Kumpulan Cerita Silat

25/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (17)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:15 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 17. Nyonya Tua Yang Misterius
Oleh Gu Long

Kain merah yang mempromosikan kamar untuk disewa masih tergantung di luar gang kecil.

Saat Fu Hong Xue berjalan melewatinya, dia menangkap pandangan wanita dengan rambutnya yang telah memutih yang menatapnya dengan licik, kebencian memenuhi sorot matanya. Tidak terlihat sedikitpun keramahtamahan.

“Harap minggir.” Fu Hong Xue berkata.

“Kenapa aku harus minggir?” Wanita tua menjawab.

“Aku ingin masuk ke dalam.”

“Aku dengar engkau tidak terlalu menyukai tempat ini dan berencana untuk pergi keluar. Kenapa engkau balik kembali?”

“Siapa yang bilang aku berencana keluar?”

“Aku yang mengatakannya.”

Fu Hong Xue mengerutkan alisnya.”Siapa yang mengatakan aku tidak menyukai tempat ini?”

“Bahkan meskipun keadaannya tidak seperti itu, tempat ini sangat tidak menyukaimu.”Si nenek tua mendengus.

Fu Hong Xue akhirnya mengerti, jadi dia tidak berkata-kata lagi. Apa lagi yang harus dikatakan?

Aku telah menitipkan semua barang-barangmu ke toko kelontong di seberang jalan, kau dapat mengambilnya kapan saja.”

Fu Hong Xue menganggukan kepalanya.

“Dan uang perak yang kau bayarkan kepadaku, aku sarankan kau pakai untuk membeli peti mati.”Wanita tua itu melemparkan uang peraknya kearahnya.

Fu Hung Xue mengulurkan tangannya, namun uang perak tersebut tidak pernah dapat diraihnya.

Sesuatu menimpuk uang perak tersebut itu ke udara kembali ke arah wanita tua itu. Uang perak tersebut hancur menjadi jarum-jarum perak.

Bila sesuatu tidak menimpuk balik uang perak tersebut kembali ke wanita tua itu, bahkan bila Fu Hong Xue tidak kehilangan nyawanya, tangannya sudah pasti akan menjadi cacat.

Namun sekarang jarum-jarum perak tersebut melayang kembali ke arah wanita tua itu. Wanita tua itu, yang biasanya saat berjalanpun harus berpegangan ke dinding, tiba-tiba melompat keudara dan bersalto ke belakang ke atap rumah. Dia memperlihatkan kemampuan sejatinya dan kelihatannya dia tidak punya pilihan kecuali kabur.

Siapa yang tahu seseorang telah berada disana menunggunya?

Ekspresi wajahnya berubah, ketakutan terlihat disorot kedua matanya.

Ye Kai tersenyum padanya dan berseru,”Nenek Tua, sejak kapan engkau tiba-tiba menjadi muda?”

Wanita tua itu tertawa terpaksa dan menjawab,”Aku tidak menjadi lebih muda, namun aku rasa tulangku berubah menjadi semakin ringan. Setiap saat aku melihat pesilat muda seperti dirimu, tulang-tulangku selalu menjadi terasa ringan.”

“Kau ingin aku minum darahmu?”Wanita Tua itu bertanya.

“Bukankah engkau baru saja pesta besar di atas darahnya Luo Luo Shan?”Ye Kai menjawab.

Senyuman tajam terlihat diwajahnya seraya berseru,”Darah laki-laki tua itu terlalu banyak mengandung alkohol. Aku rasa aku lebih baik minum darahmu.”

Dia mengebaskan tangannya dan dua buah jarum perak melesat dari lengan bajunya ke arah leher Ye Kai. Tidak hanya aneh senjatanya, senjatanya juga merupakan senjata yang sangat mematikan.

Namun Ye Kai nampaknya telah terbiasa dengan senjata yang jahat dan mematikan. Tubuhnya telah bergeser ke samping dan berputar. Kelihatannya dia telah menangkap senjata rahasia tersebut dengan lengan bajunya, dan DDDDIINNNGGG, keduanya melesat tidak terlihat lagi.

Kedua cakar wanita tua itu tiba-tiba kaku membeku. Ye Kai telah berdiri dengan kedua tangannya dibelakang tubuhnya tersenyum kepadanya.”Apakah engkau masih memiliki senjata baru yang akan dicoba? Aku sungguh-sungguh tertarik untuk menjadi yang pertama melihatnya.”

Wanita tua itu menatapnya dengan kosong dan menggerutu,”Siapakah engkau didunia ini?”

“Nama margaku Ye, nama panggilanku Kai. Ye seperti pada kata ‘daun’, seperti daun di pohon. Kai seperti pada kata “terbuka’, seperti saat seseorang membuka pintu. Juga sama artinya dengan Kai dalam ‘kebahagiaan’.”

Dia tertawa dan menambahkan,”Sayangnya saat aku merasa senang, engkau mungkin akan merasa sedih.”

Nenek Tua tersebut tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Tubunya tiba-tiba melayang ke udara, se saat dia telah melompat sejauh tigapuluh atau empatpuluh kaki menjauh. Namun dia tidak pernah menyangka secepat dia mendarat, Ye Kai telah berdiri disampingya dengan senyuman lebar diwajahnya, senyuman yang menyerupai rubah kecil yang licik.

Nenek Tua itu menghela napas dan berseru,”Hebat. Ginkang yang hebat. Sepertinya semua tulang belulangmu lebih ringan dari miliku.”

Sebelum dia mengakhiri ucapannya, tangannya bergerak seperti cakar dan mengeluarkan empat gerakan ke arah Ye Kai. Tekniknya sangat aneh dan licik. Ye Kai berbalik, gerakannya bukan aneh maupun licik, tapi amat sangat cepat. Kecepatan yang tidak dapat dibayangkan.

Saat wanita tua itu menamparkan tangannya, tiba-tiba dia merasa sesuatu yang ringan telah menotok jalan darahnya. Tangannya langsung turun dan dia tidak dapat digerakan lagi.

Ye Kai masih berdiri dengan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Senyumnya membuat dia terlihat lebih gembira dari sebelumnya. Betapa sungguh memalukan, saat dia merasa senang, orang lain justru merasa sangat menderita.

Wanita tua tersebut menghela napas panjang dan berkata,”Aku tidak mengenalmu. Mengapa engkau mencampuri urusanku?”

“Siapa yang mengatakan aku mencampuri urusanmu?”Ye Kai menjawab.

“Jadi apa yang kau inginkan?”Wanita tua bertanya.

“Aku ingin minum secangkir arak bersamamu.”Ye Kai berkata.

Wanita tua tersebut terlihat bingung,”Engkau ingin apa?”

“Jarang sekali aku mengundang orang minum arak, sungguh sangat disayangkan kalau engkau melewati kesempatan ini.”Ye Kai berkata.

Wanita tua itu mengatupkan giginya dan bertanya,”Dimana engkau ingin minum?”

“Tentu saja kita akan pergi ke tempat Xiao Bie Li, kita dapat minum dengan kasbon disana.”Ye Kai menjawab.

________________________________________

Tangan Fu Hong Xue mengenggam dengan keras goloknya, mengenggam dengan amat sangat keras.

Dia masih tetap berdiri seperti sebelumnya, posisi tubuhnya tidak bergeser se-incipun. Namun wajahnya yang putih pucat mulai memerah.

Wanita tua telah melompat turun dari atas rumah dan berjalan dengan kepala tertunduk melewati sisinya. Fu Hong Xue bahkan tidak memandang sekejapun ke arahnya, namun tiba-tiba dia berseru,”Tunggu sebentar.”

Wanita tua itu diam berhenti, tiba-tiba dia menjadi semakin penurut.

“Aku telah membunuh sebelumnya.”

Wanita tua itu mendengar dengan jelas.

“Dan aku tidak berkeberatan untuk membunuh lagi.”

Tangan wanita tua itu mulai gemetaran.

Ye Kai melangkah ketengah mereka juga dan menegaskan,”Membunuh hanya seperti minum arak. Cangkir pertama selalu menjadi tegukan yang paling berat. Namun setelahnya, setiap cangkirnya menjadi semakin mudah. Kecuali itu …”

“Kecuali apa ….”

“Membunuhnya tepatnya seperti minum-minum, terlalu banyak melakukannya akan membuat ketagihan.”Ye Kai menatap Fu Hong Xue dan melanjutkan,”Paling baik bila engkau tidak ketagihan hal-hal seperti itu.”

“Engkau bukan salah satu yang ingin kubunuh.”Fu Hong Xue menjawab.

“Engkau ingin membunuhnya?” Ye Kai bertanya.

“Sebenarnya, aku berpikir aku hanya membunuhnya dua jenis orang. Tapi sekarang, aku pikir ada yang ketiga.”

“Jenis apa?”

“Yang menginginkan kematianku.”

Ye Kai menganggukan kepalanya,”Dia mencoba membunuhmu sebelumnya, dan sekarang engkau ingin membunuhnya. Betul-betul adil.

“Harap minggir.” Fu Hong Xue memperingatkan.

“Kenapa?” Ye Kai berkata.

“Karena dia menginginkan nyawaku.” Fu Hong Xue menjawab.

“Tapi dia tidak membunuhmu, engkau masih hidup kan?”Ye Kai bertanya.

Fu Hong Xua menatapnya, wajahnya yang putih pucat mulai transparan. Setelah beberapa saat, perlahan-lahan dia menjawab,”Katakan siapakah kau sebenarnya, huh?”

“Engkau tahu siapa aku sebenarnya, kenapa repot-repot bertanya kepadaku?” Ye Kai menjawab.

“Aku hanya ingin kepastian, karena aku berhutang padamu.”Fu Hong Xue berkata.

“Apakah itu?”

“Nyawaku.”

Dia perlahan-lahan berputar dan melanjutkan,”Ini adalah hutang yang akan kubayar cepat atau lambat, tapi sejak saat ini engkau dapat memintanya kapan saja.”

Kaki kirinya melangkah maju, kaki kanannya diseret dari belakang. Langkahnya terlihat semakin berat kali ini. Ye Kai tiba-tiba menyadari bahwa dia terlihat seperti Xiao Bie Li dari belakang. Keduanya orang yang kesepian, keduanya juga sentimentil.

Namun mungkin situasi yang dihadapinya lebih tragis, karena hanya ada satu jalan arah dia pergi.

Jalan yang membuat dia tidak dapat kembali lagi.

________________________________________

Tersedia arak di atas meja.

Ye Kai menuangkan secangkir arak kepada Xiao Bie Li dan secangkir kepada wanita tua itu.

“Bagaimana tempat ini?”

“Tidak jelek.”Wanita tua itu menjawab.

“Dan araknya?”

“Tidak jelek juga.”

“Jadi engkau harus berterima kasih. Bila bukan karena diriku, bagaimana mungkin engkau memiliki kesempatan minum disini?”Ye Kai berkata.

“Kenapa aku tidak dapat minum disini?”Wanita tua itu bertanya.

Ye Kai menghela napas, kemudian menjawab,”Karena ini adalah tempat laki-laki. Meskipun Jarum Penghancur Usus Nenek Du merupakan orang yang ditakuti di dunia persilatan, namun dia tetap seorang wanita.

Wanita tua itu menatapnya dan berkata,”Jadi aku adalah Nenek Du?”

“Saat aku melihat Jarum Penghancur Usus menancap di tubuh Luo Luo Shan, aku menduga itu adalah kau.”Ye Kai berkata.

“Dugaan yang hebat.”Wanita tua itu berkata.

Ye Kai kembali tertawa dan berkata,”Namun aku tidak bermaksud membalaskan kematiannya.”

“Oh?”

“Aku hanya ingin menanyakan kenapa engkau mau bergabung dengan Gedung Sepuluh Ribu Kuda?”

“Jadi kau pikir aku membunuhnya karena perintah Gedung Sepuluh Ribu Kuda?”

Ye Kai menganggukan kepalanya.

“Karena aku melakukan pada saat ini, dan karena aku sudah tua, maka engkau yakin aku adalah Nenek Du?”

“Itu adalah kesimpulan yang cukup sederhana.”

“Laluu tentu saja Nenek Du pasti bukan seorang pria.”

“Tentu saja.”

Wanita tua itu mulai tertawa, sangat aneh dan tertawa yang ganjil.

“Kelucuan apa yang kau temui?”Ye Kai bertanya.

“Hanya satu hal.”Wanita tua itu menjawab.

“Dan apakah itu?”

“Aku bukan Nenek Du.”

“Bukan engkau?”

Wanita tua itu tersenyum dan menegaskan,”Aku tidak pernah membayangkan menjadi Nenek Du, tapi sayangnya aku seorang laki-laki.

Ye Kai terkejut. Nenek tua itu ternyata seorang pria. Dia membuka topeng yang dikenakannya, membuka bajunya, dan berdiri. Wanita tua yang keriput telah berubah menjadi seorang pria kurus tengah baya! Siapapun dengan jelas pasti dapat mengatakan dia adalah seorang pria.

Ye Kai percaya lagi pada kesimpulannya.

Orang tersebut tersenyum balik kearahnya dan berseru,”Apakah engkau masih ingin mencari tahu apakah aku pria atau wanita?”

Ye Kai menarik napas panjang dan menjawab sambil tersenyum,”Tidak perlu.”

“Nenek Du sudah jelas bukan seorang pria.”Orang tersebut berkata.

“Jelas bukan.”Ye Kai berkata.

“Jadi sudah jelas aku bukan Nenek Du.”

“Engkau bukan.”

“Demikian juga, aku bukan orang yang telah membunuh Luo Luo Shan.”

Ye Kai hanya dapat mengiakan, setiap orang sudah tahu bahwa Jarum Penghancur Usus adalah satu-satunya senjata rahasia Nenek Du!

“Aku juga tidak membunuh Fu Hong Xue.”

Ye Kai tidak dapat menyangkal hal itu, Fu Hong Xue masih bernapas dan hidup.

Orang itu menarik napas panjang. Dalam sekali teguk, dia telah meminum seluruh arak dicangkirnya, kemudian berseru,”Betul-betul arak yang bagus.”

Saat dia menghabiskan cangkirnya, dia berdiri, berbalik dan mulai berjalan keluar.

Pandangan mengejak tersirat di wajah Xiao Bie Li seraya berkata,”Harap datang kali lain waktu.”

“Tentu saja aku akan kembali, aku dapat minum dengan kasbon disini. Semua gubuk-gubuk miliku itu masih dapat disewa.”Orang tersebut berkata sambil tersenyum.

Ye Kai tiba-tiba berseru,”Xi Men Chun.”

Orang tersebut segera memutar kepalanya. Senyumnya masih nampak diwajahnya, namun sesaat dia menyadari apa yang dilakukannya, senyuman itu menghilang.

Namun senyum muncul di wajah Ye Kai.

Saat dia tersenyum, orang lain biasanya menderita.

Orang tersebut memaksakan untuk tersenyum, namun otot diwajahnya telah kaku membeku.

“Karena araknya tidak jelek, harap tuan Xi Men tinggal untuk minum beberapa cangkir arak.”Ye Kai berkata.

Orang tersebut tetap diam beberapa saat. Akhirnya dia menghela napas dan menjawab,”Sudah jelas aku tidak perlu bertanya lagi, orang seperti apakah kau.”

“Tepat sekali.”Ye Kai menjawab.

“Tapi yang ingin aku ketahui adalah apakah engkau manusia apa bukan.”Orang tersebut berkata.

Ye Kai tersenyum, tiba-tiba dia merasakan apa yang dipikirkan orang tersebut tidak sejelek yang dia pikir. Dengan tertawa, dia menjawab,”Kemampuan asli Setan Hidup Seribu Wajah, dengan tekniknya yang hebat dan kemampuan menyaru yang tiada tandingannya. Aku seharusnya sudah mengenalimu sejak lama.”

Xi Men Chun menghela napas dan berkata,”Tidak terlalu telat dengan apa yang telah engkau lihat sekarang.”

“Tentu saya Nenek Du bukan seorang wanita, dan dia tidak mungkin juga seorang nenek. Bila dia seorang wanita, maka setiap orang pasti dengan mudah mengenalinya dengan cepat.”Ye Kai berkata.

“Analisa yang masuk akal.”Xi Men Chun menjawab.

“Jadi siapakah sebenarnya Nenek Du?”Ye Kai bertanya.

Xiao Bie Li menghela napas dan berkata,”Mungkin saja itu engkau, mungkin saja aku.”

“Atau mungkin …”Ye Kai menimbang-nimbang, kemudian tiba-tiba melompat ke atas dan berseru,”Aku mengerti sekarang, Nenek Du pasti dia!”

Xi Men Chun menghela napas dan menggumam,”Pasti sudah terlambat engkau baru menyadarinya sekarang.”

________________________________________

Fu Hong Xue perlahan-lahan melangkah ke arah toko kelontong. Dia belum pernah ke toko ini sebelumnya, dia tidak pernah mengunjungi toko kelontong manapun sebelumnya.

Dia bukan seseorang yang memiliki kehidupan yang normal, dia hidup di dunia yang hanya dimilikinya. Didunia ini yang ada hanyalah balas denam. Tidak ada lagi yang lainnya.

Li Ma Hu berada dibelakang kasinya, tertidur seperti biasanya. Kelihatannya dia adalah seseorang yang tidak pernah terjaga.

Fu Hon Xue melangkah dan mengetuk meja kasir dengan sarung goloknya.

Li Ma Hu terperanjat saat terjada dan melihat sarung golok hitam dari Fu Hong Xue.

Sarung golok tersebut hitam, gagangnya hitam, namun terlihat sedikit bekas merah di goloknya.

Wajah Li Ma Hu menjadi pucat dan suaranya terbata-bata,”Apa … apa yang kau inginkan?”

“Barang-barangku.” Fu Hong Xue menjawab.

“Barang-barangmu .. oh, betul. Barang-barangmu disini.”Li Ma Hu berkata.

Dia menjangkau meja dibelakangnya dan mengambil sebuah kantong dengan kedua tangannya. Fu Hong Xue menangkap kantong tersebut dengan satu tangan. Tangan yang satunya lagi tetap menggengam goloknya dengan erat.

Gong Sun Duan mati dibawah goloknya, siapa lagi kemudian? Mungkin dia sendiri juga tidak tahu.

Saat dia berbalik, Fu Hong Xue melihat telur yang dijual dengan diskon dan bertanya,”Berapa harganya ini semua?”

“Engkau ingin membeli beberapa?”

Fu Hong Xue menganggukan kepalanya. Dia menyadari kadang-kadang rasa laparnya lebih besar dari keinginan membalas dendamnya.

Li Ma Hu memandanginya, menggelengkan kepalanya dan menjawab,”Aku tidak dapat menjualnya kepadamu.”

Fu Hong Xue memahami. Setiap pintu dikota ini tertutup baginya. Toko kelontong ini bukan pengecualian. Bila dia menghendaki telur-telur itu, sudah tentu tidak ada seorangpun yang dapat menghalanginya. Namun, dia bukan orang seperti itu.

Kebenciannya bukan diarahkan kepada wanita tual itu atau bos toko ini.

Bulan mulai naik keatas, angin dingin bertiup.

Apakah tidak ada tempat baginya untuk tidur?

Dia mengencangkan genggamana ke goloknya dan kantonya – dia hidup didunia yang benar-benar berbeda. Orang-orang didunia ini tidak ada yang pernah dapat mempengaruhinya.

Namun tiba-tiba, Li Ma Hu menambahkan,”Aku tidak dapat menjualn telur-telur ini kepadamu karena masih mentah. Engkau tidak data memakan telur mentah.

Fu Hong Xue masih diam berdiri.

“Ada kompor dibelakang, tidak hanya dapat kau gunakan untuk memasak, engkau juga dapat memanaskan arak.”

Fu Hong Xue berputar dan bertanya,”Berapa harga yang kau minta?”

Li Ma Hu tersenyum dan menjawab,”Karena engkau langsung menawar, katakanlah dua belas tael perak.”

Dua belas tael perak untuk sekali makan merupakan harga yang cukup tinggi. Namun semua tael perak yang ada didunia ini tidak dapat digunakan untuk mengisi perutmu, betapa kelaparan yang tidak tertahankan.

Li Ma Hu menggoreng sebuah telur. Telur dengan nasi goreng, arak yang hangat dan kacang.

“Kacangnya gratis, minumlah sepuasmu, kita akan menghitung harganya nanti.”

Fu Hong Xue tidak menyentuh setetes arakpun. Saat minum, dia akan terus minum hingga mabuk. Dan saat ini bukan saat yang tepat untuk mabuk.

Li Ma Hu membawa membawa sepiring nasi dan telur dan melihat cangkir arak.

“Apakah araknya cukup bagus?” Li Ma Hu bertanya.

“Araknya bagus.”Fu Hong Xue menjawab.

“Meski jelekpun, paling tidak engkau harus minum untuk mengurangi keteganganmu.”

Fu Hong Xue mulai menyantap nasinya. Dia tidak takut ada racun diaraknya. Ada tigapuluh cara untuk mengetahui bila dimakanan atau diminumannya mengandung racun, dan dari semuanya dia mengetahui dua puluh cara.

Namun bila dia tidak ingin melakukan sesuatu, maka tidak ada seorangpun yang dapat memaksanya.

Li Ma Hu tidak pernah juga menyuruh orang. Karena Fu Hong Xue tidak ingin minum, maka dia minum sendiri. Dia mulai meneguk arak hangatnya dengan rakus. Sambil tersenyum dia berseru,”Sejujurnya, aku tidak mengerti mengapa banyak orang di dunia ini yang menyukai minum arak. Rasanya lebih buruk dari racun.”

“Engkau tidak suka minum arak?”Fu Hong Xue bertanya.

Li Ma Hu menghela napas dan berkata,”Aku biasanya tidak pernah minum, namun sekarang aku sudah mabuk.”

Fu Hong Xue mengerutkan alisnya dan berkata,”Bila engkau biasanya tidak minum, lalu kenapa engkau minum sekarang?”

“Araknya sudah hangat, aku tidak ingin menyia-nyiakannya.”Li Ma Hu berkata.

“Karena itu kau ingin mabuk?”

“Setiap orang yang ingin membuka usaha pertama kali harus belajar satu hal.”Li Ma Hu menghela napas.

“Apakah itu?”Fu Hong Xue bertanya.

“Kau tidak boleh menyianyiakan apapun, meskipun hal itu menjadi tanggunganmu.”Li Ma Hu menjawab.

Dia kembali menghela napas panjang dan berkata,”Itulah sebabnya hanya orang yang rendah yang membuka toko kelontong. Tidak saja tidak bisa mendapatkan istri, mereka juga tidak pernah mendapatkan teman.”

Fu Hong Xue perlahan-lahan menyuap nasinya. Tiba-tiba dia menghela ringan dan berkata,”Engkau salah.”

Li Ma Hu duduk disamping dan bertanya,”Apanya yang salah?”

“Hanya ada satu tipe orang didunia ini yang tidak memiliki teman.”

“Tipe seperti apa?”

“Orang seperti diriku.”

Dia mengangkat kepalanya dan menatap kekejauhan. Matanya dipenuhi dengan kesepian dan kekosongan. Dia tidak pernah memiliki teman sebelumnya, dan mungkin dia tidak akan pernah memilikinya. Satu-satunya tujuan hidupnya adalah balas dendam, kehausannya untuk membalas dendam tidak akan pernah padam. Namun kenapa di dalam hatinya yang paling dalam ada perasaan persahabatan?

Mata Li Ma Hu mulai memerah, dia memandanginya dan bertanya,”Tuan Muda Ye, bukankah dia temanmu?”

“Bukan.”Fu Hong Xue menjawab dingin.

“Namun dia secara pasti memperlakukanmu seperti itu.”Li Ma Hu berkata.

Ekspresi wajah Fu Hong Xue berubah dan menjawab,”Itu karena dia memiliki penyakit.”

“Penyakit?”

Fu Hong Xue menggenggamkan tangannya pada goloknya dan berkata,”Setiap orang yang memperlakukanku sebagai teman pasti punya penyakit.”

Li Ma Hu menghela napas dan berkata,”Berdasarkan pandangan seperti itu, aku rasa aku juga pasti punya penyakit.”

“Engkau?”Fu Hong Xue berseru.

“Karena aku sungguh-sungguh ingin menganggap engkau kawanku.”

Meskipun lidahnya mengembang saat berbicara, namun dia cepat sekali menjadi mabuk. Tapi bukankah perkataan orang mabuk biasanya jujur?

Fu Hong Xue tiba-tiba mengambil sumpitnya dan berkata,”Nasinya tidak bagus.”

Dia tidak melihat kearah Li Ma Hu. Fu Hong Xue berdiri dan membelakanginya, karena dia tidak ingin orang tersebut melihat ekspresi wajahnya.

Namun Li Ma Hu menatapnya, menatap punggungnya. Bahunya telah bergerak, dia dapat mengetahui bahwa pikiran Fu Hong Xue sedang tidak tenang.

Ekspersi wajah aneh tiba-tiba muncul di sorot mata Li Ma Hu. Perlahan-lahan dia menjulurkan tangannya saat dia berusaha untuk menepuk punggung Fu Hong Xue.

Tiba-tiba, berkelebat sekilas cahaya yang dingin!

Kemudian sebuah pisah telah menusuk punggung tangannya!

ooOOOooo

Apa yang akan terjadi pada Fu Hong Xue? Pisau? Pisau apa yang menusuk tangan Li Ma Hu?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: