Kumpulan Cerita Silat

26/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (18)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:16 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 18. Senjata Yang Paling Menakutkan Didunia Adalah Senjata Yang Tidak Terlihat
Oleh Gu Long

Sebuah pisau sepanjang tiga hun dan tujuh inci.

Sebuah pisau yang telah dilemparkan!

Saat Li Ma Hu melihat pisau itu, wajahnya tiba-tiba tersentak.

Kemudian, seluruh tubuhnya merosot jatuh ke atas lantai seperti tersambar oleh cahaya kilat yang kuat dan tak bersuara.

Saat dia jatuh kelantai, sesuatu jatuh ke atas meja dari tangannya.

Saat Fu Hong Xue berbalik, dia melihat Ye Kai.

Ye Kai berjalan menghampiri sambil tersenyum diwajahnya, dia tidak membawa senjata.

Fu Hong xue menatapnya, kemudian melihat kepada Li Ma Hu di atas lantai, dan bertanya dengan tajam,öApa maksud semua ini?ö

Ye Kai hanya tersenyum. Dia sepertinya suka menjawab pertanyaan yang tidak ingin dia jawab dengan senyuman.

Fu Hong Xue tidak bertanya lebih lanjut. Dia menangkap tiga buah jarum yang tergeletak di atas meja, tiga buah jarum berwarna hijau. Jarum-jarum yang jatuh terlepas dari tangan Li Ma Hu.

Bila tidak ada pisau tersebut, mungkin Fu Hong Xue mengalami nasib yang sama dengan Luo Luo Shan saat ini. Apakah pemilik toko kelontong yang bersahabat ini adalah Nenek Du yang kejam dan jahat?

Fu Hong Xue mengepalkan jari-jarinya. Setelah beberapa saat, akhirnya dia mengangkat kepalanya. Tatapan matanya bertemu dengan senyum Ye Kai.

ôBagaimana kau tahu aku tidak dapat menghindari serangannya?öFu Hong Xue bertanya dingin.

ôAku tidak tahu.öYe Kai menjawab.

ôLalu kenapa engkau datang menyelamatkanku?öFu Hong Xue berkata.

ôSiapa yang bilang aku datang kesini untuk menyelamatkanmu?öYe Kai menjawab.

ôJadi kenapa kau kesini?ö Fu Hong Xue bertanya.

ôApa yang aku lakukan hanyalah menancapkan pisauku ke dalam tangan orang itu. Itu adalah tangannya dan pisauku, memangnya harus ada hubungannya dengan dirimu?öYe Kai menegaskan.

Fu Hong Xue tidak berkata-kata lagi.

Ye Kai perlahan-lahan melangkah mendekati dan duduk. Dia menarik napas yang dalam dan berkata sambil tersenyum,öNasinya terlihat enak, baunya juga menggiurkan.ö

ôHmmh.öFu Hong Xue menggumam.

ôAraknya mungkin juga tidak jelek, sayang tidak ada yang tersisa.öYe Kai menambahkan.

Fu Hong Xue terlihat mau berbicara sesuatu namun Ye Kai tiba-tiba memandang ke bawah kepada Li Ma Hu dan bertanya,öApakah pisauku layak ditukar dengan sebotol arak?ö

Li Ma Hu masih tidak bergerak. Juga tidak ada jawaban.

ôKalau tidak, aku memintamu untuk mengembalikan pisauku.öYe Kai berkata.

Masih tidak ada jawaban. Ye Kai membungkuk dan menepuk orang itu dipunggungnya dan berkata,öNenek Du, aku sudah membongkar penyamaranmu, jadi tidak usah …ö

Suaranya tiba-tiba berhenti, terlihat keterkejutan diraut wajahnya.

Orang yang jatuh ke lantai itu tidak akan pernah berdiri lagi. Wajahnya kaku membeku, kedua tangan dan kakinya sedingin es, dan pisau tersebut masih menancap ditangannya.

Fu Hong Xue menatap wajah orang itu, dan kemudian ke arah pisau itu, kemudian berkata kepada Ye Kai,öApakah pisaumu beracun?ö

ôTidak.öYe Kai menjawab.

ôBila tidak bagaimana dia mati?öFu Hong Xue bertanya.

ôSepertinya dia semakin tua, orang tua tidak tahan ketakutan.öYe Kai berkata.

ôKau mengatakan dia mati ketakutan?öFu Hong Xue berkata.

ôBaiklah, luka di punggung tangannya bukanlah suatu yang fatal, dan pisauku tidak mengandung racun.öYe Kai menjawab.

ôOrang ini betul-betul Jarum Penghancur Usus Nenek Du?öFu Hong Xue berkata.

ôBila Penipu Tak Bertulang dapat berpura-pura menjadi nenek tua, kenapa Nenek Du bukan seorang pria?öYe Kai berkata.

ôBetul. Aku tahu orang seperti apakah Nenek Du itu.öFu Hong Xue menegaskan.

ôEngkau pasti mengetahuinya dengan baik.öYe Kai berkata.

ôOrang seperti Nenek Du pasti ketakutan oleh sebuah pisau?öFu Hong Xue bertanya sambil tersenyum dingin.

ôKenyataannya dia sudah mati.öYe Kai berkata.

ôCuman pisau seperti apakah itu?öFu Hong Xue berseru.

Ye Kai hanya tersenyum. Dia sepertinya suka menjawab pertanyaan yang dia jawab dengan senyuman.

Dia mengambil pisaunya. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari fisik pisau tersebut. Hanya saja mata pisaunya tipis dan sangat tajam, sinar lemah terpantul dari permukaannya. Saat matanya memandang pisau tersebut, keduanya matanya juga bercahaya.

Setelah beberapa saat, Ye Kai pelahan-lahan berkata,öApapun ceritnya, kau tidak dapat menyangkal ini sebuah senjata.ö

Fu Hong Xue berhenti sejenak, kemudian menjawab,öAku tidak pernah membayangkan kau menggunakan senjata juga.ö

Ye Kai menjawab dengan senyuman.

ôAku belum pernah melihatmu membawa senjata.öFu Hong Xue menegaskan.

ôSenjata bukan untuk diperlihatkan kepada orang lain.öYe Kai membalas.

Fu Hong Xue hanya dapat menyetujui.

ôMungkin senjata yang paling menakutkan di dunia ini adalah senjata yang tidak dapat dilihat.öYe Kai berkata.

ôTidak ada senjata apapun yang tidak dapat dilihat!öFu Hong Xue menjawab.

Ye menatap pisau ditangannya dan perlahan-lahan berkata,öMungkin engkau dapat melihat senjata ini, namun saat engkau melihatnya, mungkin saat itu sudah sangat terlambat.ö

Senjata yang sangat menakutkan hingga membuat orang mati biasanya senjata yang tidak dapat dilihat.

Karena saat engkau melihat senjata itu, maka sudah terlambat. Amat sangat terlambat.

Lalu, senjata tersebut tidak terlihat lagi.

Tiba-tiba pisau itu menghilang dari tangan Ye Kai seperti sulap.

Fu Hong Xue menatap ke bawah ke golok ditangannya. Ekspresi aneh muncul diwajahnya, kelihatannya dia mengerti yang dimaksud oleh Ye Kai.

Gong Sun Duan tidak pernah melihat mata goloknya. Gong Sun Duan hanya melihat gagang dan sarungnya saja.

ôSenjata yang dapat dilihat adalah senjata yang tidak dapat membunuh.öYe Kai menegaskan.

Fu Hong Xue mendengarkan dengan penuh perhatian.

ôItulah sebabnya orang-orang yang benar-benar memahami permainan pedang pasti tahu cara untuk menyembunyikan senjatanya.öYe Kai menambahkan.

Fu Hong Xue menghela napas dan menjawab,öItu hal yang mudah dibicarakan daripada dilakukan.ö

ôMenyembunyikan senjatamu jauh lebih susah daripada menggunakannya.öYe Kai berkata.öNamun aku rasa kau sudah memahami hal itu.ö

ôAku memahami dengan sangat baik.öFu Hong Xue menjawab. Dia memandang ke arah Ye Kai yang masih memperlihatkan senyum yang hangat dan ramah diwajahnya.

Ekspresi wajah Fu Hong Xue membesi, dengan dingin dia berkata,öAku ingin kau memahami satu hal.ö

ôApakah itu?öYe Kai bertanya.

ôJangan pernah menolongku lagi. Kau dapat pergi ke arah langkahmu sendiri, dan aku pergi ke arah langkahku. Tidak ada hubungan diantara kita berdua. Aku pasti tidak akan perhatian sepertimu saat kau mati didepanku.ö

ôKita bukan sahabat?ö

ôBukan!ö

Ye Kai menghela napas pendek, kemudian tersenyum dan menjawab,öAku mengerti.ö

Fu Hong Xue menggertakan giginya dan berkata,öJadi kau boleh pergi kemanapun langkahmu mengarah.ö

ôBagaimana denganmu? Kau tidak akan pergi?öYe Kai bertanya.

ôKenapa aku harus pergi?öFu Hong Xue berkata.

ôAda seseorang yang menunggumu diluar.öYe Kai menjawab.

ôSiapa?ö

ôWanita tua yang bukan seorang wanita tua.ö

Fu Hong Xue mengerutkan alinya dan bertanya,öApa yang dia inginkan?ö

ôDia menunggumu untuk ditanyakan kenapa dia mencoba membokongmu.öYe Kai berkata.

Kedua mata Fu Hong Xue membara saat tiba-tiba dia bergerak cepat.

Namun sebetulnya tidak hal apapun yang membuat dia harus terburu-buru. Karena orang diluar akan menunggunya selama apapun.

Orang mati tidak pernah terburu-buru.

Xi Men Chun adalah seorang yang tinggi dan tegap, namun saat ini meringkuk di atas lantai. Dia duduk meringkuk di sudut dibelakang kasir, kedua matanya keluar dari kelopaknya. Meskipun dalam kematiannya, ketakutan dan kengerian terpancar di ekspresi wajahnya.

Siapa yang membunuhnya?

Bahkan dia sendiripun tidak pernah membayangkan orang tersebut datang dan mengambil nyawanya.

Sebuah paku baja menusuk dadanya. Darah meleleh keluar dari luka tersebut dan belum lagi mengering.

Tidak ada seorangpun disana. Saat itu tengah malam, dan hanya beberapa orang yang berjalan ditengah jalan raya saat itu.

Fu Hong Xue berdiri disana membisu, kedua tangan dan kakinya kaku membeku. Saat Ye Kai akhirnya melangkah, dia bertanya kepadanya dengan nada suara yang dalam,öOrang ini adalah Penipu Tak Bertulang Xi Men Chun?ö

Setelah beberapa saat, Ye Kai menghela napas dan menjawab,öYa.ö

ôAku menyadari juga orang seperti apakah dia.öFu Hong Xue berkata.

ôAku juga berpikiran sepertimu.öYe Kai berkata.

ôDia bahkan tidak sempat untuk bertahan atau berteriak sebelum terbunuh.öFu Hong Xue berkata.

ôPaku itu yang merengut nyawanya.öYe Kai menegaskan.

ôTidak banyak orang yang dapat membunuhnya secepat itu.öFu Hong Xue berkata.

ôSebenarnya, hanya beberapa saja.öYe Kai berkata.

“Oh?” Fu HongXue bertanya.

ôSeseorang yang dapat membunuhnya, karena dia benar-benar tidak bertenaga untuk bertahan.öYe Kai menjelaskan.

ôKenapa begitu?öFu Hont Xue berkata.

ôAku khawatir tidak tidak dapat menunggumu, jadi aku menotoknya.öYe Kai berkata.

Dia berhenti sebentar sebelum meneruskan,öSatu hal … meskipun setiap orang dapat membunuhnya, hanya satu orang yang menginginkan kematiannya.ö

ôSiapa?ö

ôSeseorang yang tidak ingin rahasia dibeberkan kepadamu.ö

Fu Hong Xue berpikir sejenak, kemudian berkata,öKarena apa dia berusaha membokongmu di gang itu? Dan siapa yang menyuruhnya melakukan hal itu? … Pasti itu rahasianya?

ôTepat sekali.öYe Kai berkata.

Fu Hong Xue tertawa dingin, kemudian dia berbalik dan berjalan keluar.

ôKemana kau pergi?öYe Kai bertanya.

ôAku pergi ketujuanku, kenapa engkau tidak melakukan hal sama?

Fu Hong Xue tidak mau repot-repot untuk berbalik, seraya dia perlahan-lahan berjalan keluar.

Kota masih sepi, lentera yang terletak di atas pintu di seberang jalan sudah menyala.

Angin berhembu kencang dan menerbangkan kain merah yang tertempel di luar gang kecil ke kejauhan.

Tiupan angin sangat dingin, kegelapan memenuhi malam. Apakah musim gugur telah tiba?

Meskipun tanda cuaca musim gugur adalah angin dimalam hari, namun saat itu didalam gedung masih sehangat musim semi. Di dalam mata orang-orang, selalu musim semi disini.

Ada sekelompok laki-laki duduk disudut ruangan. Meskipun saat itu tengah malam, kelihatan mereka sudah terbiasa mabuk-mabukan disana.

Ye Kai mengambil tempat duduknya. Xiao Bie Li memberikan cangkir arak kepadanya dan berkata sambil tersenyum,öJangan lupa engkau sudah berjanji minum denganku.ö

Cangkir tersebut sudah penuh hingga meluap.

ôJangan lupa engkau berjanji bahwa aku dapat minum kasbon.öYe Kai menjawab.

ôPasti susah untuk melupakan janjikan yang orang-orang telah ucapkan kepadamu.öXiao Bie Li berkata.

ôPasti susah.öYe Kai berkata.

ôJadi silahkan lanjutkan dan minum saja, jangan khawatir.öXiao Bie Li berkata.

Ye Kai tersenyum dan mengakhiri cangkirnya dalam sekali duduk. Dia melihat sekeliling dan berkomentar,öPara pelangganmu betul-betul datang terlalu awal.ö

Xiao Bie Li menganggukan kepalanya dan menjawab,öSesegara lentera menyala, orang-orang mulai berdatangan masuk.ö

ôItulah sebabnya aku heran kalau mereka menatap lentera itu sepanjang hari.öYe Kai berkata.

Xiao Bie Li tertawa dan menjawab,öTempat ini betul-betul tempat yang asik. Saat seseorang tiba untuk pertama kalinya, mereka pasti tidak tahan untuk datang kembali dan datang kembali. Seperti ketagihan. Bila mereka tidak pergi kesini setiap hari, mereka pasti tidak bisa tidur.ö

ôAku rasa, akupun sudah ketagihan juga, aku sudah tiga kali kesini hari ini.öYe Kai berkata.

ôItulah sebabnya aku menyukaimu.öXiao Bie Li berkata.

ôItulah sebabnya engkau percaya untuk membuka kasbon bagiku.ö

Xiao Bie Li tertawa keras.

Sekelompok orang di sudut ruangan semuanya menoleh dan terlihat heran. Mereka telah mendatangi tempat ini paling tidak ratusan kali dan tidak sekalipun mereka melihat pemiliki tempat ini tertawa.

Namun tawanya segera menghilang saat nada suaranya kembali serius.

ôApakah Li Ma Hu benar-benar Nenek Du?öXiao Bie Li menanyakan Ye Kai.

Ye Kai menganggukan kepalanya.

ôAku benar-benar tidak habis akal. Bagaimana engkau bisa mengetahuinya?ö

ôAku tidak mengetahuinya …ö

ôItu hanyalah dugaan?ö

ôAku hanya merasa aneh Xi Men Chun menyuruh Fu Hong Xue mendatangi toko kelontong itu untuk mengambil barang-barangnya.öYe Kai menjelaskan.

ôHanya berdasarkan satu petunjuk itu?öXiao Bie Li berkata.

ôBaiklah, saat aku baru tiba, aku melihat dia telah membawa Fu Hong Xue ke ruang belakang untuk makan malam.öYe Kai menceritakan.

ôApanya yang aneh?ö

ôSegalanya. Seluruh kota sudah tahu Fu Hong Xue adalah musuh utama Gedung Sepuluh Ribu Kuda. Bagaimana seorang seperti Li Ma Hu berani melawan mereka?öYe Kai berkata.

ôBenar. Dia bahkan seharusnya tidak akan pernah memberikan barang-barang Fu Hong Xue.öXiao Bie Li menambahkan.

ôTapi dia memberikannya.öYe Kai berkata.

ôJadi dia pasti memiliki maksud yang kuat.öXiao Bie Li berkata.

ôItulah sebabnya aku mencurigai dia pasti Nenek Du.öYe Kai berkata.

ôDan engkau benar.öXiao Bie Li berkata.

Ye Kai tiba-tiba menghela napas dan berseru,öPaling tidak aku berharap aku benar.ö

ôKenapa?öXiao Bie Li bertanya.

ôKarena aku telah menakut-nakutinya sampai mati.öYe Kai berkata.

Xiao Bie Li terlihat kaget.

ôEngkau tidak berpikir aku yang membunuhnya?öYe Kai bertanya.

ôDan bagaimana dengan Xi Men Chun?öXiao Bie Li berkata.

ôDia juga sudah mati.öYe Kai menjawab.

Xiao Bie Li perlahan-lahan mengambila cangkir arak di depannya dan menghirupnya, kemudian berkata dengan dingin,öEngkau betul-betul tidak selembut seperti yang terlihat.ö

Ye Kai menatapnya balik dan berkata,öApakah engkau menyesal membuka kasbon untukku hari ini?ö

Xiao Bie Li menghela napas dan berkata,öAku hanya tidak dapat mencari tahu kenapa kedua orang seperti mereka bisa datang ketempat seperti ini. Tambahan lagi, kenapa mereka memilih untuk tinggal cukup lama.ö

ôMungkin mereka sedang bersembuyi, atau mereka adalah musuh-musuh Fu Hong Xue.öYe Kai berkata.

ôTapi saat mereka baru saja datang kemari, Fu Hong Xue mungkin masih kecil.öXiao Bie Li berkata.

ôJadi kenapa mereka menginginkan kematiannya?öYe Kai berkata.

ôApakah mereka tidak berbicara sesuatu kepadamu?öXiao Bie Li berkata.

ôAku belum sempat menanyakannya.öYe Kai menjawab.

ôKenapa tidak?öXiao Bie Li berkata.

ôAku tidak sedang terburu-buru, begitu juga mereka.öYe Kai berkata.

Xiao Bie Li tersenyum saat melihat Ye Kai dan menjawab,öEngkau betul-betul orang yang aneh.ö

ôSeaneh Majikan Ketiga …öYe Kai berkata.

ôBahkan lebih aneh …öXiao Bie Li membalas.

Namun sebelum dia mengakhiri ucapannya, suara gong tiba-tiba menggema dan diikuti oleh suara-suara terikan,öKebakaran! Tolong, kebakaran!ö

Jilatan api telah menjadi besar.

Api berasal dari toko kelontong Li Ma Hu. Segumpal asap terbang keluar dari bagian belakang toko kelontong tersebut diikuti oleh jilatan api yang besar. Dan karena hampir seluruh gedung di jalan tersebut terbuat dari batang kayu, kelihatannya api tersebut telah menyebar ke seluruh kota.

Dalam sekejap, seluruh jalan telah dipenuhi oleh orang-orang yang kebingungan dan panik. Para penduduk berusaha membawa air seberapapun yang mereka bawa untuk menyirami api.

Jilatan api yang merah menerangi wajah putih Xiao Bie Li lalu berkata,öSepertinya api tersebut berasal dari dapur di belakang toko kelontong.ö

Ye Kai menganggukan kepalanya.

ôSaat kau pergi, apakah engkau lupa untuk mematikan api?öXiao Bie Li bertanya.

ôTidak ada api yang menyala disana.öYe Kai menjawab.

ôKompornya pasti sudah menyala.öXiao Bie Li berkata.

ôSemua kompor pasti menyala.öYe Kai berkata.

ôApakah kau berpikir seseorang membakar tempat tersebut?öXiao Bie Li berkata.

Ye Kai menghela napas lalu berkata,öAku seharunya mengetahui seseorang pasti membakar tempat itu.ö

ôKenapa begitu?öXiao Bie Li bertanya.

ôKarena mayat yang terbakar tidak akan dapat berbicara lagi.öYe Kai berkata dengan senyum aneh tersembul diwajahnya.

Dia tiba-tiba mengambil sebuah ember didekatnya dan ikut serta berupaya memadamkan api.

Sesaat kemudain, Xiao Bie Li menghela napas kepadanya, namun sorot mata kelihatannya sedang jatuh dalam pikiran yang dalam.

Tibat-tiba, seseorang menghampiri kesemapingnya dan berbisik,öApakah yang sedang kau pikirkan?ö

Xiao Bie Li bahkan tidak berniat untuk menoleh siapakah dia, dan hanya menjawab,öAku belajar pelajaran penting hari ini.ö

ôPelajaran apakah itu?ö

ôSatu-satunya cara untuk membungkamkan seseorang hanya dengan memastikan tubuhnya terbakar menjadi abu.ö

Meskipun disana banyak sekali orang yang berusaha untuk memadamkan api, namun air yang tersedia tidak cukup. Untungnya baru saja hujan, sehingga udara tidak terlalu kering. Meskipun mereka tidak dapat memadamkan api dengan cepat, api tidak menyebar dengan cepat.

Ye Kai berdiri ditengah keramaian. Matanya seperti elang mengamati sekitarnya. Orang yang membuat kebakaran pasti berada ditengah keramaian juga. Orang tersebut pasti tidak ingin dicurigai atau dia betul-betul menikmati penderitaan orang lain.

Betul-betul jalan pikiran yang kejam dan dengki, namun apa bagaimana lagi selain orang tersebut pasti orang yang kejam dan dengki.

Sayangnya, biasanya sangat susah membedakan mereka dengan orang-orang normal.

Ye Kai merasakan seseorang menarik baju belakangnya dengan perlahan. Saat dia berbalik, dia melihat seseorang berbalik dan menyelinap ditengah keramaian. Seseorang dengan jubah hijau dan topi jerami.

Ye Kai mengikutinya dan menyelinap juga ke dalam keramaian. Saat dia mengejarnya, yang dapat dilihatnya adalah bagian belakang tubuhnya.

Ye Kai sangat suka mempelajari bagaimana seseorang terlihat dari belakang. Dia mengetahui bagian belakang tiap orang memiliki kekhasan yang dapat dia bedakan. Oleh karena itu, untuk mengenali seseorang dari belakang bukanlah hal yang sulit.

Namun orang dengan jubah hijau ini betul-betul asing.

Dia tidak hanya terlalu tinggi dan gerakannya juga gesit dan ringan, dia dapat menghilang dari jalan dengan cepatnya.

Sangat cepat, hingga ketempat yang tidak ada seorangpun.

Banyak sekali bintang yang memenuhi langit, padang belantara dalam suasana yang masih sunyi dan sepi.

ooOOOoo

Siapakah yang mengajak Ye Kai pergi?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: