Kumpulan Cerita Silat

24/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (16)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:15 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 16. Sekali Memasuki Gedung Sepuluh Ribu Kuda, Lupakan Untuk Kembali Pulang
Oleh Gu Long

Disana terdapat paviliun kecil di tengah padang belantara.

Para pengendara suka menyebut tempat ini Sarang Kedamaian dan Kebahagiaan. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dengan paviliun ini. Namun tempat tersebut satu-satunya tempat untuk berteduh saat hujan.

Saat hujan mulai turun, Ye Kai dan Ma Fang Ling berlari ke arah paviliun ini.

Tetesan hujan betul-betul sangat besar, hingga sebesar butiran mutiara.

Dataran yang luas, padang rumput yang tidak bertepi itu saat hujan terlihat seperti pemandangan yang keluar dari alam mimpi.

Ma Fang Ling duduk pada salah satu kursi panjang di paviliun tersebut. Kedua tangannya diletakan di atas lutunya sambil memandangi hujan. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun selama beberapa saat.

Saat wanita sedang membisu, Ye Kai tidak pernah berkeinginan untuk membuatnya berbicara. Dia merasa bila semua wanita di dunia lebih sedikit membuka mulutnya, maka laki-laki pasti akan hidup lebih lama.

Kilat menyinari dan menerangi wajah menarik Ma Fang Ling.

Raut wajahnya memperlihatkan dia kurang sehat. Terlihat sekali dia kurang istirahat dan terlalu banyak pikiran dibenaknya.

Namun dia terlihat semakin dewasa dan lebih memahami keadaan dunia disekitanya.

Ye Kai menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri dan meminumnya seteguk. Dia hanya berharap poci teh tersebut berisi arak. Dia bukan seorang yang kecanduan arak, namun saat dia dalam keadaan sangat senang atau sangat sedih, dia hanya ingin minum.

Saat ini dia merasa sangat sedih, sehingga yang dia ingingkan hanyalah minum.

Ma Fang Ling mengangkat kepalanya, memandanginya dan berkata,” Ayahku tidak pernah menyetujuiku bersama denganmu.”

“Oh?”

“Namun untuk suatu alasan, dia menyuruhku untuk menemuimu dan menemanimu seharian.” Ma Fang Ling berkata.

Ye Kai tersenyum dan menjawab,” Meskipun dia telah memilih orang yang tepat, namun dia telah memilih waktu yang salah.

Ma Fan Lin menggigit bibirnya dan bertanya,” Tahukah kau kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran.”

“Aku tidak tahu.” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling menatapnya dan berkata,” Engkau pasti banyak bicara kepadanya pagi ini.”

Ye Kai tertawa dan menjawab,” Engkau seharusnya tahu dia seorang yang tidak banyak bicara, dan juga aku.”

Ma Fang Ling tiba-tiba melompat dan berteriak,” Kalian berdua pasti berbicara banyak hal yang tidak ingin aku ketahui. Apa saja yang tidak ingin engkau katakan padaku?”

“Engkau benar-benar ingin tahu?” Ye Kai bertanya dengan nada yang serius.

“Tentu saja aku ingin tahu.” Ma Fang Ling menjawab.

Ye Kai menoleh kepadanya dan berkata,” Bila kau katakan kepadamu bahwa dia ingin aku menikahimu, apakah engkau akan percaya?”

“Tentu saja tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Aku …” dia tiba-tiba membanting kakinya dan berputar,” Pikiranku sudah dipenuhi dengan kebingungan, berhenti becanda denganku.”

“Apanya yang salah?” Ye Kai bertanya.

“Aku betul-betul tidak tahu. Bila aku mengetahuinya, aku tidak akan sebingung ini.” Ma Fang Lin berkata.

“Kata-kata itu masuk akal.” Ye Kai menegaskan dan tersenyum.

“Tentu saja.” Ma Fang Ling menjawab. Dia membalikan badannya dan bertanya kepadanya,” Memangnya pikiranmu tidak pernah kacau?”

“Sangat jarang.” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling menggigit bibirnya dan bertanya kepadanya,”Engkau … apakah engkau tidak pernah memikirkan diriku?”

“Tentu saja memikirkan.” Ye Kai menjawab dengan kencang dan jelas.

Ma Fang Ling terperanjat, wajahnya memerah saat dia menundukan kepalanya dan menarik lengan bajunya. Setelah beberapa saat, dia berbisik halus,” Ditempat seperti ini, saat seperti ini, bila engkau benar-benar menyukaiku, engkau seharusnya mendekatiku dan memelukku.”

Ye Kai tidak berkata sepatah katapun. Dia kembali menuang secangkir teh.

Ma Fang Ling berhenti sebentar dan menunggu jawabannya, setelah beberapa saat dia tidak tahan untuk berseru,” Apakah engkau mendengar apa yang aku katakan?”

“Tidak.”

“Memangnya kau tuli?” Ma Fang Ling bertanya.

“Tidak.”

“Kalau tidak tuli kenapa tidak mendengarkanku?” Ma Fang Ling berkata.

Ye Kai menarik napas dan menjawab,” Meskipun telingaku masih baik, kadang aku lebih suka pura-pura tuli.”

Ma Fang Ling mengangkat kepalanya, berjalan kearahnya, dan memelukan lengannya ketubuhnya. Dia memeluknya dengan sangat erat.

Angin dan hujan sangat dingin menusuk dan sedikitpun tidak berbelas kasihan.

Kedua bibirnya panas menyala-menyala.

Jantungnya berdegup keas seperti tetesan air hujan yang menimpa padang rerumputan.

Namun Ye Kai mendorongnya. Pada saat seperti ini, Ye Kai malah mendorongnya.

Ma Fang Ling menatapnya dengan sorot pahit dimatanya. Seluruh tubuhnya rasanya seperti membeku. Dia menggigit bibirnya dengan keras dan kelihatannya dia ingin mencucurkan air matanya dan tersedu,”Kau … kau sudah berubah.”

“Aku tidak pernah berubah.” Ye Kai menjawab dengan lembut.

“Engkau tidak memperlakukanku seperti ini sebelumnya.” Ma Fang Ling berkata.

Ye Kai terdiam membisu. Setelah beberapa saat dia menarik napas dan berkata,”Hal ini karena aku memahamimu lebih baik sekarang daripada sebelumnya.”

“Apa yang engkau pahami?” Ma Fang Ling bertanya.

“Bahwa engkau sungguh-sungguh tidak menyukaiku.” Ye Kai menjawab.

“Aku tidak menyukaimu? Aku … apakah aku gila atau apa?”

“Engkau berlaku seperti ini karena engkau takut.”

“Takut apa?”

“Takut kesepian, takut tidak ada seorangpun yang peduli padamu di dunia ini.”

Mata Ma Fang Ling menjadi merah. Dia menundukan kepalanya dan terisak perlahan,”Bahkan bila seperti itupun, engkau seharusnya memperlakukanku lebih baik dari ini.”

“Bagaimana engkau ingin aku memperlakukanmu? Saat tidak ada seorangpun, engkau ingin aku memelukmu? Dan …”

Sebelum Ye Kai menyelesaikan ucapannya, Ma Fang Ling menampar wajahnya. Dia menggunakan segenap tenaganya meskipun tangannya terasa kaku, namun Ye Kai nampaknya seperti tidak merasakan sesuatu apapun. Matanya masih memandanginya dengan lekat, ke arah air matanya yang mulai merayap dipipinya.

Dia membanting kakinya dan berteriak kearahnya,”Engkau bukan manusia, aku menyadarinya sekarang bahwa engkau betul-betul bukan manusia, aku membencimu … aku membencimu sampai mati …”

Ma Fang Ling menangis tersedu-sedu dan berlari ketengah hujan.

Hujan betul-betul sangat deras.

Bayangannya telah kabur ditengah derasnya tetesan air hujan.

Ye Kai tidak mengejarnya, bahkan dia tidak bergerak sedikitpun. Namun untuk suatu sebata, terlihat raut sangat sedih dan sakit diwajahnya. Sebetulnya ada keinginan yang tidak tertahankan di dalam hatinya untuk mengejarnya dan memeluknya, namun dia tidak bisa.

Dia sama sekali tidak melakukan apapun. Dia hanya berdiri saja disitu seperti patung, menunggu hingga hujan berhenti …

Hujan akhirnya sudah berhenti.

Ye Kai berjalan menyeberangi jalan yang digenangi oleh air dan memasuki pintu yang sempit.

Segalanya di dalam gedung utama masih tenang dan diam, hanya terdengar suara kartu dibanting.

Xiao Bie Li masih terpaku pada kartu-kartu yang terletak dihadapannya. Ekspresi wajahnya sepertinya dia menanggung kecemasan yang tidak dapat diucapkan.

“Apa yang kau lihat hari ini?” Ye Kai bertanya kepadanya.

Xiao Bie Li menghela napas dan menjawab,” Aku tidak dapat melihat apapun hari ini.”

“Kenapa harus menghela napas panjang kalau tidak melihat apapun,” Ye Kai bertanya.

“Aku menghela napas karena tidak ada apapun yang terlihat.” Xiao Bie Li menjawab.

Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatap Ye Kai.” Hanya bila ada bencana yang sangat berbahaya mendekatiku maka aku tidak dapat melihat apapun.”

Ye Kai terdiam beberapa saat. Akhirnya dia menghela napas dan menegaskan,”Tapi ada satu hal yang aku lihat.”

“Oh?”

“Paling tidak engkau tidak akan bangkrut hari ini.”

Xiao Bie Li menunggunya melanjutkan, namun hanya itu yang Ye Kai katakan. Dia kemudian mengambil selembar uang kertas, meletakannya di atas meja, dan perlahan-lahan menggesernya ke arah Xiao Bie Li.

Xiao Bie Li menatap uang kertas tersebut dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Ada beberapa hal yang tidak perlu dikatakan, ada beberapa hal yang tidak perlu ditanyakan.

Setelah beberapa saat, Ye Kai tersenyum dan berkata,” Tahukah kau, aku sungguh-sungguh tidak ingin mengembalikannya kepadamu. Karena kau tidak pernah ingin aku membunuh Ma Kong Qun. Betul kan?”

“Oh?” Xiao Bie Li berseru.

“Engkau hanya ingin mengujiku, apakah aku betul-betul ingin membunuhnya.” Ye Kai berkata.

Xiao Bie Li tersenyum juga dan menjawab,”Engkau terlalu banyak berpikir, terlalu banyak berpikir bukanlah hal yang baik.”

“Baiklah, apapun yang terjadi, engkau seharusnya sekarang tahu bahwa aku bukan orang yang ingin membunuhnya.” Ye Kai berkata.

“Setiap orang tahu hal itu sekarang.” Xiao Bie Li menjawab.

“Kenapa begitu?”

“Karena Gong Sun Duan telah mati, dibawah golok Fu Hong Xue!”

Senyum Ye Kai membeku. Raut wajahnya bahkan terlihat lebih aneh.

Xiao Bie Li perlahan-lahan melanjutkan,” Tidak hanya Gong Sun Duan yang sudah mati, Yun Zai Tian dan Hua Men Tian juga sudah mati.”

“Mereka mati di bawah golok Fu Hong Xue juga?”

Xiao Bie Li menggelengkan kepalanya.

“Jadi siapa yang membunuh mereka?”

“Ma Kong Qun.”

Ye Kai betul-betul terperanjat. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya dia menghela napas dan berkata,”Sungguh tidak masuk akal, hal itu tidak masuk diakal.”

“Apakah itu?” Xia Bie Li bertanya.

“Dia sudah tahu bahwa musuhnya masih menunggu kesempatan untuk mencabut nyawanya, kenapa dia harus membunuhnya pesilatnya yang paling tangguh pada saat seperti ini?” Ye Kai menjawab.

“Dia selalu menjadi orang yang aneh, jadi kita selalu tidak akan pernah bayangkan apa yang akan dilakukannya.” Xiao Bie Li berkata.

Sebetulnya banyak sekali jawaban untuk pernyataan itu, namun Ye Kai kelihatannya menerimanya. Dia tiba-tiba mengubah pembicaraannya dan bertanya,” Dimana tamu kehormatanmu semalam?”

“Tamu kehormatanku?”

“Punggung Emas Ding Qiu.”

Xiao Bie Li seperti yang baru saja mengingat siapa Ding Qiu dan menjawab,” Dia juga seorang yang aneh, dia seringkali melakukan berbagai hal yang tidak pernah kita bayangkan juga.”

“Oh?”

“Aku tidak pernah berpikir aku akan melihatnya disekitar sini.” Xiao Bie Li berkata.

“Bukankah dia kesini untuk mencarimu?” Ye Kai bertanya.

“Siapa yang ingin mencari orang tua cacat sepertiku?” Xiao Bie Li berkata sambil tersenyum.

“Apakah dia masih di atas?”

“Dia sudah pergi.”

“Tahukah kau kemana dia pergi?”

“Mencari seseorang.”

“Mencari seseorang? Siapa?”

“Luo Luo Shan.”

Ye Kai terlihat kaget dan bertanya,”Keduanya bersahabat?”

“Bukan sahabat tapi musuh. Mereka bermusuhan sejak bertahun-tahun lamanya.”Xiao Bie Li menjelaskan.

“Apakah Ding Qiu kesini karena mau mencari Luo Luo Shan?” Ye Kai menduga-duga.

“Mungkin.”

“Apa yang sebenarnya terjadi diantara keduanya?” Ye Kai bertanya.

Xiao Bie Li menarik napas dan menjawab,” Siapa yang tahu. Kedengkian dan perselisihan di dunia persilatan selalu sulit diterka.”

Ye Kai terdiam beberapa saat. Kemudian, dia tiba-tiba bertanya,” Beberapa tahun lalu, terdapat senjata rahasia paling kejam dan jahat. Kabar burung mengatakan bahwa wanita tersebut adalah pewaris dari Nenek Bunga Merah.”

“Yang kau maksudkan Jarum Perusak Usus, Nenek Du?” Xiao Bie Li menjawab.

“Tepat.” Ye Kai berkata.

“Aku pernah mendengarnya sebelumnya.” Xiao Bie Li berkata.

“Apakah engkau pernah melihatnya sebelumnya?” Ye Kai bertanya.

“Wanita tersebut adalah seseorang yang lebih baik tidak pernah aku temui seumur hidupku.” Xiao Bie Li menjawab dengan senyuman pahit.

“Dan anggota terakhir Setan Hidup Seribu Wajah, yang disebut dengan Penipu Tak Bertulang, Xi Men Chun, aku yakin engkau pernah mendengarnya juga.” Ye Kai berkata.

“Aku lebih baik bertemu dengan Bibi Du dari pada berlari kepada orang tersebut.”Xiao Bie Li menegaskan.

“Baiklah, dari yang aku pernah dengar, keduanya telah tiba disini.”Ye Kai berkata perlahan-lahan.

Ekspresi wajah Xiao Bie Li sedikit berubah.”Kapan mereka tiba?”

“Mereka telah berada disini beberapa saat.” Ye Kai menjawab.

Xiao Bie Li terdiam sesaat sebelum dia menggelengkan kepalanya membantah,” Tidak mungkin, tidak ada perlunya mereka datang ke tempat ini. Kita pasti sudah mengetahuinya bila mereka telah tiba disini.”

“Bukankah Gedung Sepuluh Ribu Kuda merupakan tempat bersembunyinya pesilat-pesilat tangguh?” Ye Kai berkata.

Xiao Bie Li menganggukan kepalanya, kemudian menggerakan kepalanya ke belakang dan kedepan.

“Mungkin karena keduanya telah tiba di Gedung Sepuluh Ribu Kuda, maka sangat berbahaya kesana.” Ye Kai berkata.

Xiao Bie Li tiba-tiba tersenyum dan menjawab,” Itu urusan Gedung Sepuluh Ribu Kuda, apa hubungannya dengan kita?”

“Mungkin aku telah berbicara terlalu banyak hari ini.” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

Dia kelihatannya mau pergi, namun saat dia baru saja mau melewati pintu. Seorang laki-laki berpakaian putih yang ditutupi dengan garis kain linen. Ditangannya terlihat seperti surat undangan.

Tapi ternyata bukan juga, itu adalah berita kematian.

Berita kematian Gong Sun Duan, Yun Zai tian dan Hua Men Tian. Dikirimkan oleh Ma Kong Qun, dan tanggal pemakaman dijadwalakan esok hari. Upacara akan dilakukan pada pagi hari, penguburan saat siang dan acara resepsi tamu setelahnya.

Salah satunya dialamatkan kepada Ye Kai. Orang berpakaian puith yang memegang berita kematian berjalan ke arah Ye Kai, menundukan kepalanya dan berkata,” Majikan Ketiga memerintahkanku mengantarkan undangan untuk Tuan Xiau dan Tuan Muda Ye untuk memberikan penghormatannya.”

Xiao Bie Li menghela napas dan menjawab,”Teman baik selama bertahun-tahun, menghilang selamanya dalam satu hari saja. Bagaimana mungkin aku tidak hadir?”

“Aku juga akan hadir juga.” Ye Kai berkata.

Pengirim pesan dengan baju putih menganggukan kepalanya tiga kali.

“Kelihatannya banyak berita kematian yang telah dikirim keluar.” Ye Kai tiba-tiba berkomentar.

“Majikan Ketiga dan Tuan Gong Sun adalah sabahat dalam suka dan duka, pada saat paling akhir dia ingin melakukan upacara penghormatan pemakaman.” Pengirim pesan menjawab.

“Semua orang di kota memperoleh undangan?” Ye Kai bertanya.

“Kepada setiap orang.” Pengirim pesan berkata.

“Bagaimana dengan Fu Hong Xue?” Ye Kai berkata.

Sorot mata benci terlihat diwajah laki-laki berbaju putih itu dan menjawab,”Ada juga undangannya untuknya, namun aku ragu dia akan muncul.”

“Aku rasa dia akan hadir.”

“Begitukah.”Pengirim pesan menjawab dengan dingin.

“Apakah engkau sudah berhasil menemuinya?” Ye Kai bertanya.

“Belum.”Pengirim pesan berbaju putih berkata.

“Jangan khawatir, aku akan mengantarkannya.” Ye Kai berkata.

Laki-laki baju putih berhenti sesaat, kemudian menganggukan kepalanya dan menjawab,”Aku harus mengucapkan terima kasih karena telah menyusahkan. Aku sungguh-sungguh tidak ingin melihat orang tersebut, sebaiknya dia membiarkan siapapun melihat dirinya.”

Xiao Bie Li menatap berita kematian yang berada ditangannya. Saat pengirim pesan baju putih tersebut telah pergi, dia menghela napas dan berseru,”Siapa yang menyangka mereka juga mengirimkan undangan kepada Fu Hong Xue.”

“Seperti yang engkau katakan, Ma Kong Qun adalah orang yang aneh. Namun Fu Hong Xue sudah pasti akan muncu;.” Ye Kai menegaskan.

“Mengapa begitu?” Xiao Bie Li bertanya.

Ye Kai tersenyum dan menjawab,”Karena aku dapat mengatakan bahwa dia bukan tipe orang yang suka melarikan diri.”

“Namun bila engkau adalah sahabatnya, engkau seharusnya memintanya untuk tidak hadir.”Xiao Bie Li berkata dengan nada suara yang dalam.

“Bagaimana bisa?” Ye Kai berkata.

“Engkau dapat mengatakan bahwa upacara pemakamaman ini sudah jelas merupakan jebakan?” Xiao Bie Li berkata.

“Jebakan?”

“Pada saat Fu Hong Xue menginjakan kakiknya di Gedung Sepuluh Ribu Kuda, dia telah melupakan untuk kembali pulang.

Kerajaan langit, kerajaan bumi. Darah menetes dari kedua mata, bulan tidak lagi bersinar. Sekali memasuki Gedung Sepuluh Ribu Kuda, lupakan untuk kembali pulang.

________________________________________

Siang hari. Hujan telah berhenti, langit yang cerah diatas hingga ribuan mil jauhnya.

Ye Kai mengetuk pintu Fu Hong Xue.

Tidak ada seorangpun yang melihat Fu Hong Xue sejak tadi pagi. Setiap dia mengatakan orang pucat cacat tersebut, dia selalu menemukan pandangan ganjil, sepertinya mereka baru saja melihat seorang yang sangat jahat.

Berita bahwa Gong Sun Duan telah binasa oleh Fu Hong Xue telah menyebar ke seluruh kota..

Tidak ada satupun jawaban dari pintu, namun satu pintu yang berdekatan dengannya terbuka dan terlihat seorang wanita tua yang telah beruban. Dia memperlihatkan kecurigaaan dan kekhawatiran saat menatap Ye Kai.

Wajahnya dipenuhi dengan keriput dan kulitnya telah menua dan berkerut-kerut.

Ye Kai mengenal wanita tua ini pemilik gubuk ini, dengan terseyum dia bertanya,”Apakah Tuan Muda Fu disini?”

“Tidak ada Tuan Muda Fu disini, hanya pengemis miskin yang tinggal digubuk ini.”Wanita tua menjawab sambil menggelengkan kepalanya.

Ye Kai tersenyum, kelihatannya tidak ada hal apapun yang dapat membuatnya marah.

Wanita tua itu tiba-tiba menambahkan,”Bila engkau mencari orang pucat cacat tersebut, dia telah mengemasi barang-barangnya.”

“Dia telah pergi? Kapan? Ye Kai bertanya.

“Baiklah, secepatnya dia akan memperoleh barang-barangnya.” Wanita tua itu menjawab.

“Dan bagaimana engkau tahu hal itu?” Ye Kai berkata.

“Karena aku tidak menerima pembunuh disini.” Wanita tua itu menjawab dengan dingin.

Ye Kai akhirnya mengerti bahwa menyerang Gedung Sepuluh Ribu Kuda sama saja dengan bermusuhan dengan seisi kota. Dia tidak berkata-kata lagi. Dengan tersenyum, dia berbalik dan berjalan keluar gang.

Wanita tua itu mengikutinya keluar dan berkata,”Bila engkau tidak ada tempat untuk tinggal, aku dapat menyewakan ruangan bagimu.”

“Bagaimana engkau tahu aku bukan pembunuh?” Ye Kai menjawab.

“Engkau tidak terlihat seperti itu.”Wanita tua itu berkata.

Ekspresi wajah Ye Kai memberengut dengan nada yang dalam dia menjawab,”Engkau salah. Bukan saja aku adalah pembunuh, aku telah membunuhn lebih dari tujuh puluh atau delapan puluh orang sebelumnya.”

Mulut wanita muda itu terperangah, wajahnya dipenuhi dengan ketakutan dan keterkejutan.

Ye Kai kemudian melangkah keluar gang. Dia berharap dia akan bertemu dengan Fu Hong Xue secepatnya.

Meskipun dia belum melihat Fu Hong Xue, dia tidak berharap bertemu dengan Ding Qiu, yang sedang menghirup teh hangat di dalam sebuah kedai diseberang jalan. Dia mengenakan kemeja hijau yang terbuat dari bahan kain yang mewah, ekspresi wajahnya membuat dia malas melakukan apapun.

Di sisi jalan lainnya terdapat seorang penggembala yang sedang menggembalakan empat atau lima ekor domba yang berjalan berbaris di tengah jalan.

Meskipun cuaca sedikit mendingin setelah hujan badai yang deras, namun keadaan masih terasa cukup panas. Namun penggembala tersebut mengenakan mantel wool yang tebal dan topi jerami. Topinya bertengger rendah dikepalanya, pada tangannya tergenggam tongkat gembala, dan dia bersiul saat berjalan.

Hanya orang yang tidak punya yang menjadi gembala. Ditengah padang rumput seperti ini, peternak elang dan kuda sangat dihormati. Penggembala tidak saja miskin namun juga dipandang rendah.

Orang-orang dijalan tidak ada yang peduli melihatnya. Sebalinya tidak ada seorangpun yang menaruh perhatian kepadanya dia menghindari berjalan di tengah jalan. Dia kelihatannya tergesa-gesa menggembalakan dombanya sepanjang jalan.

Siapa yang tahu seseorang dijalan memperhatikannya. Mata Ding Qiu membesar saat dia melihat penggembala tersebut, sepertinya dia telah menantinya sepanjang waktu.

Ye Kai menghentikan langkahnya. Dia menatap sipenggembala, kemudian menatap Ding Qiu. Matanya juga membesar.

Jalan masih basah. Saat penggembala berjalan memutari genangan air, dia melihat Ding Qiu telah melangkah dan menghadang jalannya. Sipenggembala tidak melihat ke atas dan berjalan memutari Ding Qiu sepertinya dia tidak memiliki keberanian.

Kelihatannya Ding Qiu mau membuat persoalan dengan penggembala tersebut, saat dia menghentikannya dan berkata,”Sejak kapan engkau menjadi penggembala domba?”

Sipenggembala terlihat terkejut dan menjawab dengan cemas,”Sejak masih kecil.”

Ding Qiu tersenyum dingin dan menghardik,”Jangan katakan yang kau pelajari di Gunung Butong adalah menggembala.”

Sipenggembala terlihat ketakutan, dia perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan melihat Ding Qiu kemudian menjawab,”Apakah aku mengenalmu? Aku rasa engkau salah mengenali orang.”

“Nama marganya Luo, Luo Luo Shan, meskipun seluruh tulangmu berubah menjadi debu aku masih mengenalimu. Kemana engkau akan kabus kali ini?” Ding Qiu berkata.

Apakah penggembala tersebut benar-benar Luo Luo Shan.

Dia tediam beberapa saat, kemudian menghela napas dan menjawab,”Meskipun engkau masih mengenaliku, aku khawatir aku masih tidak mengenalmu.”

Dia benar-benar Luo Luo Shan.

Ding Qiu tersenyum dingin. Tiba-tiba dia merobek jubah hijaunya dan memperlihatkan bajunya yang mewah dibaliknya dan punggung bongkoknya.

“Naga Punggung Emas?” Luo Luo Shan berseru.

“Jadi engkau mengenaliku.”

“Apa yang kau inginkan dariku?”

“Menagih hutang.”

“Hutang apa?”

“Apakah engkau telah melupakan apa yang telah terjadi belasan tahun yang lallu?”

“Aku belum pernah bertemu denganmu, jadi aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Tujuh belas nyawa merupakan hutang yang cukup besar, berikan nyawamu!”

“Orang ini gila, aku …”

Ding Qiu bahkan tidak membiarkan dia menyelesaikannya. Dia sekali gerakan tangan, sebatang tongkat emas sepanajng lima kaki muncul ditangannya. Sekelebat cahaya emas muncul di udara seperti naga dan bergerak langsung ke arah dada Luo Luo Shan.

Luo Luo Shan menggerakan cemetinya ke satu sisi dan membuka jubah wolnya dari tubuhnya dengan tangan kanannya. Dia melompat mundur dan berseru,”Tunggu sebentar.”

Namun Ding Qiu tidak menunggu, tongkat emas telah berkelebat membuat empat gerakan lagi.

Luo Luo Shan menghentakan kakinya dan dengan menjentikan tangannya, jubah wol ditangannya telah menjadi kaku lurus. Ini adalah salah satu jurus tenaga dalam Butong yang terkenal Membasahi Kain Menjadi Tongkat. Dalam tangan seseorang yang ahli menggunakan jurus ini, segala hal dapat menjadi senjata yang mematikan.

Di atas jalan yang basah dan berlumpur itu, kedunya telah melakukan belasan gerakan.

Ye Kai yang menonton dari jauh, menyadari dua hal.

Seorang pembabuk tidak akan pernah menjadi ahli silat yang kosen. Kebiasaan anehnya yang bermabuk-mabukan hanyalah untuk mengelabui orang-orang untuk berjaga-jaga. Dia mungkin lebih sadar dari orang lainnya.

Dan kelihatannya dia sungguh-sungguh tidak mengenal Ding Qiu.

Namun kelihatannya Ding Qiu telah salah mengenalnya sebagai orang lain.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Ye Kai betul-betul habis akal namun masih memperlihatkan senyum dibibirnya. Dia berpikir pasti ada sesuatu yang salah diantara mereka berdua, namun sepertinya tidak ada sesuatu apapun disenyumnya.

Kematian bukanlah suatu hal yang harus disenyumi.

Gerakan Luo Luo Shan sederhana dan tepat. Meskipun serangannya kelihatannya tidak kuat, namun pertahannya sempurna. Dia tipe seorang yang tidak akan pernah memperlihatkan celah kelemahannya, namun mendadak dia terlihat membeku kaku.

Dalam selintas saja Ye Kai melihat pandangannya dipenuhi oleh kekhawatiran dan ketakutan. Kemudian, kedua matanya tiba-tiba menonjol keluar. Tongkat emas Ding Qiu telah menembus tenggorokannya. Dengan suaraaa KKKRRRAAKKK, lehernya telas patah.

Senyuman tajam menutupi wajah Ding Qiu sambil berseru,”Hutang darah telah terbayar penuh, akhirnya engkau menyelesaikan hutangmu hari ini.”

Ditengah ketawanya, dia melompat kebelakang dan melesat pergi. Yang tertinggal hanyalah tubuh tak bernyawa Luo Luo Shan dijalan, matanya menonjol keluar dari kelopaknya seperti ikan mati. Biasanya dia seperti seorang pemabuk yang mabuk sampai mati.

Tidak ada seorangpun yang berani berjalan mendekat, tidak ada seorangpun yang mengucapkan sepatah katapun. Siapapun pasti merasakan perasaan yang betul-betul tidak nyaman saat melihat seseorang menghembuskan napas terakhir sebelum dia kehilangan seluruh kehidupannya.

Pemiliki toko kelontong memegangi perutnya dengan kedua tangannya sepertinya isi perutnya akan keluar.

Matahari telah bergerak naik ke langit.

Sinar matahari yang segar bersinar ke bawah ke tubuh tanpa nyawa Luo Luo Shan, dan ke darah yang menetes keluar dari kedua matanya. Darah tersebut menngering dengan cepatnya.

Ye Kai perlahan-lahan berjalan mendekati dan menundukan badannya disampingnya. Dia memandang tatapan ketakutan di wajah Luo Luo Shan dan berkata dengan murung,”Dapat dikatakan kita adalah sahabat. Apakah ada suatu hal yang kau ingin katakan?”

Tentu saja tidak. Orang mati tidak bisa berbicara.

Ye Kai meraih tangannya, menepuk bahunya dan berkata,”Beristirahatlah, aku menjamin engkau akan mendapat penguburan yang layak. Dan aku akan menuangkan arak bagimu di atas kuburanmu.”

Dengan menghela napas panjang, akhirnya dia menarik tangannya mengambil sesuatu.

Saat itu kemudian dia melihat Xiao Bie Li. Xiao Bie Li sedang berdiri ditepi atapnya sementara kedua tangannya berpegangan pada tongkatnya. Dibawah cahaya matahari, wajahnya terlihat sepucat Fu Hong Xue.

Dia adalah sesorang yang tidak pernah melihat cahaya matahari selama bertahun-tahun.

Ye Kai melangkah berjalan dan berkata dengan menghela napas,”Aku tidak penah menikmati pembunuhan, namun aku selalu menyaksikan pembunuhan.”

Xiao Bie Li mempelihatkan wajahnya yang murung. Setelah beberapa saat dia menghela napas dan berkata,”Aku sudah mengetahuinya dia akan melakukan hal ini, sayangnya aku tidak dapat menghentikannya kali ini.”

Ye Kai menganggukan kepalanya dan menjawab,”Tuan Luo betul-betul mati terlalu cepat.”

Dia memandang ke atas dan tiba-tiba bertanya,”Engkau baru saja keluar?”

“Aku seharusnya datang lebih awal.” Xiao Bie Li menjawab.

“Aku tidak menyadari kehadiranmu sebelumnya aku berbicara dengan orang lain.” Ye Kai berkata.

“Kepada siapa engkau berbicara?” Xiao Bie Li bertanya.

“Tuan Luo.”Ye Kai menjawab.

Xiao Bie Li menatapnya dengan kosong sesaat. Akhirnya, perlahan-lahan dia menjawab,”Orang mati tidak bisa bicara.”

“Mereka bisa.” Ye Kai berkata.

Ekspresi wajah Xiao Bie Li berubah, sesaat dia bertanya,”Bagaimana orang mati bisa bicara?”

“Saat orang mati berbicara, hanya beberapa orang yang dapat mendengar apa yang dikatakannya.”

“Dan engkau dapat mendengar apa yang mereka katakan?”

“Ya.”

“Apa yang telah dia katakan?”

“Dia mengatakan kepadaku bahwa dia mati dengan sangat tidak wajar.”

Xiao Bie Li mengerutkan alisnya dan bertanya,”Bagaimana tidak wajar?”

“Dia mengatakan Ding Qiu tidak mungkin dapat membunuhnya.” Ye Kai menjawab.

“Betul dibawah tongkat Ding Qiu.” Xiao Bie Li berkata.

“Hanya karena seseorang membokongnya dari belakang.” Ye Kai berkata.

Xiao Bie Li mengerenyitkan alisnya dan bertanya,”Seseorang membokongnya? Siapa?”

Ye Kai menghela napas panjang. Dia menyodorkan telapak tangannya ke arah Xiao Bie Li dan terlihat jarum berwarna hijau dengan darah diujungnya.

Xiao Bie Li mundur ke belakang dan berseru,”Jarum Penghancur Usus?”

“Betul-betul Jarum Penghancur Usus.” Ye Kai menjawab.

Xiao Bie Li menarik napas panjang dan berkata,”Melihat hal ini, Nenek Du pasti sudah berada disini.”

“Dan dia telah berada disini beberapa lama.” Ye Kai menambahkan.

“Apakah engkau telah melihatnya juga?”Xiao Bie Li bertanya.

Ye Kai tertawa dan menjawab,”Bila seseorang melihatnya saat dia melepaskan Jarum Penghancur Tulang, maka dia pasti bukan Nenek Du.”

Xia Bie Li hanya dapat menghela napas.

“Namun aku sekarang mengetahui bahwa dia tidak bersembunyi di Gedung Sepuluh Ribu Kuda.” Ye Kai berkata.

“Kenapa begitu?” Xiao Bie Li bertanya.

“Karena dia tinggal di perkempungan yang sangat kecil ini. Siapa yang tahu, dia mungkin saja menjadi seorang nenek dari salah satu anak kecil di depan kita.” Ye Kai berkata.

Ekspresi wajah Xiao Bie Li berubah. Dia melihat seorang wanita tua menggendong seorang anak kecil dipunggungnya.

“Karena Jarum Penghancur Usus telah tiba, Penipu Tak Bertulang pasti tidak jauh dibelakangnya.”Ye Kai menegaskan.

“Telah tinggal ditengah kota ini juga?” Xiao Bie Li berkata.

“Sangat mungkin.” Ye Kai menjawab.

“Bagaimana mungkun aku tidak pernah menyadari kedua tokoh kosen terserbut dikota ini?” Xiao Bie Li berkata.

“Jago kosen tidak pernah memperlihatkan kekuatannya, jarang sekali engkau mengetahi seseorang adalah seorang tokoh kosen. Penipu Tak Bertulang mungkin saja pemilik toko kelontong itu.” Ye Kai menjawab.

Dia melihat Xiao Bie Li dan berkata, kemudian menambahkan,”Atau mungkin saja dia adalah kau.”

Xiao Bie Li tersenyum balik. Dibawah sinar matahari, senyumnya terlihat sinis. Kemudian dia berbalik, dan melangkah kembali ke dalam.

Saat Ye Kai melihat senyumnya, dia selalu melupakan bahwa Xiao Bie Li adalah seorang yang cacat, dia selalu melupakan bahwa dia seorang yang sendirian.

Namun semua yang dilihatnya sekarang adalah bentuk punggungnya. Bentuk punggung yang kurus, beruban dan kesepian.

Ye Kai tiba-tiba mengejarnya dan menangkap lengannya.

“Karena engkau jarang sekali meninggalkan tempatmu, marilah pergi minum.” Ye Kai berkata.

Xiao Bie Li terlihat sangat heran seraya menjawab,”Engkau ingin mentraktirku minum?”

Ye Kai menganggukan kepalanya dan berkata,”Jarang sekali aku mentraktir orang.”

“Kemana engkau ingin pergi?”

“Dimanapun yang baik, selama bukan disana.”

“Kenapa begitu?”

“Arakmu terlalu mahal.”

Xiao Bie Li tersenyum dan menjawab,”Karena itu adalah tokoku, maka engkau dapat kasbon.”

Tawaran untuk kasbon sungguh sangat menggiurkan khususnya untuk orang-orang yang tidak punya uang disakunya.

“Aku hanya mencoba memperoleh bisnis yang lebih banyak.” Xiao Bie Li berkata sambil tersenyum.

“Engkau betul-betul seorang pengusaha yang cerdas kadang-kadang.” Ye Kai berkata.

“Itulah aku.”Xiao Bie Li menjawab.

Dia tersenyum kepada Ye Kai dan bertanya,”Jadi kemana engkau akan membawaku pergi minum arak?”

“Baiklah kemana pun yang aku lihat, kemanapun aku bisa minum dengan kasbon pasti itu adalah tempat yang asik. Aku selalu menikmati tempat seperti itu.”Ye Kai berkata.

“Bagaimana pada saat engkau harus membayar kasbon?” Xiao Bie Li bertanya.

“Meskipun saat itu pasti sangat menyakitkan, ada kekhawatiran aku masih harus menunggak dimasa mendatang. Aku bahkan tidak tahu apakah masih hidup saat itu.”Ye Kai menjawab.

Sambil tertawa dia mendorong pintu, mempersilahkan Xiao Bie Li melangkah masuk lebih dahulu.

Namun dia tidak melangkah masuk setelahnya, karena baru saja dia melihat Cui Nong.

Wanita itu menundukan kepalanya dan terburu-buru ke arah pintu. Kemana dia menghilang malam kemaren? Kemana dia pergi? Dari mana dia pergi sekarang?Ye Kai tidak tahan untuk menanyainya, namun wanita itu sungguh-sungguh mengabaikannya.

Ada seseorang lain yang menatap Ye Kai.

Fu Hong Xue.

Fu Hong Xue akhirnya muncul.

Baru saja Ye Kai hendak menggapai Cui Nong, dia menyadari Fu Hong Xue menatapnya.

Dia menatap ke arah tangan Ye Kai. Matanya yang dingin dan kesepian dipenuhi dengan semangat. Wajahnya yang putih pucat memerah.

Ye Kai perlahan-lahan menarik tangannya dan memegang pintu agar terbuka sehingga Cui Nong dapat melangkah masuk ke dalam.

Saat Cui Nong melewatinya dia menoleh dan tersenyum sopan, sepertinya dia baru saja bertemu dengannya pertama kalinya.

Ye Kai merasakan dirinya tidak dapat tersenyum sedikitpun, karena Fu Hong Xue masih menatapnya. Kedua mata tersebut terlihat seperti suami yang cemburu menatap seorang laki-laki teman selingkuhan istrinya.

Ye Kai menatapnya, kemudian kembali ke Cui Nong, namun dia tidak dapat menduga apa yang telah terjadi. Kenyataanya, suatu hal yang baik telah terjadi tadi malam.

Ye Kai tersenyum kearahnya dan berkata,”Aku baru saja mencarimu.”

“Oh?” Fu HongXue menjawab.

“Engkau telah membunuh Gong Sun Duan?” Ye Kai bertanya.

“Aku seharusnya membunuhnya sejak lama.” Fu Hong Xue menjawab dengan senyum dingin.

“Ini berita kematiannya.” Ye Kai berkata seraya menyodorkan undangannya.

“Berita kematiannya?” Fu Hong Xue menjawab.

“Engkau membunuhnya, Gedung Sepuluh Ribu Kuda telah mengundangmu ke upacara pemakamananya. Apakah engkau tidak merasa sedikit aneh?” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

Fu Hong Xue menatap surat tersebut dengan sorot mata yang aneh.

“Aneh, betapa aneh.”Fu Hong Xue menegaskan.

Ye Kai menatap kedua matanya dan berkata,”Engkau tentu saja akan hadir.”

“Kenapa?”Fu Hong Xue berkata.

“Karena saat itu pasti akan dipenuhi dengan kegemparan.” Ye Kai berkata.

Fu Hong Xue mengangkat kepalanya, menatapnya balik dan berkata,”Engkau kelihatannya sangat tertarik dengan urusanku.

Ye Kai tertawa dan menjawab,”Itu karena aku senang mencampuri urusan orang lain.”

“Tahukah kau kenapa Luo Luo Shan telah mati?” Fu Hong Xue bertanya.

“Tidak.”Ye Kai berkata.

“Karena dia mencampuri urusan orang lain.” Fu Hong Xue menjawab dingin.

Dia tidak sekejappun melirik ke arah Ye Kai saat berjalan melewatinya disisinya dan melangkah ke tengah jalan raya. Jalan raya masih dipenuhi oleh genangan air.

Dia melangkah dengan kaki kirinya, kemudian menyeret kaki kanannya dari belakang. Caranya dia berjalan betul-betul sangat ganjil dan sangat cukup lucu. Biasanya saat dia berjalan ditengah jalan raya, setiap orang menatap kakinya. Namun hari ini berbeda, setiap orang di jalan menatap ke arah golok di tangannya.

Golok yang mencabut nyawa Gong Sun Duan.

Kebencian memenuhi sorot mata setiap orang.
________________________________________

“Setiap orang tahu bahwa engkau adalah musuh dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda sekarang, tidak ada yang akan bersahabat denganmu lagi.”

“Kenapa?”

“Karena paling tidak setengah dari penduduk kota ini bergantung pada Gedung Sepuluh Ribu Kuda untuk kelangsungan hidupnya.”

“Karena itu engkau harus ekstra hati-hati mulai sekarang. Bahkan saat engkau minum segelas air.”

Kata-kata itu adalah ucapan Nyonya Ketiga Shen. Dia tidak mengerti kenapa wanita tersebut perhatian kepadanya. Dia bahkan tidak mengenal siapa dia, hanya tahu dia adalah teman baik Cui Nong dan wanitanya Ma Kong Qun.

Kenapa Cui Nong menjadi teman baik wanita seperti dia?

Dia tidak mengerti atau tahu kenapa dia merasa sebal dengan wanita itu, dia hanya berharap wanita tersebut pergi. Namun wanita itu tidak melihat hal itu. Saat mereka berkeliling di padang belantara, semua yang dia inginkan hanyalah menemukan tempat yang bagus untuk duduk bersama dengan Cui Nong.

Sungguh sulit dipercaya, namun kejadian itu untuk pertama kalinya dia membunuh. Bahkan Gong Sun Duan sekalipun sulit untuk mempercayai hal itu. Namun, hal itu sungguh-sungguh untuk pertama kalinya dia mencabut nyawa seseorang.

Saat dia mencabut goloknya dari perut Gong Sun Duan, dia tidak tahan untuk muntah.

Tidak ada seorangpun yang mengerti perasaannya, bahkan dirinya sendiri.

Melihat seseorang berubah menjadi mayat tak bernyawa ditanganmu bukanlah merupakan pemandangan yang menyenangkan.

Dia tidak pernah ingin membunuh.

Namun dia ada pilihan!

Disana tidak ada salju, hanya pasir.

Pasir merah.

Darah menyembur saat dia mencabut goloknya keluar membasahi pasir yang kuning menjadi merah.

Dia membungkuk di atas tanah hingga darah mengering.

Saat dia bangkit, dia menyadari Nyonya Ketiga Shen menatapnya sepanjang waktu dengan sorot mata yang aneh. Apakah itu simpati, penghinaan atau menyesalkan?

Tidak perduli apa itu, dia hanya tidak dapat menahannya.

Dia dapat tahan terhadap kebencian dan kemarahan orang lain, dia telah terbiasa dengan hal itu.

Fu Hong Xue menegakkan pinggangnya dan berjalan ditengah jalan raya. Hal yang diinginkannya hanya berbaraing. Berbaring dan menunggu Cui Nong.

Nyonya Ketiga Shen mengikuti mereka sepanjang jalan memasuki kota.

Dia tidak berhasrat untuk menanyainya mau kemana karena dia sungguh-sungguh tidak ingin melihatnya lagi. Dia menarik Cui Nong ke sisi dan berbicara selama beberapa saat.

Saat Cui Nong kembali, dia berkata dia harus kembali.

“Aku akan beres-beres kemudian akan mencarimu kembali. Aku tahu dimana engkau tinggal.”

Tentu saja wanita itu tahu.

Namun Fu Hong Xue tidak sadar bahwa wanita tersebut bukanlah Cui Nong, namun Nyonya Ketiga Sent yang dia benci.

Mungkin tidak ada seorangpun yang mengetahui rahasia ini.

ooOOOoo

Apakah Fu Hong Xue akan hadir di acara pemakaman Gong Sun Duan? Apakah itu suatu jebakan?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: