Kumpulan Cerita Silat

29/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (21)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:22 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 21. Pedang Tanpa Sarung
Oleh Gu Long

Api akhirnya padam.

Toko kelontong Li Mahu telah terbakar habis hingga rata dengan tanah. Tetangganya toko daging dengan papan promosi bertuliskan ‘Kami menjual daging sapi, domba dan babi’ dan kedai mie juga mengalami nasib yang sama.

Gubuk kumuh yang terletak disepanjang gang sempit juga tersambar api.

Sekumpulan furnitur dan barang-barang yang berhasil diselamatkan saat terjadi kebakaran tergeletak ditengah jalan. Beberapa ember kayu dan timbaan menggelinding tertiup angin sepertinya mereka sedang mencari-cari tuannya.

Setumpuk puing hangus masih lembab dan basah. Kelihatannya belum terlalu lama api dipadamkan dan bau bara api serta abu masih tercium di udara.

Orang-orang di Kota Perbatasan biasanya bangun pagi sekali, namun saat ini tidak terlihat seorangpun.. Mungkin orang-orang bekerja keras semalaman memadamkan api sehingga mereka amat sangat kelelahan dan membuat mereka tidur dengan sangat nyenyak.

Kota yang kecil dan terpencil ini menjadi lebih kumuh dan menyedihkan.

Perasaan bersalah muncul dalam diri Ye Kai saat perlahan-lahan dia berjalan disepanjang jalan utama. Tidak peduli alasannya, kebakaran ini tidak akan pernah terjadi bila tidak ada tujuan tertentu karenanya. Dan yang seharusnya dia membantu memadamkan api, dia malah menenggelamkan dirinya dalam arak.

Setelah kebakaran memporakporandakan kota, berapa banyak orang yang kehilangan rumahnya sekarang?

Ye Kai menghela napas, dia bahkan tidak ingin memikirkan Majikan Zhan pemilik kedai mie. Majikan Zhan adalah seorang yang jujur dan pekerja keras. Dia bukan hanya pemilik kedai mie, dia juga menjadi juru masak dan pelayan. Selama bertahun-tahun dia mengenakan celemek yang berminyak dan sibuk dari pagi hingga petang, meskipun begitu uang yang dia kumpulkan masih belum cukup untuk membiayai istrinya.

Namun, dia selalu memperlihatkan senyum diwajahnya. Bahkan bila engkau hanya memesan seporsi mangkuk mie Yangchun, dia akan memperlakukanmu dengan pelayanan dan penghargaan yang sama, sepertinya engkau adalah Dewa
Kesejahteraan bagi dirinya. Itulah sebabnya meskipun mie yang dia masak terlihat seperti tumpukan lumpur, tidak ada seorangpun yang berniat komplain.

Tapi sekarang kedai mie-nya telah hancur. Bagaimana majikan yang miskin ini dapat menyelamatkan diri?

Ding Lao Si pedagang daging sedikit lebih baik. Dia masih dapat mengunjungi Xiao Bie Li untuk minum-minum dan kadang-kadang menghabiskan semalaman disana.

Toko kapas yang terletak beberapa blok masih utuh. Bahkan papan toko yang tergantung di atas pintu yang bertuliskan ” Kapas Kualitas Bagus, Diskon” selamat dari jilatan api.

“Sutera dan Satin Indah, Hasil Kelihayan Jarum Kami’

“Kipas, Payung dan Sprei Indah”

Dengan pengecualian Xiao Bie Li, setiap orang di kota menganggap promosi ketiga toko tersebut terlalu berlebihan. Bahkan bila mereka terbakar habis, tidak ada seorangpun yang peduli. Namun kebakaran baru saja terjadi, ketiga toko tersebut sama sekali tidak tersentuh.

Ye Kai mengeluarkan senyuman pahit. Baru saja dia ingin menanyakan kabar tentang Majikan Zhan dan yang lainnya, seseorang malah mencarinya.

Lentera di atas pintu sempit tersebut telah menyala.

Sesosok orang muncul dari pintu, dia melambaikan tangannya ke arah Ye Kai. Wajah orang tersebut putih dan pucat, senyuman tipis terlihat di ujung mulutnya. Dia adalah pemilik toko sutera dan satin, asli orang Fuzhou, Chen Da Guan.

Tidak pedagang yang lebih di Kota Perbatasan, dan tidak ada seorang yang memiliki koneksi sebanyak yang dia miliki.

Ye Kai mengenalinya. Ye Kai mengenali semua pemilik toko di kota. Saat tidak ada kerjaan yang dia lakukan, dia suka bergaul dan ngobrol dengan semua pemilik toko karena dia pasti akan memperoleh manfaat dengan bergaul dengan mereka. Sekarang yang membuat dia heran kenapa Chen Da Guan memberikan isyarat kepadanya.

Karena itu Ye Kai berjalan ke arahnya dan memperlihatkan senyuman tipis dimulutnya. Chen Da Guan telah menyelinap masuk ke dalam pintu sekarang.

Pintu telah terbuka.

Saat dia melangkah masuk, dia melihat hampir semua pemilik toko yang dia kenal. Namun, Xiao Bie Li belum kelihatan batang hidungnya.

Tanpa pengecualian Chen Da Guan, setiap orang memperlihatkan raut wajah cemberut. Meja masih kosong, tidak ada arak maupun makanan yang telah tersedia.

Diluar sudah tidak terang lagi dan tidak ada satupun lentera yang sudah menyala diruangan utama.

Ekpresi wajah mereka dingin seperti besi dan mata mereka kelihatan seperti orang yang kurang tidur. Mereka sama sekali tidak terlihat bersahabat.

“Apakah mereka telah mengetahui penyebab tak langsung kebakaran?”Ye Kai berpikir kepada dirinya sendiri.

Ye Kai hanya bisa tersenyum, dia hampir saja menanyakan kepada mereka bila mereka menginginkan dia memberikan ganti rugi. Mereka memang sudah meminta ganti rugi. Tapi bukan kepadanya, melainkan kepada Fu Hong Xue.

“Karena seorang sobat bernama keluarga Fu datang ke Kota Perbatasan, tidak ada yang lain yang mengikutinya kecuali musibah.”

“Tidak hanya dia telah membunuh orang-orang, sekarang dia juga menyebabkan kebakaran.”

“Sebelum kebakaran terjadi, seseorang melihatnya memasuki toko Li Ma Hu dengan mata kepala mereka sendiri.”

“Sepertinya dia menikmati membebani kita dengan kesulitan dan musibah.”

“Sederhananya kita tidak bisa hidup bersamaan dengannya di sini, Kota Perbatasan, dia harus pergi.”

Selain Chen Da Gua, yang lainnya yang turut berbincang-bincang adalah Majikan Song pemilik toko kapas, Ding Lao Si, dan Majikan Zhan. Orang-orang ini yang biasanya jarang sekali berbicara sekarang berubah total menjadi vokal.

Setiap kali mereka menyebut nama Fu Hong Xue, mereka menggertakan giginya, sepertinya mereka ingin mengunyah dagingnya dengan mulut mereka sendiri.

Ye Kai dengan sabar menunggu mereka selesai bicara, kemudian bertanya dengan sopan,”Apa yang kalian semua rencanakan untuknya?”

Chen Da Guan menghela napas dan berkata,”Pertama kali kita berpikir untuk memintanya meninggalkan kota. Namun karena dia sudah disini, kita semua ragu kalau dia akan bersedia pergi, jadi …”

“Jadi …?” Ye Kai bertanya.

“Karena dia tidak inginkan meninggalkan kita dengan damai, maka kita pun tidak akan membiarkan dia dengan damai juga.”Majikan Zhan memotong.

Ding Lao Si memukulkan jarinya ke atas meja dan menambahkan,”Kita semua suka kedamaian, penduduk yang mentaati hukum, namun bila orang-orang menyerang kita seperti ini, mereka akan segera tahu betapa garangnya kita.”

Majikan Song mengayunkan pipanya ke atas kepalanya dan berkata,”Saat anjing diprovokasi, mereka akan melompat ke atas dinding. Bagaiman dengan manusia?”

Ye Kai perlahan-lahan menganggukan kepalanya, sepertinya menyetujui apa yang mereka katakan.

Chen Da Guan menghela dan berkata,”Meskipun kita semua ingin menangani dia, namun aku khawatir kita tidak memiliki kemampuan.”

“Tentu saja orang jujur seperti kita tidak setanding dengan pembunuh seperti dia.”Majikan Song menambahkan.

“Namun untungnya, kita memiliki beberapa kenalan yang memiliki kemampuan hebat.”Chen Da Guan berkata.

“Engkau membicarakan mengenai Majikan Ketiga?”Ye Kai bertanya.

“Majikan Ketiga memiliki kedudukan yang terlalu tinggi, kita tidak akan memintanya membereskan masalah kecil seperti ini.”Chen Da Guan menjawab.

“Selain Majikan Ketiga, aku rasa tidak seorangpun yang lain yang memiliki kemampuan tinggi disekitar sini.”Ye Kai berkata.

“Pendekar muda yang biasa dipanggil Sikecil Lu.”Chen Da Guan menjawab.

“Sikecil Lu?”

“Meskipun dia masih cukup muda, dia dapat dipertimbangkan sebagai pesilat tingkat satu di dunia persilatan.”Chen Da Guan berkata.

“Aku mendengar tahun lalu dia sendirian menghabisi lebih dari tigapuluh atau empatpuluh orang, yang semuanya adalah ahli silat.”Majikan Song menambahkan.

Majikan Zhan menggertakan giginya dan berkata,”Berurusan dengan pembunuh haus darah, kau harus menemukan orang lain yang juga sama jahatnya.”

“Itulah yang mereka sebut mata ganti mata, gigi ganti gigi.”Chen Da Guan berkata.

Ye Kai terdiam membisu beberapa saat, kemudian tiba-tiba bertanya,”Sikecil Lu yang kalian bicarakan adalah Lu yang nama sama artinya dengan lu di kata jalan?”

“Tepat sekali.”Chen Da Guan bertanya.

“Itu adalah Lu Xiao Jia?”Ye Kai bertanya.’’

“Ya benar dia.”Chan Da Guan menjawab.

Majikan Song menarik napas panjang, kemudian bertanya,”Tuan Muda Ye telah berkenalan dengannya?”

Ye Kai tersenyum,”Aku pernah mendengar tentangnya. Aku dengar pedangnya cepat dan dahsyat.

“Tidak banyak orang yang belum pernah mendengarnya dua tahun terakhir ini.”Majikan Song tersenyum balik.

“Betul-betul tidak banyak.”Ye Kai berkata.

“Aku dengar, bahkan Empat Pedang Naga Dewa dari Gunung Kunlun dan Ketua Sekte Dian Cang jatuh dibawah pedangnya.”Majikan Song berkata kesenangan.

Ye Kai menganggukan kepalanya,”Majikan Song kelihatannya sangat familiar dengan sepakterjangnya.”

Majikan Song tertawa dan berkata,”Perlu Tuan Ye ketahui, pendekar muda ini adalah anak tertua dari saudara jauhku.”

“Dan dia sedang datang ke Kota Perbatasan?”Ye Kai bertanya.

“Itu karena dia tidak melupakan saudara tuanya. Seseorang telah mengirimkan surat kepadanya dua hari yang lalu, jadi aku tahu dia pasti ada di dekat-dekat sini.”Majikan Song berkata.

“Itu sebabnya setelah kemarin malam kita segera mengirimkan seseorang untuk mengundangnya ke Kota Perbatasan.”Ding Lao Si ikut nimbrung.

“Jadi bila segalanya berjalan lancar, maka dia akan tiba disini pada sore hari.”Chen Da Guan berkata.

Majikan Zhan mengepalkan jari-jarinya dan berkata dengan geram,”Bila saatnya tiba, kita akan menikmati melihat apa yang terjadi pada Fu Hong Xue.”

Ye Kai tiba-tiba tersenyum dan berkata,”Karena semua ini telah kalian putuskan, untuk apa kalian mengundangku kesini?”

“Tuan Muda Ye adalah seorang yang pengertian, kita selalu menganggap Tuan Muda Ye sebagai sahabat.” Chen Da Guan menjawab. Kelihatannya dia khawatir Ye Kai mengucapkan hal yang kurang mengenakan, oleh karena itu dia menambahkan,”Tapi Tuan Muda Ye selalu bersikap baik kepada orang dengan nama keluarga Fu itu”

“Engkau takut aku ikut mencampuri urusan ini?”Ye Kai berkata.

“Aku adalah orang yang jujur, aku hanya mengucapkan kata-kata yang sejujurnya.”Majikan Zhan berkata.

“Katakanlah.”Ye Kai menjawab.

“Yang paling baik bila engkau menolong kami mengenyahkan dia. Namun bila engkau tidak bersedia menolong kami, maka paling tidak jangan menolong dia juga, kalau tidak …”

“Kalau tidak apa?”

Majikan Zhan berdiri dan berseru dengan kencang,”Meskipun aku bukan tandinganmu, aku aku berkelahi denganmu hingga napas terakhir.”

“Bagus! Itu adalah perkataan yang jujur. Aku menikmati mendengarkan kata-kata yang jujur.”Ye Kai berkata sambil tersenyum.

“Jadi engkau akan menolong kami?”Majikan Zhan bertanya dengan berapi-api.

“Paling tidak, aku tidak akan menolongnya.”Ye Kai membalas.

Chen Da Guan menghela napas dan berseru,”Jadi kita berutang padamu.”

“Aku hanya berharap engkau akan memberitahukanku saat Lu Xiao Jia tiba.”Ye Kai berkata.

“Tentu saja.”Chen Da Guan menjawab.

Ye Kai berkata dengan suara yang berat,”Telah lama aku ingin bertemu dengan orang ini, dan pedangnya itu …”

Tiba-tiba ada suara kencang,”Aku dengar kalau dia jarang sekali membiarkan seseorang melihat pedangnya.”

Suara tersebut adalah suara Xiao Bie Li. Dia berdiri di lantai ke dua namun suaranya mencapai mereka.

Ye Kai melihat ke atas dan tertawa,”Jadi pedangnya seperti golok Fu Hong Xue?”

Xiao Bie Li tersenyum balik dan menjawab,”Ada satu perbedaan.”

“Apakah itu?”Ye Kai bertanya.

“Golok Fu Hong Xue mengambil nyawa tiga jenis orang, namun pedangnya hanya mengambil nyawa satu jenis saja.”Xiao Bie Li berkata.

“Jenis apa itu?”

“Orang hidup!”

Xiao Bie Li perlahan-lahan melangkah turun ke bawah, sambil memperlihatkan senyum yang sebal di wajah putihnya,”Dia tidak seperti Fu Hong Xue. Baginya, hanya ada dua jenis orang di dunia ini, yang mati dan yang hidup.”

“Jadi dia akan membunuh siapapun yang hidup?”Ye Kai bertanya.

Xiao Bie Li menghela napas dan menjawab,”Dari semua yang aku tahu tidak ada seorangpun yang pernah lolos dari pedangnya hidup-hidup.”

Ye Kai menghela juga,”Dari semuanya yang ingin aku ketahui hanya satu.”

“Apakah itu?”

“Benar atau tidak pedangnya lebih cepat dari golok Fu Hong Xue.”

Kelihatannya setiap orang disana ingin mengetahui hal yang sama.

________________________________________

Matahari telah tersebit sekarang. Petugas daerah Zhao Da sedang memerintahkan anak-anak buahnya membersihakn sisa-sisa kebakaran. Semua orang di dalam ruangan tersebut telah keluar untuk menyaksikan dan memberikan komentar.

Xiao Bie Li dan Ye Kai berdiri di belakang di dalam gedung.

Ye Kai melongok keluar jendela dan berkomentar,”Zhao Da itu sungguh-sungguh melakukan semua tugasnya.”

“Itu sudah biasanya dia pergi keluar.”

“Oh?”

“Setiap orang di kota mengenali bahwa Li Ma Hu bukanlah seseorang yang tidak perdulian. Dalam sepuluh tahun dia telah bekerja keras, mungkin dia telah mengumpulkan beberapa ribu tael perak.”

“Dan perak tidaklah mencair.”

“Dia juga tidak memiliki keluarga maupun sanak.

“Jadi yang mereka lakukan hanyalah menggali mencari perak tersebut dan semua itu akan menjadi milik mereka.

Xiao Bie Li tersenyum dan berkata,”Tidak heran mengatakan engkau adalah seorang yang pengertian.”

“Jadi engkau mendengarkan semua yang mereka katakan?”Ye Kai bertanya.

“Cara mereka berbicara, sepertinya mereka takut orang lain tidak mendengar apa yang bicarakan.”

“Tidak heran engkatu tidak dapat tidur. Semula aku mengira engkau baru saja minum arak dengan tamu di lantai atas.”

Mata Xiao Bie Li berkilat,”Kau pikir aku bersama dengan Ding Qiu?”

Ye Kai tersenyum, menarik kursi dan duduk.

“Engkau sedang mencarinya?”Xiao Bie Li bertanya.

“Bicara yang sejujurnya, orang yang sedang aku cari adalah Fu Hong Xue.”

“Engkau tidak tahu dimana dia sekarang.”

“Kau tahu?”

Xiao Bie Li berpikir sebentar, kemudian menjawab,”Dia pasti belum meninggalkan Kota Perbatasan.”

“Aku tidak berpikir engkau dapat mengusirnya dengan sebuah cambuk.”Ye Kai berkata sambil tersenyum.

” Tapi bila dia masih disini, pasti sangat susah mencari orang yang mau menerimanya dengan tangan terbuka.”

“Sepertinya begitu.”Ye Kai berkata.

Nada suara Xiao Bie Li merendah seraya menjawab,”Tapi ada beberapa tempat tanpa pemilik, dimana pintu tidak pernah tertutup.”

“Dimana contohnya?”

“Tempat seperti Vihara Dewa Guan.”

Mata Ye Kai bersinar saat dia berdiri dan berkata,”Dewa Guan adalah seseorang yang aku kagumi. Aku selalu mendatangi viharanya untuk membakar hio sebagai tanda hormatku.”

“Sebaiknya engkau hanya membakar hio saja, bukan viharanya.”Xiao Bie Li bersenda gurau.

“Untungnya Dewa Guan tidak pernah membuka mulutnya atau hal lainnya yang mungkin terjadi.”Ye Kai membalasnya.

________________________________________

Tubuh yang hangus dan abu telah dibersihkan, namun belum terlihat tanda-tanda adanya uang perak yang disembunyikan. Zhao Da beristirahat sejenak, meneguk air dari sebuah mangkuk besar sementara sambil berteriak kepada anak buahnya untuk tidak beristirahat dan bila uang perak tersebut diketemukan, makan akan dibagi-bagi.

Ye Kai berjalan kesisinya dan perlahan-lahan berbisik,”Aku dengar beberapa orang suka mengubur barang-barang berharganya di bawah lantai toko mereka.”

“Benar sekali, kenapa aku tidak berpikir begitu.”Zhao Da menjawab dengan pandangan kaget. Kelihatanya dia baru menyadarinya bahwa dia sedang berbicara dengan Ye Kai, jadi dia menambahkan,”Bila kita berhasil menemukan uang peraknya, maka mulai sekarang semua utang minum arak Tuan Ye akan menjadi tanggung jawabku.”

“Tidak perlu. Aku hanya berharap bahwa engkau dapat mengurus orang yang tewas dengan membeli dua buah peti mati untuk memastikan mereka memperoleh penguburan yang layak.”Ye Kai menjawab.

“Bila telah tersedia peti mati yang siap dipakai, kenapa kita harus membuang-buang uang perak untuk membeli yang baru?”Zhao Da berkata.

“Oh? Disini ada peti mati yang tidak perlu bayar? Aku tidak pernah mendengarnya sebelum ini.”

“Tuan Ye, apakah kau sudah lupa? Kemaren ini seseorang mengirimkan beberapa peti mati kesini.”

Mata Ye Kai bersinar.”Bukankah peti mati itu semuanya dibawa ke Gedung Sepuluh Ribu Kuda?”

“Dalam dua hari terakhir ini, Majikan Ketiga menderita berbagai kesialan demi kesialan. Siapa yang berani mengirimkan peti mati kesana dalam kondisi seperti ini?”Zhao Da menjelaskan.

“Dimanakah peti-peti itu?”Ye Kai bertanya.

“Semuanya sebenarnya ditumpuk ditempat kosong dibelakang sana. Saat kebakaran terjadi kemaren, aku menyuruh mereka memindahkannya ke Vihara Dewa Guan, jadi paling tidak orang-orang yang mati dua hari terakhir ini akan memperoleh kenyamanan.”Zhao Da berkata.

“Orang-orang yang mati dua hari terakhir ini betul-betul telah memilih saat yang tepat dan tempat untuk pergi.”Ye Kai berkata.

“Tapi orang-orang yang masih hidup menjadi orang-orang yang tertinggal dibelakang dan masih harus bertahan terhadap berbagai kesulitan dari kota yang miskin dan terpencil ini.”Zhao Da berkata sambil menghela napas.

“Siapa bilang kota ini miskin? Disana pasti terdapat ribuan tael perak sedang menunggumu untuk kau miliki.”Ye Kai menjawab.

Zhao Da mengeluarkan tawanya dan berkata,”Terima kasih untuk doamu Tuan Ye, aku akan mencari uang perakku sekarang.”

Dia menggulung lengan bajunya dan berlari ke sana. Setengah jalan, dia membalikan kepalanya dan berkata,”Tuan Ye, kalau engkau mendapat musibah saat masih di Kota Perbatasan, aku akan memastikan untuk memilih peti mati yang paling bagus untukmu.”

Saat Ye Kai memandangnya bergegas, dia tidak tahu harus marah atau tertawa. Setelah beberapa saat, akhirnya dia tersenyum dan menggerutu pada dirinya sendiri,”Kampret, semoga aja gagal kau bajingan.”

________________________________________

Meskipun jalan utama adalah tempat yang paling penting di Kota Perbatasan, namun itu bukan satu-satunya jalan disana.

Belok ke kiri dari jalan utama adalah bagian dari kota yang lebih miskin dan kumuh. Orang-orang yang tinggal disini adalah penggembala, pengurus kandang kuda, atau pekerja dari salah satu toko.

Disana terlihat seorang wanita hamil yang sedang membungkukan badannya menghidupkan api untuk menghangatkan diri. Dia menggendong seorang anak kecil dipunggungya sementara tiga anak lainnya berdiri disisinya. Wajah mereka semuanya pucat dan wanita itu terlihat lebih kurus dari pada wanita tua.

Ye Kai menghela napas – kenapa selalu seperti itu semakin miskin seseorang, semakin banyak anaknya?

Apakah hal itu disebabkan karena mereka tidak mampu membeli lentera untuk penerangan dimalam hari, jadi mereka tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik untuk dilakukan?

Apapun kondisinya, semakin miskin seseorang, semakin banyak anaknya, dan semakin banyak anaknya, maka menjadi semakin miskin. Sepertinya hal itu menjadi nasib yang tidak dapat diubah dan dihindari. Ye Kai tiba-tiba menyadari bahwa hal ini merupakan masalah yang serius, namun dia tidak dapat berpikir cara untuk menghindarinya. Namun dia pecaya bahwa masalah ini pasti akan ada penyelesaiannya.

Sedikit lebih kedepan, dia dapat melihat vihara Dewa Guan yang sudah bobrok.

Baru hio di dalam vihara sangat lemah. Warna pada patung Dewa Guan mulai mengelupas. Pintu utama telah reot sebagian, dan peti-peti mati itu tertumpuk di halaman. Tidak cukup ruangan di halaman tersebut, sehingga peti mati itu harus ditumpuk satu sama lain.

Altar di depan patung masih cukup kokoh, cukup kokoh untuk menyangga orang yang berbaring diatasnya. Kenyataannya, terlihat seorang berbaring di atasnya.

Orang dengan wajah pucat putih yang menggengam dengan erat golok hitam pekat, dan sepasang mati yang cerah yang sedang menatap Ye Kai.

Ye Kai tersenyum..

Fu Hong Xue tidak tersenyum balik. Malah dia berkata dengan dingin,”Aku sudah katakan padamu sebelumnya, engkau jalan ke tujuanmu dan aku ke tujuanku.”

“Aku sudah mendengarnya.”

“Jadi kenapa engkau datang mencariku?”

“Siapa yang bilang aku sedang mencarimu?”

“Aku.”

Ye Kai tersenyum lagi.

“Di ruangan ini, ada seseorang yang terbuat dari daging dan seseorang yang terbuat dari kayu. Jangan katakan kepadaku kalau kau juga mencari seseorang yang terbuat dari kayu.”Fu Hong Xue berkata.

“Yang kau maksudkan Dewa Guan?”

“Yang aku tahu dia adalah patung kayu.”

Ye Kai menghela napas,” Aku tahu kau tidak pernah menghormati siapapun sebelumnya, namun paling tidak kau harus memperlihatkan rasa hormat padanya.”

“Kenapa?”

“Karena … karena dia telah mencapai pencerahan.”

“Dia adalah dewamu, bukan dewaku.”Fu Hong Xue berkata sambil tersenyum dingin.

“Engkau tidak percaya pada dewa sama sekali?”

“Aku tidak percaya hal-hal seperti itu, dan aku tidak dapat membayangkan apa yang telah dia lakukan agar pantas memperoleh rasa hormatku.”

“Paling tidak, dia tidak pernah membelok ke Cao Cao, dan dia tidak pernah menghianati teman-temannya.”

“Banyak sekali orang yang tidak pernah menghianati teman-temannya.”

“Tapi engkau harus tahu …”

“Semua yang aku tahu adalah bila dia tidak terlalu sombong dan egois, negara Han dari dinasti Shu tidak akan jatuh seperti itu.”

Ye Kai menghela napas,”Akui tahu kenapa engkau tidak menghormatinya.”

“Oh?”

“Karena semua orang lain menghormatinya. Engkau adalah tipa orang yang selalu berlawanan dengan setiap orang lain.”

Fu Hong Xue tiba-tiba berbalik, meloncat turun dan perlahan-lahan berjalan keluar.

“Engkau ingin pergi begitu saja?”Ye Kai berkata.

“Suasana tidak sopan disini terlalu tinggi bagiku untuk dapat kutahan.”Fu Hong Xue menjawab.

“Bila engkau hidup lama, kau harus kurangi kekasaranmu sekali wakut.”Ye Kai berkata.

“Baiklah, itu dilihat dari sudut pandangmu. Apapun itu, tidak ada hubungannya denganku.”Fu Hong Xue berkata.

“Lalu apa sudut pandangmu?”Ye Kai bertanya.

“Tidak ada hubungannya denganmu juga.”Fu Hong Xue berkata dengan dingin.

“Apakah itu artinya engkau sungguh-sungguh tidak ingin hidup lebih lama?”Ye Kai bertanya.

“Aku tidak pernah hidup seharipun di dunia ini.”Fu Hong Xue menjawab.

Dia tidak menolehkan kepalanya. Ye Kai tidak dapat melihat ekspresi diwajahnya, namun dia dapat melihat bahwa tangan yang memegang golok mengenggam dengan kerasnya. Dia dapat menggenggam sekeras yang dia inginkan, namun dia tidak dapat melenyapkan rasa sakit dan penderitaan dibenaknya.

Ye Kai menatapnya dan berkata,”Tidak peduli apapun yang kau pikirkan, kau akan tiba di duni ini cepat atau lambat, karena engkau harus tetap hidup. Kau tidak punya pilihan selain tetap hidup.”

Fu Hong Xue kelihatannya seperti yang tidak mendengarkannya sama sekali. Kaki kirinya membuat satu langkah kedepan, dan kaki kanannya diseret dari belakang.

Terlihat kecemasan di raut wajah Ye Kai saat melihat Fu Hong Xue melangkah. Meskipun goloknya lebih cepat dari pada Lu Xiao Jia, kedua kakinya …

Fu Hong Xue telah meninggalkan halaman sekarang. Ye Kai tidak berusaha untuk menahannya, juga tidak memberitahukan mengenai Lu Xiao Jia. Paling tidak butuh empat jam lagi sebelum Lu Xiao Jia tiba di Kota Perbatasan. Dia tidak ingin Fu Hong Xue menjadi cemas hingga matahari terbenam.

Sebetulnya dia datang untuk memperingatkan Fu Hong Xue mengenai Lu Xiao Jia, namun sekarang dia kesini karena peti-peti mati. Peti tersebut semuanya masih baru dan mengkilat, namun setelah diseret dari satu tempat ke tempat lain, kilatnya telah hilang. Beberapa telah hangus karena api.

Bila Zhai Da tiba-tiba tidak memindahkan peti-peti itu, mungkin semuanya telah terbakar menjadi garing pada malam sebelumnya. Atau, mungkin, itu memang disengaja oleh orang yang membakar.

Ye Kai mengambil sekepal pasir dan mulai melempari peti itu satu persatu. Saat pasir tersebut menumbuk peti, terdengar suara gema BBBUUUNNGGG. Jelas peti tersebut kosong.

Namun saat dia melemparkan pasir pada peti ke delapan, suara yang terdengar berbeda. Peti tersebut kelihatannya tidak kosong – apa yang terdapat di dalamnya?

Kebanyakan peti-peti itu kosong, tapi yang mengejutkan ada beberapa yang tidak kosng. Pendangan keheranan muncul di wajah Ye Kai, dia berjalan maju dan memindahkan beberapa peti.

Kenapa tiba-tiba dia tertarik dengan peti-peti ini?

Dia membuka satu dari mereka, ternyata betul-betul tidak kosong. Ada mayat dibagian dalam peti itu.

Memangnya apa yang berada di dalam peti mati selain mayat? Seharusnya tidak ada sesuatu yang aneh menemukan sebuah mayat di dalam peti mati.

Namun mayat ini yang aneh, karena mayat tersebut seseorang yang baru saja berbicara dengan Ye Kai. Mayat ini adalah Majikan Zhang.

Tubuhnya terbaring dengan tenang di dalam peti mati, yang hilang adalah celemek berminya yang selalu dia kenakan. Majikan ini yang hampir separuh hidupnya bekerja mati-matian akhirnya terbaring beristirahat selamanya.

Namun Ye Kai baru saja bertemu dengannya di kota, celemek berminya tersebut masih tergantung di bagian depan tubuhnya. Bagaimana dia bisa berakhir di dalam peti mati ini?

Yang aneh lagi adalah Chen Da Guan, Ding Lao Si, Majikan Song dan beberapa orang lainnya yang memiliki toko-toko di jalan tersebut juga berada di dalam peti-peti ini. Mereka baru saja berada dikota, bagaimana tiba-tiba mereka berakhir di dalam peti-peti mati ini?

Sejak kapan mereka mati?

Dia merasakan dada mereka semua telah mendingin dan kaku. Mereka telah mati paling tidak dua puluh jam yang lalu. Namun bila seperti itu, jadi siapakah orang-orang itu yang berbicara dengan Ye Kai di kota?

Saat Ye Kai memandang tubuh-tubuh tersebut, tidak ada sedikitpun rasa takut atau kaget di wajahnya. Sebaliknya, dia malah tersenyum, sepertinya sangat puas dengan dirinya. Apakah hal ini memang sudah diharapkannya?

Bila mereka ada mayat, tentu saja karena hal itu disebabkan karena kematian.

Ye Kai melihat dengan seksama luka-luka mereka dengan hati-hati beberapa saat. Kemudian, dia tiba-tiba menggeser semua tubuh mati tersebut keluar dan menyembunyikannya diantara semak-semak dibelakang vihara. Setelah itu, dia mengembalikan kembali peti-peti itu seperti posisi semula.

Namun, Ye Kai belum berani pergi. Dia melompat ke atas atap vihara dan memutuskan untuk menunggu.

Siapakah yang dia sedang tunggu?

Dia tidak perlu menunggu terlalu lama. Sesaat setelahnya, seorang mengendarai kuda dengan cepat ke arah vihara dari padang rerumputan. Pengendara tersebut mengenakan pakaian yang sangat bagus, punuk di punggungnya berdiri tegak. Dia adalah Naga Punggung Emas Ding Qiu.

Ding Qiu tidak melihatnya saat dia berhenti dengan mendadak di depan vihara dan turun dari pelananya. Peti-peti itu itu masih tergeletak di dalam halaman, sepertinya sedikitpun tidak terusik.

Ding Qiu melihat sekelilingnya dan tidak melihat seseorangpun. Ini adalah saat yang tepat untuk menyalakan api, karena itu dia segera melakukan hal itu. Menyalakan api merupakan ketrampilan tersendiri, namun dia cukup handal melakukan hal ini. Saat api dinyalakan, api tersebut menyebar dengan cepatnya.

Orang yang membawa peti-peti mati ini adalah dia, dan orang yang mencoba membakarnya adalah dia juga. Kenapa dia harus membuang banyak tenaga memindahkan peti-peti mati ini kesini hanya untuk dibakar?

________________________________________

Matahari telah tinggi diangkasa, dan akan tetap berada disana beberapa saat sebelum terbenam.

Ye Kai memutuskan untuk kembali ke kota. Dia betul-betul tidak ada pilihan, sepertinya dia ingin sekali menelan seluruh kuda.

Vihara Dewa Guan telah hangus terbakar selama beberapa saat, apri telah mulai padam saat asap tebal menyebar kesekelilingnya.

“Bagaimana vihara Dewa Guan dapat terbakar?

“Itu pasti perbuatan orang pincang itu lagi.”

“Seseorang telah melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri dia sedang tertidur di atas altar di dalam vihara tersebut.”

Orang-orang berkerumun di depan api berbicara dan berdiskusi. Diantara mereka adalah Chen Da Guan, Ding Lao Si, dan Majikan Zhang. Namun Ye Kai sama sekali tidak terlihat kaget, sepertinya dia telah berharap melihat mereka disana.

Namun dia tidak mengharapkan melihat Ma Fang Ling juga.

Ma Fang Ling melihatnya dan segera terlihat pandangan aneh diwajahnya sepertinya dia sedang menimbang-nimbang untuk melambaikan tangannya kepadanya atau tidak.

Ye Kai malah berjalan ke arahnya dan berkata,”Bagaimana kabarmu?”

Ma Fang Ling menggigit bibirnya dan menjawab,”Tidak baik.”

Dia tidak mengenakan baju merah hari ini. Bajunya semuanya berwarna putih, dan wajahnya juga putih pucat. Dia terlihat menjadi sangat kurus. Apakah karena tidak tidur selama dua hari ini?

Ye Kai mengedipkan matanya dan berkata,”Dimanakah Majikan Ketiga?”

Ma Fang Ling menatapnya balik dan menjawab,”Mengapa kau ingin tahu?

“Aku hanya bertanya.”

” Tidak butuh perhatianmu.”

Ye Kai menghela napas, kemudian menjawab sambil tersenyum,”Baiklah, aku tidak akan bertanya.”

Ma Fang Ling masih menatapnya seraya bertanya,”Aku ingin tahu sesuatu juga, darimana saja kau?”

Ye Kai tersenyum dan berkata,”Karena engkau tidak menjawabku, jadi kenapa aku harus menjawabmu?”

“Untuk menyenangkanku.”

“Aku sungguh-sungguh ingin mengatakannya kepadamu, namun suatu hal yang dilakukan seorang laki-laki, yang tidak ingin diketahui oleh seorang wanita.”

Ma Fang Ling menggertakan giginya dan berkata dengan pahit,” Jadi kau melakukan suatu hal yang tidak perlu melihat cahaya matahari.

“Paling tidak aku tidak membuat api.”

“Lalu siapa?

“Kenapa engkau tidak menebak?”

“Apakah kau telah melihat seseorang yang bernama keluarga Fu?”

“Tentu saja.”

“Kapan?”

“Aku rasa kemaren.”

Ma Fang Ling membelalakan matanya, kemudian membanting kakinya ke atas tanah dengan keras sesaat wajahnya memerah.

Chen Da Guan berpikir sejenak, kemudian bertanya,”Apakah kau pikir dia pergi mencari Majikan Ketiga?”

“Dia tidak akan dapat menemukannya.” Ma Fang Ling berkata.

“Kenapa?” Chen Da Guan berkata.

“Karena aku sendiripun tidak tahu dimana dia.” Ma Fang Ling menjawab.

Kenapa tiba-tiba Majikan Ketiga menghilang? Kemanakah dia pergi?

Seseorang baru saja ingin bertanya namun tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang sangat kencang meninterupsi kata-katanya. Seekor kuda yang hitam pekat dengan rambut yang sehalus sutera dan kulit yang berkilat dipacu ke arah mereka dari luar kota. Dia atas kuda tersebut terdapat seorang laki-laki dengan otot-otot yang menonjol, dia berkepala gundul plontos dan mengenakan baju berwana hitam dengan benang berwarna emas. Kedua tangannya tidak memegang tali kekang kuda, tapi malah mengangkat sebuah tiang yang sangat tinggi.

Di atas tiang tersebut terlihat seseorang.

Seseorang yang mengenakan baju merah, dengan kedua tangannya kebelakang, berdiri di ujung atas tiang bendera yang tinggi tersebut. Kuda tersebut dipacu dengan sangat cepat, namun orang tersebut dapat berdiri dengan seimbangnya, mungkin lebih seimbang daripada dia berdiri di atas tanah.

Ye Kai hanya melihat sekilas untuk menyadari siapakah dia. Dia menghela napas dan berkata,”Dia betul-betul kepagian.

Saat kuda hitam tersebut berlari ke jalan, setiap orang tidak dapat menahan diri untuk melihat keatas dan menatapnya dengan penuh keheranan dan kegembiraan. Setiap orang pasti telah mengenali siapakah orang ini.

Tiba-tiba, kuda hitam tersebut meringkik dengan keras dan berhenti.

Orang dengan baju merah itu masih menekukan tangannya kebelakang sambil diam berdiri diujung atas tiang tersebut.

“Apakah kita telah sampai?”

“Ya.”Orang gundul itu menjawab dengan terburu-buru.

“Apakah orang-orang telah datang menyambut kita?”

“Ada beberapa.”

“Orang-orang seperti apa?”

“Mereka kelihatannya orang-orang dari desa.”

Laki-laki dengan baju merah itu menganggukan kepalanya,”Cuaca cukup bagus hari ini, hari yang sempurna untuk membunuh.”

Ye Kai menghela napas dan berkata,”Sayangnya engkau hanya dapat membunuh beberapa burung di atas sana.”

Laki-laki baju merah itu segera melihat kebawah dan menatapanya.

Dari bawah, siapaun dapat mengatakan dia adalah seorang pemuda yang sangat tampan dengan sepasang mata yang bersinar.

Dari atas tiang tersebut, dia menatap Ye Kai dan bertanya dengan dengan tajam,”Apa yang baru saja kau katakan, kesiapa kau bicara?”

“Kau.”Ye Kai menjawab.

“Tahukah kau siapa aku?”Laki-laki baju merah itu bertanya.

“Kau pasti seseorang yang membunuh tanpa berkedip, Lu Xiao Jia?”

“Paling tidak aku memiliki mata yang bagus.”Laki-laki baju merah itu menjawab dengan tertawa dingin.

“Aku tersanjung.”

“Dan siapakah kau?”

“Nama keluargaku Ye.”

“Orang yang membuat mereka mengundangku untuk dibunuh adalah kau?”

“Aku kira bukan.”

Laki-laki baju merah itu menghela napas dan berkata dengan dingin,”Betapa sayangnya.”

Ye Kai menghela napas juga dan menjawab,”Sungguh-sungguh sayang sekali.”

“Kau pikir disayangkan juga?”

“Sedikit.”

“Setelah aku membunuh orang tersebut, bagaimana kalau aku kembali lagi untuk membunuhmu?”

“Bagus sekali!”Ye Kai menjawab, memandang dengan antusiasnya.

Laki-laki baju merah itu mengangkat kepalanya dengan angkuh dan mengejek,”Siapapun yang berkata seperti itu dia benar-benar laki-laki yang sangat buta.”

“Ya, kemungkinan buta.”Laki-laki gundul itu berkata.

“Apakah ada seseorang yang bernama keluarga Chen disini?”Laki-laki baju merah itu bertanya.

Chen Da Guan melangkah maju dan berkata,”Ini aku.”

“Dimanakah orang yang membuat kau mengundangku untuk membunuh?”

Chen Da Guan tersenyum dan berkata,”Pendekar Lu tiba terlalu pagi dari yang aku harapkan, orang tersebut belum kesini.”

“Pergi carilah dia dan katakan kepadanya kemari secepatnya supaya aku dapat membunuhnya. Aku tidak mau menghabiskan waktu disini.”Laki-laki baju merah itu berkata dengan eskpresi wajah jengkel.

Dari caranya dia berbicara, sepertinya mati di bawah pedangnya merupakan suatu kehormatan, jadi orang tersebut harus menunggu untuk dibantai.

Bahkan Chen Da Guan tidak tahu pasti apakah harus tertawa atau menangis saat dia mendengar kata-kata itu. Dia mencoba sebaik untuk menahan senyumnya dan bertanya,”Karena Pendekar Lu telah tiba, kenapa tidak turun ke bawah dan duduk dulu.”

Laki-laki baju merah itu menjawab dengan dingin,”Jauh lebih bagus di atas sini …”

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara kayu patah yang kencang sesaat tiang tempat dia berdiri telah tiba-tiba jatuh.

Laki-laki baju merah itu mengembangkan lengan bajunya dan bersalto dengan gerakan yang memutas, dia terlihat seperti kelelawar merah yang perlahan-lahan turun melayang ke atas tanah.

Setiap orang memandang kepadanya. Ma Fang Ling tiba-tiba bertepuk tangan dan berseru,”Ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat!”

Sesaat kata-kata tersebut terucap dari mulutnya, laki-laki baju merah itu melayang kehadapannya dan menatapnya langsung kematanya dan bertanya,”Dan siapakah kau?”

Kedua matanya hitam dan bercahaya. Wajah Ma Fang Ling telah menjadi merah sesaat dia menundukan kepalanya dan menjawab,”Nama … nama keluargaku Ma.”

Suara patah yang keras kembali terdengar saat sisa tiang bendera yang telah patah terjatuh ke atas salah satu atap rumah dan seperti akan menimpa kepala beberapa orang. Laki-laki gundul itu tiba-tiba bergerak cepat dan menyundul sisa tiang bendera tersebut dengan kepalanya, dan menerbangkannya lebih dari lima puluh kaki melewati atap-atap rumah.

Ma Fang Ling tidak tahan terkikik dan berkomentas,”Orang itu memiliki kepala yang sungguh-sungguh keras.”

“Aku harap kepalamupun keras seperti kepalanya.”Laki-laki baju merah itu berkata.

Ma Fang Ling berkedip-kedip dan bertanya dengan terkejut,”Kenapa begitu?”

Ekspresi laki-laki baju merah itu merengut sesaat menjawab,”Bagaimana bisa tiang bendera itu tiba-tiba patah? Jangan katakan padaku ada hantu. Sesaat aku melihatmu aku tahu engkau tidak bermaksud baik.”

Wajah Ma Fang Ling memerah, kali ini dengan kemarahan. Cambuk kudanya sudah ditangannya, tiba-tiba dia melecutkannya kearah laki-laki baju merah tiu.

Laki-laki baju merah itu dengan sederhana menangkapnya dan mencengkeram ujung cambuk itu dengan tangannya dan tertawa dengan dingin,”Sungguh berani, kau cukup punya nyali, kau berani memukulku?”

Dia menarik tangannya ke belakang dan Ma Fang Ling kehilangan keseimbangannya dan terjatuh kearahnya. Gadis itu ingin sekali menampar wajahnya namun saat tangannya bergerak, dia menahannya juga.

Leher Ma Fang Ling telah memerah. Dia menggertakan giginya dan berteriak,”Lepaskan … lepaskan aku!”

“Tidak.”

“Apak yang kau inginkan?”

“Berlutut dan menyembah tiga kali, kemudian merangkah memutar dua kali, cepat lakukan.”

“Lupakan!” Ma Fang Ling berteriak.

“Jadi lupakan melepaskanmu.”

Ma Fang Ling menggigit bibirnya dan membantingkan kedua kakinya,”Orang yang bernama keluarga Ye, apakah kau sudah mati?”

Ye Kai menghela napas dan berkata,”Ada seseorang yang mati disini, tapi bukan aku.”

“Kalau bukan kau, lalu siapa?”

Ye Kai tersenyum dan mengangkat kepalanya. Dia melihat ke arah atap diseberang dimana mereka berdiri dan berkata,”Sudah jelas engkau yang membuat patah tiang itu, kenapa engkau membiarkan orang lain disalahkan?”

Semua orang tidak dapat menahan untuk tidak memandang ke atas atap juga, tapi tidak seorangpun terlihat.

Tiba-tiba, ada sesuatu yang disambitkan dari balik atas menuju ke atas tanah. Biji kacang yang sudah kosong.

Sengah menit kemudian, sesuatu yang lain meluncur dari balik atap. Kali ini, berupa selembar kulit kering berbentuk bundar.

Sorot mata laki-laki baju merah itu berubah. Dia mengatupkan giginya dan berkata,”Kelilhatannya hantu itu telah mengikuti kita sampai sini juga.”

Laki-laki gundul itu menganggukan kepalanya, tiba-tiba dia berteriak. Dia telah melompat hingga tujuh kaki ke udara, memutar-mutar sebagian tiang bendera yang patah sebelum dia melemparkannya ke atap. Suara yang terdengar kemudian adalah suara putaran dari tiang tersebut, seluruh rumah kelihatannya akan runtuh.

Tiba-tiba, sebuah bayangan hijau terbang keluar dari balik atap dengan sekejap, bagian lain dari tiang yang telah terpotong. Kemudian yang terpukul oleh laki-laki gundul tersebut hanya udara kosong. Dia tidak dapat menahan dorongan yang dia lakukan sehingga dia terjatuh bergedebukan ke atas tanah.

Patahan tiang yang lainnya kembali beterbangan ke udara seperti cahaya hijau meluncur dari atas atap. Tiang tersebut telah terpotong menjadi tujuh atau delapan bagian dan jatuh ke atas tanah.

Setiap orang melihat dengan penuh takjub.

Ye Kai menghela napas dan berkata,”Betapa pedang yang cepat. Betul-betul sesuai dengan namanya.”

Laki-laki baju merah membanting kakinya dengan keras dan berteriak,”Karena engkau disini, kenapa tidak keluar?”

Suara dari baik atas menjawab,”Lebih bagus di atas sini.”

Laki-laki baju merah itu maju kedepan dan berteriak,”Kenapa kau selalu ikut campur urusanku?”

“Kenapa kau selalu ikut campur urusan orang lain?”Suara itu menjawab.

“Siapa yang aku usik?”Laki-laki baju merah bertanya.

“Engkau sudah tahu bahwa gadis itu tidak mematahkan tiang itu, kenapa engkau membuatnya sulit?”

“Karena aku suka melakukannya.”

Ye Kai tertawa. Perbuatan Ma Fang Ling sudah tidak masuk diakal. Siapa tahu ada orang lain yang lebih tidak masuk akal dari dia?

“Karena gadis itu menjengkelkanku, apa urusannya denganmu? Kenapa engkau membelanya? Saat seseorang membuat kesulitan padaku, kenapa kau tidak membelaku juga?”Laki-laki baju merah itu berteriak balik.

“Siapakah kau?”Suaara itu bertanya.

“Aku … aku …”

“Orang yang membunuh tanpa berkedip Lu Xiao Jia. Kapan orang lain menyulitkanmu?”

Laki-laki baju merah itu menundukan kepalanya dan berkata,”Siapa yang bilang aku Lu Xiao Jia?”

“Bukankah kau berkata seperti itu pada dirimu sendiri?”Suara dibalik atap menjawab.

“Orang itu yang mengatakannya, bukan aku.”Laki-laki baju merah berkata, sambil menunjuk ke arah Ye Kai.

“Kalau kau bukan Lu Xiao Jia, jadi siapakah kau?”Suara itu bertanya.

“Kau.”Laki-laki baju merah menjawab.

“Bila aku Lu Xiao Jia, lalu siapa yang berpura-pura menjadi aku?”Suara itu berkata.

Laki-laki baju merah kembali angkat suara dan berkata,”Karena aku menyukaimu, aku ingin memancingmu keluar.”

Sesaat dia mengatakan hal itu, pandangan kaget terlihat diwajah kerumunan orang. Mereka semua mentapnya dengan mata yang terbuka lebar.

“Apa yang kalian lihat? Kenapa aku tidak boleh menyukainya?”Laki-laki baju merah berkata.

Dia tiba-tiba mengangkat kain merah dikepalanya dan berteriak,”Apakah kalian semua buta?Apakah kalian tidak bisa melihat aku adalah seorang wanita?”

Dia betul-betul seorang wanita!

“Aku telah melepaskannya, kenapa engkau belum turun ke bawah sekarang?”

Tidak ada respon dari balik atap.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun? Apakah kau tiba-tiba jadi bisu?”

Masih tidak ada respon. Wanita baju merah menggigit bibirnya, tiba-tiba dia melompat ke atas menuju ke atap.

Apakah ada seseorang di balik atap? Disana tidak ada seorangpun kecuali sekantong kulit kacang kosong.

Wajahnya berubah warna saat wanita itu berteriak,”Sikecil Lu, keneraka mana kau pergi mati? Keluarlah!”

Tidak ada seorangpun yang keluar.

Dia membantingkan kedua kakinya dan berteriak,” Lihatlah berapa lama kau dapat bersembunyi! Meskipun kau lari ke ujung langitpun akan ku kejar!”

Tubuhnya yang terbungkus baju merah telah melesat dan kemudian dia telah menghilang. Laki-laki gundul itu tiba-tiba melompat, melompat ke atas kudanya dan mencongklangnya pergi.

Chen Da Guan terlihat terkejut, akhirnya dia menghela napas dan menggerutu,” Wanita itu memiliki cukup banyak masalah.”

Ma Fang Ling terlihat terkejut saat dia berkata pada dirinya sendiri dan menegaskan,” Tapi aku mengaguminya.”

“Kau mengaguminya?”Chen Da Guan bertanya dengan padangan serius.

Ma Fang Ling menundukan kepalanya dan berkata,” Dia tidak takut menyatakan kepada seseorang yang dia sukai bahwa dia menyukainya. Paling tidak dia lebih berani daripadaku.”

Angin kencang bertiup. Angin itu berhembus menjatuhkan kulit-kulit kacang di atas atap, namun masih belum dapat membuat cerah hati Ma Fang Ling yang sedang gundah. Kedua matanya melekat ke kejauhan, namun dia tidak dapat menahan untuk memandang Ye Kai sekali-sekali.

Ye Kai menatap kulit kacang yang tertiup angin, sepertinya tidak ada lagi pemandangan lain yang lebih baik didunia ini.

Untuk suatu sebab, wajah Ma Fang Ling memerah lagi. Dia menghentakan kakinya ringan dan bersiul dan kuda tunggannya yang berwarna merah berlari kearahnya dari kejauhan.

“Karena kau sangat menyukainya, maka ambilah semuanya.”

Sesaat kemudian kulit-kulit kacang jatuh ke atas lantai, orang dan kuda telah pergi jauh.

Chen Da Guan menyeringai dan berkata,” Sebenarnya, tidak mengatakan dengan keras mungkin tidak berbeda dengan berbicara dengan keras. Bukankah kau setuju, Tuan Ye?”

“Lebih baik kalau mereka tidak berbicara.”Ye Kai menjawab.

“Kenapa begitu?”

“Karena orang yang berbicara terlalu banyak menyebalkan.”

Chen Da Guan tersenyum, tentu saja senyum yang palsu.

Ye Kai berjalan melewatinya dan mendorong membuka pintu sempit itu.” Tidak bicara baik-baik saja, namun tidak makan sudah tidak tahan lagi. Bagaimana beberapa orang tidak dapat memahami hal sederhana seperti itu?”

Tiba-tiba, sebuah suara menjawab,” Selama ada kacang, tidak makan baik-baik saja.”

Orang itu sedang duduk di dalam ruangan utama dengan punggungnya mengarah kepintu. Sekantong besar kacang tergeletak di atas meja di depannya. Dia membuka sebiji kacang, menjentikannya ke udara, dan menangkap dengan mulutnya. Dia menjentikan dengan sangat tinggi dan menangkapnya dengan tepat.

Ye Kai tersenyum dan bertanya,” Apakah kau tidak pernah menjatuhkannya?”

Orang itu menjawab tanpa menoleh,” Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Karena kedua tanganku sangat mantap dan mulutku juga sangat mantap.

“Itulah sebabnya orang lain memintamu untuk membunuh mereka.”

Membunuh betul-betul membutuhkan kedua tangan yang mantap dan mulut yang mantap.

“Sayangnya mereka tidak memintaku membunuhmu.”

“Setelah kau membunuh orang yang seharusnya kau bunuh, kenapa kau tidak balik kembali untuk membunuhku?”

“Hebat sekali!”

“Ye Kai mulai tertawa. Orang itu tiba-tiba mulai tertawa juga. Chen Da Guan yang baru saja melangkah masuk, memandang dengan ketakutan.

Ye Kai melangkah, duduk, dan mengambil kacang dengan kedua tangannya. Senyum orang tersebut tiba-tiba menghilang.

Dia adalah seorang pemuda, pemuda yang aneh, dengan sepasang mata yang aneh. Bahkan saat dia tertawa, matanya sedingin es. Kedua mata tersebut adalah mata orang mati, seratus persen tanpa emosi dan seratus persen tanpa ekspresi.

Dia menatap kearah kacang di tangan Ye Kai dan berkata,” Lepaskan.”

“Aku tidak boleh memiliki kacang ini?” Ye Kai bertanya.

“Kau dapat memintaku membunuhku, atau kau dapat membunuhku dengan kedua tanganmu, tapi kau tidak dapat memiliki kacang itu.” Laki-laki itu menjawab dingin.

“Kenapa?”

“Karena Lu Xiao Jia berkata seperti itu.”

“Siapakah Lu Xiao Jia?”

“Aku.”

Kedua matanya seperti abu keabu-abuan yang mematikan, namun bercahaya seperti mata pedang.

Ye Kai meneliti kacang di tanganya, kemudian berkata,” Kelihatannya ini hanyalah sebuah kacang biasa.”

“Betul.”

“Tidak berbeda dari kacang lainnya di dunia ini.”

“Tidak ada bedanya sama sekali.”

“Jadi kenapa aku harus memakannya?”

Ye Kai tersenyum dan perlahan-lahan meletakan kacang tersebut kembali ke atas meja. Lu Xiao Jia tersenyum juga, namun kedua matinya masih dingin membeku.

“Kau pasti Ye Kai.”

“Oh?”

“Selain Ye kai, tidak ada orang lain yang aku pikir akan sepertimu.”

“Apakah suatu pujian?”

“Sedikit.”

Ye Kai menghela napas kemudian tersenyum dan berkata,” Sayang sekali, bahkan dengan sepuluh kantong pujianpun aku masih tidak pantas untuk mendapatkan sebiji kacang.”

Lu Xiao Jia menatapanya, setelah beberapa saat, dia perlahan-lahan bertanya,” Engkau tidak pernah membawa senjata?”

“Paling tidak, tidak seorangpun yang pernah melihatku membawa senjata.”

“Kenapa?”

“Tebaklah.”

“Karena kau tidak pernar membunuh? Atau mungkin karena kau tidak membutuhkan senjata untuk membunuh?”

Ye Kai mulai tertawa, namun tidak terlihat sedikitpun tawa dikedua matanya.

Kedua matanya melekat pada pedang Lu Xiao Jia. Sungguh-sungguh pedang yang tipis, setipis pisau cukur, setajam alat cukur juga.

Sebuah pedang tanpa sarung.

Pedang ini tergantung miring pada ikat pinggang dipinggangnya.

“Kau tidak menggunakan sarung?”

“Paling tidak, tidak seorangpun yang pernah melihatku menggunakan sarung.”

‘Kenapa?”

“Tebaklah.”

“Karena kau tidak menyukai sarung? Atau mungkin pedang itu tidak memiliki sarung?

“Saat sebuah pedang diasah, maka tidak ada sarung.”

“Oh?”

“Sarung digunakan setelahnya.”

“Lalu Kenapa tidak ada sarung dipedangmu?”

“Tentu saja.”

“Pedang yang ditakuti, bukannya sarungnya.”

“Masuk akal.”

“Jadi sarung tidak berguna.”

“Engkau adalah seseorang yang tidak suka hal yang tidak berguna?”

“Aku hanya membunuh orang-orang yang tidak berguna.!”

“Orang –orang yang tidak berguna?”

“Beberapa orang di dunia ini, keberadaan mereka tidak berguna.”

Ye Kai tersenyum,”Alasanmu sungguh-sungguh membingungkan.

“Jadi kau mengatakan bahwa kau setuju?”

“Aku kenal dua orang yang tidak pernah membawa sarung pedang, namun alasan mereka tidak pernah membingungkan sepertimu.”Ye Kai berkata sambil tersenyum.

“Mungkin karean kau tidak mengerrti apa yang telah mereka coba katakan padamu.”

“Atau mungkin mereka tidak ingin mengatakan apapun.”

“Oh?”

“Meraka adalah seorang laki-laki yang tidak banyak kata-kata. Selama meraka memahami keyakinan mereka, mereka tidak perlu menjelaskannya pada siapapun juga.”

Lu Xiao Jia menatap mereka dan bertanya,”Tahukah kau orang seperti apakah mereka?”

Ye kai menganggukan kepalanya.

“Jadi kau tahu terlalu banyak,”Lu Xiao Jia menjawab dingin.

“Tapi aku tidak tahu orang seperti apakah kau?”

“Lebih baik kau tidak tahu, atau orang lain yang pertama mati disini bukanlah Fu Hong Xue, tetapi kau.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang, aku rasa tidak perlu membunuhmu dulu.”

Ye Kai tersenyum dan menjawab,”Karena kau tidak perlu membunuhku dulu, tidak berarti kau dapat membunuhku juga.”

Lu Xiao Jia tersenyum dingin.

“Apakah kau pernah melihat tekniknya?”Ye Kai bertanya.

“Tidak.”

“Kalau kau tidak pernah, kenapa kau begitu yakin.”

“Tapi aku hanya tahu dia pincang.”

“Banyak sekali jenis orang pincang.”

“Tapi hanya satu teknik orang cacat, hanya satu macam saja.”

“Apakah itu?”

“Tetap diam dan tidak bergerak, bergerak hanya untuk bereaksi. Inti dari tekniknya adalah dia harus lebih cepat daripada musuhnya.”

Ye Kai menganggukan kepalanya,”Itulah sebabnya dia bergerak belakangan, namun memukul lebih dahulu.”

Lu Xiao Jia tiba-tiba mengambil sebiji kacang dan menjentikannya ke udara. Dalam sekejap, pedangnya telah melesat keluar. Sebelum mata dapat mengikuti gerakan, dia telah mengembalikannya kepinggangnnya. Dan ditangannya terdapat sebuah kacang yang telah terkupas dengan bersih, kulit dan selaputnyanya telah dibersihkan. Bahkan bila melakukannya dengan tangan, tidak akan sebersih itu. Kulit kacang telah terpotong menjadi potongan-potongan yang kecil.

Teriakan kekaguman yang keras dan suara tepuk tangan bergema di dalam ruangan. Bahkan Ye Kai tidak tahan untuk bertepuk-tangan juga meski hanya di dalam hatinya.

Pedang yang sungguh-sungguh cepat!

Lu Xiao Jia meletakan kacang yang telah bersih terebut ke dalam mulutnya dan bertanya,” Kau pikir dia lebih cepat dariku?”

Ye Kai terbenam dalam pikirannya, kemudian menghela napas dan menjawab,” Aku tidak tahu … lebih baik aku tidak tahu.”

“Sayang sekali kacang-kacang ini.”

“Engkau salah satu yang memakan mereka.”

“Kacang harus dikupas satu persatu, agar supaya dapat dinikmati satu persatu.”

“Aku rasa aku lebih menyukai kacang yang telah dikupas juga.”

“Sayangnya kau tidak bisa melakukannya.”

Dengan sekali gerakan tangan, semua kacang itu telah beterbangan membentuk satu garis lusur, menancap seperti keong di tiang.

“Kau lebih menyukai kacangmu terbuang percuma, daripada orang lain merasakannya?”

“Aku sama seperti wanita, aku lebih baik membunuh mereka daripada membiarkan orang lain mencicipinya.”

“Jadi apapun yang kau nikmati, kau tidak akan membiarkan orang lain memilikinya?”

“Tepat sekali.”

Ye Kai menghela napas dan berkata tegas,” Untung sekali yang kau sukai hanyalah kacang dan wanita.”

“Aku sangat menyukai uang juga.”

“Oh?”

“Karena tanpa uang, tidak akan ada kacang, dan sudah pasti tidak ada wanita.”

“Ya, meskipun banyak sekali di dunia ini yang lebih penting dari pada uang, semuanya itu tidak akan dapat diperoleh kalau kau tidak punya uang.”

Lu Xiao Jia memperlihatkan senyumnya. Senyumnya terlihat kejam dan aneh.

“Kau telah berbicara setengah harian mengenai hal-hal yang biasanya dikatakan oleh Ye Kai.”

ooOOOoo

Bagaimana hasil dari pertemuan antara Fu Hong Xue dan Lu Xiao Jia? Teka-teki apalagi yang dihadapi oleh Ye Kai?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: