Kumpulan Cerita Silat

27/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:03 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 08: Duel Setelah Adu Minum
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Kelaparan seharian, tidak mencicipi apa-apa kecuali angin, itu saja sudah merupakan hal yang menyedihkan. Tapi hal yang lebih menyedihkan daripada itu mungkin, di saat-saat hampir pingsan karena kelaparan, lalu ditertawakan orang dan dipanggil si telur tolol besar.

Tapi Liok Siau-hong hanya tertawa.

“Aku tahu banyak orang yang memanggilku si telur tolol, tapi banyak juga orang yang suka memanggilku dengan nama lain!”

“Nama apa itu?” Gadis baju merah bertanya.

“Si ayam jantan besar!”

Wajah si gadis berbaju merah tampak memerah, merah menyala seperti warna bajunya.

“Sebenarnya dia punya sebuah nama lain, nama yang lebih bagus.” Auyang Cing tiba-tiba memotong.

“Nama apa itu?” Gadis berbaju merah segera bertanya lagi, ia sangat ingin mengalihkan pokok pembicaraan.

“Liok si Tiga Telur.”

“Liok si Tiga Telur?” Gadis berbaju merah tampak bingung. “Apa artinya itu?”

“Sebenarnya sangat sederhana,” Auyang Cing menjawab dengan acuh tak acuh. “Karena dia bukan hanya si telur tolol, dia juga si telur bangsat serta si telur busuk. Digabungkan semuanya, bukankah itu sama dengan tiga telur?”

“Oh, itu nama yang bagus sekali!” Si gadis berbaju merah kembali tertawa hingga terbungkuk-bungkuk. “Belum pernah kudengar nama sebagus itu dalam hidupku!”

“Karena kalian semua begitu kelaparan, kenapa kalian tidak memecahkan tiga telur itu dan menggorengnya untuk dimakan?” Jinio bergabung dalam percakapan itu dengan sebuah senyuman yang tidak bisa ditebak artinya.

“Karena tiga telur ini tidak segar lagi,” Auyang Cing menjawab. “Semuanya sudah busuk.”

“Sekarang aku hanya mengkhawatirkan satu hal!” Samnio menarik nafas.

“Apa itu?” Tanya Auyang Cing.

“Aku khawatir kalau dia bukan telur bebek, tapi telur ayam!”

“Itu benar-benar sebuah masalah yang amat serius,” Auyang Cing mengangguk dan menjawab dengan muka yang kaku. “Jika dia telur ayam, maka seekor ayam betina tentu telah melahirkannya. Jika demikian, bukankah dia putera si ayam betina kecil?”

Walaupun wajah si gadis berbaju merah sekarang semakin merah, ia tak tahan lagi untuk tidak tertawa hingga terbungkuk-bungkuk. Liok Siau-hong tidak tertawa, tapi ia menyadari dua hal.

– Kau tidak boleh mencari gara-gara dengan perempuan, terutama perempuan seperti Auyang Cing.

– Seorang laki-laki yang berdebat dengan enam orang wanita akan bernasib seperti seorang pelajar yang mencoba bicara tentang logika dengan enam orang prajurit, lebih baik ia membeli sepotong tahu yang amat besar dan memukuli dirinya sendiri dengan tahu itu hingga mati.

Ia telah membuat satu kesalahan, maka ia tidak ingin membuat kesalahan kedua. Gadis berbaju merah itu masih tertawa. Suara tawanya itu bukan hanya terdengar enak di telinga, tapi juga seperti menggelitik. Bila orang mendengar suara tawanya, hati mereka tentu akan ikut merasa gembira, dan mereka pun akan ikut tertawa sedikit. Tapi Liok Siau-hong tidak tertawa. Tiba-tiba ia melesat ke depan dan, cepat seperti kilat, mencengkeram tangan si gadis berbaju merah dan menelikungnya ke belakang.

“Awas!” Jinio berseru.

Segera setelah kata itu keluar dari mulutnya, si gadis berbaju merah menyikutkan tangannya yang lain ke rusuk Liok Siau-hong, bersama dengan tiga jenis senjata lain yang datang dari dua sisi.

Tindakan mereka sangat cepat, terutama si nikouw berjubah hijau dan berkaus kaki putih itu. Sebuah sinar terlihat di telapak tangannya dan sebatang pedang pendek telah melesat ke arah Liok Siau-hong, hawanya yang dingin dan keji terasa begitu tebal sehingga sukar bagi orang untuk membuka matanya. Tapi sayangnya Liok Siau-hong lebih cepat lagi, dada dan perutnya mengkerut ke dalam dan kedua tangannya tetap mencengkeram tangan si gadis berbaju merah dengan erat. Ketiga senjata itu keluar pada saat yang bersamaan, dan berhenti pada saat yang bersamaan pula, ujungnya tidak lebih dari 10 cm lagi jaraknya dari titik-titik mematikan di rusuk Liok Siau-hong.

Tapi Liok Siau-hong tidak bergerak, bahkan tidak berkedip sedikit pun. Karena ia tahu bahwa semua serangan itu tidak akan diteruskan. Jika saudaranya juga jatuh ke tangan seorang musuh, ia pun tidak akan berani bertindak gegabah. Urat-urat tampak menonjol di tangan si nikouw berjubah hijau yang memegang pedang. Menghentikan sebuah gerakan seperti itu memang membutuhkan energi yang jauh lebih besar daripada gerakan itu sendiri.

“Lepaskan!” Nikouw itu berseru dengan gusar, ujung pedangnya sedikit bergetar.

Liok Siau-hong tidak mau melepaskan.

“Aku tidak berbuat salah padamu, mengapa kau tidak melepaskanku?” Si gadis baju merah bertanya, sambil menggigit bibirnya, ia tidak bisa tertawa lagi.

Liok Siau-hong masih tidak mau melepaskan, ia juga tidak menjawab.

“Seorang laki-laki besar sepertimu menakut-nakuti seorang gadis kecil, kau tidak punya malu?” Auyang Cing tertawa dingin, pedangnya telah terhunus keluar dari lengan bajunya.

Liok Siau-hong tidak merasa malu. Wajahnya pun tidak berubah menjadi pucat atau memerah.

Golok lengkung berkilauan yang dipegang oleh Jinio juga telah keluar dari dalam lengan bajunya. Panjang senjata itu tidak lebih dari setengah meter.

“Di antara dua pedang dan satu golok kami, kapan saja kami bisa membuat lusinan lubang di tubuhmu!” Ia mengancam.

“Jika tidak kau lepaskan saat ini juga, kami akan memastikan kau mati di sini!” Auyang Cing segera menambahkan.

Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa.

“Kau tidak mempercayai apa yang kami katakan?” Jinio bertanya.

“Aku mempercayai setiap patah kata yang kalian ucapkan,” Liok Siau-hong menjawab sambil tersenyum, “tapi aku tidak percaya kalian akan benar-benar membuat gerakan!”

“Oh, benarkah?” Jinio mendengus dengan dingin.

“Karena aku yakin kalian semua telah melihat bahwa aku bukan seorang laki-laki sejati!” Liok Siau-hong berkata dengan santai.

“Kau bahkan bukan seorang manusia!” si nikouw mengumpat dengan sengit.

“Jadi, karena itu, aku bisa melakukan apa saja!”

“Apa yang akan kau lakukan padanya?” Ekspresi wajah Jinio tampak berubah.

“Aku sebenarnya ingin melepaskannya!”

“Jawaban ini benar-benar tak terduga.”

“Mengapa kau tidak melepaskannya?” Jinio segera bertanya.

“Setelah kalian menjanjikan dua syarat, aku akan melepaskannya!”

Jinio berfikir sebentar.

“Asal kau melepaskan dia, jangankan dua syarat, bahkan jika…..”

Bagian selanjutnya yang ingin ia katakan adalah: bahkan jika ada dua ratus syarat pun, aku akan menurut!

Tapi Jinio tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Bahkan jika itu hanya setengah syarat, kami tidak akan pernah menurut!” Samnio, yang dari tadi duduk terdiam di kursinya, tiba-tiba berseru.

Suaranya masih selambat, sehalus dan selembut tadi. Tapi saat kata terakhir keluar dari mulutnya, dia pun menyerang! Serangannya tidak lambat dan juga tidak lunak. Senjata pilihannya adalah seutas cambuk, cambuk yang berkilauan, berwarna hitam pekat, dan berbentuk seperti ular. Sementara dia tadi duduk membisu dan tenang-tenang di tempatnya, diam-diam dia telah membuka gulungan cambuknya di bawah meja. Waktu ia menyerang dengan cambuknya, senjata itu melesat lebih cepat daripada seekor ular, dan bahkan lebih mematikan daripada ular yang paling mematikan.

“Jangan lukai Jit-moay!” Jinio berseru dengan terkejut.

Tapi Samnio tampaknya tidak perduli. Ujung cambuknya melingkar seperti kepala seekor ular berbisa dan mengancam jalan darah mematikan di belakang telinga Liok Siau-hong. Tapi Liok Siau-hong telah menghindar pergi, sambil membawa si gadis berbaju merah, sejauh 3 meter. Samnio tiba-tiba melompat ke udara dan mengayunkan cambuknya dari atas ke bawah. Tampaknya ia benar-benar telah lupa bahwa adiknya berada di tangan musuhnya karena gerakannya itu tidak mungkin bisa ditarik kembali. Liok Siau-hong menarik nafas sendiri. Tadinya ia tidak percaya kalau wanita yang pendiam dan lemah lembut seperti Samnio ini sebenarnya merupakan seorang wanita yang begitu agresif. Ia tidak percaya kalau perempuan ini benar-benar akan menyerang.

Sekarang setelah ia menyerang, apalagi yang bisa ia lakukan pada si gadis berbaju merah? Jika ia menyakitinya, maka saudara-saudaranya tentu akan bertarung mati-matian dengannya. Jika ia melepaskannya, maka kakak-kakaknya tetap akan bertarung mati-matian dengannya. Maka satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah balas menyerang! Selain dari itu, tampaknya ia tidak punya pilihan lain. Cambuk Samnio tidak memberikan dirinya pilihan yang lain.

Jinio tiba-tiba menghentakkan kakinya.

“Baiklah, mari kita singkirkan dulu dia!”

“Bagaimana dengan Lojit?” Auyang Cing bertanya.

“Jika dia berani menyentuh sehelai saja rambut adik kita, aku akan mengiris daging di tubuhnya sepotong demi sepotong!”

Selama percakapan singkat itu, Samnio sudah mengayunkan cambuknya sebanyak 20 kali atau lebih. Liok Siau-hong menarik nafas lagi. Ia tidak suka melihat orang terluka, lebih-lebih perempuan. Tapi ia tidak bisa menghindar terus-menerus, cambuk itu terlalu cepat, terlalu keji. Ia harus membalas. Seperti pelangi yang tiba-tiba muncul, golok lengkung Jinio pun datang menusuk. Gerakannya aneh, tapi jauh lebih keji daripada serangan biasa.

Setelah Jinio bergerak, mustahil Auyang Cing tidak ikut berpartisipasi juga. Tapi tepat pada saat itulah, sebuah suara “bang!” terdengar saat sebuah cawan arak memukul goloknya. Sepasang sumpit tiba-tiba muncul dari samping dan menjepit cambuk ular itu. A Toh!

Sepasang sumpit itu, anehnya, berada di tangan A Toh!

Wajah Samnio tampak hijau membesi ketika ia menatap A Toh.

“Aku tidak suka ditekan oleh orang lain!” Ia berkata dengan lambat.

“Aku tahu,” jawab A Toh.

“Jika aku jatuh ke tangannya, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku dan juga tidak boleh ragu-ragu!”

“Aku tahu.”

“Lalu mengapa kau tidak mengijinkan aku menyerang?”

“Karena walaupun dia mungkin bukan seorang laki-laki sejati, dia tetaplah seorang manusia!”

“Huh?”

“Setidaknya dia tidak menggunakan adik kita sebagai tameng untuk melawan cambukmu!”

Samnio berfikir sebentar sebelum kembali ke tempat duduknya dengan perlahan-lahan. Sekarang ia duduk kembali dengan wajar dan tenang di kursinya, tidak bergerak sedikit pun. Jinio juga duduk, sambil memegangi pergelangan tangannya. Walaupun ia memegang goloknya dengan erat, pergelangan tangannya masih terasa kaku dan sakit karena benturan cawan arak itu. Tapi tiada tanda-tanda kemarahan di wajahnya. Tampaknya dia benar-benar patuh pada si pengemis yang penuh koreng ini. Mata Liok Siau-hong tampak bersinar-sinar.

“Tadi kau menyebutkan tentang dua hal yang kau ingin kami janjikan?” Tiba-tiba A Toh bertanya.

Liok Siau-hong mengangguk.

“Mengapa tidak kau katakan yang pertama!”

“Tadinya aku hendak meminta kalian untuk membawaku kepada Kongsun-toanio!”

“Dan sekarang?”

“Sekarang hal itu tidak ada gunanya!”

“Mengapa?”

Liok Siau-hong menatap langsung ke wajahnya.

“Karena sekarang aku sedang berhadapan dengan Kongsun-toanio!”

A Toh tersenyum. Senyumannya tampak amat ganjil, seperti senyuman sebuah boneka.

“Seharusnya aku telah lama menduga bahwa kau adalah Kongsun-toanio,” Liok Siau-hong menarik nafas, menyesali dirinya sendiri. “Aku bukan saja telah mengikutimu seharian, aku pun pernah melihatmu sekali sebelumnya!”

“Sebenarnya lebih dari satu kali!” A Toh tertawa.

“Lebih dari satu kali?” Liok Siau-hong agak terkejut mendengar pernyataan itu.

“Malam itu di Taman Barat bukanlah pertemuan kita yang pertama!”

“Lalu di mana pertemuan pertama kita?” Liok Siau-hong semakin bingung.

A Toh tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung, tapi ia malah balik bertanya.

“Kau ingat Ho Siu?”

Tentu saja Liok Siau-hong ingat pada Ho Siu.

“Hari itu, waktu kau berjalan keluar dari villa kecil Ho Siu dan sedang menunggu Hoa Ban-lau di kaki bukit, adakah seorang wanita tua yang membawa sebuah keranjang penuh tumbuh-tumbuhan obat yang baru dipetik, berjalan melewatimu?”

“Wanita itu adalah kau?” Liok Siau-hong hampir berteriak.

A Toh mengangguk.

“Kau juga berada di sana hari itu?”

Kembali A Toh tertawa kecil.

“Jika aku tidak berada di sana, lalu bagaimana Ho Siu bisa terjebak di dalam kandang itu?”

Liok Siau-hong terdiam. Baru sekarang, pada saat inilah, ia akhirnya faham mengapa mesin Ho Siu yang berada di bawah altar batu jadi tidak berfungsi. Hal itu bukan karena seekor tikus masuk dengan tidak disengaja dan menyebabkan mesin itu terkunci. Tidak mungkin ada kejadian yang begitu kebetulan, dan juga tidak mungkin ada keajaiban. Keajaiban tidak lebih dari hasil kreasi manusia!

“Aku tahu bahwa Ho Siu adalah seekor rubah tua, tapi aku tidak akan perduli walaupun dia memotong-motong kalian dan menjual kalian ke tukang jagal,” A Toh meneruskan. “Tapi seharusnya dia tidak menjual Siangkoan Hui-yan juga.”

Tentu saja, Siangkoan Hui-yan adalah salah satu dari mereka. Liok Siau-hong tiba-tiba teringat pada sepasang sepatu merah yang bersulamkan seekor burung walet terbang itu.

“Ia membunuh adikku, maka ia harus mati,” A Toh berkata dengan acuh tak acuh. “Walaupun ia masih hidup saat ini, kurasa ia lebih suka mampus!”

“Apakah Soat-ji hari itu melihatmu?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya.

“Anak itu benar-benar seorang setan kecil yang cerdik,” A Toh tersenyum. “Setelah kalian berdua pergi, ia segera pergi ke ruang mesin di bawah altar batu itu. Ia tahu bahwa di bawah sana tentu ada sesuatu!”

“Ia melihatmu?”

“Tidak, ia tidak melihatku, tapi ia melihat sepatu merah yang aku tinggalkan di sana!”

“Dan itulah sebabnya ia mengira bahwa kakaknya belum mati!” Liok Siau-hong tersenyum pedih.

“Akhirnya, dia tetaplah seorang anak-anak, harapannya itu terlalu tinggi,” A Toh menarik nafas. “Orang yang mati di tangan Ho Siu tidak akan pernah kembali lagi!”

“Dan itulah sebabnya kau membiarkan Ho Siu hidup, kau meninggalkannya untuk Soat-ji!”

“Benar, aku ingin dia sendiri yang balas dendam.”

“Tapi aku tidak faham, mengapa kau mau meninggalkan semua harta Ho Siu untuk dia? Tampaknya kau sendiri pun sangat membutuhkan harta itu!”

Mata A Toh tiba-tiba menampilkan sebuah ekspresi yang amat ganjil.

“Sayangnya jumlah uang yang bisa dia dapatkan dari Ho Siu tidaklah banyak.”

“Oh?”

“Harta itu telah lama jatuh ke tangan orang lain, tidak seorang pun bisa mengharapkan satu tael perak pun dari tangan orang ini!”

“Siapa orang ini?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya. “Dan bagaimana harta yang amat besar itu bisa jatuh ke tangan orang ini?”

A Toh memandang ke kejauhan, matanya menyorotkan sinar ketakutan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

“Tadi kau bilang kau menginginkan kami menjanjikan dua hal untukmu,” tiba-tiba ia mengubah pokok pembicaraan dan bertanya dengan dingin. “Kau baru menyebutkan satu, apa yang kedua?”

“Aku ingin kau ikut denganku!”

“Kau ingin aku ikut denganmu?” A Toh kembali tertawa. “Kau jatuh cinta padaku?”

“Ya!”

“Kau jatuh cinta pada nenek penjual kacang gula itu?” A Toh bertanya, masih tertawa sambil menutupi mulutnya. “Atau pengemis yang penuh koreng ini?”

“Aku jatuh cinta pada dirimu yang lain!”

“Kau membicarakan tentang si Bandit Penyulam?” Mata A Toh tampak berkerlap-kerlip.

Liok Siau-hong mengangguk.

“Kau mengira aku si Bandit Penyulam?”

“Kau menyangkalnya?”

“Agaknya, walaupun aku membantah sekarang, tentu tidak akan ada gunanya!” A Toh menarik nafas.

Faktanya ada, bukti-bukti pun sesuai, apa gunanya lagi dia menyangkal?

“Setidaknya kau pernah menolongku sekali,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Aku bukan orang yang mudah melupakan hal seperti itu!”

“Aku tahu,” A Toh menjawab secara sederhana, “kau hanya telur tolol!”

Yang bisa dilakukan Liok Siau-hong hanyalah berpura-pura tidak mendengarnya.

“Kau bermaksud membawaku kepada Kim Kiu-leng untuk diberi hukuman?”

“Kujamin bahwa kau akan menerima pertimbangan dan persidangan yang adil!”

Tiba-tiba, terdengar suara “duk!”. Golok Jinio telah menancap di meja. Si nikouw berbaju hijau pun memegang pedangnya di tangannya yang lain. Ekspresi wajah Auyang Cing tampak dingin, dan bibir Kang Kin-he kelihatan pucat.

“Kau ingin Toaci kami ikut pergi denganmu? Kau sedang bermimpi ya?” Si gadis berbaju merah tiba-tiba mulai tertawa, suara tawanya sekarang tidak lagi enak didengar.

“Ia tidak bermimpi,” A Toh berkata setelah selesai tertawa. “Aku bersedia ikut dengannya!”

Si gadis berbaju merah terdiam, semua orang terdiam. Bahkan Liok Siau-hong pun tercengang mendengar ucapannya itu.

“Aku menyukai laki-laki yang bisa berbuat sesuatu, laki-laki yang punya kemampuan,” A Toh meneruskan dengan lambat. “Jika seorang laki-laki yang benar-benar memiliki keahlian muncul, aku bersedia pergi ke mana saja bersamanya.”

Seseorang tertawa.

Kali ini Auyang Cing yang tertawa.

“Ia adalah orang pertama yang memahami arti ucapan A Toh itu: “Jadi jika kau ingin Toaci kami ikut denganmu, kau harus lebih dulu memperlihatkan keahlianmu!”

“Aku memiliki beberapa keahlian,” Liok Siau-hong tersenyum, “Cuma, aku tidak tahu keahlian mana yang ingin kalian lihat?”

“Aku hanya ingin melihat tiga macam saja!”

“Tiga macam?”

A Toh menatapnya, kelopak matanya tampak melebar.

“Kita akan bertanding sebanyak tiga babak. Jika kau bisa mengalahkanku dalam dua dari tiga babak itu, maka aku akan ikut denganmu!”

“Bertanding tiga babak? Kedengarannya menarik!”

“Kujamin hal ini akan lebih menarik daripada yang engkau perkirakan!”

Mata Liok Siau-hong tampak berkedip-kedip.

“Jadi apa yang pertama akan kita adu? Lomba minum?” Ia bergurau. Ia tahu bahwa perempuan ini tidak akan mau bertanding minum dengannya. Hanya wanita dungu yang mau bertanding minum dengan seorang laki-laki seperti dirinya.

Tapi A Toh menjawab dengan sebuah kalimat yang bahkan tidak pernah terbayangkan dalam mimpinya: “Baik! Tanding minum!”

Waktu arak diletakkan di atas meja, Liok Siau-hong baru menyadari bahwa ia telah melakukan suatu kebodohan lagi. Saat ini ia dalam keadaan lelah seperti seekor rubah tua dan kelaparan seperti seekor serigala lumpuh. Yang ia butuhkan untuk diminum saat ini adalah semangkuk besar sop ayam, tapi ia malah meminta adu minum.

Minum tidaklah berbeda dengan aktifitas lain, ia membutuhkan energi. Di samping itu, saat ini bukanlah masalah besar bagi Kongsun-toanio untuk mabuk, tapi ia sendiri tidak boleh, karena tempat ini dipenuhi oleh orang-orangnya Kongsun-toanio. Bahkan, seharusnya dia tidak boleh menyentuh alkohol setetes pun. Tapi sekarang, di atas meja ada enam kendi arak. Enam kendi arak “Lagu Dari Huzhou”.

Sekarang koreng dan luka-luka di tubuh A Toh tidak bisa lagi ditemukan, ia pun tidak lagi botak. Ia telah menukar pakaiannya dengan baju bulu yang lembut. Tampak anggun, ia kelihatan seperti seorang ibu rumah tangga biasa yang berusia setengah baya. Apakah ini penampilannya yang sebenarnya? Liok Siau-hong tidak tahu, juga tidak bisa menebak. Tidak ada yang tahu seperti apa sebenarnya Kongsun-toanio. Bahkan suaranya pun bisa berubah kapan saja. Saat ini, suaranya seperti seorang tuan rumah yang sedang giat menghibur tamunya.

“Enam kendi arak untuk diminum 2 orang,” ia tersenyum sambil menatap Liok Siau-hong, “menurutmu ini cukup?”

“Kurasa minuman ini malah cukup untuk 2 ekor kuda,” Liok Siau-hong balas tersenyum murung, “sayangnya makanan pengantar araknya tidak cukup banyak!”

Di atas meja hanya tersisa sepiring kecil sayuran dingin.

“Memang makanannya tidak cukup, itu benar,” Kongsun-toanio tersenyum. “Untunglah, kita cuma akan beradu minum, bukan adu makan!”

Tentu saja ia tahu bahwa bila seseorang minum arak dalam keadaan perut kosong, maka jumlah alkohol yang bisa diminumnya akan turun drastis; dan sekarang perut Liok Siau-hong kosong seperti dompet seorang pengemis. Setelah minum tiga cawan arak, ia telah merasa ada sesuatu yang tidak beres; setelah enam cawan, ia seolah-olah merasa kalau dirinya baik-baik saja; dua cawan lagi, dan ia menyadari bahwa ia sedang bertarung dengan perasaan mual karena arak. Lalu, entah kenapa, tiba-tiba dia menyadari bahwa dia sedang muntah, muntah-muntah begitu hebatnya sehingga seluruh isi perutnya seperti keluar.

“Kau mabuk!” Kongsun-toanio masih baik-baik saja dan bersikap seperti Guan Zhong. “Kau kalah dalam babak ini!”

Liok Siau-hong ingin menyanggahnya, tapi ia tidak bisa, maka yang bisa ia lakukan hanyalah bergumam sendirian sebagai jawabannya.

“Aku sama sekali tidak merasa mabuk, perutku saja yang rasanya sedikit tidak enak!”

“Kau tidak mengakui kekalahanmu?”

“Baiklah, aku mengakuinya, memangnya kenapa!”

Tentu saja tidak apa-apa. Di dalam fikirannya sekarang, tidak ada hal di dunia ini yang amat penting. Di samping itu, walaupun dia kalah dalam babak pertama, masih tersisa dua babak lagi. Tapi ia lupa satu hal. Kalah dalam babak ini telah menjamin bahwa ia juga akan kalah pada dua babak berikutnya. Satu-satunya yang bisa diadu oleh orang mabuk dengan orang lain adalah tidur. Jelas Kongsun-toanio tidak akan mau adu tidur dengannya.

“Untuk babak kedua, kita akan bertanding pedang!” Kongsun-toanio berkata.

“Baiklah, tanding pedang!” Liok Siau-hong membusungkan dadanya. “Apa susahnya?”

“Bagus, silakan tunggu di sini sementara aku bertukar pakaian!” ucap Kongsun-toanio.

“Kau akan bertukar pakaian lagi?”

“Mm!”

“Kita sedang bertarung atau sedang adu model pakaian?”

“Rupanya kau tidak faham. Bila sedang berduel, orang harus mengenakan pakaian yang cocok untuk berduel!”

“Mengapa begitu?”

Kongsun-toanio tersenyum.

“Karena pakaian seseorang bisa mempengaruhi pembawaan dan sikap orang itu; dan juga karena wanita selalu suka berganti pakaian!”

Liok Siau-hong sekarang tidak lagi merasa lapar atau pun lelah. Alkohol biasanya bisa memberi orang semacam energi dan kekuatan yang aneh. Tapi gelombang kekuatan dan energi ini adalah tipuan. Jika tidak bisa menipu orang lain, setidaknya dia bisa menipu orang itu sendiri. Tiba-tiba dia teringat pada para Pendekar Mabuk yang merupakan bagian dari cerita rakyat yang berkembang di dunia persilatan.

Menurut kabar angin, orang-orang ini hanya bertarung dengan baik jika mereka sedang mabuk, dan semakin banyak mereka minum maka semakin tangguh pula mereka dalam bertarung.

Menurut cerita, Bu Song si Pembunuh Harimau dari Legenda 108 Pendekar (Para Pendekar Batas Air) adalah orang seperti itu. Jika dia minum satu kendi arak, dia akan memiliki kemampuan bertarung satu kendi. Jika ia minum 10 kendi arak, maka ia akan lebih tangguh 10 kali lipat. Sekarang Liok Siau-hong merasa seolah-olah ia telah minum 10 kendi arak. Tiba-tiba ia merasa sebuah gelombang kepercayaan diri muncul dalam dirinya, seakan-akan kemampuannya meningkat 10 kali lipat. Bahkan jika ia diserang oleh 7 atau 8 ekor harimau sekarang, ia yakin bahwa ia akan dapat mengalahkan dan membunuh mereka. Sayangnya yang ia hadapi sekarang bukanlah harimau, tapi Kongsun-toanio. Bila dua orang jago berduel, perhitungan waktu, posisi dan pengambilan keputusan tidak boleh lalai sedikit pun.

Masih bisakah Liok Siau-hong membuat keputusan dan penilaian yang tepat saat ini? Dilihat dari tampangnya, dia sedang mengalami kesukaran dalam menentukan apakah ruangan ini bundar atau persegi. Sampai saat ini, Kang Kin-he tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun padanya, tapi saat itu sinar matanya memperlihatkan tanda simpati dan sedih, seakan-akan ia sedang melihat seseorang yang akan segera mati. Selain dari Samnio, tatapan mata semua orang yang hadir tampak serupa dengannya.

Liok Siau-hong menatap Samnio sebentar sebelum tersenyum dengan tiba-tiba.

“Jika aku kalah, bolehkah aku memotong telingaku dan memberikannya padamu?”

“Sudah kubilang, aku tidak mencari telinga lagi!” Samnio menjawab dengan tenang.

“Oh, benar, kau sekarang mencari lidah!”

“Tapi aku tidak menginginkan lidahmu!”

“Lalu apa yang kau inginkan?”

“Aku menginginkan kepalamu!”

“Baik!” Liok Siau-hong menegakkan tubuhnya dan tertawa terbahak-bahak. “Jika aku kalah, maka aku akan menyerahkan kepalaku padamu!”

Bagi dirinya, apakah seseorang punya kepala atau tidak tampaknya tidak begitu penting. Sekarang, bila Kang Kin-he memandangnya, ia seolah-olah sedang memandang seseorang yang tidak berkepala, bahkan tatapan mata si gadis berbaju merah juga memperlihatkan semacam perasaan iba. Siapa pun bisa melihat dengan mudah bahwa si pemabuk beralis empat ini akan kalah dalam babak berikutnya!

Tapi Liok Siau-hong masih mencari arak lagi. Kendi arak berada di atas meja di hadapannya, tetapi ia tetap tidak melihatnya. Ini karena bola matanya sudah hampir melompat keluar dari kelopaknya, karena seseorang baru saja berjalan keluar dari belakang sana. Seorang wanita. Seorang wanita yang cantik, seorang wanita yang lebih menyilaukan daripada sinar matahari, lebih anggun daripada seorang ratu, lebih agung daripada seorang malaikat. Bahkan pakaian yang dikenakan pun tampaknya bukan dibuat oleh tangan manusia, tapi diciptakan dengan cara mencampurkan warna-warna dan sinar-sinar pelangi dari dunia lain di angkasa.

Liok Siau-hong tidak mengenal wanita ini, karena seumur hidupnya ia tidak pernah melihat seorang wanita yang demikian cantik dan anggun. Untunglah, ia masih mengenali pedang di tangannya, sepasang pedang pendek seperti belati dengan panjang sekitar 20 cm dan sehelai pita sutera merah yang terikat pada masing-masing gagangnya. Mungkinkah ini Kongsun-toanio? Orang yang sama dengan ibu rumah tangga biasa yang berusia setengah baya tadi? Orang yang sama dengan si pengemis yang penuh koreng tadi, juga si nenek penjual kacang gula itu? Liok Siau-hong menggosok-gosok matanya. Ia hampir tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat di hadapannya ini.

Kongsun-toanio balas menatapnya, sambil tersenyum.

“Kau tidak mengenalku lagi?”

“Hanya ada satu hal yang tidak bisa kubayangkan!”

“Apa itu?”

“Aku tak bisa membayangkan mengapa seorang wanita secantik dirimu mau berpakaian seperti seorang nenek tua. Jika aku menjadi kau, aku tidak akan melakukan itu walaupun ada sebatang pisau di leherku!”

“Bagaimana kau tahu kalau ini adalah penampilanku yang sebenarnya?”

“Aku tidak tahu, aku hanya berharap bahwa ini adalah dirimu yang sebenarnya!”

“Mengapa begitu?”

Liok Siau-hong kembali menarik nafas.

“Karena jika aku harus mati di tangan seseorang, harapanku satu-satunya adalah mati di tangan seseorang sepertimu.”

“Kau benar-benar pintar bicara dengan seorang wanita, ya?” Kongsun-toanio menjawab dengan genit. “Bahkan hatiku hampir tersapu bersih.”

Ia mendekati Liok Siau-hong dengan anggun, bajunya yang berwarna-warni laksana pelangi berkibar seperti tertiup oleh angin yang tidak dapat dirasakan, terlihat seperti beratus-ratus ribu utas benang sutera yang sedang menari-nari.

Liok Siau-hong menarik nafas lagi.

“Kalau lain kali aku berduel pedang lagi, aku pasti akan mengenakan pakaian sepertimu!”

“Oh?”

“Kau belum membuat sebuah gerakan pun, dan mataku telah dibuat kabur!”

“Hatiku tersapu bersih, matamu kabur, kurasa kita berimbang!”

“Tidak!”

“Tidak?”

“Kau punya sepasang pedang di tanganmu, yang aku punya hanyalah segenggam keringat!”

“Di mana pedangmu?”

“Aku tidak membawa sebatang pedang pun!”

“Kau membawa golok?”

“Tidak juga.”

“Orang sepertimu? Tidak membawa senjata apa pun bila keluar?” Kongsun-toanio menarik nafas. “Itu benar-benar berbahaya!”

“Memang berbahaya, terutama hari ini.”

“Kau ingin meminjam sebatang pedang?”

“Ya.”
“Kau ingin meminjam dari siapa?”

Liok Siau-hong berpaling dan tersenyum ke arah si nikouw berjubah hijau.

Kongsun-toanio kembali menarik nafas.

“Ternyata dia tidak benar-benar mabuk, dia masih bisa mengenali barang bagus.”

Pedang ini juga tidak begitu panjang, tapi tampak berkilauan. Hawa pedang itu tampak mencorong dan mendesak keluar. Hanya dengan sebuah sentilan perlahan, pedang itu telah berdengung tiada hentinya.

“Pedang yang amat bagus!” Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak memujinya ketika ia menggenggam pedang itu di tangannya.

“Sayangnya pedang itu hari ini berada di tangan seorang pemabuk yang akan segera mati!” si nikouw berjubah hijau berkata dengan dingin.

Liok Siau-hong tertawa.

“Pemabuk memang benar pemabuk, tapi aku tidak terlalu yakin tentang bagian akan segera mati itu!”

Sekarang mereka berjalan menelusuri villa dan tiba di halaman luar. Sinar bintang tampak berkerlap-kerlip di antara daun-daun pohon gingko raksasa itu dan menerpa wajah Liok Siau-hong. Sorot matanya yang seperti orang mabuk tadi tiba-tiba menghilang, sekarang ia tampak secerdik Cukat Liang.

“Kau tidak mabuk?” Jinio berujar dengan tidak percaya.

Liok Siau-hong tidak menyangkal ucapannya.

“Jika kau tidak mabuk, lalu mengapa tadi kau mengaku kalah?” Jinio mendesak.

Liok Siau-hong tersenyum kecil.

“Jika aku tidak mengaku kalah di babak pertama, tentu aku akan kehilangan babak kedua ini, dan lupakan sajalah babak ketiga!”

“Tampaknya orang ini sebenarnya bukan seorang telur dungu,” Jinio menarik nafas.

“Tapi dia benar-benar seorang telur bajingan!” si gadis berbaju merah menyela dengan ketus, sambil menggigit bibirnya.

“Walaupun kau mengaku kalah di babak pertama, belum tentu kau bisa memenangkan babak kedua ini!” Kongsun-toanio berkata dengan santai.

Setelah menyelesaikan ucapannya itu, dia membuat gerakannya. Kilatan pedang menari-nari dan pakaian sutera warna-warni yang dia kenakan pun mulai menari-nari pula. Seluruh tubuhnya seperti berubah menjadi sinar matahari yang menyilaukan dan membutakan, sehingga hampir mustahil bagi orang lain untuk membuka mata, apalagi untuk menebak di mana dia berada atau ke mana arah pedangnya. Jika orang tidak bisa menduga di mana dia berada, bagaimana orang bisa melihat gerakannya?

Pada pertemuannya yang pertama dengan perempuan ini, Liok Siau-hong sudah tahu bahwa jurus-jurus dan tekniknya tidak dapat diramal dan selalu berubah, hingga mencapai suatu tingkatan yang nyaris lebih menakutkan daripada jurus-jurus Sebun Jui-soat. Tapi baru sekarang ia tahu bahwa tekniknya yang dulu itu malah belum mendekati kekuatan puncaknya. Agaknya kekuatan ilmu seperti ini baru bisa ditampilkan sepenuhnya bila digunakan dengan pakaian warna-warni seperti ini. Menurut legenda, pedang dan pita seperti ini bukanlah senjata, tapi merupakan sebuah tarian kuno di mana penarinya menari dengan tangan kosong, memutar-mutar pita itu di udara, dan barulah Kongsun-toanio, di jaman dulu, orang pertama yang mengambil tarian pedang yang spektakuler ini dan, dengan menambahkan sejumlah variasi, merubahnya menjadi sebuah teknik bertarung yang bisa digunakan untuk membunuh!

Mungkin dulu dia tidak menggunakan pedang bila dia menari di hadapan Kaisar Sheng Wen Shen Wu karena khawatir kalau hawa pedangnya akan membuat takut sang kaisar. Tapi, secara diam-diam, dia benar-benar menciptakan sebuah ilmu pedang, merubah pedang dan pita itu menjadi semacam ilmu pedang.

Karena ilmu pedang seperti ini diturunkan dari sebuah tarian, jelas ilmu ini berbeda dari segala jenis ilmu pedang lainnya. Itulah sebabnya Kongsun-toanio yang ini sengaja bertukar pakaian hari ini, tak perduli hal itu akan menyingkapkan seperti apa penampilan dirinya yang sebenarnya. Karena kekuatan yang sebenarnya dari ilmu pedang ini hanya bisa ditampilkan melalui kecantikan, dan hanya seorang wanita cantik yang legendaris seperti dirinya yang bisa menggunakan ilmu ini sampai ke puncaknya!

Diam-diam Liok Siau-hong menarik nafas. Baru sekarang ia menyadari bahwa rahasia ilmu kungfu bukanlah sesuatu yang bisa dibayangkan oleh siapa pun.

Karena permainan ilmu pedang seperti ini benar-benar tidak dapat diramalkan, jurus-jurusnya pun terlalu rumit, sekali dimulai rasanya tentu akan seperti air raksa yang sanggup memasuki setiap lubang apa saja! Bahkan lubang sekecil apa pun, kesalahan sekecil apa pun dalam keputusannya, atau kelalaian sekecil apa pun dalam konsentrasinya, bisa membawa dirinya pada kematian! Jika ia ingin menang, ia hanya bisa mengandalkan satu kata!

Kecepatan! Gunakan kecepatan untuk menembus kekalutan, gunakan tiada perubahan untuk menjawab selalu berubah. Setelah Kongsun-toanio memulai gerakannya, tubuh Liok Siau-hong pun segera melayang ke arah atap bangunan seberang.

“Ia melarikan diri!” si gadis berbaju merah berseru.

Sebelum ia selesai mengucapkan tiga patah kata itu, Liok Siau-hong telah melayang lagi, tubuh dan pedangnya seperti melebur menjadi satu. Kilatan pedangnya seperti lecutan cambuk kuda, seperti pelangi, langsung mengarah pada Kongsun-toanio dari segala arah. Kilauan pedangnya berkerlap-kerlip dengan liar tetapi cepat, tapi tidak ada perubahan dalam gerakannya dan seolah-olah ia bahkan tidak memiliki satu pun jalan keluar. Ia telah memindahkan seluruh energi dan kekuatan di dalam tubuhnya ke dalam serangan yang satu ini — Tiada perubahan, tiada variasi, terkadang hal ini malah merupakan variasi yang terbaik.

Tubuh Kongsun-toanio seperti embun di waktu malam, pedangnya seperti bintang jatuh, tapi dia tetap saja tidak memiliki waktu yang cukup untuk bereaksi. Tiba-tiba, tubuh dan pedangnya seperti telah diselubungi oleh hawa serangan Liok Siau-hong.

“Trang!”

Suara itu bergema di keheningan malam.

Kilatan pedang pun berbaur dan serpihan sutera memenuhi angkasa ketika puluhan rumbai-rumbai di baju Kongsun-toanio terpotong.

Tak seorang pun yang bergerak, tak seorang pun bersuara.

Kongsun-toanio telah berhenti bergerak, dia berdiri tanpa bergerak di sana, tidak menyerang lagi. Liok Siau-hong pun berhenti menyerang, ia juga berdiri di sana tanpa bergerak, sambil menatap Kongsun-toanio.

“Babak ini belum berakhir!” Jinio segera berseru. “Mengapa kalian berdua berhenti?”

“Jika babak ini adalah pertandingan untuk saling membunuh, maka jelas babak ini belum berakhir,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai. “Tapi jika babak ini adalah sebuah duel pedang, maka aku sudah menang!”

Kongsun-toanio akhirnya menarik nafas panjang.

“Benar, kekuatan seranganmu itu adalah sesuatu yang tidak dapat kukalahkan!”

“Terima kasih banyak.”

“Tapi aku tidak pernah menduga bahwa kau bisa melakukan sebuah jurus seperti itu.”

Liok Siau-hong tersenyum.

“Sebenarnya aku mencuri jurus itu!”

“Dari mana kau mencurinya?”

“Pek-in-seng-cu.”

“Yap Koh-seng?” Kongsun-toanio tampak terkejut mendengar jawaban itu.

Liok Siau-hong mengangguk.

“Jurus ini disebut Thian-gwa-hui-sian (Dewa Terbang Keluar Langit), inilah inti dari ilmu pedang Pek-in-seng-cu, bahkan Bok-tojin yakin bahwa ilmu ini bisa disebut sebagai ilmu pedang terbaik di dunia!”

Kongsun-toanio menarik nafas.

“Jurus ini dibuat sebelum gerakan sebenarnya dimulai, penerapannya dilakukan setelah gerakan itu dibuat, ia menggunakan kekerasan untuk melawan kelembutan, menggunakan tiada perubahan sebagai perubahan.” Ia berkata. “Ilmu ini memang bisa disebut sebagai ilmu pedang terbaik di dunia!”

“Jika Pek-in-seng-cu mendengar sendiri ucapan Toanio itu, dia tentu akan sangat senang!” Liok Siau-hong tersenyum.

“Tapi seandainya gerakan ini dilakukan olehnya, belum tentu bisa mengalahkanku!” Kongsun-toanio menjawab dengan dingin.

“Mengapa tidak?” Liok Siau-hong tidak bisa menahan perasaan ingin tahunya.

“Karena ia adalah seorang jago pedang tanpa tandingan. Sebelum ia membuat satu gerakan pun, aku tentu telah berjaga-jaga. Tapi tadi, waktu kau melompat ke wuwungan atap, aku malah mengira bahwa kau sedang berusaha melarikan diri, karena itu konsentrasiku pecah, dan aku tidak bisa menangkis serangan yang kau buat dengan seluruh kekuatan tubuhmu itu!”

“Dan juga karena aku bahkan tidak membawa sebatang pedang pun,” Liok Siau-hong tersenyum dan menambahkan. “Kau mungkin tidak mengira bahwa aku mampu melakukan gerakan seperti itu!”

“Itulah sebabnya kelembutan bisa mengalahkan kekerasan atau yang lemah bisa mengalahkan yang kuat, prinsipnya sama!” Kongsun-toanio menarik nafas.

Liok Siau-hong pun menarik nafas.

“Untunglah aku sama sekali bukan seorang jago pedang terkenal, kalau tidak aku mungkin telah mati di tanganmu hari ini!”

“Tapi kau belum menang!” Wajah Kongsun-toanio tampak berubah menjadi gelap. “Kita masih punya babak ketiga!”

Babak ketiga dan penentuan!

“Kita akan bertanding apa di babak ketiga?” Liok Siau-hong bertanya.

“Ginkang, ilmu meringankan tubuh!”

Liok Siau-hong tertawa kecil.

“Aku tahu kalau ilmu meringankan tubuh adalah keistimewaanmu; di samping itu kau adalah seorang pria dan memiliki keuntungan tenaga dibanding denganku.” Kongsun-toanio menambahkan. “Bertanding denganmu dalam ilmu ini akan memberi kerugian padaku, maka…..”

“Maka aku seharusnya mengalah dan memberimu sedikit keuntungan juga!” Liok Siau-hong menyelesaikan ucapannya.

“Setidaknya kau harus membiarkan aku lari lebih dulu!”

“Tidak masalah!”

“Tapi jika kau bisa menyusulku, maka kau sudah menang, kau tidak perlu lagi bersusah-payah.”

“Aku memang bukan orang yang suka melakukan hal yang membuat diriku sendiri bersusah-payah!”

“Aku akan menyuruh seseorang untuk memukul lonceng satu kali sebagai tanda, kau baru boleh mengejar setelah lonceng itu berhenti berbunyi!”

“Lonceng itu hanya dipukul satu kali?”

“Hanya satu kali.”

“Agaknya aku sebenarnya tidak dibuat susah sama sekali!”

“Tapi aku harus…..”

“Tentu saja kau harus berganti pakaian dulu!” Liok Siau-hong menyelesaikan kalimat itu untuknya. “Ada baju untuk minum, baju untuk duel, tentu saja ada satu baju lagi untuk adu lari.”

Kongsun-toaniog tertawa merdu.

“Kau sebenarnya sama sekali tidak tolol!” Ia berkata dengan genit.

Malam terasa sedingin air. Ekspresi wajah saudara-saudaranya pun dingin seperti air yang beku.

Si gadis berbaju merah tiba-tiba mendengus dingin.

“Berpura-pura mabuk, lalu mencuri jurus orang lain, aku paling benci laki-laki seperti ini.”

Liok Siau-hong tersenyum.

“Aku memang bukan sedang berusaha membuatmu menyukaiku!”

“Aku ingin bertanya padamu, kau ini sebenarnya seorang laki-laki bukan?”

“Kau tidak tahu?”

“Aku tak tahu.”

“Kurasa kau memang tidak akan tahu,” Liok Siau-hong menarik nafas, “kau hanya seorang anak kecil!”

Gadis berbaju merah itu menatapnya dengan marah sebelum memutar tubuhnya dan melangkah pergi, seakan dia tidak ingin memperdulikan Liok Siau-hong lagi.

Mata Auyang Cing tampak berkedip-kedip.

“Kau tidak bisa menganggapku hanya seorang anak kecil, bukan?” Ia bertanya.

“Tentu saja kau bukan seorang anak kecil, kau hampir cukup tua untuk menjadi seorang nenek.”

Auyang Cing juga menatapnya dengan marah sebelum memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam villa.

Liok Siau-hong menarik nafas dan duduk di atas tangga yang terbuat dari batu.

“Jika seorang laki-laki hidup sampai umur 60 tahun, setidaknya 10 tahun masa hidupnya tentu akan sia-sia.” Ia bergumam pada dirinya sendiri.

“Kenapa sia-sia?” Perasaan ingin tahu Jinio tidak dapat ditahan lagi.

“Dari 10 tahun itu, setidaknya 5 tahun terbuang karena menunggu wanita berganti pakaian.”

“Dan yang 5 tahunnya lagi?”

“Kau ingin mendengarnya?”

“Kau takut mengatakannya?”

Liok Siau-hong menarik nafas lagi.

“Yah, jika kau harus tahu, akan kuberitahu. Waktu 5 tahun lainnya terbuang karena menunggu wanita melepaskan pakaiannya.”

Wajah Jinio merah padam karena murka, sementara wajah si nikouw berjubah merah berubah menjadi pucat pasi karena marahnya.

“Aku berubah fikiran!” Samnio tiba-tiba menyeletuk.

“Berubah fikiran tentang apa?” Kali ini perasaan ingin tahu Liok Siau-hong yang tidak bisa ditahan-tahan lagi.

“Aku telah memutuskan bahwa aku ingin memotong lidahmu!” Samnio menjawab dengan dingin. Kali ini, seorang pria berbaju hijau dengan wajah penuh jenggot berjalan keluar dari villa dengan membawa sebuah lonceng di tangannya dan berhenti di atas tangga batu.

“Kurasa peruntunganku sama sekali tidak buruk.” Liok Siau-hong kembali bergumam pada dirinya sendiri. “Setidaknya aku sedang menunggu Kongsun-toanio bertukar pakaian. Jika aku menunggu orang lain, itu baru benar-benar buruk!”

“Orang lain?” Samnio meliriknya dengan marah.

“Aku tidak menyebut dirimu, kenapa kau marah?” Liok Siau-hong menjawab.

Wajah Samnio sekarang berubah sebentar merah dan sebentar pucat. Saat itulah suara lonceng tiba-tiba berdentang ketika tiga orang melesat keluar dari dalam villa.

Tiga orang itu mengenakan pakaian hitam yang serupa, bahkan wajah mereka pun tampak sama. Setelah melesat keluar dari gedung, mereka bersalto sekali dan meluncur dalam tiga arah yang berbeda. Teknik yang digunakan tiga orang ini pun sama. Sebelum dentang lonceng berhenti, ketiganya telah berada di luar tembok yang mengelilingi halaman. Yang manakah Kongsun-toanio yang sebenarnya? Si gadis berbaju merah dan Auyang Cing tentu tadi pura-pura marah supaya mereka bisa masuk ke dalam dan berpakaian sebagai dua orang umpan. Siapa yang seharusnya dikejar oleh Liok Siau-hong? Tidak perduli yang mana dia pilih untuk dikejar, walaupun dia berhasil menyusulnya, dia tentu akan kehilangan 2 orang lainnya.

Dan di antara 2 orang itu, sangat mungkin salah seorang di antara mereka adalah Kongsun-toanio. Ini seperti sebuah permainan di jaman dulu, tapi jauh lebih sukar. Liok Siau-hong tidak tahu harus melakukan apa.

Jinio, Samnio, dan si nikouw berjubah hijau semuanya menyeringai dengan dingin, kali ini Liok Siau-hong tetap jatuh ke dalam perangkap.

Liok Siau-hong pun menarik nafas.

“Tampaknya aku tetap saja jatuh oleh tipuannya kali ini!” Ia tersenyum murung sambil bangkit berdiri dan bergumam. “Tak perduli apa, kejar saja satu dan lihat hasilnya!”

Ia pun melesat, tapi tiba-tiba, dan dengan secepat kilat, melayang balik dan, dalam sekejap mata, mencengkeram pergelangan tangan laki-laki yang membawa lonceng itu.

“Trang!”

Lonceng itu jatuh ke atas tanah saat laki-laki tersebut terpana melihat perubahan situasi itu.

“Kenapa kau melakukan ini?” Ia bertanya dengan suara yang serak.

“Bukan karena alasan tertentu,” Liok Siau-hong tersenyum. “Aku hanya ingin membawamu menemui seseorang!”

“Siapa?”

“Kim Kiu-leng!”

Laki-laki itu memandangnya, menatapnya selama beberapa saat sebelum tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, suara tawanya merdu seperti suara burung berkicau.

“Liok Siau-hong benar-benar Liok Siau-hong, bahkan aku pun terkesan!”

Ternyata laki-laki pembawa lonceng ini adalah Kongsun-toanio yang sebenarnya.

“Bagaimana kau bisa tahu samaranku?”

Tak seorang pun bisa membayangkan bagaimana Liok Siau-hong bisa tahu.

“Waktu Nona Auyang marah dan masuk ke dalam, aku tahu kalau ada sesuatu yang salah!” Liok Siau-hong tersenyum.

“Mengapa begitu?”

“Karena dia bukanlah orang yang bisa kubuat marah hanya dengan satu kalimat saja!”

“Tiga orang wanita masuk dan tiga orang wanita keluar lagi, bagaimana kau tahu kalau aku tidak berada di antara tiga orang itu?”

“Aku tidak tahu.”

“Tidak tahu?”

“Aku hanya tahu bahwa seorang laki-laki dewasa dengan wajah yang penuh jenggot seharusnya tidak seharum ini!”

Kongsun-toanio menarik nafas.

“Kelihatannya aku seharusnya tidak berdiri dekat-dekat denganmu,” ia berkata sambil tersenyum jengkel, “benar-benar berbahaya bagi seorang wanita bila berada di dekatmu!”

“Terutama seorang wanita yang seharum kamu!” Liok Siau-hong tersenyum.

Kongsun-toanio mengeluarkan suara tawa yang terdengar seperti bunyi lonceng.

“Tapi aku tidak pernah mengira bahwa kau akan bertingkah laku seperti seekor anjing kecil, kau bukan hanya bisa menggunakan matamu, tapi juga hidungmu!”

“Ini juga sesuatu yang baru-baru ini kutiru dari orang lain!”

“Dari Hoa Ban-lau?”

“Benar.”

“Agaknya setiap keistimewaan orang lain akan langsung ditirukan olehmu!” Kongsun-toanio menarik nafas.

“Itu karena aku selalu bersikap rendah hati.”

“Orang yang rendah hati akan selalu bernasib baik!” Kongsun-toanio mengangguk.

“Itulah sebabnya kalian semua seharusnya bersikap sedikit rendah hati sekarang dan mendengarkan apa yang harus kukatakan!”

“Kami semua mendengarkan!” Kongsun-toanio meyakinkan dirinya.

“Sekarang kau telah jatuh ke tanganku, jika adik-adikmu menginginkan agar kau tetap aman dan sehat sejahtera, maka sebaiknya mereka tetap tinggal di sini dan menunggu instruksi.” Matanya perlahan-lahan menyapu wajah Jinio dan Samnio sebelum meneruskan dengan dingin. “Jika seseorang masih ingin mencoba sesuatu, maka itu berarti ia menginginkanmu segera mati sehingga ia bisa mengambil alih posisimu dan menjadi pemimpin di tempat ini.”

“Jangan khawatir, tidak seorang pun di sini yang menginginkan aku mati!” Kongsun-toanio tersenyum dan menjawab.

Samnio tiba-tiba menghentakkan kakinya walaupun biasanya ia selalu bersikap dingin.

“Kau benar-benar hendak pergi bersamanya?”

“Kau seharusnya tahu bahwa aku bukanlah orang yang suka menarik kembali kata-kataku,” Kongsun-toanio menjawab dengan santai. “Di samping itu, walaupun aku tidak ingin pergi bersamanya, aku tetap harus pergi. Sekali orang ini mencengkeramkan tangannya pada seorang wanita, ia tidak akan melepaskannya walaupun hal itu akan membunuhnya.”

“Terutama seorang wanita yang secantik dan seharum dirimu.” Liok Siau-hong menambahkan dengan acuh tak acuh.

“Sekarang, aku hanya ingin agar kau berhati-hati mengenai sesuatu!” Kongsun-toanio berkata.

“Apa itu?”

“Hati-hati tanganmu jangan sampai terpotong!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: