Kumpulan Cerita Silat

01/02/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (23)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:29 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 23. Si kecil Bel Ding Dang
Oleh Gu Long

Disana terdapat sebuah halaman yang kecil diluar. Ye Kai berjalan keluar pintu dan menuju halaman yang disiniar oleh cahaya matahari. Seekor kucing kecil merangkak dibawah bayangan salah satu pohon. Kucing itu sedang menatap seekor kupu-kupu yang berdansa mengelilingi sekuntum bunga di dekat dinding, menunggu untuk menerkamnya, namun cukup malas untuk bergerak.

Tentu saja, tidak ada seorangpun di atap. Ye Kai sudah tahu bahwa tidak akan ada seorangpun di atas atap, Nenek Du tidak akan menunggunya keluar.

Ye Kai menghela napas, tiba-tiba dia merasakan dirinya seperti kucing itu. Bila dia menyukainya, maka dia dapat bergerak untuk menerkam kupu-kupu itu kapan saja. Namun, meski dia tidak malas, dia tidak akan dapat menangkat kupu-kupu itu. Kupu-kupu bukanlah tikus.

Kupu-kupu dapat terbang. Kupu-kupu dapat terbang tinggi.

Tiba-tiba, sepasang tangan terulur melewati dinding, dengan suara PPPLLLUUKKK, sebuah perangkap telah menangkap kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu menghilang dari pandangan. Kedua lengan itupun telah menghilang dari pandangan.

Seseorang berdiri diatas dinding itu.

Diluar dinding terdapat sebuah lapangan yang luas. Siapakah yang tahu apa yang tumbuh disana, apakah gandum atau pohon plum? Tidak peduli apapun yang kau tanam disana, kau pasti tidak akan terlalu berhasil. Namun orang-orang masih selalu mencoba bercocok tanam setiap tahun.

Hidup memang seperti itu. Setiap orang harus hidup. Setiap orang harus menemukan cara untuk tetap hidup.

Beberapa gubuk yang sudah reot berderet di dataran tersebut. Gubuk-gubuk tersebut dimiliki oleh kelompok penduduk yang paling miskin di daerah ini. Anak-anak yang tumbuh di sini tetap saja dipenuhi dengan kebahagiaan. Namun, anak-anak tetap anak-anak yang dipenuhi dengan kepolosan. Ada tujuh hingga delapan anak-anak berdiri melingkat diluar dinding, memandangi seseorang yang berada di bawah sebuah pohon.

Orang yang duduk di atas tembok aadalah Ye Kai, dan diapun sedang memandangi orang yang berada dibawah pohon.

Orang tersebut memiliki wajah yang bundar, dengan mata yang besar, kulit yang halus dan putih, dan lesung dipipinya saat gadis itu tersenyum. Mungkin gadis itu belum dapat dikatakan memiliki kecantikan yang membuat orang menahan napas, namun tidak dapat dipungkiri dia sungguh-sungguh manis dan menarik, dia mengenakan jubah yang berwarna putih yang terlihat seringan bulu. Dia memakai sebuah kalung emas dilehernya yang putih dimana pada kalung tersebut tergantung dua buah bel emas. Dia juga mengenakan gelang emas yang juga terdapat bel di kedua lengannya. Saat angin berhembus, seluruh tubuhnya berbunyi gemerincing dengan melodi yang menarik.

Namun gadis itu tidak mengenakan pakaian seperti itu sebelumnya. Sebelumnya, dia mengenakan baju merah yang besar. Sebelumnya dia berdiri di ujunt tiang bendera yang tinggi. Sekarang dia berdiri dibawah pohon itu.

Ada sebuah meja kayu di depannya. Di atas meja terdapat sebuah boneka yang mengenakan baju merah, medali perak berbentuk bunga, kristal berwarna ungu, rantai berwarna pelangi, kantung yang dibordir, kandang burung, dan aquarium kecil.

Kupu-kupunya yang baru saja ditangkapnya terdapat diantara barang-barang itu juga. Siapa yang tahu darimana dia mendapatkan semua barang-barang ini? Yang lebih aneh lagi, di dalam kandang burung terdapat sepasang burung kenari dan di dalam aquarium kecil terdapat dua ekor ikan emas.

Saat anak-anak melihatnya, sepertinya mereka sedang melihat seorang dewi yang turun dari awan,

Dia menepukan tangannya dan berkata,,” Baiklah, kalian semua berbaris. Kali semua datang kemari dan pilih salah satu yang kalian suka. Tapi kalian sebaiknya hanya mengambil satu barang saja, kalau kalian serakah aku akan memukul pantat kalian.”

Tenti saja anak-anak itu berkelakuan baik. Anak pertama melangkah kedepan dan melihat dengan bingung. Dia belum pernah melihat barang-barang seperti ini sebelumnya. Setelah menatap beberapa lama, akhirnya dia memilih medali perak. Anak kedua mengambil burung kenari.

Gadis bermata bulat besar itu tersenyum dan berkata,” Bagus! Pilihan yang sangat bagus, satu dari kalian akan tumbuh menjadi seorang pengusaha, dan yang lainnya akan tumbuh menjadi sastrawan.

Kedua anak kecil itu tersenyum balik dengan riangnya. Anak ketiga seorang anak perempuan dan dia memilih kantung berbordir. Anak keempat adalah anak yang paling kecil, dia ingusan dan dia akhirnya memilih kupu-kupu mati.

“Tahukah kau ada barang-barang lain yang lebih bagus dari pada kupu-kupu mati?” Gadis bermata bulat besar itu bertanya.

Anak itu menganggukan kepalanya.

“Lalu kenapa kau pilih kupu-kupu mati?”

“Kalau aku mengambil yang lain, anak-anak lainnya akan merebutnya dariku. Aku tidak cukup besar untuk melawan mereka, jadi lebih baik aku memilih mengambil barang yang tidak seorangpun yang menginginkannya. Jadi, paling tidak aku dapat memainkannya selama beberapa hari.” Anak kecil itu berkata dengan gagap.

“Kau betul-betul anak yang pintar.” Gadis itu berkata dengan manis. Anak kecil itu memerah mukanya dan malu-malu sambil menundukan kepalanya.

Gadis itu mengedipkan matanya dan berkata,” Sebenarnya, aku mengenal seseorang sepertimu.”

“Dia selalu dipalak?” Anak kecil itu bertanya.

“Sebelumnya, orang lain lebih kuat darinya, jadi dia harus mengalah daripada harus berkelahi dengan mereka.”

“Dan kemudian apa yang terjadi?”

“Karena alasan itu, dia bekerja dengan sangat keras untuk membuat dirinya lebih baik. Sekarang, tidak ada seorangpuna yang berani memalaknya”

Anak itu tertawa dan berkata,” Dia pasti selalu memperoleh barang yang baik sekarang.”

“Betul sekali. Jadi bila kau menginginkan sesuatu yang baik, kau harus menjadi seperti dirinya dan bekerja dengan sangat keras. Mengerti kan?”

“Aku mengerti. Bila kau tidak ingin seseorang memalakmu, maka kau harus memiliki kemampuan untuk mengambilnya kembali.”

“Tepat sekali.” Gadis itu berseru. Dia melepaskan salah satu bel emasnya dari lengannya dan berkata,” Sini, aku berikan ini padamu. Bila seseorang berusaha merebutnya, katakan padaku dan aku akan memukul pantat mereka.”

Anak kecil itu menggelengkan kepalanya dan menjawab,” Aku tidak menginginkan itu sekarang.”

“Kenapa tidak?”

“Karena cepat atau lambat kau akan pergi. Kemudian anak-anak yang lain akan merebutnya dariku. Aku akan menunggu sampai aku memiliki kemampuan, lalu aku akan mengambil semua yang bagus untukku.”

Gadis itu bertepuk tangan dan berkata,” Bagus! Kau pasti akan memiliki masa depan yang cerah.”

“Seperti temanmu itu kan?”

“Tepat sekali!” Dia mengembangkan lengannya dan memeluk anak kecil itu. Muka anak kecil itu memerah seraya dia berjalan pergi.

Tiba-tiba anak itu berbalik dan bertanya kepadanya,” Siapakah nama temanmu itu, yang bekerja dengan sangat kerja sehingga membuat dirinya menjadi lebih baik?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Karena aku ingin menjadi seperti dirinya. Aku ingin menyimpan namanya di dalam hatiku sehingga aku tidak akan pernah lupa.”

Gadis itu tersenyum dan menjawab dengan jelas,” Baiklah, dengarkan baik-baik yah. Nama keluarganya Ye, nama panggilannya Kai.”

Semua anak-anak itu akhirnya pergi. Gadis itu kemudian menguap kemalas-malasan dan menyender ke batang pohon sesaat matanyayang bulat besar memandang ke arah Ye Kai.

Ye Kai tersenyum balik.

Kedua mata gadis itu bergetar sesaat berkata,” Apakah kau sangat bangga? Semuanya itu hanya mengatakan seseorang anak yang sepertimu.”

“Sebetulnya dia harus belajar darimu.”Ye Kai menjawab.

“Belajar apa?”

“Bahwa saat kau melihat sesuatu yang menarik, maka harus meranpasnya secepat mungkin. Siapa yang peduli bila seseorang akan merebutnya darimu kembali.”

Gadis bermata bulat besar itu menggigit bibirnya dan menjawab,” Sebenarnya, bila hal itu sungguh-sungguh aku sukai, walaupun seseorang akan merebutnya, aku pasti akan menemukan cara untuk merebutnya kembali.”

Ye Kai menghela napas dan berkata,” Namun siapa yang berani merebut barang dari nona besar Ding?”

Gadis itu terkikik dan menjawab,” Itu untuk kebaikannya untuk tidak mencoba merebutnya dariku.”

Ketawanya sangat mempesona, seperti bunga yang mekar saat bel yang berada ditubuhnya bergemerincing.

Namanya Ding Ling Lin. Bunyi bel yang dipakainya bergemerincing seperti namanya. Namun bunyi belnya tidaklah menghibur, juga tidak ada suatu yang lucu dengan bunyi belnya. Sesunggunya bunyi tersebut menyeramkan. Sebenarnya, banyak orang di dunia persilatan ketakutan setengah mati terhadap bunyi bel Ding Ling Lin.

Namun Ye Kai tidak kelihatan sama sekali takut. Sepertinya tidak ada seseuatupun di dunia ini yang mengejutkannya.

Setelah Ding Ling Lin berhenti tertawa, dia menatap Ye Kai dan bertanya,” Ah, apakah kau sudah lupa?”

“Lupa apa?” Ye Kai bertanya balik.

“Apa yang kau minta kepadaku sudah kulakukan.”

“Oh?”

“Kau ingin aku berpura-pura menjadi Lu Xiao Jia dan menyelidi latar belakang semua orang-orang tersebut.”

“Sepertinya kau tidak menemukan sama sekali.”

“Kau tidak boleh menyalahkanku untuk hal itu.”

“Lalu siapa yang harus disalahkan?”

“Salahkan dirimu sendiri. Kau sendiri yang mengatakan dia tidak akan datang terlalu awal.”

“Kapan aku mengatakannya?”

“Kau juga yang mengatakan kalau dia datang, kau tidak akan membiarkan dia mempermainkan ku.”

“Aku tidak ingat kau telah dipermainkan.”

“Tapi saat aku berurusan dengan orang seperti dia?”

“Siapa yang suruh kau malah cari gara-gara dengan orang lain bukannya malah melakukan tugasmu?”

Mata Ding Ling Lin tiba-tiba melebar lebih menakutkan daripada bunyi belnya,” Orang lain? Apanya yang orang lain? Apa hubunganmu dengannya? Kenapa kau masih saja membelanya?”

“Baiklah paling tidak dia tidak mencari gara-gara denganmu.” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

“Tap dia cari gara-gara denganku. Aku melihatnya berdiri disampingmu dan itu sangat membuatku sebal.”

Setiap orang berpikir bahwa dia cemburu ke Lu Xiao Jia, siapa tahu sebetulnya hal itu disebabkan oleh Ye Kai. Kata-kata yang diarahkan kepada Lu Xiao Jia sebetulnya ditujukan kepada Ye Kai.

Dia bertolak pinggang dan berkata,” Aku telah berusaha mencarimu selama tiga bulan dan akhirnya aku menemukanmu disini. Kemudian, kau menginginkanku berpakaian dan bergaya sebagai orang lain, yang aku ikuti dengan patuh. Apa kesalahan yang aku buat? Katakan padaku.”

Dia menghentakan kakinya yang juga diikut dengan suara bunyi belnya. Namun suaranya lebih menggema dari pada bunyi belnya. Bahkan, meskipun ada perkataan yang ingin diucapkan Ye Kai, dia tidak memiliki kesempatan untuk mengucapkannya.

“Aku bertanya padamu, karena kau memiliki urusan dengan Ma Kong Qun, kenapa membantu anak perempuannya? Apa yang telah kau lakukan dengan pelacur kecil itu sehingga kau tidak bisa melihat yang lebih baik?”

“Tidak ada sama sekali.”

Ding Ling Lin tersenyum dingin dan berkata,” Baiklah, kau telah mengatakannya sendiri. Karena wanita itu tidak ada hubungannya denganmu, maka aku akan membunuhnya sekarang.”

Sudah dapat dipastikan apapun yang Nona Ding katakan, dia pasti akan melakukannya. Ye Kai meloncat kedepan dan meraihnya.

“Jumlah wanit yang aku kenal di dunia ini hanya beberapa. Apakah kau akan mencari mereka semua dan membunuhnya juga?” Ye Kai berkata sambil bergurau.

“Aku hanya ingin membunuhn yang satu ini.”

“Kenapa?”

“Karena aku rasa aku suka melakukannya.”

Ye Kai menghela napas dan bertanya,” Baiklah, apa yang kau ingin aku lakukan?”

Mata Ding Ling Lin bersinar,” Pertama, mulai sekarang tidak peduli kemanapun kau pergi, kau tidak boleh berpisah dariku.”

“Mmmm.” Ye Kai menjawab.

Ding Ling Lin memainkan matanya yang bulat besar dan menggigit bibirnyayang menggemaskan. Dia menatap Ye Kai melalui sudut matanya dan menambahkan,” Juga, aku ingin kau menggandeng tanganku dan berjalan keliling kota, sehingga setiap orang tahu bahwa kita berpasangan. Apakah kau setuju?”

Ye Kai menghela napas dan tersenyum,” Lupakan untuk menggandeng tanganmu, meskipun kau memintaku memegan kakimu, aku pasti bersedia.”

Ding Ling Lin mulai tertawa. Seluruh tubuhnya berbunyi gemerincing yang mengiringi suara ketawanya dengan harmonisnya.

________________________________________

Matahari telah terbenam.

Dataran terlihat seperti sebuah roti yang baru saja dikeluarkan dari dalam oven. Rumput dan pepohonan serupa dengan bawang bombay dan bawang merah di atas roti. Bila kau meraih dan menyentuhnya, maka kau akan mengetahui betapa panasnya.

Ma Fang Ling memacu kudanya melewati padang rerumputan.

Padang rerumputan tersebut sangat lebar dan luas. Langit yang cerah terentang hingga puluhan ribu mil jauhnya.

Butiran-butiran keringat mulai menetes dari ujung hidungnya. Dia merasa seluruh tubuhnya terperangkap di dalam oven.

Dia tidak punya tujuan untuk pergi. Satu-satunya yang dia ketahui adalah dia sangat putus asa. Secara tiba-tiba dia merasakan betapa kasiannya dirinya sendiri.

Meskipun dia memiliki keluarga, tidak ada seorangpun yang mengerti dirinya. Nyonya Ketiga Shen telah pergi, seakarang ayahnya pun tidak tahu kemana.

Teman? Dia tidak memiliki teman. Semua pelatih kuda itu sebenarnya bukan teman-temannya.

Dan Ye Kai … sebaiknya Ye Kai pergi jauh-jauh dan mati saja.

Dia tiba-tiba merasa sendirian di dunia ini. Perasaan tersebut betul-betul membawanya mendekati kegilaan.

ooOOOoo

Bagaimana pertarungan Fu Hong Xue dan Lu Xiao Jia? Apa lagi yang terjadi di Kota Perbatasan?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: