Kumpulan Cerita Silat

24/01/2008

Perguruan Sejati (22-Tamat)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:35 pm

Perguruan Sejati (22)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Sudah, lihat nanti!” Lagi-lagi Tay Cin Tojin memotong perkataan kawannya. Diambilnya kertas dan pit, cepat-cepat ditulisnya sepucuk surat. Dimasukkan kedalam sampul dan dilem. “Kumohon engkau menulis namamu disampul surat ini.”

Han Bun Siang tidak bertanya ini itu, segera menulis namanya disampul itu. Melihat ini Tong Cian Lie jadi geregetan. “Engkau hidung kerbau itu bilamana tidak segera kusobek suatu saat kau mau main apa? Han Toako engkau gampang dikibulii, surat itu toh belum kau baca, kenapa mau menulis namamu?”

Tay Cin Tojin tidak menghiraukan dan pura-pura tidak mendengar, ia mengangkat tangan mengetuk-ngetuk meja tiga kali. Tak selang lama datanglah si gadis berparas buruk keatas loteng.

“Ciu Kouw, dalam beberapa hari ini kepaksa kami membuatmu dan ayahmu repot sekali…ini sepucuk surat, sampaikanlah pada In Siau hiap…soal kami bertiga tak perlu engkau tuturkan kepadanya, lekaslah!”

Ciu Kouw menerima surat itu, tapi tidak segera pergi, tampaknya ia sedang bingung.

“Lekaslah jangan ragu-ragu, surat ini penting sekali dan bersangkutan dengan hari untukmu membalas dendam. Bahkan wajahmu yang sebelah itu tak lama lagi akan seperti sediakala, bilamana mendapat obatnya.”

“Terima kasih,” jawab Ciu Kouw yang terus berlalu.

“Apa yang bisa kukerjakan sudah kukerjakan kini aku mau tidur…aaah.” Tay Cin Tojin menutup perkataannya sambil menguap.

“Sebelum kau jelaskan isi surat itu, bagaimanapun tak bisa kau tidur!” bentak Tong Cian Lie.

“Hei hidung kerbau, apakah aku lupa tabiat Tong Toako?” kata Han Bun Siang. “Surat itu sudah diantar, sepatutnya kau jelaskan isinya kepada kami.”

Tay Cin Tojin tidak menjawab, ia mendorong meja dan terus merebahkan dirinya dibalai sambil menggerendeng. “Sejak dulu berlaku baik tak mendapat balasan baik, dikarenakan didunia terlalu banyak manusia goblok. Lihatlah! jangan mengganggu aku lagi!”

Han Bun Siang dan Tong Cian Lie melihat keatas meja itu terlihat sederetan huruf yang berbunyi: Pok Thian Pang bisa berswasembada dalam makanan, tapi memerlukan garam dari luar. Jika merasa ada kesulitan, mintalah bantuan Cian bin sin kay.”

“Sialan kiranya kau memakai ilmu dalam menembus kertas dan menulis dimeja ini,” kata Tong Cian Lie.

“Ya, sewaktu-sewaktu ilmu dalam ini bisa juga mengelabui manusia goblok!” kata Tay Cin Tojin.

Tong Cian Lie menjadi sengit, waktu ia mau membuka mulut lagi, tampak Tay Cin Tojin menempelkan jerijinya kemulut: “Ssssst jangan berisik aku mau tidur!”

Sementara itu Liong Yan Sie dan Cu Yau hui begitu masuk kedalam penginapan Bwee Kie, menerima nasib seperti tamu-tamu lainnya….tidur terus!

Setelah Tay Cin Tojin pergi, Tiong Giok terpekur terus, ia merasa curiga atas surat Cian bin sin kay yang tiba-tiba saja datangnya. Maka dipanggilnya Sun Ciang kui kedalam kamarnya.

“Kongcu memanggilku?” tanya Sun Ciang kui.

“Benar, duduklah dulu aku perlu bicara denganmu!” kata Tiong Giok. “Darimana kau dapat surat ini?”

“Oh.seorang pelayan yang menyampaikan kepadaku, lalu aku menyampaikan pada Kongcu memang kenapa?”

“Tidak apa-apa, hanya saja…” Perkataan Tiong Giok terputus, karena Ceng Ceng masuk dengan tiba-tiba. “Ada apa?”

“Ada yang ingin bertemu dengan Siau cu jin,” kata Ceng Ceng.

“Suruh tunggu saja dulu…”

“Ia ingin sekarang juga bertemu,” katanya.

“Suruh kemari!”

Tak selang lama Ceng Ceng mengajak masuk , Tiong Giok menjadi kaget, dan girang, karena wajahnya yang buruk Ciu Kouw mudah dikenali. Ia bangun dari tempat duduknya dan memberi hormat. “Kukira siapa, tak tahunya engkau!”

Ciu Kouw sangat girang bertemu dengan Tiong Giok. Ia segera duduk, sambil mengawasi pada Sun Ciang kui.

“Kongcu , silahkan bicara aku permisi keluar dulu,” kata Sun Ciang kui.

“Tak usah!” kata Tiong Giok. “Tenang-tenanglah dikursimu, ia bukan siapa-siapa, tapi seorang kenalan lama yang pernah menolong jiwaku!”

“In Siau hiap kedatanganku kesini untuk menyampaikan sepucuk surat,” kata Ciu Kouw yang segera memberikan surat.

Dengan cepat Tiong Giok menerima surat itu, ia melihat nama gurunya disampul surat itu, tentu saja menjadi girang sekali. Guru itu tak pernah ada beritanya sejak meninggalkan dirinya beberapa tahun yang lalu. Sampul surat itu dibukanya. Wajahnya berubah cerah sekali…surat itu dimasukkan kedalam sakunya. Tubuhnya tiba-tiba bergerak dengan cepat kearah Sun Ciang kui, kasian pengurus hotel itu tidak menduga bisa diserang secara mendadak oleh pemuda kita. Ia kaget dan bingung…tahu-tahu diluar kesadarannya sebuah kedok sudah dicopot dari mukanya dan berada ditangan Tiong Giok.

Memang benar bahwa Sun Ciang kui itu adalah Cian bin sin kay adanya. Sejak mula pertama Tiong Giok sudah bercuriga pada pengurus penginapan ini hal itu bertambah-tambah sewaktu ia memberikan surat dan sesudah membaca surat Tay Cin Tojin yang dibawa Ciu Kouw. Tiong Giok yakin benar Sun Ciang kui adalah Cu Lit.

“Ciu Kouw siapa yang memberikan surat itu?” tanya Cian bin sin kay. Rupanya antara mereka sudah kenal satu sama lain dan telah lama tinggal di Cin Ssan Shia.

“Tay Cin Tojin!” kata Ciu Kouw.

“Sialan sihidung kerbau itu!” kata Cu Lit.

“Aku harus berhitungan dengannya!”

“Sekarang dimana dia berada?” tanya Tiong Giok.

“Dirumahku!”

“Cu Lo Cianpwee, marilah kita kesana!” kata Tiong Giok.

Mereka keluar kamar dengan wajah terang, Ceng Ceng turut keluar. “Ceng Ceng sampaikan pada yang lain bahwa aku mau pergi dulu sebentar!”

Yauw Kian Cee kelihatan datang tergesa-gesa begitu mendapat tahu Tiong Giok mau pergi, “Siau cu jin mau kemana?”

Tiong Giok membisikkannya sebentar, membuat Yuw Kian Cee manggut-manggut dan melirik –lirik pada Cu Lit. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa, karena saat ini Cu Lit masih tetap mengenakan topeng sebagai Sun Ciang kui.

“Siau cu jin aku turut bersamamu!” kata Ceng Ceng.

Tiong Giok tahu bahwa pengawal ini bagaimanapun harus diajak juga. “Baiklah!”

Dalam waktu sebentar mereka sudah sampai dirumah Ciu Kouw, ayah dari si gadis jelek bukan lain dari Peng Cie Lam yang msaih duduk di depan rumah sambil mengisap pipanya. Begitu dia melihat putrinya kembali bangun.

“Tia tia,” kata Ciu Kouw, “masih kenalkah dengan pemuda ini?”

Peng Cie Lam memandang Tiong Giok dengan seksama. “Oh kiranya …engkau!”

Tiong Giok memberi hormat. “Benar aku In Tiong Giok!”

“Kejadaian yang cepat berlalu, berapa tahun tidak bertemu wajahmu tampak semakin gagah saja! Tidak seperti dulu.”

“Tia tia sudahlah, kejadian yang lalu biarlah berlalu tak usah diungkit-ungkit lagi!” kata Ciu Kouw. “Aku bukan mengangkat tapi mengangkat!” kata Peng Cie Lam.

“Apakah Lo Cianpwee masih kesal soal kuah ayammu yang kumakan?” kata Tiong Giok bergurau.

“Ah bisa saja.atas kejadian dulu aku harus menghaturkan maaf kepadamu!” kata Peng Cie Lam.

“Tidak, aku yang harus menghaturkan maaf dan terima kasih pada Ciu Kouw maupun padamu sendiri.”

Sambil berkata mereka diruangan dalam. Peng Cie Lam mengetukkan pipanya dua kali keatas tanah. Tiba-tiba saja dari atas loteng turun dua orang yang bukan lain dari Han Bun Siong dan Tong Cian Lie.

Tiong Giok seperti bermimpi menemukan kedua orang tua itu, dengan ras haru dan menggenang air mata ia bertekuk lutut di depan kedua orang tua itu. “Suhu!” Tong Lo Cianpwee,” katanya dengan parau.

“Tiong Giok nyatanya tidak sia-sia harapanku, apa yang kukerjakan dulu baru sekarang kelihatan hasilnya, bangunlah nak!” kata Han Bun Siong dengan suara bergetar.

Tiong Giok bangun dan memeluk gurunya tanpa disadari, ia menangis seperti anak kecil. “Suhu…suhu.ayah sudah meninggal!”

Sejenak berbayanglah kejadian-kejadian masa silam, dipelupuk mata Han Bun Siong. Masih melekat betul dalam ingatannya mula pertama ia menemukan Tiong Giok…anak kecil yang sedang mandi dengan tanda luka dipunggung…iapun ingat Toa Suncu dan lain-lain muridnya yang nakal-nakal…dan sampai saatnya ia pergi tanpa diketahui muridnya, dikarenakan harus memenuhi tantangan Kim Tay. Dimana dengan kelebihannya ia dapat mengalahkan lawan itu sampai patah tangan!

“Suhu…” kata Tiong Goiok.

Han Bun Siong tersadar dari lamunannya, diusap-usap muridnya itu sambil menghibur. “Kehidupan adalah penderitaan, kematian adalah akhir dari penderitaan. Engkau tak perlu bersedih!”

Semua orang yang berada disitu merasa terharu, menyaksikan pertemuan guru dan murid ini. Mereka menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca.

“Sudahlah jangan menangis saja, tiba-tiba Cu Lit berkata dengan suara keras. “Mana si hidung kerbau, aku mau berhitungan dengannya!”

“Di atas,” kata Tong Cian Lie.

Dengan sekali lompat Cu Lit sudah ada diatas dan terus masuk kedalam ruangan. Tampak olehnya Tay Cin Tojin sedang mendengkur-dengkur diatas balai. Ia membanguni dengan mengitik-itik pinggang si Tojin. Agaknya terlalu nyenyak Tojin itu tidur, sedikitpun ia tidak berasa.

“Jangan dikitik-kitik, gebuk saja masakan ia tidak bangun,” kata Tong Cian Lie sambil melangkah masuk kedalam ruangan itu.

“Benar hidung kerbau ini raganya sedang mimpi ke istana sorga,” kata Cu Lit sambil memberikan satu tamparan keras.

“Heit!” seru Tay Cin Tojin sambil menangkis.

“Apa-apaan ini?”

“Hm, kenapa kau pecahkan rahasiaku pada di Tiong Giok?” tanya Cu Lit.

“Tidak! Tidak! Surat itu toh dari Han Toako!” kata Tay Cin Tojin sambil membuka mata lebar-lebar. Rupanya rasa kantuknya telah hilang tertampar Cu Lit.

“Hei, tua-tua kayak anak kecil!” tiba-tiba terdengar suara Han Bun Siong. “Tiong Giok tiba saatnya untuk menghaturkan maaf pada Tay Cin Tojin.”

Tiong Giok dengan patuh menghaturkan maaf pada Tojin itu, sambil bertekuk lutut. “Maafkan, kalau sudah tahu salah ya salah, lain kali jangan berbuat lagi!” kata Tay Cin Tojin dengan ketus.

“Hm, sok galak!” ejek Tong Cian Lie.

“Sudahlah,” kata Han Bun Siong. “Kini kita berkumpul marilah kita mengandalkan musyawarah untuk membantu muridku ini menghantam Pok Thian Pang.”

Mereka segera berunding dan mengatur siasat. Setelah segala sesuatu diatur rapi, Tiong Giok, Cu Lit dan Ceng Ceng kembali kepenginapan untuk menjalankan tugasnya.

Markas pusat Pok Thian Pang berada di daerah pegunungan yang jauh dari sana sini kecuali garam yang lainnya mereka bisa berswasembada sendiri. Maka itu pada waktu tertentu mereka harus membeli garam keluar. Setiap kali membeli, jumlahnya besar sekali, dan harus diangkut dengan gerobak-gerobak.

Untuk menutupi letak dan tempat mereka, gerobak-gerobak garam itu dibuat sendiri dan disimpan pada penginapan Bwee Kie. Jadinya garam-garam yang mereka beli dari kota-kota yang berdekatan dipul pada penginapan itu. Dari sini baru diangkut ketempat mereka. Dengan sendirinya pegawai-pegawai dari penginapan Bwee Kielah yang merupakan juga anggota-anggota Pok Thian Pang, membawa garam-garam itu kemarkas pusat mereka. Sungguhpun begitu pengawal-pengawal itu hanya membawa garam-garam itu sampai dipintu penjagaan pertama, kemudian diambil oleh anggota-anggota lain yang diam di pusat. Mereka sendiri tidak diperkenankan masuk kedalam!

Sekali inipun tidak kecuali yakni Liong Jan Sie dan Cu Jauw Hui setelah selesai membeli garam membawa barang beliannya itu bergerobak-berobak banyaknya menuju kemarkas mereka…

Sesampainya dipintu yang pertama, haripun sudah malam.

Penjaga-penjaga yang bertugas, begitu melihat gerobak-gerobak garam segera menyalakan lentera. Keadaan menjadi terang, mereka bisa melihat tegas orang-orang yang berada disebelah bawah.

Liong Jan Sie kesilauan, begitu memandang keatas. “Hei turunkan tangga!” teriaknya sambil memperlihatkan tanda pengenalnya.

Penjaga-penjaga itu umumnya kenal baik dengan Liong Jan Sie maupun Cu Jauw Hui, karena setiap pengurus dapur dan kasir dapur itu berbelanja keluar, mereka mendapat uang tip. Biasa penjaga-penjaga itu akan menurunkan tangga besi dengan cepat bilamana melihat kedua orang itu kembali. Tapi sekali ini mereka tidak berani menurunkan tangga seperti dulu-dulu, sebelum mendapat ijin dari Kim Tak Can.

Dengan kegagahan dan keangkuhan Kim Tak Can bangkit dari tempat duduknya begitu menerima laporan dari anak buahnya. “Suruh mereka menyerahkan dulu tanda pengenalnya!”

Penjaga itu segera keluar. “Atas perintah Kim Futhoat Jie wie harus menyerahkan dulu pengenalnya!” teriaknya sambil menurunkan keranjang terikat tambang.

“Ini peraturan apa? Biasanya tanda pengenal baru diserahkan setelah berada diatas bukan?” kata Liong Jan Sie.

“Ya ini peraturan baru yang dikeluarkan Lo Cucong!” jawab penjaga itu.

Tanpa membilang ini itu lagi, Liong Jan Sie dan Cu Jauw Hui meletakkan tanda pengenalnya kedalam keranjang dan dikerek naik penjaga-penjaga diatas.

Kim Tak Can memeriksa dengan cermat tanda-tanda pengenal itu, setelah yakin kedua tanda pengenal itu bukan palsu, ia keluar dan memandang kebawah sambil bertanya. “Tanda pengenal nomor tujuh milik siapa?”

“Nomor tujuh milik Cu Jauw Hui yang nomor enam belas milikku sendiri!” jawab Liong Jan Sie dengan cepat.

“Kuminta yang memiliki tanda pengenal nomor tujuh naik dulu, kau tunggu dulu!” seru Kim Tak Can. Ia menggoyangkan tangan, penjaga-penjaga segera menurunkan keranjang besar terikat tambang besar kebawah bukit.

“Apa artinya ini?” tanya Liong Jan Sie tidak senang.

“Liong Cong Koan jangan gusar, kau mengerti sediri tabiat dari Kim Futhoat bukan?”

“Tapi peraturan ini baru sekali kualami, apakah ada peraturan baru sejak kutinggalkan markas pusat ini?” Liong Jan Sie penasaran.

“Benar!” jawab penjaga itu. “Menurut selentingan, keadaan sangat gawat, maka Lo Cucong mengeluarkan peraturan baru ini.”

“Baiklah!” jawab Liong Jan Sie. “Cu Cesu, naiklah lekas, biarlah dia periksa sepuas-puasnya!”

Cu Jauw Hui segera naik keatas keranjang dan dikerek naik. Begitu sampai diatas ia menggerendeng “Sudah lama aku menjaga Pok Thian Pang, tapi peraturan semacam ini pertama kali kudapati….”

“Saudara Cu jangan gusar semua ini peraturan baru, kami hanya menjalankan perintah saja!” kata pengawal itu.

“Silahkan periksa!” seru Cu Jauw Hui.

Pengawal-pengawal itu mengangkat sebuah lentera dan memeriksa Cu Jauw Hui.

“Bagaimana betulkah dia?” tanya Kim Tak Can.

“Benar sedikitpun tidak salah, ini memang Cu Jauw Hui!” kata pengawal itu.

“Periksa belakang lehernya ada kedok dari kulit manusia atau tidak?”

Tidak menunggu sampai diperiksa lagi, Cu Jauw Hui membalik tubuh dan membuka krah bajunya sambil berkata dengan keras. “Hm, lihat nih biar tegas!”

Pengawal itu karena sudah yakin Cu Jauw Hui itu tidak palsu tanpa memeriksa lagi dia berkata. “Tidak salah ini memang Cu Jauw Hui dan tidak ada kulit manusia dilehernya.”

Kim Tak Can mengangguk-anggukkan kepala.

“Baik, sekarang boleh turunkan tangga baja!”

“Hm,” dengus Cu Jauw Hui dengan perasaan tidak puas, padahal dibalik itu ia menarik napas lega.

Suara berkerek dari turunnya tangga baja memecahkan keheningan malam. Tak kira bebelum tangga itu sampai dibawah dan masih berada ditengah-tengah, dari dalam terdengar suara perempuan. Kim Tak Can segera emngeluarkan perintah, “hentikan dulu tangga baja!” Ia sendiri buru-buru masuk kedalam, tampak olehnya dibalik pintu berjeriji besi, Soat Kouw dan tiga pengiringnya.

Dengan tersenyum Soat Kouw mengeluarkan tanda pengenalnya. “Periksa dulu tanda ini!”

Kim Tak Can memeriksa tanda pengenal itu dengan teliti, setelah itu baru membuka pintu jeruji itu. Soat Kouw dan tiga pengiringnya segera keluar dan memeriksa keadaan. “Bagaimana keadaan disini?” tanyanya.

“Tenang-tenang dan tidak ada apa-apa!” jawab Kim Tak Can.

Tiba-tiba Soat Kouw melihat Cu Jauw Hui ada disitu. “Oh….kiranya Cu Cee Siopun adas disini? Bagaimana apakah garam-garam itu sudah dibeli?”

“Dengan membungkukkan badan Cu Jauw Hui memberi hormat. “Sudah, sekarang ada dibawah!”

“Kenapa tidak tampak Liong Cong Koan?” tanya Soat Kouw.

“Liong Cong Koan ada dibawah,” jawab Cu Jauw Hui, “berhubung Kim Futhoat menginginkan pemeriksaan badan satu persatu, sehingga Liong Cong Koan belum naik kemari.”

Soat Kouw melirik pada Kim Tak Can dengan tersenyum. “Peraturan ini baru dikeluarkan Lo Cucong kemarin dulu, tak kira kalian yang pertama harus terkena peraturan ini! Sudah diperiksakah?”

“Sudah!” jawaab kim Tak Can.

“Jika begitu baiklah,” kata Soat Kouw.

Kim Tak Can segera menurunkan tangga baja dan mengatur anak buahnya untuk mengambil garam-garam itu.

Soat Kouw berjalan ketepi tebing memandang kepada kereta-kereta garam, agaknya ia merasa puas sekali, lalu berkata pada Cu Jauw Hui. “Cu Ce su apakah waktu membeli garam-garam ini tidak bertemu dengan Tok Futhoat?”

“Bertemu dipenginapan!”

“Tidakkah ia menceritakan sesuatu tentang keadaan diluar?”

“Tidak! Ia hanya memberikan sepucuk surat ke Liong Cong Koan, mungkin surat itu membawa kabar yang Hu Pangcu kehendaki!”

“Wah tentu disurat itu ada kabar penting,” kata Soat Kouw. “Sudah kuduga berita penangkapan pada Wan Jie, jika terdengar In Tiong Giok, ia tidak akan diam-diam saja dan pasti akan menolongnya, asal ia berani kesini….pokoknya beres!”

Tangga baja sudah diturunkan pengawal-pengawal segerea turun kebawah…

“Karena tidak dapat membeli garam bubuk, kami membeli garam batangan, sehingga dalam satu kantong beratnya berlipat ganda, untuk ini saudara-saudara harus mengeluarkan tenaga berlipat ganda tapi jangan kuatir, untuk mengopi sih pasti ada!”

Mendengar akan mendapat uang kopi karuan saja pengawal-pengawal itu menjadi girang, mereka menggulung tangan terus mengangkat garam-garam itu keatas. “Wah, benar-benar berat!” seru mereka. Sungguhpun begitu mereka bisa juga mengangkat naik sampai diatas.

Pengawal-pengawal itu sudah membawa naik sepuluh kantong, sisanya masih sepuluh kantong, atas persetujuan Soat Kouw tikang dorong kereta diperbolehkan membawa sisa-sisa dari garam itu, karena sepuluh pengawal itu tampaknya sebalik saja sudah kepayahan sekali.

Begitu tukang dorong selesai mengangkat garam-garam keatas bukit, mereka tidak segera turun melainkan berdesak-desakan kedalam terowongan.

Kim Tak Can segera membentak: “Diam kalian mau kemana?”

“Salah seorang pendorong gerobak yang bertubuh tegap menjawab dengan berani: “Kami sebagai anggota Pok Thian Pang juga, tetapi belum pernah melihat Danau yang terkenal sangat indah didalam markas pusat. Sekali ini tidak mau membuang kesempatan untuk menyaksikan danau itu!”

“Hm, engkau kira boleh sembarangan lihat? Hayo pergi!” bentak Kim Tak Can.

“Hm, mentang-mentang jadi penjaga pintu sudah sok! kau tahu pangkatmu biar besar tak ubahnya seperti anjing! Anjing penjaga pintu!” jawab pendorong gerobak itu.

Kim Tak Can gusarnya tak alang kepalang, ia berseru keras: “Bunuh bangsat ini!”

Penjaga-penjaga segera menghunus senjata mereka, begitu mendengar perintah atasannya. Sedangkan pendorong gerobakpun tidak kalah gertak mereka mencabut senjata juga. “Kalian kira kami takut, mari bekerja!”

Berbareng dengan itu, kantong-kantong garampun pada sobek dan dari dlamnya bermunculan orang-orang dengan senjata terhunus.

Mereka adalah Ciu Ceng Ceng dan Bok Tiong dan anaknya Peng Cie Lam dan puterinya, Hek pek siang yauw dan lain-lainnya. Sedangkan pendorong gerobak garam yang berani itu adalah Toa Gu dan Siau Lam Siong serta anak buahnya.

Sedangkan Liong yan Sie tetiron itu adalah Tiong Giok dan Cu Yauw Hui palsu adalah yauw Kian Cee. Sedangkan Cian bin sin kay, Han Bun Siong, Tay Cin Tojin tidak turut serta, mereka bertugas menjaga Tok Kay Pong dan kawan-kawannya dipenginapan Bwee Kie.

Perkelahian segera terjadi dengan hebatnya. Pengawal yang bertugas disitu bukan merupakan taandingan pendorong-pendorong gerobak garam. Dalam waktu singkat separuh dari mereka terbunuh mati.

Kim Tak Can tak sempat mengambil senjatanya, dengan mengeram keras ia memutarkan sepasang tangannya menyergap kearah penyerang. Toa Gu tidak tinggal diam, dengan menentang dada merintangi lajunya musuh. “Hei orang biadab kusengar engkau memiliki ilmu kebal, mari kita mengadu kekuatan dan jangan menggeram tidak keruan!”

Tanpa menjawab Kim Tak Can maju selangkah dan memberikan pukulan pada Toa Gu sekuat tenaga. “Buk” bunyi pukulan tepat mengenai tubuh sitolol dengan kerasnya, ia terhuyung-huyung beberapa langkah kebelakang, tapi tak membuatnya menggelosor. Dengan tersenyum ia maju lagi: “Hei, orang biadab pukulanmu cukup keras! Jika tidak kubalas rasanya kurang hormat, terimalah pukulanku!” berbareng dengan habisnya perkataan, lengan kirinya terayun dan dihajarkan ketubuh musuh.

Kim Tak Can merasa dirinya cukup kuat menahan serangan itu, dengan berani ia menentang dada dan membiarkan dipukul tanpa menangkis, tak kira begitu tubuhnya terhujam bogem mentah lawannya, ia merasakan dadanya seperti meledak tersambar geledek, tubuhnya terpental melayang kebawah bukit dengan jiwanya melayang!

“Aduh! Kukira dia kuat, tidak tahunya bangpak betul!” seru Toa Gu sambil memandang tubuh musuhnya yang jatuh kebawah.

Kekagetan Soat Kouw tak alang kepalang, ia tak menyangka Kim Tak Can yang demikian gagah sekali gebrak kena dibinasakan dengan mudah, cepat-cepat diperintahkan ketiga pengiringnya untuk membendung serangan musuh. Ia sendiri melepaskan panah api keangkasa, memberikan isyarat bahaya dan minta bantuan dari dalam.

Ketiga pengiring itu adalah bekas murid-murid Liap In Eng yang bukan lain dari Jung Jung, Sui Sian dan Mo Lie. Mereka bertahun-tahun mengabdi pada Soat Kouw, untuk mencari kesempatan guna membalas sakit gurunya. Kini mereka sudah tahu saat yang dinantikan itu sudah tiba. Maka begitu Soat Kouw memerintahkan mereka menghadang musuh, mereka segera menghunus senjata dan melakukan serangan, mereka bukan menyrang musuh, melainkan menyerang pada Soat Kouw secara berbareng dan diluar dugaan. Secara reflek Soat Kouw menangkis serangan pedang dengan lengan kanannya, tentu saja lengan itu segera menjadi buntung. Ia mengerang kesakitan sambil membentak: “Kalian sudah gila?”

“Hm, bisa pula engkau berkata begitu? Tidak ingatkah bagaimana Liap suhu memperlakukan dirimu? Akhirnya apa yang engkau perbuat pada beliau? Dendam ini akan kami balas!”

“Hm, kiranya kalian masih mengingat kejadian sudah lama itu?”

“Sampai matipun tidak akan kami lupakan!” jawab Jung Jung yang terus melakukan serangan.

“Kami menahan sabar mengabdi dan menjadi budakmu dlam beberapa tahun ini tak lain tak bukan untuk menantikan datangnya hari ini!” seru Mo Lie.

“Kami sudah sumpah untuk mencincang-cincang tubuhmu!” kata Sui Sian.

Sambil berkata serangan mereka semakin gencar. Soat Kouw yang kecolongan dalam jurus pertama, tangannya buntung dan mengeluarkan darah tak henti-hentinya. Beberapa tikaman sudah mengenai tubuhnya lagi, ia tahu bahaya kematian mengancam dirinya, dengan sekuat tenaga ia mempertahankan diri dan lari kedalam terowongan.

Jung Jung, Mo Lie dan Sui Sian secara berbareng mengejar dan berhasil menancapkan pedang mereka ditubuh Hu Pangcu dari Pok Thian Pang itu dengan berbareng pula.

Akan tetapi dengan tiba-tiba saja terjadi suatu perubahan yang mendadak tubuh mereka susul menyusul terpental keluar terowongan. Jatuh kebumi tanpa berkutik lagi.

Yauw Kian Cee menjadi kaget, diraba-raba nadinya Jung Jung, nyatanya gadis itu sudah tak bernyawa lagi, demikian pula dengan Mo Lie dan Sui Sian.

“Bagaimana keadaan mereka?” tanya Tiong Giok.

“Mereka sudah meninggal!” jawab Yauw Jian Cee. “Agaknya didalam terowongan ini bersembunyi seorang yang berkepandaian tinggi.”

“Benar-benar aneh,” kata Tiong Giok yang memeriksa juga keadaan gadis-gadis itu yang benar-benar sudah mati.

“Mungkin perempuan busuk itu pura-pura mati dan mencelakakan gadis-gadis ini!” kata Peng Cie Lam.

“Tidak!” kata Yauw Kian Cee. “Soat Kouw sudah mati tertikam pedang mereka….”

“Benar!” sela Ceng Ceng. “Jangan-jangan mereka terkena serangan Lo Cucong dari Pok Thian Pang! Dia itu lihay sekali, akupun pernah merasakan serangan dan hampir-hampir mati konyol!”

Mendengar ini In Tiong Giok menjadi kaget, cepat-cepat ia mengulapkan tangan menyuruh sekalian jago-jago yang berada disitu mundur. Berbareng dengan itu dari dalam terowongan terdengar suara dengusan dan tertawa dingin yang benar-benar menyeramkan.

Terowongan yang gelap tiba-tiba saja menjadi terang benderang.

Tubuh Soat Kouw tidak terlihat lagi. Sebagai gantinya, ditempat ini tampak seorang Biksuni berbaju lurik. Dikiri kanannya berdiri jago-jago dari Pok Thian Pang, yakni Pu Kun Lun, Wang Wang Can, Kam Kong, Ciau Cie Hiong dan lain-lain. Dibagian belakang tampak Pek Cin Nio dengan pengawal-pengawalnya.

Tiong Giok sadar bahwa Biksuni yang dihadapinya itu adalah Lo Cucong yang lihay. Ia bertubuh sedang mukanya tertutup cadar yang terbuat dari kain halus, sinar matanya yang tajam seolah-olah menembus kain tipis yang menatap pada In Tiong Giok. Sedangkan lengan yang satu memegang Hudtim dan yang satu lainnya memegang Hud cu.

Tiong Giok tidak takut, ia berlaku tenang sekali. Kehadiran Lo Cucong itu tidak dihiraukan. Ia memandang pada Pek Cin Nio sambil merangkapkan sepasang tangannya. “Selamat bertemu Pangcu, baik-baik sajakah selama ini?”

Pek Cin Nio menjadi kaget, tapi iapun membals hormat itu sambil menganggukkan kepala. “In Siau hiap mari kukenalkan dengan Lo Cucong!”

“Apa kedudukannya Lo Cucong didalam perserikatanmu? Setelah jelas barulah berkenalan!” kata Tiong Giok angkuh dengan dibuat-buat.

“Oh mungkin In Siau hiap tidak tahu, Lo Cucong adalah Tay Siang Pang cu dari Pok Thian Pang artinya berkedudukan diatas Pangcu!”

“Kedudukannya sangat tinggi, kenapa tidak membuka muka untuk menemui orang dan ditutupi dengan kain? Maafkan jika aku tak mau berkenalan dengan seorang yang selalu bersembunyi-sembunyi dan tak mau memperlihatkan wajah aslinya!”

Jawaban ini membuat Pek Cin Nio menjadi terkejut, wajahnya seketika menjadi pucat.

Sedangkan Lo Cucong, dengan terkekeh-kekeh membuka suaranya. “Bocah jangan terlalu lancing, tidakkah kau menyadari kematian sudah berada didepan mata?”

“Hm, dalam perkelahian yang belum dimulai ini, dan belum ada kesudahannya bagaimana bisa dipastikan, bahwa kematian menjadi bagianku?” ejek Tiong Giok.

“Yang terang engkau bisa kemari tapi tak bisa keluar lagi!” kata Lo Cucong.

“Ngomong memang gampang, tapi lihatlah buktinya!” jawab Tiong Giok.

“Hm, bocah tak tahu diri, ini tampat apa?”

“Tangkap!” seru Lo Cucong.

Pu Kun Lun tampil sambil membusungkan dadanya.

Toa Gu segera keluar pula sambil berseru: “Nih lawan dulu aku!”

“Hei engkau siapa?” tanya Pu Kun Lun.

“Mau tahu? Aku adalah Lo Cucongmu!”

“Mau manpus?” teriak Pu Kun Lun dengan gusar dan terus melancarkan serangan tangannya.

Toa Gu tak merasa gentar, dengan aksi ia mengembangkan perutnya menadah pukulan musuh. “Duk! perutnya terpukul telak. Tetapi seperti tidak dirasa saja. Dengan tersenyum ia berkata: “Hayo pukul lagi!”

Pu Kun Lun semakin sengit ia memukul dua kali dengan tangan kiri dan kanannya, sekali ini Toa Gu kena dibuat mundur tujuh delapan langkah.

“Sekarang terimalah balasanku!” seru Toa Gu.

Pu Kun Lun mengetahui sedang menghadapi lawan yang tangguh, mana mau membiarkan diri dipukul. Ia mengengos dengan cepat. Berbareng itu Lo Cucong mengebutkan Hud timnya memecahkan pukulan Toa Gu yang keras itu lalu ia berkata kepada Pu Kun Lun dengan bahasa Korea.

Toa Gu masih penasaran, ia merangsak lagi kepada musuhnya. Pu Kun Lun yang telah mendapat petunjuk dari Lo Cucong cepat mengengos dan melancarkan jarinya melakukan totokan ketempat berbahaya dari si tolol.

Toa Gu jadi gelabakan menghadapi musuh ini, dalam keadaan gawat, tiba-tiba ia mendengar suara halus: “Lekas memutar kekiri dan menendang kakinya.”

Toa Gu cepat-cepat mengikuti petunjuk itu, entah bagaimana benar-benar manjur anjuran itu, tendangannya dengan telak membuat musuh terpental beberapa tombak tingginya. Tubuhnya itu terbentur dengan terowongan tak ampun lagi menjadi remuk, ia jatuh kebumi tanpa bernyawa lagi.

“Bagaimana? Boleh juga tidak?” kata Toa Gu pada Thian Sek.

“Begitu maut!” tanya Thian Sek.

“Bukankah kau sendiri yang menyuruh berputar dan menendangnya?”

“Aku mana bisa mengajari Suheng ilmu semacam itu?”

“Heran! Tidakkah aku sedang bermimpi?” kata Toa Gu.

“Kematianmu sudah didepan mata, mana bisa bermimpi lagi!” kata Wang Wang Can.

“Mau melawan aku? Ha ha ha ha!” Toa Gu tergelak-gelak. “Kau tahu dua temanmu sudah mati ditanganku, sayangilah jiwamu!”

Wang Wang Can semakin gusar, cepat ia melancarkan serangan. Pada saat inilah Yauw Kian Cee menghadang musuh itu sambil menyuruh Toa Gu pergi.

“Apa hubunganmu dengan anak gila itu?” tanya Wang Wang Can.

“Aku gurunya!”

“Jika engkau gurunya akan kubunuh untuk membalas sakit hati kedua saudaraku!” kata Wang Wang can yang segera menghunus goloknya. “Keluarkan senjatamu lekas, mari kita mulai!”

“Maaf, selamanya aku tak pernah memakai senjata!” jawab Yauw Kian Cee sambil tersenyum-senyum.

Dalam sekejap bayangan golok dan manusia berputar kesana kemari menjadi satu, begitu cepat dan luar biasa sekali. Tiba-tiba mereka berhenti bergerak….dikening yauw Kian Cee tampak goresan merah…ia terluka dan berdarah. Sedangkan Wang Wang Can tampak menjadi pucat dan bernafas sengal-sengal, lengannya bergetar, goloknya seperti mau terlepas dari tangannya.

Sejenak berlalu, mereka saling pandang dengan tajam. Wang Wang Can menarik napas dalam-dalam, lalu melancarkan serangan lagi.

Sejak tadi yauw Kian Cee tidak melancarkan serangan balasan, sekali ini ia tidak mengengos lagi lengannya berbalik cepat dan melepaskan pukulan. Dua tubuh tampak merapat, tapi dengan cepat pula berpisah lagi! Karena Wang Wang Cacn terhajar pukulan keras Yauw Kian Cee sampai terpental tinggi dan beradu dengan dinding terowongan seperti Pu Kun Lun tadi, lalu jatuh lagi kebawah dengan jiwa melayang.

Pada saat inilah In Tiong Giok berseru dengan keras: “Awas!”

Yauw Kian Cee menggulingkan badan dengan cepat karena Lo Cucong melancarkan serangan gelap dengan mutiara-mutiaranya berantai. Ia berlaku cepat, tapi tak urung pundaknya terkena juga sebutir mutiara itu, jalan darahnya menjadi tertutup membuatnya tak bisa bergerak lagi. Tiong Giok berlaku gesit tubuh kawannya disambar, dan dibuka jalan darahnya.

“Ceng Ceng, Toa Gu dan Thian Sek jagalah tangga besi itu, jika terjadi sesuatu yang tidak baik, lekas bawa yang luka dari sini….” pesan Tiong Giok.

“Siau cu jin, engkau sendiri?” tanya Ceng Ceng.

“Ini perintah, jangan banyak tanya!” jawab Tiong Giok. Ia tahu sudah waktunya turun gelanggang. Dihampirinya Lo Cucong dan ditudingnya secara kasar: “Tak tahu malu, menyerang secara menggelap! Pantasan wajahmu itu ditutup-tutup, karena terlalu tebal!”

“Hm, dalam perkelahian tak ada perkataan gelap dan terang, pokoknya yang pintar dialah yang menang!” kata Lo Cucong.

Dengan pedang terhunus Tiong Giok tersenyum dongkol atas jawaban lawannya.

“Baiklah!” katanya keras. “Mari kita mencari ketentuan. Tapi sebelum itu bukalah cadarmu itu!”

“He he he he” Lo Cucong tergelak-gelak. “Engkau si bocah tak tahu diri dengan kepandaian apa mau melawanku? Tahukah engkau pada jaman dahulu ada tiga pendekar dari perguruan sejati? Dua diantaranya sudah mampus dan tinggal aku sendiri Siang Eng kena kuhancurkan, Bulim cap sah kie menjadi bubar. Semua ini kujelaskan agar engkau mati tak menyesal!”

Lengannya segera membuka cadar mukanya, tampaklah wajahnya yang memerah dengan sepasang mata seperti alap-alap, mulutnya lebar giginya bercaling sangat menyeramkan untuk dipandang.

Bukan saja In Tiong Giok dan kawan-kawannya kaget, orang-orang Pok Thian Pang pun menjadi kaget, hanya Pek Cin Nio seorang, tak berubah melihat wajah gurunya, mungkin sudah biasa.

“Oh….kiranya engkaulah si Houw Gee adanya! Karena merebutkan pedang ini engkau mencelakakan Fut In Cu dan It Piau Taysu…digunung Haoy Giok San!”

“Bocah engkau mengetahui terlalu banyak soalku ini, biar bagaimanapun harus mampus!” seru Lo Cucong yang memang bukan lain dari pada Houw Gee adanya.

Tiong Giok tidak banyak cerita ia menikam dengan pedangnya, begitu hebat sekali. Kilauan pedang pusaka yang bernama Hong siat menerangi muka terowongan itu.

Lo Cucong merasa berkepandaian tinggi, ia tidak memandang mata pada serangan musuhnya, cukup mengengos kekanan dan kekiri. Hud timnya diputar-puarkan kekiri kekanan. Kelihatannya ia menggoyangkan Hud timnya sangat perlahan, tapi tenaga yang dibikin mundur oleh kekuatan tenaga yang besar itu.

Tiong Giok sekarang bukan Tiong Giok dulu lagi, ia melakukan perlawanan dengan tenang, pedngnya melancarkan ilmu Keng thian cit su secara luar biasa, serangan musuh maupun tenaga desakannya yang keras itu dapat diimbangi secara tekun dan mantap.

Tubuh mereka dlam sekejap seolah-olah menjadi satu, bergulung-gulung terbungkus kilauan pedang Hong siat. Sukar dibedakan yang mana Tiong Giok. Hal ini berlaku lama juga.

Houw Gee merasa heran atas kelihayan si anak muda, ia tak mau memberikan pukulan mautnya yang bernama Hiat ciu lang. Sedangkan Tiong Giok pun takmau berlaku gegabah melancarkan Hiat cie lengnya, masing-masing berlaku waspada satu sama lain.

Tiba-tiba mereka berhenti berputar-putar, antara Hud tim dan pedang pusaka saling temple rupanya masing-masing menggunakan tenaga dalam. Dibalik itu anehnya dengan sebuah tangan Houw Gee, sebuah tangannya masih bisa digerakkan dengan leluasa. Ia menjadi girang pikirnya dengan begini pukulan mautnya bisa dilancarkan saat itu juga. Sebaliknya iapun tidak berpikir bahwa Tiong Giok akan melancarkan Hiat cie lengnya. Tak heranlah begitu lengan Houw Gee terangkat, tampak menjadi merah seperti darah. Tiong Giok pun tengah melancarkan Hiat cie lengnya, dua ilmu tangan yang ampuh bentrok satu sama lain.

Apa yang terjadi? Dua kekuatan dashyat bentrok satu sama lain, menimbulkan bunyi keras laksana guntur! Hud tim dan pedangpun terlepas satu sama lain.

Kejadian ini membuat kedua belah pihak melongo!

Houw Gee melengak, takmenyangka pukulannya bisa ditangkis musuh.

Tiong Giok heran, ilmu andalannya tak membawa hasil.

Mereka saling tatap dengan waspada untuk melanjutkan perkelahian yang belum berkesudahan itu. Ketegangan meliputi kedua belah pihak, masing-masing menahan napas dan beerdoa untuk kemenangan jagonya! Keheningan terasa semakin mencekam…

“O mi to hud,” tiba-tiba suasana hening terpecahkan suara pujian umat Buddha.

Berbareng dengan itu berkelebat sesosok tubuh kedalam gelanggang perkelahian. Seorang Hweesio kurus berjubah kuning yang bukan lain dari pada It Piau Taysu sudah berdiri disitu dengan tangan masih dirangkapkan.

Kedatangan It Piau Taysu membuat Houw Gee bergetar tak keruan. “Kau.kau belum mati?” tegurnya dengan ketelepasan tanpa disadari.

“Berkat yang maha mulia dan maha pengasih aku masih tetap hidup sampai sekarang,” jawab It Piau dengan tenang dan ramah.

“Hm, engkau tidak tahu diri,” bentak Houw Gee sambil menyeringai. “Empat puluh tahun yang lalu engkau tak mampus, seharusnya engkau sadar danbisa tahu gelagat, .he he he kini apa-apaan datang kemari, bukankah sama dengan mencari mati?”

“Soal mati ditangan Tuhan!” jawab It Piau Taysu. “Jika mau matipun sudah…karena empat puluh tahun dalam penderitaan, membuatku tambah pengertian tentang jalanny ahisup dan akupun yakin selama puluhan tahun itu engkaupun banyak mengerti soal kehidupan ini….”

“Hm, memang kuyakin bahwa kematianmu sudah diambang pintu!” sela Houw Gee dengan ketus.

“Engkau salah!” seru It Piau Taysu dengan tersenyum. “Engkau boleh berusaha mati-matian untuk menjagoi dan menguasai dunia persilatan, akan tetapi kehidupan ini akan membuatmu tua dan mati. Maka itu apa yang kau lakukan tak lebih dari sebuah impian…”

“Tapi engkau harus tahu kehidupan manusia tidak luput dari cita-citanya,” lagi-lagi Houw Gee menyelak. “Dengan tercapainya cita-cita itu, biar sehari atau sedetik matipun baru merasa puas!”

“Tidakkah engkau menyadari bahwa kebesaran Pok Thian Pang dalam beberapa tahun ini hebat sekali? Makan pakai berlebihan, mau apa tinggal atau perintah! Tapi semua itu tidak membuatmu puas bukan? Andaikata cita-citanya berhasil menguasai dunia persilatan ini, kuyakin tidak membuatmu puas juga disebabkan engkau belum menyadari apa artinya hidup!”

“Tutup mulutmu!” bentak Houw Gee. “Sekarang kutanya, apa tujuanmu kesini? Mau menuntut balaskah?”

“Dalam menjalankan sisa hidup tuaku ini, soal dendam dan sakit hati sudah musnah dari ingatanku!” kata It Piau Taysu dengan tenang. “Tujuanku, yakni untuk menyadari seorang sahabat lamaku, agar ia terbebas dari penderitaan dan mau bersama-sama denganku mencapai nirwana sesuai dengan apa yang dicita-citakan setiap umat Buddha!”

“Oh begitu?” ejek Houw Gee seenaknya. “Sebagai sahabat, akupun ingin membuatmu denganikhlas dan syukur,” kata It Piau Taysu dengan tersenyum dan merangkapkan kedua tangannya. “Akan tetapi bilamana bantuanmu tak berhasil bagaimana?”

“He he he he sadaralah…pukulan telapak tangan berdarah yang kuyakini bertahun-tahun ini jauh berbeda dengan empat puluh tahun yang lalu,” kata Houw Gee.

“Ya kuyakin engkau memperoleh banyak kemajuan dalam ilmu silatmu, tapi yang kutanyakan, bagaimana kalau engkau gagal?”

“He he he he andaikata gagal, aku bersedia membubarkan Pok Thian Pang dan mengikuti jejakmu menjadi seorang Budhis yang saleh!”

“Sian cai, sian cai! Seorang yang bagaimana jahatpun, bilamana mau sadar pintu nirwana selalu terbuka untuk menerimanya!” sehabis berkata It Piau Taysu duduk bersila sambil merangkapkan kedua tangannya dan meram.

Sekalian yang menyaksikan keadaan ini menahan nafas sesak. Mereka tidak mengerti apa yang akan diperbuat Hweesio itu.

“Apakah engkau akan menerima pukulanku tanpa melawan?” tanya Houw Gee.

“Benar!” jawab It Piau Taysu.

Tiong Giok tahu It Piau berilmu tinggi, tapi meragukan kekuatannya untuk menahan pukulan maut dari lawannya secara mandah dan tak melawan. Sedangkan Houw Gee pun menjadi tercengang mendapat jawaban musuhnya itu, ia jadi berpikir: “Mungkinkah ia memakai baju wasiat yang dapat menahan pukulan mautku?”

“Jangan ragu-ragu,” desak It Piau.

“Engkau akan menerima pukulan tanpa mengengos atau berkelit bukan?” Houw Gee menegasi lagi, karena kurang yakin.

“Benar!” jawab It Piau tandas.

“Bilamana engkau menggunakan sesuatu benda untuk melindungi tubuhmu dari pukulanku, apa yang kukatakan tadi dianggap tak berlaku!”

“Benar! Nah silahkan!”

Dengan kejam Houw Gee mengangkat tangannya dan dipukulkan ketubuh It Piau Taysu yang kurus sekeras-kerasnya.

“Buk!” terdengar bunyi nyaring.

“Omitohud!” kata It Piau sambil mencelat bangun dan menghunus Hwee he kiam menghampiri lawannya.

Houw Gee terkesiap melihat ketangguhan lawan ia tak menyangka pukulan mautnya bisa gagal secara menyedihkan sekali. Wajahnya menjadi pucat, tubuhnya mematung seperti kesima! Bilamana It Piau mau, dengan serangan entengpun bisa membuat Houw Gee binasa.

“Bunuh! Bunuh!” teriak kawan-kawan In Tiong Giok secara riuh.

It Piau mengangkat pedangnya, lalu menubleskan dengan keras.

“Auw!” teriak Pek Cin Nio merasa kaget.

Akan tetapi kekagetannya Pangcu itu menjadi lenyap. Sebab pedang pusaka itu tidak tertancap ditubuh gurunya, tapi menancap ditanah dekat kaki gurunya.

“Bunuh membunuh sampai kapan bisa habis. Balas membalas sampai kapan bisa berakhir. Houw Gee! Houw Gee! Houw Gee sudah waktunya engkau sadar!” kata It Piau Taysu itu.

Houw Gee mundur-mundur beberapa langkah. “Engkau….engkau…” katanya kemak kemik.

It Piau membuka bajunya memperlihatkan dadanya. “Aku tak mengenakan apa-apa, aku tak berlaku curang bukan?” kata It Piau lagi.

Houw Gee tak bisa mengatakan apa-apa lagi, tubuhnya menjadi lemas, ia bertekuk lutut didepan It Piau. “Kebesaran Buddha tak ada taranya! Aku bersedia mengikuti jejakmu seperti yang telah kuucapkan!” katanya.

“Omitohud!” puji It Piau sambil tersenyum.

Pek Cin Nio dan sekalian jago-jago Pok Thian Pang melihat Lo Cucong mereka berlutut didepan It Piau Taysu, tanpa disuruh lagi semuanya bertekuk lutut dengan hormatnya.

“Omitohud! Laut penderitaan maha luas dan tak bertepi, kesadaran adalah cahaya dan pedoman bagi setiap insane terbebas dari penderitaan,” kata It Piau. Setelah itu berpaling kepada Tiong Giok. “Dimana masih ada tempat melangkah, kita harus memberi pengampunan! Kuyakin Siecu sependapat dengan Lona bukan?”

Tiong Giok dengan rendah hati berlutut pada Bikkhu itu sambil berkata: “Benar! Semoga kasih sayang dari ajaran Buddha yang Taysu amalkan membawa perdamaian didunia persilatan, kini maupun nanti. Segala kebatilan akan musnah oleh rasa kasih sayang untuk selama-lamanya.”

Tatkala Houw Gee mendengar perkataan In Tiong Giok, ia memandang pemuda itu dengan air mata berlinang-linang. Tiba-tiba ia mencabut Hwee li kiam dari tanah, sinar pedang berkelebatan dengan cepat, lengan kirinya tertabas buntung. Dengan suara bergetar ia berkata pada Pek Cin Nio: “Mulai detik ini bubarkan Pok Thian Pang, anggota-anggota yang baik berikan kapital untuk berusaha secara halal, yang membangkang musnahkan ilmu silatnya…” Sambil berkata ia memungut lengan kirinya dan menyerahkan pada In Tiong Giok. “Segala kekacauan dudunia Kang Ouw akibat dari perbuatanku, segalanya menjadi tanggung jawabku! Bawalah lengan ini dan pakailah sembahyang dikuburan Liap In Eng, semoga arwahnya mendapat ketenangan dialam baka.”

“Demikian pula dengan kalian, semoga bisa memberikan pengampunan pada Soat Kouw, agar ia bisa mengaso dengan tenang dialam baka.”

“Bilamana Suthay sudah insyaf dari segala kesalahan-kesalahan itu, akupun tak mau memperhitungkan soal dendam lagi,” kata Tiong Giok. “Dan kenapa Suthay sampai meniksa diri sendiri macam begini?”

“Aku seorang berdosa, bisa hidup sampai sekarang ini berkat kelapangan dada dari taysu dan Siau hiap,” kata Houw Gee dengan perlahan. “Biarpun diberikan pemgampunan oleh siapapun orang berdosa semacamku tetap tak bisa menghilangkan rasa sesal yang sangat akibat-akibat perbuatanku, kini lengan ini kubuntungkan tak berarti dosa-dosaku hilang…hanya saja untuk meringankan tekanan bahtin pada diriku…In Siau hiap menyangkut soal lain-lainnya, engkau boleh bertanya dan berurusan dengan Pek Cin Nio!”

“Orang-orang yang bijaksana selalu berlapang dada,” kata It Piau. “Maka itu sudah waktunya Suthay ikut denganku, guna menjalankan ajaran-ajaran Sang Buddha yang maha bijaksana!”

Perlahan-lahan It Piau berlalu, diikuti Houw Gee dari belakang.

“Suhu!” tiba-tiba Pek Cin Nio mengejar gurunya. “Aku turut denganmu!”

“Tidak! Tugasmu masih banyak, kerjakanlah pesanku sebaik-baiknya!”

Segala yang terjadi ini semuanya diluar dugaan In Tiong Giok maupun yang lain-lain. Mereka tidak menyangka kejadian bisa berjalan dengan mudah.

Pek Cin Nio mengajak musuh-musuhnya yang kini dijadikan tamu masuk kedalam markas pusat Pok Thian Pang.

Dengan singkat dapat diterangkan, bagaimana ras haru dan girangnya Tiong Giok menemukan ayahnya, dan bagaimana rindu dendamnya mendapat obat penawar sewaktu bertemu wan Jie hal ini semoga pembaca dapat membayangkan sendiri.

Ong Jiak Tong yang menjaga pembuian, adalah musuh keras Ciu Kouw dan Peng Cie Lam tapi setelah bertemu mereka tidak bisa berkelahi, kaena suasana hangat dan tegang dari rasa dendam itu telah pudar….berganti kedamaian yang baru.

Ong Jiak Tong bertekuk lutut memohon ampun dari Peng Cie Lam, sambil menyerahkan obat untuk menyembuhkan Ciu Kouw.

Peng Cie Lam menarik napas lega, ia membuang muka setelah menerima obat itu. Ciu Kouw yang berparas buruk setelah mendapat obat itu, pulih menjadi gadis cantik sekali.

Tiat Po yang terletak di Pek Liong San dalam suasana gembira. Pintu gerbang yang tertutup selama belasan tahun, kini terbuka lebar dan terhias indah. Sepanjang jalan yang menuju kerumah Lim Siok Bwee penuh tamu-tamu dari berbagai golongan. Ini tak perlu diherankan karena hari ini Tiat Po sedang mengadakan upacara ganti she dari Pek Kiam Hong yang telah kembali ke Tiat Po.

Sebenarnya sewaktu Pek Cin Nio menyambangi Tiat Po, Lim Siok Bwee telah menyerahkan buku silsilah keluarga Tiat pada umumnya. Tapi sebelum Pok Thian Pang bubar, upacara penggantian she dari Kiam Hong belum dpat diresmikan, dan baru sekarang dilakukannya.

Tamu-tamu yang datang itu berkumpul di ruangan besar terhias indah, saat itu hari sudah mulai malam. Lilin dan lentera-lentera memenuhi ruangan, hingga menjadi terang benderang.

Lim Siok Bwee dan Pek Cin Nio masih berada diruang belakang, sedangkan Pek Kiam Hong sibuk bersalin pakaian. Para tamu itu disambut oleh In Tiong Giok. Ang Ek Fan dan lain-lain.

“Pek Kiam Hong sudah ganti she dan kembali ke Tiat Po, bagaimana dengan In Siau hiap kapan mengadakan upacara ganti she?” tanya Tong Cian Lie pada Ang Ek Fan.

“Benar! Benar!” jawab yang lain-lain.

Dengan tersenyum-senyum Ang Ek Fan memberi hormat sambil berkata: “Atas perhatian dari saudara-saudara sekalian kuhaturkan banyak terima kasih, soal ini lambat atau cepat akan kukerjakan tapi tepatnya tak dapat ditentukan sekarang, pokoknya nanti anda akanlah kami undang!”

“Masakan soal hari saja tak bisa ditentukan?” tanya Lauw Siu Kim.

“Tidaklah sekarang saja hal ini dilakukan berbareng dengan Pek Kiam Hong terlebih baik?” kata Cu Lit.

“Memang soalnya snagat mudah, tapi menurut hematku sebelum sua hal dapat kuselesaikan, hal ini belum bisa kulaksanakan,” kata Ang Ek Fan.

“Soal apa?” tanya mereka dengan berbareng.

“Kesatu aku harus membangun kembali Giok Liong Po. Kedua soal istriku sampai sekarang belum ada kabarnya, sehingga soal ini belum bisa dilaksanakan!”

“Ya, benar juga,” jawab penanya-penanya itu dengan sedikit agak kecewa. Karena tanpa menyadari lagi, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mereka mendatangkan kesedihan pada Ang Ek Fan.

“Atas perhatian saudara sekalian sekali lagi kuhaturkan banyak terima kasih. Kini saudara-saudara sudah berkumpul disini, dan mungkin masih ada yang ingin tahu, kenapa Pek Kiam Hong, dengan tiba-tiba manjadi she Tiat dan kembali ke Tiat Po? Setelah berdamai dengan Lim Lie hiap, ia menyetujui untuk kututurkan seluk beluk hal ini pada saudara-saudara…”

Suasana menjadi sepi, sesungguhnyalah soal ini banyak yang tidak mengetahui dengan mendetail, mereka hanya heran kenapa setelah Pok Thian Pang bubar, Pek Cin Nio, Pek Kiam Hong menjuadi warga Tiat Po?

“……sebenarnya kejadian yang telah lampau ini, merupakan soal peribadi orang-orang Tiat Po, mungkin diantara saudara yang hadir disini, hanya sebagian dari Bulim cap sah kie yang mengetahui soal ini, sedngkan yang lain tidak mengetahui bukan? Nah baiklah kumulai saja cerita ini.”

Ddelapan belas tahun yang lalu, hubungan antara Giok Liong Po dan Tiat Po sangat erat sekali, hal ini diketahui benar-benaar oleh saudara-saudara bukan? Saat itu hampir tiga bulan sekali, kami harus bertemu muka satu sama lain, selambat-lambatnya setahun sekali harus bertemu. Sewaktu-waktu aku yang datang ke Tiat Po, sewaktu-waktu Tiat Giok Limk datang ke Giok Liong Po. Hal ini tidak aneh dan tidak mengherankan untuk siapapun. Akan tetapi pertemuan semacam ini ada cacatnya, pernah terjadi aku mengunjungi Tiat Po, sedangkan dia datang ke Giok Liong Po, astu sama lain jadi tak bertemu. Karena hal ini untuk pertemuan-pertemuan terlebih lanjut, kami mengirim surat terlebih dulu bilamana mau datang.

Pada suatu hari aku menerima suratnya, dan ia menjanjikan aku bertemu di Lok Yang pada tanggal lima belas bulan delapan, untuk bersama-sama menuju ke Bong San guna menghancurkan perempuan jahat bernama Cia Lok Ang.

Begitu kuterima surat itu segera kupergi ke Lok Yang, tepat pada tanggal lima belas pagi aku tiba dikota itu. Malang bagiku aku tak menemuinya, sebab ia datang terlebih cepat dua hari dariku. Rupanya ia tak sabaran menantikan diriku. Pada tanggal empat belas malam ia menuju ke Bong San seorang diri. Sebelum bernagkat ia menititpkan surat untukku, yang mengatakan bahwa ia akan kembali besok sore.

Kunantikan ia dengan sabar, tapi tidak muncul-muncul. Sedangkan hari telah menjadi malam, aku menjadi tak sabaran, segera kususul ke Bong San malam itu juga.

Suasana makam sanga tindah, rembulan bercahaya terang. Tapi tiada hati guna meresapi panorama dan suasana itu. Aku bergegas-gegas ketempat tujuan. Sesampainya disana, kulihat sepuluh wanita-wanita murid dari Cia Lok Ang bergeletakan dilereng gunung. Tak jauh dari situ kudapati pula tubuh Cia Lok Ang yang telah menajdi mayat. Ditubuhnya masih tertancap sebilah pedang milik Tiat Giok Lin. Sedangkan orangnya tidak tampak disitu, aku menjadi kaget dan heran, sepatutnya musuh sudah terbunuh, ia selamat kenapa sampai pedangnya tidak dicabut? Apa yang terjadi pada dirinya?

“Tatkala inilah aku mendengar jeritan suara perempuan dari dalam hutan, segera kulari kearah suara…ah, sungguh diluar dugaan, bahwa saudara Tiat sedang berhadap-hadapan dengan seorang perempuan yang cantik. Pakaian mereka sudah tak keruan dan beres. Saudara Tiat menjadi malu begitu melihat kehadiranku, ia menjadi khilaf dan mau membunuh perempuan itu, untung bisa kucegah sehingga perempuan itu tidak mati konyol. Setelah berpakaian perempuan itu cepat-cepat melarikan diri kedalam hutan.

Belakangan saudara Tiat menerangkan kepadaku, sewaktu ia berkelahi dengan Cia Lok Ang telah kena obat perangsang dari perempuan jaha itu. Begitu perempuan itu terbunuh obat baru bekerja dengan dashyatnya. Kebetulan pada saat itulah ia melihat gadis itu melintasi hutan, maka terjadilah hal yang tidak diinginkan itu.

Soal ini membuatnya menjadi menyesal dan malu, beberapa kali ia mau bunuh diri, kepaksa kugunakan kekerasan, Kutotok badannya, setelah itu kuhibur dan menerangkan bahwa perbuatannya itu dikarenakan obat perangsang Cia Lok Ang, dirinya bagaimanapun tak dapat disalahkan. Setelah kujelaskan dan kuhibur ia mengerti juga, totokannya kubuka dan ia sadar, nekadnyapun hilang.

Disamping itu akupun berjanji kepadanya bahwa hal ini takkan kuceritakan kepada orang lain. Lama kelamaan hal ini berlarut hilang dan seperti belum pernah terjadi.

Waktu berjalan sanga cepat, tanpa terasa setengah tahun telah berlalu. Saat itulah aku menerima sepucuk suratnya, agar secepatnya aku datang ke Tiat Po karena ada urusan penting yang perlu dibicarakan denganku. Saat itu sebetulnya aku sedang sakit, tapi mengingat soalnya sangat penting, aku memaksakan diri pergi kesana. Istriku sebetulnya mau berangkat bersama-sama, tapi dikarenakan satu hal dan lain hal kepaksa ia menunda keberangkatannya, beberapa hari kemudian.

Sesampainya di Tiat Po, aku dimaki-maki dan dicap sebagai penjual kawan. Setelah puas memaki-maki ia membunuh diri dengan jarum beracun….ia berlaku senekad itu dikarenakan menerima sepucuk surat kaleng yang berisi umpatan dan makian padanya dalam soal memperkosa gadis dihutan. Ia menuduh aku yang menguarkan soal ini di dunia Kang Ouw, sehingga mengambil jalan pendek seperti kuceritakan diatas.

Saat itu aku masih keadaan sakit, tambahan sewaktu mencegah ia membunuh diri terkena pukulannya, sehingga menderita luka dalam. Ditambah lagi isi surat itu bernada begitu keji dan menyakiti hati…membuatku tak bisa berkata apa-apa.kupikir Giok Lim sudah meninggal dunia, bagaimanapun surat kaleng itu tak bisa kuserahkan pada istrinya, tanpa pikir panjang lagi aku berlari keluar dari Tiat Po dalam keadaan luka. Tak kira baru saja beberapa lie kutinggalkan Tiat Po, ditengah jalan dihadang orang-orang bertopeng. Aku sedang luka, tak bisa memberikan perlawanan sebagaimana mestinya dlam waktu yang sanga tsingkat aku dapat ditawan…soal selanjutnya tak perlu kuceritakan lagi, karena saudara-saudara mengetahuinya…

“Hm, pantas Tong Toako, Tay Cin Tojin dan yang lain takberani menghantam Pok Thian Pang, kiranya untuk menjaga nama baik dari Tiat Po. Kini soalnya sudah jelas surat kaleng maupun kekacauan yang terjadi didunia Kang Ouw ini semata-mata dikarenakan Houw Gee seorang!”

“Memang benar! Tapi kejadian ini bukan direncanakan, tapi terjadi secara kebetulan setelah peristiwa Bong San. Dimana Pek Cin Nio diketemukan olehnya dalam keadaan hamil! Apa yang diinginkan Houw Gee tidak terlaksana, berbalik ia membesarkan Kiam Hong menjadi dewasa. Tiat Giok Lin telah meninggal dunia sungguhpun begitu ia masih mempunyai keturunan yang dapat diandalkan dikemudian hari.”

Saat inilah terdengar bunyi lonceng, pertanda bahwa upacara penggantian she Kiam Hong telah dimulai.

Ang Ek Fan dengan menuntun lengan Tiong Giok dan Wan Jie datang memberikan selamat pada Kiam Hong dan Lim Siok Bwee serta Pek Cin Nio. Disusul oleh Yauw Kian Cee, Ciu Kong, Bok Tiong, Ceng Ceng, Toa Gu dan Thian Sek.

Sedangkan Han Bun Siong, Tong Cian Lie, Tay Cin Tojin, Cu Lit dan lain-lain setelah memberi selamat pada Pek Kiam Hong, ramai-ramai memberi selamat pada Ang Ek Fan…

“Kuucapkan selamat Ang Toako mendapat mantu,” kata mereka beramai-ramai.

“Selamat menempuh hidup baru!” kata Siau Bwee yang tiba-tiba muncul dan memberi selamat kepada Tiong Giok dan Wan Jie. Keruan saja jago-jago kita ini menjadi merah padam.

Sedangkan Toa Gu memandang pada Ceng Ceng. “Kenapa tidak ada yang memberi selamat pada kita?”

“Tutup mulutmu, nanti kubeset!” bentak Ceng Ceng dengan gemes, tapi tak urung ia tersenyum juga.

Ang Ek Fan menerima kemesraan yang mengharukan itu dengan berlinang air mata. Sebentar ia memandang pada anaknya sebentar pada Wan Jie, lalu menarik napas panjang seolah-olah penderitaannya selama belasan tahun didalam penjara hilang dalam seembusan napasnya. Akan tetapi dibalik itu iapun mengenang pada istrinya dan berkata didalam hatinya: “Giok Liong Po pasti bangun kembali. Istriku pasti akan kembali. Saat itu keadaan rumahku akan lebih ramai dari dulu-dulu….

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: