Kumpulan Cerita Silat

24/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:59 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 05: Resiko Mencari Petunjuk
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Angin masih lembut, malam masih hening. Tapi Liok Siau-hong tahu betul bahwa malam yang tenang ini mungkin menyembunyikan perangkap yang tak terhitung jumlahnya, angin yang lembut ini mungkin membawa anak-anak panah yang mematikan.

“Di dalam Lam-ong-hu, sebenarnya hanya ada 620 orang penjaga, pada malam hari mereka dibagi dalam 3 giliran jaga.”

“Tiap giliran jaga ada 200 orang, dan setiap giliran dibagi lagi menjadi 6 kelompok.”

“Dari 6 kelompok ini, ada yang berpatroli menelusuri Istana, ada yang tetap berjaga di luar kediaman Ong-ya, dan ada yang bersembunyi di halaman dan aula untuk menjebak tamu tak diundang.”

“Satu kelompok yang berpatroli di luar Ruang Harta terdiri dari 54 orang anggota. Mereka terbagi lagi menjadi regu-regu yang terdiri dari 9 orang. Mulai pukul 8 malam, mereka mulai berpatroli mengelilingi daerah di sekitar Ruang Harta, dan selang waktu antara tiap regu paling lama adalah 5 menit.”

Coa-ong telah menemukan banyak hal tentang semua ini. Jelas dia mempunyai orang dalam di Lam-ong-hu. Untuk memasuki Lam-ong-hu, hanya ada satu cara – lewat sebuah halaman kecil di sudut Barat Laut. Di situlah letak markas para penjaga, dan juga merupakan tempat yang paling longgar penjagaannya di seluruh Lam-ong-hu. Penjaga yang sedang tidak bertugas mungkin semuanya kelelahan dan bahkan telah tertidur sebelum sampai di tempat tidur mereka. Liok Siau-hong sudah mengamat-amati tembok istana, tapi ia masih merasa tidak enak hati. Ia tidak ingin mengucapkan kata-kata tadi pada Sih Peng, tapi ia terpaksa, ia tak boleh membiarkan Sih Peng mengambil resiko ini bersamanya.

Walaupun yang ingin dia lakukan adalah mencari tahu apakah seseorang bisa masuk sendiri ke Ruang Harta atau tidak, walaupun yang ingin dia lakukan adalah mencari tahu bagaimana caranya si Bandit Penyulam masuk ke Ruang Harta sehingga ia bisa mendapatkan petunjuk untuk diikuti, tapi ia juga tahu betul bahwa memasuki Lam-ong-hu itu seperti meletakkan kakinya di pintu kematian. Sekali ketahuan, maka dia akan mati di bawah hujan golok dan panah.

Para penjaga di dalam Lam-ong-hu tak akan mau mendengarkan penjelasannya. Ia tak boleh membiarkan Sih Peng mengambil resiko ini.

Tapi mengapa ia mau mengambil resiko ini? Bahkan dia sendiri tidak terlalu yakin kalau ia tahu jawaban untuk pertanyaan ini. Mungkin tak lebih karena dia terlahir sebagai orang yang suka mengambil resiko. Mungkin dia terdorong bukan hanya oleh perasaan ingin tahu tetapi juga perasaan tersaingi. Tak perduli apa, dia telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia akan menyingkap siapa sebenarnya Bandit Penyulam itu.

Di dalam halaman ada sebaris bangunan yang agak sederhana, sekali waktu suara dengkuran bisa terdengar dari dalamnya. Di belakangnya, lampu di dapur besar tampak masih menyala, jelas seseorang sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk para penjaga yang akan kembali dari tugasnya. Sekarang adalah waktu para penjaga giliran pertama kembali dari tugasnya dan kelompok jaga kedua menggantikannya. Kelompok jaga ketiga masih terlelap dalam mimpi mereka.

Liok Siau-hong bukanlah si Raja Maling, karena ia tak pernah mencuri. Tapi mencuri seperangkat pakaian seragam dari sekelompok orang yang sedang tidur adalah jauh dari sukar bagi orang seperti dia.

Maka sekarang ia telah memiliki satu stel lengkap pakaian seragam pengawal, ia memakainya di luar pakaian malamnya yang ketat. Para pengawal itu adalah orang-orang muda yang bertubuh besar dan kuat, maka tubuh mereka semua sama tingginya dan sebangun dengan dirinya. Tapi dia harus cepat. Selama pergantian giliran jaga, sedikit kebingungan dan kekacauan tentu tak dapat dihindarkan, dan karena kekacauan itu perasaan kurang waspada tentu tak dapat dihindarkan pula. Ini adalah kesempatan terbaiknya. Dia telah menemukan rute tercepat ke Ruang Harta berdasarkan peta itu.

Dalam perjalanannya dia bertemu dengan para penjaga yang baru pulang dari tugasnya, tapi ia tidak menghindari mereka, dan mereka pun tidak memperhatikannya.

Seseorang terlambat muncul selama pergantian giliran jaga bukanlah hal yang luar biasa. Di samping itu, dari 800-an orang penjaga di dalam Lam-ong-hu, ada beberapa di antaranya yang merupakan orang-orang baru. Kawasan Ruang Harta mencakup daerah yang luas. Di sebelah kiri ada sebuah hutan pohon persik, tapi bunga-bunganya telah gugur. Liok Siau-hong bersembunyi di hutan sampai sebuah regu patroli lewat sebelum melompat keluar dengan ringan dan perlahan dan masuk ke dalam barisan di belakang orang terakhir.

Gerakannya, tentu saja, sama sekali tidak terdengar. Dan regu-regu patroli lain yang mereka lewati jelas tidak melihat bahwa regu ini telah bertambah 1 orang anggotanya di belakang. Tugas regu ini adalah berpatroli di luar Ruang Harta, maka ia mengikuti mereka mengelilingi seluruh Ruang Harta untuk satu putaran. Hatinya bertambah dingin. Dinding Ruang Harta terbuat dari balok-balok raksasa dan hampir tidak ada lubang di mana pun, apalagi jendela. Tampaknya seekor lalat pun tidak bisa masuk.

Sesudah menunggu orang di depannya berbelok di tikungan, Liok Siau-hong tiba-tiba melayang ke atas atap Ruang Harta. Mungkin ada sebuah lubang udara di atap, bahkan jika atap itu tertutup oleh genteng, genteng-genteng itu tentu tak sukar untuk digeser. Ia tahu bahwa sekelompok orang golongan hitam di dunia persilatan suka menggunakan cara ini. Maka sekarang dia meniru cara mereka dan memeriksa atap itu dengan teliti. Ia masih tak berhasil menemukan jalan masuk.

Ia menggeser beberapa lembar genteng untuk menemukan bahwa di bawahnya ada 3 lapis kawat baja yang tampaknya mustahil untuk dipotong sekalipun dengan menggunakan golok yang paling tajam. Ruang Harta ini persis seperti peti baja yang kedap udara. Lupakan saja lalat, bahkan angin pun tak bisa masuk. Jadi bagaimana caranya si Bandit Penyulam bisa masuk? Di samping Ruang Harta ada sebuah bangunan yang agak kecil, bagian dalamnya tampak gelap gulita.

Seperti seekor burung, dia pun melayang. Sekarang ia benar-benar menyerah dan hanya ingin mencari jalan keluar secepat mungkin. Saat ia melayang, tiba-tiba ia melihat seseorang berdiri di dalam bangunan kecil tadi. Dia adalah seorang laki-laki berwajah pucat, berjenggot tipis, dan mengenakan jubah putih seperti salju. Dalam kegelapan, matanya seperti sepasang bintang yang dingin. Jantung Liok Siau-hong serasa tenggelam, dan tubuhnya pun melayang turun.

Dengan gerakan “Jian-kin-tui”, ia mendarat di atas tanah. Pada saat itulah ia melihat kilauan sebatang pedang melesat langsung ke arahnya dari atas atap seberang. Seumur hidupnya, belum pernah dia melihat kilauan pedang yang demikian spektakuler dan cepat.

Tiba-tiba, seluruh tubuhnya seolah-olah terbungkus oleh semacam hawa, hawa pedang, hawa yang sanggup menggigilkan seorang manusia, siapa pun orangnya, hingga ke sumsum tulangnya. Kilatan pedang itu tampaknya, luar biasa sekali, bahkan lebih menakutkan daripada kilatan pedang Sebun Jui-soat. Hampir tak ada orang di dunia ini yang mampu bertahan terhadap serangan ini. Liok Siau-hong pun tidak, bahkan walaupun ia berusaha. Ia menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat mundur. Kilatan pedang itu mengikutinya, memburunya. Tak perduli betapa pun cepatnya ia mundur, ia tak bisa menjauh dari ujung pedang itu, apalagi di belakangnya tidak ada lagi tempat untuk mundur.

Tubuhnya telah mepet ke salah satu dinding Ruang Harta itu. Kilauan pedang itu, seperti sebuah petir, meluncur ke arah dadanya. Tak ada gunanya berusaha menghindar ke samping, bahkan jika ia mampu. Apa pun gerakan yang bisa ia lakukan sekarang tentu akan terlalu lambat, akan terlambat. Ia menghadapi ancaman kematian!

Tapi saat inilah, dadanya tiba-tiba melesak ke dalam, melesak begitu dalamnya sehingga dadanya seperti menempel ke tulang belakangnya. Serangan pedang itu mengandung tenaga dan posisi yang telah terukur, tapi tidak memperhitungkan kalau tubuh Liok Siau-hong tiba-tiba bisa menjadi lebih kurus. Perubahan ini adalah sesuatu yang tak dapat dibayangkan oleh siapa pun. Maka waktu kilauan pedang itu mencapainya, pedang itu terhenti di tengah jalan, karena seharusnya dadanya sekarang telah tertusuk dan tidak perlu menambah tenaga dan menusukkan pedang itu lagi.

Orang yang benar-benar jagoan tentu selalu teliti dan kikir dalam hal mengeluarkan energi sehingga tidak membuang-buang tenaganya walaupun sedikit. Apalagi orang ini adalah seorang jagoan di antara para jagoan! Ia tak pernah membayangkan kalau serangannya ini tidak mencapai sasarannya. Tapi Liok Siau-hong masih tidak bisa pergi ke mana-mana, yang harus ia lakukan hanyalah mendorongkan pedangnya ke depan sedikit lagi dan Liok Siau-hong tetap akan mati.

Tapi, pada saat yang genting ini, Liok Siau-hong pun menyerang! Tiba-tiba dia mengulurkan 2 buah jarinya dan menjepit pedang itu! Tak seorang pun bisa menguraikan kecepatan dan kecekatan gerakan ini, karena jika kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, kau tak akan pernah mempercayainya. Laki-laki berjubah putih itu turun kembali ke tanah. Ia tidak berusaha mengalirkan energi lagi ke dalam pedangnya tapi malah menatap dingin pada Liok Siau-hong dengan matanya yang gemerlapan seperti bintang.

Liok Siau-hong balas menatapnya.

“Pek-in-seng-cu?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Kau mengenalku?” Orang itu menjawab dengan dingin.

“Selain dari Pek-in-seng-cu, siapa lagi di dunia ini yang bisa melakukan serangan seperti itu?” Liok Siau-hong menarik nafas.

Orang itu akhirnya mengangguk.

“Liok Siau-hong?” Tiba-tiba ia juga bertanya.

“Kau mengenalku?”

“Selain dari Liok Siau-hong, siapa lagi yang bisa bertahan terhadap seranganku itu?”

Liok Siau-hong tersenyum. Siapa pun akan merasa senang bila mendengar Pek-in-seng-cu berkata demikian. Menurut kabar angin, dia tak pernah memuji siapa pun, tapi kalimat tadi jelas merupakan sebuah pujian.

“Empat tahun yang lalu, kau menggunakan gerakan yang sama dan berhasil menangkap serangan pedang dari Bok-tojin.” Yap Koh-seng meneruskan. “Hingga saat ini dia masih menyatakan bahwa gerakanmu itu benar-benar tak ada tandingannya di dunia ini.”

“Dia adalah sahabatku, banyak orang yang suka melebih-lebihkan sedikit tentang sahabatnya!” Liok Siau-hong tertawa.

“Empat bulan yang lalu, dia melihatku menggunakan serangan Thian-gwa-hui-sian (Dewa Terbang Keluar Langit) tadi. Ia juga menyatakan bahwa jurus tadi tak ada bandingnya di dunia ini.”

“Memang benar!” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tapi dia tetap berpendapat bahwa kau mampu menghentikan jurusku itu!”

“Oh?”

“Aku pun tidak mempercayainya, maka aku harus mencobanya!”

“Kau tahu kalau aku akan datang ke sini?”

Yap Koh-seng mengangguk.

“Dan kau sedang menungguku di sini?”

Yap Koh-seng mengangguk lagi.

“Bagaimana jika aku tak mampu menangkap serangan tadi?”

“Maka kau bukanlah Liok Siau-hong!” Yap Koh-seng menjawab dengan bersahaja.

“Bahkan Liok Siau-hong pun mungkin tak sanggup mengatasi seranganmu tadi!” Liok Siau-hong tersenyum sabar.

“Jika Liok Siau-hong tak mampu menangkap serangan tadi, maka Liok Siau-hong tidak akan menjadi Liok Siau-hong yang sekarang.”

“Jika Liok Siau-hong tidak menangkap serangan tadi, maka Liok Siau-hong tentu telah mati sekarang!”

“Benar!” Yap Koh-seng mengiyakan dengan dingin. “Orang mati adalah orang mati. Mayat tidak memiliki nama!”

Tiba-tiba dia menarik dan pedang itu kembali ke sarungnya. Dia juga merupakan orang pertama yang mampu menarik pedangnya dari jepitan jari-jari Liok Siau-hong.

“Tampaknya kau memang tidak ingin membunuhku!” Liok Siau-hong tersenyum.

“Oh?”

“Karena jika kau mau, sekarang adalah kesempatan berikutnya untuk melakukannya.”

Yap Koh-seng menatap wajah Liok Siau-hong.

“Tidak banyak lawan sepertimu di dunia ini. Bila satu terbunuh, maka berkurang satu orang!” Ia berkata dengan lambat-lambat. Dalam matanya yang gemerlap seperti bintang tiba-tiba terlihat sinar mata kesepian. “Aku orang yang sangat angkuh, maka aku tidak memiliki banyak teman. Aku tidak perduli tentang hal itu. Tapi hidup di dunia ini tanpa ada lawan yang berharga, itulah baru kesepian yang sesungguhnya.”

Liok Siau-hong pun menatapnya.

“Jika kau menginginkan seorang teman, kau selalu bisa menemukan seseorang!” Ia tersenyum.

“Oh?”

“Paling tidak kau bisa menemukan satu sekarang juga!”

“Tampaknya mereka tidak berdusta tentangmu, kau benar-benar orang yang suka bersahabat!” Mata Yap Koh-seng tampak menunjukkan sedikit perasaan gembira.

“Mereka? Mereka siapa?”

Yap Koh-seng tidak menjawab, ia memang tak perlu melakukannya. Karena Liok Siau-hong telah melihat Kim Kiu-leng dan Hoa Ban-lau.

Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa Yap Koh-seng dan Sebun Jui-soat memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua adalah orang-orang yang sangat kesepian dan angkuh. Tak seorang pun di antara mereka yang memandang tinggi terhadap nyawa manusia baik itu nyawa musuhnya atau nyawa mereka sendiri, bagi mereka itu sama saja. Gerakan mereka selalu tidak kenal ampun, karena gaya mereka hanya terdiri dari gerakan-gerakan dan serangan yang mematikan. Mereka berdua juga suka mengenakan pakaian putih.

Dan mereka berdua selalu bersikap dingin seperti es di pegunungan sana. Mungkinkah hanya manusia seperti ini yang bisa menguasai ilmu pedang tiada tandingan? Waktu Liok Siau-hong mengangkat cawan araknya, dia melihat sesuatu hal lagi. Yap Koh-seng juga tidak menyentuh alkohol, dia bahkan tidak minum teh. Yang dia minum hanyalah air putih. Segera setelah Liok Siau-hong mengangkat cawannya, arak telah masuk ke mulutnya.

Yap Koh-seng memandangnya, tampaknya ia sangat heran.

“Kau suka minum arak?” Ia bertanya.

“Dan aku meminumnya dengan cukup cepat!” Liok Siau-hong tertawa.

“Itulah yang membuat aku heran!”

“Kau berpendapat minum arak itu hal yang sangat membingungkan?”

“Arak bisa merusak tubuh seseorang dan mengacaukan fikiran seseorang. Tapi, secara fisik dan mental, kekuatanmu tetap berada di puncaknya!”

“Sebenarnya aku tidak sering minum sebanyak ini,” Liok Siau-hong tersenyum. “Hanya bila merasa sedih barulah aku minum sekalap ini!”

“Kau sedang sedih?”

“Bagaimana mungkin seseorang tidak merasa sedih bila ia dikhianati oleh sahabat-sahabatnya?”

Hoa Ban-lau tersenyum, tentu saja ia faham maksud ucapan Liok Siau-hong itu.

“Kau berpendapat bahwa kami telah mengkhianatimu?” Kim Kiu-leng pun tersenyum.

“Kalian tahu kalau aku akan datang ke sini, dan kalian tahu bahwa ada pedang tiada tanding yang menungguku di sini. Dan kalian berdua bersikap seperti sepasang Cao Cao dan menonton pertunjukan itu di pinggir.” Liok Siau-hong memasang muka serius.

“Kami tahu kalau kau akan datang ke sini karena kami tahu bahwa kau tentu ingin memeriksa sendiri apakah orang bisa masuk ke dalam Ruang Harta!” jawab Kim Kiu-leng.

“Jadi itulah sebabnya kalian menungguku di sini, untuk melihat apakah aku bisa masuk!”

“Tapi waktu kau melompat ke atas atap barulah kami melihatmu!” aku Kim Kiu-leng.

“Maka kalian menunggu untuk melihat apakah aku benar-benar akan terbunuh oleh Yap-sengcu!”

“Kau tahu betul bahwa ia sebenarnya tidak ingin membunuhmu!” Kim Kiu-leng memprotes.

“Tapi serangan tadi beneran lho!”

“Liok Siau-hong kan juga beneran!” Kim Kiu-leng tertawa. Ia benar-benar orang yang pintar bermain kata-kata. Mustahil bagi siapa pun untuk marah padanya. “Sebelum kau datang, kami telah tiba pada sebuah kesimpulan!”

“Apa itu?”

“Bahwa jika Liok Siau-hong tidak bisa masuk, maka tidak ada seorang pun manusia di dunia ini yang bisa.”

“Apakah si Bandit Penyulam bukan seorang manusia?”

Kim Kiu-leng tidak menjawab.

“Aku benar-benar tak bisa menemukan cara untuk masuk. Bahkan jika aku punya kunci Ruang Harta, aku tak bisa membuka pintunya tanpa terlihat oleh penjaga; bahkan jika aku bisa membuka pintu itu, tak mungkin aku bisa mengunci pintu dari sebelah luar.”

“Waktu Kang Tiong-wi masuk ke Ruang Harta hari itu, pintu masih terkunci dari luar!” ucap Kim Kiu-leng.

“Aku tahu.”

“Maka, menurut logika, tentu ada jalan lain untuk masuk ke Ruang Harta dan itulah jalan yang digunakan oleh si Bandit Penyulam!”

“Tapi kenyataannya jalan seperti itu tidak ada.”

“Tentu ada,” Hoa Ban-lau tiba-tiba berkata. “Hanya saja, kita tidak berhasil menemukannya.”

Yap Koh-seng sejak tadi duduk di sana dalam diam dan dengan dingin mengamati mereka, tampaknya dia benar-benar tidak tertarik pada urusan ini. Ia hanya tertarik pada satu hal.

“Sebun Jui-soat adalah sahabatmu?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Ada seseorang yang sedang menungguku di luar, kalian bisa menebak siapa orang ini?” Tiba-tiba ia bertanya. Ia khawatir kalau Yap Koh-seng mulai bertanya-tanya tentang Sebun Jui-soat, maka ia segera bertanya, ia berusaha mengalihkan pokok pembicaraan.

Tapi Yap Koh-seng tidak mau merubah pokok pembicaraan.

“Pernahkah kau bergebrak dengannya?”

“Tidak!” Liok Siau-hong terpaksa menjawab kali ini.

“Bagaimana ilmu pedangnya?”

“Tidak buruk.” Liok Siau-hong memaksakan sebuah senyuman.

“Apakah Tokko It-ho mati di bawah pedangnya?”

Liok Siau-hong terpaksa mengangguk.

“Ini berarti bahwa ilmu pedangnya telah berada di atas ilmu pedang Bok-tojin.” Perasaan gembira dan bergairah tiba-tiba muncul di wajah Yap Koh-seng yang dingin dan ia meneruskan dengan lambat-lambat. “Jika aku bisa beruji coba dengannya, maka inilah sebuah kebahagiaan dalam hidupku!”

“Arak, kenapa tidak ada arak di sini!” Liok Siau-hong tiba-tiba bangkit dan berteriak.

“Biar kuambilkan untukmu.” Kim Kiu-leng menawarkan diri.

“Ambil dari mana?”

“Di sini ada sebuah gudang bawah tanah untuk menyimpan arak.”

“Kau bisa masuk?”

“Mungkin tidak ada satu pun tempat di Lam-ong-hu ini yang tak bisa dia masuki sekarang!” Hoa Ban-lau tertawa mendengar pertanyaan Liok Siau-hong itu.

“Benarkah?”

“Kau menyusup ke dalam Lam-ong-hu dan masih tidak tahu siapa yang baru diangkat sebagai Congkoan Lam-ong-hu?” Hoa Ban-lau bertanya.

“Bisakah Kim-congkoan membawaku ke gudang arak?” Liok Siau-hong tertawa dan memohon.

Gudang arak itu berada di dalam bangunan kecil di samping Ruang Harta. Kim Kiu-leng membuka pintu dengan kuncinya. Seorang penjaga telah menyalakan lentera untuk mereka.

Setelah memasuki ruangan itu, mereka harus mengangkat salah satu lempengan batu dan menuruni beberapa tangga sebelum tiba di gudang arak. Dan alangkah besarnya gudang arak itu!

“Jika aku seorang yang benar-benar pencandu minuman keras, maka kalian tidak bisa memaksaku untuk meninggalkan tempat ini walaupun kalian menodongkan sebilah pisau di leherku!” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Aku tahu banyak orang yang berpendapat bahwa kau memiliki masalah itu, tapi kau tentu saja bukan seorang pencandu minuman!” Kim Kiu-leng tersenyum.

“Benarkah?”

“Kau datang ke sini hanya karena kau khawatir kalau Yap Koh-seng akan memaksamu untuk membawanya kepada Sebun Jui-soat!”

“Aku benar-benar mengkhawatirkan pertemuan dua orang ini.” Liok Siau-hong menarik nafas. “Asal salah seorang dari mereka menghunus pedangnya, hampir tak ada orang di dunia ini yang bisa membuat mereka menyarungkannya lagi!”

“Tapi mereka akan bertemu juga cepat atau lambat!”

“Dan apa yang akan terjadi pada hari itu adalah sesuatu yang tak sanggup kubayangkan!” Liok Siau-hong tersenyum lelah.

“Kau khawatir kalau dia akan membunuh Sebun Jui-soat?”

“Aku juga khawatir kalau Sebun Jui-soat akan membunuhnya!” Liok Siau-hong menarik nafas. “Mereka berdua adalah jago-jago pedang yang luar biasa. Jika salah satu dari mereka mati, itu adalah hal yang sangat disayangkan. Yang paling menakutkan adalah mereka berdua hanya tahu jurus membunuh. Sekali pedang terhunus, maka seseorang harus mati!”

“Mutlak harus mati?”

“Mmhmm!”

“Tapi tak ada yang mutlak di dunia ini!” Kim Kiu-leng tersenyum.

“Oh?”

“Ruang Harta itu tadinya dianggap mutlak tak dapat ditembus, tapi tetap saja seseorang berhasil masuk. Ia tak mungkin turun dari langit atau muncul dari tanah, kan?”

Mata Liok Siau-hong tiba-tiba berkilauan.

“Apakah gudang arak ini berada di bawah Ruang Harta?”

“Tampaknya begitu!”

“Jika kita berdua menggali sebuah lubang di langit-langit tempat ini, tidak bisakah kita masuk ke Ruang Harta?”

Mata Kim Kiu-leng pun berkilat-kilat.

“Sebelah luar gudang arak ini mungkin tidak dijaga dengan ketat, tapi orang tetap harus punya kunci untuk bisa masuk ke sini!” Kim Kiu-leng berkata.

“Apakah Kang Tiong-wi memiliki kuncinya?”

Kim Kiu-leng mengangguk.

“Tapi dia tak akan pernah memberikan kunci itu pada si Bandit Penyulam!”

“Tentu saja dia tidak, tapi orang lain kan bisa!”

“Siapa?”

“Seseorang yang dekat dengannya, seseorang yang bisa mengambil kunci itu darinya dan membuat cetakannya!”

“Menurutmu orang itu adalah Kang Kin-he?” Mata Kim Kiu-leng berkilauan.

“Tampaknya kau memang pantas dikenal sebagai orang yang paling cerdas di organisasi Enam Pintu!” Liok Siau-hong menepuk pundaknya dengan keras.

Sambil membawa sebuah kendi arak yang besar, Liok Siau-hong kembali ke tempat teman-temannya. Dia memutuskan untuk mengadakan sebuah perayaan. Ia tidak yakin apakah ia pernah sebahagia ini sebelumnya.

“Apa yang membuat kalian begitu gembira? Apakah kalian baru menemukan harta di tengah gudang arak itu?” Hoa Ban-lau bertanya ketika mendengar suara tawa mereka.

“Benar!” Liok Siau-hong tertawa.

“Harta seperti apa?”

“Seutas benang!”

“Benang? Benang macam apa?” Hoa Ban-lau tidak faham.

“Benang yang tak bisa kau lihat, tapi kita hanya perlu mengikuti benang ini dan kita akan dapat menemukan ekor rubah itu!”

“Rubah apa?” Hoa Ban-lau masih agak bingung.

“Rubah yang bisa menyulam, tentu saja!” Liok Siau-hong tertawa.

Sekarang, akhirnya ia bisa merasa yakin akan sesuatu. Kang Kin-he dan si Bandit Penyulam itu berasal dari organisasi yang sama. Maka yang harus ia lakukan adalah menemukan Kang Kin-he dan ia tentu akan dapat menemukan si Bandit Penyulam.

“Kau yakin bahwa kau bisa menemukan Kang Kin-he?”

“Sedikit.”

“Bagaimana rencanamu tentang cara mencarinya?”

“Aku berencana mencari sepasang sepatu merah. Sepasang sepatu merah yang seharusnya tidak dipakai, tapi karena sesuatu sebab tetap dipakai juga!”

“Gagasanmu makin lama semakin tidak bisa difahami!” Hoa Ban-lau menarik nafas dan tersenyum.

“Kujamin bahwa kau akan segera memahaminya!” Liok Siau-hong tertawa. Tiba-tiba ia melihat bahwa seseorang telah menghilang dari ruangan itu. Di mana Yap Koh-seng?

“Ia tidak suka minum, dan tidak suka menonton orang lain minum, dan sekarang telah tiba waktunya bagi dia untuk pergi tidur!” Hoa Ban-lau menjawab.

“Menurutmu dia benar-benar pergi tidur?”

“Aku hanya tahu bahwa jika ia benar-benar ingin menemukan Sebun Jui-soat, maka tidak ada orang yang bisa menghentikannya!” Hoa Ban-lau kembali menarik nafas.

______________________________

Liok Siau-hong tidak sering mabuk, tapi ia sering berpura-pura mabuk. Karena bila dia berpura-pura mabuk, dia bisa membuat semua suara berisik yang dia inginkan tanpa mendapat kesulitan karenanya. Hoa Ban-lau tidak memperdulikan suara berisik yang ia buat, tapi ini adalah Lam-ong-hu, ia tidak ingin Liok Siau-hong merusak periuk nasi Kim Kiu-leng.

Liok Siau-hong mengetuk-ngetukkan sumpitnya pada cawan arak untuk membuat irama.

Sungai Kuning mengalir di antara awan-awan putih,
Benteng yang sunyi bertengger di atas gunung yang bagaikan golok.
Mengapa seruling harus menggunakan pohon liu untuk mengucapkan selamat tinggal,
Angin musim semi tak bisa melewati Giok-bun.

Itu adalah syair terkenal dari penyair dinasti Tang, Wang Zhi Huan, dan kebetulan juga merupakan puisi kesukaan Pek-in-seng-cu Yap Koh-seng. Jelas dia masih sedang memikirkan tentang Yap Koh-seng. Jelas, dia masih belum mabuk.

{Saya minta maaf untuk terjemahan kasar dari puisi yang indah ini. Bagi yang memahami bahasa Cina:

Huang He yun shang bai yun bian,
Yi pian gu cheng wan ren shan.
Qiang di he xu chou yang liu,
Chun feng bu du yu men guan.

Puisi ini adalah salah satu puisi terbesar dan paling terkenal di Cina. Isinya sebenarnya ada kaitannya juga dengan Yap Koh-seng. Koh-seng dalam nama Yap Koh-seng berarti benteng/kota yang sunyi dan nama julukannya cocok benar dengan puisi ini. Giok-bun (Gerbang Kemala)sendiri adalah simbolis dan merupakan gerbang yang paling sering disebut-sebut dalam puisi Cina. Letaknya di pertemuan antara Tembok Besar dan Sungai Kuning. Isi puisi ini juga menyiratkan karakter Yap Koh-seng. Bila baris-baris terakhir bicara tentang bagaimana angin musim semi tidak pernah melewati Giok-bun, ini berarti bahwa pohon liu tidak akan pernah tumbuh subur, karena tak ada Musim Semi.}

Ia selesai menyanyikan satu puisi dan berpindah ke puisi yang lain. Seolah-olah ia sedang merasa gatal untuk menyanyikan puisi-puisi itu dengan suara yang keras.

“Kau bilang seseorang sedang menunggumu di luar, siapakah dia?” Hoa Ban-lau tiba-tiba bertanya.

Liok Siau-hong berhenti bernyanyi. Tentu saja dia tidak benar-benar mabuk, tapi Sih Peng mungkin saja. Bila seseorang sedang cemas dan kesal, sangat mudah baginya untuk mabuk. Liok Siau-hong melompat bangkit dan berlari keluar.

“Menurutmu, siapa yang sedang menunggunya di luar?” Kim Kiu-leng bertanya.

“Pasti Sih Peng!” Hoa Ban-lau bahkan tidak perlu berfikir sama sekali.

“Tentu saja!”

“Aku tahu kalau Sih Peng sangat menyukainya, dan dia juga selalu menyukai Sih Peng!”

Tapi Sih Peng tidak menunggunya di penginapan. Kenyataannya, ia malah belum kembali ke sana sejak mereka berpisah. Liok Siau-hong tahu bahwa, saat ini, hanya ada satu cara baginya untuk menemukan Sih Peng: Coa-ong. Kali ini dia tidak membutuhkan seseorang untuk menunjukkan jalan.

***

Malam telah larut, tapi Coa-ong masih belum tidur. Dia pun tidak terkejut saat melihat kedatangan Liok Siau-hong.

“Aku sedang menantikanmu!”

“Kau sedang menungguku? Kau tahu aku akan datang ke sini?”

Coa-ong mengangguk.

“Sih Peng tadi ke mari?” Ia bertanya lagi.

Coa-ong kembali mengangguk.

“Dia lama berada di sini, minum. Minum yang banyak. Dan dia pun banyak bicara!”

“Apa yang ia katakan?”

“Ia bilang bahwa kau seorang telur busuk, dan bahwa kau sama sekali bukan manusia. Walau dia tersenyum, tanda-tanda kecemasan terlihat jelas dari senyumannya.”

“Ia tentu mabuk!” Liok Siau-hong tersenyum sabar.

“Tapi ia tetap bersikeras ingin pergi, ia ingin mencarimu. Aku tak bisa menghentikannya, tapi aku pun tak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Maka aku hanya bisa mengutus 2 orang anak-buahku untuk membuntutinya dan melindunginya kalau-kalau terjadi sesuatu!”

“Apakah kedua orang itu telah kembali?”

“Mereka tak akan kembali!” Coa-ong menarik nafas.

“Mengapa tidak?” Ekspresi wajah Liok Siau-hong pun berubah.

“Seseorang telah menemukan mayat mereka, tapi Nona Sih tidak terlihat di mana-mana!” Ekspresi wajah Coa-ong pun tampak sangat serius.

***

Mayat-mayat itu ditemukan di sebuah gang yang gelap. Luka yang mematikan tampak di mata mereka. Saat mereka mati, mereka telah buta.

“Siu-hoa Tay-to (Bandit Penyulam)!” Tubuh Liok Siau-hong menjadi dingin. Mungkinkah Sih Peng telah jatuh ke tangan Bandit itu? Mungkinkah ia tahu bahwa Liok Siau-hong telah menemukan rahasianya? Paling tidak hal ini membuktikan satu hal: petunjuk yang ditemukan Liok Siau-hong itu benar! Berhasil menemukan sebuah fakta dalam awan keraguan dan kebimbangan yang bergolak seharusnya merupakan hal yang menggembirakan. Tapi Liok Siau-hong merasa seolah-olah hatinya telah tenggelam hingga ke ujung kakinya dan terinjak oleh dirinya sendiri. Tiba-tiba ia menyadari bahwa perasaannya terhadap Sih Peng ternyata lebih kuat daripada yang ia kira. Sekembalinya ke villa kecil itu, dia menemukan Coa-ong masih menunggunya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Coa-ong menuangkan secawan arak dan memberikannya padanya. Liok Siau-hong mengangkat cawan itu, tapi kemudian meletakkannya kembali.

“Kau tidak ingin minum?”

“Aku hanya ingin meringankan kepalaku sedikit!” Liok Siau-hong memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Senyumannya itu membuatnya terlihat seakan sedang menangis. Coa-ong tak pernah melihatnya demikian sedih sebelumnya.

“Aku punya lebih dari 3000 orang saudara yang bekerja untukku, asal Nona Sih masih berada di kota ini, aku akan menemukannya!” Kata-katanya itu tidak bermaksud sekedar untuk menghibur Liok Siau-hong, dia benar-benar memiliki kekuasaan sebesar itu. Tapi, saat dia menemukan Sih Peng, tubuh gadis itu pun mungkin sudah dingin.

“Pernahkah kau dengar tentang seorang laki-laki brewok yang bisa menyulam?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya.

“Walaupun tidak pernah, kurasa kau datang ke sini karena urusan ini!” Coa-ong menggeleng.

“Kedua orangmu itu mati di tangan orang ini, maka…..”

“Jadi kau khawatir kalau Nona Sih juga telah jatuh ke tangan orang ini?”

Liok Siau-hong mengangkat cawan itu sekali lagi.

Tapi kali ini Coa-ong yang menghentikannya.

“Jika kau benar-benar ingin meringankan kepalamu sedikit, maka cara terbaik adalah tidur sebentar!”

“Jika kau adalah aku, bisakah kau tidur?” Liok Siau-hong tersenyum letih.

“Aku tidak pernah tidur satu malam pun dalam 10 tahun ini,” Coa-ong juga tersenyum letih. “Ini adalah sebuah penyakit juga. Tapi penyakit ini telah membuatku jadi ahli dalam masalah ini, maka aku punya obat khusus untuk masalah tersebut.”

Obat itu adalah semacam bubuk putih yang berada di dalam sebuah botol giok berwarna hijau dan transparan. Coa-ong menuangkannya sedikit ke dalam arak.

“Kau bisa duduk di sini dan menatap hampa selama 10 tahun lagi dan kau tetap tak akan berhasil menyelamatkan Nona Sih. Tapi jika kau bisa tidur sebentar dan meringankan segala fikiranmu, mungkin kau bisa menemukan sebuah cara untuk menyelamatkannya.”

Liok Siau-hong bimbang sebentar sebelum akhirnya meneguk arak itu.

______________________________

Saat dia bangun, hari telah siang, sinar matahari menerobos masuk melalui tirai sutera hijau itu. Coa-ong sedang duduk di bawah tirai dan, dengan sehelai kain yang berwarna putih seperti salju, sedang menggosok sebatang pedang hingga mengkilap. Sebatang pedang yang sangat tipis dan sempit yang terbuat dari besi bermutu tinggi yang telah ditempa sebanyak ratusan kali. Pedang ini bisa dililitkan di pinggang seperti sehelai ikat pinggang. Inilah senjata Coa-ong yang terkenal: Leng-coa-kiam (Pedang Ular Sakti).

“Apa yang sedang kau lakukan?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya sambil duduk.

“Aku sedang menggosok pedangku.”

“Tapi sudah 10 tahun kau tidak pernah menggunakan pedang itu lagi.”

“Aku sedang menggosoknya, aku tidak bermaksud menggunakannya.”

Dia tidak memandang mata Liok Siau-hong, seakan-akan dia khawatir kalau Liok Siau-hong nanti menemukan sebuah rahasia tertentu. Walau bermandikan sinar matahari, air mukanya tetap tampak pucat pasi. Hanya orang-orang yang benar-benar menderita insomnia (penyakit tak bisa tidur) yang bisa tahu betapa menakutkan dan betapa menyakitkan penyakit itu. Ini bukanlah sebuah penyakit lagi, tapi sebuah hukuman dan siksaan yang lebih mengerikan daripada penyakit mana pun. Orang ini telah tersiksa selama 10 tahun.

Liok Siau-hong menatapnya.

“Dan aku tak pernah bertanya tentang masa lalumu!” Akhirnya ia berkata lambat-lambat setelah beberapa lama.

“Memang tidak.”

“Aku tidak bertanya, mungkin hanya karena aku sudah tahu!”

“Apa yang kau ketahui?” Ekspresi wajah Coa-ong segera berubah.

“Aku tahu kau dulu bukanlah Coa-ong. Seorang sepertimu tidak akan pernah menjadi seorang Coa-ong jika kau tidak berusaha menghindar dari sesuatu yang sangat menyakitkan.”

“Menjadi Coa-ong bukanlah hal yang aneh,” Coa-ong menjawab dengan dingin. “Bisakah kau katakan bahwa hidupku tidak jauh lebih nyaman daripada sebagian besar manusia di dunia ini?”

“Tapi kau bukanlah orang seperti ini. Jika bukan karena melarikan diri dari sesuatu, kau tak akan pernah bersembunyi di gang-gang gelap di kota ini!”

“Jadi orang seperti apakah aku ini?”

“Aku tidak tahu, aku hanya tahu bahwa kau adalah sahabatku. Dan di antara sahabat seharusnya hanya ada kejujuran!”

Air muka Coa-ong tampak bertambah pucat sebelum dia tiba-tiba menarik nafas lelah.

“Seharusnya kau tidak bangun begitu cepat!”

“Tapi aku telah bangun sekarang!”

“Menurutmu, aku melarikan diri dari apa?”

“Kebencian dan balas dendam! Tidak banyak hal di dunia ini yang bisa menyebabkan rasa sakit seperti yang dilakukan oleh perasaan benci!”

Ekspresi wajah Coa-ong benar-benar tampak merasa sakit.

“Kau datang ke sini untuk melarikan diri dari kebencian itu dan menyembunyikan dirimu dalam gang-gang gelap di kota ini. Karena kau tahu bahwa musuhmu tak pernah mengira bahwa kau akan menjadi Coa-ong.”

Coa-ong ingin menyanggahnya, tapi ia tidak membuka mulutnya.

“Tapi kau pun tak pernah melupakan kebencian ini. Itulah sebabnya, segera setelah mendapat kesempatan, kau akan menyelesaikan seluruh urusan itu!” Tiba-tiba ia berjalan menghampiri, meletakkan tangannya di pundak Coa-ong, menatap lurus ke matanya, dan berkata, sambil menekankan setiap kata. “Apakah kau menemukan kesempatanmu sekarang? Apakah kau mendapatkan keterangan tentang keberadaan musuhmu?”

Mulut Coa-ong tetap tertutup, tapi ekspresi wajahnya tampak semakin sakit!

“Siapakah musuhmu itu? Apakah orang itu berada di kota ini?”

Mulut Coa-ong masih tetap terkunci.

“Kau tak perlu memberitahuku, tapi aku pun tak akan membiarkanmu pergi.”

“Sudah cukup banyak hal yang harus kau khawatirkan, mengapa kau masih turut campur dalam urusan orang lain?” Coa-ong bertanya dingin dengan wajah yang kaku.

“Aku tahu betul bahwa kau tidak ingin orang lain membalas budi baikmu, itulah sebabnya kau tidak mau bercerita padaku.”

Coa-ong menutup mulutnya lagi.

“Dan aku pun tidak ingin membalas budimu, aku hanya ingin berjual-beli denganmu!”

“Berjual-beli apa?” Coa-ong tak tahan untuk tidak bertanya.

“Biarkan aku berurusan dengan orang itu untukmu, dan kau mencari Sih Peng untukku!”

“Kau benar,” Coa-ong mengepalkan tinjunya dengan erat, tapi tangannya yang kurus dan pucat tak berhenti bergetar. “Aku punya seorang musuh, dan memang ada sebuah urusan yang belum terselesaikan antara aku dan orang itu.”

“Jadi dugaanku benar!”

“Karena hal ini adalah urusan pribadiku, mengapa aku harus membiarkanmu menggantikanku?” Coa-ong mendengus.

“Karena tanganmu gemetaran,” Liok Siau-hong balas mendengus. “Karena selama 10 tahun ini kau sakit, karena kau telah tersiksa hingga ke titik di mana kau bahkan tidak tampak seperti seorang manusia lagi. Karena jika kau pergi sekarang, itu sama saja dengan bunuh diri!”

Tubuh Coa-ong yang kaku tiba-tiba menjadi lemas di kursinya, seolah-olah seluruh tubuhnya telah melunglai.

Tapi Liok Siau-hong masih belum melunak. “Mungkin itulah yang kau inginkan, mati. Karena kau merasa bahwa hidup terus adalah jauh lebih menyakitkan daripada mati. Tapi aku tidak ingin melihatmu mati di tangan orang itu, dan tidak ingin melihat orang yang menghukummu hingga menderita seperti ini hidup di dunia ini.” Ia menggenggam tangan Coa-ong yang dingin dengan erat dan meneruskan, sambil menekankan setiap patah katanya. “Karena kita bersahabat!”

Coa-ong menatap matanya, tiba-tiba air matanya mulai mengucur seperti pancuran.

“Pernahkah kau melihat isteriku? Tentu saja belum. Maka kau juga tak akan pernah tahu betapa hangat dan lembutnya dia sebagai seorang wanita.” Ia bergumam. “Pernahkah kau melihat kedua puteraku? Mereka adalah anak-anak yang cerdas dan lucu, mereka baru berumur 5 dan 6 tahun.”

“Mereka tewas di tangan manusia itu?” Liok Siau-hong bertanya dengan rahang terkatup rapat.

“Ia bukan manusia!” Coa-ong mulai sesenggukan lagi, suaranya semakin serak. “Hatinya lebih berbisa daripada ular atau kalajengking, sifatnya juga lebih kejam daripada monster. Mungkin ia adalah seorang setan betina yang telah melarikan diri dari neraka jahanam!”

“Dia seorang wanita?”

Coa-ong mengangguk.

“Siapa namanya?”

“Kongsun-toanio.”

Coa-ong menjelaskan lagi. “Namanya yang sebenarnya adalah Kongsun Lan, Lan seperti dalam anggrek. Menurut kabar burung, ia adalah keturunan dari si cantik yang termasyur Kongsun-toanio di jaman awal Dinasti Tang. Maka orang-orang yang mengenalnya semua memanggilnya Kongsun-toanio juga.”

“Tapi aku tidak mengenalnya, aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.”

“Dia tidak terkenal, dia juga tidak ingin terkenal. Menurutnya, kemasyuran itu hanya akan membawa kesulitan.”

“Paling tidak ia tentu seorang wanita yang sangat cerdas.” Desah Liok Siau-hong. Siapa lagi yang lebih tahu tentang kesulitan dan kecemasan yang datang bersamaan dengan kemasyuran selain dari Liok Siau-hong?

“Tapi dia menggunakan banyak nama alias, nama-nama itulah yang mungkin kau kenal!”

“Oh?”

“Li-to-hou (Wanita Penjagal), Tho-hoa-hong (Tawon Bunga Persik), Ngo-tok-niocu (Nyonya Lima Racun), Siu-hun Popo (Nenek Perenggut Jiwa). Kau tentu telah mendengar semua nama ini sebelumnya!”

“Mereka semua itu adalah dia?” Ekspresi wajah Liok Siau-hong pun berubah.

“Semuanya.”

“Tampaknya dia benar-benar seorang wanita yang sangat hebat dan menakutkan.” Liok Siau-hong menarik nafas dan bertanya. “Jika gerak-geriknya begitu rahasia, lalu bagaimana caramu menemukannya?”

“Aku tidak menemukan dia, dialah yang menemukan aku.” Coa-ong memasukkan tangannya ke dalam bajunya dan mengeluarkan sehelai amplop yang tadinya tergulung kusut tapi kemudian dilicinkan kembali.

“Aku tahu siapa dirimu, dan aku juga tahu kau tentu benar-benar ingin menemuiku. Saat senja hari bulan purnama, aku akan menunggumu di Se-wan (Taman Barat). Sebaiknya kau datang membawa beberapa keping uang perak dan mengundangku untuk mencicipi masakan sayur-sayuran yang terkenal di sana.”

Tulisan tangan itu sangat rapi, sangat indah. Di bagian bawah di mana orang biasanya mencantumkan tanda-tangannya, malah terdapat gambar sekuntum bunga anggrek.

“Ia memberikan surat ini pada salah satu anak-buahku yang berada di bagian selatan kota dengan instruksi menyerahkannya langsung padaku!”

“Ia tidak memberikan surat ini langsung padamu, mungkin karena ia tidak tahu di mana kau tinggal!” Liok Siau-hong termenung setelah berfikir sebentar.

“Memang tidak banyak orang yang bisa sampai ke tempatku yang kecil ini!”

“Se-wan, apakah itu Taman Barat di mana ada sebaris pohon flamboyan di dalamnya?”

“Ya.”

“Dan hari ini adalah hari bulan purnama?”

“Hari ini tanggal 15.”

“Ia mengatur pertemuan itu pada malam hari, sekarang masih pagi dan kau telah bersiap-siap untuk pergi?”

“Kau fikir sekarang ini waktu apa? Pagi?”

Liok Siau-hong tiba-tiba melihat bahwa sinar matahari di luar sana mulai pudar, ternyata matahari sudah hampir terbenam.

“Dosis obat itu sebenarnya cukup untuk membuatmu tidur sampai besok pagi, tapi tampaknya tidak ada obat yang cukup kuat untukmu.”

“Mungkin karena aku benar-benar sudah hampir mati rasa.” Liok Siau-hong tersenyum sabar.

“Aku tahu kalau aku benar-benar bukan tandingannya,” Coa-ong memandang Liok Siau-hong. “Tapi kau……”

“Kau tidak perlu mencemaskanku, aku pernah bertemu dengan orang-orang yang 10 kali lebih menakutkan daripada dia dan aku masih bisa berada di sini.” Ia tidak membiarkan Coa-ong menjawab dan meneruskan. “Tapi masih ada satu hal yang membuatku khawatir!”

“Apa itu?”

“Aku khawatir kalau aku tak dapat menemukannya. Karena ia memiliki segala macam nama yang berbeda, maka ia tentu memiliki segala macam wujud yang berbeda-beda pula. Di samping itu, setiap wanita hanya perlu mengganti pakaiannya dan mereka akan tampak benar-benar berbeda.”

“Keahlian menyamarnya memang benar-benar luar biasa dan ia sangat jarang memperlihatkan wajahnya yang asli pada orang lain. Tapi ia memiliki sebuah cacat, asal kau tahu cacat ini, maka kau akan selalu dapat mengenalinya!”

Kelihatannya setiap wanita memang memiliki semacam cacat.

“Apa cacatnya?” Liok Siau-hong cekikikan sedikit.

“Cacatnya sangat luar biasa. Tampaknya, semakin cerdas dan cantik wanita itu, semakin luar biasa pula cacatnya. Ia memiliki sebuah kebiasaan. Tak perduli apa pun yang ia pakai, tak perduli ia sedang menyamar jadi apa, sepatu yang ia kenakan tidak pernah berubah!”

“Sepatu macam apa yang ia kenakan?” Mata Liok Siau-hong tampak berkilauan.

“Sepatu merah!”

Liok Siau-hong tersentak.

“Sepatu sulam berwarna merah darah, seperti yang dipakai oleh pengantin di hari pernikahannya. Tapi bukan angsa yang tersulam di sepatu itu, melainkan burung hantu!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: