Kumpulan Cerita Silat

30/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:05 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Epilog (Tamat)
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Liok Siau-hong sedang mabuk. Karena dia butuh. Dia harus.

“Aku akan bertemu dengannya sekarang. Tapi kau harus menunggu lama sebelum bisa melihatnya lagi. Lama sekali.”

Ia faham apa maksud ucapan Kim Kiu-leng itu, bagaimana mungkin ia jadi tidak ingin mabuk? Walaupun ia luar biasa mabuk, ia tidak tidur, tapi masih mendengarkan penjelasan Kongsun-toanio pada adik-adiknya!

“Liok Siau-hong bukan orang tolol. Sejak semula aku tahu kalau dia bukan orang tolol, aku percaya bahwa dia tentu sudah menyadari rencana-rencana jahat Kim Kiu-leng!”

“Tapi aku tidak yakin!”

“Walaupun aku tidak yakin, aku tetap harus membuka kedok Kim Kiu-leng, tidak seorang pun boleh berbuat seperti itu padaku!”

“Dan aku harus menemukan siapa kaki tangannya. Aku tidak bisa membiarkan orang seperti ini berada di antara saudara-saudaraku, sama seperti aku tidak bisa membiarkan sebutir pasir pun tertinggal di mataku.”

“Maka aku sengaja membawa Liok Siau-hong ke tempat pertemuan kita, karena aku berharap bisa menemukan kesempatan untuk memberitahunya tentang jalan fikiranku dan berharap bahwa kami berdua bisa bekerja sama untuk menangkap si Bandit Penyulam yang sebenarnya.”

“Tapi aku tidak bisa keluar dan mengatakannya begitu saja, karena aku tahu salah satu dari kalian adalah kaki tangan Kim Kiu-leng!”

“Aku sedang kesulitan menemukan kesempatan waktu Liok Siau-hong malah memberiku kesempatan itu!”

“Dia ingin beradu minum denganku.”

“Aku tiba-tiba menyadari apa yang dia inginkan, maka aku segera menyetujuinya!”

“Saat hampir mabuk, dia mendapat kesempatan dan membisikkan dua kalimat padaku. Apakah ada di antara kalian yang melihat itu?”

“Dia berkata: Ikuti aku, aku tahu kau bukan si Bandit Penyulam!”

“Maka aku pun pergi bersamanya!”

“Tapi untuk menjaga hal ini dari mata-mata, kami harus tetap bersandiwara. Maka kami bertanding dua babak lagi!”

“Waktu babak terakhir dimulai, diam-diam aku memberi isyarat pada Losi dan Lojit untuk ikut masuk bersamaku, karena aku tahu hanya mereka berdua yang pasti tidak bersalah. Karena hanya mereka berdua yang masih perawan!”

Auyang Cing, si pelacur yang hidup di rumah bordil, adalah seorang perawan? Bahkan Liok Siau-hong pun terpaksa mengangkat kepalanya dan memandangnya dengan heran dan terkejut sebelum menundukkan kepalanya lagi dengan cepat.

Kongsun-toanio lalu meneruskan.

“Aku menyuruh mereka, serta Lan-ji, untuk segera berpencar dan pergi mencari Kang Tiong-wi, Hoa It-ban dan Siang Ban-thian!”

“Mata-mata itu tentu mengira bahwa aku sedang berusaha memancing Liok Siau-hong pergi dan tidak curiga kalau ada sesuatu yang aneh!”

“Setelah aku pergi bersama Liok Siau-hong, kami segera mencari sebuah tempat yang sunyi untuk berdiskusi dan membandingkan apa yang kami curigai dan apa yang kami ketahui!”

“Saat itulah kami memutuskan untuk menjalankan taktik ‘hampir menemui ajal dan kembali itu’!”

Semua orang terdiam, tidak ada yang bicara.

“Terakhir, waktu Kim Kiu-leng berusaha melarikan diri, jelas dia pun tahu bahwa kalian sudah tiba di Yangseng, itulah sebabnya dia mengambil rute itu.”

Hutan kecil itu adalah tempat pertemuan mereka di Yangseng.

Mata Kongsun-toanio terlihat seperti sepasang pedang yang menusuk saat dia mengamati wajah-wajah Jinio, Samnio, si nikouw berjubah hijau, dan Kang Kin-he.

“Jadi mata-mata itu pasti berada di antara kalian berempat!” Ia meneruskan dengan dingin.

Wajah Jinio dan Samnio tidak memperlihatkan emosi sedikit pun, tapi wajah Kang Kin-he telah pucat pasi.

“Go-moay Kang seharusnya merupakan orang yang paling mencurigakan, karena dia satu-satunya orang yang mungkin memahami tata letak dan keamanan Lam-ong-hu dan satu-satunya orang yang cukup dekat dengan Kang Tiong-wi untuk bisa mencuri kuncinya,” Kongsun-toanio berkata. Ia berhenti dan kemudian tersenyum. “Tapi Liok Siau-hong telah meyakinkan diriku. Karena dia tahu bahwa Kim Kiu-leng dan Kang Tiong-wi adalah sahabat baik dan bisa dekat dengan Kang Tiong-wi sendiri tanpa bantuan Kang Kin-he. Di samping itu, jika Logo adalah kaki tangannya, maka Kim Kiu-leng tidak akan pernah menyuruh Sukong Ti-sing membawa kain satin merah itu ke Ji-he-am.”

Kang Kin-he memandang sekilas pada Liok Siau-hong dengan mata yang dipenuhi oleh perasaan berterima-kasih.

“Lak-moay juga patut dicurigai, karena walaupun ia telah menyucikan diri pada agama Budha, baru-baru ini aku telah menemukan bahwa ia tidak mampu melindungi tubuhnya yang merupakan hartanya!”

Wajah si nikouw berjubah hijau mula-mula tampak memerah, tapi segera berubah menjadi pucat pasi.

“Tapi kemudian aku berhasil mengetahui siapa kekasih rahasianya itu, kalian tidak perlu bertanya padaku siapa orang itu, yang perlu kalian ketahui adalah bahwa dia bukan Kim Kiu-leng. Aku tahu orang macam apa Lak-moay, jika ia telah mempunyai seorang kekasih, ia tidak akan jatuh cinta pula pada Kim Kiu-leng. Maka dia pun tidak mungkin!”

Si nikouw berjubah hijau menundukkan kepalanya, air mata tiba-tiba mengembang di kelopak matanya.

Tapi Jinio dan Samnio masih duduk di sana, wajah mereka tidak memperlihatkan emosi sedikit pun, mereka juga tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Kongsun-toanio tiba-tiba menoleh pada Samnio, sinar matanya tampak setajam pedang yang paling tajam.

“Tadinya kau benar-benar bebas dari kecurigaan, tapi seharusnya kau tidak menyerang Liok Siau-hong waktu dia menyandera Jit-moay dan memaksa Liok Siau-hong bertarung dengan kita. Kau juga seharusnya tidak melakukan sebuah serangan yang mematikan seperti itu saat Liok Siau-hong sedang mengejar Kim Kiu-leng!” Ekspresi wajahnya tiba-tiba ditekuk. “Jinio! Kau tahu siapa mata-matanya, mengapa kau masih duduk di situ?”

Jinio masih duduk di sana, tapi golok peraknya telah berada di dalam genggamannya. Tiba-tiba, dengan sebuah tusukan ke arah belakang, dia menikam ke pinggang Samnio. Ini adalah sebuah serangan yang mematikan. Tapi Samnio sama sekali tidak berusaha menghindar, seakan-akan ia memang bersedia dan telah bersiap untuk menerima serangan ini!

Tapi saat itulah sumpit di tangan Kongsun-toanio melayang. Salah satunya berhasil menjatuhkan golok Jinio, sementara yang satunya lagi menotok jalan darahnya. Seluruh tubuh Jinio tiba-tiba membeku, seolah-olah dia mendadak telah berubah menjadi batu.

Kongsun-toanio menatapnya dan mulai bicara dengan perlahan-lahan: “Sebenarnya, sudah lama aku tahu kaulah orangnya. Untuk mendanai kebiasaan Kim Kiu-leng yang boros, kau telah menghabiskan uang kita dalam jumlah yang cukup banyak. Kau sadar bahwa aku akan tahu cepat atau lambat, maka kau harus membunuhku. Dan setelah aku mati, hanya kaulah yang dapat menggantikanku!”

Di wajahnya yang beku, kening Jinio tampak sudah dipenuhi oleh butiran-butiran keringat yang amat besar.

“Tapi kita tetaplah bersaudara, asal kau memperlihatkan sedikit penyesalan dan mengakui kesalahanmu, aku akan memaafkan dan melupakan perbuatanmu!” Kongsun-toanio menarik nafas panjang. “Tapi kau seharusnya tidak melakukan sebuah serangan yang begitu keji terhadap Sam-moay, jelas kau tidak menyesali perbuatanmu, tapi malah berniat membiarkan Sam-moay menjadi kambing hitam dan mati sebagai penggantimu, kau…..”

Ia tidak meneruskan tapi malah berjalan menghampiri dan melepaskan totokan di tubuh Jinio.

“Pergilah, pergi!” Ia berkata dengan muram. “Aku hanya berharap bahwa setelah kau pergi, kau bisa memberiku sebuah penyelesaian!”

Jinio tidak pergi, dia malah balas menatap Kongsun-toanio, sorot matanya penuh dengan perasaan takut dan putus asa.

Ia tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain. Golok peraknya tadi telah jatuh ke atas meja. Ia memungutnya, dan tiba-tiba membacokkannya ke lehernya.

Tapi kali ini goloknya itu kembali dijatuhkan orang, kali ini Liok Siau-hong yang melakukannya.

Liok Siau-hong, dalam keadaan setengah mabuk, mengibaskan tangannya dan menjatuhkan golok perempuan itu.

“Saat yang begini indah, di pesta yang demikian meriah, mengapa kau masih berusaha membunuh orang?” Ia bergumam.

“Aku…..” Jinio menggigit bibirnya. “Aku bukan berusaha membunuh orang, aku hanya ingin membunuh diriku sendiri!”

Liok Siau-hong tertawa, tawa yang sungguh-sungguh, tapi dipaksakan.

“Apakah kau bukan orang?”

Jinio tercengang.

Liok Siau-hong meneruskan gumamannya.

“Jika kau telah bersalah, lalu mengapa berbuat salah lagi? Hati telah mati, mengapa orangnya juga harus mati? Di luar sana sudah cukup banyak kebencian, mengapa ditambah dengan kecemasan lagi? Sudah cukup banyak darah yang tertumpah, mengapa ditumpahkan lagi?”

Jinio menatapnya untuk beberapa lama. Tiba-tiba dia meletakkan kepalanya di atas meja dan mulai menangis, menangis dengan hati yang hancur.

Kongsun-toanio memandang Liok Siau-hong dan tiba-tiba tersenyum.

“Baiklah, aku akan mendengarkanmu sekali lagi. Tapi……”

Liok Siau-hong memotongnya.

“Semua yang perlu dikatakan telah dikatakan, mengapa bicara lagi? Orangnya telah mabuk, mengapa tinggal lebih lama lagi?……..”

Ia bangkit dengan sempoyongan dan dengan perlahan-lahan, berjalan ke arah pintu!

Tapi Kongsun-toanio menghalangi jalannya.

“Kau akan pergi sekarang juga? Benarkah?”

“Tidak ada pesta di dunia ini yang tak akan berakhir, mengapa tidak sekarang? Yang harus pergi akhirnya akan pergi, mengapa tidak sekarang?”

“Ke mana kau akan pergi?”

“Karena aku akan pergi juga, mengapa kau harus bertanya?”

Kongsun-toanio menatap matanya.

“Karena aku telah bertanya, mengapa kau tidak memberitahuku?” Ia menjawab sambil bergurau.

Liok Siau-hong tertawa, tertawa terbahak-bahak.

“Sebenarnya, aku tidak perlu bertanya, dan kau pun tidak perlu menjawab, karena ke mana kau akan pergi, ke situ juga aku akan pergi!”

Liok Siau-hong tiba-tiba membelalakkan matanya.

“Kau tahu ke mana tujuanku?”

“Dua jago pedang yang paling terkenal di dunia persilatan dalam 300 tahun terakhir ini akan berduel di puncak Ci-kim-san.” Kongsun-toanio tersenyum. “Duel ini tidak hanya akan mengguncangkan dunia, tapi akan terus dibicarakan hingga berabad-abad, bagaimana mungkin aku mau ketinggalan?”

“Kau tahu tentang hal itu?”

“Aku juga tahu bahwa tanggal duel mereka bukanlah tanggal 1, tapi tanggal 15. Tadi Kim Kiu-leng mengatakan tanggal 1 karena ia sedang berusaha membuatmu pergi!”

“Tanggal 15? Peh-gwe-cap-go (tanggal 15 bulan 8)? Perayaan Musim Gugur?”

Kongsun-toanio mengangguk dan mulai bersenandung.

“Malam bulan purnama, Ci-kim-san, sebatang pedang dari barat, seorang dewa terbang di angkasa……..”

TAMAT

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: