Kumpulan Cerita Silat

28/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:04 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 09: Keberhasilan Dan Kegagalan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Beng Wi selalu bersikap amat waspada walaupun sedang tidur. Seorang laki-laki yang dikenal di dunia Kangouw sebagai Sam-thau-coa (Ular Berkepala Tiga) tentulah seorang yang selalu waspada, kalau tidak kepalanya tentu akan telah lama ditebas orang walaupun dia memiliki 30 kepala. Tapi waktu ia terbangun dari tidurnya malam ini, sudah ada seseorang yang berdiri di ujung ranjangnya, sedang menatapnya dengan sepasang mata yang berkilauan. Malam masih larut, di kamar itu tidak ada cahaya, maka ia tidak bisa melihat wajah orang ini.

Tiba-tiba ia merasa bahwa telapak tangannya telah dipenuhi oleh keringat dingin. Orang ini tidak bergerak, ia pun tidak. Ia sengaja mengeluarkan suara dengkuran beberapa kali untuk membuat orang ini yakin bahwa ia masih tidur. Tiba-tiba, ia bergerak dan berusaha meraih golok yang tersembunyi di bawah ketiaknya. Tapi gerakan orang itu jauh lebih cepat. Saat lengannya mulai bergerak, orang ini segera menekan pundaknya ke tempat tidur. Tidak pernah seumur hidupnya ia bertemu dengan orang yang memiliki sepasang tangan yang demikian kuat, seandainya tangan itu menjepit tenggorokannya, nafasnya tentu akan segera berhenti.

Kenyataannya, nafasnya memang hampir saja berhenti.

“Apa yang kau inginkan?” Ia bertanya dengan suara gemetar.

Jawaban orang ini sangatlah sederhana.

“Uang.”

“Berapa banyak?” Beng Wi segera bertanya.

“Seratus ribu tael!” Ternyata orang ini pun amat tamak. “Jika kau tidak bisa menyerahkan 100.000 tael, aku akan mencabut nyawamu!”

“Aku akan menyerahkan uang itu!” Beng Wi bahkan tidak bimbang sedikit pun.

“Aku menginginkannya sekarang juga!”

“Aku bisa memberikannya sekarang juga!”

Orang itu tiba-tiba tertawa.

“Aku tidak tahu kalau Beng-congpothau adalah orang yang begitu murah hati.”

Ketika ia tertawa, suaranya pun berubah. Suara yang sangat ia kenal.

“Liok Siau-hong?” ucap Beng Wi dengan terkejut.

“Ini aku.” Orang itu mengangguk.

Beng Wi menarik nafas dalam-dalam beberapa kali sebelum dia mengeluarkan keluhannya.

“Ini lelucon yang amat lucu, aku hampir mati ketakutan!”

“Aku pun tidak merencanakan gurauan ini dari awal,” Liok Siau-hong menjawab sambil tertawa pertanda minta maaf. “Tapi aku merasa sangat gembira hari ini!”

“Tuan telah menangkap si Bandit Penyulam?” Mata Beng Wi segera bersinar-sinar.

“Di mana Kim-locong?” Liok Siau-hong tidak menjawab, tapi malah mengajukan pertanyaannya sendiri.

“Ia telah pergi kembali ke kota!”

“Apakah racun itu memberi masalah pada dirinya?”

“Untunglah Tuan segera membawanya ke tempat Tabib Shi, Shi Jing Mo memang seorang tabib yang hebat.”

“Aku membawa seorang buronan, maka aku harus amat berhati-hati. Itulah sebabnya aku hanya bisa mendatangimu pada malam hari, aku tidak bisa membiarkan para bawahannya menemukan tempat aku berada.”

“Aku mengerti.” Beng Wi menjawab. Diam-diam, dia merasa sedikit lega karena dia tidak mengajak Siau Hong menginap malam ini. Ia tidak pernah membiarkan seorang wanita tetap bersamanya di malam hari karena ia tidak pernah percaya pada wanita. Ini adalah sebuah kebiasaan yang baik sehingga, ia memutuskan bahwa ia harus mempertahankannya. Seandainya Liok Siau-hong menemukan seorang pelacur terkenal seperti Siau Hong tidur di ranjangnya, maka ada kemungkinan Kim-locong juga akan tahu, dan itu bukanlah hal yang baik.

Liok Siau-hong terdiam dan berfikir sebentar.

“Bisakah kau kirimkan pesan pada orang-orangmu di Yangseng dengan menggunakan burung merpati untuk memberitahu Kim-locong agar menungguku tengah malam besok di villa tempat tinggal Coa-ong dulu?”

“Tentu saja!” Beng Wi melompat bangkit dari tempat tidurnya dan segera mengenakan sepatunya. “Burung merpati itu ada di belakang sini.”

“Kau juga punya tinta dan kuas di sini?”

“Ya.”

“Mengapa kau tidak menuliskan pesan itu sekarang juga sebelum pergi keluar?”

Beng Wi mengangguk dan menyalakan beberapa buah lentera sebelum mengeluarkan tinta.

“Tuan Liok telah berhasil, minta Kim-locong untuk menunggu di markas Coa-ong tengah malam besok.”

Bagi seseorang yang bekerja di Enam Pintu sejak masih kecil, tulisannya sama sekali tidak buruk, dan bahasanya pun mengalir dengan lancar.

Liok Siau-hong berdiri di sampingnya sambil tersenyum.

“Mengapa kau tidak menulisnya dalam tulisan Siau Chuan? Dengan cara itu, informasi tidak akan bocor walaupun jatuh ke tangan yang salah?”

{Catatan: Siau Chuan adalah sebuah bentuk tulisan yang dikembangkan oleh Chin Shi Huang Ti, Kaisar pertama Cina, sebagai bentuk tulisan pemersatu bagi seluruh rakyat Cina. Selama masa dinasti Han, Siau Chuan perlahan-lahan berkembang ke dalam bentuk yang mirip dengan tulisan tradisional Cina yang kita kenal sekarang; tetapi, orang-orang terpelajar Cina masih mempelajari Siau Chuan karena mutu estetika-nya. Walau sebagian besar orang tidak bisa membaca Siau Chuan, tulisan ini masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama sebagai segel.}

“Aku adalah orang tua yang tidak berpendidikan.” Beng Wi menjawab sambil tersenyum mencela. “Aku bahkan tidak bisa menulis Toa Chuan, apalagi Siau Chuan. Tapi Tuan tidak usah khawatir, merpati ini semuanya dilatih sendiri oleh Kim-locong, mereka tidak akan tersesat.”

“Apakah dia bisa mendapatkan pesan itu pada waktunya?”

“Tentu!” Beng Wi meyakinkan dirinya sambil menggulung surat itu dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam sebuah tabung kosong yang berukiran amat indah dan terbuat dari sepotong bambu. Di atas permukaan bambu itu ada sebuah cap berbentuk api.

“Kau akan mengirimkan pesan itu sekarang juga?”

“Aku akan pergi sekarang juga.”

Ia menutupi pundaknya dengan mantel dan bergegas keluar. Setelah menungu sebentar, suara seekor burung yang sedang mengepakkan sayapnya pun terdengar di udara.

Liok Siau-hong menunggu di kamarnya, menunggu sampai ia kembali. Baru kemudian ia merangkap tangannya dan bersiap untuk pergi.

“Aku akan pergi ke Yangseng sekarang.”

Beng Wi bimbang sebentar tapi akhirnya ia bertanya.

“Tadi aku keluar, tapi tampaknya tidak ada seorang pun di luar sana.”

“Memang tidak ada.”

“Lalu di mana Kongsun-toanio?” Beng Wi bertanya sambil tersenyum dipaksa.

Liok Siau-hong tersenyum.

“Jika kau menahannya, maukah kau berjalan-jalan di luar sana bersamanya?”

Beng Wi menggelengkan kepalanya.

“Lalu bagaimana kau menahannya?”

“Sebuah rahasia tidak akan menjadi rahasia lagi bila dibocorkan,” Liok Siau-hong menjawab sambil tersenyum santai. “Setelah mengantarkannya, aku akan bercerita bila aku sempat.”

“Tuan Liok benar-benar orang yang teliti dan cermat. Seperti yang kukatakan dulu, jika Tuan Liok menekuni profesi kami, dia tentu akan menjadi orang nomor satu di seluruh Enam Pintu!”

Tak terduga, Liok Siau-hong hanya menarik nafas sebagai jawabannya.

“Sejujurnya, aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa menandingi Kim-locong kalian itu, tak perduli apa pun yang aku lakukan!”

“Tapi Tuan Liok adalah orang yang menangkap Kongsun-toanio!” Beng Wi memprotes.

Liok Siau-hong tersenyum murung.

“Ia membuatku bekerja keras untuknya sementara ia sendiri bersantai-santai di tempat tidur. Berdasarkan hal itu saja, kau bisa melihat bahwa ia jauh lebih hebat dariku!”

______________________________

Keadaan villa kecil itu masih sama seperti semula, satu-satunya perbedaan adalah orang yang duduk di kursi itu. Kim Kiu-leng sedang berbaring di kursi dengan mata tertutup. Air mukanya tampak cemerlang, dan suasana hatinya pun amat baik. Makanan yang lezat dan mengenyangkan tadi masih ada di dalam perutnya. Masakan Tuan Bak dari Taman Riang Gembira itu memang bisa dianggap selalu memuaskannya. Di samping itu, sekarang bandit itu telah tertangkap, ia bisa menikmati hidupnya tanpa perasaan cemas untuk beberapa tahun ke depan. Ia merasa bahwa ia memang sangat beruntung, begitu mujurnya sehingga ia bisa mendapatkan seorang pembantu sebaik Liok Siau-hong.

Walaupun Liok Siau-hong belum tiba, ia tidak khawatir sedikit pun, karena ia tahu bahwa rencana Liok Siau-hong tidak akan pernah kacau. Di atas meja ada secawan arak Persia. Ia menyentuh kilauan arak di dalam cawan yang gelap itu dan menghirup araknya dengan perlahan-lahan, menikmati rasanya dengan santai. Ia memang orang yang tahu cara menikmati hidup. Tidak banyak orang seperti dirinya di dunia ini. Walau Liok Siau-hong pun terkadang bisa menikmati hidupnya, sayangnya ia memang terlahir suka ikut campur dalam urusan orang lain. Kim Kiu-leng telah memutuskan bahwa sesudah kasus ini selesai, ia tidak akan pernah lagi terlibat dalam urusan Enam Pintu.

Saat inilah ia mendengar sebuah bunyi di atas atap. Bunyi itu bukanlah bunyi yang keras, hanya sesuatu yang mungkin saja disebabkan oleh seekor kucing yang berlarian di atas atap. Wajahnya segera mengembangkan sebuah senyuman. Ia tahu bahwa Liok Siau-hong tentu telah tiba, dan bahwa ia tentu membawa sesuatu yang berat bersamanya. Bila Liok Siau-hong bergerak, ia tentu tidak akan pernah membuat suara sedikit pun.

“Aku menghabiskan waktu siang dan malam dengan menyeret-nyeret peti yang berat ini ke mana-mana, sementara kau duduk nyaman di sini sambil minum arak, tampaknya kau memang ditakdirkan untuk hidup enak!” Kim Kiu-leng baru saja meletakkan cawannya waktu dia mendengar Liok Siau-hong menarik nafas di luar jendela.

Jendela telah dibuka, Kim Kiu-leng telah membukanya dari dalam. Liok Siau-hong sendiri tidak masuk, tapi ia mendorong masuk sebuah peti bambu yang amat besar.

“Aku bukan ditakdirkan untuk hidup enak,” Kim Kiu-leng tersenyum. “Aku hanya beruntung karena memiliki seorang sahabat seperti Liok Siau-hong.”

Waktu ia menyelesaikan ucapannya itu, Liok Siau-hong pun telah berada di hadapannya.

“Nasibmu memang benar-benar lebih baik dariku,” ia berkata dengan wajah yang kaku. “Kau memiliki teman-teman yang baik, aku tidak.”

“Tugas ini sebenarnya memang sangat sulit, aku tahu kau akan marah,” Kim Kiu-leng tersenyum. “Itulah sebabnya aku telah mempersiapkan arak Persia ini untuk meredakan kemarahanmu!”

Kendi emas itu telah berada di atas meja, araknya pun telah dituangkan ke dalam cawan. Kim Kiu-leng menyerahkannya pada Liok Siau-hong dengan kedua tangannya.

“Aku sendiri yang mendinginkan es batu ini, dijamin bisa mendinginkanmu pula.”

Liok Siau-hong pun terpaksa tersenyum.

“Ternyata kau benar-benar hebat dalam hal membuat orang lain merasa senang. Seandainya aku seorang wanita, aku juga mungkin telah jatuh cinta padamu.” Ia menerima cawan itu dan meminum isinya dalam satu tegukan sebelum mengangkat peti bambu itu ke atas meja. “Menurutmu, apa yang ada di dalam peti ini?”

“Apakah itu seorang penyulam?” Mata Kim Kiu-leng tampak berkedip-kedip.

“Dia bukan hanya bisa menyulam bunga, tapi juga orang buta!”

Mata Kim Kiu-leng pun tampak bersinar-sinar.

“Liok Siau-hong benar-benar Liok Siau-hong, luar biasa!” Ia mengacungkan jempolnya.

“Aku tidak tahu sudah berapa kali dalam hidupku aku tertipu karena kalimat itu,” Liok Siau-hong tertawa getir. “Tapi anehnya, aku tetap suka mendengarnya!”

“Satu ciuman, dua ciuman, tidak ada yang bisa mengalahkan ciuman keledai!” Kim Kiu-leng pun tertawa terbahak-bahak. “Yang mencium tentu tidak akan pernah keliru!”

Masih sambil tertawa, ia membuat sebuah gerakan seakan-akan hendak membuka peti itu.

“Tunggu dulu.” Liok Siau-hong menghalangi jalannya.

“Kenapa?” Kim Kiu-leng tercengang.

Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya.

“Apakah kau tahu siapa si Bandit Penyulam ini?”

“Bukankah dia Kongsun-toanio?”

Liok Siau-hong mengangguk. “Dan apakah kau tahu seperti apa Kongsun-toanio itu?” Ia bertanya lagi.

“Tidak!”

“Menurut dugaanmu?”

“Seorang nenek tua?” Kim Kiu-leng tampak bimbang.

“Tebak lagi.”

“Walau dia bukan seorang nenek tua, dia tidak mungkin muda, karena seorang wanita muda tidak akan pernah melakukan kejahatan dengan begitu ahli dan keji!”

“Oh?”

“Dan kurasa dia tidak terlalu cantik, karena seorang wanita cantik tidak akan mau berpakaian seperti seorang wanita tua!”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Orang-orang mengatakan bahwa kemampuanmu dalam menarik kesimpulan adalah seperti dewa, tapi kali ini kesimpulanmu ngawur belaka!”

“Aku keliru?”

“Keliru sekali!”

“Kalau begitu, perempuan seperti apakah dia?”

“Perempuan yang bisa menghipnotis laki-laki sampai mati, terutama laki-laki sepertimu!”

“Dan laki-laki seperti apakah aku?” Bibir Kim Kiu-leng membentuk sebuah senyuman yang mengibakan.

“Kau seorang penggoda. Aku hanya berharap bahwa kau tidak terhipnotis olehnya bila kau melihatnya!”

“Ada banyak jenis laki-laki penggoda, setidaknya aku bukan jenis yang mau sembarangan mengarahkan pandangannya pada seorang wanita.” Kim Kiu-leng tertawa dan membuka peti itu. Ia baru mengintip sedikit tapi sudah terkejut. Perempuan di dalam peti itu memang terlalu cantik, terlalu cantik seperti sekuntum mawar yang sedang tidur di antara lautan salju. Usianya mungkin tidak muda lagi, tapi kecantikannya sudah lebih dari cukup untuk membuat orang melupakan usianya.

Kim Kiu-leng menarik nafas.

“Tampaknya tugasmu ini sama sekali tidak buruk!”

Pernyataan itu mendapatkan seringai dingin dari Liok Siau-hong.

“Di mana Hoa Ban-lau?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Ia sudah pergi!”

“Mengapa dia tidak menungguku?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

“Karena dia sedang terburu-buru pergi ke Ci-kim-san!”

“Untuk apa?”

Kim Kiu-leng menarik nafas.

“Pek-in-seng-cu telah mengatur sebuah duel dengan Sebun Jui-soat pada tanggal 1 bulan depan di Ci-kim-san!”

Ekspresi wajah Liok Siau-hong tampak berubah.

“Sudah cukup banyak orang yang tahu tentang hal ini dan tidak sedikit dari sekitar sini yang telah pergi ke Ci-kim-san. Dari apa yang aku dengar, seseorang telah memasang taruhan yang amat besar untuk pertarungan mereka. Kemungkinannya adalah 3 berbanding 2 untuk Yap Koh-seng!”

“Tanggal berapa hari ini?”

“Tanggal 24.”

“Jika aku pergi sekarang juga, mungkin aku bisa tiba pada waktunya!” Liok Siau-hong melompat bangkit.

“Tapi Kongsun-toanio ini……”

“Tugasku sudah selesai, dari kepala hingga ke ujung kaki, dia adalah milikmu.”

“Kau sedang menggodaku?” Kim Kiu-leng bertanya sambil tersenyum malu.

“Aku hanya berharap bahwa kau adalah orang yang tahan terhadap godaan!”

“Jangan khawatir.”

“Aku tetap khawatir.”

“Perempuan ini adalah ular berbisa, aku tidak selancang itu, aku takut tergigit!” Kim Kiu-leng tertawa.

“Aku khawatir karena dia tidak bisa menggigit sekarang!”

“Ular berbisa terkadang juga tidak bisa menggigit?”

“Aku telah memaksanya meminum Minuman Tujuh Hari miliknya sendiri dalam dosis yang amat besar. Walau nanti terbangun, ia masih tidak bisa bergerak selama paling sedikit 2 atau 3 hari lagi.”

Kim Kiu-leng mendengarkan dalam bisu, nama Minuman Tujuh Hari itu samar-samar seperti dikenal olehnya.

“Jadi dalam 2 atau 3 hari itu, tidak perduli apa pun yang kau lakukan padanya, dia tidak bisa melawan. Tapi jika kau benar-benar melakukan sesuatu terhadap dirinya, maka kau akan berada dalam masalah besar, dan begitu juga aku!”

“Jika kau benar-benar khawatir, mengapa kau tidak tinggal?” Kim Kiu-leng menawarkan sambil tersenyum.

“Karena aku lebih mengkhawatirkan Sebun Jui-soat!” Liok Siau-hong agaknya sudah bersiap-siap untuk melompat ke luar jendela ketika ia lalu berhenti sebentar. “Masih ada satu hal yang harus kuminta kau melakukannya untukku!”

“Jangan bimbang untuk memintanya.”

“Tolong temukan di mana Sih Peng berada, aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkan informasi ini dari orang-orang, tapi kau pasti tahu!”

“Jangan khawatir, walaupun dia berubah menjadi sebuah boneka, aku tetap akan bisa menemukan cara untuk membuatnya bicara!” Kim Kiu-leng tidak menolak permintaannya sebelum tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Di luar ada seekor kuda, aku yang membawanya ke sini.”

Orang sudah tahu bahwa Kim Kiu-leng adalah Bo Le di jaman sekarang dan salah seorang ahli penilai kuda terbaik di tempat ini. Kuda yang ia bawa ke sini tentulah seekor kuda yang bagus.

“Kau bersedia meminjamkannya?” Liok Siau-hong sangat senang.

Kim Kiu-leng mengangguk tapi kemudian tersenyum.

“Tapi ada satu hal yang aku khawatirkan!”

“Apa itu?”

“Kuda itu adalah seekor kuda betina!”

______________________________
Liok Siau-hong pergi, pergi bersama kendi arak Persia itu. Suara derap dan ringkik kuda yang terdengar dari bawah segera menjauh. Kuda itu benar-benar hebat. Kim Kiu-leng mendorong jendela hingga terbuka dan mengintip ke luar. Di bawah sana, di halaman, tampak seseorang mengangguk padanya. Liok Siau-hong ada di atas kuda itu. Suara derap kaki kuda telah menghilang. Barulah kemudian Kim Kiu-leng menutup jendela, berjalan kembali ke meja, dan menyingkap lengan baju gadis di dalam peti itu.

Pada lengan yang seputih akar bunga lotus dan sehalus giok itu, ada sebuah tanda lahir berwarna ungu gelap, seukuran uang logam, dalam bentuk segumpal awan.

Kim Kiu-leng mengamatinya dengan teliti sebelum sebuah senyuman bangga muncul di wajahnya.

“Dia memang Kongsun-toanio!” Ia bergumam.

Bagaimana ia tahu bahwa Kongsun-toanio memiliki tanda lahir seperti itu? Bagi seorang wanita, hanya orang-orang terdekat dengannya yang akan tahu tentang rahasia seperti ini. Kim Kiu-leng menutup peti, mengangkatnya dan bergegas membawanya ke lantai bawah villa. Di luar pintu depan ada sebuah tandu berwarna hijau. Kim Kiu-leng, sambil membawa peti itu, duduk di dalam tandu. Dua orang laki-laki yang akan membawa tandu itu tidak lain dan tidak bukan adalah dua orang polisi yang bertubuh paling kuat di kota itu. Sebelum dia mengucapkan sepatah kata pun, mereka telah mengangkat tandu dan berlari dengan cepat melintasi jalan raya.

Duduk di dalam tandu, wajah Kim Kiu-leng terlihat sangat puas, rencananya telah 9 bagian terlaksana. Tandu itu masuk ke sebuah jalan kecil, dan kemudian 7 atau 8 jalan kecil lagi, sebelum akhirnya tiba di sebuah jalan besar. Di mulut jalan itu telah menanti sebuah kereta kuda bercat hitam pekat.

Masih sambil membawa peti itu, Kim Kiu-leng turun dari tandu dan masuk ke dalam kereta. Kereta itu segera melesat di jalan raya dengan sang kusir terus-menerus mencambuk kudanya, mengendalikannya sedemikian rupa seolah-olah kuda itu adalah perpanjangan tangannya sendiri. Ia tidak lain dan tidak bukan adalah polisi terkenal dari kota Yangseng, Loh Siau-hoa.

Tidak seorang pun terlihat di jalan. Pada setiap persimpangan, tentu ada 2 orang laki-laki di atas atap rumah di kedua sisi jalan yang memberi isyarat tangan yang sama:

“Tidak ada pelancong malam yang mencurigakan, tidak ada orang yang mengikuti kereta.”

Kereta itu kemudian menelusuri 7 atau 8 buah jalan lagi. Sekarang orang-orang di atas atap pun sudah pergi. Hanya mereka berdua yang tahu ke mana tujuan kereta ini.

Di sudut sebelah barat kota itu ada sebuah jalan yang tidak segaris dengan jalan-jalan lainnya, jalan itu pendek dan sempit. Di jalan itu hanya ada 7 buah bangunan, masing-masing pintunya tampak telah tua dan usang. Dari ketujuh bangunan itu, tiga di antaranya adalah toko barang-barang antik yang menjual lukisan-lukisan dan kaligrafi kuno, tapi sebagian besar di antaranya adalah palsu, dua toko lainnya menjual kertas dinding atau lukisan, satunya lagi adalah penjual segel cetakan, dan yang terakhir adalah toko payung.

Seharusnya jalan ini merupakan jalan yang amat sunyi dan sepi, hanya dilalui oleh orang-orang miskin dan tua. Tapi kereta itu berhenti di mulut jalan ini. Setelah Kim Kiu-leng turun dari kereta, Loh Siau-hoa pun segera turun. Seorang laki-laki tua yang setengah tuli dan setengah buta membuka pintu ke salah satu toko koyok. Kim Kiu-leng, sambil membawa peti, melesat masuk ke dalamnya.

Di dalam toko ada beberapa kaligrafi atau lukisan yang lusuh dan belum dibingkai. Kim Kiu-leng menggeser sebuah tiruan lukisan pemandangan dari karya Tang Bo Hu dan mengangkat salah satu batu bata di dinding dengan perlahan-lahan. Sebuah pintu rahasia pun segera muncul. Di balik pintu itu ada sebuah lorong yang amat sempit. Di ujung lorong ada sebuah pintu lagi yang, bila dibuka, membawa dirinya ke sebuah halaman kecil yang terawat dengan baik serta penuh bunga dan pepohonan.

Halaman itu mungkin tidak besar, tapi setiap bunga dan pohon jelas dipelihara dengan amat teliti dan sempurna oleh ahlinya. Di balik pepohonan dan semak-semak yang paling lebat, ada sebuah villa kecil yang memiliki 5 buah kamar. Di sana sudah ada dua orang pelayan bermata jernih dan berambut ekor kuda, berdiri di tangga untuk menyambutnya.

______________________________

Kongsun-toanio akhirnya terbangun, hanya untuk menemukan bahwa ia sedang berada di sebuah kamar wanita yang sangat indah, berbaring di atas sebuah tempat tidur yang lembut dan nyaman. Sebuah aroma yang lebih murni dan lebih harum daripada aroma anggrek tercium di ruangan itu, tapi dari mana asalnya? Dia berbaring di sana dengan tenang, tidak bergerak. Karena dia memang tidak bisa bergerak. Bayang-bayang di jendela tampak sedikit condong, senja belum tiba. Terdengar suara kicauan burung di luar sana, tapi suara manusia tidak terdengar sedikit pun.

“Ada orang di sini?” Ia berseru.

Tidak ada yang menjawab. Seruannya itu memang tidak keras, karena dia tidak punya tenaga untuk berteriak.

“Liok Siau-hong, ke mana kau pergi.” Ia mengkertakkan giginya dan hampir mencaci-maki. “Suatu hari nanti kau akan mati di tanganku!”

Yang bisa ia lakukan hanyalah berbaring di sana dan menunggu. Lalu tiba-tiba, wajahnya berubah menjadi merah padam: ia ingin buang air. Tapi tidak perduli betapa kerasnya pun ia berusaha, ia masih tidak bisa bergerak sedikit pun juga. Berteriak lagi pun tetap tidak ada gunanya. Akhirnya ia tidak tahan lagi, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah buang air di tempat tidur itu. Ini benar-benar urusan yang amat memalukan. Tempat tidur itu menjadi basah, tapi dia harus tetap berbaring di sana tanpa bergerak. Ia jadi begitu marahnya hingga hampir menangis.

“Liok Siau-hong, suatu hari nanti aku akan membuatmu memohon-mohon untuk mampus.”

Tiba-tiba, sesuatu jatuh dari atas dan mendarat di dekatnya. Ternyata seekor ular. Makhluk yang paling menakutkan baginya adalah ular. Wajahnya berubah jadi hijau karena ketakutan, tapi ia tetap tidak bisa bergerak sedikit pun. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyaksikan ular itu merayap naik ke atas tubuhnya. Dia membuka mulutnya untuk menjerit, tetapi karena ketakutan, tidak ada suara yang keluar.

Ular itu baru saja hendak merayap ke atas wajahnya waktu tiba-tiba sesosok bayangan muncul. Seseorang muncul di kepala ranjang dan, dengan cekatan, menangkap ular itu dan melemparkannya ke luar jendela. Kongsun-toanio akhirnya bisa menarik nafas lega, tetapi wajahnya sudah penuh dengan keringat dingin.

Tapi orang ini sedang tersenyum sambil menatapnya.

“Maaf karena telah mengagetkan Toanio.” Orang ini berkata dengan suara yang hangat. Walau ia telah berusia separuh baya, ia masih amat tampan. Siapa pun bisa melihat bahwa pakaian yang ia kenakan dibuat oleh penjahit terkenal dari bahan yang terbaik. Tapi senyuman di wajahnya tampak lebih menawan bagi seorang wanita daripada pakaian di tubuhnya.

Kongsun-toanio menatapnya.

“Kau….. kau majikan di tempat ini?”

Kim Kiu-leng mengangguk.

“Bagaimana seekor ular bisa masuk ke rumahmu?”

“Karena aku sengaja pergi keluar dan menangkapnya!”

Ekspresi wajah Kongsun-toanio terlihat berubah.

“Mengapa?”

“Karena aku harus memastikan apakah kau, Kongsun-toanio, benar-benar tidak bisa bergerak!”

“Kalian bukan hanya memaksaku minum obat bius, kalian juga telah menotokku,” Kongsun-toanio menjawab dengan nada pahit. “Apakah itu tidak cukup?”

“Aku seorang laki-laki yang amat berhati-hati,” Kim Kiu-leng pun tersenyum. “Dan bila urusannya menyangkut dirimu, Toanio, aku harus lebih hati-hati lagi.”

“Jadi kau adalah Kim Kiu-leng?” Kongsun-toanio akhirnya bisa menebak.

“Tidak disangka kau memerlukan waktu yang begitu lama untuk mengenaliku!”

“Ke mana bangsat Liok yang mau mampus itu pergi?” Kongsun-toanio berkata dengan marah, sambil mengkertakkan giginya saat menyebut nama itu.

“Ia telah menyelesaikan tugasnya, dari kepala hingga ke ujung kaki, kau, Kongsun-toanio, adalah milikku!” Kim Kiu-leng tersenyum dengan santai.

“Di mana ini? Mengapa kau membawaku ke sini?”

“Tempat ini mungking kurang bagus, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada penjara.” Kim Kiu-leng menarik nafas dan meneruskan. “Aku tahu Toanio tentu tidak pernah dipenjara sebelumnya, tempat itu benar-benar seperti kandang babi. Di mana-mana ada nyamuk dan kutu busuk. Jika kau, Toanio, pergi ke sana, kau akan digigiti hingga menjadi bubur hanya dalam waktu setengah hari. Dan jika kau menjerit, maka kau akan segera dipukuli. Jika kau cukup beruntung dan bertemu dengan salah satu sipir yang paling kejam, maka kau mungkin juga akan mendapatkan siraman air kencing.”

Wajah Kongsun-toanio kembali berubah menjadi hijau.

“Kau tidak ingin aku membawamu ke tempat seperti itu, kan?” Kim Kiu-leng bertanya.

Kongsun-toanio tiba-tiba tertawa dingin.

“Aku tahu apa yang sebenarnya kau inginkan!”

“Oh?”

“Kau hanya menginginkan sebuah pengakuan tertulis dariku!”

“Kongsun-toanio memang seorang wanita yang cerdas.” Kim Kiu-leng tersenyum.

“Kau ingin agar aku mengaku sebagai si Bandit Penyulam, bahwa aku yang melakukan semua perampokan itu!”

“Benar, asal kau mau menuliskan pengakuan itu, aku akan menjamin bahwa aku tidak akan menyakitimu, kalau tidak…..”

“Kalau tidak, apa?”

“Di sekitar sini ada banyak ular,” Kim Kiu-leng mengancam dengan dingin. “Kapan saja bila aku mau, aku bisa pergi dan mengambilnya beberapa ratus ekor!”

Kongsun-toanio mengkertakkan giginya lagi.

“Bagaimana kau tahu kalau aku paling takut pada ular?”

“Aku selalu tahu banyak hal!”

Kongsun-toanio tiba-tiba tertawa dingin lagi.

“Sebenarnya, aku pun tahu banyak hal!”

“Apa yang kau ketahui?”

“Setidaknya aku tahu siapa sebenarnya si Bandit Penyulam itu!” Kongsun-toanio menatap langsung ke matanya waktu bicara, dengan menekankan setiap patah kata.

“Siapa?”

“Kau! Kaulah si Bandit Penyulam yang sebenarnya!”

Kim Kiu-leng berdiri membisu di pinggir tempat tidur, senyumannya yang menawan itu sudah menghilang. Di wajahnya tidak terlihat emosi sedikit pun.

“Sebenarnya, dari awal, aku telah curiga bahwa kaulah si Bandit Penyulam itu!” Kongsun-toanio meneruskan dengan nada mengejek.

“Oh?”

“Aku juga tahu dari awal, kau bermaksud mengkambing-hitamkan diriku!”

“Seandainya pun aku adalah Bandit Penyulam yang sebenarnya, mengapa aku memilihmu untuk dikambing-hitamkan?”

“Karena aku adalah orang yang amat misterius, tidak ada orang yang tahu tentang diriku atau latar-belakangku. Karena itu, tidak perduli apa pun yang kau tuduhkan padaku, orang lain tidak akan sukar mempercayainya!”

“Hanya karena itu?”

“Tentu saja itu bukan alasan yang utama!”

“Lalu ada alasan apa lagi?”

“Alasan yang paling penting adalah, di antara adik-adikku, salah satunya adalah kaki tanganmu. Kau ingin mengkambing-hitamkan aku, agar aku dihukum mati sebagai penggantimu, tapi kematianku juga akan memberi kesempatan bagi dia untuk mengambil posisiku sebagai pemimpin. Sejak awal, kalian berdua memang berusaha untuk membunuh dua ekor burung sekaligus dengan sebutir batu.”

Ekspresi wajah Kim Kiu-leng tampak berubah sedikit tapi kembali normal dengan cepat.

“Kau sudah tahu siapa dia?” Ia bertanya.

“Sampai sekarang, aku masih belum yakin, tapi suatu hari nanti aku akan tahu!”

“Sayangnya hari itu mungkin tidak akan pernah datang!” Kim Kiu-leng menjawab dengan dingin.

“Kau tahu bahwa setelah semua perampokan itu terjadi, orang-orang tentu akan datang mencarimu, karena kau adalah polisi nomor satu di Enam Pintu. Juga karena tidak ada orang yang akan mencurigaimu.”

“Reputasiku memang selalu baik.”

“Kau pergi menemui Liok Siau-hong, karena kau tahu bahwa hanya dia satu-satunya orang yang bisa menandingiku!”

“Dia memang orang yang sangat cerdas, bahkan kau pun harus mengakui hal itu!”

“Aku hanya mengakui bahwa dia adalah seekor babi.”

“Tapi jika dia adalah seekor babi, bagaimana kau bisa jatuh ke tangannya?” Kim Kiu-leng bertanya sambil bergurau.

Kongsun-toanio menggigit bibirnya.

“Mungkin dia adalah seekor babi yang cukup cerdas, tapi babi tetaplah babi!”

Kim Kiu-leng tertawa.

“Tepatnya, karena dia seekor babi, maka dia tertipu olehmu sejak awal!” Kongsun-toanio meneruskan.

“Oh?”

“Kau sengaja memberikan bunga peoni hitam itu padanya karena kau tahu bahwa dia tentu akan mencari Sih-lothaythay!”

“Aku juga tahu bahwa Sih-lothaythay tentu akan mengenali itu sebagai hasil karya seorang perempuan!” Kim Kiu-leng tersenyum penuh tanda kemenangan.

“Itulah sebabnya dia keliru sejak awal, dia mengira bahwa si Bandit Penyulam adalah seorang wanita yang menyamar!”

“Karena ia yakin bahwa mata Sih-lothaythay yang ahli tentu tidak akan pernah keliru!”

“Maka kau sengaja menyuruh Sukong Ti-sing untuk mencuri kain itu dan membawanya ke tempat Kang Kin-he, karena kau tahu bahwa Kang Kin-he adalah salah seorang adikku!”

“Teruskan.”

“Sejak saat itu, Liok Siau-hong telah memutuskan bahwa ini semua tentu perbuatan Persaudaraan Sepatu Merah!”

“Tidakkah kau lupa bahwa Sukong Ti-sing adalah si Raja Pencuri? Mengapa ia mau menurut padaku dan berdusta pada Liok Siau-hong?”

“Karena dia adalah si Raja Maling dan kau adalah si raja polisi. Bahkan Raja Maling pun tidak bisa terhindar dari kekalahan. Tentu dia pernah jatuh ke tanganmu sebelumnya, tapi kau melepaskannya, karena kau tahu bahwa orang seperti dia tentu akan berguna suatu hari nanti!”

Kim Kiu-leng menarik nafas.

“Tidak ada yang tahu tentang hal itu, kau cuma menebaknya, kan?”

Kongsun-toanio tidak membantah, tapi ia malah meneruskan.

“Tapi kalau cuma karena itu, Liok Siau-hong tetap tidak akan mencurigaiku.”

“Benar.”

“Kau tahu bahwa setibanya ia di Yangseng, dia tentu akan pergi menemui Coa-ong.”

“Jadi menurutmu Coa-ong adalah kaki tanganku?”

“Tentu saja bukan, dia sama seperti Sukong Ti-sing, dia berhutang budi padamu. Itulah sebabnya dia bersedia menuruti perintahmu.”

“Kali ini kau keliru!”

“Oh?”

“Dia mau menuruti perintahku, karena dia tidak punya pilihan lain!”

“Mengapa begitu?”

“Para polisi dan penegak hukum di Yangseng semuanya adalah murid-muridku atau murid dari murid-muridku, apalagi aku telah menjadi Congkoan di Lam-ong-hu. Aku bisa menyapu habis dia dan seluruh organisasinya dari permukaan bumi ini kapan saja aku mau!” Kim Kiu-leng menjawab terus terang.

“Kau tahu bahwa aku akan muncul di Se-wan pada tanggal 15 bulan tujuh, maka kau menyuruh Coa-ong untuk mengarahkan Liok Siau-hong ke sana juga!”

“Keberadaanmu mungkin sangat misterius bagi orang lain, tapi aku tahu betul seperti mengenali punggung tanganku.”

“Karena ada seseorang di antara saudara-saudaraku yang terus-menerus memberitahumu!”

“Aku memalsukan sebuah surat dan menyuruh Coa-ong untuk mengatur agar Liok Siau-hong membacanya,” Kim Kiu-leng tidak menyangkal lagi. “Karena aku tahu bahwa Liok Siau-hong adalah orang yang tidak suka berhutang budi pada orang lain dan dia tentu akan bersikeras masuk ke tempat Coa-ong!”

“Dan sejak saat itulah Liok Siau-hong benar-benar mulai mencurigaiku.”

“Seharusnya kau tidak berusaha membuatnya makan kacang gula itu!”

“Hari itu ada sesuatu yang harus kuawasi di Se-wan. Bila aku sedang ada urusan, aku tidak suka orang lain menghalangi jalanku.”

“Tapi dia malah memintamu untuk mencarikan sepatu merah baginya!”

“Itulah sebabnya dia benar-benar sangat beruntung tidak mati hari itu.”

“Aku juga beruntung.”

“Tapi dia masih belum yakin juga, maka kau dan Coa-ong bergabung dan menculik Sih Peng!”

“Orang lain mengatakan bahwa dia adalah seekor harimau betina. Bagiku, dia tidak lebih dari seekor kucing kecil!”

“Dan kemudian kau sengaja membiarkan Liok Siau-hong menemukan dua buah kamar di jalan kecil itu, membuatnya mengira bahwa tempat itu adalah tempat persembunyianku!”

“Mempersiapkan kedua kamar itu memang membutuhkan kerja keras!” Kim Kiu-leng berkata terus terang.

“A Toh, tentu saja, adalah seseorang yang kau tempatkan di sana sejak awal!”

“Karena aku tahu bahwa Liok Siau-hong sendiri tidak akan pernah berhasil menemukanmu!”

“Tapi sebelumnya kau sudah tahu tempat pertemuan kami!”

“Maka aku membuat kotak kayu yang aneh itu dan menyuruh A Toh membawa Liok Siau-hong ke sana!”

“Tapi mengapa kau pura-pura keracunan?”

Kim Kiu-leng tersenyum.

“Karena aku tidak ingin pergi ke sana!”

“Asal kau tidak pergi dan Liok Siau-hong pergi, tidak perduli apa pun yang terjadi, siapa yang menang atau kalah, semuanya tidak ada hubungannya denganmu!”

“Aku orang yang selalu berhati-hati, aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak aku yakini!” Kim Kiu-leng kembali tersenyum.

“Jadi kau benar-benar yakin tentang seluruh urusan ini?”

“Aku tahu bahwa kau adalah orang yang luar biasa dan mungkin telah mengetahui semua perbuatanku. Aku bahkan tahu bahwa kau telah membunuh A Toh dan menyamar sebagai dirinya. Liok Siau-hong bisa menemukanmu adalah karena kau yang sengaja membiarkan hal itu terjadi!”

“Kau tahu?” Kongsun-toanio tampak terkejut.

“Tentu saja, tapi aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu!”

“Oh?”

“Karena aku juga tahu bahwa rencanaku akan berhasil. Setiap petunjuk, setiap bukti, menunjukkan bahwa engkaulah si Bandit Penyulam. Walau kau mengetahui rencanaku, kau masih tidak punya satu pun kesaksian untuk membuktikannya.” Ia tertawa dengan nada penuh kemenangan dan meneruskan. “Apalagi setelah Sih Peng menghilang dan Coa-ong mati, Liok Siau-hong pasti sudah membencimu hingga ke tulang sumsum. Maka tidak perduli apa pun yang kau ucapkan, dia tidak akan pernah mempercayaimu atau melepaskanmu. Di samping itu, aku adalah seorang polisi terkenal dengan reputasi yang bersih, juga sahabatnya, sementara kau adalah seorang monster wanita yang misterius!”

Kongsun-toanio tak bisa berbuat apa-apa kecuali menarik nafas.

“Kau benar, aku tidak punya bukti sedikit pun. Walaupun dulu aku memberitahu semua orang bahwa kau adalah si Bandit Penyulam, tidak ada yang akan percaya padaku!”

“Dan walaupun kau mengatakannya sekarang, masih tidak ada orang yang akan percaya padamu!”

“Jangan lupa bahwa kau barusan telah mengaku!” Kongsun-toanio membalas dengan dingin.

Kim Kiu-leng mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Benar, aku sudah mengaku, tapi memangnya kenapa?”

“Kau mengira bahwa aku adalah orang satu-satunya yang mendengar apa yang kau ucapkan tadi?” Kongsun-toanio mendengus.

“Sudah kubilang, aku tidak pernah melakukan apa yang tidak aku yakini!”

“Kau yakin tidak ada orang yang mengikutimu ke sini dan bahwa aku tidak bisa bergerak, itulah sebabnya kau mengaku?”

“Aku tidak ingin kau mati tanpa mengetahui alasannya!”

“Kau tidak khawatir kalau Liok Siau-hong masuk dengan tiba-tiba?”

“Dia mungkin seekor babi, tapi larinya cukup cepat.” Masih sambil tersenyum, ia merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan sebuah tabung ukiran dari bambu. “Aku baru saja menerima ini. Datangnya dari Lamhai lewat seekor merpati pos. Liok Siau-hong baru saja melewati Lamhai dan sekarang, sedang dalam perjalanan ke arah Kimleng.”

Sekali lagi, Kongsun-toanio menarik nafas sendiri.

“Agaknya kau benar-benar sudah memikirkan segalanya!”

“Terima kasih.”

“Tapi kau tak akan pernah mendapatkan sepatah kata pun pengakuan dari mulutku!”

“Aku pun telah memikirkan hal ini,” Kim Kiu-leng menjawab dengan santai. “Pengakuan ini sebenarnya tidak harus dituliskan olehmu!”

Ekspresi wajah Kongsun-toanio tampak berubah.

“Aku bisa menyuruh seseorang untuk menuliskan seribu pengakuan seperti ini kapan saja aku mau, siapa pun akan melakukannya. Itu karena tidak ada orang yang tahu seperti apa tulisan tanganmu.”

“Itulah sebabnya kau bisa membunuhku sekarang juga, karena aku menolak untuk ditahan dan berusaha kabur, maka kau terpaksa membunuhku!”

“Kali ini tebakanmu benar!” Kim Kiu-leng tertawa.

“Setelah aku mati, seluruh masalah ini pun akan berakhir, karena tidak ada lagi orang yang akan menentang ceritamu.” Kongsun-toanio mengertakkan giginya dengan nada pahit. “Kau bisa lolos begitu saja!”

“Sejak berusia 19 tahun, aku selalu merasa bahwa penjahat-penjahat itu bisa tertangkap karena mereka semua adalah babi-babi yang bodoh. Sudah lama aku ingin melakukan kejahatan yang benar-benar sempurna.”

“Dan sekarang keinginanmu menjadi kenyataan!”

“Masih ada satu hal terakhir yang harus dilakukan.”

“Aku masih belum mati.”

“Tadinya aku bermaksud untuk membiarkanmu hidup beberapa hari lagi, kau benar-benar seorang wanita cantik yang langka.” Kim Kiu-leng menarik nafas. “Sayangnya aku baru saja menyadari bahwa sebaiknya aku membunuhmu sesegera mungkin.”

Kongsun-toanio menatap langsung ke matanya dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“Kau merasa bahwa kematian adalah suatu urusan yang sangat menggelikan?”

“Kematian bukanlah urusan yang menggelikan, tapi kaulah yang menggelikan!”

“Oh?”

“Jika kau berpaling, kau akan tahu betapa menggelikannya dirimu!”

Kim Kiu-leng pun berpaling dan seluruh tubuhnya tiba-tiba seperti membeku. Karena saat ia menoleh ke belakang, ia melihat Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong sedang tersenyum padanya.

“Aku Liok Siau-hong, si Burung Hong Kecil, bukan si Babi Kecil.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: