untuk menatapnya juga.

Mereka dapat mengenali bahwa gadis itu adalah gadis yang sangat “menyukai” Lu Xiao Jia. Namun tidak seorangpun membayangkan bahwa gadis itu sedang menggandeng tangan Ye Kai dengan erat, dan bahwa dia tiba-tiba akan muncul disini. Hati wanita dapat berubah dengan cepat, namun tidak akan secepat ini?

Ding Ling Lin tidak peduli dengan pikiran orang lain. Tidak ada seorangpun di dalam pandangan matanya kecuali Ye Kai. Dia tersenyum dan berkata,” Hari ini adalah hari yang tepat untuk membunuh orang, tapi kenapa orang masih memilih untuk membunuh seekor babi?”

“Membunuh seekor babi?” Ye Kai menjawab.

“Apa lagi yang kau butuhkan dengan segitu banyak air panas?” Ding Ling Lin bertanya.

Ye Kai tersenyum,” Aku dengar kita juga membutuhkan banyak air hangat saat melahirkan.”

“Anehnya, saat bayi itu lahir, dia langsung tumbuh besar.”

“Mungkinkah itu setan?”

Ding Ling Lin menganggukan kepalanya dengan mengejek dan menjawab,” Pasti sejenis monster.”

Seseorang dari balik salahs atu pintu tidak tahan untuk tertawa geli. Namun tawa geli itu segera berubah menjadi jeritan ketakutan. Sebuah kulit kacang meluncur melalui celah pintunya dan menyambar langsung dua buah giginya.

Ekspersi wajah Lu Xiao Jia masih sedingin es. Dia terlihat seperti sedang duduk di dalam air yang beku sesaat dia memandang Ding Ling Lin dan berkata,” Jadi inilah Nona Ding yang mematikan.”

Mata Ding Ling Lin bergerak saat menjawab dengan mempesona,” Mematikan adalah kata yang kasar, kenapa kau tidak menyebutku dengan sesuatu yang lebih menyenangkan?”

“Aku seharusnya menyadari bahwa kaulah orangnya, tidak banyak orang yang berani mengaku-ngaku diriku.” Lu Xiao Jia berkata.

“Sebenarnya, namamu pun terdengar kurang menyenangkan juga. Aku selalu heran kenapa orang-orang menyebut Kijang Bunga Plum.” Ding Ling Lin menjawab.

“Mungkin karena tanduk seekor kijang sangat tajam, dan dapat membunuh siapapun yang menyentuhnya.” Lu Xiao Jia berkata.

“Mungkin seharusnya mereka menyebutmu Sapi Air yang Gagah. Bukankah tanduk mereka lebih tajam?” Ding Ling Lin menjawab.

Lu Xiao Jia menundukkan kepalanya. Dia menyadari berebut omong maju mundur dengan wanita adalah tindakan yang sia-sia, jadi dia tiba-tiba mengubah pembicaraan dan bertanya,” Bagaimana kakak laki-laki tertuamu?”

Ding Ling Lin tersenyum dan menjawab,” Dia selalu sangat baik. Baru-baru ini, dia memenangkan sebuah pedang yang bagus melalui duel dengan Pendekar Pedang Paus Terbang dari Lautan Selatan. Tahukah kah betapa dia menyukai pedang-pedang yang bagus.

“Dan kakak laki-laki keduamu?”

“Tentu saja dia baik-baik juga. Baru-baru ini, dia menyerbu Gedung Macan Angin di Hebei dan meninggalkan tempat tersebut dengan porak-poranda. Dia juga memenggal kepala pemimpin ketiga macan. Tahukah kau betapa dia menyukai membunuh para begal.” Ding Ling Lin menjawab.

“Kakak laki-laki ketigamu?”

“Dia telah melakukan yang terbaik dari mereka semua. Dia berduel dengan NanGong bersaudara dari Gu Su selama tiga hari sekaligus dalam hal lagu, catur, puisi dan pedang. Dia memenangi duel dan pulang kerumah dengan membawa tiga puluh gentong Arak Wanita Merah yang sangat bagus serta sekumpulan penyanyi wanita muda. Tahukah kau Tuan Ketiga Ding menyukai wanita yang cantik dan arak yang bagus.” Ding Ling Lin berkata.

“Dan apakah yang disukai oleh saudara ipar laki-lakimu?” Lu Xiao Jia bertanya.

“Tentu saja saudara perempuanku.”

“Berapa orang saudara perempuanmu?”

“Tidak banyak, hanya enam. Tentunya kau telah mendengar Keluarga Ding, Tiga Jago Pedang dan Tujuh Bidadari.”

Lu Xiao Jia tiba-tiba tertanya dan menjawab,” Sangat bagus.”

Ding Ling Lin memandanginya dan bertanya,” Apa?”

“Yang aku maksud adalah, sangat bagus bahwa banyak wanitanya dan sangat sedikit laki-laki dalam keluarga Ding.”

“Apa yang bagus mengenai hal itu?”

“Kau harus tahu bahwa aku tidak menyukai membunuh wanita.” Lu Xiao Jia berkata.

“Oh?”

“Aku hanya harus membunuh tiga orang saja.”

Ding Ling Lin terlihat sangat senang dan menjawab,” Apakah kau sedang bersiap-siap untuk membunuh ketiga kakak laki-lakiku.”

“Kau hanya memiliki tiga kakak laki-laki, kan?”

Ding Ling Lin menghela napas dan berkata,” Itu tidak bagus.”

“Apa?” Lu Xiao Jia berkata.

“Tidak ada seorangpun yang disini saat ini, tentu saja itu tidak bagus.”

“Dan bila mereka disini?” Lu Xiao Jia bertanya.

“Maka mereka akan membunuhmu.” Ding Ling Lin berkata.
Lu Xiao Jia menatapnya. Matanya perlahan-lahan bergeser dari wajahnya ke kantung kacang. Kelihatannya akhirnya dia menemukan sesuatu yang menyenangkan matanya, sehingga dia terlihat sangat puas dengan dirinya. Bahkan kedua matanya yang tajam berubah melembut.

Dia mengambil sebuah kacang, membuka, dan menjentikannya ke udara. Kacang tersebut berkilat-kilat dibawah cahaya matahari. Dia mengikuti kacang tersebut agar jatuh ke dalam mulutnya dan menutup kedua matanya. Kemudian, dia menarik napas panjang dan mulai mengunyah perlahan-lahan.

Matahari yang hangat. Air yang hangat. Kacang yang manis. Dia menemukan segalanya sangat menyenangkan.

Ding Ling Lin sama sekali tidak merasa senang. Semuanya ini seperti permainan dan permainan ini harus diteruskan. Dia bahkan telah merencanakan dengan hati-hati bagaimana hal ini akan diakhiri. Siapa yang mengira ternyata Lu Xiao Jia seorang aktor yang menyebalkan. Sepertinya dia telah sepenuhnya melupakan sisa skenario dan menolak untuk meneruskan. Hal ini betul-betul membuat kesal.

Ding Ling Lin menghela napas dan berbalik ke arah Ye Kai,” Mulai sekarang, kau dapat melihat sendiri orang seperti apakah dia.”

Ye Kai menganggukan kepalanya dan menjawab,” Dia betul-betul laki-laki yang pintar.”

“Laki-laki yang pintar?” Ding Ling Lin bertanya.

“Laki-laki yang pintar tahu bahwa lebih baik menggunakan mulutnya untuk mengunyah kacang dari pada berebut omong dengan wanita.” Ye Kai menjawab.

Ding Ling Ling merasa gatal menggunakan mulutnya untuk menggigitnya.

Bila Ye Kai memanggil Lu Xiao Jia tuli atau pengecut, maka dia pasti akan meneruskan. Siapa tahu ternyata Ye Kai juga seorang aktor yang menyebalkan, sepenuhnya tidak bekerja sama dengan maksudnya.

Saat Lu Xiao Jia selesai mengunyah kacang tersebut, dia menghela napas dalam-dalam dan berkata,” Jadi ini waktunya seorang wanita menyukai melihat laki-laki mandi, kalau tidak kenapa dia masih disini?”

Ding Ling Ling menghentakan kakinya, menyentakan tangan Ye Kai sesaat wajahnya memerah dan berkata,” Mari pergi!”

Ye Kai mengikutinya pergi. Saat mereka membalikan kepalanya, mereka telah melihat Lu Xiao Jia tertawa dengan terpingkal-pingkal.

Ding Ling Lin menggertakan giginya dan menancapkan jarinya ke tangan Ye Kai.

“Apakah tanganmu terluka?” Ye Kai bertanya.

“Tidak.” Ding Ling Lin menjawab.

“Lalu kenapa tanganku terluka sangat parah?” Ye Kai berkata.

“Sebab engkau orang tolol, kau tidak pernah mengatakan yang seharusnya kau katakan.” Ding Ling Lin menjawab dengan marah.

“Aku tidak pernah mengucapkan yang tidak ingin aku ucapkan juga.” Ye Kai berkata sambil tersenyum pahit.

“Kau tahu apa yang aku inginkan untuk kau katakan?”

“Apapun yang ku katakan pasti tidak ada gunanya.”

“Kenapa begitu?”

“Karena Lu Xiao Jia telah tahu bahwa kita berusaha mencari gara-gara dengannya, dan dia dia merasa lebih baik mendiamkannya saja.”

“Bagaimana kau begitu yakin kalau dia sepintar itu?”

“Karena kalau dia tidak seperti itu, maka dia sudah menjadi kijang mati sekarang.”

“Kelihatannya kau terlalu mengaguminya.” Ding Ling Lin berkata sambil tersenyum dingin.

“Namun dia bukanlah seorang yang paling aku kagumi.”

“Siapakah dia?”

“Aku sendiri.”

Ding Ling Lin tidak tahan untuk tertawa, ” Aku tidak dapat melihat satu halpun yang mengagumkan dari dirimu.”

“Paling tidak satu hal.”

“Apakah itu?”

“Saat seseorang mencakarku dengan kuku jarinya, aku tidak merasakannya sama sekali.”

Ding Ling Ling akhirnya tidak tahan untuk tersenyum dengan menariknya. Dia tiba-tiba merasa puas dengan apa yang telah terjadi.

Dia bahkan tidak menyadari sepasang mata sedang menatap mereka.

Sorot mata Ma Fang Ling dipenuhi dengan perasaan iri dan cemburu saat mereka berjalan ke toko pakaian wanita Chen Da Guan. Mereka memutuskan untuk menunggu disini. Mereka akan menunggu hingga Fu Hong Xue tiba. Mereka akan menunggu disana hingga duel yang mengerikan itu berlangsung.

Ding Ling Lin sudah agak kesal karena telah kehilangan kesempatan untuk membeli beberapa pasang baju. Sangat sedikit wanita yang melewati kesempatan untuk membeli baju baru.

Ma Fang Ling menatap pada kedua tangan mereka yang saling bergandengan, sepertinya kedua tangan mereka telah mengikat hati mereka. Bagaimana bisa tidak seorangpun pernah memegang tangannya seperti itu? Dia membenci dirinya sendiri, dia membenci kenyataan bahwa dia tidak pernah disukai oleh orang lain.

Pada ujung dinding keadaan remang-remang, bahkan sinar matahari tidak dapat memasuki tempat itu. Dia merasa dirinya yatim piatu yang telah diabaikan oleh orang tuanya saat lahir.

Air panas telah tiba.

Lu Xiao Jia menatap Penjaga toko Hu dari toko bahan makananan menuangkan air panas ke dalam bak mandi.

“Mengapa orang itu masih belum tiba juga?”

“Orang yang mana?” Penjaga toko Hu tersenyum pura-pura.

“Orang yang kalian semua inginkan untuk kubunuh.”

“Dia akan kesini.”

“Dia sendiri masih belum cukup.”

“Siapa lagi yang kau harapkan datang?”

“Seorang wanita.”

“Aku baru saja mencari Chen Da Guan.”

Lu Xiao Jia tidak menjawab. Kedua matanya terfokus pada tangan penjaga toko Hu. Meskipun tangannya kuning dan mengeriput, namun terlihat sangat kokoh. Seember penuh ari terlihat seperti ember kosong saat dia membawanya dan menuangkannya ke dalam bak mandi seperti tanpa memerlukan tenaga.

Lu Xiao Jia tertawa dan berkata,” Setiap orang berpikir kau adalah penjaga toko bahan makanan. Apaka kau benar-benar penjaga toko?”

“Tentu saja …” Penjaga toko Hu menggumam.

“Tapi kau tidak terlihat seperti itu.” Dia tiba-tiba merendahkan nada suaranya dan berkata,” Aku rasa kalian semua tidak perlu mengundangku kesini sama sekali.”

“Kenapa begitu?”

“Saat kalian ingin seseorang mati sebelum ini, kalian telah membunuh dirimu sendiri.”

Ember telah kosong, namun tangan yang memegangnya masih tergantung diudara. Akhirnya, sepasang tangan itu diturunkan sesaat penjaga toko Hu merendahkan suaranya juga,” Kami mengundangmu kesini untuk membunuh, kita tidak mengundangmu untuk menginterogasi latar belakang kita.”

Lu Xiao Jia menganggukan kepalanya dan tersenyum,” Masuk akal.”

“Harga yang telah kau tetapkan, kita telah membayarnya penuh. Dan tidak seorangpun dari kita yang menanyakan latar belakangmu.”

“Namun bagaimana dengan wanita yang aku minta?”

“Wanita …”

Sebelum penjaga toko Hu menyelesaikan ucapannya, suara kencang menginterupsinya,” Tergantung wanita seperti apa yang kau cari?”

Suara itu suara seorang wanita. Lu Xiao Jia menolehkan kepalanya dan melihat seorang gadis berjalan kearahnya dari balik dinding. Gadis muda yang cantik, namun kedua matanya dipenuhi dengan kesedihan dan kebencian.

Ma Fang Ling berjalan ketengah jalan. Matahari menyinari wajahnya. Wajahnya memperlihatkan raut muka yang aneh. Raut wajahnya membuatnya seperti orang yang tidak bisa bernapas.

Kedua mata Lu Xiao Jia menyapu dari kaki hingga ke kedua matanya dan akhirnya mulutnya. Bibirnya terlihat halus dan basah, seperti buah yang matang.

“Kau menanyakanku wanita seperti apa yang kumau?” Lu Xio Jia berkata sambil tersenyum.

Ma Fang Ling menganggukan kepalanya.

“Kau tepatnya jenis wanita yang aku inginkan. Kau tentunya sudah tahu hal itu.”

“Lalu wanita yang yang kau inginkan sudah disini.”

“Kau?”

“Ya, aku.”

Lu Xiao Jia tersenyum.

“Kau pikir aku berbohong padamu?”

“Tentu saja kau tidak akan bohong padaku, namun paling tidak kau harus tersenyum dulu padaku.”

Jadi Ma Fang Ling tersenyum. Tidak ada seorangpun yang menyanggah dia tersenyum. Lu Xiao Jia mengerutkan kedua alisnya.

“Kamu masih belum puas?”

Lu Xiao Jia menghela napas dan menjawab,” Aku tidak pernah menyukai wanita yang terlihat menangis saat sedang tersenyum.”

Ma Fang Ling menggigit bibirnya. Setelah beberapa saat, dia menjawab perlahan,” Meskipun aku mungkin tidak dapat bersenyum dengan baik, aku dapat melakukan pekerjaan lainnya dengan lebih baik.”

“Apa lagi yang dapat kau lakukan?”

“Apa lagi yang ingin aku lakukan untukmu?”

Lu Xiao Jia menatapnya. Tiba-tiba, dia mengambil handuk dari dalam bak mandi dan melemparkannya kearahnya. Yang dilakukan oleh Ma Fang Ling adalah menangkapnya.

“Tahukah kau gunanya benda itu?” Lu Xiao Jia bertanya.

Ma Fang Ling menggelengkan kepalanya.

“Itu untuk menggosok punggung.”

Ma Fang Ling memandang handuk dikedua tangannya dan mulai bergetar. Dia bergetar dengan sangat kerasnya sehingga handuk ditangannya sampai terlepas. Namun cepat-cepat dia mengambilnya kembali dan memegangnya dengan keras. Sepertinya dia mengenggam handuk itu dengan seluruh kekuatannya, pembuluh darahnya yang hijau telah membesar dipunggung telapak tangannya. Namun kali ini dia memutuskan tidak akan membiarkan handuk itu lepas lagi dari tangannya. Dia tidak akan melepaskan apapun dari tangannya lagi. Dia telah kehilangan terlalu banyak.

Lu Xiao Jia masih memandangnya dengan tajam, sepertinya dia sedang mencoba menusuk masuk ke hatinya.

Dia menggigit bibirnya dan berkata,” Aku punya satu pertanyaan lagi.”

“Aku tidak menyukai wanita yang banyak bicara, tapi aku mengijinkannya hanya sekali ini.”

“Sekarang wanit yang kau inginkan sudah disini, tapi kenapa orang yang harus kau bunuh masih hidup?”

“Kau tidak menginginkan dia hidup?”

Ma Fang Ling menganggukan kepalanya.

“Kau datang, karena kau ingin aku membunuhnya?”

Lu Xiao Jia tertawa, ” Omongan terakhir, aku jamin dia tidak akan hidup lebih lama lagi.”

ooOOOoo

Bagaimana duel antara Lu Xiao Jia dan Fu Hong Xue? Intrik apakah dibalik semua ini?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: