Kumpulan Cerita Silat

25/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 06: Cara Meloloskan Diri Yang Cerdik
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Se-wan terletak di bagian barat kota. Tempat itu adalah sebuah taman bunga dan kebun yang amat besar. Matahari telah terbenam, di bawah naungan pohon, di dalam pondok-pondok dan villa, menyala sejumlah lentera yang terang seperti bintang. Bersama hembusan angin malam, tercium harum bunga, dan juga bau arak. Bulan tampak bundar seperti sebuah cermin yang bergelantungan di salah satu pohon. Dua batang pohon kapas berwarna merah seperti buah cherry terlihat saling bertautan dengan akar yang saling mengait, dan berdiri miring satu sama lain, seperti dua orang kekasih yang saling berpelukan dengan lembutnya.

Liok Siau-hong tiba-tiba teringat pada Sih Peng lagi. Bila Sih Peng muncul di dalam fikirannya, seakan-akan seseorang telah menusuk hatinya dengan sebatang jarum. Ia bukanlah orang yang tidak berperasaan, tapi ia juga tahu bahwa ini bukanlah saatnya untuk bersedih. Ia telah berjalan mengelilingi taman itu sebanyak satu kali. Malam itu tidak banyak tamu wanita di tempat itu, tapi ia masih harus mencari seorang wanita yang mengenakan sepatu merah. Tetapi ia tidak menjadi gelisah.

Karena Kongsun Lan tidak tahu bahwa ada seseorang seperti Liok Siau-hong yang sedang mencarinya di taman ini. Ini tentu saja memberi keuntungan baginya. Bulan yang berbentuk seperti piring dingin telah beranjak naik semakin tinggi di langit malam. Sinar bulan yang kabur dan samar-samar tampak cukup indah untuk memikat hati manusia. Jika Sih Peng berada di sisinya, dia tentu akan merengek minta dicarikan tempat duduk dan minta dipesankan seporsi besar masakan yang terkenal di tempat ini.

Di depan orang lain, dia selalu bersikap sangat pemalu, wajahnya memerah sebelum dia bisa mengucapkan sepatah kata pun. Tapi bila bersama Liok Siau-hong, maka ia tiba-tiba seperti berubah menjadi seorang anak kecil yang manja. Sebentar meributkan tentang satu hal, selanjutnya mengomel tentang hal lain, hampir tidak ada saat-saat yang damai di antara mereka. Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari sesuatu: ia menyukai omelan gadis itu, suka mendengar omelannya, melihatnya mengomel, suka melihatnya melakukan suatu kenakalan di depannya, suka……

Ia berhenti melamun lebih jauh. Ia bersiap-siap untuk berjalan ke arah lain.

Tepat pada saat ia hendak berputar, tiba-tiba ia melihat seorang nenek berjalan keluar dari bawah naungan sebatang pohon. Ia adalah seorang nenek yang sangat tua dan mengenakan gaun atau jubah hijau yang telah ditambal lebih dari seratus kali. Di atas punggungnya seperti ada sebongkah batu karang raksasa yang membuat tubuhnya jadi bungkuk.

Maka, bila ia berjalan, ia selalu terbungkuk-bungkuk seperti sedang mencari sesuatu di atas tanah. Sinar bulan menerangi wajahnya dan tampaklah wajah yang penuh keriput, seperti sehelai kertas kapas yang telah digulung-gulung tapi kemudian dilicinkan kembali.

“Kacang gula!” Di tangannya tergantung sebuah keranjang bambu yang tertutup oleh sehelai kain katun yang sangat tebal. “Kacang goreng gula yang segar, lezat dan masih panas. Hanya sepuluh picis sekatinya!”

Wanita tua yang miskin dan kesepian serta telah memasuki usia senja ini masih perlu keluar dan berteriak sekeras mungkin dengan suaranya yang serak itu untuk menjual kacang gulanya.

Liok Siau-hong tiba-tiba merasa sangat iba kepadanya, dia memang seorang laki-laki yang penuh perasaan belas kasih.

“Nenek, ke sinilah, aku beli dua kati.” Kacang itu benar-benar harum aromanya dan panas, dan juga segar, persis seperti yang dia teriakkan tadi.

“Kau bilang tadi harganya sepuluh picis sekatinya?”

Nenek itu mengangguk, ia masih terbungkuk-bungkuk, seakan-akan ia sedang tertarik pada sepatu Liok Siau-hong, padahal itu terjadi karena ia tidak bisa berdiri tegak lagi.

“Tidak, sepuluh picis sekati tidaklah mungkin!” Liok Siau-hong menggelengkan kepalanya.

“Hanya sepuluh picis, Tuan, menurutmu itu masih terlalu mahal?”

“Kacang yang begini bagus harganya paling tidak 10 tael perak sekati dan aku tidak mau membayarnya kurang dari satu picis pun!”

Si nenek tersenyum. Senyuman itu membuat keriput di wajahnya makin kelihatan. Apakah orang ini memang dungu ataukah ia seorang yang benar-benar amat kaya?

“Sepuluh tael perak sekati, jika kau mau menjualnya dengan harga itu, maka aku akan membeli dua kati darimu.”

Tentu saja si nenek setuju.

“Aku bahkan mau menjualnya dengan harga 20 tael perak sekati!” Mengapa orang semakin tamak bila mereka semakin tua?

“Tapi aku membutuhkan bantuanmu!” Liok Siau-hong tersenyum.

“Tuan, apa yang bisa dibantu oleh sekantung tulang tua seperti diriku ini?” Si nenek balas tersenyum secara sekilas.

“Hanya kau yang bisa melakukan ini!”

“Mengapa?”

“Karena kau terbungkuk-bungkuk seperti itu sehingga kau seolah-olah sedang mencari sesuatu di atas tanah.” Liok Siau-hong tersenyum. “Aku butuh bantuanmu untuk mencari sesuatu!”

“Mencari apa?”

“Aku ingin kau mencari seorang wanita yang memakai sepasang sepatu merah untukku. Bukan sepatu merah biasa, tetapi sepasang sepatu merah dengan sulaman burung hantu di atasnya.”

Si nenek pun tersenyum. Tak ada yang lebih cocok untuk diminta dari seseorang seperti dia. Bahkan jika dia merunduk-runduk di bawah pakaian orang lain, tak ada orang yang akan curiga padanya.

Ia mengambil uang 20 tael perak itu. Senyumannya begitu lebar sehingga matanya hanya tampak seperti dua garis yang tipis.

“Tunggulah di sini, Tuan, aku akan memberitahumu setelah aku menemukannya.”

“Jika kau bisa menemukannya, maka aku akan membeli 5 kati lagi darimu saat kau kembali nanti.”

Si nenek meneruskan langkahnya dengan gembira. Liok Siau-hong juga merasa bahagia, bukan hanya bahagia, tapi juga bangga. Hanya orang cerdas seperti dirinya yang bisa memikirkan cara yang demikian cerdik. Tiba-tiba ia menyadari bahwa ia adalah seorang yang jenius. Tapi ia lupa sesuatu: hidup orang-orang jenius biasanya singkat!

Kacang itu masih panas, panas dan mengundang air liur. Liok Siau-hong memutuskan untuk memberi selamat pada dirinya sendiri atas kerja kerasnya. Ia menemukan sebuah batu cadas yang besar dan relatif bersih untuk diduduki. Setelah duduk, ia membuka kulit sebutir kacang dan hendak memasukkannya ke dalam mulutnya ketika tiba-tiba ia teringat lagi pada Sih Peng. Sih Peng sangat suka makan kacang. Pada hari yang dingin, dia selalu meletakkan kacang di pangkuannya dan menggunakannya untuk menghangatkan tangannya sebelum memakan kacang itu satu demi satu. Sekali waktu saat Liok Siau-hong bertemu dengannya, dia sedang asyik makan kacang.

Hari itu sangat dingin. Tangan Liok Siau-hong rasanya seperti akan buntung dalam hawa yang dingin membeku itu. Gadis itulah yang menggenggam tangannya dan meletakkannya di atas pangkuannya. Bahkan hingga saat ini, kehangatan yang manis itu tampaknya masih terasa di ujung jari Liok Siau-hong. Tapi di manakah si dia sekarang berada? Bagaimana mungkin Liok Siau-hong sanggup memakan kacang ini?

Dari balik semak-semak bunga di kejauhan sana, sebuah suara nyanyian yang sedih dan memilukan terdengar mengalun di udara malam.

Rambut hitam acak-acakan, malam yang telah hening larut, alis mata yang membawa kebencian memikirkan bukit-bukit di kejauhan, tunas bambu yang sedang tumbuh membawa keharuman, untuk siapakah air mata mengalir, untuk siapakah air mata terbagi?

Suara nyanyian yang indah itu penuh dengan semacam kenangan yang tebal dan tak dapat ditembus.

Liok Siau-hong menarik nafas dengan lembut. Kacang-kacang yang tadinya berada di tempatnya karena tertahan oleh sabuk yang diletakkan di atas pangkuannya, sekarang telah jatuh ke tanah dan berserakan. Bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa ia adalah orang yang demikian sentimentil dan mudah gelisah.

Ia bersandar pada sebatang pohon di samping batu cadas yang ia duduki dan menutup matanya.

“Bagaimana jika aku tidak pernah menemukannya lagi?”

Tiba-tiba ia merasa amat tertekan dan putus asa, bahkan tidak ingin bergerak sedikit pun. Tubuhnya sama sekali tak bergerak sehingga ia mirip seperti orang mati. Saat itulah nenek penjual kacang tadi muncul kembali dari balik kegelapan. Mata Liok Siau-hong tidak sepenuhnya tertutup, matanya masih terbuka sedikit seperti sebuah garis tipis.

Reaksi awalnya adalah dia akan duduk dan bertanya pada si nenek apakah ia telah menemukan wanita bersepatu merah itu. Tapi tiba-tiba, ia melihat bahwa matanya yang tadi tua dan kabur sekarang berkilauan dengan sinar setajam pisau, sinar pembunuh. Seorang nenek seperti ini seharusnya tidak memiliki sinar mata seperti itu.

Jantung Liok Siau-hong tiba-tiba seperti tertusuk oleh seberkas cahaya, cahaya inspirasi. Ia menahan nafasnya. Nenek itu memandang padanya, memandang pada kacang-kacang yang berserakan di atas tanah, pada bibirnya yang kering, di mulutnya mulai tersungging sebuah senyuman yang menyeramkan dan keji. Di bawah bayang-bayang pepohonan, air muka Liok Siau-hong tampak pucat pasi.

“Kacang yang begini enak,” si nenek bergumam. “Satu saja cukup untuk membunuh paling sedikit tiga orang, sayang sekali kalau membiarkannya berserakan saja di sini.”

Maka ia berjalan menghampiri dengan terpincang-pincang. Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa walaupun jalan si nenek lambat dan canggung, langkah kakinya sangat ringan. Pakaian yang dia kenakan pun begitu panjangnya hingga terseret-seret di atas tanah, menutupi kakinya. Sepatu macam apakah yang ada di kaki itu? Liok Siau-hong tiba-tiba membuka matanya, menatap si nenek. Anehnya, si nenek tidak terkejut, paling tidak Liok Siau-hong tak melihat tanda-tanda kekagetan di wajahnya.

Ia benar-benar seorang wanita yang tak mudah tergoyahkan dan dapat mempertahankan sikapnya dan tersenyum seperti saat mereka bertemu pertama kalinya tadi.

“Tampaknya tidak ada perempuan bersepatu merah di sekitar sini, tapi ada dua orang yang bersepatu kuning dan ungu!”

Liok Siau-hong membalas senyumannya.

“Di sini ada seorang wanita bersepatu merah, aku telah menemukannya!”

“Tuan telah menemukannya? Di mana Tuan menemukannya?”
“Di sini. Kau!”

“Saya?” Si nenek memandangnya dengan heran. “Mengapa seorang nenek tua sepertiku memakai sepatu merah?”

“Mataku bisa menembus benda-benda.” Liok Siau-hong berkata seenaknya. “Dan aku bisa melihat saat ini juga sepatu merah itu ada di kakimu, dan burung hantu itu tersulam di sepatu tersebut!”

Nenek itu tiba-tiba tertawa. Tawanya terdengar seperti suara denting lonceng perak, bukan, bahkan jauh lebih merdu di telinga daripada suara lonceng perak.

“Kau tidak memakan kacang gulaku?”

“Tidak.”

“Kacang goreng gula yang begitu lezat, mengapa kau tidak memakannya?”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Karena aku seorang yang romantis!”

“Orang yang romantis tidak makan kacang gula?” Si nenek mengedip-ngedipkan matanya.

“Kadang-kadang ya, tapi hanya yang tidak beracun.”

Si nenek tertawa, tawa yang bunyinya seperti suara denting lonceng perak.

“Liok Siau-hong benar-benar Liok Siau-hong!”

“Kau tahu bahwa aku adalah Liok Siau-hong?”

“Berapa banyak orang di dunia ini yang memiliki 4 alis di wajahnya?” Ia tertawa.

Liok Siau-hong pun tertawa. Tawanya, tentu saja, tidak menggelitik seperti suara si nenek, ini karena dia bukan benar-benar sedang tertawa. Ia tahu kalau si nenek hendak menyerang, dan juga tahu bahwa serangan ini tidak akan mudah dihadapi. Ternyata dia benar.

Tepat saat ia mulai tertawa, si nenek mengeluarkan sepasang pedang pendek, belati, dari keranjangnya, pedang dengan seutas selendang sutera berwarna merah menyala terikat pada gagangnya. Tepat saat ia melihat pedang itu, kedua bilah pedang itu pun berkilauan dan telah tiba di tenggorokannya. Serangan yang demikian cepat! Pedang yang begitu cepat!

Liok Siau-hong tidak berani menangkap pedang itu dengan tangannya, ia khawatir kalau badan pedang telah dilumuri dengan racun. Biasanya ia merupakan orang yang suka seenaknya dan acuh tak acuh, tapi di saat-saat genting antara hidup dan mati, tidak banyak orang yang lebih bijak dan teliti daripada dirinya bisa ditemukan di dunia ini. Seperti seekor ikan yang sedang berenang, tiba-tiba ia melayang menjauh. Bukan hanya reaksinya cepat, gerakan itu sendiri bahkan lebih cepat. Tapi tidak perduli ke mana pun ia pergi, kilauan pedang yang terang dan menari-nari itu tetap mengikutinya.

Kilauan pedang itu berwarna-warni dan berkerlap-kerlip, di bawah hawa pedang yang dingin dan tak kenal belas kasihan itu, daun-daun di pepohonan rontok dari dahannya dan perlahan-lahan melayang turun ke tanah hanya untuk dicabik-cabik sesaat kemudian oleh kilatan pedang itu. Tubuh Liok Siau-hong telah basah kuyup oleh keringat. Ia dulu beranggapan bahwa Sebun Juui-soat dan Yap Koh-seng adalah jago-jago pedang yang paling menakutkan di dunia persilatan, tapi ia tidak membayangkan bahwa ada seseorang seperti ini di dunia.

Kongsun, si Cantik dari Masa Lampau, tarian pedangnya bergerak ke segala penjuru, para penonton seperti gunung yang kehilangan warnanya dalam kesedihan, dunia mengaku kalah dan tunduk untuk selamanya.

Indah seperti Yi yang melesat di antara 9 matahari, angkuh seperti kaisar yang melompat naik ke atas punggung naga, datang seperti guntur yang keras dan mengguncangkan dunia, pergi seperti murninya air sungai dan samudera.

Mungkin tidak ada penonton yang seperti gunung di sini, tapi wajah Liok Siau-hong memang telah kehilangan warnanya. Bahkan bulan purnama yang terang benderang pun kehilangan sinar dan warnanya di bawah hawa pedang yang membekukan ini. Mungkinkah ini tarian pedang yang dulu diajarkan Nyonya Kongsun Cui di jaman dulu pada murid-muridnya?

Baru sekarang Liok Siau-hong benar-benar menyadari bahwa sutera dan pedang tidak hanya bisa digunakan dalam tarian untuk menghibur orang, tapi juga bisa digunakan untuk membunuh. Kapan saja dia bisa terbunuh oleh pedang-pedang ini. Mengendalikan pedang-pedang itu dengan kain sutera merah ternyata membuat pedang-pedang itu jauh lebih cepat dan gerakannya pun jauh lebih lincah daripada hanya menggunakan tangan. Dan kecepatan pedang-pedang itu dalam perubahan gerakan dan variasinya benar-benar amat membingungkan.

Baju Liok Siau-hong telah robek di beberapa tempat dan sekarang punggungnya pun terpaksa telah mepet pada sebatang pohon.

“Sing!” Suara desing terdengar saat pedang-pedang itu terbang membelah udara seperti sepasang naga merah yang memburu ke arahnya. Kali ini tak ada lagi tempat untuk melarikan diri baginya.

Sudut bibir Kongsun-toanio sekali lagi membentuk sebuah senyuman yang keji. Tapi dia pun tahu bahwa kemampuan terbaik Liok Siau-hong adalah menemukan cara untuk bertahan hidup dalam situasi yang amat genting. Tiba-tiba tubuh Liok Siau-hong merosot turun di batang pohon seperti seekor ular, dan terus merosot sampai ke tanah.

“Duk!” Badan pedang itu telah mengenai batang pohon dan menancap di dalamnya. Saat itulah Liok Siau-hong melompat bangkit dari tanah dan, dengan sebuah sentilan tangannya, memotong jadi dua selendang sutera yang terikat pada gagang pedang itu! Ini sama saja seperti memotong tangan yang memegang kedua pedang itu. Tubuh Kongsun-toanio pun melayang dan ia berjumpalitan di udara, membuat gaunnya yang panjang itu berkibar-kibar. Akhirnya, Liok Siau-hong melihat sepatunya. Sepatu merah!

Bulan yang terang benderang masih bergantung di tengah angkasa, sepatu merah itu hanya terlihat sekilas dalam sinar bulan sebelum tubuh wanita itu melesat pergi sejauh 10 meter lebih. Tentu saja Liok Siau-hong tidak mau membiarkannya pergi begitu saja. Tapi saat ia mulai mengejar, ia telah ketinggalan selangkah di belakang. Satu langkah yang tak bisa ia perpendek lagi.

Tak perduli apa pun yang ia lakukan, jarak di antara mereka tetap 10 meter. Liok Siau-hong telah bertemu dan melihat sejumlah jagoan ginkang di dunia persilatan. Tentu saja, Sukong Ti-sing adalah yang terbaik di antara mereka, tapi Giam Thi-san, Ho Thian-jing, Sebun Jui-soat dan Lau-sit Hwesio tidak terlalu jauh di bawahnya.

Tapi jika orang-orang itu berlari menjauh dari Liok Siau-hong pada saat ini, dia tentu telah berhasil mengejar mereka. Tiba-tiba dia menyadari bahwa bukan hanya ilmu pedang nenek ini yang sangat tangguh, tapi ilmu ginkangnya pun telah mencapai tingkatan yang belum pernah dia temui sebelumnya. Bunga-bunga, pohon-pohon, taman, hutan, pondok-pondok, altar, villa, gedung-gedung, semuanya seperti terbang di bawah kaki mereka dan menghilang.

Berikutnya adalah deretan atap rumah, lalu jalan-jalan. Kongsun-toanio masih belum melambat, jelas dia bukan seorang nenek yang kemampuannya mundur oleh usia tuanya. Tapi Liok Siau-hong adalah seorang pemuda bertubuh kuat yang sedang berada di puncak kekuatan mental dan fisiknya, maka ia pun tidak melambat.

Kongsun-toanio menyadari bahwa menyingkirkan orang di belakangnya ini bukanlah urusan yang gampang.

Jalan yang sekarang mereka lewati tampak terang benderang. Malam masih belum begitu larut dan jalan ini kebetulan merupakan jalan yang paling ramai dan sibuk di kota itu. Di sana ada dua atau tiga buah warung teh dan warung arak yang berbeda-beda di sepanjang jalan bersama dengan beraneka macam pedagang di kedua sisinya, beberapa di antaranya menjual peralatan rumah tangga dan bumbu masak, sementara beberapa lainnya sibuk menjual makanan seperti bubur ikan dan angsa bakar.

Kongsun-toanio tiba-tiba turun dan mendarat di tengah jalan raya.

“Tolong! Tolong!” Ia pun mulai menjerit.

Ia berlari ke sebuah warung teh sambil menjerit-jerit. Liok Siau-hong mengikutinya dengan rapat. Tapi seorang nenek yang menjerit-jerit minta pertolongan dengan seorang laki-laki muda yang kuat sedang mengejarnya, bukanlah pemandangan yang indah bagi orang-orang itu, mereka juga tak senang melihat kejadian seperti itu. Sekarang telah ada beberapa orang pemuda yang tampaknya marah sedang berteriak-teriak dan memaki Liok Siau-hong, bahkan di antaranya ada yang mengeluarkan pisau. Liok Siau-hong tahu kalau dia berada dalam kesulitan.

Tentu dia bisa saja berusaha memberi penjelasan pada orang-orang muda yang pemberani dan adil ini, yang berusaha melakukan apa yang mereka anggap benar, tapi orang-orang ini tampaknya tidak sabar lagi untuk memukulinya hingga jadi bubur!

Tujuh atau delapan orang di antara mereka tiba-tiba menyerangnya secara serentak, ada yang mengayun-ayunkan golok, yang lainnya membawa bangku, dan mereka mengepung Liok Siau-hong.

“Hei, kenpa kau mengejr-ngejr seorng wanta tua di tengh jaln sini? Kau ingn memprkosanya?” Mereka berteriak-teriak padanya.

Liok Siau-hong tak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Ia ingin menjelaskan, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Ia ingin menyerang, tapi tidak tega melakukannya. Sementara ia sedang bimbang, sebuah bangku pun datang mengaung dari atas. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengulurkan tangan dan menangkis dengan tangannya.

“Bum!” Tangannya baik-baik saja, tapi bangku itu hancur berantakan. Orang-orang itu terperanjat dan terdiam selama beberapa saat. Saat itulah seseorang tiba-tiba bergegas maju dan memberikan tamparan di setiap wajah mereka. Tapi anehnya, tak satu pun dari pemuda-pemuda itu yang membalas serangan itu, mereka juga tidak berusaha untuk menghindar.

Liok Siau-hong akhirnya menarik nafas lega, ia mengenali orang ini sebagai salah satu dari dua orang laki-laki yang berada di halaman luar villa Coa-ong yang mencoba untuk mengujinya kemarin.

“Apkah kalin bangst-bangst ini tidak tau sapa dia?” Orang itu menunjuk Liok Siau-hong dan berkata dengan keras. “Beliu adlah sahbat bik Coa-ong dan orang yang memilki kungfu terbik di dunia, Lok Siu-hung!”

Bagi orang-orang muda ini, nama Liok Siau-hong tidak berarti banyak, tapi sahabat Coa-ong tentu saja tidak boleh disentuh. Maka orang-orang yang menghunus golok pun segera menyarungkan goloknya, orang-orang yang membawa bangku segera meletakkan bangkunya dan mereka masing-masing berjalan menghampiri Liok Siau-hong dan meminta maaf! Tapi Liok Siau-hong telah mengambil kesempatan itu untuk keluar dari kepungan itu dan berlari ke pintu belakang. Tadi ia melihat Kongsun-toanio melarikan diri lewat pintu belakang ini, tapi sekarang di sana hanya ada seekor anjing tak bertuan yang sedang menggerogoti sebatang tulang di selokan. Sedikit pun tidak terlihat bayangan Kongsun-toanio.

Liok Siau-hong menarik nafas dan berputar, ia tahu tidak ada gunanya mengejar lagi.

Laki-laki bertubuh besar itu telah mengikutinya sampai ke sini dan sekarang berjalan menghampirinya.

“Kmi bru saja hendk mencri Tuan di Tamn Bart,” sambil tersenyum, ia berkata pada Liok Siau-hong, berusaha keras untuk menghilangkan dialek lokalnya. “Tapi ternyta Tuan mlah ada di sini!”

“Apakah ada sesuatu yang terjadi?”

Orang itu mengangguk.

“Kmi tlah menemkan di mana nona itu berada, dia….” Jika ada satu hal yang perlu ditakutkan di dunia ini, itu adalah bila orang-orang Kwangtung berusaha mengucapkan bahasa Mandarin. Sambil tergagap-gagap dan ucapannya pun terpotong di sana-sini, orang itu sudah mengeluarkan butiran keringat yang besar-besar karena frustrasinya.

Tapi Liok Siau-hong lebih frustrasi lagi.

“Di mana dia?” Ia memotong.

“Aku kan membwa Tuan ke sna!”

Jalan itu masih ramai, tapi melihat laki-laki bertubuh besar ini berjalan ke arah mereka, orang-orang itu semuanya dengan diam-diam dan penuh hormat menyingkir ke samping.

“Margku juga Lok, ku Lok Kong.” Tampaknya ia merasa terhormat karena memiliki marga Liok juga.

Tapi Liok Siau-hong hanya berharap agar dia mengurangi bicaranya dan berjalan lebih cepat.

“Aku menggumi Tan, kngfu Tan benr-benr yang terbik.” Tapi Liok Kong tetap berusaha keras untuk membuatnya terkesan.

“Ini enak, Tan mau?” Ia berkata sambil memasukkan tangannya ke dalam baju dan mengeluarkan beberapa butir kacang gula, kacang goreng gula yang panas dan tampak lezat!

Tapi Liok Siau-hong seperti melihat seekor ular berbisa.

“Dari mana kau mendapatkan ini?” Ia bertanya sambil mencengkeram tangan Liok Kong.

“Aku memblinya, tentu sja!” Liok Kong menjawab setelah terkejut sebentar. “Aku tidk pernh mengmbil barang orng lain tanpa alsan!”

“Di mana kau membelinya? Di mana orang yang menjualnya padamu?”

“Di sna.”

Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Liok Kong itu, di sana benar-benar ada seorang penjual kacang. Orang itu sedang sibuk menggoreng sekaleng besar kacang. Kacang memang bukan barang langka, banyak orang yang menjualnya di mana-mana. Liok Siau-hong menarik nafas lega, tapi telapak tangannya telah penuh dengan keringat dingin.

Sambil merenung kembali, dia menyadari bahwa saat-saat dia tadi membuka kulit kacang itu bisa jadi merupakan saat yang paling berbahaya dalam hidupnya. Jika ia memasukkan kacang itu ke dalam mulutnya, ia tak akan menjadi Liok Siau-hong lagi saat ini.

Orang mati adalah orang mati. Orang mati tidak punya nama. Bahkan detik-detik saat pedang Yap Koh-seng mengancam dadanya tidaklah begitu berbahaya seperti saat tadi. Tiba-tiba dia menyadari bahwa ternyata ada untungnya juga tadi merasa romantis. Di samping itu, paling tidak dia sekarang telah menemukan di mana Sih Peng berada.

Liok Siau-hong tiba-tiba merasa amat gembira.

“Jadi namamu juga Liok, hah? Hebat!” Ia tersenyum dan menepuk pundak Liok Kong. “Bila kita punya waktu, aku akan mengundangmu minum teh bersamaku.”

Minum teh adalah hobinya orang-orang Kwangtung, tidak makan sih oke-oke saja, tapi tidak minum teh adalah tak dapat dimaafkan.

Tapi, dengan tidak terduga, Liok Kong menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak minum teh, aku hanya minum arak!”

Liok Siau-hong tertawa, tertawa begitu keras dan kuatnya sehingga orang-orang di jalan itu berpaling dan menatapnya. Tapi dia tidak perduli.

Bila dia sedang bahagia, dia ingin setiap orang di dunia ini tahu dan bahagia bersamanya. Sekarang, Liok Kong telah berbelok ke sebuah gang sempit. Gang ini berada di antara sebuah toko roti dan tukang jahit. Gang itu sendiri amat sempit dan tidak mungkin dua orang bisa berjalan berdampingan di situ. Gang itu seperti sebuah ruang kecil yang sengaja disisakan oleh kedua toko itu saat mereka membangun tokonya.

Mungkin hal itu terjadi karena kedua toko itu tidak saling akur, tak ada orang yang mau mempunyai sebuah dinding milik bersama yang memisahkan mereka dengan orang yang tidak mereka sukai. Tapi di ujung gang itu ada sebuah pintu kecil bercat merah. Seorang laki-laki sedang berdiri di depan pintu itu dengan gelisah. Begitu gelisahnya dia sehingga dia terus-menerus menggosok kedua tangannya.

Saat melihat Liok Kong, orang itu berjalan menghampiri dan berbisik di telinganya. Ekspresi wajah Liok Kong segera berubah secara dramatis. Ia berpaling pada Liok Siau-hong dengan sebuah senyuman tanda bersalah di wajahnya.

“Di sni temptnya. Aku….aku tk bisa msuk bersma Tan.”

Mengapa dia tidak bisa masuk? Mungkinkah ada sesuatu yang menakutkan di dalam sana?

Liok Siau-hong berlari masuk. Dia tak memperdulikan apa yang mungkin dia temui asalkan dia bisa menemukan Sih Peng.

Di halaman itu hanya ada dua buah kamar, di dalamnya pun sudah ada dua orang. Tak satu pun di antara mereka itu Sih Peng. Keduanya laki-laki, salah satunya adalah Kim Kiu-leng. Liok Siau-hong merasa terkejut melihat perubahan situasi ini.

“Apa yang kau lakukan di sini? Di mana Sih Peng?”

Kim Kiu-leng tidak menjawab, dia malah mengulurkan tangannya. Di tangannya ada sehelai baju, baju putih yang ringan dan lembut. Baju Sih Peng. Tentu saja Liok Siau-hong mengenalinya, ekspresi wajahnya pun berubah. Baju Sih Peng ada di sini, tapi orangnya tidak. Baju ini tidak mungkin bisa bangkit dan berjalan ke sini dan orangnya pun tidak mungkin melepaskan bajunya di sini dan berjalan ke luar dalam keadaan telanjang bulat. Liok Siau-hong tiba-tiba merasa lututnya lemah. Ia mundur dengan sempoyongan sejauh 2 langkah ke belakang sebelum jatuh ke atas sebuah kursi. Perutnya mulai terasa sakit lagi.

Ekspresi wajah Kim Kiu-leng pun tampak muram.

“Kau mengenali ini sebagai baju Sih Peng, kan?” Akhirnya ia bertanya dengan lambat-lambat.

Liok Siau-hong mengangguk. Waktu ia berpisah dengan Sih Peng, gadis itu sedang memakai baju ini.

“Jika bajunya ada di sini, maka ia tentu berada di sini juga tadi!”

“Kau melihatnya?” Liok Siau-hong masih menyisakan sebuah harapan.

Tapi Kim Kiu-leng menggelengkan kepalanya.

“Waktu kami tiba di sini, tempat ini telah sepi.”

“Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?”

“Bukan kami yang menemukan tempat ini.”

“Coa-ong?”

Kali ini Kim Kiu-leng mengangguk.

“Ia benar-benar seorang sahabat yang baik, ia melakukan segalanya untukmu!”

Liok Siau-hong tidak menjawab. Ia sedang bertanya-tanya di dalam hatinya.

“Apakah aku pun melakukan segala yang aku bisa untuk dia?”

“Mulai pagi ini, semua orang yang berada di bawah pimpinannya mulai mencari Sih Peng untukmu!”

Mereka sangat efektif dalam mencari seseorang, karena mereka menerobos sampai ke sudut-sudut terdalam di kota ini, terutama warung-warung teh, warung arak, penginapan, pedagang kecil, bahkan gerobak-gerobak yang menjual makanan kecil. Ini biasanya merupakan tempat-tempat di mana berbagai macam orang berada, dan karena itu merupakan tempat terbaik untuk mendapatkan informasi.

Mereka mulai menyisiri tempat-tempat ini untuk mencari informasi serta mencari tahu apakah ada orang-orang asing yang mencurigakan muncul akhir-akhir ini. Setiap orang, tidak perduli siapa, tentu harus makan dan minum. Tak ada siapa-siapa di hotel-hotel, maka mereka pun bertanya-tanya apakah ada rumah-rumah yang telah menyewakan kamar kosong pada orang asing. Dengan tiga ribu orang anggota kelompok itu menanyakan hal yang sama ke seluruh penjuru kota, tentu sesuatu akan muncul ke permukaan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Di belakang Toko Roti Keluarga Bak, ada sebuah rumah kecil. Tiga atau empat bulan yang lalu, rumah itu disewakan pada seseorang.

Waktu ditanya, pemilik rumah berkata seperti ini.

“Orang yang menyewa rumah itu adalah seorang yang amat tampan dan juga sangat murah hati karena ia telah membayar di depan uang sewa untuk setahun. Tapi sejak itu ia tidak pernah muncul lagi, maka rumah itu tetap kosong selama ini. Tampaknya tidak ada siapa-siapa di dalamnya.”

Tidak ada orang di dunia ini yang mau menyewa sebuah rumah dan kemudian hanya membiarkannya kosong. Di balik semua ini tentu ada sebuah alasan, sebuah rahasia.

Waktu mereka mendapatkan informasi ini saat senja hari, salah seorang dari mereka segera pergi ke sini. Saat itu sepertinya ada suara erangan perempuan di dalam sini. Orang itu tidak berani berlaku gegabah dan pergi mencari bala bantuan. Tapi, waktu mereka kembali, tidak ada siapa-siapa lagi di sini.

“Bagaimana kau tahu semua ini?”

Kim Kiu-leng tersenyum.

“Saudara-saudara yang dulu bekerja untukku sekarang semuanya telah terkenal dan hebat!” Ia menepuk pundak laki-laki di sampingnya dan tersenyum. “Ini adalah Congpothau (Kepala Polisi) di kota ini, Loh Siau-hoa.”

Baru sekarang Liok Siau-hong melihat bahwa di sampingnya sedang berdiri seorang laki-laki bertubuh pendek tapi kuat, berambut putih tapi tidak begitu tua, dan mengenakan pakaian berwarna hijau. Bahkan walaupun bentuk tubuhnya tidak seperti orang normal, matanya tampak berkilat-kilat penuh dengan tenaga, hidungnya bengkok seperti paruh burung elang, dan pinggangnya agak menggelembung, menunjukkan bahwa di samping memakai sebuah cambuk lemas atau tombak bengkok atau senjata lainnya yang luwes, ia juga mungkin membawa rantai dan borgol yang tersembunyi di balik bajunya.

Siapa pun yang telah menghabiskan waktu beberapa hari di dunia persilatan, tentu akan segera mengenalinya sebagai salah seorang jagoan top di Enam Pintu, Pek-thau-eng (Elang Kepala Putih) Loh Siau-hoa. Orang ini dikenal di dunia bawah tanah daerah Tenggara sebagai polisi yang paling efektif dan paling ditakuti.

“Walaupun aku adalah seorang abdi masyarakat dan bekerja untuk pemerintah, aku selalu mengagumi Coa-ong. Jika mungkin, aku ingin selalu saling memahami dengan orang-orang di bawah komandonya!” Loh Siau-hoa tersenyum dan berkata. Tapi kenyataannya, ia tahu betul bahwa jika ia ingin menjaga kedamaian kota ini, sebaiknya ia tidak menimbulkan keributan dengan Coa-ong dan orang-orangnya.

“Tapi waktu terbit fajar, sekitar 3000 orang anak buah Coa-ong mulai bergerak tanpa seorang pun dari kami tahu apa yang sedang terjadi, aku tak bisa tinggal diam dan menonton saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.” Maka dia mengirimkan para polisi untuk mendapatkan informasi dan mencari tahu tentang kejadian itu. Kota ini adalah kota terbesar di selatan, sebuah tempat di mana kelompok masyarakat yang terbaik dan terjahat bertemu dan bercampur. Untuk dapat naik ke posisi Congpothau (Kepala Polisi) di sebuah tempat seperti ini, tentu membutuhkan seseorang yang istimewa.

Loh Siau-hoa meneruskan. “Waktu informasi tiba padaku bahwa hal ini berhubungan dengan Liok-tayhiap, maka aku pun segera berusaha menemukan cara untuk menyampaikan informasi ini kepada Kim-locong.”

Walaupun Kim Kiu-leng telah lama tidak menjadi bos-nya lagi, ia masih tetap memelihara kebiasaan untuk memanggilnya seperti itu. Liok Siau-hong sekarang faham mengapa Liok Kong tadi tidak mau masuk ke tempat ini. Dengan adanya pemimpin polisi di tempat ini, sebaiknya mereka memang menghindari tempat ini.

“Pakaian Nona Sih ada di sini, tapi orangnya tidak. Hanya ada satu penjelasan!” berkata Kim Kiu-leng.

Liok Siau-hong mendengarkan. Ia percaya pada analisa Kim Kiu-leng, tapi hatinya terasa kacau lagi.

“Orang yang menculik dan membawanya ke sini telah menyadari bahwa mereka telah ditemukan, maka orang itu segera membawanya pergi. Tapi karena pakaiannya yang putih seperti salju ini terlalu menyolok, maka orang itu lalu menukarnya!”

“Apakah di sini ada pakaian ganti?” Loh Siau-hoa membuka laci di sudut kamar, di dalamnya masih ada 6 atau 7 stel pakaian yang berbeda-beda, ada yang untuk laki-laki, ada yang untuk wanita, ada yang untuk orang tua, dan ada pula yang untuk orang-orang muda.

“Di sini hanya ada sebuah ranjang dan ruangannya pun hanya cukup untuk tempat tinggal satu orang. Tapi di sini ada 6 atau 7 macam pakaian yang berbeda-beda, ini membuktikan satu hal.” Kim Kiu-leng menarik kesimpulan.

“Ini membuktikan bahwa orang ini tentu seorang ahli menyamar dan kapan saja bisa muncul dalam wujud berbagai macam orang yang berbeda-beda!” Liok Siau-hong menyelesaikan dugaannya yang belum selesai dilontarkan itu.

“Tapi di sini cuma ada pakaian, tak ada sepatu. Ini juga membuktikan sesuatu!” Kim Kiu-leng meneruskan.

“Ini membuktikan bahwa tidak perduli dia sedang menyamar sebagai apa, dia selalu memakai sepatu yang sama!” Liok Siau-hong menyimpulkan.

“Sepatu merah?” Kim Kiu-leng bertanya.

“Benar, sepatu merah, sepatu merah yang terbuat dari sutera merah, seperti yang dipakai pengantin baru di saat pernikahannya!”

“Ada beberapa petunjuk yang memperlihatkan bahwa laki-laki tampan yang menyewa tempat ini sebenarnya adalah seorang wanita yang sedang menyamar!” Kim Kiu-leng berkata.

“Benarkah?”

“Tempat ini penuh dengan debu, sebuah bukti nyata bahwa telah lama tidak ada orang yang tinggal di sini. Alat kebutuhan sehari-hari juga tidak terlihat di sini. Tapi di sini ada sebuah cermin!” Wanita memang suka bercermin, tapi –

“Laki-laki juga suka bercermin, dan untuk menyamar pun dibutuhkan sebuah cermin!” Liok Siau-hong menawarkan pendapatnya.

Kim Kiu-leng berjalan ke meja yang berada di dekat jendela dan mengambil cermin itu.

“Di sini ada bekas tangan seseorang,” ia berkata. “Tampaknya masih sangat baru.”

“Bekas tangan seorang wanita?” Liok Siau-hong bertanya.

Kim Kiu-leng mengangguk.

“Tapi tidak mungkin bekas tangan Sih Peng. Ia disekap di sini. Bahkan jika tangannya tidak terikat, paling tidak urat darahnya tentu tertotok. Selimut dan seprai tempat tidur tampak berantakan, seolah-olah seseorang tadinya tidur di atas ranjang.”

“Jika dugaanku benar, maka selama ini dia tentu berbaring di ranjang ini.” Kim Kiu-leng menarik kesimpulan.

“Anak buah Coa-ong tadi melaporkan bahwa dia mendengar suara rintihan wanita, maka dugaanku adalah Nona Sih tentu sedang terluka!” Komentar Loh Siau-hoa itu mendapatkan tatapan marah dari Kim Kiu-leng. Ia tidak ingin Liok Siau-hong mengetahui fakta itu, ia tidak ingin Liok Siau-hong nantinya jadi terlalu khawatir.

“Bahkan jika dia tidak mengatakannya, aku pun telah menduga demikian!” desah Liok Siau-hong.

“Tapi tidak ada bekas-bekas darah di ruangan ini.” Kim Kiu-leng segera menyahut. “Maka apa pun lukanya itu, tentu tidak serius!”

Kata-kata itu hanyalah untuk menghibur Liok Siau-hong. Jika luka yang diderita Sih Peng adalah luka dalam, maka tak perduli betapa pun parahnya luka itu, tentu tidak ada bekas-bekas darah. Tapi walaupun demikian, Liok Siau-hong senang mendengar kata-kata itu, dia perlu dihibur saat ini.

“Jelas orang ini membawa pergi Sih Peng dengan tergesa-gesa, itulah sebabnya ada petunjuk-petunjuk yang tertinggal di sini!” Kim Kiu-leng meneruskan.

“Kapan dia pergi?”

“Sebelum gelap!”

Saat itu Liok Siau-hong sedang dalam perjalanan ke Se-wan untuk memenuhi perjanjian. Nenek penjual kacang itu pun belum muncul. Bisa saja dia berangkat bersama Sih Peng dan pergi ke Se-wan. Mungkin dialah orang yang menyewa tempat ini.

“Tempat ini disewa 2 bulan yang lalu,” Kim Kiu-leng menambahkan. “Tepatnya, tanggal 11 bulan lima.”

“Tanggal 11 bulan lima?” Ekspresi wajah Liok Siau-hong pun berubah mendengar fakta itu.

“Perampokan di Lam-ong-hu terjadi pada tanggal 11 bulan enam. Hari dia mulai menyewa tempat ini adalah tepat sebulan sebelum kejadian itu.”

“Dan juga 3 hari sebelum hari ulang tahun Kang Tiong-wi!” Liok Siau-hong menambahkan.

“Apa hubungannya hari ulang tahun Kang Tiong-wi dengan urusan ini?”

“Pada hari ulang tahunnya, Kang Kin-he datang mengunjunginya untuk mengucapkan selamat ulang tahun.”

“Dan hari itulah ia membuat cetakan kunci untuk gudang arak.” Mata Kim Kiu-leng tampak berkerlap-kerlip.

“Untuk menghindari kecurigaan orang bahwa dia mungkin ada hubungannya dengan semua ini, mereka menunggu kira-kira 20 hari lagi sebelum membuat gerakan!”

“Untuk melakukan perampokan yang demikian besar, diperlukan sejumlah rencana, belum lagi mereka harus mencari tahu tentang detil keamanan dan tata ruang Lam-ong-hu. Barulah kemudian rencana itu bisa dilaksanakan dengan kemungkinan berhasil.”

“Tentu saja ia tidak bisa terus-menerus muncul sebagai seorang laki-laki berjenggot, maka dia pun berencana pergi ke sebuah tempat terpencil untuk melakukan penyamaran pada malam itu.” Liok Siau-hong menarik kesimpulan.

“Dan inilah tempat yang sempurna untuk itu!” Kim Kiu-leng setuju.

“Karena tempat ini berada di tengah-tengah bagian tersibuk dan paling ramai di kota ini, tak seorang pun yang akan curiga!”

“Tampaknya dia sangat mahir dalam mengambil keuntungan dari kesalahan asumsi orang lain!” desah Kim Kiu-leng.

Loh Siau-hoa selama itu hanya mendengarkan dalam bisu. Tetapi sekarang ia tidak bisa diam lagi.

“Mungkinkah orang yang menyewa tempat ini adalah si Bandit Penyulam?”

“Walaupun kita belum yakin betul saat ini, menurutku keyakinan kita adalah 6 atau 7 bagian!” Liok Siau-hong menjawab.

“Lebih dari 7 bagian!” Kim Kiu-leng tiba-tiba menyanggah.

“Benarkah?”

“Aku berani mengatakan bahwa paling tidak kita 9 bagian, jika tidak lebih, yakin tentang hal itu saat ini!”

“Apa yang membuatmu begitu yakin?”

“Karena ini!” Kim Kiu-leng mengeluarkan sebuah dompet kecil dari sutera merah. “Aku tadi menemukannya di dalam laci sana. Lihatlah apa isinya!”

Di dalam dompet itu tak lain tak bukan ada sebungkus jarum jahit yang masih baru!

______________________________

Dari toko roti Keluarga Bak di mulut gang, Loh Siau-hoa membeli beberapa potong kue pai bulan yang baru dikeluarkan dari panggangannya. Bulan purnama masih akan muncul sampai Tiongciu (Perayaan Musim Gugur) nanti, tetapi kue pai bulan telah masuk ke pasaran. Liok Siau-hong memaksakan dirinya untuk makan setengah potong. Jalan ini sangat sunyi. Mereka berjalan kaki sambil makan. Bandit Penyulam tentu tak akan pernah kembali ke tempat itu lagi, maka tidak ada gunanya bagi mereka untuk tinggal di sana lebih lama lagi.

“Jarum ini semuanya terbuat dari besi terbaik dan dibakar lebih dari 100 kali, ini bukanlah jarum biasa!” kata Kim Kiu-leng.

“Apakah ujungnya dilumuri racun?”

“Tidak.” Jawab Kim Kiu-leng. “Ia membiarkan korban-korbannya tetap hidup, mungkin dengan tujuan untuk membuktikan bahwa ia bukanlah seorang wanita, tapi seorang laki-laki berjenggot yang bisa menyulam.”

“Dan ia memang tidak perlu membunuh mereka!”

“Menurutmu, mungkinkah dia adalah Kang Kin-he?”

“Tidak, tidak mungkin!” Liok Siau-hong menjawab. “Ilmu kungfu Kang Kin-he memang tidak lemah, tetapi bila dibandingkan dengan orang itu, dia masih jauh sekali!”

Ia meneruskan. “Tugas Kang Kin-he adalah mencari tahu tentang tata ruang Lam-ong-hu dan membuat kunci duplikat untuknya!”

“Menurutmu, Kang Kin-he berada di bawah komandonya?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Kang Kin-he adalah orang yang cukup termasyur di dunia persilatan, dan terkenal angkuh pula, bagaimana mungkin dia bersedia menjadi bawahan orang lain?” Kim Kiu-leng bertanya-tanya.

“Karena orang itu jauh lebih baik daripada Kang Kin-he dalam segala hal.” Desah Liok Siau-hong. “Tidak pernah dalam hidupku aku bertemu dengan seorang wanita dengan kemampuan kungfu yang begitu luar biasa dan juga licik!”

“Kau bertemu dengannya?” Kim Kiu-leng terkejut mendengar berita itu.

“Bukan hanya melihatnya, tapi juga hampir terbunuh olehnya!” Liok Siau-hong tersenyum murung.

“Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?”

“Aku datang untuk memenuhi perjanjian bagi seorang sahabat di Se-wan!”

“Perjanjian? Perjanjian macam apa?”

“Perjanjian hutang jiwa!” Liok Siau-hong menarik nafas lelah.

“Dengan siapa sahabatmu itu membuat perjanjian?”

“Kongsun-toanio, Kongsun Lan.”

“Kurasa aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.” Kim Kiu-leng mengerutkan keningnya.

“Itu karena ia memang bukan orang yang terkenal, dan tidak pernah ingin jadi terkenal!”

“Orang macam apakah dia?”

“Tak tahu.”

“Jika kau telah bertemu dengannya, lalu bagaimana kau bisa tidak tahu orang macam apakah dia?” Kim Kiu-leng bertambah bingung.

“Aku hanya melihat seorang nenek penjual kacang dan membeli dua kati kacang gula darinya. Jika aku memakan satu butir saja, maka kau tidak akan bicara lagi denganku saat ini.”

“Kacang gula Him-lolo!” Kim Kiu-leng hampir menjerit.

“Kacang gula Him-lolo?” Liok Siau-hong tidak memahami arti kalimat itu.

“Dua tahun yang lalu, sering ditemui orang-orang yang mati di jalan raya.” Kim Kiu-leng menjelaskan. “Mereka semua diracun sampai mati dan di dekat tubuh mereka selalu berserakan beberapa butir kacang gula.”

“Dan semua peristiwa itu terjadi pada malam bulan purnama.” Loh Siau-hoa pun tahu tentang kejadian itu.

“Malam ini sedang bulan purnama.” Liok Siau-hong berkata.

“Dulu aku ditugaskan untuk menangani beberapa kasus ini, tapi aku tak pernah berhasil menemukan petunjuk apa pun,” Loh Siau-hoa menjelaskan lagi. “Orang-orang yang tewas itu bukan dibunuh oleh musuh bebuyutan yang membalas dendam, mereka juga bukan dibunuh karena uang.”

“Tapi karena orang-orang yang mati itu sebagian besar adalah orang-orang yang tidak terkenal, maka peristiwa itu tidak menimbulkan gelombang besar di dunia persilatan.” Kim Kiu-leng menambahkan keterangannya. “Hanya orang-orang yang bertugas sebagai abdi masyarakat yang mengetahui hal ini.”

“Dua tahun yang lalu, ada seorang pegawai perusahaan ekspedisi bernama Thio Hong yang baru saja selesai bertugas, dia pun mati seperti itu.” Berkata Loh Siau-hoa. “Tapi sebelum mati, dia sempat mengucapkan dua kalimat.”

“Apa yang dia katakan?”

“Kalimat pertama adalah: ‘Kacang gula Him-lolo’. Kami bertanya siapakah Him-lolo itu? Mengapa perempuan itu meracuninya? ‘Karena setiap bulan purnama, dia selalu ingin membunuh.'”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Jadi dia bukan hanya Li-to-hou, Tho-hoa-hong, dan Ngo-tok-niocu, tapi juga Him-lolo!”

“Menurutmu, si Bandit Penyulam juga dia?”

“Aku awalnya tidak yakin, tapi ada beberapa hal yang membuktikan bahwa dia adalah si Bandit Penyulam!”

“Hal seperti apa?”

“Aku telah mengejarnya sampai di jalan raya di mana toko roti Keluarga Mai berada sebelum aku kehilangan dia, sekarang aku faham kenapa dia berlari ke arah sini.”

“Karena dia tinggal di jalan ini dan lebih mengenal lingkungan sekitarnya daripada kamu!”

“Di samping itu, pakaian yang ada di dalam laci tadi pun sesuai dengan postur tubuhnya. Didengar dari suaranya, bisa dipastikan bahwa dia belum tua, maka dengan mudah dia bisa menyamar sebagai seorang pemuda tampan!”

“Tapi bukan hanya itu hal-hal yang terpenting!”

Liok Siau-hong meneruskan. “Walaupun ia menyamar sebagai seorang nenek tua, ia tetap memakai sepasang sepatu merah sepatu sutera berwarna merah menyala. Menurut kabar angin, di sepatu itu ada sulaman burung hantu.”

“Tidak perduli apa pun, setidak-tidaknya kita sekarang tahu siapa Bandit Penyulam itu!” Kim Kiu-leng menarik nafas.

“Sayangnya kita tidak berhasil menemukannya, bahkan kita tidak memiliki petunjuk di mana akan memulainya!” ucap Loh Siau-hoa.

“Kita punya.” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.

“Kita punya sebuah petunjuk?”

“Kita bukan hanya memiliki sebuah petunjuk, kita punya lebih dari satu!” Liok Siau-hong meneruskan. “Yang pertama, kita tahu bahwa Kang Kin-he mengenalnya. Yang kedua, karena dia punya markas untuk melakukan perampokan di tempat ini, maka di tempat-tempat lain tentu juga ada markasnya yang digunakan untuk perampokannya yang lain!”

“Benar!” Mata Kim Kiu-leng tampak bersinar-sinar. Tidak perduli apa pun, seorang penjahat yang ahli tentu memiliki beberapa kebiasaan khusus. Bagi mereka, sangat sukar untuk merubahnya.

“Itulah sebabnya aku berpendapat bahwa dia tentu memiliki sebuah markas di Lamhai!”

Lamhai adalah kota tempat tinggal Hoa It-ban.

Mata Loh Siau-hoa pun tampak berkilauan. “Kepala polisi di Lamhai adalah Beng Wi. Dulu ia juga merupakan anak buah Kim-locong. Aku bisa memintanya untuk mulai mencari sekarang juga. Mungkin saat kalian tiba di sana, mereka telah menemukannya!”

“Kau bisa memintanya untuk melakukan itu sekarang juga?”

“Selama bertahun-tahun ini kami punya suatu cara untuk berkomunikasi,” Loh Siau-hoa mengangguk. “Dan kami juga berkomunikasi dengan menggunakan cara yang tercepat!”

“Cara apakah itu?”

“Burung merpati.”

“Mungkin dia bermaksud membawa Sih Peng ke sana. Jika kita bertindak cepat, mungkin kita dapat menangkapnya di sana!” ucap Kim Kiu-leng.

“Aku akan meminta Beng Wi untuk bersikap ekstra hati-hati dan tenang waktu memimpin pencarian supaya tidak mengejutkannya!”

“Kau akan menuliskan surat itu sekarang juga?” Kim Kiu-leng bertanya.

“Ya.”

Ia baru saja hendak mempercepat langkahnya waktu Kim Kiu-leng tiba-tiba memanggilnya kembali.

“Satu hal lagi!”

Loh Siau-hoa berhenti dan menunggu instruksinya.

“Berapa banyak uang upeti yang kau dapatkan setiap bulannya dari orang-orang Coa-ong?” Kim Kiu-leng bertanya, sambil tersenyum.

Wajah Loh Siau-hoa tampak memerah, tapi dia masih takut untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Delapan ratus tael perak, tapi itu dibagi untuk kami semua!”

“Apakah kau tahu bahwa Coa-ong adalah sahabat Liok Siau-hong?” Wajah Kim Kiu-leng menjadi gelap. “Apakah kau tahu bahwa sahabat Liok Siau-hong juga adalah sahabat Kim Kiu-leng?”

“Aku tahu,” Kepala Loh Siau-hoa makin menunduk. “Mulai besok aku akan berhenti mengumpulkan uang itu.”

“Bagus, mulai besok aku akan mengganti kerugianmu itu dengan menaikkan gajimu!” Kim Kiu-leng tersenyum.

Loh Siau-hoa memandangnya dengan sorot mata yang penuh dengan perasaan terima kasih. Sambil membungkuk dalam-dalam, dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dan tanpa perlu bicara apa-apa lagi.

Liok Siau-hong mengawasi kepergiannya, lalu ia tiba-tiba menarik nafas.

“Sekarang aku tahu mengapa orang lain mengatakan bahwa kau adalah orang nomor satu dalam 300 tahun sejarah Enam Pintu!”

“Mengapa?” Kim Kiu-leng tersenyum.

“Karena kau bukan hanya pintar membeli hati orang, kau juga pintar menjual teman-temanmu.”

“Siapa yang kujual?” Senyuman Kim Kiu-leng tampak agak dipaksakan sekarang.

“Aku!” Liok Siau-hong tersenyum letih. “Jika bukan kau yang menyeretku ke dalam kekacauan ini, aku tentu tidak akan memiliki perasaan gelisah dan sakit kepala seberat ini.”

“Tapi kau akan segera dapat mengalihkan sakit kepalamu itu pada orang lain!”

“Siapa?”

“Si Bandit Penyulam,” Kim Kiu-leng tersenyum dan menambahkan dengan lambat. “Kongsun-toanio.”

“Haruskah kita berangkat sekarang?” Liok Siau-hong tertawa.

“Tentu saja sekarang juga, hal-hal lain harus dikesampingkan saat ini.”

“Tapi masih ada sesuatu yang tidak bisa kukesampingkan!”

“Apa?”

“Persahabatan.”

“Aku tahu kau hendak pergi menemui Coa-ong lagi,” Kim Kiu-leng menarik nafas. “Tapi aku ingin tahu apakah dia bisa dan mau bersahabat denganku?”

Coa-ong tidak bisa. Karena dia tidak bisa lagi berteman dengan orang lain. Bagaimana mungkin orang mati bersahabat dengan orang hidup?

Bangunan kecil itu benar-benar sunyi, tidak ada satu pun lampu yang menyala. Orang-orang yang biasanya berkumpul di halaman telah dikirim keluar semuanya, hanya empat orang yang tinggal untuk berjaga-jaga. Mereka tampak bingung, tapi tak seorang pun dari mereka yang berani masuk dan melihat ke dalam. Tanpa ijin dari Coa-ong, tak seorang pun berani naik ke lantai atas. Tapi tentu saja Liok Siau-hong adalah sebuah pengecualian.

“Beliau tidak tidur tadi malam, mungkin beliau akhirnya tertidur sekarang.”

Pintu itu tidak tertutup rapat. Liok Siau-hong mendorongnya hingga terbuka. Kim Kiu-leng memberinya kayu api untuk penerangan. Kayu itu baru saja dinyalakan sebentar sebelum padam lagi dan jatuh. Tangan Liok Siau-hong seperti kejang, begitu kejangnya sehingga ia tak mampu menggenggam kayu api itu di dalam tangannya.

Dalam waktu sekilas tadi, ia telah melihat mata Coa-ong, mata yang hampir melompat keluar dari kelopaknya. Ia telah dicekik hingga mati di atas kursinya yang lembut itu, dicekik hingga mati dengan menggunakan sehelai selendang sutera berwarna merah menyala. Selendang sutera yang sama dengan selendang yang diikatkan oleh Kongsun-toanio pada pedang pendeknya.

Liok Siau-hong berjalan menghampiri dan menggenggam tangan Coa-ong. Seluruh tubuhnya pun mulai bergetar. Tangan Coa-ong lebih dingin daripada tangannya. Kamar itu gelap gulita. Kim Kiu-leng tidak menyalakan obor lagi, dia tahu bahwa Liok Siau-hong tak sanggup untuk melihat wajah Coa-ong lagi. Ia juga tidak memiliki kata-kata untuk menghibur Liok Siau-hong. Kegelapan yang menyerupai kematian, kesunyian yang menyerupai kematian, kesepian yang menyerupai kematian, dalam suasana seperti inilah seorang manusia baru benar-benar merasakan dan memahami betapa nyata dan menakutkan kematian itu.

Waktu pun berlalu serasa bertahun-tahun.

“Mari kita pergi, kita pergi sekarang juga.” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.

“Ya!”

“Tapi aku tidak akan memberikan sakit kepalaku padanya.”

Tiba-tiba ia tertawa, sebuah tawa yang penuh dengan perasaan sakit hati dan amarah yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

Untunglah Kim Kiu-leng tidak menyalakan lentera, karena ekspresi wajah Liok Siau-hong itu terlalu menakutkan untuk dilihat.

Yang dia dengar adalah Liok Siau-hong menekankan setiap patah katanya saat ia berbicara.

“Aku menjamin bahwa ia tidak akan pernah mendapatkan sakit kepala lagi.”

Kim Kiu-leng memahami apa maksud ucapannya itu. Bila kepala seseorang telah dipenggal, orang itu tidak akan pernah menderita sakit kepala lagi!

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: