Kumpulan Cerita Silat

26/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 11:03 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 07: Kegigihan Yang Tak Tergoyahkan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Liok Siau-hong tidak suka naik kereta kuda, tapi dia malah berada di atas sebuah kereta saat ini. Orang memang tak bisa menghindar dari melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai. “Kau harus menemukan sebuah cara untuk bisa tidur di atas kereta, maka bila kau bertemu dengan Kongsun-toanio, kau berada dalam kondisi terbaik untuk menantangnya!”

Liok Siau-hong tahu bahwa kata-kata Kim Kiu-leng itu benar. Tapi bagaimana mungkin dia bisa tidur pada saat seperti ini?

“Siau-ongya sangat mengagumi Hoa Ban-lau dan telah memintanya untuk tinggal di Istana selama beberapa hari. Ia mendapat pelayanan yang baik di Istana, kau tidak usah mengkhawatirkannya lagi.”

Liok Siau-hong lebih tahu daripada orang lain bahwa ia memang tidak perlu mengkhawatirkan benda-benda atau orang-orang di dalam Lam-ong-hu, dia juga tidak perlu khawatir mengenai Coa-ong lagi. Orang yang harus ia khawatirkan saat ini tidak lain adalah dirinya sendiri. Tidak perduli betapa kuatnya seseorang, bila dihadapkan dan dibebani dengan tekanan dan beban seberat ini, orang itu tentu akan meledak. Kuda itu menarik kereta dengan langkah yang amat cepat, dan kereta pun terguncang ke sana ke mari.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk memusatkan fikirannya, terlalu banyak hal yang harus ia fikirkan. Tapi bagaimana jika hati rasanya seperti sedang tercabik-cabik?

Pagi harinya, kereta berhenti di depan sebuah warung tahu yang kecil di sebuah desa di pinggir jalan. Aroma susu tahu panas yang harum terbawa oleh angin pagi yang lembut sampai di kereta.

“Aku tahu kau sedang tidak ingin makan, tapi setidak-tidaknya kau harus minum sedikit susu tahu panas ini.” Walaupun Liok Siau-hong tidak ingin membuang-buang waktu, dia tahu kalau dia tidak boleh mengacuhkan perhatian seorang sahabat. Di samping itu, sais kereta dan kuda penarik kereta pun membutuhkan sedikit istirahat.

Lentera masih menyala di dalam warung itu. Seseorang sedang duduk di sudut dan meneguk semangkuk besar susu tahu di tangannya dengan suara yang keras. Sinar lentera berkerlap-kerlip dan menyinari kepalanya, kepala yang benar-benar gundul. Ia adalah seorang hwesio. Hwesio ini memiliki wajah persegi dan telinga yang besar. Sebuah wajah yang membawa keberuntungan, itulah yang akan dikatakan para peramal padamu. Tapi pakaian yang dia kenakan tampak kotor dan compang-camping, dan sepasang sandal jerami di kakinya pun sudah hampir rusak. Lau-sit Hwesio!

Waktu ia melihat hwesio paling aneh di dunia ini, barulah sebuah senyuman muncul di wajah Liok Siau-hong.

“Lau-sit Hwesio, kau telah melakukan sesuatu yang tidak jujur baru-baru ini?”

Lau-sit Hwesio tampaknya benar-benar terkejut saat melihatnya dan hampir menumpahkan susu tahu di tangannya.

“Dilihat dari tampangmu, aku tahu pasti bahwa kau tentu telah berbuat tidak baik tadi malam!” Liok Siau-hong tertawa terbahak-bahak. “Mengapa kau tampak begitu serba salah bila kau melihatku?”

“Lau-sit Hwesio hanya sekali berbuat tidak jujur dalam hidupnya,” Lau-sit Hwesio seperti baru saja menelan seekor tikus. “Buddha Maha Pengampun, mengapa Hwesio harus bertemu denganmu?”

“Apa salahnya bertemu denganku? Setidak-tidaknya aku bisa membelikan semangkuk susu tahu untukmu!” Liok Siau-hong tersenyum.

“Hwesio tidak perlu membayar susu tahu. Hwesio tahu bagaimana caranya memohon belas kasihan pada dermawan.” Ia meneguk tetesan terakhir susu tahu-nya dengan cepat dan tampaknya ia hendak lari dari tempat itu dengan segera.

Tapi Liok Siau-hong menghalangi jalannya.

“Karena kau tidak membutuhkan aku untuk membayarimu, lalu mengapa kau tidak tinggal di sini dan berbincang-bincang sebentar? Auyang Cing tidak ada di sini, untuk apa kau cepat-cepat pergi?”

“Sasterawan bertemu dengan prajurit, tidak ada gunanya bicara tentang logika,” Lau-sit Hwesio tersenyum sabar. “Hwesio bertemu dengan Liok Siau-hong, ini jauh lebih tidak beruntung daripada sasterawan itu. Bincang ini bincang itu, akhirnya Hwesio juga yang menderita!”

“Apa maksud ucapanmu itu?”

“Jika Hwesio tidak menderita, lalu kenapa dulu Hwesio akhirnya harus merangkak di atas tanah?”

“Baiklah, kujamin kau tidak akan merangkak hari ini!” Liok Siau-hong tertawa.

“Masih bisa menderita walaupun tidak merangkak,” Lau-sit Hwesio menarik nafas. “Hwesio hanya takut pada dua orang di dunia ini, mengapa Hwesio bertemu denganmu lagi hari ini?”

“Siapa orang satunya lagi?”

“Bahkan jika Hwesio mengatakan siapa orang itu, kau tidak akan kenal!”

“Cobalah!”

Lau-sit Hwesio bimbang sebentar sebelum akhirnya menyerah.

“Orang ini adalah seorang wanita!”

“Hwesio tampaknya cukup banyak mengenal wanita!” Liok Siau-hong bergurau.

“Cukup banyak juga wanita yang mengenal Hwesio.”

“Apakah wanita ini Auyang?”

“Bukan Auyang, Kongsun!”

“Kongsun?” Liok Siau-hong hampir berteriak. “Apakah itu Kongsun-toanio?”

“Kau juga kenal dia? Bagaimana kau bisa tahu tentang dia?” Lau-sit Hwesio juga terkejut.

“Kau mengenalnya?” Liok Siau-hong sekarang telah menjerit. “Kau tahu di mana dia berada?”

“Mengapa kau bertanya?”

“Karena aku punya urusan yang belum terselesaikan dengannya!”

Lau-sit Hwesio menatap Liok Siau-hong selama beberapa saat, dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa begitu kerasnya sehingga tubuhnya terbungkuk-bungkuk. Tiba-tiba ia melarikan diri melalui sisi Liok Siau-hong dan sudah menjauh hampir 10 meter. Walaupun jaraknya sudah 10 meter, dia masih tertawa.

Tapi kali ini Liok Siau-hong telah memutuskan untuk tidak membiarkannya lolos. Ia berjumpalitan dan menghalangi jalannya lagi.

“Mengapa kau tertawa?”

“Bila Hwesio menemukan sesuatu yang lucu, Hwesio tertawa. Hwesio selalu jujur.”

“Apa yang lucu dengan urusan ini?”

“Mengapa kau harus menghancurkan kendi dan bertanya terus?”

“Bahkan jika aku harus menghancurkan kepala seorang hwesio, aku akan terus menanyakan hal ini.”

Ia bersikap sangat serius waktu bicara. Lau-sit Hwesio hanya bisa menarik nafas.

“Kepala Hwesio tidak boleh dihancurkan, Hwesio hanya punya satu kepala.”

“Maka bicaralah, mengapa urusan ini begitu lucu?”

“Yang pertama: karena kau tidak akan menemukannya. Yang kedua: karena walaupun kau menemukannya, kau tidak akan mampu mengalahkannya. Yang ketiga, karena walaupun kau bisa mengalahkannya, itu semua sia-sia.”

“Kenapa begitu?”

“Karena setelah kau bertemu dengannya, kau tak akan tega memukulnya. Bahkan kau mungkin berharap bahwa ia akan memukulmu beberapa kali!”

“Ia sangat cantik?”

“Ada empat Wanita Cantik di dunia persilatan, kau mungkin mengenali semuanya, bukan?”

“Ya.”

“Apakah menurutmu mereka cantik?”

“Tentu saja cantik.”

“Tapi Kongsun-toanio 10 kali lebih cantik dari mereka berempat digabungkan semuanya!”

“Kau pernah melihatnya?”

“Buddha Maha Pengampun,” desah Lau-sit Hwesio sambil tersenyum murung. “Jangan biarkan Hwesio melihatnya lagi. Kalau tidak, walau Hwesio punya 10 buah kepala, Hwesio akan kehilangan semuanya.”

“Kau tahu di mana dia berada?”

“Tidak tahu.” Waktu Lau-sit Hwesio mengatakan tidak tahu, maka ia pasti tidak tahu. Lau-sit Hwesio tidak pernah berdusta.

“Di mana kau melihatnya terakhir kali?”

“Tidak boleh kuberitahu padamu.” Waktu Lau-sit Hwesio mengatakan tidak boleh diberitahu padamu, maka dia pasti tidak akan memberitahumu. Walaupun kau menghancurkan kepalanya, ia tetap tidak akan memberitahumu.

Bahkan Liok Siau-hong pun tahu bahwa ia tidak mungkin memaksanya bicara. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatapnya dengan marah selama sesaat. Tiba-tiba ia tertawa.

“Sebenarnya Hwesio tidak hanya memiliki satu kepala.”

Lau-sit Hwesio tidak faham.

“Karena Hwesio masih punya si Hwesio Cilik!”

Ia tertawa, tertawa begitu kerasnya sehingga tubuhnya pun terbungkuk-bungkuk. Lau-sit Hwesio menjadi demikian marahnya sehingga ia tidak sanggup memikirkan sesuatu untuk diucapkan. Ia tahu bahwa Liok Siau-hong sedang menggodanya dengan sengaja, tapi tetap saja ia menjadi marah, begitu marahnya sehingga ia hampir pingsan. Kim Kiu-leng menonton di pinggir, bahkan ia pun tak tahan untuk tidak tertawa kecil.

“Hwesio tidak berdusta dan masih punya satu hal kecil yang harus diberitahukan padamu.” Lau-sit Hwesio tiba-tiba menarik nafas.

“Ya? Apa itu?” Liok Siau-hong bertanya, tetapi setelah berusaha keras untuk menghentikan tawanya.

“Dilihat dari tampang kalian berdua, wajah kalian tertutup oleh pertanda buruk. Dalam waktu tiga hari, kepala kalian akan dihancurkan oleh seseorang!”

______________________________

Walaupun Beng Wi juga hanya memiliki satu kepala, ia dikenal sebagai Sam-thau-coa (Ular Berkepala Tiga). Di antara Sembilan Polisi Ternama, dia selalu dianggap sebagai orang yang paling kejam dalam metode kerjanya dan paling tidak kenal belas kasihan dalam melakukan pemeriksaan. Sam-thau-coa, tentu saja, memiliki tiga wajah yang berbeda. Waktu ia melihat Kim Kiu-leng, sikapnya bukan saja amat hormat, senyumannya pun sangat manis dan murni. Bahkan Liok Siau-hong merasa sukar untuk membayangkan kalau orang seperti ini tega menuangkan air garam ke luka tawanannya atau memukuli orang hingga jadi bubur di dalam ruang-ruang tahanan yang gelap.

Tapi karena adanya orang-orang seperti ini di dunia, setiap orang seharusnya tahu bahwa sebaiknya dia tidak melakukan kejahatan selama hidupnya. Sais yang mengemudikan kereta juga merupakan orang yang berada di bawah komando Loh Siau-hoa. Setelah mereka memasuki kota itu, seseorang dari kantor polisi setempat segera menyambut mereka dan membawa mereka ke tempat ini. Ini juga merupakan bagian kota yang sibuk, jelas sebagian besar orang memang benar-benar sukar menyingkirkan kebiasaan semacam ini.

Itulah sebabnya sangat sedikit kejahatan dan misteri yang tidak berhasil diungkapkan di dunia ini. Beng Wi telah menanti mereka di sebuah warung teh di sudut jalan. Tujuan akhir mereka adalah sebuah jalan kecil di belakang sana, di ujung jalan itu ada sebuah rumah kecil.

“Orang yang menyewa rumah ini juga seorang pemuda yang amat tampan, dan juga membayar uang sewa setahun di depan.”

“Ada orang yang melihat sesuatu di rumah ini sejak itu?”

“Tidak, tampaknya tidak ada orang yang tinggal di sana sejak penyewaan itu.”

Mungkin kedatangan mereka telah mendahului Kongsun-toanio. Setelah membunuh Coa-ong, ia tentu berhenti dulu di suatu tempat. Apalagi ia juga harus membawa Sih Peng yang sedang terluka.

Itulah sebabnya Kim Kiu-leng memberi instruksi: “Perintahkan orang-orangmu yang gampang dikenali untuk pergi menjauh sehingga tidak ada orang yang melihat bahwa perhatian khusus sedang ditujukan ke tempat ini!”

“Kami telah bertindak sangat hati-hati selama ini,” Beng Wi meyakinkannya. “Orang-orang yang berada di sini semuanya telah menyamar dengan sangat baik.”

“Apakah samaran saja sudah cukup?” Kim Kiu-leng mendengus dingin. “Seolah-olah orang lain tidak bisa melihat samaran kalian itu.”

Bahkan Liok Siau-hong pun bisa melihat dalam sekilas pandang bahwa para pelayan warung teh, pedagang buah berry di seberang jalan, peramal di sampingnya, dan 7 atau 8 orang tamu di warung teh itu semuanya adalah para polisi yang sedang menyamar. Setelah lama menjadi abdi masyarakat, sukar bagi seseorang untuk menjaga sikap dan tingkah lakunya agar sama seperti orang biasa, terutama ekspresi wajah, yang hampir mustahil tidak terlihat oleh siapa pun yang memperhatikannya.

“Aku akan menyuruh mereka pergi sekarang juga.” Beng Wi mengiyakan.

Di bawah sudut sebuah atap yang menjuntai di atas jalan, ada seorang pengemis botak kudisan dengan selembar genteng atap yang patah di tangannya. Waktu Beng Wi lewat, ia mengulurkan genteng atap itu, meminta uang. Apa yang ia dapatkan hanyalah sebuah tendangan.

Segera semua polisi yang menyamar itu bergegas pergi.

“Aku hanya menyisakan dua orang di sini,” lapor Beng Wi. “Dengan demikian, bila terjadi sesuatu, mereka bisa digunakan sebagai kurir.”

Yang satunya adalah si pedagang yang berada di seberang jalan. Warungnya masih seperti semula, tapi pedagang itu telah digantikan oleh seseorang yang tidak begitu menyolok. Tapi yang satunya lagi siapa?

“Song Hong semakin bagus akhir-akhir ini,” Kim Kiu-leng memandang pada si pengemis botak. “Jaga dia baik-baik, dia akan hebat nantinya.”

Liok Siau-hong akhirnya faham bahwa si pengemis botak kudisan itu adalah salah seorang dari mereka juga. Saat itu belum jam 9 malam, pada bulan tujuh waktu terbenamnya matahari memang sedikit lebih lama, maka orang pun tidak perlu menyalakan lampu di dalam rumah. Sinar matahari terbenam terlihat menembus jendela, memperlihatkan sebuah ruangan yang penuh dengan lapisan debu. Sepertinya sudah lama tidak ada orang yang tinggal di dalamnya. Kondisi dan suasana kamar itu sangat mirip dengan kamar sebelumnya.

Di dalam lemari ada 8 atau 9 stel pakaian yang berbeda-beda, di atas meja ada sebuah cermin, dan di samping meja ada sebuah ranjang kecil. Tidak ada yang menarik, dan juga tidak ada petunjuk yang bisa ditemukan. Seakan-akan seluruh perjalanan ini cuma sia-sia belaka. Kim Kiu-leng menggendong tangannya di belakang punggungnya sambil berjalan mondar-mandir di tempat itu. Tiba-tiba, dengan sebuah gerakan yang cepat, ia melompat ke atas sebuah balok penyangga atap, menggeleng-gelengkan kepalanya, dan melompat turun lagi.

“Di sini!” Beng Wi tiba-tiba berseru dari dapur. Waktu ia berlari ke luar, di tangannya telah ada sebuah kotak kayu berukuran kecil.

“Di mana kau menemukannya?” Kim Kiu-leng tampak sangat bersuka-cita.

“Di dalam perapian.” Tempat itu benar-benar tempat yang amat baik untuk menyembunyikan sesuatu. Karena benda ini disembunyikan di sana, tentu ada rahasianya.

Kim Kiu-leng agaknya bermaksud untuk membuka paksa peti itu, tapi Liok Siau-hong segera mencegahnya.

“Hati-hati, mungkin ada perangkap di dalamnya.”

Kim Kiu-leng menimbang-nimbang berat kotak itu sebentar dan tersenyum.

“Kotak ini benar-benar ringan. Jika ada pegas atau perangkap di dalamnya, seharusnya kotak ini sangat berat.”

Tentu saja ia merupakan orang yang selalu berhati-hati, kalau tidak ia tentu telah mati 20 kali sejak 10 tahun yang lalu. Pegas dan perangkap biasanya terbuat dari logam, yang tentunya akan memberi tambahan bobot yang cukup besar. Kotak itu tidak ada kuncinya, maka Kim Kiu-leng bisa membukanya dengan mudah. Tiba-tiba segumpal asap mengepul keluar dari dalam kotak. Kim Kiu-leng berusaha menahan nafasnya, tapi terlambat. Tubuhnya pun terhuyung-huyung ke belakang dan membentur lemari. Lalu dia roboh ke lantai!

Di dalam kotak itu tidak ada perangkap mekanis, tapi ada sebuah balon kecil yang terbuat dari perut ikan. Ketika kotak dibuka, jarum yang dipasang di tutup kotak akan menusuk balon itu dan segera mengeluarkan gas racun yang tersimpan di dalam balon. Walaupun berhati-hati dan berpengalaman, Kim Kiu-leng tidak mencurigai hal ini.

Tergeletak di atas lantai, dia tampak seperti sebuah balon yang menggelembung. Seluruh tubuhnya membengkak, parasnya pucat pasi, dan di kepalanya terdapat sebuah goresan. Kepalanya tadi membentur lemari dan terluka.

“- Wajah kalian tertutup oleh pertanda buruk. Dalam tiga hari, kepala kalian akan dipecahkan oleh seseorang -. Lau-sit Hwesio memang jujur.” Liok Siau-hong menarik nafas dalam-dalam dan membuyarkan gas beracun itu dengan kibasan tangannya. Memikirkan kembali kata-kata Lau-sit Hwesio itu, hatinya tiba-tiba terasa agak dingin. Beng Wi tadi berlari keluar dari ruangan itu secepat yang dia bisa. Barulah setelah gas itu buyar, dia masuk kembali, sambil mendekap hidungnya.

Sekarang Liok Siau-hong membantu Kim Kiu-leng duduk dan melindungi jantungnya dengan tenaga dalamnya, berharap dapat menyelamatkan nyawanya.

Beng Wi malah pergi dan memungut kotak itu, tampaknya dia lebih tertarik pada kotak itu daripada terhadap Kim Kiu-leng. Tapi kotak itu kosong, tidak ada apa-apa di dalamnya. Setelah memeriksanya beberapa lama, tiba-tiba dia berseru.

“Ini dia!”

Rahasianya bukan berada di dalam kotak, tapi pada tutupnya. Jika memeriksa dengan cermat, orang bisa melihat bahwa di antara ukir-ukiran pada tutup itu ada sebuah tulisan kuno, yang berasal dari masa sebelum Kaisar Pertama Cina. Totalnya ada 6 kata.

“Pergi ke A Toh, akan segera kembali.”

Semakin jelas, semakin tidak diperhatikan orang, semakin sukar pula menemukannya. Kongsun-toanio benar-benar memahami jalan fikiran manusia. Siapa yang memikirkan cara berkomunikasi seperti ini? Dia menyuruh seseorang untuk memberi sesuatu pada A Toh, karena A Toh akan segera kembali.

Tapi kepada siapa instruksi itu ditujukan? Apa yang harus diserahkan pada A Toh? Siapa pula A Toh? Pertanyaan-pertanyaan ini mustahil untuk dijawab saat ini.

“A Toh, A Toh.” Beng Wi mengerutkan keningnya dan bergumam pada dirinya sendiri. “Mungkinkah A Toh yang itu?”

“Kau kenal A Toh?” Liok Siau-hong bertanya, walaupun dia tahu jawabannya.

“Di mulut jalan ada seorang pengemis, semua orang memanggilnya A Toh.”

“Di mana dia sekarang?”

“Supaya Song Hong bisa tinggal di sana dan menyamar sebagai dirinya, kami telah mengusirnya pergi.”

“Cepat, cari dia.”

Beng Wi segera hendak berlalu.

“Tunggu sebentar.”

Beng Wi menunggu instruksinya.

“Apakah dia tahu mengapa kalian mengusirnya pergi?”

“Aku hanya mengatakan padanya bahwa ia tidak diijinkan mengemis di situ.” Beng Wi menggelengkan kepalanya. Seorang polisi sebenarnya tidak memerlukan alasan apa pun untuk mengusir seorang pengemis.

“Bila kau menemukannya, segera beritahu aku. Tidak perduli apa pun, jangan biarkan dia tahu.”

“Ya, Tuan. Aku akan segera kembali setelah aku menemukannya.”

“Tidak usah kembali ke sini. Aku akan membawa Kim Kiu-leng ke tempat Shi Jing Mo. Jika kau menemukan sesuatu, pergi saja ke sana!” Shi Jing Mo adalah tabib paling terkenal di kota ini, tentu saja Beng Wi pun tahu hal ini.

“Juga suruh orang-orangmu mencari debu dan menaburkannya di tempat kita tadi berada, pastikan debu itu kelihatan wajar.”

“Ya, Tuan.”

“Dan letakkan kembali kotak ini di tempat kau menemukannya.”

“Ya, Tuan.”

“Song Hong juga harus pergi dari sini, suruh orang lain yang berpatroli di mulut jalan. Mungkin ada baiknya juga menempatkan seseorang di halaman rumah sebelah, dia juga harus segera memberitahuku bila ada sesuatu yang mencurigakan!”

“Ya, Tuan.” Beng Wi berdiri di sana dan memandang pada Liok Siau-hong, seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.

Tapi waktu berjalan ke pintu, dia lalu berubah fikiran dan berpaling.

“Jika Liok-tayhiap masuk Enam Pintu, maka kami semua terpaksa harus ke belakang untuk mengurus bayi saja.” Ia berkata sambil tersenyum.

______________________________

Liok Siau-hong pun cukup bangga pada dirinya sendiri. Caranya menangani keadaan yang genting benar-benar mengagumkan. Bahkan jika Kim Kiu-leng dalam keadaan sehat, ia tidak bisa berbuat lebih baik lagi daripada dirinya. Sayangnya, Liok Siau-hong bukanlah seorang dewa, maka ada kejadian-kejadian tertentu yang tidak bisa dia duga sebelumnya. Shi Jing Mo ternyata tidak berada di rumahnya.

Tabib ini biasanya suka berlagak sok penting dan sangat jarang pergi ke rumah pasiennya tapi merekalah yang harus datang kepadanya. Tetapi Majikan Hoa Giok-kan adalah sebuah pengecualian.

Luka-luka pada mata Hoa It-ban masih belum sembuh benar, tapi ia juga telah pulih dari perasaan terkejut karena ia bisa menggumamkan nama-nama lukisan terkenal miliknya yang telah hilang. Mengapa makin kaya seseorang, semakin sukar bagi mereka untuk melupakan benda-benda materi yang hilang? Mungkinkah karena mereka tidak bisa melupakannya maka mereka menjadi kaya?

Saat ini tidak ada lagi cara untuk memberitahukan perubahan situasi yang tak terduga ini pada Beng Wi, maka Liok Siau-hong pun hanya bisa duduk menunggu di ruang tamu gedung Shi. Hal yang aneh adalah, entah kenapa fikirannya sekarang benar-benar sedang jernih. Tiba-tiba ada banyak hal yang muncul dalam fikirannya, hal-hal yang tidak pernah ia fikirkan sebelumnya.

Sementara ia sedang dalam renungan, berita dari Beng Wi pun tiba.

“A Toh ada di rumahnya.”

“Seorang pengemis pun memiliki rumah?”

“Pengemis tetaplah seorang manusia, bahkan anjing saja mempunyai lubang kecil miliknya sendiri, apalagi seorang pengemis.”

Tapi kau akan sangat bermurah hati bila menyebut rumah A Toh sebagai sebuah lubang. Tempat itu tidak lebih dari sebuah dinding bata yang kecil, terkucil dan setengah runtuh sehingga membentuk sebuah ruangan kecil. Di keempat sisinya ada lubang-lubang yang berfungsi sebagai jendela. Tempat itu berbau apek karena gelombang udara musim panas, maka papan kayu yang biasanya digunakan untuk menutupi jendela-jendela itu masih belum dipakukan. Bagian dalamnya tampak terang.

“Apakah A Toh masih ada di dalam?”

“Ya, tidak tahu dari mana dia mendapatkan sekendi arak, tapi dia sedang menikmatinya sendirian di dalam sana.”

“Sudah ada orang yang bicara dengannya?”

“Tidak, tapi tadi ada seseorang di sana.”

“Seperti apa orang itu?”

“Orangnya berkulit kuning, memakai sebuah topi yang ujung atasnya berbentuk seperti buah cherry merah, berpakaian seperti seorang kurir atau seorang pegawai di kantor pejabat atau seperti itulah.”

Tidak lama setelah percakapan singkat itu, seorang kurir yang memakai topi cherry merah pun datang dengan penuh lagak mendaki bukit kecil itu. Ia membawa sebuah kantung kain berwarna kuning. Sesudah mengamati sekelilingnya sebentar, ia melompat ke dalam rumah A Toh. Tentu saja ia tidak melihat Liok Siau-hong dan Beng Wi, keduanya bersembunyi di atas sebatang pohon yang amat besar.

“Haruskah kita masuk dan menyergap mereka sekarang?” Beng Wi berbisik.

“Orang yang akan kita tangkap bukanlah dia.” Liok Siau-hong segera menggelengkan kepalanya.

“Tuan bermaksud menemukan si Bandit Penyulam dari dia?” Beng Wi segera faham.

“Mmhmm.”

“Tulisan di kotak itu mengatakan bahwa dia akan segera kembali, menurut Tuan ia akan kembali ke tempat Kongsun-toanio?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Dan kantung itu tentu sesuatu yang akan diberikan pada perempuan itu, ia mungkin telah kembali ke tempatnya sekarang!”

Beng Wi menahan sabarnya dan menunggu. Ia tidak harus menunggu lama. Kurir bertopi cherry merah itu berjalan keluar dan, sambil menggumamkan sebuah irama, menuruni bukit kecil itu. Ia telah melakukan tugasnya, maka ia tampak jauh lebih santai sekarang.

Setelah menunggu beberapa saat lagi, cahaya di dalam rumah kecil itu tiba-tiba padam dan setelah itu A Toh berjalan keluar. Sebelum pergi, ia menutup jalan masuk ke rumahnya dengan sebuah pintu yang terbuat dari sebilah potongan kayu yang cukup besar. Ia membawa dua buah kantung yang terbuat dari tali rami di punggungnya, kantung kain berwarna kuning tadi tentu berada di dalam salah satu kantung rami itu.

“Aku akan mengikutinya, kau pulanglah dan rawatlah Kim-locong-mu.”

“Tuan akan pergi tanpa membawa bantuan, bagaimana jika…..”

“Tak usah cemas, aku tidak mungkin mati!” Liok Siau-hong menepuk pundaknya.

Bulan masih belum penuh. Angin malam membawa tanda-tanda musim gugur. Ini adalah cuaca yang sempurna untuk bepergian. A Toh tidak menyewa sebuah kereta, dia juga tidak menaiki seekor kuda, tapi dia malah hanya berjalan kaki dengan acuh tak acuh di depan sana, seolah-olah dia tidak memiliki sedikit pun perasaan khawatir di dunia ini. Tidak ada orang lain yang melintas di jalan raya ini kecuali mereka berdua, satu di depan dan satunya lagi di belakang. Kadang-kadang A Toh akan menggumamkan sebuah lagu, kali lain dia akan menirukan adegan-adegan dalam opera atau drama-drama dengan suara yang keras; tapi tampaknya langkah kakinya malah semakin lambat.

Liok Siau-hong berusaha menahan dirinya untuk tidak pergi mencari sebuah cambuk dan memukul orang ini beberapa kali agar berjalan lebih cepat. Setelah menghabiskan waktu yang rasanya bertahun-tahun, bintang-bintang mulai tampak jarang-jarang dan bulan pun mulai menghilang, tapi A Toh masih belum mempercepat langkahnya. Ia malah menghampiri sebuah pohon di pinggir jalan dan duduk di bawahnya. Ia membuka salah satu kantungnya, mengeluarkan seekor bebek panggang, sekendi arak, dan ajaibnya, mulai makan di pinggir jalan itu.

Liok Siau-hong menarik nafas, yang bisa ia lakukan hanyalah mencari sebatang pohon yang letaknya jauh dan naik ke atasnya. Ia menunggu, dan menonton. Tiba-tiba ia menyadari bahwa ia sangat kelaparan. Dua hari terakhir ini dia tidak mendapatkan makanan yang layak. Tadinya hal itu terjadi karena ia tidak mau makan, tapi sekarang ia benar-benar tidak bisa makan.

A Toh merobek salah satu kaki bebek itu dan menggigitnya sekali, lalu ia meminum araknya. Tiba-tiba ia menarik nafas.

“Benar-benar membosankan rasanya kalau minum sendirian. Jika ada seseorang di sini bersamaku, ini baru hebat.” Ia bergumam sendirian.

Liok Siau-hong benar-benar tergoda untuk turun dan ikut makan bersamanya. Tapi ia malah hanya bisa menontonnya makan. Akhirnya A Toh selesai. Ia menggosok-gosokkan tangannya ke celananya dan meneruskan perjalanannya. Liok Siau-hong benar-benar terkejut bercampur senang saat menemukan bahwa, selain kaki yang tadinya dirobek oleh A Toh, separuh bagian bebek panggang itu sama sekali belum tersentuh waktu A Toh meninggalkannya di atas tanah. Pengemis ini agaknya benar-benar lupa kalau dirinya adalah seorang pengemis.

Tentu saja dia bukan benar-benar seorang pengemis, tapi Liok Siau-hong merasa seakan-akan ia telah hampir mati kelaparan, ia sangat tergoda untuk memungut separuh bagian bebek itu dan menggunakannya untuk mengisi perutnya. Tapi ia harus menahan diri. Bila ia mengingat-ingat semua kutu yang berada di tubuh A Toh, walau ia benar-benar akan mati kelaparan pun ia akan memilih kematian daripada memakan bebek itu.

Perjalanan pun diteruskan, dan sebelum ia sadar, Liok Siau-hong menemukan bahwa hari telah pagi. Malam hari di bulan tujuh selalu relatif singkat waktunya dan matahari pun tiba-tiba terbit. Dengan perlahan-lahan tapi pasti, semakin banyak orang yang hendak pergi ke pasar, muncul di jalan raya. Tiba-tiba A Toh mulai berlari secepat mungkin di jalan itu. Seorang pengemis jorok seperti dirinya tidak akan pernah menarik perhatian orang lain di jalan, biarpun dia sedang lari atau bergulingan.

Tapi bagaimana mungkin Liok Siau-hong pun berlari mengejarnya seperti seekor anjing liar? Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan selain berlari? Bahkan jika orang lain menganggapnya gila, ia tetap harus berlari. Dan larinya A Toh ternyata cukup cepat juga.

Bila tidak ada orang lain di jalan, ia berjalan lebih lambat daripada seekor siput, tapi bila ada orang lain di jalan, ia berlari lebih cepat daripada seekor kelinci. Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa orang ini bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi. Mengawasi orang seperti ini tidaklah mudah. Untunglah A Toh tidak pernah melihat ke belakang, dan tampaknya dia juga sudah agak lelah. Tiba-tiba dia melompat ke bagian belakang sebuah pedati yang ditarik oleh seekor keledai dan membawa sisa-sisa daging babi. Ia bersandar pada bagian luar pedati itu dan agaknya bersiap-siap hendak tidur.

Sais pedati itu berpaling ke belakang dan menatapnya dengan marah, tapi tidak mengusirnya turun. Liok Siau-hong menarik nafas dan ia mendapatkan sebuah penemuan lagi: bepergian sebagai seorang pengemis ternyata memiliki sejumlah keuntungan yang tidak pernah bisa diduga oleh orang lain.

Tidak heran ada pepatah yang mengatakan: Menjadi orang miskin lebih baik daripada menjadi pangeran.

Matahari perlahan-lahan naik ke angkasa. Mata A Toh tertutup, seolah-olah ia benar-benar tidur lelap. Liok Siau-hong malah sedang keringatan, ia terbakar di bawah terik matahari, lelah, lapar, haus, dan tidak boleh berhenti.

Untuk dapat menemukan Kongsun-toanio, ia harus mengikuti orang ini tidak perduli apa pun. Jika beruntung, ia tentu akan bertemu dengan sejumlah penjual arak dingin atau nasi sapi di pinggir jalan. Tapi keberuntungan tidak berada di fihaknya, bahkan penjual kue pai pun tidak berhasil ditemukan.

Ternyata orang-orang di selatan sangat pemilih dalam soal makanan. Untuk makan, mereka harus menemukan sebuah tempat yang nyaman untuk duduk dan makan. Pedagang-pedagang kecil seperti itu sangat jarang berhasil menjual sesuatu di wilayah ini. Maka hampir mustahil bagi pedagang-pedagang kecil untuk tetap bertahan dalam bisnisnya. Maka Liok Siau-hong pun hanya bisa menahan lapar.

Tadinya di pinggir jalan itu ada deretan tanah persawahan yang dialiri air. Baru sekarang jalan melingkar ke kaki sebuah gunung yang hijau. Tiba-tiba A Toh melompat turun dari pedati dan mulai berlari mendaki gunung itu. Di bawah naungan pepohonan dan rerumputan di lereng gunung itu, setidaknya udara akan terasa lebih sejuk. Setelah tidur di pedati, A Toh sekarang tampaknya telah penuh dengan energi.

Liok Siau-hong tidak punya pilihan lain kecuali mengikutinya. Tiba-tiba ia menyadari satu hal lagi, pengemis jorok dan miskin ini bukan hanya memiliki fisik yang kuat, tapi dia juga tampaknya memiliki sedikit ilmu meringankan tubuh. Untunglah baginya gunung itu tidak terlalu tinggi, di samping itu, jika A Toh mau berlari mendaki lereng gunung, mungkin tempat tujuannya memang tidak terlalu jauh. Mungkin sekali markas rahasia Kongsun-toanio berada di atas sebuah gunung. Tapi anehnya, gunung ini benar-benar sepi, bukan hanya tidak ada bangunan yang terlihat di sisi jalan, tetapi jalan-jalan di gunung itu pun sangat sempit dan berkelok-kelok.

Setibanya di puncak, udara tiba-tiba dipenuhi oleh sebuah aroma yang mengundang selera, aroma daging kambing rebus. Tentu ada sebuah rumah di sana, tentu itu rumahnya Kongsun-toanio. Tapi, Liok Siau-hong kembali keliru. Tidak ada bangunan di puncak itu, yang ada hanyalah sekelompok pengemis yang sedang makan dan minum.

“Anggaplah dirimu sedang beruntung,” seseorang berkata saat mereka melihat A Toh. “Kami baru saja mencuri seekor kambing gemuk dan sekarang hendak mencicipinya. Karena kau muncul, mengapa tidak bergabung dengan kami?”

“Hehe, tentu aku telah berbuat sebuah pahala beberapa hari terakhir ini, tidak perduli ke mana pun aku pergi, aku selalu bertemu makanan enak!” A Toh tertawa sambil berjalan menghampiri mereka.

Tapi Liok Siau-hong terpaksa cuma menonton lagi. Tidak mungkin ia bisa bergabung dengan para pengemis ini dan ikut memakan kambing curian itu, ia tidak boleh terlihat oleh A Toh. Maka ia hanya bisa bersembunyi di balik sebuah batu karang, merasa begitu kelaparan sampai-sampai perutnya pun mulai terasa sakit.

Ia bahkan mulai merasa menyesal, seharusnya ia memungut dan memakan daging bebek itu tadi malam. A Toh tampaknya segera akrab dengan para pengemis itu. Mereka tertawa-tawa dan berpesta sepuas hatinya, seakan-akan mereka sedang berada di Surga ke-7, tapi Liok Siau-hong merasa seolah-olah dia sedang berada di dasar Neraka. Belum pernah dia begitu menderita seperti ini di dalam hidupnya.

Baru sekarang dia akhirnya menyadari betapa menakutkannya kelaparan itu. Jika ia bisa menggunakan kesempatan yang sedikit ini dan menutup matanya sebentar, mungkin rasanya tidak seburuk ini.

Tetapi mungkin ada lagi anak buah Kongsun-toanio yang berada di antara para pengemis itu, mereka bisa saja menunggu A Toh di sini untuk mengambil alih barang antaran itu. Maka Liok Siau-hong tidak boleh lengah sedikit pun, dia harus berkonsentrasi untuk mengamati mereka. Jika A Toh diam-diam berhasil menyerahkan kantung kuning itu pada orang lain untuk dibawa kepada Kongsun-toanio tanpa terlihat olehnya, bukankah semua penderitaan yang dia alami ini akan sia-sia saja?

Akhirnya para pengemis itu telah selesai makan. A Toh mengucapkan terimakasih kepada mereka sebelum, anehnya, memulai perjalanannya menuruni gunung. Apa tujuan tamasya-nya tadi ke atas gunung ini?

“Mungkinkah ia telah menyerahkan kantung kuning itu pada orang lain? Kenapa aku tidak melihatnya?” Liok Siau-hong tidak mampu membayangkan kejadian yang sebenarnya. Tapi karena ia tidak melihat apa-apa, ia harus tetap mengikuti A Toh.

Di tengah perjalanan menuruni gunung, tiba-tiba A Toh berhenti dan mengeluarkan kantung kuning itu dari salah satu kantung tali rami yang ia bawa. Setelah menelitinya sebentar, ia lalu memasukkannya kembali ke dalam buntalan di punggungnya.

“Untunglah salah satu dari pencuri kambing itu tidak mencurinya,” ia tersenyum dan bergumam pada dirinya sendiri. “Kalau tidak kepalaku mungkin tidak akan lama lagi berada di leherku!”

“Apa yang ada di dalam kantung kuning itu? Kenapa begitu penting?” Liok Siau-hong tidak bisa melihat, juga tidak bisa menebak.

Tak perduli apa, setidaknya benda itu masih ada pada A Toh. Lagipula, jika benda itu benar-benar penting, mungkin dia sendiri yang harus menyerahkannya pada Kongsun-toanio. Tampaknya semua penderitaan yang dialami Liok Siau-hong tidaklah sia-sia sama sekali.

Tapi hal yang paling menjengkelkan adalah A Toh menuruni gunung itu tepat melalui jalan naiknya tadi. Tidak mungkin dia naik ke atas gunung cuma untuk makan kambing, kan? Mungkinkah ia telah melihat seseorang sedang menguntitnya dan sengaja membuatnya menderita sedikit? Tidak, itu juga tidak mungkin. Ia sama sekali tidak tampak gugup, dan jika ia memang melihat seseorang mengikutinya, ia tidak mungkin kembali melalui jalan yang sama.

Liok Siau-hong bahkan semakin yakin kalau dia tidak mungkin ketahuan. Bahkan jika dia harus kelaparan dua hari lagi, dia tidak akan mengeluarkan suara sedikit pun.

Akhir-akhir ini banyak orang yang sampai pada kesimpulan bahwa ilmu ginkangnya termasuk 5 yang terbaik di dunia.

Bila seseorang dibebani dengan semacam tugas yang rahasia dan penting, tidak perduli apakah ada orang lain yang mengikutinya atau tidak, perjalanannya tentu akan sengaja dibuat berliku-liku.

“Tentu itulah penyebabnya,” Liok Siau-hong tampak puas dengan penjelasan ini. Setelah menuruni gunung, gerakan A Toh, seperti yang telah diduga, jadi jauh lebih stabil. Setelah berjalan satu jam lebih, ia memasuki sebuah kota. Setelah mengelilingi jalan-jalan di kota itu sebanyak dua kali, ia lalu memasuki sebuah rumah makan, tapi kemudian keluar lagi lewat pintu belakang. Tiba-tiba, ia berbelok dan menelusuri sebuah gang, di dalam gang itu hanya ada sebuah pintu. Pintu tersebut adalah pintu belakang sebuah kebun bunga dari sebuah kompleks yang amat besar.

Ia seperti baru tiba di rumah sendiri, karena ia berjalan masuk tanpa mengetuk pintu sama sekali. Setelah berada di halaman, tampaknya ia pun sangat mengenali lika-liku tempat itu. Dua kali belokan dan putaran dan ia telah berhasil keluar dari semak-semak bunga, melewati sebuah jembatan kecil, dan tiba di sebuah villa kecil yang berada di pinggir sebuah kolam bunga teratai. Terlihat sinar lampu di lantai atas villa itu. Baru sekarang Liok Siau-hong menyadari bahwa senja hari pun telah berlalu.

Lewat senja, matahari terbenam masih bisa terlihat di atas cakrawala. Villa kecil itu tampak terang-benderang, tapi tidak terdengar suara orang, bahkan tidak terlihat seorang pun pelayan. A Toh juga tidak berhenti di sini, karena ia terus menaiki tangga. Di dalam sebuah ruangan yang penuh hiasan di lantai atas, tidak terlihat satu orang pun, tapi satu set perangkat makan yang mahal dan arak telah tertata rapi di atas sebuah meja.

Tampaknya nasib mujurnya benar-benar luar biasa, ke mana pun pergi ia selalu bertemu makanan yang enak.

Walaupun tidak ada orang di sana, di atas meja ada 8 pasang sumpit dan cawan arak. A Toh duduk, mengambil sepasang sumpit, menjepit sepotong Ayam Mabuk, tapi kemudian menggelengkan kepalanya dan meletakkannya kembali. Ia merogoh ke belakang dan mengeluarkan kantung kuning itu lagi.

“Tidak disangka kalau aku kembali menjadi orang pertama yang tiba di sini.” Ia bergumam. Jelas dia sedang menunggu orang lain. Tapi orang-orang macam apa yang dia tunggu? Apakah Kongsun-toanio termasuk di antaranya?

Di samping villa itu ada sebuah pohon gingko yang rimbun dan amat besar, penuh dengan dedaunan dan dahan-dahan, cocok untuk tempat bersembunyi. Dan letaknya pun persis menghadap jendela ruangan itu.

Seperti seekor kadal, Liok Siau-hong merayap naik ke batang pohon yang menghadap jendela dan menemukan sebuah bagian dari pohon itu yang penuh dengan dedaunan. Hari semakin gelap, jika seseorang melihat keluar dari jendela, dia tentu akan tetap aman. Setidaknya sekarang A Toh telah tiba di tempat tujuannya, dia tidak perlu khawatir lagi kalau-kalau ia melakukan tipuan.

Liok Siau-hong baru saja hendak menarik nafas dalam-dalam dan beristirahat sebentar waktu ia sayup-sayup mendengar suara kibasan baju yang tertiup angin. Sebuah bayangan manusia terlihat melintasi dahan-dahan pohon dan mendarat di villa itu dengan gerakan Mengibas Awan Dengan Cekatan yang indah.

Gerakan yang indah, ilmu meringankan tubuh yang amat murni. Liok Siau-hong segera membuka matanya lebar-lebar untuk melihat. Tapi ia telah tahu bahwa orang ini bukanlah Kongsun-toanio. Walaupun ilmu kungfu orang ini termasuk kelas satu, tapi masih berada di bawah Kongsun-toanio, dan, tentu saja di bawah dirinya juga.

Tapi orang ini pun seorang wanita, usianya sekitar 40 tahun, tapi wajahnya seperti masih berusia separuhnya. Pada dirinya masih tampak kesegaran dan kepolosan seorang wanita muda, tapi gayanya dan lirikan matanya terlihat jauh lebih menggoda daripada yang bisa ditemui pada seorang gadis muda. Ia mengenakan pakaian berwarna ungu gelap tetapi ketat dengan sebuah buntalan kuning pula di tangannya.

Tadi, waktu dia sedang melintasi pohon, Liok Siau-hong pun telah melihat bahwa dia juga memakai sepasang sepatu merah.

Tapi sekarang dia telah duduk.

“Kau lagi yang pertama.” Ia memberi A Toh sebuah senyuman yang manis.

“Laki-laki memang tidak sabaran, kami selalu harus menunggu wanita.” A Toh menarik nafas.

Sekarang ada sesuatu yang bisa disimpulkan oleh Liok Siau-hong. Ia menyadari bahwa dugaannya tadi benar, A Toh ini bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi, dan kedudukannya pun tidaklah rendah. Bagaimana mungkin dia, seorang pengemis yang penuh kutu, bisa duduk sejajar dengan wanita berbaju ungu yang memiliki ilmu meringankan tubuh dan gaya yang sangat indah ini? Mungkinkah dia juga seorang jago kungfu?

Liok Siau-hong selalu menganggap dirinya sendiri memiliki pengetahuan yang amat luas mengenai orang-orang dan kejadian-kejadian di dunia persilatan. Tapi sekarang ia menyadari bahwa masih banyak jago-jago di dunia ini yang tidak ia kenal, setidaknya dua orang di depannya ini adalah orang-orang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Angin tiba-tiba membawa sebuah gelombang suara tawa yang mirip dengan dentingan lonceng perak. Orangnya belum tiba, tapi suara tawanya sudah.

“Jit-moay datang.” Wanita berbaju ungu itu berkata.

Ucapannya bahkan belum selesai ketika satu orang lagi muncul di ruangan itu. Tentu saja seorang wanita lagi. Rambutnya dibentuk berupa dua ekor kuda dan berwarna hitam legam, matanya berkilauan, giginya bersinar-sinar, dan senyumannya manis. Ia adalah seorang gadis muda berbaju merah dan tangannya pun menggenggam sebuah buntalan kuning.

Ia tersenyum kecil pada A Toh dan kemudian berpaling pada si wanita berbaju ungu.

“Jinio, kau datang cepat!”

“Yang tua memang tidak sabaran, kami selalu harus menunggu yang muda.” Si wanita berbaju ungu menarik nafas.

“Sejak kapan kau jadi tidak sabaran?” Ia tertawa, suara tawa seperti dentingan lonceng perak pun kembali terdengar. “Orang lain tentu harus bersyukur jika mereka bisa bersabar terhadap apa yang kau lakukan.”

Wanita berbaju ungu menatapnya dan menarik nafas.

“Aku tidak faham apa yang kau tertawakan. Mengapa kau terus tertawa siang dan malam?”

“Karena ia mengira bahwa ia kelihatan sangat cantik bila ia tertawa,” A Toh menjawab seenaknya. “Belum lagi sepasang lesung pipinya yang manis itu, jika ia tidak tertawa, lalu bagaimana mungkin orang bisa melihatnya?”

Gadis berbaju merah itu menatapnya dengan marah, tapi kemudian tertawa lagi. Dan kali ini dia tidak bisa berhenti. Liok Siau-hong sekarang tahu bahwa wanita berbaju ungu itu dikenal sebagai Jinio. Jinio? Mungkinkah itu singkatan dari Kongsun-jinio? Jika Kongsun-jinio ada di sini, tentu Kongsun-toanio tidak jauh-jauh dari tempat ini. Liok Siau-hong akhirnya merasa sedikit senang, setidaknya semua penderitaannya ini tidak sia-sia. Di samping itu, suara tawa gadis berbaju merah itu mampu membuat orang yang mendengarnya merasa bahagia. Sayangnya Liok Siau-hong pun tidak mengenalnya.

“Mari kita bertaruh,” dia masih tertawa. “Siapa menurut kalian yang terakhir datang kali ini?”

“Sam-moay, tentu saja,” Jinio menjawab. “Ia memerlukan waktu satu jam hanya untuk membasuh mukanya, bahkan jika kau membakar alis matanya pun ia tetap tidak akan buru-buru datang.”

“Benar!” Gadis berbaju merah itu bertepuk tangan dengan gembira dan tertawa. “Tentu dia lagi kali ini.”

“Salah, kali ini bukan dia.” Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari lantai bawah.

Suara itu sangat lembut, dan sangat lambat, sementara seseorang berjalan naik ke lantai atas. Walaupun dia sedang berjalan perlahan-lahan sekarang, Liok Siau-hong tadi tidak melihat kapan dia memasuki gedung itu.

Gadis berbaju merah tampak terkejut melihatnya, tapi kemudian dia segera tertawa lagi.

“Siapa yang mengira kalau sebuah keajaiban telah terjadi? Samnio tidak terlambat datang!”

Bukan hanya suaranya yang lembut, tingkah-lakunya pun lemah lembut, senyumannya bahkan semakin lembut ketika dia dengan perlahan berjalan menaiki tangga, duduk dengan perlahan dan dengan perlahan meletakkan kantung kuning miliknya di atas meja. Baru kemudian dia menarik nafas.

“Aku bukan saja tidak datang terlambat, tapi aku pun telah berada di sini sebelum kalian semua.”

“Benarkah?” Gadis baju merah bertanya.

“Aku tiba di sini tadi malam dan tidur di lantai bawah. Aku bermaksud datang lebih dulu dan memberi kejutan pada kalian semua!”

“Jadi mengapa kau menunggu sampai sekarang baru datang ke atas sini?” Gadis baju merah pun tertawa.

“Karena ada banyak hal yang harus kulakukan!” Samnio menarik nafas.

“Seperti apa?”

“Aku harus menyisir rambutku, dan kemudian membasuh wajahku, dan lalu mengenakan bajuku, dan kemudian memakai sepatuku.” Kali ini, bahkan Liok Siau-hong pun, yang sedang bergantung di atas pohon, terpaksa tertawa kecil.

Gadis berbaju merah itu telah terbungkuk-bungkuk sambil tertawa.

“Itu benar-benar hal yang amat penting.” Ia berkata, sambil berusaha menarik nafas.

“Kan sudah kubilang, dia butuh waktu satu jam untuk membasuh mukanya.” Bahkan Jinio pun tak tahan untuk tidak tertawa kecil.

“Aku hanya mengherankan satu hal!” A Toh tiba-tiba memotong.

“Apa itu?” Gadis baju merah bertanya sebelum dua orang lainnya sempat melakukannya.

“Selain menyisir rambutnya, membasuh mukanya, memakai baju dan sepatunya, bagaimana dia punya waktu untuk melakukan hal lainnya dalam seharian?”

“Ini benar-benar masalah yang serius,” gadis baju merah berusaha keras menahan tawanya dan menjawab dengan muka yang kaku. “Jika nanti dia menikah, dia bahkan mungkin tidak punya waktu untuk punya anak, itu memang serius!”

Tapi sebelum ucapannya selesai, ia sudah hampir bergulingan di lantai karena tertawa.

“Yang kutahu adalah kau tentu saja akan punya waktu untuk punya anak,” Samnio agaknya sama sekali tidak marah, malah dia menjawab dengan perlahan. “Nanti kau akan memiliki sedikitnya 70 atau 80 orang anak.”

“Bahkan jika aku punya satu anak setiap tahunnya, bagaimana mungkin aku bisa punya sebanyak itu?” Gadis baju merah masih tertawa.

“Jika kau bisa melahirkan banyak anak sekaligus, bukankah hal itu mungkin saja terjadi?”

“Hanya babi yang bisa melahirkan banyak anak sekaligus, aku bukan seekor……” Gadis baju merah berhenti di tengah kalimatnya, tiba-tiba ia menyadari bahwa pada dasarnya ia sedang membuat lelucon tentang dirinya sendiri.

Jinio tidak bisa menahan tawanya lagi.

“Hehe, jadi kau bukan seekor babi? Seharusnya kau mengatakan hal ini pada setiap orang, untuk menghindari kebingungan.” Ia bergurau.

“Oh, aku faham,” gadis baju merah mencibirkan mulutnya. “Sici (kakak keempat) dan Lakci (kakak keenam) tidak ada di sini, jadi kalian semua menggunakan kesempatan ini untuk membuat lelucon tentang diriku!”

“Lalu apa bedanya jika mereka berada di sini?” Tanya Samnio.

“Setidaknya mereka akan membantuku bicara, gabungan kalian berdua bahkan tidak ada artinya bagi salah seorang saja dari mereka…..”

Angin kembali bertiup dan tiga orang lagi melayang masuk melalui jendela seperti burung.

“Setidaknya ada satu hal yang aku yakini, aku tahu kalau dia bukan seekor babi!” Salah seorang dari mereka tersenyum dan berkata.

Si gadis berbaju merah bertepuk tangan lagi dengan gembira dan tertawa.

“Kalian dengar itu? Aku tahu bahwa Sici akan berada di fihakku.”

“Tapi, apakah dia jika bukan seekor babi kecil?” Samnio malah bertanya.

“Ia hanya seekor ayam betina, itu saja!” Losi menjawab.

“Aku seekor ayam betina?” Si gadis berbaju merah tercengang mendengar jawaban itu.

“Jika bukan, lalu kenapa kau selalu: hihihihi, tertawa terus-menerus siang dan malam?”

Gadis berbaju merah itu tidak bisa lagi tertawa, Liok Siau-hong juga tidak Di antara 3 orang wanita yang terakhir datang, ia mengenali 2 orang di antaranya. Salah satunya, tentu saja, Kang Kin-he, hal itu tidak membuatnya terkejut. Tapi, walaupun dalam mimpi, tidak pernah ia bisa membayangkan bahwa Losi (orang keempat) mereka adalah Auyang Cing! Pelacur terkenal yang pernah dibuatnya marah itu, yang hanya mencintai uang tapi tidak perduli pada wajah, Auyang Cing yang itu dan satu-satunya!

Melihat Auyang Cing datang bersama dengan Kang Kin-he, melihat bahwa ilmu ginkang Auyang Cing tidak berada di bawah Kang Kin-he, Liok Siau-hong hampir terjungkal dari atas pohon. Organisasi Sepatu Merah ini tampaknya benar-benar memiliki anggota dari berbagai kalangan. Auyang Cing dan Kang Kin-he jelas merupakan figur-figur yang menonjol di dalam organisasi ini. Di atas meja ada delapan pasang sumpit, dan sekarang tujuh orang telah tiba.

Wanita berbaju ungu adalah Jinio, wanita yang membutuhkan waktu satu jam untuk membasuh mukanya itu adalah Samnio, Sici adalah Auyang Cing, Goci adalah Kang Kin-he, orang keenam adalah seorang nikouw gundul berkaus kaki putih dan berjubah hijau, dan si ayam betina kecil yang tidak pernah berhenti tertawa itu adalah yang nomor tujuh. Jadi di mana Toanio? Kenapa Kongsun-toanio belum muncul? Dan A Toh yang penuh kutu itu, apa hubungannya dengan mereka? Di mana posisinya?

Mereka bertujuh telah duduk dan meletakkan kantung kuning di hadapan mereka. Hanya kursi utama yang masih kosong, jelas disisakan untuk Kongsun-toanio.

“Jadi apa yang kalian berenam bawa pulang kali ini?” A Toh tiba-tiba bertanya. “Bisakah kalian perlihatkan padaku?”

“Tentu saja bisa,” si gadis baju merah menjawab sebelum yang lainnya sempat. “Karena Samci lebih dulu berada di sini, mengapa tidak kita persilakan dia untuk lebih dulu memperlihatkan apa yang dia bawa pulang?”

Samnio tidak keberatan atau menolak, dengan perlahan dia mengulurkan tangannya dan mulai membuka kancing-kancing di kantungnya. Sekarang ia sedang membuka kancing ketiga, tapi tadi diperlukan waktu 10 menit hanya untuk membuka kancing pertama.

“Kalian mungkin tahan, tapi aku tidak,” Jinio menarik nafas dan tersenyum sabar. “Ijinkan aku yang lebih dulu memperlihatkan apa yang aku dapatkan.”

Sekarang Liok Siau-hong membuka matanya lebar-lebar dan dia memusatkan perhatian pada kantung itu. Apa yang ada di dalam kantung kuning yang misterius itu? Telah lama ia ingin mengetahuinya. Maka dialah yang paling tertarik untuk melihat isinya daripada orang lain yang hadir di situ. Untunglah baginya, gerakan Jinio tidak lambat dan tak lama kemudian dia telah membuka kantungnya. Di dalamnya ada 70 atau 80 buah buku deposito bank dengan ukuran yang berbeda-beda.

“Tahun ini memang bukan tahun yang berhasil bagiku, dan aku pun hanya keluar selama 3 bulan,” dia menjelaskan. “Maka aku hanya berhasil mendapatkan satu juta delapan ratus delapan puluh ribu tael perak dari bank-bank sekitar sini. Tapi tahun depan aku tentu akan mendapatkan hasil dua kali lipat.”

Dalam waktu kurang dari setahun ia mampu mengumpulkan lebih dari 1,8 juta tael perak, dan masih menyatakan bahwa tahun ini adalah tahun yang buruk? Liok Siau-hong diam-diam menarik nafas. Seumur-umur ia tidak bisa membayangkan Jinio ini melakukan bisnis apa. Dari apa yang dia ketahui, para bajingan terbesar dan terhebat di dunia penjahat hanya dapat mengumpulkan setengah dari apa yang didapatkan perempuan ini. Ia tidak bisa memikirkan bisnis lain di dunia ini yang lebih menguntungkan daripada kejahatan.

“Jika kita hanya mendapatkan 1,8 juta tael, maka kurasa kita harus sedikit menghemat pengeluaran kita tahun ini.” Samnio menarik nafas.

“Bagaimana denganmu? Bagaimana penghasilanmu tahun ini?” Jinio bertanya.

“Tahun ini tidak buruk bagiku,” Samnio tersenyum. “Agaknya akhir-akhir ini cukup banyak orang yang tidak ingin kehilangan hidungnya.”

Tidak ingin kehilangan hidungnya, berarti mereka bersedia kehilangan muka mereka, berarti bahwa mereka tak tahu malu. Liok Siau-hong pun faham kalimat ini, tapi apa hubungannya hal itu dengan penghasilan perempuan itu tahun ini? Itu yang tidak difahami oleh Liok Siau-hong. Untunglah, kali ini Samnio telah selesai membuka ketiga kancing pada kantungnya. Di dalamnya ada sehelai kain minyak.

Ia membuka gulungan kain minyak itu, hanya untuk membuka sebuah gulungan kain satin merah lagi. Luar biasa, di dalam kain satin merah itu ada 70 atau 80 buah hidung yang berbeda-beda ukuran dan berbeda-beda bentuknya! Hidung manusia! Liok Siau-hong hampir terjatuh dari atas pohon lagi. Bagaimana mungkin seorang wanita yang begini lembut dan sopan bisa begitu kejam, bahkan tidak terbayang olehnya kalau perempuan ini tega memotong 70 atau 80 buah hidung itu dengan tangannya sendiri!

“Yah, karena mereka tidak menginginkan hidung mereka lagi, maka aku memutuskan untuk memotongkannya bagi mereka!” Samnio berkata dengan lembut.

“Itu ide yang sangat bagus!” Gadis baju merah bertepuk tangan dan tertawa lagi.

“Tapi tahun depan aku tidak akan melakukan hal ini lagi!”

“Apa yang akan kau lakukan tahun depan?” Tanya si gadis berbaju merah.

“Tahun depan aku akan memotong lidah!”

“Memotong lidah? Kenapa begitu?”

“Karena akhir-akhir ini aku menyadari bahwa orang-orang di dunia ini terlalu banyak bicara!” Samnio menarik nafas dengan ringan dan menjelaskan dengan lambat-lambat.

“Jika aku tidak mengenalmu, aku tentu tak akan percaya bahwa kau adalah orang yang demikian kejam dan tidak kenal belas kasihan walaupun kau memukulku sampai mati!” Gadis berbaju merah menjulurkan lidahnya sedikit dan tertawa dengan suara yang mirip dengan bunyi dentingan lonceng perak.

“Aku tidak akan membunuhmu, paling-paling yang kulakukan adalah memotong lidahmu!” Samnio menjawab dengan santai.

Gadis berbaju merah segera menarik lidahnya dan menutup mulutnya, seakan-akan dia bahkan takut kalau orang lain melihatnya. Bila urusannya memotong hidung atau lidah, wanita ini, yang memerlukan waktu satu jam hanya untuk membasuh mukanya, tentu tidak akan lamban gerak-geriknya.

“Punya siapa hidung terbesar yang ada di sini?” Auyang Cing tiba-tiba bertanya.

“Mengapa kau ingin tahu?”

“Aku selalu tertarik pada laki-laki berhidung besar!” Auyang Cing bergurau.

“Gadis kecil ini sudah terlalu banyak menghabiskan waktu di tempat-tempat seperti itu,” Jinio tertawa. “Dua tahun di tempat itu dan bukan saja hatinya semakin hitam sekarang, kulit mukanya juga semakin tebal.”

“Jici tentu orang dalam juga,” Auyang Cing cekikikan. “Tampaknya dia tahu benar hal-hal baik tentang laki-laki berhidung besar!”

“Sayangnya orang berhidung terbesar itu adalah orang tak berhidung sekarang!” ucap Samnio.

“Jadi siapa yang kau bicarakan ini?” Auyang Cing bertanya.

“Toan Thian-seng!”

Waktu mendengar nama ini, Liok Siau-hong kembali terkejut. Ia pernah mendengar nama ini sebelumnya, dan pernah juga bertemu dengan orangnya. Thin-sam-sam (Menaklukkan Tiga Gunung) Toan Thian-seng bukan hanya terkenal karena hidungnya yang amat besar, tapi juga karena gaya dan bokongnya yang besar. Memotong hidungnya, tak perduli siapa pun pelakunya, benar-benar bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

“Apakah kita bermaksud melakukan hal yang sama seperti dulu-dulu?” Gadis berbaju merah telah menutup mulutnya untuk waktu yang lama dan dia tidak tahan lagi. “Kita semua makan dan minum dan mabuk sepuasnya?”

“Itu adalah tradisi kita, tentu saja tidak akan berubah,” jawab Jinio.

“Kalau begitu, karena kita semua sudah ada di sini, mengapa tidak kita mulai?” Gadis baju merah bertanya.

Hati Liok Siau-hong seperti tenggelam. Mereka semua sudah ada di sini? Apakah Kongsun-toanio sama sekali tidak datang hari ini?

“Siapa bilang kita semua sudah ada di sini? Tidakkah kau lihat kalau masih ada sebuah kursi yang kosong?” tegur Jinio.

“Siapa lagi yang akan datang?”

“Kudengar Toaci menemukan seorang adik untukmu!” Jinio tersenyum.

“Akhirnya ada yang lebih muda dariku!” Gadis berbaju merah pun tersenyum. “Sejak saat ini, jika kalian menggertakku, aku akan balas menggertak dia!”

“Sayangnya dia tidak akan ke sini hari ini!” A Toh tiba-tiba berkata.

“Mengapa tidak? Dia tidak mau datang?” Jinio mengerutkan keningnya.

“Ia mau, tapi tidak bisa!”

“Seseorang tidak mengijinkannya?” Jinio bertanya.

A Toh mengangguk.

“Yah, kalau dia tidak datang, lalu siapa lagi yang kita tunggu?” Gadis berbaju merah segera memotong, ia tidak sabar lagi untuk memulai acara.

“Seorang tamu!”

“Kita punya seorang tamu tahun ini?” Mata gadis berbaju merah pun bersinar-sinar.

“Mmhmm!” jawab A Toh.

“Bagaimana dengan kemampuan minum araknya?” Gadis baju merah bertanya.

“Kudengar tidak buruk!”

“Tidak perduli betapa pun bagusnya kemampuan minum araknya, asal dia berani datang hari ini, kujamin ia akan masuk ke sini dengan tubuh tegak, tapi pergi dengan tubuh terbujur!” Gadis baju merah tertawa.

“Agaknya ia bukan hanya jago minum arak, tapi ia pun cukup berani,” Mata Jinio tampak berkerlap-kerlip. “Kalau tidak, dia tentu telah lari pergi mendengar kalimat-kalimat kalian itu.”

“Ia seberani itu?” Mata gadis berbaju merah tampak berkedip-kedip.

“Ia masih belum lari.” A Toh menjawab.

“Jika dia belum lari juga, lalu mengapa dia tidak masuk?” Gadis baju merah tertawa. “Mungkinkah dia lebih suka mencicipi angin daripada mencicipi arak?”

“Dia telah mencicipi angin seharian,” A Toh menjawab. “Kurasa dia sudah cukup kenyang sekarang.”

Seseorang menarik nafas dari atas pohon di luar jendela: “Aku benar-benar sudah cukup kenyang.”

Sambil menarik nafas, Liok Siau-hong melayang masuk bersama hembusan angin yang lembut. Sudah lama dia memang ingin masuk.

Tujuh orang seperti ini, bagaimana mungkin mereka tidak tahu kalau ada seseorang di atas pohon di luar jendela? Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa bersembunyi di luar sana adalah hal yang sangat bodoh untuk dilakukan. Ia merasa bahwa dirinya makin lama jadi semakin tolol.

Tapi dia tidak kelihatan seperti orang tolol. Tidak ada orang tolol, tak perduli seperti apa pun tololnya, yang memiliki empat alis mata.

Gadis berbaju merah itu menatapnya, tiba-tiba ia bertepuk tangan dan tertawa.

“Aku tahu kau siapa, kau adalah si telur tolol Liok Siau-hong yang beralis empat itu!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: