Kumpulan Cerita Silat

29/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:04 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 10: Jatuhnya Sang Bandit
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Ajaib, orang yang berdiri di pintu itu tidak lain dan tidak bukan adalah Liok Siau-hong, bukan Liok si Tiga Telur, bukan pula Liok si Babi Kecil, tapi Liok Siau-hong. Bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul di sini? Kim Kiu-leng hampir tidak mempercayai matanya sendiri, ini benar-benar tak masuk di akal.

Sedemikian terperanjatnya Kim Kiu-leng sehingga dia mengajukan sebuah pertanyaan yang benar-benar bodoh.

“Seharusnya kau sudah pergi sejauh 400 km dari tempat ini!”

“Seharusnya begitu!” Liok Siau-hong menjawab.

“Aku sudah menerima surat ini dari Lamhai!” Kim Kiu-leng menatap tabung bambu di tangannya.

“Aku tahu.”

“Kau tahu?”

“Merpati itu memang dilatih olehmu, dan kaulah yang memberikannya pada Beng Wi. Cap dan kertas di mana surat itu tertulis pun semuanya asli. Tapi kali ini merpatinya bukan dilepaskan oleh Beng Wi!”

Kim Kiu-leng tidak mengerti.

“Apakah surat itu berbunyi: ‘Liok telah lewat di sini, menuju ke arah barat’?”

“Bagaimana… bagaimana kau tahu?”

Liok Siau-hong tertawa.

“Tentu saja aku tahu, aku yang menuliskan surat itu!”

Kim Kiu-leng semakin terperanjat.

“Kau yang menulisnya? Kapan kau menulisnya?”

“Dua malam yang lalu.” Liok Siau-hong tersenyum dan menjelaskan. “Dua malam yang lalu, aku pergi menemui Beng Wi untuk memintanya menuliskan sebuah surat untukmu, yang memberitahumu untuk bertemu denganku di markas lama Coa-ong. Setidaknya kau tentu tahu hal itu!”

Kim Kiu-leng mengangguk.

“Waktu dia menuliskan surat tersebut malam itu, aku melihat tulisan tangannya. Tulisan itu sama sekali tidak sukar untuk ditiru!”

Karena tulisan tangannya memang terlalu jelek, sebenarnya sukar untuk menirukan tulisan tangan yang bagus, tapi tulisan tangan yang buruk tentu lain ceritanya.

Wajah Kim Kiu-leng tampak membiru.

“Malam itu, aku memberikan burung merpati itu kepada salah seorang temanku di Lamhai dan memintanya untuk melepaskannya sore hari ini.”

Ia tersenyum penuh kemenangan dan menerangkan. “Karena aku tahu bahwa setelah kau bertemu denganku, kau tentu akan mencari-cari alasan untuk membuatku pergi sehingga kau akan mendapatkan kesempatan untuk membunuh Kongsun-toanio.”

“Kau tahu bahwa aku akan menyuruh Beng Wi untuk menunggu dan memberikan informasi padaku tentang keberadaanmu?” Kim Kiu-leng bertanya.

“Aku memang sempat pergi ke Lamhai dan Beng Wi adalah Kepala Ular di sana, apalagi kau merupakan orang yang selalu amat teliti dan berhati-hati. Jika aku tidak pergi, bagaimana mungkin kau memulai aksimu?”

“Tapi tempat ini….”

“Tempat ini memang cukup rahasia dan terpencil.” Liok Siau-hong memotong. “Aku sendiri sukar untuk menemukannya.”

“Jadi siapa yang membawamu ke sini?”

“Merpati itu.”

Kim Kiu-leng tak sanggup bicara lagi.

“Di angkasa, tabung bambu itu akan mengeluarkan suara siulan. Sejak tengah hari, aku telah menunggu di atas atap rumah. Aku tahu kalau burung merpati itu tentu akan dapat menemukanmu. Untunglah, ilmu meringankan tubuhku tidak terlalu jelek.”

Wajah Kim Kiu-leng berubah-ubah warna dari biru ke hijau. Ia melirik pada Kongsun-toanio, lalu pada Liok Siau-hong.

“Kalian berdua yang merencanakan ini?”

“Terkejut?” Liok Siau-hong tersenyum.

“Kapan kau mulai mencurigaiku?”

“Aku benar-benar mulai curiga sejak hari terbunuhnya Coa-ong!”

“Mengapa?”

“Kau ingat waktu kita menemukan mayatnya, lampu tidak menyala di villanya?”

Kim Kiu-leng mengangguk, tapi dia tidak mengerti kenapa hal itu disinggung-singgung!

“Jika lampu tidak dinyalakan, maka artinya Coa-ong terbunuh sebelum malam tiba, yang berarti dia terbunuh sebelum dia merasa perlu untuk menyalakan lampu!”

Kim Kiu-leng merasa seluruh tubuhnya menjadi dingin. Ia tidak pernah menyangka kalau petunjuk kecil ini akan menjadi titik balik seluruh kasus tersebut.

“Jika Kongsun-toanio benar-benar mengundangnya untuk bertemu di Se-wan (Taman Barat), lalu mengapa si nyonya malah pergi ke tempatnya dan membunuhnya sebelum itu?” Liok Siau-hong meneruskan. “Itulah sebabnya aku kemudian sadar bahwa orang yang membunuh Coa-ong tentulah orang lain!”

“Dan menurutmu orang itu mungkin aku?”

“Aku tidak yakin, tapi aku cukup yakin kalau Coa-ong bekerja untukmu!”

“Mengapa?”

“Karena hanya kau yang bisa mengendalikan dia, karena waktu dia pergi mencari peta istana untukku, ternyata dia mendapatkannya dengan amat mudah, dan peta itu pun terlalu rinci. Orang jalanan atau ketua para penjahat tidak mungkin sehebat itu, kecuali kalau dia telah bersekutu dengan Congkoan Istana!”

Bibir Kim Kiu-leng menjadi putih seperti abu, keningnya telah penuh dengan keringat dingin.

“Pita sutera yang kau gunakan untuk mencekik Coa-ong hingga mati tentu diharapkan akan mengarah pada Kongsun-toanio, tapi pita itu malah menjadi alibi-nya yang sempurna dan membebaskannya dari segala macam tuduhan.”

“Mengapa?”

“Karena waktu aku bertarung dengannya, aku sudah memotong setengah bagian pita yang terikat di pedangnya. Pita sutera seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa kau temukan kapan saja, dan dalam jangka waktu seperti itu dia tentu belum sempat menemukan yang baru!”

Kim Kiu-leng tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Satu lubang kecil bisa menyebabkan seluruh bendungan hancur.” Liok Siau-hong menarik nafas. “Apalagi ada lebih dari satu lubang pada rencanamu.”

Untuk ketiga kalinya, Kim Kiu-leng bertanya: “Apa?”

“Mempersiapkan dua buah kamar itu adalah gagasanmu yang jenius, tapi kau melupakan satu hal!”

“Apa itu?”

“Setiap orang memiliki aroma yang khas. Seandainya pakaian-pakaian itu benar-benar telah dikenakan oleh Kongsun-toanio, tentu setidaknya masih ada aromanya yang tertinggal.”

“Banyak orang yang mengatakan bahwa aku adalah seorang wanita yang amat harum.” Kongsun-toanio menambahkan dengan genit.

“Kau selalu berusaha menjauhkan Hoa Ban-lau dari segala urusan ini, mungkin karena kau khawatir kalau dia menyadari kenyataan ini. Tapi kau tentu tidak tahu kalau aku pun bisa menirukan dia.” Liok Siau-hong tersenyum dan meneruskan. “Sekarang, bila aku memandang pada sesuatu, aku tidak hanya melihat dengan mataku, aku pun akan mencium dengan hidungku!”

“Itulah sebabnya banyak orang yang mengatakan bahwa dia seperti seekor anjing pemburu!” Kongsun-toanio bergurau.

“Kau sengaja membuat kotak kayu berisi pesan itu dan kemudian sengaja terkena racun supaya aku pergi seorang diri, itu juga sebuah taktik yang jenius. Tapi sayangnya lagi, kau lupa sesuatu.”

Sekarang, Kim Kiu-leng hanya bisa mendengarkan.

“Beng Wi adalah jenis orang yang kasar luar dan dalam, dia bahkan tidak tahu Siau Chuan, bagaimana mungkin dia bisa mengenali tulisan kuno di kotak itu? Di samping itu, setelah kau terkena racun, dia tidak kelihatan cemas, tidakkah kau merasa hal itu sangat ganjil?”

“Apalagi, dia pun memiliki uang yang terlalu banyak,” Kongsun-toanio menambahkan. “Dia bisa mengumpulkan uang 100.000 tael perak hanya dalam sekejap mata.”

“Aku coba berhitung-hitung, dengan upahnya sekarang, jika dia tidak makan apa-apa, tidak minum apa pun, atau tidak membelanjakan satu picis pun untuk membeli sesuatu, dia masih perlu waktu kira-kira 50 atau 60 tahun untuk menabung uang sebanyak 100.000 tael perak!”

“Hehe, kau benar-benar pandai berhitung, ya?” Kongsun-toanio berkata sambil tersenyum.

“Walaupun begitu, aku masih belum yakin, karena jika Sih-lothaythay berkata bahwa sulaman peoni itu dibuat oleh seorang wanita, maka tentulah itu hasil karya seorang wanita, maka….”

“Maka apa yang kau lakukan?” Kim Kiu-leng akhirnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan bertanya.

“Maka aku mengeluarkan kain satin merah itu dan mengamatinya dengan teliti untuk beberapa lama.”

Kain satin merah itu dicuri oleh Sukong Ti-sing, lalu dibawa ke Ji-he-am oleh Sih Peng, diletakkan di depan patung, tapi akhirnya jatuh juga ke tangan Liok Siau-hong.

“Aku mengamatinya selama dua jam penuh sebelum aku akhirnya menemukan rahasiamu!”

“Apa yang kau temukan?”

“Aku menemukan bahwa pada salah satu kelopak bunga peoni itu benangnya tidak tersulam dengan rapi seperti pada yang lain. Kelopak bunga itu disulam dalam dua lapisan, maka jika kau melepaskan benang lapisan pertama, di bawahnya masih ada satu lapisan lagi!” Ia tersenyum dan meneruskan. “Waktu orang lain melihatmu sedang menyulam peoni ini, sebenarnya kau hanya membuka sulaman lapisan pertama saja. Itulah sebabnya, walau sulaman peoni itu hasil karya seorang wanita, tapi si Bandit Penyulam ternyata seorang laki-laki!”

“Ada lagi?”

“Satu hal lagi, kau seharusnya tidak menculik Sih Peng!”

“Mengapa?” Kim Kiu-leng bertanya untuk keempat kalinya.

“Karena aku kemudian menemukan bahwa baru-baru ini Sih Peng sudah menjadi Pat-moay Kongsun-toanio. Walaupun Kongsun-toanio adalah si Bandit Penyulam yang sebenarnya, dia tidak akan pernah mengganggu Pat-moay-nya!”

“Bagaimana kau tahu kalau dia adalah Pat-moay-ku?” Kongsun-toanio bertanya. “Aku tidak mengerti.”

“Karena tangan itu!”

“Tangan apa?” Kongsun-toanio tampak bingung.

“Tangan Sun Tiong!” Liok Siau-hong menjelaskan. “Sih Peng membacok putus tangan Sun Tiong, tapi tangan itu kemudian muncul lagi di kamar Sih Peng. Tangan itu jelas tidak mungkin merayap sendiri ke sana, dan selain dari kakak-beradik Sepatu Merah, tidak ada orang yang akan membawa-bawa tangan orang lain yang telah dipotong oleh mereka!”

“Jadi waktu kau melihat kantung Sam-moay yang penuh dengan hidung, kau teringat pada tangan itu?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Dia baru saja bergabung dan lupa kalau setiap orang harus membawakan sesuatu setiap tahunnya,” ia meneruskan. “Ketika dia teringat, dia lalu pergi kembali dan memungut tangan itu. Tapi malang baginya, dia pergi dengan begitu tergesa-gesa sehingga dia lupa untuk membawanya lagi.”

Ia menarik nafas dan meneruskan. “Waktu aku bertanya padanya bagaimana tangan itu bisa muncul di kamarnya, dia pura-pura tidak tahu kalau aku sedang membicarakan apa, karena dia tidak ingin aku tahu tentang hubungan antara kalian dan dia!”

“Tapi kau bisa menebaknya!”

“Saat aku mendengarmu berkata ‘Pat-moay tidak akan datang’, barulah aku kemudian tahu bahwa Pat-moay tentulah dia!”

“Alasan-alasan ini semua hanyalah dugaan belaka!” Kim Kiu-leng tiba-tiba menyeringai.

“Alasan-alasan ini semua memang hanya dugaan belaka, tapi bagiku, ini sudah cukup!” Liok Siau-hong menjawab.

“Benarkah?”

“Ada cukup banyak alasan, tapi tidak cukup bukti.”

“Itu karena kau tidak memiliki satu pun bukti.”

“Itulah sebabnya aku harus membuatmu mengakui sendiri semua itu, itulah sebabnya aku harus melakukan rencana ‘pergi menemui ajal dan kembali’ ini!”

“Mengapa?”

“Karena aku faham bahwa hanya bila kau tahu kalau rencanamu telah berhasil, Kongsun-toanio pun akan mati, barulah kemudian kau akan menceritakan hal yang sebenarnya di hadapannya. Itulah sebabnya aku sengaja menempatkan dirinya dalam situasi yang kritis dan membuatmu berfikir bahwa dia pasti akan mati!”

“Rencana ini memang efektif, tapi akulah orangnya yang harus menderita.” Kongsun-toanio memberi komentar sambil tersenyum pedih. “Aku tidak pernah pergi ke tempat yang begitu terpencil seperti ini dalam hidupku.”

“Tapi bagian yang terpenting adalah kami tidak boleh membiarkanmu tahu tentang hal ini, kami tidak boleh membuatmu curiga kalau kami sebenarnya bersekutu!” Liok Siau-hong meneruskan.

“Tapi ada seseorang yang menjadi kaki-tanganmu di antara adik-adikku.”

“Karena itu kami terpaksa bersandiwara sedikit di hadapan mereka!”

“Saat ini pun mereka tidak tahu kalau aku pergi karena keinginanku sendiri, bukan karena aku kalah darimu!”

Liok Siau-hong tersenyum.

Kongsun-toanio meliriknya.

“Tidak perlu tersenyum. ” Ia memperingatkan. “Suatu hari nanti, kita akan bertanding ulang, tetap tiga babak, untuk menentukan sekali lagi siapa yang lebih baik, kau atau aku!”

“Tentu saja kau, aku hanya orang tolol.”

“Kau memang amat bodoh, aku pun berfikir begitu. Tapi kau masih punya satu sifat yang baik!”

“Aku punya sifat yang baik?”

“Tentu saja,” Kongsun-toanio menjawab dengan main-main. “Kadang-kadang, entah apa sebabnya, tiba-tiba kau berubah menjadi cerdas!”

“Aku sendiri pun sangat bingung!” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Bukan kau yang bingung, tapi orang lain!” Kongsun-toanio tersenyum dan melirik Kim Kiu-leng dari sudut matanya. “Contohnya orang ini, dia tentu sedang bingung memikirkan kenapa kau tiba-tiba menjadi cerdas!”

Liok Siau-hong tertawa.

Kim Kiu-leng tak tahan untuk tidak menarik nafas panjang-panjang.

“Aku benar-benar meremehkanmu!”

“Mungkin aku….” Liok Siau-hong hendak menjawab tapi Kim Kiu-leng memotongnya.

“Selama ini aku menganggapmu sebagai seorang sahabat, aku mengira kau orang yang baik. Tidak kusangka kau ternyata bersekutu dengan si Bandit Penyulam dan berusaha mengkambing-hitamkan diriku!”

Liok Siau-hong berhenti tertawa dan ia memandang Kim Kiu-leng dengan kaget, seolah-olah ia tidak pernah melihat laki-laki ini sebelumnya.

“Sayangnya, tidak perduli dusta apa pun yang kalian katakan tentangku, itu tidak akan berhasil!” Kim Kiu-leng meneruskan dengan wajah yang kaku. “Aku telah menjadi abdi masyarakat sejak usia 13 tahun dan selama 30 tahun bekerja tidak pernah melakukan satu pun hal yang melanggar hukum. Tidak perduli apa pun yang kalian tuduhkan padaku, tidak ada orang yang akan percaya pada kalian!”

“Tapi kau barusan telah mengaku!”

“Apa yang kuakui?”

Liok Siau-hong seperti tercekik. Saat ini, dia masih tidak memiliki satu pun bukti.

Tentu saja Kim Kiu-leng pun melihat hal ini.

“Mengapa aku mengaku sebagai si Bandit Penyulam? Siapa yang cukup bodoh untuk melakukan hal itu? Jika kalian berdua mengatakan itu pada orang lain, mereka akan tertawa sampai gigi mereka copot!” Ia meneruskan dengan dingin. “Di samping itu, dari Yangseng hingga Lamhai, setiap polisi tahu bahwa Kongsun-toanio adalah si Bandit Penyulam. Walaupun kalian berdua membunuhku sekarang, pemerintah tetap akan memburu kalian hingga ke setiap ujung dunia. Kalian tidak bisa kabur!”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Agaknya kau menang satu babak lagi.” Ia tersenyum murung.

“Kebajikan selalu menang atas kejahatan, jaring-jaring keadilan tidak memiliki celah, jalan yang benar akan tetap abadi, sebaiknya kalian berdua ikut denganku ke pengadilan dan menurut saja untuk ditahan.”

“Kebajikan selalu menang atas kejahatan, yang benar akan tetap abadi,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Tak disangka kau benar-benar memahami arti kata pepatah ini.”

“Tentu saja aku faham.”

“Jika begitu, maka kau seharusnya tahu bahwa tidak perduli apa pun tipuan yang kau lakukan, itu semua tidak berguna!”

“Aku tidak….”

Kali ini giliran Liok Siau-hong yang memotongnya.

“Kau mengira hanya kami berdua yang mendengarkan percakapan ini?”

Ekspresi wajah Kim Kiu-leng tampak berubah tapi pulih kembali dengan cepat.

“Aku tidak tuli, jika ada orang lain di sekitar sini, mereka tidak bisa bersembunyi dariku!”

“Aku tahu kalau telingamu amat tajam. Satu-satunya sebab kenapa kau tadi tidak mengetahui kedatanganku adalah karena kau terlalu senang pada dirimu sendiri. Malah, jika aku membawa orang-orang dalam jarak 15 m dari sini, mereka tidak akan dapat bersembunyi darimu!”

Kim Kiu-leng mendengus dengan angkuh.

“Dan kau juga tahu bahwa jika seseorang berada lebih dari 15 m dari sini, maka tidak mungkin bagi mereka untuk mendengar apa yang kau ucapkan tadi.” Tapi Liok Siau-hong tidak membiarkan Kim Kiu-leng menjawab sebelum meneruskan. “Sayangnya orang-orang ini berbeda dari orang-orang biasa!”

“Oh?”

“Telinga orang-orang ini bahkan lebih tajam dari telingamu, walaupun kau tidak bisa mendengar mereka, mereka bisa mendengarmu.” Mata Liok Siau-hong tampak bersinar-sinar ketika ia meneruskan, sambil menekankan setiap patah katanya. “Karena mereka semua buta. Telinga orang buta selalu jauh lebih tajam daripada telinga orang normal!”

Ekspresi wajah Kim Kiu-leng tampak berubah lagi.

Liok Siau-hong tertawa.

“Kalian bisa keluar sekarang!” Ia berseru.

Di antara suara tawanya, bunyi gemerisik genteng atap bisa terdengar saat tiga orang wanita berbaju hijau, sambil membimbing tiga orang laki-laki buta, melompat turun dari atas atap dan berjalan masuk.

Sekilas pandang, ketiga wanita itu tampak serupa. Tapi bila diamati dengan teliti, orang akan tahu bahwa mereka sedang menyamar. Mereka, tidak lain dan tidak bukan, adalah tiga sosok bayangan yang melesat keluar dari villa saat babak terakhir pertandingan antara Liok Siau-hong dan Kongsun-toanio. Di antara tiga orang laki-laki yang mereka bimbing, yang satu memiliki 3 bekas luka di wajahnya yang berwarna ungu, yang satu lagi memiliki tulang pipi yang amat menonjol dan sangat berwibawa, sementara yang terakhir adalah seorang laki-laki tua yang tampak sakit-sakitan dan mengenakan pakaian sutera yang mewah. Waktu ia melihat ketiga laki-laki ini, Kim Kiu-leng merasakan seluruh tubuhnya menjadi kaku. Tentu saja ia mengenali tiga orang ini. Ia telah membutakan mereka bertiga, Siang Ban-thian, Kang Tiong-wi, dan Hoa It-ban.

Wajah Kang Tiong-wi tampak membiru karena murka.

“Aku telah mengenalmu selama berpuluh-puluh tahun, tidak pernah kusangka kalau kau adalah seorang bajingan yang tidak punya hati!”

“Jaring-jaring keadilan tidak punya celah, jika kau benar-benar memahami artinya, mengapa kau masih melakukan perbuatan ini?” Siang Ban-thian bertanya.

Seluruh tubuh Hoa It-ban bergetar karena murka. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa. Sambil memandang orang-orang ini, Kim Kiu-leng tanpa sadar mulai melangkah mundur, mundur terus ke dinding sebelum jatuh ke atas sebuah kursi, tampaknya dia tak mampu untuk berdiri lagi.

“Kau mungkin tidak mengira kalau ketiga tuan ini tiba-tiba akan muncul!” Kongsun-toanio berkata.

Memang, Kim Kiu-leng tidak pernah bermimpi kalau orang-orang ini akan muncul di tempat tersebut.

“Di antara saudara-saudaraku, adik ke-empat dan ke-tujuh tidak perlu dicurigai, Karena itu, aku telah menyuruh mereka, bersama pelayan pribadiku, Lan-ji, untuk berpencar dan mengundang Kang-congkoan, Siang-hucongpiauthau, dan Hoa-loya datang ke sini secepat mungkin!”

“Kami telah menduga bahwa mereka bertiga setidaknya akan tiba di sini hari ini, maka aku pun telah mengatur sebuah pertemuan dengan mereka pagi ini!” Liok Siau-hong menyelesaikan.

Salah seorang perempuan yang berbaju hijau tertawa cekikikan: “Liok Siau-hong pergi mengejar merpati itu, dan aku pun mengikuti dia. Setelah aku tahu tempat ini, kami pun membawa mereka ke sini.”

Tawanya terdengar seperti denting sebuah lonceng, ia tak lain dan tak bukan adalah si gadis berbaju merah.

“Tapi kami juga tahu bahwa mata dan telingamu sangat tajam, maka kami tidak berani mengambil resiko untuk mendekat,” wanita berbaju hijau yang satunya lagi ikut menambahkan. “Apa yang kau katakan, kami tidak mendengarnya. Untunglah mereka bisa mendengar setiap patah katanya!”

Suaranya manis dan lembut, dia tidak lain dan tidak bukan adalah Simoay Kongsun-toanio, Auyang Cing.

Kim Kiu-leng tidak bergerak, juga tidak mengatakan apa-apa. Baru sekarang dia benar-benar kehilangan kata-kata.

Kebajikan selalu menang atas kejahatan, yang benar akan selalu abadi, mungkin baru sekarang ia benar-benar memahami arti kata-kata ini. Si gadis berbaju merah dan Auyang Cing sudah berjalan ke sisi tempat tidur dan membantu Kongsun-toanio untuk duduk. Tiba-tiba, mereka berdua mengerutkan kening pada saat yang bersamaan dan mengernyitkan hidung.

Aneh, wajah Kongsun-toanio tampak memerah. Diam-diam dia membisikkan sesuatu pada mereka. Kedua wanita itu pun mulai tertawa. Si gadis berbaju merah tak tahan lagi untuk tidak tertawa hingga terbungkuk-bungkuk, dia tertawa begitu kerasnya sehingga hampir kehabisan nafas. Memang, mereka berhak untuk tertawa, dan ada sebabnya pula. Hanya orang-orang yang memiliki perasaan percaya diri yang bisa tertawa, hanya orang-orang yang tidak memiliki perasaan bersalah di hatinya yang bisa bebas dari perasaan khawatir. Orang yang tidak bisa tertawa saat ini adalah Kim Kiu-leng.

“Aku tahu kau bukan hanya bisa menyulam bunga, kau pun bisa menyulam orang buta, dua kali tusuk dan dapat satu orang buta.” Siang Ban-thian berkata dengan gusar. “Tapi apa yang bisa kau sulam sekarang?”

“Bahkan jika kau bisa menyulam sepasang sayap sekarang ini, kau tidak akan dapat kabur dari jaring-jaring hukum!” Kang Tiong-wi memperingatkan.

“Satu-satunya yang bisa ia sulam saat ini adalah sebuah peti mati yang amat besar sehingga Beng Wi dan Loh Siau-hoa pun bisa menemani dia di dalamnya.” Si gadis berbaju merah bergurau sambil tertawa.

“Aku masih harus mengingatkan satu hal padamu,” Liok Siau-hong menambahkan. “Mungkin sebaiknya kau tidak menunggu mereka berdua datang ke sini bersama murid-muridmu untuk berusaha menyelamatkanmu!”

Kim Kiu-leng tidak bergerak, juga tidak bicara.

“Saat ini, Beng Wi masih berada di Lamhai untuk terus memberikan informasi padamu tentang keberadaanku.” Liok Siau-hong menjelaskan. “Tapi Loh Siau-hoa telah jatuh sakit, sakit yang amat parah!”

“Menurut kabar angin, dia mendapat sebuah penyakit yang aneh!” Gadis berbaju merah tertawa dan berkata. “Sepasang tangannya yang tamak, selalu meminta uang pada orang lain itu, tiba-tiba telah lenyap!”

Kim Kiu-leng akhirnya menarik nafas panjang.

“Satu gerakan salah, dan seluruh permainan akan kalah.” Ia berkata. “Tidak kukira aku, Kim Kiu-leng, akan mengalami hari seperti ini!”

Kang Tiong-wi pun menarik nafas.

“Sebenarnya, aku tahu kau akan berakhir seperti ini. Kau terlalu suka menghabiskan uang, terlalu berlebih-lebihan dalam menikmati hidup!”

“Orang lain mengira kau tidak perlu mengeluarkan uang untuk wanita, tapi hanya aku yang tahu bahwa bagi seorang wanita sepertiku, hanya ada uang dan tidak yang lain.” Auyang Cing berkata. “Bahkan jika kau adalah reinkarnasi dari Phoa An atau Song Giok, kau tetap harus punya uang untuk masuk.”

Liok Siau-hong tertawa sendiri. Dia tahu bahwa perempuan ini mengatakan hal yang sebenarnya.

“Tapi kau adalah kekecualian,” Auyang Cing meliriknya dengan gusar sebelum berucap. “Kau satu-satunya kekecualian di dunia ini!”

“Oh?”

“Karena kau bukan laki-laki, kau bukan apa-apa selain seorang telur busuk beralis empat!” Ekspresi wajah Auyang Cing tampak ditekuk saat dia menjelaskan dengan dingin.

Liok Siau-hong menarik nafas. Orang memang tidak boleh berbuat salah pada seorang wanita seperti Auyang Cing. Jika kau menyalahinya sekali saja, dia akan mengingatnya seumur hidupnya.

“Hanya ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu!” Kongsun-toanio tiba-tiba bertanya.

“Kau bertanya padaku?” Kim Kiu-leng menoleh ke arahnya.

Kongsun-toanio mengangguk.

“Lebih baik kau beritahu aku sekarang, di mana Sih Peng berada?”

Kim Kiu-leng tiba-tiba tertawa kecil, tapi tidak menjawab.

“Kau hendak menggunakan dia untuk mengancam kami?” Kongsun-toanio menjadi marah. “Kau tidak tahu apa yang akan kulakukan padamu?”

Kim Kiu-leng tidak memperdulikannya dan malah berpaling pada Liok Siau-hong.

“Ilmu pedang Pek-in-seng-cu tidak ada bandingannya, tapi ia tidak henti-hentinya memujimu, menyebutmu sebagai seorang jenius kungfu yang telah mencapai tingkatan yang tidak pernah ia temui sebelumnya dalam hidupnya.”

Ketika ia bicara dengan lambat-lambat, Liok Siau-hong mendengarkan dalam diam, tahu bahwa dia akan tiba pada maksud ucapannya itu.

“Kongsun-toanio, dengan segala samaran, perubahan dan tipuannya, dengan ilmu pedang dan pitanya yang terbaik di dunia, masih tetap kalah darimu!”

“Berhenti menjilat-jilat dia, itu tidak ada gunanya lagi!” Kongsun-toanio mendengus dengan dingin.

Tapi Kim Kiu-leng tetap tidak menghiraukannya dan terus menatap Liok Siau-hong.

“Suhengku, Koh-kua Taysu, biasanya tidak begitu perduli pada siapa pun di dunia ini, tapi ia memperlakukanmu secara berbeda. Karena ia percaya bahwa jepitan kedua jarimu adalah ilmu yang tidak ada tandingannya.”

Liok Siau-hong diam-diam menarik nafas. Tiba-tiba dia berfikir, bagaimana perasaan Koh-kua Taysu bila tahu bahwa sute satu-satunya akan berakhir seperti ini.

“Ho Siu, Ho Thian-jing, Giam Thi-san, mereka semua adalah jago-jago di dunia ini, tapi mereka semua kalah di tanganmu. Jelas bahwa jika pun kau bukan jago kungfu terbaik di dunia, kau tidak jauh dari itu.” Kim Kiu-leng menarik nafas lagi sebelum meneruskan. “Tapi aku tidak lebih dari seorang polisi biasa di organisasi Enam Pintu. Orang sepertiku tidak berharga sepeser pun di mata jago-jago dunia persilatan!”

“Apa yang hendak kau katakan?” Liok Siau-hong akhirnya bertanya.

“Aku hanya ingin berduel dengan seorang jago kungfu sepertimu, untuk melihat siapa yang sebenarnya lebih baik!” Kim Kiu-leng menjawab terus terang.

“Kau adalah seorang penjahat yang telah tertangkap,” Kongsun-toanio menjawab sambil menyeringai. “Dari mana kau mendapat hak untuk meminta duel?”

Kim Kiu-leng bahkan tidak melirik ke arahnya.

“Jika aku kalah, aku bukan hanya akan menyerahkan diri, aku pun akan segera memberitahumu di mana Sih Peng berada!”

Mata Liok Siau-hong tampak berkedip-kedip, jelas dia tergoda oleh tawaran itu.

“Tapi bagaimana jika kau kalah?” Kim Kiu-leng bertanya.

“Apa usulmu?”

“Walaupun kau bersedia melepaskan dia, aku tidak!” Kongsun-toanio memprotes keras.

Tapi Kim Kiu-leng bahkan agaknya tidak mendengarkan dia.

“Jika kau kebetulan kalah dariku, aku hanya meminta satu hal. Aku hanya meminta agar kau mau melindungi reputasiku dan tidak membocorkan urusan ini. Kurasa, dengan memandang suhengku, hal ini tidak terlalu sukar bagimu!”

Liok Siau-hong tidak menjawab dengan segera. Ia malah berjalan dengan perlahan-lahan ke arah jendela dan membukanya. Sinar matahari terbenam tampak mewarnai angkasa, hari sudah senja.

“Jangan tertipu olehnya,” Siang Ban-thian tiba-tiba memperingatkan. “Orang ini licik seperti rubah, ia tentu memiliki sebuah tipuan lain di balik lengan bajunya!”

“Tingkatan kungfunya jauh lebih tinggi daripada yang kukira.” Kang Tiong-wi memberi komentar.

“Aku telah mencari nafkah di dunia persilatan sejak kecil, telah bertarung dalam ratusan dan ribuan perkelahian, menderita puluhan luka.” Siang Ban-thian berkata. “Kungfuku mungkin tidak hebat, tapi aku punya pengalaman yang lebih dari cukup. Tapi aku bahkan tidak tahu seberapa tinggi ilmunya, aku bahkan tidak mampu bertahan satu jurus pun melawannya!”

Hoa It-ban tiba-tiba juga menarik nafas.

“Memang, ilmu kungfu orang ini hampir tidak terukur. Dulu aku pernah beruji coba dengan Bok-tojin dan Ko-siong Kisu. Tapi dari apa yang aku lihat, ilmu kungfunya malah lebih tinggi daripada mereka!”

Liok Siau-hong tampaknya tidak mendengarkan sepatah kata pun yang mereka ucapkan. Di angkasa yang penuh dengan sinar senja, sebaris angsa liar tampak terbang melintas.

“Musim panas sudah hampir berakhir, dalam sekejap saja sudah tiba musim gugur.” Liok Siau-hong bergumam pada dirinya sendiri. “Waktu berlalu begitu cepatnya….. begitu cepatnya……”

Kim Kiu-leng pun menarik nafas.

“Waktu memang seperti aliran air di sungai, sekali pergi ia tidak akan pernah kembali. Bila teringat kembali saat pertama kali kita bertemu, kejadian itu sudah hampir 10 tahun yang lalu, tetapi berapa puluh tahunkah usia kehidupan kita?”

“Kongsun-toanio belum sepenuhnya pulih. Karena kami khawatir kalau kau mengetahui rencana kami, maka dia pun mengambil obat bius yang asli!”

“Aku tahu obat itu tidak palsu!”

“Saat ini, dia mungkin hanya memiliki setengah dari kekuatan dan kemampuan bertarungnya. Ditambah dengan Sici, Jitci dan aku, tidak mungkin kau bisa kabur, betapa pun hebatnya dirimu!”

“Aku tahu!”

“Tapi jika aku benar-benar berduel denganmu dan kalah darimu, walaupun aku tetap hidup, aku tentu akan terluka!” Liok Siau-hong menarik nafas. “Di samping itu, kau pun tahu benar bagaimana sikapku jika aku benar-benar setuju untuk berduel denganmu. Jika kalah, aku tidak akan menyerangmu lagi, tak perduli apa pun yang terjadi!”

“Aku selalu tahu bahwa walaupun kau bukan seorang laki-laki sejati, kau tetaplah seorang laki-laki yang sesungguhnya!”

“Itulah sebabnya, jika aku kalah, mereka mungkin tidak akan mampu menghentikanmu. Jika kau lolos dari sini hari ini, sangat mungkin kau tidak akan pernah tertangkap lagi dan bisa menghilang selamanya!”

“Jika kau tahu apa maksudnya, mengapa kau terus bicara omong kosong dengannya? Apakah kau benar-benar tolol?” Auyang Cing terpaksa memotong.

Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa kecil.

“Aku bukan bicara omong kosong!”

“Lalu apa?” Auyang Cing mendengus.

“Aku hanya ingin memberitahu dia bahwa karena aku tidak boleh kalah darinya, maka jika aku setuju untuk berduel, ini berarti bahwa aku yakin akan menang!”

“Kau setuju untuk berduel?” Ekspresi wajah Auyang Cing tampak berubah secara dramatis.

“Jika aku tidak setuju untuk berduel, maka bukankah semua yang kukatakan tadi menjadi omong kosong belaka?” Liok Siau-hong menjawab dengan acuh tak acuh.

Kim Kiu-leng melompat bangkit dari kursinya.

“Bagus! Liok Siau-hong memang Liok Siau-hong!”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Dan lagi, aku mendengar kalimat itu!”

“Di mana kau mengusulkan untuk melangsungkan duel ini?” Kim Kiu-leng bertanya.

“Di sini!”

“Di sini? Di dalam ruangan ini?”

“Tidak ada tempat seperti tempat ini, aku tidak ingin memberimu kesempatan yang lebih besar untuk melarikan diri!”

Kim Kiu-leng mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Bagus, bagus sekali!”

Tiba-tiba ia seperti mendapatkan kembali tenaganya, ia seolah-olah telah berubah menjadi seseorang yang benar-benar berbeda.

“Apa yang akan kau gunakan sebagai senjata?” Liok Siau-hong bertanya.

“Tentu saja sesuatu yang tidak bisa kau jepit dengan jari-jarimu itu!” Kim Kiu-leng bergurau.

“Kau telah membuat persiapan?”

“Aku selalu membawa senjata ini, seakan-akan aku tahu bahwa suatu hari nanti aku akan bertarung denganmu!”

Di sudut ruangan itu ada sebuah lemari. Kim Kiu-leng berjalan menghampiri dan membukanya. Aneh, di dalam lemari itu ada sebuah tombak, sebatang golok, dua buah pedang, sepasang gaetan, sepasang martil, sebuah cambuk, sebuah kapak, sebuah tombak berkait, dan sebuah gurdi besi yang amat ganjil, seperti cambuk, tapi juga seperti gada. Lemari ini jelas merupakan tempat penyimpanan senjata.

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tampaknya kau benar-benar telah bersiap untuk sesuatu, kapan saja, di mana saja!”

“Aku orang yang amat berhati-hati, aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak aku yakini!” Kim Kiu-leng tersenyum.

“Kau tidak melakukan duel yang tidak kau yakini bisa dimenangkan?”

“Aku belum pernah kalah satu kali pun di dalam hidupku!” Kim Kiu-leng menjawab dengan acuh tak acuh. Ini bukan sebuah dusta.

“Tapi aku juga tahu bahwa kau pun belum pernah kalah seumur hidupmu!” Kim Kiu-leng berkata sambil menatap Liok Siau-hong.

“Selalu ada yang pertama untuk apa saja!” Liok Siau-hong tersenyum.

“Bagus!” Kim Kiu-leng setuju, ia mengulurkan tangan dan mengambil senjata pilihannya, ia memilih gurdi besar yang bobotnya paling sedikit 70 kg itu.

Ekspresi wajah Kongsun-toanio tampak berubah secara dramatis.

“Kalian semua pergi ke luar, tunggu di luar dan jagalah pintu dan jendela!” Ia memberi perintah dengan nada serius.

Kalian semua tentu saja adik-adiknya serta Siang Ban-thian, Kang Tiong-wi, dan Hoa It-ban. Ia tahu kekuatan seperti apa yang dimiliki gurdi itu. Ruangan ini mungkin tidak kecil, tapi juga tidak terlalu besar. Sekali senjata ini digunakan, siapa pun atau apa pun yang ada di ruangan itu, bisa hancur berkeping-keping setiap saat!

Bahkan Liok Siau-hong pun merasa agak terkejut. Semula diperkirakan senjata orang ini adalah sebatang jarum jahit yang ringan seperti bulu, tapi tiba-tiba malah berubah menjadi gurdi yang beratnya hampir 100 kg ini. Mungkinkah kungfunya telah mencapai taraf di mana dia bisa menggunakan senjata berat maupun ringan dengan sama mudahnya?

“Apa yang akan kau gunakan sebagai senjatamu?” Kim Kiu-leng bertanya.

Liok Siau-hong memikirkannya sebentar. Tiba-tiba ia melihat bahwa di sudut lemari itu adalah sekantung jarum jahit. Maka ia pun memilih sebatang jarum jahit!

Kim Kiu-leng tertawa terbahak-bahak.

“Barang bagus! Aku menggunakan gurdi besi raksasa ini, sementara kau menggunakan jarum jahit itu. Jika orang lain melihat ini, mereka tentu akan mengira bahwa kaulah si Bandit Penyulam yang sebenarnya!”

“Aku mungkin bukan si Bandit Penyulam, tapi aku masih bisa menjahit!” Liok Siau-hong menjawab dengan santai.

“Tapi bisakah kau menyulam orang buta?” Mata Kim Kiu-leng tampak berkerlap-kerlip.

“Tidak!” Mata Liok Siau-hong mulai bersinar-sinar seperti pedang dan dia menekankan setiap patah katanya. “Cuma orang mati!”

Kongsun-toanio tidak meninggalkan ruangan itu. Dia malah berdiri dalam bisu di sudut ruangan. Wajahnya tidak menampilkan emosi, tapi di dalam hatinya dia tersiksa oleh perasaan khawatir. Ruangan ini terlalu kecil dan senjata pilihan Kim Kiu-leng membawa kekuatan yang terlalu besar. Sekali dia memulai serangannya, Liok Siau-hong bahkan mungkin tidak memiliki ruangan untuk menghindar!

Gurdi itu panjangnya kira-kira 1,5 m, jarum jahit itu hanya sekitar 3 cm. Senjata yang mereka ambil benar-benar berbeda, yang satu mengandalkan kekuatan, yang satunya lagi mengandalkan kecepatan. Yang satu berat luar biasa, yang lainnya ringan luar biasa. Kelembutan mungkin bisa mengatasi kekerasan, tapi kecepatan tidak bisa mengalahkan kekuatan, dan yang ringan hampir tidak mungkin mampu melawan yang berat! Dinilai dari senjata, Liok Siau-hong jelas berada pada posisi yang tidak menguntungkan.

“Bisakah kau tinggalkan ruangan ini juga?” Kim Kiu-leng tiba-tiba mengajukan sebuah permintaan.

“Kau takut kalau aku menyerangmu dari belakang?” Kongsun-toanio mengejek.

“Aku tahu kau bukan jenis orang yang mau berbuat seperti itu,” Kim Kiu-leng tersenyum. “Tapi keberadaanmu di dalam ruangan ini masih merupakan ancaman bagiku!”

Kongsun-toanio bimbang dan melirik Liok Siau-hong dari sudut matanya.

Kongsun-toanio lalu menarik nafas dan akhirnya meninggalkan ruangan itu, tapi sebelumnya ia masih sempat menoleh dan berseru: “Aku hampir pulih 80 %. Walaupun kau kalah, dia tetap tidak akan bisa kabur!”

Liok Siau-hong tertawa kecil.

“Jangan khawatir, aku tidak bermaksud membiarkan dia kabur!”

Kim Kiu-leng tersenyum.

“Ruangan ini adalah tanah kematian, aku pun sedang memikirkan pepatah ‘hampir menemui ajal dan kembali’ itu!”

Sebelum ia selesai bicara, gurdi di tangannya telah mulai bergerak!

Bobot sesungguhnya gurdi itu adalah 87 kg. Di tangannya, sebuah gurdi seberat 87 kg tampak seringan bulu. Gerakan yang ia gunakan pun cepat, tangkas dan gesit, persis seperti orang yang menggunakan sebatang jarum jahit. Gerakan pertama ini saja sudah mengandung 6 atau 7 macam perubahan yang berbeda, tapi gurdi itu sama sekali tidak menimbulkan suara ketika diayunkan di udara. Liok Siau-hong sampai menarik nafas.

Baru sekarang dia tahu bahwa Kim Kiu-leng adalah orang yang suka menyembunyikan kemampuannya dan bahwa ilmu kungfunya benar-benar tidak terukur. Baru sekarang dia percaya bahwa Bok-tojin, Ko-siong Kisu, Koh-kua Taysu, dan yang lainnya memang bukan tandingannya. Otaknya berputar cepat, gerak-geriknya bahkan lebih cepat lagi. Dia mundur ke belakang dengan cepat dan ringan dan menusukkan jarumnya dengan telapak tangan menghadap ke bawah.

“Pshhhhh!” Ujung jarum itu menusuk udara seperti sebatang anak panah yang lepas dari busurnya!

Jarum itu mungkin seringan bulu, tapi di tangannya, benda itu seakan-akan mencapai bobot 1 ton. Jurusnya keras, keji, dan membawa tekanan, persis seperti orang yang menggunakan gurdi. Dalam sekejap mata, kedua orang itu telah bertarung sebanyak 10 jurus. Senjata yang berat dan kuat itu malah digunakan dengan jurus-jurus yang cepat dan gesit! Senjata yang ringan dan lemah malah digunakan dengan jurus-jurus yang keras dan membawa tekanan besar!

Adegan pertarungan ini bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan oleh siapa pun. Wajah Kang Tiong-wi, Siang Ban-thian, dan Hoa It-ban telah dipenuhi oleh ekspresi takjub. Walaupun mereka tidak bisa melihat, mereka masih bisa mendengarnya.

Hanya ada suara jarum menusuk udara yang terdengar dari ruangan itu, tapi tidak terdengar sedikit pun suara gurdi yang besar itu. Walaupun mereka semua adalah jago-jago yang berpengalaman, tidak seorang pun dari mereka yang bisa membayangkan mengapa hal itu terjadi. Yang terdengar hanyalah suara “psss, psshhh” yang terus-menerus dari jarum jahit yang menusuk udara dengan semakin cepat dan cepat tapi juga terus bergerak, suatu saat di kiri, lalu di kanan, jauh lebih cepat daripada lalat mana pun, apalagi manusia biasa.

Hoa It-ban menarik nafas.

“Tak heran Bok-tojin selalu mengatakan bahwa Liok Siau-hong adalah seorang jenius langka yang hanya muncul sekali dalam beberapa generasi. Ucapannya itu tidak berlebih-lebihan!”

“Tapi Kim Kiu-leng lebih menakutkan lagi!” Siang Ban-thian menjawab dengan ekspresi wajah yang muram.

“Oh?”

“Gerakan Liok Siau-hong memang merupakan serangan-serangan yang cepat dan membawa tekanan berat, tapi gurdi Kim Kiu-leng yang amat besar ternyata tidak terdengar sedikit pun suaranya walaupun digunakan untuk melawannya. Bukankah itu lebih mengerikan?”

Ia tahu bahwa Kim Kiu-leng menggunakan gurdi karena barusan ia telah bertanya pada Auyang Cing. Pengalamannya dalam pertarungan adalah hal yang tidak bisa ditandingi oleh Hoa It-ban yang terhormat, karena itu analisanya jauh lebih akurat daripada Hoa It-ban.

Hoa It-ban berfikir selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab: “Aku sudah lama mendengar bahwa pengalaman Siang-hucongpiauthau dalam pertarungan dan perkelahian adalah sesuatu yang langka. Agaknya hal ini pun tidak dilebih-lebihkan!”

“Wuum!” Baru saja ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara deruan seperti seekor naga yang melesat keluar dari balik awan.

“Kim Kiu-leng merubah taktiknya!” Ekspresi wajah Siang Ban-thian berubah secara dramatis.

Jurus-jurus dan teknik Kim Kiu-leng memang berubah menjadi cepat dan ganas, keras dan menekan, gaya yang tidak mau mengalah! Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi oleh deru angin yang ditimbulkan oleh gurdi, hampir tidak ada ruang yang tersisa bagi orang lain untuk bertahan.

Ekspresi wajah Kang Tiong-wi pun tampak berubah.

“Mungkinkah dia selama ini hanya menguji Liok Siau-hong dan baru sekarang menggunakan kekuatan penuh?” Ia bertanya.

“Tapi Liok Siau-hong pun tidak mau mundur!” Siang Ban-thian menilai.

“Mengapa kau berkata begitu?” Kang Tiong-wi bertanya.

“Kim Kiu-leng menggunakan gurdinya dengan tenaga dan kekuatan penuh. Jika itu orang lain, saat ini dia tentu telah dipaksa keluar dari ruangan itu. Tapi kita tidak mendengar apa-apa dari Liok Siau-hong, jelas dia masih bisa bertahan dan sedang menunggu kesempatan untuk menyerang!”

Auyang Cing memandang padanya dengan penuh kekaguman. Orang buta ini bisa melihat sesuatu dengan lebih akurat daripada orang lain yang bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri! Liok Siau-hong memang masih mampu bertahan. Seluruh tubuhnya seperti telah berubah menjadi sesuatu yang tidak berwujud dan tidak berbentuk, seolah-olah dia bisa berputar dan berbalik arah sekehendak hatinya. Tidak perduli bagaimana pun gurdi Kim Kiu-leng menyerangnya, ia selalu bisa menghindar dengan mudah.

Ada saat-saat tertentu di mana toya itu telah menyudutkannya ke sebuah situasi yang gawat, tapi tiba-tiba dengan sebuah putaran tubuhnya, dia mampu menghindari semua bahaya. Wajah Kongsun-toanio semula penuh dengan perasaan cemas, tapi sekarang dia akhirnya bisa menarik nafas lega.

Siang Ban-thian pun tiba-tiba menarik nafas.

“Tadinya aku mengira Liok Siau-hong bukanlah tandingannya, tapi sekarang Kim Kiu-leng tidak punya kesempatan lagi untuk menang!”

“Mengapa kau berkata begitu?” Kang Tiong-wi bertanya lagi.

“Kim Kiu-leng sekarang menggunakan jurus-jurus yang keras dan kuat, tapi tenaganya pasti habis, kekerasan tidak akan kekal, dia pasti lebih cepat lelah daripada Liok Siau-hong!” Wajahnya bersinar-sinar ketika ia meneruskan ucapannya. “Bila dia tak bisa lagi mengendalikan gurdinya seperti yang dia inginkan, dia akan mulai menghancurkan ruangan itu. Itu berarti tenaganya sudah hampir habis. Itulah saatnya Liok Siau-hong bisa memulai serangan baliknya!”

Saat itulah, sebuah suara yang gegap-gempita bisa terdengar dari dalam ruangan tersebut, lalu diikuti oleh bunyi benda-benda lain yang hancur secara berturut-turut.

“Dia telah menghancurkan meja!” Auyang Cing berseru.

“Bum!”

“Sekarang dia pun telah menghancurkan tempat tidur itu!” si gadis baju merah berkata.

Sebuah senyuman pun muncul di wajah Siang Ban-thian.

“Tampaknya kau akan segera mendapatkan kembali koleksi lukisan dan kaligrafi-mu itu!”

Wajah Hoa It-ban pun tampak riang gembira.

“Jangan lupakan uang perakmu!”

“Buum!” Sebuah letusan yang menggetarkan bumi terasa mengguncangkan mereka semua pada saat itu.

Kening Kim Kiu-leng telah dipenuhi oleh keringat dan kecepatan ayunan gurdinya mulai melambat. Ia juga tahu bahwa Liok Siau-hong akan segera balas menyerang.

Ia maju dua langkah ke depan dan mengayunkan gurdi itu. Liok Siau-hong mundur dua langkah dan bermaksud menggunakan langkah itu sebagai batu loncatan untuk menyerang. Tapi tak terduga, Kim Kiu-leng tiba-tiba melepaskan genggamannya pada gurdi itu, dan gurdi itu pun meluncur dan mengaung seperti angin ribut, terbang ke arah Liok Siau-hong.

Tidak seorang pun di dunia ini yang bisa menahan tenaga lemparan itu secara langsung. Yang bisa dilakukan Liok Siau-hong hanyalah berusaha menghindar dengan cepat.

“Buum!” Bumi terasa bergetar saat gurdi itu membentur tembok dan membentuk sebuah lubang yang amat besar di dinding ruangan itu. Kekuatan gurdi itu masih belum habis karena gurdi itu masih terus meluncur ke depan. Kim Kiu-leng meminjam reaksi tenaga lemparan itu pada tubuhnya, mengikuti gurdi itu menembus lubang di dinding! Bahkan Liok Siau-hong pun terperanjat melihat gerakan ini. Ia hanya bisa melihat bayangan seseorang melesat di depan matanya dan Kim Kiu-leng telah menghilang.

“Bang!” Gurdi itu membentur tembok yang mengelilingi halaman dan jatuh ke tanah, tetapi Kim Kiu-leng telah melompat ke atas tembok. Kongsun-toanio hampir panik dan dia hendak memburunya ketika tiba-tiba sebuah bayangan lain melintas di depannya: Liok Siau-hong.

“Kecepatan yang begitu luar biasa!” Siang Ban-thian menarik nafas tak percaya.

Kongsun-toanio pun menarik nafas.

“Jika bukan karena aku masih belum pulih seluruhnya, kau pun bisa mendengarkan kecepatanku!” Ia berkata dengan sebuah senyuman agak kecewa.

Ia tidak memburu Kim Kiu-leng lagi. Dengan adanya Liok Siau-hong, tentu ia tidak perlu ikut.

“Jangan khawatir, Toanio, tenaga Kim Kiu-leng sudah hampir habis, dan ginkangnya pun bukan tandingan Liok Siau-hong, dia tidak bisa kabur!” Siang Ban-thian menjawab.

Kongsun-toanio akhirnya tersenyum.

Memang, tidak banyak orang yang bisa menandingi ilmu ginkang Liok Siau-hong!

______________________________

Sekarang Kim Kiu-leng juga faham bahwa ilmu ginkang Liok Siau-hong jauh lebih menakutkan daripada yang pernah dia bayangkan. Ia telah selangkah lebih dulu karena memanfaatkan efek kejutan tadi, tapi dalam 7 atau 8 lompatan, Liok Siau-hong sudah hampir menyusulnya.

Jarak di antara mereka mulanya lebih dari 30 m, tapi sekarang tidak lebih dari 15 m. Jarak itu bisa saja berkurang hanya dalam satu kali lompatan lagi. Anehnya, Kim Kiu-leng tampaknya tidak terlalu cemas. Di depannya terbentang sebuah hutan kecil, di dalamnya terdapat beberapa pondok dan villa serta bunga-bunga dan semak belukar.

“Liok Siau-hong adalah si Bandit Penyulam! Tolong hadang dia, cepat!” Kim Kiu-leng tiba-tiba berseru.

Suara seruan itu belum benar-benar hilang ketika 4 sosok bayangan melayang keluar dari dalam villa, mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Jinio, Samnio, si nikouw berjubah hijau, dan Kang Kin-he. Mereka berempat melesat seperti burung walet, dengan si nikouw berjubah hijau dan Samnio berada di depan.

“Wuut!” Cambuk di tangan Samnio telah membelit kaki Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong begitu memusatkan perhatiannya pada pengejaran Kim Kiu-leng sehingga dia tidak mampu menghindari serangan itu. Samnio menyentakkan cambuk itu dan dia pun hampir saja terjatuh.

Sekarang Kim Kiu-leng telah menjauh 20 m lagi, ia sudah hampir lolos. Pedang si nikouw berjubah hijau tampak memantulkan sinar dingin saat menyerang ke arah dada Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong tiba-tiba mengulurkan dua buah jarinya dan menjepit pedang itu. Si nikouw berjubah hijau tiba-tiba merasa pergelangan tangannya kesemutan dan pedang itu pun terlepas.

Dengan pedang terjepit di antara jari-jarinya, Liok Siau-hong tiba-tiba melontarkan pedang itu. Tak seorang pun bisa menguraikan kecepatan dan tenaga lontaran itu!

Tidak seorang pun bisa membayangkannya! Tidak seorang pun yang akan percaya! Bahkan istilah kecepatan kilat pun tidak bisa menggambarkan sepersejuta saja dari kecepatan pedang ini!

Pedang itu melesat seperti cahaya. Segera setelah kau menyalakan lampu, cahayanya tentu telah menyebar ke setiap sudut ruangan.

Pedang itu lepas dari tangannya, sebuah cahaya terlihat, dan pedang itu pun telah menusuk punggung Kim Kiu-leng hingga ke jantung!

Kim Kiu-leng tiba-tiba mendengar sebuah suara yang benar-benar aneh, suara yang belum pernah didengarnya.

Baru kemudian dia merasakan sebuah gelombang rasa sakit yang menembus jantungnya, perasaan sakit seakan jantungnya telah hancur.

Ia menunduk ke bawah, dan segera melihat semburan darah muncrat dari jantungnya. Setelah semburan darah, barulah ia akhirnya melihat pedang yang telah menembus dadanya itu.

Waktu dia melihat pedang itu, dia telah roboh! Tapi dia belum mati! Serangan itu terlalu cepat, bahkan lebih cepat daripada maut!

Ia masih bisa melihat Liok Siau-hong melayang ke arahnya. Cambuk Samnio telah dipotong menjadi dua oleh jari-jari Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong memapahnya dan membantunya duduk.

“Sih Peng! Di mana dia?” Ia berseru.

Kim Kiu-leng balas menatap matanya, menatapnya dengan sinar tawa yang unik tetapi keji di matanya.

“Aku akan bertemu dengannya sekarang,” ia berbisik. “Tapi kau harus menunggu lama sebelum kau bisa melihatnya lagi. Lama sekali.”

Suaranya tiba-tiba berhenti, jantungnya pun tiba-tiba berhenti juga.

Sorot matanya masih mengandung tawa yang keji dan jahat itu, seolah-olah dia baru saja melihat Sih Peng.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: